Friday, December 3, 2010

Christology of Mission 3: THE SPIRIT OF MISSION

(The Power of Mission)
Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div

Mari melihat 1 Kor 2:1-5. Dikatakan di sana, “1 Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudaraku, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu. 2 Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. 3 Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar. 4 Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, 5 supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah”. Dalam 1 Korintus 1:18-21 banyak bicara mengnai apakah Yesus adalah Mesias. Oleh sebab itulah Paulus berkata bahwa kami tidak mencari hikmat dan tidak menuntut tanda, tetapi kami hanya memberitakan Kristus yang tersalib sebab Kristus itu adalah hikmat Allah dan Kristus itu adalah pernyataan rencana Allah’. setelah ini, Paulus kemudian berbicara dalam 1 Kor 2 tadi.

Dalam ayat 1 dikatakan, “Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudaraku, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu”. Berbicara mengenai tema kita, Spirit gift of Christ, ada pertanyaan yang timbul. Dengan kuasa apa kita melakukan pelayanan sehingga pelayanan kita berkenan kepada Allah? Jika orang Yahudi meminta ‘tanda’ untuk membuktikan apakah Yesus itu betul-betul mesias, dan orang Yahudi meminta dengan hikmat yaitu filsafat-filsafat manusia, maka Paulus mengatakan bahwa fokusnya adalah injil salib Kristus. Paulus datang bukan dengan kata-kata manusia. Artinya adalah bahwa pelayanan pemberitaan Injil bukan soal indahnya kata-kata, permainan kalimat, ataupun filosofi, melainkan soal kuasa Roh Kudus. Oleh sebab itu, jangan pernah berpikir ketika kita melakukan pelayanan - apakah di tempat kerja, gereja, atau di mana saja - jangan pernah berpikir bahwa orang akan berespon dan tertarik kepada Injil jika kita menyampaikan dengan kata-kata yang indah. Ingat, pemberitaan Injil tidak sama dengan membaca puisi atau karya sastra lain. Pemberitaan salib Kristus bukan di dasarkan pada kata-kata yang indah, walaupun dalam menyampaikannya kita perlu sistematis dan terarah, tetapi ingat bahwa kuasanya bukan di dasarkan pada kalimat tetapi Roh Kudus. Jika ada kesemp[atan membawa firman di mana saja, jangan berpikir dengan membuat kata-kata yang indah agar orang tertarik. Ingat kata-kata yang indah tidak akan pernah membawa orang datang kepada Allah. Jadi, kuasa dari misi Allah bukan dari kata-kata yang indah meskipun kalimat yang indah itu baik. Ingat, pemberitaan salib kristus bukanlah entertainment.
Dalam ayat 1 juga kita melihat bahwa pemberitaan Injil salib Kristus bukanlah dengan hikmat manusia (superior wisdom). Artinya, kita tidak lebih berkuasa dalam pelayanan jika menggunakan kalimat-kalimat yang hebat, hikmat duniawi, atau pernyataan-pernyataan yang luar biasa. Kuasa dalam kotbah atau misi bukan dengan hal ini. Mungkin kita akan dikagumi pendengar kita, tetapi mereka tidak mengagumi Kristus yang kita beritakan. Jangan pernah mencoba melayani dengan hikmat manusia yang seakan-akan membuat orang tertarik kepada Tuhan, tetapi justru orang kagum dan tertarik kepada si pemberita, bukan kepada Allah.
Di dalam ayat 2, dikatakan, “Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.” Kita melihat bahwa isi pemberitaan dalam misi Allah adalah mengenai Yesus yang disalibkan, bukan pengalaman atau lembaga di mana kita berada (band 1 Kor 15:3-4). Hati-hati jika dalam melakukan sebuah pelayanan atau misi kita tidak membawa inti berita yang benar. Misi pemberitaan salib Kristus tidak boleh bergeser dari esensinya dan inilah yang menjadi fokus dalam pelayanan misi kita. Bedakan kotbah dengan menasihati. Banyak orang ketika melakukan pelayanan mkimbar mereka tidak kotbah, tetapi menasihati. Kotbah harus menyatakan kebenaran firman dengan pemberitaan injil salib Kristus sebagai intinya.

Dalam ayat 3 dikatakan, “Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.” Paulus mengatakan bahwa kedatangannya bukan di dalam kekuatan dan keberanian tetapi di dalam kelemahan, takut dan gentar. Hal inilah yang membuat Paulus senantiasa bergantung kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh. Justru akan menjadi sesuatu yang aneh jika kita merasa cukup berani. Jika kita tidak merasa takut dalam melakukan pelayanan atau bermisi, justru berbahaya. Sering sekali dalam melakukan pelayanan pertama kali, apakah sebagai petugas acara, koita banyak berdoa dan bergantung kepada Tuhan. Tetapi ketika kita sudah sering melakukan pelanan ini dan kita diminta untuk melayani, kita bisa merasa percaya diri dan tidak taku, sehingga hal ini akan membuat kebergantungan kita kepada Tuhan semakin berkurang. Jika kita dalam kondisi seperti ini, maka pelayanan kita akan kehilangan kuasanya. Kuasa Tuhan akan bekerja bagi kita di dalam pelayanan kita jika kita bbergantung penuh kepada Allah karena kita datang dalam kelemahan, takut dan gentar.
Dalam ayat 4 Paulus berkata, “Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh,”. Dalam NIV ‘kata-kata hikmat yang meyakinkan’ diterjemahkan dengan ‘Not with wise and persuasive words’. Artinya, kuasa Roh Kudus sangat penting untuk membawa orang kepada Allah bukan dengan kata-kata rayuan atau menakut-nakuti orang agar mereka datang kepada Kristus. Persuasive memiliki makna bahwa kita membujuk orang datang kepada Tuhan. Dia mungkin datang tetapi bukan karena iman. Kuasa Roh Kuduslah yang membuat orang datang kepada Kristus. Orang datang justru dengan keyakinan akan kekuatan Roh (with a demonstration of the Spirit’s Power, band 1 Tes 1:5). Dalam Rom 1:14-15 kita melihat ada perpaduan yang kokoh antara Roh Kudus dengan keyakinan yang kokoh akan Injil. Perpaduan ini membuat kita diberi kuasa dalam pelayanan dan hal ini akan membuat iman pendengar tidak bergantung pada hikmat manusia, tetapi kepada Allah (ay 5).

Dalam pelayanan (dalam hal ini misi) kita melihat ada pertentangan antara teknik retorika yang tinggi dengan kuasa daripada Roh Kudus. Teknik retorika yang hebat bisa membuat kita melepaskan kebergantungan kepada Tuhan dan kita merasa bahwa kita dipakai dengan hebat oleh Tuhan. Perpaduan kedua hal ini bisa benar tetapi ingat akan menjadi salah jika kebergantungan kepada Allah menjadi hilang. Sangat baik jika kita memiliki wibawa dari kuasa Roh Kudus. Bandingkan dengan kebanyakan murid (yang banyak kelas bawah, kecuali Lukas) dimana ketika mereka menerima Roh Kudus mereka memiliki kuasa dan wibawa Roh Kudus yang luar biasa.

Dalam melihat The Power of Mission, kita harus menyadari beberapa hal, yaitu:

1. Allah sendiri adalah penginjil yang sejati dan utama. Oleh sebab itulah kita yang melayaniNya haruslah dengan kuasa sang penginjil sejati itu sendiri.

2. Roh Kudus adalah Roh Kebenaran, Kasih, Kesucian, dan Kuasa. Karena itu PI/misi tidak akan mungkin tanpa Roh Kudus. Berbicara mengenai Kisah Para Rasul, orang bisa mengatakan bahwa kitab itu adalah sejarah gereja mula-mula, tetapi kitab ini juga merupakan kisah bagaimana Roh Kudus bekerja di dalam misi (band Yoh 16:8-11). Dalam Yoh 16:8-11 ada tiga pekerjaan Roh Kudus, yaitu akan dosa, kebenaran, dan penghakiman. Artinya adalah tidak akan ada seorang manusia yang menyadari dan menyesali dosanya kalau bukan pekerjaan Roh Kudus. Tidak aka nada seorangpun yang mengerti, menginsafi, dan memahami kebenaran tanpa pekerjaan Roh Kudus. Tidak aka nada seorangpun yang akan mempertimbangankan penghakiman tanpa pekerjaan Roh Kudus. Itu sebabnya betapa penting kuasa Roh Kudus dalam pelayanan. Tanpa Roh Kudus kita tidak memiliki kuasa, tetapi dengan Roh Kudus kita memiliki kuasa di dalam pelayanan (band 1 Kor 12:3). Roh Kudus mengurapi si pembawa berita, mempersiapkan pendengar, menyadarkan pendosa, menerangi orang buta, memberi hidup kepada orang mati (Yoh 6:63), memampukan orang untuk bertobat dan percaya, meyakinkan kita sebagai anak-anak Allah (Rom 8:15-16), memimpin pada keserupaan dengan karakter Kristus (1 Pet 4:6), dst (band Yoh 16:8-11).

Bagaimana agar kuasa Roh Kudus itu bekerja dalam misi yang sedang kita kerjakan?

1. Dalam Ef 6:17 dikatakan bahwa senjata kita dalam peperangan rohani adalah Firman dan Roh Kudus dengan doa. Perjuangan kita bukan melawan darah dan daging tetapi penguasa-penguasa angkasa dan roh-roh jahat (Ef 6:12). Jadi,kalau berperang secara rohani kita harus melaean dengan rohani, dan Firman dan Rohlah senjata kita. Prayerless will be powerless, but prayerful will be powerful. Doa dalam pelayanan bukan formalitas atau mekanis. Semakin kita bergantung kepada Allah di dalam doa, maka kuasa Roh Kudus akan semakin nyata dalam hidup kita.

2. Hidup suci dengan ketaatan adalah dasar untuk kuasa Roh Kudus. Penghalang doa adalah dosa dan penghalang dosa adalah doa. Bukan soal kepintaran kita atau gelar teologia kita, tetapi kuasa hanya ddapat dengan hidup yang suci. Kita pasti akan merasa terdakwa jika kita jatuh ke dalam dosa. Mari belajar untuk hidup suci dalam semua aspek hidup kita.

3. Lepaskan sel - confidence. Semua keyakinan pribadi kita yang bersumber dari pengalaman dan pengetahuan kita harus di hancurkan dan kita harus bergantung penuh kepada kuasa Allah.

4. Dalam Efesus 5:18 dikatakan, ”Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh”. Jadi kita harus penuh Roh dan memaksimalkan karunia Roh kita (1 Kor 12). Penuh Roh artinya seluruh aspek dari hidup kita (pikiran, perasaan, ucapan, tingkah laku) tunduk kepada Roh. Oleh sebab itu jangan biarkan diri kita berdosa, karena tidak mungkin orang berdosa penuh Roh.

5. Taat dan tunduk kepada pimpinan Roh Kudus (Kis 20:22-23). Paulus memperlihatkan bagaimana dia tunduk kepada Roh walaupun ada ancaman atau bahaya yang akan menimpanya. Kuasa di dalam misi adalah kemutlakan untuk tunduk kepada Roh bukan kenyamanan kita.

Thursday, December 2, 2010

Christology of Mission 1: THE CROSS OF CHRIST

Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div

Berbicara mengenai the cross of Christ berarti kita berbicara mengenai harga dari sebuah misi dan dalam hal ini adalah Salib Kristus.

Mari membuka Yoh 12:20-26. Dalam bagian ini kita melihat bahwa Yerusalem didatangi banyak orang dan beberapa diantara mereka adalah Yunani. Tujuan mereka adalah untuk beribadah pada hari raya (20). Pada saat mereka datang, mereka mengatakan kepada Filipus bahwa mereka ingin bertemu dengan Tuhan Yesus. Jadi Filipus besama dengan Andreas datang menemui Tuhan Yesus untuk menyampaikan hal ini kepada Tuhan Yesus. Sedikit menarik karena Yesus meresponinya dengan berkata, “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan”. Jika kita melihat peristiwa dalam Yoh 2:4 saat dimana Maria meminta agar Yesus memperhatikan kekurangan anggur disebuah pesta pernikahan di Kana, Yesus berkata bahwa ‘belum tiba waktuku’ (band Yoh 7:30). Berkali-kali Yesus mengajar para murid dan kemudian mengakhirinya dengan pesan agar para pendengarNya tidak mengatakan kepada siapapun tentang diriNya karena waktuNya belum tiba. Tetapi dalam bagian ini Yesus langsung berkata “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan”. Artinya, ini adalah masa bagi Kristus untuk dimuliakan. Melalui apa Kristus dimuliakan. Di dalam perjalannya kita akan menemukan bahwa Yesus dimuliakan melalui penangkapan, penyesahan, penyaliban bahkan kematiannya di kayu salib. Tetapi Ia kemudian bangkit dari kematian pada hari yang ketiga.

Mungkin kita bisa berpikir ketika mendengar respon Yesus bagi mereka yang ingin bertemu dengan Dia bahwa Yesus adalah seorang yang egois. Ketika ada tamu dan orang banyak ingin bertemu dengan Dia sepertinya tidak diladeni. Sangat wajarlah seharusnya bagi Yesus untuk terlebih dahulu melayani orang yang datang kepada diriNya baru melakukan hal yang lain. Tetapi Yesus melakukan dengan cara yang lain. Ia pergi dan tidak memberi jawaban dan langsung memberikan pernyataan tentang benih dan tanaman, hidup dan kematian, dan tentang hamba dan tuan (24-26).

