Showing posts with label Seri Eksposisi 2013. Show all posts
Showing posts with label Seri Eksposisi 2013. Show all posts

Saturday, July 19, 2014

Eksposisi Tokoh: ESTER


Desmianty Tampubolon, STP

Ester 1:9-12; 2:1-7; 15-18
Kitab Ester ditulis tahun 460 SM. Kitab ini sangatlah unik sebab dalam kitab Ester nama Allah atau pun nama YHWH tidak ada tertulis. Namun Allah bekerja melalui Mordekhai dan Ester. Dalam kitab Ester konteks keadaan berada di Susan, ibu kota Persia. Tidak terdapat nama Allah dalam kitab ini karena kitab ini dipercaya dicatat di kitab sejarah Persia (Est 6:1) sehingga nama Allah tidak boleh ada.
Sampai saat ini belum dapat dipastikan siapa pengarang kitab Ester. Ada yang mengatakan ,yang menulis kitab Ester adalah seorang dari Synagoge, ada juga berpendapat bahwa Mordekhai adalah pengarang dari kitab ini (bad. Est. 9:20). Pendapat lain mengatakan bahwa Ezra atau Nehemiah yang menulis kitab ini, tetapi berdasarkan bukti linguistik tidak ada kecocokan style dan diksi antara kitab Ester dengan Kitab Ezra atau Nehemiah. Pandangan yang lain mengatakan bahwa seorang Yahudi Persia yang tidak diketahui namanya yang menuliskan kitab ini. Walaupun tidak diketahui dengan pasti siapa yang menulis kitab ini namun dengan rasio kita dapat menyimpulkan kemungkinan penulis kitab ini adalah (1) seorang Yahudi, yang pro tindakan Yahudi dan mengetahui budaya Yahudi, dan (2) Seorang Yahudi Persia yang menjadi saksi mata kejadian yang terjadi dan sepertinya punya akses terhadap catatan Persia (9:20).
Israel berada dalam jajahan Babel selama 70 tahun, setelah itu kerajaan Babel direbut dan diganti oleh kerajaan Persia pada tahun 539 SM,orang Yahudi menjadi jajahan Persia.Secara kronologis, peristiwa Ester terjadi di Persia antara Ezra 6 dan 7, yaitu di antara kembalinya rombongan Yahudi pertama ke Yerusalem pada tahun 538 SM di bawah pimpinan Zerubabel (Ezr 1:1--6:22) dan rombongan kedua pada tahun 457 SM di bawah pimpinan Ezra (Ezr 7:1--10:44), sehingga wajarlah kalau banyak orang yahudi masih ada di Persia menunggu kepulangan berikutnya. Suatu saat Raja Ahasyweros mengadakan pesta di istana bersama para pembesar dan kaum bangsawan, raja memamerkan kekayaan kemuliaan kerajaannya sampai 180 hari (Est 1:1-4), kemudian raja memanggil ratu Wasti untuk memperlihatkan dirinya kepada semua tamu yang hadir, tapi ratu Wasti menolak, hal ini membuat raja marah dan memecat ratu Wasti (Est 1:11-12). Akhirnya raja mulai mengumpulkan perempuan di daerah kerajaannya untuk menggantikan ratu Wasti dan Ester terpilih menjadi ratu. Kenapa Ester ikut dalam pemilihan ini? Karena ia menyembunyikan identitasnya dan karena Ester sangat cantik, dia harus ikut dalam pemilihan ini. Tentu ini tidak berarti kita boleh menikah dengan siapa saja, karena ini sebuah kasus hidup sebagai rakyat yang terjajah dan harus mengikuti perintah kerajaan.Siapakah Ester? Ia adalah seorang Yahudi, yatim piatu anak saudara ayah Mordekhai dan diangkatnya menjadi anak (Est 2:7). Ester akhirnya terpilih menjadi ratu, seorang Yahudi yang dibesarkan oleh ayah angkatnya Mordekai. Dia memerintahkan Ester untuk merahasiakan asal usulnya dan hubungan dengannya(Est 2:10). Lalu diselipkan cerita tentang Mordekhai (Est 2:19-23), ia mengetahui rencana Bigthana dan Teresh untuk membunuh raja, yang kemudian diberitahukan kepada Ester, dan pergi kepada raja memakai nama Mordekai. Penyelidikan selanjutnya membuktikan laporan ini benar dan kedua pengkhianat ini digantung. Raja biasanya menghargai kesetiaan, tapi untuk suatu alasan Mordekai tidak diberi penghargaan, dan hal ini terlupakan, walau ditulis dalam tulisan raja saat dia mencarinya(Est 2:19-23). Kita juga mungkin sering mengalami hal ini, ketika kita melaporkan penyelewengan di kantor, pimpinan kita tidak memberi penghargaan apa-apa.
Ester asalnya bernama Hadasa (Est 2:7), nama Ibrani yang berarti tanaman "murad" (inggris: Myrtle). Ada anggapan bahwa nama "Ester" berasal dari kata "Astra" yang dalam bahasa Media Persia berarti tanaman murad. Ada pula anggapan bahwa nama Ester berasal dari nama dewi Ishtar, berdasarkan catatan Kitab Daniel bahwa orang-orang Yahudi dalam pembuangan diberi nama dewa-dewa Babel, sebagaimana nama "Mordekhai” dapat diartikan "hamba dewa Marduk”, salah satu dewa Babel. Nama Ester dengan kata Persia untuk "bintang" (bahasa Inggris: star) menjelaskan bahwa Ester diberi nama demikian karena cantiknya seperti bintang fajar.
Tiba-tiba Haman, karakter baru, diperkenalkan (Est 3). Haman muncul sebagai pangeran  diatas semuanya, setidaknya dalam pikiran raja. Raja mengangkat dia diatas semua orang dan sangat mempercayai dia, walau raja memerintahkan semua warganya menunjukkan hormat pada Haman, Mordekai menolak  untuk sujud menyembah dia setiap kali bertemu (Est 3:2-4)
