Friday, October 2, 2009

Celebrate of Discipline 3: Simplicity

Indrawaty Sitepu, MA


Pada hari ini, dalam sesi yang ketiga, kita akan bersama-sama belajar The Discipline of Simplicity. ‘Simple’ artinya sederhana atau bersahaja. Simplicity yang dimaksud dalam tema kali ini adalah ketulusan hati dan kesederhanaan. Bukan sebatas sederhana dalam arti fisik, tetapi di dalam hati juga. Jadi dapat disimpulkan bahwa simplicity yang dimaksud disini adalah ketulusan hati dan kesederhanaan. Topik ini sangat relevan bagi kita para alumni untuk melatih dan mendisiplinkan hidup kita agar menjadi orang yang tulus dan sederhana.

Mari melihat sekitar kita. Kebudayaan kita pada zaman sekarang telah kehilangan kenyataan batiniah maupun gaya hidup lahiriah yang tulus dan sederhana. Bahkan jika kita menjadi orang yang tulus, orang-orang akan mengingatkan kita agar tidak menjadi orang yang tulus sehingga kita tidak dibohongi orang lain. Jadi, gaya hidup tulus dan sederhana bukan gaya hidup yang populer dan dipuji orang secara komunitas. Sebenarnya mengalami kenyataan batiniah yang tulus dan sederhana justru akan membebaskan kita secara lahiriah. Ketika kita tidak tulus dan sederhana, kita sedang masuk dalam sebuah perangkap perbudakan. Ketulusan dan kesederhanaan adalah sebuah kebebasan. Oleh sebab itu jika kita hidup tulus dan bebas, maka kita akan memiliki hidup yang sukacita dan seimbang. Sebaliknya, jika kita bermuka dua, akan memiliki hidup yang penuh dengan rasa cemas dan takut dan akhirnya menjadi tersiksa. Firman Tuhan mengatakan bahwa Tuhan menciptakan manusia itu sedehana, tetapi manusia itu menjadikan sesuatu menjadi kompleks-God made man simple, man’s complex problem are his own devising [Pengkhotbah 7:30].

Ketulusan hati merupakan satu kenyataan batiniah yang menghasilkan suatu gaya hidup lahiriah. Jadi, jika batin kita memang tulus dan sederhana, mau tidak mau maka akan keluar dalam gaya hidup lahiriah kita. Seseorang yang memiliki batin yang tulus tetapi yang keluar dari dia adalah sesuatu yang rumit, berarti ada yang salah dengan dirinya. Thomas Kelly membuat sebuah istilah yang sangat dalam untuk menggambarkan hal ini, yaitu Pusat Ilahi. Jadi hidup memiliki satu titik pusat, yaitu Ilahi. Inilah yang namanya tulus dan sedehana. Kierkegard menyatakan, ”Purity of heart is to will one thing.” [ketulusan hati hanya menghendaki satu hal]. Jika banyak maunya, mungkin kita belum simplicity. Maunya hanya satu, ambisinya hanya satu, cita-citanya hanya satu. Ketulusan hati dimulai dalam kesatuan dan fokus batin yaitu berpusatkan Tuhan, bukan atasan, pasangan, kakak kelompok, atau pelayanan. Oleh sebab itu disiplin ini secara langsung menantang kepentingan diri kita dalam gaya hidup yang makmur.

Bicara tentang simplicity terlepas dari orang yang memiliki banya atau sedikit uang. Kadang-kadang orang yang cinta uang itu bukan karena banyak uang. Justru karena memiliki uang yang sedikit maka dia menjadi pencinta uang dan menjadi seorang yang pelit. Jadi jangan pernah berpikir hanya orang yang memiliki banyak duit saja yang perlu sederhana. Orang yang memiliki sedikit duitpun perlu belajar simplicity. Orang yang kelihatannya simple di luar, belum tentu simple dalam hati, padahal yang kita maksud tadi adalah dari hati keluar menjadi lahiriah. Jika kita paksakan hidup sederhana, tetapi dalam hati tidak hidup sederhana atau tidak tulus, maka ini bukanlah kemerdekaan, tetapi sesuatu yang memperbudak.

Mari melihat Mat 6:25-33. jika kita perhatikan bagian ini, ada beberapa hal yang akan kita soroti. Titik pusat disiplin kesederhanan adalah mencari kerajaan Allah dan kebenaran KerajaanNya dahulu. Baru kemudian segala sesuatu yang kita butuhkan dan perlukan akan datang menurut urutan yang tepat. Betapa seringnya hidup ini makin rumit karena urutan hidup kita tidak jelas, urutan kepentingannya tidak jelas. Yang paling penting dibuat menjadi kurang penting. Yang kurang penting dibuat menjadi sangat penting. Kita pasti pernah melihat kuadran penggunaan waktu, dimana masing-masing kuadran memiliki karakteristik tersendiri. Kuadran I berisikan: penting dan mendesak, kuadran II: penting dan tidak mendesak, kuadran III: tidak penting dan mendesak, dan kuadran IV: tidak penting dan tidak mendesak. Jika kita melihat diri kita, maka kita berada di dalam kuadran berapa? Tanpa sadar, banyak dari kita berada di kuadran IV atau kuadran I. Dalam bagian ini, sering sekali tanpa kita sadar, walau teorinya telah kita pelajari (dalam hal ini kuadran II), apa yang kita lakukan tergeser ke dalam kuadran I. Jika mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya telah kita tempatkan dalam posisi yang paling penting, maka kepentingan-kepentingan yang lain akan beurutan hadir. Sering sekali kenapa urutan kita salah kaprah adalah karena titik disiplin kita untuk hidup sederhana belum pada tempatnya dan kita belum mengutamakan Tuhan dan Kerajaan Allah diatas segalanya. Sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang boleh mendahului Kerajaan Allah, termasuk keinginan akan gaya hidup yang sederhana. Jangan sampai kita ingin begiru hidup sederhana sampai kita tidak lagi dalam rangka mendahulukan Kerajaan Allah. Kesederhanan menjadi penyembahan berhala jika hal ini lebih diutamakan daripada mencari Kerajaan Allah. Kesederhanaan sangat penting, tetapi jangan sampai salah urutan atau posisi.

Kebebasan dari kekuatiran merupakan salah satu bukti batiniah dari usaha mencari Kerajaan Allah terlebih dahulu. Apa yang harus kita lakukan untuk mencari Kerajaan Allah dan kebenaranNya terlebih dahulu? Melayani bukan. Jadi apa? Melayani tidak salah. Tetapi jika melayani menjadi tempat utama, bukan Tuhan, tentu saja menggeser posisi Tuhan. Menempatkan sesuatu atau seseorang di posisi yang seharusnya adalah Tuhan, berarti sesuatu atau seseorang itu telah menjadi berhala kita. Satu bukti batiniah bahwa kita berusaha mencari Kerajaan Allah terlebih dahulu adalah kita bebas dari kekuatiran. Kebebasan ini tidak ada sangkut pautnya dengan kelimpahan atau kekurangan harta. Ini merupakan sikap batin dan keadaan hati yang penuh percaya. Apakah kita percaya bahwa Allah memelihara kita? Apakah kita percaya bahwa untuk mati pun Dia sudah lakukan, apalagi untul hal-hal lain yang kita perlukan masa Dia tidak peduli?

Kekuatiran atau kecemasan akan sangat menyiksa dan memperbudak kita, dan mempengaruhi semua hidup kita termasuk keputusan-keputusan kita. Ingat, jika kita mengambil keputusan dalam keadaan kuatir akan membahayakan. Oleh sebab itu dalam mengambil keputusan-keputusan penting ambillah waktu tenang bersama dengan Dia. Kebebasan dari kecemasan atau kekuatiran ditandai dengan tiga sikap batin.

1. Jika apa yang kita miliki telah kita terima sebagai satu pemberian.
Apapun itu, pekerjaan, pelayanan, pasangan, dll, adalah pemberian Allah. Tidak ada hak kita sedikitpun di sana. Tuhan hanya menitipkan segalanya untuk kita tanggungjawabi dan hidupi dengan benar.

2. Jika apa yang kita miliki dalam pemeliharaan Allah.
Jika kita menerima dan Tuhan mau ambil karena Tuhan merasa hal tersebut tidak cocok lagi bagi kita, hal tersebut tentu kita terima. Kita serahkan karena bukan milik kita, tetapi milik Tuhan, termasuk hal-hal yang kita cintai sekalipun. Jika kita memiliki konsep dan tetap mempertahankannya maka kita sendiri yang akan mengalami kesakitan dan terluka. ’Luka-luka’ kita sering terjadi karena hal ini, karena kita tidak menyerahkannya dalam pemeliharaan Allah. Kita ingin mengatur sendiri hidup dan rancangan kita. Bukan berarti kita tidak boleh membuat rencana, tetapi dalam semuanya kita harus ingat bahwa semua adalah milik Tuhan dan Tuhan berhak atas semuanya.

3. Jika apa yang kita miliki tersedia bagi orang lain.
Jika kita diberikan uang, ini bukan kita. Bukan berarti sewaktu kita gajian, kita membagikan kepada orang-orang di jalan. Bukan! Tetapi kita adalah pengelolanya, yang harus dapat, mengelola uang itu dengan baik.

Tiga hal inilah yang perlu kita periksa. Bagaimana keadaan batin kita mengenai apa yang Allah berikan bagi kita. Apa yang Allah berikan tidak harus harta, tetapi dalam bentuk banyak hal. Jika ketiga hal ini ada dalam kita maka kita tidak akan menjadi orang yang cemas dan kuatir akan hidup ini. Jadi banyak sekali kekuatiran itu kita yang buat sendiri.

Simplicity dalam kehidupan sehari-hari.

• Belilah barang-barang yang benar-benar karena kegunaannya yang kita butuhkan bukan karena status,gengsi/prestise.
Misalnya, apakah kita membeli HP demi fungsinya atau demi gengsi?

• Tolaklah segala sesuatu yang menimbulkan kecanduan/keterikatan dalam diri kita
Mari kita memeriksa apa yang membuat kita terikat di dalamnya. Jika ada, mari segera membenahinya.

• Kembangkan kebiasaan untuk memberikan barang saudara kepada orang lain
Adakah barang-barang kita (mis. Baju ) yang lebih dari satu bulan tidak dipakai? Jika ada, kenapa tidak diberikan saja kepada mereka yang lebih butuh? Kembangkan kebiasaan untuk memberikan barang kepada orang lain.

• Jangan mau dipengaruhi oleh propaganda-iklan
Iklan dibuat agar kita berfikir kita memerlukan produk yang dipasarkan. Jadi iklan yang menentukan keperluan kita, bukan diri kita sendiri. Hal ini tidak benar.

• Belajarlah menikmati barang tanpa memilikinya.
Bukan berarti kita mengambil barang orang. Misalnya untuk buku. Jika kita hanya butuh satu bab dalam buku tersebut kita bisa meminjamnya ke Perpustakaan.

• Kembangkan penghargaan yang lebih dalam tehadap ciptaan Tuhan.
Saya tidak tahu, kapan kita terakhir mensyukuri kicauan burung atau bunga di taman. Sewakti itu saudara lakukan, kita akan semakin sadar bahwa itu seemua adalah ciptaan Tuhan. Akan banyak sekali efek positif yang akan terjadi dalam hidup kita.

• Sikapi fasilitas kredit dengan bijak.
Ketika kita menggunakan fasilitas kredit akan membuat kita terperangkap dengan hutang.

• Katakan ya jika ya dan katakan tidak jika tidak.
Hal ini berhubungan dengan ketulusan hati yang berpusatkan pada Tuhan. Jika pusat hidup kita bukan Tuhan, maka kita akan sering berubah-ubah. Jika kita tenang, kita akan menjawab ’iya’, tetapi sewaktu kita takut kita akan mengatakan ’tidak’.

• Tolaklah segala sesuatu yang akan menyebabkan orang lain menderita.
Jika agar supaya kita merasa nyaman maka orang lain menderita, tolaklah. Hal ini bertentangan dengan spirit dunia. Dunia mengajak kita untuk menarik sebanyak mungkin untuk diri kita.

• Hindarilah apa saja yang mengalihkan saudara dari mencapai tujuan yang utama.
Apakah sahabat, pekerjaan, uang, apapun itu, jika mengalihkan saudara dari tujuan utama saudara, yaitu mencari Kerajaan Allah dan kebenaranNya, maka hindarilah.

Beberapa peringatan buat kita dari Alkitab.
1. Apabila harta makin bertambah janganlah hatimu melekat padanya (Mzm 62:11)
2. Siapa yang mempercayakan diri kepada kekayaannya akan jatuh ( Amsal 11:28 )
3. Yesus, pada zamannya menyatakan perang terhadap materialisme-”mamon” sebagai ”allah saingan” (lukas 16:13)
4. Jangan mengumpulkan harta di bumi, dimana hartamu berada di situ juga hatimu berada (Mat 6:19,21)
I Tim 6:9-10: ,” Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”
Kaya tidak salah, tetapi mencintai kekayaan adalah hal yang salah.
5. I Tim 3:3: mengatakan kriteria yang Tuhan harapkan bukan hamba uang
6. Efesus 5:5 menyatakan serakah-pemuasan selera semata-penyembah berhala~Tuhan mereka ialah perut mereka Fil 3:19
7. I Tim 6:17-19 merupakan peringatan bagi orang kaya supaya jangan tinggi hati dan berharap pada kekayaan. Kita dianjurkan kayalah dalam kebajikan

Jangan juga kita menjadi Asketisme dima kita tidak boleh kaya dan menjadi orang yang menolak untuk memiliki sesuatu.