Jika kita perhatikan ayat 23, Yesus berkata demikian, “Tetapi Yesus menjawab mereka, katanya: “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan”. Teologia Yohanes mengatakan bahwa penyaliban bukanlah tanda kemalangan, kegagalan, kelemahan, atau kehancuran. Tetapi salib adalah tanda atau simbol dari kemuliaan, kemenangan dan kebanggaan. Tetapi tidak berhenti di salib, tetapi harus ada kebangkitan Yesus dari kematian. Jadi dalam teologia Yohanes, sentralitas salib itu sangat menonjol sebagai sebuah simbol kemuliaan, kemenangan, dan kesuksesan Kristus di dalam menapaki jalan yang ditetapkan Bapa kepadaNya untuk misi Allah bagi dunia ini.

Sering kali orang berkata bahwa salib itu adalah sebuah tanda malapetaka atau kemalangan dan memiliki konotasi negatif. Tetapi di dalam minggu-minggu passion ini, mari kita berpikir, menghayati dan mengarah kepada kebenaran bahwa salib adalah tanda kemenangan dan kemuliaan. Ini menjadi sebuah refleksi bagi kita bahwa alumni yang menderita karena kebenaran bukanlah sebuah kegagalan. Alumni yang harus mungkin miskin atau dipecat karena ingin setia kepada Kristus bukalah kegagalan. Penderitaan karena kesetiaan kita kepada Yesus bukanlah kegagalan melainkan sebuah kemuliaan, kebanggaan, dan kemenangan. Ketika kita ditolak dan dihina orangpun karena misi dari Allah, mari berbangga diri. Adalah sebuah kehormatan bagi kita karena demi Kristus kita menderita dan aniaya. Mari mengubah paradigma berpikir kita agar kita tidak pernah berpikir dan merasa gagal karena mengalami berbagai hal di hidup kita oleh karena cinta kita kepada Allah.

Mengapa respon Kristus demikian? Bukankah sebaiknya Yesus menyambut orang yang ingin datang kepadaNya? Apakah Yesus egois? Jawabannya adalah TIDAK! Di dalam ayat 32 ada respon Yesus. Dikatakan di sana, “dan Aku, apabila aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku”. Yesus mengambil sebuah kesimpulan di mana ketika waktunya tiba, orang akan ditarik untuk datang kepada Dia. Tetapi hal ini tidak dinyatakan secara eksplisit di dalam ayat 23-24. Tetapi waktunya akan datang dimana Yesus disalibkan dan ketika Yesus mati dan dimuliakan dan dibangkitkan dari kematian, maka ia akan menarik semua orang untuk datang kepadanya. Jadi, Yesus bukannya menolak atau tidak peduli kepada orang banyak. Melainkan Yesus sangat peduli dan dalam rangka menarik orang kepadaNyalah maka Yesus harus menapaki jalan salib.

Dalam ayat 24 Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jtuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah”. Ketika Yesus berbicara mengenai hal ini Ia sedang berbicara tentang diriNya. Apa yang ingin dikatakan Yesus adalah tentang penderitaan dan kematian diriNya yang akan memberikan dampak yang besar. Yesus harus mati di salib, tetapi apa yang dilakukan Yesus ini dalam rangka membawa orang kepada Allah agar mereka diselamatkan. The cost of mission berbicara mengenai harga dengan penyerahan nyawa. Jika Kristus tidak mati di kayu salib maka keselamatan tidak akan pernah tercipta dan tidak akan tergenapi misi Allah untuk menyelamatkan kita yang percaya kepadaNya. ‘Benih yang jatuh ke tanah dan mati’ merupakan permulaan jawabannya bagaimana Allah menyelamatkan dunia melalui kematian Yesus.

Dalam bagian ini kita melihat bahwa prinsip kehidupan melalui kematian tergambar di dalam dunia tumbuhan yang dijadikan Yesus sebagai ilustrasi. Biji harus mati jika mau menjadi tumbuhan yang menghasilkan biji yang lebih banyak lagi. Inilah harga dalam sebuah pelayanan. Artinya, jika tidak ada kerelaan untuk berkorban maka tidak ada perjuangan atau pelayanan yang bisa dikerjakan dengan baik. Misi Allah harus mengorbankan anak satu-satunya. Dan inilah benih di dalam metafora tersebut. Kristus harus mati dan kematiannya menarik orang yang percaya datang kepada Bapa. Bukankah seharusnya kita anak-anak Tuhan adalah orang yang menikmati anugerah melalui karya Kristus yang telah berinkarnasi seharusnya menjadi orang yang rela berkorban demi orang lain? Melayani artinya belajar mengabaikan diri sendiri demi orang lain. Oleh sebab itu, dalam melayani, kita harus dicabut dari zona nyaman, ikatan keluarga, kenikmatan hidup, dan dari semua hal yang menghambat diri kita berkarya bagi Allah (band Luk 14:25-27). Ini jugalah yang dilakukan para murid Tuhan Yesus, di mana mereka mau jadi martir demi pelayanan mereka kepada Yesus.

Dalam perjalanan Yesus akan disalibkan, Ia mengalami penghinaan. Ia diejek sedemikian rupa, diludahi bahkan mengalami pukulan. Tetapi penderitaan yang Ia alami dalam perjalan menuju salib hanyalah ‘sekedar’ pengantar. Yang menjadi puncak dan klimaks dari penderitaannya adalah ketika Yesus. Jadi, ketika kita dihina atau mengalami penderitaan saat ini oleh karena iman kita, kepada Kristus, ingatlah hinaan ini masih pengantar. Puncaknya adalah salib. Inilah misi yang kita pelajari hari ini. Jadi, jika hanya mengalami penderitaan ini jangan pernah mundur dari pelayanan. Jika kita jatuh cinta kepada Tuhan, tidak ada pengorbanan yang terlalu berat. Inilah self giving love. Ketika kita memiliki cinta seperti ini, maka kita tidak pernah menghitung apa yang telah kita berikan, tetapi mencari peluang apa lagi yang bisa kita persembahkan jika kita jatuh cinta. Inilah cinta seperti yang Allah miliki dan lakukan. Denagn cinta seperti ini, Ia tidak menyayangkan anakNya demi cintanya kepada kita supaya kita tidak binasa,. Oleh sebab itulah kita, sebagai ornag yang percaya, harus memiliki cinta yang sama, yaitu self giving love. Jika kita memiliki cinta seperti ini maka kita tidak akan pernah bersungut-sungut. Misi tidak akan pernah tercipta tanpa ada orang yang mau mati seperti benih tadi atau mau membayar harga demi cinta. Bukankah Newman harus meninggalkan Belanda untuk datang ke tanah Karo? Bukankan Nomensen harus tingalkan Jerman untuk datang ke tanah Batak? Bukankah Agustheis meninggalkan Jerman untuk datang ke tanah Simalungun? Mereka putuskan akar keluarga, memutuskan kesenangan dan meninggalkan semuanya demi self giving love. Mari merenungkan apa harga yang pantas kita bayar demi bermisi.

Mari melihat bayat 25, “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal”. Dalam ayat ini Yesus secara langsung mengatakan kepada muridnya bagaimana harusnya murid – termasuk kita - miliki di dalam pelayanan. Jika ada orang yang mencintai hidupnya sekarang dan di sini (maksudnya di dunia ini) maka dia kehilangan investasi di dalam kekekalan. Tetapi bagi mereka yang kehilangan sesuatu karena pelayanan mereka kepada orang lain, maka mereka berinvistasi di dalam kekekalan. Silahkan mencari uang banyak dan meraih jabatan yang tinggi, tetapi ingat semua demi misi kepada Allah. Jangan hanya fokus kepada kesuksesan dan kebanggaan kita sendiri dan mengabaikan misi Allah. Sesuatu yang disayangkan jika ada alumni yang tidak terlibat di dalam pelayanan atau misi Allah dimanapun profesi kita. Mari bertanya kepada diri kita, apakah kita sekedar menyalahkan pemerintah dengan segaala kebobrokannya? Apakah kita sekedar menyalahkan gereja dengan segala kegagalannya? Apakah kita diam melihat segala ketidakadilan yang terjadi? Mari bermisi untuk hal ini. Misi kita adalah misi yang integral yang mencakup seluruhnya. Kristus tidak hanya datang untuk menyelamatkan jiwa manusia secara vertikalistik, tetapi juga soal misi agung dalam arti holistik.

Dalam ayat 26 Yesus mengatakan bahwa salib bukan saja lambang kesetiaan dan pengorbanan, tetapi juga lambang kasih. Oleh sebab itu Yesus, “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayanKu akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.”. Hal ini bukan berbicara soal Sorga. Tetapi jika anak manusia yang kita ikuti mengalami penderitaan dan mengalami kematian yang menghinakan maka kita juga akan dan harus menjalani cara yang sama. Harga sebuah misi adalah jalan Salib. Memang sangat sulit untuk percaya karena sangat sulit untuk melayani dia. Tetapi sebagai pengikut, kita harus taat dan menapaki jalan yang seperti Kristus tapaki. Tempat Yesus akan menjadi tempat orang yang melayani Dia. Masihkah kita masih berada di jalan salib atau orang yang lari dalam jalan salib.? Ingat, Bapa menghormati orang yang berjalan sama seperti Kristus berjalan.

Mari belajar beberapa hal dari Paulus. Apa yang diambisikan Paulus? Dalam Rom 6:4-6 Paulus mengatakan agar kita menjadi satu di dalam Kristus dalam kematian atau kebangkitanNya. Apa yang menjadi ambisi kita sekarang? Apakah hidup tanpa penderitaan? Ingat Paulus menghadapi setiap konsekuensi untuk menjadi sama dengan Kristus. Demikian juga kita. Kita harus siap menghadapi setiap konsekuensi jika kita ingin menjadi seperti Kristus. Kemudian apa yang kita pelajari dari Paulus adalah kerelaan (2 Kor 4:7-12). Dalam bagian ini Paulus mengatakan bahka dari diri kita tidak ada kekuatan dari diri kita dalam pemberitaan injil tetapi kekuatan yang berasal dari Allah. Paulus dan kawan-kawan siap menderita dan mati demi mengabarkan Injil Kristus (band 2 Kor 11).

Penderitaan dalam misi adalah sebuah sukacita. Kol 1:24 dikatakan, “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang dalam pada penderitaan Kristus, untuk tubuhNya, yaitu jemaat.” Apa yang dimaksudkan Paulus di sini adalah jika Kristus sudah menggenapi segala sesuatunya di Salib, maka sekarang penggenapan itu sampai melalui diri Paulus. Ingat, penderitaan yang kita alami sekarang adalah pengantar. Kristus sudah memberikan contoh bagaimana ia memebrikan harga untuk sebuah misi yang berasal dari Allah dan melalui Paulus kita juga melihat bagaimana cinta yang sama juga melingkupi hidupnya sehingga apa yang enurutnya dahulu berharga sekarang tidak lebih dari sampah demi cintanya kepada Kristus.

Mari hidup belajar untuk bermisi dan mari bersukacita jika kita bisa berkorban atau membayar harga demi sebuah pelayanan. Oleh sebab itu, jikalau ada yang hari ini belum terlibat dalam pelayanan, marilah segera terlibat di dalam pelayanan. Mari bersyukur jika kita bisa menderita demi orang lain, kebenaran, atau misi amanat agung, itu adalah simbol kemuliaan.
SoliDeo Gloria!

Friday, November 19, 2010

Knowing God - The Silence of GOD

Denni B. Saragih, M. Div


Hari ini kita akan membahas mengenai karakter Allah yaitu The Silence God. Ada sebuah peristiwa dimana seseorang kena jambret ketika pulang bekerja. Pada saat peristiwa ini, ada beberapa orang yang sedang di kedai kopi dan melihat peristiwa ini berlangsung. Peristiwa penjambretan ini tidak sesaat, tetapi ada moment dimana korban dan si jambret tarik menarik yang akhirnya dimenangkan oleh jambret. Tetapi orang di kedai kopi tersebut tidak bernuat apa-apa. ini adalah sebuah peristiwa dimana diamnya orang-orang di kedai kopi adalah sesuatu yang menyakitkan dari kacamata korban dan meninggalkan pertanyaan ”Mengapa mereka tidak membantu?’.

Peristiwa lain, dimana banyak orang Indonesia berobat ke luar negeri ketika mereka sakit. Tetapi di sana mereka tidak diberi obat. Bandingkan dengan pengobatan di Indonesia, dimana seorang pasien diberi dengan berbagai macam obat. Bahkan menurut kedokteran di sana, yang paling baik dalam menangani pasien adalah diam (tidak memberi obat). Diam itu memberi efek terapi dan menyembuhkan. Walaupun tidak cepat tetapi menyembuhkan.
Dari dua peritiwa ini kita melihat dua wajah dari diam yaitu menyakitkan dan menyembuhkan. Demikian juga ketika Allah diam, ini adalah sebuah peristiwa yang menyakitkan, yang membuat kita berseru-seru kepada Tuhan. Tetapi kediaman Allah ini juga bisa menjadi sesuatu yang menyembuhkan.
Apa yang dimaksud denagn kediaman Allah? Kediaman Allah bukan berarti Allah tidak bertindak. Tetapi Allah bertindak dengan memilih untuk diam. Allah kadang kala memilih untuk bertindak dengan cara berdiam, baik untuk sementara, jangka waktu tertentu ataupun sampai dengan hari penghakiman berdasarkan kasih, hikmat dan rencanaNya yang mulia.

