Showing posts with label Knowing God. Show all posts
Showing posts with label Knowing God. Show all posts

Tuesday, December 6, 2011

[Knowing God 2009-04]: The Adequacy of GOD

[Kotbah ini dibawakan oleh Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div pada ibadah Mimbar Bina Alumni, Jumat 6 Februari 2009]



Mari melihat dan membaca Roma 8:1-39! Berbicara mengenai The Adequacy of God berarti kita berbicara mengenai kecukupan Allah. Dan kita akan mempelajari hal ini dengan melihat Rom 8. Perlu kita ketahui bahwa Rom pasal 1-3 memaparkan mengenai manusia yang adalah orang berdosa yang terhilang dan tidak berdaya untuk menyelamatkan dirinya. Dalam Rom 1:18 kita melihat bagaimana Allah menyatakan dirinya tetapi manusia tidak mengenal tetapi menyembah berhala. Dan di dalam ayat 22 sampai seterusnya kita melihat bagaimana manusia diserahkan oleh Allah kepada hawa nafsunya yang jahat, maka muncullah homoseks dan dosa-dosa yang lain di sana. Dalam pasal 2 berbicara hal yang sama dan pasal 3 menyatakan bahwa manusia semua berdosa. Pasal 4-5 berbicara mengenai bagaimana manusia hanya bisa dibenarkan melalui iman atau anugerah Allah di dalam Kristus. Oleh sebab itu di dalam Rom 3:1-10 dinyatakan bahwa manusia telah berdosa secara totsl di dalam hidupnya dan dalam ayat 11-21 dinyatakan bahwa Taurat tidak bisa membenarkan. Di dalam Rom 3:20 dinyatakan, “Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa”, kemudian barulah dalam ayat 21 dinyatakan, “Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi”. Hal ini disebabkan oleh karena tidak ada perbedaan (ayat 22) yaitu semua manusia telah berdosa (23). Dan di dalam ayat 24-25 digambarkan bahwa semua manusia telah dibenarkan oleh kasih karunia secara cuma-cuma melalui penebusan di dalam Yesus Kristus karena Kristus Yesus ditetapkan Allah sebagai jalan pendamaian orang percaya yang merupakan ketetapan Ilahi yang sesungguhnya. Oleh sebab itu, jika kita perhatikan pembenaran oleh anugerah atau iman di dalam kasih karunia Allah dimunculkan lagi pada pasal 4 dengan mengambil contoh Abraham. Abraham dibenarkan oleh Allah bukan karena mengerjakan Taurat, tetapi oleh karena iman. Dalam Roma 5:1-11 dinyatakan bahwa manusia dibenarkan, ditebus, dan diperdamaikan. Di dalam Rom 5:8-10 dinyatakan, ”Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya”.

Kemudian di dalam Rom 6 dinyatakan bahwa orang yang sudah dibenarkan memiliki hidup yang secara total harus dipersembahkan kepada Allah dan hidup di dalam kekudusan. Artinya, dibenarkan atau sudah benar secara status menghasilkan pembenaran yang bertumbuh terus yang menghasilkan hidup yang semakin suci. Dalam Rom 6:12-23 dinyatakan, ”Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran”.

Di dalam pasal 7 ada kontradiksi. Daging bertentangan dengan Roh sehingga manusia hidup yang kontradiksi. Maksudnya adalah manusia tidak bisa sepenuhnya mencapai apa yang baik yang Allah kehendaki.(ayat 19-20, ”Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku”). Di dalam ayat 24 Paulus mengatakan, ”Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini” tetapi kemudian di dalam ayat 25, ia berkata, ”Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita”.

Itulah sebabnya, di dalam pasal 1-3 kita melihat ada konsep teologia dimana manusia yang berdosa not able not to sin---tidak mampu untuk tidak berdosa. Tetapi oleh karena anugerah, dari pasal 3:20 sampai pasal 7 ada pemahaman teologia dimana orang yang sudah beriman able not to sin---dimampukan untuk tidak berdosa. Barulah kita mencapai puncak, di dalam pasal 8, yang memaparkan bagaimana kekayaan Allah yang penuh yang diberikan kepada kita. Dan dalam bingkai inilah kita akan membahas the adequacy of God---kecukupan Allah bagi umatNya.

Di dalam pasal 8 Paulus seolah-olah kembali membicarakan apa yang terdapat di dalam pasal 5:1-11. Ayat 1 dari pasal 5 berbicara bahwa orang yang dibenarkan diperdamaikan, dan orang yang diperdamaikan diselamatkan. Hal inilah yang diulang Paulus kembali lalu muncullah soal keselamatan dengan pembenaran (pasal 5:8-11). Jika kita perhatikan Rom 8:1-30, kita melihat pada bagian ini Paulus membentangkan kecukupan kasih karunia Allah untuk menyelesaikan seluruh rangkaian keadaan yang sulit dalam diri manusia. Di sini dipaparkan dengan jelas oleh Paulus permasalan manusia. Pertama, oleh anugerah Allah, rasa bersalah dan kuasa dosa yang ada di dalam diri manusia diselesaikan(1-5); kedua, fakta maut (6-13); ketiga, ketakutan untuk menghadap kekudusan Allah (15-16); keempat, kelemahan dan keputusasaan saat menghadapi penderitaan (17-25); kelima, kelumpuhan dalam doa (26-27); keenam perasaan bahwa kehidupan itu tidak berarti dan tidak memiliki pengharapan (28-30). Dalam setiap permasalahan yang kita miliki, seperti yang Paulus paparkan, Allah cukup bagi kita untuk menyelesaikan semua hal tersebut.

Ada empat karunia yang diberikan oleh Allah sehingga kita berani berkata bahwa Allah cukup bagi kita. Pertama. Pembenaran. Karena pembenaran yang dilakukan oleh Allah bagi umatNya tidak ada lagi penghukuman (ayat 1). Karya Allah yang mebenarkan cukup untuk membebaskan kita dari maut. Itulah sebabnya tidak ada Injil plus. Pembenaran bukan karena Injil plus seperti bapis selam atau yang lain. Kedua, karunia Roh Kudus. Di dalam ayat 4-27 kita melihat bahwa Roh Allah diberikan bagi kita sehingga kita menjadi anak-anak Allah dan kita menjadi milik Kristus dan oleh Roh itulah kita bisa bersaksi bahwa kita adalah anak-anak Allah. Status baru sebagai anggota Kerajaan Allah merupakan karunia Allah yang ketiga. Ini adalah karunia yang luar biasa. Bagi kita Allah cukup untuk menyelamatkan dengan RohNya yang menguatkan, menyertai, memateraikan, menghiburkan, dan berdoa bagi kita ketika kita tidak mampu. Dan karunia keempat adalah adalah ada keterjaminan/keamanan kini dan selamanya (28-30).

Karena itu, status kita sebagai orang yang sudah dibenarkan dan ditambah dengan dinamika rohani oleh pekerjaan Roh bagi orang percaya ditambah dengan identitas sebagai anak-anak Allah dan ditambah dengan hidup yang terjamin bersama dengan Allah, membuat kita memahami bahwa kecukupan Allah cukup bahkan lebih dari cukup bagi kita. Hal ini juga lebih daripada cukup untuk mendukung orang kita sebagai orang Kristen apapun persoalan hidup kita. Dengan demikian ketika banyakpun persoalan atau tantangan di dalam hidup kita ingatlah status, dinamika, identitas, dan keterjaminan hari ini sampai selama-lamanya oleh karena Kristus membuat kita berkata bahwa kecukupan Allah cukup bagi kita.

Ada berbagai kemungkinan persoalan yang dihadapi orang. Apakah kehilangan pekerjaan atau sahabat demi integritas; orangtua, anak-anak atau pasangan yang mengecewakan, kesehatan dan keterbatasan jasmani yang serius, merasa orang asing di rumah atau tempat kerja karena iman, kehilangan orang yang dikasihi, merasa Allah tidak memperhatikan, kesulitan ekonomi, usaha bangkrut, PHK, dimarginalkan, difitnah, dikecewakan orang lain dll, kita berani berkata bahwa Allah cukup bagi kita---The adequacy of God is enough for us!

Dalam Rom 8:31-39, ada empat pemikiran utama. Pertama, kalau Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita (31)? Kedua, bagaimana mungkin Dia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama dengan Kristus (32)? Ketiga, siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah (33-34)? Keempat, siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus (35-36)? Dan keempat pemikiran ini akan kita lihat lebih dalam.

Allah Dipihak Kita.
“Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita.” (ay 31)

Berbicara mengenai Allah dipihak kita akan menimbulkan pemahaman mengenai Allah yang cukup untuk diandalkan, di mana tidak ada lawan yang pada akhirnya dapat menghancurkan kita (Kel.34:6; Yes.46:9-10)? Selama Allah dipihak kita, maka tidak ada satu kuasapun yang mampu menggeser kita. Hal ini harus dimiliki oleh anak-anak Tuhan. Kata ‘di pihak kita’ menyatakan komitmen dalam perjanjian (covenant) Allah yang tidak pernah dibatalkan oleh Allah (Kej.17:1,7-; Mzm.56:10. bd. Kel.3:12; Yosua.1:9 ‘Allah menyertai’). Allah cukup sebagai pembela kita. Karena itu mari lebih mengarahkan pandangan kepada Allah dari pada kekuatan para musuh dalam kehidupan. Kegagalan kita sehingga tidak bisa berkata: ”Kecukupan Allah cukup bagiku!”, adalah karena kita lebih fokus pada persoalan dan musuh yang akhirnya melemahkan dan membuat kita kecut. Allah tidak pernah menjanjikan hidup tanpa masalah atau persoalan dan tantangan, tetapi Dia menjanjikan penyertaan dan kekuatan bagi anak-anakNya dalam menghadapi masalah tersebut (1 Kor.10:13; Flp.4:13). Kecukupan Allah dalam persoalan hidup dan menghadapi musuh, - jangan pandang betapa besarnya kekuatan musuh, tetapi lihat dan andalkanlah betapa besarnya kuasa Allah yang dipihakmu. Jika berfokus kepada persoalan dan kekuatan musuh, maka hal itu akan membuat kecut dan melemahkan iman dan semangat kita.

Kebaikan Allah Tidak Ditahan
"Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia" (ay 32)

Mari kita perhatikan ayat ini. Allah tidak menahan kebaikanNya. Allah sebagai dermawan yang maha kuasa. Perhatikan, di sini tampak dua pribadi Allah mampu melakukan kedermawananNya. Dia yang sangat dermawan, sekaligus Allah yang tidak menahan kebaikan dan kepastian karya penebusanNya. Salib adalah puncak pengorbanan terbesar (AnakNya yang tunggal). Rom 5:8 berkata, ”Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa”. Tidak ada karunia kasih yang melampaui hal ini – Yesus menyerahkan nyawa untuk memberi apa yang paling kita butuhkan yang paling berharga dan penting di dalam hidup kita melalui kematian dan kebangkitanNya. Dengan pemahaman seperti ini, maka ketakutan dan kekuatiran kita bisa hilang. Allah pemilik segala sesuatu, penuh kasih yang dermawan dan mahakuasa untuk menyatakan segala kebaikanNya. Allah yang menyerahkan diriNya bagi kita, merupakan jaminan bahwa ‘segala sesuatu’ akan diberikan. Kristus dan ‘segala sesuatu’ berjalan bersama-sama seperti ramuan dalam satu karunia tunggal. Ketika Allah memberikan keselamatan itu, maka semua berkat dan semua yang Allah janjikan ada di dalam Kristus. Panggilan, pembenaran dan pemuliaan umat Allah (ay 30) mencakup segala sesuatu dari kelahiran baru sampai kebangkitan tubuh, semuanya telah disebutkan dan disediakan oleh Allah (bd. Mt.6:33; Mrk.10:29-30).

‘Segala sesuatu’ berarti segala sesuatu yang baik menurut Allah, sebab hikmat dan kuasaNya yang tak terbatas memandu kemurahan hatiNya. Hal ini harus kita sadari karena sering sekali kita menjadikan konsep kita menjadi konsep Allah. Allah lebih tahu apa yang lebih tepat dan berguna bagi diri kita. Sama seperti anak kecil yang minta silet kepada bapanya. Siapa bapa yang tega memberikannya. Oleh sebab itu, kita harus mengevaluasi jangan-jangan permintaan kita itu berbahaya bagi kita. Hal inilah yang dikatakan Yakobus, jangan-jangan apa yang kita minta itu memuaskan hati kita dan ketika itu terjadi jangan-jangan kita semakin jauh dari Tuhan. Hikmat Allah dan kemahakuasaan Allah yang tidak terbatas itu cukup untuk memandu kita. ‘Segala sesuatu’ juga dalam waktu dan caranya Allah bagaimana Dia menggenapinya dalam kehidupan kita. Inilah bukti yang menunjukkan kecukupan Allah bagi orang percaya.

Tidak Ada yang Menggugat Kita
"Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? 34Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita." (ay 33)

Tidak ada gugatan yang dapat membatalkan warisan kita sebagai Anak Allah oleh siapapun dan apapun. Kecukupan Allah sebagai Pemenang yang mahakuasa dan kepastian keputusanNya dalam membenarkan kita tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun (bd. Rom.5:1-2). Ini akan menghapus ketakutan atas penolakan Allah – Allah tidak akan menolak kita. Jika kita betul-betul lahir bari, sejauh manapun kita berdosa Allah tidak pernah menolak kita jika kita datang kepadaNya. Keselamatan kita tidak akan pernah diragukan. Tetapi ingat, Dia juga hakim yang adil. Ada 2 jenis hati nurani yang sakit dalam dosa. Pertama, dia tidak sadar bahwa dia berdosa. kedua tidak sadar bahwa dosanya sudah diampuni. Dua hal ini berbahaya.