Kesederhanaan adalah satu-satunya hal yang dapat mereorientasi kehidupan kita secukupnya. Sehingga harta milik dapat dinikmati dengan ikhlas tanpa menghancurkan kita. Betapa banyaknya orang ketika memiliki duit menjadi tidak setia.
Sebagai penutup, saya akan merangkaikan tiga pertemuan kita dalam seri Celebration of Disciplines. Disiplin-disiplin rohani merupakan pintu menuju kemerdekaan. Disiplin rohani adalah jalan/sarana anugerah Allah membentuk dan membaharui kita sehingga kita menjadi manusia merdeka yaitu merdeka hidup dalam Roh dan kebenaran. Buah Roh bukan karena kita sadar maka keluar. Ketika kita lengah pun, buah Roh akan keluar. Buah Roh akan keluar kapan saja karena telah menyatu dalam kita dan menjadi ciri khas kita. Munkin sewaktu dibilang, ”Kamu baik sekali ya?”, maka kita merasa biasa-biasa saja karena hal tersebut telah menjadi hidup kita. Kita tidak merasa hal tersebut menjadi sesuatu yang luar biasa. Tetapi bagi dunia ini, hal tersebut menjadi sesuatu yang sangat indah dan istimewa dan dunia sangat membutuhkan hal ini.
Hati-hati dimana ada tiga musuh unggul kita pada zaman ini: kebisingan, ketergesaan dan kerumunan orang. CG Jung, dokter penyakit jiwa, menyatakan bahwa ketergesaan itu bukan dari iblis melainkan adalah iblis. Jika hidup kita selalu tergesa-gesa, hati-hati, mungkin kita hidup bersama dengan iblis. Karena itu kita dipanggil untuk solitude di tengah-tengah kebisingan, ketergesa-gesaan dan kerumunan. Disiplin kesendirian untuk berdua dengan Tuhan. Keadaan batiniah yang merdeka akan terlihat dalam kehidupan sehari-hari dimana kita menjadi orang yang tulus dan sederhana. Pusat hidup kita adalah Tuhan sehingga akan melahirkan kemerdekaan, sukacita dan keseimbangan. Kita akan melihat secara rohani.
Ada beberapa yang setiap hari perlu menjadi disiplin kita, yaitu:

Pray continually ( 1 Thes. 5: 17).

Read and meditate the word of God (Psalm 1: 2).

Solitude, silence, stillness (Is. 30:15, 40:31).

Simplicity (Mt 5:25-34).

Give thanks in all circumstances ( 1 Thes. 5: 18).

Self denial, take up the cross daily and follow Him (Luk. 9: 23).

Confession: Being honest with God.

Sabbath and Journal keeping (Psalm 42: 5).

Always be prepared to share the Gospel (1Pet. 3:15).

Banyak hal yang bisa kita komitmentak untuk menjady disiplin kita setiap hari. Sehingga kita menjadi seseorang yang melampaui apa yang kita pikirkan. Kehidupan rohani kita bisa semakin bertumbuh dan bertumbuh. Kita semakin dekat dengan Tuhan dan menikmati Tuhan dan Tuhan pun akan semakin menikmati hidup kita yang semakin menjadi berkat bagi sesama. Jika ada diantara kita belum menikmati solitude, tidak apa-apa. Jangan langsung menyerah. Kadang-kadang hal ini perlu latihan dan semakin lama kita akan semakin gampang menikmatinya. Pada waktunya saudara akan mengalami Tuhan di dalam solitude saudara dan hal ini akan membuat hidup saudara lebih indah. Everyday discipline.

Soli Deo Gloria!

Celebrate of Discipline 2: S O L I T U D E

Indrawaty Sitepu, MA



Hari ini kita akan mempelajari topik ke dua dari seri Celebrate of Disciplines yaitu The Discipline of Solitude.

Zaman sekarang ini adalah zaman yang tidak mengenal disiplin. Disiplin sudah hilang tidak berbekas. Padahal kita memerlukan karakter Kristen yang tangguh, yang hanya di dapat melalui disiplin. Kunci dari disiplin adalah penguasaan diri atau penundukan diri untuk melakukan sesuatu yang lebih penting dan mulia. Seluruh perjalanan pertumbuhan rohani kita melibatkan unsur disiplin. Seberapa jauh kita mengalami pertumbuhan rohani tergantung berapa disiplin tidaknya kita dalam hal-hal rohani. Mau sehebat apapun doanya, jika hanya sekali seumur hidup, berarti doa bukan bagian kehidupannya. Bahkan sehebat apapun khotbahnya, jika kecintaan kepada Firman bukan bagian dari hidupnya, itupun bukan sebuah kedisiplinan. Melakukan disiplin rohani tidak dapat dijadikan dalih untuk hidup mengasingkan diri dari dunia. Disiplin rohani bukan menghilangkan gelak tawa dari dunia ini. Sebaliknya, disiplin rohani seharus- nya dipandang sebagai sarana untuk menaklukkan keduniawian. Bukan untuk menjauhkan diri dari dunia, tetapi untuk melayani dunia – itu adalah tujuan disiplin rohani sebagaimana terlihat di Alkitab. Bukan menjauhi dunia ini dimana kita membuat satu komunitas sendiri yang tidak boleh ada orang lain di dalamnya. Ironisnya, keadaan kita membuat kita orang Kristen kehilangan suara kita. Kualitas kita dipertanyakan. Religius oke, yang menjadi pertanyaan apakah kehidupan spiritualitasnya benar?

Secara umum rasa takut ditinggalkan sendiri menghantui banyak orang, baik anak kecil, orangtua, dan orang seperti kita. Beberapa hari yang lalu, saya dengan bebrapa orang pergi ke RS Pirngadi Medan dan bertemu dengan Ompung Hutabarat. Dia sudah tua dan keluarganya jarang datang melihat dia. Dia kemudian mengatakan, ”Ga’ tahu lah aku kenapa ya..? Takut aku!” [di dalam ruangan tersebut hanya dia sendiri]. Banyak faktor yang membuat dia takut. Tetapi mungkin karena sering sendiri dan di dalam kesendirian itu dia takut. Semua manusia pada umumnya takut ditinggal sendiri. Ketakutan kita inilah yang sering mendorong kita mencari tempat ramai atau terkadang kita merasa harus ditemani. Pada zaman sekarang inipun kita bisa bingung jika tidak ada HP, sehingga tidak tahu harus melalukan apa. Atau bahkan menghabiskan waktu dengan menonton TV. Ini (mungkin) adalah gejala bahwa kita takut sendiri. Yesus memanggil kita di tengah-tengah kesepian di dalam kesendirian. Ini adalah dua hal yang berbeda.

Kesepian yang mengarah pada psikologis adalah merasa tidak ada yang mengerti kita baik di kantor maupun pelayanan, merasa tidak ada yang menghargai kita, merasa tidak ada yang peduli dengan pergumulan kita, merasa tidak ada orang lain yang mengerti kita apa adanya, harus memakai topeng agar orang lain menerima kita, dan harus selalu tampil baik dan tidak boleh salah dan gagal.

Kesepian yang lebih bersifat rohani.

1. Adanya kekosongan dalam batin atau jiwa yang tidak bisa dipuaskan oleh materi atau psikologi (Mat. 4:4, Yoh. 4: 13-14)

2. Adanya kebutuhan akan kedamaian, sukacita dan makna hidup yang hanya bisa diisi oleh sang Pencipta, melalui karya sang Juruselamat dunia ( Luk. 2: 11, 14; Ro. 5: 1-11).

3. Blaise Pascal berkata: “Hati manusia biar kecil, namun jika seisi dunia diisi kedalamnya tetap tidak akan memuaskannya, sebab hanya sang Pencipta yang bisa memuaskannya”.

Itu sebabnya banyak orang yang setelah alumni mengisi kekosongan dengan cara-cara lain. Mereka tidak semakin terisi tetapi akan semakin haus dan tidak jarang terseret ke tempat yang sulit untuk kembali kepada Tuhan.

Solitude adalah aloneness (kesendirian) bukan loneliness (kesepian). “ Solitude was not simply a matter of being alone, but of being with God!” Jadi, solitude adalah kesendirin, tetapi bukan kesendirian yang betul-betul sendiri, tetapi justru berdua bersama dengan Tuhan. “Solitude is not only a place of aloneness, but it is a place of companionship and fellowship with the Father! It is not only a place of stillness, but conversation.” Jadi bukan hanya sekedar duduk dengan tenang. Tetapi menikmati sebuah percakapan atau komunikasi yang heart to heart dengan Tuhan. Jadi, jika loneliness itu alone without God, maka solitude itu alone with God! Jika loneliness itu inner emptiness, maka solitude itu inner fulfillment (kepuasan batin)! Kesepian merupakan kekosongan batin tetapi kesendirian adalah kepuasan batin, keadaan pikiran dan hati kita sehingga bukan hanya masalah tempat. Ingat, tempat yang tenang tidak selalu membawa orang ke dalam solitude, tetapi orang yang solitude sewajarnya berada di dalam tempat yang tenang.

Jika kita memiliki kesendirian dalam batin, maka kita tidak akan takut untuk sendirian, karena kita mengetahui bahwa kita tidak sendiri. Kita juga tidak takut untuk bersama orang lain, karena mereka tidak akan menguasai kita. Orang yang bersolitude tidak berarti dia hidup sendiri, dingin, dan tidak bersosialisasi. Dia juga adalah sahabat yang hangat yang bisa dekat dengan kita. Ditengah-tengah kegaduhan dan kekacauan, kita bisa tetap tenang dalam keheningan batin yang mendalam. Kenapa? Karena keheningan itu datang dari dalam, yaitu batinnya. Kesendirian dalam batin akan dinyatakan secara lahir. Jika batin kita mengalami solitude dalam hari-hari kita dengan disiplin, biasanya akan terlihat lewat kehidupan kita sehari-hari.

Kita akan melihat Yesus dan kesendirian. Banyak sekali contoh-contoh dalam Alkitab yang mengemukan betapa Yesus selalu bersolitude. Dan pada waktyu-waktu tertentu Dia bersolitude bersama dengan murid-murid.

• Mat 4:1-11à mengasingkan diri selama 40 hari di padang gurun mengawali pelayananNya
• Lukas 6:12à sendirian di bukit sebelum memilih 12 muridNya
• Mat 14:13à menyingkir dan mengasingkan diri ketika menerima berita tentang kematian Yohanes Pembaptis
• Mat 14:23à ke atas bukit untuk berdoa seorang diri, setelah mukjizat memberi makan lima ribu orang
• Mark 1:35à Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana, setelah bekerja dan melayani dengan jadwal yang sangat padat
• Mark 6:31à Marilah ke tempat yang sunyi supaya kita sendirian, setelah murid2 selesai PI dan penyembuhan
• Lukas 5:16à Yesus mengundurkan diri ke tempat yang sunyi dan berdoa setelah menyembuhkan seorang yang berpenyakit lepra
• Mat 17:1-9à Bersama tiga muridNya ke gunung yang sepi di mana Ia menyatakan kemuliaanNya
• Mat 26:36-46à Suasana kesendirian di taman Getsemani , menaklukkan kehendak- NYA kepada kehendak BapaNYA - sebelum disalib – menyerahkan nyawaNYA
Yesus adalah teladan untuk bersolitude. Solitude bukan sebuah penemuan baru. Solitude adalah teladan dari Tuhan kita, Yesus Kristus.

Tanpa keheningan dan ketenangan tidak ada kesendirian. Silence, hening, stillnes, dan tenang adalah awal membentuk kesendirian. Burn Hoven mengatakan berdiam diri yang sebenarnya, ketenangan yang sebenarnya adalah menahan lidah kita. Dan hal ini hanya didapatkan dengan ketenangan batin. Sulit kita merasakan keadaan itu hening jika kita tidak berdiam diri. Tetapi orang yang diam belum tentu hening. Dia memang diam tetapi pikirannya kemana-mana. Tetapi hening biasanya kita diam. Langkah kongkrit untuk hening adalah diam. Diam bukan hanya mulut tetapi juga pikiran. Semua dibawa ke dalam ketenangan. Tenang juga bukan hanya sekedar bahasa tubuh yang tidak bergerak, tetapi berbicara soal keadaan batin yang memang terlihat secara lahiriah. Jadi bukan soal duduk, di tempat yang sunyi. Ini semua penting, tetapi kuncinya adalah mengendalikan diri (pikiran, mulut, hati) dan diserahkan kepada Tuhan. Pengkhotbah 3:7 mengatakan ada waktunya diam ada waktunya bicara. Tetapi kita sering kita yangharusnya diam tetapi kita berbicara. Dan Yak 3:1-12 berbicara soal dosa lidah. Jadi lidah atau mulut dan pembicaraan bukan Cuma bisa menimbulkan dosa apakah gosip tetapi juga bisa membuat kita tidak bisa berdua atau bersolitude dengan Tuhan. Jika kita diomongin tidak benar oleh orang, tentu saja kita ingin langsung mengklarifikasi sesegera mungkin. Ini adalah kecenderungan naluriah kita. Sebenarnya, apakah kita melakukan hal tersebut untuk menjaga nama baik kita? Jika iya, apakah Tuhan tidak lebih baik menjaga nama baik kita? Apakah Tuhan tidak lebih bijaksana melakukan hal tersebut? Jadi sebenarnya, jika kita pingin menjelaskan kepada orang bahwa kita tidak seperti itu, mungkin karena kita kurang percaya bahwa Tuhan sanggup melakukan segala hal tersebut lebih baik dari yang kita lakukan. Tuhan lebih baik mengontrol dari pada kita yang mengontrol. Sering sekali kita ingin semua berada di dalam kontrol kita. Itulah sebabnya jika orang diruh berdiam diri, maka dia akan bingung. Kita memang susah melepaskan kontrol kita kepada Tuhan. Jika kita percaya kepada Tuhan, ada banyak hal yang tidak perlu kita jelaskan tentang diri kita kepada orang lain. Biar kebenaran itu menunjukkan dirinya. Akan nyata kebena- ran Tuhan menunjukkan kebenaran. Akan nyata bahwa kita yang hidup dalam kebenaran adalah benar.

Ada beberapa alasan kenapa kita harus bersolitude.