Mari melihat enam sisi dari kediaman Allah.
1. Kediaman Allah dan pertumbuhan kita.
Allah terkadang diam karena mempertimbangkan kebutuhan kita. Di dalam Rom 8:28-29 dikatakan: ”28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. 29 Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Allah selalu bekerja. Dikatakan bahwa Allah turut bekerja dan Allah sering berkerja dengan tidak cara tidak melakukan apa-apa. Tujuan Allah bukan untuk menyelesaikan masalah kita. Tetapi tujuan Allah adalah mengubahkan anak-anakNya menjadi serupa dengan Kristus. Karena itu dalam penderitaan, pergumulan dan masalah kadang kala Allah memilih untuk membiarkan persoalan itu membentuk kita. Seperti kata pepatah mengatakan ’No Criciss, No Growth’. Jadi, ketika kita di dalam pergumulan, jangan pernah meminta agar Allah menjauhkan cawan pergumulan tersebut dari hadapan kita. Tetapi berdoa agar cawan pergumulan tersebut membuat kita semakin meyerupai Tuhan Yesus dan bahkan kita mengijinkan penderitaan itu terjadi maksimal asal penderitaan atau pergumulan tersebut membuat kita semakin serupa dengan Yesus.
Ada sebuah ilustrasi yang menggambarkan hal ini yaitu ilustrasi mengenai burung rajawali dengan anak-anaknya. Sarang burung rajawali terletak di atas tebing yang terjal dan memiliki beberapa lapisan. Lapisan yang paling luar terdiri dari ranting-ranting kayu yang kasar. Kemudian diikuti dengan lapisan duri-duri. Lapisan ketiga adalah rerumputan dan yang terakhir adalah dedaunan. Ketika baru menetas dari telur anak rajawali berada di atas dedaunan yang lebut. Ketika semakin besar, sang induk membuang lapisan dan tinggallah lapisan rerumputan. Setelah semakin besar, lapisan rumput ini dibuang sehingga si anak tinggal dalam sarang dengan lapisan duri. Seiring dengan perkembangan si anak, sang induk membuang lapisan duri dan tinggallah ranting yang kasar. Kemudian satelah semakin besar, sang indiuk akan melemparkan anaknya ke luar sarang untuk belajar terbang. Jika si anak belum bisa terbang dan terjun bebas menuju tanah, sang induk akan terbang dan menangkap anaknya dan demikan terus sampai si anak sudah bisa terbang.

Demikian juga Tuhan dalam mendidik kita. Tahap demi tahap sampai kita bisa mengembangkan dan mengepakkan sayap dan membangun otot-otot kita dan terbang mengangkasa.
2. Kediaman Allah dan waktu Allah.
Dalam Mat 7:11 dikatakan, ”Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.". Dan Pengk 3:1 berkata, ”Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.”

Ada seorang alumni yang sangat atraktif dan mengenal banyak wanita yang cantik. Kemudian ia berkenalan dengan seorang wanita yang biasa-biasa saja yang kelak menjadi isterinya. Suatu waktu dia mengalami krisis dan dalam krisis ini dia banyak didukung wanita ini. Setelah krisis selesai, ia kemudian marah kepada Tuhan dan berkata: ”Mengapa baru aku baru Engkau pertemukan dengan pacar seperti ini?” Alumni ini akhirnya merasakan bagaimana wanita ini menjadi penolong yang sepadan dengan dirinya.

Allah sering melakukan hal yang demikian, dimana ketika waktunya tiba, kita baru merasakan setiap hal yang telah Allah lakukan dalam kehidupan kita.

Ibarat minyak goreng, ada satu masa, saat minyak tersebut betul-betul panas, baru kita memasukkan makanan yang ingin kita goreng. Jika belum panas besar, maka hasil gorengan tidak maksimal. Ibarat ketika kita membuat sebuah kue maka ada tahapan-tahapan yang berurutan dalam membuat kue. Demikian juga ada tahapan-tahapan di dalam kehidupan kita. Pertanyaannya adalah berada di tahap mana sekarang?

3. Kediaman Allah dan Kesabaran Allah.
Dalam 2 Pet 3:9 dikatakan: ”Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.”
Sering kita memiliki pemikiran agar semua orang jahat langsung dimusnahkan saja. Ketika dia melakukan kejahatan, Allah langsung mengambil nyawanya. Demikian juga bagi mereka yang membakar gereja. Mereka musnah oleh karena terbakar api mereka sendiri. Jika hal ini terjadi, maka dunia pasti aman.

Tetapi Allah tidak melakukan hal yang demikian. Ia sering menunjukkan kesabaranNya. Jika Allah tidak sabar dalam kediamanNya maka tidak ada Yusuf Roni. Ia adalah seorang yang pernah membakar gereja. Setelah gereja tersebut terbakar, ia datang untuk melihat hasil pekerjaannya. Kemudian ia melihat ada meja yang tidak terbakar dimana ada Alkitab. Dari bacaan inilah akhirnya ia bertobat. Sejak dahulu Allah selalu bersabar dalam kediamanNya. Mari melihat Paulus. Seorang penganiaya jemaat Yesus untuk menyenangkan hati Tuhan akhirnya menjadi pembela Kristus sampai akhir hidupnya.
4. Kediaman Allah dan murka Allah.
Allah juga bisa diam karena terlalu marah. Dalam Rom 1:18 dikatakan: ”Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman.” Dengan jelas dikatakan bahwa Allah marah dengan kefasikan manusia khususnya di kota Roma. Pada saat itu kebenaran ditindas, orang yang rendah hati ditertawakan dan diejek, dan orang benar dianggap salah. Intinya adalah orang Roma semakin jahat. Oleh karena inilah Allah menghukum mereka dan murka Allah itu nyata. Tetapi murka Allah ini bukan seperti ketika Allah menunjukkan murkanya atas Sodom dan Gomora. Kemurkaan Allah digambarkan dalam ayat 24, 26, dan 28. dikatakan disana: ay 24, ”Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka.; 26, ”Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar”.; 28, ”Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas:”. Dari ketiga ayat ini kita melihat ada tiga kata yang diulang yaitu ’Karena itu Allah menyerahkan mereka’. Inilah bentuk murka Allah dimana Allah membiarkan manusia semakin jahat di dalam kejahatannya.

Murka Allah ada dua, yaitu, pertama, menghukum demi kebaikan kita dan kedua, membiarkan kejahatan sampai titik moral terendah dan perilaku manusia menjadi perilaku binatang.
Orang Roma pada masa itu sangat jahat. Banyak dari mereka memelihara remaja-remaja untuk disodomi. Bahkan tidak jarang juga mereka memberi anak remaja sebagai hadiah untuk pejabat yang berulang tahun. Bahkan kehidupan seks mereka dipertontonkan untuk dilihat orang. Sungguh kehidupan yang tidak memiliki moral sama sekali. Mengapa manusia memiliki ide sebejat ini? Karena Allah membiarkan mereka dalam murkanya untuk jatuh lebih lagi ke dalam kejahatan.

Diamnya Allah oleh karena murkaNya adalah sesuatu yang bahaya. Banyak orang yang bergelimang dosa berada dalam neraka saat ini. Mereka jatuh ke dalam dosa, menderita, kemudian mencari solusi melalui narkoba maupun kejahatan lainnya. Mereka hidup penuh penderitaan. Mengapa demikian? Karena mereka sudah berada di dalam neraka.
5. Kediaman Allah dan hari Penghakiman.
Prinsipnya adalah 2 Pet 3:3-7, ”3 Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya. 4 Kata mereka: "Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan." 5 Mereka sengaja tidak mau tahu, bahwa oleh firman Allah langit telah ada sejak dahulu, dan juga bumi yang berasal dari air dan oleh air, 6 dan bahwa oleh air itu, bumi yang dahulu telah binasa, dimusnahkan oleh air bah. 7 Tetapi oleh firman itu juga langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api dan disimpan untuk hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik.”
Keadilan Allah tidaklah sepenuhnya bisa dijelaskan dengan hanya melihat dunia masa kini. Dunia sekarang ini penuh dengan ketidakadilan. Banyak orang jahat tidak dihukum dengan sepantasnya tetapi orang benar tidak dibela dan selalu tersudut. Inilah dunia sekarang ini. Oleh sebab itulah ada hari penghakiman. Hari ini ada untuk menegakkan keadilan di dunia ini dimana yang jahat akan dihukum dan yang benar akan dibela dan dideklarasikan. Akhir zaman mengantisipasi keadilan Tuhan dalam bentuknya yang paling sempurna. Dunia ini tidak sama dengan dunia dalam film India dimana yang benar selalu kalah di awal tetapi pada akhirnya selalu menang. Ada orang yang baru pertama sekali mencopet karena situasi yang memaksanya (anaknya sakit keras) dikeroyok pencopet lain karena dianggap mengambil daerah kekuasaan. Banyak ketidakadilan lagi yang muncul dan kita akhirnya bertanya ’Mengapa Allah tidak berbuat sesuatu?’. Allah bukannya tidak berbuat sesuatu. Allah lebih memilih untuk tidak melakukan apa-apa dan menyimpan semua untuk hari penghakiman.

6. Kediaman Allah dan Iman kita.
Beriman bukan berarti segala sesuatu menjadi lebih baik. Tetapi kita beriman kepada karakter-karakter Allah dimana Ia adalah baik dan penuh kasih karunia. Allah memilih diam bukan berarti karena Ia tidak peduli tetapi karena hikmat dan kebijaksanaanNya. Jangan takut jika ada banyak kejahatan tetapi tidak kena hukum. Alalh bertindak dalam keadilan dan kebenaranNya.

Allah tidak selalu impulsif dalam bertindak. Allah sering memilih diam dalam setiap pergumulan kita. Tetapi kita akan semakin dewasa dan bertumbuh dalam kediaman Allah.
Soli Deo Gloria!

Knowing God - The Goodness and Severity of God


KG III-2010
Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div

Hari ini kita berbicara mengenai pribadi Allah dari segi atribut Allah, yaitu The Goodness & Severiy of God-Kebaikan/kemurahan dan Kekerasan Allah. Satu atribut dimana kebaikan atau kemurahan yang dari Allah dipasangkan dengan kekerasan Allah sendiri.
Kedua karakter ini merupakan atribut Allah yang tidak bisa dipisahkan. Dia adalah Allah yang baik dan juga Allah yang tegas. Kesalahan kita adalah sering hanya memandang dari sisi kebaikan Allah saja dan melupakan bahwa Dia juga adalah yang keras dan tegas. Karena itu, dua karakter ini harus dilihat secara bersamaan jika kita ingin memiliki pengenalan yang benar akan karakter atau atribut Allah.

Dua karakter Allah ini selalu muncul berdampingan dan simultan. Kita juga bisa melihat kedua karakter ini dalam penerapan kasih karunia Allah dimana kebaikan dan kekerasan Allah secara simultan muncul di dalam pernyataan kasih karuniaNya. Kedua karakter ini terjadi bersamaan. Rom 11:12 berkata: “Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamupun akan dipotong juga.” Paulus menuliskan hal ini kepada orang Roma yang Non-Yahudi atau Non-Israel. Artinya, Paulus ingin mengatakan bahwa oleh karena kekerasan bangsa Israaellah, maka mereka (non Yahudi) di’cangkok’kan kepadaNya oleh karena kemuraha Allah sendiri. Maka jika mereka mengeraskan hati, kekerasan Allah juga akan diterapkan di dalam mereka.

Demikian juga dalam kisah perjumpaan Musa dengan Tuhan. Dalam Kel 34:5-7 dikatakan: ”Turunlah TUHAN dalam awan, lalu berdiri di sana dekat Musa serta menyerukan nama TUHAN.Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: "TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat." Artinya, ada sebuah keseimbangan dan kemunculan yang simultan antara kemurahan dan kekerasan Allah.

Kedua karakter yang tidak dilihat dengan keseimbangan akan menimbulkan sebuah pemahaman dimana kemurahan atau kebaikan Allah itu adalah sesuatu yang gampangan, enak, dan murahan. Ingat, Allah yang murah hati bukan berarti murahan. Misalnya, Allah yang murah hati dengan segala kemurahan dan kasih karunianya mengampuni segala dosa manusia adalah sesuatu yang sangat mahal (walaupun kita menerimanya dengan murah). Oleh karena pelaksanaan kasih karunia dan kemurahanNya maka Kristus, anak satu-satuNya, dikorbankan di kayu salib.

Bagi kita peristiwa ini adalah sesuatu yang murah tetapi bagi Allah ini adalah sesuatu yang mahal. Jadi, kemurahan Allah jangan diidentikkan dengan sesuatu yang murahan. Jika kita memahami hal ini maka rasa hormat kita kepada Allah akan bertumbuh dan tidak akan bermain-main dengan keselamatan yang kita alami. Mari kita melihat kehidupan kita. Adakah kita bermain-main atau kurang menghargai kemurahan Allah? Apakah kita hidup sembarangan dan tidak menjaga kekudusan dengan hidup yang penuh dengan dosa? Dengan memahami kemurahan itu bukan sesuatu yang gampangan, maka kita bisa belajar untuk hidup di dalam kekudusan dan ketaatan kepada Allah.

Kekerasan tidak sama dengan kejam atau sadis. Kekerasan juga bukan berarti tanpa kesabaran atau kelembutan. Tetapi kekerasan Allah diterapkan dalam kasihNya. Ketika Allah mengingatkan sesuatu dengan tegas dan menghukum dosa dengan adil dan keras, Allah melakukannya di dalam kasih, kelembutan, dan kesabaran. Murah hati (kebaikan) berjalan bersama/berdampingan dengan kekerasan.

