Friday, January 22, 2016

Jemaat Mula-Mula


Kisah Para Rasul 2:41-47

[Kotbah MBA, tanggal 15 Januari 2016 yang dibawakan oleh Drs. Tiopan Manihuruk, M.Th]

Kisah ini adalah peristiwa setelah hari pentakosta (Kis. 2). Jadi ada karunia yang Tuhan berikan. Dalam ay 8-10 dikatakan, “Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma.” Mereka berbicara dengan bahasa yang bukan bahasa mereka. Ini bukan bahasa Roh, tetapi bahasa yang diberikan oleh Roh. Tuhan memberikan karunia ini karena waktu itu banyak orang, termasuk dari Roma, sedang berkumpul di Yerusalem. Peristiwa ini adalah penggenapan dari Yoel pasal 2 (band. Kis 1:8).

Beberapa orang menyindir peristiwa ini dengan mengatakan bahwa mereka mabuk (13). Tetapi kemudian Petrus bangkit dan menyatakan bahwa mereka tidak mabuk. Petrus kemudian melanjutkan dengan pemberitaan mengenai Kristus kepada mereka. Banyak diatara mereka yang akhirnya percaya dan memberikan diri di baptis (40-41). Ada sekitar 3000-an orang yang percaya, dan ini hanya laki-laki. Tradisi orang Israel tidak menghitung perempuan. Orang yang percaya ini kemudian memberi diri mereka dibaptis. Mereka inilah yang disebut dengan jemaat mula-mula.

Komunitas jemaat mula-mula ini adalah jemaat dengan persekutuan yang dinamis dan membangun. Ciri ini berlaku untuk personal dan komunitas. Sebagai seorang pribadi yang percaya, kita harus memiliki ciri ini sekaligus sebagai sebuah komunitas dimana kita ada, juga harus memiliki ciri ini.

Dalam Kis 2:41-47 kita akan melihat bagaimana kehidupan jemaat mula-mula ini. Mereka adalah jemaat yang ‘bertekun’ (42). Dalam terjemahan NIV kata yang dipakai untuk ‘bertekun’ adalah ‘devoted’ bukan continue. Kalau continue penekananya adalah rutinitas sedangkan devoted penekannya ada hal rutinitas dan juga ada hati yang terus tunduk. Jadi orang yang devoted betul-betul punya kerinduan, kehausan, dan komitmen untuk taat. 

Jemaat ini ‘devoted themselves’ kepada empat aspek.

Pertama, devoted themselves to the apostles’ teaching. Mereka tekun kepada pengajaran rasul-rasul, yaitu firman Tuhan. Roh Allah memimpin umat itu tunduk kepada kebenaran firman Tuhan. Ada sinergitas di sini. Sebagai orang percaya mereka tetap bertekun kepada firman Allah, tetapi tetap dikombinasikan dengan pekerjaan Roh di dalam diri mereka. Jadi untuk beriman kepada Kristus pekerjaan Roh, ketika mereka memberi diri dibaptis pekerjaan Roh, dan ketika mereka mau bertekun kepada kebenaran Firman Tuhan, mutlak juga ada pekerjaan Roh. 

Komunitas ini adalah komunitas yang belajar (learning community). Belajar disini bukanlah sesuatu yang dikondisikan tetapi sesuatu yang sudah menjadi sifat dalam pribadi atau komunitas tersebut. Mereka mau belajar dan diajari. Salah satu yang perlu dibangun dalam persekutuan adalah bagaimana ketekunan kita belajar firman Tuhan. Dalam Kol. 2:6-7 dikatakan, “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.” Kita harus melatih komunitas maupun pribadi kita menjadi komunitas (atau pribadi) yang tekun belajar agar komunita  dan diri kita menjadi komunitas dan pribadi yang bertumbuh.

Belajar firman Tuhan sangat penting. Dalam Rom. 10:17 dikatakan, “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Baca juga Maz. 119:9-11; 2Tim. 3:16). Kita bisa betahan menghadapi arus dunia yang semakin kencang ini hanya jika kita bertekun dalam pembelajaran akan firman Tuhan. bagaimana kita bertahan untuk hidup kudus adalah dengan tekun belajar firman Tuhan. Mari menjadikan tahun 2016 ini sebagai tahun untuk semakin tekun belajar akan firman Tuhan.

Kedua, devoted themselves to the fellowship. Jemaat ini mengomitmenkan diri mereka kepada persekutuan. Kata yang dipakai dalam bahasa Yunani adalah ‘koinos’ yaitu persekutuan yang diikat dalam dua aspek, makanan jasmani dan makanan rohani. Inilah persekutuan kasih (loving community). Bukan hanya makanan, dalam artian tidak ada yang kelaparan dan kekurangan, tetapi juga berbagi dalam hal pengalaman rohani. Di hal yang kedua ini kita sering tidak melihatnya dalam persekutuan kita. Kita sangat sulit sangat bersaksi dalam pengalaman rohani. Jika dibuka ruang kesaksian belum tentu ada yang mau. Dan sering sekali kesaksian yang ada pun hanya peristiwa ketika kita menang atau mengalami peristiwa kuasa Tuhan. Jarang ada orang bersaksi dimana dia jatuh ke dalam dosa dan bergumul lama dan akhirnya bisa menang. Kegagalan juga penting untuk dibagikan agar orang lain jika mengalami kegagalan yang sama bisa dikuatkan dan bangkit.

