Wednesday, July 13, 2011

Giving 4: Giving for the Nation

Lenny Sitorus

Apa kesan kita terhadap Indonesia? Mungkin banyak dari antara kita yang kehilangan harapan karena semua kebobrokan yang terjadi. Tetapi seharusnya rasa hopeless kita itu harus disertai sebuah keyakinan bahwa banyak sebenarnya hal positif yang bisa dilakukan Indonesia (menang olimpiade Fisika, memiliki berbagai ragam suku dan bahasa). Dari sejak 65 tahun yang lalu, sejak bangsa ini dimerdekakan oleh mereka yang mencintai bangsa ini, kita seharusnya bangga karena negara ini didasarkan dengan Pancasila yang menghargai berbagai keragaman. Hidup dalam keanekaragaman itu tidak gampang. Inilah salah satu kebanggaan kita terhadap bangsa ini dengan demikian cinta kepada ini semakin besar. Jadi, apa yang bisa kita berikan kepada bangsa?

Kehidupan seorang Kristen adalah kehidupan yang paradoks. Artinya, semakin kita dekat dengan Tuhan, semakin kita jauh dari dosa, dan yang paling penting adalah hati kita semakin dekat dengan dunia (bukan duniawi). Dunia adalah tempat di mana Allah melakukan misiNya. J.I. Packer pernah berkata, “mencoba untuk memperbaiki masyarakat bukanlah keduniawian, tetapi cinta kasih; mencuci tangan dari tanggungjawab social bukanlah cinta kasih tetapi keduniawian.” Semakin tinggi iman kita, maka cinta kasih kepada masyarakat dan bangsa Indonesia (juga dunia) seharusnya semakin meningkat.

Mari belajar dari Yer 29:1-14. Ada dua hal yang perlu kita perhatikan dalam bagian ini, pertama adalah apa yang mereka alami dan kedua, apa yang Tuhan perintah Tuhan kepada mereka ditenga-tengah situasi yang mereka alami.

Apa yang mereka alami? Mereka sedang dijajah di mana orang-orang istimewa dibawa ke Babel (termasuk Daniel dkk) dengan tujuan mereka bisa dipakai untuk membangun Babel. Kepada ornag buangan inilah surat (Yer 29) ini diberikan oleh Yeremia. Sebagai orang-orang buangan, walaupun memiliki potensi, mereka tentu saja tertekan. Mereka berada sebagai jajahan di negara Babel yang tentu saja membuat mereka menjadi orang asing dan minoritas. Pastilah juga ritual, budaya, dan gaya hidup yang mereka alami sekarang jauh berbeda dengan apa yang mereka rasakan ketika berada di Yerusalem. Bagi kita yang pernah tinggal di tengah suku yang bukan merupakan suku kita pasti bisa merasakan tekanan yang (kurang lebih) sama dengan apa yang dirasakan bangsa Israel dalam pembuangan di babel. Sebagai orang jajahan, mereka tidak memiliki hak dengan diri mereka sendiri. Secara jasmani mereka juga mungkin tidak terlalu baik karena ketika mereka di Yerusalem mereka memiliki tanah, rumah dan harta, dan ketika dibuang ke Babel mereka harus memulai karir dari nol. Mereka tertekan karena mereka tidak bebas beribadah (bandingkan Daniel yang harus berdoa di pelataran rumahnya). Sangat mudah untuk berpaling dari Tuhan dalam kondisi seperti ini.

Di tengah-tengah itu semua, apa perintah Tuhan kepada mereka. Ay 4-5 dikatakan, “Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel, kepada semua orang buangan yang diangkut ke dalam pembuangan dari Yerusalem ke Babel: Dirikanlah rumah untuk kamu diami; buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya”. Dirikanlah rumah dan buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya. Perintah ini berbicara tentang berkat jasmani. Apa yang ingin Tuhan sampaikan adalah agar mereka mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan mereka dan jika sudah dapat bekerjalah baik-baik. Tuhan juga meminta agar mereka menganggap tempat mereka berada sekarang seperti rumah sendiri.

Kemudian dalam ay 6 dikatakan, “ambillah isteri untuk memperanakkan anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah isteri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan, agar di sana kamu bertambah banyak dan jangan berkurang!” Perintah ini diberikan dalam konteks agar mereka mencari pasangan diantara sesame mereka (orang Israel) dan jangan mengambil isteri dari orang Babel. Bahkan Allah menyuruh mereka beranak cucu. Jangan menjadi orang yang punya harapan. Jika kita dijajah kita bisa menjadi orang yang tidak berpengharapan, tetapi Tuhan menyuruh mereka untuk beranak cucu dan menjadikan tempat dimana mereka berada menjadi kota yang nyaman untuk mereka diami. Allah memeinta mereka agar berpikir bahwa mereka tidak sedang dijajah tetapi ditempatkan Allah sementara di Babel, agar mereka menundukkan kepala mereka dan Allah ditinggikan.

