Wednesday, July 13, 2011

Giving 2: Giving for GOD

Lenni Sitorus

Setelah minggu lalu kita memahami dan mengerti Allah sebagai SANG PEMBERI, maka minggu ini kita berbicara mengenai kita sebagai manusia yang harus memberi kepada Allah.
Rasanya agak aneh kalau Allah, Sang Pemberi itu harus diberi lagi padahal Dia adalah sumber segala sesuatu. Ini keanehan yang pertama dalam memberi.

MENGAPA HARUS MEMBERI?

Pertama, karena kita adalah anak-anak Allah. Sebagai anak, kita meneladani Bapa kita, kita meniruNya. Bapa tidak menyayangkan AnakNya sendiri untuk menyelamatkan hidup kita. Kristus tidak menyayangkan diriNya sendiri untuk menebus dosa-dosa kita. Mengapa kita harus menyayangkan sesuatu untuk diberi kepada Allah? Tidak ada yang terlalu disayangkan untuk diberi kepada Allah. Jika kita sulit memberi kepada Allah itu berarti kita tidak meneladani Dia. Jangan pernah mengaku pengikut Kristus jika hidup kita tidak seperti Dia. Maka teladanilah sifat Allah yang memberi.

Kedua, memberi sebagai respon kita terhadap pemberian Allah. Saya membagi alasan kedua ini dalam dua bagian. Bagian pertama adalah sebagai ungkapan syukur. Hati yang merasakan pemberian yang baik akan menimbulkan perasaan yang positif sehingga muncullah ucapan syukur atau ucapan terima kasih kepada Sang Pemberi. Kalau kita mensyukuri pemberian Allah, kita pasti memberi. Seperti respon Daud terhadap anugerah Allah dalam Mazmur 65, dia memuji Allah karena Allah mendengarkan dan menjawab doa, karena menghapuskan dosa, karena menyuburkan tanah, memberikan air, menyediakan makanan, dan berkat-berkat lainnya. Barangkali, seandainya dihitung berkat-berkat Allah bagi hidupnya, Daud tidak akan pernah berhenti bersyukur sedetikpun dalam hidupnya. Terlalu banyak alasan untuk bersyukur karena Allah menyediakan begitu banyak dalam hidup kita. Mari mencoba menghitung berkat yang pernah kita terima dari Allah. Jawaban doa, pengampunan dosa, sahabat dan keluarga yang mendukung kita, kecukupan, makanan, pekerjaan, teman hidup, dan seterusnya. Terlalu banyak. Jadi, apakah ada alasan untuk tidak bersyukur?

Bagian kedua adalah sebagai bukti bahwa kita menganggap pemberian Allah itu bukan milik kita sendiri tetapi hanya titipan Allah sehingga pantas untuk dikembalikan lagi kepada Allah dalam bentuk pemberian. Pemberian Allah di sini tidak berarti hanya materi, tetapi juga keselamatan, hidup, kebahagiaan, karunia/talenta, dan sebagainya. I Korintus 6:19-20 menyebutkan dengan jelas bahwa hidup kita dan tubuh kita bukanlah milik kita sendiri. Kalaupun kita diberikan hidup dan tubuh, itu pemberian Allah dan karena itu kita harus memuliakan Allah melalui pemberianNya tersebut. Salah satu cara memuliakan Allah melalui hidup dan tubuh kita adalah dengan memberi. Jika kita sulit memberi kepada Allah, berarti kita menganggap semua yang ada pada kita sekarang adalah milik kita sendiri sehingga sebaiknya kita menikmatinya sendiri juga. Egois sekali!

Ketiga, memberi adalah perintah Allah! Ada banyak bagian dalam Alkitab yang menginginkan kita memberi, bukan hanya dalam PB tetapi terlebih lagi dalam PL. Dalam PL, mempersembahkan harta milik bahkan diri (untuk melayani) sebagai korban bagi Allah merupakan bentuk-bentuk pemberian yang wajib diberikan oleh bangsa Israel dalam setiap momen yang mereka alami. Setiap akan menanam, setiap kali menuai, setiap hari raya, dan seterusnya. Dalam setiap pemberian, Allah menentukan kriteria-kriteria pemberian tersebut dengan detil bahkan cenderung rumit. Dalam PB, tidak sedikit topik memberi ini dibicarakan namun saya mencatat hanya tiga bagian saja dari antaranya. Pertama, Matius 5:7 menuliskan: ”Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” Secara tidak langsung Yesus ingin mengajarkan bahwa berbahagia adalah bagian orang yang murah hatinya karena pada saatnya mereka akan beroleh kemurahan. Dalam NIV, kata murah hati menggunakan ”mercy” yang berarti belas kasihan. Orang yang murah hati adalah orang yang mudah berbelaskasihan kepada orang lain. Belas kasihan merupakan perasaan yang dirasakan Tuhan Yesus setiap kali melihat orang yang sakit jasmani maupun sakit rohani sehingga Ia ingin berbuat sesuatu bagi mereka. Kedua, Kisah 20:35 menyebutkan: ”Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima”, artinya kita diperintahkan untuk MEMBERI! Dalam NIV, kata berbahagia menggunakan kata ”blessed”, berarti orang yang memberi adalah orang yang diberkati lebih dari pada orang yang menerima. Paulus menyebutkan bahwa Yesus sendirilah yang mengatakan kalimat tersebut. Ketiga, dalam Roma 12:1-2 kita diperintahkan untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup dan yang berkenan kepada Allah. Paulus dengan jelas menyatakan bahwa kemurahan Allah adalah dasar dari perintah ini. Paulus tidak lupa menjelaskan dasar yang jelas dan benar untuk sebuah himbauan atau perintah yang ia sebutkan. Jadi, memberi kepada Allah pun harus didasari oleh karena kemurahan Allah kepada kita bukan karena kita memiliki sesuatu atau bukan karena kita sudah kaya. Ingatlah persembahan janda miskin, ia memberi dari kekurangannya bukan seperti orang lain yang memberi dari kelebihannya.

TUJUAN MEMBERI
Pertama-tama adalah untuk MENYENANGKAN HATI ALLAH. Pemberian menyenangkan hati Tuhan dan berkenan bagi Dia. Dalam Mazmur 51:21 dan Roma 12:1 kita melihat dengan jelas betapa persembahan dan pemberian-pemberian korban menyenangkan dan berkenan bagi Dia. Hal ini berkali-kali disebutkan dalam PL, bahwa Allah memberikan respon senang terhadap pemberian-pemberian umatNya. Jika tujuan hidup kita adalah membuat Tuhan senang, maka memberilah! Semata-mata hanya agar Tuhan senang, Allah tersenyum dan bangga sambil mengangguk-angguk terhadap apa yang telah kita lakukan. Jangan memberi agar dipandang baik oleh orang lain, jangan memberi supaya mendapat kehormatan atau supaya kita didukung, atau untuk menjaga nama baik, dst. Semua itu akan mendukakan hati Tuhan. Menyenangkan hati Tuhan berarti memuaskan Tuhan melalui pemberian-pemberian dengan motivasi yang benar. Membuat Dia puas melihat hidup kita.

Kedua adalah untuk MENDUKUNG MISI ALLAH di dunia. Misi Allah bagi dunia sudah jelas, yaitu menjadikan semua bangsa muridNya. Misi ini Allah kerjakan melalui tangan dan karya manusia, ciptaanNya. Misi itu tidak akan bisa terlaksana sesuai rencanaNya apabila tidak ada manusia yang menyerahkan diri dan/atau materinya bagi Allah. Kalau pun tidak ada manusia yang bersedia menyerahkan harta milik dan/atau dirinya untuk pelayanan, maka Allah bisa menjadikan batu untuk melakukannya. Jadi siapakah yang mau dipakai oleh Tuhan menjadi saluran berkatnya? Mereka yang bersedia memberi diri dan/atau harta miliknyalah yang akan dipakaiNya. Memberi berarti turut serta dalam mendukung misi Allah bagi dunia ini dan melakukan perintahNya. Dengan memberi diri untuk melayani secara full time atau part time berarti kita ikut dalam menjadikan semua bangsa murid Kristus. Dengan memberikan harta milik kita untuk para hamba Tuhan atau lembaga pelayanan (gereja, yayasan Kristen, dst) berarti kita bersama-sama dengan para hamba Tuhan tersebut menjadikan semua bangsa murid Kristus. Dengan memberikan harta milik kita kepada orang yang membutuhkan berarti kita turut dalam menyatakan kasih Kristus bagi mereka sehingga mereka mengenalNya. Saya tidak hanya berbicara mengenai persepuluhan. Bagi saya, sebagai orang percaya kita seharusnya memberi lebih sepersepuluh dari yang kita dapatkan. Seperti demikianlah hidup kita. Seandainya kita berharap hidup selama 80 tahun maka 8 tahun (10%) harus dipersembahkan untuk melayani Tuhan dengan total. Sanggupkah Saudara? Saya sudah pernah melayani Tuhan secara full time selama 4 tahun dan saya masih punya hutang sekitar 4 tahun lagi kepada Tuhan. Saya dan suami pernah berencana bahwa kami akan melayani sebagai misionaris ke daerah terpencil pada saat anak-anak kami nanti sudah tamat sekolah (SLTA). Pernahkah kita memikirkannya?

Ada pertanyaan lain yang timbul. Apakah dengan memberi, Allah kita akan menjadi lebih kaya? Atau menjadi lebih mulia? Atau menjadi lebih untung? TIDAKK!!! Tidak ada pengaruhnya bagi Allah apabila kita memberi atau tidak memberi sama sekali. Kalau kita tidak memberi, Allah tidak akan jatuh miskin atau jadi kurang mulia. Sekali lagi, TIDAK!!! Allah sudah sempurna dalam semua keberadaanNya. Jadi sebenarnya, siapa yang diuntungkan apabila kita rajin memberi? KITA!!! Kita sendirilah yang diuntungkan. Inilah keanehan yang kedua dalam memberi: bagaimana mungkin kalau kita memberi, kita yang diuntungkan? Sebagai pihak yang berkorban, bukankah seharusnya kita dirugikan? Ternyata tidak demikian. Keuntunganlah yang kita dapatkan apabila kita rajin memberi.

DAMPAK MEMBERI BAGI KITA

Pertama, MEMBAHAGIAKAN HIDUP KITA. Tentu saja kita akan merasakan kebahagiaan ketika memberi apabila pemberian itu tanpa sungut-sungut dan dengan motivasi yang benar. Kisah 20:35 sudah menyebutkannya. Orang yang rajin memberi, hidupnya penuh dengan ucapan syukur dan orang seperti inilah yang berbahagia. Orang yang berbahagia adalah orang yang memancarkan aura positif dari dalam dirinya. Orang yang berbahagia umumnya didominasi oleh perasaan-perasaan positif sehingga ucapan dan wajahnya pun memancarkan hal-hal yang positif. Orang yang suka memberi adalah orang yang tidak memikirkan dirinya sendiri, tidak mengasihani diri sendiri, dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Orang seperti ini umumnya adalah orang yang jarang mengeluh, tidak mudah marah, tidak mudah kecewa dalam hidupnya. Orang yang suka memberi memiliki perasaan cukup dalam dirinya. Orang yang mampu memberi adalah orang yang menerima hidup ini apa adanya, bahkan cenderung puas dengan hidupnya. Orang yang memberi puas akan hidupnya karena Tuhan telah memuaskannya sehingga dia selalu ingin memuaskan Tuhan juga.
Kedua, KITA AKAN DIBERI. Ada upah yang menantinya. Dampak yang kedua ini nyata dan sungguh ada namun agak berbahaya karena bisa menjadi motivasi dalam memberi. Matius 5:7 telah menyebutkan bahwa orang yang murah hatinya akan mendapat kemurahan. Hukum tabur-tuai juga sudah dituliskan dalam Galatia 6:7-9. Perbuatan baik yang kita lakukan akan mendapatkan kebaikan juga pada waktunya apabila kita tidak menjadi lemah. Karena itu, memberilah terus-menerus dan jangan berhenti. Apabila kita sudah bosan dan jenuh memberi terus tanpa pernah menerima, maka pada saat itulah kita menjadi lemah. Masalahnya, banyak orang yang membuat ini menjadi motivasi bahwa dia harus memberi karena nanti ketika dia membutuhkan akan ada orang yang akan memberi kepadanya. Seharusnya tidaklah demikian. Namun inilah hukum yang benar dan kenyataan yang terjadi dalam dunia, apa yang ditabur orang itu yang akan dituainya. Anggaplah tuaian yang kita dapatkan itu merupakan bonus dari memberi karena upah yang sesungguhnya dari memberi telah terkumpul di sorga. Jadi, apabila tuaian itu kita anggap bonus, maka kalaupun tidak kita dapatkan hal itu tidak akan menjadi masalah. Salah satu pengusaha sukses yang sering menjadi narasumber di radio SMART FM mengatakan bahwa kunci suksesnya dalam usaha adalah murah memberi atau rajin memberi. Menurut saya, firman Tuhan dalam Gal 6 ini ya dan amin, bahkan berlaku untuk orang yang tidak mengenal Kristus sekalipun. Karena itu, marilah kita tidak jemu-jemu memberi karena apabila sudah datang waktunya, kita akan mendapatkan upah kita.