1. Untuk bergaul dan bersekutu dengan Bapa di Sorga!
Kita berdiam diri bukan karena ‘bete’.

2. Untuk memulihkan dan memelihara persekutuan kita dengan sang Pencipta dan Penebus kita
Dengan sesama mungkin kita sering emmakai topeng agar diterima. Tetapi bertemu dengan Tuhan kita tidak memakai topeng. Kedangkalan kita, kesomongan kita, keengganan kita, dll, semua terlihat dengan jelas dan tidak bisa ditutup-tutupi.

3. Belajar melihat apa yang kita hadapi dengan perspektif Tuhan: siapa Dia, kita dan dunia.
Dengan bersolitude kita semakin tahu apaka kita mengalami penurunan kualitas rohani. Apak kita terlalu sibuk dengan diri kita sendiri sehingga hati kita tidak tersentuh melihat berbagai hal di sekeliling kita. Jika kita bertemu dengan Tuhan kita akan semakin mengenal diri kita sendiri, dan dapat memandang dunia, orang lain, tugas, dll dengan benar, sehinnga kita dapat bersikap dengan benar dihadapan Tuhan.

4. Ingin mencari kehendak Allah, bimbi- ngan-Nya, atau peneguhan dari-Nya.

5. Bisa mengalami penghiburan dan pemuli- han kegirangan/sukacita serta damai dari-Nya.
Jika saudara merasa gersang dan tidak damai, mungkin saatnya saudara mengambil waktu untuk bersolitude.

6. Bertambahnya kepekaan dan belas kasi -han pada orang lain

7. Alami pemulihan kekuatan, kepekaan dan ketajaman, serta kedalaman (Lihat: Yes. 30: 15, 40:31, Mar 6:31).

Jika kita terus bertumbuh dalam solitude kita, maka disanalah kita mengalami kede- katan kita dengan Tuhan. Tidak ada jalan instant untuk hal tersebut. “The fruit of solitude is growing intimacy with God”.

Bagaimana melakukan solitude?

1. Cari/Upayakan tempat-waktu yang tenang dan sepi Memanfaatkan kesendirian-kesendirian kecil yang ada dalam hari-hari kita: saat dini hari (orang-orang belum bangun), sarapan , di angkot-dalam perjalanan, tinggal lebih lama di kantor, malam hari sebelum kita tidur. Jadi dalam keseharian, kita bisa melakukan solitude tanpa harus pergi ke tempat yang jauh dan makan dana yang besar.

2. Menenangkan diri: Berdiam diri
Silence dan Stillness

3. Bernyanyi: Memuji,menyembah Tuhan

4. Membaca Firman Tuhan , mis Lukas 10:25-30 dst

5. Membaca buku rohani (Spiritual Reading)

6. Pondering (merenung), Refleksi dan Journaling
Evaluasi diri, tinjau kembali tujuan dan sasaran hidup saudara

7. Planning

Jika arah hidup kita sudah salah, maka melalui splitude kita bisa dengan segera balik arah

8. Berdoa (Penyembahan, Syukur, Permohonan, Syafaat)

Disiplin kesendirian (solitude) itulah yang akan membuka pintu. Saudara disambut dengan tangan terbuka untuk mendengar perkataan Allah dalam ketenangan yang lembut,penuh cinta kasih, ajaib, hebat dan memikat. Ini tidak akan kita dapatkan dari dunia ini. Tuhan menerima kita apa adanya. Sewaktu kita membuka hati kita kepadaNya, maka pintu kepada liberatioan terjadi. Kita menjadi orang yang merdeka. Selamat merayakan kesendirian saudara secara disiplin dan berdua dengan Dia, Sang kekasih jiwa kita. Selamat menikmati kemerdekaan di dalam Dia dengan cara berdua dengan Nya. Tentu saja kemerdakaan yang dimaksud disini adalah karena kita mengalami Dia.
Soli Deo Gloria!!

Celebrate of Discipline 1: Door to Liberation

Indrawaty Sitepu, MA



Hari ini kita akan berbicara mengenai door to liberation. Disiplin-disiplin rohani yang kita miliki seharusnya membawa kita kepada kemerdekaan. Disiplin ini adalah pintu menuju kemerdekaan, bukan sebaliknya. Jadi, jika disiplin rohani telah menjadi sebuah rutinitas atau legalisme, hanya akan menuju kedangkalan dan kematian. Menurut Richard Foster, kedangkalan merupakan kutuk zaman kita. Doktrin kepuasan seketika merupakan persoalan rohani utama saat ini. Jika sudah doa dan sharing, maka langsung lega. Memang ada unsur lega di sana. Tetapi jika hanya sebatas lega agar tidak dikoreksi, maka apa yang kita lakukan adalah hal yang dangkal. Yang sangat dibutuhkan sekarang ini bukan lebih banyak orang cerdas atau orang-orang yang berbakat, melainkan orang-orang yang berpikir secara mendalam. Orang pintar dan berbakat sudah banyak, tetapi orang-orang yang bisa berpikir dengan dalam, peka dengan apa yang terjadi sangat sulit untuk di dapat. Mari membuka Mark 7:6, ”Jawab-Nya kepada mereka: "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku”, dan 2 Tim 3:5, ”Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!" Apakah nyanyian kita hanya sebatas di bibir atau keluar dari hati dan hidup keseharian kita. Hal ini menjadi pertanyaan bagi kita. Tetapi mari kita mengingat bahwa menjadi religius belum tentu memiliki spiritualitas yang benar. Menyembah di bibir tetapi hatinya jauh dari Allah.

Dalam 2 Tim 3:5 tadi dikatakan bahwa ada orang yang beibadah tetapi mengingkari kekuatan dari ibadah itu. Seharusnya ada perbedaan antara orang yang dekat kepada Tuhan dengan orang yang tidak dekat kepada Tuhan. Tetapi betapa banyaknya orang Kristen ketika selesai berdoa atau PA masih tetap memiliki iri hati dan hal-hal lahiriah lainnya. Jangan pernah berpikir bahwa hanya di Gereja hal-hal seperti ini banyak terjadi. Di persekutuan pun hal ini harus dipertanyakan.

Berbicara mengenai spirutualitas berarti berbicara seluruh aspek hidup, bukan hanya ketika kita Sate atau doa. Disiplin rohani itu bukan untuk orang-orang tertentu seperti biarawan dll. Tetapi disiplin rohani juga untuk orang-orang yang biasa, yang mempunyai pekerjaan dan kesibukan kehidupan sehari-hari. Disiplin rohani juga bukan pula pekerjaan yang membosankan yang ditujukan untuk melenyapkan gelak tawa dari muka bumi. Terkadang orang berpikir bahwa seseorang yang memiliki spiritualitas yang tinggi tidak boleh terbahak-bahak dan harus menjaga imagenya.

Kesukaan merupakan kunci dari disiplin rohani. Jika kita merasa terpaksa memuji Tuhan, maka hal tersebut akan menjadi sesuatu yang membosankan. Kesukaan membuat seseorang itu tanpa terasa dapat berdoa berjam-jam. Tujuan disiplin rohani adalah pembebasan dari perbudakan yang mencekik kepada kepentingan dari sendiri dan ketakutan. Sewaktu kita melakukan disiplin-disiplin rohani (berdoa, baca Firman), sebenarnya apa yang terjadi di sana? Roh di dalam batin seseorang dilepaskan dari semua hal yang mengekangnya. Ada banyak yang dapat mengekang roh kita seperti tekanan-tekanan batin atau lingkungan, target kita dll. Syarat utama dari disiplin rohani adalah rindu kepada Allah. Kuncinya adalah kesukaan dan syarat utamanya adalah kerinduan. Apakah kita beda jika kita melakukan waktu teduh kita dan doa kita dengan perasaan eager (betul-betul ingin melakukan) daripada ketika kita bermalas-malasan. Pasti sangat berbeda. Jadi, sejauh mana kita melakukan disiplin rohani kita dengan kerinduan bertemu dengan Tuhan? Tuhan tidak suka dibohongi. Tuhan tahu setiap hati kita ketika kita datang kepada Dia. Bagaimana kondisi dari disiplin rohani kita akan terlihat oleh kita atau orang lain sewaktu kita menghadapi permasalahan hidup. Sepanjang semuanya baik-baik saja memang agak sulit untuk memeriksanya. Tetapi bagaimana ketika kita menghadapi masalah seperti kemarahan, kedengkian, kerakusan, kesombongan, nafsu seks, ketakutan, dll?

Biasanya metode kita dalam mengatasi dosa yang mendarah daging adalah dengan melancarkan serangan dari depan. Artinya kita mengandalkan kemauan keras kita dan ketetapan hati kita. Kita mencoba untuk tidak melakukannya lagi. Kita berjuang melawannya dan kita menyiapkan kehendak kita memusuhinya. Tetapi yang terjadi adalah kita bisa lebih parah lagi. Mungkin untuk sesaat kita bisa lepas, tetapi untuk selanjutnya? Kita biasanya bangga dengan kebenaran lahiriah. Hal ini sama saja seperti kuburan yang dilabur putih. Dari luar kelihatan berhasil sementara waktu, tetapi cepat atau lambat di dalam keretakan dan celah-celah hidup kita, keadaan batin kita yang sebenarnya akan nyata. Jika kita penuh dengan belas kasihan, hal itu akan nyata dan sebaliknya, jika kita penuh dengan kebencian, kesombongan hal itu pun akan dinyatakan. Walaupun kita berusaha untuk menyembunyikan, sifat kita akan disingkapkan oleh mata kita, mulut kita, dan seluruh bahasa tubuh kita. Kenapa? Karena kemauan kita tidak memadai untuk mengerjakan perubahan yang perlu di dalam roh batin kita. Kita tidak sanggup membangun kerohanian kita dengan upaya kita sendiri. Itulah sebabnya disediakan disiplin-disiplin rohani untuk membuka pintu kemerdekaan.

Kebenaran batin adalah pemberian Allah. Perubahan di dalam diri kita adalah pekerjaan Allah. Hanya Tuhan yang dapat bekerja di batin. Roma 5 mengatakan kebenaran adalah pemberian Allah. Hal ini tidak berarti tidak ada sesuatu yang dapat kita kerjakan. Bagian kita adalah menanti Allah dan mempersilahkan Dia untuk mengubah kita. Itulah sebabnya disiplin rohani membukakan pintu kemerdekaan karena Allah memberikan kita disiplin-disiplin rohani sebagai satu upaya untuk menerima anugerahnya. Saya tidak tahu kapan saudara menagalaminya, menurut saya hal ini seharusnya menjadi pengalaman kita bersama-sama dengan Tuhan. Waktu kita datang kepada Tuhan, begitu banyak anugerah yang kita alami. Anugerah bukan hanya sekedar ketika kita berdoa agar kita lulus dan kita lulus. Ini memang berkat, tetapi berkat yang hari lepas hari berlimpah kita alami dalam menjalankan disiplin rohani yang kita lakukan. Disiplin-disiplin ini memungkinkan kita untuk menempatkan diri kita dihadapan Allah agar Ia dapat mengubah kita. Kita melakukan disiplin itu sebagai wadah dimana Allah mengubah kita. Orang saleh bukan orang yang paling banyak pelayanannya. Orang yang saleh adalah seorang pendoa. Dan orang seperti inilah yang paling dibutuhkan sekarang ini. Disiplin-disiplin rohani itu sendiri tidak dapat mengerjakan apa-apa. Hanya dapat membawa kita ke tempat dimana sesuatu dapat dikerjakan oleh Allah. Disiplin adalah sarana anugerah Allah. Kebenaran batin yang kita cari bukan sesuatu yang kita curahkan ke atas kepala kita. Disiplin sebagai alat yang menempatkan kita dimana Ia dapat memberkati kita. Itulah kenapa kita harus disiplin berdoa dan melakukan disiplin lainnya.

Disiplin rohani adalah jalan anugerah yang disiplin. Maksudnya adalah disiplin rohani itu merupakan jalan anugerah Allah bagi kita yang perlu kita disiplinkan. Hal ini berbeda denagn rutinitas. Bukan jalan kegagalan moral melalui usaha manusia untuk mendapatkan kebenaran. Inilah yang disebut dengan kesesatan moralisme, dimana seseorang merasa melalui setiap usaha manusialah, dia memperoleh kebenaran.
Disiplin rohani bukan jalan kegagalan moral karena tidak ada usaha manusia sama sekali. Karena pemberian Allah, maka usaha manusia tidak ada. Ini salah. Ini adalah kesesatan antinomianisme dimana segala hukum moral tidak ada gunanya dan hanya iman yang diperlukan untuk mendapat keselamatan. Disiplin rohani adalah mempersilahkan Tuhan untuk memenuhi dan mengubah kita. Sehingga orang yang menjalankan disiplin-disiplin rohaninya bukan hanya sdaat dia sadar buah roh itu nampak, justru saat dia lengah pun buah itu yang muncul dari hidupnya. Utnuk menilai orang saat baik pada saat dia lengah. Jika dia sadar sesadar-sadarnya, apalagi di depan orang yang dia hormati, maka dia bisa berbeda. Tetapi jika dia lengan maka tidak ada lagi kepura-puraan dan itulah dia sebenarnya. Pada saat kita lengah maka spontan akan mengalir dari kehidupan batin kita kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri ( Gal 5:22-23). Semua hal-hal ini mengali dengan sendirinya dari hidup seorang yang memiliki disiplin rohani yang merupakan pintu kemerdekaan itu. Dia merdeka untuk hidup seperti apa yang Tuhan inginkan dan rancang. Dia merdeka, bukan karena dipaksa oleh keadaan, status, tetapi mengalir secar alami bahkan saat dia lengah sekalipun. Itulah buah disiplin rohani yang terlihat dalam keseharian kita. Religius belum tentu spiritualitasnya benar, tetapi orang yang memiliki spiritualitas yang benar akan terlihat dalam seluruh aspek hidupnya, karena bicara mengenai spiritualitas kita bicara soal totalitas hidup dimana tidak ada bagian yang tidak terkait dengan spiritualitas kita.