Ay 7 dikatakan, ”Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” Ada dua perintah Tuhan disini “Usahakanlah kesejahteraan kota” dan “Bedoalahlah bagi kota dimana kamu berada.” ‘Usahakanlah’ adalah kata yang aktif. Ada sesuatu yang dikerjakan, bergerak, dinamis, dan tidak berdiam diri saja. Mengusahakan berarti kita tidak melakukan yang tidak benar tetapi menyatakan kebenaran. Menyatakan kebenaran adalah sesuatu yang aktif dan harus melangkah maju. Mengusahakan berarti kita memikirkan, merencanakan, dan memberikan energi kepada apa yang kita usahakan. Pertama-tama Allah meminta mereka untuk mengusahakan kesejahteraan mereka. Tuhan ingin memberikan konsep kepada mereka bahwa mereka tidak dijajah tetapi ditempatkan sementara karena mereka terlalu sombong dan harus merendahkan diri. Setelah bahagia dengan diri sendiri mereka kemudian mensejahterakan kota dimana mereka berada. Jadi kesejahteraan bukan hanya untuk mereka sendiri tetapi untuk masyarakat di kota itu. Bukan sebatas tidak ada pertikaian, tetapi dalam berbagai aspek. Bagaimana mungkin orang minoritas menghasilkan kesejahteraan bagi kota? Sesuatu yang mustahil dalam sudut pandang kita. Tetapi Allah mengatakan agar mereka berani. Mengusahakan juga berarti berkorban. Memberikan sesuatu yang membuat diri kita akhirnya keluar dari zona nyaman kita demi orang lain. Mat 5:9 mengatakan berbahagialah mereka yang membawa damai karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Alasan mengapa mereka mengusahakan damai dan kesejahteraan adalah agar supaya mereka dilihat sebagai anak-anak Allah. Orang yang menikmati kedamaian dari anak-anak Tuhan akan ikut memuliakan Tuhan. Sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan. Mereka harus mengusahakan kesejahteraan Negara yang sedang menjajah mereka. Ini adalah hal yang sulit. Sesuatu yang tidak masuk akal untuk dikerjakan. Tetapi ketika Tuhan memerintahkan sesuatu dia akan memperlengkapi kita dan akan berada di samping kita. Waktu itu ketika Allah memerintahkan hal ini orang Israel sudah punya pengalaman bersama-sama dengan Allah selama bertahun-tahun di mana mereka bisa merasakan Allah berada di samping mereka.

Kemudian perintah kedua dari ay 7 adalah ‘berdoalah’. Kata ‘berdoa’dalam bahasa aslinya memiliki kata-kata yang aktif. Dalam sepanjang kehidupan, saya merasakan bahwa jawaban doa adalah dari saya sendiri. Sering sekali akan apa yang kita doakan jawabannya ada pada kita. Artinya adalah jawaban doa itu akan diberikan Tuhan dengan kita bergerak atau melakukan sesuatu apa yang kita doakan. Berapa kali kita mendoakan Indonesia sepanjang hidup kita? Jika kita adalah orang yang ingin memberi kepada bangsa ini, maka kita adalah orang yang berdoa untuk bangsa ini. Semakin banyak kita berdoa kepada Indonesia maka cinta kita akan semakin bertumbuh. Apalagi jika kita berbuat sesuatu kepada bangsa ini. Semakin cinta kita bertumbuh semakin banyaklah hal yang kita bisa beri. Oleh sebab itu Tuhan tidak hanya memerintah usahakanlah tetapi juga doakanlah. Paduan keseimbangan yang keduanya adalah aktif.

Ay 8 dan 9 dikatakan, “Sungguh, beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Janganlah kamu diperdayakan oleh nabi-nabimu yang ada di tengah-tengahmu dan oleh juru-juru tenungmu, dan janganlah kamu dengarkan mimpi-mimpi yang mereka mimpikan! Sebab mereka bernubuat palsu kepadamu demi nama-Ku. Aku tidak mengutus mereka, demikianlah firman TUHAN.” Tuhan memperingatkan mereka agar hati-hati terhadap nabi-nabi palsu yang akan membawa mereka semakin jauh dari Tuhan. Kita harus waspada terhadap hal-hal dari luar, dan juga dari dalam. Keunggulan dan ketrampilan yang kita miliki sangat mudah membuat kita sombong dan merasa lebih tinggi dari orang lain.
Dalam ay 10-14 kita menemukan ada janji pemulihan. Ay 11 dikatakan, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Orang yang dijajah memiliki masa depan yang suram, bahkan tidak punya masa depan karena banyak halangan dan akses ke fasilitas-fasilitas yang terbaik. Tetapi Tuhan menjanjikan bahwa mereka memiliki masa depan karena Allah bersama dengan mereka dan tidak akan pernah meninggalkan mereka.
Apa relevansinya bagi kita? Apa yang kita bisa lakukan kepada bangsa kita? Kita mungkin bisa hidup dengan nyaman walau kita minoritas. Kita bisa sekolah di manapun yang kita inginkan, kita bisa melakukan apa saja di negara ini. Maka sudah pasti kita bisa berbuat sesuatu minimal untuk kota Medan. Tidak ada alasan untuk tidak memberi kepada bangsa. Karena kita adalah umat-umat Allah dimana Allah sendiri sudah memberikan perintah yang sama kepada kita seperti yang Ia perintahkan kepada bangsa Israel. Jika kita meyakini bahwa kita menerima perintah yang sama, hal pertama yang bisa kita lakukan adalah kita berdoa untuk Indonesia. Mari mengevaluasi diri kita, jika kita ingin melakukan satu perubahan tetapi kita tidak berdoa untuk perubahan itu, percayalah bahwa perubahan itu adalah sesuatu yang mustahil untuk dilakukan. Kita tidak akan punya kekuatan sedikitpun untuk mengubah apapun, tetapi kita bisa mengubah apapun dengan kekuatan yang dari Tuhan. Allah memerintahkan kepada kita berdoalah untuk kota Medan dan bangsa Indonesia.

Jika kita ingin berdoa bagi bangsa Indonesia kita harus aktif untuk melihat perkembangan yang terjadi di Indonesia. Apa yang akan kita doakan jika kita tidak tahu apa-apa tentang Indonesia. Mari menjadi orang yang aktif mengikuti perkembangan Indonesia. Kita juga bisa aktif dibidang kita masing-masing. Mari memberi pengaruh kepada orang disekeliling kita agar mereka juga mencintai Indonesia. Masalahnya mungkin kita belum menemukan peran yang tepat di tengah-tengah Indonesia ini sekarang. Oleh sebab itu mari mencari peran yang teapt dalam bangsa ini agar bisa memberi dengan maksimal.

