[Kotbah ini dibawakan oleh Denni Boy Saragih, M. Div pada ibadah Mimbar Bina Alumni, Jumat 20 Februari 2009]
Selamat datang di dunia Ruth! Kita patut bersyukur ada Ruth di dunia ini karena jika tidak ada Ruth maka yang ada adalah Ruthless [bhs Inggris; Kejam]. Judul untuk MBA kali ini adalah “Seorang Sahabat Tatkala Hidup Tak Kunjung Dirundung Malang”. Mari kita mendahului renungan kita--- dari empat seri mengenai kisah Rut--- dengan membaca kisah Rut pasal 1.
Kita perlu memahami kitab Rut dalam konteks latar belakangnya. Di dalam ayat 1 dikatakan bahwa kisah ini terjadi pada zaman Hakim-Hakim. Ada ciri khas yang unik dari zaman Hakim-Hakim, yaitu orang Israel pada umumnya tidak setia kepada Tuhan. Di dalam Hakim-Hakim 2:11-13 dikatakan, ”11Lalu orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN dan mereka beribadah kepada para Baal. 12Mereka meninggalkan TUHAN, Allah nenek moyang mereka yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir, lalu mengikuti allah lain, dari antara allah bangsa-bangsa di sekeliling mereka, dan sujud menyembah kepadanya, sehingga mereka menyakiti hati TUHAN. 13Demikianlah mereka meninggalkan TUHAN dan beribadah kepada Baal dan para Asytoret.” Kesalehan Boas, Naomi, dan Rut dalam kisah ini adalah kesalehan yang terjadi ketika zaman itu penuh dengan ketidaksetiaan kepada Tuhan. Setiap hakim muncul itu terjadi karena Tuhan menghukum Israel karena kefasikan mereka. Hakim-Hakim 3:7 mengatakan, ”Orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, mereka melupakan TUHAN, Allah mereka, dan beribadah kepada para Baal dan para Asyera”. Dan hal ini diulang dalam Hakim-Hakim 6:1, ”Tetapi orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN; sebab itu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Midian.”, dan di dalam Hakim-Hakim 13:1, ”Orang Israel melakukan pula apa yang jahat di mata TUHAN; sebab itu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Filistin empat puluh tahun lamanya.” Dalam zaman dan para hakim yang tidak setia inilah Rut pasal 1 menceritakan tentang desa kecil yang bernama Bethlehem, dan sekelompok orang-orang yang tidak terkenal, yaitu Naomi - seorang yang tidak memiliki jabatan apa-apa, Boas yang hanya seperti saudagar kecil di kampung Bethlehem, dan Rut seorang asing yang belajar mengikut Tuhan. Suatu kisah yang sangat menghibur mengenai kesalehan di tengah-tengah kefasikan.
Sama dengan kisah dalam kitab Hakim-Hakim yang tidak menguatkan kita, kita menemukan pada masa sekarang banyak gereja yang memiliki pendeta-pendeta yang memiliki kisah yang tidak menyenangkan. Gereja-gereja yang ada tidak memiliki pelayanan yang hidup, dimana tidak ada kotbah yang baik. Tetapi seperti kisah Naomi, Rut, dan Boas, dalam situasi ini kita juga bisa dihibur. Jika kita bersedia terbuka, maka di gereja-gereja seperti kita kita akan menemukan iman yang tulus dan murni yang mencari Tuhan dalam bentuk sintua-sintua yang sudah sangat tua tetapi setia melayani. Penginjil Wanita yang tidak menjabat jabatan apapun tetapi setia melayani Tuhan dan jemaat-jemaat yang datang setiap minggu, berdoa, beribadah, dan melayani orang lain dengan setia walaupun mereka tidak terkenal. Kisah seperti ini persis terjadi di dalam kisah Rut. Orang-orang kecil yang berada di tengah kebobrokan tetapi terus menjadi gambaran kesetiaan Tuhan.
Secara garis besar tema dari kitab Rut adalah kita melihat bagaimana kesaksian orang-orang yang kecil bagi Tuhan dan Tuhan melakukan hal-hal yang besar bagi mereka. Kelak kita akan melihat dari keturunan orang-orang kecil yang setia seperti inilah lahir Daud dan Yesus Kristus, sang Juruselamat dunia. Kisah yang sangat besar yang dimulai dari kisah kecil di desa kecil yang bernama Betlehem.
Ada tiga hal yang bisa kita renungkan dalam kitab Rut ini. Pertama adalah mengenai Naomi yang dirundung malang (1-6). Kedua adalah mengenai Ruth yang berkerudung cinta (7-18). Ketiga adalah Tuhan yang menenun karunia (19-22). Tuhan yang hadir dalam hakim-hakim yang hebat adalah Tuhan yang juga hadir dalam kehidupan wanita sederhana seperti Naomi. Kita juga akan merenungkan Ruth, seorang yang memiliki karakter yang setia yang merupakan gambaran kesetiaan Tuhan dalam wujud seorang perempuan Moab. Orang Israel melarang kawin dengan perempuan Moab, tetapi justru Ruth yang adalah orang Moab menjadi gambaran kesetiaan Tuhan. Sering sekali Tuhan melakukan sesuatu yang out of the box. Kenapa orang setia itu dan yang paling besar cintanya adalah perempuan Moab, seorang perempuan yang sebenarnya tidak mengenal Tuhan.
Naomi: Tak Kunjung Dirundung Malang (1-6)
Naomi memiliki arti baik atau menyenangkan. Tetapi si Naomi ini adalah perempuan yang tak kunjung dirundung malang. Pertama, dia bersama suaminya menghindari bencana kelaparan. Di sini digambarkan bagaimana mereka sedikit tidak setia atau kurang beriman kepada Tuhan. Mereka meninggalkan Israel yang adalah tanah perjanjian. Mereka merasa di tanah orang lain lebih menjanjikan. Kedua, Naomi---setelah menjadi janda---menikahkan anaknya dengan perempuan Moab. Dalam perjalanan hidupnya yang seperti itu, Naomi kehilangan suaminya di negeri orang. Kehilangan suami adalah sesuatu yang menyedihkan karena pada zaman dahulu kehilangan suami sama dengan kehilangan mata pencaharian utama. Bukan hanya itu, dia juga kehilangan kedua anaknya, yang telah menikah tetapi tanpa cucu meskipun telah 10 tahun menikah. Naomi kemudian menjadi janda dengan dua menantu di negeri orang. Yang menyakitkan lagi adalah sewaktu dia mengalami semua ini, ternyata Tuhan memberkati tanah Kanaan dengan kelimpahan. Dia pergi meninggalkan dengan maksud meninggalkan bencana tetapi yang ia temui adalah bencana dan yang sebenarnya ia tinggalkan adalah berkat. Sehingga kita melihat bahwa arti namanya yang baik atau menyenangkan sudah berubah. Ia meminta agar dipanggil dengan nama Mara atau pahit.
Mungkin di sekeliling kita juga kita melihat ada orang-orang yang memiliki kehidupan seperti Naomi. Apa yang dilakukan orang ketika mengalami apa yang dialami oleh Naomi ini? Mungkin ada persamaan tetapi ada juga perbedaan. Persamaannya yang pertama adalah orang yang megalami hal ini merasa bahwa apa yang menimpa dirinya merupakan hukuman Tuhan. Mulai mencari-cari apa dosanya. Yang kedua adalah terluka. Dan akibatnya adalah hal yang ketiga yaitu menghindarkan diri dari ingatan-ingatan akan kepahitan. Makanya, alasan Naomi kembali ke Kanaan adalah mungkin dia selalu teringat akan suami dan anaknya di negeri Moab itu. Tetapi ada juga perbedaan antara Naomi dengan orang lain. Naomi tidak jatuh ke dalam self-pity yang membuat dia menggantungkan dirinya kepada orang lain. Sering sekali kita menemukan seseorang yang mengalami bencana mengharapkan orang lain mendukung dia. Naomi berbeda. Ia mengasihi menantunya dengan melepaskan mereka untuk menemukan hidup yang lebih baik. Naomi dalam penderitaannya punya karakter tidak membebani menantunya dengan kesusahan hidup yang dialaminya. Mari belajar dari hal ini. Ketika kita dalam kesusahan jangan menjadikan diri kita menjadi beban bagi orang lain. Dalam kesusahan pun tidak berarti kita tidak mengasihi orang lain atau terlupu dari panggilan untuk mengasihi orang lain. Tetapi tentu saja yang paling menonjol dalam kisah ini adalah Ruth.
Ruth yang berkerudung cinta (7-18)
Ruth dalam ayat 7-18 menunjukkan kasih seorang menantu kepada mertua miskin yang menjanda. Mari melihat pilihan Ruth dan Orpa dalam bentuk perbandingan. Pertama adalah antara kesempatan menikah atau menjanda sampai tua. Kedua antara Orang Tua yang masih ada atau Mertua yang miskin dan tidak punya apa-apa. Ketiga antara Tuhannya atau Tuhannya Mertua. Keempat antara Bangsanya atau bangsa mertua. Dan keempat adalah antara Miskin atau kesempatan merubah nasib. Pilihan Orpa adalah pilihan yang wajar dan merupakan anjuran dari Naomi sendiri. Menurut kita pilihan yang baik itu sudah jelas yaitu meninggalkan Naomi dan memulai hidup yang baru.
Ayat 16-17 merupakan inti sari dari pasal 1 ini dan di sinilah terjadi ungkapan kasih Ruth kepada Naomi. Pilihannya jelas bahwa Ruth seharusnya meninggalkan Naomi tetapi Ruth memilih tidak meninggalkan Naomi. Ia berkata, "16Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; 17di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!" Biasanya kita mendengar kalimat terakhir ini hanya di dalam acara pernikahan, bukan hubungan antara mertua dan menantu. Tetapi di dalam kisah ini kita melihat bagaimana ungkapan yang biasanya untuk suami isteri itu diungkapkan dalam kasih Ruth kepada Naomi. Mengapa Ruth mampu memilih untuk mengikut Naomi? Inilah namanya cinta. Cinta bukan hanya bersama-sama dalam masa senang. Tetapi cinta adalah agave yang tidak mengharapkan balasan. Kasih berarti rela masuk dalam penderitaan orang yang kita kasihi. Hari ini kita ditantang untuk mengevaluasi seberapa besar kasih kita kepada orang-orang yang kita kasihi. Hal ini tergambar dari harga yang berani yang kita bayar buat mereka. Kasih tanpa komitment bukan kasih. Mari melihat hal ini dalam kisah C. S Lewis.
C. S Lewis adalah seorang atheis yang bertobat menjelang umur 50-an. Dia seorang yang berpikir terus. Saking nikmatnya berpikir dia lupa untuk asmara-asmaraan dan cinta-cintaan. Hampir sampai umur 50-an C. S Lewis belum menikah. Kemudian dia bertobat. Ketika dia bertobat, Tuhan juga memulihkan unsur asmaranya. Mulailah ia jatuh cinta. Dasar kutu buku, ia jatuh cinta pada seorang kutu buku, seorang wartawati dari Amerika. Mereka mulai menjadi sahabat pena. Mereka surat-surat dan berpacaran dan kemudian si wartawati yang adalah janda pindah ke London dan mereka berencana untuk menikah. Singkat cerita, sewaktu mereka mempersiapkan pernikahan, si wanita jatuh sakit. Mereka mengira karena kecapaian untuk mempersiapkan pernikahan. Di bawa kerumah sakit dan ternyata wanita ini terkena penyakit kanker dan umurnya tinggal enam bulan lagi. Pertanyaannya, jika anda menjadi C. S Lewis apakah anda akan lanjut untuk menikah atau berkata, ”Sudahlah! Mari menjalani enam bulan ini sebagai sahabat dan saya akan menolong kamu. Tidak perlu menikah. Buat apa memaksakan hal yang tidak bisa dipaksakan.”? Apa yang dilakukan CS Lewis? Ia tetap menikah dengan wanita itu. Seolah-olah ia berkata, ”Kaupun jika kamu harus meninggal, maka kamu akan meninggal sebagai Nyonya Lewis.”
C. S Lewis tetap menikah dengan wanita itu. Realita itu memang kejam. Setelah enam bulan menikah, maka meninggallah perempuan itu. C. S Lewis pernah menulis buku The Problem of Pain, satu analisis yang sangat logis dan sistematis mengenai sebab-sebab penderitaan dan pemecahannya. Lalu kemudian setelah isterinya ini dikuburkan dan C. S Lewis pulang ke Apartemennya yang hening dan sunyi maka ada kesunyian yang luar biasa dan dia berkata bahwa dalam penderitaan ketika dia paling membutuhkan Tuhan, kemanapun dia mengetuk, seolah-olah Tuhan tidak menjawabnya. Ia menulis buku namanya The Grief Observed, satu buku lain mengenai penderitaan yang berbeda sekali dengan bukunya yang pertama, The Problem of Pain. Buku ini ditulis dengan sangat emosional dan mengiris hati, tetapi merupakan satu buku yang sangat indah dan dalam dan sangat empatik menggambarkan apa itu penderitaan manusia.
Pertanyaannya mengapa C. S Lewis mau masuk ke dalam kehidupan isterinya? Mengapa ia rela mengalami apa yang dialami meskipun ia tahu bahwa dalam enam bulan kemudian ia akan mengalami penderitaan yang menyakitkan akibat keputusan menikah dengan isterinya. Apa jawabnya? Itulah cinta. Cinta yang rela masuk kedalam penderitaan orang yang kita sayangi. Bukankah ini yang telah dilakukan Yesus ketika Dia mengasihi dunia ini? Demi kasihNya kepada manusia Ia rela datang ke dunia dan mati di Golgota untuk membawa kita kepada keselamatan. Bahkan seorang teolog mengatakan kalau hanya satu orang saja yang berdosa dari bermilyard orang dimuka bumi ini, dan orang itu adalah anda, Tuhan Yesus rela datang ke dunia, menderita dan mati dengan cara yang sama di bukit Golgota untuk anda. Karena Dia mencintai anda dan kita semua dengan cinta yang dalam. Karena cintaNya itu, Dia rela masuk ke dalam dosa dan kejahatan kita. Martin Luther berkata bahwa kitalah yang sesungguhnya menyalibkan Yesus dan membuat Dia binasa. Oleh karena itu setiap orang Kristen membawa sebuah paku yang telah memaku Tuhan Yesus di atas kayu salib di dalam sakunya. Kita orang berdosa yang sangat hina dan tidak layak dicintai, tetapi Tuhan mencintai kita sebagaimana adanya karena itulah hakekat daripada agave, mengasihi dan rela masuk ke dalam penderitaan orang yang kita kasihi agar dengan demikian kita belajar mencintai sesama kita seperti Allah telah mencintai kita sebagaimana adanya kita.
Kasih Ruth adalah kasih seorang menantu kepada mertua miskin yang menjanda. Kasih kepada mertua yang kaya mungkin gampang, tetapi kasih kepada mertua yang miskin, janda serta tidak memiliki apa-apa itu adalah sesuatu yang sulit. Karena cintanya Ruth lebih memilih mendampingi mertuanya dan tidak meninggalkannya sendirian. Kesetiaan yang tidak memikirkan diri sendiri mendapatkan reward yang indah. Sungguh, dengan adanya Ruth maka hidup Naomi tidak lagi ruthless [kejam], tetapi hidup yang punya sahabat.
Ada dua pertanyaan refleksi bagi kita sebelum kita lanjut kepada Tuhan. Pertama apakah dalam hidup, anda bisa menemukan seorang’Ruth’ ketika dalam kesakitan? Jika ya maka hargai dengan sangat. Mungkin selama ini anda tidak menghargai dan berterima kasih kepada dia karena menurut anda dia sudah sewajarnya demikian. Biarlah pada sore hari ini jika ada seperti itu dalam hidupmu belajar mengapresiasi. Kedua, apakah anda adalah seorang ’Ruth’ bagi ’Naomi’ disekitar anda? Jika disekitar anda ada ’Naomi’ apakah dia akan merasakan kehadiran ’Ruth’ ketika anda hadir dalam hidupnya?
Tuhan yang menenun karunia (19-22).
Dalam kisah ini kita melihat Tuhan yang jalanNya melampau segala pikiran, rencana, dan pengalaman manusia. Tuhan melampui segala peristiwa kehidupan untuk membawa cinta dan keselamatan bagi mereka yang percaya padaNya. Bagi Naomi Tuhan memberikan Ruth dan bagi Ruth Tuhan menghadirkan seorang Boas. Pada saat yang sama membelokkan hidup mereka kepada tujuanNya. Tuhan tetap tersembunyi, tetapi sedang bekerja melalui kehidupan sehari-hari untuk memenuhi janjiNya bagi umatNya. Jika kita mereview kembali jalan-jalan Tuhan dalam kasus Naomi kita bisa melihat bahwa semuanya ityu adalah rancangan Allah yang indah dibalik kepahitan yang luar biasa. Jika Elimelekh dan Naomi tetap setia kepada Tuhan, maka mereka seharusnya tidak meninggalkan tanah Kanaan untuk pergi ke tanah Moab. Jika mereka tetap di tanah Kanaan, mungkin hidup Elimelekh lebih panjang. Jika hidup Elimelekh lebih panjang ia tidak akan mengijinkan anak-anaknya menikah dengan perempuan Moab. Jika anak-anaknya tidak menikah dengan perempuan Moab mungkin Ruth tidak akan menjadi janda dan tidak akan pulang ke Kanaan. Jika Ruth tidak pulang ke Kanaan, mungkin dia tidak akan ketemu dengan Boas. Tetapi jika Ruth tidak jatuh cinta pada Boas dan Boas tidak jatuh cinta kepada Ruth, maka mereka tidak akan menikah. Jika mereka tidak menikah maka tidak akan ada Isai, jika tidak ada Isai maka tidak akan ada Daud, jika tidak ada Daud maka tidak akan ada Yesus Kristus. Ini adalah sebuah cerita yang indah yang bisa kita pahami dari luar. Tetapi mungkin Naomi yang mengalami sendiri tidak bisa memahami seperti ini.
Tetapi cerita ini memberitahukan kita mengenai hikmat. Mari mengevaluasi hidup kita dan melihat cara Tuhan bekerja dalam hidup kita. Mungkin banyak hal yang kita alami, suka maupun duka, silih berganti mulai dari kita kecil sampai sekarang, mari kita evaluasi. Bukankah Tuhan sedang merangkai satu jalan yang indah sehingga kita menjadi apa adanya kita. Seorang hamba Tuhan pernah berkata, ”Jika aku bisa mengulangi hidupku sekali lagi, dua kali lagi, atau seribu kali lagi, aku akan tetap memilih mengikut Yesus, melayaniNya, dan menjadi Hamba Tuhan karena aku tidak pernah menyesalinya.” Beranikah kita berkata hal yang sama pada hari ini? Karena kita menghayati jalan Tuhan yang indah sejak kecil sampai sekarang, meski ada bagian dalam hidup kita yang tidak menyenangkan, tetapi ada satu penerimaan atau contentement bahwa kita tidak menyesal mengikut Tuhan dan menyadari bahwa Tuhan bekerja dalam ketersembunyianNya untuk memenuhi janjiNya bagi orang yang percaya kepadaNya.
Tiga pesan pada renungan hari ini. Pertama, ingatlah kekuatan Naomi. Ketika Naomi mengalami hidup yang kejam dan tak bermakna, dia tidak membebankannya pada orang disekelilingnya. Kedua, hayatilah kasih Ruth. Ruth memilih untuk mendampingi mertuanya, dan tidak meninggalkannya sendiri. Kesetiaan yang tidak memikirkan diri sendiri mendapatkan reward yang indah dari Allah. Ketiga, hiduplah dalam hikmat Allah. Tuhan mengubah tragedi Moab membawa akhir bahagia di Jerusalem.
Solideo Gloria!
Mimbar Bina Alumni (MBA) merupakan sebuah ibadah yang disediakan untuk para Alumni, khususnya yang tinggal di Medan. Ibadah ini diadakan sekali seminggu yaitu pada hari Jumat, pkl 18.00-20.00. MBA ini diadakan di GSJA Iskandar Muda. Kami senantiasa mengundang rekan-rekan sekalian untuk menghadirinya. Semoga MBA ini menjadi berkat bagi kita dan menguatkan kita di tengah-tengah pekerjaan kita. Amin.
Wednesday, April 28, 2010
Saturday, April 24, 2010
Christian Hope 3: LIVING THE HOPE
Denni B. Saragih, M. Div
Saat ini kita akan belajar mengenai seri Christian Hope yang ketiga yang merupakan bagian yang terakhir. Kita akan memulainya dengan mengingat beberapa poin refleksi teologis yang penting sebagai bagian dalam pengharapan Kristiani di bawah judul live out our hope in the modern world - bagaimana kita menghidupi pengharapan dalam dunia modern.
Pengharapan Kristiani berakar dari satu realita dimana manusia dengan segala pencariannya akan keadilan, kebenaran, cinta, Tuhan, dan keindahan adalah satu pencarian yang Tuhan akan jawab. Pengharapan juga berakar dari Perjanjian Lama dimana ada pengharapan Israel menantikan Tuhan yang Esa untuk menyelesaikan persoalan dunia ciptaan yang telah jatuh ke dalam dosa. Segala persoalan yang ada, seperti pemberontakan manusia dalam tatanan ciptaan dan segala hubungan manusia dengan manusia lainnya, akan Tuhan jawab. Pengharapan ini juga berakar dan mengambil wujud dalam Gereja Perjanjian Baru, yang menantikan pembenaran umat Tuhan dimana akan ada deklarasi bahwa umat Tuhan adalah umat yang benar. Meskipun jumlahnya kecil dan mengalami aniaya, tetapi dalam umat ini, Tuhan menunjukkan bahwa mereka percaya pada Juruselamat yang benar yaitu Yesus Kristus. Gereja juga menantikan dimana Tuhan secara publik akan membenarkan mereka. Kepercayaan Kristiani bukan kepercayaan private (yakin dengan apa yang dipercayai), tetapi kepercayaan yang suatu saat nanti akan dinyatakan secara publik bahwa kita percaya pada Juruselamat yang benar. Yesuslah Juruselamat yang benar, bukan kaisar pada zaman itu atau Amerika pada zaman sekarang. Gereja juga menantikan pemulihan ciptaan dalam kedatangan Yesus yang kedua. Bahwa kedatangan Yesus yang kedua bukan hanya sekedar ‘saya akan menikmati Sorga’ tetapi dunia yang telah jatuh ini akan Tuhan pulihkan. Hal ini bukanlah sebuah pengharapan yang individualistis tetapi pengharapan yang kosmis, bukan hanya mengenai saya tetapi dunia dan segala isinya.
Beberapa waktu yang lewat kita membahas bahwa pusat pengharapan Kristiani adalah kebangkitan. Pengharapan kita bukan dunia yang material atau dunia spiritual dimana ketika kita masuk Sorga, maka kita samasekali tidak memiliki hubungan lagi dengan realitas pada masa sekarang ini. Sekali lagi ditekankan bahwa jika puncak pengharapan kita adalah Sorga, maka kita keliru memahami bahwa Sorga adalah sementara dan dunia ini selama-lamanya. Pengharapan kita bukan pada kehidupan setelah kematian (Sorga), tetapi pada kehidupan setelah kehidupan setelah kematian, dan inilah yang disebut kebangkitan. Kebangkitan menegaskan ulang tempat dunia fisik dalam rencana Allah akan masa depan. Allah tidak merencanakan sama sekali dunia yang tidak ada hubungannya dengan fisikalitas kita pada masa ini. Hal ini juga konsisten dengan dunia fisik yang juga telah dirangkul Allah dalam misteri inkarnasi. Ketika Yesus datang ke dunia, Dia mengambil alih tubuh manusia. Dan ketika Dia naik ke Sorga, Ia tidak meninggalkan tubuh itu, tetapi membawanya bersama-sama dengan Dia. Dunia fisik di mana Yesus hidup, bahagia, menderita, mencintai dan dicintai, bekerja, melayani, kesakitan, dilukai, dan mati adalah dunia fisik dimana kita juga mengalami hal yang sama. Dunia ini bukanlah dunia fisik yang ditolak oleh Allah meskipun banyak di antara kita yang menolak dunia fisik tersebut. Dunia fisik ini adalah dunia yang dirangkul Allah kembali dalam proyek kebangkitan. Kebangkitan menegaskan di mana sebenarnya tempat kepeduliaan Allah yang paling dalam. Oleh karena itulah tidak heran ketika kita melihat di dalam Perjanjian Lama, khususnya dalam kitab Taurat, kita tidak menemukan pengharapan setelah kematian. Dalam PL, berkat dinyatakan dalam bentuk fisik. Misalnya, berkat pada Abraham adalah berkat untuk memiliki keturunan seperti bintang di langit dan pasir di pantai, dan punya relasi untuk diberkati dan menjadi berkat. Dunia yang ditekankan dalam kitab Taurat, dunia dimana kita berada, kembali ditekankan dalam Perjanjian Baru. Tetapi bukan dengan Sorga melainkan dengan kebangkitan. Sorga penting dan merupakan sebuah tempat yang indah dan (sebagian) kita akan kesana. Tetapi Sorga bukanlah puncak pengharapan kita. Yang menjadi puncak pengharapan kita adalah kehidupan setelah kehidupan setelah kematian.
Oleh karena itu, maka fisikalitas dunia adalah sesuatu yang harus kita rangkul. Kita harus hidup di dunia ini. Kita harus bahagia, menghayati penderitaan, mencintai dan dicintai, melayani, kesakitan, dan mati di dunia ini. Dunia ini adalah kenyataan yang harus kita rangkul bukan sesuatu kenyataan yang kita tolak atau sesuatu yang kelak akan kita tinggalkan. Semua hal ini membuat belajar dan memperdalam iman kita akan sesuatu yang sangat indah yang nanti Tuhan akan berikan. Sesuatu yang tersembunyi dibalik hidup menderita, bahagia, mencintai dan dicintai, kesakitan, dan mati, yang semua adalah bayang-bayang dari sesuatu yang lebih baik. Oleh sebab itu bukanlah satu kebetulan ketika Marthin Luther ditanya, ”Apa yang akan anda lakukan hari ini jika Yesus datang besok hari?”, lalu ia menjawab, ”Aku akan pergi ke ladangku dan menanam pohon apel.” Yang dimaksudkan Marthin Luther di sini adalah ia akan hidup sebagaimana ia hidup dan akan menghayati kemanusiaanya sebagaimana ia menghayati kemanusiaannya.