The Goodness of God
Berbicara mengenai kebaikan Allah, perlu kita ketahui bahwa kasih setia Allah berlimpah-limpah (Kel 34:6, ”Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: "TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya,”). Hal ini bukanlah sesuatu yang bersifat teoritis belaka tetapi adalah pengenalan dalam perspektif pengalaman kita secara pribadi. Jika kepada kita dikatakan ’Allah itu baik!’, apa yang ada di dalam pikiran kita? Hal ini sama dengan ketika kepada kita disebut kata ’Berastagi’, maka ada satu pengalaman yang berbeda yang muncul di masing-masing benak kita. Mungkin ada yang berpikir ’dingin’, ’tempat jadian’, ’pasar buah’, ’pemandangan’, dll. Apa ’berastagi’ belum tentu mempunya makna atau kesan yang sama bagi masing-masing kita. Jadi ketika dikatakan ”Allah itu baik!’ atau ’Allah itu murah hati!’, apa yang menjadi kesan bagi masing-masing kita bisa berbeda. Inilah yang disebut selective perception. Dan seharusnyalah kemurahan dan kebaikan Allah yang menjadi kesan dalam kehidupan kita karena Allah melimpah kasih karuniaNya.
Dalam Maz 106:1; 107:1; 118:1; 136:1 2 Taw 5:13; Yer 33:11, kita menemukan kalimat ’Allah baik, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya’ Pengakuan ini akan memunculkan dua hal. Pertama, pengalaman akan kebaikan Allah akan melahirkan syukur yang tulus kepdanya. Kedua, pengakuan ini juga sekaligus menghasilkan pengharapan. Allah yang baik di masa lalu, maka ada keyakinan dan pengharapan bahwa kebaikan Allah tidak akan berubah di masa depan. Apakah kedua hal ini, syukur atau pujian dan iman dalam pengharapan, muncul dalam diri kita? Atau kita dalam kondisi sulit bersyukur? Mari melihat Maz 103:1-5, ”1 Dari Daud. Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! 2 Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! 3 Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, 4 Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat, 5 Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali.”

Dalam ayat 1 kita melihat ada pujian yang tulus keluar dari dalam jiwa dan batin dari pemazmur. Kita bisa saja memuji Tuhan dengan mulut kita, tetapi hati kita tidak. Tetapi Daud tidak. Ia memuji Tuhan dengan tulus dengan cara tidak melupakan semua kebaikan Tuhan. Kemurahan Allah seharusnya melahirkan pujian yang tulus dari dalam hati kita. Kebaikan dan kemurahan Allah tidak diukur dari pengalaman kita atau apa yang kita nikmati. Kebaikan dan kemurahan Allah tidak pernah berkurang atau bertambah sehingga tidak ditentukan oleh sikap atau pengalaman kita. Permasalahannya adalah bagaimana kebaikan Allah yang tetap dan tidak berubah itu bisa kita nikmati secara pribadi sehingga kita bisa berkata ’Pujilah Tuhan hai segenap jiwa dan batinku’.

Jika kita tidak bisa melihat lagi kebaikan dan kemurahan Tuhan, maka akan ada ketakutan bagi kita dalam menyongsong kehidupan kita. Apakah kita bisa berkata ’Tuhan itu baik!’ walau di umur 35 kita belum punya pasangan hidup? Apakah kita bisa berkata ’Tuhan itu baik!’ walau keuangan kita sangat terbatas? Ingat, Tuhan tetap baik walau apapun yang kita alami. Sekali lagi, kebaikan Allah bukan didasarkan pengalaman kita. Pemahaman ini bukanlah teologia Kristen. Apapun pengalaman dan yang terjadi di dalam hidup kita, kebaikan dan kemurahan Allah tidak pernah berubah. Jadi, sekarang adalah bagaimana kita bisa menikmati kenyataan ini. Semakin kita menghitung kebaikan dan kemurahan Allah di dalam hidup kita, semakin kita bisa bersyukur dan memuji Dia di dalam hidiup kita. Sebaliknya, semakin kita menghitung apa yang kurang dalam hidup kita, semakin tambahlah ketakutan dan kakuatiran kita. Karena itu, jangan lebih banyak berfokus kepada apa yang belum kita peroleh, tetapi fokuslah kepada apa yang telah kita peroleh supaya kita bisa menikmati kebaikan Allah dan mengucapkan syukur padaNya.

Apa kebaikan dan kemurahan Allah? Di dalam Maz 107:4-9 dikatakan: ”4 Ada orang-orang yang mengembara di padang belantara, jalan ke kota tempat kediaman orang tidak mereka temukan; 5 mereka lapar dan haus, jiwa mereka lemah lesu di dalam diri mereka. 6 Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan dilepaskan-Nya mereka dari kecemasan mereka. 7 Dibawa-Nya mereka menempuh jalan yang lurus, sehingga sampai ke kota tempat kediaman orang. 8 Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia, 9 sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga, dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan.” Ada banyak kebaikan dalam bagian ini yaitu tuntunan, kepuasan, dan kenikmatan. Inilah kebaikan Allah (band. Maz 107:10-16, 17-22, 23-43). Rasakan dan nikmatilah kebaikan Allah.

The Severity of God
Allah yang baik dan murah hati juga adalah Allah yang tegas dan keras. Tetapi Allah bukan tidak sabar dalam kekerasanNya. Tetapi Ia lambat marah dan panjang sabar (Maz 103:8-14; 145:8-9; Kel 34:6, dll). Jika kita evaluasi, pasti kita menemukan bahwa selama tahun 2009 kita banyak melakukan dosa. Mari membayangkan jika Allah tidak panjang sabar dan tidak lambat untuk marah, bukankah kita semua tidak ada di tempat ini? Kesabaran Allah adalah demi pertobatan manusia, tetapi ketika kemarahan Allah diterapkan, kekerasan Allah juga muncul (Rom 2:1-5; 11:22; 2 Pet 3:9; Why 2:5). Orang yang mengeraskan hati akan mendapatkan keadilan dari Allah. Allah selalu memberi kesempatan untuk bertobat karena Ia lambat marah.

Allah yang penuh kasih karunia juga adalah Allah yang keras di dalam mendisiplinkan umatNya. Ibrani 12::7b dikatakan: ”Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?” (Ibrani 12:5-10). Mari menyadari hal ini dimana Allah yang penuh kemurahan juga adalah Allah yang keras dalam mendidik kita. Tuhan sering menegur orang dengan berbagai cara dari yang lembut sampai yang keras. Maz 119:71 berkata: ”Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.” Pengakuan yang sangat luar biasa. Pemazmur bisa menikmati kekerasan Allah demi pertobatannya.
Mari belajar dari hamba-hamba Tuhan dari catatan Alkitab.
Musa. Apa kesalahan Musa adalah ketika ia marah dalam peristiwa di Meriba. Akibatnya, ia tidak dapat masuk ke tanah perjanjian dan hanya bisa melihat dari kejauhan. Allah sangat keras kepada Musa karena tidak menghormatiNya. Jika kita taat kepada Allah, mungkin kita bisa dipakai untuk satu perbuatan yang lebih besar. Tetapi karena ketidaktaan Tuhan berkata ’Cukup! Sampai di sini saja.” Ini adalah peringatan bagi kita. Bari belajar dari Musa yang tidak diijinkan Tuhan masuk ke dalam tanah Kanaan karena Tuhan marah kepadanya akibat kemarahan Musa kepada umat Allah. Jangan sampai kekerasan Allah kita alami yang membuat kita tidak bisa berkarya lebih besar lagi kepada Allah.

Israel. Allah berkali-kali menunjukkan kekerasannya kepada bangsa Israel. Ketika mereka tidak taat kepada Allah dalam perjalanan Mesir ke Kanaan, Allah marah dan mengatakan bahwa tidak ada dari mereka (orang Israel) yang keluar dari Mesir yang akan sampai ke tanah Kanaan kecuali Kaleb dan Yosua.

Saul. Roh Allah meninggalkan Dia (dalam PL, Roh Kudus adalah tanda pengurapan Allah yang hanya ada pada imam dan raja). Semua disebabkan ketidaktaatan Saul kepada Allah. Allah bisa mencabut talenta, karunia dan potensi kita sehingga kita tidak berkembanag. Jangan sampai Allah menarik semua potensi kita karena ketidaktaatan kita. Allah tidak bisa dipermainkan.
Daud. Daud tidak setia sehingga anak hasil perzinahannya dengan Batsyeba harus mati. Lalu Daud dikudeta oleh anaknya, Absalom. Kemudian Absalom juga mengambil semua gundik Daud dan memperkosanya secara terbuka. Yang terakhir Daud di usir dari Istana. Sangat keras bukan?

Para Murid. Ketika Petrus oleh karena kasihnya kepada Yesus melarang Yesus ke Yerusalem, Yesus menyebutnya dengan ’Iblis’karena hanya memikirkan apa yang dipikirkan manusia bukan memikirkan apa yang dipikirkan oleh Allah.

Ananias dan Safira. Hanya karena bohong ketika ditanya oleh Petrus, mereka langsung mati. Seandainya kasus Annaias dan Safira masih berlaku, mungkin banyak manusia yang akan mati.
Ini adalah kekerasan Allah. Ada banyak kasus dalam PL dan PB. Bukankah Allah ikut mengeraskan hati Firaun? Ketika Firaun mengeraskan hatinya, Allah pun turut mengeraskan hatinya sehingga tidak bisa ditegor dan bencana menimpa. Jangan ada diantara kita yang mengalami kekerasan Allah.

Allah itu keras sekaligus murah hati di dalam hidup kita. Karena itu mari melihatnya secara objektif di dalam hidup kita. Oleh sebab itu jangan mempermainkan kemurahan Allah karena selain murah hati, Allah juga keras dan tegas. Mari seimbangkan kekerasan Allah dan kemurahanNya di dalam diri kita.
Soli Deo Gloria!

Knowing God - Kasih Karunia Allah

Prasasti Perangin-angin

Tema kita hari ini adalah Kasih Karunia Allah, dimana kia akan mengenal Allah dalam hal kasih karuniaNya. Dunia ini sedang kekosongan kasih karunia Allah. Gereja, sebuah tempat dimana seharusnya kasih karunia dapat ditemukan, tidak memiliki kasih karunia tersebut. Philip Yancey memberikan contoh di dalam bukunya dimana seseorang dokter bernama Tpurnier menceritakan tentang pasien-pasien yang datang kepadanya. Seorang pria yang memendam rasa bersalah karena dosa lama. Seorang wanita yang tidak bisa melupakan aborsi yang ia lakukan sepuluh tahun yang lalu. Dokter ini menemukan bahwa passien-pasiennya ini merindukan kasih karunia. Dan ketika mereka datang ke Gereja, mereka tidak menemukan kasih karunia, tetapi rasa malu dan sebuah penghakiman. Mereka mencari kasih karunia di gereja tetapi mereka tidak menemukanya.

Contoh lain mengisahkan seorang wanita yang sudah bercerai dengan suaminya dimana sebenarnya mereka aberdua adalah nak Tuhan. Suatu hari si perempuan pergi ke gereja bersama dengan putrinya yang berumur 15 tahun. Selesai ibadah, istri pendeta gereja menjumpai perempuan ini dan berkata: ”Saya dengar anda bercerai? Apa yang tidak saya pahami adalah kalau anda mengasihi Yesus dan ia mengasihi Yesus mengapa itu kalian lakukan?” Padahal isteri pendeta ini belum pernah berbicara dengan perempuan ini mengenai permasalahannya yang menyebabkan ia bercerai. Perempuan ini mendapatkan penghakiman dari isteri pendeta bukan sebuah pelukan hangat yang mengandung empati. Inilah yang terjadi di dalam dunia ini. Tidak ada tempat bagi orang-orang yang jatuh di dalam dunia ini.
Ada empat konsep kebenaran yang akan menghantar kita memahami kasih karunia.

1. Hilangnya nilai moral seseorang
Dunia melihat prestasi ilmiah mereka yang luarbiasa dan cenderung meninggikan diri sendiri. Kekayaan materi jauh lebih penting ketimbang karakter moral. Secara tegas bersikap terhadap diri sendiri, melakukan sedikit kebaikan sebagai pengganti kejahatan yang besar dan menolak pemikiran bahwa secara moral ada sesuatu yang salah dengan mereka. Hari nurani yang buruk mereka abaikan dan menganggap hanyalah gangguan psikologis yang tidak sehat, suatu tanda penyakit atau penyimpangan mental, bukan sebagai indeks realitas moral manusia. Mereka memandang dosa kecil tidaklah mengambarkan diri mereka sebenarnya karena mereka pada dasarnya adalah baik di dalam hati mereka. Gagasan bahwa mereka adalah ciptaan yang jatuh dari gambar Allah yang telah rusak, pemberontakan terhadap Allah, berdosa dan najis dalam pandangan Allah, dan hanya pantas mendapat murka Allah tidak pernah masuk di dalam pikiran mereka. Gagasan seperti ini tidak akan bisa membawa kita mengerti apa arti kasih karunia Allah.

2. Keadilan retributif Allah
Allah adalah hakim atas seluruh bumi dan Ia akan melakukan penghakiman-Nya dengan benar. Keadilan adalah yang bersifat penghukuman Allah terhadap dosa. PenghakimaNya benar “Ia membela orang yang tidak bersalah”. Allah akan menghukum dengan adil para pelanggar (Kej 18:25, ”Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?"). Allah tidak benar terhadap diri-Nya sendiri jika Ia tidak menghukum dosa. Tetapi jika orang yang berbuat salah tidak dapat mengharapkan apapun dari Allah kecuali hukuman yang setimpal maka kita tidak bisa mengerti apa arti kasih karunia Allah.
Keadilan mengharuskan adanya hukuman. Tetapi dalam hal ini keagungan kasih karunia Allah bekerja. Serring sekali dalam pemahaman kita konsep ’keadilan yang mengharuskan adanya penghukuman’ sangat melekat dengan baik. Dan konsep inilah yang kita pegang sehingga pelayanan kita dipenuhi dengan hukum-hukum ‘taurat’ yang baru dimana orang yang bersalah harus dihukum dan orang yang baik akan dipuji. Tidak ada tempat bagi orang ‘tidak baik’ atau memiliki aib di dalam pelayanan.

