Tuesday, November 8, 2011

Knowing God’s Will 02

[Kotbah ini dibawakan oleh Denni B. Saragih pada MBA Jumat 24 Agustus 2007)

Sore hari ini kita akan belajar mengenai Knowing God’s Will bagian yang ketiga. Tentu saja bagian ini tidak akan melengkapi semua tentang kehendak Allah, dalam pengertian, masih banyak aspek-aspek yang bisa kita bahas ketika kita berbicara mengenai kehendak Allah.

Sekarang kita akan membahas bagian yang spesifik mengenai kehendak Allah dan instuisi manusia. Apa yang dimaksudkan disini adalah soal bagaimana kita sebagai anak-anak Tuhan seringkali menyamakan kehendak Tuhan dengan merasa sejahtera. Jadi, ketika kita mendoakan seseorang (misalnya dalam teman hidup), kita mencoba memahami kehendak Allah dengan merasakan apakah kita damai sejahtera dengan mendoakan dia atau tidak. Bila kita merasa damai sejahtera, berarti dia memang datang dari Tuhan, atau sebaliknya, bila kita tidak merasa damai sejahtera, berarti bukan dia. Hal ini yang biasa kita alami dan lakukan. Saya ingin mengajak kita untuk memikirkan hal ini lebih serius. Mungkin dalam apa yang kita yakini ini ada kebenarannya. Tetapi kita harus mencoba merefleksikan apakah memang secara otomatis bila kita merasa damai sejahtera, itu adalah tanda kehendak Tuhan atau sebaliknya. Bisa saja terjadi situasi dimana kita tidak merasa damai sejahtera tetapi hal itu adalah kehendak Tuhan. Ada seorang alumni yang mengatakan ketika dia berdoa dengan seorang wanita, dia sejahtera. Dia yakin bahwa wanita itu adalah teman hidupnya. Tetapi si wanita menolak karena dia tidak merasa damai sejahtera. Contoh lain, ada dua orang alumni Fakultas Sastra. Mereka berdua merasa damai sejahtera. Tetapi yang satu sejahtera jawabannya tidak dan yang lain sejahtera jawabannya iya. Sejahtera mana yang benar dalam kondisi seperti ini? Sampai-sampai yang sejahtera akan jawaban iya mengatakan kepada yang sejahtera jawabannya tidak bahwa dia tidak taat kepada Tuhan. Apakah sejahtera mutlak menjadi jawaban Tuhan? Jadi bisa saja terjadi dimana kita tidak sejahtera dengan satu keputusan tetapi keputusan itu benar. Yesus sendiri pun mengalami hal yang demikian. Apakah Yesus merasa damai sejahtera ketika berada di Getsemani untuk memikul salib? Tidak! Yesus sangat bergumul dan keringatan. Tetapi Ia tahu kehendak Bapa memahami bahwa damai sehahtera tidak identik dengan kehendak Tuhan. Bila kita tidak sejahtera, bisa saja itu cara Tuhan untuk menegur karena kita berada di jalan yang salah.

Bagaimana kita memandang doktrin sejahtera yang telah kita miliki sejak dulu? Sering sekali ukuran kita dalam memutuskan sesuatu adalah damai sejahtera. Bila tidak sejahtera bekerja di sebuah kantor lalu kita keluar, dan kita yakin bahwa hal itu adalah kehendak Allah. Saya tidak menyatakan bahwa hal ini adalah salah, tetapi kita perlu memikirkan dengan serius akan konsep ”damai sejahtera” yang selalu kita pakai dengan bebas setiap hari termasuk menggumulkan hal-hal penting seperti pekerjaan, pelayanan, dan hal-hal lainnya. Sekarang saya ingin mengajak kita memikirkannya dengan serius.

Sejahtera itu adalah kesan intuitif terhadap apa yang merupakan kehendak Allah. Sejahtera adalah perasaan batin, emosi, hati nurani yang ada di dalam diri kita, atau intuisi kita terhadap apa yang kita pikir adalah kehendak Tuhan. Jadi sejahtera dengan kehendak Tuhan bisa saja bercampur dan beririsan. Tetapi pertanyaannya adalah apakah sejahtera seluruhnya adalah kehendak Tuhan. Kita tahu sejahtera berbeda sekali dengan pernyataan Allah yang ada di Alkitab dimana ada suara atau tanda yang terlihat akan kehendak Allah. Paulus mengalami hal ini dimana ia mengalami penglihatan Makedonia. Ada juga orang yang mendengar suara Tuhan, misalnya Samuel. Sering sekali sejahtera yang kita miliki tidak memiliki alasan rasional dimana tidak ada kehendak Allah yang dicapai dengan alasan-alasan logis. Tidak ada rasionalisasi yang pasti dibalik mengapa kita sejahtera. Jadi kebanyakan yang terjadi adalah semacam intuisi kita. Sewaktu kita mendoakan seseorang, kita mengingat wajahnya, dan entah bagaimana kita merasa sejahtera (tanpa mencari lebih jauh mengapa kita sejahtera). Kita seringkali mengatakan sejahtera adalah kehendak Tuhan karena sejahtera kita samakan dengan pimpinan Roh. Perasaan intuitif ini kita rasakan karena ada satu Roh yang memimpin kita, menyatakan kehendak Tuhan kepada kita. Sering sekali orang mengatakan bahwa Roh dengan jelas memimpin dia, atau Tuhan berbicara kepadanya, atau suara kecil yng berbisik di hati. Atau tuntunan dari dalam. Saya tidak ingin mengatakan bahwa Roh tidak bekerja dengan cara-cara yang seperti ini, tetapi kita akan lihat dimana batasannya. Apa yang disebut sebagai pimpinan Roh adalah suatu pengalaman inspirasional untuk melakukan suatu keputusan-keputusan tertentu. Hal inilah yang terjadi dan bisa berasal dari Tuhan tetapi juga bisa berasal dari pikran, keinginan, atau inner motivation lainnya yang kita miliki. Paling bahaya bila kita menyamakan hal ini dengan pimpinan Tuhan

Penting sekali untuk kritis dan berpikir keras sebelum kita mengidentikkan segala sesuatu dengan pimpinan Roh. Apalagi mengatas namakan Tuhan untuk mengatakan sesuatu yang sebenarnya bukan keinginan Tuhan, tetapi keinginan kita secara pribadi. Sangat gampang untuk mengubah perasaan cinta menjadi ’kehendak Allah’. Secara umum ada pandangan yang mau kita telaah lebih jauh adalah satu perasaan intuitif dan pandangan umum, yaitu :

  • Pimpinan Tuhan adalah perasaan-perasaan positif untuk mengikuti arah tertentu.Jadi, bila kita merasa nyaman dan tenang, berarti Tuhan memimpin kita untuk melakukan satu hal.
  • Pimpinan Tuhan adalah perasaan-perasaan negatif yang kuat untuk tidak melakukan suatu tindakan. Bila dia merasa tidak sejahtera dan tidak nyaman, berarti Tuhan melarang dia melakukan hal-hal tertentu.
Saya hanya mencoba untuk menyatakan ulang apa yang kita yakini. Sekarang mari kita mengkritisi hal ini.Pertama, intuisi dan perasaan sejahtera bisa menjadi satu hal yang penting dalam menemukan kehendakNya. Jadi perasaan kita bisa menjadi alat dimana Allah menyatakan pimpinannya kepada kita. Kedua, intuisi bukanlah suara langsung dari Roh dan tidak bisa kita identikkan dengan kehendak Allah karena hal itu adalah instuisi dan harus diuji kembali. Nanti kita akan melihat bagaimana cara mengujinya.

Sebenarnya penekanan dalam intuisi ini bukanlah sesuatu yang Alkitabiah, tetapi historikal. Konsep ini berasal dari ajaran George Fox dan kelompok the Quakers. Kelompok ini adalah kelompok yang mengembangkan prinsip guncangan sewaktu berdoa. Ketika mereka berdoa, mereka bisa merasakan adanya Tuhan atau kehendakNya ketika mereka berguncang (itulah sebabnya dikatakan the Quakers). Hal inilah mungkin yang mengakar dan menyebar kepada banyak orang. Sehingga ada buku tentang doa yang mengatakan setelah kita berdoa, maka kita harus berdiam diri agak lama untuk mendengar Tuhan mau bilang apa. Kembali saya tidak mengatakan bahwa hal ini salah atau benar. Ini adalah satu pengalaman rohani. Ingat, dalam banyak hal diajarkan bahwa pengalaman tidak bisa menjadi pengajaran. Pengalaman satu orang bisa unik bagi orang itu sendiri dan tidak harus menjadi pengalaman orang lain. Pengalaman tidak harus seragam dimana semua orang mengalami hal yang sama untuk menemukan kehendak Tuhan.

Tuhan menyatakan kehendakNya dengan cara yang berbeda-beda. Satu pengalaman tidak menjadi hukum bagi yang pengalaman-pengalaman yang lain. Pengajaran bisa menjadi pengalaman, tetapi pengalaman tidak bisa dijadikan pengajaran. Intuisi punya tempat, tetapi jangan menjadi ekstrim sebagai bukti kehendak Allah. Sepertinya tidak ada kepastian bukan? Tetapi menurut saya hal ini sangat tepat. Saya tidak ingin, kita sebagai anak-anak Tuhan, sewaktu mencari kehendak Tuhan membuat semuanya sama rata, menggampangkan persoalan sehingga kita menjadi orang-orang yang malas.

Malas untuk berpikir, berdiskusi,mencari tahu sesuatu, belajar, dan terus menggunakan intuisi kita untuk mencari kehendak Allah. Kita malas memikirkan kenapa hal ini pimpinan Tuhan atau bukan.

Darimanakah asalnya ini semua? Ada tiga ayat Alkitab yang problematik yang sering dipakai sebagai dasar bahwa damai sejahtera adalah tanda jawaban Tuhan. Kita akan mengkritisi ketiga ayat ini bahwa hal itu tidak benar.
  1. Kol 3:15, ”Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah. Disini dikatakan “Hendaklah damai sejahtera Kristus…” . Lalu entah bagaimana, seorang pengkhotbah mengatakan bahwa dasar dari sesuatu kehendak Allah adalah apabila damai sejahtera Allah memerintah di dalam hati kita. Bila kita melihat konteks ayat ini, ’damai sejahtera’ disini bukan berbicara tentang perasaan tenang atau nyaman, tetapi berbicara mengenai anak-anak Tuhan yang harus berdamai satu dengan yang lain. Oleh sebab itulah dikatakan damai sejahtera di hati kita untuk bersatu sebagai orang Kristen sebagai tubuh Kristus, bukan berbicara damai sejahtera untuk mencari kehendak Tuhan.
  2. 1 Yohanes 4:1, "Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia." Ayat ini mengenai hal untuk menguji Roh. Orang mengatakan salah satu cara untuk mencari kehendak Allah adalah dengan menguji roh-roh yang datang. Bagaimana cara menguji? Ada dua hal yang pernah saya dengar. Pertama, menguji roh dengan cara berdoa. Kedua, menguji dengan menggunakan hikmat rohani. Kita berdiam diri, dan bila kita merasa damai sejahtera, berarti berasal dari Tuhan, atau sebaliknya. Bila kita melihat konteksnya, menguji roh disini memiliki pengertian apakah ajarannya ajaran yang benar atau salah. Inilah menguji roh (perhatikan ayat 2). Jadi menguji roh tidak berhubungan dengan pengalaman mistis.
  3. Roma 14:22-23, "Berpeganglah pada keyakinan yang engkau miliki itu, bagi dirimu sendiri di hadapan Allah. Berbahagialah dia, yang tidak menghukum dirinya sendiri dalam apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan. Tetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa." Sering sekali orang mengatakan bila anda ragu-ragu dan tidak yakin, jangan lakukan. Ada dua hal yang harus kita perhatikan di dalam dunia ini. Ada ragu-ragu seperti yang ada dalam bagian ini, yaitu ragu-ragu soal keputusan moral (moral choice). Disini konteksnya adalah soal makanan, anggur (zaman sekarang konteksnya bisa berupa nonton, main game, ke night club, baca komik). Ini adalah moral choices, dimana ada grey area. Bila kita ragu-ragu untuk melakukannya, lebih baik jangan dilakukan. Hal ini berbeda dengan hal yang kedua, yaitu personal decision. Misalnya ada orang yang akan menikah merasa ragu-ragu dan akhirnya menunda pernikahannya. Hal ini tentu saja menyulitkan. Terkadang ada dalam satu hal kita sedikit banyaknya memiliki keraguan. Bila berdasarkan keyakinan ini kita tidak berani melangkah, karena adanya keraguan dalam hatinya dan juga berdasarkan Rom 14:22-23 ini, berarti kita membuat ayat ini dalam konteks yang berbeda. Inilah dua hal yang harus kita perhatikan bahwa ada keraguan soal moral choice dimana jika kita ragu sebaiknya jangan dilakukan. Dan yang kedua adalah soal personal decision, dimana dalam banyak hal kita sering bergumul.

