Tuesday, July 3, 2012

Doktrin Roh Kudus 3: Karunia Roh

[Kotbah ini dibawakan oleh Danny Philip Bukitz pada ibadah MBA, Jumat 1 Juni 2012]


LATAR BELAKANG JEMAAT DI KORINTUS
Jemaat Korintus bukan jemaat yang ideal seperti Efesus dan Filipi. Justru jemaat ini banyak mengecewakan Paulus. Berbagai dosa ada di dalamnya (perpecahan, perzinahan, menuntut sesama Kristen di pengadilan, dsb.). Hampir semua masalah yang timbul dalam jemaat Korintus berhubungan langsung dengan latar belakang kehidupan kota Korintus. Perzinahan, yang dilakukan beberapa warga jemaat, jelas masih berhubungan dengan perzinahan sakral yang dipromosikan para pelacur kuil penyembahan Venus. Demikian pula keasyikan mencari berbagai karunia masih berhubungan dengan gairah menyombongkan diri dari warga kota yang mementingkan hikmat itu.

Berdasarkan I KOR 1:7, menyatakan bahwa Jemaat Korintus merupakan jemaat yang kaya akan Karunia Roh tetapi bermasalah dalam pemahaman dan penggunaannya.

I KORINTUS 12:1-12
Dalam kitab 1 Korintus ini, kita menemukan bahwa kata ‘now about’ diulang sebanyak tiga kali (7:1, 8:1, 16:1) Artinya, ini adalah bagian yang sangat penting yang ingin Paulus sampaikan kepada Jemaat di Korintus. Paulus ingin menjelaskan tentang kebenaran akan Karunia Roh (ay 1). Sebab bisa terjadi bahwa apa yang mereka hayati seolah-olah pengalaman, Kristen, namun di baliknya terjadi semacam sinkretisme. Bukankah gejala yang tampak bukan jaminan bahwa hal itu pasti benar? Sering kita menemukan bahwa "gejala-gejala adi kodrati" juga bisa pula dibuat oleh para dukun dalam penghayatan iman yang berbeda dari orang Kristen. Bagaimana kita menilai suatu pengalaman rohani, benar atau salah adalah dari sumbernya, bukan dari gejalanya!

Paulus membedah tajam bahwa semua gejala adikodrati yang bisa diberi oleh berbagai sistem penyembahan non-Kristen pada dasarnya adalah berasal dari Iblis. Bagaimana mungkin berhala yang bisu, alias mati, dapat "menarik" orang sehingga "tanpa berpikir" mereka diikat oleh kepercayaan sia-sia itu. Jelas, iblislah yang menipu dan menggelapkannya dengan berbagai gejala serba meyakinkan! Paulus juga menekankan bahwa karya utama Roh Kudus ialah memuliakan Yesus. Mengakui Yesus untuk jemaat abad pertama jauh berbeda dari kita sekarang. Mengaku Yesus adalah Tuhan berarti meresikokan hidup. Maka bukan sekedar ucapan bibir yang disinggung Paulus di sini, tetapi sikap iman yang bulat, ketahanan menderita, kesediaan menjalani konsekuensi kemuridan kita.

Adanya Pengaruh Roh Zaman yang begitu kuat menarik orang Korintus (ay 2). Dan penyembahan berhala dan hal-hal yang menyebabkan mereka terpengaruh secara pribadi maupun sosial.

KARUNIA-KARUNIA ROH
Sumber karunia-karunia Roh adalah Allah Tritunggal (4-6), bukan hanya Roh Kudus tetapi dalam bagian ini dinyatakan bahwa karunia-karunia Roh berasal dari Allah Tritunggal melalui Roh Kudus yang ber-subordinasi dengan Roh Kudus. Ini merupakan pekerjaan Roh Kudus tetapi bukan berarti Allah Anak dan Bapa tidak berperan dalam hal ini.

Ketika kita memahami bahwa sumber dari Karunia-karunia Roh yang bersumber dari Allah Tritunggal yang Esa dalam kepelbagaian. Inilah yang menyebabkan karunia-karunia berbeda namun satu dalam Tubuh Kristus. Sama halnya dengan sumbernya demikian juga karunia-karunia yang dimiliki oleh Gereja demikian juga kita sadar ini adalah bagian penting untuk terus membangun Tubuh Kristus dan kemuliaan Kristus.
Tujuan dan kepentingan dari karunia-karunia ini hadir adalah untuk pembangunan tubuh Kristus di dunia. Semua karunia sangat penting sehingga tanpa ada karunia yang satu akan bermasalah dengan Gereja.

HAKEKAT KARUNIA-KARUNIA ROH
Paulus menggunakan empat istilah untuk menyingkapkan hakekat karunia-karunia Roh. Karunia-karunia Roh, pertama sekali harus dilihat sebagai karunia, bukan sebagai kebolehan pribadi yang dapat dijadikan alasan untuk menonjolkan diri. Allah, Pemberi karunia itulah yang harus diagungkan, dibanggakan dan dimuliakan. Kedua, karunia adalah pelayanan. Pemberian karunia bukan dengan fokus kepentingan si penerima karunia. Karunia diberikan dengan fokus kepentingan orang lain. Penerima karunia adalah alat penyalur berkat Allah kepada orang lain, Ketiga, karunia adalah perbuatan ajaib. Keajaiban Allahlah yang menyebabkan pelayanan kita menghasilkan buah Injil, perubahan hidup, dlsb. Dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan ajaib ini, tidak selalu Allah akan membangkitkan kemampuan-kemampuan baru dan mem-by-pass kemampuan-kemampuan alami kita. Bisa juga Allah memberi efektivitas baru, mutu dan dampak baru pada kapasitas natural kita yang notabene dari Dia juga asalnya. Keempat, karunia-karunia Roh adalah "penyataan" Roh yang dalam kebersamaan menyebabkan kita lebih jelas menghayati realita Allah dan kemuliaan-Nya.

Jika kita perhatikan surat Paulus kita melihat bahwa surat I Korintus ini adalah pembeberan aspek-aspek peran Roh Kudus yang memuliakan Kristus. Dalam pasal 1Kor 12, Kristus dimuliakan Roh Kudus dalam persatuan dan keberbagaian gereja. Dalam pasal 1Kor 13, dalam kasih dan perangai Kristus terwujud dalam kehidupan orang beriman. Dalam pasal 1Kor 14, melalui pelaksanaan karunia-karunia Roh sesuai tujuan pembangunan kehidupan bergereja.

MACAM-MACAM KARUNIA
Ada sembilan jenis karunia Roh disinggung Paulus dalam 1Kor 12:8-11. Kata-kata hikmat, kata-kata pengetahuan, iman, karunia untuk menyembuhkan, kuasa mengadakan mujizat, nubuat, membedakan macam-macam roh, bahasa roh dan menafsirkan bahasa roh. Untuk sementara kita hanya akan menyoroti 6 karunia saja. Tiga lainnya kita tunda sampai pembahasan tentang masing-masingnya lebih diteropong Paulus dalam pasal 1Kor 14.


  1. Karunia kata-kata hikmat. Contoh paling jelas tentang karunia jenis ini kita saksikan pada Salomo ketika menyelesaikan kasus perebutan bayi. Juga pada Yesus ketika dipojokkan orang Farisi dalam kasus perempuan yang tertangkap berzinah. Karunia ini rupanya diberi Tuhan sewaktu-waktu pada saat dibutuhkan.
  2. Karunia kata-kata pengetahuan. Ketika Petrus menghadapi kasus Ananias, tiba-tiba dia mendapatkan karunia berkata-kata dengan pengetahuan itu. Karunia ini sering muncul dalam konteks khotbah atau konseling, tatkala Tuhan memberikan karunia sehingga kata-kata kita mengandung pengetahuan tentang keadaan dan kebutuhan pendengar kita.
  3. Karunia iman. Yang dimaksud di sini bukan karunia iman yang dimiliki setiap orang beriman sebagai syarat keselamatannya. Bukan pula optimisme seperti yang banyak dianut orang masa kini. Karunia ini adalah kemampuan untuk melihat janji dan rencana Allah dalam suatu situasi tertentu. Karunia ini bisa berhubungan dengan dua karunia berikutnya (kesembuhan dan mujizat) seperti yang ditunjukkan dalam 1Kor 13:2b. Kisah pelayanan George Muller menunjukkan bahwa dia dikaruniai iman untuk hal-hal yang dibutuhkannya dalam pelayanannya. Kita harus hati-hati terhadap buku-buku semacam yang ditulis oleh Cho Yonggi. Sebab dikesankan seolah-olah siapa Baja boleh memiliki iman untuk meminta dan mendapatkan apa Baja yang dia inginkan. Karunia iman adalah karunia. Maka tidak semua orang memilikinya. Permohonan doa adalah permohonan, maka tidak boleh dijalani seolah mendikte dan menggurui Tuhan!
  4. Karunia untuk menyembuhkan. Baik karunia maupun penyembuhan, keduanya ditulis dalam bentuk jamak, maka lebih tepat bila disebut "karunia-karunia berbagai jenis penyembuhan". Bila demikian bisa diartikan bahwa ada berbagai kesembuhan bisa terjadi atas berbagai sakit atau gangguan, bisa kesembuhan fisik, jiwa, sosial, dlsb. Tuhan Yesus pun beberapa kali melakukan penyembuhan berdampak multi aspek. Misalnya, ketika menyembuhkan orang kusta, Dia menyembuhkan dulu mentalnya dengan menyentuh si kusta, lalu fisiknya dengan ucapan-Nya, dan akhirnya sosialnya dengan menyuruhnya pergi meminta peneguhan imam. Di pihak lain ada berbagai karunia untuk penyembuhan. Maka tidak boleh kita menutup kemungkinan bagi penyembuhan dengan kuasa Ilahi dengan hanya menekankan proses penyembuhan medis. Juga tidak boleh kita merendahkan proses penyembuhan medis dengan hanya menekankan kesembuhan Ilahi.
  5. Kuasa untuk mengadakan mujizat. Kuasa dan mujizat keduanya berakar pada kata-kata yang menampung makna kuasa (energemata dynameon). Penekanan ganda ini menunjuk kepada kuasa adikuasa yang dibutuhkan untuk menundukkan kuasa-kuasa besar yang melampaui kekuatan manusia, yaitu kuasa untuk mengusir setan.
  6. Karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Melihat mungkinnya terjadi suatu gejala mujizat atau suatu pengajaran tidak berasal dari Tuhan, diperlukan karunia yang memampukan orang untuk membedakan siapa sumber sebenarnya.

Semua karunia ini jelas perlu, sebab diberi Tuhan untuk kepentingan pembangunan jemaat dan perluasan Injil Yesus Kristus. Tetapi dapatkah atau haruskah tiap orang menerima karunia yang sama seperti yang diinginkannya?

Pada kalangan Karismatik sering diajarkan bahwa apabila kita telah dibaptis Roh Kudus, maka semua karunia yang memang berasal dari Roh Kudus, seharusnya ada dan dapat dimiliki oleh orang bersangkutan. Ayat 1Kor 13:11 menolak pandangan ini. Memang semua karunia tadi dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama. Tetapi tiap-tiap (lawan dari kata semua) diberikan karunia secara khusus seperti yang dikehendaki-Nya. Spesialisasi atau kekhususan masing-masing dalam rencana Allah dan kedaulatan Roh dalam memberi karunia tidak memungkinkan kita memiliki semua karunia secara pukul rata. Pembicaraan berikut akan memperjelas ajaran Paulus ini.