3. Ketidakberdayaan Rohani Manusia
Toplady berkata: “Bukan perbuatan tanganku yang dapat memenuhi tuntutan hukumMu, sekalipun semangatku tidak berhenti mengerti, sekalipun airmataku mengalir tanpa henti semua itu tidak dapat menebus dosa”. ita akan bisa mengerti kasih karunia Allah ketika kita menyadari bahwa tidak ada yang berdaya. Pernyataan ini menuntun pada pengakuan tentang ketidakberdayaan manusia. Untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah dan untuk mendapatkan kembali perkenaan Allah setelah kita terhilang adalah diluar kekuatan kita. Orang harus menerima kenyataan ini sebelum ia dapat mengerti apa arti kasih karunia. Mari merenungkan hidup kita, nafas yang setiap hari kita hirup bisa kah kita pahami semuanya. Dimana awal dan akhir dari hidup kita, apakah kita sanggup membawa apa yang kita miliki sampai akhir hidup ini? Bukankah semua hal ini bisa terjadi karena karya dari Allah. Kasih Karunia Allah nyata bagi kita.

4. Kasih Karunia adalah Kebebasaan Allah yang berdaulat
Agama orang kafir memandang semua ilah terikat pada para penyembahnya dengan ikatan kepentingan pribadi, sebab ia tergantung pada pelayanan dan pemberian mereka untuk kesejahteranya. Orang modern juga berpikir demikian oleh karena satu alasan tertentu Allah wajib mengasihi dan menolong kita meskipun kita tidak berhak mendapatkanya. Allah menyelamatkan manusia untuk kepentingan Allah sendiri. Allah menyelamatkan manusia karena ketergantungan Allah terhadap manusia. Allah berharap sesuatu dengan menolong kita. Seorang pemikir prancis berkata “Allah akan mengampuni karena itulah pekerjaanya” sampai meninggal dunia ia berkata berulang-ulang demikian.

Pandangan diatas tidak memiliki dasar yang kuat. Karena Allah Alkitab tidak pernah tergantung kepada ciptaaNya untuk kesejahteranNya ( Maz 50:8-13, Kis 17:25). Dan karena kita telah berdosa Ia tidak terikat untuk menujukan kemurahaNya kepada kita. Allah tidak berhutang sehingga harus menghentikan proses keadilaNya. Ia tidak wajib memberi belas kasihNya atau memberi ampun. Kalaupun semuanya itu dilakukan, semua itu sesuai dengan kehendak bebas-Nya dan tidak ada sesorang pun yang memaksa Dia untuk melakukanNya (Rom 9:16). AnugrahNya bersifat sukarela dan keputusan ini merupakan keputusan yang tidak perlu dibuat Allah dalam kasus apapun. Di sinilah sesorang bisa memulai memahami padangan Alkitab tentang kasih karunia. Dalam kebebasan dan sukarela, Allah memilih mengasihi kita dan menyelamatkan kita.

Jadi, kasih karunia Allah merupakan kasih yang secara sukarela ditunjukan kepada orang yang berdosa dan yang bersalah, sesuatu yang berlawanan dengan apa yang pantas orang berdosa terima dan sesungguhnya bertentangan dengan keburukan orang berdosa. Allahlah yang menunjukan kebaikanNya kepada orang-orang yang hanya pantas mendapatkan hukuman yang berat dan mereka tidak memiliki alasan untuk mengharapkan apa pun kecuali hukuman yang berat.

Kasih keagungan Allah dapat dilihat dari tiga hal.

1. Kasih karunia adalah sumber pengampunan dosa
Injil berpusat pada pembenaran. Penghapusan dosa dan penerimaan diri kita oleh Allah. Pembenaran dari status sebagai penjahat terkutuk yang menantikan hukuman mengerikan menjadi ahli waris yang menantikan warisan yang menakjubkan. Pembenaran terjadi karena iman. Menaruh percaya kepada Tuhan Yesus sebagai juruselamat. Pembenaran ini adalah cuma-cuma bagi kita tetapi sangat berharga bagi Allah yakni dibayar dengan kematian anak Allah sebagai penebusan dosa. (bd Roma 8:32) Mengapa Allah tidak menyayangkan anakNya itu adalah karena kasih karuniaNya yang secara sukareal menyelamatkan dan menebus manusia. Kasih karunia seperti kita menikmati danau toba, kita duduk dipinggir penginapan menikmati pegunungan, menikmati udara yang sejuk menikmati danau yang mengagungkan. Kita tidak diwajibkan untuk melakukan atau membayar apapun untuk menikmati keindahan tersebut.

2. Kasih karunia sebagai motif dari rencana keselamatan
Jadi seharusnya ada sukacita karena tahu bahwa pertobatan kita tidak terjadi secara kebetulan tetapi merupakan tindakan Allah yang telah direncananNya dari kekekalan untuk keselamatan manusia.

Bintang-bintang bisa jatuh tetapi janji Allah akan tetap teguh dan digenapi. Rencana keselamatan dituntaskan dengan penuh kemenangan. Jadi, kasih karunia akan terbukti sebagai sesuatu yang penuh kuasa. Itu sebabnya, orang akan mengalami sukacita dalam menikmati kasih karunia Allah.

Kasih karunia adalah sebab dan keselamatan adalah akibat (band. Efesus 2:8, Titus 2:11, Yoh 3:16, Roma 5;8, Zak 13:2). Jaminan keselamatn ini lah yang memberi kekuatan kepada kita untuk bisa hidup dengan jujur di temat dimana kita berada, termasuk di dalam dunia kerja kita. Apa yang kita kuatirkan ketika Allah telah menjaminkan kesematan dalam kasih karuniaNya kepada kita?

3. Kasih karunia sebagai jaminan perlindungan terhadap orang percaya.
Jika rencana keselamatan pasti digenapi, maka masa depan orang Kristen terjamin. Saya saat ini dan selamanya akan terpelihara dalam kekuatan Allah karena iman, sementara menantikan keselamatan (1 Petrus 1:5, ”Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.”).

Doddridge mengatakan ”kasih karunia pertama-tama mengoreskan namaku, dalam buku kekal Allah. Waktu itulah kasih karunia membawaku kepada Anak Domba yang mengangkat semua dukacitaku. Kasih karunia mengajar jiwaku untuk berdoa dan mengenalkan kasih yang mendatakankan pengampunan, waktu itulah kasih karunia memelihara aku sampai hari ini dan tidak akan membiarkan aku pergi”.

Apa tanggapan kita akan kasih akrunia Allah? Seharusnyalah kita tidak bisa bersikap lain selain, menyenangkan hati-Nya dengan perasaan heran dan sukacita. Sebab injil menceritakan kepada kita bagaimana Sang Hakim itu telah menjadi Juru Selamat kita. Kita yang seharusnya mendapatkan hukuman, beroleh kasih karunia di dalam Dia. Cinta Romantis adalah pengalaman yang paling mirip dengan kasih karunia murni. Seorang akhirnya merasa bahwa saya adalah makhluk yang paling dirindukan, paling menarik, paling diinginkan di seluruh planet. Seseorang tidak bisa tidak pada malam hari unutk memikirkan saya. Seseorang memaafkan saya sebelum saya mememintanya, memikirkan saya ketika ia berdandan, menyesuaikan hidupnya dengan hidup saya. Seorang yang mencintai saya apa adanya. Itulah kasih karunia. Jadi, mari hidup di dalam kasih karunia itu.

“Oh bertapa besar aku berhutang terhadap kasih karunia,
Setiap hari aku didesak untuk bersyukur,
Biarlah kasih karunia itu sekarang seperti belenggu
Mengikat hatiku yang senang mengembara kepada-MU,

Ada orang yang berpendapat bahwa doktrin tentang kasih karunia Allah cenderung mendorong pangabaian moral (‘bagaimanapun kita akan selamat, tidak peduli apa pun yang kita lakukan karena tindakan kita tidak akan berpengaruh apa-apa’). Tetapi J.I Packer mengatakan bahwa orang yang memiliki pikiran seperti ini adalah orang yang tidak tahu apa yang sedang ia bicarakan. Karena pada giliranya kasih akan membangkitkan kasih. (Efesus 2:10, ”Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya”; Titus 2:11-12, “Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keingina duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini”). Anugrah itu berujung kepada “melakukan perbuatan baik’. Kasih karunia itu mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan, keinginan-keinginan duniawi, dan supaya kita hidup bijaksana dan adil (2 Tim 2:12). Orang yang mengalami kasih karunia akan semakin berubah menjadi lebih baik.

Sebuah kisah lain menceritakan bahwa ada seorang ayah di Spanyol memutuskan untuk berdamai dengan putranya yang melarikan diri ke Madrid. Dengan penuh rasa sesal, sang ayah memasang iklan di surat kabar El Libral yang berbunyi demikian: “Paco, temui saya di Hotel Montana hari Selasa tengah hari. Semua sudah dimaafkan. Papa.” Ternyata Paco adalah anma yang umum di Spanyol. Ketika Selasa tengah hari tiba, dan sang ayah datang ke hotel, ada sekitar 800 pemuda yang bernama Paco yang datang dan menungguh ayah mereka untuk memperoleh pengampunan. Dunia ini membutuhkan kasih karunia, Allah merindukan pelayanan kita dan setiap kita akan membagaikan kasih karunia itu kepada mereka”
Soli Deo Gloria!

[Knowing God 1 - 2010] - The Love of Our Father

(KG I- 2010)
Denni B. Saragih, M. Div


Jika kita melihat kitab Markus dan membaca Mark 1:11, kita akan menemukan sebuah pernyataan Allah kepada Yesus yang berbunyi, “Lalu terdengarlah suara dari sorga: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan."

Kita pasti memiliki pengalaman ditolak, apakah penolakan kecil atau penolakan besar amat dalam dan menyakitkan. Bahkan penolakan yang amat dalam ini bisa menyebabkan seorang alumni meninggalkan komunitas di mana ia berada. Penolakan adalah sesuatu yang amat menyakitkan bagi manusia di mana ada perasaan tidak dicintai dan dikasihi. Tetapi ada satu kebenaran yang dinyatakan Alkitab bahwa Allah sangat mencintai kita. Tuhan berkata kepada Yesus: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." Kalimat ini dikatakan Bapa kepada Yesus sebelum Yesus berkorban, melayani, menang melawan pencobaan, atau sebelum Yesus setia di dalam hidupNya. Bapa mengasihi Yesus adalah karena Yesus adalah anakNya. Kita harus yakin bahwa kita memiliki Bapa di Sorga yang sangat mengasihi kita. Bapa mengasihi kita bukan karena apa yang kita lakukan, apapun yang akan kita lakukan, tetapi Bapa mengasihi kita dan berkenan kepada kita karena kita adalah anak-anakNya.

Fakta bahwa kita memiliki Bapa yang mengasihi kita mungkin hal yang biasa bagi kita. Tetapi kita perlu menyadari bahwa sebenarnya fakta ini adalah sesuatu yang luar biasa. Kita sering ’take it fot granted’ bahwa Tuhan itu Bapa. Kita kurang sadar betapa istimewanya menjadi anak dari Tuhan. kebanyakan agama di dunia ini, tidak ada yang menyebut Tuhan sebagai ’Bapa’. Karena dalam banyak agama-agama (khususnya yang bersifat animisme) Tuhan dianggap sebagai bentuk manifestasi dari devine/demonic power, sehingga identik dengan kekuatan daripada kasih.

Kita harus kembali menghayati bahwa Alkitab berbeda. Dalam banyak agama hubungan manusia dengan Allah digambarkan sebagai hamba yang takut kepada Tuhan agar tidak disakiti. Jadi, kita memanipulasi reaksi Tuhan atau menggunakan Tuhan untuk kepentingan sendiri. Misalnya, memberikan persembahan, korban bakaran agar kita bisa mengambil hati Tuhan. Tidak ada hubungan yang personal apalagi hubungan Bapa-Anak. Agama Kristen adalah satu-satunya agama di mana kita memanggil Tuhan Bapa.

Bukan hanya agama-agama di dunia ini yang terkejut jika ada manusia yang memanggil Tuhan dengan Bapa, tetapi dalam Perjenjian Lama pun hal ini juga adalah sesuatu yang mnengejutkan. Dalam PL, memang ada konsep tentang Bapa, dan menyebut Tuhan dengan sebutan Bapa hanya muncul 14 kali dari 39 kitab dalam PL. Walaupun digunakan kata Bapa untuk Tuhan, tetapi penggunaan ini tidak digunakan sebagai panggilan. Tidak ada orang Israel yang berani memanggil Tuhan dengan sebutan ’Bapa’. Penggunaan kata ’Bapa’ menggambarkan hubungan yang sangat spesial antara Israel dan Tuhan, memanggil Nenek Moyang Abraham, menyelamatkan dari perbudakan Mesir. Ada hak istimewa sebagai umat Tuhan. Bagaimana Tuhan memelihara dan melakukan hal-hal yang khusus mulai dari nenek moyang sampai keturunannya itulah yang digambarkan ’seperti Bapa yang memelihara anakNya’. Tetapi tidak pernah ada yang pernah memanggil Tuhan dengan sebutan Bapa. Yang ada hanya sebuah bentuk perumpamaan ’seperti Bapa sayang pada anak, demikianlah Tuhan sayang kepada bangsa Israel’.