Walau murka, Haman menahan diri. Dia melihat Mordekai dan Yahudi lain sama saja, dan tujuannya tidak hanya menyingkirkan Mordekai tapi setiap Yahudi didalam kerajaan.Dia memberitahu raja bahwa ada ras tertentu yang mau memberontak, yang tidak mau tunduk (nama ras nya tidak diberitahu, dan raja juga tidak bertanya), dan raja harus menyingkirkan mereka. Dia menawarkan uang yang sangat besar pada raja (10,000 talenta perak =20.000 dinar, 1 dinar =gaji sehari, berarti 20.000/365 hari=gaji 54 tahun) untuk menyatakan hari tertentu dimana setiap orang dalam kerajaan bisa membunuh setiap orang Yahudi yang mereka temui dan merampas hartanya (Est 3:8-11) Ahasyweros memberikan cincinnya kepada Haman, seperti memberi cek kosong. Sekarang Haman memiliki otoritas untuk membuat hukum apapun yang disukainya dengan nama raja.Saat Mordekai tahu hukum apa yang sedang dibuat oleh Haman, dia mulai berkabung. Dia tidak berkabung secara pribadi, tapi didepan umum; sangat terbuka. Mordekai pergi ketengah kota dan ke “gerbang raja.” Dia tidak masuk gerbang, karena terlarang bagi yang berkabung. Raja menjauhkan dirinya dengan kesedihan. Sangat tidak popular menunjukan kesedihan diistananya (lihat Nehemiah 2:2). Raja abad pertengahan tidak memiliki “tempat berkabung” hanya tempat bergurau. Siapa yang berkabung/bersedih di depan raja akan dihukum mati.
Melihat Mordekai berkabung sangat menekan Ester. Tapi, usaha awalnya bukan mempelajari kenapa Mordekai berkabung tapi membujuknya untuk berhenti berkabung. Apakah ini karena hal itu menekan yang lain dan berbahaya (Mordekhai sedekat mungkin dengan istana, tapi tidak melewati gerbang raja)?
Dia mengirim pakaian kepada ayah angkatnya, berharap bisa membujuknya berhenti berkabung. Tapi Mordekai tidak bisa dinasehati. Esther  mengirim pelayan terpercayanya kepada Mordekai untuk menyelidiki kenapa dia berkabung dan tidak mau berhenti. Mordekai melaporkan pada Hatah jumlah harta yang dijanjikan Haman dan salinan keputusan yang tidak bisa ditarik kembali. Hal ini diperintahkan kepada Hatah untuk dikatakan pada Ester, bersama dengan perintah agar dia menghadap raja dan memohon bagi bangsa Yahudi.Ester mengatakan pada Mordekai melalui Hatah bahwa menghadap raja tanpa diperintahkan melawan hukum. Hukumannya adalah kematian, dan kecil kemungkinannya raja menunjukan belas kasihan dengan mengulurkan tongkat dan mengijinkan penyusup hidup. Ester tidak bisa menghadap tanpa diundang, satu-satunya harapan adalah dia diperintah oleh raja.
Inilah masalahnya; sudah 30 hari Ester tidak diundang raja (istana itu luas, mempunyai beberapa gedung terpisah antara ratu dan raja, wajarlah jika Ester tidak bertemu raja selama itu). Karena itu Ester menolak. Mordekhai mengingatkan, untuk berpikir dengan baik. Keputusan dari Haman mencakup semua orang Yahudi, tidak peduli dimanapun dalam kerajaan. Ester kelihatannya percaya dia aman dan hanya yahudi lain yang bahaya. Dia tidak mau membahayakan diri menghadap raja untuk menolong bangsanya, karena percaya dia aman. Mordekhai menyadarkannya bahwa dia pun akan kena hukum itu jika raja tahu identitasnya, bahkan jika Ester berdiam diri, pertolongan akan datang dari pihak lain (Est 4:14, “pihak lain” kemungkinannya hanya satu: Allah pasti menolong dengan caraNya).
Sebelum Ester menghadap raja, Ester memberikan perintah kepada Mordekhai agar Mordekhai mengumpulkan seluruh orang Yahudi di Susan dan berpuasa baginya. Jangan ada yang makan atau minum selama tiga hari, siang dan malam. Dia dan pelayannya akan melakukan itu, dan kemudian akan pergi menghadap raja. Dia akan melawan hukum dan mempertaruhkan nyawanya. Yang menarik pada bagian ini adalah bagaimana pernyataan dari Ester untuk membela kaumnya umat Yahudi yaitu, “. . . kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati” (Ester 4:16b). Ester dengan kedudukan dan kenyaman hidup sebagai ratu, kini berhadapan dengan ancaman hukuman mati demi membela bangsanya, bangsa Yahudi, bukan perkara mudah untuk mempertaruhkan nyawa demi kepentingan banyak orang apalagi Ester seorang yatim piatu dan hanya Mordekhai lah kerabatnya.
Sebagai alumni, kita pun berhadapan dengan orang-orang yang mungkin membutuhkan kita untuk membela hak mereka, memenuhi rasa keadilan mereka, dapatkah kita menjadi “Ester” yang berani bersuara kepada atasan/pimpinan kita? Berapa banyak dari kita yang rela dipecat demi kepentingan bawahan kita, memperjuangkan haknya sebagai buruh? Berapa banyak dari kita yang rela protes ketika ujian nasional diputuskan menjadi satu-satunya indikator kelulusan siswa kita? Setelah semua orang Yahudi berpuasa selama tiga hari, Ester mempertaruhkan nyawanya dengan menghampiri raja tanpa diundang (Est 4:1-17). Ester berdiri di pelataran dalam istana raja (Est 5:1). Hal ini dilakukannya agar ia mendapat perhatian dari raja. Saat itu, raja sedang bersemayam