Paulus melihat betapa mudahnya hati nurani orang dibawah tekanan dosa dan kegagalan akan meragukan pengampunan Allah (Rom.7:14-25). Orang Kristen dapat gagal dan jatuh, dan hal tersebut adalah sesuatu yang menyedihkan. Tetapi Paulus menyangkal bahwa setiap pelanggaran saat ini bisa membahayakan status kita yang sudah dibenarkan. Artinya tidak seorangpun yang sudah dibenarkan berada dalam posisi peninjauan kembali. Mengapa hal ini bisa terjadi? Alasannya adalah yang dibenarkan Allah saat ini sudah dipilih sejak kekekalan berdasarkan kasih karunia Allah untuk mendapatkan keselamatan kekal. Adanya kedaulatan Allah dalam penghakiman. Dia, Sang Hakim telah membenarkan orang percaya dan tidak seorangpun dapat mengubah keputusan tersebut. Karya penebusan dan pembenaran Kristus yang sempurna ada bagi kita sebagai orang yang percaya (34. bd. Kis.5:31).

Tidak Ada yang Sanggup Memisahkan Kita
"Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? 36Seperti ada tertulis: "Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan." (ay 35)

Kasih dalam Kristus adalah kasih yang memilih, membenarkan dan memuliakan orang percaya. Inilah kecukupan Allah dalam segala sesuatu. Artinya adalah Allah cukup sebagai Penjaga kita (1 Ptr.1:5), Allah cukup sebagai tujuan hidup kita (Flp.3:8-14), dan Allah cukup untuk menjaga atau memegang kita, sehingga tidak ada satu kuasa apapun yang dapat merebut kita dari tanganNya (Yoh.10:28-29). Sebagai orang tebusan yang sudah dibenarkan tidak ada satu hal apapun baik maut, penderitaan, kelemahan, kekurangan, kegagalan atau kesengsaraan (35-36) yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah, bahkan kita lebih dari pemenang oleh Dia yang telah mengasihi kita (37). Tidak ada satu kuasa apapun yang cukup kuat untuk memisahkan kita dari Allah (38-39, ”38Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, 39atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”).

Jika demikian bagaimana? Pertama, memiliki Kristus tidah hanya cukup, tetapi lebih dari cukup---to have Jesus is not only enough but more than enough. Kita akan merasa puas jika memahami bahwa Allah telah memberikan yang terbaik bagi kita. Kecukupan Allah membuat kitabisa memahami hal ini dengan baik. Jadi, jika ada hal yang belum atau tidak akan pernah kita miliki tidak akan mengurangi sukacita atau ketenangan batin kita. Kecukupan Allah sempurna bagi kita semua. Having Jesus is more than everything. Maka seandainya jika masih ada hal yang belum atau tidak akan pernah kita miliki atau raih dalam hidup ini, hal itu tidak akan mengurangi sukacita, damai dan ketenangan jiwa kita. Kecukupan Allah menghiburkan, menguatkan dan memberi kedamaian sejati bagi umat-Nya. Apapun yang terjadi di dalam hidup kita, Allah cukup bagi kita.

Solideo Gloria!

[Knowing God 2009-03]: God the Judge

[Kotbah ini dibawakan oleh Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div pada ibadah Mimbar Bina Alumni, Jumat, 30 Januari 2009]


Malam ini kita akan berbicara mengenai God The Judge-Allah adalah hakim. Jika kita berbicara kepada orang lain bahwa Allah itu baik, kasih, atau murah hati pasti orang akan senang dan menerimanya dan mengatakan: ”Amin!” Tetapi ketika bicara soal Allah yang adalah hakim yang adil dan Allah akan membalaskan setiap perbuatan manusia, apa respon mereka? Jika kita ditanya mengenai konsep kita akan Allah---Allah itu baik atau Allah itu adil---yang mana menjadi pemahaman kita? Banyak dari kita akan memilih pemahaman yang pertama. Kita tidak ragu memilih yang pertama karena kotbah yang sering kita dengarkan adalah mengenai Allah yang baik dan kasih.

Allah yang adalah kasih juga adalah Allah yang adil. Dan salib adalah perpaduan antara kasih dan keadilan Allah. Yoh 3:16 berkata: ”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” dan Ulangan 32:4 berkata, ”Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia.” Kasih dan keadilan Allah berjalan bersama dan harus dipahami dengan berimbang. Jika kita tidak memaminya dengan baik, maka akan ada ketimpangan yang akan mempengaruhi bagaimana hidup kita. Teologia menentukan cara dan nilai hidup manusia dan akan mewarnai hidup. Jika kita hanya fokus kepada kasih, kebaikan, dan kemurahan Allah, maka bisa saja hidup seseorang itu menjadi tidak tertib dan suka bermain-main. Jika kita hanya fokus kepada Allah yang adil, maka kita bisa hidup di dalam ketakutan. Itulah sebabnya jika kita perhatian Fil 2:12 dikatakan, ”Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir.” Ada sikap penuh hormat dan taat kepada Allah dan penting ada kesimbangan antara Allah yang kasih dan Allah yang Adil. Di dalam kasih Allah kita tenang dan di dalam keadilan Allah kita membutuhkan disiplin dan rasa hormat dan taat kepada Allah. Allah adalah Hakim sebagai penyataan karakterNya dan penanaman pentingnya nilai moral dalam kehidupan manusia. Allah bukan hanya hakim di akhir zaman, melainkan Dia adalah juga Hakim pada setiap masa (presentis dan eskatologis).

Allah adalah hakim (Maz 75:8, ”tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain”) dan Dialah Hakim segenap bumi (Kej 18:25, ”Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?”). Yesus juga adalah agen Bapa dalam penghakiman. Maksudnya adalah untuk melaksanakan pemnghakiman, Bapa melimpahkannya kepada Yesus ( Mt.7:13-27; 10:26-33; 12:36; Lk.13:23-30; 16:19-31; Yoh.5:22-30. lih. Mt.25:31 -; Dan.7:13-14).

Sebagai Pencipta, Allah adalah pemilik; sebagai Pemilik, Dia berkuasa atas ciptaan, karena itu Dia berhak untuk membuat hukum/peraturan bagi manusia ciptaanNya. Dengan hukum, Allah memberi pahala bagi yang menaati dan hukuman bagi yang melanggar. Allah Pemberi hukum sekaligus juga hakim untuk pelaksanaan hukum. Allah adalah Hakim yang adil dan membenci hal yang serong. Allah adalah hakim yang mahatahu dan penuh hikmat penyelidiki hati manusia, sehingga tidak seorangpun dapat membohongi Allah. Jika pengadilan di dunia bisa membalikkan fakta, yang salah jadi benar atau benar jadi salah, tetapi pengadilan Allah tidak demikian. Karena kemahatauanNya tidak ada satu orangpun yang bisa membohongi Allah karena Dia dapat menyelidiki hati manusia. Sebagai hakim, Allah membuat hukum, menjatuhkan hukuman dan pelaksana hukuman itu sendiri. Allah adalah Hakim yang sempurna moral, kebenaran, keadilanNya, hikmat, kemahatahuan, dan kemahakuasaanNya sehingga keputusan yang dilakukanNya selalu benar. Sebagai Hakim yang adil maka Allah menuntut pembalasan dimana setiap orang menerima apa yang pantas mereka terima, yaitu membalas yang baik dengan yang baik dan yang jahat dengan yang jahat (Rom.2:6-11; 2 Kor.5:10-11).

Banyak pemahaman yang mengatakan jika Allah yang adil membalaskan yang adil kepada yang adil dan yang jahat kepada yang jahat, berarti Allah tidak punya kelebihan apapun dan tidak ada bedanya dengan manusia. Jika hanya demikian halnya, bukankah ada satu kontradiksi di dalam pemahaman ini? Bukankah seorang bapak yang jahatpun tahu memberi yang baik kepada anaknya apalagi Bapa yang di Surga? Bukankah ini satu kontradiksi? Jawabannya adalah bukan! Allah tetap adil dengan membalaskan yang baik kepada yang baik dan membalaskan yang jahat kepada yang jahat dan ini tidak bisa dipungkiri oleh siapapun dan pasti terjadi kepada setiap orang baik yang percaya maupun yang tidak percaya. Jika Allah menuntut pembalasan kepada setiap orang bukan berarti mengurangi standart esensi Allah yang adalah adil. Oleh sebab itulah Allah tidak pernah salah dalam memberi keputusanNya. Di dalam Roma 2:6-11 dikatakan Paulus mengatakan, ”  Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman.. Penderitaan dan kesesakan akan menimpa setiap orang yang hidup yang berbuat jahat, pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani, tetapi kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik, pertama-tama orang Yahudi, dan juga orang Yunani. Sebab Allah tidak memandang bulu.” Hal ini relevan dengan Gal 6:7-8 dimana dikatakan, ”Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” Allah adalah Hakim yang adil dan Paulus dalam 2 Kor 5:10-11, menggambarkan hal ini, ”Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat. Kami tahu apa artinya takut akan Tuhan, karena itu kami berusaha meyakinkan orang. Bagi Allah hati kami nyata dengan terang dan aku harap hati kami nyata juga demikian bagi pertimbangan kamu”.

Bagaimana dengan jeritan Asaf dalam Mzm.73:2-14. ‘Allah tidak adil’? Benarkah demikian? Jika kita membaca Mazmur ini, sering sekali dalam kehidupan kita kita berkata seperti yang tertulis di Mazmur ini. Kita berkata Allah tidak adil karena melihat hidup orang fasik lebih berbahagia dibandingkan kita dengan orang fasik sedangkan kita adalah anak Tuhan. Ini pergulatan di dalam diri kita masing-masing. Dan Mazmur ini adalah self-talk yang dilakukan oleh Asaf. Inti dari Mazmur ini 73 ini adalah ayat 1, ”Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya.” dan ayat 25 dan 26, ”Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” Sebenarnya di dalam Mazmur ini Asaf sedang berdialog dengan Tuhan. Prinsip-prinsipnya ada di dalam ayat 1 dan 15 sampai selanjutnya. Dan dalam ayat 2-14 dia menanyakan dimana keadilan Tuhan dalam self-talknya dan hal yang sama sering kita tanyakan di depan Allah. Sangat menyakitkan jika kita dipimpin oleh orang yang tidak kompeten dibandingkan dengan kita, hanya karena KKN atau karena suku maka dia menjadi bos kita. Oleh sebab itu kita mempertanyakan keadilan Allah. Tetapi ingat Allah adalah adil---God the Judge, dan Dia akan tetap membuat keputusan yang benar dan dia tidak pernah tidak adil. Dengan segala kondisi kita mari berkata, ”Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” Apapun yang terjadi, tidak akan menggeser cintaku kepada Allah. Oleh sebab itu sering-seringlah berdoa dengan self-talk kepada Allah dan izinkan Tuhan berbicara kepadamu dan terbukalah dihadapan Allah.

Di dalam PL ada beberapa penghakiman yang dilakukan oleh Allah. Di dalam peristiwa Kejatuhan. Kej.3:17-19 dan pengusiran dari taman Eden, pada masa Nuh (Kej.6-8.), peristiwa Sodom dan Gomorah. (Kej.18-19), 10 tulah bagi orang Mesir (Kel.7-12), Anak lembu emas (Kel.32:26-35) ketika Harun dipaksa bangsa Israel membuat patung lembu emas. PL penuh dengan catatan kasih dan penghakiman Allah dan akibatnya adalah maut. Dan penghakiman Allah di dalam PL juga hadir di dalam PB. Contohnya adalah Ananias dan Safira yang langsung meninggal karena membohongi Allah (Kis 5:1-11). Jika penghakiman seperti ini terjadi bagi kita sekarang ini, ada tidak yang diantara kita masih hidup? Contoh lain adalah Herodes yang sombong (Kis 12:21-23) yang menyatakan tidak ada Tuhan langsung mati. Elimas, tukang sihir yang menentang Injil (Kis 13:8-12) yang langsung dihukum Tuhan melalui Paulus. Demikian juga halnya dengan orang Korintus yang tidak menghormati Perjamuan Tuhan langsung dihukum Tuhan (1 Kor 11:27-32).

Satu pertanyaan yang menjadi evaluasi bagi anda, apakah anda menerima bahwa Allah adalah hakim bagi dirimu pada zaman ini sehingga wajar anda menerima apa yang terjadi dalam hidup anda sekarang ini? Pernahkan anda merasa dihakimi dan dihukum oleh Allah sekarang ini? Ibrani 12:5-8 mengatakan bahwa anak yang dikasihi pasti Tuhan hajar. Adakah Allah yang adil sebagai hakim sedang bekerja dalam diri kita sedang menghakimi kita? Hal ini pasti. Jangan berpikir bahwa Allah menjadi hakim hanya pada akhir zaman. Hari inipun Allah adalah hakim yang adil yang membalaskan sesuai dengan perbuatan kita.