Berintegritaslah! Integritas adalah sesuatu yang sangat langka di Indonesia ini. Integritas itu seperti kemurnian sebuah zat. Integritas adalah sebuah kemurnia hatin yang dari Allah, tidak dicampuri oleh hal-hal yang lain, dunia, keinginan-keinginan, dll. Maka dia harusnya berasal dari dalam. Kita adalah orang-orang yang dimurnikan oleh Allah dan kita adalah orang yang paling mungkin dan paling bisa untuk berintegritas. Hal ini tidak gampang dan kita pasti dituntut untuk mengorbankan sesuatu. Inilah keunikan kita. Kita berbeda dengan dunia. Kita tidak mau jadi orang-orang yang mencemarkan diri dengan dunia ini. Kitga harus menajdi orang yang berintegritas. Mari terlibat dalam berbagai kegiatan. Mari kita aktif mengusahakan kesejahteraan bagi kota ini, negara ini, dan dunia ini. Jika bukan kita, siapa lagi? Kita adalah orang-orang yang telah dipanggil oleh Allah untuk mengerjakan perintah ini. Jika kita berkata bahwa kita mencintai Tuhan maka harus dibuktikan dari cinta kepada bangsa dan pemberian kepada bangsa ini.
Soli Deo Gloria!





Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus.
Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.
Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus.
[ 2 Tim 2:1-3 ]

Giving 3: Giving for the Needy

Iventura Tamba, ST

Mari membuka 2 Kor 8:1-9. Saya memiliki rencana dalam kehidupan saya untuk memiliki uang yang banyak dan bisa menolong orang da masuk Fakultas Kedokteran menjawab semuanya itu. Tetapi saya gagal masuk kedokteran dan masuk ke Fakultas Teknik. Keinginan ini tetap ada, di mana saya tetap meminta kepada Tuhan agar tidak diarahkan menjadi seorang fulltimer dalam pelayanan dengan pemikiran jika memiliki uang banyak bisa membantu orang lain. Jika saya memiliki uang, maka semua uang itu adalah untuk Tuhan. Jadi konsep yang saya bangun mengenai memberi adalah bahwa kita bisa memberi ketika kita punya sesuatu dari orang yang kita memberi dan member adalah karena kita mampu memberikannya kepada orang yang membutuhkan.

Dari perikop ini ada beberapa hal yang dapat kita lihat mengenai apa arti memberi. Bagian firman ini adalah surat kedua dari Paulus kepada jemaat Korintus. Teks ini juga ditulis di mana pada saat itu jemaat Tuhan di Yerusalem mengalami kekurangan. Paulus juga menuliskan surat ini dalam rangka penggalangan dana untuk jemaat di Yerusalem yang sedang kekurangan tersebut karena sedemikian parah kondisi mereka. Surat ini juga dituliskan untuk menunjukkan siapakah jemaat Korintus. Jemaat Korintus adalah jemaat yang kaya bukan hanya masalah kerohanian, tetapi berlimpah dalam harta. Tetapi ada persoalan dalm diri mereka yaitu mereka adalah jemaat yang pelit. Mereka enggan untuk membantu dan memberikan apa yang mereka miliki. Dalam penggalangan dana ini, Paulus menyaksikan tentang sebuah jemaat, yaitu Makedonia.

Dalam ay 1-3 dengan jelas Paulus menceritakan bagaimana jemaat Makedonia itu. Dikatakan disana, “Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.” Ada sebuah teladan yang sedang diceritakan Paulus kepada jemaat Korintus yang kaya tetapi pelit itu tentang jemaat Makedonia yang adalah jemaat miskin dan hidup dalam penderitaan. Tetapi jemat Makedonia ini memberikan kekurangan di tengah penderitaan mereka. Memberi di tengah kelimpahan adalah sesuatu yang menurut kita wajar, tetapi memberi di tengah-tengah kekurangan dan penderitaan adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Jika kita berbicara mengenai memberi, kita tidak akan terlepas dengan apa yang disebut murah hati. Murah hati tidak ditujukan kepada orang yang memberi di dalam kelimpahan yang ia miliki, tetapi ditujukan kepada orang yang memberi di dalam kekurangnnya.

Sering sekali kita bergumul memberi karena bertanya seberapa banyak yang akan kuberi, sehingga ketika telah kuberikan kita juga tidak kekurangan. Tetapi jemaat Makedonia memberikan di dalam kekurangan mereka. Mereka berhasil mengumpulkan sumbangan untuk diberikan kepada jemaat di Yerusalem. Inilah yang menjadi teladan bagi jemaat Korintus dan juga menjadi teladan bagi kita. Tidak perlu menunggu memiliki banyak harta untuk bisa memberi kepada yang membutuhkan. Memberi di dalam pemberian kita adalah sesuatu yang mulia.

Jemaat Makedonia juga memberi melampau apa yang mereka bisa berikan dan memberi dengan kerelaan dan beban. Sebuah jemaat yang miskin dan menderita bisa memberikan semua ini. Pada umumnya jemaat yang miskin dan menderita akan memikirkan mengenai dirinya sendiri. Tetapi tidak demikian dengan jemaat Makedonia. Sebuah jemaat yang penuh dengan kemurahan.

Kenapa Jemaat ini bisa seperti sikap hal ini? Yang pertama adalah karena mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami (ay 5). Mereka memberikan diri mereka kepada Allah. Mereka masuk kepada pemahaman bahwa hal yang penting adalah terlebih dahulu memberikan diri kepada Allah dan pelayanan Allah. Ada begitu banyak pemahaman mengapa orang memberi apakah karena perasaan dan dorongan yang kita miliki. Ada orang memberikan karena jika ada orang yang tidak memberikan adalah seseorang yang aneh dan bermasalah dan hal ii tidak baik. Ada orang memberi karena itu adalah sebuah kewajiban. Apa yang diteladankan jemaat Makedonia adalah pertama-tama menyerahkan diri mereka sepenuhnya kepada Tuhan. Hal inilah yang menajdi dasar mereka untuk memberi kepada yang membutuhkan (dalam hal ini jemaat Yerusalem). Memberikan uang adalah hal sekunder tetapi memberikan diri kepada Tuhan adalah hal yang primer.