di atas tahta kerajaannya. Patut dicatat bahwa pelataran dalam istana raja merupakan tempat khusus bagi raja. Hukuman mati disediakan bagi mereka yang berada di pelataran dalam istana raja itu jika raja tidak berkenan memanggil (bdk. Est 4:11a). Oleh karena itu, tak heran bila Ester berusaha untuk tampil semenarik mungkin, yakni dengan mengenakan pakaian ratu. Besar harapan Ester agar raja tertarik saat melihatnya dan berkenan memanggilnya! Ester berhasrat untuk mendapat perhatian raja karena Ester berniat untuk memohonkan sesuatu kepada raja berkenaan dengan nasib bangsanya (Yahudi!). Bangsanya sedang berada di ujung tanduk, sebab Haman, seorang petinggi istana, telah merencanakan untuk membantai seluruh orang Yahudi di kerajaan Ahasyweros (Est 3:2-4:17). Usaha Ester rupanya berhasil, raja berkenan kepadanya, ketika ia melihat Ester berdiri di pelataran. Dengan berkenan kepada Ester, maka raja menunjukkan kehendak hatinya untuk mau menanggapi atau merespons “isyarat” (tingkah laku) Ester (bdk. Est 2:17; 8:5; Dan 6:1). Raja lantas mengulurkan tongkat emas kepada Ester. Uluran tongkat emas tersebut merupakan sebuah tanda penerimaan raja kepada Ester. Dengan mengulurkan tongkat emas, raja juga menyatakan kuasa yang dimilikinya pada Ester (bdk. Est 4:11; 8:4). Raja bertanya pada Ester perihal maksud dan keinginannya dikuti dengan pernyataan raja “Sampai setengah kerajaan sekalipun akan diberikan kepadamu” (Est 5:3). Mungkin saja jika Ester mau, dia dapat memohonkan supaya ia dan Mordekhai bisa bebas dari hukum yang dibuat Haman itu dan tetap membiarkan bangsa Yahudi dimusnahkan, tetapi ia memilih untuk  menyelamatkan seluruh Yahudi. “Jikalau baik pada pemandangan raja, datanglah kiranya raja dengan Haman pada hari ini ke perjamuan yang diadakan oleh hamba bagi raja(Est 5:8). Sungguh menarik jawaban yang diberikan oleh Ester. Pertama-tama, ia menyatakan jikalau baik pada pemandangan raja, kerendahan hati Ester, yang walaupun dijanjikan setengah kerajaan milik raja, namun ia tetap menyerahkan sepenuhnya penilaian baik-buruk maksud dan keinginan yang akan ia utarakan kepada raja, sekaligus sebagai bahasa diplomasi pada raja. Kita sebagai alumni juga perlu memikirkan strategi dan diplomasi dalam mengajukan sesuatu pada pimpinan. Permohonan Ester rupanya cukup sederhana. Ia hanya meminta agar  raja bersama dengan Haman datang ke perjamuan yang ia adakan.
Biasanya, perjamuan selalu diselenggarakan dengan intensi atau tujuan yang dianggap penting (bdk. Est 2:18; 9:22. Lewat perjamuan tersebut, Ester rupanya hendak mengadukan perbuatan jahat Haman yang telah berencana untuk membunuh semua orang Yahudi di wilayah kerajaan Ahasyweros. Ester seorang yang lemah lembut dan menarik (Est 2:1-18); bergantung sepenuhnya kepada Allah(Est 4:15-17); berani (Est 4:6); diplomatis (Est 5:1-8; 7:1-6).
Setelah mendengar permohonan Ester tersebut, raja segera memberi titah agar memanggil Haman dan menyuruh dia untuk datang  menghadiri perjamuan yang diadakan oleh Ester. Di perjamuan itu raja bertanya kepada Ester perihal apa keinginannya, dan Ester memohon agar raja berkenan untuk mengaruniakan nyawanya dan nyawa bangsanya.Sebab, ia dan orang-orang sebangsanya (Yahudi) yang berada dalam kerajaan Ahasyweros terancam punah karena bakal dibunuh dan dibinasakan. Lebih jauh, Ester menambahkan bahwa dalang dari kemalangan yang menimpa Ester dan orang-orang sebangsanya adalah Haman “Lagipula tiang yang dibuat Haman untuk Mordekhai, orang yang menyelamatkan raja dengan pemberitahuannya itu telah berdiri didekat rumah Haman” (Est 7:9), raja memerintahkan agar Haman disula kan pada tiang itu Usaha Ester (dan Mordekhai) berhasil menyelamatkan orang Yahudi, dan terjadi euforia orang Yahudi dalam merayakan pembebasan mereka dari usaha pemusnahan yang dilancarkan Haman(Ester 8-9).Ester memberitahukan identitasnya pada raja (Est 8:1). Raja Ahasyweros  menetapkan surat titah yang memerintahkan orang Yahudi dapat membela diri terhadap orang-orang yang ingin memusnahkan mereka . Pasal 9 berkisah tentang tindak lanjut orang Yahudi atas surat titah tersebut, diceritakan tentang bagaimana orang Yahudi membantai semua orang yang dulu pernah memusuhinya, serta penetapan hari raya Purim sebagai peringatan sukacita lolosnya orang Yahudi dari bahaya maut yang mengancam mereka.Sementara, pasal 10 berkisah tentang kebesaran yang diterima oleh Mordekhai atas jasanya dalam usaha untuk menyelamatkan orang Yahudi.
Apa yang bisa kita pelajari dari Ester. Ester mengabaikan keselamatan nyawanya sendiri demi menyelamatkan nyawa orang-orang sebangsanya. Ia rela untuk mengorbankan dirinya demi keselamatan banyak orang.
Kemudian Ester bukan saja berpuasa sebelum bertindak, tetapi juga menggunakan strategi dan diplomasi dalam mengajukan jalan keluar pada raja.
Solideo Gloria!