Pengharapan yang seperti ini akan mencegah kita menjadi seorang yang Escapist (melarikan diri dari realita) dan Uthopist (berharap berlebihan dan sesuatu yang sempurna pada kekinian). Pengharapan ini mengajar kita menjadi orang Kristen yang realist, yang merangkul kenyataan dan kehidupan dengan pengharapan Kristiani.
Escapist
Eskapis adalah orang yang lahir dari dunia dan ingin menyelesaikan segala sesuatu di Sorga. Dan mereka memiliki motto (dan celakalah orang Kristen yang memiliki moto seperti ini), ”Biar bodoh, miskin, terbelakang asal masuk Sorga.” Motto ini adalah milik para pengecut dan tidak ingin menyelesaikan persoalan di dunia ini tetapi dunia yang akan datang. Tuhan pun menyelesaikan persoalan di dunia ini. Dan Dia akan menyelesaikannya dengan membangkitkan kita dan mendeklarasikan kepada publik bahwa banyak orang yang tidak percaya kepada Yesus serta yang menjungkirbalikkan kebenaran akan kena hukuman. Escapist juga membuat kita tidak serius akan panggilan. Kita tidak serius dengan pangilan kita untuk memperbaiki pendidikan. Mungkin kita memperbaiki pendidikan bukan dalam rangka agar pendidikan ditebus untuk kemuliaan Allah, tetapi memperbaiki pendidikan hanya memberikan yang terbaik karena alasan selama kita masih hidup di dunia ini. Hal ini tidak Alkitabiah dan merupakan pengharapan orang yang minimalis. Orang yang Escapist juga mengerjakan pendidikan hanya karena dia adalah seorang guru, maka harus mengajar dengan baik dan bersaksi lewat profesi sebagai seorang guru. Semua hal ini benar. Tetapi kita harus melihat lebih jauh, bahwa Allah berencana untuk menebus pendidikan untuk mencerahkan apa artinya pendidikan dan bagaimana pendidikan itu dilakukan dalam konteks penharapan Kristiani. Hal yang sama kita lakukan dalam dunia ekonomi di mana bisnis harus ditebus sehingga menjadi bisnis yang merefleksikan kadilan bukan ketamakan, yang mementingkan orang banyak dan pelayanan bukan memiliki lebih banyak. Hal ini ini berlaku untuk bidang hukum bahwa yang salah harus dinyatakan salah sekuat apapun dia, dan yang benar dikatakan benar selemah apapun dia. Dan semua ini berlaku untuk semua bidang yang ada dimana semua akan dipulihkan ketika Yesus datang kedua kali. Jika kita sadar akan panggilan dalam kebangkitan, maka kita akan serius memikirkan bagaimana kita dalam profesi kita masing-masing terlibat dalam proyek kebangkitan ini dimulai dari sekarang. Bukan sekedar berbuat sesuatu atau sekedar PI di tempat kerja. Jika kita hanya sekedar PI saja maka apa yang kita lakukan hanya akan mengecilkan Injil itu sendiri. Injil bukan hanya sekedar ’mati lalu masuk Sorga’ tetapi kita harus mengingat bahwa pekabaran Injil sendiri adalah Injil kebangkitan. Bahwa dalam Injil adalah satu pemulihan dunia dan fisikalitas dimana kita berada. Karena itu kita harus menolak eskapist. Kita tidak boleh lari dari dunia, tetapi telibat dalam dunia. Orang-orang yang eskapist memberikan image dan pesan yang buruk tentang Tuhan dimana Tuhan hanya ekslusif bagi sekelompok orang tertentu, Gereja hanya bagi orang yang memiliki kecenderungan spiritualitas tertentu, dan Injil adalah resep lain diantara resep-resep yang ada dimana bisa hidup tenang ditengah-tengah dunia yang sibuk dan penuh kebisingan ini. Injil, Gereja, dan Tuhan bukan seperti ini.
Utophist
Pandangan ini adalah pandangan yang mementingkan dunia masa kini demi dunia masa kini semata. Pandangan yang memperbaiki pendidikan itu untuk kepentingan pendidikan itu sendiri, bukan untuk menebus pendidikan bagi kemuliaan Allah. Orang-orang utophist akan berkata, “Selagi ada kesempatan nikmatilah pengetahuan, keindahan, kesenangan, kemajuan dan kemungkinan.” Seolah-olah kita hanya hidup pada dunia sekarang ini dimana kebangkitan tidak segera akan datang. Pandangan ini membuat kita menggantikan pengharapan dengan kenyataan, masa depan dengan kekinian dan menggantikan manusia dengan Tuhan. Orang utophist merangkul kenyataan tanpa Tuhan dan merangkul kemanusia tanpa masa depan dan pengharapan. Ingatlah, pada akhirnya dunia akan binasa.
Christian Realist
Karena itu, kita harus menjadi orang Kristen yang realist dan memiliki pengharapan yang realist. Seperti yang dikatakan Martin Lther, ”Kita hidup pada hari ini dalam terang hari itu.” Jadi apa yang kita ingin Yesus temukan dimana kita sedang lakukan pada saat Ia datang kelak, maka kita akan melakukannya. Jika kita ingin Yesus menemukan kita sedang melayani, bekerja, dengan tekun, bersekutu, maka hal inilah yang akan kita lakukan. Dan apa yang kita tidak ingin Yesus temukan pada saat kita melakukannya ketika Ia datang, maka kita tidak akan melakukannya. Inilah yang dimaksud denga ’hidup pada hari ini dalam terang hari itu’. Kita merangkul dunia dengan segala kompleksitasnya sebagai seorang yang realist dengan tidak menyerderhanakannya, tetapi dunia dengan segala kompleksitasnya menjadi arena di mana pengharapan Kristiani hidup dan dinyatakan. Dunia pendidikan, ekonomi, sosial, hukum dan keindahan adalah bagian dari rencana penebusan bukan pemusnahan. Tetapi kita sadar bahwa kita tidak akan menemukan perwujudan yang sempurna di dunia ini. Karena itu kita tidak menarik diri ataupun bermimpi tetapi secara realist menyadari bahwa kita berada dalam keadaan eskatologis “Already and Not-Yet”--- penebusan sudah dimulai tetapi belum sempurna.
Oleh sebab itu mari kita live out our Hope. Kebangkitan Tubuh sebagai pusat dari jati diri kita. Jika kita yang sekarang bertemu dengan kita yang telah dibangkitkan, maka kita akan tersungkur dan terkagum-kagum karena kita mengira sedang bertemu dengan malaikat. Jika inilah kemuliaan yang akan kita dapatkan nanti, bagaimanakah kita hidup pada zaman sekarang ini? Inilah jati diri kita. Kebangkitan itu juga menjadi tujuan hidup kita. Oleh sebab itu kita harus hidup semakin mulia dan semakin mulia dari hari kehari. Sebagai anak-anak Kerajaan yang mulia, kita jangan merendahkan diri kita. Jika kita hanya hidup untuk uang, karir, atau keluarga, maka Tuhan kita terlalu kecil dan pengharapan kita terlalu kecil karena kita tidak tahu apa yang akan Tuhan sediakan bagi kita di masa yang akan datang. CS Lewis menjelaskan hal ini dengan menggambarkan seorang anak yang hanya bermain-main pasir di pantai karena dia tidak tahu artinya berlibur di pantai yang indah. Demikianlah orang yang hanya hidup demi kesenangan seks, kenikmatan dan kekayaan, sementara Allah menyediakan pengharapan yang indah dalam hidupnya. Kebangkitan tubuh harus menjadi pusat dari kehidupan kita. Panggilan dan hidup kita harus berpusatkan pada kenyataan bahwa suatu hari kelak kita akan dibangkitkan. Kebangkitan Tubuh adalah redefinisi atas makna panggilan. Siapapun kita dan apapun pekerjaan kita mari kita belajar menghayati bahwa fisikalitas di mana kita berada adalah bagian dari sesuatu yang Allah akan tebus dan karena itu mari mulai terlibat dalam proyek penebusan itu, memulihkan bidang-bidang panggilan dimana kita berada dan bagaimana kita membawa kehidupan kebangkitan yang sudah mulai terjadi dalam diri kita, lewat kelahiran kembali dan pertumbuhan rohani kita, di transfer dan mentransformasi sistem, nilai-nilai dan praktek dari lingkungan dimana kita kita dipanggil. Kebangkitan Tubuh adalah pencerahan bagi Christian Worldview atas Pendidikan, sosial, ekonomi, Hukum, Politik, dll.
Kebangkitan Tubuh juga menjadi jembatan empati bagi pencarian kemanusiaan. Dimanapun kita menemukan orang mencari keindahan, keadilan, cinta dan keintiman, spiritualitas dan Tuhan, kebenaran dalam ambisi pengetahuan, kita tahu apa yang mereka cari akan dijawab oleh Tuhan. Kita telah menerima janji itu, dan hal ini mejadi empati bagi kita untuk merasakan bahwa apa yang mereka cari juga merupakan apa yang kita cari dan kita ingin menceritakan kepada mereka Injil, bahwa kita tahu di mana mereka seharusnya mencari dan apa yang menjadi jawaban daripada segala pencarian itu dengan cara yang lebih bijaksana.
Solideo Gloria!
Saat ini kita akan belajar mengenai seri Christian Hope yang ketiga yang merupakan bagian yang terakhir. Kita akan memulainya dengan mengingat beberapa poin refleksi teologis yang penting sebagai bagian dalam pengharapan Kristiani di bawah judul live out our hope in the modern world - bagaimana kita menghidupi pengharapan dalam dunia modern.
Pengharapan Kristiani berakar dari satu realita dimana manusia dengan segala pencariannya akan keadilan, kebenaran, cinta, Tuhan, dan keindahan adalah satu pencarian yang Tuhan akan jawab. Pengharapan juga berakar dari Perjanjian Lama dimana ada pengharapan Israel menantikan Tuhan yang Esa untuk menyelesaikan persoalan dunia ciptaan yang telah jatuh ke dalam dosa. Segala persoalan yang ada, seperti pemberontakan manusia dalam tatanan ciptaan dan segala hubungan manusia dengan manusia lainnya, akan Tuhan jawab. Pengharapan ini juga berakar dan mengambil wujud dalam Gereja Perjanjian Baru, yang menantikan pembenaran umat Tuhan dimana akan ada deklarasi bahwa umat Tuhan adalah umat yang benar. Meskipun jumlahnya kecil dan mengalami aniaya, tetapi dalam umat ini, Tuhan menunjukkan bahwa mereka percaya pada Juruselamat yang benar yaitu Yesus Kristus. Gereja juga menantikan dimana Tuhan secara publik akan membenarkan mereka. Kepercayaan Kristiani bukan kepercayaan private (yakin dengan apa yang dipercayai), tetapi kepercayaan yang suatu saat nanti akan dinyatakan secara publik bahwa kita percaya pada Juruselamat yang benar. Yesuslah Juruselamat yang benar, bukan kaisar pada zaman itu atau Amerika pada zaman sekarang. Gereja juga menantikan pemulihan ciptaan dalam kedatangan Yesus yang kedua. Bahwa kedatangan Yesus yang kedua bukan hanya sekedar ‘saya akan menikmati Sorga’ tetapi dunia yang telah jatuh ini akan Tuhan pulihkan. Hal ini bukanlah sebuah pengharapan yang individualistis tetapi pengharapan yang kosmis, bukan hanya mengenai saya tetapi dunia dan segala isinya.
Beberapa waktu yang lewat kita membahas bahwa pusat pengharapan Kristiani adalah kebangkitan. Pengharapan kita bukan dunia yang material atau dunia spiritual dimana ketika kita masuk Sorga, maka kita samasekali tidak memiliki hubungan lagi dengan realitas pada masa sekarang ini. Sekali lagi ditekankan bahwa jika puncak pengharapan kita adalah Sorga, maka kita keliru memahami bahwa Sorga adalah sementara dan dunia ini selama-lamanya. Pengharapan kita bukan pada kehidupan setelah kematian (Sorga), tetapi pada kehidupan setelah kehidupan setelah kematian, dan inilah yang disebut kebangkitan. Kebangkitan menegaskan ulang tempat dunia fisik dalam rencana Allah akan masa depan. Allah tidak merencanakan sama sekali dunia yang tidak ada hubungannya dengan fisikalitas kita pada masa ini. Hal ini juga konsisten dengan dunia fisik yang juga telah dirangkul Allah dalam misteri inkarnasi. Ketika Yesus datang ke dunia, Dia mengambil alih tubuh manusia. Dan ketika Dia naik ke Sorga, Ia tidak meninggalkan tubuh itu, tetapi membawanya bersama-sama dengan Dia. Dunia fisik di mana Yesus hidup, bahagia, menderita, mencintai dan dicintai, bekerja, melayani, kesakitan, dilukai, dan mati adalah dunia fisik dimana kita juga mengalami hal yang sama. Dunia ini bukanlah dunia fisik yang ditolak oleh Allah meskipun banyak di antara kita yang menolak dunia fisik tersebut. Dunia fisik ini adalah dunia yang dirangkul Allah kembali dalam proyek kebangkitan. Kebangkitan menegaskan di mana sebenarnya tempat kepeduliaan Allah yang paling dalam. Oleh karena itulah tidak heran ketika kita melihat di dalam Perjanjian Lama, khususnya dalam kitab Taurat, kita tidak menemukan pengharapan setelah kematian. Dalam PL, berkat dinyatakan dalam bentuk fisik. Misalnya, berkat pada Abraham adalah berkat untuk memiliki keturunan seperti bintang di langit dan pasir di pantai, dan punya relasi untuk diberkati dan menjadi berkat. Dunia yang ditekankan dalam kitab Taurat, dunia dimana kita berada, kembali ditekankan dalam Perjanjian Baru. Tetapi bukan dengan Sorga melainkan dengan kebangkitan. Sorga penting dan merupakan sebuah tempat yang indah dan (sebagian) kita akan kesana. Tetapi Sorga bukanlah puncak pengharapan kita. Yang menjadi puncak pengharapan kita adalah kehidupan setelah kehidupan setelah kematian.
Oleh karena itu, maka fisikalitas dunia adalah sesuatu yang harus kita rangkul. Kita harus hidup di dunia ini. Kita harus bahagia, menghayati penderitaan, mencintai dan dicintai, melayani, kesakitan, dan mati di dunia ini. Dunia ini adalah kenyataan yang harus kita rangkul bukan sesuatu kenyataan yang kita tolak atau sesuatu yang kelak akan kita tinggalkan. Semua hal ini membuat belajar dan memperdalam iman kita akan sesuatu yang sangat indah yang nanti Tuhan akan berikan. Sesuatu yang tersembunyi dibalik hidup menderita, bahagia, mencintai dan dicintai, kesakitan, dan mati, yang semua adalah bayang-bayang dari sesuatu yang lebih baik. Oleh sebab itu bukanlah satu kebetulan ketika Marthin Luther ditanya, ”Apa yang akan anda lakukan hari ini jika Yesus datang besok hari?”, lalu ia menjawab, ”Aku akan pergi ke ladangku dan menanam pohon apel.” Yang dimaksudkan Marthin Luther di sini adalah ia akan hidup sebagaimana ia hidup dan akan menghayati kemanusiaanya sebagaimana ia menghayati kemanusiaannya.
Pengharapan yang seperti ini akan mencegah kita menjadi seorang yang Escapist (melarikan diri dari realita) dan Uthopist (berharap berlebihan dan sesuatu yang sempurna pada kekinian). Pengharapan ini mengajar kita menjadi orang Kristen yang realist, yang merangkul kenyataan dan kehidupan dengan pengharapan Kristiani.
Escapist
Eskapis adalah orang yang lahir dari dunia dan ingin menyelesaikan segala sesuatu di Sorga. Dan mereka memiliki motto (dan celakalah orang Kristen yang memiliki moto seperti ini), ”Biar bodoh, miskin, terbelakang asal masuk Sorga.” Motto ini adalah milik para pengecut dan tidak ingin menyelesaikan persoalan di dunia ini tetapi dunia yang akan datang. Tuhan pun menyelesaikan persoalan di dunia ini. Dan Dia akan menyelesaikannya dengan membangkitkan kita dan mendeklarasikan kepada publik bahwa banyak orang yang tidak percaya kepada Yesus serta yang menjungkirbalikkan kebenaran akan kena hukuman. Escapist juga membuat kita tidak serius akan panggilan. Kita tidak serius dengan pangilan kita untuk memperbaiki pendidikan. Mungkin kita memperbaiki pendidikan bukan dalam rangka agar pendidikan ditebus untuk kemuliaan Allah, tetapi memperbaiki pendidikan hanya memberikan yang terbaik karena alasan selama kita masih hidup di dunia ini. Hal ini tidak Alkitabiah dan merupakan pengharapan orang yang minimalis. Orang yang Escapist juga mengerjakan pendidikan hanya karena dia adalah seorang guru, maka harus mengajar dengan baik dan bersaksi lewat profesi sebagai seorang guru. Semua hal ini benar. Tetapi kita harus melihat lebih jauh, bahwa Allah berencana untuk menebus pendidikan untuk mencerahkan apa artinya pendidikan dan bagaimana pendidikan itu dilakukan dalam konteks penharapan Kristiani. Hal yang sama kita lakukan dalam dunia ekonomi di mana bisnis harus ditebus sehingga menjadi bisnis yang merefleksikan kadilan bukan ketamakan, yang mementingkan orang banyak dan pelayanan bukan memiliki lebih banyak. Hal ini ini berlaku untuk bidang hukum bahwa yang salah harus dinyatakan salah sekuat apapun dia, dan yang benar dikatakan benar selemah apapun dia. Dan semua ini berlaku untuk semua bidang yang ada dimana semua akan dipulihkan ketika Yesus datang kedua kali. Jika kita sadar akan panggilan dalam kebangkitan, maka kita akan serius memikirkan bagaimana kita dalam profesi kita masing-masing terlibat dalam proyek kebangkitan ini dimulai dari sekarang. Bukan sekedar berbuat sesuatu atau sekedar PI di tempat kerja. Jika kita hanya sekedar PI saja maka apa yang kita lakukan hanya akan mengecilkan Injil itu sendiri. Injil bukan hanya sekedar ’mati lalu masuk Sorga’ tetapi kita harus mengingat bahwa pekabaran Injil sendiri adalah Injil kebangkitan. Bahwa dalam Injil adalah satu pemulihan dunia dan fisikalitas dimana kita berada. Karena itu kita harus menolak eskapist. Kita tidak boleh lari dari dunia, tetapi telibat dalam dunia. Orang-orang yang eskapist memberikan image dan pesan yang buruk tentang Tuhan dimana Tuhan hanya ekslusif bagi sekelompok orang tertentu, Gereja hanya bagi orang yang memiliki kecenderungan spiritualitas tertentu, dan Injil adalah resep lain diantara resep-resep yang ada dimana bisa hidup tenang ditengah-tengah dunia yang sibuk dan penuh kebisingan ini. Injil, Gereja, dan Tuhan bukan seperti ini.
Utophist
Pandangan ini adalah pandangan yang mementingkan dunia masa kini demi dunia masa kini semata. Pandangan yang memperbaiki pendidikan itu untuk kepentingan pendidikan itu sendiri, bukan untuk menebus pendidikan bagi kemuliaan Allah. Orang-orang utophist akan berkata, “Selagi ada kesempatan nikmatilah pengetahuan, keindahan, kesenangan, kemajuan dan kemungkinan.” Seolah-olah kita hanya hidup pada dunia sekarang ini dimana kebangkitan tidak segera akan datang. Pandangan ini membuat kita menggantikan pengharapan dengan kenyataan, masa depan dengan kekinian dan menggantikan manusia dengan Tuhan. Orang utophist merangkul kenyataan tanpa Tuhan dan merangkul kemanusia tanpa masa depan dan pengharapan. Ingatlah, pada akhirnya dunia akan binasa.
Christian Realist
Karena itu, kita harus menjadi orang Kristen yang realist dan memiliki pengharapan yang realist. Seperti yang dikatakan Martin Lther, ”Kita hidup pada hari ini dalam terang hari itu.” Jadi apa yang kita ingin Yesus temukan dimana kita sedang lakukan pada saat Ia datang kelak, maka kita akan melakukannya. Jika kita ingin Yesus menemukan kita sedang melayani, bekerja, dengan tekun, bersekutu, maka hal inilah yang akan kita lakukan. Dan apa yang kita tidak ingin Yesus temukan pada saat kita melakukannya ketika Ia datang, maka kita tidak akan melakukannya. Inilah yang dimaksud denga ’hidup pada hari ini dalam terang hari itu’. Kita merangkul dunia dengan segala kompleksitasnya sebagai seorang yang realist dengan tidak menyerderhanakannya, tetapi dunia dengan segala kompleksitasnya menjadi arena di mana pengharapan Kristiani hidup dan dinyatakan. Dunia pendidikan, ekonomi, sosial, hukum dan keindahan adalah bagian dari rencana penebusan bukan pemusnahan. Tetapi kita sadar bahwa kita tidak akan menemukan perwujudan yang sempurna di dunia ini. Karena itu kita tidak menarik diri ataupun bermimpi tetapi secara realist menyadari bahwa kita berada dalam keadaan eskatologis “Already and Not-Yet”--- penebusan sudah dimulai tetapi belum sempurna.
Oleh sebab itu mari kita live out our Hope. Kebangkitan Tubuh sebagai pusat dari jati diri kita. Jika kita yang sekarang bertemu dengan kita yang telah dibangkitkan, maka kita akan tersungkur dan terkagum-kagum karena kita mengira sedang bertemu dengan malaikat. Jika inilah kemuliaan yang akan kita dapatkan nanti, bagaimanakah kita hidup pada zaman sekarang ini? Inilah jati diri kita. Kebangkitan itu juga menjadi tujuan hidup kita. Oleh sebab itu kita harus hidup semakin mulia dan semakin mulia dari hari kehari. Sebagai anak-anak Kerajaan yang mulia, kita jangan merendahkan diri kita. Jika kita hanya hidup untuk uang, karir, atau keluarga, maka Tuhan kita terlalu kecil dan pengharapan kita terlalu kecil karena kita tidak tahu apa yang akan Tuhan sediakan bagi kita di masa yang akan datang. CS Lewis menjelaskan hal ini dengan menggambarkan seorang anak yang hanya bermain-main pasir di pantai karena dia tidak tahu artinya berlibur di pantai yang indah. Demikianlah orang yang hanya hidup demi kesenangan seks, kenikmatan dan kekayaan, sementara Allah menyediakan pengharapan yang indah dalam hidupnya. Kebangkitan tubuh harus menjadi pusat dari kehidupan kita. Panggilan dan hidup kita harus berpusatkan pada kenyataan bahwa suatu hari kelak kita akan dibangkitkan. Kebangkitan Tubuh adalah redefinisi atas makna panggilan. Siapapun kita dan apapun pekerjaan kita mari kita belajar menghayati bahwa fisikalitas di mana kita berada adalah bagian dari sesuatu yang Allah akan tebus dan karena itu mari mulai terlibat dalam proyek penebusan itu, memulihkan bidang-bidang panggilan dimana kita berada dan bagaimana kita membawa kehidupan kebangkitan yang sudah mulai terjadi dalam diri kita, lewat kelahiran kembali dan pertumbuhan rohani kita, di transfer dan mentransformasi sistem, nilai-nilai dan praktek dari lingkungan dimana kita kita dipanggil. Kebangkitan Tubuh adalah pencerahan bagi Christian Worldview atas Pendidikan, sosial, ekonomi, Hukum, Politik, dll.
Kebangkitan Tubuh juga menjadi jembatan empati bagi pencarian kemanusiaan. Dimanapun kita menemukan orang mencari keindahan, keadilan, cinta dan keintiman, spiritualitas dan Tuhan, kebenaran dalam ambisi pengetahuan, kita tahu apa yang mereka cari akan dijawab oleh Tuhan. Kita telah menerima janji itu, dan hal ini mejadi empati bagi kita untuk merasakan bahwa apa yang mereka cari juga merupakan apa yang kita cari dan kita ingin menceritakan kepada mereka Injil, bahwa kita tahu di mana mereka seharusnya mencari dan apa yang menjadi jawaban daripada segala pencarian itu dengan cara yang lebih bijaksana.
Solideo Gloria!
Christian Hope 2: GENERAL HOPE
Denni B. Saragih
Mari membuka Firman Tuhan dari 1 Korintus 15: 35-49. Melalui bagian ini kita akan merefleksikan apa itu kebangkitan.
” 35 Tetapi mungkin ada orang yang bertanya: "Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?" 36Hai orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau ia tidak mati dahulu. 37 Dan yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi biji yang tidak berkulit, umpamanya biji gandum atau biji lain. 38 Tetapi Allah memberikan kepadanya suatu tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya: Ia memberikan kepada tiap-tiap biji tubuhnya sendiri. 39 Bukan semua daging sama: daging manusia lain dari pada daging binatang, lain dari pada daging burung, lain dari pada daging ikan. 40 Ada tubuh sorgawi dan ada tubuh duniawi, tetapi kemuliaan tubuh sorgawi lain dari pada kemuliaan tubuh duniawi. 41 Kemuliaan matahari lain dari pada kemuliaan bulan, dan kemuliaan bulan lain dari pada kemuliaan bintang-bintang, dan kemuliaan bintang yang satu berbeda dengan kemuliaan bintang yang lain. 42 Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. 43 Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. 44 Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah. 45 Seperti ada tertulis: "Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup", tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan. 46 Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, tetapi yang alamiah; kemudian barulah datang yang rohaniah. 47 Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga. 48 Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorga. 49 Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi”
Seandainya kita yang sekarang bertemu dengan kita yang akan dibangkitkan, apakah yang akan terjadi? Yang terjadi adalah, kita akan tersungkur jatuh, sujud di hadapan pribadi yang kita temui, karena mengira bahwa kita sedang bertemu dengan malaikat. Tubuh kebangkitan adalah sesuatu yang luar biasa. Kita tidak akan bisa mengungkapkan dengan kalimat manusia mengenai apa yang terjadi ketika kebangkitan Yesus ditransfer ke dalam tubuh jasmaniah kita. Mari melihatnya dengan ’jembatan’ ilustrasi berikut, ilustrasi showroom mobil teknologi baru tahun 2500 AD. Bayangkan kita mengunjungi showroom ini dan kita melihat sebuah mobil yang kelihatannya sama dengan mobil biasa pada zaman ini. Kita tidak melihat ada bedanya. Tetapi seseorang mengatakan kepada kita, meski dari luar mobil itu tampak sama, tetapi di dalamnya benar-benar berbeda. Lalu si pencipta mobil ini menerangkan bahwa mobil ini adalah mobil yang tidak menggunakan bensin atau solar, tetapi menggunakan sebuah energi baru yang baru saja ditemukan. Lebih menarik lagi energi ini adalah energi yang aman, bersih tanpa asap, tidak terbatas, dan membuat mesinnya abadi. Ilustrasi ini akan kita gunakan untuk menggambarkan jawaban kepada pertanyaan bagaimanakah tubuh kita ketika mengalami kebangkitan? Dengan cara apa tubuh kita itu akan hidup? Dan apa yang menjadi energi dari tubuh kita yang baru yang akan dibangkitkan oleh Tuhan?
