Tuesday, July 1, 2008

Faith@Work - 02: The Ethos

by: Indrawaty Sitepu
 

Ada sebuah kisah yang terjadi dalam suatu negara pasca perang dunia ke dua. Dalam negara itu ada satu patung Yesus yang hancur karena perangdunia tersebut. Ada satu menarik dari patung itu, yaitu tangannya patah. Dan kerusakan tersebut tidak pernah diperbaiki, malahan mereka membuat satu tulisan di bawah patung tersebut ‘kamu adalah tangan saya’. Hal ini ditulis untuk mengingatkan orang yang lewat dari tempat itu bahwa mereka adalah tangan-tangan Yesus untuk bekerja di muka bumi ini, untuk mewujudkan kehendak Yesus. Siapapun mereka, apapun profesi mereka semua harus tahu bahwa mereka adalah tangan Kristus di muka bumi ini.


Kita harus memahami dengan benar bahwa apapun pekerjaan kita adalah cara kita untuk memenuhi panggilan Tuhan akan hidup kita. Tentu saja berbicara tentang vocation dan calling kita juga harus berbicara tentang siapa caller nya (yang memanggil). Tentu kita sudah tahu bahwa yang memanggil kita adalah Tuhan. Kepada apa kita dipanggil, sebagai apa kita dipanggil, itu adalah pergumulan kita. Tidak ada satu orang pun yang bisa berprasangka, bahwa menjadi hamba Tuhan itu lebih rohani dari pada Guru atau pekerjaan lainnya. Dalam konsep kerja, kita harus memahami bahwa semua kerja adalah cara kita untuk memenuhi panggilan Tuhan. Berbicara tentang panggilan dan kerja memang ada bedanya. Tidak bisa kita samakan antara panggilan dan kerja. Tetapi pekerjaan adalah cara kita untuk memenuhi panggilan Tuhan di dalam hidup. Itu sebabnya kita tidak boleh memandang bahwa satu pekerjaan lebih rohani dibandingkan dengan pekerjaan yang lain. Sebagai anak-anak Tuhan kita tidak pernah dipanggil untuk suatu pekerjaan yang jelek. Oleh karena itu anak Tuhan tidak pernah jadi pelacur atau pengedar narkoba. Pasti pilihan-pilihan kita adalah melalui pekerjaan itu kita dapat memuliakan Tuhan. Itu sebabnya kita harus memiliki rasa hormat yang sama terhadap pekerjaan yang berbeda. Ada tulisan yang mengatakan ‘itulah sebabnya waktu kita pergi ke gereja harusnya sama dengan bagaimana kita pergi bekerja’. Berangkat ke gereja bertujuan bagaimana kita mempermuliakan Tuhan, bagaimana kerajaan Allah hadir, dan meninggikan Tuhan. Dalam bekerja juga demikian. Memang ada perbedaannya. Dengan demikian bagaimana kita mengerjakan pekerjaan kita? Mari kita lihat Mat 25:14-30. Kita akan melihat dari tiga hamba dalam perikop ini.

Jika pekerjaan adalah calling atau panggilan Tuhan, itu bukan hanya urusan di dunia ini. Itu berbicara tentang hal yang kekal juga. Itu berbicara dalam konteks eskatologi. Berarti kita berbicara tentang kesiapan berjumpa dengan Yesus. Ini adalah masa yang kita jalani sekarang ini, dimana nanti pada waktunya kita akan mempertangjawabkan seluruh hidup kita, dan tentu saja di dalamnya adalah seluruh pekerjaan kita. Saya akan awali dengan melihat latar belakang perikop ini. Perumpamaan ketiga hamba ini adalah bagian kotbah Tuhan Yesus yang disampaikan di bukit zaitun (24:3). Kotbah ini ditujukan/didengar kepada murid-muridNya, bukan orang baru. Dengan kata lain hal ini sangat relevan dengan kita pada saat ini. Kalau kita lihat perikop ini ada tiga konteks yang akan kita lihat, meliputi talenta, hamba, dan tuan. Hamba bisa kita sebut juga dengan pekerja termasuk kita di dalamnya.

Kita masuk ke talenta.
Talenta yang dipercayakan berbeda-beda. Kriteria yang dipakai untuk membaginya adalah kemampuan hamba-hambanya (ay 15). Jadi bikan karena kedekatan dengan tuannya ataupu KKN tuannya, atau tuannya mempercayai yang satu dan tidak percaya yang lain. Pemberian yang berbeda menunjukkan pengenalan tuan yang mendalam terhadap hambanya. Ini penting untuk kita pahami agar kita tidak menjadi orang lain. Sebenarnya setiap kita diciptakan dengan unik di tengah-tengah dunia ini. Setiap kita punya kelebihan yang Tuhan taruh yang harusnya melaluinya kita mempermuliakan Tuhan dan itu dapat menjadi pujian bagi Tuhan. Kalau sekiranya belum demikian, bukan Tuhan yang salah menempatkan atau memberikan bagian kita, tetapi kita yang salah mengerti akan apa yang Tuhan percayakan dan anugerahkan pada kita.

Talenta sebenarnya adalah ukuran berat setara dengan 42.5 kg, tetapi dalam perumpamaan ini menunjuk kepada uang (ay 18, 27). Dalam ayat 18, istilah talenta diganti dengan istilah argurion yang secara harafiah diterjemahkan perak. Satu talenta ekuivalen dengan 10.000 dinar. Jadi berbicara tentang satu talenta bukanlah jumlah yang sedikit. Jika satu dinar adalah upah kerja satu hari (Matius 20:2), maka satu talenta setara dengan upah kerja selama 33 tahun. Satu jumlah yang besar!