TO BE CONTINUED
Keesaan Dan Keberbagaian Dalam Jemaat (I Kor. 12:12-31)
Kesatuan Kristen adalah salah satu mujizat terbesar yang Allah buat dalam dunia ini setiap hari! Tidak peduli dari latar belakang agama (Yahudi dan non-Yahudi) dan sosial (merdeka dan budak) macam apa pun kita berasal, kita adalah satu. Satu tubuh dikarenakan satu Tuhan dan satu Roh. Keesaan gereja yang bersumber pada ke-Esa-an Allah ini lebih jelas dibeberkan dalam Ef 4:4-6. Satu Tuhan, satu Roh dan satu Bapa, sumber dari kesatuan penghayatan Kristen kita; satu panggilan, satu iman, satu baptisan dan satu pengharapan. Kesatuan itu dihayati Kristen melalui dua pengalaman yaitu baptisan dan perjamuan kudus. Baptisan Roh karena itu, bukan pengalaman kedua seperti yang diajarkan Gerakan Karismatik, tetapi pengalaman dasar kekristenan kita. Itulah baptisan Roh yang menjadikan seseorang bagian dari Tubuh Kristus. Di Efesus karya Roh Kudus ini dijelaskan dengan dua aspek yaitu: meterai Roh dan jaminan Roh. Bagaimana pun kita mengartikan keduanya, jelas keduanya berhubungan dengan peristiwa keselamatan kita di dalam Kristus.

Kalau diperhatikan baik-baik bagian ini ditandai oleh silih ganti permainan kata antara satu dan banyak. Keduanya harus dihayati selaras, bila tidak akan timbul bahaya. Pertama "inferioritas" rohani menyebabkan seseorang memisahkan diri dari tubuh Kristus karena menjadikan keadaan rohani orang lain menjadi ukuran bagi dirinya. Kedua, "superioritas" rohani menyebabkan sementara pihak menjadikan dirinya ukuran bagi pengalaman dan keadaan rohani orang lain dan meremehkan mereka. Keduanya tidak benar. Keduanya akan menghancurkan kesatuan Kristen kita. Dalam kasus pertama (15-20) terjadi kecenderungan untuk merubah kesatuan menjadi keseragaman. Akibatnya, hilanglah fungsi keseluruhan tubuh Kristus. Dalam kasus kedua terjadi kecenderungan perpecahan. Dalam tubuh kita ketahui bahwa organ yang bertumbuh melampaui batas menjadi tumor atau daging lebih yang merusak dan mengancam kehidupan kebersamaan.
Dari pembahasan sejauh ini jelaslah bahwa karunia-karunia yang kita terima dari Allah berbeda pada masing-masing individu. Keberbagaian itu terpulang pada kedaulatan Allah dan pada kekhususan masing-masing kita dalam rencana-Nya. Dua hal ini menyebabkan tubuh Kristus dapat berfungsi penuh. Tanpa adanya perbedaan karunia dan fungsi pelayanan, tidak mungkin terjadi keesaan yang harmonis, kreatif, indah, dan kaya.

Karunia Yang Utama (I Kor 13)
Kita melihat bahwa 1Kor 13 (pengajaran tentang kasih) ada diantara 1Kor 12 dan 1Kor 14 (pengajaran tentang karunia). Hal ini bermakna bahwa 1Kor 13 ini adalah kunci untuk kita mengerti kedua pasal lainnya itu. 1Kor 12:31 seharusnya dibaca dalam konteks 1Kor 13, demikian pula 1Kor 14:1.

Jelas-jelas dalam pasal 1Kor 13 ini Paulus "meremehkan" semua karunia yang ditonjol-tonjolkan orang Korintus, bila tidak disemangati oleh karunia yang utama yaitu kasih. Bila tidak ada kasih, apa akibatnya? Pertama, semua karunia-karunia bahasa roh yang serba canggih itu menjadi sekedar gong dan canang yang mengganggu. (Para penyembah berhala di Korintus kemungkinan menggunakan kedua alat ini untuk menarik para pemuja berhala menyembah di kuil-kuil mereka). Kedua, segala karunia nubuat, rahasia, pengetahuan dan iman, menjadi sia-sia atau tak bernilai. Ketiga, semua pengorbanan dan perbuatan baik hanya show yang mementingkan penonjolan diri belaka.

Kasih yang dibicarakan Paulus di sini tidak diuraikan dalam bentuk definisi tetapi dalam bentuk aksi. Kita perlu mengingatkan diri kita terus bahwa Kekristenan harus dihayati secara konkrit dan praktis. Apa yang kita pelajari dari uraian Paulus tentang kasih? Pertama, kasih Kristen adalah kasih yang beraksi dalam hubungan-hubungan nyata: sabar dan murah hati. Kedua, kasih adalah lawan dari sifat-sifat. buruk kita. Kasihlah yang menyebabkan kita tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ketiga, kasih mampu membuat kita mengatasi diri dalam menghadapi sifat-sifat buruk orang lain. Kasih membuat kita tidak pemarah, tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak sukacita dalam ketidakadilan tetapi dalam kebenaran. Akhirnya sifat kasih itu kekal. Ia tidak dikalahkan oleh keadaan tetapi justru mengatasinya. Ia menutupi (bukan menutup-nutupi) segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu, tidak berkesudahan.

Jelaslah bahwa yang Paulus maksud bukan kategori kasih manusia tetapi kasih Allah. Kasih melampaui tiga karunia yang diunggul-unggulkan orang Korintus: nubuat, bahasa lidah dan pengetahuan. Paulus menantang orang Korintus untuk menjadi dewasa. Orang yang masih kanak-kanak secara rohani akan bertindak pula seperti seorang anak kecil, bertengkar, pecah, berebut karunia-karunia roh dsb. Orang yang dewasa imannya akan meninggalkan sifat-sifat demikian.

Karunia Bernubuat
Di kalangan penafsir ada dua pendapat berbeda tentang nubuat. Yang pertama mengartikan nubuat sebagai uraian Firman atau khotbah. Artinya, karunia ini kini diberikan pada para pengkhotbah. Kedua, mengartikan karunia nubuat sebagai kata-kata yang membeberkan rahasia-rahasia kehidupan dan masa depan seseorang. Artinya semacam kemampuan meramal.

Tafsiran pertama agak sulit diterima sebab Paulus menganjurkan supaya sebanyak orang memiliki karunia nubuat. Bila nasehat ini benar-benar dipraktekkan, dalam satu pertemuan semua orang berkhotbah, apa yang terjadi? Kekacauan! Tafsiran kedua pun sulit diterima. Sebabnya, dalam PL dan PB sedikit petunjuk bahwa nubuat ditujukan untuk masalah-masalah pribadi. Semua nubuat adalah menyangkut bangsa (Israel) dan Mesias. Sebab kedua, kanon Alkitab sudah selesai. Allah menginginkan supaya anak-anak-Nya menggumuli masalah-masalah kehidupannya sehari-hari dalam prinsip pemahaman Alkitab yang dipelajarinya. Allah ingin agar masalah-masalah kita diputuskan sendiri dengan akal yang diterangi Firman.

Ada dua petunjuk dapat kita gunakan untuk menafsir arti nubuat di sini. Pertama tujuan nubuat (#1Kor 14:3) ialah untuk membangun, menasihati, dan menghibur. Demikianlah sifat isi nubuat yang Paulus maksudkan. Kedua, kemungkinan disampaikan dalam konteks jemaat atau persekutuan rumah tangga (1Kor 16:19).

Bagaimanakah karunia nubuat ini dapat kita miliki, bila Paulus menganjurkan agar kita berusaha memperolehnya? Yes 50:4-6 memberi kita petunjuk bahwa faedah kenabian terjadi bila orang bersangkutan mendisiplin diri "mendengar Firman Tuhan" tiap hari. A.W. Tozer pernah memberi nasehat berikut: "Dengarkanlah orang yang mendengarkan Allah." Jelas dari sini bahwa karunia nubuat ini sulit dipahami sebagai ramalan atau kemampuan-kemampuan untuk membeberkan rahasia orang dsb. Karunia ini adalah penyampaian nasehat-nasehat Firman Tuhan kepada jemaat dengan dampak membangun, menasehati, dan menghibur. Yang pertama menunjuk pada dampak pembangunan kehidupan jemaat. Jelas tidak ada tempat bagi nubuat-nubuat privat. Yang kedua menunjuk pada fungsi supervisi seperti yang dilakukan Roh Kudus (istilah yang digunakan ialah paraklesis dekat dengan parakletos = Roh Penghibur). Yang ketiga membawa dampak peredaan ketakutan atau menenangkan orang yang sedang dalam tekanan hidup.

Bahasa Lidah: Anjuran Atau Batasan?
Dalam bagian ini jelas pula bahwa Paulus mengunggulkan karunia nubuat sambil di lain pihak membatasi karunia bahasa roh. Paulus menunjuk pada tiga kekurangan bahasa roh. Pertama, bahasa roh kurang dalam kejelasan, karena itu kurang bermakna (6-11, 16-17, 23). Bahkan untuk si pembicara sendiri apa yang diucapkannya itu tidak jelas. Karena itu penggunaannya di tengah jemaat harus dibatasi. Batas pertama ialah harus ada terjemahannya. Batas kedua, bila ada terjemahannya, hanya boleh dibawakan paling banyak dua atau tiga orang saja. Kekurangan kedua ialah dalam keutuhan diri orang bersangkutan (13-17, 19-21). Tegasnya yang berdoa dengan bahasa roh membuat akalnya tidak berfungsi. Padahal ciri doa Kristen beda dari doa-doa agama kafir yang rnengalami trance, ekstase dsb. Ciri doa Kristen ialah berjaga-jaga dan jelas mendoakan objek doanya (Contoh lihat Ef 6:18-20; Dalam bagian ini Paulus mengaitkan berdoa dalam Roh dengan soal berjaga-jaga dan secara jelas mendoakan dia dengan pokok-pokok permintaan yang jelas pula). Itu sebabnya Paulus ingin agar berdoa dalam bahasa roh dan dalam akal, supaya terjadi keseimbangan dan keutuhan diri. Paulus ingin agar semua orang Kristen dewasa dalam pemikiran (20). Tekanan ini dikonfirmasikan jelas dalam Rom 12:2 dan Mat 22:37. Dalam hal ini tekanan berbahasa lidah dalam Gerakan Karismatik sering seirama dengan tekanan anti intelektual dalam filsafat-filsafat masa kini. Kekristenan tidak meremehkan akal, tetapi menaklukkan dan mengisi akal dengan prinsip iman. Kekurangan ketiga ialah dampaknya yang negatif pada orang bukan Kristen (16-17, 21-25). Dalam hal ini bahasa lidah menjadi tanda bagi yang tidak beriman. Artinya, bila orang belum beriman menghadiri kebaktian yang diwarnai dominan oleh bahasa lidah, mereka akan dibuat menjadi makin tidak beriman. Mengapa? Karena pada intinya yang mereka temui tidak ada bedanya dari yang mereka sudah alami dalam agama-agama kafir mereka sebelumnya.

KESIMPULAN
1Kor 12; 13; 14, jelas dimaksudkan Paulus sebagai batasan terhadap jemaat yang telah menyalahgunakan praktek-praktek karunia-karunia Roh. Allah Tritunggal sebagai sumber pemberi, Roh Kudus bekerja dalam sub-ordinasi dengan Allah Bapa dan Anak. Karunia diberikan untuk memuliakan Sang Pemberi Karunia-karunia Roh. Beragam untuk membangun Gereja.

IMPLIKASI
Hati-hati terhadap dua ekstrim. Pertama, bahaya pertama ialah terlalu terbuka (sampai jatuh kepada kekacauan, perpecahan, peniruan, sugesti bahkan tipuan iblis). Kedua, bahaya kedua ialah tertutup pada pekerjaan Roh Kudus (jangan sampai gereja/ Persekutuan Kristen menjadi seperti ban kehabisan "pneuma" ).