Beberapa pandangan Alkitab mengenai damai sejahtera.
  • Kita harus mengakui dengan jujur bahwa tidak ada satu nats pun di dalam PL dan PB yang mengajarkan tentang mencari kehendak Allah melalui instuisi atau perasaan semata. Ini adalah tradisi orang-orang injili yang berasal dari the Quakers. Selalu ada pikiran-pikiran atau konsep-konsep atau suara Ilahi yang dinyatakan.
  • Pimpinan dalam PB sering menunjuk pada pengalaman supranatural dan hasil nubuatan seorang nabi. Contoh : Kis 8:26, 39; 10:19-20; 11:28; 13:2; 15:28; 16:6-7; 20:22-23; 21:4, 11-14

Dalam hal ini, semua pimpinan Roh Kudus menuju kepada adanya seorang nabi yang berbicara, adanya penglihatan, pengalaman supranatural. Inilah yang dipimpin oleh Roh. Tidak ada satupun yang berbicara mengenai damai sejahtera. Semuanya adalah kepastian melalui pernyataan Ilahi.
Lalu bagaimana peran intuisi kita dalam mencari kehendak Tuhan? Apa yang harus kita lakukan ketika kita mengalami damai sejahtera? Pertama sekali kita harus memahami bahwa kita adalah manusia, dan damai sejahtera adalah pengalaman kejiwaan/psikologis. Dalam hal ini terjadi seperti berikut. Bila kita bertemu sesuatu, maka dari pengalaman sadar (consious) kita, katakan saja kita sedang menggumulkan seorang wanita, katakan saja si A, si B, atau si C, kita akan memiliki banyak sekali pertimbangan-pertimbangan. Tetapi perimbangan dan pemikiran-pemikiran kita tidak menghasilkan keputusan yang mantap apakah si A, B, atau C. Dalam kondisi seperti ini, apa yang terjadi? Semua pikiran-pikiran saudara masuk dalam unconsious, tidak hilang. Sewaktu kita kemudian kelak tidur atau bekerja, unconsious ini tidak pernah diam. Dia terus bergerak dan dalam tidur terkadang lebih aktif. Sewaktu dia keluar menjadi consious, kadang kadang kita mengalami ”aha experience” atau ”Éureka” kata orang Yunani. Kita biasa berkata ”Oh iya, sepertinya Tuhan memimpin saya melakukan hal ini”. Ini bukan proses yang tiba-tiba muncul tetapi atau proses yang terjadi, setelah unconsious kita memproses data yang ada di dalam dan kemudian muncul. Kita memahami sesuatu yang sebetulnya tidak kita pahami. Inilah proses kejiwaan manusia. Bila kita identikkan ini dengan pimpinan dari Tuhan, kita bisa salah. Tetapi, kita harus meyakini kalau hal ini pun bisa dipakai oleh Tuhan. Oleh sebab itulah sewaktu kita mengalami hal ini, jangan tolak saja dan jangan terima saja. Kita harus memahami rasa bersalah, nurani, perasaan, semuanya penting. Tetapi perlu diuji dengan pikiran. Karena itu, ketika perasaan dan intuisi muncul, minta Tuhan memimpin kita dengan perkara-perkara yang mendasari intuisi tersebut.

Ketika kita memikirkannya dan kita sampai pada satu konsep dimana tidak ada dasar yang kuat, maka kita bisa menolaknya atau sebaliknya. Antara damai sejahtera dan alasan-alasan yang kita pikirkan dan gumulkan menjadi cocok. Sehingga perasaan-perasaan damai sejahtera menjadi semacam pintu gerbang untuk masuk ke dalam kehendak Tuhan. Sebelum kita melangkah, mari kita pikirkan baik-baik, lihat di dalamnya, renungkan, diskusikan, refleksikan, sehingga kita bisa dengan mantap dengan apakah sesuatu itu pimpinan Tuhan atau tidak. Ketika kita memikirkannya dan tidak muncul alasan-alasan yang Alkitabiah mengapa kita yakin akan satu hal, berhati-hatilah. Mungkin hal itu tidak berasal dari Tuhan, tetapi kemungkinan berasal dari perasaan dan keinginan kita sendiri.
Soli Deo Gloria!

Knowing God’s Will 01

(Kotbah ini dibawakan oleh Fristianty Lumbantoruan, SKM pada ibadah Mimbar Bina ALumni Jumat, 10 Agustus 2007)


Hari ini kita akan masuk pada Knowing God’s Will. Hal yang pertama yang perlu kita bicarakan mengapa kita perlu mengetahui kehendak Allah adalah karena kita berhadapan dengan Allah yang mau menyatakan kehendakNya. Mari kita baca Mzm 32:8, “Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.” Yang kedua adalah karena kita bukan milik kita lagi (bagi orang-orang yang sudah menyerahkan dirinya pada Kristus). Mari kita baca Gal 2:20, “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Banyak pilihan-pilihan di dalam hidup kita, akan tetapi kita tidak dapat menggunakan pilihan-pilihan itu sesuka hati kita karena Allah sudah memiliki hidup kita. Kita harus bertanya kepada Tuhan apa yang Ia mau. Dalam kenyataannya, hal ini tidak sesederhana yang kita pikirkan.

Mari kita lihat Kis 16:6-10;13. bagian ini adalah kisah perjalanan Paulus, Silas, dan Timotius, ketika mereka dalam perjalanan hendak ke Efesus. Mari kita perhatikan ayat 6, “ Mereka melintasi tanah Frigia dan tanah Galatia, karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia.” Dalam ayat ini Roh Kudus melarang mereka ke Asia. Dan pada ayat selanjutnya mereka tiba di Misia dan hendak masuk ke Bitinia, tetapi Roh Yesus melarang mereka. Akhirnya mereka sampai di Troas (8). Di Troas inilah Paulus mendapat penglihatan akan seorang Macedonia yang berdiri dan berseru "Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami!" (9). Setelah mendapat penglihatan itu, Paulus yakin bahwa Allah menyuruh dia ke Macedonia, dan segera mencari jalan ke sana. Ketika mereka tiba di Filipi, kota pertama daerah Macedonia, mereka tinggal beberapa hari di sana.

Ada tiga hal yang dapat kita lihat di sini bagaimana Allah menyatakan kehendakNya.
  1. Melalui kepekaan kepada pimpinan Roh. Ada pimpinan Allah yang jelas yang memberitahukan agar mereka tidak memberitakan Injil ke Asia, untuk sesuatu yang kelak sangat besar. Sama seperti kita, apakah sampai Semarang masih ada kejadian seperti ini? Setiap jalan yang kita tempuh selalu terbentur tembok? Bisa saja ini jalan Tuhan untuk mengarahkan kita pada sesuatu yang lebih besar menurut rancanganNya.
  2. Melalui penglihatan supranatural. Paulus mengalami hal ini. Tetapi hal ini tidak selalu terjadi dan masih tetap mungkin terjadi sampai sekarang ini. Satu hal yang pasti adalah Allah tidak selalu menggunakan cara ini dalam menyatakan kehendakNya.
  3. Tuhan menggunakan pengetahuan mereka. Mari kita perhatikan ayat 11-12, dimana akhirnya mereka tinggal disana beberapa hari, tetapi mereka tidak menemukan Sinagoge. Kemudian pada ayat 13, ”Pada hari Sabat kami ke luar pintu gerbang kota. Kami menyusur tepi sungai dan menemukan tempat sembahyang Yahudi, yang sudah kami duga ada di situ; setelah duduk, kami berbicara kepada perempuan-perempuan yang ada berkumpul di situ.”
    Pada ayat ini mereka telah menduga dimana bahwa di tepi sungai itu, karena mereka tahu bahwa sesuai dengan kebiasaan orang Yahudi yang berkumpul di tepi sungai yang berair.

 Apa yang terjadi kepa Paulus dan Silas setelah ini? Mari kita lihat Kis 16:22-24, Juga orang banyak bangkit menentang mereka. Lalu pembesar-pembesar kota itu menyuruh mengoyakkan pakaian dari tubuh mereka dan mendera mereka. Setelah mereka berkali-kali didera, mereka dilemparkan ke dalam penjara. Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh. Sesuai dengan perintah itu, kepala penjara memasukkan mereka ke ruang penjara yang paling tengah dan membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat.” Dalam bagian ini kita melihat bagimana mereka sangat menderita. Dalam peristiwa ini memang terjadi mukzijat dimana mereka dilepaskan. Paulus dan Silas merasakan bahwa disepanjang perjalanan mereka, Tuhan mengarahkan mereka kepada orang-orang yang kelak menjadi jemaat, tetapi Allah menyuruh mereka untuk segera pergi dari kota itu. Apa yang dapat kita pelajari dari sini? Jalan-jalan Tuhan memang tidak terselami dan dapat dipikirkan secara logika. Bagaimana mungkin Allah mengarahkan mereka ke kota itu tetapi dalam waktu yang realatif singkat, mereka harus meninggalkan kota itu. Mengetahui atau memahami kehendak Allah sama dengan berhadapan dengan sebuah arah yang sulit dan tidak dapat diputuskan dengan gampang.

Mari kita baca Yes 55:8-9,  "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. "Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu”, dan Roma 11:33-34, “32 Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua. O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?"

Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari kisah Paulus dan silas ini, yaitu :
  • Tidak ada jaminan bahwa hidup akan senang dan nyaman ketika kita mengetahui kehendak Tuhan.
  • Sikap Paulus dan Silas, dimana mereka mengalami semuanya dengan tabah, tidak mengeluh, bahkan mereka bernyanyi-nyanyi (25)
  • Mereka pergi meninggalkan kota itu untuk mengerjakan tugas selanjutnya. Mereka begitu taat dan tunduk kepada Allah.

Kita sepakat bahwa bila kita merenungkan jalan-jalan Tuhan, banyak hal yang tidak kita mengerti, karena banyak hal hal yang tidak sama seperti apa yang kita pikirkan. Apa yang harus kita lakukan? Mari kita lihat Maz 25:4-5, “Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku.  Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari. Menurut Mazmur ini kita harus memiliki hati yang siap untuk diberitahukan jalan-jalan Tuhan dan hati yang mau viajar oleh Tuhan." Mari kita lihat hati kita, jujurlah, kehendak siapa yang sedang bekerja di dalam hati kita.
Dalam Maz 25:12 dikatakan, “Siapakah orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya."

Jalan Tuhan tidak selalu nyaman dan menyenangkan. Tetapi ketika kita merasakan bahwa semuanya adalah karena pimpinan Tuhan, kita akan merasa nyaman dan akan menang bersama Dia.
Soli Deo Gloria!!