Sebagai komunitas kasih, jemaat mula-mula biasa membagi apa yang mereka punya di dalam Allah. Kemudian mereka membagikan kepada orang lain dalam kemurahan. Dalam 1Yoh 3:18 dikatakan, ”Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” Kita bisa memberi tanpa mengasihi tetapi kita tidak dapat mengasihi tanpa memberi. Kita harus mengevaluasi bagaimana hidup kita menerapkan hal ini. Mari melihat dan berharap bagaimana komunitas kita jangan sampai mengabaikan orang lain, dimana ada orang yang tidak bisa makan karena tidak punya uang, di sisi lain ada orang yang setiap hari makan di restoran. Atau ada yang sakit, tetapi kita tidak tahu sama sekali. Jadi ada sebuah komunitas dimana kita mengomitmenkan diri kita dalam persekutuan kasih, apakah di KTB atau komunitas lain dimana kita berada. Jangan sampai persekutuan kita menjadi persekutuan yang banyak berbicara mengenai kasih tetapi kehilangan kasih. 

Persekutuan kasih juga meliputi prinspip pengampunan dimana kita saling mengampuni satu sama lain. Jangan sampai ada rasa benci terhadap sesama yang menjadi pengganjal dalam persekutuan kita. Ingatlah ketika kita berdoa Doa Bapa Kami, “ampunilah kesalahan kami seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami...”. Mari serius ketika kita mengucapkan doa ini, bukan sekedar ucapan di bibir belaka.

Ketiga, devoted themselves to the breaking of the bread. Mereka juga mengomiktmenkan diri mereka membagi dan memecah-mecahkan roti. Orang Israel biasa memecahkan roti karena makanan mereka adalah tepung yang bercampur ragi dan dipanggang dan kemudian dipecah-pecah. Prinsip yang mau ditekankan dalam bagian ini adalah saling berbagi.

Keempat, devoted themselves to the pray. Jemaat ini adalah jemaat yang berdoa dan menyembah (praying and worshipping community). Dalam banyak persekutuan hal ini menjadi sebuah pergumulan. Ketika acaranya adalah acara pesta ulang tahun atau syukuran, banyak orang datang. Tetapi jika acaranya adalah acara Jam Doa hanya sedikit orang yang datang. Mari mengevaluasi hidup kita akan hal ini. Jika kita adalah pengurus alumni, atau guru sekolah minggu, atau memegang pelayanan apapun, mari melatih diri kita dan komunitas kita untuk berdoa.

Sebagaimana dengan jemaat mula-mula pelayanan kita seharusnya adalah pelayanan yang digerakkkan oleh doa (prayer movement). Mari menjadikan doa sebagai mesin dalam komunitas kita setiap hari. Mari menjadi komunitas yang menikmati kehidupan doa. Yesus berkata, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah." (Mat. 26:41). Hidup dengan ‘berjaga-jaga dalam doa’ menolong kita untuk tetap hidup kudus dan bertahan secara rohani. Daniel, dalam setiap kesibukannya sebagai pegawai istana, tetap setia mengerjakan disiplin doanya. Disiplin rohani memerlukan latihan.

Menarik sekali bahwa mereka melakukan empat aspek di atas setiap hari dipelataran Bait Allah (46). Dalam konteks zaman sekarang kita mungkin tidak bisa melakukannya. Tetapi prinsip yang menjadi penekanan disini adalah ‘berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah’. Mereka melakukannya setiap hari.Hal inilah yang ahrus kita latih. Kita juga aharus melakukannya setiap hari. Tidak terbatas pada satu tempat satu situasi saja. Kita bisa melakukannya di mana saja, baik di dalam angkot, ketika di lampu merah, di rumah, ataupun di kantor. Prinsipnya adalah kita melakukannya dalam keataatan dan menjadi sebuah kebiasaan yang baik setiap harinya dalam kehidupan kita.

Selai menjadi jemaat yang bertekun (devoted), mereka juga penug dengan kekaguman kepada Tuhan karena empat aspek yang di atas ditambah dengan adanya tanda dan mujizat oleh para Rasul. Dipenuhi oleh kekaguman kepada Allah adalah sesuatu yang penting. Sering sekali kita dalam mengerjakan pelayanan, beribadah, atau bahkan rajin saat teduh, tetapi kekaguman kita kepada Allah tidak bertambah. Ketaatan kita kepada Allah tidak semakin meningkat. Bahkan yang terjadi kita masih tetap tinggal di dalam dosa kita yang belum diselesaikan tetapi dengan tenang terlibat dalam pelayanan. Ini adalah situasi yang sangat berbahaya.