Jantung dari 1 Kor 15: 35-49 ini ada pada ayat 44. Di dalam ayat 44 ada satu pembedaan antara tubuh yang sekarang dengan tubuh yang akan datang. Dikatakan, seperti menaburkan benih, tubuh kita adalah tubuh yang alamiah. Seperti benih itu tumbuh, yang dibangkitkan adalah tubuh yang rohaniah. Apa yang dimaksud Paulus dengan tubuh rohaniah? Seorang pakar PB, NT. Wright, menerjemahkan bagian ini dengan cara sedikit berbeda. Dikatakan ”Its sown as the embodiment of ordinary nature, and raised as the embodiment of spirit.” [embodiment; penampungan]. Jadi, Nt Wright mengatakan, kata yang dipakai sangat kosmis dan bukan sedang berbicara mengenai bahan baku yang membuatnya tetapi perbedaan soal apa yang menggerakkan tubuh yang baru itu. Jadi, bukan masalah tubuh kita yang sekarang terdiri dari daging dan tubuh kita yang akan datang terbuat dari Roh. Bukan perbedaan dimana sekarang kita memiliki tukang, otot, atau jaringan-jaringan, sementara tubuh yang akan datang bersifat semancam hologram. Tetapi perbedaannya adalah apa yang menggerakkan. Mari kita membaca beberapa bagian Alkitab tentang bagaimana hal ini dijelaskan.
Tubuh yang baru ini adalah tubuh yang digerakkan oleh Roh Allah. Perhatikan roma 8: 10-11, “10Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran. 11Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.” Roh Kudus yang ada di dalam diri kita akan membangkitkan tubuh kita ini dan akan menjadikan kita menjadi manusia yang baru. Inilah klimaks dari pengharapan orang Kristen. Jika klimaks yang kita harapkan adalah mati masuk Surga, maka kita hanya mengerti sebagian dari kisah mengenai pengharapan Kristiani. Pengharapan Kristiani tidak berhenti pada mati masuk Surga karena Alkitab mengatakan Surga itu sementara dan dunia ini selama-lamanya. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana pengalamannya, tetapi tubuh kita ini akan mengalami satu transformasi yang tidak bisa dibayangkan dengan pikiran manusia, bangkit kembali, menjadi seperti tubuh kita sekarang ini, menjadi tubuh kebangkitan. Jika ilmu pengetahuan berkata bahwa orang mati tidak bisa bangkit, maka pengharapan Kristiani menantang kita dimana dalam pengharapan kita, Yesus Kristus yang telah mengalami kebangkitan akan mentransfer kebangkitan itu juga ke dalam diri kita. Tubuh kita yang baru akan dipelihara oleh Allah sehingga menjadi kekal adanya.
Mari melihat beberapa bagian Alkitab lain yang menjelaskan hal yang sama. 1 Kor 15:51-52, ”51Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah,...” Perhatikan disini, bahwa kembali Alkitab menekankan kepada kita bahwa yang utama buka roh tetapi tubuh jasmani yang akan dirubahkan menjadi tubuh yang baru. ”52 ... dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah.” Filipi 3: 20-21 menjelaskan hal yang sama, ”20Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, 21yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.” Dengan jelas dikatakan bahwa tubuh kita yang bangkit akan serupa dengan tubuh Yesus. Tubuh yang seperti kita miliki sekarang tetapi pada saat yang sama tubuh yang juga tidak dibatasi kehidupan seperti yang kita alami sekarang. Inilah yang menjadi objek pengharapan Kristiani kita.
Jika kita membaca ayat 42-42 dalam 1 Kor 15 tadi, Paulus memberikan kontras antara tubuh yang baru dengan tubuh yang sekarang. Kontrasnya bukan yang satu daging dan satu lainnya roh, tetapi nature yang berbeda antara kedua tubuh tersebut. Ada dua kontras yang Paulus bicarakan antara tubuh yang sekarang dan tubuh kebangkitan. Yang pertama adalah kontras antara yang dapat rusak dan tidak dapat rusak. Tubuh yang sekarang adalah tubuh yang jatuh sakit, menua, membusuk, mati, dan menjadi debu. Kita semua ingin cantik, indah, dan keabadian. Sebenarnya dibalik semua pencarian manusia, dengan segala jenis usaha-usaha kesehatannya, adalah satu benih yang Tuhan tanamkan bahwa kita merindukan satu keindahan yang sempurna. Jika tubuh kita sekarang akan mengalami penuaan dan mati, tubuh kita yang akan datang tidak akan mengalami hal-hal ini. Kedua adalah kontras antara kehinaan dan kemuliaan. Tubuh kita ini akan dirusak pembusukan dan akan mengalami kerusakan. Semaksimal apapun kita menjaga kesehatan dan kecantikan kita, kita tidak akan bisa menghindari kerusakan dalam tubuh kita. Kita juga malu tehadap kematian dan kerapuhan yang kita alami. Tubuh yang baru akan menjadi tubh yang mulia dan agung dan tidak akan membuat kita malu lagi.
Hal inilah yang Paulus ingin gambarkan dalam ayat 35-38 melalui iliustrasi benih. Di sini sebenarnya Paulus ingin memberikan prinsip transformasi melalui ilustrasi benih. Jika kita ingin menanam salak, kita tidak bisa menanam salaknya utuh, tetapi menanam biji salak. Dan dari biji itu lahirlah sebuah kehidupan yang merupakan kesinambungan dari kehidupan yang lama tetapi berbeda dengan apa yang ditanam di dalam tanah. Di tanam hanya sebuah biji, tetapi tumbuh menjadi tumbuhan yang lengkap. Ini adalah prisip transformasi. Demikian juga dengan tubuh kita. Tubuh kita ini seperti benih yang ditanam dan harus melewati kematian dan kemudian akan muncul kehidupan dari kematian itu. Tubuh kebangkitan maupun tubuh maupun tumbuhan itu terjadi karena tindakan Tuhan. Kebangkitan adalah tindakan sang pencipta, bukan hanya sekedar kita mati lalu bangkit lagi (resusitasi), tetapi sebuah transformasi dari kehidupan yang lama kepada kehidupan yang baru.
Kembali dalam ayat 39-41 menceritakan ilustrasi perbedaan kenyataan fisik yang digambarkan dengan perbedaan yang ada di dalam dunia penciptaan. Dalam ilustrasi kedua ini Paulus menceritakan abhwa daging ada berbagai macam, kemuliaan ciptaan seperti matahari dan bulan juga ada berbagai macam. Ada perbedaan fisikalitas dunia ciptaan ini antara binatang-binatang dan perbedaan kemuliaan antara bintang-bintang dan matahari, semuanya menjadi ilustrasi tentang tubuh kebangkitan yang memiliki dimensi fisikalitas yang berbeda dengan apa yang kita miliki sekarang ini. Tubuh kebangkitan bukanlah roh tetapi daging yang baru yang berbeda dan unik. Di balik uraian Paulus ada konsep mengenai penciptaan dan kini penciptaan Ulang ada di dalam kebangkitan.
Oleh karena itu ayat 42-49 menjelaskan mengenai kemanusiaan yang baru. Kontras tertinggi dari tubuh kini dengan tubuh kebangkitan adalah perbedaan antara dua bentuk kemanusiaan. Yang satu adalah kemanusiaan yang dikuasai oleh dosa, oleh kehinaan, yang dari debu tanah kembali menjadi debu tanah, tetapi manusia yang baru adalah manusia yang mengikuti pola Yesus Kristus. Di dalam diri manusia baru terdapat inkarnasi yang bukan hanya dari Allah, tetapi inkarnasi dari pelayanan, pengabdian, dan pengorbanan, kasih, suka cita, serta segala karakter mulia yang telah ditunjukkan Yesus ketika di dunia. Tuhan telah memiliki model kemanusiaan yang akan diberikan kepada kita. Kemanusiaan kita sekarang ini adalah kemanusiaan yang lemah, terbatas, rapuh, dan tidak berdaya. Oleh sebab itu kita menantikan satu prototype kemanusiaan yang kita lihat dalam diri Yesus. Yesus adalah semacam prototype dari kemanusiaan yang akan kita miliki. Dia seperti mobil dalam ilustrasi showroom di atas. Dari luarnya sama dan fisiknya sama, tetapi dalam diri Yesus ini ada satu dimensi yang berbeda. Kita merindukan hidup yang seperti ini. Sewaktu ia di salib, mati dan bangkit, kita juga ingin bangkit seperti ini. Kebangkitan Yesus menunjukkan kuasa Allah yang bekerja untuk membaharui dunia, untuk mencawab persoalan kejahatan, ketidakadilan, kemiskinan dan kebodohan, dan semua kerinduan-kerinduan kita. Dan melalui Roh Kudus, Tuhan akan memberi umatNya tubuh baru yang mulia dan tidak akan binasa sampai selama-lamanya. Kebangkitan adalah the ultimate hope of everything, karena di dalam kebangkita itu ada beribu ide tentang bagaimana kita terlibat dalam penciptaan dan mengalami pembaharuan dari segala jeritan, keprihatinan, dan pencarian-pencarian yang dilakukan manusia ketika mereka bersaha kaya, sehat, indah, dan bahagia.
Mari kita merefleksikan beberapa hal. Pertama, bagaimana bagian ini menolong kita untuk menghargai dunia ciptaan Tuhan? Bumi, tubuh kita, dan segalanya tidak akan musnah dan kita tinggalkan dibelakang. Tubuh kita dan ciptaan Allah akan dipulihkan dalam dimensi yang baru dan segala hasrat kita akan segala yang terbaik, suatu saat akan dipenuhi. Kedua, bagaimana bagian ini merupakan jawaban Allah akan hasrat kita akan keindahan, kesehatan dan keabadian? Semuanya itu bukan sesuatu yang Tuhan sangkal, tetapi sesuatu yang Tuhan tawarkan di dalam dimensi yang tidak bisa kita bayangkan. Sehingga apapun namanya kecantikan dan keindahan sekarang, menjadi sesuatu yang dangkal dan tidak ada artinya. Ketiga, bagaimana kita hidup pada hari ini dalam terang kuasa kebangkitan yang akan mentransformasi hidup kita? Pertanyaan ketiga akan menjadi refleksi kita dalam seri Christian Hope 3--- Living the Hope.
Solideo Gloria!
Mari membuka Firman Tuhan dari 1 Korintus 15: 35-49. Melalui bagian ini kita akan merefleksikan apa itu kebangkitan.
” 35 Tetapi mungkin ada orang yang bertanya: "Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?" 36Hai orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau ia tidak mati dahulu. 37 Dan yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi biji yang tidak berkulit, umpamanya biji gandum atau biji lain. 38 Tetapi Allah memberikan kepadanya suatu tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya: Ia memberikan kepada tiap-tiap biji tubuhnya sendiri. 39 Bukan semua daging sama: daging manusia lain dari pada daging binatang, lain dari pada daging burung, lain dari pada daging ikan. 40 Ada tubuh sorgawi dan ada tubuh duniawi, tetapi kemuliaan tubuh sorgawi lain dari pada kemuliaan tubuh duniawi. 41 Kemuliaan matahari lain dari pada kemuliaan bulan, dan kemuliaan bulan lain dari pada kemuliaan bintang-bintang, dan kemuliaan bintang yang satu berbeda dengan kemuliaan bintang yang lain. 42 Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. 43 Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. 44 Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah. 45 Seperti ada tertulis: "Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup", tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan. 46 Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, tetapi yang alamiah; kemudian barulah datang yang rohaniah. 47 Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga. 48 Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorga. 49 Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi”
Seandainya kita yang sekarang bertemu dengan kita yang akan dibangkitkan, apakah yang akan terjadi? Yang terjadi adalah, kita akan tersungkur jatuh, sujud di hadapan pribadi yang kita temui, karena mengira bahwa kita sedang bertemu dengan malaikat. Tubuh kebangkitan adalah sesuatu yang luar biasa. Kita tidak akan bisa mengungkapkan dengan kalimat manusia mengenai apa yang terjadi ketika kebangkitan Yesus ditransfer ke dalam tubuh jasmaniah kita. Mari melihatnya dengan ’jembatan’ ilustrasi berikut, ilustrasi showroom mobil teknologi baru tahun 2500 AD. Bayangkan kita mengunjungi showroom ini dan kita melihat sebuah mobil yang kelihatannya sama dengan mobil biasa pada zaman ini. Kita tidak melihat ada bedanya. Tetapi seseorang mengatakan kepada kita, meski dari luar mobil itu tampak sama, tetapi di dalamnya benar-benar berbeda. Lalu si pencipta mobil ini menerangkan bahwa mobil ini adalah mobil yang tidak menggunakan bensin atau solar, tetapi menggunakan sebuah energi baru yang baru saja ditemukan. Lebih menarik lagi energi ini adalah energi yang aman, bersih tanpa asap, tidak terbatas, dan membuat mesinnya abadi. Ilustrasi ini akan kita gunakan untuk menggambarkan jawaban kepada pertanyaan bagaimanakah tubuh kita ketika mengalami kebangkitan? Dengan cara apa tubuh kita itu akan hidup? Dan apa yang menjadi energi dari tubuh kita yang baru yang akan dibangkitkan oleh Tuhan?
Jantung dari 1 Kor 15: 35-49 ini ada pada ayat 44. Di dalam ayat 44 ada satu pembedaan antara tubuh yang sekarang dengan tubuh yang akan datang. Dikatakan, seperti menaburkan benih, tubuh kita adalah tubuh yang alamiah. Seperti benih itu tumbuh, yang dibangkitkan adalah tubuh yang rohaniah. Apa yang dimaksud Paulus dengan tubuh rohaniah? Seorang pakar PB, NT. Wright, menerjemahkan bagian ini dengan cara sedikit berbeda. Dikatakan ”Its sown as the embodiment of ordinary nature, and raised as the embodiment of spirit.” [embodiment; penampungan]. Jadi, Nt Wright mengatakan, kata yang dipakai sangat kosmis dan bukan sedang berbicara mengenai bahan baku yang membuatnya tetapi perbedaan soal apa yang menggerakkan tubuh yang baru itu. Jadi, bukan masalah tubuh kita yang sekarang terdiri dari daging dan tubuh kita yang akan datang terbuat dari Roh. Bukan perbedaan dimana sekarang kita memiliki tukang, otot, atau jaringan-jaringan, sementara tubuh yang akan datang bersifat semancam hologram. Tetapi perbedaannya adalah apa yang menggerakkan. Mari kita membaca beberapa bagian Alkitab tentang bagaimana hal ini dijelaskan.
Tubuh yang baru ini adalah tubuh yang digerakkan oleh Roh Allah. Perhatikan roma 8: 10-11, “10Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran. 11Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.” Roh Kudus yang ada di dalam diri kita akan membangkitkan tubuh kita ini dan akan menjadikan kita menjadi manusia yang baru. Inilah klimaks dari pengharapan orang Kristen. Jika klimaks yang kita harapkan adalah mati masuk Surga, maka kita hanya mengerti sebagian dari kisah mengenai pengharapan Kristiani. Pengharapan Kristiani tidak berhenti pada mati masuk Surga karena Alkitab mengatakan Surga itu sementara dan dunia ini selama-lamanya. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana pengalamannya, tetapi tubuh kita ini akan mengalami satu transformasi yang tidak bisa dibayangkan dengan pikiran manusia, bangkit kembali, menjadi seperti tubuh kita sekarang ini, menjadi tubuh kebangkitan. Jika ilmu pengetahuan berkata bahwa orang mati tidak bisa bangkit, maka pengharapan Kristiani menantang kita dimana dalam pengharapan kita, Yesus Kristus yang telah mengalami kebangkitan akan mentransfer kebangkitan itu juga ke dalam diri kita. Tubuh kita yang baru akan dipelihara oleh Allah sehingga menjadi kekal adanya.
Mari melihat beberapa bagian Alkitab lain yang menjelaskan hal yang sama. 1 Kor 15:51-52, ”51Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah,...” Perhatikan disini, bahwa kembali Alkitab menekankan kepada kita bahwa yang utama buka roh tetapi tubuh jasmani yang akan dirubahkan menjadi tubuh yang baru. ”52 ... dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah.” Filipi 3: 20-21 menjelaskan hal yang sama, ”20Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, 21yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.” Dengan jelas dikatakan bahwa tubuh kita yang bangkit akan serupa dengan tubuh Yesus. Tubuh yang seperti kita miliki sekarang tetapi pada saat yang sama tubuh yang juga tidak dibatasi kehidupan seperti yang kita alami sekarang. Inilah yang menjadi objek pengharapan Kristiani kita.
Jika kita membaca ayat 42-42 dalam 1 Kor 15 tadi, Paulus memberikan kontras antara tubuh yang baru dengan tubuh yang sekarang. Kontrasnya bukan yang satu daging dan satu lainnya roh, tetapi nature yang berbeda antara kedua tubuh tersebut. Ada dua kontras yang Paulus bicarakan antara tubuh yang sekarang dan tubuh kebangkitan. Yang pertama adalah kontras antara yang dapat rusak dan tidak dapat rusak. Tubuh yang sekarang adalah tubuh yang jatuh sakit, menua, membusuk, mati, dan menjadi debu. Kita semua ingin cantik, indah, dan keabadian. Sebenarnya dibalik semua pencarian manusia, dengan segala jenis usaha-usaha kesehatannya, adalah satu benih yang Tuhan tanamkan bahwa kita merindukan satu keindahan yang sempurna. Jika tubuh kita sekarang akan mengalami penuaan dan mati, tubuh kita yang akan datang tidak akan mengalami hal-hal ini. Kedua adalah kontras antara kehinaan dan kemuliaan. Tubuh kita ini akan dirusak pembusukan dan akan mengalami kerusakan. Semaksimal apapun kita menjaga kesehatan dan kecantikan kita, kita tidak akan bisa menghindari kerusakan dalam tubuh kita. Kita juga malu tehadap kematian dan kerapuhan yang kita alami. Tubuh yang baru akan menjadi tubh yang mulia dan agung dan tidak akan membuat kita malu lagi.
Hal inilah yang Paulus ingin gambarkan dalam ayat 35-38 melalui iliustrasi benih. Di sini sebenarnya Paulus ingin memberikan prinsip transformasi melalui ilustrasi benih. Jika kita ingin menanam salak, kita tidak bisa menanam salaknya utuh, tetapi menanam biji salak. Dan dari biji itu lahirlah sebuah kehidupan yang merupakan kesinambungan dari kehidupan yang lama tetapi berbeda dengan apa yang ditanam di dalam tanah. Di tanam hanya sebuah biji, tetapi tumbuh menjadi tumbuhan yang lengkap. Ini adalah prisip transformasi. Demikian juga dengan tubuh kita. Tubuh kita ini seperti benih yang ditanam dan harus melewati kematian dan kemudian akan muncul kehidupan dari kematian itu. Tubuh kebangkitan maupun tubuh maupun tumbuhan itu terjadi karena tindakan Tuhan. Kebangkitan adalah tindakan sang pencipta, bukan hanya sekedar kita mati lalu bangkit lagi (resusitasi), tetapi sebuah transformasi dari kehidupan yang lama kepada kehidupan yang baru.
Kembali dalam ayat 39-41 menceritakan ilustrasi perbedaan kenyataan fisik yang digambarkan dengan perbedaan yang ada di dalam dunia penciptaan. Dalam ilustrasi kedua ini Paulus menceritakan abhwa daging ada berbagai macam, kemuliaan ciptaan seperti matahari dan bulan juga ada berbagai macam. Ada perbedaan fisikalitas dunia ciptaan ini antara binatang-binatang dan perbedaan kemuliaan antara bintang-bintang dan matahari, semuanya menjadi ilustrasi tentang tubuh kebangkitan yang memiliki dimensi fisikalitas yang berbeda dengan apa yang kita miliki sekarang ini. Tubuh kebangkitan bukanlah roh tetapi daging yang baru yang berbeda dan unik. Di balik uraian Paulus ada konsep mengenai penciptaan dan kini penciptaan Ulang ada di dalam kebangkitan.
Oleh karena itu ayat 42-49 menjelaskan mengenai kemanusiaan yang baru. Kontras tertinggi dari tubuh kini dengan tubuh kebangkitan adalah perbedaan antara dua bentuk kemanusiaan. Yang satu adalah kemanusiaan yang dikuasai oleh dosa, oleh kehinaan, yang dari debu tanah kembali menjadi debu tanah, tetapi manusia yang baru adalah manusia yang mengikuti pola Yesus Kristus. Di dalam diri manusia baru terdapat inkarnasi yang bukan hanya dari Allah, tetapi inkarnasi dari pelayanan, pengabdian, dan pengorbanan, kasih, suka cita, serta segala karakter mulia yang telah ditunjukkan Yesus ketika di dunia. Tuhan telah memiliki model kemanusiaan yang akan diberikan kepada kita. Kemanusiaan kita sekarang ini adalah kemanusiaan yang lemah, terbatas, rapuh, dan tidak berdaya. Oleh sebab itu kita menantikan satu prototype kemanusiaan yang kita lihat dalam diri Yesus. Yesus adalah semacam prototype dari kemanusiaan yang akan kita miliki. Dia seperti mobil dalam ilustrasi showroom di atas. Dari luarnya sama dan fisiknya sama, tetapi dalam diri Yesus ini ada satu dimensi yang berbeda. Kita merindukan hidup yang seperti ini. Sewaktu ia di salib, mati dan bangkit, kita juga ingin bangkit seperti ini. Kebangkitan Yesus menunjukkan kuasa Allah yang bekerja untuk membaharui dunia, untuk mencawab persoalan kejahatan, ketidakadilan, kemiskinan dan kebodohan, dan semua kerinduan-kerinduan kita. Dan melalui Roh Kudus, Tuhan akan memberi umatNya tubuh baru yang mulia dan tidak akan binasa sampai selama-lamanya. Kebangkitan adalah the ultimate hope of everything, karena di dalam kebangkita itu ada beribu ide tentang bagaimana kita terlibat dalam penciptaan dan mengalami pembaharuan dari segala jeritan, keprihatinan, dan pencarian-pencarian yang dilakukan manusia ketika mereka bersaha kaya, sehat, indah, dan bahagia.
Mari kita merefleksikan beberapa hal. Pertama, bagaimana bagian ini menolong kita untuk menghargai dunia ciptaan Tuhan? Bumi, tubuh kita, dan segalanya tidak akan musnah dan kita tinggalkan dibelakang. Tubuh kita dan ciptaan Allah akan dipulihkan dalam dimensi yang baru dan segala hasrat kita akan segala yang terbaik, suatu saat akan dipenuhi. Kedua, bagaimana bagian ini merupakan jawaban Allah akan hasrat kita akan keindahan, kesehatan dan keabadian? Semuanya itu bukan sesuatu yang Tuhan sangkal, tetapi sesuatu yang Tuhan tawarkan di dalam dimensi yang tidak bisa kita bayangkan. Sehingga apapun namanya kecantikan dan keindahan sekarang, menjadi sesuatu yang dangkal dan tidak ada artinya. Ketiga, bagaimana kita hidup pada hari ini dalam terang kuasa kebangkitan yang akan mentransformasi hidup kita? Pertanyaan ketiga akan menjadi refleksi kita dalam seri Christian Hope 3--- Living the Hope.
Solideo Gloria!
Christian Hope 1: PERSONAL HOPE
Denni B. Saragih
Topik Personal Hope merupakan bagian yang pertama dari seri Christian Hope. Kita akan memulai dengan pertanyaan, apakah yang paling kita harapkan dalam hidup ini? Pasti ada yang mengharapkan teman hidup, ada yang pekerjaan dengan gaji yang besar, ada yang ingin dikasihi dan mengasihi, dan ada yang mengharapkan agar orang tuanya dapat mengenal Tuhan, dst. Jika kita merenungkan pengharapan-pengharapan yang kita miliki, kita mungkin mengharapkan sesuatu yang lebih dalam dari yang hanya nampak di permukaan. Ketika kita mengharapkan untuk punya pacar atau isteri/suami, mungkin yang sebenarnya kita harapkan adalah untuk mencintai dan untuk dicintai. Ketika mengharapkan memiliki pekerjaan dengan gaji yang besar dimana kita dapat memiliki rumah dan menikmati makanan yang lebih mahal, mungkin kita sedang mengharapkan kenikmatan dan kepuasan. Dan ketika kita dengan sungguh-sungguh mengharapkan dengan uang yang kita miliki kita dapat membantu biaya adik-adik kita, mungkin yang kita cari adalah kelegaan dan kelepasan dari pergumulan hidup.
Jika kita berbicara mengenai apa yang paling diharapkan oleh manusia dalam hidup ini, maka diperoleh lima hal. Pertama adalah keadilan. Mereka yang tanahnya diambil perusahaan atau yang dituduh melakukan kejahatan padahal bukan akan memiliki kerinduan dimana yang menyatakan benar adalah orang benar dan orang salah adalah salah. Kedua adalah kasih. Kasih bukan sekedar memiliki atau dimiliki seseorang, tetapi kasih dimana kita diterima sebagaimana adanya kita dan kita juga menerima sebagaimana adanya. Ketiga adalah Tuhan. Kita merindukan Tuhan yang kita sembah dan kita yakin menyembah Tuhan yang benar. Kita menyembah Tuhan bukan hanya sekedar konsep, tetapi Tuhan yang kita alami secara nyata dan yang hadir di dalam hidup kita. Keempat adalah keindahan yang kita lihat dengan mata kita. Dengan melihat keindahan dimana dengan keindahan mata, telinga dan rasa kita dipuaskan. Kelima adalah kebenaran dimana pertanyaan dan pencarian kita semuanya dijawab dan dipuaskan. Dalam satu dan lain hal kita menantikan kapankah semuanya ini bisa terjadi.