Spirituality in Hectic World

[Kotbah MBA Jumat, 28 Oktober 2011 yang dibawakan oleh Drs. Tiopan Manihuruk, M. Th]

Hari ini kita bicara soal spirituality in a hectic world dengan bercermin kepada kisah kehidupan dan pelayanan Yesus yang terdapat dalam Markus 1:21-39. Dalam kisah ini kita dapat melihat bahwa Yesus memiliki banyak kesibukan. Sewaktu di Kapernaum Dia mengajar dan ketika mengajar Ia juga membebaskan orang yang kerasukan roh jahat dan dilanjutkan dengan melayani di rumah Simon dan Andreas dan menyembuhkan mertua Simon. Kemudian, mulai malam (setelah mata hari terbenam) Yesus melayani seluruh penduduk kota (ay 33-34). Tentu saja hal ini sangat melelahkan. Tetapi pada saat itu paginya Yesus bangun cepat dan pergi ke kota-kata lain untuk memberitakan Injil. Apa yang dapat kita simpulkan melihat kehidupan Yesus pada bagian ini adalah bahwa Yesus sangat-sangat sibuk.

Berbicara tentang hectic life bukanlah sekedar kehidupan yang sibuk, tetapi kehidupan yang bising, ribet atau sesuatu yang memusingkan. Selain berpacu dengan waktu yang berjalan dengan cepat kita memiliki banyak tarikan atau godaan yang mengikat kita. Inilah kehidupan yang hectic.

Kehidupan alumni pastilah kehidupan yang hectic. Tidak hanya itu, kehidupan alumni juga diperhadapkan kepada kehidupan yang bukan hanya serba cepat tetapi juga instan. Maka dunia yang hectic itu adalah instan dan sangat cepat. Kehidupan alumni juga bising dengan godaan dan deru dunia. Sering sekali alumni akhirnya tidak bisa tidur karena tidak bisa berhenti berpikir. Kemudian padatnya jadwal kegiatan dan perjalanan untuk kerja, keluarga, pelayanan dan studi lanjut juga dapat membuat hidup itu menjadi hectic. Jika kita tidak menata hidup hidup sedemikian rupa kita bisa menyerah. Bahkan mungkin kita cepat burnout dan cepat marah. Hidup kita sering sekali mengejar target apakah dalam hal waktu ataupun produksi. Jadi hidup yang senantiasa berpacu dengan waktu. Kita juga merasa senang dan dianggap penting dan terhormat jika dianggap sibuk. Jadi ada perasaan malu jika tidak sibuk. Hal ini menimbulkan kegelisahan seperti di sarang lebah. Apa yang bisa terjadi kita bisa mengalami spiritual dryness.

Apa yang kita lihat dalam kehidupan Yesus? Dalam perjalanan pelayanan Yesus yang padat kita bisa melihat bahwa Yesus pasti mengalami keletihan. Yesus kemungkinan besar tidur larut malam karena banyaknya yang dilayani. Meskipun Yesus sibuk dan melayani sampai larut malam, ia tidak meninggalkan relasinya dengan Allah. Dikatakan bahwa Yesus melakukannya pagi-pagi benar, pada saat hari masih gelap. Ingat, sebagai alumni kita tidak bisa melepaskan diri daripada kehidupan yang hectic, tetapi di tengah-tengah kondisi ini kita harus ingat untuk memprioritaskan sesuatu, yaitu hubungan pribadi dengan Bapa kita. Hal inilah yang harus kita miliki. Yesus dalam kesibukannya senantiasa begantung penuh dan mengandalkan Bapa dan menjaga kedekatan dengan Bapa agar tahu apa yang menjadi kehendak Bapa yang harus dilakukanNya. Padatnya jadwal kegiatan atau kelelahan fisik tidak menjadi penghalang dalam membangun hubungannya dengan Bapanya, dan kehidupan seperti ini merupakan kebiasaan dalam diri Yesus (Lk. 5: 16; 6: 12; Yoh. 6: 15b; Mt. 14: 23; Mrk. 6: 46).

Di dalam kehidupan ini ada masa untuk bekerja, ada masa untuk diisi oleh Tuhan. Ingat kisah Maria dan Marta? Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya,sedang Marta sibuk sekali melayani (Luk 10:38-42). Marta tidak melakukan kesalahan ketika menyiapkan hidangan. Hanya saja timing Marta tidak tepat. Mengapa demikian? Jika kita melihat kisah ini lebih lanjyt kita akan melihat bahwa tidak lama lagi Yesus akan ditangkap. Jadi alangkah lebih baik waktu yang ada dipergunakan untuk mengisi tangki rohani, seperti yang dilakukan oleh Maria. Apa yang terjadi berikutnya adalah Marta marah dan menyalahkan Yesus dan Maria. Hal ini terjadi karena Marta terlalu merepotkan diri. Hal inilah membuat ia marah-marah. Orang yang kondisi rohaninya tidak baik pasti akan menganggap semua salah. Dunia kita sangat hectic oleh sebab itu perlu belajar untuk tidak meninggalkan hal yang penting, yaitu tangki rohani. Banyak alumni seperti Marta. Sangat repot karena banyak sekali target dan hal-hal yang akan dikerjakan sehingga menjadi ‘heppot’.

Apakah kita too busy not to pray [terlalu sibuk untuk tidak berdoa] atau too bussy pray more [terlalu sibuk harus lebih banyak berdoa]. Sering sekali alumni tejebak pada hal yang pertama yaitu too busy not to pray. Yang menghancurkan HPDT (saat teduh, bible reading, dan jam doa) kita adalah kesibukan, karena terlalu buru-buru mengejar sesuatu. Seharusnya hidup kita semakin sibuk justru harus semakin berdoa. Martin Luther berkata “Ketika aku semakin sibuk (banyak melayani), justru pada saat itulah aku semakin banyak berdoa.” Kita dibunuh oleh kesibukan dan keburu-buruan. Oleh sebab itu, se hectic apa pun hidup kita mari membangun sebuah relasi dengan Allah. Ingat kepanjangan dari BUSY yaitu Be Under Satan Yoke (berada dibawah kuk setan). Yesus lebih mendahulukan dan memprioritaskan hubunganNya dengan Bapa selama Dia melayani di bumi.

Kenapa yang Yesus lakukan itu penting sehingga kita harus melakukannya? Yoh 15:5b berkata, “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa”. Tidak mungkin dan tidak bisa kita melakukan yang benar jika kita jauh dari Allah. Jika kita perhatikan Yoh 15:1-8 kata tinggal muncul sebanyak tujuh kali. Hal ini menunjukkan pentingnya kedekatan dengan Allah. Oleh sebab itu jangan menjadikan kesibukan menjadi alasan untuk tidak menjalin relasi yang intim dengan Allah. Dalam dunia yang sangat hectic ini, kita harus membangun kehidupan spiritualitas kita dengan menaggapi segala sesuatu yang kita baca, dengar, lihat, dan kerjakan dalam perspektif Ilahi. Ingat, mesin yang sering dipakai pasti membutuhkan service dan BBM yang lebih banyak. Demikian juga kita yang sering terlibat dalam pekerjaan atau pelayanan haruslah tidak lalai menservice diri kita dan menjaga tangki rohani kita tetap berisi. Kita tidak akan memiliki kekuatan jika tidak mengisi diri dengan baik. Prayerless will be powerless BUT Prayerful will be powerful (bd. Mt. 26: 41).

Sering sekali kita menemukan seseorang – atau bahkan mungkin diri kita sendiri – cepat marah di kantor, di jalan atau di rumah. Hal ini bisa terjadi karena target atau situasi dan hasil tidak seperti yang kita harapkan! Ini adalah bukti bahwa kita sedang kropos. Ada baiknya dalam situasi seperti ini kita ambil sikap diam dan menenangkan hati. Gampang tersinggung dan sakit hati sangat mudah terjadi jika tangki rohani kita sedang kropos. Kehidupan yang hectic hanya bisa diatasi dengan spiritualitas yang baik. Karena godaan dan kemungkinan untuk jatuh ke dalam dosa lebih besar apabila tidak dekat dengan Tuhan. Ingat, 1 Pet 5:8-9 berkata, “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama”. Iblis itu siap sedia untuk menampung kita. Selain dari gampang tersinggung dan marah, dunia yang hectic juga bisa menggeser nilai dan ambisi hidup kita (band dengan kisah Demas dalam Dalam 2 Tim 4:10 , “karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia telah berangkat ke Tesalonika. Kreskes telah pergi ke Galatia dan Titus ke Dalmatia”). Dunia yang hectic juga bisa menarik kita kepada dunia yang materialis dan hedonis bahkan kepada sikap skeptis dan apatis melihat sekeliling. Tapi jika kita memiliki spiritualitas yang baik, kita bisa dengan tenang dalam melihat sesuatunya.

Bagaimana kita bisa memiliki spiritualitas dalam dunia yang hectic? Pertama, mari belajar dari Yusuf. Kemanapun Yusuf selalu berhasil adalah karena penyertaan Tuhan. Kita juga bisa kuat menghadapi dunia yang hectic jika kita tetap dekat dengan Tuhan dan Tuhan menyertai kita. Kedua, kita juga bisa belajar dari Daniel. Kita bisa menemukan bahwa Daniel selalu menjaga hubungannya dengan Tuhan dimana tiga kali sehari Daniel berdoa (seperti yang biasa ia lakukan). Mari membangun kehidupan doa. Kita bisa melakukannya dalam setiap waktu yang kita miliki. Misalnya mengambil waktu lima menit pada saat istirahat siang dengan mengingat kembali renungan atau refleksi dari saat teduh pagi, merenungkan kembali dan berdoa kembali agar bisa semangat kerja sampai sore. Ketiga jangan memiliki targaet dan beban hidup yang terlalu besar. Jangan terlalu banyak kredit melebihi kemampuan yang dia miliki. Akhirnya menjadi hidup yang dipaksa dan berujung kepada hidup yang hectic. Kita tidak dilarang untuk kredit atau nyicil, tetapi mari menyesuaikan dengan kemampuan kita. Jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang. Keempat, mari menciptakan peluang bersekutu dengan Firman Tuhan antara lain melalui perenungan Firman Tuhan dan doa selama dalam perjalanan. Kita juga bisa melakukannya dengan retreat of silence dan berdoa di masa istirahat siang dan sebelum pulang bekerja (1 Pet 4:7). Meditasi Kristen bukan mengosongkan pikiran tetapi fokus kepada Allah. Bila tidak bisa saat teduh di pagi hari usahakan pada malamnya. Mari memprioritaskan tiga hal berikut, yaitu: sate (saat teduh), gado-gado (berjaga dan berdoa), dan putu (puji Tuhan). Kita juga bisa menjaga hubungan dengan Tuhan dengan mendengar kaset/CD khotbah yang berkualitas dan lagu rohani sepanjang perjalanan, atau memiliki target membaca buku rohani dan ingat atau review hasil saat teduh pagi hari, refleksi khotbah atau buku rohani.

Kita juga harus memiliki Kelompok Kecil (KTB). Jangan ada satu diantara kita pun yang tidak memiliki KTB. KTB bisa dilakukan berdasarkan berdasarkan wilayah kerja atau tempat tinggal secara rutin (mungkin pada waktu makan siang dan memodifikasi kelompok sesuai denagn kondisi yang ada). Kemudian mari mengevaluasi perjalanan hidup sebelum tidur. Kita bisa ambil waktu lima menit dengan mengingat apa yang kita lakukan, apakah rasa marah, kecewa, sedih, dll. Kemudian bersyukur dengan setiap peristiwa yang bisa kita alami.

Jangan menghindari persekutuan. Mari senantiasa erat dengan persekutuan orang percaya. Ibrani 10: 24-25 mengatakan, “Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Kemudian jangan pernah tidak terlibat dalam pelayanan. Tidak ada orang bisa bertahan jika tidak melayani (proklamasi dan demonstrasi Injil). Jangan menciptakan laut mati yang baru yang hanya diisi terus tanpa pernah menjadi berkat bagi orang lain.
Solideo Gloria!