Mari belajar agar melalui pelayanan, ibadah, dan persekutuan semakin meningkatkan rasa kagum, hormat, dan ketaatan kita kepada Allah. Ketaatan kita kepada Firman yang kita pelajari makin nyata dalam hidup kita. Kita bertumbuh sejauh ketaatan kepada firman Allah. Semakin taat maka kita semakin bertumbuh. Pengetahuan tidak mengubah orang tetapi ketaatan kepada firman Allah akan mengubah orang. Howard Marshall mengatakan bahwa rasa hormat dan rasa kagum adalah salah satu dampak dari pertumbuhan jemaat yang masih bayi. Semakin kita bertumbuh maka rasa hormat, cinta, dan ketaatan kepada Allah akan semakin bertumbuh.

Jemaat ini juga memiliki persekutuan yang nyata (44-46). Semua orang percaya bersatu dan sama dalam kepemilikian. Mereka saling berbagi satu sama lain sesuai dengan kebutuhan (band. 2Kor. 8:13-15; 1br. 10:24-25). Jangan sampai ada jemaat yang berfoya-foya, tetapi ada jemaat yang  kelaparan karena tidak ada makanan yang hendak dimakan. 

Kita bisa menikmati hidup kita dnegan apa yang ada pada kita (misalnya liburan) tapi jangan sampai pola hidup hedonis. Tetapi apakah kita masih setia memberi perpuluhan? Apakah kita masih setia memberikan persembahan kasih? Jangan sampai kita jalan-jalan ke luar negeri tetapi teman satu PA kita tidak makan karena tidak ada biaya. Tanggungjawab sosial kita dalam kasih tetap harus dilakukan. Betapa pentingnya sebuah persekutuan. Saling berbagi tidak ada yang kekurangan. Jika ada anggota keluarga kita kekurangan, mari membantu mereka. Komunitas kita adalah komunitas yang melakukan tindakan kasih.

Jemaat mula-mula menjual hartanya. Dalam bahasa aslinya, tindakan ini (‘menjual’) memiliki arti selalu dilakukan terus menerus, menjadi sebuah kebiasaan. Jadi bukan tindakan yang hanya terjadi sekali. Maka secara berkesinambungan tindakan ini dilakukan. Hal ini menjadi kebiasaan yang baik,. Suka memberi dan suka menolong. Mereka juga memecahkan roti secara bergilir dan merupakan sebuah pelayanan yang setiap hari mereka lakukan.

Jemaat mula-mula melakukan semua hal ini dengan gembira. Bukan beban atau karena terpaksa. Saat teduh, PA, ibadah, harus juga dalam kondisi gembira. Memberi dan menolong juga. Dalam ay 47 dikatakan, “sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” Kegagalan kita dalam bersaksi mengajak orang datang kepada Yesus karena hidup kita tidak mereka alami kebaikan dan kasih melalui kita. Kata yang dipakai adalah ‘Tuhan menambahkan’. Jadi jemaat ini adalah jemaat yang bersaksi, melayani, dan menginjili – an evangelistic community.

Mereka menjadi jemaat yang evangelistik elalui pengajaran para rasul, kesaksian hidup komunitas, kasih yang mengesankan dalam kehidupan  sehari-hari, dan teladan hidup dalam relasi dengan Tuhan dan sesama. Hal inilah yang membuat orang suka melihat mereka, sehingga ada orang bertambah percaya kepada Yesus. 

Mari mengevaluasi hidup kita. Jika saudara atau pun keluarga kita yang belum percaya kepada Tuhan Yesus, mungkin ada yang harus kita evaluasi. Apakah kasih kita kurang mereka rasakan atau kebaikan kita kurang bagi mereka. 

Mari menjadikan PAK sebagai komunitas dengan peran ini. Kita adalah building community (komunitas untuk membangun). Wadah bersekutu sesama alumni yang saling membangun. Kita adalah equipping community (komunitas yang memperlengkapi). Kita memperlengkapi alumni agar terus bertumbuh dalam iman dan karakter menuju kesucian hidup seperti Kristus. Kita adalah sharpening community (komunitas yang menajamkan) untuk mempertajam peran dan panggilan alumni sehingga dapat memberikan kontribusi yang tepat dalam keluarga, kerja, pelayanan siswa, mahasiswa dan gereja serta negara (misi holistik). Kita adalah networking community dimana kita menjalin dan memelihara kerjasama antar alumni (personal) dan antar persekutuan alumni se kota/daerah.

Solideo Gloria!

Thursday, February 19, 2015

Visi & Panggilan

[Kotbah ini merupakan Kotbah MBA yang dibawakan oleh Pdt. Parlindungan Situmorang pada Jumat 17 Januari 2014]
 
Setiap pribadi harus punya visi, jika tidak maka hidupnya akan berantakan. Visi membuat kehidupan seseorang memiliki arah kemana harus berjalan. Visilah yang menentukan kemana tujuannya. Dan visi harus dimiliki bersama dengan strategi untuk mencapainya agar tidak sekedar impian belaka.