Hal inilah yang dijawab oleh pengharapan Kristiani. Pengharapan Kristiani adalah keyakinan bahwa semua pencarian ini akan dijawab Tuhan pada satu waktu. Pengharapan Kristiani bukan hanya sekedar ’jika saya mati maka saya akan masuk Surga’! Pengharapan Kristiani bukan hanya sekedar bahwa kelak kita akan naik ke awan-awan dan meninggalkan dunia! Jika pengharapan kita hanya sedangkal ini, kita kehilangan satu esensi mengenai apa yang dicari oleh manusia, dan mungkin apa yang sebenarnya dan sesungguhnya kita cari dalam hidup kita.
Kebenaran bahwa Tuhan akan menjawab hal ini berlabuh dalam beberapa ajaran. Tuhan kita Yesus Kristus yang naik tahta yang naik tahta dengan cara menjungkir balikkan apa artinya kekuasaan, suatu hari kelak akan kembali. Ia yang menunggang keledai ketika raja menunggang kuda, Ia yang dicabuk ketika raja disembah-sembah, Ia yang dimahkotai duri ketika raja dimahkotai dengan emas, Ia yang memikul salibNya ketika raja ditandu oleh budak-budak, Ia yang menaiki Viadolorora menuju bukit Golgota ketika raja naik tahta, Ia yang tersalib penuh luka dan menghembuskan nafas terakhirnya di sana ketika raja dilayani oleh dayang-dayangnya. Kita percaya bahwa Yesus dalam prosesi maut dan mengerikan itu sedang melakukan sesuatu yang luar biasa dimana dalam peristiwa itu ada penjungkirbalikan makna apa artinya punya kuasa. Kedatangan Yesus yang kedua akan menjawab pengharapan-pengharapan kita. Kedatangan yang kedua akan menjadi penghakiman atas dunia, dimana orang jahat yang mati tanpa pernah mengalami penghukuman atas perbuatannya dan orang benar yang mati tanpa pernah dinyatakan dia benar dan tidak pernah menerima reward atas kebenarannya itu, pada akhirnya masing-masing akan menerima bagiannya sendiri. Terkadang sebagai orang Kristen kita bingung menggabungkan antara ajaran keyakinan keselamatan bahwa Tuhan suatu hari akan menghakimi kita sesuai dengan totalitas hidup kita, akan apapun yang kita lakukan. Kedua hal ini ada di dalam alkitab dan kita harus pegang bersama-sama. Penghakiman bukan sekedar masuk surga atau tidak, tetapi soal ditegakkannya keadilan bagi orang yang benar.
Dalam kedatangan kedua kali itu akan ada kebangkitan tubuh/daging orang Kristen. Kita akan mengalami tubuh yang baru dimana segala kelemahan dan cacat kita sebagai mahluk yang bertubuh ini pada akhirnya akan disempurnakan. Kita akan mengalami hidup kekal dalam langit dan bumi yang baru yang tidak bisa kita jelaskan bagaiman bentuknya tetapi kita yakini segala pengharapan kita yang paling dalam, semuanya akan dijawab pada waktu itu.
Mari membaca 1 Tes 4:13-18. Dari bagian Firman Tuhan ini, kita akan merenungkan empat hal. Pertama adalah masa depan dan pengharapan yang digambarkan iu adalah misteri yang kita seperti orang buta mengerti warna. Kedua adalah bahwa pengharapan dalam bagian ini jelas sekali dalam konteks penghiburan jika ada orang percaya yang meninggal dunia. Ketiga adalah pengharapan ini didasarkan pada kedatangan Yesus yang kedua kali. Dan keempat adalah kedatangan ini adalah satu pembenaran dari orang percaya bahwa orang percaya memang percaya apa yang benar dan orang yang tidak percaya telah tidak percaya pada apa yang benar.
Misteri Masa Depan Pengharapan
Apa yang akan terjadi ketika Yesus datang kedua kali? Bagaimana konkritnya? Apa yang kita alami? Ketika kita memikirkan pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita sebenarnya sedang berbicara mengenai sesuatu yang tidak bisa ditampung dan digambarkan dengan pikiran dan perasaan manusia. Siapa yang bisa menggambarkan atau mendeskripsikan ketika Yesus datang kedua kali, ketika kita meninggal dunia dan bertemu dengan Tuhan? Kata-kata apa yang bisa menggambarkan Surga atau Allah? Hal ini sama dengan pertanyaan pernahkah kita menjelaskan warna kepada orang yang buta sejak lahir? Bagaimana kita menjelaskan warna merah, hijau atau warna lainnya kepada mereka? Tentu saja sangat sulit. Yang bisa kita lakukan adalah memakai ’jembatan-jembatan’ yang mereka kenal untuk meyampaikan ide yang ingin kita sampaikan. Kita mungkin memakai jembatan suara dengan menyakan merah itu seperti suara yang keras, hijau seperti suara yang lembut, dan kuning seperti suara yang tajam. Ilustrasi/metafora ini tidak akan membuat orang buta tersebut mengeri apa itu merah, hijau atau kuning. Tetapi hal ini lebih baik daripada dia samasekali tidak memahami sama sekali bagaimana warna merah itu. Dengan demikian, orang buta ini setidaknya memiliki jembatan apa itu warna merah, hijau, atau kuning. Hal inilah yang terjadi ketikan anda menjadi Paulus dan anda harus menjelaskan kepada orang-orang di Tesalonika apa yang terjadi pada saat kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Paulus harus mencari metafora untuk menggabarkan hal ini. Meski metafora ini tidak sempurna tetapi perlu dan dibutuhkan dan menolong orang Tesalonika memahami bagaimana kedatangan Yesus kedua kali dengan lebih baik. Point yang ingin disampaikan kepada orang Tesalonika adalah bahwa Tuhan akan menciptakan sebuah dunia yang baru. Oleh karena itu jangan kuatir dan sedih dengan kematian. Pada saat itu, orang-orang di Tesalonika biasa menjerit-jerit ketika ada keluarganya yang meninggal. Dunia yang tidak mengenal Tuhan kadang-kadang memiliki bentuk dukacita yang tidak punya logika dan menggambarkan dunia yang kafir. Tetapi Paulus ingin mengatakan kepada orang Tesalonika tidak demikian. Orang-orang percaya memiliki tempat dalam dunia yang baru ketika Yesus datang kedua kali.
Pengharapan Kristiani adalah Penghiburan Atas Kematian
Hal ini adalah sebuah dasar untuk penghiburan bagi kematian. Paulus punya tujuan yang praktis ketika ia menuliskan kalimat-kalimat di sini, dimana agar duka orang Kristen tidak seperti duka orang kafir. Di dalam Kristus kita akan mengalami pengalaman Yesus, mati tetapi kemudian akan bangkit (ay 14, ”Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia ”). Mereka yang mati dalam Tuhan dikumpulkan Allah dan ada bersama-sama dengan Yesus. Kita tidak tahu bagaimana keadaannya --- apakah kita sadar betul atau mengalami apa. Alkitab tidak memberi gambaran yang jelas apa yang terjadi pada masa penantian setelah kita meninggal dunia sampai Yesus datang yang ke dua kali. Sebagian orang percaya bahwa kita tidur dan tidak sadar sampai tiba-tiba kita bangkit dan menyadari sudah akhir zaman. Mungkin melewati beratus-ratus tahun, tetapi bagi kita hanya seperti semalam saja. ada juga yang berpandangan bahwa begitu kita mati maka kita akan langsung ke Surga. Surga itu adalah tujuan akhir hidup kita dan di sana kita akan mendapat mahkota. Ini adalah gambaran lain seolah-olah Surga itu sama realnya dengan dunia hanya sekarang, hanya semua lebih berkualitas.
Jika kita melihat Alkitab dan mempelajari bagaimana Alkitab memandang tubuh manusia, manusia itu tidak bisa sempurna tanpa ada tubuh fisik. Tubuh fisik kita adalah bagian yang penting dalam keselamatan Tuhan. Yesus juga, ketika bangkit dari kematianNya, tidak membuang pengalaman atau tubuh fisik yang Ia miliki. Orang masih mengenal Yesus yang sama dan bekas paku serta tusukan lembing yang sama. Di Surga kita belum memiliki tubuh. Jadi selama kita belum dibangkitkan, maka kita belum memiliki tubuh. Artinya adalah kemanusiaan kita belum sempurna dan kita masih menantikan sesuatu yang sempurna. Tujuan akhir kita bukan roh yang tidak bertubuh, tetapi menjadi manusia baru yang telah diperbaharui oleh Allah dengan memberikan tubuh yang baru, tubuh kebangkitan seperti tubuh Yesus. Bumi dan langit yang baru akan terjadi ketika Yesus datang kedua kali. Bukan hanya tubuh jasmani yang kita miliki tetapi pencarian kita akan keindahan, kebenaran dan Tuhan, akan dijawab. Jadi Surga hanya sementara, tetapi tubuh kebangkitanlah yang selama-lamanya. Inilah teologia Alkitab sebenarnya. Perlu ,kita ketahui bahwa teologi kita, yang menyatakan bahwa Surga adalah tujuan akhir, dipengaruhi oleh mitologi Eropa dengan khayangan dan dewa-dewinya. Ketika agama Kristen masuk ke Eropah, maka Surga ditransformasi menjadi tujuan akhir orang Kristen. Tetapi orang Yahudi dan Yesus sejak semula mengharapkan kebangkitan. Lihat Paulus! Ketika dia berbicara mengenai tujuan hidupnya adalah mengenal Dia (Yesus) dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati (Fil 3:10-11). The final purpose adalah kebangkitan. Kita tidak meninggalkan kesengsaraan dunia, dunia yang lelah atau capek, atau dunia yang penuh penderitaan, lalu kita masuk Surga dan hidup dengan tenang dan nyaman serta penuh kegembiraan. Surga seperti ini, yang penuh kenyamanan dan meninggalkan kesengsaraan dunia, adalah Surga para pengecut. Tujuan akhir dari orang yang sungguh-sungguh hidup dan sungguh-sungguh percaya kepada Allah adalah sebuah dunia dimana keadilan ditegakkan dan kebenaran dinyatakan, dimana keindahan ditemukan, dan dimana cinta dialami, dan Tuhan menjadi nyata. Dan semua ini hanya bisa terjadi ketika kita mengalami tubuh fisik dan diri kita kembali mengalami daging dalam dunia serta langit yang baru yang Allah ciptakan dan kita untuk selama-lamanya akan melayani Allah dan menemukan pengharapan dan pencarian kita. Pengharapan Kristiani seperti ini menjadi penghiburan akan kematian, karena kematian bukanlah akhir tetapi sebuah perjalanan baru. Perjalanan penantian akan kesempurnaan melalui kebangkitan daging kita. Inilah pengharapan Kristiani.
Pengharapan oleh Kedatangan Yesus Keduakali
Pengharapan ini terjadi bukan karena perbuatan atau kehebatan kita, tetapi pengharapan yang terjadi karena kedatangan Yesus yang ke dua kali. Ketika Paulus berbicara mengenai hal ini, Paulus terpaksa menggambarkan dengan ilustrasi seperti dari Perjanjian Lama. Paulus menggunakan Penghulu Malaikat yang berseru, sangkakala berbunyi dan menyongsong Tuhan di angkasa. Ini adalah gambaran Paulus dimana ia mencoba menggambarkannya kedasyatan peristiwa itu sama seperti menggambarkan warna kepada orang buta. Gambaran-gambaran ini mengambil ilustrasi yang ada pada zaman itu. Pada zaman dahulu, warga Roma biasanya menyambut Raja yang mengunjungu kota koloni Roma di luar kota dan bersama-sama masuk ke dalam kota. Inilah gambaran yang dipakai Paulus.
Ada resiko yang terjadi dalam penggunaan gambaran ini dimana orang membacanya secara literal. Banyak orang menafsirkan ayat ini secara literal sehingga muncullah ajaran mengenai Rapture (pengangkatan orang Percaya). Jika kita memahami apa arti kebangkitan orang Kristen, maka kebangkitan adalah pemulihan bumi menjadi satu dunia dimana segala pengharapan manusia dijawab oleh Allah. Kita tidak perlu mengartikannya secara litereal. Paulus bukan berbicara mengenai ajaran Rapture atau pengangkatan seolah orang akan tiba-tiba menghilang dari rumah, mobil, dan pesawat ketika waktu pengangkatan. Kata ”Tuhan turun” adalah sebuah metafora yang diambil dari kitab Daniel tentang kisah Anak Manusia yang datang dari awan-awan. Ini adalah penggambaran tentang Anak Manusia yang dibenarkan. Dalam Kol 3:4 tidak dipakai kata ’turun’ tetapi ’menyatakan diri’---Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, meyatakan diri kelak...(Eng: Appearing).
Surga dan bumi dalam Alkitab bukanlah tempat yang berbeda, seolah-olah Surga ada di atas dan bumi di bawah. Tidak demikian! Bumi dan Surga dalam Alkitab adalah satu tempat dengan dimensi yang berbeda. Itulah sebabnya ada waktu-waktu tertentu ketika Allah membukakan dimensi ini, pada tempat yang sama dan posisi yang sama, manusia dapat melihat penglihatan Surgawi (seperti Stefanus melihat Yesus dan Yohanes yang melihat kemuliaan Yesus di Patmos). Sebenarnya Surga dan Kerajaan Allah selalu berada ditengah-tengah kita. Tetapi dimensi itu adalah dimensi yang tertutup dan dimensi ini suatu hari kelak akan dibukanan sehingga bumi dan Surga idak lagi memiliki batas-batas dimensi dan Yesus menyatakan diri dan kemualiaannya. Dan kita akan berkata, ”Wow...Inilah yang kami nanti-nantikan!” Sekali lagi diingatkan bahwa metafora ’turun’ dan ’menyatakan diri’ ini adalah sebuah metafora untuk menggambarkan ’warna’ kepada kita, orang-orang yang buta. Tetapi intisari dari pada pengharapan kita, pencarian-pencarian kita akan makna hidup dan kemanusiaan, akan Tuhan jawab dan puaskan.
Pengharapan Kristiani adalah Pembenaran Orang Percaya
Pada waktu kita mengalami pengharapan Kristiani, ketika kita dibangkitkan Tuhan dari antara orang mati, maka peristiwa ini adalah penyataan Tuhan secara deklarasi kepada semua manusia bahwa kita mempercayai Tuhan yang benar. Kita berada berada dipihak yang benar, kita menemukan keindahan ditempat yang benar, dan kita menemukan Tuhan yang benar. ’Menyongsong Tuhan’ diangkasa dalah sebuah ilustrasi dari Daniel 7 dimana Anak Manusia yang menerima kekuasaan yang kekal itu terbang diawan-awan dan orang percaya naik ke atas dan bertemu dengan Dia. Daniel 7 bukan berbicara mengenai cerita Khayangan atau dewa-dewi, yang terbang diawan-awan. Bukan pula bercerita mengenai bagaimana orang percaya akan tinggal di negeri Khayangan. Daniel 7 pada dasarnya berbicara mengenai pembenaran dari orang percaya. Orang yang percaya kepada Allah adalah orang yang benar dan sungguh-sungguh berkenan kepada Allah meskipun mereka menderita, meskipun Gereja di bakar dan banyak orang menganggap orang yang percaya kepada Yesus adalah orang yang naif dan tidak masuk akal seperti kita. Tetapi pengharapan kita menyatakan suatu hari kelak semua yang kita yakini itu, secara publik, akan Tuhan beritakan kepada seluruh dunia, dan semua lutut akan bertelut dan lidah mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan. Hal ini penting bagi jemaat di Tesalonika yang menderita dan menantikan pembenaran yang dari Tuhan.
Kita adalah orang-orang yang mencari keadilan agar orang benar dinyatakan benar dan yang salah dinyatakan salah. Kita adalah orang-orang yang mencari cinta dimana kita akan dicintai sebagaimana adanya kita dan mencintai sebagaimana adanya orang yang dicintai. Kita adalah orang yang mencari Tuhan dan rindu mnemukan bahwa apa yang kita percayai mengenai Tuhan adalah sungguh-sungguh benar dan kita mengalami Tuhan secara nyata. Kita juga adalah orang-orang yang mencari keindahan dimana mata, telinga, dan rasa kita bisa dipuaskan dengan keindahan itu. Kita adalah orang-orang yang mencari keindahan dimana pertanyaan dan pencarian kita butuh dijawab dan dipuaskan. Pada waktu Yesus datang keduakali semuanya akan dipuaskan sampai selama-lamanya.
Solideo Gloria!
Topik Personal Hope merupakan bagian yang pertama dari seri Christian Hope. Kita akan memulai dengan pertanyaan, apakah yang paling kita harapkan dalam hidup ini? Pasti ada yang mengharapkan teman hidup, ada yang pekerjaan dengan gaji yang besar, ada yang ingin dikasihi dan mengasihi, dan ada yang mengharapkan agar orang tuanya dapat mengenal Tuhan, dst. Jika kita merenungkan pengharapan-pengharapan yang kita miliki, kita mungkin mengharapkan sesuatu yang lebih dalam dari yang hanya nampak di permukaan. Ketika kita mengharapkan untuk punya pacar atau isteri/suami, mungkin yang sebenarnya kita harapkan adalah untuk mencintai dan untuk dicintai. Ketika mengharapkan memiliki pekerjaan dengan gaji yang besar dimana kita dapat memiliki rumah dan menikmati makanan yang lebih mahal, mungkin kita sedang mengharapkan kenikmatan dan kepuasan. Dan ketika kita dengan sungguh-sungguh mengharapkan dengan uang yang kita miliki kita dapat membantu biaya adik-adik kita, mungkin yang kita cari adalah kelegaan dan kelepasan dari pergumulan hidup.
Jika kita berbicara mengenai apa yang paling diharapkan oleh manusia dalam hidup ini, maka diperoleh lima hal. Pertama adalah keadilan. Mereka yang tanahnya diambil perusahaan atau yang dituduh melakukan kejahatan padahal bukan akan memiliki kerinduan dimana yang menyatakan benar adalah orang benar dan orang salah adalah salah. Kedua adalah kasih. Kasih bukan sekedar memiliki atau dimiliki seseorang, tetapi kasih dimana kita diterima sebagaimana adanya kita dan kita juga menerima sebagaimana adanya. Ketiga adalah Tuhan. Kita merindukan Tuhan yang kita sembah dan kita yakin menyembah Tuhan yang benar. Kita menyembah Tuhan bukan hanya sekedar konsep, tetapi Tuhan yang kita alami secara nyata dan yang hadir di dalam hidup kita. Keempat adalah keindahan yang kita lihat dengan mata kita. Dengan melihat keindahan dimana dengan keindahan mata, telinga dan rasa kita dipuaskan. Kelima adalah kebenaran dimana pertanyaan dan pencarian kita semuanya dijawab dan dipuaskan. Dalam satu dan lain hal kita menantikan kapankah semuanya ini bisa terjadi.
Hal inilah yang dijawab oleh pengharapan Kristiani. Pengharapan Kristiani adalah keyakinan bahwa semua pencarian ini akan dijawab Tuhan pada satu waktu. Pengharapan Kristiani bukan hanya sekedar ’jika saya mati maka saya akan masuk Surga’! Pengharapan Kristiani bukan hanya sekedar bahwa kelak kita akan naik ke awan-awan dan meninggalkan dunia! Jika pengharapan kita hanya sedangkal ini, kita kehilangan satu esensi mengenai apa yang dicari oleh manusia, dan mungkin apa yang sebenarnya dan sesungguhnya kita cari dalam hidup kita.
Kebenaran bahwa Tuhan akan menjawab hal ini berlabuh dalam beberapa ajaran. Tuhan kita Yesus Kristus yang naik tahta yang naik tahta dengan cara menjungkir balikkan apa artinya kekuasaan, suatu hari kelak akan kembali. Ia yang menunggang keledai ketika raja menunggang kuda, Ia yang dicabuk ketika raja disembah-sembah, Ia yang dimahkotai duri ketika raja dimahkotai dengan emas, Ia yang memikul salibNya ketika raja ditandu oleh budak-budak, Ia yang menaiki Viadolorora menuju bukit Golgota ketika raja naik tahta, Ia yang tersalib penuh luka dan menghembuskan nafas terakhirnya di sana ketika raja dilayani oleh dayang-dayangnya. Kita percaya bahwa Yesus dalam prosesi maut dan mengerikan itu sedang melakukan sesuatu yang luar biasa dimana dalam peristiwa itu ada penjungkirbalikan makna apa artinya punya kuasa. Kedatangan Yesus yang kedua akan menjawab pengharapan-pengharapan kita. Kedatangan yang kedua akan menjadi penghakiman atas dunia, dimana orang jahat yang mati tanpa pernah mengalami penghukuman atas perbuatannya dan orang benar yang mati tanpa pernah dinyatakan dia benar dan tidak pernah menerima reward atas kebenarannya itu, pada akhirnya masing-masing akan menerima bagiannya sendiri. Terkadang sebagai orang Kristen kita bingung menggabungkan antara ajaran keyakinan keselamatan bahwa Tuhan suatu hari akan menghakimi kita sesuai dengan totalitas hidup kita, akan apapun yang kita lakukan. Kedua hal ini ada di dalam alkitab dan kita harus pegang bersama-sama. Penghakiman bukan sekedar masuk surga atau tidak, tetapi soal ditegakkannya keadilan bagi orang yang benar.
Dalam kedatangan kedua kali itu akan ada kebangkitan tubuh/daging orang Kristen. Kita akan mengalami tubuh yang baru dimana segala kelemahan dan cacat kita sebagai mahluk yang bertubuh ini pada akhirnya akan disempurnakan. Kita akan mengalami hidup kekal dalam langit dan bumi yang baru yang tidak bisa kita jelaskan bagaiman bentuknya tetapi kita yakini segala pengharapan kita yang paling dalam, semuanya akan dijawab pada waktu itu.
Mari membaca 1 Tes 4:13-18. Dari bagian Firman Tuhan ini, kita akan merenungkan empat hal. Pertama adalah masa depan dan pengharapan yang digambarkan iu adalah misteri yang kita seperti orang buta mengerti warna. Kedua adalah bahwa pengharapan dalam bagian ini jelas sekali dalam konteks penghiburan jika ada orang percaya yang meninggal dunia. Ketiga adalah pengharapan ini didasarkan pada kedatangan Yesus yang kedua kali. Dan keempat adalah kedatangan ini adalah satu pembenaran dari orang percaya bahwa orang percaya memang percaya apa yang benar dan orang yang tidak percaya telah tidak percaya pada apa yang benar.
Misteri Masa Depan Pengharapan
Apa yang akan terjadi ketika Yesus datang kedua kali? Bagaimana konkritnya? Apa yang kita alami? Ketika kita memikirkan pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita sebenarnya sedang berbicara mengenai sesuatu yang tidak bisa ditampung dan digambarkan dengan pikiran dan perasaan manusia. Siapa yang bisa menggambarkan atau mendeskripsikan ketika Yesus datang kedua kali, ketika kita meninggal dunia dan bertemu dengan Tuhan? Kata-kata apa yang bisa menggambarkan Surga atau Allah? Hal ini sama dengan pertanyaan pernahkah kita menjelaskan warna kepada orang yang buta sejak lahir? Bagaimana kita menjelaskan warna merah, hijau atau warna lainnya kepada mereka? Tentu saja sangat sulit. Yang bisa kita lakukan adalah memakai ’jembatan-jembatan’ yang mereka kenal untuk meyampaikan ide yang ingin kita sampaikan. Kita mungkin memakai jembatan suara dengan menyakan merah itu seperti suara yang keras, hijau seperti suara yang lembut, dan kuning seperti suara yang tajam. Ilustrasi/metafora ini tidak akan membuat orang buta tersebut mengeri apa itu merah, hijau atau kuning. Tetapi hal ini lebih baik daripada dia samasekali tidak memahami sama sekali bagaimana warna merah itu. Dengan demikian, orang buta ini setidaknya memiliki jembatan apa itu warna merah, hijau, atau kuning. Hal inilah yang terjadi ketikan anda menjadi Paulus dan anda harus menjelaskan kepada orang-orang di Tesalonika apa yang terjadi pada saat kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Paulus harus mencari metafora untuk menggabarkan hal ini. Meski metafora ini tidak sempurna tetapi perlu dan dibutuhkan dan menolong orang Tesalonika memahami bagaimana kedatangan Yesus kedua kali dengan lebih baik. Point yang ingin disampaikan kepada orang Tesalonika adalah bahwa Tuhan akan menciptakan sebuah dunia yang baru. Oleh karena itu jangan kuatir dan sedih dengan kematian. Pada saat itu, orang-orang di Tesalonika biasa menjerit-jerit ketika ada keluarganya yang meninggal. Dunia yang tidak mengenal Tuhan kadang-kadang memiliki bentuk dukacita yang tidak punya logika dan menggambarkan dunia yang kafir. Tetapi Paulus ingin mengatakan kepada orang Tesalonika tidak demikian. Orang-orang percaya memiliki tempat dalam dunia yang baru ketika Yesus datang kedua kali.
Pengharapan Kristiani adalah Penghiburan Atas Kematian
Hal ini adalah sebuah dasar untuk penghiburan bagi kematian. Paulus punya tujuan yang praktis ketika ia menuliskan kalimat-kalimat di sini, dimana agar duka orang Kristen tidak seperti duka orang kafir. Di dalam Kristus kita akan mengalami pengalaman Yesus, mati tetapi kemudian akan bangkit (ay 14, ”Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia ”). Mereka yang mati dalam Tuhan dikumpulkan Allah dan ada bersama-sama dengan Yesus. Kita tidak tahu bagaimana keadaannya --- apakah kita sadar betul atau mengalami apa. Alkitab tidak memberi gambaran yang jelas apa yang terjadi pada masa penantian setelah kita meninggal dunia sampai Yesus datang yang ke dua kali. Sebagian orang percaya bahwa kita tidur dan tidak sadar sampai tiba-tiba kita bangkit dan menyadari sudah akhir zaman. Mungkin melewati beratus-ratus tahun, tetapi bagi kita hanya seperti semalam saja. ada juga yang berpandangan bahwa begitu kita mati maka kita akan langsung ke Surga. Surga itu adalah tujuan akhir hidup kita dan di sana kita akan mendapat mahkota. Ini adalah gambaran lain seolah-olah Surga itu sama realnya dengan dunia hanya sekarang, hanya semua lebih berkualitas.