Mari kita lihat hamba.
Fungsi hamba dalam masyarakat kuno tidak hanya terbatas pada urusan domestik rumah tangga, tetapi bisa beperan sebagai politic influence atau managerial umum, atau mengembangkan harta yang tuannya punya. Ketiga hamba itu punya persamaan yaitu dipercayakan harta oleh tuannya. Mari kita lihat perbedaannya. Perbedaannya adalah kemampuan ketiganya. Bukan hanya itu, yang mencolok yang disoroti disini adalah perbedaan etos kerja atau cara mereka mengerjakannya. Hamba pertama mengusahakan lima talenta dan mendapat laba lima talenta. Hamba yang kedua mendapat dua talenta dan mengusahakannya dan mendapat laba dua talenta. Kalau kita bisa mereka-reka, tidak mudah bagi mereka menerima tanggung jawab ini karena harus mempertanggungjawabkan satu jumlah yang besar. Tetapi mereka mengusahakannya dan mendapat laba dua kali lipat. Alkitab memang hanya mencatat ‘dia mengusahakannya’. Tapi kalimat yang sangat singkat dan sederhana ini tidak sesederhana itu. Orang yang punya duit yang besar lalu kembali ddengan laba yang besar dengan cara mengusahakannya, berarti dibalik kata ‘mengusahakan’ itu ada kerja keras. Ada usaha yang begitu maksimal dibalik kata ‘mengusahakannya’. Demikian juga dengan hamba yang kedua dengan jumlah talenta yang lebih sedikit yaitu dua talenta. Dia juga mengusahakannya sama seperti hamba yang pertama. Tetapi hamba yang ketiga tidak mengusahakannya. Pada bagian lain ‘tidak mengusahakannya’ sama dengan jahat dan malas. Meski jumlah keuntungan hamba pertama dan kedua berbeda, tetapi jumlah persentasinya sama yaitu 100%. Kalau kiita lihat pada bagian ini, tuan itu tidak melihat jumlah keuntungannya, kuantitasnya. Yang dipersoalkan adalah total pengabdiannya.

Jadi ada tiga hamba dengan dua cara :
1. Hamba yang pertama dan kedua adalah hamba yang baik dan setia
Kenapa disebut hamba baik dan setia? Karena mereka adalah adalah hamba yang mengusahakan harta tuannya,dalam jumlah relatif besar sepadan dengan kemampuan mereka dan mengembangkan secara maksimal/melipatgandakannya, berani menanggung resiko. Jumlah yang sedemikian besar tidak mudah mebngusahakannya. Mungkin dia punya banyak alasan menolaknya. Tetapi tuan tadi memberikanmenurut kemampuannya. Berari tuannya tahu dia bisa dan memang terbukti dia bisa sehinnga bekembang jadi lima dan sepuluh sehingga dia diberikan penilaian sebagai hamba yang baik dan setia. Demikian juga dengan hamba yang kedua. Dia juga menerima pujian yang sama dengan hamba yang pertama dari tuannya.

2. Hamba yang ketiga disebut dengan hamba yang jahat dan malas.
Hamba ini disebut jahat dan malas karena tidak mengusahakan,tidak mengembangkan kemampuan, takut/tidak berani mengambil resiko,takut keuntungan diambil tuannya dan tidak melakukan apa-apa saat tuannya tidak ditempat akhirnya menjadi tidak berguna. Ada satu tulisan yang mengatakan apakah dia betul-betul tidak mengusahakan dan diam? Sebenarnya tidak juga. Dia berbuat sesuatu, yaitu dia gali lubang dan menanam uangnya. Dia berbuat sesuatu tetapi perbuatannya tidak memaksimalkan kemampuannya. Dia bisa lebih dari itu, tetapi dia tidak melakukannya. Ada banyak ketakutannya. Dia takut ambil resiko, nanti keuntungannya diambil Tuhannya (nanti kita lihat bahwa tuannya tidak seperti itu). Jadi tidak memaksimalkan seluruh yang Tuhan percayakan kepada kita julukannya adalah jahat dan malas.


Hal ketiga yang akan kita lihat adalah si tuan. Ketika si tuan kembali dia tidak mengatkan waktunya. Tetapi dikatakan di alkitab bahwa waktunya agak lama. Lalu kita lihat dia melakukan penilaian terhadap hamba-hambanya. Pada hamba yang pertama dan kedua, dia memberikan pujian. Pujian yang bukan berdasarkan kuantitas keberhasilan melainkan kualitas pengabdian. Hal ini dapat kita lihat dari apa yang dia pujikan pada hamba yang pertama dan kedua. Dan tidak meminta kembali uang yang dipercayakan. Ini menunjukkna bagaimana penilaian hamba yang memiliki satu talenta tadi adalah salah. Pada hamba yang ketiga dia mencela, menghukum, dan menarik talenta dari yang tidak mengusahakan dan disuruh diserahkan kepada hamba pertama (yang telah dipercayakan 5 talenta). Jadi memang kepada orang yang setia pada apa yang Tuhan percayakan, Tuhan akan tambahkan lagi. Tetapi kepada orang yang dipercayakan tetapi tidak mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, itu akan diambil dan akan di berikan kepada orang yang bekerja banyak, bukan kepada orang yang tidak bekerja.

Kita lihat akhir dari hamba-hamba tersebut. Kedua hamba yang baik dan setia menunjukkan bahwa kerja keras, aktif, maksimal mengembangkan diri demi kerajaan surga membawa sukacita. Hamba yang jahat dan malas memperlihatkan bahwa tidak memaksimalkan diri demi kerajaan surga akan mengakibatkan ratap dan kertak gigi. Dia bukan sedang menantikan sukacita sewaktu menantikan Tuhan tetapi petaka. Saya akan mengajak kita untuk melihat apa maksudnya hal ini di tulis.
Pada masa penantian akan Tuhan Yesus, murid-murid diingatkan untuk bekerja keras, memaksimalkan pelayanan, kemampuan sehingga perjumpaan dengan Tuhan Yesus akan membawa sukacita dan menikmati perjamuan mesianis. Peringatan yang sama juga berlaku kepada kita sekarang ini. Mari memaksimalkan kemampuan kita untuk mempermuliakan Tuhan.


Tuhan Memberkati!