Jika disiplin berubah menjadi rutinitas dan hukum maka akan menghasilkan kedangkalan dan kematian (secara rohani). Mat 5:20, ” Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” [band Mat 23:3, 13, 14, 15, 16, 23, 25-28]. Pada bagian ini kita akan menemukan bagaimana peringatan dan kecaman kepada Ahli taurat yang dilakukan oleh Yesus karena mereka hanya pintar mengajar tanpa menghidupinya. Ini menjadi peringatan bgi kita juga. Ini adalah akibat dari disiplin rohani yang menjadi hukum dan rutinita. Bukannya menjadi pintu pada kemerdekaan, disiplin rohani menjadi jalan kematian. Hal ini terjadi karena mengutamakan lahiriah dan kesalehan pura-pura. Mereka tidak membawa orang lebih dekat kepada kerajaan Allah, tetapi makin jauh. Jika aktifitas rohani orang Farisi tidak kita ragukan. Oleh karena itu Yesus meminta kita melakukan segala sesuatu yang mereka ajarkan tetapi tidak meniru perbuatan mereka yang mengajar tetapi tidak melakukannya. Jika disiplin berubah menjadi hukum, maka biasanya akan dipakai untuk memanipulasi dan menguasai orang lain. Makanya disebut sebagi jalan kematian. Dalam 2 Kor 3:6 dikatakan bahwa Roh menghidupkan. Disiplin rohani akan membawa kita ke hadiratNya, membaharui kita dari hari ke hari sehingga kita menjadi orang yang lebih kuat, disempurnakan dan tidak labil. Dalam tindakannya, nyata buah roh itu menyertainya. Ada kasihan dan kelemah lembutan yang membuat dia memutuskan semuanya itu. Tetapi sebaliknya, jika disiplin rohani menjadi rutinitas dan hukum maka disiplin itu tidak ada kuasanya akan membawa kepada kematian. Seolah-olah kita rohani, sebenarnya hanya kelihatannya rohani. Pembaharuan tidak dialami dalam hidupnya.

Disiplin rohani merupakan sebuah pintu menuju kemerdekaan jika kita dengan setia. Apakah kita telah disipilin melakukannya? Mari kita bersama memiliki kemerdsekaan di dalam persekutuan dengan Tuhan, memiliki hidup dengan disiplin rohani yang merupakan pintu kemerdekaan bagi kita.
Soli Deo Gloria!

Family bgn 3- Preparing For Godly Family

Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div

Hari ini kita akan berbicara tentang bagaimana mempersiapkan keluarga ilahi. Keluarga yang bermisi hanya bisa terjadi jika kita hidup dengan visi dan panggilan hidup yang. Dalam Amsal 29:18 dikatakan, “Bila tidak ada wahyu (visi), menjadi liarlah rakyat…” Betapa penting- nya visi dalam hidup anak Tuhan, kepemimpinan, dan juga keluarga. Memiliki visi yang tajam akan menentukan semua keputusan dan pilihan kita. Seseorang akan rohani bukan karena dia bernyanyi rohani atau memiliki jabatan rohani. Tetapi, seseorang disebut rohani atau tidak dapat dilihat dari keputusan, pilihan, dan hal-hal yang ada di dalam hidupnya. Orang yang rohani pasti memilih yang rohani. Orang yang dewasa rohani pasti akan memilih hal-hal yang dewasa rohani, menggunakan uangnya untuk hal-hal yang benar dan tepat. Tidak mungkin orang yang dewasa secara rohani tidak memberi perpuluhan tetapi dapat menonton dua kali seminggu. Itulah sebabnya penting visi dan panggilan hidup di dalam menata satu keluarga yang Ilahi, karena visi membuat kita mengetahui prioritas dan membuat kita maksimal dalam hidup, termasuk di dalam pernikahan. Visi membuat kita mampu bertahan menghadapi pasangan hidup kita apapun kekurangan dan kelemahannya.

Bagaimana kita mempersiapkan Godly Family?
Pertama, mari melangkah karena kita yakin akan mandat umum dan mandat khusus ada bagi kita. Mandat umum adalah seperti yang sudah kita pelajari, yaitu Kej 1:27-28, “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.", dan mandat khusus seperti dalam Mat 19:11-12, ”Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti." Jika sudah yakin kita dipersiapkan Allah untuk melahirkan anak biologis dan anak theologis sekaligus, maka berdoalah untuk teman hidup.

Kedua, Godly Family dibangun dengan orang yang masuk dalam keluarga itu mengerti visi dan misinya secara pribadi, bukan sekedar ingin menikah maka kita menikah, bukan karena orang memiliki anak, maka kita ingin memiliki anak juga, bukan karena orang gandengan maka kita ingin gandengan juga.

Ketiga, kita menyadari panggilan Allah ketika melangkah. Ketika kita sadar akan panggilan Allah untuk berkeluarga atau tidak berkeluarga, biarlah hal tersebut menjadi aktualisasi visi yang dari Allah. Ingat, jangan menikah jika hal tersebut melanggar visi Allah. Hal ini dapat membuat hidup kita tidak maksimal. Dalam kenyataan, banyak pasangan yang melanggar hal ini akhirnya mengeluh.

Perhatikan pertanyaan ini. What is the vision of your marriage? Jika teman-teman berpikir untuk pacaran atau menikah, pertanyaan ini harus dimunculkan, apa visi dari pernikahan anda? Jika visinya tidak jelas, maka jangan melangkah karena hanya akan menambah jumlah pasangan yang menderita dalam pernikahan. Ketika kita menyadari visi kita, maka pernikahan kita bukan sekedar mengikuti orang atau cemburu atau karena dipaksa oleh orang tua kita.

Mari kita belajar dari Abraham kepada Ishak tentang bagaimana mempersiapkan keluarga yang Ilahi. Mari membaca Kej 24:1-67.

Ketika Abraham tua, dia tidak bisa lagi mengerjakan apa yang menjadi persiapan untuk Ishak. Maka ia memanggil seorang hamba yang paling dipercayainya dan mengambil sumpahnya. Abraham yang diberkati Tuhan dalam segala hal (ay 1) menghendaki rencana (visi) Allah (Kej.12:1-3) digenapi melalui pernikahan anaknya, Ishak (ay 5, 8). Muncul pertanyaan, mengapa bukan Ishak yang pertama melakukan seperti ini. Ingat, waktu mereka di Kanaan, hanya keluarga ini yang beriman kepada YAHWE. Jadi, Abraham berkata kepada hambanya agar tidak mengambil perempuan Kanaan yang menjadi isteri Ishak, tetapi harus kembali ke kampung asalnya. Dia mengambil orang yang percaya. Jadi Abraham punya penglihatan dari Allah ketika Allah memanggil dia keluar dari Ur-Kasdim, pergi ke satu tempat yang ia tidak tahu (kelak tempat itu adalah Kanaan). Dan di sana, ia tidak mau rencana Allah gagal. Oleh karena itu ia berupaya membuat visi Allah digenapi dan salah satunya adalah melalui pernikahan Ishak. Itulah sebabnya Abraham menyuruh hambanya pergi ke kampung halamannya untuk mengambil seorang wanita untuk menjadi isteri Ishak. Jika kita perhatikan, Abraham tidak ingin anaknya menikah dengan orang yang tidak beriman (ay 4-8).

Dalam rangka inilah ia mengutus hambanya ke tanah leluhurnya, mencari orang yang tepat untuk menjadi isteri Ishak. Kenapa bukan Ishak yang pergi? Ingat, syarat isteri Ishak yang pertama adalah harus percaya kepada YAHWE dan tidak boleh dari Kanaan, oleh karena itu kembali ke kampung halaman. Jadi Ishak tidak pergi karena Abraham yang pergi ke luar dari Ur-Kasdim pergi ke Kanaan, tidak ingin akanknya akan tinggal di sana dan menghambat rencana Allah. Itu sebabnya Ishak tidak di ijinkan ke sana [ay 4-6]. Abraham melakukan hal ini agar visi Allah digenapi dalam Godly Family.

Dasar untuk berindak bagi Abraham adalah janji, panggilan, atau visi Allah yang harus digenapi. Abraham mengingat kembali janji Allah yang pernah ia terima di kampung halamannya. Dan untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa, ia mencari pasangan untuk Ishak, anaknya. Ketika kita berpikir dalam rangka untuk menikah mari belajar bahwa pernikahan Ishak yang direncanakan adalah demi kegenapan visi Allah. Pernikahan Ishak sebagai satu keluarga yang Ilahi agar janji Allah yang sudah diucapkan kepada Abraham puluhan tahun sebelumnya jangan sampai gagal. Itulah sebabnya sangat penting visi bagi setiap orang percaya agar kita melangkah dan mengambil keputusan berdasarkan visi itu. Jika kita berpikir untuk menikah, adakah hal ini di dalam penggenapan panggilan Allah bagi hidup kita? Visi Allah bagi kita? Kemudian, dari bagian Firman ini, hamba Abraham berangkat dengan mengandalkan pimpinan Tuhan (12, 26-27 ).

Apa yang menjadi dasar bagi hamba Abraham ini untuk mengetahui? Mari kita perhatikan ayat 14-19. Dalam bagian ini kita melihat ada satu tanda yang menghantarkan orang tersebut kepada orang yang dipimpin oleh Tuhan. Waktu itu hamba ini selesai berdoa, muncul seorang wanita. Cantik parasnya, perawan, dan punya karakter yang baik. Banyak orang menafsirkan bagian ini dengan mengatakan mencari teman hidup dengan menggunakan tanda dengan mengatakan, ”Tuhan jika akau besok ketemu perempuan baju pink dan ia menyapaku pertama kali, maka ialah pasanganku.” Pertanyaannya adalah bolehkah kita meminta tanda? Bukan boleh atau tidak boleh. Yang menjadi ukurannya adalah apakah tanda itu. Dalam bagian ini kita melihat bahwa tanda yang diminta di sini adalah karakternya. Kita wajib mencari calon pasangan kita dengan tanda atau kriteria. Salah satunya adalah visi hidupnya. Jadi jika tanda seperti ini yang kita minta, silahkan minta. Hal ini boleh bahkan wajib. Jika kita minta tanda adalah karakternya yang betul-betul alkitabiah, hal ini juga adalah tanda yang benar. Tidak ada satupun yang mau tinggal dengan perempuan yang cerewet. Amsal berkata lebih baik tinggal di sotoh rumah daripada tinggal denbgan wanita yang cerewet, siapa sih yang mau dengan laki-laki yang kasar dan kejam? Pasti tidak ada. Meminta seperti ini dibolehkan. Jadi bukan tanda model rambut, tinggi badan, jurusan, warna kulit, suku, dll. Tetapi tanda itu adalah pasti dari segi standar Firman Allah. Jika ingin membangun keluarga yang memiliki standart Ilahi sangat dibutuhkan visi yang jelas dan karakter yang jelas dan benar menurut standart Alkitab. Yusuf minta tanda. Di luar logika ia mengambil Maria yang hamil di luar nikah menjadi isterinya. Hal ini pasti tidak gampang. Tetapi Tuhan berbicara secara khusus. Artinya adalah, jika hal tersebut berasal dari Tuhan, maka jika pun hal tersebut tidak seperti yang kita inginkan dan jauh dari yang kita harapkan, tidak ada alasan bagi kita untuk menolaknya jika visi hidupnya jelas dan karakternya bagus. Demikian juga Abraham yang ingin standar yang jelas bagi calon isteri Ishak untuk membangun keluarga yang Ilahi. Jika kita ingin membangun keluarga yang Ilahi, standar Ilahi pria/wanita itu harus jelas. Jangan mengurangi standart pria/wanita tersebut. Jika kita mulai mengurangi standart ini, maka kita akan mulai gagal dalam perwujudan visi Allah. Banyak kasus dimana ketika mahasiswa aktif sebagai pengurus dan melayani dengan semangat tetapi ketika menikah mereka ’hilang’ dari ’peredaran’. Apakah kita ingin membangun keluarga seperti ini? Tentu tidak.

Di dalam ayat 21 dikatakan ada pergumulan di dalam mencari pimpinan Tuhan. Hamba ini bergumul ketika mengamati wanita tersebut. Kita juga harus mengamati calon pasangan kita yang memiliki standar Ilahi agar keluarga kita menjadi keluarga Ilahi yang bermisi. Tanda atau isyarat hanya sebuah petunjuk bukan penentu. Petunjuk tersebut harus realis (bukan aneh-aneh), tetapi dari segi karakter dan kebaikan. Di sinilah penting sebuah karakter bagi calon teman hidup kita [Ams 31:10-30, penting dibaca oleh pria yang ingin menikah, dan bagi wanita, penting untuk mempersiapkan diri untuk memenuhi standar ini. Bd Mzm 128:1-6; Ef 5:21-32]. Bagi yang laki-laki, jangan hanya terpukau pada kecantikan seorang wanita. Cobalah untuk mencintai inner beauty-nya. Jika tidak maka rumah tangga kita dapat menjadi bencana. Di dalam ayat 30-31 Amsal tadi dikatakan bahwa kecantikan adalah sementara dan kemolekan adalah sia-sia. Siapakah yang dipuji-puji? Isteri yang takut pada Tuhan. Jika seorang Isteri takut pada Tuhan pasti lembut, ramah, sopan, rajin, peduli, dan bisa menata keluarga. Oleh karena itu, bagi para pria, carilah wanita yang takut akan Tuhan. Bagi yang perempuan, siapakah laki-laki yang diberkati oleh Tuhan? Dalam Mazmur 128:1-6 dikatakan diberkatilah laki-laki yang takut akan Tuhan. Oleh karena itu, carilah pria yang takut akan Tuhan. Pria yang takut akan Tuhan tidak akan membuat wanita menjadi tempat bentakan setiap hari tetapi bertanggung jawab selamanya.