Kedua, jemaat Makedonia mengerti apa artinya pelayanan yang sedang mereka kerjakan. Mereka tidak hanya sekedar memberikan tetapi memahami untuk apa mereka memberikan. Mereka menangkap bebannya. Mereka melihat bahwa hal yang mereka kerjakan adalah hal yang besar.

Ketiga, jemaat Makedonia adalah jemaat yang menikmati penghayatan akan pelayanan Kristus bagi mereka. Dalam Fil 2 dikisahkan mengenai Kristus yang mengosongkan diriNya dan mengambil rupa seorang hamba. Yesus rela menjadi miskin agar manusia menjadi kaya dan berlimpah kekayaan di dalam kasih karunia Allah.

Inilah ketiga hal yang mendasari jemaat Makedonia memberikan sesuatu yang lebih dari apa yang sebenarnya bisa mereka berikan.

Mari merefleksikan diri kita. Mengapa kita memberi? Mengapa kita mendukung pelayanan, melihat orang yang kekurangan? Apakah kita hanya melihat bahwa hal tersebut sekedar kewajiban orang Kristen? Atau karena kita melihat bahwa kita melihat banyak harta sehingga tidak akan mempengaruhi kondisi keuangan kita jika kita memberi? Atau karena kita takut dianggap orang yang bermasalah atau pelit karena tidak mau memberi? Saya mengajak kita untuk menghayati apa yang dikerjakan oleh jemaat Makedonia. Mereka memberikan bukan dalam kelimpahan mereka, justru di dalam kekurangan mereka. Paulus membandingkan jemaat Korintus dengan Makedonia. Jemaat Korintus adalah jemaat yang berkelimpahan tetapi pelit sedangkan jemaat Makedonia adalah jemaat yang berkekurangan tetapi memiliki kerelaan memberikan. Jemaat Korintus yang kondisinya relative aman, jarang ada penganiayaan tetap tidak memberi, sedangkan jemaat Makedonia adalah jemaat menderita oleh penganiayaan tetapi tetap memiliki hati untuk memberi.

Mari memberi bukan karena dalam kondisi nyaman tetapi memberi di tengah-tengah kekurangan dan penderitaan yang kita alami. Hal ini bisa terjadi jika kita bisa memahami mengapa kita memberi adalah karena pertama-tama kita memberikan diri kita kepada Allah, mempersembahkan diri kita kepada Allah. Kita juga memahami tentang apa yang kita kerjakan. Ketika kita menolong dan mandukung pelayan apakah di kampus atau di gereja adalah karena kita memahami apa beban ketika memberi. Kita juga memberi karena meneladani apa yang Kristus lakukan. Ia rela meninggalkan kekayaanNya agar manusia bisa menikmati kekayaanNya. Rela menjadi miskin agar manusia bisa menjadi kaya di dalam karunia yang berkelimpahan. People with a heart for God have a heart for people.

SoliDeo Gloria!

Giving 2: Giving for GOD

Lenni Sitorus

Setelah minggu lalu kita memahami dan mengerti Allah sebagai SANG PEMBERI, maka minggu ini kita berbicara mengenai kita sebagai manusia yang harus memberi kepada Allah.
Rasanya agak aneh kalau Allah, Sang Pemberi itu harus diberi lagi padahal Dia adalah sumber segala sesuatu. Ini keanehan yang pertama dalam memberi.

MENGAPA HARUS MEMBERI?

Pertama, karena kita adalah anak-anak Allah. Sebagai anak, kita meneladani Bapa kita, kita meniruNya. Bapa tidak menyayangkan AnakNya sendiri untuk menyelamatkan hidup kita. Kristus tidak menyayangkan diriNya sendiri untuk menebus dosa-dosa kita. Mengapa kita harus menyayangkan sesuatu untuk diberi kepada Allah? Tidak ada yang terlalu disayangkan untuk diberi kepada Allah. Jika kita sulit memberi kepada Allah itu berarti kita tidak meneladani Dia. Jangan pernah mengaku pengikut Kristus jika hidup kita tidak seperti Dia. Maka teladanilah sifat Allah yang memberi.

Kedua, memberi sebagai respon kita terhadap pemberian Allah. Saya membagi alasan kedua ini dalam dua bagian. Bagian pertama adalah sebagai ungkapan syukur. Hati yang merasakan pemberian yang baik akan menimbulkan perasaan yang positif sehingga muncullah ucapan syukur atau ucapan terima kasih kepada Sang Pemberi. Kalau kita mensyukuri pemberian Allah, kita pasti memberi. Seperti respon Daud terhadap anugerah Allah dalam Mazmur 65, dia memuji Allah karena Allah mendengarkan dan menjawab doa, karena menghapuskan dosa, karena menyuburkan tanah, memberikan air, menyediakan makanan, dan berkat-berkat lainnya. Barangkali, seandainya dihitung berkat-berkat Allah bagi hidupnya, Daud tidak akan pernah berhenti bersyukur sedetikpun dalam hidupnya. Terlalu banyak alasan untuk bersyukur karena Allah menyediakan begitu banyak dalam hidup kita. Mari mencoba menghitung berkat yang pernah kita terima dari Allah. Jawaban doa, pengampunan dosa, sahabat dan keluarga yang mendukung kita, kecukupan, makanan, pekerjaan, teman hidup, dan seterusnya. Terlalu banyak. Jadi, apakah ada alasan untuk tidak bersyukur?