[Seri Eksposisi] Matius 5:13-16

By : Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div



Minggu yang lalu kita belajar tentang jati diri orang percaya atau watak orang Kristen yang disebut dengan delapan ucapan berbahagia. Hari ini kita masuk kepada peran orang percaya. Matius 5 :1-12 sampai pasal 7 berbicara tentang kualitas/esensi atau watak orang percaya. Dan menarik, dalam hal ini, yaitu Yesus menempatkan ayat 13-16, diantara perkataan Tuhan Yesus mengenai jati diri orang percaya. Inilah peran atau fungsi orang percaya agar mereka berdampak di dunia ini. Jadi artinya, setelah Yesus memaparkan tentang jati diri, muncul interval mengenai peran, baru muncul jati diri tambahan, dan ini sampai pasal ke tujuh.

Kenapa Yesus menempatkan hal ini di sini? Jika kita perhatikan, Yesus memulai dengan prinsip yang paling asasi, baru kemudian peran, baru muncul penjelasan-penjelasan yang praktis. Esensi yang sejati sebagai orang Kristen ada pada ayat 1-12, walaupun secara praktis ditambahkan dengan ayat 17- pasal 7.

Jika kita perhatikan, ayat 13 dan 14 ini merupakan bentuk pernyataan bukan himbauan (himbauan memiliki power yang lemah). Pernyataan yang dipakai adalah pernyataan langsung yang bersifat perintah. Dengan kata lain, pernyataan ini penuh dengan tekanan otoritas dan juga mendesak untuk segera dikerjakan, bukan sesuatu yang dapat ditunda. Bila ditunda maka dunia akan semakin membusuk dan gelap. Itulah sebabnya bentuknya adalah pernyatan langsung dan merupakan sesuatu yang sangat ditentukan oleh Kristus.

Dua metafora ini didasari oleh hidup yang benar. Artinya, perintah ini hanya bisa berlaku dan terjadi jikalau orang-orang Kristen/murid-murid memiliki jati diri seperti yang dipaparkan pada ayat 1-12. Dengan kata lain, fungsi sebagai garam dan terang hanyalah sebuah mimpi dan ilusi dan tidak mungkin dikerjakan bila jati diri tersebut tidak dimiliki. Kegagalan orang berfungsi sebagai garam dan terang bukan karena dia tidak ingin, tetapi karena tidak memiliki esensi atau kapasitas untuk melakukan hal tersebut. Itulah sebabnya perintah ini diperintahkan bagi mereka yang sudah memilik, minimal dalam zona semakin berkualitas sehingga kehadirannya bisa lebih maksimal. Jika kamu adalah garam dan terang maka ada gambaran implisit bahwa dunia perlu diberi rasa dan jangan sampai membusuk dan dunia semakin gelap, penuh kemunafikan dan kejahatan, maka diperlukanlah terang.

Maka muncul pertanyaan ketika Yesus mengatakan ”kamu adalah garam dan terang”. Kira-kira bagaimana keadaan dunia? Keadaan dunia adalah jahat, semakin membusuk, munafik, dan semakin gelap. Hal ini membuat Yesus memerintahkan murid-murid untuk hadir dan berperan. Bagaimana peran orang Kristen/murid-murid adalah dengan dua metáfora yang kita sebutkan di atas.

Yang pertama adalah 'kamu adalah terang dunia'. Perhatikan kata ”kamu adalah”. Dalam terjemahan aslinya adalah ”tolong sadari dan tolong berfungsi bahwa kamu adalah...”. Sering sekali kita gagal bertindak dan berbuat karena kita tidak menyadari hakikat dan fungsi hidup kita. Oleh karena itu, ketika Yesus berkata kamu adalah, berfungsi sebagi penegasan untuk menyadarkan murid tentang jati diri, esensi dan peran mereka. Yesus memerintahkan mereka untuk hadir dan berkarya, karena jika mereka . tidak berbuat, maka dunia akan semakin membusuk. Oleh karena itulah dunia dunia perlu digarami. Ketika Yesus berkata ”kamu adalah garam dunia”, kita harus menyadari bahwa fungsi garam adalah untuk proteksi. Agar garam tetap berfungsi sebagai, tidak ada jalan lain selain memelihara dan mempertahankan keasinannnya (jati diri). Jika sudah kehilangan keasinannya, maka dia kan menjadi seperti garam, bukan garam lagi (hanya seperti). Garam yang dipakai disini bukanlah garam dapur seperti garam kita sekarang (NaCl), melainkan zodium chlorida. Bentuk garam inilah adalah seperti gumpalan batu dari laut Mati dimana kalau garam ini diterpa hujan akan kehilangan keasinannya. Jika sudah kehilangan ini kehilangan keasinannya, ia tidak dapat dipergunakan lagi kecuali dibuang dan diinjak orang. Apa yang hendak dikatakan Tuhan Yesus adalah tidak ada kata lain bahwa garam harus mempertahankan esensinya agar ia bisa berbuat.

Orang Kristen tidak akan pernah berdampak jika kehilangan keasinannya. Karena jika kita telah kehilangan kualitas dan esensi sebagai garam, maka kita tidak akan pernah bisa berkarya. Bagaimana alumni dan mahasiswa dapat menjadi garam jika tidak memiliki standar kualitas yang seharusnya dimiliki. Orang yang tidak bisa mempertahankan keasinannya hanya kan menjadi bahan ejekan orang dimanapun ia berada. Orang-orang akan mengatakan: ”Percuma kamu menjadi anak Tuhan tetapi tidak ada bedanya dengan saya!” hal ini terjadi jika kita tidak memiliki kualitas dan kemampuan, baik ilmu atau iman. Ketika kita tidak punya kualitas ilmu dan iman, bagaimanapun juga kita akan sulit untuk berperan. Jangankan untuk menjadi garam, untuk berdiri saja kita susah. Jangankan untuk berdiri, untuk duduk aja kita susah. Inilah yang dikatakan Tuhan Yesus pada murid-murid pada zaman itu, agar kekristenan tidak sampai pudar warna dan kualitasnya.