Dari semua penjelasan di atas, apakah ada alasan untuk tidak memberi? Tidak ada! Yang ada hanyalah begitu banyak alasan untuk memberi. Kita mempunyai banyak sekali teladan dalam memberi, seperti Ibu Theresa yang hanya memiliki harta berupa sebuah sendok, sebuah piring dan sebuah gelas sepanjang hidupnya namun telah memberi segalanya untuk yang berkekurangan. Kita juga telah melihat teladan para misionaris seperti William Carey atau Hudson Taylor yang telah mengorbankan diri bahkan anak dan istri mereka menjadi sakit bahkan mati di tempat mereka melayani. Semua orang dipanggil untuk memberi dalam bentuk yang berbeda-beda. Kita harus peka akan suara Tuhan mengenai bentuk pemberian yang Allah inginkan kita berikan. Jangan memberi karena kita punya atau ada tetapi memberilah ada atau tidak ada; punya atau tidak punya. Karena kepada orang yang diberikan banyak akan dituntut banyak dan kepada orang yang diberikan sedikit akan dituntut sedikit juga. Artinya, keduanya harus memberi, baik yang memiliki sedikit maupun yang memiliki banyak. Tidak ada perbedaan! Jadi, apakah ada alasan untuk tidak memberi? Tidak ada! Karena itu, marilah kita memberi.






Tuesday, July 12, 2011

God: The GIVER

Aswindo Sitio

Pendahuluan

Kita bersyukur bisa bertemu lagi di dalam MBA dengan seri yang baru yaitu Giving, yang akan kita bahas dalam empat pertemuan ini.

Memberi dapat dimengerti sebagai sebuah tuntutan atau tanggung jawab yang diletakkan atas kita. Dan banyak artikel-artikel yang menunjukkan bahwa motivasi yang sangat besar dibalik memberi adalah kasih kepada Allah. Kita juga melihat bahwa memberi merupakan suatu budaya yang sudah melekat bagi kita, ketika seseorang ulang tahun kita akan memberikan sesuatu kepada dia, apakah hadiah berupa barang atau firman Tuhan (yang kita sampaikan lewat kartu atau sms).

Alkitab juga mencata bahwa budaya memberi itu sudah ada sejak zaman PL dan lanjut ke dalam masa PB. Dan alkitab juga mencatat bahwa Allah, sang pencipta alam semesta itu, adalah Allah yang senantiasa memberi. Dari mana manusia belajar atau meneladani hal ini? Tentu saja yang menjadi teladan manusia adalah Allah. Allah adalah teladan manusia dalam memberi.

Allah: Sang Pemberi

Allah adalah pencipta langit dan bumi. Itulah sebabnya Allah adalah sumber dan pemilik dari segala sesuatunya. Oleh sebab itu lah tidak ada alasan lain untuk tidak meminta kepada Tuhan. Kita bergantung kepada Allah sang pemberi itu.

Kita harus menyadari bahwa dunia dan segala isinya ini ditopang oleh setiap pemberian Allah yang berfungsi untuk memelihara dunia ini berjalan menuju digenapinya misi Allah. Ini adalah tujuan Allah memberi kepada manusia. Bukan untuk sekedar untuk memuaskan kebutuhan manusia. Tetapi dalam setiap pemberianNya, Allah memiliki sebuah rencana yang agung.
Kita bisa melihat bahwa mulai dari Kejadian sampai dengan Wahyu, Allah dengan setia memberi kepada umat manusia. Tentu saja sebagai Allah, pemberianNya tidak bisa disamakan dengan pemberian manusia. Ada beberepa kualitas dari pemberian Allah yang membedakannya dari pemberian manusia.

1. Pemberian Allah adalah sesuatu pemberian yang dilandaskan kepada hikmatNya.
Didalam pemberianNya, Allah selalu dengan hikmatNya, sehingga pemberianNya pemberiannya bukan sesuatu yang sia-sia dan berlalu begitu saja. Hikmat Allah dapat dikatakan sebagai berikut, yaitu kekuatan untuk melihat, dan kecenderungan/dorongan untuk memilih tujuan yang terbaik dan tertinggi bersama-sama dengan cara-cara yang paling tepat untuk mencapai hal tersebut. Oleh sebab itulah pemberianNya demikian tertata sedemikan baik. Allah menggunakan segala hikmat yang terbaik dalam setiap pemberiannya untuk mencapai tujuan bagi anda dan saya. TujuanNya adalah supaya manusia mengasihi menghormatiNya, dan memujiNya atas dunia yang diatur secara menakjubkan dalam keragaman dan kompleksitas, dan menggunakannya sesuai kehendakNya untuk menikmati Tuhan dan dunia.

Allah memiliki hikmat yang sempurna, dan oleh sebab itulah pemberian Allah yang didasarkan kepada hikmatNya adalah pemberian yang sempurna. Hal ini bisa kita jumpai di dalam kisah penciptaan (Kej 1). Di dalam Kej 1:29 dikatakan, “Berfirmanlah Allah: "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu.” Jika kita melihat kebelakang dari kisah ini, kita melihat bagaimana sebelum Allah menciptakan manusia, Dia terlebih dahulu mempersiapkan segala sesuatu kebutuhan manusia. Setelah Allah melihat bahwa semuanya baik (ay 25), kemudian ia berfirman, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Setelah Allah melihat semuanya sungguh amat baik Kej 1:31), Ia memberikannya kepada manusia untuk dikelola. Allah senantiasa memberikan sesuatu yang baik kepada manusia di dalam hikmatNya yang sempurna.

Karena pemberiannya didasarkan hikmat, maka pemberian Allah adalah pemberian yang selalu datang tepat pada waktunya. Kisah di dalam Alkitab dengan jelas memberitahukan kepada kita bahwa Allah secara aktif memberikan setiap hal yang ketika kita membutuhkannya. Hal ini kita bisa lihat di dalam perjalanan bangsa Israel dari Mesir mrnuju Kanaan. Allah senantiasa meberikan setiap kebutuhan bangsa Israel. Tetapi Alkitab juga mencatat bagaimana manusia selalu berusaha untuk keluar dari setiap waktu Tuhan, dengan mengandalkan logika dan akal sehat sendiri. Ketika kita belajar dari raja Saul dalam MBA tahun lalu, kita bisa melihat bagaimana Allah telah berjanji akan memberikan pertolongan kepadanya, tetapi ia meragukan Tuhan dan melakukan atas inisiatif sendiri. Ini adalah titik kejatuhan Saul dimana akhirnya Allah menolak dia sebagai raja orang Israel (1 Sam 13:8-14). Bagaimana dengan kita? Allah sang pemberi itu senantiasa ada untuk memberikan setiap yang kita butuhkan, tetapi mari diam dalam kesabaran menantikan waktu Tuhan. Mungkin dalam ukuran manusia penantian kita tahunan. Tetapi Allah tidak pernah terlelap, dan Dia akan memberikan tepat pada waktunya (band Maz 121)

Karena berada di dalam himatNya, maka pemberian Allah itu selalu menghasilkan hasil yang terbaik dari apapun yang pernah kita bayangkan. Walau, mungkin, di dalam prosesnya kita merasakan penderitaan. Tetapi semua pasti indah pada waktunya. Pengkhotbah 3:11 berkata, “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Sesuatu yang jauh dari apa yang kita bayangkan dan pikirkan. Yeremia 29:11 berkata, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”

2. Pemberian Allah didasarkan kepada sebuah covenant.
Artinya adalah bahwa setiap janji Allah untuk memberi setiap kebutuhan manusia akan digenapiNya. Ketika Allah menjanjikan untuk memberikan sesuatu kepada umatNya, maka semua akan digenapi seturut dengan waktu Allah dan pasti akan digenapi. Di dalam I Raja-raja 5:12a dikatakan, “Dan TUHAN memberikan hikmat kepada Salomo seperti yang dijanjikan-Nya kepadanya;”.

Allah setia, dan tentu saja setiap hal yang telah dijanjikanNya akan diberikan. Kata covenant itu memiliki makna bahwa perjanjian itu akan ditepati. Ini adalah sebuah penghiburan kepada kita bahwa Allah telah berjanji untuk memelihara hidup kita. Dalam Mat 6:25-26 Yesus mengatakan, “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu.” Allah pasti akan memberikannya.

3. Pemberian Allah didasarkan kepada kasih karunia (anugerah)
Kita harus menyadari bahwa setiap pemberian Allah kepada manusia bukan karena manusia layak untuk mendapatkannya, tetapi semua adalah semata-mata anugerahNya. Allah mengasihi manusia karena Allah adalah kasih. Setiap tindakan Allah dan termasuk pemberianNya selalu didasarkan kepada kasihnya kepada kita. Yoh 3:16 diawali dengan frase “karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini.” Oleh sebab itulah, kita semua bergantung kepada kasih dan kemurahan Allah semata. Apa yang sekarang kita miliki, yang merupakan pemberian Allah adalah semata-mata didasarkan kepada kasih dan karunia Allah.



4. Pemberian Allah bersifat total & ultimate.
Jika kita bisa melihat semua kisah di dalam Alkitab, kita bisa melihat bagaimana Allah selalu memberikan yang terbaik dan total. Bahkan dari setiap hal yang diberikan Allah kepada kita, Dia bahkan memberikan anakNya yang tunggal. Di dalam Kristus, Allah telah memberikan segala-galanya bagi kita (Rom 8:32). Allah telah memberikan sesuatu yang luar biasa bagi kita di mana kita bisa akhirnya bisa mencintai, mengasihi, dan menghormati diriNya. Suatu pemberian di mana kita akhirnya dimungkinkan untuk mengenal Allah.

5. Pemberian Allah berelevansi kepada kekekalan.
Jika kita perhatikan, dalam setiap pemberianNya, Allah tidak berhenti hanya saat pemberiannya itu diberikan. Tetapi pemberian Allah memiliki nilai kekekalan. Dengan kata lain setiap pemberian Allah mengarahkan kita untuk menggenapi misi Allah di tengah-tengah dunia ini. Hal ini yang harus kita sadari. Ketika Allah memberikan pekerjaan, teman hidup, dan semua yang kita butuhkan, Allah memberikannya dengan melihat aspek kekekalannya. Ketika Allah memberikan sesuatu kepada umatnya, kita melihat bagaimana semuanya itu memiliki nilai kekekalan. Artinya adalah melalui setiap pemberian Allah kepada kita, Allah rindu kita bisa berjalan dan ikut menggenapi misi Allah di tengah-tengah dunia ini. Seperti yang pernah disinggung dalam MBA beberapa waktu yang lalu, ketika Allah mempersiapkan kita keluarga pun Allah meminta kita untuk melahirkan anak-anak kekekalan. Jadi, ketika kita sebagai alumni di dalam dunia pekerjaan, apakah kita memberikan sesuatu yang bernilai kekekalan di sana atau tidak. Sampai di akhirnya Allah senantiasa memberikan sesuatu yang bersifat kekal.

Bahkan sampai kita melihat bagaimana Allah memberikan tempat bagi kita untuk bersama-sama dengan Dia di dalam kekekalan itu sendiri. Sesuatu yang sangat luar bisa di mana Allah tinggal diam bersama dengan umatnya di dalam kekekalan (Wahyu 21:1-5).

Penutup
Allah adalah sang pemberi. Dia adalah teladan kita akan meberi. Jika kitya kembali melihat kualoitas dari pemberian Allah, seharusnyalah kita bersyukur dan kitab terkagum-kagum karena Allah pencipta itu adalah Allah yang peduli dengan ciptaanNya. Setiap pemberiannya menopang dunia ini dan kehidupan ini di dalam providensia Allah. Sehingga dalam setiap pemberianNya kita semakin bisa mengenal Dia dan semakin jatuh cinta kepadaNya.
Pemahaman seperti ini akan membawa kita untuk bisa berfokus kepada Allah, bukan setiap berkat-berkatnya. Sebelum menikmati setiap pemberianNya, mari terlebih dahulu menikmati Sang Pemberi itu sendiri. Mari semakin mengenal Allah. Firman Tuhan berkata “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”. Ketika kita bersikap mengutamakan Allah maka kita akan berani berkata bahwa Allah itu cukup bagi kita. Contentmen di dalam Allah akan membuat kita bisa lebih bijaksana untuk melihat bagaimana Allah sebenarnya dengan setiap naturnya senantiasa memberi kepada kita. Hanya Allahlah yang mampu memberikan apa yang terbaik kepada kita karena Ia adalah Pencipta kita.

Tuesday, March 1, 2011

Hasangapon

(Dari Sudut Pandang Alkitab)
Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div
Yoh 12:20-36

Peristiwa dalam Yoh 12:20-36 ini adalah peristiwa pesta perayaan Paskah orang Yahudi yang dihadiri banyak orang Yunani. Tapi Yunani yang di sini adalah Helenis, yaitu orang Yahudi yang telah kehilangan akar keyahudian. Pesta Paskah ini adalah sebuah pesta peringatan keluarnya bangsa Israel dari Mesir. Biasanya ada puasa dan pesta selama tujuh hari. Jadi sebelum hari itu, Yesus memasuki sebuah daerah (19). Waktu pesta itu dikatakan mereka ingin bertemu dengan Yesus dan mereka menghubungi Filipus lalu ke Andreas, akhirnya mereka tiba pada Yesus.