Allah juga adalah hakim dalam penghakiman terakhir. Penghakiman terakhir dihubungkan dengan 2nd coming of Christ (Mrk.8:38; 1 Kor.4:5; bd. 2 Tes.1:5-10) dan Hakim itu adalah Allah sendiri (Kej.15:25;Yak.4:12; Why.20:11) dan hakim itu adalah Kristus sendiri sebagai perwakilan Allah (Mt.16:27; Yoh.5:22-27). Semua orang akan dihakimi (2 tim 4:1, ”Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya;), baik hidup dan yg mati (Kis.10:42, ”Dan Ia telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa dan bersaksi, bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati); percaya atau bukan (Rom.14:10-12, ”Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah. Karena ada tertulis: "Demi Aku hidup, demikianlah firman Tuhan, semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku dan semua orang akan memuliakan Allah." Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah”). Oleh sebab itu jangan bermain-main di dalam hidup kita apalagi teogia Lutheran yang memahami sola gratia, sola scriptura, dan sola fide sehingga kurang berbicara mengenai keadilan Allah dan akhirnya bermain-main di dalma hidup ini. Dengan pemahaman bahwa Allah adalah adil, maka tidak ada seorangpun yang akan bermain-main karena semuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Standar penghakiman adalah kebenaran Allah diperhadapkan kepada perbuatan manusia (Mt.16:17; 2 Tim.4:14; 1 Ptr.1:17). Jika kita diperhadapkan dengan Paulus saja, mungkin kita akan menjadi kecut. Bayangkan jika kita diperhadapkan kepada Allah yang tanpa noda, pasti kita akan melihat kenajisan diri kita sendiri. Jika kita bercermin di air kubangan maka kita tidak akan melihat kekurangan diri kita. Diperhadapkan dengan Allah itu adalah penghakiman. Allah yang suci dan benar diperhadapkan dengan segala kebenaran kita, maka pastilah tidak seorangpun kita yang mampu berdiri ditahta keadilan Allah. Tetapi ketika kita bercermin di cermin yang bersih, maka kita akan melihat segala noda di wajah kita. Standart penghakiman adalah kebenaran Allah dibandingkan dengan kebenaran kita. Itulah sebabnya tidak seorangpun berani berdiri di tahta pengadilan Allah jika bukan karena anugerah. Ini berarti hukuman atau kebinasaan bagi yang tidak percaya dan keselamatan (pahala) bagi yang ada dalam Kristus (Mt.10:32-33). Berbicara soal keselamatan, Allah adalah hakim yang adil, dan oleh karena keadilanNya dosa kita yang sudah ditmpakan kepada Yesus, itulah yang menyelamatkan kita. Tetapi bagi mereka yang tidak menerima Yesus maka pengadilan dengan penghukuman kekal. Tetapi ingat, orang yang lahir barupun dihukum oleh Tuhan, tetapi tidak berbicara soal keselamatan yang hilang. Jangan berpikir jika kita sudah lahir baru kita tidak menghadap tahta pengadilan Allah. Tetapi kita akan tetap selamat. Penghakiman disediakan juga bagi para malaikat (2 Ptr.2:4; Yudas.6). Penghakiman dilaksanakan bagi orang yang tidak pernah mendengar Injil atau tidak mengenal Allah (Kis.14:17; Rom.1:19-23; 2:14-16)

Siapakah objek penghakiman Allah? Pkh 11:9; 12:14; Rom 2:16 menyatakan bahwa kita semuanya objek dari penghakiman. Baik malaikat, lahir baru atau tidak, kenal Allah atau tidak, semua akan menjadi objek penghakiman Allah. Hakim berdiri di depan pintu (Yak.5:9) dan siap untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati (1 Ptr.4:5), orang yang percaya atau tidak. Menjadi pertanyaan, di mana letak penghakiman bagi orang percaya atau tidak? Mari melihat 1 Kor 3:10-15. Dari bagian tadi kita melihat bahwa jika memiliki dasar yang adalah Kristus, maka keselamatan mereka tidak akan hilang. Keselamatan orang lahir baru tidak pernah hilang, tetapi pertanggungan jawab akan hidup selama di dunia tetap ada. Dan hal ini berbicara soal pahala (2 Tim 4:7-8). Allah berdiri sebagai hakim yang adil (2 Kor 5:10-11; Yoh 5:24) dan bagaimana Allah membalaskan sesuatu sesuai dengan perbuatannya dan bagaimana bagaimana pengampunan secara cuma-cuma dan pembenaran oleh iman diselaraskan dengan penghakiman berdasarkan perbuatan (Wahyu.20:11-15; 1 Kor.3:10-15). Jangan sampai berpikir yang penting sudah lahir baru dan selamat. Tetapi Allah yang kita pelajari adalah Allah yang membalaskan tindakan kita dan kita harus pertanggungjawabkan. Kita akan selamat, tetapi alangkah lebih baik jika Allah berkata, ”Hai hambaku yang setia, masuklah dan duduklah makan bersama-sama dengan aku". Penghakiman itu juga dasarnya adalah pengetahuan. Pengetahuan bagi orang yang tidak tahu sama sekali dia tidak bisa menuntut Allah, tetapi yang memiliki pengetahuan akan dituntut lebih besar. Mari melihat Luk 12:47-48, dikatakan, ”Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.” Jika kita banyak tahu, banyak karunia, ilmu atau apapun, maka kepada kita banyak dituntut. Inilah pengetahuan. Tahu kebenaran tetapi tidak dilakukan tuntutannya lebih besar. Inilah penghukuman Allah bagi kita. Oleh sebab itu jangan bermain-main.

Berbicara soal penghakiman, jadikan sang Hakim tersebut menjadi Juruselamat. Yesuslah Hakim sekaligus juga Pembela bagi orang percaya. Inilah jaminan keselamatan kita. Untuk keselamatan kita tidak pelu takut, tetapi mempertanggungjawabkan hidup adalah wajib bagi kita. Tujuan pertobatan atau lahir baru bukan hanya masuk Surga. Jika hanya sekedar masuk Surga maka kita bisa bermain-main dengan hidup kita. Masuk Surga adalah buah dari lahir baru. Tujuan percaya/lahir baru adalah hidup suci (Efesus 1:4, ”Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya”; band ayat 11). Tuntutan hidup suci dan penuh kebaikan supaya tidak kedapatan bercela.” (bd. Flp.2:12-13; Ef.1:4,11). Hal ini juga penting agar kita dapat berkarya nyata bagi Dia (Mt.25:31-46). Bukan hanya hidup suci, tetapi mari berkarya bagi Allah karena Dia adalah Allah yang adil bagi hidup kita. Sebagai anak-anak Tuhan yang sudah dikuduskan, mari kita senang untuk tidak berdosa. Jika kita hanya takut untuk berdosa, seolah-olah kita hanya memandang Allah sebagai hakim yang adil. Jauh dibalik itu kita ingin menyenangkan hati Tuhan oleh sebab itu kita senang untuk tidak berdosa.

Solideo Gloria!

Thursday, November 3, 2011

[Knowing God 2008-04]: The Majesty of GOD

Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div

Sore hari ini kita akan membahas mengenai topik dari seri Knowing God yang terakhir untuk tahun 2008. Kenapa topik ini harus digali dan dibahas adalah karena tidak akan pernah ada satu penyembahan yang benar jika pengenalan terhadap aspek yang dipuja atau sembah itu absurd (kabur). Seorang teolog pernah berkata, “If you want to know God, love Him more and to be like Him more.” Ada juga pemahaman teologia yang mengatakan bahwa setiap orang yang mengenal Allah, (1) memiliki satu energi yang besar untuk Allah dan mau berkorban untuk Allah, (2) memiliki keberanian yang tulus untuk Allah, keberanian untuk berkorban, mengikuti, dan membayar harga, dan (3) memiliki satu rasa tenang atau puas dan menikmati hidup di dalam Allah (contenment in God). Artinya ketika dia tidak mendapatkan apapun dari dunia ini, tetapi ketika dia memiliki Allah dan mencintai Allah, dia mendapatkan lebih dari segala-galanya.

The Majesty of God identik dengan The Greatness of God, karena kata ‘majesty’ berasal dari bahasa Latin yang sama artinya dengan kata ‘greatness’. Jadi, berbicara tentang The Majesty of God, berarti berbicara juga mengenai The Greatness of God. Kita harus dapat melihat kebesaran Allah karena di dalam diri Allah ada satu kebesaran, sehingga kita mampu menyatakan kekaguman, penghormatan dan pujian kita kepada Allah. Itulah sebabnya penting memahami mengenai The Majesty of God. Misalnya, di Inggris ada sebutan untuk ratu yaitu ‘Her Majesty’ the Queen. Hal ini berarti ratu Inggris adalah orang yang paling agung dan mulia di Inggris. Perlu kita ketahui, bahwa gelar kebangsaan di Inggris tidak diberikan dengan gampang. Orang yang mendapat gelar adalah orang yang berjasa. Misalnya adalah Alex Ferguson. Dia mendapat gelar kehormatan ‘Sir’ karena prestasinya membawa klub sepakbola Manchester United meraih tiga penghargaan dalam satu tahun. Dalam masyarakat Inggris, gelar ‘Sir’ adalah gelar yang terhormat dan sangat agung, tetapi keagungannya tidak dapat dibandingkan dengan gelar ratu Inggris yaitu ‘Her Majesty’ the Queen. Hal ini penting untuk membantu kita melihat hal yang sama dalam diri Allah. Ketika kita memahami bahwa Allah adalah mulia atau majesty, maka kita pun bisa menyatakan penghormatan kita kepadaNya. Itulah sebabnya kita harus mengenal The Majesty of God agar kita mengenal siapa Allah dan akhirnya kita bisa memiliki penghormatang yang benar kepada Dia.

The Majesty of God dipahami dalam hubungannya dengan the Greatness of God sebagai pencipta (creator) dan Tuhan kita (our Lord). Dalam bingkai inilah kita melihat kemuliaan dan kebesaran Allah, sebagai pencipta dan Tuhan kita. Artinya kita adalah ciptaan dan Tuhan adalah pencipta kita dan betapa agung, besar dan mulianya Dia dan Dialah Tuhan dan kita adalah hambaNya yang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Dia. Dalam kondisi inilah muncul kekaguman dalam diri kita. Maka kita memahami konsep The Majesty of God di dalam the Greatness of God sebagai pencipta dan Tuhan kita, sang Pemimpin dan pemilik hidup kita.

Itulah sebabnya jika kita memperhatikan kitab Kej 1, di dalamnya ada pemahaman yang menyatakan bahwa The Majesty of God adalah Allah sebagai pencipta segala sesuatunya. Bayangkan kita, sebagai ciptaan, berhadapan dengan Allah sang pencipta. Bukankah kemuliaan sang Pencipta ada di dalam ciptaanNya? Kehormatan pencipta dilihat dari karyaNya. Sampai sekarang kita tidak mungkin lupa dengan Thomas Alfa Edison dengan temuan listriknya, Albert Enstein dengan teori relativitasnya, ataupun Sigmund Freud dengan psikoanalisanya. Artinya adalah mereka semua dikenal melalui karya mereka. Oleh karena itu The Majesty of God, sebagai pencipta, ada di dalam diri kita sebagai ciptaanNya. (bd Kej 1:1-31; Mzm 93:1-2; mzm 145:4-5; 2 Ptr 1:17; Ibr 1:3; 8:1; Mzm 48:2; 95:3-6).

The Majesty of God dipahami bukan sesuatu yang absurd dalam arti bukan sesuatu tanpa kejelasan. Tetapi The Majesty of God dihubungkan dengan Dia sebagai satu pribadi (personal). Ketika kita berkata, “He is great and wonderful God”, maka kita mengatakannya kepada satu pribadi dan sebutan ini dalam nama YHWH di sebut dengan Elshaddai-­­ God Almighty, Allah Maha Kuasa. Jadi, ketika kita mengatakan, “ You are the Majesty of God,” berarti kita menujukannya pada satu pribadi karena kita mengacu pada objek kekaguman dan pemujaan yang benar.

Beberapa dampak jika kita tidak mampu melihat The Majesty of God.

  1. Membuat iman kita menjadi lemah (feeble). Feeble ini berarti weak-lemah, bukan dalam pengertian secara fisik atau badan yang lemah, tetapi lemah tidak ada semangat, tidak tegar. Jika kita bisa memahami dan menginternalisasi, maka kita akan bermuara pada iman yang freeble. Jika kita bisa memahai hal ini dengan benar dan sungguh-sungguh, maka kita akan memiliki iman yang tegar karena melihat kemuliaan Allah dan Kemuliaan Allah tersebut membuat kita kagum.
  2. Ketidakmampuan melihat The Majesty of God akan membuat kita terjebak dalam penyembahan yang flabby (tertatih-tatih). Artinya kita punya penyembahan yang mekanis, yang seolah-olah dipaksakan. Jika kita tidak mengenal Allah, kita tidak bisa melihat keagungan dan kebesaran Allah, maka iman kita akan lemah dan penyembahan kita pun dilakukan antara suka dan tidak suka.
  3. Jika orang tidak memiliki pemahaman yang jelas akan muncul penyebutan Allah yang sembarangan. Nama Allah menjadi sesuatu yang murahan. Jika kita memahami The Majesty of God, maka kita tidak menyebut nama Allah dengan sembarangan. Mari melihat orang Yahudi yang tidak berani menyebut YHWH. Mereka memanggil Allah dengan nama Adonai, Elohim, dan lainnya, dimana nama-nama ini jauh sekali dari YHWH. Walaupun dalam teologia PB kita dekat dengan Allah dan Allah hadir bersama dengan kita, tetapi jangan sampai nama Allah itu menjadi murahan dan kita jangan sampai bermain-main dalam penyebutan nama Allah. Itulah sebabnya kita dilarang bersumpah. Dalam Mat 5:37 ditulis, ”Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” Apa yang igin dikatakan Kristus di sini adalah jangan sembarangan menempatkan Allah. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk memahami The Majesty of God yang memampukan kita menempatkan Allah pada posisinya.

Ada beberapa cara agar kita mampu melihat Kebesaran Allah, yaitu: Pertama adalah menjauhkan pemikiran bahwa Allah itu terbatas (dalam hal waktu, kuasa, kemampuan, ataupun pengetahuan, dll). Jika kita melakukan hal ini, maka kita membuat Allah menjadi kerdil dan terbatas, sempit, tidak mampu melakukan segala sesuatunya, dan hal ini akan membuat kita tidak dapat melihat kemuliaan Allah. Jadi, tanggalkan pemikiran bahwa Allah terbatas. Allah mampu melakukan segala perkara, dan belum tentu Allah yang mampu melakukan segala perkara itu mau menyatakan kuasanya seperti yang kita mau. Kedua, mari membandingkan Allah denga semua kuasa dan kekuatan yang kita anggap besar. Terkadang muncul pertanyaan dalam diri kita, bukankah Suharto yang berkuasa selama 32 tahun di Indonesia lebih hebat dari Allah? Atau Fidel Castro di Kuba selama 42 tahun? Atau Adolf Hitler dengan segala kekuasaannya? Bukankah orang-orang di atas penuh dengan kekuasaan? Di mana Kebesaran Allah? Orang-orang yang disebutkan tadi memang hebat, tetapi ingat, mereka semua lenyap ditelan oleh waktu. Tetapi The Majesty of God kekal adanya. Maka ketika kita membandingkan Allah, tidak ada satu pun yang bisa seperti Allah. Dalam Mzm 139:1-18, dikatakan, ”... Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau...”. Kita tidak bisa lari dari hadapan Tuhan. The Majesty of God dipahami dari segi, yaitu: The Omnipotence (Allah Maha Kuasa), The Omnipresence (Allah Maha Hadir), dan The Omniscience (Allah Maha Tahu).Ketiga karakteristik Allah ini membuat kita menjadi kagum kepadaNya. Jika kita menyadari dengan kacamata iman dan teologia yang benar siapa Allah, Dia tidak ada bandingannya.