Jika kita melihat Alkitab dan mempelajari bagaimana Alkitab memandang tubuh manusia, manusia itu tidak bisa sempurna tanpa ada tubuh fisik. Tubuh fisik kita adalah bagian yang penting dalam keselamatan Tuhan. Yesus juga, ketika bangkit dari kematianNya, tidak membuang pengalaman atau tubuh fisik yang Ia miliki. Orang masih mengenal Yesus yang sama dan bekas paku serta tusukan lembing yang sama. Di Surga kita belum memiliki tubuh. Jadi selama kita belum dibangkitkan, maka kita belum memiliki tubuh. Artinya adalah kemanusiaan kita belum sempurna dan kita masih menantikan sesuatu yang sempurna. Tujuan akhir kita bukan roh yang tidak bertubuh, tetapi menjadi manusia baru yang telah diperbaharui oleh Allah dengan memberikan tubuh yang baru, tubuh kebangkitan seperti tubuh Yesus. Bumi dan langit yang baru akan terjadi ketika Yesus datang kedua kali. Bukan hanya tubuh jasmani yang kita miliki tetapi pencarian kita akan keindahan, kebenaran dan Tuhan, akan dijawab. Jadi Surga hanya sementara, tetapi tubuh kebangkitanlah yang selama-lamanya. Inilah teologia Alkitab sebenarnya. Perlu ,kita ketahui bahwa teologi kita, yang menyatakan bahwa Surga adalah tujuan akhir, dipengaruhi oleh mitologi Eropa dengan khayangan dan dewa-dewinya. Ketika agama Kristen masuk ke Eropah, maka Surga ditransformasi menjadi tujuan akhir orang Kristen. Tetapi orang Yahudi dan Yesus sejak semula mengharapkan kebangkitan. Lihat Paulus! Ketika dia berbicara mengenai tujuan hidupnya adalah mengenal Dia (Yesus) dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati (Fil 3:10-11). The final purpose adalah kebangkitan. Kita tidak meninggalkan kesengsaraan dunia, dunia yang lelah atau capek, atau dunia yang penuh penderitaan, lalu kita masuk Surga dan hidup dengan tenang dan nyaman serta penuh kegembiraan. Surga seperti ini, yang penuh kenyamanan dan meninggalkan kesengsaraan dunia, adalah Surga para pengecut. Tujuan akhir dari orang yang sungguh-sungguh hidup dan sungguh-sungguh percaya kepada Allah adalah sebuah dunia dimana keadilan ditegakkan dan kebenaran dinyatakan, dimana keindahan ditemukan, dan dimana cinta dialami, dan Tuhan menjadi nyata. Dan semua ini hanya bisa terjadi ketika kita mengalami tubuh fisik dan diri kita kembali mengalami daging dalam dunia serta langit yang baru yang Allah ciptakan dan kita untuk selama-lamanya akan melayani Allah dan menemukan pengharapan dan pencarian kita. Pengharapan Kristiani seperti ini menjadi penghiburan akan kematian, karena kematian bukanlah akhir tetapi sebuah perjalanan baru. Perjalanan penantian akan kesempurnaan melalui kebangkitan daging kita. Inilah pengharapan Kristiani.
Pengharapan oleh Kedatangan Yesus Keduakali
Pengharapan ini terjadi bukan karena perbuatan atau kehebatan kita, tetapi pengharapan yang terjadi karena kedatangan Yesus yang ke dua kali. Ketika Paulus berbicara mengenai hal ini, Paulus terpaksa menggambarkan dengan ilustrasi seperti dari Perjanjian Lama. Paulus menggunakan Penghulu Malaikat yang berseru, sangkakala berbunyi dan menyongsong Tuhan di angkasa. Ini adalah gambaran Paulus dimana ia mencoba menggambarkannya kedasyatan peristiwa itu sama seperti menggambarkan warna kepada orang buta. Gambaran-gambaran ini mengambil ilustrasi yang ada pada zaman itu. Pada zaman dahulu, warga Roma biasanya menyambut Raja yang mengunjungu kota koloni Roma di luar kota dan bersama-sama masuk ke dalam kota. Inilah gambaran yang dipakai Paulus.
Ada resiko yang terjadi dalam penggunaan gambaran ini dimana orang membacanya secara literal. Banyak orang menafsirkan ayat ini secara literal sehingga muncullah ajaran mengenai Rapture (pengangkatan orang Percaya). Jika kita memahami apa arti kebangkitan orang Kristen, maka kebangkitan adalah pemulihan bumi menjadi satu dunia dimana segala pengharapan manusia dijawab oleh Allah. Kita tidak perlu mengartikannya secara litereal. Paulus bukan berbicara mengenai ajaran Rapture atau pengangkatan seolah orang akan tiba-tiba menghilang dari rumah, mobil, dan pesawat ketika waktu pengangkatan. Kata ”Tuhan turun” adalah sebuah metafora yang diambil dari kitab Daniel tentang kisah Anak Manusia yang datang dari awan-awan. Ini adalah penggambaran tentang Anak Manusia yang dibenarkan. Dalam Kol 3:4 tidak dipakai kata ’turun’ tetapi ’menyatakan diri’---Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, meyatakan diri kelak...(Eng: Appearing).
Surga dan bumi dalam Alkitab bukanlah tempat yang berbeda, seolah-olah Surga ada di atas dan bumi di bawah. Tidak demikian! Bumi dan Surga dalam Alkitab adalah satu tempat dengan dimensi yang berbeda. Itulah sebabnya ada waktu-waktu tertentu ketika Allah membukakan dimensi ini, pada tempat yang sama dan posisi yang sama, manusia dapat melihat penglihatan Surgawi (seperti Stefanus melihat Yesus dan Yohanes yang melihat kemuliaan Yesus di Patmos). Sebenarnya Surga dan Kerajaan Allah selalu berada ditengah-tengah kita. Tetapi dimensi itu adalah dimensi yang tertutup dan dimensi ini suatu hari kelak akan dibukanan sehingga bumi dan Surga idak lagi memiliki batas-batas dimensi dan Yesus menyatakan diri dan kemualiaannya. Dan kita akan berkata, ”Wow...Inilah yang kami nanti-nantikan!” Sekali lagi diingatkan bahwa metafora ’turun’ dan ’menyatakan diri’ ini adalah sebuah metafora untuk menggambarkan ’warna’ kepada kita, orang-orang yang buta. Tetapi intisari dari pada pengharapan kita, pencarian-pencarian kita akan makna hidup dan kemanusiaan, akan Tuhan jawab dan puaskan.
Pengharapan Kristiani adalah Pembenaran Orang Percaya
Pada waktu kita mengalami pengharapan Kristiani, ketika kita dibangkitkan Tuhan dari antara orang mati, maka peristiwa ini adalah penyataan Tuhan secara deklarasi kepada semua manusia bahwa kita mempercayai Tuhan yang benar. Kita berada berada dipihak yang benar, kita menemukan keindahan ditempat yang benar, dan kita menemukan Tuhan yang benar. ’Menyongsong Tuhan’ diangkasa dalah sebuah ilustrasi dari Daniel 7 dimana Anak Manusia yang menerima kekuasaan yang kekal itu terbang diawan-awan dan orang percaya naik ke atas dan bertemu dengan Dia. Daniel 7 bukan berbicara mengenai cerita Khayangan atau dewa-dewi, yang terbang diawan-awan. Bukan pula bercerita mengenai bagaimana orang percaya akan tinggal di negeri Khayangan. Daniel 7 pada dasarnya berbicara mengenai pembenaran dari orang percaya. Orang yang percaya kepada Allah adalah orang yang benar dan sungguh-sungguh berkenan kepada Allah meskipun mereka menderita, meskipun Gereja di bakar dan banyak orang menganggap orang yang percaya kepada Yesus adalah orang yang naif dan tidak masuk akal seperti kita. Tetapi pengharapan kita menyatakan suatu hari kelak semua yang kita yakini itu, secara publik, akan Tuhan beritakan kepada seluruh dunia, dan semua lutut akan bertelut dan lidah mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan. Hal ini penting bagi jemaat di Tesalonika yang menderita dan menantikan pembenaran yang dari Tuhan.
Kita adalah orang-orang yang mencari keadilan agar orang benar dinyatakan benar dan yang salah dinyatakan salah. Kita adalah orang-orang yang mencari cinta dimana kita akan dicintai sebagaimana adanya kita dan mencintai sebagaimana adanya orang yang dicintai. Kita adalah orang yang mencari Tuhan dan rindu mnemukan bahwa apa yang kita percayai mengenai Tuhan adalah sungguh-sungguh benar dan kita mengalami Tuhan secara nyata. Kita juga adalah orang-orang yang mencari keindahan dimana mata, telinga, dan rasa kita bisa dipuaskan dengan keindahan itu. Kita adalah orang-orang yang mencari keindahan dimana pertanyaan dan pencarian kita butuh dijawab dan dipuaskan. Pada waktu Yesus datang keduakali semuanya akan dipuaskan sampai selama-lamanya.
Solideo Gloria!
Seri Musa 4: An Elegy of Passionate Leader
Denni B. Saragih
Hari ini kita akan merenungkan bagian yang terakhir tentang Musa dengan topik An Elegy of Passionate Leader --- Moses Seen from the End of His Life. Jika kita perhatikan orang-orang besar dalam dunia ini, mereka mati dengan cara yang unik. Yesus mati dengan berkata: ”Sudah selesai.” Paulus juga mengatakan hal yang sama. Ketika akan meningal dunia dia berkata: ”Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik.” Jika kelak kita meninggal dunia, apakah yang akan kita katakan? Alangkah celakanya jika kita mati dengan penyesalan, kepahitan, kesakitan, benci, dan kemarahan.
Mari kita lihat kisah kematian Musa seperti yang digambarkan dalam Ulangan 34:1-12. Perikop ini sangat luar biasa karena kalimat-kalimat yang dipakai untuk menggambarkan Musa sangat extraordinary. Jika kita merenungkan tentang Musa, maka dari bagian ini kita melihat lima refleksi tentang kematian Musa. Pertama, kematian seorang anak Manusia. Walaupun seorang tokoh besar, Musa tetaplah seorang anak manusia. Kematiannya juga adalah kematian seorang anak manusia. Kedua, kematian Musa digambarkan sebagai kematian seorang sahabat Allah. Ketiga, kematian Musa adalah kematian yang sangat indah. Keempat, kematian Musa adalah kematian dari serorang yang dicintai dan dikasihi. Kelima, kematian Musa adalah kematian yang meninggalkan warisan yang agung kepada pengikutnya.
Kematian Seorang Anak Manusia.
Ayat 1-4 dari ulangan tadi dimulai dengan bagaimana Tuhan membawa Musa ke atas gunung Nebo dan Tuhan menunjukkan seluruh tanah Kanaan kepada Musa. Dalam ayat 4 dikatakan: ”Dan berfirmanlah TUHAN kepadanya: "Inilah negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub; demikian: Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri itu. Aku mengizinkan engkau melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi engkau tidak akan menyeberang ke sana." Musa adalah seorang tokoh yang besar. Jika kita ditanya, Musa menjadi seorang Musa, apakah rahasianya? Apakah karena bakatnya yang luar biasa? [ingat, kisah kelahiran Musa sangat luar biasa]. Apakah Musa menjadi tokoh yang besar karena pendidikan yang dia alami sebab selama 40 tahun ia belajar dengan pendidikan di Mesir? Atau apakah karena bentukan alam dan pengalaman luar biasa yang ia alami ketika ia menjadi penggembala domba di padang gurun? Atau apakah karena isterinya yang setia mendukung dia, karena kita sering mendengar ada ungkapan ’Dibalik pria-pria yang besar ada isteri yang besar’? Apakah Musa karena satu atau karena semua hal tersebut? Alkitab mencatat tidak, bukan karena satu atau semua hal diatas. Musa menjadi orang besar adalah karena Tuhan yang besar yang ia miliki. Dalam sebuah buku dikatakan bahwa dalam 40 tahun pertama dalam hidup Musa, dengan segala pencapaiannya, dia memiliki motto hidup ”I’m something!” Musa punya segala-galanya. Dia adalah seorang pangeran, pintar berperang, banyak pengetahuan, dan dia merasa siap menjadi juru selamat bangsa Israel. Musa memiliki kemampuan dan punya hati.
Tetapi ketika Musa merasa I’m something, Tuhan merasa bahwa ia belum siap untuk dipakai untuk rencanaNya. Kemudian 40 tahun berikutnya ia hidup di padang gurun. Musa tidak punya apa-apa. Kambing domba yang digembalakannya pun adalah milik mertuanya. Dia merasa I’m nothing. Musa merasa bahwa dia tidak punya apa-apa dan kelebihan apapun. Ketika dia berada pada titik nadir yang paling rendah dan merasa I’m nothing, ketika itulah datang panggilan Allah. Tuhan melihat pada waktu itu Musa siap untuk dipakai oleh Tuhan. Satu hal yang luar biasa. Tuhan sering bekerja dengan cara seperti ini. Justru orang-orang yang tidak punya kemampuan, tidak terpandang, dan tidak memiliki hikmat yang sering dipilih Allah untuk mempermalukan orang-orang yang terpandang. Kemudian dalam 40 tahun yang ketiga Musa melayani Tuhan. Motto hidupnya menjadi ”God is everything.”
Jika kita perhatikan pengalaman Musa, ia menjadi besar bukan karena karunia yang ia miliki, bukan karena pendidikan yang dialami, bukan juga karena bentukan alam yang ia alami. Musa menjadi besar karena Allah yang ia layani adalah Allah yang besar. Hal ini menjadi sebuah refleksi bagi kita, dimana kita menjadi besar bukan karena kehebatan-kehebatan kita, tetapi karena Allah yang kita sembah dan layani adalah Allah yang besar. Ketika Musa menjadi tokoh yang besar, ia tidak menjadi seorang yang tanpa kelemahan. Di dalam Alkitab juga kita menemukan bahwa tokoh-tokoh yang besar bukanlah seorang yang sempurna. Jika kita merasa jika kita ingin menjadi orang besar, lalu kita harus sempurna, maka kita gagal memahami siapa Tuhan kita dan gagal memahami kemanusiaan kita sendiri. Kita perhatikan tokoh-tokoh dalam Alkitab, semuanya adalah manusia-manusia luar biasa yang kita kagumi, tetapi pada saat yang sama mereka juga adalah manusia yang punya kelemahan-kelemahan. Jika ada orang seperti Daud, maukah kita mengundangnya sebagai pembicara di kantor kita? Daud pernah selingkuh dengan Betsyeba. Kita pasti akan berpikir ulang. Tetapi Daud yang dianggap Allah berkenan kepadaNya juga adalah seorang yang memiliki banyak kelemahan. Daud tidak hanya berzinah tetapi merensanakan pembunuhan untuk Uria (suami Betsyeba). Demikian juga dengan Abraham. Abraham adalah seorang pria yang tidak gentelemen. Ia rela mengorbankan isterinya demi keselamatan- nya ia meminta kepada Sarah agar mengaku sebagai adiknya. Ia membiarkan Sarah menghadapi resiko perzinahan dan pelecehan seksual demi keselamatan dirinya. Bahkan Paulus sendiri, seorang yang demikian agung dan kita rasa amat sempurna, adalah seorang yang berkata bahwa ia memiliki duri dalam daging. Dan duri dalam daging Paulus tidak diketahui dengan jelas melalui walau kita membaca kitab Kisah Para Rasul maupun surat-surat Paulus. Ada yang menghubungkannya dengan penyakit atau kelemahan fisik,ada yang menghubungkannya dengan godaan seksual atau temperamennya. Adalah hal yang sangat bagus jika duri dalam daging Paulus tidak diketahui dengan jelas agar semua kita yang punya kelemahan bisa mengi- dentifikasikan diri kita dengan Paulus di mana dalam kelemahannyalah kuasa Allah menjadi sempurna.
Menjelang akhir hidupnya Musa hanya bisa melihat tanah Kanaan. Dia tidak masuk kedalamnya. Musa adalah manusia yang merupakan tokoh yang besar tetapi pada akhirnya Musa adalah seorang manusia biasa seperti anda dan saya. Jangan kita pernah merasa bahwa kita tidak mampu karena kita bukan Musa atau tokoh besar lainnya. Ini adalah mentalitas dimana ada beda antara hamba Tuhan, orang yang fulltime dengan orang yang tidak fulltime. Hal ini dari dalam harus kita buang dari pikiran kita. Sebenarnya kita semua adalah fulltime bagi Tuhan, bukan fulltime untuk lembaga tertentu. Musa akhirnya mati sebagai tokoh besar yang juga adalah manusia biasa karena Musa juga memiliki kelemahan dan kemarahan (yang membuat dirinya tidak bisa pergi ke tanah Kanaan).
Kematian Seorang Sahabat Allah
Kenapa dikatakan kematian seorang sahabat adalah karena Allah sendiri yang mengebumikan Musa. Tuhan sendiri yang menghadiri kematian Musa dan Tuhan sendiri yang tahu dimana Musa dikebumikan. Ayat 5 dan ayat 6: ”Lalu matilah Musa, hamba TUHAN itu, di sana di tanah Moab, sesuai dengan firman TUHAN. Dan dikuburkan-Nyalah dia di suatu lembah di tanah Moab, di tentangan Bet-Peor, dan tidak ada orang yang tahu kuburnya sampai hari ini.” Digambarkan disini dimana ada seorang sahabat mengebumikan sahabatnya yang lain. Sahabat yang bernama YHWH mengebumikan sahabatnya yang bernama Musa. Musa mati dalam rangkulan Tuhan dan dikebumikan sendiri oleh Tuhan. Mucul sebuah pertanyaan, jika kita menjadi Musa, yang manakah yang akan kita pilih, mati di tanah Kanaan atau mati di pelukan Tuhan? Tidak bisanya Musa masuk ke dalam tanah Kanaan merupakan kelemahannya, tetapi di sisi lain seorang yang lemah itu juga diperlakukan Allah dengan sangat istimewa di dalam kematiannya. Allah sendiri berkenan untuk mengebumikan hamba- Nya yang bernama Musa dan tidak ada seorang pun yang tahu di mana kuburan Musa sampai saat ini. Musa bersahabat dengan Tuhan dan Tuhan pun senang dengan Musa. Musa bergumul dengan Tuhan dan bersoal dengan Tuhan dan Tuhan menyukainya. Dalam kisah antara Tuhan dan Musa kita menemukan kisah dimana Musa membujuk Allah yang akan mebinasakan umat Israel dan akan membangkitkan bangsa yang baru melalui Musa, dan akhirnya Allah ’menyesal’ dengan rencanaNya itu. Sewaktu Musa menantang Allah dan bergumul denganNya, Tuhan tidak marah bahkan menyenangi Musa. Sama halnya ketika Abraham tawar menawar dengan Tuhan ketika Sodom dan Gomora akan dihancurkan, Tuhan menyukai tawar menawar Abraham. Sama seperti Tuhan menyukai doa Jhon Knox yang berkata: ”Give me Scotland or let me die.” Tuhan menyukai doa seperti ini. Dan orang-orang yang memiliki hati seperti ini adalah orang-orang yang dicari Tuhan. Bergumul dengan Tuhan dengan mengharapkan hal-hal besar bagi Tuhan dan melakukan hal-hal yang besar bagi Tuhan. Akankah Tuhan menemukan diantara kita, orang-orang yang berani menantang Allah seperti Musa dan tokoh-tokoh besar lainnya. Orang yang berani menantang Allah adalah oang-orang yang menjadi sahabat-sahabat Allah.
Kematian yang Sangat Indah
Dalam ayat 7 dikatakan, ”Musa berumur seratus dua puluh tahun, ketika ia mati; matanya belum kabur dan kekuatannya belum hilang.” Sewaktu Musa mati, ia berumur 120 tahun dengan fisik yang masih kuat. Kematian Musa sepertinya kematian yang tragis karena ia tidak bisa masuk ke tanah perjanjian. Tetapi, apakah kematian Musa adalah kematian yang tragis? Tidak, kematian Musa adalah kematian yang indah karena Allah sendiri yang berkenan mengebumikan Musa dan Musa mati dengan fisik yang masih kuat. Kematian Paulus berbeda dengan Musa. Paulus mati menderita dipenggal di kota Roma. Tetapi kematian Paulus bukanlah kematian yang tragis, tetapi kematian yang sangat indah. Kematian yang tragis adalah kematian Yudas. Bagaimana nanti jika kita meninggal dunia? Apakah kematian kita adalah kematian yang indah atau kematian yang tragis.
Kematian Dari Seorang yang Dikasihi
Dalam ayat 8 dikatakan, ”Orang Israel menangisi Musa di dataran Moab tiga puluh hari lamanya. Maka berakhirlah hari-hari tangis perkabungan karena Musa itu.” Orang Israel menangisi Musa 30 hari lamanya. Hal ini berarti bahwa mereka sedih sekali. Musa ditangisi oleh orang yang dipimpinnya dan dia dikenang sebagai orang yang besar. Adakah pengikut/anggota yang senang ketika pemimpin mereka mati? Pandangan sebenarnya terhadap seorang pemimpin adalah ketika pemimpin tersebut tidak hadir lagi. Jika ada pemimpin dan ada pengikutnya tentu saja pandangan yang diutarakan pengikutnya terhadap pemimpinnya adalah yang positif. Ketika pemimpinnya tidak ada biasanya muncullah penilaian-penilaian yang lebih jujur dari pengikutnya terhadap pemimpin mereka. Bagaimana kita ingin dikenang jika kelak kita meninggalkan dunia ini? Musa meninggal dunia sebagai seorang yang sangat dikasihi. Selama 30 hari orang menangis ketika Musa meninggalkan dunia ini.
Kematian yang Meninggalkan Warisan yang Agung
Mari melihat ayat 9-12, ”Dan Yosua bin Nun penuh dengan roh kebijaksanaan, sebab Musa telah meletakkan tangannya ke atasnya. Sebab itu orang Israel mendengarkan dia dan melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa. Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel, dalam hal segala tanda dan mujizat, yang dilakukan- nya atas perintah TUHAN di tanah Mesir terhadap Firaun dan terhadap semua pegawainya dan seluruh negerinya, dan dalam hal segala perbuatan kekuasaan dan segala kedahsyatan yang besar yang dilakukan Musa di depan seluruh orang Israel.” Di sini kita melihat bagaimana Musa meneruskan kepemimpinannya kepada Yosua. Yosua adalah seorang pemimpin yang sangat berkaliber dan sangat besar. Musa meninggal dunia tidak meninggalkan jabatan yang kosong atau umat israel yang tercerai berai. Musa meninggalkan dunia dengan membiarkan seorang penerus yang juga sangat besar. Apakah seorang penerus adalah syarat terakhir seorang pemimpin? Banyak pemimpin menjadi pemimpin besar tetapi ktika dia meninggal dunia penerus-penerusnya tidak bisa melakukan apa yang dilakukannya. Yesus adalah seorang pemimpin yang luar biasa. Ketika Ia meninggalkan dunia, Ia meninggalkan 12 pemimpin besar yang kemudian menjadi pemimpin gereja padsa gereja mula-mula. Pemimpin-pemimpin akan selalu muncul, dan bagi setiap pemimpin kita perlu percaya bahwa the next generation will be better than us.
Inilah lima potret dari kematian Musa. Kematian Musa adalah kematian seorang tokoh yang juga adalah manusia biasa. Kematian Musa adalah kematian seorang sahabat Tuhan. Kematian Musa adalah kematian yang indah. Kematian Musa adalah kematian seseorang yang sangat dikasihi. Dan kematian Musa adalah kematian yang mening- galkan warisa yang agung kepada generasi selanjutnya. Bagaimanakah kelak kita ingin meninggalkan dunia ini? Apakah kita bisa memetik pelajaran dari kematian Musa agar kita juga kelak meninggalkan dunia dengan cara yang sama.
Elegy of Moses. Musa alah seorang yang mengawali karirnya sebagai seorang yang merasa I am Something. Tetapi di mata Tuhan dia gagal. Kemudian Musa dipanggil Tuhan sebagai seorang yang merasa I am Nothing dan ia tidak siap untuk melayani Tuhan. Tetapi Tuhan melihat Musa siap dan memakainya dengan luar biasa. Musa mengakhiri hidupnya dengan motto hidup ”God is Everything” karena ia telah menjadi sahabat Allah, mencintai Allah dan dicintai Allah, mencintai umat Israel dan dicintai umat Israel.
Soli Deo Gloria!
Hari ini kita akan merenungkan bagian yang terakhir tentang Musa dengan topik An Elegy of Passionate Leader --- Moses Seen from the End of His Life. Jika kita perhatikan orang-orang besar dalam dunia ini, mereka mati dengan cara yang unik. Yesus mati dengan berkata: ”Sudah selesai.” Paulus juga mengatakan hal yang sama. Ketika akan meningal dunia dia berkata: ”Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik.” Jika kelak kita meninggal dunia, apakah yang akan kita katakan? Alangkah celakanya jika kita mati dengan penyesalan, kepahitan, kesakitan, benci, dan kemarahan.
Mari kita lihat kisah kematian Musa seperti yang digambarkan dalam Ulangan 34:1-12. Perikop ini sangat luar biasa karena kalimat-kalimat yang dipakai untuk menggambarkan Musa sangat extraordinary. Jika kita merenungkan tentang Musa, maka dari bagian ini kita melihat lima refleksi tentang kematian Musa. Pertama, kematian seorang anak Manusia. Walaupun seorang tokoh besar, Musa tetaplah seorang anak manusia. Kematiannya juga adalah kematian seorang anak manusia. Kedua, kematian Musa digambarkan sebagai kematian seorang sahabat Allah. Ketiga, kematian Musa adalah kematian yang sangat indah. Keempat, kematian Musa adalah kematian dari serorang yang dicintai dan dikasihi. Kelima, kematian Musa adalah kematian yang meninggalkan warisan yang agung kepada pengikutnya.
Kematian Seorang Anak Manusia.