Saat Teduh

Danni Philip Bukidz

Sewaktu mempersiapkan bahan ini coba memikirkan apa yang teman-teman pikirkan. Secara pemahaman tentang waktu teduh, pastilah kita yang hadir di tempat ini sudah mengerti secara konsep, praktisnya bahkan langkah konkritnya. Lalu mengapa PAK coba membuat materi ini pastilah karena ada suatu masalah tentang waktu teduh di dunia Alumni yang tidak bisa disamakan dengan dunia mahasiswa maupun siswa. Ada beberapa masalah yang berhubungan dengan saat teduh dalam dunia Alumni yaitu:
  • Kesibukan membuat berkurangnya waktu teduh
  • Waktu teduh menjadi waktu sisa bukan waktu sisih
  • Kurang menikmati Waktu teduh
  • Hilangnya kualitas waktu teduh dimasa lalu
  • Kehilangan makna, manfaat dan kerinduaan Waktu Teduh

Menyediakan Ruang Bagi Tuhan dalam Hidup Anda (Luk 10:38-42)
Terkadang kita terjebak dalam sebuah rutinitas dalam melakukan waktu teduh sehingga kurang memaknai tentang waktu teduh. Waktu yang kita berikan untuk bersekutu dengan Tuhan menjadi sedikit dan bahkan tidak ada. Kita harus sadar seluruh dunia semua orang memiliki waktu yang sama, kita punya 24 jam. Waktu adalah penyetara yang terbesar. Waktu tak mengenal batasan ras, budaya, sosioekonomi, usia, bahkan kesibukan, santai dan lainnya. Tuhan member anda karunia berupa waktu da mempercayakan waktu itu kepada anda.

Apa yang akan menjadi pola hidup anda diukur oleh pemakaian waktu kita? Ingat, Waktu itu terbatas sehingga penting untuk kita mengambil pilihan-pilihan terpenting. Hubugan-hubungan di bangun atas dasar pilihan-pilihan. Sama halnya dengan seseorang mengambil keputusan membangun relasi dengan pasangan hidupnya. Ia akan menetapkan jadwal bersama atau kencan. Ketika ada seseorang atau pekerjaan yang kita mendesak kita pasti kita akan menolaknya demi jadwal komitmen kita.
Pilihan kita menyatakan banyak hal tentang diri kita,tentang apa yang penting bagi kita. Pilihan merupakan alat ukur yang paling tepat dari nilai-nilai hidup kita. Bagaimana rasanya jika Yesus mengacungkan dua jempol kepada Anda dan berkata “pilihan yang bagus!”?. Maria telah memilih yang terbaik dan Yesus lebih menghargainya. Memberikan waktu untuk memperhatikan Yesus lebih mendapat pujian dibanding bekerja dalam kesibukan. Menurut saya, Yesus ingin kita menyadari bahwa walaupun kita mempunyai banyak pilihan, hubungan denganNya adalah satu-satunya hidangan yang memuaskan kebutuhan terdalam kita. Hanya persahabatan denganNya yang mengenyangkan jiwa kita.

Suatu pilihan membawa kita pada pilihan lainnya. Emilie Grifin menulis “ pembinaan rohani melibatkan pilihan yang mendasar. Memilih untuk hidup bagi Yesus Kristus berarti juga menjalani gaya hidup tertentu atau mungkin lebih tepatnya, aturan hidup tertentu. Kita menerapkan serangkaian disiplin rohani yang akan membuat kita terbuka pada karya Tuhan di dalam hidup kita”

Manfaat Memiliki Waktu Teduh
Ada 19 manfaat dalam waktu teduh, berharap melalui manfaat-manfaat ini menolong kita untuk semakin termotivasi dalam menikmati dan melakukan saat teduh kita.
  1. Tempat anda ‘mengalami pembebasan’
  2. Tempat anda ‘mengalami pembaruan’
  3. Tempat anda ‘menata hidup’
  4. Tempat anda ‘Membentuk Identitas’
  5. Tempat anda ‘mengingat’
  6. Tempat anda ‘Menemukan alasan untuk hidup’
  7. Tempat anda ‘mengenal Tuhan’
  8. Tempat anda ‘mengalami kedekatan Tuhan’
  9. Tempat anda ‘melihat dan Dibentuk’
  10. Tempat anda untuk ‘Menanggalkan dan Mengenakan’
  11. Tempat anda ‘makan dan Bersekutu’
  12. Tempat anda ‘mendengarkan’
  13. Tempat anda ‘mengembalikan fokus’
  14. Tempat untuk anda ‘berduka dan bersuka’
  15. Tempat anda ‘mengalami pemulihan’
  16. Tempat anda ‘mendapat Damai sejahtera dan Cara pandang Tuhan’
  17. Tempat anda ‘memperbaharui’
  18. Tempat anda memiliki ‘satu-satunya hubungan yang pasti’
  19. Tempat anda ‘bertanya’

Kreatifitas Waktu Teduh
Ketika sudah disegarkan tentang makna waktu teduh dan betapa kayanya manfaat yang akan kita peroleh didalamnya. Selanjutnya kita perlu berjuang untuk memikirkan kreatifitas yang kita bisa lakukan untuk membangun waktu teduh ditengah kesibukan, dan tanggung jawab kita. Ada beberapa hal yang coba akan dipaparkan namun ini hanya metode kreatif yang berharap bisa menambah kerinduan kita bersaat teduh.
  1. Bersaat teduh dalam 7 Menit. Cara efektif ditengah waktu yang cukup padat dan tanggung jawab penting memiliki waktu tenang tanpa distraksi dengan cara merenungkan satu ayat Firman Tuhan. Kita memperhatikan kata-kata mengerti secara makna dan harapannya sepanjang hari itu kita meluangkan untuk memiliki 7 menit dalam momen-momen diam. Jadi ini bukan waktu yang hanya sekali saja, bisa 2-5 kali kita lakukan dalam satu hari. Hal yang bisa diperoleh dalam metode ini fokus terhadap satu hal yaitu Firman Tuhan. Gunakan ayat Firman Tuhan dari Mazmur, Amsal, dan beberapa yang konteksnya kita mengerti.
  2. Metode BGA (Baca Gali Alkitab). Metode ini sering digunakan jika kita menggunakan bahan Santapan harian. Metode ini mirip dengan PA Induktif, dengan variasi yang sederhana. Metode ini membuat kita terlibat lebih dalam dengan teks Alkitab dan kita bisa semakin memahami latar belakang kitab dan konteks. Pemahaman semakin mendalam tentang konteks ayat dan pasal menjadi keuntungan tambahan bagi kita yang menggunakan metode ini. Masalahnya yaitu kadang menjadi kering dan itu disebabkan karena kita tidak pernah sampai membagikan dan memiliki waktu yang cukup.
  3. Mencatat, Jurnal Perjalanan Rohani. Merekam apa yang kita peroleh dalam pengalaman hidup kita bersama Tuhan menolong kita semakin memiliki kenikmatan untuk bersaat teduh. Catatan membantu orang mengingat apa yang Tuhan kerjakan.” Setajam-tajamnya pengingatan kita lebih tajam ujung pensil” ini merupakan slogan yang menyadarkan kita pentingnya catatan bagi waktu teduh kita bersama Tuhan.
  4. Music, music, dan musicCoba bersaat teduh dengan bernyanyi dan menyembah Allah. Selain itu kita bisa mendengarkan satu lagu dan menyembah Ia dalam Roh dan Kebenaran. Yang saya pernah lakukan yaitu fokus terhadap satu lagu dan menggalinya dari latar belakang lagu yang bisa di peroleh melalui www.cyberhymnal.com. Kemudian memperhatikan apa yang disampaikan oleh penyair dan konsep nadanya. Hal ini menolong menambah kekayaan pengalaman rohani dan indahnya bersaat teduh.
  5. Miliki waktu sabatikal yang panjang dalam satu hari. Evaluasi, refleksi yang dalam untuk merenungkan kebenaran Firman Tuhan mengajar kita akhirnya menikmati Allah lebih lama. Persekutuan yang dalam menolong kita untuk semakin dalam bersama Dia.

Lagi dan Lagi : Rahasia Konsistensi
Kreatifitas hanya penolong untuk kita menghindari kebosanan namun jangan karena itu membuat kita tidak menjadi orang yang konsisten dalam bersaat teduh. Amatlah penting untuk kita tetap konsisten dalam mengerjakan saat teduh. Bagaimana caranya yaitu:

  • Ingatlah Mengapa kita melakukannya
  • Kenali dan tanggapi
  • Jangan biarkan rasa takut akan ‘legalisme’ menjauhkan anda
  • Tetaplah berusaha
  • Latihlah kedisiplinan
  • Ikuti sebuah rencana
  • Terlibatlah dan tingkatkanlah

Waktu teduh bersama Tuhan adalah waktu yang penting untuk dimiliki setiap ciptaan kepada pencipta. Jangan kita tukar waktu itu dengan kesibukan dan distraksi yang membawa kepada kebinasaan. Kreatifkan waktu kita dan belajarlah untuk setiap hari konsisten dalam menerapkannya. Nikmati relasi bersama Tuhan. Tuhan Yesus Memberkati. Amin!



”Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.
Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.”

Ibrani 10:22-23

Thursday, November 3, 2011

Worldview: Time and Reality


By: Denni Boy Saragih, M. Div

Saat ini kita akan belajar mengenai Christian Worldview dalam konteks Time and Reality. Apa itu waktu ? Ini adalah pertanyaan yang sangat dalam dan rumit. Kita tidak bisa menghindari waktu karena waktu berjalan ke depan dan kita hidup di dalamnya. Tidak terbayangkan jika waktu itu bejalan terbalik, bagaimana hidup kita dumulai dari kakek-kakek/nenek-nenek, kemudian menjadi dewasa, kemudian remaja, kemudian anak, anak, menjadi bayi terus embrio dan terpecah menjadi sel telur dan sperma. Apakah kita bisa hidup dan beradaptasi dengan situasi yang demikian? Bila kita bertanya tentang waktu, kita akan berhadapan dengan pertanyaan-pertanyan yang pilosopis yang dalam. Bila kita bertanya apa itu realita, ini lebih rumit. Karena kita bertanya tentang suatu ruang dimana kita berada dalam ruangan tersebut. Bagaimana kita bisa memahami hal ini. Masih banyak hal-hal diluar sana mengenai waktu dan realita yang sangat susah untuk dipahami.

Sewaktu kita bicara tentang Christian Worldview, kita tidak bicara tentang filosopi waktu dan realita. Tujuan kita adalah untuk memahami bagaimana kita sebagai orang Kristen melihat waktu dan realita. Ada kesatuan pemikiran dalam Christian Worldview dari banyak profesi yang dimiliki orang-orang Kristen yang memiliki keberagaman pemikiran. Karena itulah pertanyaannya bukanlah apa itu waktu dan realita. Pertanyaan mengenai waktu dan ruang adalah pertanyaan yang dalam Worldview kita, kita harus bertanya dimanakah kita berada pada saat ini. Yang kedua kapankah waktu yang sekarang ini bila kita menilainya dari pandangan perspektif Christian Worldview. Disini kita menemukan, waktu menjawab pertanyaan ini kita berhadapan dengan berbagai worldview-worldview yang berbeda di dalam dunia ini. Misalnya, Scientific Worldview yang menyatakan bahwa kita berada di titik puncak sebuah perjalanan evolusi binatang menjadi mahluk yang lebih cerdas. Bagi Scientific Worldview, dunia ini adalah sebuah panggung dimana manusia saling berjuang, dan bertahan bagi mereka yang paling kuat. Bila kita bandingkan dengan Buddhisme dan Hinduisme Worldview, mereka menyatakan bahwa kita berada dalam lingkaran yang titik akhirnya adalah permulaan dari lingkaran-lingkaran yang sebelumnya yang terus berputar. Mereka juga berpendapat bahwa dunia ini adalah maya, tidak kita kenal, dan apapun yang kita lihat adalah kemayaan. Kalau kita pandang dari filsafat Yunani maka mereka akan menjawab bahwa kita berada dalam suatu realita dimana realita ini adalah ekspresi dari suatu realita yang lebih dalam. Realita material dan realita spiritual. Sehingga bagi orang-orang Yunani, hal-hal rohani adalah jauh lebih penting dari hal-hal jasmani. Filsuf-filsuf Yunani merasa bahwa apa yang ada dalam dunia ini adalah suatu yang tidak nyata dibandingkan dengan yang ada di dalam pikiran. Contohnya mimbar di gereja yang satu pasti berbeda bentuknya dengan mimbar di gereja yang lain, tetapi semua ini adalah mimbar. Kenapa mimbar yang di gereja yang satu sama dengan di gereja yang lain?. Ini adalah karena ada satu ide tentang mimbar yang mempersatukan mimbar-mimbar tersebut. Yang paling menarik, ketika mimbar ini menjadi tua dan hancur oleh waktu tetapi ide tentang mimbar yang mempersatukan semua mimbar tidak pernah hancur. Itulah sebabnya alam ide menurut mereka lebih kekal dan nyata dibandingkan dengan alam-alam yang lain.