Ketika Yesus mengatakan ”kamu adalah terang dunia”, ada sesuatu yang ingin saya ingatkan. Ketika garam dilarutkan ke dalam air, garam tersebut tidak akan menyebabkan air berubah warna. Tetapi garam tersebut memberi rasa kepada air. Bandingkan dengan gincu (pewarna) dimana gincu ini dapat memberi warna pada air tetapi tidak dapat memberi rasa. Orang Kristen bukan generasi gincu, tetapi generasi garam. Artinya, apa yang kita lakukan bukan sekedar ritual, simbol, atau fenomena, tetapi menjadi the real Christianity, dimana ada kualitas dan dampak yang muncul.

Metafora yang kedua adalah, ” kamu adalah terang dunia”. Kita bukan sekedar tinggal di dalam terang. Memang orang yang lahir baru pindah dari gelap ke dalam terang, tetapi orang yang lahir baru yang menjadi murid Tuhan bukan sekedar pindah dari galap ke dalam terang, tetapi sudah menjadi terang itu sendiri (Ef 5:8-9). Frase ”dahulu kamu adalah kegelapan” adalah kata benda dan ”kamu adalah terang” juga merupakan kata benda. Artinya, kamu dahulu gelap atau kegelapan itu sendiri, sekarang kamu ada terang atau terang itu sendiri. Oleh karena itu sangat tepat ketika Tuhan Yesus berkata ”kamu adalah terang dunia”. Selain untuk menerangi, terang itu seperti kota di atas bukit. Mau segelap apapun ruangan dan setitik apapun cahaya disitu, pasti semua orang bisa melihat cahaya itu. Dengan kata lain adalah menjadi pusat perhatian atau pusat perubahan. Inilah yang digambarkan seperti kota di atas bukit (memang ada gambaran seperti Isarel dimana pada zaman Yeremia, Israel allah lanti menjadi terang dan Yerusalem kota yang berada di atas bukit). Jika ada orang di dunia yang kerjanya kawin cerai, tidak menjadi masalah bukan? Tetapi jika ada orang persekutuan atau hamba Tuhan yang hamil di luar nikah, akan menjadi pembicaraan orang-orang dan mereka menjadi pusat perhatian. Jika anda dikantor tidak bisa tidak anda akan menjadi pusat perhatian. Ketika berada di kantor, kita akan menjadi sumber cahaya mengusir kejahatan yang artinya engkau dan saya hadir di kantor, di gereja, atau dimanapun, kita akan menjadi pusat perhatian. Oleh karena itulah Yesus mengatakan bagai kota di atas bukit dimana semua orang bisa melihatnya dan tidak bisa tidak, cahayanya pun akan sampai dimana-mana dan melakukan pembaharuan.

Dikatakan pda ayat 15, ” Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Saya tidak tahu apakah teman-teman pernah malu untuk menyatakan jati diri kita. Padahal ketika sejak awal kita berani menyatakan siapa kita, hal tersebut sekaligus cara Tuhan bagi kita untuk memproteksi kita dari dosa. Sering sekali orang menyuruh kita melakukan kejahatan karena mereka tidak tahu ’warna’/jati diri kita. Apa yang mau saya katakan disini adalah mari menyatakan jati diri kita. Bukan hanya slogan tetapi nyatakan jati diri kita yang tidak mau kompromi dengan dosa. Hal ini penting bahkan wajib. Bukan menyatakan diri dengan bersaat teduh dikantor agar dilihat orang. Bukan dengan menunjukkan bahwa kitarajin ke gereja, walaupun hal ini penting. Tetapi nyatakanlah jati diri kita dengan menunjukkan bahwa kita tidak mau kompromi dengan dosa. Dengan demikian, rekan kerja atau pimpinan kita tidak akan berani memerintahkan kita lagi untuk melakukan sesuatu yang salah. Inilah yang dimaksudkan terang itu dimunculkan. Kebaikan dan kebenaran bagikan terang yang harus dimunculkan. Jika disembunyikan, sampai kapanpun kita tidak akan pernah berubah untuk melakukan pembaharuan bahkan dapat berubah menjadi kegelapan (Mat 6:23). Mari menyatakan warna/jati diri bahwa kita adalah orang yang tidak kompromi dengan dosa. Kamu adalah orang yang benci dengan kemunafikan, perzinahan, ketidakjujuran, dan mereka yang menekan dan menghambat pembebasan HAM. Jika orang tahu warna kita, orang tidak akan berani bermain-main dengan kita. Dengan kata lain, biarlah setiap orang di kantor kita berkata :”Tidak akan mau dia itu. Apapun yang kalian katakan, dia akan memilih dioecat dari pada melakukan hal tersebut.” Hal ini menunjukkan bahwa engkau punya warna.

Adakah kita membawa terang di tempat kita berada? Kantor tempat kita bekerja tidak makin busuk dan gelap atau justru dengan keberadaan kita akan semakin melangkapi kegelapan dan kebusukan yang telah ada sebelumnya? Buah terang adalah kebaikan (ayat 16). Yesus membandingkan terang dengan kebaikan. Saya melihatnya bukan sebatas kebaikan amal atau perbuatan baik. Tetapi yang mau dikatakan di sini adalah karya yang baik. Inilah terang. Karena itu, jika kita melihat maka terang harus dimunculkan/ditempatkan di atas gantang/kaki dian agar berfungsi dengan maksimal. Dan terang yang berbuahkan kebaikan itu adalah jati diri kita yang harus dinyatakan (Fil 4:5). Bila orang Kristen ’menyembunyikan’ diri (berdiam/pasif), maka tidak akan memunculkan dampak apapun dan hidupnya menjadi sia-sia. Apakah kita bekerja sebatas gaji dan jabatan? Jika hanya karena kedua hal ini, kita adalah orang yang malang. Artinya kita tidak berbeda dengan orang lain. Memang gaji dan jabatan penting, tetapi keduanya bukan yang utama. Yang menjadi tujuan utama kita adalah kehadiran kita sebagai proteksi dan penetrasi.