Eksposisi Tokoh: YUSUF



Alex Nanlohy

Jika kepada kita ditanyakan, apa kisah dari hidup Yusuf yang kita ingat? Salah satunya adalah kisah Yusuf dengan isteri Potifar. Dan pada malam hari ini kita akan belajar dari kisah Yusuf khususnya melalui Kej pasal 39. 
Sebelum melihat hidup Yusuf, mari membuka Rom 15:4, “Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci”. Kisah PL dituliskan sebagai pembelajaran bagi kita pembacanya. Agar kita berpegang teguh kepada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari kitab suci. Ini adalah tujuan kisah-kisah dalam PL diceritakan bagi kita dan kita pelajari bersama-sama. Dan ini jugalah kerinduan kita ketika belajar dari kisah hidup Yusuf.
Siapakah Yusuf? Ia adalah anak dari Yakub, anak ke 12 dari 13 (karena nanti ada Benyamin). Nama Yusuf memiliki arti ‘menambahkan kepadaku’ atau ‘mudah-mudahan Allah menambah’ (Kej 30:22-24). Kisah tentang Yusuf termasuk kisah yang panjang dalam Kitab Kejadian (mulai pasal 37-50) dibandingkan dengan tokoh-tokoh yang lain. Sosok Yusuf disorot sedemikian detail, khususnya realita dalam Kej 39. Semua peristiwa dalam hidup Yusuf di ‘zoom’ sedemikian rupa sehingga kita bisa melihat lebih dekat, termasuk kisah dalam Kej 39 – Yusuf dengan isteri Potifar. Mari malam ini melihat lebih jauh lagi tentang Yusuf.
Saya secara khusus memberikan judul malam ini “Mendaki Puncak”. Bicara soal hidup alumni sering sekali berbicara mengenai mendaki puncak. Hidup yang semakin naik dalam kehidupan - karir, atau keluarga. Bukan sesuatu yang salah jika kita ingin yang semakin baik dalam hidup kita, tetapi bagaimana kita mencapai itu? Inilah yang akan kita pelajari dari Yusuf.
Yusuf adalah anak kesayangan dari Yakub (Kej 37:1-11). Jika kita perhatikan dengan baik, kita akan menemukan bahwa keluarga Yusuf bukanlah keluarga yang harmonis. Yakub sudah memiliki dua isteri. Ketika dia tidak memiliki anak dari satu isterinya, maka isterinya memberikan pembantu mereka menjadi isteri Yakub. Dan akhirnya Yakub memiliki empat isteri dan akhirnya juga memiliki banyak anak dari mereka. Kemudian ditambah lagi dengan Yakub sendiri yang sangat favorit kepada Yusuf. Saking sayangnya, Yakub memberikan jubah yang maha indah kepada Yusuf. Bahkan ketika saudara-saudaranya sedang menggembalakan ternak, Yusuf di rumah, bebas tugas. Bahkan disuruh bapaknya untuk memeriksa apa yang sedang dikerjakan dilakukan abang-abangnya.
Hal ini menyebabkan ada dinamika emosi yang terjadi pada abang-abangnya terhadap Yusuf. Mari perhatikan emosinya. Dalam Kej 37:1-4 dikatakan, “1 Adapun Yakub, ia diam di negeri penumpangan ayahnya, yakni di tanah Kanaan.2 Inilah riwayat keturunan Yakub. Yusuf, tatkala berumur tujuh belas tahun -- jadi masih muda -- biasa menggembalakan kambing domba, bersama-sama dengan saudara-saudaranya, anak-anak Bilha dan Zilpa, kedua isteri ayahnya. Dan Yusuf menyampaikan kepada ayahnya kabar tentang kejahatan saudara-saudaranya. 3 Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua anaknya yang lain, sebab Yusuf itulah anaknya yang lahir pada masa tuanya; dan ia menyuruh membuat jubah yang maha indah bagi dia. 4 Setelah dilihat oleh saudara-saudaranya, bahwa ayahnya lebih mengasihi Yusuf dari semua saudaranya, maka bencilah mereka itu kepadanya dan tidak mau menyapanya dengan ramah.“ Abang-abangnya benci kepada Yusuf dan tidak mau menyapanya dengan ramah.
 