Anak-anak Tuhan seperti kita, saatnya punya pribadi punya visi. Dalam Ams 29:18 dikatakan, “Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat. Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum.” Dalam terjemahan NIV kata yang dipakai untuk wahyu adalah vision. Jadi jika tidak ada visi, maka rakyat akan menjadi liar. Liar di sini bukan menunjukkan rakyat yang sedang huru-hara atau terlibat dalam kerusuhan, tetapi rakyat yang rakyat yang tidak memiliki arah yang jelas.

Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, kita juga harus memiliki visi agar hidup kita jelas mau kemana. Dengan kata lain kita seharusnya sudah menetapkan mau jadi apa kita 10 tahun lagi. Hal ini bukan mengada-ada tetapi sesuatu yang terencana di mana dalam 10 tahun ke depan kita sudah menetapkan dasar yang membuat kita disebut mapan dalam hidup ini. Supaya hidup kita tidak lagi terombang-ambing ke sana kemari khususnya dalam  dunia kerja.

Sebagai anak Tuhan, visi kita dalam dunia kerja haruslah jelas. Mengapa demikian? Jika kita tidak memiliki visi yang jelas maka akan berdampak kepada beratnya pekerjaan yang kita lakukan. Visi yang jelas akan melahirkan misi atau strategi yang mantap untuk mencapai visi itu. Jadi, jika kita tidak memiliki visi, maka tidak ada strategi untuk bisa mengerjakan satu pekerjaan dengan baik, dan hal ini membuat beban pekerjaan itu menjadi sesuatu yang memberatkan. Hal inilah yang membuat anak-anak Tuhan tidak maksimal dalam dunia pekerjaan bahkan cenderung berpindah-pindah pekerjaan.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa anak-anak Tuhan dilarang untuk pindah pekerjaan dan harus menggeluti satu pekerjaan sampai akhir. Tidak! Tetapi apa yang membedakannya adalah visi. Ada saat-saat tertentu dimana kita harus ‘banting setir’ dalam pekerjaan karena kita menangkap panggilan Tuhan bagi kita untuk segera bekerja di tempat lain. Semua didasari oleh visi. Visi membuat kita untuk fokus dan lebih maksimal dalam dunia kerja. Dunia juga memahami benar pentingnya sebuah visi demikian juga dengan motivator-motivator terkenal dalam dunia ini.

Banyak orang (dan juga terjadi kepada orang percaya) yang menganggap pekerjaan sebagai kutuk karena mereka tidak memiliki visi. Dalam pandangan mereka pekerjaan itu adalah beban yang merongrong hidup. Keluhan-keluhan senantiasa keluar dari orang-orang seperti ini, khususnya pada hari Senin.

Ada sebuah kisah yang menyedihkan mengenai orang yang tidak memiliki visi ini, yang notabene adalah orang percaya:

Ada teman saya pejabat di departemen dalam pemerintahan. Dia dipercaya atasannya menangani penyaringan penerima beasiswa untuk study lanjut dari Korea Selatan. Dia kemudian membedakan alumni pelayanan mahasiswa dan non alumni pelayanan (atau beragama lain). Hasilnya menyedihkan karena justru betapa yang bukan alumni pelayanan yang jauh lebih baik dalam merespon beasiswa itu, baik dari segi mempersiapkan berkan dan surat lamaran dan juga dari segi semangat dan kuatnya keinginan mereka untuk beasiswa tersebut. Kerinduan mereka yang besar ditunjukkan dengan mempersiapkan diri dengan baik. Akhirnya yang paling banyak menerima beasiswa itu adalah mereka yang bukan Kristen. 

Yang menyedihkan dari kisah di atas adalah bukankah nanti mereka – yang menerima beasiswa – yang akan banyak menempati posisi sebagai pemimpin ketika mereka kembali dari studynya? Hal ini terjadi karena kita tidak memiliki visi dalam hidup kita yang menganggap pekerjaan sebagai kutuk. Sedangkan bagi orang-orang yang memiliki visi, pekerjaan adalah anugerah dan tanggung jawab Allah kepada manusia yang harus dikerjakan dengan tanggungjawab. Visi yang jelas membuat mereka memiliki energy yang meluap dan semangat dalam mengerjakan pekerjaannya.