Bila kita perhatikan garam dan terang, seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Itulah sebabnya fungsi proteksi (sebagai garam) dan fungsi penetrasi (sebagai terang) harus terjadi secara simultan, dan tidak bisa dipilah-pilah. Ketika melakukan proteksi (pencegahan) pada saat yang sama kita juga melakukan penetrasi (perbaikan/pembaharuan). Sering sekali kita mengeluhkan negara ini yang semakin jahat dan semakin bobrok. Kejahatan semakin merajalela, hukum ditindas, dan masih banyak hal lainnya. Semua terjadi bukan karena orang jahat semakin banyak, tetapi karena orang-orang yang mengerti kebenaran tidak berbuat apa-apa. Anak-anak Tuhan tidak melakukan apapun. Selama kita berdiam diri dan tidak berkarya, selama itulah tidak akan ada perubahan di dunia ini. Kita harus memulai lebih dahulu. Jika kita bukan orang yang rela berkorban sebagai garam, dunia ini akan semakin membusuk. Jika anda mengurus surat-surat (KTP, SIM) sam dengan cara yang dipakai oleh orang lain, apa bedanya? Kekristenan bukan ritual dan simbol, melainkan karya atau hidup yang berdampak. Kita adalah kekristenan garam, bukan gincu. Tidak akan berguna jika kita sebagai anak-anak Tuhan hanya berkumpul saja apakah di gereja, di Perkantas atau di tempat laninnya. Kita harus pergi dan menggarami. Mari kita perhatikan ayat 10-12, ” Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." Apa yan mau dikatakan disini adalah bahwa garam dan terang hanya dpat berfungsi jika mereka mau berkorban. Ingat, lilin tidak akan pernah berfungsi jika lilin tersebut tidak hancur. Garam juga tidak akan pernah berfungsi jika garam tersebut tidak dilarutkan. Oleh sebab itulah ada satu sukacita dan rela jika hancur dan berkorban bagi orang lain untuk bisa mencegah pembusukan dan melakukan pembaharuan. Dalam hal inilah kualitas kekristenan yang sejati muncul, ketika kita semua rela berkorban dan senang jika bisa berkorban bagi orang lain. Bila kita tidak berkorban, maka kita akan mengorbankan orang lain, minimal memmbiarkan mereka menjadi korban. Bukankah banyak yang menjadi korban ketidak adilan, pembodohan, dan penindasan dalam negara ini? Banyak orang yang mengalami penderitaan. Oleh sebab itu tidak ada cara lain selain mari kamu dan saya rela menjadi dan hancur sebagai garam dan terang. Hal ini diakhiri Tuhan Yesus pada ayat 16, ” Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." Inilah cara mereka untuk memuliakan Bapa di Sorga melalui karya kita.

Sering kali kita berpikir kita memuliakan Allah ketika kita menyembah dia melalui pujian. Hal ini juga penting, tetapi bukan cara memuliakan Tuhan yang paling utama. Yang utama adalah karya kita, kerelaan kita berkorban dan bersukacita memberi yang terbaik sebagai garam dan terang. Dengan demikian orang lain akan menikmati karya kita, dan disitulah Bapa dimuliakan. Mencegah dunia dari pembusukan dan menjadi terang untuk merubah dunia bagi Dia.
Tuhan Yesus memberkati!

Thursday, June 26, 2008

[Seri Eksposisi] Matius 5:1-12

Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div



Matius 5:1-2 adalah ucapan Tuhan Yesus yang dikenal sebagai kotbah di bukit. Kotbah di bukit ini merupakan bagian pertama dari lima diskursus (kotbah atau percakapan) di dalam injil Matius.
  1. Beatitudes atau satu deklarasi mengenai ucapan bahagia (Mat 5:1-12).
  2. Tuntutan etis tentang kerajaan Allah (5:13-16; 6:1-7:23)
  3. Perbedaan ajaran etis Kristus dengan tradisi legalistik Yahudi (5:21-48). Ada perbedaan dalam konsep tradisi Yahudi dengan apa yang dikatakan Yesus. Menurut Yahudi, berzinah hanya sekedar melakukan hubungan sex. Tetapi Yesus berkataka : ”Jika kamu memandang lawan jenismu dan kamu birahi, kamu berzinah”. Sama halnya dengan membunuh. Kita dikatakan membunuh kalau mengambil nyawa orang lain. Tetapi Yesus mengatakan jika kita membenci saudara kita, kita telah membunuh.
  4. Perumpamaan tentang pentingnya mengerjakan apa yang sudah diajarkan (7:24-27)
  5. Ungkapan kekaguman orang banyak tentang otoritas ucapan Tuhan Yesus (7:28-29).
Matius pasal 5-7 adalah kotbah dibukit, sebuah pengajaran yang sangat terkenal dan inilah pengajaran etis tentang Kerajaan Sorga. Pasal 5-7 ini juga berbicara tentang banyak etika. Apa yang mau disampaikan Tuhan Yesus adalah mensejajarkan bahwa status sebagai warga Kerajaan Sorga harus memiliki gaya hidup seperti warga Kerajaan Sorga. Itulah sebabnya bila kita perhatikan pasal 6, Yesus berani berkata : "Jika kehidupanmu tidak lebih baik dari ahli taurat, kamu tidak layak masuk dalam Kerajaan Allah". Jadi Yesus mau mengingatkan supaya kita tidak menganggap anugerah itu sesuatu yang murah, melainkan harus meresponinya dengan etika hidup yang benar. Menarik pernyataan F. F Bruce yang mengatakan: ”Dalam kotbah di bukit ini, jika memiliki cara/etika seperti kotbah di bukit, sepertinya kita sudah dekat ke Sorga”. Matius 5-7 merupakan gaya hidup orang yang sudah bertobat dan inilah tanda dari umat Kerajaan Allah. Artinya, umat Kerajaan Allah ditandai dengan satu kehidupan yang bertobat setiap harinya dan juga memiliki cara/etika hidup yang benar.