Kemudian dalam ay 5 dikatakan, “Pada suatu kali bermimpilah Yusuf, lalu mimpinya itu diceritakannya kepada saudara-saudaranya; sebab itulah mereka lebih benci lagi kepadanya.” Mengapa? Karena dalam mimpinya berkas padi abang-abangnya menyembah berkas padi Yusuf (Kej 37:6-8). Lihat, kadar kebencian mereka bertambah dari benci menjadi lebih benci. Bahkan kemudian dia kembali menceritakan mimpinya di mana matahari, bulan, dan sebelas bintang menyembah kepada dia (37:9). Kali ini Yakub menegur Yusuf, walau sudah terlambat. Akibat mimpinya ini sangat jelas. Dalam ay 11 dikatakan, “Maka iri hatilah saudara-saudaranya kepadanya, tetapi ayahnya menyimpan hal itu dalam hatinya dan menyimpan perkara itu dalam hatinya.” Perhatikan dinamikanya, dari benci menjadi lebih benci dan akhirnya iri hati.
Pada bagian selanjutnya kita melihat kisah di mana saudara-saudaranya menggembalakan domba di Sikhem. Kemudian Yakub memanggil Yusuf dan menyuruh dia kepada mereka untuk melihat apakah baik keadaan saudara-saudaranya dan keadaan kambing domba dan membawa kabar itu kepada Yakub. Ketika Yusuf pergi ke padang dan mencari saudara-saudarnya dan mendapat informasi bahwa saudara-saudaranya ada di Dotan. Dalam ay 18 dikatakan, “Dari jauh ia telah kelihatan kepada mereka. Tetapi sebelum ia dekat pada mereka, mereka telah bermufakat mencari daya upaya untuk membunuhnya”. Yusuf kelihatan dari jauh karena jubah maha indah. Pertanyaan yang muncul adalah mengapa harus memakai jubah yang maha indah jika hanya ke tempat penggembalaan?
Apa yang terjadi kemudian adalah saudaraya tidak jadi membunuh Yusuf tetapi membuangnya ke sumur dan akhirnya menjual kepada pedagang Ismail yang sedang menuju Mesir. Di Mesir, Yusuf akhirnya dibeli Potifar. Yusuf anak kesayangan dan kemudian menjadi budak belian. Yusuf yang adalah anak kesayangan tiba-tiba dibenci saudara-saudaranya dan akhirnya menjadi budak. Bisakah kita merasakan psikologis Yusuf? Pastilah tidak mudah bagi Yusuf menghadapi situasi ini, dimana ia menjadi budak di tanah yang jauh dari orang tua dan abang-abangnya tinggal.
Tetapi di situasi seperti inilah kita melihat Tuhan memakai dia. Apa yang terjadi? Di rumah Potifar dia menjadi kepercayaan, menjadi kepala rumah tangga Potifar. Lebih maju lagi, ketika di penjara dia juga menjad kepercayaan kepadala penjara. Dan lebih maju lagi dia menjadi orang nomor dua yang paling berkuasa di Mesir. Ini adalah kisah from zero to hero. Semua pengalaman hidup yang sulit Tuhan ijinkan dialami Yusuf dalam hidupnya mendaki puncak. Apa yang bisa kita pelajari dari hidup Yusuf yang mendaki puncak? 
Dalam kehidupannya, Yusuf pasti mengalami kepahitan. Kita cenderung mengabaikan hal ini karena kita sudah tahun akhir dari ceritanya. Tetapi Yusuf belum tahu sama sekali. Dia pasti sangat bergumul ketika dimasukkan dalam sumur kering atau menjadi budak, bahkan ketika di penjara. Memang tidak diceritakan dengan detail kepada kita tetapi kita meyakini bahwa Yusuf mengalami pergumulan karena dia sama sekali tidak tahu rencana Allah dalam hidupnya sampai di akhirnya. Jangan mengecilkan pergumulan Yusuf. Dan dari kondisi inilah kita belajar bagaimana Paulus belajar mencapai puncak.
Ada tiga hal yang bisa kita pelajari dari Yusuf dalam belajar mencapai puncak. Pertama, ketika menjadi budak di rumah Potifar, Allah menyertai Yusuf. Kej 39:2 mengatakan, “Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu.” Yusuf disertai oleh Tuhan dan membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya (baca ay 3, 5, 23). Apa yang ditekankan ayat-ayat ini adalah Tuhan menyertai Yusuf. Tidak ada keberhailan apapun dalam hidup terlepas dari tangan Tuhan yang berkuasa. Inilah yang harus kita pelajari dari hidup Yusuf. Bukan karena Yusuf cukup mampu atau bertahan melawan godaan, tetapi yang terutama adalah karena tangan Tuhan yang kuat menyertai Yusuf. Inilah yang disebut dengan iman. Kesuksesan Yusuf tidak terlepas dari Tuhan yang menyertai dia.  
Kata ‘menyertai’ sebenarnya memiliki makna yang sangat dalam. Disertai Tuhan menyatakan perbedaan dengan lingkungan sekitarnya. Ada satu respon ketaatan dimana Yusuf harus hidup seturut yang Tuhan mau. Dalam Kel 33 ada kisah di mana bangsa Israel menyembah anak patung lembu emas ketika Musa sedang berada di atas gunung Sinai. Tuhan berkata, “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Pergilah, berjalanlah dari sini, engkau dan bangsa itu yang telah kaupimpin keluar dari tanah Mesir, ke negeri yang telah Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub, demikian: Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri itu -- Aku akan mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu dan akan menghalau orang Kanaan, orang Amori, orang Het, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus – (Kel 33:1-2). Allah mengijinkan bangsa Israel memasuki Kanaan, tetapi Allah tidak akan bersama dengan mereka tetapi akan mengutus malaikatNya karena jika Allah berjalan dengan mereka, oleh karena bangsa Israel adalah bangsa yang tegar tengkuk, Allah bisa membinasakan mereka. Sekilas tidak ada yang salah dengan penawaran ini. Tetapi Musa tidak menerima penawaran ini. Musa memiliki satu prinsip hidup yang luar biasa. Dalam K3l 33:15-17 dikatakan, "Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.  Dari manakah gerangan akan diketahui, bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, yakni aku dengan umat-Mu ini? Bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami, sehingga kami, aku dengan umat-Mu ini, dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini?”
Kesuksesan bagi Musa bukanlah ketika mereka masuk ke tanah Kanaan, ketika mereka bersama dengan Tuhan. Ketika Musa meminta kepada Tuhan untuk berjalan bersama dengan mereka, itu adalah permintaan yang luar biasa karena permintaan ini disertai sebuah komitmen bahwa bangsa Israel mau hidup kudus di hadapan Tuhan. Musa meminta dan dia tahu konsekuensinya. Tetapi bagi Musa lebih baik berjalan bersama Tuhan di dalam gelap dari pada berjalan sendirian di dalam terang. Ini adalah prinsip hidup yang luar biasa.