Doktrin Roh Kudus 2: Baptisan dan Kepenuhan Roh

[Kotbah ini dibawakan oleh Danny Philip Bukitz pada ibadah Mimbar Bina Alumni, Jumat 25 Mei 2012]

Berbicara tentang tema ini merupakan hasil dari isu-isu tentang baptisan dan kepenuhan. Ada pandangan yang menyatakan bahwa baptisan dan kepenuhan adalah hal yang sama. Di awalai dengan  baptisan Roh kemudian dimanifestasi melalui bahasa-bahasa Roh atau karunia-karunia Roh, dan keadaan inilah yang disebut dengan kepenuhan Roh. Ada pandangan tentang baptisan dan kepenuhan yang akhir-akhir ini cukup banyak terdengar orang memberikan kesaksian bahwa mereka telah mengalami kelepasan yang baru, mendapatkan sukacita yang tak terhingga setelah mereka merasakan "pengalaman kedua," "berkat tambahan" di luar pengalaman kelahiran baru ketika menerima Kristus sebagai Juruselamat. Tuhan menjadi lebih dekat dan lebih nyata, kedamaian yang dirasakan datang berlipat ganda, kuasa dan kemenangan selalu menjadi berita yang hangat setelah mendapatkan sentuhan dari Roh Kudus, demikian pengakuan mereka.
Pengalaman tersebut menjadi lebih kontras apabila dibandingkan dengan sebagian gereja yang mengalami kelesuan, kekuranggairahan, lunturnya kasih jemaat, kehilangan kuasa dan kemenangan, dan sebagainya. Dari sisi lain boleh di kata bahwa sebenarnya pengalaman mistis ini juga secara langsung merupakan reaksi internal terhadap gejala formalisme, dogmatisme, hirarkisme, tradisionalisme serta institusionalisme yang memang kerapkali sedikit banyak dapat kita jumpai di dalam gereja. Ini menjadi perdebatan dan masalah bagi dua kubu ini. Permasalahan ini karena kurang memahami tentang Baptisan dan kepenuhan.

PENGERTIAN BAPTISAN
Baptisan berasal dari kata Baptisma, merupakan tindakan dari pencuciaan atau memasukan kedalam air. Sebagai simbol penyucian, pembersihan. Simbolisme yang sering di lakukan oleh orang-orang di perjanjian lama. Ini adalah suatu tanda setiap orang yang masuk dalam komunitas baru. Baptisan juga memiliki pengertian sebagai tanda pertobatan seseorang, dari kehidupan yang lama untuk mendapatkan kehidupan baru. Baptisan ini digunakan oleh Yohanes ketika menyambut kedatangan Tuhan Yesus.
Baptisan biasanya disebut sebagai inagurasi dimana seseorang mempercayai tentang keselamatan di dalam Yesus. Bukan masalah baptisannya tetapi proses pekerjaan Roh kudus yang merupakan hal yang penting. Sama seperti orang wisuda bukan wisudanya yang membuat seseorang lulus kuliah, tetapi proses belajar dan ketekunan seseorang melewati studi itu. Sebuah inagurasi penting untuk menjadi pengingat tetapi bukan itu menentukan segalanya. Bapisan adalah symbol bagaimana dia diselamatkan.

BAPTISAN ROH KUDUS
Baptisan Roh Kudus secara langsung disebut dalam Alkitab 7 kali di Perjanjian Baru[1]. Pemunculan istilah ini yang pertama dalam Mat. 3:11(“Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api”) dan sama persis digunakan dalam Mark 1:8; Luk 3:16 dan Yoh 1:31-33. Ke empat ayat itu semua disebutkan oleh Yohanes Pembaptis.  Yesus juga mengungkapkan mengenai hal ini dalam Kis 1:4-5. Dikatakan demikian, “Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang -- demikian kata-Nya -- "telah kamu dengar dari pada-Ku. Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus”. Pengungkapan ini dilakukan Yesus pertama kali dan hanya sekali selama hidupNya. Selanjutnya istilah ini muncul dalam  Kis 11:15-17 (“Dan ketika aku mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti dahulu ke atas kita. Maka teringatlah aku akan perkataan Tuhan: Yohanes membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus. Jadi jika Allah memberikan karunia-Nya kepada mereka sama seperti kepada kita pada waktu kita mulai percaya kepada Yesus Kristus, bagaimanakah mungkin aku mencegah Dia?”). Di sini pemunculannya bukan dalam rangka janji Tuhan atau perintah untuk diterima tetapi justru mengingatkan kembali apa yang telah dijanjikan Tuhan dan yang telah terjadi pada hari Pentakosta yang telah berlalu. Petrus tidak sedang menganjurkan gereja lain untuk menerima baptisan Roh Kudus, tetapi membicarakan apa yang telah terjadi dalam sejarah, yang tidak pernah terulang kembali. Terakhir kali istilah baptisan Roh Kudus muncul di 1Kor 12:13, “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.” Di sini juga Alkitab memberikan definisi atau menjelaskan makna baptisan Roh Kudus yang memberi pengalaman yang lebih luas bagi semua orang percaya, yaitu mempersatukan semua orang percaya menjadi satu tubuh.
Baptisan yang dilakukan oleh Yesus Kristus, karena Kristus mengutus Roh Kudus sebagai penolong bagi orang percaya untuk  terus bertahan. Baptisan roh Kudus adalah suatu kata yang mana penulis PB gunakan untuk berbicara  tentang datangnya ‘a new convenant power of Holy Spirit’.
Perbedaan baptisan air dan baptisan Roh Kudus adalah bahwa baptisan dengan air adalah sebagai pernyataan iman (segi manusia). Kita mengimani, ketika kita dibaptis, bahwa kita adalah satu bagian keluarga kerajaan Allah dan kita adalah pribadi yang diselamatkan Tuhan. Ini adalah bukti bahwa kita sudah di dalam Kristus. Sedangkan baptisan dengan Roh adalah sebagai penyataan anugerah Allah (segi Tuhan).
Bagaimana kita tahu bahwa kita sudah dibaptis secara Roh Kudus? Kita tidak bisa tahu, seperti angin berhembus kita tidak tahu, tapi kita bisa rasakan. Yang paling penting adalah baptisan adalah sarana kita menghayati keselamatan yang disediakan di dalam Kristus.
PRINSIP ALKITAB TENTANG BAPTISAN ROH KUDUS
·         Kita dibaptis menjadi satu tubuh dengan Kristus (1 Kor 12:12-13).
·         Kita dibaptis dengan Roh Kudus (oleh Tuhan Yesus). Jadi secara status atau fakta terjadi pada saat  hari Pentakosta (hari turunnya Roh Kudus) dan secara pengalaman terjadi pada saat menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi kita.
·         Ada empat kali turunnya Roh Kudus, yaitu: dalam Kis 2:38 (di Yerusalem dan disertai bahasa roh), Kis 8:14-17  (di Samaria dan tidak disertai bahasa roh), Kis 10:44 (kepada Kornelius dan disertai bahasa roh), Kis 19:1-6 (di Efesus dan disertai bahasa roh dan bernubuat).

Jadi, kepenuhan Roh adalah akibat dari baptisan Roh (Kis 2:4).  Tuhan Yesus membaptis dengan Roh Kudus, kepenuhan Roh adalah akibat yang diterima. Kepenuhan Roh adalah akibat  yang diterima yang perlu terus menerus dijaga dan dipertahankan. Jika kita hidup dalam ketaatan terhadap Roh Kudus maka kita akan mengalami kepenuhan Roh Kudus. Sepanjang kisah dalam alkitab tidak ada seorang rasul yang mengatakan ‘Aku kepenuhan Roh Kudus’. Tetapi hal itu menjadi peryataan dari orang yang memandang mereka bahwa mereka dipenuhi oleh Roh Kudus. Kepenuha Roh Kudus adalah keadaan yang seharusnya dijaga dan dipertahankan. Dalam Ef 5:18-19 dikatakan, “Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati”. Ini adalah hidup yang dipenuhi oleh Roh.

CIRI-CIRI ORANG DIPENUHI ROH KUDUS
  1. Taat kepada Roh.
  2. Hidup kudus
  3. Menjunjung tinggi Firman Tuhan (Yohanes 14:26)
  4. Mengabarkan Injil (Kisah Para Rasul 1:8)
  5. Berani dipimpin Roh Kudus untuk menjalankan kehendak Allah (Kisah Para Rasul 16:9-40)
  6. Menghasilkan buah Roh (Kisah Para Rasul 13:52, Efesus 5:18)

Ketika kita menghayati baptisan dan kepenuhan Roh Kudus kita harus mengingat bahwa baptisan Roh Kudus terjadi satu kali di dalam kehidupan orang Kristen untuk selama-lamanya. Tidak ada pengulangan! Sedangkan kepenuhan Roh Kudus bisa terjadi berulang kali dalam perjalanan hidup kekristenan kita. Baptisan Roh Kudus adalah pengalaman yang pasti tanpa diragukan, dialami oleh setiap orang percaya ketika dia menerima Kristus sebagai Tuhan dan juruselamatnya. Baptisan Roh Kudus bukan pengalaman kedua yang baru akan dialami setelah orang percaya tersebut menerima pelayanan khusus, misalnya penumpangan tangan, tetapi hal yang langsung dialaminya sama ketika ia menerima Kristus sebagai Tuhan dan juruselamatnya. Ingat, Baptisan Roh Kudus adalah kenyataan atau fakta seseorang menerima Kristus dan dengan demikian menjadi alat (means) yang melaluinya orang tersebut dipersatukan ke dalam Baptisan Roh Kudus terjadi satu kali di dalam kehidupan orang Kristen untuk selama-lamanya (tidak ada pengulangan), sedangkan kepenuhan Roh Kudus terjadi berulang kali di dalam perjalanan kehidupan keKristenan. Di dalam baptisan Roh Kudus, Roh Kudus masuk di dalam hati orang percaya, sedangkan di dalam kepenuhan Roh Kudus, Roh Kudus mencerahkan dan memimpin orang percaya menuju kepada kesempurnaan hidup seperti Kristus (Roh Kudus tidak masuk untuk kedua kalinya di dalam hati orang percaya).
Mari senantiasa hidup oleh Roh dan senantisa penuh dnegan roh yang menjadikan hidup kita taat, kudus, setia kepada Firman Tuhan, rajin melayani, mengerjakan kehendak Bapa, dan menghasilkan buah Roh dalam kehidupan kita.
Solideo Gloria!



[1] Stephen Tong, Baptisan dan Karunia Roh Kudus (Jakarta: LRII, 1996) h. 31-37

Doktrin Roh Kudus 1: Penolong dan Penghibur

[Kotbah ini dibawakan oleh Danni Philip Bukitz pada ibadah Mimbar Bina Alumni, Jumat 11 Mei 2012]

Dalam mempelajari bagian ini kita akan mendekati dengan kajian biblika bukan konsep sistematika. Menyadari ini merupakan hal yang akan sulit untuk di mengerti secara logika dan rasional kita. Banyak pandangan untuk memahami ini dengan pendekatan sistematika, namun karena waktu pembahasan yang tidak terlalu banyak kita akan mengenal pribadi Roh Kudus melalui penggalian kebenaran Firman Tuhan dan relevansinya bagi kita sebagai murid Kristus di tengah zaman ini.

KONTEKS YOHANES 14:15-26
Ini merupakan perikop penting tentang pribadi ketiga dari Tritunggal. Melalui bagian ini konsep Roh Kudus dinyatakan. Sebelum kita membahas tentang bagian ini kita harus melihatnya dari konteks yang terjadi di saat itu. Yohanes menuliskan bagian ini saat hari-hari terakhir Tuhan Yesus di dunia. Ia menuliskan bahwa Yesus mengambil waktu bersama-sama dengan para murid dalam perjamuan makan. Dalam kondisi akhir ini Yesus memberikan perintah baru kepada para murid-muridNya. Perintah baru ini merupakan hal yang muncul ditengah pertengkaran siapa terlebih besar diantara para murid. Yesus menduga bahwa para murid akan bertengkar dalam kondisi ini dan akan ada perpecahan yang terjadi diantara para rasul.
Bukan hanya perpecahan yang muncul dalam hari-hari terakhir, tetapi Yesus mengetahui bahwa para murid akan akan meninggalkannya. Yesus tahu bahwa Petrus akan menyangkal diriNya. Yudas menjualNya dan para rasul lainnya akan meninggalkan Yesus karena ketakutan dan kondisi yang sangat mencekam. Inilah yang menjadi konteks mengapa Yesus berbicara kepada murid-murid dan dituliskan oleh Yohanes pada bagian ini.