Bagian kedua adalah sebagai bukti bahwa kita menganggap pemberian Allah itu bukan milik kita sendiri tetapi hanya titipan Allah sehingga pantas untuk dikembalikan lagi kepada Allah dalam bentuk pemberian. Pemberian Allah di sini tidak berarti hanya materi, tetapi juga keselamatan, hidup, kebahagiaan, karunia/talenta, dan sebagainya. I Korintus 6:19-20 menyebutkan dengan jelas bahwa hidup kita dan tubuh kita bukanlah milik kita sendiri. Kalaupun kita diberikan hidup dan tubuh, itu pemberian Allah dan karena itu kita harus memuliakan Allah melalui pemberianNya tersebut. Salah satu cara memuliakan Allah melalui hidup dan tubuh kita adalah dengan memberi. Jika kita sulit memberi kepada Allah, berarti kita menganggap semua yang ada pada kita sekarang adalah milik kita sendiri sehingga sebaiknya kita menikmatinya sendiri juga. Egois sekali!

Ketiga, memberi adalah perintah Allah! Ada banyak bagian dalam Alkitab yang menginginkan kita memberi, bukan hanya dalam PB tetapi terlebih lagi dalam PL. Dalam PL, mempersembahkan harta milik bahkan diri (untuk melayani) sebagai korban bagi Allah merupakan bentuk-bentuk pemberian yang wajib diberikan oleh bangsa Israel dalam setiap momen yang mereka alami. Setiap akan menanam, setiap kali menuai, setiap hari raya, dan seterusnya. Dalam setiap pemberian, Allah menentukan kriteria-kriteria pemberian tersebut dengan detil bahkan cenderung rumit. Dalam PB, tidak sedikit topik memberi ini dibicarakan namun saya mencatat hanya tiga bagian saja dari antaranya. Pertama, Matius 5:7 menuliskan: ”Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” Secara tidak langsung Yesus ingin mengajarkan bahwa berbahagia adalah bagian orang yang murah hatinya karena pada saatnya mereka akan beroleh kemurahan. Dalam NIV, kata murah hati menggunakan ”mercy” yang berarti belas kasihan. Orang yang murah hati adalah orang yang mudah berbelaskasihan kepada orang lain. Belas kasihan merupakan perasaan yang dirasakan Tuhan Yesus setiap kali melihat orang yang sakit jasmani maupun sakit rohani sehingga Ia ingin berbuat sesuatu bagi mereka. Kedua, Kisah 20:35 menyebutkan: ”Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima”, artinya kita diperintahkan untuk MEMBERI! Dalam NIV, kata berbahagia menggunakan kata ”blessed”, berarti orang yang memberi adalah orang yang diberkati lebih dari pada orang yang menerima. Paulus menyebutkan bahwa Yesus sendirilah yang mengatakan kalimat tersebut. Ketiga, dalam Roma 12:1-2 kita diperintahkan untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup dan yang berkenan kepada Allah. Paulus dengan jelas menyatakan bahwa kemurahan Allah adalah dasar dari perintah ini. Paulus tidak lupa menjelaskan dasar yang jelas dan benar untuk sebuah himbauan atau perintah yang ia sebutkan. Jadi, memberi kepada Allah pun harus didasari oleh karena kemurahan Allah kepada kita bukan karena kita memiliki sesuatu atau bukan karena kita sudah kaya. Ingatlah persembahan janda miskin, ia memberi dari kekurangannya bukan seperti orang lain yang memberi dari kelebihannya.

TUJUAN MEMBERI
Pertama-tama adalah untuk MENYENANGKAN HATI ALLAH. Pemberian menyenangkan hati Tuhan dan berkenan bagi Dia. Dalam Mazmur 51:21 dan Roma 12:1 kita melihat dengan jelas betapa persembahan dan pemberian-pemberian korban menyenangkan dan berkenan bagi Dia. Hal ini berkali-kali disebutkan dalam PL, bahwa Allah memberikan respon senang terhadap pemberian-pemberian umatNya. Jika tujuan hidup kita adalah membuat Tuhan senang, maka memberilah! Semata-mata hanya agar Tuhan senang, Allah tersenyum dan bangga sambil mengangguk-angguk terhadap apa yang telah kita lakukan. Jangan memberi agar dipandang baik oleh orang lain, jangan memberi supaya mendapat kehormatan atau supaya kita didukung, atau untuk menjaga nama baik, dst. Semua itu akan mendukakan hati Tuhan. Menyenangkan hati Tuhan berarti memuaskan Tuhan melalui pemberian-pemberian dengan motivasi yang benar. Membuat Dia puas melihat hidup kita.

Kedua adalah untuk MENDUKUNG MISI ALLAH di dunia. Misi Allah bagi dunia sudah jelas, yaitu menjadikan semua bangsa muridNya. Misi ini Allah kerjakan melalui tangan dan karya manusia, ciptaanNya. Misi itu tidak akan bisa terlaksana sesuai rencanaNya apabila tidak ada manusia yang menyerahkan diri dan/atau materinya bagi Allah. Kalau pun tidak ada manusia yang bersedia menyerahkan harta milik dan/atau dirinya untuk pelayanan, maka Allah bisa menjadikan batu untuk melakukannya. Jadi siapakah yang mau dipakai oleh Tuhan menjadi saluran berkatnya? Mereka yang bersedia memberi diri dan/atau harta miliknyalah yang akan dipakaiNya. Memberi berarti turut serta dalam mendukung misi Allah bagi dunia ini dan melakukan perintahNya. Dengan memberi diri untuk melayani secara full time atau part time berarti kita ikut dalam menjadikan semua bangsa murid Kristus. Dengan memberikan harta milik kita untuk para hamba Tuhan atau lembaga pelayanan (gereja, yayasan Kristen, dst) berarti kita bersama-sama dengan para hamba Tuhan tersebut menjadikan semua bangsa murid Kristus. Dengan memberikan harta milik kita kepada orang yang membutuhkan berarti kita turut dalam menyatakan kasih Kristus bagi mereka sehingga mereka mengenalNya. Saya tidak hanya berbicara mengenai persepuluhan. Bagi saya, sebagai orang percaya kita seharusnya memberi lebih sepersepuluh dari yang kita dapatkan. Seperti demikianlah hidup kita. Seandainya kita berharap hidup selama 80 tahun maka 8 tahun (10%) harus dipersembahkan untuk melayani Tuhan dengan total. Sanggupkah Saudara? Saya sudah pernah melayani Tuhan secara full time selama 4 tahun dan saya masih punya hutang sekitar 4 tahun lagi kepada Tuhan. Saya dan suami pernah berencana bahwa kami akan melayani sebagai misionaris ke daerah terpencil pada saat anak-anak kami nanti sudah tamat sekolah (SLTA). Pernahkah kita memikirkannya?