Visi dalam dunia kerja harus mantap. Jangan menganggap pekerjaan formal itu adalah kutuk karena dosa. Pekerjaaan adalah sesuatu yang alkitabiah. Jangan pernah dualisme dalam memandang hidup dimana kita memandang suasana rohani hanya pada hari minggu, sedangkan sisa hari lainnya itu bukan dunia rohani, tetapi sekuler. Pandangan ini bisa membuat kita memiliki sikap bahwa di luar hari Minggu tidak membutuhkan hal-hal yang rohani. Ini dualisme dan TIDAK alkitabiah. Kita dipanggil bukan untuk dualisme seperti ini. Keseluruhan waktu kita (setiap harinya) adalah waktu untuk Tuhan dan harus mempermuliakan Tuhan. Panggilan bagi kita semua adalah agar tetap mempermuliakan Tuhan di manapun kita berada dan apapun profesi kita. Semua kegiatan dalam mencari nafkah dalam arti positif, adalah tempat bagi kita untuk bisa melayani Tuhan. Jadi bidang apapun kita baik itu kesehatan, pemerintahan, hukum, guru, bisnis, ataupun entertanintment, semuanya adalah ranah atau ladang dimana nama Tuhan harus dipermuliakan. Jadi sepanjang hari kita melayani Tuhan. Jika memahami hal ini dengan baik, ketika kita masuk dalam dunia pekerjaan kita bisa melihat bahwa di sini Tuhan memanggil saya dan saya harus memberikan yang terbaik.
Dalam Mat 9:35-36 dikatakan, “Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.”, dan dalam Luk 4:18-19, “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” Bagian Firman ini menggambarkan dunia yang kita layani. Sebuah dunia yang lebih baik ketika kita hadir dan berkarya di situ.

Anak-anak Tuhan tidak hanya dipanggil untuk pelayanan formal (seperti kotbah, dll), tetapi juga dalam dunia kerja. Di tempat kerja kita bisa melakukan banyak hal yang positif seperti mengangkat hidup harkat hidup orang lain sehingga mereka jauh lebih baik hidupnya. Banyak hal yang bisa kita lakukan seturut dengan panggilan Tuhan dalam hidup kita. Hal lain yang bisa kita lakukan adalah menunjukkan teladan dalam hal meembuang sampah dan menjaga kota ini tetap bersih, mendidik anak-anak di sudut lorong agar memiliki budaya bersih, juga adalah sesuatu yang baik, dunia dimana kita dipanggil Tuhan.  Artinya semua lini kita bisa ambil bagian untuk menunaikan panggilan Tuhan.
Dalam Mat 9:35-36 tadi Yesus mengajar kita bagaimana melihat orang banyak itu. di sini bukan sekedar melihat sepintas dan tidak berbuat apa-apa. Cara melihat kita harus seperti cara melihat Yesus. Bagaimana kita melihat tempat di mana kita bekerja. Bagaimana kita melihat atasan, perusahaan, teman-teman kolega, bawahan, orang yang lalu lalang datang ke kantor, melihat siswa, atau melihat orang tua yang mengantar anak ke sekolah. Apakah kita hanya sekedar melihat sepintas? Sebagai guru bagaimana kita melihat murid-murid? Apakah kita hanya sekedar mengeluarkan ilmu dan seperti senjata menembakkannya kepada mereka? Atau kita ingin anak ini suatu hari kelak menjadi orang yang berguna. Ada passion kita, doa kita, rindukan terhadap murid-murid.
Semua bidang yang bisa kita garap adalah bidang di mana kita bisa memuliakan Tuhan maka di sana cobalah memiliki integritas yang mantap. Kita harus menunjukkan identitas kita sebagai orang percaya yang mungkin salah satunya adalah melalui persekutuan kantor yang kita usahakan. Kita bersyukur bahwa di Medan sekarang banyak kantor-kantor yang sudah memiliki persekutuan. Ini menjadi tempat bagi mereka untuk saling menopang dan menjaga kualitas hidup mereka. Mari bertindak nyata untuk membangun kerohanian yang baik dalam dunia kerja masing-masing. Jangan tinggalkan atau lupakan persekutuan atau upaya untuk memajukan Kerajaan Allah, apapun pekerjaanmu.

Dalam mengerjakan hal ini kita juga butuh pengaturan waktu yang baik. kita harus tahu kapan haru melayani dan kapan harus bekerja. Mari bertanggung jawab terhadap waktu kita ketika berada di tempat kerja. Kita juga harus menunjukkan bahwa kita adalah orang yang suka kerja keras. Jangan sampai dikatakan orang bahwa kita adalah seorang yang pemalas. Tetapi kita dengan semangat yang kuat mengerjakan setiap pekerjaan kita dan hal ini menjadi berkat bagi orang lain.

Kemudian kita juga memerlukan ketekunan agar jangan cepat menyerah. Mari melakukan yang terbaik. Kita juga harus menjaga kejujuran. Jangan sampai ada anak-anak Tuhan yang ditangkap oleh KPK. Sekecil apapun kita harus jujur termasuk dalam penggunaan keuangan. Bertanggung jawab dan sikap positif dalam situasi apapun. Inilah keistimewaan anak-anak Tuhan.