Bagian ini diawali dengan bentuk literatur yang biasa dipakai dalam PL. Misalnya dalam Mzm 1:1 dikatakan, ”Berbahagialah orang...”. Yesus mengutip kalimat ini dan merupakan satu tradisi atau kebudayaan dalam literatur PL. Berkat atau bahagia adalah janji Kerajaan bagi mereka yang hidup dengan repentant life. Kalimat ini bermaksud bahwa jaminan blessing atau ’berbahagia’ hanya ada bagi orang yang memiliki kehidupan yang mengalami pertobatan yang kontiniutas. Lahir baru sekali, tetapi pertobatan itu setiap hari. Selanjutnya, teks ini harus dibaca dalam terang aspek kehidupan Kerajaan Sorga masa kini (presentis) sekaligus sebagai bukti keanggotaan dalam aspek eskatologis. Artinya, jangan berpikir bahwa cara/etika hidup seperti ini (1-12) hanya sebatas perspektif Eskatologis tetapi juga watak Kristiani masa kini yang harus dimiliki selaku warga Kerajaan Sorga. Itulah sebabnya jangan berpikir hanya sebatas masuk Sorga. Maksudnya seperti ini, bila kita ragu untuk masuk Sorga tetapi kita sudah lahir baru, kita akan masuk Sorga. Bagi kita pertanyaannya kembali ke tujuan panggilan Allah. Di dalam Efesus 1:4-11, pemilihan atau panggilan Allah adalah supaya engkau dan saya hidup di dalam kesucian. Masuk sorga itu adalah akibat dari lahir baru, tetapi tujuan lahir baru (panggilan Allah) adalah hidup suci dan dalam konteks inilah kita akan berbicara watak sebagai warga Kerajaan Allah yang presence dan eskatologis.

Teks ini memaparkan delapan kualitas watak orang Kristen yang harus dimiliki. Artinya tidak boleh satu atau dua saja. Tetapi semuanya harus menjadi milik orang Kristen. Bila terjadi ketimpangan, berarti terjadi kegagalan. Sebelum memulai pengajaranNya tentang etika Kerajaan Sorga, Yesus mengawali dengan satu ringkasan isi beritanya. Artinya di dalam pasal 4:17, ada satu seruan (panggilan) untuk bertobat karena Kerajaan Allah sudah dekat. Dengan dasar inilah berita inilah Yesus memulai pengajaranNya. Mari kita lihat bagian ini.

Bila kita lihat ayat satu, ” Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya." Sebagian besar para ahli sepakat bahwa ”orang banyak di sini” menunjuk kepada para murid dalam arti yang luas. ’Naik ke bukit’ menurut penafsir dan cara penulisan Matius menunjuk Yesus adalah Mesias (ingat, Matius mau menyampaikan pesan kepada pembacanya bahwa Yesus adalah Tuhan). Itulah sebabnya Matius mengawalinya dengan menulis ’naik ke atas bukit’, yang mau mensejajarkan Yesus dengan Musa yang naik ke atas gunung Sinai. Hal ini dilakukan supaya pembaca injil Matius menyadari bila mereka kagum kepada Musa dan percaya kepada YHWH, sekarang sang YHWH- Yesus Kristus berada pada posisi dan otoritas yang sama. Kemudian kata ’duduk’ merupakan satu tradisi. Artinya, pada masa itu ketika guru mengajar dia duduk sedangkan para murid mendengarnya dengan berdiri.

Kita akan masuk kepada delapan hal yang ada di dalam ucapan berbahagia.

1. Mari kita lihat ayat 3 : Miskin -­­--- empunya Kerajaan Sorga.
”Berbahagia” dalam bahasa Inggris disebut dengan ”blessed be the man”. Ada satu kesejajaran kata yang dipakai dalam hal ini yaitu, Makarios (yunani : diberkatilah, berbahagialah). Tetapi, bila dilihat dari akar katanya, lebih tepat bila dipakai arti ”diberkati” karena orang yang bahagia belum tentu diberkati, tetapi orang yang diberkati pasti merasa bahagia. Kebahagian yang sejati disebut juga dengan the spiritual joy and peace. Ada satu berkat (sukacita), damai, kesenangan rohani yang sejati. Maka kata “blessed be” di sini jangan diukur dari material, tetapi diukur dari adanya satu permanensi damai dan sukacita yang tidak bisa direbut oleh siapapun. Itulah sebabnya sukacita dari Allah tidak bisa digantikan oleh siapapun.

Siapakah yang mengalami the real spiritual joy? Orang yang mengalaminya adalah orang yang miskin dihadapan Allah. Dalam hal ini ada perubahan konsep material kepada konsep spritual. Karena di dalam PL, orang yang sengsara dan miskin adalah orang yang tidak bisa bergantung dan berharap kepada siapapun, akhirnya mereka berharap kepada Allah (Zef 3:12; bd Mzm 34:7). Yesus memutarkan konsep ini (memandang material jadi spritual) dimana Yesus menyatakan bahwa kemiskinan rohani jauh lebih berguna. Kemiskinan yang dimaksud adalah orang yang remuk, hancur hatinya, rendah diri di hadapan Allah dan Allah mau bersama dengan orang seperti ini. Itulah sebabnya dikatakan disini betapa pentingnya pengakuan kemiskinan spritual sehingga kita membutuhkan Allah. Menganggap diri tidak berarti sama sekali dihadapan Allah membuat kita bergantung pada anugerahNya. Di sinilah kita penting menyadari konsep arti miskin. Yang menjadi contoh orang ’miskin’ di Alkitab adalah pemungut cukai dan pelacur. Mereka berkata sambil memukul dada ” Aku tidak layak”. Dan contoh orang yang merasa kaya adalah apara orang Farisi yang bangga dengan kefarisiannya. Mungkin kita akan berkata kita tidak mengalami hal ini. Ingat, ayat ini bukan kepada mereka yang belum bertobat, tetapi kepada murid. Apa yang mau diajarkan Tuhan Yesus adalah pentingnya menyadari kerapuhan, kemiskinan, ketidaklayakan dihadapan Allah setiap hari sehingga kita bergantung kepada Allah. Apakah kita merasa puas dengan kerohanian kita? Bila iya, berarti kita mengalami stagnasi rohani. Tetapi bila kita terus merasa miskin dan tidak layak dihadapan Allah, di sanalah kita akan membutuhkan Allah. Mari melatih hidup yang miskin dihadapan sehingga kita membutuhkan Dia setiap hari. Bagi orang yang seperti inilah ada jaminan ”blessed be the man” dan “spiritual Joy”.