Ayat 1-4 dari ulangan tadi dimulai dengan bagaimana Tuhan membawa Musa ke atas gunung Nebo dan Tuhan menunjukkan seluruh tanah Kanaan kepada Musa. Dalam ayat 4 dikatakan: ”Dan berfirmanlah TUHAN kepadanya: "Inilah negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub; demikian: Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri itu. Aku mengizinkan engkau melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi engkau tidak akan menyeberang ke sana." Musa adalah seorang tokoh yang besar. Jika kita ditanya, Musa menjadi seorang Musa, apakah rahasianya? Apakah karena bakatnya yang luar biasa? [ingat, kisah kelahiran Musa sangat luar biasa]. Apakah Musa menjadi tokoh yang besar karena pendidikan yang dia alami sebab selama 40 tahun ia belajar dengan pendidikan di Mesir? Atau apakah karena bentukan alam dan pengalaman luar biasa yang ia alami ketika ia menjadi penggembala domba di padang gurun? Atau apakah karena isterinya yang setia mendukung dia, karena kita sering mendengar ada ungkapan ’Dibalik pria-pria yang besar ada isteri yang besar’? Apakah Musa karena satu atau karena semua hal tersebut? Alkitab mencatat tidak, bukan karena satu atau semua hal diatas. Musa menjadi orang besar adalah karena Tuhan yang besar yang ia miliki. Dalam sebuah buku dikatakan bahwa dalam 40 tahun pertama dalam hidup Musa, dengan segala pencapaiannya, dia memiliki motto hidup ”I’m something!” Musa punya segala-galanya. Dia adalah seorang pangeran, pintar berperang, banyak pengetahuan, dan dia merasa siap menjadi juru selamat bangsa Israel. Musa memiliki kemampuan dan punya hati.
Tetapi ketika Musa merasa I’m something, Tuhan merasa bahwa ia belum siap untuk dipakai untuk rencanaNya. Kemudian 40 tahun berikutnya ia hidup di padang gurun. Musa tidak punya apa-apa. Kambing domba yang digembalakannya pun adalah milik mertuanya. Dia merasa I’m nothing. Musa merasa bahwa dia tidak punya apa-apa dan kelebihan apapun. Ketika dia berada pada titik nadir yang paling rendah dan merasa I’m nothing, ketika itulah datang panggilan Allah. Tuhan melihat pada waktu itu Musa siap untuk dipakai oleh Tuhan. Satu hal yang luar biasa. Tuhan sering bekerja dengan cara seperti ini. Justru orang-orang yang tidak punya kemampuan, tidak terpandang, dan tidak memiliki hikmat yang sering dipilih Allah untuk mempermalukan orang-orang yang terpandang. Kemudian dalam 40 tahun yang ketiga Musa melayani Tuhan. Motto hidupnya menjadi ”God is everything.”
Jika kita perhatikan pengalaman Musa, ia menjadi besar bukan karena karunia yang ia miliki, bukan karena pendidikan yang dialami, bukan juga karena bentukan alam yang ia alami. Musa menjadi besar karena Allah yang ia layani adalah Allah yang besar. Hal ini menjadi sebuah refleksi bagi kita, dimana kita menjadi besar bukan karena kehebatan-kehebatan kita, tetapi karena Allah yang kita sembah dan layani adalah Allah yang besar. Ketika Musa menjadi tokoh yang besar, ia tidak menjadi seorang yang tanpa kelemahan. Di dalam Alkitab juga kita menemukan bahwa tokoh-tokoh yang besar bukanlah seorang yang sempurna. Jika kita merasa jika kita ingin menjadi orang besar, lalu kita harus sempurna, maka kita gagal memahami siapa Tuhan kita dan gagal memahami kemanusiaan kita sendiri. Kita perhatikan tokoh-tokoh dalam Alkitab, semuanya adalah manusia-manusia luar biasa yang kita kagumi, tetapi pada saat yang sama mereka juga adalah manusia yang punya kelemahan-kelemahan. Jika ada orang seperti Daud, maukah kita mengundangnya sebagai pembicara di kantor kita? Daud pernah selingkuh dengan Betsyeba. Kita pasti akan berpikir ulang. Tetapi Daud yang dianggap Allah berkenan kepadaNya juga adalah seorang yang memiliki banyak kelemahan. Daud tidak hanya berzinah tetapi merensanakan pembunuhan untuk Uria (suami Betsyeba). Demikian juga dengan Abraham. Abraham adalah seorang pria yang tidak gentelemen. Ia rela mengorbankan isterinya demi keselamatan- nya ia meminta kepada Sarah agar mengaku sebagai adiknya. Ia membiarkan Sarah menghadapi resiko perzinahan dan pelecehan seksual demi keselamatan dirinya. Bahkan Paulus sendiri, seorang yang demikian agung dan kita rasa amat sempurna, adalah seorang yang berkata bahwa ia memiliki duri dalam daging. Dan duri dalam daging Paulus tidak diketahui dengan jelas melalui walau kita membaca kitab Kisah Para Rasul maupun surat-surat Paulus. Ada yang menghubungkannya dengan penyakit atau kelemahan fisik,ada yang menghubungkannya dengan godaan seksual atau temperamennya. Adalah hal yang sangat bagus jika duri dalam daging Paulus tidak diketahui dengan jelas agar semua kita yang punya kelemahan bisa mengi- dentifikasikan diri kita dengan Paulus di mana dalam kelemahannyalah kuasa Allah menjadi sempurna.
Menjelang akhir hidupnya Musa hanya bisa melihat tanah Kanaan. Dia tidak masuk kedalamnya. Musa adalah manusia yang merupakan tokoh yang besar tetapi pada akhirnya Musa adalah seorang manusia biasa seperti anda dan saya. Jangan kita pernah merasa bahwa kita tidak mampu karena kita bukan Musa atau tokoh besar lainnya. Ini adalah mentalitas dimana ada beda antara hamba Tuhan, orang yang fulltime dengan orang yang tidak fulltime. Hal ini dari dalam harus kita buang dari pikiran kita. Sebenarnya kita semua adalah fulltime bagi Tuhan, bukan fulltime untuk lembaga tertentu. Musa akhirnya mati sebagai tokoh besar yang juga adalah manusia biasa karena Musa juga memiliki kelemahan dan kemarahan (yang membuat dirinya tidak bisa pergi ke tanah Kanaan).
Kematian Seorang Sahabat Allah
Kenapa dikatakan kematian seorang sahabat adalah karena Allah sendiri yang mengebumikan Musa. Tuhan sendiri yang menghadiri kematian Musa dan Tuhan sendiri yang tahu dimana Musa dikebumikan. Ayat 5 dan ayat 6: ”Lalu matilah Musa, hamba TUHAN itu, di sana di tanah Moab, sesuai dengan firman TUHAN. Dan dikuburkan-Nyalah dia di suatu lembah di tanah Moab, di tentangan Bet-Peor, dan tidak ada orang yang tahu kuburnya sampai hari ini.” Digambarkan disini dimana ada seorang sahabat mengebumikan sahabatnya yang lain. Sahabat yang bernama YHWH mengebumikan sahabatnya yang bernama Musa. Musa mati dalam rangkulan Tuhan dan dikebumikan sendiri oleh Tuhan. Mucul sebuah pertanyaan, jika kita menjadi Musa, yang manakah yang akan kita pilih, mati di tanah Kanaan atau mati di pelukan Tuhan? Tidak bisanya Musa masuk ke dalam tanah Kanaan merupakan kelemahannya, tetapi di sisi lain seorang yang lemah itu juga diperlakukan Allah dengan sangat istimewa di dalam kematiannya. Allah sendiri berkenan untuk mengebumikan hamba- Nya yang bernama Musa dan tidak ada seorang pun yang tahu di mana kuburan Musa sampai saat ini. Musa bersahabat dengan Tuhan dan Tuhan pun senang dengan Musa. Musa bergumul dengan Tuhan dan bersoal dengan Tuhan dan Tuhan menyukainya. Dalam kisah antara Tuhan dan Musa kita menemukan kisah dimana Musa membujuk Allah yang akan mebinasakan umat Israel dan akan membangkitkan bangsa yang baru melalui Musa, dan akhirnya Allah ’menyesal’ dengan rencanaNya itu. Sewaktu Musa menantang Allah dan bergumul denganNya, Tuhan tidak marah bahkan menyenangi Musa. Sama halnya ketika Abraham tawar menawar dengan Tuhan ketika Sodom dan Gomora akan dihancurkan, Tuhan menyukai tawar menawar Abraham. Sama seperti Tuhan menyukai doa Jhon Knox yang berkata: ”Give me Scotland or let me die.” Tuhan menyukai doa seperti ini. Dan orang-orang yang memiliki hati seperti ini adalah orang-orang yang dicari Tuhan. Bergumul dengan Tuhan dengan mengharapkan hal-hal besar bagi Tuhan dan melakukan hal-hal yang besar bagi Tuhan. Akankah Tuhan menemukan diantara kita, orang-orang yang berani menantang Allah seperti Musa dan tokoh-tokoh besar lainnya. Orang yang berani menantang Allah adalah oang-orang yang menjadi sahabat-sahabat Allah.
Kematian yang Sangat Indah
Dalam ayat 7 dikatakan, ”Musa berumur seratus dua puluh tahun, ketika ia mati; matanya belum kabur dan kekuatannya belum hilang.” Sewaktu Musa mati, ia berumur 120 tahun dengan fisik yang masih kuat. Kematian Musa sepertinya kematian yang tragis karena ia tidak bisa masuk ke tanah perjanjian. Tetapi, apakah kematian Musa adalah kematian yang tragis? Tidak, kematian Musa adalah kematian yang indah karena Allah sendiri yang berkenan mengebumikan Musa dan Musa mati dengan fisik yang masih kuat. Kematian Paulus berbeda dengan Musa. Paulus mati menderita dipenggal di kota Roma. Tetapi kematian Paulus bukanlah kematian yang tragis, tetapi kematian yang sangat indah. Kematian yang tragis adalah kematian Yudas. Bagaimana nanti jika kita meninggal dunia? Apakah kematian kita adalah kematian yang indah atau kematian yang tragis.
Kematian Dari Seorang yang Dikasihi
Dalam ayat 8 dikatakan, ”Orang Israel menangisi Musa di dataran Moab tiga puluh hari lamanya. Maka berakhirlah hari-hari tangis perkabungan karena Musa itu.” Orang Israel menangisi Musa 30 hari lamanya. Hal ini berarti bahwa mereka sedih sekali. Musa ditangisi oleh orang yang dipimpinnya dan dia dikenang sebagai orang yang besar. Adakah pengikut/anggota yang senang ketika pemimpin mereka mati? Pandangan sebenarnya terhadap seorang pemimpin adalah ketika pemimpin tersebut tidak hadir lagi. Jika ada pemimpin dan ada pengikutnya tentu saja pandangan yang diutarakan pengikutnya terhadap pemimpinnya adalah yang positif. Ketika pemimpinnya tidak ada biasanya muncullah penilaian-penilaian yang lebih jujur dari pengikutnya terhadap pemimpin mereka. Bagaimana kita ingin dikenang jika kelak kita meninggalkan dunia ini? Musa meninggal dunia sebagai seorang yang sangat dikasihi. Selama 30 hari orang menangis ketika Musa meninggalkan dunia ini.
Kematian yang Meninggalkan Warisan yang Agung
Mari melihat ayat 9-12, ”Dan Yosua bin Nun penuh dengan roh kebijaksanaan, sebab Musa telah meletakkan tangannya ke atasnya. Sebab itu orang Israel mendengarkan dia dan melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa. Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel, dalam hal segala tanda dan mujizat, yang dilakukan- nya atas perintah TUHAN di tanah Mesir terhadap Firaun dan terhadap semua pegawainya dan seluruh negerinya, dan dalam hal segala perbuatan kekuasaan dan segala kedahsyatan yang besar yang dilakukan Musa di depan seluruh orang Israel.” Di sini kita melihat bagaimana Musa meneruskan kepemimpinannya kepada Yosua. Yosua adalah seorang pemimpin yang sangat berkaliber dan sangat besar. Musa meninggal dunia tidak meninggalkan jabatan yang kosong atau umat israel yang tercerai berai. Musa meninggalkan dunia dengan membiarkan seorang penerus yang juga sangat besar. Apakah seorang penerus adalah syarat terakhir seorang pemimpin? Banyak pemimpin menjadi pemimpin besar tetapi ktika dia meninggal dunia penerus-penerusnya tidak bisa melakukan apa yang dilakukannya. Yesus adalah seorang pemimpin yang luar biasa. Ketika Ia meninggalkan dunia, Ia meninggalkan 12 pemimpin besar yang kemudian menjadi pemimpin gereja padsa gereja mula-mula. Pemimpin-pemimpin akan selalu muncul, dan bagi setiap pemimpin kita perlu percaya bahwa the next generation will be better than us.
Inilah lima potret dari kematian Musa. Kematian Musa adalah kematian seorang tokoh yang juga adalah manusia biasa. Kematian Musa adalah kematian seorang sahabat Tuhan. Kematian Musa adalah kematian yang indah. Kematian Musa adalah kematian seseorang yang sangat dikasihi. Dan kematian Musa adalah kematian yang mening- galkan warisa yang agung kepada generasi selanjutnya. Bagaimanakah kelak kita ingin meninggalkan dunia ini? Apakah kita bisa memetik pelajaran dari kematian Musa agar kita juga kelak meninggalkan dunia dengan cara yang sama.
Elegy of Moses. Musa alah seorang yang mengawali karirnya sebagai seorang yang merasa I am Something. Tetapi di mata Tuhan dia gagal. Kemudian Musa dipanggil Tuhan sebagai seorang yang merasa I am Nothing dan ia tidak siap untuk melayani Tuhan. Tetapi Tuhan melihat Musa siap dan memakainya dengan luar biasa. Musa mengakhiri hidupnya dengan motto hidup ”God is Everything” karena ia telah menjadi sahabat Allah, mencintai Allah dan dicintai Allah, mencintai umat Israel dan dicintai umat Israel.
Soli Deo Gloria!
Seri Musa 3: The Man and His God
Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div
Hari ini kita akan membahas mengenai Musa dalam topik The Man and His God. Dalam bagian ini kita akan belajar tentang relasi antara Musa dengan Allah. Bagaimana Musa membangun hubungannya dengan Tuhan, bagaimana Musa meresponi panggilan Tuhan dan bagaimana Allah berbicara dan bersikap terhadap Musa di dalam kehidupannya dan kepemimpinannya di dalam pelayanannya.
Kita akan melihat hal ini di dalam kitab Keluaran dan kita hanya akan mengambil kutipan-kutipannya saja. Di dalam Keluaran 2:1-10 kita melihat bagaimana Musa dilahirkan dan dibesarkan di dalam lingkungan Istana Firaun tetapi tetap disusui oleh ibunya sendiri. Dibalik peristiwa kelahiran Musa, ada satu aturan dimana semua anak laki-laki dari bangsa Israel harus dikubur karena semakin berkembangnya populasi bangsa Israel ditanah Mesir [ Kel 1:22 "Lalu Firaun memberi perintah kepada seluruh rakyatnya: "Lemparkanlah segala anak laki-laki yang lahir bagi orang Ibrani ke dalam sungai Nil; tetapi segala anak perempuan biarkanlah hidup"]. Di dalam kondisi seperti itu, ada satu cara Allah yang diberikan kepada Musa untuk menyelamatkan anaknya tersebut. Apa yang kita lihat adalah bagaimana providensia Allah yang terjadi di dalam diri Musa. Providensia Allah yang pertama adalah sejak dia lahir, bagaimana dia di asuh dan diselamatkan serta dididik di Mesir sekitar 40 tahun.
Hidup Musa sebenarnya dibagi kedalam 3x 40 tahun. 40 tahun pertama adalah di Mesir, 40 tahun kedua adalah di Midian, dan 40 tahun ketiga adalah memimpin umat Allah – Israel. Jadi masa 40 tahun yang pertama itu, providensia Allah terus dinyatakan. Jadi kita melihat di dalam hal ini bagaimana Tuhan bekerja di dalam segala sesuatu yang dialami oleh Musa dan bagaimana providensia Allah nyata di dalam hidupnya. Jika kita merefleksikan di dalam hidup kita, apakah dalam satu situasi di dalam hidup kita, kita melihat Allah bekerja di dalamnya? Apakah itu di dalam kondisi yang sulit. Musa mengalami hal yang sulit di dalam hidupnya, dimana sebagai anak orang Ibrani, dia harus dibunuh. Apakah di dalam hidup yang sulit atau tantangan, kita masih melihat tangan Tuhan ada dan menyertai kita, bahwa Tuhan menyatakan pemeliharaanNya dan tuntunannya?
Setelah Musa diberikan kepada putri Firaun dan diangkat menjadi anaknya, maka Musa dididik di dalam ilmu pengetahuan dan budaya Mesir. Pada zaman itu, salah satu budaya/peradaban dan pendidikan yang besar adalah Mesir. Dan di dalam pendidikan ini, Musa diperlengkapi untuk satu panggilan Allah ke depan. Tentu saja masa ini adalah masa yang sulit bagi Musa karena dia adalah seorang Ibrani. Jika kita melihat hidup kita, apakah kita juga melihat dan menyadari bahwa apapun yang terjadi di dalam hidup kita, termasuk masa-masa yang sulit, Allah bekerja di dalamnya?
Kemudian, ketika Musa punya beban dan berbelas kasihan kepada orang Israel, dan ketika Musa melihat orang Mesir menindas orang Israel--tanpa membenarkan tindakan Musa--Musa sampai membunuh orang Mesir itu. Akhirnya Musa menjadi buronan dan melarikan diri di Midian. Di Midian Musa bertemu dengan Mertuanya dan dia menikah di sana dan akhirnya menjadi seorang gembala selama 40 tahun. Allah membentuk dia dengan caraNya sendiri sampai Musa menjadi siap mengembalakan umat Allah. Seringkali di Alkitab seorang gembala dipanggil Allah menjadi penggembala manusia. Misalnya Daud, Gideon, dll. Masa pembentukan bagi Musa selama 40 tahun kedua juga merupakan cara bagi Allah untuk memperlengkapi Musa untuk masuk di dalam mandat Allah dalam pelayanan ke depan. Di dalam satu kondisi seperti ini kita melihat bahwa Allah terlibat dan senantiasa menyertai Musa dan membentuk Musa. Ketika melihat bagaimana Tuhan membentuk Musa, kita juga bisa merefleksikan hal tersebut di dalam hidup kita, bagaimana Allah membentuk hidup kita melalui semua peristiwa dan melalui semua keadaan di dalam diri kita. Oleh sebab itu jangan terlalu cepat kecewa atau putus asa dan mengatakan menyerah. Tetapi mari kita melihat segala sesuatu dari kacamata rohani atau perspektif ilahi setiap hal yang terjadi di dalam hidup kita agar kita tetap bersyukur dan menatap penuh iman dan pengharapan kepada Allah [Rom 8:28-29, ”Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara].
Ketika sedang menggembalakan domba, Musa bertemu dengan Allah [Kel 3:2-6]. Lawatan Tuhan kepada Musa adalah sebuah titik balik akan panggilan Musa untuk kembali mencintai umat Tuhan – Israel. Tuhan membukakan bahwa erangan bangsa Israel sampai kepada Allah dan hal inilah dasar bagi Tuhan untuk memanggil Musa. Tuhan kembali membukakan beban yang pernah dimiliki Musa. Di pasal sebelumnya kita melihat Musa pernah menjadi buronan karena cintanya kepada orang Israel. Tuhan mengingatkan kembali pada Musa beban, misi, atau kasih yang pernah dia miliki untuk umat Tuhan. Apa yang dialami Musa memiliki durasi waktu yang sangat panjang. Setelah 40 tahun sangat mungkin Musa melupakan bebannya terhadap bangsa Israel. Mungkin dia akan merasakan nyaman dengan ternak yang dia miliki. Barangkali Musa juga lupa karena isteri dan anak-anaknya. Akhirnya Allah mengingatkan Musa kembali ketika Allah melawat Musa ketika menggembalakan domba. Memori-memori mengenai beban Musa terhadap bangsa Israel kembali diingatkan Tuhan kepada Musa dengan menyatakan bagaimana erangan dan teriakan bangsa Israel sampai kepada Allah dan bagaimana Musa dipanggil kembali untuk hal itu. Mari mereview hidup kita kembali. Sangat memungkinkan bahwa ada sekian tahun yang lewat dimana ada beban yang telah kita lupakan. Beban/hati/belas kasihan yang pernah kita miliki tetapi sekarang sudah pudar bahkan lupa oleh karena kita terlena dengan kenyamanan atau pergumulan hidup kita. Apakah kita pernah punya beban untuk pelayanan tertentu apakah sosial, pendidikan, atau apapun? Apakah kita telah lupa akan beban kita itu? Dalam kisah Musa, Allah kembali mengingatkan Musa akan bebannya melalui lawatannya bagi diri Musa. Dan setelah Allah membukakan beban itu kepada Musa, Tuhan memanggil dan mengutusnya untuk membebaskan umatNya. Tapi ada suatu konflik dalam pribadi Musa antara beban membebaskan umat Allah. Musa banyak membuat alasan atau dalih yang dibuat-buat karena mungkin dia tidak ingin meninggalkan comfort zone-nya. Di sini kita melihat bagaimana Musa berargumentasi dan berdialog dengan Allah melalui pergumulannya yang sebenarnya tidak masuk akal di hadapan Allah. Kita bisa melihat pada diri kita, apa kendala atau dalih kita sehingga kita tidak mau terlibat dalam misi yang Allah panggil bagi kita sehingga beban itu mulai pudar atau tidak tajam, apakah terlalu nyaman dengan diri kita, perkerjaan kita, atau panggilan itu terlalu berat? Atau mungkin beban itu tajam tapi kita berdalih dengan cara lain. Kita sudah melihat bagaimana argumentasi-argumentasi Musa dipatahkan oleh Allah. Sejak awal Musa disucikan Allah untuk mengerjakan sebuah mandat yang besar.
Ada masanya Musa mempertanyakan keabsahan panggilannya [Kel 5:22-23, ”Lalu Musa kembali menghadap TUHAN, katanya: "Tuhan, mengapakah Kauperlakukan umat ini begitu bengis? Mengapa pula aku yang Kauutus? Sebab sejak aku pergi menghadap Firaun untuk berbicara atas nama-Mu, dengan jahat diperlakukannya umat ini, dan Engkau tidak melepaskan umat-Mu sama sekali."]. Ini adalah fluktuasi kehidupan Musa dimana dia melihat umat itu malah semakin menderita ketika Musa meminta izin agar bangsa itu dibawa keluar dari Mesir dan ia sendiri ditolak. Hal ini pun mungkin sering kita tanyakan pada diri sendiri ketika melayani Tuhan. Kita melayani tapi kondisi semakin tidak baik atau malah tambah hancur, jalan untuk sebuah pelayanan misi sepertinya makin tertutup dll. Kita bergulat dengan panggilan ini juga sebagaimana dialami Musa. Kita seakan-akan ”menyalahkan” Tuhan atas pengutusanNya, seakan-akan Dia salah mengutus orang! Namun Dia tidak pernah salah, malah Tuhan kembali meneguhkan orang yang mau terus bertanya/bergumul. Setelah Musa melewati fase itu, Tuhan memberikan ”posisi yang tinggi” atau ”baik” kepada Musa [Kel 7:1-2, ”Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Lihat, Aku mengangkat engkau sebagai Allah bagi Firaun, dan Harun, abangmu, akan menjadi nabimu. Engkau harus mengatakan segala yang Kuperintahkan kepadamu, dan Harun, abangmu, harus berbicara kepada Firaun, supaya dibiarkannya orang Israel itu pergi dari negerinya".]. Dengan jelas kita melihat bahwa jika panggilan Allah jelas, IA akan menyertai, memperlengkapi, menolong dan memberikan sesuatu untuk mengerjakan mandat itu. Di sepanjang perjalanan hidup Musa, kita menyaksikan bagaimana ia mengalami sebuah fluktuasi hidup. Kadang ia menyesal, lalu Tuhan hiburkan dan berkali-kali demikian yanag terjadi. Namun kita perhatikan ada sebuah hal yang menarik bahwa Musa bergaul karib dengan Allah dalam kehidupannya. Di sisi lain, Tuhan juga memakai Musa untuk memperlengkapi umatNya dari segi kerohanian dengan memberikan Hukum Taurat kepada Musa. Dalam proses pembebasan ini, umat memberontak, bersungut-sungut, dan berkali-kali ingin kembali ke Mesir, bangsa ini marah kepada Musa sehingga Tuhan murka kepada bangsa ini karena kedegilan hatinya. Kita melihat bagaimana Musa melunakkan hati Allah, ia berdiri di antara umat dan Allah yang menunjukkan seorang pemimpin yang dekat dengan orang yang dipimpin dan dekat dengan Allah. Ia bergumul tentang umat Allah dan di sisi lain ia memohon kemurahan Allah. Musa melunakkan hati Allah dengan mengorbankan segala yang berarti dalam hidupnya. Bebannya semakin dalam, tajam sehingga ia mampu berkorban begitu besar bagi orang yang dilayaninya. Cinta Musa kepada Allah dan umat membuat Musa marah kepada Harun dan bangsa Israel karena mereka melanggar kekudusan Allah dengan menyembah berhala. Adakah cinta kita bertumbuh pada dua sisi: kepada Allah dan orang yang kita layani? Musa sangat membutuhkan pertolongan Allah sehingga Musa berkata tidak mau melangkah tanpa penyertaan Tuhan [Kel 33:15-17, ”Berkatalah Musa kepada-Nya: "Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini. Dari manakah gerangan akan diketahui, bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, yakni aku dengan umat-Mu ini? Bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami, sehingga kami, aku dengan umat-Mu ini, dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini?" Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapan-Ku dan Aku mengenal engkau."]. Musa semakin hari semakin dekat dan bergantung dengan Allah. Inilah Musa dengan Allahnya. Ia bergantung penuh dan mengandalkan Tuhan dan sampai dia berani berkata bahwa yang membedakan mereka (bangsa Israel) dengan yang lain adalah bahwa Tuhan menyertai diri mereka. Apa yang yang membedakan kita dengan orang lain? Sama-sama karyawan, guru, manager, atau pekerjaan yang lain. Kita harus berani mengatakan bahwa yang membedakan kita dengan orang lain sama dengan membedakan Musa beserta umat Allah dengan bangsa yang lain, hanya satu hal yaitu Allah menyertai kita. Apakah kita yakin bahwa Allah menyertai kita di tempat pekerjaan kita masing-masing? Dalam pasal 34:8-9 juga menyatakan bagaimana dia mengandalkan penyertaan Tuhan. Dikatakan disana, ”Segeralah Musa berlutut ke tanah, lalu sujud menyembah serta berkata: "Jika aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, ya Tuhan, berjalanlah kiranya Tuhan di tengah-tengah kami; sekalipun bangsa ini suatu bangsa yang tegar tengkuk, tetapi ampunilah kesalahan dan dosa kami; ambillah kami menjadi milik-Mu.” Mari melihat hal ini secara benar di dalam hidup kita. Apapun profesi kita, dimanapun pelayanan kita, yakini dan berani melangkah karena Tuhan yang menyertai kita. Itulah sebabnya pergumulan selalu terjadi di dalam diri kita. Apakah Tuhan menyertai pelayanan ini atau tidak.