Memiliki ambisi bukanlah sesuatu yang salah. Tetapi penyertaan Tuhan jauh lebih penting dari sekedar ambisi kita. Dipimpin Tuhan adalah yang terutama dalam hidup. Jika kita melihat Yesus lebih penting maka mungkin ketika Tuhan mengijinkan sebuah peristiwa terjadi, kita rela kehilangan nyawa supaya Yesus ditinggikan dari hidup. Mudah? Tidak saja tidak! Disertai Tuhan memiliki konsekuensi Tuhanlah segala-galanya dalam hidup dan kesetiaan serta ketaatan untuk dipimpin oleh Tuhan.  Mari mengalami perjalanan hidup dengan Tuhan, mendaki puncak, baik dalam karir atau dalam segala hal. 
Penyertaan Tuhan itu tidak bisa diprediksi. Dalam Mazmur dikatakan bahwa Firman itu pelita bagi kakiku terang bagi jalanku. Gambaran yang dipakai adalah pelita, bukan lampu sorot. Kita selalu mengharapkan Firman Tuhan itu seperti lampu sorot yang bisa memperlihatkan ujung dari hidup kita. tidak demikian. Allah menuntun kita seperti pelita. Jika kita memegang pelita, apa yang Nampak hanyalah sekitar dua meter ke depan. Jika kita ingin tahu dua meter lagi, maka kiha harus maju dua meter. Ini adalah cara Tuhan memimpin kita. Ada cara-cara Tuhan yang (mungkin) melampaui apa yang kita mau. Yang menarik dari Yusuf bukanlah ketika dia ada di dalam sumur, di penjara, atau jadi orang yang berkuasa, tetapi bagaimana Tuhan menyertai dia, sebuah penyertaan yang bahkan nyata bagi orang lain (Potifar, Kepala Penjara, bahkan bagi Firaun sendiri). Ingat, penyertaan Tuhan harus menjadi yang nomor satu dalam hidup kita. 
Hal kedua yang kita pelajari dari hidup Yusuf selain dari penyertaan Tuhan adalah kompetensi yang dimilikinya. Tuhan juga pasti memberikan kompetensi kepada Yusuf. Tuhan menyertai adalah bagian Tuhan yang Tuhan memang kerjakan dalam hidup anak-anakNya. Tetapi mari melihat kompetensi dasar yang Yusuf miliki. Hasil dari pekerjaannya membuat ia dikasihi baik ketika di rumah Potifar maupun di dalam penjara. Dari sini kita melihat bagaimana Yusuf memiliki kemampuan managerial yang baik. 
Jangan lupa bahwa Tuhan juga memberi kemampuan bagi kita untuk mengembangkan potensi dalam hidup kita. Tuhan memberi kesempatan bagi kita untuk berkarya secara luar biasa. Di satu sisi Tuhan memberkati, disisi lain kita memaksimalkan segala talenta yang Tuhan berikan. Jika kita melihat lebih jauh lagi hidup Yusuf ketika ia dipanggil menghadap Firaun, ternyata ia mampu memberikan solusi atas permasalahan yang akan di hadapi bangsa Mesir. Dari mana ia belajar? Tentu saja dalam perjalanan hidupnya. Penyertaan Tuhan bukan membuat segala sesuatu terjadi secara instan tetapi ada kompetensi yang kita persembahkan dan maksimalkan. 
Saya tidak tahu apa yang Tuhan mau dalam hidup kita masing-masing dan kemampuan apa yang harus kita kembangkan? Tetapi, dalam ijin Tuhan, mari mengembangkan kompetensi kita dengan maksimal yang mungkin melampaui ilmu kita. Di sinilah kita akan melihat apa yang Tuhan tanamkan, yaitu ada sisi-sisi yang tidak kita temukan ketika kita belum mengembangkan ilmu kita. Banyak dari kita yang Tuhan siapkan untuk menjadi lebih besar. Oleh sebab itu setialah. Mari peka dan melihat Tuhan sedang melakukan apa dalam hidup kita.
  