Semua pikiran-pikiran diatas mempengaruhi bagaimana orang hidup di tengah-tengah dunia ini. Tetapi Christian Worldview mengarahkan kita untuk tidak sekedar melihat dunia dan waktu dari segi konsep-konsep, pikiran-pikiran, tetapi melihatnya sebagai sebuah narasi, sebuah kisah yang berawal dan punya akhir. Sewaktu kita bicara tentang waktu dan realita dari Christian Worldview, kita akan melihatnya dalam kisah yang dibagi menjadi enam bagian.

  1. Penciptaan. Mari kita lihat Kej 1:1-2. Ini adalah sebuah kisah kecil yang sering kita ulang-ulang, tetapi sebenarnya seluruh Worldview kita bermula dari Kej 1:1 ini. Kita tidak menyangkal sewaktu orang berbicara tentang realita darimana asalnya dunia ini, maka kita akan menjawab bahwa dunia ini adalah ciptaan Tuhan. Ini adalah dasar yang utama dari Christian Worldview. Karena dunia ini diciptakan Tuhan, maka Allah yang menciptakan dan mengadakan dunia ini maka dunia ini tidak jelek, indah dan hasil karya Tuhan. Sehingga kita bisa menerima segala sesuatunya dengan pasrah dan ucapan syukur. Tidak ada perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Kalau kita lihat teologi yang lebih dalam, created person berarti bahwa sovereignity of God, sebenarnya adalah sesuatu yang mau tidak mau harus kita terima. Kita tidak punya pilihan dimana kita dilahirkan. Apakah menjadi laki-laki atau perempuan dan yang lainnya. Semuanya adalah ciptaan. Kita tidak bisa mengatakan bahwa keberagaman kita membuat kita berbeda (walaupun banyak orang yang membedakan) karena kita adalah ciptaan. Karena itu orang yang memulai basic foundation dengan dasar bahwa semuanya adalah ciptaan Tuhan, Dia bisa menikmati hidup ini. Dia tidak tabu dengan hal-hal yang indah. Banyak orang merasa bahwa seksualitas adalah sesuatu yang berasal dari setan. Tidak! Seksualitas kita terima sebagai sesuatu yang indah bahkan sampai pada level dimana ada libido dan rangsangan. Kita harus mensyukuri hal tersebut. Demikian juga dengan banyak hal-hal lain di dunia ini. Dengan dasaar ciptaan Tuhan, kita bisa menerima dan menghargainya. Ini adalah basic foundation dari Christian Worldview.
  2. Kita harus menyadari bahwa dunia yang diciptakan dengan indah ini tidak lagi sama seperti semula, karena kejatuhan dari dunia ini. Mari kita lihat Kej 3:6-7. Dan dalam kisah selanjutnya kita akan melihat bagaimana terjadi saling menyalahkan. Ini adalah dasar sebuah cerita yang kita temukan pada pasal 6:5-6. Meskipun kita tahu bahwa Allah menciptakan dunia ini, dan dunia ini diciptakan dengan baik, dan waktu dan realita yang diberikan kepada kita adalah sesuatu yang indah, kita tidak bisa menutup mata bahwa dunia yang baik ini adalah dunia yang memberontak kepada Allah. Dunia ini berisi manusia yang hatinya berdosa. Jika dunia ini berasal dari Tuhan, apa yang menjadi permasalahannya? Alkitab menjawab bahwa permasalahannya adalah dosa telah masuk kedalam dunia ini banyak hal-hal yang Allah ciptakan baik di dunia ini menjadi sesuatu yang buruk. Misalnya kecantikan adalah sesuatu yang indah, tetapi dapat berubah menjadi penipuan atau godaan-godaan yang dapat menghancurkan manusia. Kekayaan merupakan sesuatu yang sangat indah yang seharusnya dapat kita nikmati, tetapi dapat juga membawa kekacauan-kekacauan di tengah dunia ini. Sekuler Worldview memandang manusia bukan sebagai sesuatu yang jahat. Humanisme mengatakan bahwa manusia pada dasarnya adalah mahluk yang baik yang sekali-sekali berbuat dosa. Hal ini biasa, normal, dan sah-sah saja. Kalau kita membaca koran atau buku-buku sekuler, kita akan menemukan hal ini dimana saja, dan menjadi suatu substansi yang diyakini oleh sekuler worldview, karena di dalam seculer worldview tidak ada narasi bahwa manusia telah jatuh kedalam dosa. Ajaran Islam juga mengajarkan bahwa dosa tidak memiliki permualaaan dari realita dunia, tetapi asal-muasalnya sebelum penciptaan, bahkan saat penciptaan sebelum kejatuhan, manusia sudah seperti itu. Dalam Buddhisme dan Hinduisme worldview tidak ada kejatuhan. Bahkan ada seorang teolog Buddha mengatkan “it is a sin to say that human being is sinfull". Ini bukan Christian Worldview, tetapi orang Kristen juga tidak punya pandangan yang skeptis bahwa manusia adalah mahluk yang jahat yang tidak memiliki kebaikan sedikitpun di dalam dirinya. Tahukah anda bahwa dalam diri seorang pelacur pun ada ‘a very touching humanistic story’. Ada kerinduan akan hidup yang berbeda, dan inilah yang dilihat oleh Tuhan Yesus. Manusia diciptakan sebagai mahluk yang mulia yang telah jatuh ke dalam dosa. Manusia yang mulia ini adalah manusia yang memiliki potensi-potensi untuk memuliakan Allah. Tetapi karena kejatuhannya, mereka berbuat dosa. Manusia yang menciptakan Perang Dunia (PD) I dan PD II dengan kreatifitas pemikirannya melalui bom atom. Dunia yang diciptakan Tuhan ini adalah dunia yang berdosa, yang memerlukan Tuhan untuk menyelamatkan nya. Oleh karena itulah kita sebagai alumni-alumni tidak perlu heran dan terkejut jika di kantor penuh dengan orang berdosa, dan di KMK kita masih ada orang berdosa. Tetapi ceriteranya tidak berhenti sampai disini. Masih ada bahagian yang ke tiga.
  3. Dalam dunia yang jatuh ini, Allah mencari solusi. Dan solusinya adalah Allah sendiri. Allah memulai jawaban itu dengan melakukan pemilihan (Election). Satu bangsa, yang melalui mereka, jawaban kepada dunia yang penuh dengan dosa diberikan. Dimulai dari Kej 12:1-3. Karena itu pemilihan Allah akan Abraham sangat penting di dalam PL. Bila kita mempelajari semua agama di dunia ini, ada kemiripan yang dapat kita peroleh, yaitu semua agama setuju bahwa manusia ada dalam satu masalah dan tidak ada yang tahu akan masalah itu. Seculer worldview mengatakan bahwa masalahnya adalah pendidikan. Manusia berada dalam kebodohan. Oleh karena itu manusia harus belajar dan pintar. Jika manusia pintar, maka manusia tidak akan saling mencurigai dan membunuh. Jawaban Allah akan manusia yang jatuh ke dalam dosa adalah dengan memilih suatu bangsa untuk menjadi sarana bagi keselamatan itu untuk sampai ke segala bangsa. Melalui Abraham, berkat akan diberikan, sehingga dunia yang telah jatuh ke dalam dosa dikembalikan kepada penciptanya. Kita tahu bahwa pemi- lihan Israel bukan untuk menyelamatkan Israel, tetapi untuk menyelamatkan dunia. Pemilihan Israel bukan membuat mereka menjadi spesial, tetapi melalui mereka, berkat Abraham sampai ke seluruh dunia. Tetapi (kita tahu), Israel telah gagal melakukan panggilan yang diberikan Tuhan kepada mereka. Allah terus menerus menjudge dunia ini melalui umat-umat yang dikasihiNya. Dalam intisari dari election bukanlah soal keselamatan, tetapi bagaimana keselamatan disampaikan kepada bangsa-bangsa lain yang membutuhkan keselamatan itu.
  4. Israel telah gagal melakukan tugasnya. Oleh karena itu Allah mengutus Israel yang sejati, yaitu Yesus Kristus.Yesus Kristus adalah the climacks of the solution dari kejatuhan dunia. Bila kita membaca dunia science, maka kita diarahkan bahwa puncak dari jawaban itu adalah pendidikan untuk semua orang. Dunia ini menjadi satu adanya menjadi masyarakat yang global. Ada yang mengatakan bahwa masalah kita adalah lingkungan hidup yang hancur dan jawaban puncaknya adalah ketika manusia menempatkan koloni pertama di luar bumi. Tetapi Alkitab mengatakan bahwa klimaks dari realita dan waktu adalah ketika Yesus Kristus datang ke dunia ini dan memberitakan tentang Kerajaan Allah yang telah tiba di tengah-tengah dunia ini. Mari kita baca Mark 1:14-15. Dunia yang indah yang telah jatuh ke dalam dosa dan ingin diselamatkan oleh Allah melalui Israel, tetapi Israel gagal, maka Allah memilih Israel yang baru dan sejati yaitu Yesus Kristus. Itulah sebabnya dalam pelayananNya, Yesus memilih 12 murid untuk simbolisasi pemilihan Allah yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dengan cara yang berbeda. Yesus adalah Israel yang baru, untuk mengembalikan ciptaan kepada tujuan yang semula. Yesus membawa Kerajaan Allah dimana Kerajaan Allah itu bukan soal mati masuk surga dan bertobat dari dosa-dosa tersembunyi (walau itu penting). Kerajaan Allah adalah soal bagaimana Allah menjadi Raja atas ciptaan dan manusia yang merupakan mahkota dari ciptaan. Kerajaan Allah adalah soal bagaiman ciptaan ini dirangkul oleh Allah melalui Yesus Kristus. Oleh karena itu kerajaan allah mencakup politik, sosial, hukum, ekonomi, pendidikan, dll. Mencakup keselamatan pribadi dan keselamatan dunia. Yesus Kristus mengalahkan pemberontakan manusia kepada Allah dengan Allah sendiri yang menjadi manusia merangkul kejahatan dengan kebaikan. Dengan hidup, karya, dan ajaranNya, Yesus telah menerobos dunia ini ke zaman yang betul-betul baru. Dalam Yohanes 1:1 dikatakan bagaimana kedatangan Yesus digambarkan seperti ’new begining’. The event of Christ disamakan dengan kisah penciptaan itu sendiri.Jadi, bila kita melihat kebelakang, kepada suatu puncak yang sudah terjadi. Kita berada dalam dunia dimana kita telah melewati klimaks dari narasi.
  5. Kerajaan Allah; Gereja. Mari kita baca Kis 1:8. Setelah Yesus datang ke dunia dan kematianNya yang membawa klimaks kepada dunia yang telah berontak kepada rangkulan Allah. maka Yesus menjadi Raja. KerajaanNya memerintahkan murid-muridNya menjadi saksi, menyatakan keselamatan kepada dunia yang telah jatuh ke dalam dosa. Dunia ini diciptakan Tuhan, jatuh ke dalam dosa. Ada pembaharuan oleh karya Allah dalam pemilihan Yesus Kristus dan datangnya Kerajaan Allah melalui gereja. Gereja tidak bisa diidentikkan dengan Kerajaan Allah. Gereja adalah persekutuan dari warga Kerajaan Allah. Inilah yang seharusnya menjadi intinya. Tetapi, kita memandang dunia yang telah jatuh ke dalam dosa tapi mengalami keselamatan sehingga di dalam orang-orang yang melakukan dan mengalami keselamatan, kita bisa melihat satu pembaharuan dan perubahan yang luar biasa. Tetapi ketika kita melihat dunia yang jatuh ke dalam dosa, maka ada keselamatan sebagai jawabannya. Kita harus melihat keselamatan ini adalah keselamatan yang belum disempurnakan. Oleh karena itulah sehebat-hebatnya kita berjuang akan keselamatan, meskipun dunia yang telah rusak ini bisa diperbaharui dan dibangun sedemikian rupa, keselamatan yang kita alami belumlah sempurna. Masih menunggu kesempurnaan. Oleh karena itu apapun yang kita lakukan belum benar-benar tuntas sehingga pada akhirnya. Sebagai guru, kita bisa membuat sekolah kita lebih baik. Tetapi apapun yang kita lakukan tidak akan membuat sekolah itu menjadi sempurna. Sama halnya ketika banyak gereka didirikan untuk memper- baharui gereja yang ada, tetapi pada akhirnya gereka yang memperbaharui ini harus diperba harui. Karena itu akhir dari ceriteranya adalah restorasi.
  6. Restorasi.Mari kita baca Wahyu 21:3-4. Kita menan- tikan waktu dimana Allah menjadi dan bersama-sama dengan kita dan tidak ada lagi maut, air mata, perkabungan, ratap tangis, sebab segala sesuatu yang lama telah berlalu. Pada ayat 5 dikatakan ”...Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!” .