Nabi-nabi mengeluhkan Israel yang tidak menghormati Allah sebagai Bapa (Mal 1:6, ”Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?"), dalam kesulitan mereka memanggil Tuhan sebagai Bapa (Yes 63:16, ”Bukankah Engkau Bapa kami? Sungguh, Abraham tidak tahu apa-apa tentang kami, dan Israel tidak mengenal kami. Ya TUHAN, Engkau sendiri Bapa kami; nama-Mu ialah "Penebus kami" sejak dahulu kala.; 64:7-8, ”Tidak ada yang memanggil nama-Mu atau yang bangkit untuk berpegang kepada-Mu; sebab Engkau menyembunyikan wajah-Mu terhadap kami, dan menyerahkan kami ke dalam kekuasaan dosa kami. Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.”) dan Tuhan sering menjawab mereka sebagai Bapa yang penuh Kasih (Jer 31:20, ”Anak kesayangankah gerangan Efraim bagi-Ku atau anak kesukaan? Sebab setiap kali Aku menghardik dia, tak putus-putusnya Aku terkenang kepadanya; sebab itu hati-Ku terharu terhadap dia; tak dapat tidak Aku akan menyayanginya, demikianlah firman TUHAN.”). Ada ilustrasi yang menggambarkan seperti hubungan Bapa dengan anak, tetapi tidak ada sebutan Bapa sama sekali. Jadi, dalam PL hanya ada gambaran-gambaran bahwa Tuhan adalah Bapa dari umatnya dan digambarkan sebagai Bapa yang penuh kasih karunia. Tetapi ini semua adalah metafora untuk kasih dan perhatian Tuhan, tidak pernah dalam PL Tuhan dipanggil sebagai Bapa.

Dalam Perjanjian Baru , Yesus memperkenalkan sesuatu yang baru, memanggil Tuhan dengan sebutan Abba, Bapa (Luk 11: 1-4; Mrk 14:36; band. Roma 8:15; Gal 4:6). Mari melihat Luk 11:2, ”Jawab Yesus kepada mereka: "Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu.” Yesus mengambil sesuatu yang sangat berani dibanding dengan zaman itu untuk mulai memanggil Tuhan dengan Bapa. Dalam bahasa Aramaik, kata ’Bapa’ disebut dengan ’Abba’. Dan menariknya dalam berbagai terjemahan, kata ’Abba’ dipertahankan (Rom 8:15, ”Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!"). Bahkan dalam bahasa Indonesia pun kata ‘Abba’ tetap dipertahankan. Paulus yang menulis suratnya dalam bahasa Yunani pun tetap mempertahankan kata ‘Abba’ ini dalam bahasa Aramaik. Jadi dengan mempertahankan kata ini, Allah di dalam Roh Kudus mendorong kita untuk memanggil Dia ‘Abba’.

Apa yang istimewa dengan ‘Abba’? ‘Abba’ adalah bahasa sehari-hari (Aramaik) yang adalah bahasa informal, bukan formal. Para rasul mempertahankan bahasa Asli ini, dan tidak ada orang Jahudi dan literature jahudi sebelum Yesus yang berani melakukan hal seperti itu. Ibaratnya dalam bahasa Indonesia kita tidak memanggil Ayah kita dengan Bapak (karena kata Bapak memiliki sifat formal), tetapi dengan Papa, Papi, atau panggilan sayang yang lain. Demikian jugalah seharusnya kita memanggil Tuhan yang adalah Bapa kita. Hal ini harus kita pahami karena ada kekuatiran kata ’Bapa’ yang kita gunakan kepada Tuhan sudah berubah menjadi satu pola dan kehilangan makna yang sebenarnya. Yesus memanggil Tuhan sebagai anak kepada Bapanya, didalam kalimat yang sederhana dan penuh rasa percaya yang mesra, yakin bahwa Dia didengar. “Abba” menggambarkan kedekatannya kepada Tuhan, keanakan dari Tuhan Yesus. Dan Yesus berkata kepada kita: "Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu.” Mungkin kita harus membiasakan untuk mulai memanggil Tuhan ’Abba’. Kita mungkin sering memanggil Tuhan dengan ’Ya Allah’, ’Tuhan Yesus’, dll, tetapi mari mulai belajar untuk memanggil Tuhan dengan mesra, bukan karena sesuatu yang sudah terpola atau mekanis.

Rom 8:14-16 berkata: ”14 Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. 15 Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!" 16 Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.” Bagian ini dikatakan bahwa Roh Kudus menciptakan dan mendorong hubungan yang intim dengan Bapa. Kedekatan dengan Bapa bukanlah sesuatu yang bisa dibuat-buat, tetapi merupakan pekerjaan Roh Kudus, karena itu kedekatan ini seperti Kedekatan Yesus (Gal 4:6, ”Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!"). Seseorang tidak bisa dipaksa bahwa dia adalah seorang Anak Tuhan, tetapi sesuatu yang menjadi respons berdasarkan pekerjaan Roh Kudus.
Roh Kudus juga membantu kita berdoa dengan cara berdoa buat kita dan mengajarkan kita tentang berdoa (Roma 8:26-27, ”26 Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. 27 Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.”). Tetapi sebagai anak Tuhan kita juga perlu mengembangkan kehidupan Doa kita sebagai orang yang dikasihi dengan Tuhan. Fil 4:6 (”Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”) mengajar agar tidak kuatir apapun juga, tetapi nyatakan segala hal didalam doa kepada Allah. Keyakinan seperti inilah yang harus dimiliki oleh orang sebagai orang yang dicintai oleh Allah.
Kita harus membalas kasih Allah dengan terus mengembangkan hubungan pribadi dan ketaatan kepada Tuhan. Dalam I Pet 2:1-5 dikatakan ada dua tugas orang yang sudah dalam Tuhan menurut Rasul Petrus. Pertama adalah penyucian hidup, dan tugas kedua adalah pertumbuhan dalam Firman Tuhan. Kedua adalah menjadi seperti Bayi Yang Rindu akan Firman, dengan menyadari bahwa manusia tidak hidup dari roti saja (Mat 4:4, band Maz 42:2-3; 62:2-5; 84:2-3).

Mari hidup dalam bayangan kasih Bapa. Bapa berkata kepada Yesus, anakNya; ”Kau adalah anakku yang kukasihi kepadamulah aku berkenan.” Sekarang, mari mengganti kata ’kau’ menjadi nama kita, dan ucapkanlah pernyataan Bapa ini, maka kita akan merasakan bagaimana Tuhan mencintai dan mengasihi kita. ”[nama kita] adalah anakku yang kukasihi, kepada [nama kita] aku berkenan.”
Soli Deo Gloria!

Saturday, June 12, 2010

Seri Problem of Pain II (2009)

[Kotbah ini dibawakan oleh Esni Naibaho, M. Div pada ibadah Mimbar Bina Alumni, Jumat 9 Oktober 2009]


Ada banyak orang yang tidak suka berbicara mengenai maslah penderitaan bahkan ada Gereja tertentu yang menolak penderitaan dan menganggap orang yang menderita adalah orang-orang yang dikutuk dan tidak diberkati oleh Tuhan. Saat ini, kita akan melihat Problem of Pain dengan membahas pertanyaan mengapa ada penderitaan, bagaimana kita memahami penderitaan berdasarkan Alkitab dan melihat beberapa contoh dan teladan orang yang mengalami penderitaan.

Mari mengingat respon kita atau respon kebanyakan orang akan tragedi yang terjadi. Misalnya tragedi ‘September 11’ di Amerika, Tsunami di Aceh, badai Katrina di Amerika, gempa bumi di Padang dan Tasikmalaya, dan Banjir bandang di Madina dan peristiwa-peristiwa lainnya.. Apa yang menjadi respon kita ketika mendengan tragedi ini? Apa yang menjadi respon kita terhadap Tsunami di Aceh atau Gempa di Tasikmalaya? Ada banyak orang yang mengatakan bahwa bencana tersebut terjadi karena Tuhan sedang menghukum daerah-daerah yang menolak hamba-hambaNya. Benarkah demikian? Ada yang mengatakan bahwa peristiwa ‘September 11’ terjadi karena Tuhan sedang menghukum kaaroganan negara Amerika. Bencana alam seperti longsor dan banjir juga terjadi karena sang pemimpin tidak takut akan Tuhan dan membiarkan banyak kejahatan terjadi (misalnya Ilegal Logging). Ada banyak respon yang muncul dari manusia dan akhirnya menyimpulkannya dengan mengatakan bahwa penderitaan atau bencana terjadi sebagai konsekuensi dari dosa dan kesalahan (ketidaktaatan, arogansi, dll). Ada juga yang mengatakan bahwa penderitaan merupakan akibat dari murka dan kemarahan baik dari Tuhan, alam, orang lain, dll. Penderitaan juga merupakan satu enigma atau misteri. Tidak ada satu kalimat yang bisa mendefinisikan dengan jelas dan tepat mengapa penderitaan itu ada. Memang, dalam beberapa kasus kita bisa mengerti dan memahami mengapa penderitaan itu terjadi, tetapi biasanya setelah penderitaan itu berlalu. Tetapi banyak juga orang yang sampai bertahun-tahun bahkan sampai ia mati tidak mengerti mengapa penderitaan itu terjadi. Penderitaan tetap menjadi sebuah misteri.

Dalam Kejadian 1 dan 2 kita menemukan bagaimana gambaran dunia dan manusia yang diciptakan. Setiap kali hari diciptakan selalu dalam kategori baik (Kej 1:10, 11, 12: ”...Allah melihat bahwa semuanya itu baik”) dan Allah kemudian menyimpulkan seluruh ciptaanNya itu dalam kategori baik dan sungguh amat baik (Kej 1:31, ”Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik”. ). Kondisi ’sungguh amat baik’ ini adalah gambaran kondisi yang menggambarkan suasana damai, dimana semua berjalan dengan harmonis dan ada hubungan yang akrab antara manusia dengan Allah. Bisa dikatakan zaman ini adalah zaman dimana tidak ada penderitaan. Tetapi mengapa manusia mengalami penderitaan? Siapa yang mendatangkan penderitaan? Siapa yang seharusnya dituntut dengan hadirnya penderitaan itu?

Dalam Kejadian 3 kita melihat bahwa dosalah yang membuat manusia mengalami penderitaaan. Pada saat manusia melanggar perintah Allah, hubungan manusia dengan Tuhan menjadi rusak. Dosa juga menimbulkan perselisihan antara manusia dengan sesamanya dan alam pun tidak lepas dari kutuk Allah akibat dosa manusia. Hal ini mengakibatkan munculnya disharmoni diantara semua ciptaan. Kematian fisik terjadi dan dosa menjalar diantar umat manusia yang membuat manusia akhirnya semakin jauh meninggalkan Allah (band Rom 1:18-32). Akibat dosa, manusia mengalami penderitaan dan kehilangan damai. Allah tidak pernah besalah dengan malapetaka dan bencana yang terjadi di dunia ini. Penderitaan itu merupakan akibat pemberontakan manusia dan merupakan pekerjaan iblis. Namun harus disadari bahwa ada penderitaan yang tidak diakibatkan dosa.

Jadi mengapa ada penderitaan? Kata tanya ’why’ – mengapa?- merupakan pertanyaan yang biasanya dilontarkan oleh orang yang mengalami, mengetahui, dan melihat penderitaan. Ketika pertanyaan ini ditanya, kita ingin pertanyaan ini dijawab. Mari melihat kepada kisah Ayub.

Ayub, dalam semua penderitaannya, juga melontarkan kata ’why’. Ayub kehilangan harta, ternak, anak-anaknya. Bukan hanya itu, dia juga mengalami sakit kulit dan isterinya meninggalkan dia (Ayub 1:13-20; 2:7-9). Dalam kondisi seperti ini, tiga orang sahabatnya ingin menghibur dia. Ketika menemukan Ayub, mereka sampai tidak mengenalinya lagi. Ketiga temanya ini menangis dan mengoyak jubah mereka dan menaburkan debu dikepala mereka dan duduk tanpa bicara dekat Ayub selama tujuh hari lamanya untuk menunjukkan empati mereka (Ayub 2:11-13). Ini menunjukkan betapa mengerikan dan beratnya penderitaan Ayub. Setelah Ayub berkeluh kesah, teman-temannya mencoba membantu Ayub mencari penjelasan mengapa ia menderita dan jawabn teman-temannya semakin menambah penderitaan Ayub karena menjawab dari perspektif mereka dan mangatakan semua adalah kesalahan Ayub.

Sering sekali kita mempertanyakan ’why?’ dan tidak menemukan jawabannya. Jika penderitaan muncul karena dosa, kita mungkin dengan mudah bisa mengatakan bahwa penderitaan muncul karena kesalahan kita sendiri. Tetapi dalam kasus Ayub, kita melihat bahwa penderitaannya bukan karena dosa. Diakhir dari pertanyaannnya setelah berkali-kali bertanya, pertanyaan Yaub tidak pernah terjawab sampai di akhir kitab karena Allah tidak menjawabnya tetapi menunjukkan kebesaranNya. Ketika Ayub melihat kebesaran Allah ini melalui ciptaan yang ada di depannya, maka Ayub tersunggkur dan berkata: "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal. Firman-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui. Firman-Mu: Dengarlah, maka Akulah yang akan berfirman; Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku. Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.” (Ayub 42:2-6).