Mari melihat Yes 42:12-26. dalam bagian firman ini kita akan melihat bagaimana Allah dibandingkan dengan beberapa hal.

  1. Ayat 12-14. Dalam bagian ini mari melihat Allah dari karya dan kemampuanNya, dari apa yang bisa dilakukanNya. Tidak ada seorang manusia pun yang bisa melakukan apa yang bisa dilakukan oleh Allah. Jika kita membandingkan Allah dari segi karyaNya, tidak ada seorangpun yang bisa menandingi Dia. Bukankah kita melihat bahwa Allah mulia, besar, dan agung?
  2. Ayat 15-17. Penulis Yesaya berkata, setelah membandingkan Allah oleh karena apa yag dilakukanNya, maka bandingkanlah Allah dengan bangsa-bangsa. Bangsa manakah yang bisa dibandingkan dengan Allah? Pada masa itu Libanon merupakan bangsa yang luar biasa dan begitu besar, hanya seperti titik yang sebentar ada. Tidak ada arti dan kuasanya di hadapan Tuhan.
  3. Ayat 19-22. Lihatlah pada dunia! Dunia ini ternyata kecil, seperti kain yang dibentangkan oleh Allah.
  4. Ayat 23-24. Lihatlah kepada pembesar-pembesar di dunia! Seperti yang kita telah bahas diatas, mereka semua akan lenyap oleh waktu.
  5. Ayat 25-26. Lihatlah pada bintang-bintang! Siapakah yang menciptakannya? Tidak ada yang bisa menciptakannya, dan Allah satu-satunya pencipta, penopang, pemelihara, bahkan yang dapat menghanguskannya. Mari kita melahirkan rasa kekaguman, hormat, dan kemuliaan bagi Allah.
Saya tidak tahu sampai dimana kita hormat dan kagum kepada Allah. Apakah engkau lebih banyak kagum kepada pacar atau kepada Tuhan? Apakah lebih kagum kepada seseorag yang kita idolai daripada kepada Tuhan? Mari memiliki kekaguman yang benar oleh karena kita melihat The Majesty of God (kebesaran Tuhan).

Beberapa dampak dari The Majesty of God.
  1. Jika kita bisa melihat The Majesty of God, maka iman kita akan teguh untuk bersandar dan mengandalkan Allah yang besar itu. Itulah sebabnya Jeremia berkata, “Terkutuklah manusia yang mengandalkan dan menaruh harapannya pada manusia” (Jer 17:5-6), dan Jeremia melanjutkan di ayat tujuh, “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!”  
  2. Sikap hormat (respect) akan muncul dan semakin bertumbuh. Jika kita bisa melihat The Majesty of God, akan melahirkan sikap pemujaan dan rasa hormat kita kepada Allah. Itulah sebabnya ketika seseorang berdoa, bisa sampai bersujud. Ada orang yang tidak mau berdoa di atas tempat tidur. Dia bersujud di samping tempat tidur dengan tangan di atas tempat tidur dan berdoa. Ini adalah salah satu sikap penghormatan kepada Allah. Allah memang melihat hati, tetapi sikap tubuh kita merupakan pancaran hati kita. Penghormatan yang muncul kepada Allah terpancar dari sikap kita. Itulah sebabnya kita tentu tidak mungkin berdoa dengan kaki diangkat sambil berbaring di tempat tidur bukan? Calvin juga melarang orang jika sedang mendengar kotbah, mendengarnya sambil angkat kaki atau mengobrol. Oleh sebab itu, mari tunjukkan sikap hormat kepada Allah melaluyi sikap kita dalam ibadah, doa, saat teduh, dan lainnya. Jika di dalam ibadah kebaktian saja kita tidak bisa tertib, di mana lagi kita bisa?
  3. Jika kita mengalami The Majesty of God, kekaguman kepadaNya akan muncul. Dengan sukacita dan penghayatan yang dalam, kita dapat meneteskan air mata ketika kita menyanyikan lagu, ”ku kagum...hormat akan Engkau...!”
  4. Jika kita melihat The Majesty of God, maka penyembahan dan pemujaan kita kepada Allah makin hari semakin nikmat. Ini bukanlah penyembahan yang kosong atau semu. Tetapi ketika kita beribadah dan menghadap Alalh yang mulia dan agung, jiwa kita akan terangkat, roh kita diangkatkan dan kita rasanya dekat sekali dengan Allah dan melihat cahaya kemuliaan Allah.
  5. Jika kita melihat The Majesty of God, ada Humbleness before The Majesty One. Ada satu sikap rendah hati. Maka, ketika kita takut dan rasa hormat datang terhadap Allah. Selain mengandalkan Allah, secara rendah hati kita juga menyembah dan memujaNya.
  6. Jika kita memahami The Majesty of God dalam diri kita, akan lahir ketaatan yang ’inner drive’ karena sikap hormat dan kagum kita kepadaNya. Salah satu alasan kenapa seseorang gampang jatuh ke dalam dosa adalah karena dirinya tidak melihat kemuliaan Allah dalam hidupnya. Jika kita bangga berjalan dengan seorang pejabat, kita seharusnya jauh lebih bangga lagi ketika kita berjalan bersama dengan Allah. Apakah kita masih bangga dengan Allah kita ketika kita tidak naik jabatan oleh karena iman kita? Apakah kita masih bangga kepada Allah jika oleh karena Kristus kita ditekan? Apakah kita bangga berjalan dengan Kristus dengan segala konsekuen- sinya? Apakah kita masih melihat kemuliaan Tuhan jika Tuhan belum menjawab doa kita?
  7. Jika kita bangga berjalan dengan Dia, ada kesenangan bahkan bangga menderita bersama dengan Tuhan karena kita mengasihiNya. Kita senang dan bangga bila menderita bagi Dia yang mulia. Ketika kita melihat kemuliaan Allah bersinar dengan mata kita secara iman, kita harus bangga jika menderita demi ketaatan dan kekaguman kepada Allah. Mari para alumni, mari bangga menderita karena sang mulia itu.

Soli Deo Gloria!

[Knowing God 2008-03]: The Jealous God

Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div

Hari ini kita akan membahas seri Knowing God, dengan tema The Jealous God. Berbicara mengenai Allah yang pencemburu, kita merasakan sesuatu yang kurang relevan. Kita tidak bisa memahami bagaimana Allah yang adalah baik, juga sekaligus Allah yang pencemburu. Banyak orang yang berpikiran bahwa seharusnya jika Allah itu baik, maka Dia tidak memiliki kecemburuan lagi. Tetapi di sisi yang lain, ada juga orang mengatakan justru karena kebaikanNya itulah maka Dia memiliki karakter kecemburuan. Dan Alkitab menyatakan bahwa Allah yang baik, kasih, dan penuh cinta itu adalah pribadi yang pencemburu. Hal ini mulai dilakukan oleh Allah melalui pernyataanNya kepada bangsa Israel melalui Musa, melalui penyampaian Hukum Taurat yang menyatakan bahwa Dia adalah Allah yang pencemburu (Kel 20:5; 34:14-17). Di dalam Hukum Taurat, Allah menyatakan bahwa diri-Nya cemburu kepada orang yang dikasihi-Nya ketika mereka tidak lagi mencintai Tuhan. Di dalam Kel 34:14-17 kita dapat melihat bahwa Allah mejadi cemburu karena beberapa hal. Pertama, Allah menyatakan kecemburuan-Nya jika bangsa Isarel mengadakan perjanjian dengan penduduk di negeri yang akan mereka datangi. Hal ini dilakukan agar mereka tidak kompromi dengan orang yang tidak beribadah kepada YHWH. Kedua, Allah akan cemburu ketika mereka berzinah dengan mengikuti allah lain, memberikan persembahan kepada allah lain, yaitu persembahan kepada Baal karena undangan dari orang di negeri itu. Menyembah berhala dan memakan makanan korban persembahan kepada Baal merupakan perzinahan di mata Tuhan dan hal ini membangkitkan kecemburuan Tuhan. Ketiga, pernikahan yang tidak benar juga mengakibatkan perzinahan dan Allah cemburu melihat hal ini.

Kecemburuan Allah dalam bagian ini dipicu/terjadi karena melakukan penyembahan berhala, pernikahan yang tidak benar. Kita harus mengingat bahwa kecemburuan Allah merupakan motivasi bagi Dia untuk bertindak apakah dalam murka atau belas kasihan (Yeh 39:25-29; Nahum 1:2; 1 Kor 10:18-22).

Hal ini akan menimbulkan pertanyaan akan hakekat dari kecemburuan Allah dan natur dari Allah yang cemburu itu. Cemburu yang bagaimanakah yang dimiliki oleh Tuhan itu?

Alkitab banyak menyajikan sifat dan karakter Allah dengan menggambarkannya seperti sifat atau karakter manusia. Jika kita perhatikan Yes 59:1, ”Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar;...” Apakah Tuhan punya tangan dan berapa panjang tangan Tuhan? Hal ini adalah penggaambaran sifat (karakter) Allah dengan menggambarkan dalam sifat/karakter manusia. Hal inilah yang disebut dengan Anthropomorfis. Hal dilakukan agar manusia mengerti. Tetapi harus dibedakan bahwa kecemburuan Allah, walaupun dalam konteks Anthropomorfis, tidak sama dengan kecemburuan manusia.

Kecemburuan manusia didasarkan kepada kesombongan, ketersinggungan dan keegoisan manusia. Ketika manusia cemburu dia akan mengatakan, ”I want what you’ve got, and I hate you because I haven’t got it. It feeds and is fed by pride, the taproot of our fallen nature,” (bd. Ams 27:4-6). Kecemburuan adalah sesuatu yang memelihara sebuah hubungan cinta atau mempertahankannya agar hubungan cinta itu tidak sampai hancur. Lelaki mana yang hatinya tidak hancur jika melihat wanita yang sudah lama didoakannya sedang pergi dengan lelaki lain? Jika lelaki itu benar-benar berdoa kepada wanita tersebut, pasti akan muncul kecemburuan dalam dirinya. Kecemburuan yang dipadukan dengan cinta adalah cara untuk mempertahankan agar hubungan tetap erat. Gambaran seperti inilah natur dari kecemburuan Ilahi.

Apakah eksklusivisme dari pernikahan dan pacaran? Eksklusivisme di sini adalah soal cinta yang melahirkan kecemburuan. Hal inilah yang membuat pernikahan dan pacaran eksklusivisme. Eksklusivisme sebuah pernikahan adalah esensi dari pernikahan itu sendiri. Inilah natur kecemburuan Allah sebagai sebuah aspek dari perjanjian kasih dengan umatNya (Bil 5:11-31; Ams 6:32-35). Dalam PL, Alkitab melihat perjanjian (covenant) Allah sebagai satu ikatan yang sangat kuat yang digambarkan dengan sebuah metafora pernikahan Allah dengan umatNya. Hal inilah yang melahirkan kecemburuan, yaitu hubungan yang erat antara Allah dengan umatNya.

Kecemburuan Allah juga muncul dalam penyembahan berhala, ketika manusia jatuh ke dalam dosa, dan ketika manusia tidak setia lagi kepadaNya. Inilah yang disebut dengan perzinahan rohani (spiritual adultery). Jika kita perhatikan Kel 34 tadi, kita akan menemukan bahwa sumber kecemburuan Allah adalah ketika bangsa Israel menyembah berhala. Ini adalah sebuah pengkhianatan dan wajar jika Allah murka dan cemburu karena cintaNya. Kecemburuan Allah muncul karena cintaNya pada umatNya. Kita juga akan merasa sakit dan murka jika kita dikhianati pasangan kita, yang tentunya disebabkan rasa cinta kita kepadanya. Jika orang lain dikhianati oleh pacarnya, kita tidak akan merasakan rasa sakit. Tetapi jika ada ikatan batin (misalnya dia adalah pasangan kita), pengkhianatanya akan terasa sangat menyakitkan. Inilah gambaran kecemburuan Allah ketika umatNya jatuh dalam penyembahan berhala, jatuh dalam perzinahan, dan mengkhianati Allah dengan tidak setia lagi. Inilah sumber kecemburuan Allah yang bermuara pada dua hal : murka dan kemurahan Allah (Yos 24:9; 1 Raj 14:22; Mzm 78:56-58). Kecemburuan Allah muncul karena Dia menginginkan satu loyalitas yang mutlak dari umat tebusanNya dan dia akan murka bila kasih setiaNya diingkari. Kita pun tidak akan mau mengiakan cinta seseorang ketika dia hanya setengah hati. Tidak ada seorangpun yang mengharapkan cinta setengah hati. Yang dibutuhkan adalah keseriusan dan loyalitas yang sungguh-sungguh. Itulah sebabnya, Allah di dalam Hukum Taurat mengatakan, ”Jangan ada allah lain di hadapanku...”. 

Tak seorangpun diantara kita yang mau diduakan. Begitu juga dengan Allah. Allah yang menebus bangsa Israel dari Mesir, memelihara mereka, tidak mau diduakan, dan cinta yang dibutuhkan Allah dari umatNya adalah cinta yang absolut. Itulah sebabnya, di dalam kecemburuan oleh karena kasih, Kalvin berkata, ”He requires love and chastiny from us, that is that we do not prostitute our souls to satan.” Oleh karena itu jika ada orang yang beribadah kepada Tuhan tetapi masih memiliki jimat, Allah akan jijik dan muak kepadanya. Jadi dibutuhkan satu keseriusan dalam beribadah kepada Tuhan. Kecemburuan Allah akan membara bila kesucian hubunganNya dengan umatNya ternoda oleh tindakan umatNya yang jahat.

Kecemburuan Allah juga kecemburuan yang dihubungkan dengan perjanjian kasih Allah yang bermuara kepada kemuliaan Allah di dunia ini. Kecemburuan manusia adalah keegoisan tetapi kecemburuan Allah adalah supaya kebaikan umat terpelihara yang juga bermuara agar kemuliaan Allah nyata dalam umatNya. Kecemburuan Allah terjadi agar umat Allah betul-betul hidup di dalam kebenaran, kesucian, dan sejahtera yang berasal dari Allah. Allah mengasihi manusia. Oleh karena itu, perjanjian kasih (Covenant Love) ini adalah inti dari rencana Allah bagi dunia ini. Allah mencari apa yang seharusnya kita cari, yakni kemulianNya di dalam dan melalui manusia. Itulah sebabnya Dia cemburu.