Oleh karena itu, hambanya Abraham melihatnya dan mengamatinya apakah wanita tersebut pimpinan Tuhan bagi Ishak atau tidak. Mari perhatikan ayat 24-27. Setelah melihat karakter Ribka yang baik, baru hamba Abraham bertanya mengenai keluarganya dan meminta menginap di rumah Ribka. Ribka memberikannya. Dan ketika hamba ini tahu bahwa Ribka anaknya Betuel, tahulah hamba itu bahwa wanita inilah yang dipimpin oleh Allah karena dia adalah anaknya saudara Abraham, seorang yang juga beriman kepada YAHWE. Kemudian kepada Laban yang ramah itu, hamba itu menyatakan maksud kedatangannya. (30-49). Mari kita perhatikan ayat 50-54, ”Lalu Laban dan Betuel menjawab: "Semuanya ini datangnya dari TUHAN; kami tidak dapat mengatakan kepadamu baiknya atau buruknya. Lihat, Ribka ada di depanmu, bawalah dia dan pergilah, supaya ia menjadi isteri anak tuanmu, seperti yang difirmankan TUHAN." Ketika hamba Abraham itu mendengar perkataan mereka, sujudlah ia sampai ke tanah menyembah TUHAN. Kemudian hamba itu mengeluarkan perhiasan emas dan perak serta pakaian kebesaran, dan memberikan semua itu kepada Ribka; juga kepada saudaranya dan kepada ibunya diberikannya pemberian yang indah-indah. Sesudah itu makan dan minumlah mereka, ia dan orang-orang yang bersama-sama dengan dia, dan mereka bermalam di situ. Paginya sesudah mereka bangun, berkatalah hamba itu: "Lepaslah aku pulang kepada tuanku.”

Mari kita perhatikan kalimat Laban, ada dua kata yang menarik. Dikatakan ayat 50, ”...semuanya ini datangnya dari Tuhan...” dan ayat 51,”...seperti yang difirmankan Tuhan.” Langkah anak-anak Tuhan langsung diresponi oleh Laban dan Betuel, bahwa semuanya ini datang dari Tuhan dan merupakan keinginan Tuhan. Mari belajar dari hal ini. Laban dan Betuel sudah melihat bahwa hal ini adalah pimpinan Tuhan.

Bagaimana respon Ribka? Ribka meneri- ma pinangan itu (58-61) karena ia tahu hal tersebut adalah pimpinan Allah. Ada satu standar atau kriteria yang benar untuk membangun keluarga yang ilahi. Standar atau kriteria yang telah dikemukakan hamba itulah yang telah meyakinkan Ribka. Jika ditanyakan kepada diri kita, apa yang meyakinkan kita melangkah dan mengambil keputusan untuk pacaran dengan dirinya? Adakah dalam rangka visi itu? Dari bagian Firman ini pastilah hamba Abraham ini cerita kenapa dia di utus, dan oleh karena itu Laban dan Betuel, dan bukan hanya mereka, tetapi Ribka juga melihatnya. Apa yang membuat kita berani melangkah menolak atau menerima dirinya? Mari melangkah dengan standart yang jelas untuk membangun Godly Family. Perhatikan ayat 61-65 dimana ada pertemuan yang indah antara Ribka dan Ishak. ”Lalu berkemaslah Ribka beserta hamba-hambanya perempuan, dan mereka naik unta mengikuti orang itu. Demikianlah hamba itu membawa Ribka lalu berjalan pulang. Adapun Ishak telah datang dari arah sumur Lahai-Roi; ia tinggal di Tanah Negeb. Menjelang senja Ishak sedang keluar untuk berjalan-jalan di padang. Ia melayangkan pandangnya, maka dilihatnyalah ada unta-unta datang. Ribka juga melayangkan pandangnya dan ketika dilihatnya Ishak, turunlah ia dari untanya. Katanya kepada hamba itu: "Siapakah laki-laki itu yang berjalan di padang ke arah kita?" Jawab hamba itu: "Dialah tuanku itu." Lalu Ribka mengambil telekungnya dan bertelekunglah ia.” Hati berpaut. Walaupun ini pandangan pertama, tetapi pandangan pertama ini adalah karena visi, karena Ishak sudah tahu hal ini akan terjadi. Bukan sekedar first impression. Ini bukan sekedar pandangan pertama. Walaupun ini adalah pandangan pertama mereka berdua tetapi Ishak sudah tahu bawa siapa yang dibawa oleh hamba ayahnya itu pastilah anak Tuhan dan dalam rangka visi Allah. Oleh karena itulah dia memiliki respon seperti itu. Pastilah Abraham telah berbicara kepada dirinya dan hamba ini juga sudah berbicara sebelum berangkat.

Ketika mereka bertemu, Tuhan menanamkan cinta. Ayat 66-67 mengatakan, ”Kemudian hamba itu menceritakan kepada Ishak segala yang dilakukannya. Lalu Ishak membawa Ribka ke dalam kemah Sara, ibunya, dan mengambil dia menjadi isterinya. Ishak mencintainya dan demikian ia dihiburkan setelah ibunya meninggal.” Dikatakan hamba ini bercerita mengenai perjalanannya ini dan pada saat mendengar cerita hamba inilah Ishak baru jatuh cinta. Dan berikutnya Ishak mencintai Ribka dan ia dihiburkan ketika ibunya meninggal. Menurut penafsir, ketika Sarai meninggal, Ishak kehilangan figur ibu yang mengasihinya dan ketika Ribka datang ia dihiburkan. Apa yang ingin saya katakan adalah wanita yang benar, yang berasal dari Allah, mendatangkan kebaikan dan kesejahteraan dalam satu keluarga yang Ilahi. Pria yang benar yang berasal dari Allah, yang akan menjadi suamimu, mendatangkan peng- hiburan dan berkat bagi keluargamu. Inilah keluarga yang Ilahi.

Mari doakan dengan sungguh-sungguh. Mari melangkah karena visi Allah. Inilah Preparing for Godly Family. Melangkah dengan visi dan panggilan. Dalam rangka kegenapan visi Allah, mari melangkah sesuai dengan kriteria Allah.
Soli Deo Gloria!

Famliy bgn I- Rancangan Allah Bagi Keluarga

Pada zaman ini ketakutan-ketakutan terbesar dunia ada pada Global Warming yang mengakibatkan es meleleh, bom atom, perang dingin antara Negara Barat dan Timur, kelaparan atau penyakit seperti AIDS ataupun Flu Burung. Tetapi yang menjadi bahaya sebenarnya yang terbesar yang harus ditakuti dunia ini adalah kehancuran keluarga. Hal ini dapat menjadi demikian karena kehancuran keluarga dapat bermuara kepada kehancuran dunia. Sadar atau tidak, cepat atau lambat, semuanya itu akan terjadi. Oleh sebab itu ada beberapa ancaman dalam keluarga yang dapat menimbulkan kehancuran. Misalnya seperti pernikahan tanpa dasar yang jelas. Pernikahan yang terjadi hanya karena ketepatan bertemu, saling suka, lalu menikah. Selesai! Kemudian jika tidak suka lagi lalu diceraikan. Pernikahan tanpa arah dan tujuan juga dapat menimbulkan kehancuran, karena sebenarnya, dalam pernikahan ada visi. Pernikahan tanpa visi akan bermuara pada kehancuran dan tidak akan pernah masuk dalam rencana Allah untuk satu keluarga yang benar. Tanpa visi, maka pernikahan hanya untuk kesenangan semata. Hal ini menyebabkan kriteria kita dalam mencari pasangan menjadi dangkal. Kriteria hanya sebatas senang, cantik atau ganteng dan gampang cerai dan kemudian menikah lagi. Ini semua karena pernikahan hanya sekedar pleasure. Ada satu kelompok di negara-negara maju (termasuk Jakarta) di mana mereka terdiri dari 20 pasang suami isteri dan sekali seminggu mereka tukar pasangan. Sungguh aneh bukan?
Keadaan ini semakin diperparah dengan hilangnya cinta sejati. Pasangan suami isteri tidak cerai hanya karena diikat oleh adat atau kondisi masyarakat ataupun karena Firman Tuhan. Jika bukan karena Firman Tuhan, sudah lama pasangannya diceraikan. Ada penyesalan karena telah menikah dengan si “dia”. Jangan pernah berpikir bahwa keadaan ini hanya bagi mereka yang belum mengenal Tuhan, banyak anak Tuhan mengalami kejadian ini. Kehilangan cinta sejati memunculkan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Banyak KDRT terjadi pada zaman sekarang ini. KDRT bukan sekedar tindakan fisik yang menyakiti, tetapi ketika isteri tidak lagi menikmati kasih sayang suami pun sudah termasuk KDRT. Bahkan ketika suami diabaikan oleh isteri pun termasuk KDRT. Banyak anak yang tersiksa sekarang, selain fisik, anak pun kehilangan kasih sayang. Hal yang sama banyak terjadi pada suami atau isteri. Ini adalah rancangan iblis untuk mengancurkan keluarga.

Di dalam keluarga pada masa kini juga terjadi desakralisasi pernikahan. Bagi orang Batak, pada beberapa tahun lalu, menganggap perceraian adalah hal yang tabu. Tetapi sekarang, perceraian bukan sesuatu yang tabu. Desakralisasi pernikahan terjadi karena banyak para suami yang punya perempuan simpanan atau sebaliknya. Dalam keluarga juga terjadi demoralisasi. Pernikahan mengalami penurunan secara moral. Keluarga tidak lagi mempertimbangkan hal-hal moral. Yang ada adalah penindasan dan penganiayaan. Inilah ancaman bagi keluarga masa kini.

Mari kita melihat apa sebenarnya rancangan Allah bagi keluarga. Mari kita melihat Kej 1:27-28. Setelah Allah menciptakan langit dan bumi, maka Allah menciptakan manusia. Allah menciptakan laki-laki dan perempuan. Ini adalalah rancangan Allah bagi pernikahan. Oleh sebab itu, pernikahan adalah pernikahan yang lain jenis. Homo dan lesbi, jelas, bukan rancangan Allah. Ranca- ngan Allah bagi pernikahan adalah untuk prokreasi. Perhatikan ayat 28, ”Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka, ”Beranakcuculah dan bertambah banyak...”. Walaupun orang menikah tidak selamanya harus punya anak. Ketika Abraham menikah dengan Sarah, Allah memiliki rancangan melalui prokreasi mereka, yaitu anak perjanjian, Ishak. Walaupun hal ini ternoda oleh karena tindakan Sarah dan Abraham, ketika Sarah mengusulkan kepada Abraham untuk menikah dengan Hagar. Allah merencanakan satu pernika han yang agung dengan janji ke depan yang luar biasa, supaya melalui keturunan Abraham, lahir keturunan Ilahi, yang akan menjadi berkat bagi banyak orang. Dalam ketidaktaatan, rancangan Allah bisa terkontaminasi. Oleh sebab itu, mari kita pikirkan bagaimana kita berpacaran, ”Apakah ketika aku menikah dengan dirinya, rancangan Allah terjadi melalui pernikahan kami?” Jika tidak, hubungan harus direvisi kembali. Jangan merasa rugi untuk berpisah walaupun dia cantik atau ganteng.

Mari melihat rancangan Allah bagi pernikahan dalam kisah Boas dan Rut. Dari pernikahan mereka turun sampai ke Daud dan sampai kepada Kristus. Inilah rancangan Allah bagi pernikahan. Bukan sebatas menikah atau punya anak. Tetapi Allah memiliki maksud yang jauh ke depan dalam menjalankan rencananya melalui pernikahan. Adakah anda dan saya masuk dalam rencana Allah dalam pernikahan atau kita jauh dari rancangan Allah. Perhatikan Yusuf dan Maria. Ada satu noda dan malu yang besar di mana seorang pemuda menikah dengan wanita yang hamil di luar nikah. Secara logika Yusuf sulit menerima Maria (yang sudah mengandung oleh Roh Kudus). Tetapi pernikahan Yusuf dan Maria di dalam rencana Allah, yang secara sosial terhina dan disingkirkan, tetapi dibalik semuanya ini ada satu rancangan Allah yang kekal. Oleh karena itu Yusuf berani mengambil Maria menjadi isterinya. Apakah kita (para Alumni) berani mengambil langkah seperti ini? Misalnya kita diperintahkan Tuhan untuk mengambil wanita yang lebih tua menjadi isteri kita, tetapi rencana Allah nyata di dalam hal ini, beranikah kita melangkah untuk menikah dengan dia? Atau wanita/pria tersebut jauh dari kriteria kita, tetapi Tuhan menanamkan hati ke dalam diri kita bahwa Ia memiliki rencana di dalam pernikahan kita dengan pasangan kita, apakah kita akan tetap menikahinya? Jadi, ketika berencana dan berpikir untuk menikah, kita harus melihat apakah kita masuk di dalam lingkaran atau bingkai rencana Allah, maka melangkahlah dengan iman. Ingat, kehancuran yang paling banyak saat ini terjadi melalui keluarga.

Dari ayat 28 kita dapat melihat bahwa, pernikahan masuk dalam culural mandate, agar melalui keluarga yang dibentuk Allah ini dapat berkarya. Keluarga ini tidak mengeksploitasi dunia, tetapi mengeksplorasi dunia demi kesejahteraan manusia di bumi. Karena itu, tidak akan pernah keluarga yang merupakan rancangan Allah mengalami dehumanisasi, tetapi yang terbaik adalah harkat pasangannya semakin ditinggikan. Banyak kasus di mana terjadi dehumanisasi terhadap isteri, suami, ataupun anak. Banyak kasus dimana seorang ibu membunuh anaknya sendiri, dan banyak kasus lainnya. Keluarga yang merupakan rancangan Allah akan terhindar dari hal-hal seperti ini, dan justru keluarga ini akan menikmati kasih dan kebaikan Allah melalui pernikahan yang terjadi. Melalui keluarga yang merupakan rancangan Allah, maka suami atau isteri berkarya/masuk ke dalam mandat Ilahi, yaitu penuhi-taklukkan-kuasai. Keluarga sebagai lembaga pertama yang dibentuk oleh Allah berkarya membuat bumi terpelihara dan dikelola sedemikian rupa agar bumi tidak semakin hancur. Tetapi, dalam kenyataannya, banyak keluarga yang tidak hanya hancur tetapi ikut menghancurkan dunia ini. Keluarga sebagai rancangan Allah juga menjadi sarana untuk menghadirkan salom di dunia ini. Keluarga harus menjadi miniatur surga di bumi. Dalam kenyatannya banyak keluarga menjadi penjara, di mana antara suami dan isteri sering terjadi pertengkaran yang hebat, sehingga anak-anak yang tidak menikmati kasih sayang orang tuanya lari kepada kehidupan malam ataupun obat-obatan terlarang. Menurut penelitian, hampir 70% anak-anak dan pemuda di Amerika terlibat dalam kriminalitas dan narkoba adalah karena mereka kehilangan kasih sayang di rumahnya. Keluarga yang menghadirkan salom dan damai sejahtera tidak akan pernah muncul kecuali melalui anak-anak Allah. Jadi, dalam menuju pernikahan, kita harus bertanya apakah pasangan kita akan menikmati kebaikan dan kasih Allah melalui diri kita. Orang akan mengetahui bahwa Allah itu baik dan sayang adalah dari kebaikan dan rasa sayang yang kita tunjukkan. Pasangan kita mengetahui bahwa Allah itu baik melalui kebaikan kita. Jika kita tidak baik, bagaimana mungkin dia melihat Allah itu baik? Pernyataan kasih, sifat dan karakter Allah, terpancar dari anak-anak Allah.