Ada pertanyaan lain yang timbul. Apakah dengan memberi, Allah kita akan menjadi lebih kaya? Atau menjadi lebih mulia? Atau menjadi lebih untung? TIDAKK!!! Tidak ada pengaruhnya bagi Allah apabila kita memberi atau tidak memberi sama sekali. Kalau kita tidak memberi, Allah tidak akan jatuh miskin atau jadi kurang mulia. Sekali lagi, TIDAK!!! Allah sudah sempurna dalam semua keberadaanNya. Jadi sebenarnya, siapa yang diuntungkan apabila kita rajin memberi? KITA!!! Kita sendirilah yang diuntungkan. Inilah keanehan yang kedua dalam memberi: bagaimana mungkin kalau kita memberi, kita yang diuntungkan? Sebagai pihak yang berkorban, bukankah seharusnya kita dirugikan? Ternyata tidak demikian. Keuntunganlah yang kita dapatkan apabila kita rajin memberi.

DAMPAK MEMBERI BAGI KITA

Pertama, MEMBAHAGIAKAN HIDUP KITA. Tentu saja kita akan merasakan kebahagiaan ketika memberi apabila pemberian itu tanpa sungut-sungut dan dengan motivasi yang benar. Kisah 20:35 sudah menyebutkannya. Orang yang rajin memberi, hidupnya penuh dengan ucapan syukur dan orang seperti inilah yang berbahagia. Orang yang berbahagia adalah orang yang memancarkan aura positif dari dalam dirinya. Orang yang berbahagia umumnya didominasi oleh perasaan-perasaan positif sehingga ucapan dan wajahnya pun memancarkan hal-hal yang positif. Orang yang suka memberi adalah orang yang tidak memikirkan dirinya sendiri, tidak mengasihani diri sendiri, dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Orang seperti ini umumnya adalah orang yang jarang mengeluh, tidak mudah marah, tidak mudah kecewa dalam hidupnya. Orang yang suka memberi memiliki perasaan cukup dalam dirinya. Orang yang mampu memberi adalah orang yang menerima hidup ini apa adanya, bahkan cenderung puas dengan hidupnya. Orang yang memberi puas akan hidupnya karena Tuhan telah memuaskannya sehingga dia selalu ingin memuaskan Tuhan juga.
Kedua, KITA AKAN DIBERI. Ada upah yang menantinya. Dampak yang kedua ini nyata dan sungguh ada namun agak berbahaya karena bisa menjadi motivasi dalam memberi. Matius 5:7 telah menyebutkan bahwa orang yang murah hatinya akan mendapat kemurahan. Hukum tabur-tuai juga sudah dituliskan dalam Galatia 6:7-9. Perbuatan baik yang kita lakukan akan mendapatkan kebaikan juga pada waktunya apabila kita tidak menjadi lemah. Karena itu, memberilah terus-menerus dan jangan berhenti. Apabila kita sudah bosan dan jenuh memberi terus tanpa pernah menerima, maka pada saat itulah kita menjadi lemah. Masalahnya, banyak orang yang membuat ini menjadi motivasi bahwa dia harus memberi karena nanti ketika dia membutuhkan akan ada orang yang akan memberi kepadanya. Seharusnya tidaklah demikian. Namun inilah hukum yang benar dan kenyataan yang terjadi dalam dunia, apa yang ditabur orang itu yang akan dituainya. Anggaplah tuaian yang kita dapatkan itu merupakan bonus dari memberi karena upah yang sesungguhnya dari memberi telah terkumpul di sorga. Jadi, apabila tuaian itu kita anggap bonus, maka kalaupun tidak kita dapatkan hal itu tidak akan menjadi masalah. Salah satu pengusaha sukses yang sering menjadi narasumber di radio SMART FM mengatakan bahwa kunci suksesnya dalam usaha adalah murah memberi atau rajin memberi. Menurut saya, firman Tuhan dalam Gal 6 ini ya dan amin, bahkan berlaku untuk orang yang tidak mengenal Kristus sekalipun. Karena itu, marilah kita tidak jemu-jemu memberi karena apabila sudah datang waktunya, kita akan mendapatkan upah kita.

Dari semua penjelasan di atas, apakah ada alasan untuk tidak memberi? Tidak ada! Yang ada hanyalah begitu banyak alasan untuk memberi. Kita mempunyai banyak sekali teladan dalam memberi, seperti Ibu Theresa yang hanya memiliki harta berupa sebuah sendok, sebuah piring dan sebuah gelas sepanjang hidupnya namun telah memberi segalanya untuk yang berkekurangan. Kita juga telah melihat teladan para misionaris seperti William Carey atau Hudson Taylor yang telah mengorbankan diri bahkan anak dan istri mereka menjadi sakit bahkan mati di tempat mereka melayani. Semua orang dipanggil untuk memberi dalam bentuk yang berbeda-beda. Kita harus peka akan suara Tuhan mengenai bentuk pemberian yang Allah inginkan kita berikan. Jangan memberi karena kita punya atau ada tetapi memberilah ada atau tidak ada; punya atau tidak punya. Karena kepada orang yang diberikan banyak akan dituntut banyak dan kepada orang yang diberikan sedikit akan dituntut sedikit juga. Artinya, keduanya harus memberi, baik yang memiliki sedikit maupun yang memiliki banyak. Tidak ada perbedaan! Jadi, apakah ada alasan untuk tidak memberi? Tidak ada! Karena itu, marilah kita memberi.