Kecemburuan Allah juga dinyatakan untuk menggenapi maksud keadilan dan kemurahan-Nya (Yeh 9:7-10; yeh 5:13). Di satu sisi Allah menyatakan kecemburuan-Nya untuk menyatakan keadilan untuk menghukum dan di sisi lain kecemburuan Allah bermuara pada belas kasihan yang mengampuni orang yang berdosa. Ini semua terjadi karena kemurahan Allah pada orang-orang pilihan-Nya. Artinya, bagi mereka yang tidak mau percaya kepada Dia, hidup dalam dosa, identik dengan kecemburuan yang bermuara kepada keadilan untuk penghukuman. Bagi umat pilihan Allah, ada satu kemurahan pengampunan. Inilah umat Kerajaan Allah.

Kemanakah arah dari kecemburuan Allah?

Arah kecemburuan Allah adalah menghukum dan membinasakan orang yang tidak setia (jatuh ke dalam dosa dan berhala, Ul 6:14-15; Yos 24:19) termasuk para musuh kebenaran seperti pengajar palsu, nabi palsu, dan guru palsu (Nahum 1:2; Yeh 36:5-7). Kecemburuan Allah akan muncul ketika mereka mengganggu dan menyesatkan umat Allah.

Allah memulihkan umatNya setelah penghukuman (Zak 1:14-17; 8:1-8). Semua tindakan Allah, baik penghukuman atau pemulihan, didasarkan kepada kecemburuanNya yang kudus (Yeh 39:25-29). Allah tidak mau dinodai dan dinajiskan. Allah mau supaya kita hidup dalam kesucian.

Bagaimanakah sikap orang percaya?

Kita seharusnya Zealous for God. Zealous adalah eagerness yaitu ambisi/ kerinduan/ kemauan yang besar, yang muncul dalam diri orang percaya. Artinya adalah orang Kristen harus betul-betul rindu untuk memberikan yang terbaik pada Allah. Jika kita dicintai oleh pacar kita dengan tulus, sangat wajar jika kita berusaha melakukan yang terbaik terhadapnya. Kita menjaga perasaannya dan mau berkorban demi dirinya. Dan seperti inilah kita kepada Tuhan ketika kita mengetahui bahwa Allah sangat mengasihi kita. Jika kita tahu bahwa Allah adalah pencemburu, kita harus mejaga perasaanNya dan tidak bermain-main di hadapanNya. Hal ini perlu kita lakukan agar Dia tidak tersinggung dan murka. Kita harus menghindari dosa, kejahatan, dan membuang segala segala bentuk perzinahan termasuk spiritual adultery. Hanya satu hal yang diminta oleh Tuhan, yaitu kecemburuan Allah menuntut kesetiaan dan kesucian kita di hadapanNya. Kita jangan bermain-main dalam kehidupan kita dan mengatakan, ”Tidak apa-apa. Cuma sedikit kok dan Tuhan akan ampuni.” Oleh sebab itulah kita harus zealous for God-kita rindu melakukan sesuatu yang menyenangkan hati Tuhan. Ketika kita kuliah, kita kuliah untuk kemuliaan Allah, begitu juga dengan pekerjaan kita adalah untuk kemuliaan Allah dan semua hidup kita adalah untuk memuliakan Allah.

Kita harus menyadari bahwa Allah memandang engkau dan saya setiap hari. Dia adalah Allah yang pencemburu, jadi jangan bermain-main dengan dosa, apakah itu di kantor, atau di mana saja kita berada. Jika Israel dimurkai oleh Tuhan karena berhala, kejahatan dosa, dan pengkhianatan dengan mengingkari janjiNya, hal yang sama dapat terjadi kepada kita di mana kita membangkitkan cemburu Allah karena melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan bangsa Israel. Dalam hal penyembahan berhala, mungkin kita tidak terlibat dalam sesajen-sesajen atau jimat, tetapi ketika kita mengutamakan pacar kita daripada Tuhan, maka pacar kita menjadi berhala bagi kita. Ketika uang sudah menjadi orientasi utama di dalam hidup kita dibandingkan dengan Allah, maka uang menjadi berhala kita. Ini adalah dosa penyembahan berhala ketika kita menempatkan segala sesuatu lebih utama daripada Tuhan. Kita juga sering menghkhianati Tuhan melalui pemberontakan kita. Seberapa sering kita telah berjanji kepada Tuhan dalam kamp atau retreat yang kita ikuti? Ketika kita berjanji kepada Tuhan tetapi kita melanggarnya berarti kita juga mengkhianati Tuhan dan hal ini akan menimbulkan murka dan kecemburuan Allah.

Kita, yang menerima kemurahan Allah, sama seperti kisah Hosea yang telah menikah dengan seorang pelacur atas perintah Allah (baca Kitab Hosea). Kisah ini adalah gambaran kecemburuan sekaligus cinta Allah kepada umatNya (Israel). Ketika bangsa Israel berkali-kali berdosa, menyembah berhala, Allah tetap memberi pengampunan karena Allah telah memilih umat pilihanNya dan mengasihinya. Ia tidak mau kebinasaan. Ia menghukum mereka tetapi tidak membinasakan mereka. Hal ini berbeda dengan penghukuman yang bermuara pada kematian yang kekal. Mari belajar untuk mengambisikan hal-hal yang benar untuk pekerjaan yang baik bagi Allah.

Dalam hal ini kita bisa melihat bagaimana Elia yang tetap bekerja segiat-giatnya walaupun hanya seorang diri saja. Di dalam Bil 25:11-13, kita juga bisa melihat bagaimana Pineas, anak Eleazar, anak imam Harun, yang begitu giat membela kehormatan Allah dimana hal ini menyurutkan murka dan cemburu Allah dari bangsa Israel. Paulus dalam Kis 20:24 meyatakan, ”Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.” Paulus melakukan hal ini untuk menjaga kecemburuan Allah dengan memberikan yang terbaik bagi Allah tanpa menghiraukan nyawanya sekalipun. Di dalam Yoh 2:17 tertulis, ” Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: "Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku." Cinta kepada Allah membuat Kristus rela berkorban segala-galanya. Marilah kitab belajar bahwa cinta kepada Allah mampu membuat kita berkorban. Inilah Zealous for God.

Bishop J. C Ryle berkata, ”Kerinduan yang membara untuk meyenangkan Allah, melakukan kehendakNya, meluaskan kemuliaanNya di dunia.” Kecemburuan Allah sekaligus menimbulkan sikap kita sebagai orang percaya bahwa ini adalah peringatan dan mendorong kita untuk hidup setia (bd Wahyu 3:15-16).

Mengikut Tuhan tidak bisa setengah hati. Sama seperti ketika kita tidak memegang dengan erat sewaktu mencabut ilalang, maka bukan ilalangnya yang tercabut, tetapi tangan kita yang terluka. Tetapi ketika kita memegangnya dengan erat dan mencabutya, maka ilalang itu akan tercabut. Kita harus melakukan dengan sepenuh hati. Jangan berdoa atau saat teduh pada pagi hari jikalau begitu berangkat dari rumah, kita melakukan dosa. Jika kita berdoa atau saat teduh pagi hari, mari kita mengambil komitmen untuk tidak menajiskan diri kita dan tetap setia. Tuhan mengatakan bahwa kecemburuanNya menuntut loyalitas yang sejati. Mari meyadari bahwa Allah mengasihi kita, dan cinta Allah di dalam Kristus yang menyelamatkan kita, membuat kita tidak mengkhianatiNya dan tetap belajar untuk setia kepadaNya.

Soli Deo Gloria!

[Knowing God 2008-02]: The Grace of GOD

Denni B. Saragih, M. Div

Hari ini kita akan belajar mengenai anugerah Allah. Sesungguhnya anugerah adalah sebuah skandal. Secara alamiah kita tidak suka dengan anugerah. Sewaktu saya masih kecil, saya selalu heran ketika membaca kisah ketika Tuhan Yesus yang disalibkan oleh orang Romawi. Saya tidak bisa menerima kisah ini. Dalam hati, jika saya menjadi Tuhan, saya akan membinasakan semua orang yang menyalibkan saya. Saya tidak tahu pengalaman saudara sewaktu kecil ketika mendengar kisah ini. Ini adalah sebuah potret bahwa kita tidak siap dengan anugerah, atau dunia ini dengan segala sesuatu yag ditawarkannya tidak merespon anugerah dan anugerah dianggap sebuah skandal. Hal ini juga dapat kita rasakan ketika menonton film. Kita akan sangat senang ketika jagoan dalam film itu datang dan lebih senang lagi ketika jagoan tersebut menghajar bandit yang sangat jahat. Dalam hati kita akan berkata, “Ayo pukul terus! Hajar !” Kita tidak familiar dengan anugerah. Kita tidak menerima jika penjahat tersebut, yang sejak awal sangat menjengkelkan, lalu di akhir film tersebut dia memenangkan pertarungan dan film berakhir. Jika kita melihat film seperti ini, kita tidak akan terima. Kita menginginkan keadilan. Kita ingin orang jahat dihukum. Kita ingin orang menerima apa yang pantas dia terima. Kadang-kadang, jika kita ditanya siapakah yang pantas menentukan siapakah yang pantas atau tidak, kita akan mengatakan, ”Sayalah yang pantas!” Kita mengatakan bahwa kita sendirilah yang menentukan apa yang pantas diterima orang sesuai dengan perbuatannya.

Karena itulah kisah tentang anugerah mensubversi, menantang pikiran kita, membukakan kembali kepada kita, bagaimana Allah berelasi bagi dunia khususnya dengan kita. Betapa mengerikan jika Allah berelasi dengan kita dalam prinsip keadilan, bahwa kita harus menerima apa yang pantas kita terima. Apa yang akan terjadi adalah semua manusia binasa.

Mari kita membaca dan melihat kisah dalam Matius 20:1-16.Jika kita membaca bagian ini, kita akan merasakan ada kejanggalan atau ketidakadilan. Tetapi justru kejanggalan inilah maksud cerita ini. Dalam cerita ini kita akan mendapat bahwa tuan ini sangat menjengkelkan. Jika memang tuan ini hendak memberi satu dinar, alangkah baiknya jika dia memberi yang bekerja 12 jam terlebih dahulu, baru memberi kepada mereka yang bekerja satu jam. Jadi yang kerja 12 jam tidak tahu bahwa yang kerja satu jam juga mendapat satu dinar. Tetapi dalam cerita ini, yang pertama diberi adalah yang bekerja satu jam. Tentu saja yang bekerja 12 jam mengharapkan hasil yang lebih dari yang satu jam bekerja. Jika yang satu jam mendapat satu dinar, tentu saja dia yang bekerja 12 jam mendapat lebih dari satu dinar. Ternyata dia mendapat sama. Wajar mereka kecewa. Ini adalah poin dari kisah ini, tentang kasih karunia Tuhan, yang menantang, menggugah, dan melihat bagaimana kita berespon terhadap kisah ini. Apakah kita juga memandang kisah ini tidak adil?

Dunia menolak anugerah, dunia penuh dengan persaingan. Kita tidak memandang kepada orang lain dengan penuh kasih karunia. Kasih karunia itu berarti memberikan kepada orang apa yang tidak pantas ia terima. Dunia penuh dengan sikap-sikap dimana orang mengharapkan agar masing-masing menerima apa yang pantas. Jika kita mengendarai sepeda motor, lalu di sebelah kita ada seorang anak muda yang kebut-kebutan, apakah dalam hati kita akan senang sekali jika dia sampai di rumahnya tanpa kurang satu apapun atau lebih senang jika dia tabrakan, lalu kita akan berkata, ”Syukurin...!” Kita biasanya tidak berespon dalam anugerah. Kita penuh dengan rasa kecurigaan dan kebencian terhadap orang-orang yang berbuat salah. Kejahatan yang ada di dunia menuntut adanya keadilan. Dunia penuh dengan kerinduan dan penantian akan keadilan. Tetapi dunia lupa akan satu kenyataan yang mutlak yang dikatakan oleh Alkitab bahwa jika keadilan diterapkan pada semua orang, binasalah kita semua (Rom 3:23; 6:23). Mari kita lihat hidup kita selama tahun 2007. Ada berapa banyak kejahatan yang kita lakukan, yang berlalu tanpa ada hukuman yang adil? Pasti sangat banyak. Bagaimana jika semua dosa kita, tiap satu persatu mendapatkan hukuman yang setimpal dalam keadilan Allah, siapakah diantara kita yang siap?

Dalam hati kita banyak bersyukur kepada Allah yang tidak menghukum kita akan perbuatan kita selama tahun 2007. Tetapi jangan tetap dalam kesalahan atau kejahatan kita karena kita tidak mendapat hukuman. Inilah skandal anugerah. Karena tidak mendapat hukuman, kita akan mengulangi lagi kejahatan kita. Orang tidak suka anugerah karena orang yang mendapat anugerah cenderung mengulangi perbuatannya. Tetapi jangan juga lupa bahwa orang yang mendapatkan keadilan belum tentu menjadi belajar dari kesalahannya.

Anugerah bukan menyangkal keadilan, melainkan melampau keadilan. Anugerah terasa asing karena keadilan pun susah didapatkan. Oleh karena itu cerita ini menggambarkan apa itu anugerah di mata Tuhan. Perikop ini dibagi secara sederhana. Ayat 1, kita akan melihat mengenai hal Kerajaan Sorga. Kerajaan Sorga memiliki hukum yang berbeda dengan dunia ini. Yesus membawa Kerajaan Sorga dengan prinsip-prinsip yang berbeda, dan kita sebagai warga Kerajaan Sorga memperoleh hukum yang berbeda dan diajak menghidupi cara hukum yang berbeda. Ayat 2-7, mengenai tuan yang mempekerjakan upahannya. Ayat 8-12, mengenai pembagian upah dan sungut-sungut dari orang upahan. Ayat 13-15, mengenai jawaba tuan, dan dilanjutkan dengan kesimpulan dari anugerah.