Bagaimana bentuk keluarga dalam rencana Allah? Mari melihat Kej 2:18-25. dari bagian ini kita akan melihat beberapa bentuk keluarga dalam rencana Allah.

1. Pernikahan/keluarga adalah inisiatif atau prakarsa sesuai dengan rancangan Allah (18) [band Mat 19:5-6]. Allah melihat kebutuhan manusia, dan Allah bertindak. Dalam Mat, kata yang pakai adalah ”dipersatukan” dimana hal ini berarti Allah yang aktif dan manusia pasif dan ini berarti pernikahan adalah inisiatif dan prakarsa Allah. Jadi, jika anda belum menikah di dalam rancangan Tuhan, berarti kita harus berkata, ”Menurut Tuhan masih aku sendiri.” jika menurut Allah tidak baik, pasti Tuhan akan memberikannya. Oleh karena itu jangan mengeluh.

2. Allah mengetahui dan melihat kebutuhan manusia (18).

3. Allah yang mengetahui, Dia juga menyediakan dan memberi (18, 21). Jika Tuhan melihat anda membutuhkan pasangan, pasti Tuhan sediakan.

4. Yang diberikan Allah (sesuai rancanganNya) adalah penolong yang sepadan. Jangan menikah agar ada yang mencuci pakaian atau menyediakan makanan bagi kita. Isteri tidak pernah jadi pembantu. Apa yang Allah berikan adalah penolong, yang maksudnya saling melengkapi. Tujuan Allah memberikan penolong dalam ranca- nganNya bagi keluarga adalah penolong yang sepadan dimana olehnya keduanya bertumbuh dan maksimal mengerjakan rancangan Allah.

5. Dalam ayat 23 dikatakan bahwa manusia itu berkata, ”Lalu berkatalah manusia itu, ”Inilah dia tulang dari tulangku dan daging dari dagingku, ...”. Keluarga dalam rancangan Allah akan melahirkan satu kesatuan yang sem- purna. Oleh sebab di dalam keluarga seperti ini tidak akan terjadi saling melukai atau menghancurkan. Oleh sebab itu, jika kita menyakiti pasangan kita, hal itu berarti kita menyakiti diri kita sendiri. Karena pasangan suami isteri tidak lagi dua tetapi menjadi satu.
Menjadi satu bukan berarti menghilang- kan/mengabaikan perbedaan antara suami dan isteri. Perbedaan kita tetap ada. Perbedaan karakter, pola pikir, latar belakang, akan tetap ada. Justru di dalam perbedaan itulah kita saling melengkapi, saling membangun dan menguatkan dan menolong. Kemudian kedekatan itu membuat keluarga saling menghargai dan tidak mau melukai pasangannya.

6. Keluarga dalam rancangan Allah adalah keluarga yang mandiri dan dewasa. Mari lihat ayat 24, ”Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” Keluarga ini mandiri dalam hal :
• Lepas dari ketergantungan pada orang lain, apakah secara finansial, semosi, karakter, dll.
• Merdeka dari intervensi pihak lain. Banyak kasus dimana keluarga hacur karena pihak mertua, adik, atau keluarga yang lain.
• Mampu menghadapi dan menyele- saikan persoalan konflik yang ada bersama-sam di dalam Tuhan (walau dalam beberapa kasus, pihak luar seperti konselor dibutuhkan sebagai alat Tuhan). Apapun kelemahan pasangan kita, jika keluarga kita adalah rancangan Allah, maka selesaikan bersama-sama di hadapan Allah. Ingat, konflik tidak mungkin tidak ada dan jangan takut dengan konflik. Kita harus menghadapi konflik dengan cara Allah, agar konflik tersebut tidak menjadi bumerang dalam pernikahan dalam satu keluarga.

7. Dalam ayat 25 dikatakan, ”5 Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.” Inilah intimacy yang baik dan openess-keterbukaan. Oleh karena itu dalam hubungan suami isteri mereka tidak malu untuk telanjang. Tetapi bukan dalam hal seks, tetapi ada keterbukaan dan tidak merasa malu mengakui kelemahan dan kekurangan. Oleh sebab itu jika kita sedih, katakan kepada pasangan kita bahwa kita sedih. Hal ini bisa mengangkat beban yang kita miliki. Oleh sebab itu penting sekali keterbukaan dan kejujuran. Jangan sampai ada rasa curiga dan ketidak percayaan antara suami dan isteri.

Soli Deo Gloria!

Saturday, May 16, 2009

Eksposisi Rut 3 (2009) - 12 Resep Meraih Cinta (Rut Pasal 3)

[Kotbah ini dibawakan oleh Denni Boy Saragih, M. Div pada ibadah Mimbar Bina Alumni, Jumat, 6 Maret 2009]


Hari ini kita akan membahas Rut pasal tiga ini di bawah judul ’12 Resep Meraih Cinta’. Mari melihatnya satupersatu.

1. Terbukalah Kepada Saran Seorang yang Rohani

Ayat 1 mengatakan, “Lalu Naomi, mertuanya itu, berkata kepadanya: "Anakku, apakah tidak ada baiknya jika aku mencari tempat perlindungan bagimu supaya engkau berbahagia?”

Dari ayat pertama ini ita melihat saran yang pertama, yaitu terbukalah kepada saran seorang yang rohani. Hal ini perlu dilakukan karena seorang yang rohani biasanya memiliki kebijaksanaan. Dalam ayat ini juga kita melihat dengan jelas bahwa saran Naomi untuk Rut ditujukan demi kebahagiaan Rut. Melalui ayat 1 ini juga kita melihat setelah terbuka kepada saran juga tidak menutup inisiatif perempuan. Memang biasanya laki-lakilah yang berinisiatif, tetapi tidak menutup kemungkinan yang pertama sekali mengambil inisiatif untuk menemukan atau mengutarakan isi hatinya. Inisiatif bukan hanya datang dari seorang yang ingin menemukan pacar tetapi bisa juga datang dari kakak PA atau orang bijaksana yang ada di sekeliling kita. Oleh sebab itu jika ada seorang yang rohani mengatakan saran kepada kita jangan langsung menolak dan menutup hati. Tuhan bisa bekerja melalui orang-orang lain di sekeliling kita dan yang mencintai Tuhan.


2. Terbuka Kepada Keadaan yang Ada

Ayat 2 mengatakan, “Maka sekarang, bukankah Boas, yang pengerja-pengerjanya perempuan telah kautemani itu, adalah sanak kita? Dia pada malam ini menampi jelai di tempat pengirikan.”
Dari ayat ini kita melihat bahwa Rut telah mengenal Boas. Boas sebenarnya sudah cukup berumur. Hal ini dapat kita lihat dengan bagaimana dia memanggil Rut dengan “Anakku!” Resep kedua adalah terbukalah pada keadaan yang ada. Rut telah mengenal Boas dan Boas sepertinya memiliki rasa cinta kepada Rut ini. Buktinya disengaja menjatuhkan bulir gandum agar Rut mendapat banyak hasil. Mari terbuka dalam keadaan yang ada. Jika umurnya jauh di atas kita, jangan langsung menolak. Ada juga orang tidak terbuka karena suku yang berbeda. Tidak mau kepada seseorang karena dia suku tertentu yang berbeda dengan sukunya. Kita juga tidak terbuka karena jenis pekerjaan yang berbeda. Mungkin kita sudah mapan yang dijodohkan dengan seorang guru SD. Kita harus terbuka dengan keadaan yang ada. Mungkin seseorang inilah calon terbaik yang Tuhan persiapkan. Jangan karena ada yang kurang kita menjadi tertutup.

3. Berdandanlah yang Terbaik, Sebab Keindahan Adalah Anugerah Tuhan.

Ayat 3 mengatakan, ”maka mandilah dan beruraplah, pakailah pakaian bagusmu dan pergilah ke tempat pengirikan itu. Tetapi janganlah engkau ketahuan kepada orang itu, sebelum ia selesai makan dan minum.”

Sewaktu kita berbicara masalah cinta, kita tidak bisa menyangkal bahwa kita sebagai anak Tuhan perlu berdandan yang terbaik sebab keindahan adalah anugerah Tuhan. Perhatikan apa yang Naomi katakan kepada Rut dalam ayat 3 ini. Seperti Rut yang bertemu dengan Boas, kita juga jika ingin bertemu dengan seseorang itu sebaiknya berdandan.

Kita perlu menebus keindahan karena beberapa anak Tuhan mengatakan being beauty or handsome adalah dosa. Tidak! Kecantikan dan keindahan adalah anugerah Tuhan. Oleh sebab itu sangat wajar kita menghargai keindahan sebagai anugerah Tuhan. Mungkin yang menjadi konsep kita adalah adanya prioritas inner beauty. Hal ini memang perlu. Sebenarnya keindahan itu pada prinsipnya adalah satu keindahan dari dalam yang terpancar keluar. Itulah yang disebut dengan inner beauty. Di sini kadang-kadang perlu waktu untuk menghayati kecantikan. Ada kasus-kasus yang unik dan sering terjadi dimana semakin dikenal semakin cantik. Hal ini terjadi karena orangnya lemah lembut, perhatian, humoris, kreatif, pembersih, pintar masak, dll. Sama juga halnya dengan seseorang yang semakin lama dikenal semakin jelek. Memang pertama kali melihat wajahnya seperti artis, tetapi semakin lama menjadi tidak cantik. Hal ini karena dia orangnya keras kepala, suka omong besar, mau menang sendiri, pembohong, penjorok, dll.

Inner beauty menjadi outer expression. Inner beauty harus dipancarkan melalui outer expression. Sebenarnya seseorang ini cantik, tetapi karena dia tidak pintar mempercantik diri, segan pakai bedak atau lipstick atau minyak wangi, dia menjadi kelihatan tidak cantik (good looking)


4. Beranilah Mengambil Resiko Menyatakan Cinta

Dalam ay 4-5 dikatakan, "Jika ia membaringkan diri tidur, haruslah engkau perhatikan baik-baik tempat ia berbaring; kemudian datanglah dekat, singkapkanlah selimut dari kakinya dan berbaringlah di sana. Maka ia akan memberitahukan kepadamu apa yang harus kaulakukan." Lalu kata Rut kepadanya: "Segala yang engkau katakan itu akan kulakukan."

Ketika Rut meresponinya dalam ayat 5, dia sedang mengambil resiko. Tidak ada jaminan jika Rut melakukan hal ini maka Boas membalas cintanya. Bisa terjadi skenario di mana Boas menganggap Rut pengganggu atau terjadi penolakan. Cinta itu harus perkasa. Artinya cinta harus berani walaupun ada kemungkinan ditolak. Kenapa cowok terkadang takut menyatakan adalah karena takut ditolak. Jangan takut ditolak. Kita harus belajar menjadi Kristen yang gentlement. Jangan hanya berani kirim-kirim sinyal tetapi tidak berani mengakui cintanya. Mari berani mengambil resiko untuk menyatakan cinta. Tetapi hati-hati dan jangan sembrono menyatakan cinta. Maksudnya adalah setiap minggu menyatakan cinta kepada orang yang berbeda. Jika telah kita doakan dan gumulkan segere nyatakan dan jangan menyatakan cinta hanya jika karena sudah pasti diterima. Mari berani mengambil resiko untuk menyatakan cinta.


5. Temukanlah Waktu yang Tepat

Ayat 7a mengatakan, “Setelah Boas habis makan dan minum dan hatinya gembira, datanglah ia untuk membaringkan diri tidur pada ujung timbunan jelai itu."

Resep kelima adalah temukan waktu yang tepat untuk menyatakannya. Dengan kata lain tempat, waktu, dan situasi yang tepat. Waktu kita menyatakan cinta penting untuk mencari tempat dan situasi yang tepat. Hal ini membutuhkan hikmat.

6. Kirimkanlah Pesan Cinta

Ayat 7b mengatakan, ”... Kemudian datanglah perempuan itu dekat dengan diam-diam, disingkapkannyalah selimut dari kaki Boas dan berbaringlah ia di situ.”

Pesan dalam kisah ini, ‘disingkapkannyalah selimut dari kaki Boas’, sangat kultural sekali.
Ada banyak beberapa penafsiran akan peristiwa ini akan apa sebenarnya yang terjadi. Ada orang menafsirkan bahwa Rut dan Boas melakukan hubungan suami isteri (tafsiran orang liberal). Tetapi jika kita membaca cerita yang terjadi kemudian dan kata-kata yang digunakan bagaimana Boas menyebut Rut sebagai perempuan baik-baik, konotasi ke arah sana bisa kita hapuskan. Tidak ada alasan yang kuat bahwa Rut melakukan hubungan suami isteri dengan Boas.