Tuesday, July 12, 2011

God: The GIVER

Aswindo Sitio

Pendahuluan

Kita bersyukur bisa bertemu lagi di dalam MBA dengan seri yang baru yaitu Giving, yang akan kita bahas dalam empat pertemuan ini.

Memberi dapat dimengerti sebagai sebuah tuntutan atau tanggung jawab yang diletakkan atas kita. Dan banyak artikel-artikel yang menunjukkan bahwa motivasi yang sangat besar dibalik memberi adalah kasih kepada Allah. Kita juga melihat bahwa memberi merupakan suatu budaya yang sudah melekat bagi kita, ketika seseorang ulang tahun kita akan memberikan sesuatu kepada dia, apakah hadiah berupa barang atau firman Tuhan (yang kita sampaikan lewat kartu atau sms).

Alkitab juga mencata bahwa budaya memberi itu sudah ada sejak zaman PL dan lanjut ke dalam masa PB. Dan alkitab juga mencatat bahwa Allah, sang pencipta alam semesta itu, adalah Allah yang senantiasa memberi. Dari mana manusia belajar atau meneladani hal ini? Tentu saja yang menjadi teladan manusia adalah Allah. Allah adalah teladan manusia dalam memberi.

Allah: Sang Pemberi

Allah adalah pencipta langit dan bumi. Itulah sebabnya Allah adalah sumber dan pemilik dari segala sesuatunya. Oleh sebab itu lah tidak ada alasan lain untuk tidak meminta kepada Tuhan. Kita bergantung kepada Allah sang pemberi itu.

Kita harus menyadari bahwa dunia dan segala isinya ini ditopang oleh setiap pemberian Allah yang berfungsi untuk memelihara dunia ini berjalan menuju digenapinya misi Allah. Ini adalah tujuan Allah memberi kepada manusia. Bukan untuk sekedar untuk memuaskan kebutuhan manusia. Tetapi dalam setiap pemberianNya, Allah memiliki sebuah rencana yang agung.
Kita bisa melihat bahwa mulai dari Kejadian sampai dengan Wahyu, Allah dengan setia memberi kepada umat manusia. Tentu saja sebagai Allah, pemberianNya tidak bisa disamakan dengan pemberian manusia. Ada beberepa kualitas dari pemberian Allah yang membedakannya dari pemberian manusia.

1. Pemberian Allah adalah sesuatu pemberian yang dilandaskan kepada hikmatNya.
Didalam pemberianNya, Allah selalu dengan hikmatNya, sehingga pemberianNya pemberiannya bukan sesuatu yang sia-sia dan berlalu begitu saja. Hikmat Allah dapat dikatakan sebagai berikut, yaitu kekuatan untuk melihat, dan kecenderungan/dorongan untuk memilih tujuan yang terbaik dan tertinggi bersama-sama dengan cara-cara yang paling tepat untuk mencapai hal tersebut. Oleh sebab itulah pemberianNya demikian tertata sedemikan baik. Allah menggunakan segala hikmat yang terbaik dalam setiap pemberiannya untuk mencapai tujuan bagi anda dan saya. TujuanNya adalah supaya manusia mengasihi menghormatiNya, dan memujiNya atas dunia yang diatur secara menakjubkan dalam keragaman dan kompleksitas, dan menggunakannya sesuai kehendakNya untuk menikmati Tuhan dan dunia.

Allah memiliki hikmat yang sempurna, dan oleh sebab itulah pemberian Allah yang didasarkan kepada hikmatNya adalah pemberian yang sempurna. Hal ini bisa kita jumpai di dalam kisah penciptaan (Kej 1). Di dalam Kej 1:29 dikatakan, “Berfirmanlah Allah: "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu.” Jika kita melihat kebelakang dari kisah ini, kita melihat bagaimana sebelum Allah menciptakan manusia, Dia terlebih dahulu mempersiapkan segala sesuatu kebutuhan manusia. Setelah Allah melihat bahwa semuanya baik (ay 25), kemudian ia berfirman, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Setelah Allah melihat semuanya sungguh amat baik Kej 1:31), Ia memberikannya kepada manusia untuk dikelola. Allah senantiasa memberikan sesuatu yang baik kepada manusia di dalam hikmatNya yang sempurna.

Karena pemberiannya didasarkan hikmat, maka pemberian Allah adalah pemberian yang selalu datang tepat pada waktunya. Kisah di dalam Alkitab dengan jelas memberitahukan kepada kita bahwa Allah secara aktif memberikan setiap hal yang ketika kita membutuhkannya. Hal ini kita bisa lihat di dalam perjalanan bangsa Israel dari Mesir mrnuju Kanaan. Allah senantiasa meberikan setiap kebutuhan bangsa Israel. Tetapi Alkitab juga mencatat bagaimana manusia selalu berusaha untuk keluar dari setiap waktu Tuhan, dengan mengandalkan logika dan akal sehat sendiri. Ketika kita belajar dari raja Saul dalam MBA tahun lalu, kita bisa melihat bagaimana Allah telah berjanji akan memberikan pertolongan kepadanya, tetapi ia meragukan Tuhan dan melakukan atas inisiatif sendiri. Ini adalah titik kejatuhan Saul dimana akhirnya Allah menolak dia sebagai raja orang Israel (1 Sam 13:8-14). Bagaimana dengan kita? Allah sang pemberi itu senantiasa ada untuk memberikan setiap yang kita butuhkan, tetapi mari diam dalam kesabaran menantikan waktu Tuhan. Mungkin dalam ukuran manusia penantian kita tahunan. Tetapi Allah tidak pernah terlelap, dan Dia akan memberikan tepat pada waktunya (band Maz 121)