Hal ketiga yang kita pelajari dari hidup Yusuf untuk mendaki ke puncak adalah memiliki integritas. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa integritas adalah who you are when no ones lookingsiapa anda ketika tidak ada orang yang melihat. Integritas adalah keutuhan seluruh aspek hidup. Keutuhan hidup (completeness, wholeness) itu penting untuk kita kembangkan. Yusuf memiliki hal ini. 
Perlu kita ketahui bahwa konsep Allah pada zaman itu beda dengan konsep zaman pada zaman ini. Pada masa itu konsep allah adalah allah local. Di Kanaan allah itu adalah allah Kanaan. Ketika pindah ke Mesir allahnya adalah allah Mesir. Jadi tiap pindah lokasi allahnya pasti berbeda.  Tetapi Allah Israel memperkenalkan diri bahwa Dia adalah Allah seluruh bumi. Dan hal inilah yang ditangkap dan dipahami oleh Yusuf. Ketika dia digoda oleh isteri Potifar dia berkata “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” (Kej 39:9b). Dia tahu bahwa dia sedang berada di Mesir bukan di Kanaan, tetapi dia memahami dnegan benar bahwa Allah Israel itu adalah Allah atas seluruh bumi. Hal ini membuat yusuf menyadari bahwa dia sedang berdiri dihadapan Allah. Inilah integritas Yusuf. 
Banyak sekali alumni yang tidak melakukan dosa bukan karena integritas atau menyadari bahwa dia berdiri dihadapan Allah, tetapi karena takut ketahuan. Banyak alumni yang kelihatan berintegritas, tetapi ketika kita gali alasan mereka sebanrnya adalah karena takut ketahuan. Ketika masih mahasiswa, seseorang itu kita lihat tidak mau korupsi, rajin saat teduh. Tetapi dia melakukannya hanya karena takut ketahuan sama teman-temannya yang yang lain. Ketika menjadi alumni dan tidak ada yang mengawasi dia menjadi lebih ganas. Saat teduh ditinggalkan bahkan menjadi seorang koruptor.
Itulah sebabnya melihat kehidupan Yusuf menyadarkan saya bahwa dia adalah pemuda yang luar biasa. Kita bisa melihat bagaimana isteri Potifar dengan gigih menggoda Yusuf untuk tidur dengan dia. Bahkan sampai-sampai pada satu hari tidak ada orang di rumah. Bagaimana mungkin tidak ada orang di rumah, karena mereka memiliki banyak pembantu? Kemungkinan besar kerena isteri Potifar mengatur sedemikian rupa.
Dalam kondisi tidak ada orang, isteri Potifar kembali menggoda Yusuf dengan gigihnya. Ingat, Yusuf masih muda, masih 17 tahun yang bergumul dengan hal-hal seksual dan ada yang menjadi pelampiasa, siteri Potifar yang menggoda dia. Suasana mendukung, kebutuhan ada, dan kemudian Isteri Potifar itu memegang baju Yusuf. Jangan pikir Yusuf tidak bergumul. Apa kemudian yang dilakukan Yusuf? Lari. Jika kita tidak sanggup, jalan satu-satunya kita harus lari. Pengenalan Yusuf akan Allah membuat dia memiliki kehidupan yang takut akan Tuhan. Walaupun tidak ada orang yang melihat, Yusuf menyadari bahwa dihadapan Allah rayuan dari isteri Potifar adalah dosa.
Yusuf tahan godaan bukan karena ia mampu. Jika ia mampu ia tidak akan lari. Lari menjadi satu indikasi sebenarnya Yusuf punya nafsu. Yusuf sadar dia tidak tahan itulah sebabnya dia lari. Integritas adalah taruhannya ketika kita mau mendaki ke puncak bersama Tuhan. Mari memiliki integritas dan relasi dengan Allah yang bisa menolong kita setia. Yusuf tidak melakukannya bukan karena takut ketahuan. Bukankah suasana sangat mendukung dimana tidak ada orang dirumah? Tetapi Yusuf menolaknya karena ia mengenal siapa Allah. Memiliki hidup yang takut akan Allah akan menolong kita untuk tetap berintegritas bahkan di tempat paling sepi sekalipun.
Dalam mendaki mencapai puncak dengan integritas kita akan menghadapi tantangan. Tantangan bagi masing-masing kita pasti berbeda. Yang pasti Iblis akan menyerang kita pada hal-hal yang kita lemah. Martin Luther pernah berkata ”Saudara tidak mungkin melarang burung terbang di atas kepala saudara, tetapi engkau bisa mencegahnya bikin sarang di kepalamu.” Tidak mudah menghadapi tantangan atau rayuan si jahat, tetapi Tuhan akan memberikan kekuatan. 
Mendaki ke puncak ada bagian yang Tuhan sediakan dan ada bagian kita. Yusuf ditolong untuk melewati itu. Saya tidak tahu apa pergumulan dari masing-masing kita dan dimana sekarang posisi kita dalam karir kita. Pertanyaannya adalah apakah kita disertai Tuhan? Apakah kita sebagai alumni senantiasa mengembangkan kompetensi kita sampai maksimal? Termasuk ketika Tuhan meminta atau mengizinkan kita mempelajari hal-hal yang baru? Apakah integritas kita terus diuji dan kita selalu tampil sebagai pemenang?
Kiranya tokoh Yusuf pada malam hari ini menginspirasi kita dan juga mengingatkan kita bahwa kepahitan hidup tidak membuat Yusuf memiliki hubungan yang pahit kepada Tuhan. Tetapi Yusuf menemukan Tuhan dalam segala keadaan dan Yusuf tetap setia kepada Tuhan dalam segala keadaan. Mendaki puncak, apakah yang akan saudara lakukan?
Solideo Gloria!


Tuesday, July 23, 2013

Hagai Pasal 2



Aswindo Sitio


Pendahuluan

Kitab Hagai adalah yang pertama dari ketiga kitab nabi pasca pembuangan dalam PL (Hagai, Zakharia dan Maleakhi). Dia mungkin menjadi salah seorang dari sebagian kecil orang Yahudi yang, setelah kembali untuk tinggal di Yerusalem, dapat mengingat Bait Suci Salomo sebelum dibinasakan oleh pasukan Nebukadnezar pada tahun 586 SM (Hag 2:4). Ada dua hal yang perlu kita ketahui. Pertama adalah latar belakang dan kedua makna Bait Suci dalam konteks PL.

Latar belakang sejarah kitab ini penting untuk memahami beritanya. Pada tahun 538 SM, Raja Koresy dari Persia mengeluarkan maklumat mengizinkan orang Yahudi buangan untuk kembali ke negeri mereka untuk membangun kembali Yerusalem dan Bait Suci sebagai penggenapan nubuat Yesaya dan Yeremia (Yes 45:1-3; Yer 25:11-12; Yer 29:10-14) dan syafaat Daniel (Dan 9:1-27). Rombongan orang Yahudi pertama yang kembali ke Yerusalem meletakkan dasar Bait Suci yang baru pada tahun 536 SM di tengah-tengah kegembiraan dan harapan besar (Ezr 3:8-10). Akan tetapi, tidak lama kemudian orang Samaria dan tetangga lainnya secara jasmaniah menentang rencana pembangunan itu dan mematahkan semangat para pekerja sehingga pembangunan itu terhenti pada tahun 534 SM. Kelesuan rohani mulai timbul, dan umat itu lalu mulai membangun rumah mereka sendiri. Pada tahun 520 SM, Hagai, dengan ditemani nabi Zakharia yang lebih muda, mulai mendorong Zerubabel dan umat itu untuk melanjutkan pembangunan rumah Allah. Empat tahun kemudian Bait Suci itu selesai dibangun dan ditahbiskan (bd. Ezr 4:1--6:22).

Kedua, kita perlu mengetahui bahwa bait suci dalam kitab Hagai, khususnya dalam konteks PL, tidak sekedar berbicara soal bangunan fisik saja. Keberadaan bait suci sama dengan keberadaan Allah di tengah-tengah umat. Bait Suci adalah tempat kehadiran Allah dibumi. Bait suci juga adalah lambang perkenanan Allah akan umat. Pembangunan bait suci yang diperintahkan oleh Allah menunjukkan bahwa Allah tidak melupakan keselamatan yang dijanjikanNya. 