Yang terjadi adalah, secara budaya, Rut mengirimkan pesan kepada Boas bahwa dia ingin Boas menjadi suaminya. Rut sungguh-sungguh memberikan pesan yang jelas kepada Boas. Ini adalah mengenai bagaimana kita menakar sebuah pesan. Apakah tidak salah jika seorang perempuan memberikan pesan kepada pria bahwa dia ingin menjadi pasangan pria tersebut atau bagaimana seorang pria menyatakan cintanya kepada wanita langsung bicara bahwa dia bukan hanya sekedar cari pacar tetapi langsung menikah. Untuk hal-hal seperti inipun kita harus terbuka. Kita perlu menakar dengan baik dan terbuka dengan takaran yang diberikan pasangan kita.

7. Responilah Ungkapan Cinta dengan Kasih yang Lemah Lembut

Dalam ayat 8-10 dikatakan, “Pada waktu tengah malam dengan terkejut terjagalah orang itu, lalu meraba-raba ke sekelilingnya, dan ternyata ada seorang perempuan berbaring di sebelah kakinya. Bertanyalah ia: "Siapakah engkau ini?" Jawabnya: "Aku Rut, hambamu: kembangkanlah kiranya sayapmu melindungi hambamu ini, sebab engkaulah seorang kaum yang wajib menebus kami." Lalu katanya: "Diberkatilah kiranya engkau oleh TUHAN, ya anakku! Sekarang engkau menunjukkan kasihmu lebih nyata lagi dari pada yang pertama kali itu, karena engkau tidak mengejar-ngejar orang-orang muda, baik yang miskin maupun yang kaya.”

Kita bersyukur mendapatkan bahwa Boas menerima cinta Rut. Tetapi kita tahu bahwa tidak semua orang diterima cintanya. Pelajaran penting yang bisa kita lihat dalam ayat ini adalah sewaktu Rut menyatakan cintanya, Boas tidak menanggapinya dengan tergopoh-gopoh. Dia bertanya dengan baik-baik. Di sini ada ungkapan yang lemah lembut dalam meresponi pernyataan Rut, yang sebenarnya mengejutkan Boas.

Oleh sebab itu sering dianjurkan, jika ada orang yang menyatakan cinta jangan langsung ditolak. Mungkin kita sudah memiliki tambatan hati yang lain. Tetapi bukan merupakan tindakan yang bijaksana untuk langsung mengatakan ’Tidak!’ kepada orang yang menyatakan cintanya kepada kita. Walaupun kita harus menolak seseorang, kita harus melakukannya dengan kasih yang lembut. Apapun yang kita rasakan dengan seseorang kita harus belajar menghargai bahwa dia adalah seorang anak Tuhan. Cinta harus dipegang dengan hati-hati dan diresponi dengan lemah lembut.

8. Mengungkapkan Hati dengan Sopan

Mari sekali lagi melihat ayat 9. Apa yang kita bisa lihat dari ayat 9? Dari pasal sebelumnya kita mengetahui bahwa sebenarnya Boas punya kewajiban untuk menikahi Rut dan menebus dia. Sebenarnya ada unsur kewajiban. Tetapi ketika Rut berbicara kepada Boas, dia tidak sedang berbicara soal kewajiban tetapi juga permohonan dan kerinduannya. Dalam konteks sekarang, di sinilah kita perlu menerapkan penting keseimbangan antara keyakinan dan kebebasan. Sering sekali mereka yang ’yakin’ akan pimpinan Tuhan memaksakan kehendak mereka kepada orang yang didoakan. Kalaupun kita yakin, biarlah dia yakin bukan karena manipulasi psikologis yang akhirnya membuat dia terpaksa yakin. Ungkapkan hati dengan sopan dan terbuka bahwa keyakinan kita bisa saja tidak benar. Dalam mencari teman hidup ada empat situasi yang terjadi. Pertama, kita yakin dia pimpinan Tuhan, tetapi dia tidak yakin kita pimpinan Tuhan. Dalam hal ini kita harus menghargai kebebasan dan menghargai keyakinannya. Kedua, kita yakin dan dia juga yakin. Ini adalah keadaan yang ideal seperti Rut dan Boas. Ketiga, awalnya kita yakin tetapi pada akhirnya kita tidak yakin padahal dia sudah yakin. Ini adalah situasi yang sangat menjebak. Keempat, kita tidak yakin dan dia pun tidak yakin.


9. Ketika Cinta Berbalas Cinta

Ayat 10-11 mengatakan, ”Lalu katanya: "Diberkatilah kiranya engkau oleh TUHAN, ya anakku! Sekarang engkau menunjukkan kasihmu lebih nyata lagi dari pada yang pertama kali itu, karena engkau tidak mengejar-ngejar orang-orang muda, baik yang miskin maupun yang kaya. Oleh sebab itu, anakku, janganlah takut; segala yang kaukatakan itu akan kulakukan kepadamu; sebab setiap orang dalam kota kami tahu, bahwa engkau seorang perempuan baik-baik.”

Ketika cinta berbalas dengan cinta maka tetaplah pada prinsip-prinsip yang utama. Seringsekali ketika kita telah jatuh cinta kita merasa tidak perlu membahas hal-hal lain. Hal yang salah jika kita berpikir bahwa bicara cinta saja sudah cukup di dalam berpacaran. Meskipun sama-sama suka perlu dipertegas. Inilah yang terjadi dalam ayat 10 dan 11. Di sini Boas membuat tiga hal yang dia nilai positif dari karakter Rut. Pertama, kasih Rut yang nyata kepada Naomi. Ketika Rut memilih menikah dengan Boas itu adalah kelanjutan dari Rut yang mau memelihara kehidupan Naomi. Boas melihat bagaimana Rut dalam mendekatinya sedang berjuang agar Naomi dipulihkan. Ini adalah poin penting karena Boas menyadari pasti Naomilah yang menyuruh sehingga Rut datang menjumpai Boas. Rut sebenarnya pasti tidak mengerti mengenai ’membuka selimut’ atau ’pergi ketempat pengirikan’ dan oleh sebab itulah Boas langsung mengetahui bahwa pasti ada yang mengajari Rut dan orang tersebut pasti Naomi. Oleh sebab itulah, Boas langsung menyimpulkan bahwa kasihnya Rut itu nyata.
Kedua, Boas juga menekankan bahwa Rut tidak mengejar yang muda. Kelihatannya Boas sadar bahwa Rut cukup cantik dan mampu mendapatkan yang lebih muda dan kaya. Tetapi Rut tahu, walaupun dia orang asing, dia menunjukkan ketaatannya, dia datang kepada boas, dia mengikuti perintah Naomi. Ketiga, Boas juga melihat bahwa Rut adalah perempuan yang baik-baik sebab di ayat 11 Boas berkata kepada Rut, ” sebab setiap orang dalam kota kami tahu, bahwa engkau seorang perempuan baik-baik.”

Ketika cinta berbalas dengan cinta, maka hal-hal prinsip makin penting untuk dieksplisitkan. Ada memang tempat untuk DDH (Debar-Debar Halus). Tetapi hal-hal prinsip harus dibahas secara mendalam. Pacaran orang Kristen itu jangan activity centre, tetapi harus dialog centre. Dalam pernikahan yang banyak adalah dialog oleh sebab itu dalam berpacaran mari membiasakan berdialog, membicarakan hal-hal penting dan prinsip, pelayanan, gereja, dll.

10. Mengikuti Adat Sebagai Sebuah Kerohanian

Ayat 12-13 mengatakan, ”Maka sekarang, memang aku seorang kaum yang wajib menebus, tetapi walaupun demikian masih ada lagi seorang penebus, yang lebih dekat dari padaku. Tinggallah di sini malam ini; dan besok pagi, jika ia mau menebus engkau, baik, biarlah ia menebus; tetapi jika ia tidak suka menebus engkau, maka akulah yang akan menebus engkau, demi TUHAN yang hidup. Berbaring sajalah tidur sampai pagi."

Dari ayat ini kita melihat prinsip yang kesepuluh, yaitu ikutilah adat istiadat sebagai sebuah kerohanian. Dalam adat Israel memang ada menebus kaum kerabat. Kaum kerabat ini juga ada level-levelnya. Ada yang dekat dan ada yang jauh. Kelihatannya Boas bukan dari yang terdekat karena ada kerabat lain yang lebih berhak. Hal ini mungkin terjadi karena Naomi melihat Boas cocok dengan Rut. Naomi tahu yang lain tidak akan mau menebus Rut karena itu Naomi tidak menyuruh Rut kepada yang lain tetapi kepada Boas. Meskipun demikian Boas tidak langsung melakukannya, tetapi bertanya kepada kerabat lain yang lebih berhak menebus. Boas adalah orang yang taat kepada adat istiadat di mana dia tinggal supaya mereka menjadi kesaksian bagi sekeliling mereka.

Sebagai anak-anak Tuhan kita harus menyadari menghargai hal ini. Sering kali ada anak Tuhan yang modern sampai mengatakan tidak perlu adat. Jika kita juga mengatakan tidak perlu adat berarti kita tidak menghayati adat. Sebenarnya jika kita menghayati adat maka kita menemukan bahwa adat istiadat adalah sesuatu yang indah. Jadi sebagai orang Batak, kita perlu belajar dan menghayati adat istiadat yang kita miliki sebagai bentuk kerohanian bahwa di situ juga kita bisa memuliakan Tuhan. Tuhan menempatkan kita dalam budaya yang khusus oleh sebab itu mari menghormati dan perkaya sesuai dengan karunia yang Tuhan berikan.

11. Berikan Tempat yang Bijak Bagi Rahasia, Etika, dan Kesaksian

Mari kita lihat ayat 13-15, ”Tinggallah di sini malam ini; dan besok pagi, jika ia mau menebus engkau, baik, biarlah ia menebus; tetapi jika ia tidak suka menebus engkau, maka akulah yang akan menebus engkau, demi TUHAN yang hidup. Berbaring sajalah tidur sampai pagi." Jadi berbaringlah ia tidur di sebelah kakinya sampai pagi; lalu bangunlah ia, sebelum orang dapat kenal-mengenal, sebab kata Boas: "Janganlah diketahui orang, bahwa seorang perempuan datang ke tempat pengirikan." Lagi katanya: "Berikanlah selendang yang engkau pakai itu dan tadahkanlah itu." Lalu ditadahkannya selendang itu. Kemudian ditakarnyalah enam takar jelai ke dalam selendang itu. Sesudah itu pergilah Boas ke kota.”

Di dalam ayat ini kita menemukan kalimat Boas ’Janganlah diketahui orang’. Tetapi dalam ayat ini juga kita melihat ada jaminan bahwa Boas tidak akan berpura-pura tidak kenal dengan memberikan gandum untuk dibawa pulang sebagai buktinya.

Memang dalam masalah cinta ini ada tempat untuk rahasia. Ada hal-hal yang memang tidak perlu diungkapkan kepada publik. Ada tempat untuk rahasia dan saling menjaga rahasia masing-masing. Live in private.


12. Nantikan dan Harapkan Cinta Mengambil Langkah Komitmen Menuju Rumah Tangga

Ayat 18 mengatakan, ”Lalu kata mertuanya itu: "Duduk sajalah menanti, anakku, sampai engkau mengetahui, bagaimana kesudahan perkara itu; sebab orang itu tidak akan berhenti, sebelum diselesaikannya perkara itu pada hari ini juga.”

Resep ke 12 adalah nantikan dan harapkalah cinta mengambil langkah komitmen menuji rumah tangga. Ada waktunya kita menunggu dan ada waktunya kita bertindak. Pada waktu menunggu mari kita menunggu dan pada waktu bertindak mari kita bertindak. Jangan waktu menunggu kita bertindak dan pada waktu berindak kita menunggu.

Christian Ethic 3 Situational Ethic

Christian Ethic 3

Situational Ethic
By: Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div

Hari ini kita akan membahas bagian ketiga dari seri Christian Ethic, yaitu Situational Ethic. Di dalam perkembangan postmodernisme, ada muncul fenomena yang disebut dengan Etika Situasi. Sejak abad 20 (1940-an) muncul sebuah aliran baru dalam bidang etika, yaitu Etika Situasi yang dipelopori oleh Joseph Fletcher (1905-1991), seorang Episkopal Moralis Amerika. Dia berpendapat bahwa teologia moral Kristen tradisional tidak sesuai dengan Injil karena Injil sudah ketinggalan zaman dan tidak relevan lagi untuk menjawab kebutuhan perkembangan teologia dan praktika hidup masa kini. Hal ini terjadi karena satu pemahaman bahwa apa yang dialami dan dilakukan oleh Yesus Kristus tidak relevan lagi dan Kristus sendiripun dalam menjalankan hidupnya, secara praktikal, didasarkan pada Etika Situasi. Fletcher berkata bahwa hanya satu dasar prinsip moralitas, yaitu cinta kasih (agape : self-giving love). Inilah dasar untuk melakukan segala sesuatu dan hal ini bersifat hipotetis dan relatif. Bersifat hipotetis artinya sesuatu dipahami sebagai bukan sebuah kesimpulan yang mutlak. Oleh sebab itulah dalam Etika Situasi tidak ada sesuatu yang mutlak dan yang terjadi adalah relatifisme. Menurut Fletcher yang terpenting adalah cinta kasih. Jadi Fletcher menyimpulkan bahwa perbuatan dilihat bukan sebagai perbuatan jahat atau baik, betul atau salah, melainkan apakah sesuai atau tidak dengan situasinya. Jadi sesuatu yang dilakukan akan menjadi benar jika situasi menuntut demikian dan menjadi sesuatu yang salah jika situasinya tidak menuntut demikian.

Oleh sebab itu berbohong itu tidak boleh langsung dikatakan salah atau benar. Berbohong baru bisa dikatakan benar atau salah jika kita melihat situasi dimana bohong itu dilakukan. Dalam pemahaman ini, jika seseorang berbohong dan situasi yang ada menuntut dia untuk berbohong, maka pada hekekatnya berbohong itu tidak salah. Demikian juga halnya dengan premarital-sex, dimana hal ini tidak akan menjadi sesuatu yang salah atau benar jika situasi menuntut hal tersebut. Jadi, atas nama cinta, premarital-sex dapat dilakukan. Sama juga dengan aborsi, berzinah dan pembunuhan dengan sendirinya secara moral tidak jahat bila merupakan cara yang paling tepat untuk mengungkapkan cinta kasih dalam situasi konkrit. Inilah yang disebut relativisme akibat daripada postmodernisme yang berkembang zaman sekarang ini.