2. Mari kita lihat ayat empat : berduka ---- akan dihiburkan.
Duka cita karena penyesalan akan dosa sangat dibutuhkan seperti pada zama Ezra (Ezra 10:1). Miskin itu pengakuan, duka cita itu penyesalan.. tidak pernah ada orang berdukacita karena dosa kalau dia tidak pernah mengalami miskin di hadapan Allah. Oleh sebab itu dikatakan setelah miskin ada dukacita. Hanya orang yang miskin dan mengakui ketidaklayakan dihadapan Allahlah yang bisa berduka karena dosa. Karena itu, duka cita karena dosa itu sangat penting. Kita harus hati-hati akan hal ini. Sesuatu yang sebenarnya dosa tidak kita anggap lagi dosa karena kita sudah biasa melakukannya. Kita menolelir hal-hal itu karena itu adalah tradisi dan mata kita tidak lagi tajam melihat dosa. Itulah sebabnya kita tidak pernah bangkit dan bertumbuh secara rohani. Diberkatilah orang berduka karena dosanya. Ada pengakuan bahwa dia miskin dihadapan Allah, tetapi ada juga penyesalan, dukacita yang dalam akan dosanya. Ingat 1 Yoh 1:9? Ayat ini tidak berlaku bagi setiap orang yang mengakui dosanya, tetapi hanya kepada orang yang betul-betul berduka. Kalau bukan dengan penyesalan yang dalam, pengakuan dosa yang keluar dari mulut kita adalah sesuatu yang hampa dan tidak mengakibatkan pengampunan yang sejati. Tidak seorang pun bisa menang dari dosa yang lama kalau bukan dengan pertobatan yang dalam karena dukacita akan dosa identik dengan kebencian dengan dosa. Jika kita melakukan dosa yang sama berarti kita belum membenci dosa tersebut. Jadi, mereka yang memiliki penyesalan yang dalam akan dosa adalah orang yang berbahagia. Mereka bahagia karena dosa mereka telah diampuni dan dilupakan oleh Tuhan. Ingat Mzm 22:1-4 tentang bagaimana manusia berbahagia karena dosanya sudah diampuni. Sukacita akan terjadi bila ada dukacita yang dalam akan dosa. Bila kita mengevaluasi diri kita, apakah tidak ada duka cita akan dosa atau justru kita takut untuk minta ampun kepada Tuhan karena kita tidak bisa menjamin untuk ke depannya kita menjadi setia? Sukacita atau pengampunan akan mendorong kita untuk taat sebagai ucapan syukur. Kalau ada diantara kita yang merasa terpaksa untuk taat, itu adalah sesuatu yang salah. Penghiburan yang sempurna akan kita dapatkan ketika kita bersama dengan Dia. Allah akan menghapus segala air mata orang percaya di akhir zaman (Wahyu 7:17).

3. Ayat 5 : lemah lembut ---- memiliki bumi.
Dalam bahasa Yunani, lemah lembut disebut dengan praus, yaitu sikap rendah hati, lemah lembut terhadap yang lain karena ada sikap tau diri. Artinya, kalau kita orang berdosa yang mengalami kemiskinan di hadapan Allah dan sangat berduka karena dosa, sangat wajar untuk rendah diri dan lemah lembut. Sadar sebagai orang yang miskin (tidak layak) menyebabkan kita membutuhkan Allah dan punya penyesalan akan dosa dan mengalami pengampunan yang indah dari Allah, dan mendorong kita untuk lemah lembut/ rendah hati di hadapan Allah dan sesama. Akar dari kelemah lembutan adalah pendapat yang jujur dan iklas dari seseorang mengenai dirinya (Lyio-Jones). Watak kelemahlembutan membuat kita terhindar dari sikap menghakimi orang lain dan gampang mengampuni orang lain. Bagaimana kita mewarisi bumi dengan sikap ini? Ingat, Yesus menaklukkan bumi dengan kematian jalan salib, kasih, penderitaan, dengan ”ditampar pipi kiri, kasi pipi kanan”. Dan inilah juga cara kita mewarisi bumi, dengan mengalahkan kejahatan dengan kebaikan (Mzm 37:1,11, 22, 34; Yes 57:13; 60:12). Langit dan bumi yang baru pun akan menjadi milik kita sebagai umat Allah (Mat 19:28; 2 Pet 3:23; Why 21:1).

4. Ayat 6 : lapar dan haus kebenaran ---- dipuaskan
Bila kita perhatikan dari awal, ucapan berbahagia ini diawali dari miskin, duka cita, dan lemah lembut, baru di tengahnya muncul haus dan lapar akan kebenaran. Artinya ada bebrapa hal, pertama adala sikap miskin, berduka, dan lemah lembut tidak akan pernah terjadi jika orang tersebut tidak lapar dan haus akan kebenaran. Inilah intinya. Bila kita perhatikan bagaimana Yesus menempatkan hal ini dimana haus dan lapar kebenaran merupakan dasar dari tiga sikap sebelumnya dan menjadi dasar juga untuk sikap berikutnya.

Oleh sebab itu diberkatilah orang yang haus dan lapar akan kebenaran. Jadi miskin dan berduka atas dosa harus disertai dengan haus dan lapar akan kebenaran. Rasa lapar dan haus yang spiritual adalah ciri khas umat Allah. Ambisi utamanya bersifat spiritual, bukan material ( Mat 6:33). Tanpa kebenaran Allah tidak mungkin orang bisa merasa miskin, berduka, ataupun lemah lembut. Hal ini harus kita latih setiap hari. Jika kita melakukan hal ini kita akan merasa puas. Kepuasan bukan dalam artian sukacita semu, tetapi ada kenikmatan, kelegaan bersama dengan Allah. Apakah kita selesai berdoa, saat teduh, maupun membaca Alkitab merasa puas dan kenyang rasanya? Bila tidak, ada sesuatu yang salah yang harus segera kita bereskan. Inilah watak dari anak Allah.