Tetapi satu hal yang menarik adalah jawaban Yesus. Dalam ayat 23 dikatakan, “Tetapi Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan”. Yesus memberikan respon yang tidak mereka duga. Ada dua hal yang bisa kita lihat, pertama adalah ‘saat’ yang dimaksudkan di sini adalah ‘saat kematian’ (sacrificial death) pada kayu salib. Kedua, ‘dimuliakan’ itu berarti ‘kematian di salib’, kebangkitan dan pengangkatan (41, 13:31-32), sesuatu hal yang sangat dibanggakan di dalam diri Kristus.

Dalam teologia Yohanes, salib adalah kemuliaan bukan kegagalan, kehinaan, ataupun kenistaan. Yesus langsung mengarahkan perhatian mereka pada bagian ini (baca: salib). Ketika Yesus berkata demikian, muncul pertanyaan, ‘Bagaimanakah Yesus dimuliakan?’(24). Dalam ay 24 dikatakan, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah”. Cara Yesus dimuliakan dibicarakan melalui tiga hal, yaitu 1) biji dan tanaman, 2) kehidupan dan kematian, dan 3) hamba dan tuan (24-26). Dalam tiga aspek ini Yesus hendak menggambarkan bahwa kematianNya bagaikan menanamkan sebuah benih ke dalam tanah. Kelihatannya ini adalah sebuah tragedi (salib) – bagaikan benih yang sudah ditanam tidak kelihatan lagi, tetapi pada waktunya akan tumbuh – besar dan berbuah. Sesungguhnya hal ini adalah sebuah kemenangan. Sebuah kemenangan dari kasih Allah yang berkorban (God’s self giving love), yaitu kasih yang menarik seluruh dunia (diwakili oleh Yunani) datang kepada Allah (32-33).

Dalam konteks biji dan tanaman, hidup dan kematian dan Tuhan dan hamba, yang dimaksudkan Tuhan Yesus adalah sebuah paradigma berpikir yang berbeda dengan orang-orang dunia. Dalam konteks orang Yahudi, salib adalah sebuah kehinaan. Ini adalah hukuman untuk pelaku kriminalitas tingkat tinggi dan hukuman yang paling hina dalam budaya Yahudi. Tetapi di sini kita melihat ada paradigma berpikir bahwa yang paling hina dan paling tidak dihargai orang Yahudi justru yang paling dimuliakan di dalam diri Kristus dan dengan cara kematian di atas kayu saliblah Yesus ditinggikan.

Yesus membuat sebuah metafora di mana jika biji tidak ditanam dan ditenggelamkan di dalam tanah, maka biji itu tidak akan pernah bertumbuh dan berproduksi. Dalam tiga metafora ini Yesus ingin menyampaikan bahwa jika kita ingin berproduksi, tidak ada jalan lain bahwa kita harus menderita dan mati dan hal ini bisa menghasilkan sebuah kehidupan yang berelasi dengan ketaatan dan kerelaan untuk menderita. Sesungguhnya hal ini adalah sebuah kemenangan. Jadi ada sebuah kebanggaan bukan dengan paradigma dunia atau dengan apa yang dihargai oleh dunia, tetapi kita memiliki cara pandang yang berbeda bahwa yang hina bagi dunia ternyata adalah sesuatu yang mulia di hadapan Allah bagi anak-anak Tuhan.

Karena itu, salib adalah sebuah tragedi karena merupakan penghinaan dan penderitaan yang sangat mengerikan. Tetapi salib juga adalah sebuah kemuliaan. Jika kita mau hidup berguna dan berdampak bagi orang lain, maka salah satu syarat adalah mati atau berkorban untuk kebenaran dan itulah sebuah kemuliaan yang harus kita miliki sebagai anak-anak Tuhan. Inilah Kemenangan dari God’s self giving love, yaitu kasih yang menarik seluruh dunia datang kepada Allah (32-33).

Dalam ay 24-25 ada sebuah prinsip kehidupan jika ingin berguna. Jika kita perhatikan ada sesuatu yang berbeda dari ayat ini. Dunia seharusnya membanggakan kelepasan dari penderitaan, tetapi kebanggan bagi Allah adalah harus menderita dan mati. Jika mereka (Yunani) itu sungguh-sungguh mau melihat Dia (20-22), mengenal dan memahami apa yang dikerjakan Yesus, mereka harus siap untuk ‘ditanamkan/mati’ dengan cara yang sama dan bersedia menerima semua resiko dalam melayani Kristus. Inilah prose untuk pengenalan. Ketika merka sangat ingin ketemu dengan Tuhan Yesus (20-21), maka Yesus berkata bahwa jika mereka ingin mengenal Yesus lebih dalam, maka mereka harus menjalani jalan yang Yesus jalani (24). Jika kita tidak masuk dalam proses seperti yang Tuhan katakan maka pengenalan kita akan Tuhan akan tetap dangkal. Ada kehidupan yang berpusat, bukan kepada kesuksesan duniawi tetapi berpusat kepada Kristus (25). Ketika hidup kita berpusatkan kepada kehidupan dan kesuksesan duniawi, maka kita sebenarnya kehilangan makna pemuridan (band Mark 8:34-35). Tanpa mengalami hal ini kita tidak akan pernah mengalami pembaharuan hidup dan yang kita banggakan pun akan tetap apa yang dibanggakan oleh dunia.

Paulus berhasil di dalam pembaharuan ini (Fil 3:4-7). Jika kita melihat reputasinya, dia adalah orang yang memiliki banyak kemampuan dan memiliki kedudukan yang tinggi di tengah-tengah bangsanya. Tetapi dia menganggap apa yang dia miliki semua itu adalah kerugian dan sampah jika dibandingkan dengan Kristus. Apa yang paling kita banggakan dalam hidup kita ini? Mari kita melihat bahwa dalam hal ini Kristus dimuliakan dan kemuliaan yang dilihat Kristus adalah sebuah ketaatan kepada Bapa dan mati di kayu salib.

Gambaran ‘ditanamkan’ identik dengan menjadi satu dalam baptisan dan kematian Yesus (Rom 6:3-6). Salib adalah sebuah kemuliaan? Mujliakah kita memandang orang/alumni yang tetap setia kepada Allah tetapi secara ekonomi pas-pasan? Muliakah kita melihat diri kita sebagai orang yang dihargai Allah atau kita menjadi minder karena pekerjaan kita begitu-begitu saja? Muliakah ketika kita bertahan di dalam kebenaran tetapi akhirnya dipaksa untuk berhenti? Jawabannya adalah mulia. Jadi, mari kita melihat kemuliaan bukan dengan cara berpikir orang batak. Orang batak memandang kemuliaan jika seseorang kaya, memiliki jabatan, dan memiliki keturunan. Salib adalah sebuah kebanggaan. Dalam ay 26 dikatakan, “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa”. Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa melayani Yesus berarti mengikuti Dia kemanapun Dia pergi dan bearda di jalan di mana Dia ada. Jika Kristus memandang salib sebagai sebuah kehormatan dan kemuliaan, bukankah kita juga sebagai murid harus memandang salib sebagaimana Dia memandangNya. Inilah yang harus kita miliki bersama-sama. Dalam ayt 26 juga dikatakan bahwa orang yang melayani Tuhan dengan setia adalah orang yang dihormati Bapa. Jalan untuk itu bukan sesama biji/benih saling sikut dan hidup untuk dirinya sendiri (25) melainkan dibenamkan ke dalam tanah dan menjadi tumbuhan yang baru dan menghasilkan buah. Apakah kita merasa hina sebagai orang Kristen? Atau merasa gagal karena ketaatan kita kepada Tuhan? Mari berjalan di jalan Kristus dan ada bersama dengan Kristus ada.

Dalam ay 27-30 kita melihat bagaimana Yesus berkata bahwa jiwanya merasa haru (troubled) karena melihat salib yang ada di depan. Dalam kondisi seperti ini, Ia tidak meminta Bapa untuk mengangkap salib tersebut. Seringkali kita berbalik dari Kristus, kita menghindari penderitaan dan tantangan dari ketaatan kepada Allah atau jalan salib. Yesus, walau dia tertekan, dia tidak meminta agar bapa mencabut hal itu, tetapi menjalaninya karena untuk itulah Dia datang ke dalam saat kematian dan penderitaanNya. Itulah kemuliaan. Dalam menjalani jalan salib kita juga pasti terganggu, tetapi mari kita melihat bahwa jika kita menderita karena kebanaran itu adalah sesuatu yang berharga bagi Allah dan sesuatu yang mulia. Mari kita bayangkan jika tidak ada misionaris dari Eropah datang ke tanah batak, kita tidak akan pernah menjadi orang percaya pada masa sekarang ini. Apa yang kita rasakan sekarang ini adalah karena para missionaris merelakan diri mereka ditanam sebagai benih di dalam tanah. Bagi Yesus, Ada bahaya/tragedi di depan tetapi melalui hal tersebut kemuliaan akan bersinar ke seluruh dunia. Father, glorify your name! (28). Hanya ketika bisa melihat sesuatu itu mulia dalam kaca mata ilahi, maka itu jugalah yang ki9ta ambisikan untuk memuliakan Bapa.

Apa respon Bapa atas doa Tuhan Yesus (28b) adalah bahwa Yesus sudah dan akan dimuliakan. Bapa telah dimuliakan pleh pelayanan dan karya Yesus sebelumnya dan akan dimuliakan lagi melalui ketaatan serta kematianNya di akyu salib. Apa tujuan deklarasi Allah (30) adalah meneguhkan dan demi kepentingan orang yang mendengarnya saat itu. Artinya adalah abhwa Kristus sang Mesias, Anak Allah, telah menggenapi mandat Allah dan itulah jalan untu kemuliaan Bapa dan jalan Bapa memuliakan Dia.

Ay 31-32, “Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar; dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku.” Hal ini dikatakan utuk menyatakan bagaimana caranya ia akan mati. Ayat 32-33 dikatakan bagaimana anak manusia akan ditinggikan melalui salib di mana Yohanes menyamakan dengan patung ular di gunung dimana setiap orang Israel yang memandangnya akan selamat, tetapi orang yang tidak memandangnya akan binasa (3:14-15; Bil 21:9). Yesus sang Mesias akan menggantikan kerajaan dunia (Romawi) dengan Kerajaan Allah. Bukan dengan pedang atau kekerasan, melainkan dengan kasih (self giving love) dan kematian di salib. Inilah cara untuk menyelamatkan dunia – biji yang mati karena kasih (34). Mari melihat sebagai sebuah kehormatan jika kita rela menderita. Negara ini akan berubah jika alumni rela mati seperti benih yang di tanam dan hal ini adalah kebanggaan.

Dalam ay 35-36 kita melihat ada perubahan. Pendengar saat itu sulit untuk mengerti konsep Mesias yang sejati karena sudah tertanam pemahaman tentang Mesias dan kemenangan/ kemuliaan yang salah (2 Sam. 7: 13-16). Tetapi Mesias yang ada adalah Mesias yang menderita dan Kristrus yang disalib adalah kemenangan bukan kegagalan, sebuah kemuliaan bukan kehinaan. Karena itu, bisakah kita melihat adalah sebuah kehormatan jika kita bisa terus melayani Allah apapun konsekuensinya. Yesus sang terang dunia (1:4; 8: 12) tidak akan lama lagi ada bersama mereka, karena itu ada undangan untuk datang kepadaNya agar tidak berjalan dalam kegelapan. Mereka harus datang, hidup dan berjalan dalam Terang itu. Apa yang menjadi kegelapan dan terang bagi kita sekarang ini adalah soal paradigm berpikir kita akan apa itu ‘hasangapon’. Ketika kita tidak mau berkarya dan emlayani tuhan dengan sungguh-sungguh, dan tidak mau seperti benih yang mau mati agar dapat mengabdi dan hidupo kita berdampak bagi orang lain .

Apa dan bagaimana kemuliaan kita? Salib dan penderitaan (ketaatan dan kesetiaan pada Bapa) adalah kemuliaan sejati. Tidak dikatakan kita harus miskin, tidak punya jabatan, harus pengangguran, atau tidak punya apa-apa, atau mengalami penderitaan, tetapi jika dalam rangka ketaatan kita memikul salib kita memiliki kekayaan atau tidak memiliki kekayaan mari berkata: “Terpujilah Tuhan!” Bagaimana agar hidup berproduksi dan memuliakan Allah? Mari belajar dari metafora yang Yesus katakana bahwa hidup kita sama dengan benih yang mati ditanam. Mengubah dunia, kota, gereja, kantor, lingkungan, keluarga (suami, istri, anak) bukan dengan pedang dan kekerasan tetapi dengan kasih yang mau untuk berkorban. Menghadirkan kerajaan Allah kita mati seperti biji dan semua dilakukan karena kasih. Ini adalah cara kita untuk memuliakan Allah.