Mari kita melihat ayat 1 : "Ada pun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya."

Kerajaan Sorga yang mau dikatakan Tuhan Yesus di sini bukan sama dengan tuan itu, tetapi sama seperti cerita dimana tuan itu memperlakukan upahannya. Kerajaan Sorga di sini berbicara mengenai Kerajaan yang dibawa oleh Tuhan Yesus. Kerajaan Sorga yang hidup dan bertumbuh dengan prinsip-prinsip yang berbeda dengan apa yag ada di dunia. Sebenarnya ada kisah di Yahudi yang mirip dengan kisah ini, di mana dalam kisah tersebut masing-masing pekerja mendapatkan sesuai dengan upahnya. Dalam cerita itu, para pekerja yang bekerja keras (diibaratkan orang Yahudi) mendapat upah yang lebih banyak daripada mereka yang bekerja sedikit (menggambarkan orang kafir). Berbeda sekali dengan kisah dalam Matius ini. Orang yang bekerja keras dan yang tidak bekerja keras mendapatkan upah yang sama. Hal inilah yang membuat kisah ini menjadi unik. Dalam hidup ini, kebanyakan ajaran-ajaran yang ada tidak demikian. Di dalam siaran TV kita bisa melihat bagaimana seorang yang jahat ketika akan mendapat hukuman yang setimpal bahkan ketika dia sudah mati (cth, upacara penguburannya menjadi sulit). Ini adalah tayangan-tayangan yang anti anugerah. Orang-orang ditakut-takuti utuk tidak berbuat dosa. Dan tentu saja hal ini tidak akan berhasil.

Dalam ayat 2-7, kita dapat melihat bagaimana tuan itu mempekerjakan upahannya. Dalam bagian ini ada situasi yang biasa terjadi pada musim panen. Khususnya di Palestina, di mana seorang tuan mempekerjakan banyak orang untuk memanen anggurnya agar tidak kena hujan dan menjadi rusak. Dalam bagian ini digambarkan bahwa pekerja itu ada yang bekerja selama 12 jam, 9 jam, 6 jam, 3 jam, dan ada yang 1 jam.

Dalam ayat 8-12, kita bisa menemukan bagaiman tuan itu membagikan upah kepada pekerjanya. Yang satu jam mendapat satu dinar (upah pekerja satu hari pada masa itu). Tentu saja melihat yang bekerja satu jam mendapat upah satu dinar, tentu yang bekerja di atas satu jam berpikir akan mendapat lebih. Jika kita juga antri dalam pembagian upah itu, kita tentu berharap akan mendapat lebih, karena kita bekerja lebih lama dari yang satu jam. Tetapi yang terjadi adalah sampai pekerja yang bekerja 12 jam pun mendapat upah satu dinar. Pertanyaannya, tidak adilkah tuan mereka karena mereka mendapatkan satu dinar? Menurut kita berapa yang layak mereka terima, dua dinar atau tiga dinar? Jika ada 10 orang pengemis, dan salah satu dari mereka anda ajak untuk makan bersama-sama dengan anda, apakah pengemis yang lain yang anda tidak ajak berhak mengatakan bahwa anda tidak adil. Jika kita berbicara soal keadilan, anda tidak memiliki tuntutan apapun untuk memberikan makan kepada siapapun diantara mereka. Tidak ada diantara mereka yang berhak menuntut anda. Ketika ada seorang yang anda ajak untuk makan bersama, itu adalah kasih karunia. Ini bukan masalah keadilan. Sama dengan kisah di atas. Yang idealnya (adil) seharusnya yang bekerja 12 jam juga mendapat satu dinar (sesuai dengan perjanjian), maka yang satu jam mendapat 1/12 dinar. Tetapi ini bukan masalah keadilan, tetapi sesuatu yang melampau keadilan, yaitu kasih karunia. Dan kasih karunia adalah sebuah skandal karena kita, di dalam hati kita, menginginkan sesuatu yang proporsional.

Apakah kita masih ingat kisah Hosea dan Gomer. Ini adalah sebuah kisah dimana seorang rohaniawan jatuh cinta kepada seorang pelacur. Setelah punya dua anak, Gomer pergi bersama dengan pria lain. Tetapi hal ini tidak bertahan lama dimana dia akhirnya dicampakkan dan terdampar dipasar budak. Suatu ketika, Hosea melewati sebuah pasar dan melihat Gomer diperdagangkan. Dia tidak kegirangan melihat Gomer mendapatkan hukuman yang setimpal. Tetapi ia menebus Gomer dan menjadikan dia isteri. Tidak hanya itu, Hosea tidur dengan Gomer dan melahirkan anak ketiga. Hal ini sangat berarti dimana ketika Hosea tidur dengan Gomer, berarti Hosea menerima dia dengan seutuhnya. Jika anda yang menjadi Gomer, apa yang akan ada lakukan? Sebenarnya adalah kitalah Gomer itu. Kisah ini mau menggambarkan bahwa Allah tetap memberkati bangsa Israel yang berkhianat, sama seperti Gomer mengkhianati Hosea. Ini adalah kasih karunia Tuhan. Saya berdoa, kiranya kita semakin memahami Anugerah Allah dan menyadari bagaimana hidup yang telah menerima anugerah itu. Kita adalah orang-orang yang ’berzinah’ berkali-kali tetapi dirangkul dan diterima oleh Allah sebagai anakNya, sebagai kekasihNya dan mempelaiNya.

Kisah dalam Matius ini ingin mengatakan kepada kita bahwa orang yang digaji itu berbeda, di mana bagi satu pekerja adalah keadilan dan bagi yang lain adalah kasih karunia. Kasih karunia tidak perlu membuat iri. Jangan seperti anak yang hilang dan si sulung yang marah. Tidak ada yang salah dengan si sulung. Dia memperoleh apa yang perlu bagi dirinya. Apa yang diterima oleh si bungsu bukanlah kekadilan, tetapi sesuatu yang melampau keadilan tersebut, yaitu kasih karunia. Dia dipulihkan dan dijadikan anak kembali meskipun dia telah menghianati orangtuanya. Cerita ini menjadi satu perkara yang luar biasa karena kasih karunia Allah yang tidak terbatas.

Ada sebuah kisah mengenai anak yang hilang dealam dunia modern ini adalah kisah nyata yang ada dalam buku ”Keajaiban Kasih Karunia” oleh Philip Yancey.

Kisah ini menggambarkan seorang gadis muda di Traverse City yang membenci orangtuanya karena menganggap orangtuanya kolot, dan selalu membatasi pergaulannya. Setelah pertengkaran yang hebat dengan Ayahnya, dia akhirnya lari dari rumah. Dengan menumpang sebuah truk dia pergi ke Detroit. Apa yang terjadi, dia diperkosa oleh supir truk tersebut dan dijadikan pelacur. Tidak hanya itu, dia juga mulai mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Setelah setahun, dia mulai sakit, dan tiba-tiba saja, ia sudah berada di jalanan tanpa uang di kantungnya. Ia masih melakukan ’pekerjaannya’ beberapakali semalam, tetapi bayarannya kecil dan habis untuk membiayai kecanduannya. Ia tidur di pagar kolam depan pusat pertokoan. Kesehatannya menurun drastis.


Suatu malam ia berbaring tanpa bisa tertidur. Tiba-tiba seluruh kehidupanya tampak beda. Ia tidak lagi merasa wanita hebat. Ia merasa seperti anak kecil, tersesat di kota yang dingin dan menakutkan. Sesuatu muncul di pikirannya, satu gambaran mengenai Traverse City, tempatnya berasal. Ia menangis dan dalam sekejab ia tahu tidak ada yang lebih diinginkan di dunia kecuali pulang.


Tiga sambungan telepon, tiga kali dijawab mesin penjawab. Ia menutup teleponnya tanpa meninggalkan pesan dua kali pertama, tetapi ketiga kalinya ia berkata, ” Ayah, Ibu, ini aku. Aku berpikir mungkin aku akan pulang. Aku akan naik bis ke sana, dan aku akan sampai sekitar tengah malam besok. Kalau Ayah dan Ibu tidak datang, yah.., mungkin aku akan terus naik bis sampai ke Kanada.”


Ia sangat gundah dalam perjalanan. Ia sangat kuatir apakah orang tuanya akan datang. Apakah orangtuanya masih menganggap dia hidup? Ia juga ragu apakah orangtuanya mendengar pesannya karena sedang ke luar kota? Pikirannya bolak-balik antara rasa kuatir dan kata-kata yang disusun untuk menyapa ayahnya. Setelah sampai di terminal ia turun dan berjalan menuju terminal. Tidak tahu mengharapkan apa. Tetapi, tidak ada satu adeganpun yang ia siapkan di pikirannya bisa mempersiapkan apa yang dilihatnya. Di sana ada berdiri sekitar 40 saudara, paman, bibi, dan nenek dengan memegang spanduk bertuliskan, ”Selamat pulang kembali!” Di tengah kerumunan itu muncul ayahnya. Ia memandang perih dengan air mata, dan memulai sapaan yang dihafalkannya. Tetapi ayahnya merangkulnya dan berkata, ”Ssst...! Jangan berkata apapun. Ada jamuan menunggumu di rumah.”

Ini adalah kasih karunia. Jika ada diantara kita yang merasa tidak layak, telah jauh dari apa yang kita tetapkan sebagai standar anak Tuhan, Tuhan akan berkata kepada kita, ”Jangan berkata apapun.” Dia akan merangkul dan menerima kita.

Saya ingin mengulang pertanyaan yang di awal tadi. Tahukah kita bagaimana jika Tuhan memperlakukan kita sesuai dengan yang adil terhadap motivasi, kebaikan, dan usaha-usaha kita? Kita tidak layak mendapatkan apapun. Tetapi kasih karunia Allah mensubversi kebiasaan berpikir kita dan menantang kita untuk meresponi anugerah Tuhan bagi kita. Bagaimana anugerah ini menjadi bagian dari hidup kita dalam pekerjaan. Bagaimana dengan bawahan kita yang tidak layak diperlakukan dengan baik? Bawahan yang menjelek-jelekkan dan menyepelekan kita? Apakah kita akan membalasnya atau kita melihatnya dengan kasih karunia dan memberi kepadanya kesempatan sama seperti Allah yang memberikan kita kesempatan? Kemudian, bagaimana kita mempraktekkan kasih karunia dalam hubungan kita, apakah isteri/suami, pacar, atau teman? Apakah renungan hari ini menantang saudara untung berkata kepada pasangan atau teman saudara, ”Bagimu ada kasih karunia. Cintaku akan tetap sama walaupun aku tidak memperoleh sesuatu yang layak aku terima.” Kita tidak menuntut, tetapi membagi-bagikan kasih karunia seperti yang kita telah alami. Dalam pelayanan, ketika kita melayani dan tidak dihargai. Kerja keras, kesungguhan, dan komitmen kita tidak dihargai. Dalam situasi ini kita akan tergoda untuk menuntut keadilan dan menyatakan, ”Kamu tidak menghargai saya. Bagi saya pelayanan ini hanya pengorbanan. Tidak lebih dari hal itu!” Betapa menggodanya dorongan-dorongan untuk mengatakan hal-hal seperti ini. Tetapi renungan hari ini menantang kita untuk berkata, ”Tidak!” Allah telah memberikan kepada kita kasih karunia. Meskipun dorongan naluriah itu muncul, kita akan mampu berkata, ” Kasih karunia akan aku berikan kepada mereka yang berbuat tidak baik kepadaku.”

Soli Deo Gloria!

[Knowing God 2008-01]: GOD's Wisdom and Ours

[Kotbah ini dibawakan oleh Denni B. Saragih, M. Div dalam ibadah Mimbar Bina Alumni, Jumat, 25 Januari 2008].

Kita sangat bersyukur kepada Tuhan karena kita masih bisa memasuki tahun 2008. Mungkin diantara kita ada yang merasa bahwa baru kemarin rasanya merayakan tahun baru 2007, baru kemarin masih kuliah dan sekarang sudah alumni. Kemarin baru SMU, sekarang sudah bekerja. Waktu terasa demikian cepat berlalu. Berbicara soal waktu, tidak bisa tidak, kita berbicara soal hikmat. Kemana waktu itu pergi? Kemana Tuhan membawa arah waktu? Itulah sebabnya, seri I MBA untuk tahun 2008 membahas mengenai hikmat karena kita memerlukannya untuk mengerjakan dan menghidupi waktu kita. Hal ini penting karena kita tidak tahu kapan waktu kita pribadi berakhir. Mari kita bayangkan, kita tiba-tiba mau meninggal, bagaimana mempertanggung jawabkan hidup kita? Mugkin ada yang akan berkata :”Saya menyesal sudah melakukan hal ini dan hal itu.”? Kali ini kita akan memulai dengan tema Tuhan dan hikmat. Bagaimana kita memahami Hikmat Allah supaya kita tidak merasa bahwa hidup yang kita jalani adalah hidup yang sia-sia atau berlalu begitu saja. Sering sekali alumni terjebak dalam situasi seperti ini. Sewaktu mahasiswa, hidup rasanya penuh dengan rasa antusias dan visi pribadi. Tetapi setelah alumni apakah kita masih perlu membicarakan visi pribadi? Akan menjadi apa kita 10 tahun atau 20 tahun ke depan. Sore hari ini, kita akan mempelajari apakah hikmat itu. Kemudian bagaimana kita memahami hikmat Allah dan apa tujuannya. Artinya, hikmat Allah kita pahami dalam rangka mencapai tujuanNya. Kemudian kita akan merenungkan hikmat Allah dalam kehidupan Abraham dan terakhir kita akan belajar mengenai hikmat Allah dan hikmat kita.