Cinta kasih harus terlaksana sementara norma serta moralitas agama tidak akan mengikat bila tidak sesuai dengan tuntutan cinta kasih. Kasihlah yang mengatasi segala-galanya. Hal ini muncul karena Allah adalah Kasih, dan Kasih juga adalah dasar teologia Kristen dan harus diwujudkan, dan kasih juga melampaui segala-galanya melebihi iman dan pengharapan. Jadi atas nama kasih, semuanya bisa dilakukan. Karena itu mencintai berarti mendukung sesama dalam eksistensinya dan perkembangannya, yakni mendukung agar dia berada dalam keadaan baik maka kita bisa melakukannya. Misalnya, demi perkembangan seorang pria agar ia bisa maju di dalam karirnya, maka dia mungkin harus mencari seorang wanita muda untuk bosnya agar dia bisa dipromosikan, dan atas nama cinta terhadap perempuan ini, hal ini sah-sah saja. Etika Situasi tidak bertanya apa yang baik, melainkan bagaimana berbuat baik dan bagi siapa? Maka etika ini adalah etika keputusan. Dikatakan sebagai etika keputusan adalah karena tidak ada standart yang baik. Ketika kita memutuskan apa dan bagi siapa, itu aalah sesuatu yang baik. Etika membuat keputusan lebih dari pada mencari apa yang harus dilakukan.

Bagaimana sebenarnya kita memandang etika? Dalam perbuatan etis ada beberapa faktor yang terlibat, yaitu pelaku, perkara, situasi, prinsip dasar dan norma etis. Dan ini dilakukan oleh kaum konstektual dan konservatif. Tetapi kaum eksistensialis menekankan pada pelaku, yaitu kehendak bebas dan pilihan pribadi. Ini adalah bagian dari postmodernisme, bahwa kebenaran bukan ditentukan oleh siapa tetapi ada the free will of man dan kemampuan untuk memutuskan segala sesuatu. Oleh sebab itu yang baik bagi kita belum tentu baik bagi orang lain dan sebaliknya. Situasionisme (Etika Situasi) mengambil keputusan berdasarkan situasi di mana prinsip dan norma etis di bawah situasi. Situasilah yang menuntut demikian sehingga kita harus melakukannya. Tidak jarang kita mendengar orang bahkan orang Kristen berkata: ”Situasilah yang menuntuk demikian. Maka kami terpaksa melakukannya.” Jika situasi yang menuntut maka akan muncul pertanyaan, apakah situasi berlaku atau bersifat konstan dalam hidup ini? Tidak! Justru situasi itu berubah dan fluktuatif serta mengikuti zaman dan tantangan. Oleh sebab itu tidak ada standart bagi mereka berdasarkan Etika Situasi. Apa yang wajib dilakukan seseorang dalam situasi konkrit tidak dapat disimpulkan dari suatu hukum moral umum, melainkan harus diputuskan secara bebas oleh orang yang bersangkutan. Karena itu penentu standar moral adalah kita sendiri bukan dengan sebuah norma. Etika ini menjunjung tinggi otonomi moral individu dan menolak ketaatan begitu saja terhadap hukum moral sebagai heteronomi. Artinya adalah sesuatu peraturan yang berlaku di dalam masyarakat dengan sebuah standart moral. Tetapi bagi Etika Situasi, pribadi yang mengambil keputusan itu dengan free will adalah standar utama akan tindakan benar atau salah. Baik buruknya suatu tindakan adalah tergantung situasinya.

Ada tiga tahapan struktur tindakan Etika Situasi. Pertama, dari ‘titik tolaknya’, yaitu agape (cinta kasih) yang merupakan hukum satu-satunya yang diakui. Kedua, dengan dasar cinta agape, sebuah tindakan di‘lewat’i atau dilalui dengan sebuah kebijaksanaan (Sophia) yang termuat dalam ajaran agama dan paham moral kebudayaan yang dianggap sebagai aturan umum yang kurang atau lebih dapat diandalkan. Ketiga, ada dasarnya dan ada sesuatu yang dilewati dengan Sophia, tetapi semua akan bermuara ‘ke’ Kairos (kesempatan; waktu yang tepat) di mana individulah yang bertanggungjawab memutuskan dalam situasi konkrit apakah sophia tadi mengabdi pada cinta kasih atau tidak. Jadi berawal dari titik tolaknya yaitu cinta agape, diputuskan atau dilewati dengan Sophia dan bermuara ke pada sebuah kairos, inilah dasar tindakan Etika Situasi.
Ada empat presupposisi (anggapan dasar) dari Etika Situasi. Dasar yang pertama adalah Pragmatisme. Artinya yang baik adalah apa yang bisa dan sedang berjalan, berguna dan yang memuaskan (apakah hasilnya positif atau tidak), bukan yang ideal. Sesuatu yang ideal tetapi tidak bisa berjalan tidak ada artinya. Kedua, Relativisme. artinya, semua hukum atau aturan moral hanya berlaku sejauh mendukung cinta kasih. Cinta diatas segala-galanya oleh sebab itu cinta menutupi banyak peraturan-peraturan moral. Hukum moral hanya berlaku sejauh melayani cinta kasih, sehingga relatif untuk semua hal. Ketiga adalah Positivisme yaitu menolak keberlakukan hukum kodrat (aturan umum) yang tinggal dilaksanakan. Penilaian moral (baik atau salah) merupakan keputusan bagi yang melakukannya, bukan kesimpulan. Misalnya, mencuri, bohong, membunuh menjadi dosa adalah kesimpulan. Tetapi dalam Etika Situasi, mencuri, bohong, membunuh, menjadi dosa bukan karena kesimpulan tetapi keputusan. Ketika seseorang memutuskan mencuri demi cinta kasih, berarti hal tersebut diperbolehkan. Orang bebas memutuskan apa saja berdasarkan cinta kasih. Keempat Personalisme. Dalam Etika Situasi hal personalisme sangat diagungkan. Oleh sebab itu etika ini mengatakan bahwa sesuatu yang bernilai pada dirinya sendiri hanyalah manusia yakni eksistensi, perkembangan dan keadaan baiknya. Itulah ajaran cinta kasih.

Dasar pertimbangan lain dalam Etika Situasi adalah martabat manusia sebagai makhluk rohani dilihat dan dihargai. Dalam hidup ini tidak ada tahap dan keadaan hidup yang sama, tetapi sekedar menyerupai. Misalnya, HUT PAK tahun yang lalu tidak sama dengan HUT PAK tahun ini hanya acaranya yang menyerupai. Karena itu tidak ada peristiwa di dunia ini yang sama tetapi sesuatu yang menyerupai. Karena itu, jangan sekali-kali membuat sebuah patron yang sama karena tidak ada sesuatu yang sama di dalam dunia. Oleh sebab itulah standart yang digunakan untuk setiap peristiwa tidak bisa sama. Penganut paham ini semangat untuk mencari, menentukan dan menanggapi tuntutan situasi secara kreatif, berani dan bertanggungjawab.
Ada enam proposisi (kesimpulan akhir) dari Etika Situasi menurut Joseph Fletcher. Pertama, hanya ada satu hal yang baik pada dirinya sendiri, yaitu cinta kasih; tak ada yang lain sama sekali. Dalam Etika Situasi, sesuatu apapun tidak bernilai pada dan dalam dirinya sendiri. Ia memperoleh nilainya hanya karena ia membantu orang lain (dia jadi baik) atau menyakiti orang (dia jadi jahat). Jadi, membantu orang di dalam ujian jangan dikatakan sebagai sesuatu yang jahat. Kalau itu dilakukan atas dasar cinta kasih, agar teman kita itu bisa tamat, hal tersebut diperbolehkan. Pada dirinya sendiri semua perbuatan itu netral. Apabila dusta diceritakan tanpa cinta maka dusta itu adalah sesuatu yang jahat tetapi apabila diceritakan atas dasar cinta maka dusta itu adalah sesuatu yang baik dan benar. Jadi perbuatan baik itu adalah perbuatan yang paling mengungkapkan cinta kasih dalam situasi yang bersangkutan.

Kedua, norma tertinggi keputusan-keputusan adalah cinta kasih; tidak ada yang lain. Cinta kasih satu-satunya yang bernilai dalam dirinya, maka cinta kasih juga adalah satu-satunya norma tindakan moral. Semua tindakan akan diukur dengan hal ini bukan dengan standar hukum atau sistim norma moral yang ada. Dengan demikian hukum dan norma moral menjadi relatif.
Ketiga, cinta kasih dan keadilan adalah sama karena keadilan adalah cinta kasih yang dibagi, tak ada lainnya. Cinta kasih selalu menuntut kebijaksanaan untuk menentukan perbuatan mana yang paling efektif dalam mewujudkan apa yang baik bagi sesama. Keadilan itu adalah cinta kasih ditambah kebijaksanaan. Bijaksana dan adil adalah perbuatan yang menghasilkan ‘keuntungan terbesar dan jumlah terbesar’ atau membantu mereka yang paling membutuhkan.
Keempat, cinta berkehendak baik terhadap sesamanya entah kita menyukainya atau tidak. Cinta kasih bukanlah perasaan kasih sayang. Mencintai adalah sikap yang tercuat dalam kelakuan dan tidak ada kaitannya apakah kita suka atau tidak pada orang yang dicintai. Cinta kasih adalah suatu sikap rasional dengan perhitungan agar cocok secara optimal untuk mendukung orang yang menjadi alamat cinta kasih (agapeic calculus). Misalnya, Kamikaze (bunuh diri dalam Jepang) bisa dilakukan atas nama cinta, atas nama cinta teroris dizinkan untuk melakukan bom bunuh diri yang melukai atau membunuh orang lain. Dan tentu saja dalam teologia Kristen hal seperti ini bukanlah sesuatu yang benar.

Kelima, hanya tujuan yang membenarkan sarana, tak ada lainnya [bandingkan dengan teologia Kristen yang mengatakan bahwa tujuan harus memurnikan sarana]. Tidak ada perbuatan buruk pada dirinya sendiri. Segala sesuatu adalah benar atau salah tergantung dari situasi (relativisme radikal Etika Situasi). Tujuan tindakan menentukan nilai moralnya. Apa yang kadang baik dapat pada kesempatan lain menjadi jahat atau sebaliknya, tergantung situasi. Misalnya, atas nama cinta agar ada biaya untuk obat ibunya seorang perempuan dijinkan untuk melacurkan dirinya. Jadi segala sesuatu dapat dilakukan jika hal tersebut dilakukan demi satu tujuan yang baik.
Keenam, keputusan cinta kasih dibuat sesuai dengan situasi, bukan menurut sebuah sistem peraturan. Ciri khas keputusan moral adalah kebebasannya. Orang yang yakin melakukan sesuatu hendaklah melakukannya dengan bebas dan berani meskipun bertentangan dengan pandangan moral umum. Misalnya, Aborsi karena berdasarkan diagnosa bahwa janin dalam kandungan tidak sehat (cacat fisik atau mental) maka demi cinta kasih harus dengan bebas bahkan wajib dan berani menggugurkan tanpa terikat dengan norma yang ada. Ingat, aborsi ini tidak sama dengan aborsi dalam kasus dimana jika kehamilan mengancam salah satu nyawa, apakah ibu atau si bayi. Dalam situai seperti ini, maka dengan pertimbangan tertentu, aborsi bisa dilakukan. Ini adalah situasi yang disebut Lesser Between Two Evils.

Etika Situasi memiliki beberapa kelemahan. Pertama menghargai manusia sebagai makhluk yang mampu menentukan pilihan tetapi mengabaikan prinsip dan nilai etis yang berlaku secara umum. Kedua, keputusan etisnya bersifat subjektif karena tidak ada standar dasar untuk menilai baik buruknya sebuah tindakan selain dirinya sendiri. Ketiga, memandang situasi hidup yang dihadapi selalu unik dan menuntut sikap pribadi mendasar dari manusia. Ada banyak hal dalam hidup manusia yang tidak selalu unik dan merupakan hal-hal biasa dan tidak perlu terlalu rumit untuk diputuskan. Keempat, Etika Situasi melebih-lebihkan kapasitas manusia untuk menentukan sebuah pilihan dan tindakan moral. Ingat, dalam Kisah Kejadian, ketika Adam jatuh ke dalam dosa, maka manusia telah didistorsi oleh dosa dan semua keputusan manusia sangat rentan dengan kontaminasi dosa. Kasih agape hanya dapat diekspresikan dan digenapi dengan atau dalam sebuah peraturan moral (Mt.22:34-40; Rom.13:10, ”Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat”.). Kelima, kasih agape itu suci, maka kasih agape tidak akan mereduksi kebenaran dengan mengabaikan unsur kejahatan misalnya pembunuhan, perzinahan, terorisme dll. Inilah kelemahan Etika Situasi di mana etika ini mereduksi kebenaran. Allah adalah suci dan harus disejajarkan dengan Allah yang adalah kasih. Maka kasih agape hanya bisa dilakukan di dalam kebenaran dan kesucian yang sejati. Dan keenam Etika Situasi terpesona dengan eksistensialisme, tetapi lupa kenyataan antropologis bahwa manusia itu mahkluk sosial yang mengalami dan menghayati setiap situasi sebagai anggota sebuah komunitas yang juga mewarnai kehidupannya. Bila hanya berdasarkan situasi dengan eksistensialis, maka tidak ada lagi peran nasehat dan agama.

Kita semua akan diperhadapkan dengan Etika Situasi. Tidak ada kata demi kebaikan, demi menolong keluarga, menolong sahabat atas nama cinta. Kita harus melakukannya atas nama cinta tetapi tetap di dalam kesucian, kebenaran, dan kejujuran. Inilah etika Kristen.
Soli Deo Gloria!