Hagabeon

(Menurut Alkitab)
Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div

Berbicara mengenai keturunan merupakan pergumulan bagi banyak keluarga khususnya dalam budaya batak. Dalam kehidupan manusia sering mengalami pergumulan antara memiliki harta dan keturunan. Bagi orang batak dianggap sebagai kekurangsempurnaan jika tidak punya anak, walapun memiliki harta yang banyak. Kemudian, dalam orang batak juga diharapkan ada anak laki-laki dan perempuan.walaupun mereka memiliki empat orang anak, tetapi jika semua adalah perempuan, maka menurut mereka keluarga mereka tidak sempurna. Ada juga pergumulan akan anak kandung dan anak angkat. Dan banyhak orang memilih tidak memiliki anak daripada harus mengadopsi anak. Semua ini pergumulan ini bermuara kepada kebanggaan dan kemuliaan yang semu. Oleh karena itu mari berbicara soal hagabeon (bahasa batak: gabe = keturunan) dari segi nilai-nilai kekristenan.

Banyak anak-anak Tuhan yang sudah lama dibina, ikut pemuridan, tetapi nilai dan kebanggaan dunianya tetap tertahan. Mari belajar dari Paulus ketika ia mengalami pembaharuan yang radikal. Dalam Fil 3:4-5 dikatakan, “Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi”. Paulus memiliki kapasitas yang sangat hebat. Tetapi di dalam ayat 7-9 dia berkata, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan”. Dan akhirnya dalam ay 10 dia berkata, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya”. Apa yang hendak dikatakan di sini adalah kebanggaan-kebanngaan duniawi yang tidak alkitabiah disingkirkan Paulus ketika dia bertobat, dan digantikan dengan satu ambisi yang benar. Tanpa ambisi yang benar ini, maka konsep nilai yang ada pada kita (khisusnya dalam lingkungan suku Btak) akan sulit terkikis dari diri kita. Jadi kita terlabih dahulu mengalami pembaharuan nilai dan ambisi yang baru secara alkitabiah.

Apa yang menjadi tujuan hidup dari pernikahan? Dalam pernikahan itu ada tujuan dan buah. Anak bukan tujuan pernikahan, tetapi buah dari pernikahan. Jika tujuan menikah untuk anak, maka ketika anak tidak hadir dalam keluarga itu, sangat memungkinkan pernikahan akan bermuara kepada perceraian. Menikah bisa memiliki anak atau bisa tidak. Jika konsep ini jelas, maka keluarga tidak akan terlalu stress dan gelisah jika masih belum memiliki anak. Tujuan pernikahan adalah untuk mandat Allah. Ada dua mandat yang Tuhan berikan untuk setiap orang percaya. Dalam Kej 1:28 adalah mandat budaya yaitu untuk mengeksplorasi dunia. Perlu kita ketahui bahwa beranak-cucu yang dimaksud di sini tidak berbicara sebatas keturunan biologis, tetapi juga keturunan ilmu pengetahuan, karya, berkat bagi banyak orang. Kemudian, yang kedua adalah mandat injil (amanat agung) dalam Mat 28. Karena itu mari kita pamahi agar ketika kita memasuki pernikahan, salah satu hal yang harus disiapkan adalah untuk tidak punya anak. Ini adalah pandangan yang alkitabiah. Jika keluarga ini lama memiliki anak berarti Tuhan memberikan kesempatan yang banyak bagi mereka untuk maksimal melayani.

Tidak semua orang menikah Tuhan karuniai keturunan biologis. Bagi orang batak, tidak memiliki anak berarti bala. Dalam pernikahan, ketiadaan anak bisa membawa pernikahan dalam arah yang tidak jelas. Dalam budaya Simalungun dulu (sebelum Injil masuk) ada istilah pinjam jago. Jika si isteri tidak melahirkan dia diijinkan untuk berhubungan dengan pria lain agar punya anak dan ini adalah perjinahan. Dalam batak Toba dan Karo langsung diceraikan. Dan seharusnyalah sikap kita sebagi orang yang sudah mengenal Tuhan jika belum diijinkan untuk memiliki anak berarti Tuhan ijinkan kita melayani dengan maksimal tanpa kehadiran anak biologis. Dalam Yes 54:1, dikatakan, “Bersorak-sorailah, hai si mandul yang tidak pernah melahirkan! Bergembiralah dengan sorak-sorai dan memekiklah, hai engkau yang tidak pernah menderita sakit bersalin! Sebab yang ditinggalkan suaminya akan mempunyai lebih banyak anak dari pada yang bersuami, firman TUHAN.”

Jangan selalu berpikir bahwa kehadiran anak akan selalu membawa sukacita, sebaliknya kehadiran anak juga dapat membawa dukacita. Dalam Ams 10:1 dikatakan, “Amsal-amsal Salomo. Anak yang bijak mendatangkan sukacita kepada ayahnya, tetapi anak yang bebal adalah kedukaan bagi ibunya.” Ams 15:20, “Anak yang bijak menggembirakan ayahnya, tetapi orang yang bebal menghina ibunya”. Ams 17:25, “Anak yang bebal menyakiti hati ayahnya, dan memedihkan hati ibunya”. Tidak ada jaminan bahwa anak kita adalah orang bijak semua bukan?

Disamping dari anak biologis, ada juga anak teologis. Sesuatu yang sangat diberkati jika bisa melahirkan anak biologis juga anak teologis. Tetapi jika anak biologis tidak terbina, kita akan dimurkai Allah. Orang Kristen haruslah lebih memprioritaskan keturunan teologis daripada keturunan biologis karena keturunan biologis belum tentu menjadi keturunan kekekakalan. Lihat Eli dan dua anaknya. Dua anak nabi Eli adalah perampok dalam bait Allah. Memiliki anak itu penting, tetapi yang menjadi perhatian kita adalah apakah anak yang telah Tuhan percayakan akan bermuara kepada anak teologis. Mari lebih berfokus kepada anak teologis daripada anak biologis supaya kita bisa berkata bahwa hagabeon di dalam Tuhan adalah keturunan kekekalan bukan sebatas biologis.

Jika kita melihat anak-anak allah sebagai keturunan ilahi, maka Israel itu adalah anak-anak Allah ketika mereka taat kepada Allah. Orang-orang beriman kepada YHWH disebut sebagai anak keturunan Abraham. Di dalam Kej 15 dikatakan ada janji Allah akan keturunan kekekalan melalui Ishak seperti pasir di tepi laut dan bintang di langit, keturunan yang bukan dari segi biologis tetapi keturunan ilahi, yaitu keturunan teologis dari segi iman kepada YHWH.
Apakah hagabeon bagi orang percaya? Mari melihat Mar 3:33-35. Dikatakan di sana, “Jawab Yesus kepada mereka: "Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?" Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: "Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku." Kita memang dengan teman kelompok kita, beda kampong, dan bahkan beda ornag tua. Walaupun demikian mereka adalah saudara sejati kita. Artinya, kita adalah orang yang beriman kepada Kristus dan sama-sama manjadi ahli waris dari Allah. Jika saudara kandung kita tidak beriman kepada Allah, mereka hanya saudara semenntara di dunia dan tidak di dalam kekekalan. Tetapi mereka yang telah menerima Kristus adalah saudara kita dalam kekekalan. Mari berorientasi kepada keturunan kekekalan. Jadi mari prioritaskan kebanggan kita bukan pada anak biologis, tetapi kepada anak teologis, yaitu yang beriman kepada kristus dan dimuridkan menjadi murid kristus. Jadi jika Tuhan belum memberikan pasangan hidup atau anak, maka Tuhan memberikan kesempatan untuk melahirkan anak-anak teologis.

Dalam Mark 10:28-30 dikatakan, “Berkatalah Petrus kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!" Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.” Jangan berorientasi kepada fisik walaupun fisik penting, jangan berorientasi kepada apa yang kita punya zaman ini, tetapi berorientasi sesuatu hal yang bernilai kekal dan rohani.
Di dalam 1 Tim 1:2, Paulus memanggil Timotius dengan ‘Anakku yang sah dalam iman’, dan dalam 2 Tim 1: 2 dengan panggilan ‘anakku yang kekasih’.Inilah yang seharusnya menjadi ambisi kita, yaitu melahirkan anak yang sah dalam iman. Ini jauh lebih penting daripada anak biologis tetapi bukan anak yang sah dalam iman. Adalah sesuatu yang menyakitkan jika keturunan kita adalah anak yang bebal bahkan berpaling dari Kristus. Jangan hanya berpikir bangga punya anak, tetapi anak yang seperti apa yang dibanggakan itu? Orang yang kita banggakan adalah orang yang takut akan Tuhan.

Mari melihat dan belajar dari kisah Abraham dan Sarah. Allah telah memberikan panggilan dan janji berkat Allah kepada Abraham (Kej 12:1-3). Kemudian Allah kemudian berjanji bahwa Abraham akan memiliki keturunan seperti bintang di langit dan pasir di pantai (Kej 15:2-6). Tetapi dalam perjalannya, Abraham merasa terlalu lama. Allah tidak akan pernah ingkar janji tetapi Abraham tidak sabar. Ia mengambil jalan pintas ketika Sarah menawarkan pembantunya, Hagar, kepada Abraham agar mereka beroleh keturunan. Kemudian Abraham menghampiri hagar dan punya anak, yaitu Ismael. Dan kemudian akibat ketidak sabaran imannya, Sarah direndahkan Hagar. Kemudian Sarah marah dan meminta Abraham mengusir Hagar dan Ismael. Di sini kita belajar bagaimana Abraham meragukan janji dan kuasa Allah yang membuat dia mengambil jalan pintas. Bukankah kita sering melakukan hal yang sama? Karena sangat ingin memiliki keturunan, kita pergi ke dukun? Atau pergi ke tempat tulang untuk menerima berkat? Atau melakukan tindakan-tindakan yang merupakan jalan pintas lainnya? Kenapa kita harus memaksa Tuhan dengan berbagai cara ini? Ketika kita memaksa Tuhan dengan cara kita, maka yang terjadi adalah sebuah kesalahan. Abraham dan Sara melakukan kesalahan ketika mereka tidak sabar menunggu janji Tuhan. Mereka mengambil jalan pintas karena kekuatiran, ketidak sabaran dan kurang iman mereka.

Banyak orang yang terlalu sibuk kesana dan kemari agar memiliki anak sehingga tidak memiliki waktu untuk melayani. Jangan coba-coba untuk melakukan sesuatu yang salah hanya karena kebanggaan duniawi yang berkata punya anak adalah kebanggaan. Mari mengubah nilai hidup dan paradigma berpikir kita dengan teologia yang benar.

Hanmoraon

(Menurut Alkitab)
Mat 6:19-24
Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div

Dalam filosofi orang batak ada tiga H, yaitu Hamoraon, Hagabeon, dan Hasangapon. Dalam falsafah batak ketiga hal ini sangat susah dikikis dalam dalam orang batak (baik batyak Karo, Toba, atau Simalungun). Jadi, bagi orang suku Batak, meskipun kaya tetapi jika tidak memiliki anak kurang dihormati dan dianggap belum sesuatu yang memuaskan dirinya. Atau sebaliknya, dia memiliki banyak anak tetapi miskin, juga kurang dihargai. Di dalam orang batak itu, orang yang memiliki harta, jabatan, dan keturunan adalah orang yang dianggap sudah lengkap dan sempurna dan orang yang berbahagia.

Bagaimana Alkitab memandang ketiga falsafah batak ini? Hari ini kita akan belajar konsep yang benar dan untuk pertama kita akan melihat konsep hamoraon (kekayaan) menurut Alkitab.
Kita akan melihat konsep mengenai hamoraon berdasarkan kitab Matius 6:19-24. Dalam Matius pasal 6 in kita melihat ada kontras antara upah duniawi dengan Sorgawi dalam melakukan ibadah (ay 1-18) dan hal ini akan memimpin kepada kontras antara harta duniawi dan harta surgawi (19-24). Setelah bicara mengenai ibadah atau ritual yang palsu dan benar, antara kemunafikan dan ketulusan (memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa), maka dilanjutkan dengan cara menjalani hidup yang beriman dengan nilai yang benar sehingga tulus mengabdi kepada Tuhan dan hidup tanpa kekuatiran.