Musa juga dekat dengan Allah. Hal ini terlihat dengan bagaimana dia ’melihat’ Allah (Kel 33:18-23). Musa sangat bergaul karib dengan Allah sampai dia bisa melihat Allah. Kembali Tuhan memberikan kesepuluh Firman Tuhan kepada Musa dan ini dipakai Allah sebagai alatnya untuk menyampaikan kebenaran-kebenarannya melalui Musa. Di dalam Bilangan 12:1-10, ketika Miryam dan Harun berencana untuk menjatuhkan dan mengata-ngatai Musa, dia dibela oleh Tuhan. Ketika itu Tuhan menampakkan dirinya dikemah pertemuan dan menyatakan pembelaannya terhadap Musa. Musa tidak meminta hal ini kepada Allah. Musa tulus kepada Allah. Tetapi Tuhanlah yang membela dia. Dan akhirnya Harun dan Miryam meminta Musa berdoa agar mereka diampuni dan mereka diampuni. Allah selalu membela hambanya. Mungkin di pekerjaan kita menjadi korban konspirasi, dan mau diintimidasi atai mau menjatuhkan kita, ingat kembali, Allah pasti membela dan berada dipihak kita, dan Allah pasti akan memberikan kemenangan bagi kita sama seperti Allah membela Musa. Mungkin di perjalanan hidup kita, Allah menjadi pembela di dalam pergumulan kita.
Dalam Ulangan 34:1-4, Musa tidak diizinkan Tuhan masuk ke tanah Kanaan. Ia dibawa Allah ke sebuah gunung dan Tuhan hanya diizinkan memandang tanah perjanjian dari puncak gunung itu. Hal ini disebabkan karena Allah murka ketika ada persoalan di Mara dan Meriba [band Bil 20:12-13, ”Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: "Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka." Itulah mata air Meriba, tempat orang Israel bertengkar dengan TUHAN dan Ia menunjukkan kekudusan-Nya di antara mereka."]. Tetapi apapun alasannya, antara Musa dengan Tuhannya, apakah Musa gagal? Tentu TIDAK. Artinya Musa memang dipanggil Allah untuk membebaskan umat Allah keluar dari tanah Mesir dan dituntaskan oleh ’anak buahnya’ yaitu Yosua. Musa berhasil memimpin umat Allah dan hanya tinggal menyebrangi sungai Yordan. Perjuangan Musa memang hanya Tuhan ijinkan sampai disitu, dan Musa adalah seorang pemimpin yang berhasil. Walaupun dia tidak sampai ketanah Kanaan, tetapi perjuangan Musa tidak sia-sia. Sama dengan perjuangan pahlawan yang tidak sampai menikmati hari kemerdekaan. Apakah perjuangan para pahlawan tersebut sia-sia? Tentu tidak. Tuhan juga memakai Musa dengan cara demikian. Pejuangan yang dilakukan oleh Musa sesuai dengan visi yang diberikan Tuhan kepada dirinya walaupun dia tidak diizinkan sampai ketanah Kanaan.
Apa yang kita perjuangkan sekarang belum tentu harus kita yang menikmati dan menyelesaikan sampai tuntas. Apa yang kita lakukan ketika memimpin kelompok merupakan secuil harapan, tetapi apakah merupakan akhir dan sia-sia? Tentu saja tidak. Karena hal ini adalah perjuangan untuk satu perubahan yang besar di depan dan Musa melakukan hal itu. Perjuangan yang tulus yang kita lakukan untuk Allah, ingat, semuanya tidak akan sia-sia dan Allah akan selalu memperghitungkannya mungkin kita tidak akan sampai akhir, tetapi benih yang kita tanam bisa dinikmati oleh banyak orang. Di sinilah Musa berada. Walau dia tidak diijinkan Allah memasuki tanah Kanaan, tetapi misi yang sesuai dengan panggilan Allah, dikerjakan Musa dengan baik. Apa yang Tuhan tanamkan atau panggil untuk kita kerjakan, mari kerjakan dengan tulus. Ada bagian kita dan ada yang menjadi bagian Allah. Do your best and God will do the rest. Tidak ada satu catatan pun di Alkitab yang mengatakan bahwa Musa mengeluh kepada Tuhan. Pergulatan musa dengan Allah mungkin juga menjadi pergulatan kita dengan Allah setiap hari soal panggilan, beban bahkan bagaiman kita berjuang semakin hari semakin dekat dengan Allah, dan bagaimana kita terus taat kepada Allah dan dipakai menjadi alatnya.
Solideo Gloria!
Hari ini kita akan membahas mengenai Musa dalam topik The Man and His God. Dalam bagian ini kita akan belajar tentang relasi antara Musa dengan Allah. Bagaimana Musa membangun hubungannya dengan Tuhan, bagaimana Musa meresponi panggilan Tuhan dan bagaimana Allah berbicara dan bersikap terhadap Musa di dalam kehidupannya dan kepemimpinannya di dalam pelayanannya.
Kita akan melihat hal ini di dalam kitab Keluaran dan kita hanya akan mengambil kutipan-kutipannya saja. Di dalam Keluaran 2:1-10 kita melihat bagaimana Musa dilahirkan dan dibesarkan di dalam lingkungan Istana Firaun tetapi tetap disusui oleh ibunya sendiri. Dibalik peristiwa kelahiran Musa, ada satu aturan dimana semua anak laki-laki dari bangsa Israel harus dikubur karena semakin berkembangnya populasi bangsa Israel ditanah Mesir [ Kel 1:22 "Lalu Firaun memberi perintah kepada seluruh rakyatnya: "Lemparkanlah segala anak laki-laki yang lahir bagi orang Ibrani ke dalam sungai Nil; tetapi segala anak perempuan biarkanlah hidup"]. Di dalam kondisi seperti itu, ada satu cara Allah yang diberikan kepada Musa untuk menyelamatkan anaknya tersebut. Apa yang kita lihat adalah bagaimana providensia Allah yang terjadi di dalam diri Musa. Providensia Allah yang pertama adalah sejak dia lahir, bagaimana dia di asuh dan diselamatkan serta dididik di Mesir sekitar 40 tahun.
Hidup Musa sebenarnya dibagi kedalam 3x 40 tahun. 40 tahun pertama adalah di Mesir, 40 tahun kedua adalah di Midian, dan 40 tahun ketiga adalah memimpin umat Allah – Israel. Jadi masa 40 tahun yang pertama itu, providensia Allah terus dinyatakan. Jadi kita melihat di dalam hal ini bagaimana Tuhan bekerja di dalam segala sesuatu yang dialami oleh Musa dan bagaimana providensia Allah nyata di dalam hidupnya. Jika kita merefleksikan di dalam hidup kita, apakah dalam satu situasi di dalam hidup kita, kita melihat Allah bekerja di dalamnya? Apakah itu di dalam kondisi yang sulit. Musa mengalami hal yang sulit di dalam hidupnya, dimana sebagai anak orang Ibrani, dia harus dibunuh. Apakah di dalam hidup yang sulit atau tantangan, kita masih melihat tangan Tuhan ada dan menyertai kita, bahwa Tuhan menyatakan pemeliharaanNya dan tuntunannya?
Setelah Musa diberikan kepada putri Firaun dan diangkat menjadi anaknya, maka Musa dididik di dalam ilmu pengetahuan dan budaya Mesir. Pada zaman itu, salah satu budaya/peradaban dan pendidikan yang besar adalah Mesir. Dan di dalam pendidikan ini, Musa diperlengkapi untuk satu panggilan Allah ke depan. Tentu saja masa ini adalah masa yang sulit bagi Musa karena dia adalah seorang Ibrani. Jika kita melihat hidup kita, apakah kita juga melihat dan menyadari bahwa apapun yang terjadi di dalam hidup kita, termasuk masa-masa yang sulit, Allah bekerja di dalamnya?
Kemudian, ketika Musa punya beban dan berbelas kasihan kepada orang Israel, dan ketika Musa melihat orang Mesir menindas orang Israel--tanpa membenarkan tindakan Musa--Musa sampai membunuh orang Mesir itu. Akhirnya Musa menjadi buronan dan melarikan diri di Midian. Di Midian Musa bertemu dengan Mertuanya dan dia menikah di sana dan akhirnya menjadi seorang gembala selama 40 tahun. Allah membentuk dia dengan caraNya sendiri sampai Musa menjadi siap mengembalakan umat Allah. Seringkali di Alkitab seorang gembala dipanggil Allah menjadi penggembala manusia. Misalnya Daud, Gideon, dll. Masa pembentukan bagi Musa selama 40 tahun kedua juga merupakan cara bagi Allah untuk memperlengkapi Musa untuk masuk di dalam mandat Allah dalam pelayanan ke depan. Di dalam satu kondisi seperti ini kita melihat bahwa Allah terlibat dan senantiasa menyertai Musa dan membentuk Musa. Ketika melihat bagaimana Tuhan membentuk Musa, kita juga bisa merefleksikan hal tersebut di dalam hidup kita, bagaimana Allah membentuk hidup kita melalui semua peristiwa dan melalui semua keadaan di dalam diri kita. Oleh sebab itu jangan terlalu cepat kecewa atau putus asa dan mengatakan menyerah. Tetapi mari kita melihat segala sesuatu dari kacamata rohani atau perspektif ilahi setiap hal yang terjadi di dalam hidup kita agar kita tetap bersyukur dan menatap penuh iman dan pengharapan kepada Allah [Rom 8:28-29, ”Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara].
Ketika sedang menggembalakan domba, Musa bertemu dengan Allah [Kel 3:2-6]. Lawatan Tuhan kepada Musa adalah sebuah titik balik akan panggilan Musa untuk kembali mencintai umat Tuhan – Israel. Tuhan membukakan bahwa erangan bangsa Israel sampai kepada Allah dan hal inilah dasar bagi Tuhan untuk memanggil Musa. Tuhan kembali membukakan beban yang pernah dimiliki Musa. Di pasal sebelumnya kita melihat Musa pernah menjadi buronan karena cintanya kepada orang Israel. Tuhan mengingatkan kembali pada Musa beban, misi, atau kasih yang pernah dia miliki untuk umat Tuhan. Apa yang dialami Musa memiliki durasi waktu yang sangat panjang. Setelah 40 tahun sangat mungkin Musa melupakan bebannya terhadap bangsa Israel. Mungkin dia akan merasakan nyaman dengan ternak yang dia miliki. Barangkali Musa juga lupa karena isteri dan anak-anaknya. Akhirnya Allah mengingatkan Musa kembali ketika Allah melawat Musa ketika menggembalakan domba. Memori-memori mengenai beban Musa terhadap bangsa Israel kembali diingatkan Tuhan kepada Musa dengan menyatakan bagaimana erangan dan teriakan bangsa Israel sampai kepada Allah dan bagaimana Musa dipanggil kembali untuk hal itu. Mari mereview hidup kita kembali. Sangat memungkinkan bahwa ada sekian tahun yang lewat dimana ada beban yang telah kita lupakan. Beban/hati/belas kasihan yang pernah kita miliki tetapi sekarang sudah pudar bahkan lupa oleh karena kita terlena dengan kenyamanan atau pergumulan hidup kita. Apakah kita pernah punya beban untuk pelayanan tertentu apakah sosial, pendidikan, atau apapun? Apakah kita telah lupa akan beban kita itu? Dalam kisah Musa, Allah kembali mengingatkan Musa akan bebannya melalui lawatannya bagi diri Musa. Dan setelah Allah membukakan beban itu kepada Musa, Tuhan memanggil dan mengutusnya untuk membebaskan umatNya. Tapi ada suatu konflik dalam pribadi Musa antara beban membebaskan umat Allah. Musa banyak membuat alasan atau dalih yang dibuat-buat karena mungkin dia tidak ingin meninggalkan comfort zone-nya. Di sini kita melihat bagaimana Musa berargumentasi dan berdialog dengan Allah melalui pergumulannya yang sebenarnya tidak masuk akal di hadapan Allah. Kita bisa melihat pada diri kita, apa kendala atau dalih kita sehingga kita tidak mau terlibat dalam misi yang Allah panggil bagi kita sehingga beban itu mulai pudar atau tidak tajam, apakah terlalu nyaman dengan diri kita, perkerjaan kita, atau panggilan itu terlalu berat? Atau mungkin beban itu tajam tapi kita berdalih dengan cara lain. Kita sudah melihat bagaimana argumentasi-argumentasi Musa dipatahkan oleh Allah. Sejak awal Musa disucikan Allah untuk mengerjakan sebuah mandat yang besar.
Ada masanya Musa mempertanyakan keabsahan panggilannya [Kel 5:22-23, ”Lalu Musa kembali menghadap TUHAN, katanya: "Tuhan, mengapakah Kauperlakukan umat ini begitu bengis? Mengapa pula aku yang Kauutus? Sebab sejak aku pergi menghadap Firaun untuk berbicara atas nama-Mu, dengan jahat diperlakukannya umat ini, dan Engkau tidak melepaskan umat-Mu sama sekali."]. Ini adalah fluktuasi kehidupan Musa dimana dia melihat umat itu malah semakin menderita ketika Musa meminta izin agar bangsa itu dibawa keluar dari Mesir dan ia sendiri ditolak. Hal ini pun mungkin sering kita tanyakan pada diri sendiri ketika melayani Tuhan. Kita melayani tapi kondisi semakin tidak baik atau malah tambah hancur, jalan untuk sebuah pelayanan misi sepertinya makin tertutup dll. Kita bergulat dengan panggilan ini juga sebagaimana dialami Musa. Kita seakan-akan ”menyalahkan” Tuhan atas pengutusanNya, seakan-akan Dia salah mengutus orang! Namun Dia tidak pernah salah, malah Tuhan kembali meneguhkan orang yang mau terus bertanya/bergumul. Setelah Musa melewati fase itu, Tuhan memberikan ”posisi yang tinggi” atau ”baik” kepada Musa [Kel 7:1-2, ”Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Lihat, Aku mengangkat engkau sebagai Allah bagi Firaun, dan Harun, abangmu, akan menjadi nabimu. Engkau harus mengatakan segala yang Kuperintahkan kepadamu, dan Harun, abangmu, harus berbicara kepada Firaun, supaya dibiarkannya orang Israel itu pergi dari negerinya".]. Dengan jelas kita melihat bahwa jika panggilan Allah jelas, IA akan menyertai, memperlengkapi, menolong dan memberikan sesuatu untuk mengerjakan mandat itu. Di sepanjang perjalanan hidup Musa, kita menyaksikan bagaimana ia mengalami sebuah fluktuasi hidup. Kadang ia menyesal, lalu Tuhan hiburkan dan berkali-kali demikian yanag terjadi. Namun kita perhatikan ada sebuah hal yang menarik bahwa Musa bergaul karib dengan Allah dalam kehidupannya. Di sisi lain, Tuhan juga memakai Musa untuk memperlengkapi umatNya dari segi kerohanian dengan memberikan Hukum Taurat kepada Musa. Dalam proses pembebasan ini, umat memberontak, bersungut-sungut, dan berkali-kali ingin kembali ke Mesir, bangsa ini marah kepada Musa sehingga Tuhan murka kepada bangsa ini karena kedegilan hatinya. Kita melihat bagaimana Musa melunakkan hati Allah, ia berdiri di antara umat dan Allah yang menunjukkan seorang pemimpin yang dekat dengan orang yang dipimpin dan dekat dengan Allah. Ia bergumul tentang umat Allah dan di sisi lain ia memohon kemurahan Allah. Musa melunakkan hati Allah dengan mengorbankan segala yang berarti dalam hidupnya. Bebannya semakin dalam, tajam sehingga ia mampu berkorban begitu besar bagi orang yang dilayaninya. Cinta Musa kepada Allah dan umat membuat Musa marah kepada Harun dan bangsa Israel karena mereka melanggar kekudusan Allah dengan menyembah berhala. Adakah cinta kita bertumbuh pada dua sisi: kepada Allah dan orang yang kita layani? Musa sangat membutuhkan pertolongan Allah sehingga Musa berkata tidak mau melangkah tanpa penyertaan Tuhan [Kel 33:15-17, ”Berkatalah Musa kepada-Nya: "Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini. Dari manakah gerangan akan diketahui, bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, yakni aku dengan umat-Mu ini? Bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami, sehingga kami, aku dengan umat-Mu ini, dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini?" Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapan-Ku dan Aku mengenal engkau."]. Musa semakin hari semakin dekat dan bergantung dengan Allah. Inilah Musa dengan Allahnya. Ia bergantung penuh dan mengandalkan Tuhan dan sampai dia berani berkata bahwa yang membedakan mereka (bangsa Israel) dengan yang lain adalah bahwa Tuhan menyertai diri mereka. Apa yang yang membedakan kita dengan orang lain? Sama-sama karyawan, guru, manager, atau pekerjaan yang lain. Kita harus berani mengatakan bahwa yang membedakan kita dengan orang lain sama dengan membedakan Musa beserta umat Allah dengan bangsa yang lain, hanya satu hal yaitu Allah menyertai kita. Apakah kita yakin bahwa Allah menyertai kita di tempat pekerjaan kita masing-masing? Dalam pasal 34:8-9 juga menyatakan bagaimana dia mengandalkan penyertaan Tuhan. Dikatakan disana, ”Segeralah Musa berlutut ke tanah, lalu sujud menyembah serta berkata: "Jika aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, ya Tuhan, berjalanlah kiranya Tuhan di tengah-tengah kami; sekalipun bangsa ini suatu bangsa yang tegar tengkuk, tetapi ampunilah kesalahan dan dosa kami; ambillah kami menjadi milik-Mu.” Mari melihat hal ini secara benar di dalam hidup kita. Apapun profesi kita, dimanapun pelayanan kita, yakini dan berani melangkah karena Tuhan yang menyertai kita. Itulah sebabnya pergumulan selalu terjadi di dalam diri kita. Apakah Tuhan menyertai pelayanan ini atau tidak.
Musa juga dekat dengan Allah. Hal ini terlihat dengan bagaimana dia ’melihat’ Allah (Kel 33:18-23). Musa sangat bergaul karib dengan Allah sampai dia bisa melihat Allah. Kembali Tuhan memberikan kesepuluh Firman Tuhan kepada Musa dan ini dipakai Allah sebagai alatnya untuk menyampaikan kebenaran-kebenarannya melalui Musa. Di dalam Bilangan 12:1-10, ketika Miryam dan Harun berencana untuk menjatuhkan dan mengata-ngatai Musa, dia dibela oleh Tuhan. Ketika itu Tuhan menampakkan dirinya dikemah pertemuan dan menyatakan pembelaannya terhadap Musa. Musa tidak meminta hal ini kepada Allah. Musa tulus kepada Allah. Tetapi Tuhanlah yang membela dia. Dan akhirnya Harun dan Miryam meminta Musa berdoa agar mereka diampuni dan mereka diampuni. Allah selalu membela hambanya. Mungkin di pekerjaan kita menjadi korban konspirasi, dan mau diintimidasi atai mau menjatuhkan kita, ingat kembali, Allah pasti membela dan berada dipihak kita, dan Allah pasti akan memberikan kemenangan bagi kita sama seperti Allah membela Musa. Mungkin di perjalanan hidup kita, Allah menjadi pembela di dalam pergumulan kita.
Dalam Ulangan 34:1-4, Musa tidak diizinkan Tuhan masuk ke tanah Kanaan. Ia dibawa Allah ke sebuah gunung dan Tuhan hanya diizinkan memandang tanah perjanjian dari puncak gunung itu. Hal ini disebabkan karena Allah murka ketika ada persoalan di Mara dan Meriba [band Bil 20:12-13, ”Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: "Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka." Itulah mata air Meriba, tempat orang Israel bertengkar dengan TUHAN dan Ia menunjukkan kekudusan-Nya di antara mereka."]. Tetapi apapun alasannya, antara Musa dengan Tuhannya, apakah Musa gagal? Tentu TIDAK. Artinya Musa memang dipanggil Allah untuk membebaskan umat Allah keluar dari tanah Mesir dan dituntaskan oleh ’anak buahnya’ yaitu Yosua. Musa berhasil memimpin umat Allah dan hanya tinggal menyebrangi sungai Yordan. Perjuangan Musa memang hanya Tuhan ijinkan sampai disitu, dan Musa adalah seorang pemimpin yang berhasil. Walaupun dia tidak sampai ketanah Kanaan, tetapi perjuangan Musa tidak sia-sia. Sama dengan perjuangan pahlawan yang tidak sampai menikmati hari kemerdekaan. Apakah perjuangan para pahlawan tersebut sia-sia? Tentu tidak. Tuhan juga memakai Musa dengan cara demikian. Pejuangan yang dilakukan oleh Musa sesuai dengan visi yang diberikan Tuhan kepada dirinya walaupun dia tidak diizinkan sampai ketanah Kanaan.
Apa yang kita perjuangkan sekarang belum tentu harus kita yang menikmati dan menyelesaikan sampai tuntas. Apa yang kita lakukan ketika memimpin kelompok merupakan secuil harapan, tetapi apakah merupakan akhir dan sia-sia? Tentu saja tidak. Karena hal ini adalah perjuangan untuk satu perubahan yang besar di depan dan Musa melakukan hal itu. Perjuangan yang tulus yang kita lakukan untuk Allah, ingat, semuanya tidak akan sia-sia dan Allah akan selalu memperghitungkannya mungkin kita tidak akan sampai akhir, tetapi benih yang kita tanam bisa dinikmati oleh banyak orang. Di sinilah Musa berada. Walau dia tidak diijinkan Allah memasuki tanah Kanaan, tetapi misi yang sesuai dengan panggilan Allah, dikerjakan Musa dengan baik. Apa yang Tuhan tanamkan atau panggil untuk kita kerjakan, mari kerjakan dengan tulus. Ada bagian kita dan ada yang menjadi bagian Allah. Do your best and God will do the rest. Tidak ada satu catatan pun di Alkitab yang mengatakan bahwa Musa mengeluh kepada Tuhan. Pergulatan musa dengan Allah mungkin juga menjadi pergulatan kita dengan Allah setiap hari soal panggilan, beban bahkan bagaiman kita berjuang semakin hari semakin dekat dengan Allah, dan bagaimana kita terus taat kepada Allah dan dipakai menjadi alatnya.
Solideo Gloria!
Seri Musa 2: The Heart Between Two Worlds
Indrawaty Sitepu, MA
Hari ini kita akan belajar mengenai Musa seri yang kedua: The Heart Between Two Worlds---bagaimana seorang Musa, sang pemimpin umat, mengabdikan hidupnya bagi Tuhan dan sesama. Ini adalah kesempatan yang berharga untuk kembali melihat tokoh ini, seorang nabi yang besar dan hebat. Kita akan melihat lebih detail secara khusus bagaimana dia menjalani pergumulan dan tantangan sebagai pemimpin umat di hadapan Tuhan dan dihadapan umat sendiri. Bagaiman dia bisa berdiri di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia.
Pada seri pertama kita melihat pemanggilan Musa. Begitu Musa bersedia memimpin bangsa Israel, kita bisa melihat apa yang terjadi kepada dirinya. Mari melihat Kel 5:1-14. Hal pertama yang dia hadapi adalah penolakan yang datang dari musuh, di mana Firaun dengan tegas mengatakan tidak mengenal Tuhan [ayat 2, ” Tetapi Firaun berkata: "Siapakah TUHAN itu yang harus kudengarkan firman-Nya untuk membiarkan orang Israel pergi? Tidak kenal aku TUHAN itu dan tidak juga aku akan membiarkan orang Israel pergi.”]. Bahkan Firaun menuduh Musa dan Harun sebagai pengacau para pekerja rodi yang malas [ayat 4, ”Tetapi raja Mesir berkata kepada mereka: "Musa dan Harun, mengapakah kamu bawa-bawa bangsa ini melalaikan pekerjaannya? Pergilah melakukan pekerjaanmu!"]. Kemudian hal ini mengakibatkan penindasan bagi bangsa Israel lebih kejam dan lebih berat lagi (7-14). Padahal Musa dipanggil ke Mesir untuk memimpin bangsa Israel keluar dari penderitaan, karena penderitaan mereka sudah dilihat Tuhan dan Tuhan akan melepaskan mereka. Tetapi kenapa justru mereka semakin menderita. Pasti menjadi sebuah pergumulan yang berat bagi Musa. Tidak hanya sampai disitu saja. Jika kita melihat ayat 15-21 kita melihat hal kedua yang terjadi pada Musa dimana ia disalahkan dan diumpat (aya 21, ”lalu mereka berkata kepada keduanya: "Kiranya TUHAN memperhatikan perbuatanmu dan menghukumkan kamu, karena kamu telah membusukkan nama kami kepada Firaun dan hamba-hambanya dan dengan demikian kamu telah memberikan pisau kepada mereka untuk membunuh kami."). Hati Musa pasti hancur mendengar semua itu. Dia ingin menyelamatkan/menolong umat itu. Tetapi yang terjadi justru umat itu semakin berat penderitaannya. Musa dipersalahkan dan dituduh oleh para mandor Israel sebagai penyebab bertambah beratnya kerja paksa mereka. Dia diumpat dan dikutuk.