Mari melihat contoh lain di dalam kehidupan Yesus. Yesus mengalami penderitaan di salib dan akhirnya mengeluarkan pertanyaan ’Why did You forsake me?’ kepada Bapa. Ketika Yesus mempertanyakan hal ini bukan berarti Dia tidak menerima penderitaan. Karena sebelum Dia disalibkan, sudah tiga kali Ia menubuatkan kepada murid-muridnya mengenai penderitaanNya. Hal ini ingin menunjukkan bahwa Yesus mengalami tekanan yang luar biasa. Oleh karena tekanan ini lah Yesus sampai mengeluarkan keringat bercampur darah di Getsemane yang diakibatkan pembuluh darah yang pecah. Satu kondisi yang sangat berat yang bisa dipahami Yesus sendiri. Pada saat Yesus ingin berbagi kepada murid-muridNya dan meminta agar mereka berjaga selama Ia berdoa, mereka pun tidak sanggup. Dengan kata lain Ia sendiri bergumul dengan penderitaan yang Ia alami dan di Salib akhirnya Yesus berkata: ”Why did You forsake me?” Bukan pertanyaan yang menunjukkan ketidaktaatan, tetapi sebuah kalimat yang menunjukkan penderitaan yang berat yang dialami oleh Tuhan Yesus. Kalimat tersebut bukan kalimat yang meminta penjelasan kepada Bapa untuk penderitaanNya, tetapi karena penderitaan yang sedemikian dalam dan hebat yang dialami oleh Yesus. Kalimat yang menggambarkan bahwa dosa manusia ditimpakan kepada Yesus dan Allah, yang Maha Kudus, memandang manusia diwakili oleh Yesus dan Yesus menjadi korban penghapus dosa.

Ada beberapa jenis penderitaan yang mungkin akrab dengan kita.

  • Menderita karena pemberitaan injil (Paulus menderita karena mengabarkan Injil)

  • Menderita karena melihat kejahatan dan menyaksikan orang yang dikendalikan oleh dosa (Contoh: Yesus menangis ketika memasuki kota Yerusalem).

  • Menderita karena anggota tubuh Kristus mengalami penderitaan (penganiayaan, perlakukan tidak adil, fitnah dll). Misalnya penganiayaan di gereja lain membuat kita juga merasa ikut menderita.

  • Menderita secara pribadi: penderitaan karena kepengikutannya kepada Kristus. Ini merupakan penderitaan yang membuat orang yang mengalaminya menjadi makin dewasa dan bertumbuh dalam iman. Ini adalah mpenderitaan yang membuat orang semakin bertumbuh di dalam iman.

  • Menderita penderitaan yang dialami oleh semua ciptaan (Rom 8:18-25) karena menantikan untuk menjadi ’new creation’.

  • Menderita akibat ketidaktaatan.

  • Dalam PL kita menemukan Allah menghukum bangsa Israel karena kejahatan dan ketidaksetiaan mereka dengan mengirimkan penyakit, malapetaka, kelaparan, binatang buas, dll.

Apa sebenarnya sikap Allah di dalam penderitaa. Dalam kitab Kejadian kita menemukan bahwa Allah tidak tinggal diam dalam penderitaan manusia. Sebelum manusia jatuh kedalam dosa, Ia telah memberi peringatan kepada manusia sebelumnya untuk tidak memakan buah yang baik dan jahat. Namun manusia itu tidak taat akibatnya kematian dan dosa menjadi bagian nasib dirinya. Ada banyak penderitaan yang kita alami karena kesalahan kita sendiri. Kita mungkin sudah diperingatkan oleh Tuhan, tetapi tetap melakukan pilihan kita sehingga kita menjadi menderita. Sering sekali kita melihat bagaimana manusia kembali ingat keapda Tuhan ketika mengalami penderitaan.

Mari melihat juga mengenai Allah dan atributNya yaitu Allah yang Pemurah, penyabar, adil, dan pengampun, kasih, kudus, adil dsb. Sering sekali kita membenturkan atribut Allah ini padahal sebenarnya tidak ada sifat Allah yang bertentangan.sering sekali kita tidak menerima bahwa Allah itu kasih sekaligus adil. KeadilanNya tidak menghilangkan kasihNya dan sebaliknya. Ketika semuanya berjalan baik kita tanpa ragu mengatakan bahwa Allah sungguh baik, tetapi ketika ada persoalan kita mengatakan bahwa Allah tidak baik. Kesalahan kita dalam memahami atribut dan sifat Allah dapat membuat kita tidak dapat memahami dan menilai arti penderitaan dengan benar.

Jhon Piper menjelaskan tentang Allah yang berdaulat. Ia mengatakan bahwa Allah:

  • Dia berdaulat atas setan (dalam mengambil nyawa, menganiaya, dll). Hal ini kita lihat kisah Ayub dimana Allah menijinkan iblis untuk membuat Ayub menderita, tetapi tidak dapat mengambil nyawanya. Allah memang berdaulat, tetapi bukan berarti Allah selalu mengkontrol kita dan kebal terhadapt penderitaan. Allah mengkontrok dunia ii bukan berarti Allah tidak akan membiarkan kita jatuh dalam penderitaan. Ayub seorang yang setia dan dipuji- oleh Allah diijinkan untuk mengalami penderitaan.

  • Dia berdaulat atas alam semesta. Allah dengan hikmatNya menciptakan dan menempatkan alam semesta dalam tempatnya. Segala sesuatu tidak akan berpindah tanpa sepengetahuanNya.Ketika Allah mengijinkan setan mencobai Ayub, yang pertama dilakukannya adalah mendatangkan bencana alam dan kemudian menjamah kulitnya (Ayub 1:16-19). Di tengah kondisi yang sangat mengerikan sekalipun, mata Tuhan masih tetap meilhat kita. Jika kita juga akhirnya mati, bukan berarti Tuhan tidak mengasihi kita (band Fil 1:21).

  • Dia berdaulat dan berkuasa menyembuhkan penyakit

  • Dia berdaulat atas binatang dan tumbuhan. Dia menyuruh ikan memakan Yunus dan memuntahkannya kembali.
Tetapi pemahaman yang salah akan Allah yang berdaulat ini akan memunculkan pertanyaan ‘Kalau memang sedemikian Allah berdaulat, mengapa Allah tidak bisa menjaga dunia ini?’ Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang kita lontarkan dan merupakan sumber kutukan kita kepada Tuhan atas penderitaan yang kita alami dalam ketidak mengertian kita. Tuhan selalu kita salahkan. Sebenarnya bukan pertanyaan mengapa Tuhan, tetapi apa sebenarnya yang ingin Tuan katakan melalui peristiwa ini kepada kita semua baik kepada yang mengalami penderitaan ataupun tidak.

Ada lima sikap kita terhadap penderitaan, yaitu:
  1. Kecenderungan manusia mencari kenyamanan, ketenangan, dan suasana nyaman dan damai. Akibatnya ketika seseorang mengalami penderitaan mereka mengira bahwa Allah telah menghianati dan meninggalkan dia. Hal ini mengakibatkan kepahitan, kekecewaan, kemarahan, sakit hati, dan keinginan meninggalkan Tuhan.
  2. Kita harus menyadari bahwa penderitaan mengerjakan kesabaran, ketabahan, kedewasaan (Rm 5:3-5; Jak 1:2-4; I Pet 4:12-19; Wahyu 7:14).
  3. Orang percaya harus melihat bahwa penderitaannya mendatangkan keselamatan orang lain; dan memberi dampak bagi orang lain dan dirinya sendiri (Yes 53:11; Joh 12:24-25; Wahyu 14:13; Ibr 11:8-10; 29-40).
  4. Berjaga-jaga dengan pengaruh New Age Movement.Gerakan ini menawarkan untuk membebaskan manusia dari penderitaan, penyakit, rasa sakit, dan kematian. Kekristenan mengakui adanya zaman yang baru tetapi zaman yang baru itu belum datang dan akan datang dimana dizaman yang baru itu tidak ada lagi penderitaan dan tangisan. Kekristenan mengakui adanya zaman baru tetapi belum datang. Zaman itu akan datang ketika Yesus datang untuk kedua kali dimana tidak ada lagi tangis dan penderitaan. Jadi kita masih hidup di tengah-tengah dunia yang akan menghadapi banyak penderitaan. Di tengah-tengah dunia seperti ini kita tidak bisa serta merta ingin meninggalkan dunia ini sedemikian rupa tetapi kita memiliki keyakinan dan mebangun iman kita kepada Tuhan sehingga kita mengetahui bahwa zaman yang baru akan datang dengan kedatangan Yesus, dan sembari menantikan zaman yang akan datang itu kita harus bertekun di dalam iman kita kepada Tuhan.
  5. Panggilan bagi kita adalah untuk bertahan dalam penderitaan (I Pet 4:12-19; I Kor 10:13). Ayub, Jeremiah, dan Habakuk telah sampai kepada pengertian mengapa mereka menderita bukan karena alasan terhadap ’why’ mereka terjawab secara memuaskan melainkan penderitaan mereka telah membawa mereka semakin mengenal kebesaran Allah. Biarlah penderitaan yang kita alami menjadi bagian yang penting dalam hidup kita dengan membawa kita semakin mengenal kebesaran Allah. Hal ini akan menghasilkan buah dan karakter yang baik. Bingham mengatakan bahwa orang berdosa tidak dapat mengetahui kebenaran dari penderitaan itu sendiri sampai ia datang kepda pertobatan dan mengakui bahwa ia adalah seorang pemberontak.

Meneladani Yesus. Yesus telah mengatasi penderitaan kita melalui kerelaannya menderita bagi umat manusia. G.C Bingham menyatakan: “The suffering of Christ is a suffering servant.” Dia menjelaskan Yesus menderita dalam hal: Dia datang kepada ciptaanNya tapi ciptaanNya menolak Dia; Dia memperkenalkan dirinya sebagai Anak Allah tapi manusia justru membunuhNya. Dia memberikan kasih tapi malah menuai kebencian dari banyak orang. Yesus menderita bukan hanya karena Ia telah dipermalukan, dipaku, dan disiksa di kayu salib melainkan karena kesalahan manusia ditimpakan kepada Dia yang adalah tidak berdosa. Seluruh penderitaan manusia ditimpakan kepadaNya.

Mari belajar untuk menyadari kecenderungan kita untuk merasa tetap nyaman, tidak memiliki masalah, ingin mencari sesuatu yang menyenangkan kita. Jika kita mengejar hal-hal ini, dan ketika masalah menerpa kita, maka kita akan menyalahkan Tuhan. Sudah saatnya kita membuang ini. Kita harus bangkit dan menyadari bahwa semua yang terjadi di dalam kehidupan kita ada di dalam pengetahuan Allah. Sikap yang benar terhadap penderitaan akan menghasilkan buah berupa kedewasaan. Penderitaan pasti akan berakhir dan biarkanlah itu berakhir dengan menghasilkan karakter kita yang semakin diperbaiki. Sebagai orang yang percaya, mari melihat penderitaan itu sebagai penderitaan yang bisa dipakai oleh Allah sebagai alat keselamatan kepada orang lain. Kita harus menghadapi penderitaan dalam bentuk apapun selama kita ada di dalam dunia ini. Mari menyadari zaman baru akan datang dengan tetap ada di dalam dunia ini dengan membangun iman kita. Mari megikuti jejak orang-orang yang mendahului kita seperti Ayub, Jeremia, dan Habakuk, yang justru ditengah-tengah penderitaan mereka semakin mengenal kebesaran Allah dalam hidup mereka.
Allah mengasihi manusia, Ia peduli kapada kita bahkan ditengah-tengah keadaan penderitaan yang mengerikan dan mengejutkan, kita adalah objek dari kasihNya (C.S. Lewis).

SoliDeo Gloria!

Seri Problem of Pain I (2009)

[Kotbah ini dibawakan oleh Denni Boy Saragih, M. Div pada ibadah Mimbar Bina Alumni, Jumat, 2 Oktober 2009)

[Kej 3:14-19]

MBA kali akan membahas mengenai satu tema yaitu 'The Problem of Pain'. Jika kita menyusun semua penderitaan, maka penderitaan bisa ada karena beberapa penyebab. Ada penderitaan bisa timbul karena ada physical pain, rasa sakit karena luka fisik. Ada juga penderitaan yang disebabkan oleh mental suffering, misalnya karena patah hati atau dipermalukan. Ada juga the suffering of innocents, penderitaan oleh orang-orang yang tidak bersalah dimana tanahnya diambil orang lain atau orang yang tidak bersalah tapi dihukum. Ada juga physical deformities, di mana penderitaan yang dialami mereka yang tidak memiliki anggota tubuh yang lengkap atau mengalami cacat fisik. Ada juga penderitaan karena psychological abnormalities, di mana ia mengalami gangguan psikologis seperti berkepribadian ganda atau memiliki kecenderungan-kecenderungan yang aneh seperti paranoia, dll. Ada juga penderitaan karena disease (penyakit). Ada juga penderitaan karena character defects, di mana seseorang suka mencuri padahal ia kaya. Ada juga ketidakadilan karena injustice (ketidakadilan), penderitaan karena oppression and persecution (penindasan dan penyiksaan), dan penderitaan karena natural catastrophes (bencana alam) seperti gempa bumi, tsunami. Pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa manusia harus mengalami penderitaan dan rasa sakit?

Penderitaan adalah sebuah fakta. Jika kita mengamati sekeliling, maka di mana dan kapan saja penderitaan selalu ada di dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, Selama manusia ada di dalam dunia ini maka ia tidak pernah tidak menderita – apapun bentuknya. Bahkan Sidarta Gautama berkata bahwa ketika lahir kita menangis dan ketika matipun kita dihantar oleh tangisan. Penderitaan itu pada dasarnya adalah sesuatu yang bersifat existensial personal. Misalnya kita mengatakan orang Padang sedang menderita karena gempa. Memang di Padang terjadi gempa, tetapi tidak semua orang Padang menderita. Di Padang sendiri ada yang tidak mengalami kerusakan apa-apa dan tidak kehilangan siapapun. Tetapi ada juga orang yang menderita. Penderitaan hanya kita alami secara pribadi. Kita memang bisa berempati, tetapi kita tidak bisa mentransfer apa yang kita alami kepada orang lain dan menyerap apa yang dirasakan oleh orang lain. Ini adalah fakta. Penderitaan itu terdistribusi secara merata bagi orang miskin-kaya, tua-muda, asia-eropah, dll.