Christian Worldview, time and reality, adalah bagaimana kita melihat dimanakah kita berada sekarang dan waktu apakah waktu dimana kita berada. Ini dimulai dari persepsi bahwa dunia ini berasal dari ciptaan Allah. Allah menciptakan dunia ini dan dunia ini adalah dunia yang indah yang patut kita syukuri dan nikmati. Tetapi dunia ciptaan ini telah jatuh ke dalam dosa dan menyebabkan banyak keanehan terjadi di tengah-tengah dunia ini. Hal yang telah Tuhan ciptakan dengan baik telah dirusak oleh manusia. Dunia ini telah jatuh ke dalam dosa ini adalah dunia dimana Yesus telah berkarya, sehingga kita kita bisa berkarya di tengah-tengah dunia ini dengan pengharapan kita bisa melakukan sesuatu dan mebuat perbedaan. Membuat pendidikan yang Kristiani, keluarga yang Kristiani, dll. Segala sesuatu menjadi lebih baik. Tetapi tetap dengan realita bahwa dunia yang telah jatuh ke dalam dosa ini, ketika keselamatan masuk ke dalamnya, tidak akan menjadi sempurna karena kita menantikan waktu penggenapan. Karena itu, selama kita berjuang, kita jangan ragu. Kita menjadi realistis dengan pengharapan suatu hari kelak semua ini akan diperbaharui dan mengalami kesem- purnaan. Ini adalah the Christian Worldview.
Soli Deo Gloria!

[Seri Jesus Christ 03-2007] The 2nd Coming

[Kotbah ini dibawakan oleh Denni Boy Saragih, M. Div pada Mimbar Bina Alumni 30 November 2007]

Kita akan memulai Tema ini dengan membaca bagian dari Alkitab, Kis 1:8-11. Selalu menjadi pengharapan kita, bahwa Yesus akan datang kedua kali dan hal ini bisa terjadi kapan saja. Apakah sekarang, besok, tahun depan, atau 100 tahun lagi. Kita harus mengakui bahwa terkadang kita sebagai orang Kristen tidak memiliki pengharapan yang kongkrit kapan Yesus akan datang untuk kedua kalinya. Kita juga harus mengaku bahwa sering sekali hal ini tidak menjadi keseharian kita. Kita tidak mengharapkan Yesus akan datang keduakali. Jika saya bertanya kepada kita hari ini: ”Seandainya Yesus sudah dipastikan datang besok pukul enam sore, apa yang akan anda lakukan?” Pasti akan ada yang menjawab bahwa dia akan berdoa puasa mulai malam hari ini sampai besok. Ada yang mengatakan bahwa dia akan memperbaiki penampilan, agar ketika bertemu dengan Yesus, dia memberikan penampilan yang terbaik. Ada juga yang menjawab bahwa dia akan berdoa puasa minta pengampunan dosa dan banyak jawaban lainya.

Jika kita perhatikan kejadian-kejadian yang ada, bahkan beberapa orang mau menjual rumah dan mereka. Ada peristiwa tahun 1998, tepatnya 8 Oktober, ada kabar-kabar bahwa Yesus akan datang pada hari itu. Pada saat itu, banyak orang-orang menjual rumah mereka, meninggalkan pekerjaan, dan berdoa terus. Tetapi Yesus tidak datang. Peristiwa yang lain pada tahun 1908 pada bulan Oktober, dimana paara Saksi Jahova berkumpul karena mereka percaya pada saat/hari itu Yesus akan datang keduakalinya. Mereka menunggu mulai pkl 6.00 pagi sampai pkl 6.00 sore. Tetapi Yesus belum datang juga. Mereka kembali menunggu sampai pkl 12.00 malam, Yesus belum datang juga. Akhirnya banyak dari mereka yang pulang dengan kecewa dan hati yang hancur. Tetapi kemudian pemimpin mereka berkata: ”Yesus sudah datang! Tetapi Dia datang sembunyi-sembunyi, dan kita tidak tahu dimana Dia sekarang. Tetapi Yesus telah datang seperti janjiNya.”

Diantara kita juga banyak orang-orang seperti ini. Ketika Yesus sudah dipastikan datang besok pkl 6.00 sore, apa yang anda lakukan dengan deposito, pekerjaan, pacar, cita-cita anda? Martin Luther berkata tentang kehidupan, dimana dia mengatakan ”Saya ingin hidup pada hari ini dengan terang hari itu - Living Today in the Light of ’That Day’.” Luther mengatakan bahwa terang hidup kita adalah Yesus datang kedua kali. Dia berkata bahwa apa yang tidak dia ingini Yesus temukan pada saat Yesus datang kedua kali, tidak akan dia lakukan. Dengan kata lain, Luther tidak ingin ketika Yesus datang kedua kali, Luther sedang berbuat dosa. Coba kita lihat diri kita. Mari kita bayangkan ketika Yesus datang kedua kali, kita sedang berbuat dosa. Apa yang akan terjadi? Apa yang kita inginkan pada saat Tuhan Yesus datang, itulah yang kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Karena Tuhan datang sewaktu-waktu, tentu kita ingin Tuhan menemukan kita ketika sedang berbuat baik.

Ketika orang bertanya kepada Martin Luther apa yang dia akan lakukan jika Yesus datang esok hari, Luther menjawab bahwa dia akan pergi ke ladang dan menanam apel. Artinya adalah dia akan hidup seperti biasa. Bagi dia, kapan pun Yesus datang bukanlah hal yang terpenting. Tetapi bagaimana dia bisa hidup dalam terang ’hari itu’. Sewaktu kita merenungkan apakah artinya ’hari itu’ (kedatangan Yesus kedua kali), banyak orang memberikan pandangan. Pertama, ada pandangan yang mengatakan bahwa orang-orang yang percaya akan kedatangan Yesus kedua kali adalah orang-orang yang percaya kepada utopia dan mimpi. Sebenarnya apa arti kedatangan Yesus keduakali? Mereka mengatakan (sebuah kritikan), bahwa pandangan yang mengatakan Yesus datang kedua kali adalah pandangan yang berasal dari mimpi karena kecewa berat terhadap dunia ini. Dia mengharapkan dunia ini menjadi lebih baik tetapi dia tidak bisa merubahnya menjadi lebih baik. Karena tidak bisa merubah dunia ini menjadi lebih baik, dia mengalihkan masalahnya dari kenyataan dunia menjadi mimpi. Mengharapkan Yesus datang keduakali adalah satu mimpi yang menjadi tujuan akhir dari kekecewaan akan kenyataan. Pandangan ini salah, tetapi ada benarnya juga. Ketika dunia stress, banyak pergumulan dan masalah, di dalam lingkungan Gereja, ajaran mengenai akhir zaman sangat menjamur dan berkembang dengan sangat pesat. Ketika dunia aman dan tidak banyak masalah, ajaran ini tidak berkembang.

Kedua, ada juga memandang secara liberal. Mereka mengatakan bahwa kedatangan Yesus kedua kali adalah harapan mistikal/legendaris. Intinya bukan Yesus datang kedua kali, tetapi manusia mengharapkan hari depan yang lebih baik. Pandangan yang ketiga adalah pandangan yang menyatakan bahwa ’hari itu’ adalah satu perubahan mendadak yang putus hubungan dengan masa kini. Yesus akan datang kedua kali kapan saja, jadi kita tidak perlu memberantas kemiskinan, mencerdaskan masyarakat, ataupun membangun politik yang lebih baik karena sewaktu Yesus datang kedua kali semuanya akan beres. Orang yang berpandangan seperti ini cenderung tidak peduli dengan dengan masalah-masalah dunia ini. Bahkan ketika dunia semakin rusak, mereka hanya mengatakan bahwa hal tersebut adalah tanda-tanda dari akhir zaman. Pandangan ini juga kurang tepat.

Pandangan keempat adalah pandangan yang benar yaitu pandangan yang mengatakan bahwa kedatangan Yesus kedua kali adalah puncak dari Kingdom of God, yang telah dimulai dari pernyataan yang pertama. Sebenarnya kebangkitan Yesus adalah simbol dari masa depan yang menerobos ke masa kini. Bahwa apa yang dulu orang harapkan kedatangan Mesias akan serta merta memotong hari dan memulai satu hari yang baru. Bukan demikian. Yang sebenarnya adalah kenyataan masa depan telah mulai terjadi pada masa itu. Orang-orang Yahudi merasa bahwa kedatangan Kerajaan Allah dan Kerajaan Dunia itu seperti dua titik yang terpotong. Tetapi tidak demikian yang diberitakan oleh Yesus. Yesus berkata agar manusia bertobat karena Kerajaan Allah sudah dekat. Yesus menyembuhkan penyakit, menyembuhkan orang buta, dan memberitakan Kerajaan Allah sudah dekat dan Allah memerintah sebagai Raja. Kerajaan Allah sudah tiba meskipun dunia ini masih berjalan seperti biasa. Kerajaan Allah tidak memutusnya, tetapi Kerajaan Allah dimulai di tengah-tengah dunia ini. Kerajaan Allah dan dunia ini berjalan berimpitan seperti perumpamaan ilalang dan gandum. Dan pada akhirnya akan mencapai puncaknya dimana Yesus akan datang kedua kalinya, tetapi tidak terputus dari kenyataan hari ini, tetapi menyempurnakannya.

Pertanyaan penting soal kedatangan Yesus kedua kali bukanlah soal kapan dan dimana. Tetapi yang terpenting adalah soal apa dan bagaimana. Kedatangan Yesus kedua kali adalah kedatangan yang dimulai dari kedatangan yang pertama dimana Dia menyembuhkan berbagai penyakit, dan akan mencapai puncaknya pada saat Yesus datang kedua kali. Banyak orang yang merasa kedatangan Yesus kedua kali akan memusnahkan dunia ini. Hal ini tidak benar. Alkitab dimulai dengan cerita penciptaan dan mustahil diakhiri dengan cerita musnahnya ciptaan. Alkitab dimulai dengan cerita penciptaan di sebuah Taman dan akan diakhiri dengan cerita sebuah kota, langit dan bumi yang baru (Wahyu 21). Alkitab memulai cerita dengan penciptaan dan Alkitab akan menutupnya dengan cerita pembaharuan. Jika kita memandang kedatangan Yesus kedua kali dengan cara seperti ini, maka kita akan mampu berkata seperti Martin Luther katakan. ’Saya ingin hidup hari ini dengan terang hari itu.” Kita akan bekerja keras karena kita tahu apa yang kita kerjakan hari ini tidak putus hubungan dengan kedatangan Yesus kedua kali. Justru hal ini adalah bagian penyempurnaan. Kita memberitakan Injil, mengha- dirkan Injil, berbuat baik, membangun politik, membangun keluarga, membangun Gereja, dan lainnya. Semua ini adalah bagian dari proses penyempurnaan yang mencapai puncaknya sewaktu Yesus datang kedua kali.