Jika kita memiliki cara pandang seperti ini, visi dan panggilan hidup seperti ini kita jalani, pasti kita keluar sebagai  yang terbaik dari antara yang baik. Ada banyak orang di luar sana yang baik-baik, tetapi kita bisa muncul menjadi yang terbaik. Panggilan mari terus menerus memaksimalkan hidup untuk memuliakan nama Tuhan.

Solideo Gloria!

Monday, February 9, 2015

NEW AGE MOVEMENT


[Kotbah ini disampaikan pada Mimbar Bina Alumni, Jumat 12 September 2014 oleh Aswindo Sitio]
Pendahuluan
“New Age” adalah sebuah istilah yang menggenggam imajinasi dari banyak manusia di seluruh dunia (khususnya dunia barat), termasuk bagi orang Kristen. “New Age” pada dasarnya adalah sebuah sinkritisme dari ide-ide yang berasal dari variasi agama yang luas dari agama non-Kristen yang bercampur dengan teori filosofi dan psikologi modern. Era modernisasi telah mengabaikan dimensi spiritual dari kemanusiaan kita demi metode ilmiah. Namun pergeseran worldview ke arah postmoderisme menekankan kembali pentingnya kontemplasi dan realitas spiritual dan memunculkan pencarian spiritual, khususnya spiritualitas timur. New Age disadari sebagai manifestasi agama dari postmodernisme.
New Age Movement atau Gerakan Zaman Baru adalah nama yang berkembang untuk memberi ciri pada gerakan pada tahun 1960-an sebagai subkultur yang melanda seluruh dunia. NAM sebenarnya merupakan kebangunan kembali faham kuno yang sudah dikenal dalam agama animisme, dinamisme, mistis (timur), dan juga gnostik (Kaum gnostis meyakini bahwa orang-orang yang taat telah mendapatkan pencerahan yang istimewa, dimana mereka telah mendapatkan satu tingkat pemahaman yang rahasia atau lebih tinggi yang tidak dapat diakses oleh mereka yang tidak terpilih) yang secara turun temurun dikenal dan dipraktekkan dalam budaya tradisional yang prinsipnya bersifat panteisme, yaitu bahwa alam adalah realita utama (macro cosmos) dan manusia adalah bagian dari realita itu (micro cosmos).
Sejarah dari New Age Movement (NAM)
Walaupun gerakan ini memberi ciri mulai tahun 1960-an, sebenarnya akar gerakan ini sudah mulai muncul mulai dari abad ke-19, tepatnya tahun 1875, ditandai dengan munculnya banyak gerakan spiritual di Eropa dan Amerika, salah satunya adalah Theosophany. Gerakan ini disebut dengan The Theoshiopical Society (yang kelak dikenal dengan New Age), yang didirikan oleh Madame Helena Petrovna Blavatsky. Idenya memberikan kontribusi akan harapan akan sebuah New Age (Era Baru) diantara pelaku spiritualitas dan orang yang percaya kepada astrologi, yang bagi mereka datangnya era New Aquarian menjanjikan sebuah periode dari brotherhood and enlightenment.
Doktrin-doktrin yang prinsipil dalam gerakan ini sangat dekat dengan tradisi Hindu. Gerakan ini meyakini bahwa alam semesta harus dihormati sebagai kesatuan hukum yang fundamental di alam semesta. Umat manusia adalah bagian dari proses evolusi. Tubuh adalah sementara sedangkan kehidupan roh itu kekal. Jadi ketika seseorang meninggal maka kehidupannya secara roh akan tetap berlanjut dan pada saatnya roh tersebut akan lahir kembali (bereinkarnasi) melalui tubuh yang baru. Kehidupan manusia dibatasi dan diatur oleh yang namanya hukum Karma. Walaupun demikian, individu memiliki kekuatan untuk membebaskan diri mereka dari keterbatasan manusiawi melalui meditasi.
Dan gerakan ini terus berkembang sampai mencapai puncaknya pada tahun 1960-an.
Tema-tema dalam New Age Worldview
Tema-tema dalam Nam banyak yang mirip dengan ajaran Hindu. Norman Geisler menuliskan doktrin dasar dalam NAM yang dikombinasikan dalam hal-hal berikut:
The Cosmos
Kosmos diyakini sebagai sesuatu yang murni, tidak bisa dibedakan, energi dari alam semesta, atau kekuatan dari hidup (life force). Segala sesuatu merupakan satu kesatuan, proses yang interconnected yang bisa disadari sebagai sesuatu yang ilahi. Dengan kata lain Tuhan ada di dalam semua dan semua adalah Tuhan. Jika kita semua adalah Tuhan, maka otoritas tertinggi ada di tangan kita. Tuhan adalah energi bukan sebagai satu pribadi. Inilah yang disebut dengan karakteristik Pantheisme dari Hindu worldview. Semua benda mengambil bagian dari satu esensi ilahi. Karena itu segala sesuatu adalah sempurna.