Ibadah memang penting, tetapi yang paling penting adalah esensi dari ibadah itu sendiri. Kita tidak mengharapkan sebuah upah dari ritual yanag mekanis dan palsu tetapi mendapatkan upah yang bernilai kekekalan yang kita dapat oleh karena ketulusan hati yang sungguh-sungguh mencintai Allah. Jika kita melihat kontras antara upah duniawi dengan sorgawi dalam melakukan sebuah ibadah, maka kita akan cenderung untuk mencintai harta surgawi dan bisa luput dari kecintaan dari harta duniawi dan hal inilah yang membuat kita luput dari rasa kuatir (25-33). Ada sebuah ketulusan mengabdi kepada Allah dan luput dari kekuatiran.
Ibadah dan kesalehan yang tulus harus disertai dengan nilai hidup dan iman yang sejati. Tidak akan ada ibadah menjadi benar jika tidak muncul ketulusan dan iman yang sejati,. Dalam pemahaman ini muncul kesejajaran antara dimensi ritual dengan cara hidup yang benar. Sering sekali hal ini terjadi dengan timpang. Secara ritualisme, orang sering sekali melakukan dengan benar tetapi tidak menghasilkan hidup yang benar. Harta dan kekuatiran dihubungkan sebagai sebuah pancaran daripada dimensi ritual yang benar. Artinya, jika orang memiliki dimensi ritual yang benar maka seharusnya dia beriman kepada Allah dan menghancurkan kecintaannya kepada materi dan menghancurkan kekuatiran di dalam dirinya. Dapat dikatakan jika orang tetap kuatir dan haus dan cinta akan uang, itu berarti bahwa dimenasi ritualnya tidak benar.
Yang kuatir tidak selamanya yang miskin. Orang kaya juga kuatir. Yang miskin kuatir akan apa yang akan dimakannya besok, sedangkan yang kaya kuatir akan hartanya. Cara hidup yang orientasinya uang dan kuatir adalah tanda kekafiran (ay 32) dan orang beriman justru mengambisikan kebenaran bukan kenyamanan duniawi. Jadi yang perlu kita hindari adalah bagaimana kita tidak mengambisikan sebuah kenyamanan duniawi tetapi sebuah ketenangan batin bersama dengan Allah.

Ay 19 dikatakan, “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya”. Secara sederhana, yang dimaksud dengan harta di Sorga adalah kasih kepada Allah, ketaatan dan kesetiaan untuk melayani Allah. Dimanakah tendanya Paulus? Di manakah perahu dan jalanya Petrus dan Yohanes? Dimanakah semua harta yang mereka raih selama ini? Semua sudah lenyap dan hanya tinggal kenangan. Tetapi apakah yang bisa mereka bawa ketika meninggal hanya satu yaitu jiwa dan orang yang mereka layani untuk dipersembahkan kepada Allah. Agar kita tidak terjebak dalam sesuatu yang berorientasi kepada uang, di mana dalam suku batak hal ini menjadi sesuatu yang dibanggakan, adalah mengorientasikan diri kita kepada nilai-nilai sorgawi.

Alasan menyimpan untuk tidak menympan harta di dunia ada dua, yaitu, pertama, demi alasan ekamanan, karena ngengat dan karat tidak akan memakannya. Juga aman dari pencuri. Jika kita menyelamatkan jiwa orang dan melayani dengan sungguh-sungguh, tidak aka nada suauatu yang perlu ditakutkan karean tidak aka nada yang mencurinya. Kedua, alasan keterikatan (ay 21). Jika kita perhatikan ay 22-23 kita melihat soal mata (penglihatan). Dikatakan di sana, “Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” Apa artinya adalah bahwa mata rohani sebagai penentu orientasi hidup kita. Hal ini kita lakukan dengan mengarahkan mata kita benar-benar tertuju kepada Allah. Kemudian melihat apa yang paling menarik dari mata kita. Waktu kita mahasiswa, kita tidak terlalu peduli merk kameja atau merk handphone, tetapi ketika alumni hal ini menjadi perhatian kita dan menjadi orientasi kita Kemudian, penglihatan menunjukkan kepada kita jalan yang harus kita tempuh. Oleh sebab itu penulis Matius mengatakan betapa pentingnya mata rohani untuk menentukan orientasi hidup manusia. Paulus berkata dalam Ef 1:18, “Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus.” Bagaimana kita memfokuskan kita dan mata kita bukan pada hal-hal yang bersifat glamor dan hanya melihat indahnya dunia ini tetapi kepada Allah. Hal ini tidak gampang. Mari mengorientasikan hidup kita kepada kebutuhan bukan kepentingan atau keinginan agar kita tidak tejebak dalam hamoraon yang tidak alkitabiah. Dan kita juga tidak menghargai orang karena dia kaya atau miskin tetapi karena dia adalah pribadi yang mencintai dan takut akan Tuhan.

Nilai hidup menentukan cara kita memandang kehidupan (23b). Bayangkan sedang mengendarai mobil di tengah hutan di mana bola lampunya semua putus. Kita terjebak tanpa arah dan tidak bisa bergerak. Di dalam diri kita ada terang dan jika menjadi padam maka betapa gelaplah hidup kita. Oleh sebab itu jangan sampai mata kita lebih tajam melihat glamornya dunia dari pada melihat hal-hal yang Tuhan tunjukkan kepada kita.

Dalam ay 24 dikatakan, “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Dalam ayat ini muncul sebuah pengajaran yaitu betapa pentingnya mono loyalitas. Kata hamba memiliki makna ada sebuah pengabdian yang tulus. Tidak ada seorang pun mau diduakan atau dinomor duakan. Itu sebabnya penulis Matius mengatakan tidak mungkin ada orang mengabdi dengan setia kepada dua tuan. Mengapa Matius membandingkan Allah dengan Mamon adalah karean dua-duanya punya daya tarik yang kuat. Dalam Mat 19:22 dikatakan, “Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.” Alasan orang muda itu tidak mengikut Kristus adalah karena banyak hartanya padahal dia sangat moralis dan melakukan kejahatan apapun. Ini adalah sebuah realita sampai saat ini. Sering sekali orang tidak peduli keberanan jika berhubungan dengan uang.
Jadi bagaimana seharusnya sikap kita? Menjadi kaya tidak salah (band Abraham Kej 13:2; Pkh 5:18), karena merupakan anugerah. Tetapi ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian kita. Pertama, jangan sampai melekat kepada uang (Maz 62:11b). Kedua, jangan tamak (Luk 12:15). Ketiga, jangan berambisi untuk kaya (Ams 23:4; band 1 Tim 6:7-10; 1 Yoh 2:16).
Hidup tidak tergantung kepada kekayaan tetapi kepada Tuhan (Luk 12:15b, 20). Tipu daya kekayaan itu menghimpit Firman Tuhan (Mat 12:22). Jadi mari kita kaya dihadapan Tuhan (Luk 12:21). Mari kita kaya dalam kemurahan (2 Kor 8:2-3). Jemaat Korintus tidak kaya secara materi tetapi mereka kaya dalam kemurahan. Jika Tuhan memebrikan banyak berkat agar kita bisa menyalurkan kepada orang lain. Lebih berbahagioa orang yang memebri daripada menemerima. Mari kaya dalam kemurahan dan memuliakan Tuhan dengan harta kita (Ams 3:9). Jangan berharap kepada kekayaaan (1 Tim 6:17). Jika kita diberi kekayaan jangan tinggi hati karena Allah adalah sumber harta. Dan jangan berharap kepada kekayaan. Dalam Ams 15:16 dikatakan, “Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan”. Perhatikan juga Ams 22:1 yang mengatakan bahwa nama baik lebih baik dari kekayaan. Yang kaya jangan bermegah dalam kekayaannya (Yer 9:23-24). Ams 30:7-9 dikatakan, “Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni: Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.” Ini jugalah yang seharusnya menjadi doa kita sebagai orang yang percaya. Jika Tuhan izinkan kita kaya, mari menikmati dan memakainya untuk Tuhan. Jika Tuhan tidak izinkan untuk kaya, mari bersyukur. Satu hal yang paling penting adalah kita menikmati. Orang kaya dengan uangnya bisa membeli makanan yang enak tetapi tidak bisa beli selera makan, mereka bisa membeli kasur yang mahal tetapi tidak tidur yang nyenyak, membayara artis tetapi tidak sukacita. Mari belajar untuk doa seperti Amsal tadi dan denagn demikian kita akan didorong untuk tetap beriman kepada Allah.

Eksposisi RATAPAN 3

Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div

Ratapan 3:20-26
“20 Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku. 21 Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: 22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, 23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! 24 "TUHAN adalah bagianku," kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. 25 TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. 26 Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN.”

Kitab Ratapan merupakan bagian dari ungkapan nabi Yeremia yang ditulis sekitar tahun 575 SM dalam kondisi pembuangan. Kitab ratapan memiliki lima babak yang bersifat puitis yang terdiri dari lima puisi. Penulisan kitab ini sangat teratur di mana pasal 1, 2, 4, dan 5 terdiri dari 22 ayat, sedangkan pasal 3 terdiri dari 3x 22 ayat (66 ayat). Secara keseluruhan, kitab Ratapan diawali dengan jeritan, tangisan, atau ratapan (Rat 1:1-2). Melalui pergulatan teologis, muncullah pertobatan (Rat 5:21-22). Bisa dikatakan Ratapan memulai dengan sebuah ratapan oleh karena penderitaan tetapi diakhiri dengan lahirnya sukacita oleh karena pertobatan. Hal ini sering sama dengan kehidupan kita sekarang ini ini di mana kita sering mengawali hidup (atau sesuatu) dengan sebuah ratapan dan pergumulan yang dalam oleh karena penderitaan tetapi berakhir dengan sebuah sukacita melalui pertobatan.

Konsep teologia ada di dalam Rat 3:21-26, yang merupakan bagian yang akan kita bahas. Tema kitab Ratapan adalah dengan kacamata rohani melihat kebaikan dan kesetiaan Tuhan walau dalam penderitaan dan mendorong umat (bangsa Israel) untuk bertobat. Hal ini bukanlah sesuatu yang gampang karena di dalam penderitaan orang lebih banyak mengeluh dan sulit melihat siapa Tuhan. Dan keluhan dari umat Israel bisa kita temukan di sepanjang kitab Ratapan yang dituangkan oleh Yeremia oleh karena dosa mereka. Jadi mereka menderita karena mereka melakukan dosa. Yeremia tetap teringat dan tertekan karena sengsara yang terjadi (20). Ketika dia teringat akan kondisi Israel, jiwanya tertekan dan tidak memiliki ketenangan. Dia juga teringat akan sengsara dan penderitaan yang terjadi. Dalam ay 20 ia berkata, “Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.” Ada bebarpa hal yang membuat Yeremia tertekan. Pertama, Yerusalem runtuh dan sangat sunyi sekali (pemerintahan terakhir bangsa Yehuda) (pasal 1). Kedua, Allah murka kepada Sion (pasal 2). Ketiga, bangsa tercerai-berai dan dibuang ke Babel. Keempat, rakyat menderita sengsara oleh karena diperbudak oleh bangsa lain dan juga menjadi bahan ejekan. Israel yang dahulunya memiliki kebanggaan dan mengalahkan musuh-musuh kini diperbudak bangsa lain dan menjadi bahan ejekan.

Tetapi dalam kondisi seperti ini muncul sebuah pengharapan. Dalam ay 21 dikatakan, “Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:”. Kalimat yang Yeremia untuk “ada hal yang kuperhatikan” adalah ‘I call to my mind’. Dia memunculkan kembali beberapa hal di dalam pikiran dan ingatannya. Pertama, Tak berkesudahan kasih setia TUHAN (22a). Jika di sepanjang hidup kita semuanya berjalan dengan baik tanpa halangan yang berarti, pasti akan gampang untuk berkata tidak berkesudahan kasih setia Tuhan. Tetapi mapukah kita untuk berkata ‘Tak berkesudahan kasih setia TUHAN’ jika dalam sengsara dan penderitaan? Mampu untuk tetap mengatakan bahwa kasih Tuhan tidak berkesudahan menjadi dasar untuk memunculkan pengharapan. Tidak akan ada sebuah pengharapan yang memberikan kekuatan dan penghiburan bagi kita tahun 2011 jika kita tidak bisa berkata kepada diri kita bahwa ‘Tak berkesudahan kasih setia TUHAN’. Apapun yang kita alami tahun 2010, mari mengawali tahun 2011 dengan tetap mengimani hal ini. Masih baikkah menurut kita Tuhan dalam hidup kita? Jika kita tidak bisa melihat kasih Tuhan yang tidak berkesudahaan itu, maka kita tidak bisa semangat menjalani tahun 2011 dan tidak ada keberanian untuk menghadapi tantangan dan tidak akan muncul ambisi untuk semakin mencintai Tuhan.

Hal kedua yang muncul dipikiran Yeremia adalah ‘tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi’ (22b-23a). Seperti matahari pasti terbit setiap pagi, rahmat Allah (His compassion) lebih terjamin lagi. Pemahaman yang baik akan hal ini akan memunculkan pengharapan bagi kita, sebuah pengharapan yang membuat kita semakin percaya kepada penyertaan Tuhan. Ingat, Allah tidak pernah ingkar janji, dan kita seharusnya lebih percaya dan berharap kepadanya. Hal ketiga adalah besar kesetiaan Tuhan (23b). Dengan kata lain cinta Tuhan itu besar bagi setiap kita. Jika kita mengalami ketiga hal in di dalam hidup kita maka kita akan berani untuk melangkah dalam tahun 2011 in dengan iman.