Pergumulan Musa tidak hanya sampai disitu. Masih banyak rentetan-rentetan kedepan yang akan kita lihat. Di dalam Bill 11:11-15 kita melihat adanya keputusasaan dan depresi. Dalam bagian ini umat tidak memperdulikan perjuangan Musa. Mereka meminta daging kepada Musa. Hal yang sangat sepele. Mereka juga membenadingkan dengan kehidupan mereka di Mesir. Mereka juga mengomentari soal manna. Oleh sebab itu Musa menyatakan semuanya di ayat 11, ” Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: "Mengapa Kauperlakukan hamba-Mu ini dengan buruk dan mengapa aku tidak mendapat kasih karunia di mata-Mu, sehingga Engkau membebankan kepadaku tanggung jawab atas seluruh bangsa ini?” Bisa saja Musa tidak ambil pusing dengan semuanya itu. Tetapi dikarenakan karakternya, Musa tidak bisa. Ia tidak tega melihat umat itu menangis. Musa protes kepada Tuhan, dan minta lebih baik Tuhan membunuhnya. Pada bagian ini,di dalam ayat 16 dan seterusnya, kita melihat bagaimana Tuhan menyelesaikan masalah ini.
Mari kita melihat Bil 11:28-29, ” Maka menjawablah Yosua bin Nun, yang sejak mudanya menjadi abdi Musa: "Tuanku Musa, cegahlah mereka!" Tetapi Musa berkata kepadanya: "Apakah engkau begitu giat mendukung diriku? Ah, kalau seluruh umat TUHAN menjadi nabi, oleh karena TUHAN memberi Roh-Nya hinggap kepada mereka!” Bagian ini diawali dengan bagaimana Musa diperintahkan Tuhan untuk mengumpulkan 70 orang tua-tua di kemah dan Allah memberikan sebagian dari Roh yang hinggap pada mereka. Kemudian ada dua, Eldad dan Medad, orang tidak ikut kupul dikemah, tetapi Roh itu juga memenuhi mereka. Inilah yang ingin dicegah oleh Yosua. Kita melihat bagaimana Musa berhadapan dengan orang-orang yang iri hati dan merasa diri penting. Bagi seorang pemimpin ada godaan untuk iri hati dan bisa berlaku dengan memanfaatkan wewenangnya, tetapi Musa tidak melakukannya. Mari kembali melihat pergulatan hati Musa di dalam Bil 12:1-4, ” Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kush. Kata mereka: "Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?" Dan kedengaranlah hal itu kepada TUHAN. Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi. Lalu berfirmanlah TUHAN dengan tiba-tiba kepada Musa, Harun dan Miryam: "Keluarlah kamu bertiga ke Kemah Pertemuan." Maka keluarlah mereka bertiga.; 6-8, ”Lalu berfirmanlah Ia: "Dengarlah firman-Ku ini. Jika di antara kamu ada seorang nabi, maka Aku, TUHAN menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan, Aku berbicara dengan dia dalam mimpi. Bukan demikian hamba-Ku Musa, seorang yang setia dalam segenap rumah-Ku. Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan dengan teka-teki, dan ia memandang rupa TUHAN. Mengapakah kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa?"; 10-12, ”Dan ketika awan telah naik dari atas kemah, maka tampaklah Miryam kena kusta, putih seperti salju; ketika Harun berpaling kepada Miryam, maka dilihatnya, bahwa dia kena kusta! Lalu kata Harun kepada Musa: "Ah tuanku, janganlah kiranya timpakan kepada kami dosa ini, yang kami perbuat dalam kebodohan kami. Janganlah kiranya dibiarkan dia sebagai anak gugur, yang pada waktu keluar dari kandungan ibunya sudah setengah busuk dagingnya."; 13, ” Lalu berserulah Musa kepada TUHAN: "Ya Allah, sembuhkanlah kiranya dia.” Sewaktu Musa disalah mengerti, dikata-katai dan disalah pahami, apa yang dilakukannya adalah berdoa mohon ampun buat orang itu. Akhirnya Miryam dan Harun sembuh. Jika kita dikata-katai oleh orang lain, apa yang menjadi doa kita bagi orang itu? Musa adalah seorang yang lembut hatinya di atas muka bumi ini. Kelembutan hatinya tidak tergoyahkan oleh apa yang orang lakukan kepadanya. Walaupun dia disalah mengerti, dia tidak membalasnya, justru dia berdoa bagi mereka.
Dalam Bil14:4-10 kita melihat situasi ketika pengintai pulang. Dikatakan disana, ” Dan mereka berkata seorang kepada yang lain: "Baiklah kita mengangkat seorang pemimpin, lalu pulang ke Mesir." Lalu sujudlah Musa dan Harun di depan mata seluruh jemaah Israel yang berkumpul di situ. Tetapi Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune, yang termasuk orang-orang yang telah mengintai negeri itu, mengoyakkan pakaiannya, dan berkata kepada segenap umat Israel: "Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya. Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka." Lalu segenap umat itu mengancam hendak melontari kedua orang itu dengan batu. Tetapi tampaklah kemuliaan TUHAN di Kemah Pertemuan kepada semua orang Israel.. Yosua dan Kaleb menjadi penentang yang lain yang tidak yakin bisa merebut Kanaan. Lalu segenap umat berencana melempar keduanya dengan batu, lalu tampaklah kemuliaan Tuhan. Apa yang disusun oleh Musa untuk mengirim pengintai ke sana, dan untuk meudian menyusun strategi untuk merebut Kanaan, ditentang habis oleh umat, bahkan umat hendak melempari. Dengan kata lain, umat pada waktu ini bukan hanya bersungut-sungut tetapi juga menolak kepemimpinan Musa. Tidak mudah bagi seorang pemimpin yang telah mempertaruhkan hidupnya dan siap mati bagi mereka ditolak oleh umat. Untuk itu pun Musa tidak Mundur.
Mari melihat Bil 14:11-14, ” TUHAN berfirman kepada Musa: "Berapa lama lagi bangsa ini menista Aku, dan berapa lama lagi mereka tidak mau percaya kepada-Ku, sekalipun sudah ada segala tanda mujizat yang Kulakukan di tengah-tengah mereka! Aku akan memukul mereka dengan penyakit sampar dan melenyapkan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang lebih besar dan lebih kuat dari pada mereka." Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: "Jikalau hal itu kedengaran kepada orang Mesir, padahal Engkau telah menuntun bangsa ini dengan kekuatan-Mu dari tengah-tengah mereka, mereka akan berceritera kepada penduduk negeri ini, yang telah mendengar bahwa Engkau, TUHAN, ada di tengah-tengah bangsa ini, dan bahwa Engkau, TUHAN, menampakkan diri-Mu kepada mereka dengan berhadapan muka, waktu awan-Mu berdiri di atas mereka dan waktu Engkau berjalan mendahului mereka di dalam tiang awan pada waktu siang dan di dalam tiang api pada waktu malam. Seandainya kalimat ini datang kepada kita, apa respon kita. Musa berada di dalam posisi yang sulit. Umat mengabaikan dan menolak dirinya. Justru pada kondisi seperti itu Tuhan memberikan tawaran yang ’menarik’ kepada Musa. Tetapi Musa menolaknya dengan mengingatkan Tuhan akan janjinya kepada bangsa Israel. Ayat 15 dan 16 mengambarkan dengan jelas alasan Musa. Dikatakan disana, ” Jadi jikalau Engkau membunuh bangsa ini sampai habis, maka bangsa-bangsa yang mendengar kabar tentang Engkau itu nanti berkata: Oleh karena TUHAN tidak berkuasa membawa bangsa ini masuk ke negeri yang dijanjikan-Nya dengan bersumpah kepada mereka, maka Ia menyembelih mereka di padang gurun.” Ayat 19 juga dikatakan,” Ampunilah kiranya kesalahan bangsa ini sesuai dengan kebesaran kasih setia-Mu, seperti Engkau telah mengampuni bangsa ini mulai dari Mesir sampai ke mari."” Musa berdiri memohon ampun untuk ketegaran tengkuk bangsa Israel, yang menolak dirinya, agar mereka tidak dimusnahkan, bahkan ’mengingatkan’ Tuhan akan kasih karunia maupun karakter Tuhan. Heart between two worlds---hati yang sedemikian bergulat antara hati Tuhan dan permintaan umat. Akhirnya permohonan Musa didengarkan oleh Tuhan (ayat 20, ” Berfirmanlah TUHAN: "Aku mengampuninya sesuai dengan permintaanmu.) dan perjalanan pun dilanjutkan.
Perjalanan dilanjutkan bukan berarti segala sesuatunya berjalan dengan baik. Umat yang dibela mati-matian oleh Musa dihadapan Tuhan langsung berterimakasih kepada Musa. Bagian berikutnya adalah sesuatu yang menggenaskan. Mari melihat Bil 20:1-12. Peristiwa demi peristiwa, penolakan demi penolakan, sakit hati demi sakit hati, tintutan demi tuntutan, telah Musa lalui. Tetapi pada bagian ini, Musa menuai buah pahit dari kemarahannya. Ada lima tingkat kemarahan: 1) Kejengkelan yang ringan, 2) Kedongkolan, 3) Kegusaran, 4) Kegeraman, dan 5) Kemurkaan yang luar biasa. Jadi sangat mungkin, Musa berada pada tingkat kemurkaan yang luar biasa. Pada waktu ini mereka mengerumuni Musa minta air dan bertengkarlah bangsa Israel dengan Musa. Penolakan yang berulang terus pada Musa membuat ia kehilangan kesabaran dan menjadi murka bagi bangsa Israel. Dan hasilnya sangat menggenaskan. Ayat 12 mengatakan, ” Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: "Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka." Hati-hati dengan kemarahan. Musa yang adalah orang yang sangat lembut hantinya akhirnya marah dan akibatnya fatal.
Ada tiga poin yang bisa kita pelajari dari buah pahit kemarahan Musa.
1. Tindakan ketidaktaatan Musa berasal dari ketidak percayaan (12).
Tuhan tidak menyuruh Musa memarahi umat dan memukul batu, tetapi Musa marah dan memukul batu itu untuk mengeluarkan air (8, ” "Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya." ). Tetapi Musa melakukan berbeda (10-11, ” Ketika Musa dan Harun telah mengumpulkan jemaah itu di depan bukit batu itu, berkatalah ia kepada mereka: "Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?" Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum.) Sering sekali jika kita tidak melakukan apa yang Tuhan katakan karena kita kurang percaya kepadaNya. Kita melakukan apa yang kita mau dan rancang karena kita kurang percaya kepada Tuhan.
2. Musa tidak meghormati kekudusan Allah.
Dengan melanggar apa yang Alah perintahkan, Musa tidak menghormati kekudusan Tuhan.
3. Walau diampuni konsekuensinya pasti ada.
Konsekuensinya adalah dia tidak bisa masuk ke tanah Kanaan. Sangat tragis. Sebuah perjalanan panjang, perjuangan yang sedemikian berat harus diakhiri dengan konsekuensi seperti ini. Di dalam Keluaran Musa meminta untuk pengampunan ini, tetapi Tuhan tidak mengijinkannya memasuki tanah Kanaan.
Apa refleksi semua ini untuk hidup kita.
• Pergumulan dan tantangan yang mana yang saudara hadapi dalam menjalani panggilan Tuhan selama ini? Apakah pergumulan disalahmengerti, sakit hati, putus asa, tertolak, depressi,.....?
• Bagaimana selama ini saudara menghadapinya?
• Apakah ada kemarahan yang saudara simpan?
Ingat Bil 20:12, sebagai sebuah peringatan bagi kita ! Allah kita adalah Allah yang punya standart akankekudusan. Sangat mungkin dunia ini membuat kita menurunkan standar kekudusan Allah, teapi Allah tidak pernah menurunkan standatnya. Standart yang ada pada Musa, itu juga yang menjadi standart bagi kita. Mungkin kita jauh dari Musa melihat kasih kepada jemaat, tetapi dari segi kemarahan dan tidak menghormati kekudusan Allah, sangat mungkin kita sama dengan Musa.
Solideo Gloria!
Hari ini kita akan belajar mengenai Musa seri yang kedua: The Heart Between Two Worlds---bagaimana seorang Musa, sang pemimpin umat, mengabdikan hidupnya bagi Tuhan dan sesama. Ini adalah kesempatan yang berharga untuk kembali melihat tokoh ini, seorang nabi yang besar dan hebat. Kita akan melihat lebih detail secara khusus bagaimana dia menjalani pergumulan dan tantangan sebagai pemimpin umat di hadapan Tuhan dan dihadapan umat sendiri. Bagaiman dia bisa berdiri di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia.
Pada seri pertama kita melihat pemanggilan Musa. Begitu Musa bersedia memimpin bangsa Israel, kita bisa melihat apa yang terjadi kepada dirinya. Mari melihat Kel 5:1-14. Hal pertama yang dia hadapi adalah penolakan yang datang dari musuh, di mana Firaun dengan tegas mengatakan tidak mengenal Tuhan [ayat 2, ” Tetapi Firaun berkata: "Siapakah TUHAN itu yang harus kudengarkan firman-Nya untuk membiarkan orang Israel pergi? Tidak kenal aku TUHAN itu dan tidak juga aku akan membiarkan orang Israel pergi.”]. Bahkan Firaun menuduh Musa dan Harun sebagai pengacau para pekerja rodi yang malas [ayat 4, ”Tetapi raja Mesir berkata kepada mereka: "Musa dan Harun, mengapakah kamu bawa-bawa bangsa ini melalaikan pekerjaannya? Pergilah melakukan pekerjaanmu!"]. Kemudian hal ini mengakibatkan penindasan bagi bangsa Israel lebih kejam dan lebih berat lagi (7-14). Padahal Musa dipanggil ke Mesir untuk memimpin bangsa Israel keluar dari penderitaan, karena penderitaan mereka sudah dilihat Tuhan dan Tuhan akan melepaskan mereka. Tetapi kenapa justru mereka semakin menderita. Pasti menjadi sebuah pergumulan yang berat bagi Musa. Tidak hanya sampai disitu saja. Jika kita melihat ayat 15-21 kita melihat hal kedua yang terjadi pada Musa dimana ia disalahkan dan diumpat (aya 21, ”lalu mereka berkata kepada keduanya: "Kiranya TUHAN memperhatikan perbuatanmu dan menghukumkan kamu, karena kamu telah membusukkan nama kami kepada Firaun dan hamba-hambanya dan dengan demikian kamu telah memberikan pisau kepada mereka untuk membunuh kami."). Hati Musa pasti hancur mendengar semua itu. Dia ingin menyelamatkan/menolong umat itu. Tetapi yang terjadi justru umat itu semakin berat penderitaannya. Musa dipersalahkan dan dituduh oleh para mandor Israel sebagai penyebab bertambah beratnya kerja paksa mereka. Dia diumpat dan dikutuk.
Pergumulan Musa tidak hanya sampai disitu. Masih banyak rentetan-rentetan kedepan yang akan kita lihat. Di dalam Bill 11:11-15 kita melihat adanya keputusasaan dan depresi. Dalam bagian ini umat tidak memperdulikan perjuangan Musa. Mereka meminta daging kepada Musa. Hal yang sangat sepele. Mereka juga membenadingkan dengan kehidupan mereka di Mesir. Mereka juga mengomentari soal manna. Oleh sebab itu Musa menyatakan semuanya di ayat 11, ” Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: "Mengapa Kauperlakukan hamba-Mu ini dengan buruk dan mengapa aku tidak mendapat kasih karunia di mata-Mu, sehingga Engkau membebankan kepadaku tanggung jawab atas seluruh bangsa ini?” Bisa saja Musa tidak ambil pusing dengan semuanya itu. Tetapi dikarenakan karakternya, Musa tidak bisa. Ia tidak tega melihat umat itu menangis. Musa protes kepada Tuhan, dan minta lebih baik Tuhan membunuhnya. Pada bagian ini,di dalam ayat 16 dan seterusnya, kita melihat bagaimana Tuhan menyelesaikan masalah ini.
Mari kita melihat Bil 11:28-29, ” Maka menjawablah Yosua bin Nun, yang sejak mudanya menjadi abdi Musa: "Tuanku Musa, cegahlah mereka!" Tetapi Musa berkata kepadanya: "Apakah engkau begitu giat mendukung diriku? Ah, kalau seluruh umat TUHAN menjadi nabi, oleh karena TUHAN memberi Roh-Nya hinggap kepada mereka!” Bagian ini diawali dengan bagaimana Musa diperintahkan Tuhan untuk mengumpulkan 70 orang tua-tua di kemah dan Allah memberikan sebagian dari Roh yang hinggap pada mereka. Kemudian ada dua, Eldad dan Medad, orang tidak ikut kupul dikemah, tetapi Roh itu juga memenuhi mereka. Inilah yang ingin dicegah oleh Yosua. Kita melihat bagaimana Musa berhadapan dengan orang-orang yang iri hati dan merasa diri penting. Bagi seorang pemimpin ada godaan untuk iri hati dan bisa berlaku dengan memanfaatkan wewenangnya, tetapi Musa tidak melakukannya. Mari kembali melihat pergulatan hati Musa di dalam Bil 12:1-4, ” Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kush. Kata mereka: "Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?" Dan kedengaranlah hal itu kepada TUHAN. Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi. Lalu berfirmanlah TUHAN dengan tiba-tiba kepada Musa, Harun dan Miryam: "Keluarlah kamu bertiga ke Kemah Pertemuan." Maka keluarlah mereka bertiga.; 6-8, ”Lalu berfirmanlah Ia: "Dengarlah firman-Ku ini. Jika di antara kamu ada seorang nabi, maka Aku, TUHAN menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan, Aku berbicara dengan dia dalam mimpi. Bukan demikian hamba-Ku Musa, seorang yang setia dalam segenap rumah-Ku. Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan dengan teka-teki, dan ia memandang rupa TUHAN. Mengapakah kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa?"; 10-12, ”Dan ketika awan telah naik dari atas kemah, maka tampaklah Miryam kena kusta, putih seperti salju; ketika Harun berpaling kepada Miryam, maka dilihatnya, bahwa dia kena kusta! Lalu kata Harun kepada Musa: "Ah tuanku, janganlah kiranya timpakan kepada kami dosa ini, yang kami perbuat dalam kebodohan kami. Janganlah kiranya dibiarkan dia sebagai anak gugur, yang pada waktu keluar dari kandungan ibunya sudah setengah busuk dagingnya."; 13, ” Lalu berserulah Musa kepada TUHAN: "Ya Allah, sembuhkanlah kiranya dia.” Sewaktu Musa disalah mengerti, dikata-katai dan disalah pahami, apa yang dilakukannya adalah berdoa mohon ampun buat orang itu. Akhirnya Miryam dan Harun sembuh. Jika kita dikata-katai oleh orang lain, apa yang menjadi doa kita bagi orang itu? Musa adalah seorang yang lembut hatinya di atas muka bumi ini. Kelembutan hatinya tidak tergoyahkan oleh apa yang orang lakukan kepadanya. Walaupun dia disalah mengerti, dia tidak membalasnya, justru dia berdoa bagi mereka.
Dalam Bil14:4-10 kita melihat situasi ketika pengintai pulang. Dikatakan disana, ” Dan mereka berkata seorang kepada yang lain: "Baiklah kita mengangkat seorang pemimpin, lalu pulang ke Mesir." Lalu sujudlah Musa dan Harun di depan mata seluruh jemaah Israel yang berkumpul di situ. Tetapi Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune, yang termasuk orang-orang yang telah mengintai negeri itu, mengoyakkan pakaiannya, dan berkata kepada segenap umat Israel: "Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya. Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka." Lalu segenap umat itu mengancam hendak melontari kedua orang itu dengan batu. Tetapi tampaklah kemuliaan TUHAN di Kemah Pertemuan kepada semua orang Israel.. Yosua dan Kaleb menjadi penentang yang lain yang tidak yakin bisa merebut Kanaan. Lalu segenap umat berencana melempar keduanya dengan batu, lalu tampaklah kemuliaan Tuhan. Apa yang disusun oleh Musa untuk mengirim pengintai ke sana, dan untuk meudian menyusun strategi untuk merebut Kanaan, ditentang habis oleh umat, bahkan umat hendak melempari. Dengan kata lain, umat pada waktu ini bukan hanya bersungut-sungut tetapi juga menolak kepemimpinan Musa. Tidak mudah bagi seorang pemimpin yang telah mempertaruhkan hidupnya dan siap mati bagi mereka ditolak oleh umat. Untuk itu pun Musa tidak Mundur.
Mari melihat Bil 14:11-14, ” TUHAN berfirman kepada Musa: "Berapa lama lagi bangsa ini menista Aku, dan berapa lama lagi mereka tidak mau percaya kepada-Ku, sekalipun sudah ada segala tanda mujizat yang Kulakukan di tengah-tengah mereka! Aku akan memukul mereka dengan penyakit sampar dan melenyapkan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang lebih besar dan lebih kuat dari pada mereka." Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: "Jikalau hal itu kedengaran kepada orang Mesir, padahal Engkau telah menuntun bangsa ini dengan kekuatan-Mu dari tengah-tengah mereka, mereka akan berceritera kepada penduduk negeri ini, yang telah mendengar bahwa Engkau, TUHAN, ada di tengah-tengah bangsa ini, dan bahwa Engkau, TUHAN, menampakkan diri-Mu kepada mereka dengan berhadapan muka, waktu awan-Mu berdiri di atas mereka dan waktu Engkau berjalan mendahului mereka di dalam tiang awan pada waktu siang dan di dalam tiang api pada waktu malam. Seandainya kalimat ini datang kepada kita, apa respon kita. Musa berada di dalam posisi yang sulit. Umat mengabaikan dan menolak dirinya. Justru pada kondisi seperti itu Tuhan memberikan tawaran yang ’menarik’ kepada Musa. Tetapi Musa menolaknya dengan mengingatkan Tuhan akan janjinya kepada bangsa Israel. Ayat 15 dan 16 mengambarkan dengan jelas alasan Musa. Dikatakan disana, ” Jadi jikalau Engkau membunuh bangsa ini sampai habis, maka bangsa-bangsa yang mendengar kabar tentang Engkau itu nanti berkata: Oleh karena TUHAN tidak berkuasa membawa bangsa ini masuk ke negeri yang dijanjikan-Nya dengan bersumpah kepada mereka, maka Ia menyembelih mereka di padang gurun.” Ayat 19 juga dikatakan,” Ampunilah kiranya kesalahan bangsa ini sesuai dengan kebesaran kasih setia-Mu, seperti Engkau telah mengampuni bangsa ini mulai dari Mesir sampai ke mari."” Musa berdiri memohon ampun untuk ketegaran tengkuk bangsa Israel, yang menolak dirinya, agar mereka tidak dimusnahkan, bahkan ’mengingatkan’ Tuhan akan kasih karunia maupun karakter Tuhan. Heart between two worlds---hati yang sedemikian bergulat antara hati Tuhan dan permintaan umat. Akhirnya permohonan Musa didengarkan oleh Tuhan (ayat 20, ” Berfirmanlah TUHAN: "Aku mengampuninya sesuai dengan permintaanmu.) dan perjalanan pun dilanjutkan.
Perjalanan dilanjutkan bukan berarti segala sesuatunya berjalan dengan baik. Umat yang dibela mati-matian oleh Musa dihadapan Tuhan langsung berterimakasih kepada Musa. Bagian berikutnya adalah sesuatu yang menggenaskan. Mari melihat Bil 20:1-12. Peristiwa demi peristiwa, penolakan demi penolakan, sakit hati demi sakit hati, tintutan demi tuntutan, telah Musa lalui. Tetapi pada bagian ini, Musa menuai buah pahit dari kemarahannya. Ada lima tingkat kemarahan: 1) Kejengkelan yang ringan, 2) Kedongkolan, 3) Kegusaran, 4) Kegeraman, dan 5) Kemurkaan yang luar biasa. Jadi sangat mungkin, Musa berada pada tingkat kemurkaan yang luar biasa. Pada waktu ini mereka mengerumuni Musa minta air dan bertengkarlah bangsa Israel dengan Musa. Penolakan yang berulang terus pada Musa membuat ia kehilangan kesabaran dan menjadi murka bagi bangsa Israel. Dan hasilnya sangat menggenaskan. Ayat 12 mengatakan, ” Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: "Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka." Hati-hati dengan kemarahan. Musa yang adalah orang yang sangat lembut hantinya akhirnya marah dan akibatnya fatal.
Ada tiga poin yang bisa kita pelajari dari buah pahit kemarahan Musa.
1. Tindakan ketidaktaatan Musa berasal dari ketidak percayaan (12).
Tuhan tidak menyuruh Musa memarahi umat dan memukul batu, tetapi Musa marah dan memukul batu itu untuk mengeluarkan air (8, ” "Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya." ). Tetapi Musa melakukan berbeda (10-11, ” Ketika Musa dan Harun telah mengumpulkan jemaah itu di depan bukit batu itu, berkatalah ia kepada mereka: "Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?" Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum.) Sering sekali jika kita tidak melakukan apa yang Tuhan katakan karena kita kurang percaya kepadaNya. Kita melakukan apa yang kita mau dan rancang karena kita kurang percaya kepada Tuhan.
2. Musa tidak meghormati kekudusan Allah.
Dengan melanggar apa yang Alah perintahkan, Musa tidak menghormati kekudusan Tuhan.
3. Walau diampuni konsekuensinya pasti ada.
Konsekuensinya adalah dia tidak bisa masuk ke tanah Kanaan. Sangat tragis. Sebuah perjalanan panjang, perjuangan yang sedemikian berat harus diakhiri dengan konsekuensi seperti ini. Di dalam Keluaran Musa meminta untuk pengampunan ini, tetapi Tuhan tidak mengijinkannya memasuki tanah Kanaan.
Apa refleksi semua ini untuk hidup kita.
• Pergumulan dan tantangan yang mana yang saudara hadapi dalam menjalani panggilan Tuhan selama ini? Apakah pergumulan disalahmengerti, sakit hati, putus asa, tertolak, depressi,.....?
• Bagaimana selama ini saudara menghadapinya?
• Apakah ada kemarahan yang saudara simpan?
Ingat Bil 20:12, sebagai sebuah peringatan bagi kita ! Allah kita adalah Allah yang punya standart akankekudusan. Sangat mungkin dunia ini membuat kita menurunkan standar kekudusan Allah, teapi Allah tidak pernah menurunkan standatnya. Standart yang ada pada Musa, itu juga yang menjadi standart bagi kita. Mungkin kita jauh dari Musa melihat kasih kepada jemaat, tetapi dari segi kemarahan dan tidak menghormati kekudusan Allah, sangat mungkin kita sama dengan Musa.
Solideo Gloria!
Subscribe to:
Posts (Atom)