KASIH = TAAT PERINTAH
Yesus memulai bagian ini dengan menyatakan bahwa “jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku (ay 15)”. Perintah yang Yesus berikan dengan sebuah landasan dan dasar yaitu kasih kepada diriNya. Jikalau kita mengasihi Tuhan berarti kita harus menaati apa yang menjadi perintah Tuhan. Ini merupakan sebuah konsekuensi logis dan bukti nyata mengasihi Tuhan. Ketika mengasihi Tuhan kita harus mematuhi apa yang diperintahkan Tuhan kepada kita. Yang menjadi pertanyaan perintah apa yang Yesus maksudkan kepada para murid
  1. Hukum kasih (13:34-35). Mengapa hal ini penting adalah karena ada kemungkinan para murid berpikir siapa yang menjadi terutaa (atau terbesar) diantara mereka, sehingga esus menyampaikan sebuah perintah agar mereka saling mengasihi.
  2. Hukum yang Terutama (Mrk 12:28-34). Hal ini berbicara mengenai hukum yangpaling utama yaitu mengasihi. Allah dan mengasihi sesama. Kedua hukum ini seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Mengasihi Allah.
  3. Matius 5:19-20. Ini adalah sebuah pernyataan bagaimana Yesus bukan sedang meniadakan hukum taurat.
  4. Tradisi / aturan-aturan


Yesus datang tidak menghapuskan atau membuang hukum taurat dan tradisi yang baik.  Yesus mengkoreksi hati dan motivasi para ahli Taurat. Mereka terjebak dalam legalisme yang membuat mereka melakukan aturan-aturan itu dengan penghakiman, paksaan dan kehilangan kasih dalam melakukan perintah itu. Kasih kepada Tuhan merupakan poin utama untuk melakukan perintah Tuhan. Yesus kembali kepada para murid-murid dengan menyatakan mulai dengan kasih. Ini merupakan hal terpenting bagi para murid. Namun kita sebagai orang Kristen sering gagal dan jatuh dalam melakukan hal tersebut. Kita mudah terjebak dalam dua kubu yaitu legalis dan liberal. Untuk terlepas dari permasalahan dua kubu tersebut kita membutuhkan penolong untuk tetap berada dalam motivasi antara kasih dan ketaatan. Dalam konteks inilah Yesus menyatakan bahwa Ia akan mengutus penolong untuk setiap para murid tetap memiliki kasih dan ketaatan melakukan perintahNya. Penolong dan Penghibur diberikan oleh Yesus agar para murid menjadi pribadi yang selalu hidup dalam kasih dan taat pada perintah Allah. Dua hal dimana kebenaran antara keadilan Allah dan kasih Allah hanya akan dimengerti jika kita diberi pengertian untuk memahaminya. 

ROH KEBENARAN = ROH KUDUS
Penolong yang Yesus berikan merupakan Pribadi bukan semangat. Ia menyatakan bahwa pribadi yaitu Roh da  Kebenaran. Roh itu akan menyertai murid dalam melakukan perintah Tuhan Yesus didalam motivasi kasih kepada Yesus. Ia tahu apa yang akan terjadi dengan para murid bahwa mereka akan gagal mengasihi diriNya, namun dengan adanya Roh kebenaran ini akan menolong mereka untuk terus setia dan bertahan. Ia bukan semangat tetapi Pribadi yang memiliki intelektual, perasaan atau emosi, sifat dan atribut-atribut.
Ia adalah pribadi yang berpikir karena kita sering mendengarkan bahwa Roh mengingatkan, mengajar, membimbing dan melakukan tindakan yang membutuhkan pemikiran. Intelektual dimiliki oleh Roh Kudus untuk menjalankan peran sebagai Roh Kebenaran bagi orang percaya untuk terus memahami setiap ketaatan yang dilakukan kepada Yesus.
Roh kudus juga memiliki emosi dimana bisa didukakan oleh dosa yang kita lakukan. Selain itu Ia juga bisa menghibur orang yang berjuang melakukan kebenaran.
Sifat dan atribut yang dimiliki oleh Pribadi Roh Kudus banyak di nyatakan oleh Alkitab.

Comforter (penghibur)
Roh kebenaran dan penolong. Ia sebagai penolong dengan berperan sebagai penghibur yang memberikan penguatan dan penghiburan yang sejati. Ilustrasi yang bisa dipahami yaitu ketika seseorang mengalami rasa duka hal yang perlu untuk dimengerti bahwa penghiburan sejati dari diri orang tersebut, namun kita tidak bisa memahami mengapa kita jadi ingat pernyataan Firman, dan lainnya pasti karena perbuatan pribadi yang bekerja menghibur.
Kita harus  menghayatinya bukan dalam dunia fisik tetapi dunia Roh, misalnya si X memiliki Roh X dan si Z memiliki Roh Z. Ketika X memberikan nasihat kepada Z bisakah dikatakan bahwa Roh X menasihati Roh Z?. Demikian kita menghayati pribadi Roh kudus dalam bertindak.

Counselor (Pembimbing)
Ia memiliki peran sebagai penghibur ketika kita para murid Kristus mengalami penderitaan. Ia akan mengingatkan tentang kasih itu dan menghibur kita.
Peran selanjutnya sebagai pembimbing atau pengarah untuk terus hidup dalam kebenaran dan ketaatan kepada perintah Kristus. Roh kudus akan mengajarkan segala sesuatu tentang perintah yang harus kita taati dan lakukan. Selain itu Ia akan mengingatkan perkataan Yesus yang kita sudah dengar. Bimbingan ini yang membuat kita akhirnya hidup mencapai keserupaan dengan Kristus.

Advokat (Pembela)
Makna ketiga yang kita bisa pelajari dari parakletos adalah pembela. Dalam memperjuangkan kebenaran terkadang para murid harus berada dalam situasi penuh dakwaan baik dari pihak luar maupun dari dalam pribadi. Yesus melihat setiap murid akan mengalami dakwaan dari dunia yang membenci mereka. Jadi hal yang perlu yaitu pembela yang membuat mereka berani membela kebenaran ditengah dunia yang membenci kebenaran itu. Pembela ini akan menolong kita untuk kita siap menghadapi kondisi-kondisi yang terjadi jika kita berjuang dalam kebenaran. Kita akan sendiri dan penuh penghakiman namun satu hal yang perlu kita pahami yaitu keyakinan untuk terus berjuang dan mengingat ada pembela yang membuat kita terus taat dan setia memperjuangkan kebenaran itu.

Refleksi
Siapakah kita ketika melakukan perintah Tuhan? Apakah kita orang yang taat hanya keharusan yang akhirnya harus dalam tindakan mekanis dan legalis? Atau kita adalah orang-orang yang bebas tanpa aturan akhirnya menjadi orang yang hidup tidak teratur. Hal yang Yesus inginkan bukan hanya ketaatan tetapi kasih yang menjadi dasar untuk melakukannya. Kristus sebagai Tuhan dan prioritas dalam hidup kita.
Kita memiliki Allah yang terus bekerja memelihara ketaatan dan kesetiaan kita untuk melakukan perintah dan visi Kristus bagi Dunia. Pribadi ketiga atau Roh kudus menghibur, membimbing dan membela kita hidup dalam kebenaran, sehingga kita dinamis dalam hidup keKristenan kita.
Ia adalah pribadi yang memiliki intelektual, emosi, sifat dan atribut jadi Roh kudus bukanlah semangat seperti yang didengungkan kaum unitarianisme (saksi Yehova). Ia pribadi yang hidup dan terus bekerja dalam diri orang percaya sampai Tuhan Yesus datang kedua kali.

Marilah kita mengucap syukur untuk Pribadi ketiga Tritunggal yang terus mengingatkan kita untuk hidup makin serupa dengan Kristus. TYM

Friday, May 25, 2012

Theology of Work 2012 -2: The Ethos

[Kotbah ini dibawakan oleh Desmiyanti Tampubolon, STP pada Mimbar Bina Alumni Perkantas Medan, Jumat 20 April 2012]