Yeremia mendoorong Israel untuk merasakan ketiga hal ini, meskipun mereka masih hidup dalam kesengsaraan. Ini adalah sesuatu yang luar biasa. Dan mari belajar untuk melihat bahwa kasih Allah tidak berkesudahan, walau apapun yang terjadi. Ini adalah sumber semangat baru dan kekuatan dari Tuhan. Meskipun penderitaan tidak akan lepas dari diri kita dan bahkan mungkin sampai mati penderitaan akan senantiasa bersama dengan kita karena penderitaan adalah bagian dari hidup. Karena itu mari mengingat karakter Allah yang penuh kasih dan kebaikan yang melahirkan iman dan percaya kepada kita yang akan melahirkan sebuah komitmen (ay 24). Dalam ay 24 dikatakan, "TUHAN adalah bagianku," kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.” Sebuah komitmen yang muncul di tengah-tengah penderitaan. Yeremia berkata ‘The Lord is my portion’. Hal ini tidak dia katakan kepada orang lain tetapi keapda dirinya. Sesuatu yang tidak gampang untuk dilakukan jika tidak emmahami dengan jelas apa yang diuangkapkan dalam ay 22-23. Jika kita berbicara kepada orang lain bahwaTuhan itu baik, mungkin sesuatu yang gampang. Tetapi akan lebih bermakna jika kita berkata kepada diri kita Tuhan itu baik dan Tuhan adalah bagianku.

Dalam Mazmur 73 kita melihat bagaimana Daud sangat bergumul karena orang fasik medapat banyak berkat sedangkan dia menderita. Hal yang sama bisa kita temukan pada saat ini di mana mereka yang tidak taat kepada Allah memiliki hidup yang jauh dari masalah. Tetapi Daud dalam semua kondisinya dan dalam pergumulannya sampai pada sebuah titik kesadaran yang memampukan ia berkata, “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya” (Maz 73:25-26). Komitmen yang melahirkan pengharapan ini juga akan menghasilkan sebuah sikap yaitu sebuah pengharapan kepada Tuhan. Itulah sebabnya kita berharap kepadanya, kita menantikan Tuhan berkarya, menantikan Tuhan menyatakan kuasa dan kehendakNya. Mari menantikan Tuhan berkarya dan berbicara pada waktuNya untuk memulihkan dan memberikan yang terbaik pada bagi kita.

Memiliki dan dimiliki Tuhan jauh melebihi apapun. Sering sekali kita lebih berfokus kepada berkat Tuhan tetapi tidak fokus kepada sumber berkat itu sendiri. Memiliki berkat Allah tidak sama dengan memiliki Allah, karena orang yang tidak beriman pun bisa diberkati Allah. Dan sering sekali orang Kristen pun lebih fokus dan mencintai berkat Allah dari pada Allah itu sendiri. Mari menyadari hal ini dan berubah. Mari memiliki ambisi untuk memiliki sumber berkat karena hal ini melebihi segala-galanya. Ketika kita memiliki Allah berkatnya pasti akan kita miliki, tetapi ketika kita memiliki berkatNya Sang Pemberi berkat belum tentu kita miliki.
Tuhan itu baik bagi setiap orang yang berharap kepadanya dan bagi semua orang yang mencari Dia (ay 25). Apakah kita masih merasakan Tuhan baik dalam hidup kita? Apakah kita hanya menganggap Tuhan baik bagi orang lain tetapi tidak baik bagi kita? Ingat, kita alami atau tidak kebaikan Tuhan dalam hidup kita, Tuhan tetap baik. Kita terima atau tidak Tuhan tetap baik. Kebaikan Tuhan tidak pernah ditentukan pengalaman atau perasaan kita. Kebaikan Tuhan tidak pernah di tentukan dari apa yang kita telah atau belum terima. Apapun itu, Tuhan tetap baik. Hari ini kita belajar dari Yeremia dan bangsa Israel bahwa Tuhan itu baik, tetapi yang menarik adalah di dalam kondisi yang penuh dengan pergumulan mereka berani berkatabahwa Tuhan itu baik. Jika kita tidak melihat Tuhan baik, bagaimana kita bisa menyerakah diri kita kepadanya tahun 2011 ini. Tetapi karena Allah yang kta puja dan sembah itu adalah Allah yang baik memapukan kita menyerahkan diri dan melangkah kepada Dia. Mari di dalal situasi apapun kita betul-betul bisa merasakan dan menikmati Tuhan itu baik (band Luk 11:11-13, “Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”).

Siapa yang diantar kita yang kuatir mengalami 2010? Tetapi kita tetapi melewati tahun 2010 bukan? Ingatlah karakter Allah (kasih, kesetiaan, kebaikanNya dst). Hal ini akan melahirkan iman percaya dan pangharapan dan membuat kita melangkah dengan tidak kuatir akan apapun (band Rom 8:32, “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia”.)

Ayat 26, “Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN.” Mari menantikan Tuhan bekerja dan berkarya dengan iman dan pengharapan. Nantikan penuh iman Tuhan berkarya memulihkan dan memberikan (band Yes 30:15b, "Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.”) Kenapa bisa tenang dan teduh dalam menghadapi tahun 2011 ini adalah karena iman. Mari mendapatkan kekuatan baru karena pengharapan, komitmen, dan mengingat karakter Allah yang baik. Hal ini akan memberikan kekuatan baru yang akhirnya membuat kita dapat menantikan Tuhan dengan tenang dan dapat membuat diri kita menjalani tahun 2011 dengan percaya kepada Tuhan yang baik dan dalam rencana dan kedaulatanNya kita melangkah bersama-sama dengan Dia.
SoliDeo Gloria!

Friday, January 14, 2011

Seri Eksposisi: Yakobus 4:1-12

Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div

Bagian awal dari Yakobus 4 ini didahului oleh sebuah catatan tentang hikmat dalam Yakobus 3:13-18. Hikmat yang dimaksudkan Yakobus ada pada ay 17-18, “Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai”. Apa yang dipaparkan dalam Yakobus 4:1-6 adalah cara hidup yang duniawi.

Dalam konteks bahasa Indonesia, kata ‘hikmat’ itu mengambang, tetapi dalam Alkitab, kata ‘hikmat’ itu memiliki makna yang jelas. Misalnya dalam Ayub 28:28 dikatakan, “,tetapi kepada manusia Ia berfirman: Sesungguhnya, takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi."; atau dalam Yak 3:17-18 tadi. Hikmat yang dituliskan Yakobus dalam pasal 3:17-18 adalah himat yang dimaksudkan Yakobus dalam pasal yang 1 ay 5, “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit ,maka hal itu akan diberikan kepadanya.” Kita melihat bagaimana Yakobus menempatkan pasal 4 ini dengan didahului oleh hikmat ilahi (Yak 3:17-18) dan kemudian hikmat duniawi (Yak 4:1-6).

Orang yang memiliki iman yang sejati (2:14-26), tidak akan digoyahkan oleh cara hidup duniawi (4:1-6). Di dalam suratnya ini kita melihat bagaimana Yakobus membuat sebuah alur pemikiran dimana iman yang dikombinasikan dengan perbuatan yang secara bersama disertai hikmat Allah adalah dasar yang membuat orang bertahan di dalam kebenaran sehingga tidak terjebak dalam keserakahan dan hawa nafsu. ‘Hawa nafsu’ adalah frase yang dapat digunakan untuk menyimpulkan apa yang ditulis dalam ay 1-6. Dalam bahasa aslinya kata yang digunakan adalah ‘hedon’. Dapat dikatakan bahwa ay 1-6 hendak mengatakan bahwa manusia hidup dikuasai oleh keinginan hawa nafsu yang selalu ingin dipuaskan.

Dalam ay 1 dikatakan, “Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?” Apa yang hendak dikatakan Yakobus adalah bahwa pertentangan dan sangketa yang ada pada kita muncul karena ada hawa nafsu yang saling berjuang di dalam tubuh kita. Yang hendak dikatakan Yakobus adalah bahwa sengketa dan pertengkaran adalah perjuangan pribadi, belum antar pribadi. Perjuangan dan pertentangan di dalam pribadi ini jugalah yang memicu pertengkaran antar pribadi. Perjuangan dan pertentangan ini muncul karena munculnya hawa nafsu yang ingin dipuaskan. Inilah yang dimaksud dengan hedon. Jadi di dalam diri kita, kita berjuang melawan hawa nafsu dan keinginan daging. Ketika kita menuruti keinginan daging dan hawa nafsu yang ada di dalam diri kita, maka kita sedang berjuang dan bersengketa di dalam diri kita, sebuah pertentangan antara ya dan tidak dalam menuruti keinginan daging tersebut.

Datangnya sangketa, baik dalam pribadi maupun antar pribadi, adalah dari dari hawa nafsu yang muncul dalam tubuh kita. Karena ituj hidup menurut hawa nafsu adalah sumber pertengkaran. Hal ini bukan hanya muncul dalam ranah rohani. Para fuilsuf dari Yunani-Romawi (termasuk Plato dan Philo) dalam tulisan mereka banyak menolak pemuasan hawa nafsu daging. Para kaum filsuf/ilmuan akan berkata , “Know yourself (gnothi seauton)!”; dan kaum Psikolog berkata: “Be yourself!”; kaum artis akan berkata: “Show yourself!”; kaum Atlet: “Prove yourself!”; kaum Hedonist berkata: “Enjoy yourself!”; kaum Agamist berkata: “Give/Sacrifice yourself!”; tetapi Yesus berkata: “Deny yourself!” (Mark 8:34). Mari melihat bagaimana kontrasnya kaum hedonis dengan “Enjoy yourself”nya dengan Yesus yang berkata: “Deny yourself!” Yakobus mengalamatkan bagian ini kepada orang-orang miskin dan tertindas yang mencoba mau berbuat jahat kepada para penindasnya dan hendak merampas harta mereka (bd. 5:1-6). Karena ini adalah sebuah bentuk pemuasan hawa nafsu.

Dalam ay 2 dikatakan, “Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.” Hedon yang tidak terpenuhi dapat membuat orang bisa membunuh dan iri hati. Ketika Yakobus menuliskan surat ini bukan berarti para penerima surat melakukan tindakan membunuh atau yang lain. Dalam kondisi nyatanya, penerima Surat Yakobus tidak sedang melakukan hal-hal ini, tetapi ini adalah cara penulisan yang hiperbola. Jadi mereka tidak membunuh, tetapi mengalami pertengkaran dan kegeraman karena mereka tidak mendapatkan apa-apa. Apa yang mau dikatakan adalah bahwa mereka memiliki hidup yang tidak benar. Secara praktis hal ini dapat terjadi bagi kita. Ketika kita tidak mendapat apa yang menjadi keinginan kita muncullah pertengkaran dan iri hati di dalam diri kita.

Hal lain yang ditekankan Yakobus adalah ketika mereka tidak mendapat apa yang mereka ingini adalah karena salah berdoa. Salah berdoa, karena untuk hedon (3, “Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu”). Doa Yahudi Kristen biasanya untuk kebutuhan yang murni sehari-hari (Mt.6:11), tetapi permohonan yang didasarkan pada kecemburuan akan kekayaan dan status orang lain berarti sebuah pemuasan hawa nafsu (4:1). Allah menjawab doa untuk kebutuhan bukan pemuasan keinginan. Semua yang bermuara kepada keinginan hawa nafsu tidak akan pernah dijawab oleh Allah.

Ay 4 dikatakan, “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.” Cara hidup duniawi yang berbeda dengan hikmat Allah adalah ketidaksetiaan, karena persahabatan dengan dunia sama dengan permusuhan dengan Allah. Di dalam Kol 3:1-4 dikatakan, “1 Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. 2 Pikirkanlah perkara yang di atas (Set your minds on things above, -terj NIV), bukan yang di bumi. 3 Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. 4 Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri elak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.” Jika pemahaman in ada, maka apa yang dikatakan Yakobus menjadi sangat relevan. Jika kita hidup dengan hawa nafsu (hedon), itu berarti persahabatan dengan dunia. Dan persahabatan dengan dunia ini berarti permusuhan dengan Allah. Ketidaksetiaan terjadi ketika manusia lebih mencintai dunia atau materi daripada Allah – ‘adulterous people’ (bd. Hos.1-3). Itu sebabnya ketika Yakobus berbicara soal iman dan perbuatan, dia berbicara soal Abraham, yang mempersembahkan Ishak buah dari iman, dan Allah langsung mengatakan bahwa Abraham adalah sahabatNya. Apakah kita sahabat Allah atau kita adalah musuhNya dikarenakan cara hidup kita yang tidak benar. Ketika kita bermain-main dengan dosa, ingatlah bahwa apa yang kita sedang lakukan merupakan perzinahan di mata Allah.

Allah itu adalah Allah yang pencemburu. Ay 5 berkata, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Kitab Suci tanpa alasan berkata: "Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu!" Allah menaruhkan RohNya ke dalam kita (band Gal 4:6), tetapi hal ini juga membuat Ia menjadi cemburu karena cintaNya kepada kita. Ay 1-4 adalah cara hidup yang menunjukkan kecongkakan di mata Allah (ay 6). Ketika bersahabat dengan dunia, itu juga kesombongan di mata Allah. Artinya adalah kita adalah orang yang ditebus, dan sebagai orang yang sudah ditebus kita tetap melakukan kejahatan dimantaNya, maka kita adalah orang yang congkak. Orang yang sudah diampuni dosanya tetapi masih hidup dengan cara dunia adalah orang yang congkak atau orang yang tidak tahu terima kasih. Oleh sebab itu ada muncul kata ‘rendah hati’ di dalam ay 6 (“Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."), yaitu sikap tunduk pada kehendak dan kedaulatan Allah (4:7, 10). Bagaimana agar kita bisa menang menghadapi hawa nafsu dalam ay 1-6 dijabarkan dalam ay 7-10.