Menurut Alkitab, ada tiga segi kebenaran, yaitu: Pertama, Kebenaran legal yaitu sebuah pembenaran oleh Allah yang terjadi di dalam Kristus (Rm 3:21-24); kedua, Kebenaran moral (etis) sebagai buah dari pembenaran legal di mana dalam hal ini seringkali kita gagal; ketiga, Kebenaran Sosial yaitu keprihatinan dan pembebasan manusia dari segala penindasan dan marginalisasi.

Ada rasa dan haus akan spritual dan di situla kita akan dipuaskan oleh Allah dengan kehadiranNya dan di situlah kita menjadi saleh dan jujur.

5. Ayat 7 : murah hati ---- beroleh kemurahan.
Murah hati berarti mengasihi, gampang memberi, gampang mengampuni orang yang berbuat jahat kepada kita (rom 16:17-21). Orang yang lemah lembut adalah mereka yang tidak menghakimi, yang murah hatinya adalah mereka yang mengampuni. Kebenaran sebagi dasar lemah lembut dan murah hati membuat orang gampang mengampuni. Hanya orang yang murah hati yang dapat mengasihi dan mengampuni tanpa batas dan bukti bahwa kita sudah diampuni oleh Allah adalah kita gampang mengampuni orang lain (Mat 6:14). Kalau kita tidak mengampuni seseorang berarti kita kurang merasakan pengampunan dari Allah. Jaminan pengampunan dan kemurahan hanya ada bagi orang yang mau murah hati.

6. Ayat 8 : yang suci hatinya ---- melihat Allah
Apa hubungan murah hati, lemah lembut, kebenaran dengan suci? Hanya orang hidup dalam kebenaran, murah hati, lemah lembut yang bisa memiliki hati yang suci. Murni artinya jauh dari kepalsuan/kemunafikan, dan di sinilah lahir integritas yang sejati. Kesucian batiniah bukan kesucian ritual karena Allah sangat menentang kesucian ritual. Maka Yesus dalam Mat 23:25-28 mengatakan soal orang Farisi yang seperti kuburan, indah di luar tetapi di dalamnya busuk. Kualitas yang telah disucikan dari kotoran dan kenajisan moral. Orang-orang yang memiliki hal inilah yang bisa melihat Allah, dan mampu melihat kemuliaan dan keagungan Allah yang dasyat itu kelak.

7. Ayat 9 : membawa damai ---- anak-anak Allah
Sangat wajar bila hati yang suci, lembut, dan murah hati membawa damai. Ada satu kalimat yang mengatakan ”bring /created the peace where ever you go, not when ever you go. Inilah anak-anak Tuhan. Allah pencipa damai maka anak-anakNya adalah pembawa damai. Kita adalah peace maker. Setelah kita berdamai dengan Allah di dalam Kristus, kita berdamai dengan diri kita di dalam Kristus. Setelah itu kita berdamai dengan orang lain di dalam Kristus. Oleh sebab itulah kita bisa mendamaikan orang lain dengan oranag lain di dalam Kristus dan kita bisa memperdamaikan orang lain dengan Allah di dalam Kristus. Damai terjadi karena ada pengampunan dan hati yang suci. Jadi kita harus membawa damai, bukan diam demi ’damai’.

8. Ayat 10-12 : dianiaya karena kebenaran ---- empunya Kerajaan Sorga
Membawa damai tidak sama dengan dimusuhi dan dianiyaya. Artinya, di satu sisi kita menciptakan/membawa damai, tetapi pada saat kita membawa damai, mungkin kita akan dimusuhi, dianiaya, difitnah karena mau hidup benar. Aniaya sampai pada luka fisik bahkan kematian bisa dialami oranng percaya yang mau hidup dalam kebenaran. Orang percaya dan haus akan kebenaran akan diperhadapkan dengan mereka yang membenci kebenaraan.

Apa reaksi kita sebagai orang percaya yang dianiaya oleh sebab kebenaran? Ayat ini mengatakan bersukacita dan bergembiralah, karena menderita oleh karena nama Yesus atau kebenaran adalah satu kehormatan (Kol 1:24; 1 Pet 4:13; Yoh 15:18-25).

Kita mungkin hidup miskin, di PHK, tetapi bila kita mengalaminya oleh sebab Kebenran kita harus berani berkata: ” Terpujilah Tuhan!” Bila kita memiliki banyak harta tetapi didapat dengan cara yang tidak benar, tidak ada nilainya dihadapan Allah. Penderitaan karena kebenaran adalah lencana kehidupan yang sejati. Tidak ada satu tanda pemuridan kecuali salib, menderita aniaya oleh sebab kebenaran. Kita bukan hanya dipanggil untuk percaya, melainkan untuk menderita bahkan mati bagi Dia (bila dibutuhkan). Inilah simbol dari murid Kristus yang sejati. Apakah kita menyesal menyuarakan kebenaran dan akhirnya dihukum atau di PHK? Jika anda menyesal, anda kehilangan sukacita/berkat anda.

Ucapan berbahagia ini diawali dengan kemiskinan rohani (ay 3) sebagai tanda pewaris Kerajaan Sorga, dan diakhiri dengan hidup yang dianiaya oleh sebab kebenaran (ayat 10) sebagai syarat warga Kerajaan Sorga. Ketika kita membutuhkan Allah karena kita miskin, itu belum cukup. Tahap demi tahap akan kita lalui sampai pada titik kulminasi, hidup yang menderita karena kebenaran. Itulah watak Kristen. Oleh sebab itu menarik penempatan yang dilakukan Matius akan apa yang dikatakan Yesus. Miskin menyebabkan kita datang kepada Allah kemudian dianiaya oleh karena nama Kristus. Itulah syarat agar kita layak menjadi warga Kerajaan Sorga. Kita akan masuk Sorga ketika kita lahir baru. Pertanyaannya adalah, apakah kita layak untuk hal itu. Yesus meminta ada kesejajaran dari hidup kita sebagai Warga Kerajaan Sorga dengan hidup yang suci dan benar.

Soli Deo Gloria!