Dalam pandangan ini, kosmos dihormati sebagai keberadaan yang sungguh-sungguh ada dan hidup dari pada hanya sekedar objek material. Realita adalah sebuah totalitas, dimana tidak ada perbedaan antara natural dan supranatural. Mimpi dan fantasi sama dengan realita dari pengalaman objektif. Nature itu sendiri dihormati sebagai sebuah refleksi dari realita yang ultimate, sehingga lingkungan harus dijaga dan dipelihara. Ekologi, atau biasa dinamakan green issues, adalah isu yang penting dalam agenda NAM.
Pandangan ini juga memandang bahwa semua agama memiliki esensi yang sama. Yesus, Budha, Muhammad, dan Lao-tzu mengajarkan hal yang sama, di mana semuanya bisa menyatu dengan the One. Itulah sebabnya tidak mengejutkan jika gerakan ini sangat toleran dengan pluralisme. Mereka toleran dengan semua agama, dan memiliki keinginan untuk menggabungkan agama-agama tersebut (sinkritisme).
The Self
Dibangun berdasarkan pemahaman bahwa semua adalah satu, maka umat manusia juga adalah satu. Manusia adalah bagian dari ilahi karena semua kosmik adalah Tuhan. Shirley McLaine meneriakkan: ”Saya adalah Tuhan!”
Menurut NAM, manusia pada dasarnya adalah spiritual dan tidak hanya fisik. Manusia, seperti halnya yang lain, hanya eksistensi dari the Oneness dan individualitas adalah bagian dari ilusi. Kemanusiaan tidak dibangun berdasarkan manusia itu sendiri tetapi dari The One Self. Tugas utama manusia adalah menemukan realita bahwa dia itu devine (ilahi). Hal ini tidak dicapai melalui sesuatu yang objektif, tetapi berdasarkan pengalaman subjektif yang terjadi di dalam pikiran.
Jadi, menurut gerakan ini, kita tidak bisa hanya memaksimalkan satu bagian dari otak, tetapi keduanya – baik otak kiri maupun otak kanan (hemisphere kiri dan hemisphere kanan) – harus dimaksimalkan.
Reinkarnasi adalah konsep umum yang lain dari NAM (merupakan ide dari agama Hindu). Reinkarnasi adalah lingkaran hidup manusia dalam lingkaran karma. Tujuan akhir adalah bergabung dengan absolute One. Keluar dari lingkaran karma ini hanya dapat diraih melalui pemahaman mistikal yang merupakan kunci untuk disadarkan dari ketidaktauan akan keilahian diri kita sendiri.
Rasa sakit dan penderitaan berasal dari ketidakseimbangan energi (dalam China dikenal dengan Chi, dalam Hindu, Prana). Penyembuhan terjadi jika energi ini diseimbangkan yang dapat diraih melalui Yoga, akupuntur, natural herbal, bahkan pembedahan fisik. Pengobatan secara holistik adalah aspek yang paling berkembang dan berpengaruh dalam NAM.
Community
Penekanan kepada pembebasan individu dari karma melalui pencerahan cenderung menempatkan penekanan pada individual. Penting bagi individu untuk mencapai kesadaran kosmis melalui pencarian pribadi. Walaupun tujuan utamanya untuk mencapai penyatuan dengan the One, hal tersebut dicapai secara pribadi. Istilah seperti ’aktualisasi diri’, ’human potential’, dan ’self-potential’ telah menjadi kosa kata NAM.
Jika dalam Hindu Worldviw, efek dari karma didasarkan dengan adanya penekanan akan kasta, maka dalam NAM hal ini tidak ada. NAM menekankan bahwa semua orang sama, termasuk tidak ada perbedaan antara lelaki dan perempuan.
Penekanan pada komunitas memimpin pada satu kebutuhan yaitu, perdamaian. Perdamaian telah menjadi tema yang penting dalam NAM. Batasan politik menjadi sesuatu yang tidak terpakai. Satu pemimpin untuk satu dunia adalah prinsip dari NAM. Marxism dan Capitalism menjadi hal yang dihormati sebagai dua sistem politik yang saling melengkapi dimana keduanya saling mengisi dan perlu untuk disatukan.
What is needed now is for an explicit recognition [pengakuan] that Marxism vs Capitalism is not a ”holy war” as some crusaders [salib] of dogma would have it but is an example of a Complementarity. Marxist and Capitalist socio-economies are complementary concepts, neither one is wrong or better than the other and that both perspectives are needed to fully understand a social system that works without detrimental [merugikan] effects on groups or individuals.
Time
NAM melihat waktu sebagai sebuah siklus yang tidak berakhir. Pandangannya sangat mirip dengan pandangan Hindu. Hal ini dilihat dari konsep reinkarnasi dan juga dalam konsep peroidisasi sejarah. Periode universal dinyatakan dalam zaman astrological. Gerakan dalam era Pisces ke Aquarius dilihat sebagi waktu yang sangat penting.