Hari ini kita akan bicara mengenai ethos dan juga etika. Hal ini dilakukan agar kita belajar untuk bisa bekerja keras dalam pekerjaan tanpa menyimpang dari prinsip-prinsip kebenaran.
M.D.Geldard (dalam Encyclopedia of Biblical & Christian Ethic) mendefinisikan kerja sebagai investasi energi seseorang dalam rangka menguasai alam dan melayani orang lain. Definisi ini ada karena dalam setiap pekerjaan kita pasti akan terlibat dalam memberikan pelayanan kepada orang lain. R.Paul Stevens mendefinisikan kerja sebagai kegiatan bertujuan yang melibatkan energi mental, emosional,atau fisik atau ketiganya dengan dibayar atau tidak.
Dalam bahasa Inggris kata ethos memiliki arti yaitu ‘ciri khas’, ‘prinsip kerja’ atau ‘disiplin kerja’. Jadi ethos kerja dibanyak perusahaan itu bisa berbeda. Ada perusahaan yang tidak mempermasalahkan ketika karyawannya datang tepat waktu atau tidak, yang penting datang. Sedangkan di perusahaan lain sangat memperhatikan ketepatan waktu kedatangan dari karyawan tiap harinya. Jika tidak tepat waktu maka akan ada sanksi dari perusahaan. Jadi bicara mengenai ethos berarti bicara mengenai prinsip-prinsip yang ada di perusahaan tersebut. Sedangkan etika atau etis adalah seluruh tingkah laku manusia, yang meliputi benar atau salah. Dalam diri orang percaya seluruh tingkah laku itu harus dipertanggung jawabkan kepada Allah dalam terang firmanNya. 
Karena itu kita perlu memikirkan apa yang menjadi tujuan kita dalam bekerja. Beberapa tujuan yang diharapkan dari para pekerja Kristen tentang teologi kerja adalah:
  1. Agar setiap pekerja Kristen mengerti bahwa bekerja dalam berbagai bidang dan jenis, sangat penting, bermanfaat dan bermakna tidak hanya bagi manusia tapi juga bagi Allah. Dimana pun kita bekerja, sekecil apapun itu, semuanya sangat penting dan bermanfaat bagi manusia dan bagi Allah. Kehadiran kita di tempat kerja juga itu setidaknya bisa menjadi tempat sharing bagi rekan-rekan sekerja kita di mana kita bisa membagikan atau menekankan nilai-nilai-nilai kebenaran yang alkitabiah kepada mereka.
  2. Agar tiap pekerja Kristen mengerti bahwa kerja bukan sekedar jalan memenuhi kebutuhan hidup mereka, tetapi berdampak nyata bagi kehidupan global bersama Allah. Misalnya kita tidak hanya sekedar titip absen dan akhir bulan gajian.
  3. Agar tiap pekerja Kristen mengerti bahwa apa yang mereka kerjakan di dunia ini haruslah merupakan cerminan, bagian atau lanjutan dari pekerjaan Allah. Ketika kita melihat ketidakbenaran dan ketidakadilan di tempat kita bekerja, maka tujuan kita adalah menegur hal itu.
  4. Agar tiap pekerja Kristen mengerti serta dapat menempatkan pekerjaannya dalam terang wawasan dan tujuan Allah, sehingga dapat melihat campur tangan dan peranan Allah dalam pekerjaan mereka. Jangan pernah sekalipun berpikir bahwa Tuhan tidak campur tangan dalam pekerjaan kita.
  5. Agar tiap pekerja Kristen mengerti bahwa Allah adalah Sang Pekerja Agung yang juga menghendaki manusia bekerja dengan motif, modus, serta dengan kualitas dan standar Allah melalui berbagai talenta yang diberikan Allah pada tiap-tiap orang. Jadi Tuhan memiliki keinginan agar kita bekerja dengan motif, semangat, dan kerinduan yang sama dengan berbagai talenta yang kita miliki.
Jadi, berbicara soal Allah, kita juga bisa menemukan bahwa Allah adalah sang pekerja agung. Dalam Kej 1:1 dikatakan, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”. Sejak ayat pertama dalam Alkitab telah menggambarkan bahwa Allah adalah Sang Pekerja. Ia bersabda, mencipta, melengkapi serta memperindah pekerjaanNya dengan hasil yang Dia nilai baik (Kej 1:10, 12, 18, 21, 25). Yesus sendiri juga mengatakan “BapaKu bekerja hingga sekarang, maka Aku pun bekerja juga” (Yoh 5:17). Dalam semua kitab-kitab Injil kita melihat bagaimana sibuknya Yesus. Roh Kudus juga bekerja memberi anugerahNya dengan memberikan berbagai karunia. Roh Kudus mengingatkan dan mencegah kita melaukan perbuatan-perbuatan jahat. Roh kudus juga bekerja sampai hari ini.
Bekerja adalah hakikat manusia karena Allah Sang Pekerja Agung itu telah menciptakan manusia segambar dengan Dia (Kej 1:26-27), karena itu manusia harus bekerja sebaik mungkin mengikuti teladanNya, baik motif dan modus, pola dan cara serta siklus dan musimnya (Kel 20:9, 11). Manusia adalah mitra kerja Allah (Kej 1:26), Allah masih terus berkarya setelah kejatuhan manusia dengan menebus manusia dari kuasa dan efek dosa, dan manusia dilibatkan sebagai rekan kerja dalam semua kerja besar itu. Orang Kristen bekerja di dalam dan bagi Kerajaan Allah, semua pekerjaan harus kita lakukan untuk kemuliaan Allah dan demi perluasan Kerajaan Allah. Itulah sebabnya tidak ada alasan untuk malas pergi ke kantor. Paulus (dalam Kolose 3:23) mendesak pembaca suratnya untuk bekerja segenap hati, seperti untuk Allah dan bukan untuk manusia. Jika kita bekerja untuk Tuhan, tidak ada alasan untuk main-main atau mengerjakan tugas sekedarnya, yang penting hadir. Jika kita berpikir seperti ini maka kita tidak melakukan pekerjaan kita dengan segenap hati.
Dunia kerja adalah wilayah yang menyita sebagian besar waktu produktif manusia. Pada umumnya kita paling banyak menghabiskan waktu kita di kantor. Itulah sebabnya keberadaan kita dikantor seharusnya memberi pengaruh yang banyak. Jika keberadaan kita tidak berpengaruh, berarti ada sesuatu yang perlu dipertanyakan dalam diri kita. Dunia kerja adalah bidang kontak yang penting bagi perluasan Kerajaan Allah. Allah mengandalkan semua pekerja Kristen untuk mencapai tujuanNya. Ia hadir membantu dan memberdayakan kita untuk menjadi pemenang. Bicara soal garam dan terang , berarti kita harus keluar dan memberi dampak.
Masalahnya adalah bagaimana kita dapat bekerja dengan etos kerja yang baik sesuai dengan prinsip etika? Apakah diperbolehkan kita kerja keras dan overtime setiap minggunya? Banyak teman-teman kita di Batam selalu lembur untuk mengejar uang bahkan memakai hari Minggu untuk tetap bekerja. Prinsip etika untuk hal ini dapat kita baca dalam 2 Tim 3:16-17. Dikatakan di sana, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermafaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” Artinya bahwa standar kebenaran dari segala tindakan kita haruslah Firman Allah. Hal ini manjadi penting ketika kita harus mengambil keputusan apakah ini area ‘hitam’, ‘putih’ atau “grey area”. Jika antara hitam dan putih saya berharap kita yang ada di MBA ini sudah menang semuanya. Yang masalah adalah yang abu-abu.
Ingat, jangan takut melakukan dosa bukan karena kita takut akan hukuman atau hal lain. Tetapi kita takut berdosa karena sebuah respons kagum dan hormat kepada Allah. Kita tidak ingin menyakiti hati Tuhan. Ada rasa bersyukur kepada Allah sehingga muncul kataatan yang tulus. Etika juga menjadi dasar untuk serupa dengan Dia sebagai mahluk yang dicipta serupa dan segambar dengan Allah. Karena itu, ketika kita jalan, kita adalah gambaran Allah. Kita menjadi model dan teladan di tengah-tengah pekerjaan di mana kita berada. 
Tindakan etis merupakan bagian dari panggilan seorang murid (Mark 8:34), status sebagai murid berarti kita harus bertumbuh dalam pemuridan (Gal 5:13). Pemahaman ini harus menjadikan kita sebagai orang yang benar di kantor dalam setiap perkataan atau tindakan kita. Perbuatan etis adalah panggilan dedikasi kepada Allah dan tuntutan transformasi (Rom 12:1-2). Jangan sampai orang korupsi kita juga ikut-ikutan korupsi. Jika kita serupa dengan dunia ini berarti tidak ada artinya kita menjadi murid Kristus. Kita harus suci di tengah-tengah kenajisan, seperti ikan yang berenang di laut asin tapi tetap tawar.
Untuk beberapa keputusan “grey area” kita perlu mempelajari peraturan apa yang berlaku di kantor/sekolah tempat kita bekerja. Jika apa yang kita lakukan menyebabkan orang lain tersandung, pertimbangkanlah. Prinsip salah atau benar harus memperhitungkan semua hal. Misalnya jika terlambat lima menit apa yang menjadi konsekuensinya. Boleh atau tidak mengambil cuti ketika keluarga menikah, dll. Hal ini dirangkum dalam KKB (Kesepakatan Kerja Bersama). Jika keputusan yang kita ambil menimbulkan keberatan-keberatan hati nurani, pertanyakanlah. Ada beberapa hal yang harus kita ketahui dalam daerah yang kadang menjadi daerah abu-abu bagi kita. Misalnya apakah kita bisa menerima uang tips? Seharusnya tidak boleh. Contoh lain adalah apakah boleh membagi uang sisa kas dalam sebuah kepanitian? Jawabannya tentu saja tidak bisa. 
Sering kali juga kita terjebak dalam sebuah perjalanan dinas. Misalnya dalam rangka tugas dinas kita berangkat ke Jakarta dan diberikan uang untuk menginap di hotel bintang lima. Tetapi demi alasan penghematan dan agar kita bisa menyimpan uang (dengan alasan untuk ditabung) membuat kita memilih untuk menginap di hotel kelas melati atau menginap di kos teman kita? Hal ini tentu saja tidak diperbolehkan. Alasan kita melakukan penghematan mungkin baik, tetapi ketika kita memilih untuk menginap hotel kelas melati, kita bisa tidak cukup fit, merasa tidak segar, capek atau bahkan ngantuk sehingga kita tidak maksimal untuk mengerjakan urusan kita yang sebenarnya. Hal ini sama dengan ketika kita diberikan tiket perjalanan untuk naik pesawat terbang tetapi kita memilih naik bus juga demi alasan (lagi-lagi) penghematan. Hal ini juga tidak diperbolehkan. Karena perjalanan menggunakan angkutan darat jauh lebih melelahkan dibandingkan dnegan naik pesawat terbang dan hal ini berpengaruh terhadap kondisi kita dalam mengerjakan tugas yang harus kita kerjakan. 
Ada delapan etos kerja (menurut Jansen Sinamo), yaitu:
  •               Kerja adalah anugerah
    Kita seharusnya mensyukuri ketika kita bekerja. Ketika belum bekerja, kita sangat merindukan pekerjaan dengan impian yang menyertainya (membantu orang tua, memberikan pesembahan, dll). Tetapi ketika kita bekerja, kita bersungut-sungut. Ingat, kerja adalah anugerah, syukurilah! Kesadaran bahwa anugerah Allah membuat kita menjadi  manusia yang berjiwa besar, berhati mulia, kepribadian matang, dewasa, tenang, percaya diri dan bijaksana. Itulah sebabnya orang yang semakin lama bekerja akan semakin dewasa, baik dari segi pemikiran maupun perkataan, bukan sebaliknya. Orang yang berparadigma anugerah selalu yakin karirnya dibimbing dan dijamin Allah, terbebas dari nafsu mengejar uang, dan sanggup mengatasi godaan saling sikut demi rebutan rezeki yang sebenarnya tidak seberapa.
    •               Kerja adalah tanggung jawab
      Sebagai pemegang tanggungjawab, kita dipercaya dan diharapkan untuk mampu melaksanakannya, dipercaya berarti mempunyai kompetensi profesional dan dipercaya secara moral (berintegritas). Jika kita bekerja dengan penghayatan seorang pengemban tanggungjawab kita akan menjadi orang yang dapat diandalkan dan terpercaya. Makanya orang-orang Kristen adalah orang-orang yang dapat diandalkan dalam dunia kerja dimana dia berada. Ketika orang lain tidak bisa dipercaya, kita, sebagai orang Kristen, bisa dipercaya.
      •           Kerja adalah panggilan
        Ingat, panggilan kerja bukan hanya bagi mereka yang fulltime (dalam artian dalam kegiatan rohani). Orang yang terpanggil menjadi dokter misalnya, sebenarnya sudah dilengkapi dengan rasa belas kasihan kepada orang yang menderita dan kekuatan untuk tidak merasa ngeri melihat darah. Demikian juga dengan orang yang terpanggil menjadi guru sudah dianugerahi bakat mengajar, rasa cinta pengetahuan, rasa sayang pada siswa, bahagia melihat pertumbuhan dan perkembangan anak didik. Tidak hanya menyuruh murid-murid untuk mengerjakan kepentingan gurunya.
        Keterpanggilan yang berpusat pada Allah pada akhirnya akan menjadi kecenderungan hati hal inilah yang mendorong kita dan dengan kemauan hati yang kuat dan menumbuhkan keyakinan  untuk berkata: “Kesanalah aku harus pergi ! Itulah jalan hidupku!”
        •            Kerja adalah aktualisasi (Kerja keras, telaten)
          Kerja menunjukkan siapa kita. kerja keras dan ketelatenan kita tunjukkan dengan kerja keras. Jadi tidak ada keluhan (tetapi pekerjaan tidak selesai juga). Kerja keras tanpa arah, tanpa skenario, tanpa visi hanya akan menghamburkan energi kita. Jadi target harus dipatok, visi harus dibentang dan hasrat harus diwujudkan. Rumuskan visi dan target-target yang ingin diraih, tutup pikiran terhadap godaan lain dan fokuskan energi untuk mencapainya. Bukan target materi, tetapi apa yang ingin kita capai dari kerja kita.
          •            Kerja adalah ibadah
            Kita harus senantiasa menghayati kehadiran Tuhan di ruang kerja, ibadah itu menyatu dengan kehidupan profesional dan sosial, karena itu kerja diniatkan sebagai bakti, dedikasi dan persembahan pada Tuhan. itulah sebabnya pekerjaan jangan main-main. Sebagai dosen atau pengajar kita harus persiapan. Sehingga melalui kerja kita orang bertanya-tanya akan siapa Tuhan yang kita sembah. Mengapa kita tidak pernah mengeluh atau melakukan hal yang macam-macam.
            Etos seorang pekerja Kristen haruslah bekerja dengan standar Tuhan yang menjadi berbeda dengan pekerja lain, membuat kita bekerja sebaik-baiknya tidak hanya memuaskan hati manusia tapi juga hati Tuhan. Bisa saja orang yang kita layani puas, tetapi apakah Allah juga puas dengan apa yang kita kerjakan?
            •            Kerja adalah seni
              Bekerja sebagai seni adalah sebuah kompetensi kerja dengan mutu tinggi baik dilihat dari segi esensinya, tekniknya, prosesnya; bekerja tanpa estetika hanya berujung pada proses kerja yang membosankan, monoton, kering dan tanpa daya tarik. Karena itu, buatlah meja kerja  kita menjadi tempat yang menarik. Jangan biarkan file-file menumpuk tidak beraturan yang membuat kita bingung mengerjakan yang mana terlebih dahulu. Bekerja dengan seni membuat kita kreatif, penuh daya cipta, gagasan-gagasan inovatif. Misalnya mengajar dengan metode GASING (Gampang, asyik, menyenangkan - yang dipopulerkan oleh Bapak Yohanes Surya).
              •            Kerja adalah kehormatan
                Kerja sebagai kehormatan berarti kerja seutuhnya dan setuntas-tuntasnya, mencapai apa yang diharuskan untuk diselesaikan secara terhormat. Orang yang bekerja setengah-setengah hasilnya juga akan setengah-setengah. Jangan suka menunda pekerjaan sehingga kita tidak tergoda untuk mengerjakan setengah-setengah.
                Kita harus membangun kehormatan profesi kerja. Banggalah berprestasi, banggalah tepat waktu, banggalah bekerja keras, banggalah berintegritas, banggalah berdisiplin, dan banggalah menjadi seseorang yang berkualitas.
                •            Kerja adalah pelayanan
                  Bukan hanya hamba Tuhan yang pelayan. Semua pekerjaan adalah pelayanan. Semua profesi, pada mulanya sekali adalah untuk melayani, bankir melayani nasabah, guru melayani bangsa dengan mendidik, jaksa, hakim dan polisi melayani masyarakat untuk keadilan hukum. Kerja sebagai pelayanan berarti kita harus bekerja melampaui harapan dengan memberikan hasil yang bermutu.