Semua orang menderita dalam kacamata yang berbeda-beda. Jadi pertanyaannya adalah apa sebenarnya masalahnya? Apa itu Problem of Pain? The Problem of Pain adalah sesuatu yang terjadi bukan karena kita menderita tetapi karena di tengah –tengah penderitaan yang kita alami kita percaya bahwa ada eksistensi Allah. Jadi jika Allah ada dan penderitaan juga ada maka muncul masalah teologis. Maksudnya, bila tidak ada Tuhan maka masalah penderitaan tidak ada. Penderitaan hanya sebuah sensasi psikologis yang tidak menyenangkan atau rasa yang tidak enak. Tetapi bila Tuhan memang ada, kenapa Tuhan membiarkan penderitaan? Kenapa Ia tidak berbuat apa-apa di tengah penderitaan? Dimana Allah ketika Nazi memusnahkan ratusan ribu orang Yahudi di dalam ruangan dengan gas beracun? Kenapa Tuhan membiarkan semua kejahatan terjadi? Apakah Allah memang ada? Sekali lagi jika Allah tidak ada, maka penderitaan bukanlah masalah. Tetapi akan muncul masalah teologis dalam memandang penderitaan jika kita percaya kepada Allah.

Hal ini menjadi masalah psikologis karena kita percaya bahwa Allah adalah Allah yang baik dan Maha Kuasa. Problem of Pain tidak akan muncul jika Allah itu baik tetapi tidak maha kuasa. Karena Allah tidak berkuasa mencegah semua penderitaan yang ada. Jadi tidak ada masalah dengan penderitaan. Penderitaan juga tidak akan menjadi masalah jika kita melihat Allah itu Maha Kuasa tetapi tidak Allah yang baik. Allah berkuasa mencegah semua penderitaan tetapi Ia tidak baik. Wajar jika ia membiarkan penderitaan dan Ia ’tidak peduli’ dengan penderitaan manusia. Tetapi muncul Problem of Pain yang telah dirumuskan oleh Epicuros (341-270 BC) dengan mengatakan ”Apakah Ia ingin mencegah penderitaan tetapi tidak mampu? Berarti Ia tidak maha kuasa. Apakah Ia mampu, tetapi tidak ingin? Berarti Ia jahat. Apakah Ia mampu dan ingin? Bearti IA Maha Kuasa dan Maha Baik. Jadi darimana datangnya penderitaan dan kejahatan?” Perlu kita ketahui bahwa fakta penderitaan adalah salah satu argumentasi yang paling kuat supaya orang bisa menjadi Atheis.

Jadi, bagaimana kita seharusnya bersikap dalam merenungkan The Problem of Pain? Pertama, kita harus memahami makna ’kemahakuasaan Tuhan’. ’Maha Kuasa’ – dalam konteks Alkitab – sering diartikan sebagai apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah. Artinya Allah berkuasa melakukan hal-hal yang luar biasa. Tetapi kita harus bedakan antara tiga hal, yaitu: 1) Hal-hal yang masuk akal, kita bisa melakukannya dan Tuhan juga bisa melakukannya. Contohnya adalah membuat mobil berjalan, membuat orang jatuh cinta, dll. 2) Hal-hal yang melampau akal, dimana manusia juga bisa melakukan hal-hal yang seolah-olah melampaui akal, misalnya sulap. Tuhan juga mampu melakukan hal-hal yang melampaui akal melalui mujizat. 3) Hal-hal yang tidak masuk akal, artinya Tuhan tidak menjadi berhenti kemahakuasaanNya jika Ia tidak mampu melakukannya. Misalnya, tidak masuk akal membuat sebuah lingkaran yang berbentuk segitiga. Sangat tidak masuk akal! Tidak ada yang bisa melakukannya bahkan Tuhan pun tidak bisa melakukannya karena segitiga bukan lingkaran dan lingkaran bukan segitiga. Sewaktu Tuhan tidak bisa melakukan hal ini bukan berarti Ia tidak Maha Kuasa, tetapi permintaannya yang tidak masuk akal, permintaan yang tidak mungkin terjadi.

Karena itu, jika kita ingin membandingkan dengan konsep penderitaan dalam dunia ini, Tuhan itu Maha Kuasa dan di dalam kemahakuasaanNya, Dia memberikan kebebasan kehendak kepada manusia, sehingga sewaktu Ia memberikan kebebasan kehendak bagi manusia untuk memilih, Ia tidak bisa pada saat yang sama membatasi kebebasan kehendak itu supaya manusia hanya memilih yang baik saja. Di sinilah akar dari penderitaan yang dialami manusia. Manusia memilih dan pemilihan itu terkadang membuat manusia memilih yang jahat. Jika kita melihat Kejadian 3 tadi muncul pertanyaan kenapa Adam dan Hawa memilih untuk memakan buah itu dan melanggar perintah Allah dimana hal itu beakibat kepada munculnya banyak kutukan Tuhan. Bukankah sebenarnya Tuhan bisa muncul dan melarang Hawa pada saat ia akan mengambil buah yang dilarang Tuhan untuk dimakan? Jawabannya adalah bisa! Tetapi apa gunanya Ia memberikan kebebasan? Apa gunanya Ia memberikan perintah? Apa gunanya Ia memberikan larangan jika larangan itu tidak boleh dilanggar? Bukan berarti larangan atau hukuman dibuat untuk dilanggar. Tidak! Ketika Allah memberikan larangan, berarti ada kemungkinan larangan itu dilanggar. Jika tidak ada kemungkinan larangan tersebut dilanggar maka tidak perlu ada larangan. Misalnya, tidak perlu ada larangan “Dilarang Terbang di udara!”, karena tidak ada manusia yang mampu terbang di udara. Tetapi larangan seperti “Dilarang buang sampah sembarangan!” atau “Dilarang menginjak rumput!” pasti ada kemungkinan dilanggar. Justru karena ada kemungkinan yang melanggar maka dibuat larangan. Jadi bukan ‘hukum dibuat untuk dilanggar’ tetapi ‘hukum dibuat karena ada kemungkinan orang melanggar hukum itu’.

Jadi, Allah tidak bisa memberikan manusia kehendak bebas sekaligus selalu mencegah manusia berbuat jahat jika manusia ingin melakukannya. Hal ini akan menimbulkan pertanyataan, “Kalau begitu sebaiknya jangan ada kehendak bebas!” Tetapi, apakah kita lebih suka keadaan dimana manusia tidak diberikan kehendak bebas? Jawabannya sangat sederhana. Jika kita ingin pacaran dengan seseorang, maka yang mana lebih kita sukai, ia pasti dan tidak bisa tidak harus mencintai kita atau ia memilih dengan sukarela mencintai kita? Kita pasti memilih yang kedua. Dan jangan salah, pilihan yang kedua ini memiliki resiko. Kalau memang yang kita inginkan ia memilih dengan sukarela mencintai kita maka ada kemungkinan ia tidak memilih untuk mencintai kita. Inilah yang Tuhan lakukan. Ia ingin Adam dan Hawa mencintai Dia dengan segenap hati dan jiwa mereka sebagai manusia dan hal itu berarti bahwa Allah tidak berhak melarang jika manusia memilih untuk memberontak kepada Dia. Disinilah akar daripada penderitaan muncul. Jadi, kita tidak bisa sertamerta menyalahkan Allah ketika mengalami penderitaan karena dalam pilihan nenek moyang kita ada akar dari penderitaan. Manusia tidak hanya bebas memilih yang baik, tetapi manusia juga bebas memilih yang buruk atau jahat. Jadi, Allah tidak berhenti menjadi Maha Kuasa ketika manusia tidak dicegahNya melakukan yang jahat kepada orang lain.

Setelah memahami kemahakuasaan Tuhan, kita juga harus memahami hal yang kedua, yaitu memahami ’Kebaikan Tuhan’. Kebaikan dalam Alkitab bukanlah berarti sesuatu yang manis dan menyenangkan. Dalam Alkitab juga kadang-kadang dibedakan antara yang baik sekarang dan baik yang akan datang. Ada sesuatu yag memang tidak baik tetapi kelak dia menjadi sesuatu yang baik. Misalnya, orang yang senantiasa membanting tulang dan selalu ke ladang mencangkul dan malam baru bisa belajar. Ia memang menderita, tetapi dalam jangka panjang ia adalah seorang yang sehat dan bebas dari penyakit dan menjadi pribadi yang tangguh. Dalam Alkitab juga harus dibedakan antara baik bagi saya, baik bagi orang lain, atau baik bagi semua manusia. Misalnya, kematian seorang ayah yang akhirnya merukunkan semua anak-anaknya yang bertengkar. Jadi, kebaikan harus dipahami dalam konteks dunia yang berdosa.

Sewaktu kita bicara tentang Tuhan yang baik dan memberikan kebaikan kepada kita di tengah-tengah dunia yang penuh dosa, akan memunculkan dua jenis kebaikan. Pertama ada yang disebut Simple Good, yaitu hal-hal yang baik di dalam dirinya sendiri. Misalnya, cinta, sukacita, kebahagiaan, persahabatan dan hal-hal lain yang pada dasarnya adalah baik. Tetapi ada hal-hal yang menghasilkan sesuatu yang baik bagi manusia meskipun menghasilkan penderitaan. Dan hal inilah yang disebut Complex Good. Kita bisa melihat bahwa Allah itu tetap Maha Kuasa dan Maha Baik di tengah-tengah penderitaan yang ada dengan memahami apa sebenarnya kemahakuasaan Allah di tengah-tengah dunia yang memberontak kepada Tuhan dan dunia yang Allah berikan kebebasan untuk mencintai Dia atau untuk memberontak kepadaNya. Sebuah dunia yag dengan kompleksitasnya penuh dengan kebaikan Allah dimana, mungkin, ada kebaikan yang sederhana dan kebaikan yang kompleks.

Jadi, bagaimana kita memahami peran penderitaan bagi manusia? Kita harus belajar bahwa kita tidak bisa memberikan jawaban yang tuntas dalam menjawab penderitaan. Jangan memberikan jawaban yang menyederhanakan masalah seperti ”O, ini ada hikmatnya.” Tetapi kita juga tidak akan bisa menjelaskan semua peristiwa penderitaan itu. Kita harus merenungkan dan memahami apa kira-kira yang berguna dari penderitaan itu kepada manusia. Kita harus mengakui ada titik-titik di mana bahasa dan pengertian manusia harus berdiam dan mengheningkan diri tak berdaya terhadap bencana Alam Yang Tidak Pandang Bulu, Kekejaman Perang dan Terorisme, dan Kebiadaban Para Tiran dan Penindas. Tidak ada jawaban yang tuntas. Tetapi ada tiga hal yang menjadi pegangan kita ketika melihat penderitaan terjadi di dalam manusia. Pertama, penderitaan mengguncang ilusi manusia yang melihat semuanya baik dan tidak ada masalah. Hidup ini tidak baik dan penuh dengan masalah. Kedua, penderitaan menggoyahkan kesombongan manusia yang percaya pada kecukupan diri sendiri. Penderitaan mampu menggoncangkan orang kaya. Ia tidak pernah berpikir akan kekurangan, tidak pernah berpikir akan orang miskin, tetapi dia akan mulai memikirkannya ketika kanker masuk ke dalam tubuhnya. Penderitaan juga menggoncangkan kita bahwa kita tidak ada apa-apanya. Kita membutuhkan Tuhan dan orang lain. Jika kita tahu minggu depan kita akan meninggal dunia, maka satu minggu ini akan menjadi minggu yang luar biasa karena minggu ini akan penuh dengan kebaikan dan sempat meminta maaf kepada orang-orang yang kita sakiti. Dan Ketiga, penderitaan membuat jiwa pemberontak manusia menundukkan diri kepada kekuasaan Tuhan.

Kalau memang itulah inti kebaikan dari penderitaan, bukan berarti ini adalah jawaban dari semua penderitaaan. Kenyataan bahwa penderitaan di tengah-tengah dunia ini adalah sesuatu yang bisa membawa hal yang baik di tengah hal yang buruk dimana orang akhirnya menyerahkan diri kepada Allah. Manusia akhirnya menyerahkan diri karena tenderita, bukan karena kerelaan. Tetapi pertanyaannya adalah ‘Apakah sebuah penyerahan diri yang ‘dikondisikan’ oleh penderitaan adalah sebuah penyerahan diri yang sejati?’ CS Lewis mengatakan inlah yang disebut dengan Divine Humility, kerendah-hatian Tuhan. Tuhan rela menerima penyerahan diri manusia meskipun penyerahan diri itu bukan karena manusia betul ingin takluk kepada Tuhan tetapi karena dikondisikan oleh penderitaan. Hal ini terjadi karena Allah melihat manusia seperti seorang anak yang dalam proses belajar untuk berserah lepada Allahnya secara total di tengah-tengah dunia yang telah jatuh kepada dosa. The Problem of Pain pada akhirnya adalah pertanyaan mengenai penyerahan total kita, apakah dengan melihat segala penderitaan ini bisa dibawa kita kepada penyerahan diri kepada Allah dan menyadari bahwa kita tidak ada apa-apanya dan kita harus belajar takluk kepada Allah, pemilik dan yang empunya segalanya, yang menjaga diri kita dan segala yang kita miliki.
SoliDeo Gloria!