Pandangan ini berbeda dengan sekular worldview yang melihat waktu sebagai sebuah garis lurus. NAM melihat bahwa aliran waktu dapat berbeda yang dapat ditemukan selama meditasi dan pengalaman out-of-body.
Value
Sebagaimana dengan pandangan Hindu, thesis mengenai monisme membawa asumsi bahwa tidak ada yang absolut. Semua adalah relatifitas! Jadi tidak ada perbedaan antara baik dan jahat. Baik atau jahat hanyalah label yang diberikan manusia. Orang bisa saja pada dasarnya baik, tetapi melakukan hal yang jahat.
Dosa yang hanya terjadi di NAM adalah katidaktahuan akan kesatuan dan keyakinan dalam individual self.
Apa Kata Alkitab?
Sebagai pengikut Kristus kita percaya percaya bahwa Alkitab adalah kebenaran yang objektif dan diinspirasi oleh Tuhan (baca 2 Tim 3:16; 2 Pet 1:21;Mat 5:18). Dan mari melihat semua tema NAM ini dari kebenaran Alkitab.
The Cosmos
Kejadian mencatat bahwa Allah adalah Pencipta dan yang lain adalah ciptaan. Jadi pernyataan bahwa Allah adalah semua bukanlah pernyataan Alkitabiah. Dan Tuhan adalah satu pribadi bukan energi. Di dalam Alkitab Yesus tidak sama dengan guru-guru lain. Dia bukanlah nabi, atau orang suci. Tetapi Yesus adalah anak Allah yang hidup, yang berinkarnasi untuk menyelamatkan manusia.
Ideologi inti dari Gerakan Zaman Baru adalah “pantheisme”: God is all and all is god. Paham ini sama sekali bertentangan dengan apa yang dikatakan Alkitab. Rasul Paulus menjawabnya dengan sangat tepat. “Satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua” [Efesus 4:6]. Kembali ke agama alam jelas tidak ada faedahnya. Bukankah alam semesta ini ciptaan Tuhan? Mengapa tidak datang langsung kepada Sang Pencipta?
Allah juga adalah Allah yang berpribadi yang memiliki kehendak, bukan sekedar energi atau the force.
The Self
Manusia adalah gambaran Allah, bukan Allah itu sendiri. Allah menciptakan manusia serupa dan segambar dengan diriNya. Kej 1:26 mengatakan, ”Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."
Hal ini berarti manusia diciptakan berbeda dengan ciptaan lainnya.
Tugas manusia bukan menemukan keilahiannya, tetapi menjadi rekan sekerja Allah mengerjakan misi Allah di tengah-tengah dunia ini.
Community
Komunitas Kristen adalah tema yang sangat besar di Alkitab. Siapapun anda, orang Barat, Cina, Afrika, Asia, semuanya berasal dari Adam dan Hawa. Karena itu Alkitab pertama sekali menggagas bahwa manusia adalah satu universalitas di mana semuanya duduk dan berdiri secara equal. Dalam Christian worldview individualistik tidak hilang, tetapi dihargai dan diterima. Setiap orang punya nilai-nilai insintrik di dalam dirinya. Dia berharga dan dihormati.
Bahkan Alkitab mencatat dimana orang-orang yang dipanggil menjadi sebuah komunitas yaitu ekklesia atau gereja.
Time
Kita tidak hidup dalam sebuah siklus. Tetapi kita hidup dalam satu metanarasi Allah, mulai dari Penciptaan – Kejatuhan – Penebusan – Pemulihan. Manusia hanya hidup sekali dan kemudian mati, dan akan menghadapi tahta pengadilan Allah di dalam kekekalan.
Value
Gerakan zaman baru menganut pandangan: tidak ada kebenaran yang absolut karena semua agama tidak lebih dari sekadar jalan menuju Tuhan (pluralisme). Pemahaman ini sangat bertentangan dengan kesaksian Alkitab dalam Injil Yohanes 14:6 dan Kisah Para Rasul 4:12. Baik Yohanes maupun Kisah Para Rasul tegas menyatakan KESELAMATAN HANYA DI DALAM DAN MELALUI TUHAN YESUS KRISTUS. Kebenaran kita adalah kebenaran yang dinyatakan Allah dalam Alkitab.
Allah adalah standar moral yang menjadi ukuran dari penilaian moral. Ada satu kebenaran yang absolut, yang diakarkan kepada PENCIPTA.
Penutup
Ada banyak pandangan dari NAM yang sangat berbeda dengan kebenaran Alkitab. Bagaimana mereka memandang kosmos, memandang manusia, memandang komunitas, memandang waktu, dan nilai. Semuanya ini menjadi tantangan bagi kita. Banyak pengaruh NAM yang memasuki gereja yang membuat kotbah menjadi tidak alkitabiah, bahkan pengaruh NAM bisa membuat gereja kehilangan kebenaran biblikanya karena pengaruh NAM. Mari mewaspadai hal ini.
Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus. Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan.(Kolose 2:8-9)
Karena ...
Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. (Kolose 2:6-7). 
Solideo Gloria!