Jika orang memahami dengan benar apa dan bagaimana kedatangan Yesus kedua kali sebagai penyempurnaan dari kedatangan yang pertama, maka kita akan ”living today in the light of that day’ di dalam tiga hal :

  1. Realisme
    Kita tidak akan seperti murid-murid yang menatap ke langit. Tyetapi kita menyadari bahwa kita hidup denang realisme. Yesus mengatakan kepada murid-muridNya bahwa mereka akan menerima kuasa jika Roh Kudus turun atas mereka dan mereka akan menjadi saksi dan memberitakan Injil sampai ujung bumi. Kita hidup dalam satu realisme dimana ada dunia dan tantangan-tantangan yang harus kita gumuli dan jawab. Kita tidak melarikan diri dari kenyataan-kenyataan pahit di dunia, kekecewaan, kemiskinan, kegagalan, kebodohan, dan apapun yang menjadi bagian hidup dari masa kini. Kita harus berhadapan dengan satu realisme. Korupsi harus dihadapi, bukan mengatakan bahwa nanti semua akan beres.

  2. Hope/Expectation
    Kita juga hidup dalam Hope/Expectation. Ada harapan bahwa dunia ini akan berubah menjadi lebih baik. Teologia Pembebasan adalah Teologia yang lahir dari perjuangan melawan kekuasaan yang keras. Teologia ini ada positif dan negatifnya. Salah satu contoh negatifnya adalah, dalam sebuah masyarakat yang terus berjuang tetapi terhalang oleh tembok yang besar. Akhirnya mereka frustrasi. Mereka kehilangan pengharapan. Kemudian muncullah fraksi-fraksi dimana fraksi ini membenarkan melakukan kekerasan demi kebenaran. Hal ini adalah pemikiran yang lahir dari hilangnya pengharapan bahwa Tuhan tidak mampu menjawab masalah dunia ini. Jangan heran mendengar bahwa di negara yang bergejolak, ada pastor yang terlibat pembunuhan tokoh partai. Mereka menggunakan dasar Alkitab Keluaran, dimana Allah menggunakan kekerasan untuk membawa bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Memang benar terjadi kekerasan, tetapi ingat, yang melakukan kekerasan adalah Tuhan dan bukan manusia. Teologia mereka berubah dimana mereka (manusia) yang melakukan kekerasan, bukan Tuhan. Jika Tuhan menggunakan kekerasan, Ia tahu apa yang pantas untuk diperlakukan dengan keras dan siapa yang perlu diperlakukan dengan keras. Jika manusia melakukan, siapa yang dapat mengatakan siapa yang akan dihukum.

    Masalah yang sama terjadi pada mereka yang melakukan jihad. Mereka berbuat atas nama Tuhan untuk menyerang kafir. Tetapi sesungguhnya siapakah yang dapat menentukan siapa kafir dan siapa yang tidak kafir. Penghukuman adalah milik Tuhan dan manusia tidak boleh mengambil alih

  3. Vocation and Calling
    Kita punya hidup dengan Vocation dan Calling. Calling menjadi saksi sampai ke ujung dunia. Hidup sebagai orang-orang yang mengejar apa yang akan Yesus hargai waktu kedatanganNya kedua kali.

Mari kita hidup hari ini dalam terang ‘hari itu’. Mari kita sadari bahwa sebenarnya ketika Yesus datang kedua kali, banyak rencana-rencana dan penantian manusia berakhir dan kosong, tidak ada artinya. Jika kita keluar mencari sesuatu yang bernilai pada waktu Yesus datang keduakali, maka kita adalah orang yang paling beruntung.
Soli Deo Gloria!









[Seri Jesus Christ 02-2007] Kingdom of GOD

[Kotbah Mimbar Bina Alumni Jumat, 16 November 2007 yang dibawakan oleh Denni B. Saragih]

Hari ini kita akan belajar mengenai topik Jesus Christ yang kedua, yaitu Kingdom of God. Kita akan mempelajari hal ini melalui bagian dari Firman Tuhan Markus 1:14-15.

Sewaktu kita berbicara tentang Tuhan Yesus, dan kita ditanya apa yang diperjuangkan oleh Yesus selama Dia ada di tengah-tengah dunia ini dan apakah Injil yang diajarkanNya kepada orang lain, apakah jawaban kita? Di sini saya mendaftarkan kata-kata doktrinal yang ada di Injil.

Kata/Konsep
Mat
Mark
Luk
Kerajaan Allah
50
15
39
Percaya, iman
24
20
26
Bapa
44
4
17
Kasih
12
8
16
Perumpamaan
17
13
18
Anak Manusia
26
14
24
Keselamatan
4
8
12


Mungkin banyak dari kita yang menduga bahwa apa yang paling penting adalah keselamatan. Tetapi dari daftar di atas, konsep yang paling banyak muncul, yang diajarkan oleh Tuhan Yesus selama Dia ada di tengah-tengah dunia ini adalah konsep Kerajaan Allah (bandingkan dengan konsep keselamatan yang muncul sebanyak 24 kali, konsep mengenai Kerajaan Allah muncul sebanyak 104 kali).

Jika kita tidak memahami dengan baik apa Yesus sedang ajarkan ketika Dia berbicara tentang Kerajaan Allah, mungkin kita akan kehilangan sesuatu yang amat penting, yaitu siapa Yesus dan apa misiNya datang ke dunia ini. Karena itulah, saya ingin mengajak kita merenungkan, apakah yang dimaksudkan Yesus dengan Kerajaan Allah? Bagaimana kita memahaminya? Bagaimana hal tersebut memiliki relevansi bagi kehidupan kita sebagai orang-orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus pada zaman sekarang ini?

Kerajaan Allah dalam pengajaran Yesus sangat sentral. Misalnya dalam Mat 13:16-17 : ”Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.” Dan contoh-contoh yang lain dapat kita lihat dalam Luk 10:23-24; Mark 14:25; Luk 17:20-21; Luk 4:18-21; Mat 8:11-12; Luk 13:28-29; Luk 16:16; Mat 11:4-6; Luk 7:22-23; Mat 6:10; Luk 11:2; Mat 11:12; Mark 2:19; Mat 9:15; Luk 5:34; Luk 11:20. Jika kita melihat Markus, dan kita setuju bahwa Injil Markus adalah Injil yang tertua, yang dituliskan oleh penginjil sebelum Matius dan Lukas, maka Yesus memulai pelayananNya dengan mengumumkan: ”Kata-Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" (Mark 1:15). Apa yang Yesus maksudkan dengan Kerajaan Allah? Yang paling menarik, dalam bahasa Inggris, frase ’waktunya telah genap’ adalah ’fulfilled’, yang berasal dari kata ’peplerotai’. Hal ini menunjukkan bahwa konsep ini sudah familiar. Artinya, sewaktu yesus mengatakan Kerajaan Allah sudah genap, hal ini berarti orang yang mendengarnya pada waktu itu tahu apa yang sedang dibicarakan.

Kita akan melihat satu bagian dalam PL yang berbicara tentang Kerajaan Allah. Mari melihat Yesaya 52:7-10: ”Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat dan berkata kepada Sion: "Allahmu itu Raja!" Dengarlah suara orang-orang yang mengawal engkau: mereka bersama-sama bersorak-sorai. Sebab dengan mata kepala sendiri mereka melihat bagaimana TUHAN kembali ke Sion. Bergembiralah, bersorak-sorailah bersama-sama, hai reruntuhan Yerusalem! Sebab TUHAN telah menghibur umat-Nya, telah menebus Yerusalem. TUHAN telah menunjukkan tangan-Nya yang kudus di depan mata semua bangsa; maka segala ujung bumi melihat keselamatan yang dari Allah kita."

Latar belakang dari bagian ini adalah konteks Kerajaan Israel. Di dalam Kerajaan Israel, ada raja. Tetapi sesungguhnya, raja itu adalah perwakilan dari YHWH yang adalah Raja sesungguhnya orang Israel. Itulah sebabnya, di tengah-tengah Yerusa- lem sebagai ibukota kerajaan, ada Bait Allah. Bait Allah ini menjadi simbol ”YHWH memerintah melalui baitNya”. Yang memerintah di seluruh Yerusalem sampai seluruh tanah Israel dengan menjadi Raja diantara orang Israel. Itulah sebabnya orang Israel memiliki konsep bahwa YHWH adalah Raja. Tetapi ketika Israel kalah berperang dengan bangsa kafir dan peralatan bait Allah dibawa keluar, ada semacam keraguan/depresi bagi orang Israel, dimana Tuhan mereka seolah-olah telah kalah dengan tuhan bangsa asing. Kemudian para nabi menjelaskan bahwa Allah tidak kalah melainkan mengizinkan bangsa Israel ditaklukkan bangsa Asing. Orang Israel sulit menerima penjelasan ini. Mereka sulit menerima karena, pertama, mereka adalah bangsa pilihan Tuhan yang seharusnya tidak akan kalah. Raja mereka adalah Raja alam semesta. Kedua, bangsa yang mengalahkan mereka adalah bangsa kafir, penyembah berhala. Bagaimana mungkin bangsa yang Rajanya adalah Tuhan kalah dengan bangsa kafir. Maka dalam bangsa Israel berkembang semacam konsep pengharapan bahwa suatu hari kelak, ketika mereka di buang ke negeri yang amat jauh, maka ada kabar baik ”Tuhan akan kembali menjadi Raja di Yerusalem.” Tetapi di dalam penglihatan Yehezkiel, ada penglihatan di tepi sungai Babilonia dimana nabi Yehezkiel melihat Allah menampakkan dirinya di sana. Bagi kita, mungkin hal ini tidak ada artinya. Tetapi bagi orang Israel, penglihatan ini merupakan hal yang luar biasa karena penglihatan akan Tuhan biasanya ada di dalam bait Allah di Yerusalem (bd Yes 6). Dan sekarang Tuhan terlihat di tepi sungai Babilonia. Hal ini berarti Allah telah meninggalkan Yerusalem dan Israel dan menampakkan dirinya bukan sebagai Allah orang Isreal, tetapi Allah yang berdiri di tepi sungai Babilonia. Hal ini melahirkan dan memberikan satu pengharapan, seperti yang diberitakan oleh para nabi, bahwa suatu saat Tuhan akan kembali. Dikatakan di dalam bagian Yesaya diatas: ”Sebab dengan mata kepala sendiri mereka melihat bagaimana TUHAN kembali ke Sion.” Dan dalam ayat 10 dikatakan: ”TUHAN telah menunjukkan tangan-Nya yang kudus di depan mata semua bangsa; maka segala ujung bumi melihat keselamatan yang dari Allah kita.”

Ini adalah pengharapan Kerajaan yang dimliki oleh orang Israel dan sangat jelas dicatat Yesaya. Mereka yang terbuang, suatu hari kelak, Tuhan akan kembali bersama dengan mereka dan menyelamatkan mereka dari bangsa-bangsa asing. Tuhan bukan hanya menyelamatkan, setelah itu Dia akan naik tahta di Yerusalem, di baitNya yang kudus. Dan dari sana dia akan memerintah seluruh dunia sebagai Raja dalam kerajaanNya selama-lamanya.

Sekarang kita akan melihat apa yang ingi di sampaikan Markus dalam bagian ini dan apa yang ingin dinyatakan Yesus kepada kita semua tentang apa yang Dia lakukan, apa misiNya, dan apa artinyadia membawa Kerajaan Allah di tengah-tengah dunia ini.