Dalam ay 7-10 dikatakan, “7 Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu! 8 Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati! 9 Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah; hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratap dan sukacitamu dengan dukacita. 10 Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.” Dalam bagian ini kita melihat bahwa ada beberapa perintah yang ditulis dalam bahasa Yunani. Perintah-perintah tersebut diartikan sebagai sesuatu yang harus segera dilakukan untuk mencabut akar dosa keangkuhan yang telah dijabarkan dalam Yak 4:1-6 di atas.

Pertama adalah tundukkanlah (submit) kepada Allah (7). Kata tunduk yang dimaksud di sini dalam arti adore (menyembah). Jadi ada sikap kekaguman dan penyembahan serta hormat kepada Tuhan. Kedua adalah lawan iblis (7) (band Ef 6:11-18; 1 Pet 5:8-9). Ketiga adalah mendekat kepada Allah (8). Dialah sumber kekuatan kita. Prayerless will be powerless, Prayerful will be powerful. Keempat adalah tahirkan tangan (8). Para imam biasa membasuh tangan sebagai simbol penyucian rohani (Kel 30:17-21, band Maz 24:3-4). Kelima adalah sucikan hati dalam hal moralitas (8) (Yer 4:14; Mat 15:19-20) dan jangan mendua hati (8). Kita harus memilih antara Allah dan Mamon (Mat 6:24). Keenam adalah sadari kemalangan (9). Sadar merupakan titik pertobatan. Ketujuh adalah berdukacita dan meratap (9). Tanpa dukacita maka tidak ada pertobatan yang sejati (band Im 23:29). Kedelapan adalah gantikan tertawa dengan ratap dan sukacita dengan dukacita (9). Jika kita bedukacita ndan meratap karena dosa, maka kita akan merasakan nikmatnya pengampunan. Kesembilan adalah rendahkanlah dirimu di hadapan Allah (10). Allah menentang orang yang congkak.

Dalam ay 11-12 ada peringatan akan dosa menghakimi orang lain. Dikatakan di sana, “ 11 Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya; dan jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi hakimnya. 12 Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?” Yang ingin dikatakan Yakobus adalah agar mereka, walaupun miskin dan menderita, tidak memfitnah dan menghakimi (11). Meskipun miskin dan tertindas, tetapi tidak boleh memfitnah dan menghakimi orang yang kaya (5:1-6). Mereka tidak berhak menghakimi mereka karena penghakiman terhadap sesama berarti menentang hukum Taurat (11). Penghakiman adalah milik Allah (12). Meskipun kita tertindas dan miskin dan orang kaya dengan kejahatan , tidak ada hak kita untuk menghakimi. Hak kita adalah mendoakan dan mengasihi mereka. Mereka bertanggung jawab kepada Tuhan, dan biarlah Tuhan yang menghakimi mereka.

Soli Deo Gloria

Seri Eksposisi: Yakobus 2:14-26

Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div

Dalam Yakobus 2:14-16 ini kita menemukan ada satu pergumulan karena antara iman (sola fide) dengan perbuatan. Sebuah kesalahan yang terjadi akibat karena salah memahami pengajaran Paulus. Bagian kitab Yakobus ini adalah sebuah klimaks dari keberagamaan yang sejati. Artinya adalah orang yang berkata beriman atau beragama bukan hanya sekedar kata-kata tapi ada kesejajaran dengan tindakannya. Itu sebabnya dikatakan iman tidak boleh terpisah dari tindakan. Ayat 19, “Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun percaya akan hal itu dan mereka gemetar”, merupakan sebuah penekanan dari Yakobus. Jadi dapat dikatakan bahwa pengakuan verbal adalah sesuatu yang kosong jika tanpa disertai dengan sebuah tindakan yang nyata.

Dalam menuliskan surat ini, kita melihat bahwa Yakobus menggunakan bentuk argumentatif. Jadi, bukan sekedar memaparkan seperti yang biasa Paulus lakukan. Kemudian Yakobus juga menggunakan bentuk diatribe, sebuah bentuk kecaman yang sangat tegas. Sepanjang kitab Yakobus, kita akan menemukan dua bentuk ini di dalam surat Yakobus.

Ada satu hal yang ditentang Yakobus dalam suratnya ini. Dia menentang pengajar palsu yang familiar dengan konsep Paulus tentang justification by faith alone, tetapi dengan pemahaman yang salah. Kemudian, Yakobus juga memakai surat ini untuk menentang pietisme Yahudi – kaum Zelot. Mereka melakukan ibadah yang sangat baik tetapi hidup mereka sangat jauh jika dibandingkan dengan ibadah mereka. Yak 1:26-27 dikatakan, “Jikalau ada seseorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya. Ibadah yang murni dan yang tidak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.” Inilah hal yang ditentang Yakobus. Bagi Yakobus, ekspresi iman seperti tidak diskriminatif (2:8-9, “Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri", kamu berbuat baik. Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran.”) dan tanpa kekerasan (2:10-11, “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya. Sebab yang berkata, "Jangan berzinah," dialah juga yang berkata, "Jangan membunuh." Jadi, kalau kalian tidak berzinah, tetapi membunuh, maka kalian adalah pelanggar hukum juga.”) bukan hanya sekedar pemahaman atau konsep, tetapi tindakan nyata.

Dalam bagian ay 14-17, kita melihat bahwa ada sebuah pengakuan tanpa tindakan. Hal ini ditentang oleh firman Allah. Hal ini sama saja dengan kata tanpa perbuatan. Dalam bagian ini kita juga menemukan sebuah kisah mengenai seseorang yang kedinginan dan kelaparan. Tetapi orang hanya berkata, “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang.“ Tetapi tidak ada tindakan yang diberikan. Dan Yakobus menyebut hal ini tidak berguna (ay 17). Dalam Ulangan 15:7-8 kita melihat tentang tanggung jawab orang percaya kepada orang miskin. Ben Sirach juga pernah berkata, “Pemberian bagi orang Yahudi adalah cara membela diri dihadapan penghakiman Allah. Sama seperti air yang memadamkan api, demikianlah tindakan yang baik bisa memadamkan murka Allah.” Yakobus dalam bagian ini sedang mengecam orang Kristen agar tidak sekedar berkata-kata rohani tetapi tidak melakukan dengan tindakan yang nyata. Dalam ay 14 ditunjukkan sebuah kemurahan. Dikatakan di sana, “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?” Tetapi dalam hari penghakiman (ay 12-13) semuanya itu tidak ada artinya. Makanya dikatakan iman tanpa tindakan tidak dapat menyelamatkan. Meskipun keselamatan anugerah Allah (Sola Fide) tidak bisa dipungkiri, tetapi Yakobus tidak sedang berbicara mengenai keselamatan dalam arti dilahirkan kembali oleh anugerah Allah (Rom 3:24; Gal 2:16). Yakobus ingin berkata bagaimana kita sebagai orang yang telah dibenarkan dan telah menikmati anugerah keselamatan itu, memliki tanggung jawab iman kita di hadapan Allah untuk menghasilkan buah melalui tindakan.

Adalah benar jika dikatakan bahwa seseorang tidak memiliki hak untuk merasakan belas kasihan dan simpati sampai pada saat dia mencoba untuk menempatkan belas kasihan dan simpatinya dalam satu tindakan (ay 15-16). Jadi ketika kita hanya memiliki rasa belas kasihan dan simpati tanpa ada tindakan apapun, tidak ada gunanya. Kita dapat memberi tanpa mengagasihi, tetapi kita tidak dapat mengasihi tanpa memberi. Demikian juga dengan orang dapat berbuat baik tanpa iman, tetapi tidak ada seorangpun yang beriman tanpa berbuat baik (band Mat 25:31-46). Mari menunjukkan iman kita dengan perbuatan. Inilah kelemahan kebanyakan orang Kristen pada saat ini. Banyak orang Kristen mengaku sebagai orang percaya dan beriman tetapi hidupnya tidak berbuah (band Fil 4:5). Kasih bukan dalam perkataan tetapi dalam tindakan (1 Yoh 3:17-18). Kata-kata yang baik/indah, kotbah, doa, pernyataan iman, nasihat bijaksana, semuanya harus ditunjukkan dengan tindakan iman yang tidak dapat dipisahkan dari kekristenan sejati.

Mari melihat ay 17-19. Dikatakan di sana, “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. Tetapi mungkin ada orang berkata: "Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan", aku akan menjawab dia: "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku." Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.” Yang mau dikatakan di sini adalah bahwa iman dan perbuatan sama-sama sebagai hal yang baik. Bukan salah satunya, karena perbuatan baik tidak ada artinya, dan iman tanpa perbuatan juga sia-sia. Iman dan tindakan sama-sama sebagai hal yang baik, sebagai manifestasi agama. A man of though and a man of action. Ketika kita berfikir dan memikirkan tentang Allah dan beriman kepada Allah, mari membuktikannya dengan membuat pernyataan iman melalui tindakan. Doa-doa dan usaha itu sekaligus menyatu seperti dua sisi mata uang. Melalui iman, perbuatan kita dilakukan. Iman itu nyata dalam tindakan dan iman hanya dapat didemonstrasikan melalui perbuatan. Darimana orang tahu kita beriman adalah dari perbuatan-perbuatan kita.

Dalam ay 17 dikatakan bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang mati atau sia-sia. Dan hal ini ditekankan kembali dalam ay 19. Dalam bagian ini kita melihat bahwa Yakobus megatakan bahwa jika mereka mengaku bahwa mereka monotheisme, dia juga monotheisme. Dan jika mereka juga mengaku hanya ada satu Allah saja, Iblispun percaya. Bahkan mendengar nama Tuhan, setanpun gemetar tetapi iblis tidak pernah menundukkan diri kepada Tuhan. Jadi Yakobus melanjutkan dengan mengatakan jika sampai di situ saja iman kita, maka iman itu tidak berarti. Monotheisme (emunah) adalah konsep Yahudi yang diucapkan setiap hari (schema) (Ul 6:4-5). Jika hanya sebatas ini, siapa saja pun bisa melakukannya. Inilah sebabnya Yakobus menegur orang Yahudi yang menganut monoteisme tetapi tanpa perbuatan. Iman yang menyelamatkan menghasilkan perbuatan. Hidup yang benar adalah buah dari iman yang sejati. Bukan berarti mengabaikan sola fide, tetapi iman yang sejati harus nampak dalam bentuk perbuatan setiap hari. Bagaimana mungkin kita bisa mengatakan sudah lahir baru tetapi kita masih menikmati dosa lama kita? Bagaimana mungkin seorang dapat mengatakan dia sudah lahir baru tetapi masih racism?

Apa bukti iman? Hal inilah yang ditunjukkan dalam ay 20-26. Dalam ay 20-26 kita melihat iman Abraham yang dan tindakannya mengorbankan Ishak atas permintaan Tuhan. Inilah iman (Kej 22). Mengapa iman Abraham yang dikutip Yakobus? Ingat, Abraham adalah bapa orang beriman, dan orang Yahudi sangat bangga dengan Abraham dan mereka selalu mengatakan bahwa mereka adalah anak Abraham. Yakobus mengambil tokoh yang mereka kagumi dan menantang mereka untuk membuktikan iman seperti iman Abraham. Ketika Tuhan menuntut dia mengorbankan anak satu-satunya yang sudah lama dinantikan, sekarang dikorbankan. Tetapi Abraham melangkah dengan iman.

Kemudian tindakan Rahab yang menyelamatkan mata-mata Israel. Perbuatan yang dilakukannya sebagai buah dari iman. Mari melihat dua tokoh ini. Abraham adalah orang yang dianggap suci dan beriman yang merupakan bapa leluhur mereka. Sedangkan Rahab adalah orang yang paling najis karena dia adalah pelacur (satu dosa yang paling tidak disukai orang Yahudi). Dua tokoh yang bertolak belakang digabungkan Yakobus. Apa pesan yang ingin disampaikan? Dari segi orang yang dikagumi, imannya ditunjukkan dan dibuktikan dengan tindakan. Demikian juga dari orang yang paling dibenci juga, menunjukkan iman dalam bentuk dengan tindakan. Inilah iman yang sejati yaitu iman dengan perbuatan. Apa yang ingin dikatakan Yakobus adalah siapapun kita, yang mengaku beriman, mari membuktikannya dengan perbuatan kita. Iman sungguh-sungguh yang menggerakkan tindakan Abraham dan Rahab. Tidak ada seorang pun digerakkan kepada sebuah perbuatan tanpa iman, dan tidak ada iman seorangpun yang nyata tanpa perbuatan. Iman kita akan menjadi iman yang hidup jika disertai tindakan yang nyata.