Apakah hikmat itu? Apakah hikmat itu hanya sekedar kecerdasan? Dalam Alkitab, hikmat itu bukan sekedar kepintaran atau kelicinan (kelicikan). Yang menentukan seseorang itu berhikmat atau licik adalah bagaimana dia menggunakan pengetahuannya. Apakah dia menggunakan pengetahuannya untuk sesuatu yang bermoral atau untuk sesuatu yang tidak bermoral. Dengan kata lain, seseorang itu akan menjadi licik jika dia menggunakan pengetahuannya untuk memperdayakan orang lain. Tetapi di dalam hikmat, ada kepintaran dan kecerdikan-kecerdikan. Di dalam Alkitab, hik- mat itu adalah kualitas intelektual dan moral sekaligus. Karena itu tidak berarti orang yang lebih pintar lebih berhikmat dan orang yang kurang pintar, kurang berhikmat. Mungkin kita memiliki perbedaan kecerdasan, tetapi tidak berarti orang yang lebih cerdas lebih berhikmat. Dalam Alkitab, kecerdasan harus bergabung dengan moral. Inilah yang disebut dengan hikmat. Dengan kata lain, intelegensia dan kepintaran diarahkan pada tujuan yang benar. 

J. I Packer mengatakan : ”Wisdom is the power to see, and inclination to choose, the best and highest goal, together with the surest means of attaining it.” [Hikmat adalah kekuatan untuk melihat, dan kecenderungan/dorongan untuk memilih tujuan yang terbaik dan tertinggi bersama-sama dengan cara-cara yang paling tepat untuk mencapai hal tersebut]. Itulah sebabnya, kebebalan dalam Alkitab bukanlah kebodohan. Kebebalan adalah orang yang bersikeras untuk melakukan hal-hal yang buruk, meskipun dia tahu hal-hal yang buruk itu akan menghasilkan sesuatu yang tidak baik.

Alkitab mengatakan bahwa hikmat adalah esensi dari Allah, sama seperti kasih, kuasa, kebenaran dan kebaikan. Dengan kata lain, jika kita berbicara tentang suatu pribadi yang dilandaskan oleh hikmat dan tidak kekurangan hikmat, itu hanya ada pada Allah saja. Jika kita berbicara mengenai tindakan Allah, maka seluruh tindakan-tindakan Allah tidak ada yang kekurangan hikmat. Dengan kata lain, tindakan-tindakan Allah dalam menyatakan kuasaNya, dalam menegakkan kebenaran dan kebaikan, adalah tindakan yang dilandasi oleh hikmat Allah yang tertinggi dan hanya Allah yang sepenuhnya bertindak berdasarkan hikmat. (Berbeda dengan kita yag sering sekali kurang hikmat dalam bertindak). Ayub 9:4 mengatakan bahwa Allah itu bijak dan kuat. Menarik sekali, dimana Allah bukan hanya berhikmat, tetapi juga memiliki kekuatan. Jika seseorang memiliki hikmat tetapi tidak memiliki kekuatan, ini adalah hikmat yang ‘lemah’. Ia tahu bagaimana yang terbaik tetapi tidak memiliki kemampuan untuk melakukan atau mewujudkannya. Sebaliknya, orang yang memiliki kekuatan tetapi tidak memiliki hikmat akan menjadi sesuatu yang mengerikan. Akan menjadi sebuah bencana yang besar dimana seseorang punya kekuatan yang luar biasa dan memiliki kemampuan untuk melakukan banyak hal tetapi tidak memiliki hikmat sama sekali. Kita sangat bersyukur dimana Alkitab menyatakan bahwa Allah kita adalah Allah yang bijak dan berhikmat dalam mengerjakan tugasNya. Tetapi Allah juga memiliki kekuatan untuk menerjemahkan apa yang Dia anggap baik itu menjadi kenyataan. Jika hal ini kita imani di dalam hidup kita, kita akan mampu untuk memuliakan Tuhan.

Di dalam Ayub 12:13 dikatakan bahwa ”tetapi Allahlah hikmat dan kekuatan.” J. L Packer mengatakan bahwa God’s boundless Wisdom and Endless Power. Inilah tempat dimana kita bisa sepenuhnya percaya kepada Tuhan. Kita sepenuhnya bisa percaya kepada Tuhan karena hikmat Allah adalah hikmat yang tanpa batas dan kekuasaannya tidak punya akhir. Allah dan hikmatNya mengatur kehidupan kita sedemikan rupa sesuai dengan pikiran-pikiran dan rencana-rencanaNya. Tetapi dalam hal ini orang sering salah memahami dan mengatakan :” Jika Allah memang demikian, hidup saya seharusnya menjadi hidup yang tidak memiliki masalah! Tidak ada pencobaan atau kesusahan.” Menurut mereka, hidup ini harus enak dan santai. Bahkan, ada orang Kristen yang merasa bahwa seharusnya hidup orang beriman harus seperti ini. 

Tujuan Allah bukanlah a trouble free life. Hikmat Allah digunakan untuk satu tujuan yang sangat dalam dan sangat indah. Allah menggunakan segala hikmat yang terbaik untuk membawa segala yang terjadi di dunia ini mencapai tujuan bagi anda dan saya. Tujuannya adalah supaya manusia mengasihi menghormatiNya, dan memujiNya atas dunia yang diatur secara menakjubkan dalam keragaman dan kompleksitas, dan menggunakannya sesuai kehendakNya untuk menikmati Tuhan dan dunia. Dunia adalah dunia dimana manusia meragukan manusia. Kita meragukan kebaikan orang lain. Tanpa disadari, orang juga menjadi ragu kepada Tuhan. Dia tidak percaya Tuhan mempuyai maksud-maksud yang baik kepada dirinya. Tetapi Alkitab adalah Alkitab yang punya cerita bukan mengenai manusia yang ragu kepada Tuhan, tetapi tentang Allah yang percaya kepada manusia. Itulah sebabnya, sampai sekarang Allah masih memiliki tujuan yang sama. Dia ingin kita mengasihi dan menghormatiNya dengan sungguh-sungguh. Dia percaya kepada anda dan saya, di dalam hikmatNya.

Meski manusia telah jatuh ke dalam dosa dan gagal, Allah tidak meninggalkan tujuanNya. C. S Lewis pernah mengatakan bahwa manusia adalah seperti anak kecil yang bermain di tepi pantai. Dia terlalu sibuk bermain rumah-rumahan pasir karena dia tidak tahu betapa indahnya pantai dan apa kenikmatan sebenarnya libur di tepi pantai. Manusia adalah orang-orang yang mengejar hawa nafsu dan kekayaan ketika Allah telah menyediakan bagi dirinya kemuliaan yang tidak terhingga yaitu untuk mencintai, mengormati, dan mengasihi diriNya. Inilah hikmat Allah bagi anda dan saya. Tuhan ingin kita hidup seperti ini. Tuhan tetap ingin ada banyak manusia yang memuja dan mengasihiNya. Tujuan tertinggiNya adalah membawa manusia pada satu keadaan dimana mereka menyenangkanNya sepenuhnya dan memujaNya dengan benar sebagai mahluk yang dikasihiNya. Allah akan berkarya sedemikian rupa dengan segala hikmatNya dan segala kekayaan kasih karuniaNya membuat hal itu menjadi kenyataan dan Dia tidak menyerah meskipun kadang-kadang kita memilih pilihan-pilihan yang lebih remeh dan kerdil yang didorong oleh keinginan dan hawa nafsu kita. Allah selalu menunggu dalam hikmatNya bahwa kita akan mampu menjadi mahluk yang mulia seperti mula-mula Dia ciptakan. Hal ini menjadi tantangan bagi kita. Apakah ke depannya kita semakin dekat dengan tujuan Allah atau semakin melorot dari tujuan Allah.

Tujuan Allah adalah supaya kita bisa memahami His saving love dan dapat meresponi kasih tersebut. Allah ingin kita sadar bahwa Dia sangat mengasihi kita dan ketika kita menyadari, kita pun mengasihi Allah dengan sungguh-sungguh dengan kasih yang tanpa batas. Cinta itu tidak cemburu, kecuali cinta kepada Allah. Jika kita tidak cemburu maka kita berbagi cinta kepada Allah dengan cinta-cinta yang lain. Allah tidak mau. Ia adalah pencemburu yang luar biasa dan dia ingin anda juga mencintai Dia sedalam-dalamnya dan anda tidak ingin ada orang kedua atau ketiga dalam cinta Allah. Inilah iman Tuhan pada mausia.

Mari kita melihat iman Allah dalam kehidupan Abraham. Siapakah Abraham? Jangan dulu berbicara Abraham yang luar biasa sebagai bapak orang yang beriman. Abraham itu sama seperti saudara dan saya. Abraham adalah seseorang yang mau melakukan kebohongan murahan yang mengorbankan kesucian isterinya. Abraham meminta kepada Sarah mengakui dirinya sebagai adik Abraham, agar Abraham tidak dibunuh. Inilah Abraham. Tetapi Allah tidak kehilangan imanNya kepada Abraham. Allah percaya pada Abraham dan Allah punya hikmat bagi Abraham. Allah tidak putus asa melihat Abraham. Mungkin jika kita menjadi Abraham, kita sudah putus asa melihat diri kita sendiri. Kemudian, sifat dasar Abraham adalah adalah memiliki keberanian moral yang sangat kerdil. Abraham adalah orang yang sangat kuatir dengan keselamatan pribadinya. Abraham bukan seseorang yang perkasa, yang demi kebenaran mau mengorbankan nyawanya. Abraham seperti kita, berjiwa kecil. Mari kita renungkan dalam diri kita sendiri. Bagaimana kita hidup dalam keseharian kita dalam pekerjaan, ketika atasan kita meminta kita melakukan kebohongan-kebohongan kecil atau meminta untuk kompromi, apa yang kita lakukan? 

Abraham juga sangat rapuh pada tekanan. Buktinya dapat dilihat dari bagaiman isterinya menyuruh Abraham untuk menikah lagi (karena mereka tidak memiliki anak). Abraham menikah dengan Hagar bukan karena mencintainya, tetapi karena dorongan isterinya. Kemudian Abraham juga mengusir Hagar karena permintaan Sarah. Dalam segala kekurangan Abraham, hikmat Allah bekerja untuk mengubah Abraham.

Allah mengubah Abraham. Abraham yang adalah man of the world menjadi man of the God. Abraham dituntun bertambah langkah demi langkah oleh hikmat Allah. Pertumbuhan Abraham terjadi dalam kelembutan ketika berhubungan dengan Lot. Ketika Abraham sudah semakin kaya, dia mempersilahkan Lot untuk terlebih dahulu memilih tanah untuk menjadi bagiannya (Kej 13). Abraham juga bertumbuh dalam dalam keberanian. Hal ini nampak ketika Abraham menyelamatkan Lot, dimana dia berperang dengan empat raja (Kej 14). Padahal sebelumnya, menghadapi satu raja saja Abraham sudah takut. Dan dia sekarang berperang dengan empat raja. Yang lebih mengherankan, dia berperang bukan bagi dirinya sendiri, tetapi untuk orang lain yaitu Lot. Abraham juga bertumbuh dalam hal dignity (kehormatan). Ketika dia memenang- kan peperangan, hasil peperangan tidak ia ambil sendiri, tetapi ia persembahkan kepada Tuhan. Kemudian ada kesabaran yang bertumbuh saat menanti puluhan tahun apa yang Tuhan janjikan kepadanya mengenai anaknya yang tak kunjung tiba. Dia juga menjadi man of prayer ketika dia berdoa sungguh-sungguh bagi Sodom dan Gomora yang akan Tuhan hancurkan (Kej 18:16-33). Yang terakhir, dia masuk pada ketaatan tanpa syarat dan iman sepenuh hati, ketika Allah meminta hal yang mustahil, yaitu mengor- bankan anaknya-Ishak, anak perjanjian, anak yang dinanti puluhan tahun, untuk menjadi korban bakaran bagi Tuhan.

Allah dalam hikmatNya tahu bagaimana akhirnya Abraham. Tahun demi tahun, jalan demi jalan, lewat banyak peristiwa, bahkan kegagalan dan juga tantangan-tantangan, Tuhan perlahan-perlahan membentuk Abra- ham agar mencintai Tuhan dengan sungguh-sungguh, dengan segenap diri, seperti Allah juga mengasihi Abraham dengan segenap hatiNya. Banyak diantara kita yang mungkin seperti Abraham. Jika kita mengalamiya, ingatlah bahwa Allah percaya kepada anda. Tuhan yakin, di dalam hikmatNya suatu hari Ia akan membentuk engkau menjadi seseorang yang beriman.

Hikmat Allah menuntun kita dalam kehidupan yang penuh dengan tantangan ini. Biarlah dalam tantangan ini kita berkata seperti Paulus : ”Tetapi jawab Tuhan kepadaku :” Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna.” (2 Kor 12:9). Kita akan megalami tantangan-tantangan seperti Abraham. Merasa lemah, gagal, dan kurang dalam banyak hal. Tetapi di dalam kelemahan kita, justru kuasa Allah menjadi sempurna. Banyak hamba-hamba Tuhan yang mengalami, bahwa disaat mereka gagal, lemah, dan penuh pergumulan, disitulah saat dimana mereka sungguh-sungguh mencintai Tuhan dengan apa adanya dan sungguh merasa Tuhan mengasihi dia apa adanya.

Hidup dalam hikmat Allah bukan seperti transportasi Kereta Api. Kereta Api di luar negeri dipantau melalui sebuah ruang kontrol. Melalui ruang kontrol ini, semua perjalanan kereta api bisa di kontrol. Kita tidak tahu alasan kenapa kereta dalam satu waktu di percepat atau diperlambat. Tetapi ketika di ruang kontrol, kita mengetahui alasannya, karena agar tidak terjadi tambrakan. Banyak orang merasa memahami bahwa Hikmat Allah seperti ruang kontrol tersebut. Sewaktu masuk ke ruang kontrol, kita mengetahui semua yang terjadi, kenapa lambat atau kenapa cepat. Seandainya kita tidak mengetahu Hikmat Allah, kita seperti penumpang yang di dalam kereta api yang tidak mengetahui kenapa kereta melambat atau melaju. Hal ini merupakan pemahaman yag salah. Ini bukan hikmat Allah. Hikmat Allah bukan berarti kita mengetahui segala hal. Jika anda berpikir anda akan mendapatkan pemahaman yang seperti ini, anda akan kecewa. Kita tidak akan pernah tahu mengapa dunia ini begini atau begitu.