Makna Injil Kerajaan Allah

Mark 1:1 berbunyi demikian: “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.” Pengharapan Yesaya mengatakan “betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan berita baik,…”. Dan Yesaya mengatakan bahwa kabar baiknya itu adalah “Allahmu itu Raja!” Di dalam Injilnya, Markus mencatat bahwa kabar baik itu adalah Yesus. Jika kita memperhatikan Yesaya, maka dikatakan Allah itu menjadi Raja. Allah kembali ke Sion, yaitu Yerusalem, dan Allah dinyatakan ke segala bangsa. Oleh sebab itu Markus ingin menyatakan bahwa semua hal ini telah terjadi di dalam diri Yesus Kristus. Kerajaan Allah, dimana Allah menjadi Raja, telah dinyatakan melalui diri Yesus Kristus. Allah kembali ke Sion dan bertahta di sana, dinyatakan dalam diri Yesus kristus. Jika saudara tidak memahami Injil, mungkin saudara tidak tahu bahwa ketiga Injil bercerita mengenai perjalanan Tuhan yesus dari Galilea ke Yerusalem (hanya di Injil Yohanes yang tidak demikian). Pelayanan Tuhan Yesus merupakan satu garis lurus dari Galilea menuju Yerusalem. Disini Yesus membawa dalam diriNya, YHWH yang telah kembali ke Yerusalem dan bertahta di sana. Hal ini menjadi sangat luar biasa karena ketika Dia bertahta, Dia tidak duduk di atas singgasana Raja, melainkan membentangkan tanganNya dan mati tersalib, dan di atas salib itulah Dia naik tahta di Yerusalem. Hal ini adalah satu pembalikan makna yang luar biasa. Inilah yang dikatakan Markus dan hal ini menjadi sebuah kerajaan yang sungsang, yang memutar balikkan konsep dan pengharapan orang Yahudi dan juga bagi seluruh umat manusia. Kita juga menjadi bingung, mengapa dengan cara demikian Allah kembali. Tetapi bagi orang percaya, sesungguhnya di dalam diri Tuhan Yesus yang memberitakan Injil, menyembuhkan penyakit, dan mengajar orang banyak, berjalan berkeliling, sampai di salibkan, menunjukkan Allah telah kembali mengunjungi manusia. Allah bertahta dengan baik, Allah menyelamatkan Israel dari musuh-musuhNya. Oleh sebab itu kita menjadi percaya kepada Injil, yang menurut Paulus adalah kebodohan bagi orang Yunani dan batu sandungan bagi orang Yahudi.

Injil inilah yang diberitakan Yesus dalam Kerajaan Allah, dan Kerajaan Allah ini, pada bagian pertama setelah Yesus memberitakan ayat 14 dan 15 tadi, adalah Kerajaan Allah yang mengubah prioritas manusia (Mark 1:16-20). Dalam bagian ini, kita bisa memperhatikan bagaimana setelah Yesus mengatakan Kerajaan Allah sudah dekat, Dia mengabarkannya. Dia memanggil orang dan Ia menghadirkan Kerajaan Allah melalui panggilan pemuridan. Dia berkata: ”...kamu akan kujadikan penjala manusia.” (17). Penjala ikan diubah menjadi penjala manusia. Pada bagian berikutnya, Yesus memanggil Simon dan Andrea, Yohanes dan Yakobus, dan setelah itu, orang-orang yang dipanggil meninggalkan jalanya, keluarganya dan hartanya lalu kemudian mengikut Yesus (18). Ketiga hal di atas: jala, keluarga, dan harta, adalah simbol dari tiga hal yang mendasar dalam hidup manusia. Jika kita bertanya kepada seseorang apa tiga hal yang paling penting dalam hidupnya, dia akan menjawab pekerjaan, keluarga, dan kekayaan. Untuk pekerjaan, kita bisa menghabiskan banyak waktu lebih kita. Sehingga waktu untuk keluarga lebih sedikit dibandingkan dengan waktu untuk bekerja. Tetapi sepenting apa pun pekerjaan, jika keluarga kita sakit, maka kita akan memilih keluarga kita. Dan dengan kekayaan, kita dapat menjadikan diri kita setidaknya memiliki kebebasan. Bebas untuk belanja kemana dan bebas untuk pergi kemanapun. Pada beberapa orang, harta juga adalah martabat dan harga diri, dan hal ini sering terjadi pada alumni dimana alumni yang kerjanya lebih mapan nampak lebih percaya diri dibandingkan dengan alumni yang belum mapan kerjanya.

Ketika Yesus datang ke tengah-tengah dunia ini, bertemu dengan murid-muridNya, maka Dia menghadirkan Kerajaan Allah. Dan Kerajaan Allah itu hadir di tengah-tengah murid-muridNya, maka Kerajaan Allah itu menjungkirbalikkan apa yang utama bagi manusia. Mereka meninggalkan kerja, keluarga dan harta dan mengikut Yesus. Yesus dan KerajaanNya menjadi sesuatu yang lebih penting. Kerajaan Allah membawa kita pada satu tata nilai yang baru, yang diukur dengan cara apakah hal tersebut membawa kita pada satu kesetiaan kepada satu pribadi yang bernama Yesus Kristus. Dan di dalam dunia ini, kita juga harus diinspirasi dengan kenyataan bahwa Yesus menjadi definisi utama dari apa artinya kerja, keluarga, dan kekayaan. Inilah artinya Kerajaan Allah masuk dalam diri anda dan saya dan Kerajaan Allah meredefinisi bagi kita akan siapakah prioritas tertinggi dalam hidup kita.

Pada ayat 20-28, kita dapat melihat gambaran dimana sewaktu Yesus memberitakan tentang Kerajaan Allah, Yesus mengusir setan-setan. Dan sewaktu mengusir, roh itu mengguncang-guncang orang yang dirasukinya dan sambil menjerit (26). Orang-orang menjadi takjub. Apa yang mau digambarkan di sini adalah dengan kedatangan Yesus Kristus, maka Kerajaan Allah menggusur kerajaan kegelapan dan kerajaan setan dari tengah-tengah dunia ini. Kerajaan Allah tidak hanya mengubah hidup manusia dan menggusur kerajaan ego yang ada di dalam manusia, melainkan Kerajaan Allah juga menggusur kuasa kegelapan yang menguasai dunia Yahudi pada saat itu. Di sini digambarkan bahwa Yesus yang adalah kehadiran YHWH itu berkuasa dalam pengajaranNya. Ketika IA mengajar, orang-orang menjadi takjub. Kemudian Ia mengusir setan dengan segala kuasa. Dunia orang Yahudi terkorupsi oleh kuasa kegelapan yang merasuki dalam rupa-rupa roh jahat. Kita juga harus mengetahui bahwa sampai sekarang pun masih banyak roh-roh jahat dengan strategi yang berbeda tentunya. Dunia modern tidak asing lagi dengan kuasa kegelapan yang merasuki masyarakat manusia. Kuasa kegelapan tersebut mengambil bentuk baru yaitu dalam bentuk korupsi, pemerasan dan ketidakadilan. Kerajaan Allah hadir untuk menggusur bentuk-bentuk kuasa kegelapan yang ada di sekeliling kita yang telah mengambil wajah baru, di mana setan-setan berkuasa dan mungkin sangat sulit untuk diusir dan ditengking. Di dalam nama Yesus, kita harus berjuang mennentang kuasa kegelapan yang mencengkeram masyarakat modern pada zaman sekarang ini. Biarlah hidup kita sebagai pengikut Yesus menjadi simbol dari kehadiran Kerajaan Allah, bahwa dimana kita berada, sama seperti Yesus yang kehadiranNya menggusur kuasa kegelapan, maka kehadiran kita pun harus menggusur praktek-praktek korupsi dimanapun kita berada. Biarlah juga kehadiran kita menjadi simbol perlawanan terhadap pemerasan mulai dari yang ebsar sampai yang terkecil. Mungkin kita tidak menyadari bahwa sebenarnya ongkos sudako di Medan adalah Rp. 2400,-. Tetapi sering sekali supir sudako memotong uang kita sebanyak Rp.2500,-. Ini adalah salah satu contoh dari bentuk pemerasan yang mungkin kita tidak sadari dan akhirnya membiarkan hal tersebut terjadi dan kita terlibat di dalamnya. Bukan berarti kita menjadi orang yang ’cerewet’ dan pelit, tetapi kita tidak boleh membiarkan hal ini terjadi begitu saja. Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang hanya berdiam diri dan tidak menyadari bahwa hal-hal yang demikian bahkan ketidak- adilan terjadi di sekeliling kita. Kita harus berbuat/menyuarakan sesuatu untuk hal-hal seperti ini. Dalam banyak kasus, banyak para guru yang tidak digaji dengan adil. Hanya ada dua pilihan, pertama, berdiam diri dan pasrah. Kedua, kita terjun dan menyuarakannya. Mungkin hasilnya tidak banyak. Tidak apa-apa. Perjalanan yang beribu-ribu mil jauhnya, diawali dengan sebuah langkah pertama. Mungkin apa yang kita lakukan adalah langkah pertama. Mungkin kita tidak bisa mengubah manusia yang rusak dan katakanlah yang hancur 70% menjadi bersih sama sekali. Jika di dalam sebuah gelas ada air yang kotor 70 %, mungkin kita tidak bisa mengubahnya menjadi bersih sama sekali. Tetapi jika air kotor itu berubah dari 70% menjadi 69%, apakah warnanya berubah? Apakah kandungan racunnya berubah? Jawabannya tidak. Tetapi, adakah sesuatu yang terjadi? Ada, yaitu air telah berubah dari kekotoran 70 % menjadi 69%. Inilah tugas kita. Kita harus menyuarakan Kerajaan Allah di tengah-tengah dunia dimana kegelapan.

Kerajaan Allah juga melenyapkan segala jenis penyakit (29-34). Dalam bagian ini digambarkan Kerajaan Allah ada pada saat Yesus memegang tangan mertua Petrus dan menyembuhkannya. Dia juga menerima banyak orang dari seluruh kota dan menyembuhkannya mereka. Dunia Yahudi penuh dengan bahaya penyakit karena di dunia ini tidak mengenal ilmu kedokteran modern seperti sekarang ini. Sebaliknya, dunia orang modern telah mengatasi berbagai jenis penyakit, tetapi orang modern juga mengalami rasa sakit. Rasa sakit yang muncul karena mengejar kenikmatan yang tidak ada habis-habisnya. Rasa sakit yang muncul karena ketamakan yang tiada kenal batas, dan rasa sakit karena kesepian yang tidak tertolong dari jeritan jiwa dari manusia modern. Kita dipanggil menjadi warga Kerajaan Allah untuk memberitakan bahwa Yesus berkuasa untuk mengobati dan menyembuhkan penyakit-penyakit yang manusia alami. Yesus bekuasa memberikan kebebasan dalam bentuk yang berbeda. Kerajaan Allah mampu mengadirkan perasaan dimana mulai dari ujung rambut dan ujung kaki, semuanya Haleluya.

Ini adalah satu gambaran dari satu kerajaan yang menerobos masuk ke dalam hidup manusia dan merubah dari apa yang menjadi keinginan-keinginan kita, kesombongan-kesombongan kita, persoalan kita, dibebaskanNya. Ketika kita diperdamaikan dengan Allah, diperdamaikan dengan sesama, dan diperdamaikan dengan diri sendiri, maka kita akan mengalami pemulihan yang total dai berbagai macam ’penyakit-penyakit’ yang dialami oleh orang modern. Yesus hadir untuk membawa Kerajaan yang demikian.

Marilah kita mempersiapkan diri kita untuk menghadapi perayaan Natal dengan mengingat bahwa Dia datang untuk menyatakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percaya kepada Kristus. Percayalah kepada Yesus yang membawa Kerajaan Allah, bukan kepada kerajaan Bill Gates yang mengabarkan teknologi atau kerajaan lainnya. Yesus adalah Kerajaan Allah yang terselubung. Yesus dan Kerajaan Allah mengubah tujuan dan makna hidup manusia. Yesus dan kerajaan Allah mengubah dengan kuasa kegelapan manusia. Yesus dan Kerajaan Allah mengubah penyakit dan kelemahan manusia.

Dia bertanya: ”Maukah engkau percaya? Bertobatlah dan datang kepadaKu? Sebab Kerajaan Allah telah tiba.”

Soli Deo Gloria!