Dalam ay 26 kita melihat ada sesuatu yang ditarik Yakobus. Dikatakan di sana, “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Di dalam pemahaman tradisi kuno Yahudi, mereka menerima ada sebuah kombinasi antara tubuh, roh, dan jiwa. Jika rohnya terpisah dari tubuh berarti mati, demikianlah perbuatan tidak menyertai iman juga mati. Begitu pentingnya kehadiran roh didalam tubuh, demikan juga pentingnya kehadiran tindakan di dalam iman. Ada satu hal yang menjadi refleksi bagi kita. Apa buah iman yang bisa kita pancarkan? Baik tindakan kasih atau melangkah, atau mengorbankan apapun? Mari menunjukkan iman hari ini dengan perbuatan. Iman dan doa akan menjadi kosong tanpa tindakan yang konkrit.

SoliDeo Gloria.

Seri Eksposisi: Yakobus 1:1-8


Alex Nanlohy

Surat Yakobus merupakan surat yang personal sifatnya. Ada banyak nama Yakobus yang bisa kita temukan dalam Alkitab, mis, Yakobus anak Zebedeus, Yakobus saudara Yesus, dll. Hal ini menimbulkan pertanyaan, siapakah penulis kitab Yakobus ini sebenarnya. Banyak ahli dan tafsiran yang tidak setuju pendapat yang mengatakan bahwa penulis kitab ini adalah Yakobus, sang rasul. Dilihat melalui konteks Kis 15, disimpulkan bahwa penulis kitab ini adalah Yakobus, saudara Yesus.

Dalam ayat 1 dikatakan, “Salam dari Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus, kepada kedua belas suku di perantauan.” ‘Kedua belas suku di perantauan’ berkaitan dengan orang-orang Yahudi yang telah menjadi Kristen. Hal in tidak berarti persis 12 suku, tetapi mengarah kepada jemaat-jemaat orang Yahudi yang telah menjadi Kristen. Dapat dikatakan juga bahwa surat ini juga ditujukan bagi semua orang Kristen.

Dalam suratnya ini, kita melihat bahwa Yakobus menuliskan hal-hal yang bersifat sederhana atau praktis (bandingkan dengan surat-surat Paulus yang bersifat doktrinal). Yakobus banyak menuliskan hal-hal yang tidak asing dalam kehidupan sehari-hari. Dan hal inilah yang membuat Marthin Luther meragukan kitab ini untuk dimasukkan ke dalam kanon Alkitab. Apalagi ada pengajaran yang kuat yang diangkat adalah pengajaran yang mengatakan ‘iman tanpa perbuatan adalah mati’. Hal ini disebabkan Martin Luther menganut Sola Fide (hanya karena iman). Yakobus menekankan bahwa iman kepada Yesus tidak berhenti pada saat kita berkata bahwa kita selamat, tetapi ada sebuah bukti nyata yang tampak dalam kehidupan sehari-hari. Selain hal mengenai iman tanpa perbuatan ini, hal-hal praktis yang dapat kita temukan adalah pergumulan, waktu, uang, dll.

Dalam pasal yang pertama ini kita menemukan bahwa hal praktis yang dibahas adalah mengenai pergumulan. Mengapa Yakobus langsung fokus pada masalah pergumulan? Hal ini mungkin sekali karena orang-orang Yahudi yang telah menjadi Kristen, yang tersebar ke berbagai tempat pada masa itu mengalami penganiayaan. Oleh sebab itu tidak heran jika masalah pergumulan diangkat di bagian awal.

Dalam ay 2 dikatakan, “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,”. Jika kita membaca ayat ini rasanya tidak adil. Mengapa dikatakan bahwa jatuh ke dalam pencobaan dianggap kebahagiaan? Adakah di antara kita yang mengadakan pesta ketika memiliki pergumulan? Jadi, apa yang dikatakan dalam ay 2 ini merupakan sikap yang menarik untuk diperhatikan. Apa yang ingin disampaikan Yakobus dituliskannya di dalam ayat 3, dikatakan di sana, “sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” Dalam terjemahan Indonesia, istilah yang dipakai untuk ujian kita lihat sama. Tetapi dalam terjemahan Inggris kata ujian yang ada pada ay 2-3 berbeda dengan yang ada pada ay 12. Istilah yang muncul dalam ayat 2-3 adalah trial , sedangkan istilah yang dipakai dalam ay 12 adalah temptation. Trial adalah sesuatu yang Tuhan izinkan terjadi agar kita ‘naik kelas’, sedangkan temptation adalah sesuatu yang Tuhan izinkan terjadi dan kita menyerah dalam menghadapinya. Pergumulan dapat membuat kita naik kelas dan menjadi trial bagi kita, tetapi ketika kita menyerah maka pergumulan itu menjadi temptation. Jadi apa yang mau dilihat adalah sikap orang-orang dalam menghadapi pergumulan sebagai trial dalam hidup mereka.

Dalam ay 4 dikatakan, “Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” Bagaimana sikap kita dalam menghadapi berbagai pergumulan di dalam hidup ini? Satu hal yang harus kita sadari adalah bahwa di dalam hidup ini ada banyak pergumulan. Dan ada pergumulan yang terjadi karena salah, kebodohan atau dosa kita. Tetapi yang dibicarakan di sini bukanlah pergumulan seperti ini, tetapi pergumulan di mana kita mau taat kepada Tuhan tetapi ada kesempatan yang bisa membuat kita menjadi tidak taat. Inilah pergumulan dan sikap kita akan menentukan apakah pergumulan ini menjadi trial atau temptation bagi kita. Jika kita mau taat kepada Tuhan, maka pergumulan ini menjadi trial, tetapi jika kita menyerah maka pergumulan ini menjadi temptation. Pergumulan demi pergumulan hidup akan memperkuat otot-otot rohani kita. Tidak ada hidup tanpa pergumulan. Oleh sebab itu sikap kita adalah menghadapinya. Hal ini memang sulit, tetapi di dalam hidup yang sulit ini, ada hidup di mana di dalamnya ada Tuhan yang mau membawa kita di dalm kekuatan rohani yang semakin lama akan semakin kokoh. Prosesnya ada di dalam ay 3-4 yaitu iman kita diuji dan akan menghasilkan ketekunan, kemudian ketekunan ini menghasilkan buah yang matang di mana akhirnya kita menjadi sempurna dan utuh dan tidak kekurangan apapun.

Seorang Jemaat datang kepada pendeta dan minta didoakan agar dia diberi kesabaran. Menarik sekali, dalam doanya pendeta tersebut berkata demikian: ”Tuhan berikanlah kesengsaraan untuk dia agar dia belajar sabar!” Sering sekali kita meminta sesuatu kepada Tuhan tetapi tidak menyadari bagaimana Tuhan mengabulkan doa kita. Ketika kita berdoa untuk semakin taat, Tuhan memberikaan kesempatan-kesempatan diman kita dimungkinkan untuk tidak taat. Ketika kita meminta agar dapat lebih mengasihi, Tuhan memberikan orang-orang yang kurang cocok dengan kita. Ketika kita meminta agar lebih mengampuni, Tuhan mengirimkan orang yang sulit kita ampuni. Kita sering meminta kepada Tuhan, tetapi kita tidak suka pada proses bagaimana Tuhan menjawab doa kita. Jadi, jika kita ingin kerohanian kita utuh, jangan takut terhadap pergumulan dan hadapi bersama dengan Tuhan. Sering sekali kita memiliki sikap yang salah dalam menghadapi pergumulan dengan menganggap pergumulan itu besar. Melihat pergumulan itu lebih besar dari Tuhan akan membuat kita sulit untuk melihat kekuasaan Tuhan. Ketika kita melihat masalah, maka kita akan berftanya ‘Dimanakah Tuhan?’. Tetapi, hidup yang melihat bahwa Tuhan itu besar tidak berarti bahwa tidak ada masalah, tetapi masalah itu kecil. Saya tidak sedang mengecilkan atau meringankan masalah yang kita hadapi. Tetapi, ingatlah bahwa Allah kita lebih besar daripada pergumulan kita.

Salah satu kekuatiran kita adalah bahwa penghayatan/ kosep kita akan Tuhan sudah bergesar dari seharusnya. Mari melihat contohnya. Jika ditanya kepada kita ‘Apakah Tuhan maha kuasa?’, kita pasti menjawab ‘ya’. Demikian juga dengan pertanyaan ‘Apakah Iblis maha kuasa?’, maka kita sepakat menjawab ‘Tidak’. Apakah Tuhan maha hadir? Ya! Apakah Iblis maha hadir? Jawabannya pasti tidak. Kenyataan menunjukkan bahwa kita sering sekali kita takut kepada hantu di tempat gelap dan sepi, sesuatu yang mungkin ada (karena Iblis tidak maha hadir) dan tidak memegang sesuatu yang pasti ada (Allah maha hadir). Banyak orang Kristen tidak tahu siapa Allahnya. Kita dididik begitu rupa dengan tayangan yang ada di televisi yang membuat banyak orang Kristen tidak memiliki iman yang benar kepada Allah yang besar sehingga dalam menghadapi pergumulan hidup kita menjadi takut.

Yakobus mengingatkan bahwa apapun pergumulan yang kita hadapi, kita memiliki Tuhan. Tuhan memiliki rencana di mana kita tidak akan terpuruk di dalam pergumulan. Ketika kita melewati pergumulan itu bersama dengan Tuhan, maka kita akan dikuatkan. Apa yang menjadi pergumulan kita saat ini? Apakah pekerjaan, keluarga, kesehatan, atau yang lain? Mungkin kita memiliki banyak pergumulan. Ingatlah bahwa kita sedang Tuhan latih di dalam pergumulan tersebut.

Ayat 5 berkata, “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya.” Apa itu ‘hikmat’ ? hikmat dalam konsep kita bahasa Indonesia adalah sesuatu yang abstrak. Tetapi bagi orang Israel, hikmat itu adalah pimpinan Tuhan untuk memutuskan hal apa dalam keputusan praktis dalam kehidupan. Jadi Yakobus menekankan bahwa jika ada orang yang kekurangan hikmat (memilih antara yang baik dan jahat) dapat memintanya kepada Tuhan. Sewaktu di dalam pergumulan berarti kita sedang belajar sesuatu dari Tuhan, yaitu kehendak dan rencanaNya. Hal ini bukan sesuatu yang gampang. Bahkan mungkin sampai kita melewati pergumulan itu, kita tidak melihat apa rencana Tuhan. Tetapi apa yang Tuhan inginkan adalah ketika kita mengalami pergumulan maka kita sedang belajar untuk taat.

Dalam ay 5-6 dikatakan, “Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.” Seorang ibu yang sudah lama sakit-sakitan sering mengunjungi kebaktian-kebaktian penyembuhan. Pada satu waktu, dia mendengar bahwa ada ibadah penyembuhan di sebuah kota. Dia datang kesana. Ketika menerima pengobatan, dia mulai ragu akan dengan cara pengobatan yang ia terima karena mengarah kepada hal yang tidak benar. Dia bergumul antara keinginan untuk sembuh tetapi menyangkal imannya atau tetap sakit tanpa menyangkal imannya. Ini adalah satu pergumulan yang berat. Dalam pergumulan penting sekali untuk tidak bimbang. Dalam pergumulan kepada siapakah kita percaya? Tuhan atau berhala-berhala? Lebih baik berjalan bersama Tuhan di tempat gelap daripada berjalan sendiri di tempat terang. Ayat 7-8 berkata, “Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.”
Percaya kepada Tuhan adalah sesuatu yang kita butuhkan di dalam pergumulan. Percaya artinya percaya. Kita sering menganggap bahwa kita lebih tahu apa yang perlu bagi kita sendiri. Ini bukan percaya. Percaya adalah berserah. Bukan kekuatan kita tetapi rencana Tuhan. Bagaimana mengetahuinya? Tentu saja dengan menjaga persekutuan dengan Tuhan. Kita membutuhkan Firman Tuhan dan doa dalam menghadapi pergumulan untuk memilih yang mana, trial atau temptation.

Meskipun pergumulan kita kelihatannya tidak memiliki jalan keluar dan suram, ingatlah bahwa ada satu hal yang pasti, yaitu Allah baik. Allah baik bukan tidak tergantung kepada kita baik atau tidak. Allah baik juga bukan karena Allah memeberikan hal-hal yang baik kepada kita. Jadi, kita harus belajar untuk percaya bahwa Allah baik dalam setiap pergumulan hidup yang kita alami. Kita tidak serta merta menyalahkan Tuhan ketika kita mengalami pengalaman pahit di dalam hidup kita. Ingat, Allah adalah baik.

Dalam ay 16-18 Yakobus mengingatkan, “Saudara-saudara yang kukasihi, janganlah sesat! Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran. Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya.” Allah mengasihi kita dan itu adalah jaminan bahwa Allah tidak tidak akan membiarkan kita jatuh diluar dari kontrolNya. Tuhan memperhatikan hidup kita dan Ia tahu pergumulan kita. Jangan menyerah dalam menghadapi pergumulan tetapi hadapi bersama dengan Tuhan.

Saat ini mungkin kita di dalam pergumulan, tetapi Tuhan yang ingin kita kuat di dalam iman, sedang memakai semua pergumulan untuk memperkokoh kita.
Solideo Gloria!