                  Kolose 3 :23 berkata, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Hal inilah yang seharusnya menjadi ethos kerja kita dan mengerjakan pekerjaan dengan etika yang benar. Kita menemukan kenyamanan di tengah orang-orang yang sepaham dengan kita dan kita mengalami pertumbuhan di tengah orang-orang yang tidak sepaham dengan kita. Ini adalah bukti kehadiran kita dalam rangka memperbaiki dunia yang yang terdegradasi karena dosa.

                  Theology of Work 2012 -1: Vocation & Calling

                  [Kotbah ini dabawakan oleh Drs. Tiopan Manihuruk, M. Th pada ibadah Mimbar Bina Alumni Perkantas Medan pada hari Jumat, 13 April 2012]

                  John Stott pernah menyatakan bahwa biasanya kerja dihubungkan dengan pribadi seseorang. Hal ini bisa kita lihat dalam percakapan ketika kita bertemu dengan seseorang, maka pertanyaan yang keluar pasti “Anda kerja dimana?’. Dan pekerjaan juga sering dihubungkan dengan satus seseorang. Pandangan dunia melihat bahwa semakin tinggi pekerjaan seseorang maka makin tinggi pula penghormatan yang ia terima. Kerja menjadi segala-galanya dalam kehidupan seseorang. Segala sesuatu disubordinasi atau ditundukkan pada pekerjaan sehingga berlaku prinsip ‘your are what your job is’ (George W. Forell). Ini adalah pandangan yang salah. Hal ini menyebabkan pekerjaan menjadi sesuatu yang utama, dimana pekerjaan tersebut bisa kita minder atau sombong. Orang yang seperti ini menganggap kehilangan pekerjaan/jabatan adalah sebuah malapetaka.

                  Ada beberapa pandangan kontemporer yang lain akan kerja. Ada pandangan yang melihat kerja itu sebagai beban atau kutuk. Pandangan ini membuat seseorang tidak pernah serius kerja, bila seandainya mungkin memilih menjadi pengangguran tetapi dapat hidup lebih baik dan nyaman. Mereka adalah orang yang menikmati akhir minggu tetapi membenci awal minggu. Pandangan berikutnya adalah pandangan yang hanya melihat kerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kita harus menyadari bahwa dapat memenuhi kebutuhan hidup bukanlah tujuan kerja, tetapi efek samping dari kerja. Semua orang yang kerja pasti makan. Jika kita bepikir kerja hanya sebatas hidup maka nilai akan kerja yang kita miliki sudah bergeser. Pandangan ini juga membuat kerja itu diarahkan untuk memuaskan hasrat memiliki sampai pada sebuah ketamakan. Kerja berorientasi pada diri sendiri dan pemuasan hasrat. Itulah sebabnya pandangan ini menghasilkan orang-orang yang terjebak dengan kartu kredit sehingga bekerja dengan serius.

                  Pandangan berikutnya adalah pandangan yang melihat kerja sebagai sebuah keharusan yang tidak terhindarkan. Pandnagan ini menjadikan kerja menjadi sebuah rutinitas yang mekanis dan melahirkan ketertekanan dan tidak dapat menikmati kesenangan atas kerja. Pandangan ini menganggap kerja adalah kodrat manusia sama seperti kodrat ayam yang harus bertelur (H. L Mencken, orang arif dari Baltimore).

                  Ada juga pandangan yang melihat kerja itu demi kepuasan diri sendiri. Perjuangan untuk memberi kepuasan kepada diri sendiri dalam dunia masa kini merupakan ujung tombak dari suatu revolusi kebudayaan sejati (Daniel Yankelovich). Kerja mengarah pada keasyikan sendiri untuk memuaskan keinginan sebagai pengaruh dari materialisme dan hedonisme. Kerja menjadi memabukkan untuk meraih karir tertinggi dan meraup sebanyak mungkin uang. Orang dengan pandangan seperti ini akan terjebak menjadi seorang yang workaholic.

                  Ada juga pandangan yang menyatakan bahwa sukses dalam hidup berarti sukses dalam kerja atau sebaliknya gagal dalam kerja berarti gagal dalam hidup. Kesuksesan hidupnya diukur dari kerja dan karir yang ditempuh. Kesuksesan itu ada di kantor atau perusahaan. Mereka akan kehilangan harga diri jika karir tidak naik atau kehilangan jabatan karena aktualisasi dirinya menyatu dengan pekerjaannya. Demi kerja dia merasa sukses meskipun istri dan anak-anaknya terabaikan (kerja adalah perpaduan prestise dan prestasi). Kelompok ini disebut yuppie atau dinks (double income, no kids) yang biasanya workaholic. Ini bukan pandangan yang benar. Kalau dulu kita memiliki posisi yang bagus dan karena ketaatan kita kepada Allah kita kehilangan jabatan, dan turun jabatan, apakah kita orang gagal? Tentu tidak. Dalam pandangan Kristen, kita adalah orang yang berhasil.

                  Kerja atau pekerjaan dipersiapkan sebagai cultural mandat (Kej 1:28, “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."). Allah memerintahkan manusia untuk berkarya. Jadi jika ada manusia yang tidak bekerja itu adalah sebuah hal yang salah. Kerja adalah mandat Allah. Orang yang mengenal Tuhan dengan benar harus memahami bahwa dia bekerja dalam memenuhi mandat ilahi. Manusia bertanggungjawab untuk dunia dan membentuk peradaban dan sejarah (Kej. 4: 17, 20-21; 9: 20). ‘Be cultivated and kept’ mencakup seluruh aspek hidup manusia termasuk ilmu pengetahuan, kemasyarakatan, seni, literatur, pendidikan, dll, dan semuanya bermuara kepada untuk pemeliharan kesinambungan ciptaan Allah.

                  Tetapi peristiwa kejatuhan merubah semua itu. Di dalam Kej 2:8-14 adalah kisah taman Eden dengan segala situasinya. Dan pada ay 15 ada mandat yang Allah berikan kepada manusia untuk memelihara taman Eden (kesinambungan dari Kej 1:28). Mandat itu akan digenapi dengan sebuah pernikahan (Kej 2:18) di mana tidak baik jika manusia itu seorang diri dalam rangka menggenapi misi Allah. Dalam konteks inilahpekerjaan harus dilihat sebagai mandat Allah. Tetapi kejatuhan dan manusia kedalam dosa membuat kerja ternodai/terkutuk. Kerja menjadi sesuatu yang penuh dengan masalah dan persoalan. Kemudian lingkungan pekerjaan kita bermusuhan dengan Allah dan sesama. Itulah sebabnya secara etika pekerjaan kita menjadi sulit. Kita mengalami bagaimana susahnya untuk jujur dan memiliki nilai yang benar dalam pekerjaan kita. dunia kerja menimbulkan berbagai pertanyaan akan makna, tujuan, konflik, dan kuasa kerja.

                  Dosa melahirkan sesuatu yang menyakitkan. Kefanaan masuk ke dalam dunia kerja sehingga pekerjaan kehilangan tujuan semula. Ada yang merendahkan dan memuliakan kerja. Alienasi antara manusia dengan Allah dan dengan sesamanya membuat pekerjaan atau usaha sebagai sumber kesulitan dan penderitaan. Hal ini sering sekali membuat orang tidak menikmati pekerjaannya. Kerja didegradasi menjadi sebuah peluh dan jerih payah (toil ). Dalam Kej. 3: 17-19 Tuhan berkata , ”Lalu firman-Nya kepada manusia itu: "Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” Betul, kita harus bekerja dengan maksimal, tetapi kita juga harus menikmatinya. Ingat, tidak ada kerja yang rendah jika kita mengerjakan dan menaatinya sebagai panggilan. Mari kita menikmati semua jenis pekerjaan yang Tuhan percayakan kepada kita. Tidak ada yang sombong ataupun minder ketika mendapatkan pekerjaan tertentu. Orientasi kerja kita bukan uang. Uang itu akibat, bukan tujuan.

                  Dosa membuat kerja juga dikondisikan oleh keterbatasan manusia untuk mencapai yang terbaik, sehingga kerja tidak pernah maksimal hasilnya menurut pandangan Allah. Dosa juga membuat kerja menjadi sebuah sumber bahaya dan dehumanisasi (Kej. 4: 23-24). Banyak sekali orang bekerja mengalami dehumanisasi. Salah satu dehumanisasi yang sering dialami pekerja adalah eksploitasi, dimana hak-hak sebagai pekerja tidak dipedulikan. Seringkali juga pekerja itu mengalami overtime tanda diberikan upah dan jenis eksploitasi lainnya.

                  Kerja dapat menjadi sebuah kompetisi dengan Allah? Ingat kisah menara Babel (dalam Kej. 11: 1-9)? Jangan sampai pekerjaan kita membuat kita tidak bergantung lagi kepada Allah tetapi justru ‘menyaingi’ Allah.

                  Tetapi, dalam karya Kristus, kerja juga mengalami penebusan. Kerja ditebus dan dipulihkan oleh Allah (bukan hanya dosa yang ditebus oleh Allah), sehingga kerja terintegrasi kepada Allah. Jadi semua profesi kita terintegrasi kepada Allah. Semua kerja dipandang dari kacamata Kristus (bd. Ef. 2: 10; Kol. 3: 17, 23). Kerja bukanlah sebuah beban dan sekedar untuk pemenuhan kebutuhan.
                  Vocation merupakan keyakinan seseorang akan panggilan dirinya untuk memuliakan Allah melalui profesi yang kita miliki. Apa panggilan kita untuk memuliakan Allah? Apakah kita meyakini bahwa kita jadi PNS, guru, marketing, atau sebagai apapun, apakah sebagai sebuah vocation di mana itu merupakan panggilan Allah bagi kita untuk memuliakan Dia. Inilah yang seharusnya menjadi dasar kita dalam memilih pekerjaan, bukan karena ‘terdampar’.

                  Calling adalah panggilan Allah bagi manusia untuk mengerjakan mandat ilahi. Memuliakan Allah dari segi vocation, dan untuk mengerjakan misi Allah dari calling. Konsep teologia Lutheran mengatakan bahwa calling dan vocation bagi orang Kristen menuju kepada sebuah kehidupan yang baru di dalam Kristus sehingga maksimal berkarya. Saya berharap tidak ada menganggap kerja sebagai pelarian, dan tidak ada menganggap pekerjaan sebagai sampingan. Pekerjaan adalah karena calling dan vocation. Dengan dasar pemikiran inilah tidak tepat anak-anak Tuhan bekerja dalam semua level kantor tertentu (dalam semua lapangan pekerjaan). Misalnya pabrik minuman keras, pabrik rokok dan marketing rokok. Tidak mungkin bidang ini menjadi calling dan vocation karena dampak produknya itu merusak. Apakah ada diantara kita yang bekerja dalam level seperti ini penting sekali untuk mengevaluasi kembali dasar mengapa dia bekerja di sana. Mari melihat apakah dalam pekerjaan itu kita sebagai sebuah panggilan untuk memuliakan Allah dan apakah itu juga cara kita dalam rangka mengerjakan mandat Allah. Jika iya, lanjutkan, jika tidak, mari segera resign segera mungkin.