Karena berada di dalam himatNya, maka pemberian Allah itu selalu menghasilkan hasil yang terbaik dari apapun yang pernah kita bayangkan. Walau, mungkin, di dalam prosesnya kita merasakan penderitaan. Tetapi semua pasti indah pada waktunya. Pengkhotbah 3:11 berkata, “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Sesuatu yang jauh dari apa yang kita bayangkan dan pikirkan. Yeremia 29:11 berkata, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”

2. Pemberian Allah didasarkan kepada sebuah covenant.
Artinya adalah bahwa setiap janji Allah untuk memberi setiap kebutuhan manusia akan digenapiNya. Ketika Allah menjanjikan untuk memberikan sesuatu kepada umatNya, maka semua akan digenapi seturut dengan waktu Allah dan pasti akan digenapi. Di dalam I Raja-raja 5:12a dikatakan, “Dan TUHAN memberikan hikmat kepada Salomo seperti yang dijanjikan-Nya kepadanya;”.

Allah setia, dan tentu saja setiap hal yang telah dijanjikanNya akan diberikan. Kata covenant itu memiliki makna bahwa perjanjian itu akan ditepati. Ini adalah sebuah penghiburan kepada kita bahwa Allah telah berjanji untuk memelihara hidup kita. Dalam Mat 6:25-26 Yesus mengatakan, “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu.” Allah pasti akan memberikannya.

3. Pemberian Allah didasarkan kepada kasih karunia (anugerah)
Kita harus menyadari bahwa setiap pemberian Allah kepada manusia bukan karena manusia layak untuk mendapatkannya, tetapi semua adalah semata-mata anugerahNya. Allah mengasihi manusia karena Allah adalah kasih. Setiap tindakan Allah dan termasuk pemberianNya selalu didasarkan kepada kasihnya kepada kita. Yoh 3:16 diawali dengan frase “karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini.” Oleh sebab itulah, kita semua bergantung kepada kasih dan kemurahan Allah semata. Apa yang sekarang kita miliki, yang merupakan pemberian Allah adalah semata-mata didasarkan kepada kasih dan karunia Allah.



4. Pemberian Allah bersifat total & ultimate.
Jika kita bisa melihat semua kisah di dalam Alkitab, kita bisa melihat bagaimana Allah selalu memberikan yang terbaik dan total. Bahkan dari setiap hal yang diberikan Allah kepada kita, Dia bahkan memberikan anakNya yang tunggal. Di dalam Kristus, Allah telah memberikan segala-galanya bagi kita (Rom 8:32). Allah telah memberikan sesuatu yang luar biasa bagi kita di mana kita bisa akhirnya bisa mencintai, mengasihi, dan menghormati diriNya. Suatu pemberian di mana kita akhirnya dimungkinkan untuk mengenal Allah.

5. Pemberian Allah berelevansi kepada kekekalan.
Jika kita perhatikan, dalam setiap pemberianNya, Allah tidak berhenti hanya saat pemberiannya itu diberikan. Tetapi pemberian Allah memiliki nilai kekekalan. Dengan kata lain setiap pemberian Allah mengarahkan kita untuk menggenapi misi Allah di tengah-tengah dunia ini. Hal ini yang harus kita sadari. Ketika Allah memberikan pekerjaan, teman hidup, dan semua yang kita butuhkan, Allah memberikannya dengan melihat aspek kekekalannya. Ketika Allah memberikan sesuatu kepada umatnya, kita melihat bagaimana semuanya itu memiliki nilai kekekalan. Artinya adalah melalui setiap pemberian Allah kepada kita, Allah rindu kita bisa berjalan dan ikut menggenapi misi Allah di tengah-tengah dunia ini. Seperti yang pernah disinggung dalam MBA beberapa waktu yang lalu, ketika Allah mempersiapkan kita keluarga pun Allah meminta kita untuk melahirkan anak-anak kekekalan. Jadi, ketika kita sebagai alumni di dalam dunia pekerjaan, apakah kita memberikan sesuatu yang bernilai kekekalan di sana atau tidak. Sampai di akhirnya Allah senantiasa memberikan sesuatu yang bersifat kekal.

Bahkan sampai kita melihat bagaimana Allah memberikan tempat bagi kita untuk bersama-sama dengan Dia di dalam kekekalan itu sendiri. Sesuatu yang sangat luar bisa di mana Allah tinggal diam bersama dengan umatnya di dalam kekekalan (Wahyu 21:1-5).

Penutup
Allah adalah sang pemberi. Dia adalah teladan kita akan meberi. Jika kitya kembali melihat kualoitas dari pemberian Allah, seharusnyalah kita bersyukur dan kitab terkagum-kagum karena Allah pencipta itu adalah Allah yang peduli dengan ciptaanNya. Setiap pemberiannya menopang dunia ini dan kehidupan ini di dalam providensia Allah. Sehingga dalam setiap pemberianNya kita semakin bisa mengenal Dia dan semakin jatuh cinta kepadaNya.
Pemahaman seperti ini akan membawa kita untuk bisa berfokus kepada Allah, bukan setiap berkat-berkatnya. Sebelum menikmati setiap pemberianNya, mari terlebih dahulu menikmati Sang Pemberi itu sendiri. Mari semakin mengenal Allah. Firman Tuhan berkata “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”. Ketika kita bersikap mengutamakan Allah maka kita akan berani berkata bahwa Allah itu cukup bagi kita. Contentmen di dalam Allah akan membuat kita bisa lebih bijaksana untuk melihat bagaimana Allah sebenarnya dengan setiap naturnya senantiasa memberi kepada kita. Hanya Allahlah yang mampu memberikan apa yang terbaik kepada kita karena Ia adalah Pencipta kita.