Hidup dalam hikmat Allah itu seperti orang yang mengendarai mobil. Orang yang bawa mobil tidak perlu tahu kenapa ada gerobak yang berhenti diujung jalan. Dia tidak perlu tahu kenapa mobil yang di depan berhenti. Dia tidak perlu tahu kenapa begini dan kenapa begitu. Tetapi yang perlu ia tahu adalah kapan ia harus menginjak rem atau pedal gas. Dia perlu tahu apa yang dihadapannya dan dia perlu fokus menuju apa yang ada di hadapannya, dan berjalan melewati lorong-lorong, karena dia tidak perlu memikirkan yag ada di sekelilingnya dan tidak perlu tahu mengapa. Inilah hikmat Allah. Tujuan kita adalah apakah kita ingin menjadi orang yang mencintai Tuhan Allah dengan sungguh-sungguh sebagaimana Allah mencintai kita. Dengan pemahaman seperti ini, kita akan berjalan bersama-sama dengan Allah, melewati berbagai hal yang tidak kita pahami, tetapi akhirnya kita tahu bahwa bersama dengan Tuhan kita akan sampai ke tujuan kita.
Soli Deo Gloria!












Wednesday, November 2, 2011

[Knowing God 2007-04]: HIS Love, Justice, and Faitfulness

By: Denni Boy Saragih, M. Div


Ada banyak pandangan yang keliru tentang karakter Allah. Pandangan-pandangan ini mencoba untuk memisah-misahkan karakter Allah seolah-olah yang satu dengan yang lain bertentangan. Mungkin saja pemahaman ini dilatarbelakangi oleh sifat atau karakter manusia, padahal hakikat manusia jauh berbeda sehingga tidak bisa disamakan. Tetapi seringkali kita memahami Allah dengan cara kita sendiri dan tentu saja sering pemahaman kita salah bahkan mempertentangkan sifat dan karakter Allah. Kadang kala kita salah mengerti tentang kasih Allah. Kita merasa kalau Allah mengasihi kita, pasti Allah akan menjauhkan hal-hal ‘pahit’ dalam hidup kita dan selalu memberikan hal-hal yang ‘manis’ daan indah. Itulah definisi dari kasih Allah yang sering menjadi pemahaman manusia.
Tentu saja tidak demikian adanya. Kalau hanya demikian pemahaman kita dalam mengenal Allah, kita hanya sampai pada pemahaman seorang anak kecil yang hanya tahu bahwa Allah tidak akan memberikan rasa pahit, padahal rasa pahit itu untuk kebaikan diri mereka sendiri. Hal inilah yang akan kita bahas lebih jauh.
Karakter Allah tidak perlu dipertentangkan karena karakter Allah itu satu, baik kasih, keadilan, maupun kesetiaan merupakan kekayaan dari satu karakter Allah. Kalau kita lihat dalam 1 Yoh 4:8 kita akan menemukan bahwa Allah adalah kasih. Dalam hal ini Yohanes mengungkapkan fakta bukan definisi. Kalau definisi tentu saja bisa dibalik dari ‘Allah adalah kasih’  menjadi ‘Kasih adalah Allah’. Tentu saja pemahaman ini menjadi salah kaprah.  Jadi ‘Allah adalah kasih’ tidak sama dengan ‘Kasih adalah Allah’. Kalau kasih adalah Allah, kita dapat menyembah Allah yang berarti kita menyembah kasih. Itulah sebabnya banyak kesalahan yang dapat kita lihat yang ditimbulkan akibat pemahaman ini. banyak filsafat agama atau sajak-sajak yang ditulis tentang kasih yang sebenarnya tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Kasih merupakan salah satu sifat pokok dari Allah. Kasih menyatakan keberadaan Allah di dalam pribadinya yang tunggal sama saperti keadilan dan kesetiaan
Allah tidak berubah, jadi Dia berlaku sebagaimana adanya dirinya. Kalau Allah mengasihi, Dia akan tetap mengasihi. Kalau Allah adalah kasih, Dia akan tetap mengasihi tanpa dipengaruhi oleh orang-orang yang ada disekitarnya. Berbeda dengan kita manusia, dimana sering sekali kita mengasihi karena dipengaruhi dengan apa yang ada dalam diri orang yang kita kasihi itu, dipengaruhi oleh sekitar, atau perubahan-perubahan dalam diri kita, dst. Bukan hanya itu, karena Allah tunggal, maka Dia tidak pernah meninggalkan satu sifatnya atau keberadaanNya supaya Dia dapat mepraktekkan sifatNya yang lain. Lebih jelasnya seperti ini, karena Dia adalah tunggal, maka ketika Dia mengasihi kita, tentu saja tidak terlepas dari kebenaran dan kemaha kudusannya. Konsep yang banyak berlaku pada kita adalah bahwa kasih itu melemahkan kebenaran. Karena kasih seringkali kebenaran tidak dipertimbangkan secara basic, atau karena kasih, kekudusan diinjak-injak dan keadilan menjadi kabur. Tetapi Tuhan tidak demikian. Tuhan kita tunggal, jadi ketika Dia menyatakan kasihnya kepada kita, tidak pernah terlepas dari nature Allah dan providensia Allah. Inilah kasih Allah kita. Inilah Tuhan kita.
Itulah sebabnya, karena Ia tidak terbatas maka kasihNya tidak terbatas. Tidak ada kasih di dunia yang melebihi kasih Allah baik itu keluarga, pacar, dan  yang lain. Hal ini disebabkan karena kasih kita terbatas.
Begitu juga karena Ia berdaulat atas segala sesuatu, maka Ia dapat mewujudkan kasihNya. Kadang kala ketika kita mengasihi seseorang, kita tidak dapat, tidak berdaya, tidak berdaulat untuk mewujudkan hal yang mau kita tunjukkan bukti kasih kita kepadanya. Allah juga kudus sehingga Ia dapat memanifestasikan kasihNya. Sewaktu Ia mengasihi kita, kekudusan kasihNya itu sedemikian rupa murninya sehingga kasihNya menjadi tidak tercela. Mari kita refleksikan bagian ini pada diri kita sendiri. Apakah kasih kita sudah murni atau sudah bercampur? Kasih Allah itu begitu besar seperti lautan yang tidak berdasar dan tidak berpantai dan sangat ajaib. Teolog Swiss, Francis Quretin, membuat tiga point untik menggambarkan keajaiban kasih Allah.
1.      Kemuliaan dari Dia yang mengasihi kita.
     Dengan kata lain, ke kasih kita atau pribadi yang mengasihi kita adalah Allah yang begitu mulia bukan pribadi yang sembarangan dan bukan kasih yang sembarangan. KasihNya adalah kasih yang sudah kita uraikan diatas. Kasih yang tidak terlepas dari nature Allah yang terlihat dalam providensiaNya.
2.      Kemiskinan dan ketidak berhargaan dari yang dikasihi, yaitu saudara dan saya.
      Kita adalah orang-orang yang miskin, tidak berdaya, tidak pantas untuk dikasihi. Kita adalah orang berdosa yang penuh pemberontakan pada Tuhan. Tetapi kitalah yang dipilih Allah yang mulia untuk dikasihiNya
3.      Dia yang di dalamNya kita dikasihi.
   Bagaimana cara Allah yang mulia itu mengasihi kita. banyak hal yang dilakukan Tuhan dan puncaknya adalah ketika Ia memberikan anak Nya yang tunggal, mati di kayu salib untuk keselamatan saudara dan saya dan seluruh dunia. Disinilah kita ketahui bahwa sifat Allah yang yang kita sebutkan tadi baik kasih, keadilan, dan kesetiaan menjadi satu dalam rangka menyelamatkan kita manusia.
Dengan apa yang kita lihat tadi, kita dapat menyimpulkan bahwa begitu ajaibnya kasih itu sehingga sulit bagi kita untuk menjelaskannya dengan kata-kata. Tapi kita akan mencoba melihat definisi dari J. I. Packer
“Kasih Allah adalah tindakan kebaikanNya terhadap pribadi yang berdosa. Mengidentifikasikan diriNya de ngan keberadaan mereka. Ia telah mem berikan anakNya menjadi penyelamat. Dan sekarang membawa me reka untuk mengenal dan menikmati Dia dalam hubungan perjanjian”.
Kasih Allah tidak berhenti pada karya keselamatan di kayu salib-walaupun hal ini disebut sebagai puncaknya-tetapi terus dicurahkan dalam perjalanan hidup kita. yang menjadi pertanyaan adalah, apakah kita tetap bisa merasakannya sampai sekarang?
Kita akan melihat kasih Allah yang dihubungkan dengan ketakutan kita. ada banyak ketakutan yang masing-masing kita miliki. Tetapi dalam 1 Yoh 4:18 dikatakan bahwa ”Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan;…” Ketakutan biasanya muncul karena kita merasa akan disakiti dan dicelakakan. Ketakutan biasanya selalu ada selama kita berada di bawah kehendak seseorang yang tidak menginginkan kegiatan kita. tetapi ketika kita berada disekitar orang yang memiliki rencana yan baik bagi kita, ketakutan kita akan lenyap. Ketika kita berhadapan dengan Allah yang mengasihi kita, kita percaya dan menggantungkan hidup kita. pada saat seperti inlah ketakutan-ketakutan kita akan hilang. Allah yang  mengasihi kita juga adalah Allah yang adil. Itulah kenapa ada salib. Kenapa kita bisa selamat, itu adalah karena kasih Allah mengalir sedemikian rupa dalam keadilan. Oleh sebab itulah Kristus mati untuk keselamatan kita.. saudara-saudara, di dalam alkitab keadilan dan kebenaran hampir tidak dapat dibedakan. Mari kita lihat Ulangan 32:4 “…Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia” dan Mzm 97:2 “Awan dan kekelaman ada disekeliling Dia, keadilan dan hukum adalah tumpuan takhtaNya’. Allah adalah Allah yang adil. Keadilan Allah menjadi kabar gembira bagi orang yang percaya kepadaNya dan hidup di dalam Dia, tetapi menjadi kabar buruk bagi musuh-musuhNya.
Ada empat point yang penting dan perlu kita syukuri dalam keadilan Allah.
1.      Keadilan Allah menjamin pengampunan atas dosa (Yoh 1:9)
2.  Keadilan Allah menjadi penghiburan yang besar bagi kita, karena Dia begitu adil maka Dia menjamin penilaian-penilaian dalam hidup kita. Kalau seseorang berjalan dalam kebenaran tetapi tidak mendapat kenyamanan hidup, ingatlah bahwa Tuhan kita hidup. Tuhan melihat dan menilai kita. Jangan pernah mengira bahwa Tuhan lupa atau tutup mata ketika kita menghadapi kesulitan-kesulitan dalam hidup kita. Mung kin di kantor, di sekolah dan dimanapun Tuhan menempatkan kita. Jangan pernah cemburu melihat orang fasik lebih berhasil dari pada kita. Mari baca Ibrani 6:10 dan 2 Tim 4:8. kita tidak perlu kecut karena ketika kita berjuang kita seolah-olah tidak mendapat hasil, seolah-olah Allah tidak bersama dengan kita. Allah kita adalah Allah yang adil, dan dia melihat semua apa yang kita lakukan dan Dia memandang dan menilai kita dengan keadilan.
3. Keadilan akan menjadi penunjang yang besar dalam hidup kita karena keadilan menjamin pembuktian kebenaran. Dalam 1 Petrus 2:23 dikatakan bahwa Tuhan adalah hakim yang adil.
4.   Keadilan Allah menjamin penghancuran dari si jahat. Keadilan Allah itu nyata (1 Petrus 4:5; 2 Tesalonika 1:7b-10). Sekalipun kita melihat orang fasik lebih ‘nyaman’ hidupnya dibandingkan dengan kita, ingatlah orang-orang fasik akan mempertanggungjawabkan perbuatan me reka di hadapan Allah. Daan Tuhan-hakim yang adil- akan memberikan setimpal dengan perbuatan mereka. Mari kita mengerjakan bagian kita. Berjuang mengerjakan yang benar, apa yang Tuhan inginkan dimanapun Tuhan menempatkan kita karena Dia adalah Tuhan yang adil.

Allah kita yang mengasihi kita, Allah yang adil, juga adalah Allah yang setia. Allah yang tidak pernah meninggalkan. Allah yang tidak pernah berubah. Allah yang kesetiaanNya berbeda dengan manusia. Seringkali kesetiaan kita dipengaruhi oleh banyak hal, baik keraguan maupun karena ketakutan kita, atau hal yang lain. Tetapi kesetiaan Allah tetap. Jika kita tidak setia Allah tetap setia.
Mari kita lihat Habakuk. Awalnya dia merasa Allah tidak setia dan meninggalkan dia (Habakuk 1:2-4) tetapi pada akhirnya diatas kesulitan-kesulitan yang ada, dia memandang bahwa Allah setia (Habakuk3:16-18) bahkan dia bersorak-sorai oleh karena pemahaman akan kesetiaan Tuhan.
Saudara-saudara, saya tidak tahu obat pahit apa yang saudara harus minum, apakah pergumulan akan TH, pekerk\jaan, keluarga, dll, ingatlah obat itu harus diminum. Apakah kita bisa berkata seperti Habakuk, “Walaupun semuanya masih gelap (keluarga, TH), namun aku akan bersorak-sorai dan beria-ria karena aku tahu kasih setia dari Allah!’ Habakuk mengatakan bahwa kasih setia Tuhan selalu baru setiap hari. Itulah sebabnya kesetiaan menjadi dasar dari segenap harapan kita akan masa yang akan datang. kesetiaanNya akan terus mengalir dalam hidup kita. hal ini menjadi penghiburan dan dasar bagi kita untuk menghadapi masa yang akan datang.
Allah yang mengasihi saudara adalah Allah yang sangat adil dan setia sampai selama-lamanya. Itulah sebabnya, janji Tuhan menjadi terhormat karena digenapi. Kita mengetahui bahwa janji-janji Tuhan pada masa yang lalu sudah digenapi yang ditunjukkan dalam kasih setiaNya, maka kasih setia yang sama Akan Dia curahkan pada waktu yang akan datang.
Soli Deo Gloria!