                  Semua kegiatan sehari-hari adalah beruf atau calling (Marthin Luther). Tidak ada yang sekuler dalam hidup orang Kristen (Kol. 3: 17). Tidak lebih rohani orang yang bekerja sebagai pendeta atau penghotbah dibandingkan dengan seorang guru atau marketing. Kita akan lebih rohani jika mengerjakan pekerjaan kita sebagai panggilan atau vocation. Ketika kita mengerjakan pekerjaan kita yang adalah vocation dan calling dengan ketaatan kepada Allah, maka kita lebih mulia dibandingkan dengan pendeta yang tidak mengerjakan tugasnya dengan benar.

                  Panggilan khusus dalam kerja adalah panggilan ke suatu pekerjaan spesifik, ke suatu pekerjaan yang tidak semua orang dipanggil melakukannya. Karena itu sadari potensi, kemampuan dan talenta agar bisa melihat dengan jelas panggilan Allah akan kerja yang harus kita lakukan.

                  Marthin Luther menyatakan bahwa panggilan kita datang kepada kita melalui posisi kita (waktu, talenta dari tugas yang terkait dengan posisi kita dalam kehidupan dengan kesempatan-kesempatan yang terbuka di hadapan kita). Dalam creatio continua Allah memanggil manusia dengan upaya (kerja) dalam aneka ragam posisi yang harus manusia emban di dunia ini denagn satu pemahaman yang lapar diberi makan, yang telanjang diberi pakaian, yang sakit disembuhkan, yang tidak berpengetahuan dididik dan yang lemah dilindungi. Dalam rangka inilah ada sebuah vocation dan calling untuk penciptaan yang berkesenambungan.

                  Melalui kerja yang Allah tugaskan untuk kita lakukan, Allah sendiri sedang melanjutkan kegiatan kreatif-Nya dalam dunia ini melalui profesi yang kita miliki. Melalui pekerja kita (sesederhana apapun itu) Allah memelihara orang lain melalui kita. Inilah misi melalui kerja atau profesi. Mari menyadari hal ini agar orientasi kita bukan uang atau karir tetapi misi Allah yang kita kerjakan melalui profesi kita. Dengan kerja kita mengokohkan posisi unik manusia sebagai wakil Allah di bumi ini sebagai pengelola dan penatalayanan karunia dalam ciptaan Allah yang ditujukan untuk kesejahteraan semua orang. Itulah sebabnya kita tidak sembarangan memilih pekerjaan tetapi di dasari oleh vocation dan calling kita masing-masing.

                  Kerja dengan prinsip ini maka pekerjaan itu memiliki nilai intrinsik (semua pekerjaan ada kaitan dan sumbangsihnya dengan rencana dan kerja Allah). Apapun profesi kita, jika itu ada di dalam vocation dan calling, maka profesi itu memiliki kaitan dengan rencana dan kerja Allah. Orientasi kerja bukan kepada produksi (hasil), kompensasi (income), prestis dan prestasi tetapi kepada Allah dengan memberi yang terbaik (Kol. 3: 23; Ef. 6: 5-9). Vocation and calling dalam kerja kerja untuk menghadirkan Kerajaan Allah (service), supaya manusia lebih sejahtera dan bermartabat yang kemudian memuja Allah.

                  Mari memiliki pemahaman ini agar kita bisa bekerja dengan baik. Mari mengevaluasi dan mendoakan pekerjaan kita sekarang agar bisa menjadi vocation dan calling yang Allah berikan kepada kita. mari kita memberi yang terbaik dalam pekerjaan. Jika konsep ini (Vocation dan Calling) jelas, kita tidak akan perlu terlalu berjuang dalam menghadapi etika dalam kerja, karena dengan dasar yang jelas kita berani menerima konsekuensi apapun karena kita sedang mengerjakan misi Allah.

                  Seri PASKAH 2: KETAATAN

                  [Kotbah ini dibawakan oleh Indrawaty Sitepu, MA pada ibadah Mimbar Bina Alumni, Jumat, 4 Mei 2012]

                  Topik ketaatan merupakan satu topik yang penting dan relevan untuk kita gumulkan bersama-sama sebagai alumni. Bagaimana kita sebagai alumni melihat ketaatan bukan sebagai cerita masa lalu ketika kita adalah seroang mahasiswa atau penjadi pengurus di kampus tetapi memahami ketaatan sebagai sebuah realita dalam dinamika kehidupan setiap harinya sebagai seorang Kristen. Oleh sebab itu kita akan melihat dua bagian firman Tuhan, yaitu dari Markus 14:32-41 dan Yohanes 12:24-36a.
                  Ada enam hal yang bisa kita pelajari dan teladani dari ketaatan Yesus melalui dua bagian firman di atas.

                  1. Ketaatan yang sukarela.

                  Ini adalah ketaatan yang bukan karena paksaan atau terjebak tetapi ketaataan karena penyerahan diri dan penundukan diri secara sukarela pada kehendak Allah Bapa. Pada Mar 14:32-41 tadi kita bisa melihat ada beberapa catatan penting peristiwa di Getsemani. Pada ay 34 dikatakan, “lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah." Peristiwa Paskah memang tidak terlepas dari peristiwa salib. Tetapi sebenarnya peristiwa salib bisa terjadi karena ada langkah ketaatan di Getsemani. Pada peristiwa ini, Yesus merasakan pergumulan yang berat (ay 34). Peristiwa Getsemani adalah peristiwa yang mencekam – ‘seperti mau mati rasanya’. Orang yang mengatakan hal ini bukanlah orang yang cengeng atau orang yang sedikit-sedikit mau mati. Tetapi Dia adalah Yesus. Hal ini menggambarkan sesuatu yang sangat berat dan sangat serius.

                  Ketaatan Yesus bukan hanya sekedar sukarela, tetapi sukarela yang dalam keadaan yang tidak kondusif. Hal ini terlihat dari bagaimana murid-murid yang selama ini bersama dengan Dia tertidur walaupun Yesus meminta mereka untuk berjaga-jaga. Yesus sepertinya berjuang seorang diri.
                  Setelah melalui masa-masa yang berat itu Yesus akhirnya memutuskan untuk taat. Dalam Mark 14:41 dikatakan, “Kemudian Ia kembali untuk ketiga kalinya dan berkata kepada mereka: "Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Cukuplah. Saatnya sudah tiba, lihat, Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa. “ Ketaatan Yesus yang muncul karena pengenalannya akan BapaNya melalui doaNya.

                  Apa yang menjadi Doa Yesus? Ay 36 menuliskan, “Kata-Nya: "Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” Inilah namanya doa yang sejati. Doa yang sejati membuahkan ketaatan yang sukarela, bukan terpaksa atau terjebak. Doa yang sejati bukanlah doa yang memaksa Tuhan. Doa sejati itu tahu jika Tuhan mampu melakukan sesuatu dan menyadari bahwa Tuhan bisa mengubah rencanaNya dan memakai cara lain jika Dia mau. Dengan kata lain Tuhan itu Mahakuasa dan bisa melakukan apa saja yang Dia mau.. Yesus memahami benar akan hal hal ini. Yesus – melalui doaNya – mengetahui bahwa Bapa berkuasa mengambil cawan itu dari diriNya. Tetapi doaNya dilanjutkan dengan menyerahkan semuanya kepada kehendak Bapa, bukan kehendakNya. Sekali lagi, inilah doa yang membuahkan ketaatan yang sukarela.

                  Jika kita berdoa dengan sikap terpaksa, maka kita juga akhirnya akan merasa terpaksa untuk ikut Tuhan. Jadi bukan karena memilih untuk taat. Ucapan Yesus yang ketujuh di kayu salib adalah “Bapa, ke dalam tanganMu ku serahkan nyawaku”. Yesus menyerahkan diriNya. Ketaatan yang sukarelan dan tunduk kepada Allah dan ketaatan yang total. Inilah ketaatan yang bisa kita tiru dari Yesus. Dalam peristiwa Getsemani Yesus betul-betul sudah siap dan tidak bergumul lagi karena dia tunduk kepada kehendak BapaNya. Sangat berat, tetapi Yesus telah menyelesaikannya di Getsemani.

                  Saya mengajak kita agar senantiasa mengambil ‘waktu-waktu getsemani’ kita karena disitulah tekad kita putuskan. Jadi waktu masalah itu datang kita tinggal menjalaninya. Mungkin kita telah melewati ‘getsemani’ kita yang pertama, tetapi akan ada lagi ‘getsemani-getsemani’ yang berikutnya, dan perjuangan ini akan terus ada sepanjang hidup. Mari mengambil ‘waktu-waktu getsemani’ kita dan dalam setiap ‘waktu-waktu getsemani’ itu kita memutuskan kepada Tuhan bahwa ‘Bukan kehendakku Tuhan tetapi kehendakMulah yang terjadi’. Kita tahu bahwa Tuhan memiliki kuasa untuk apa saja (untuk setiap pergumulan kita), tetapi lagi-lagi kita menyerahkan segala sesuatunya kepada kehendak Tuhan. Hal inilah yang menghasilkan ketaatan yang sukarela.

                  2. Ketaatan yang tuntas.
                  Ini adalah ketaatan yang dikerjakan sampai selesai atau sampai akhir hidup, bukan ketaatan yang setengah jalan atau masa periode tertentu saja. Sewaktu mahasiswa masih taat, tetapi ketika alumni sepertinya untuk emnjadi taat itu adalah sebuah pergumulan yang berat.
                  Perkataan Yesus yang keenam di kayu salib adalah: “Sudah selesai.” Setelah itu Dia menyerahkan nyawaNya. Perkataan Yesus yang keenam ini adalah pekik kemenangan. Dia telah menyelesaikan persoalan terbesar di dunia ini, yaitu hutang dosa kita. Dia menyelesaikan sampai pada detik terakhir, sampai pada darah penghabisan.

                  Banyak orang memulai dengan baik, tetapi hanya pada periode tertentu, lalau setelah itu berakhir dengan buruk. Ketaatan yang Yesus lakukan adalah ketaatan yang tuntas dan selesai sampai akhir. Kita mungkin gentar dan bertanya-tanya apakah kita bisa setia sampai akhir dan bagaimana kita bisa taat sampai akhir.

                  Ada tips untuk bisa setia sampai akhir dan tips ini sangat sederhana yaitu mari kita berjuang taat sesehari. Dalam saat teduh kita setiap hari, mari meminta kepada Tuhan untuk menolong kita agar ditolong dan dikuatkan untuk bisa taat, untuk satu hari itu saja. Hari itu saja dulu. Besoknya kita meminta hal yang sama lagi. Jadi mari menyiapkan tenaga untuk taat hanya untuk hari itu saja. Pokoknya apapun yang terjadi kita meminta hari ini agar Tuhan menolong kita untuk taat satu hari ini saja. Kemudian besoknya kita kembali meminta hal yang sama, demikian terus menerus sampai kepada hari terakhir kita (yang entah kapan). Yang jelas ketika hal ini terjadi terus-menerus, maka kita akan memiliki ketataan yang tuntas.

                  3. Ketaatan yang didasari oleh panggilan yang jelas.
                  Yesus memiliki panggilan yang jelas untuk hidupNya, seperti yang tampak dari waktu ke waktu Dia memberitahukan murid-muridNya bahwa dalam rangka melaksanakan misi penyelamatan, Anak Manusia akan menanggung banyak penderitaan, dibunuh dan bangkit pada hari ketiga (Mat. 16: 21-28, 17:22-23, 20:17-19, yang diulangiNya lagi,”.... sebab untuk itulah Aku datang ...”). Yesus mengetahui dengan persis untuk apa Dia datang kedunia ini. Mengetahui mengapa Ia adalah hal yang penting. Sama seperti Yesus, kita juga perlu mengetahui dan terus menerus memperjelas untuk apa kita ada di dunia ini pada masa yang sekarang ini dengan setiap kondisi yang ada.
                  Kita mungkin sudah diberitahu ketika kita memperoleh pembinaan ketika mahasiswa untuk apa kita hidup atau untuk apa kesarjanaan kita ini. Sebagai kelompok intelektual di negeri Indonesia ini kita harus terus menerus bertanya bagaimana kita memenuhi panggilan kita di bumi Indonesia ini. Kita tidak hanya sebatas tamat, lalu bekerja, kemudian menikah, dan selesai sudah. Panggilan di sini bukan kita harus menjadi staf perkantas atau pendeta atau pun rohaniawan. Tetapi panggilan di mana kita bisa berkontribusi maksimal untuk berkarya sesuai dengan kesempatan yang Tuhan berikan bagi kita. Hal ini harusnya menjadi pergumulan agar ketaatan kita bisa tuntas.

                  Kita harus hati-hati dan bertanya-tanya kepada diri kita. Jangan-jangan kita sekarang berada pada zona nyaman kita. Jangan kita kira telah memenuhi panggilan Tuhan jika menghadiri ibadah-ibadah, atau rajin dalam kelompok kecil. Kita harus menyelidiki panggilan Tuhan kepada kita. Jangan-jangan Tuhan menyuruh pergi dari posisi kita sekarang ini. Tetaplah memiliki ‘waktu-waktu getsemani’ kita. Mari bertanya kepada Tuhan dan menyerahkan segalanya kepada Tuhan Tuhan – ‘bukan kehendakku melainkan kehendakMulah yang terjadi.

                  Untuk kita ketahui bersama, kota Medan adalah salah satu kota yang memiliki jumlah AKK yang terbesar di Indonesia. Sudah sewajarnyalah jika Medan mengirimkan orang-orang/alumni-alumni ke seluruh Indonesia ini untuk berkarya. Ini adalah tanggung jawab Medan (kita para alumni). Para alumni sangat dibutuhkan dengan berbagai bidang ilmu. ini adaah bagian dari panggilan, memenuhi panggilan Tuhan atas hidup kita. George Barna menyatakan bahwa visi (atau bisa kita sebut panggilan) itu memiliki tiga dimensi yaitu kehendak Allah, ada kemampuan (talenta atau latar belakang studi) yang kita miliki, dan ketiga adalah ada kebutuhan. Perpaduan ketiga hal inilah yang menjadi dasar visi dan panggilan kita. Kebutuhan ini bisa di depan mata atau jauh dari mata. Oleh sebab itu mari kita mengevaluasi apakah kita sedang berada dalam jalur yang tepat. Yang jelas kita harus sering memiliki ‘waktu-waktu getsemani kita’. Sadarilah, bahwa salah satu musuh alumni untuk tidak berkarya adalah zona nyaman.

                  4. Ketaatan yang dikarenakan fokus pada panggilan.
                  Yesus senantiasa fokus dengan panggilan yang Ia terima. Walaupun situasi saat itu sangat mendukung untuk mengikuti keinginan orang banyak, di tengah popularitas yang meningkat, sekaligus menghindari salib. Jika Yesus tidak ke Getsemani, dan tetap tinggal di Yerusalem, kemungkinan Ia tidak akan ditangkap karena pemimpin-pemimpin agama takut menangkap Yesus di depan umum. Yesus memilih ke Getsemani untuk berdoa, jauh dari keramaian dan ada kemungkinan pemimpin agama menangkap Dia.

                  Jika Tuhan sudah nyatakan kehendakNya melalui seluruh perlengkapan-perlengkapan yang Ia berikan bagi kita dan juga ada kebutuhan yang dibukakan, mari kita fokus. Ada mungkin banyak hal di sekeliling kita yang bisa mengalihkan perhatian kita. Oleh sebab itu mari belajar untuk fokus pada panggilan. Sesuatu yang telah kita putuskan pada ‘waktu-waktu getsemani’ kita.

                  5. Ketaatan dan bayar harga.
                  Yesus bersedia membayar harga yang tidak ternilai untuk menggenapi panggilanNya, dalam sebuah kerelaan dan ketaatan penuh kepada Bapa-Nya (Fil 2:5-10), seperti biji gandum yang rela jatuh ke tanah, demi menghasilkan banyak buah (Yoh 12:24).

                  Kita mungkin ada yang sedang menggumuli panggilan atau mungkin sedang menjalani panggilan. Apakah karena panggilan ini mengharuskan kita membayar banyak hal, mari belajar dari Yesus. Dalam Yoh 12:24 dikatakan, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.“ Ini adalah metafora kehidupan kita sebagai orang Kristen. Sama seperti biji yang rela mati maka ia akan membuahkan buah yang banyak, demikian juga dengan kita yang jika dengan kerelaan mati dengan segala kedagingan dan ambisi pribadi kita di sanalah sebenarnya terjadi buah, buah, dan buah.

                  6. Ketatan dan Kemuliaan Bapa.
                  Kerinduan utama Yesus adalah melihat nama Bapa dimuliakan, setelah misi yang diembanNya dalam panggilanNya tersebut terlaksana.

                  Sebagai alumni, sadar atau tidak sadar, kerinduan ataupun arah kita bisa bergeser dari Bapa ekpada hal-hal lain. Hal ini menjadi peringatan-peringatan yang harus kita gumuli bersama sesuai dengan bagian kita masing-masing di ‘waktu-waktu getsemani’ kita.

                  Mari melihat wajah ketidaktaatan. Fil 3:18 dikatakan, “Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus”. Banyak orang yang hidup sebagai seteru Kristus. Ini adalah kondisi yang sangat mengerikan. Ini adalah nasihat Paulus kepada jemaat Filipi. Ini adalah nasihat yang sering diberikan Paulus kepada jemaat Filipi ini bahwa banyak orang menjadi seteru salib Kristus yang mungkin awalnya mereka itu adalah jemaat. Bukan hanya satu atau dua orang tetapi banyak yang hidup sebagai seteru salib Kristus.

                  Kemudian dalam 2 Tim 4:10, 14, “10 karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia telah berangkat ke Tesalonika. Kreskes telah pergi ke Galatia dan Titus ke Dalmatia.; 14 Aleksander, tukang tembaga itu, telah banyak berbuat kejahatan terhadap aku. Tuhan akan membalasnya menurut perbuatannya”. Demas dulunya adalah teman sepelayanan Paulus tetapi akhirnya lebih memilih dunia ini dan meninggalkan pelayanan dan menjadi sekutu salib Kristus. Saya berharap tidak ada satu orangpun di antara kita yang menjadi Demas, yang meninggalkan pelayanan lalu mencintai dunia ini. Wajah ketidaktaatan itu adalah menjadi seteru salib Kristus.

                  Jadi, ada empat wajah ketidaktaatan, yaitu:

                  1. Penyangkalan.
                  Demas adalah contohnya. Paulus menyatakan bahwa bukan hanya seorang, tetapi banyak orang yang melakukan penyangkalan ini dan nasihat ini diungkapkan Paulus berkali-kali. Zaman sekarang juga banyak orang yang meninggalkan iman mereka karena memilih untuk mencintai dunia ini. Mungkin kita tidak bisa membayangkan bahwa kita akan menyangkali iman kita. Tetapi tidak sedikit saya menemukan bahwa mereka dulu adalah orang-orang yang militan dan gigih serta serius dalam pelayanan akhirnya memilih untuk mencintai dunia ini. Jika kita pikir kita kebal terhadap godaan atau penyangkalan, kita bisa lebih mudah diserang. Sering kali bukan doktrin yang menjadi alasan orang itu meninggalkan Tuhan. Penyangkalan iman sering kali muncul ketika ada pertentangan kehendak (antara kehendak ku dan kehendak Allah).

                  2. Kompromi
                  Bukan penyangkalan terang-terangan akan doktrin lalu berubah keyakinan. Mark 4:19 dikatakan, “lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah”. Pergumulan ini bisa sangat subur dalam dunia alumni. Mungkin satu atau dua tahun pergumulan ini belum terasa, tetapi sepuluh tahun mulai sedikit-sedikit bergeser. Kompromi itu bukan sesuatu yang perubahan secara total, tetapi sedikit-sedikit. Mungkin dimulai dari hal-hal yang kecil yaitu fokus penggunaan uang, waktu, atau pikiran kita yang sedikit demi sedikit bergeser. Dan akhirnya kita begitu tergoda dengan apa yang ada di sekeliling kita.
                  Dalam Maz 73 kita juga menemukan bagaimana si Pemazmur iri kepada orang jahat yang tidak mengalami kesulitan dalam hidup mereka bahkan terlihat sehat-sehat sedangkan dia yang adalah orang percaya kepada Tuhan mengalami pergumulan yang berat. Tetapi ketika sampai pada titik dimana ia datang dan bertemu dengan Tuhan, dia tahu apa yang menjadi akhir dari hidup orang jahat itu. Pemahaman ini akhirnya membuat si Pemazmur sadar bahwa dia tidak perlu kompromi. Mari belajar dari si Pemazmur ini dan sampai pada titik dimana kita akhirnya menyadari bahwa kita tidak perlu kompromi karena rasa iri melihat orang-orang yang tidak percaya tetapi kehidupan mereka sepertinya tidak ada pergumulan.

                  3. Kepuasan diri.
                  Hal yang sering membuat kita sering cukup berpuas diri adalah karena kita hanya focus dengan apa yang telah kita lakukan. Seharusnya kita harus focus kepada apa yang telah Allah lakukan dan melupakan apa yang telah kita lakukan. Melupakan apa yang telah kita lakukan dan mengingat apa yang telah Allah lakukan adalah seperti koin dengan dua sisi dan tidak boleh dibalik. Hal ini akan mendorong kita Tetapi hal ini mendorong kita untuk terus dalam perlombaan. Perlombaan untuk ketaatan tidak akan selesai sampai kita mati. Adalah sesuatu yang sangat sangat baik jika kita telah taat satu atau dua tahun sebelumnya. Tetapi Pernanyaannya adalah bagaimana dengan ketaatan kita untuk haris esok, dan untuk seterusnya? Itu adalah sebuah perjuangan dan kita tidak akan pernah berhenti berjuang atau berlomba untuk hidup taat.

                  4. Tanpa sukacita
                  Jika kita melayani, tetapi semuanya terasa sangat berat dan tidak ada sukacita, berarti kita mungkin sedang dalam kondisi tidak taat. Sukacita disini bukan berarti bahwa hidup kita ebbas dari air mata bukan juga hidup yang senantiasa dipenuhi dengan tawa tetapi sukacita yang muncul karena kita berada di dalam Tuhan (Fil 3). Jadi sukacita kita itu ada di dalam Tuhan karena menaati Tuhan. Jika sukacita kita ada di luar Tuhan justru itu adalah tanda bahwa kita sedang tidak taat.
                  Ketiadaan sukacita bisa karena hal-hal yang kita miliki, tidak aman karena hal-hal yang tidak/belum kita miliki, sikap kita terhadap Allah yang belum memberikan jawaban doa sesuai dengan yang kita pikirkan.

                  Jika hal ini yang menjadi kondisi kita sangat besar kemungkinan kita sedang menaruh harapan kita bukan kepada Tuhan tetapi kepada pemberian-pemberianNya, dan hal ini membuat kita menjadi tidak bersukacita. Ketika harapan kita tidak lagi kepada Allah, harapan kita akan sering dikecewakan dan membuat kita kehilanagan sukacita dan arah dan spirit untuk taat.

                  Mari mengevaluasi ketaatan kita. Hati-hati dengan penyangkalan, kompromi, kepuasan diri, dan hilangnya sukacita dalam hidup kita. Hal itu adalah penjelmaaan dimana kita ebrubah menjadi seteru salib Kristus. Mari berdoa kepada Tuhan agar Dia menolong kita untuk hidup taat dengan sukarela, sampai akhir, dan sampai tuntas. Kita mohon kepada Dia untuk meneguhkan panggilan kita agar terus fokus menyelesaikan panggilan kita walaupun kita harus membayar harga yang mahal karena kerinduan kita yang terutama adalah untuk melihat nama Bapa dimuliakan melalui hidup kita dan melalui segala sesuatunya di muka bumi ini.
                  Solideo Gloria!