Kitab Hagai ini secara umum dibagi menjadi empat bagian, yang sering juga disebut empat pidato Hagai.
Yang pertama adalah Hagai 1:1-11. Hagai pertama-tama menegur para mantan buangan itu karena lebih memperhatikan rumah mereka sendiri yang dipapani dengan baik sedangkan rumah Allah masih merupakan reruntuhan (Hag 1:4). Dua kali nabi Hagai menasihati mereka untuk "perhatikanlah keadaanmu!" (Hag 1:5,7), yang menunjukkan bahwa Allah telah menarik berkat-Nya dari mereka karena cara hidup mereka (Hag 1:6,9-11). Sebagai tanggapan atas perkataan Hagai, maka Zerubabel, Yosua, dan semua orang itu takut akan Allah dan melakukan pekerjaan (Hag 1:12--2:1).

Bagian kedua, tiga dan empat kita bisa temukan pada pasal 2 (Hagai 2:2; Hagai 2:11; Hag 2:21).

Janji Penyertaan Allah

Kisah pada pasal 2 ini diawali ketika Zerubabel telah melakukan pembangunan. Beberapa minggu kemudian, penilaian beberapa orang kembali mematahkan semangat mereka, yaitu mereka yang telah melihat kemuliaan bait Salomo sehingga menilai usaha membangun kembali itu tidak berarti jika dibandingkan (Hag 2:4). Hagai menasihati para pemimpin untuk meneguhkan hatinya karena:

1. Tuhan meyakinkan mereka bahwa Ia masih menyertai mereka dan Allah akan tinggal di tengah-tengah mereka sesuai dengan janjiNya (6). Allah menegaskan bahwa usaha mereka merupakan bagian dari gambaran nubuat yang lebih luas (Hag 2:5-8). Mereka harus meninggalkan ketakutan mereka  beserta masa lalu yang telah silam, sebab Ia bermaksud menggenapi janjiNya bahwa “kemuliaan Tuhan akan memenuhi seluruh bumi” dalam melaksanakan perjanjian Abraham dan Daud, yang sangat jelas terkandung disini. Meskipun langit, bumi, laut, dan bangsa-bangsa harus digoncangkan untuk melaksanakan hal ini, perjanjian itu akan terjadi (7-8, band Ibrani 12:26-29).

Keberhasilan pembangunan  bait Allah pada zaman mereka yang melibatkan tangan Persia (Ez 6:8) merupakan bukti awal bahwa Tuhan sanggup menggerakkan semua bangsa seperti yang Ia janjikan (2:7-8, 22-23: band Yes 60:5-13).

2. "Kemegahannya yang kemudian akan melebihi kemegahannya yang semula" (Hag 2:10). Istilah “Rumah ini” tidak perlu berarti bait suci yang waktu itu sedang didirikan, melainkan “bait Allah” sebagai suatu lembaga ilahi, yang menurut maksud Allah akan dipenuhi sekali lagi “dengan kemegahan” (8), yaitu kehadiranNya yang ilahi.

Dengan kata lain Allah hendak berkata, “Jangan kuatir tentang kemuliaan sebelumnya, tentang perak atau emas. Aku memiliki seluruh dunia, seluruh emas dan perak adalah milikKu (9). Itu bukanlah jenis kemuliaan yang Kupikirkan. Aku akan memenuhi Rumah ini dengan jenis kemuliaan yang berbeda, sehingga semarak Bait Allah yang baru akan lebih besar dari semarak Bait Allah yang lama.” Dari tempat itu akan mengalir “damai sejahtera” bagaikan sungai (band Yes 48:18; 66:12).

Ketaatan dan Pertobatan
Bagian yang ketiga dalam kitab Hagai adalah 2:11-20, yaitu panggilan kepada umat untuk hidup dalam ketaatan yang kudus. Mereka menganggap ketika mereka terlibat dalam sesuatu pekerjaan yang kudus maka mereka akan dikuduskan. Dan ketika mereka menganggap diri mereka kudus tetapi mereka masih belum diberkati mereka kembali melemah. Dari ay 16-19 kita mendapat kesan bahwa bangsa Israel merasa mereka telah mengerjakan bait Allah selama dua bulan, tetapi kehidupan mereka masih sulit.

Hagai kembali mengingatkan mereka dalam beritanya yang ketiga. Dalam ay 13-14 dikatakan, “13 Andaikata seseorang membawa daging kudus dalam punca bajunya, lalu dengan puncanya itu ia menyentuh roti atau sesuatu masakan atau anggur atau minyak atau sesuatu yang dapat dimakan, menjadi kuduskah yang disentuh itu?" Lalu para imam itu menjawab, katanya: "Tidak!" 14 Berkatalah pula Hagai: "Jika seseorang yang najis oleh mayat menyentuh semuanya ini, menjadi najiskah yang disentuh itu?" Lalu para imam itu menjawab, katanya: "Tentu!” Apa yang ingin dikatakan disini sangat jelas! Dilibatkan dalam suatu pekerjaan ditempat yang kudus tidak serta merta membuat mereka kudus, berhubungan dengan benda-benda yang suci tidak membuat orang itu suci. Demikianlah pelaksanaan upacara agama yang lahir tidak dapat menguduskan bangsa Israel, sementara hati dan hidup mereka tetap najis. Sebaliknya kenajisan hati dan hidup mereka akan menajiskan segala persembahan dan semua pekerjaan yang mereka usahakan. Ketaatan untuk membangun Bait Allah harus disertai pertobatan dan menjaga kekudusan (18 - secara khusus Zakharia memanggil bangsa Israel untuk berobat (Zakharia 1).

Ingat, bangsa ini dalam kenajisannya (15), yaitu karena mementingkan diri sendiri, kelalaian dan dosanya. Pencemaran mereka adalah ketidaktaatan dalam pembangunan bait Allah. Mereka mendapatkan hukuman mereka dari Tuhan (16-18).
 
Dalam bagian terakhir kitab ini Hagai mendorong mereka untuk menyelesaikan pembangunan dengan cara memberitakan janji-janji Allah. Mulai dari hari ketaatan mereka akan ada bukti yang segera tentang perkenanan Ilahi. Mulai dari sekarang akan terjadi perbaikan musim-musim – “Aku akan memberi berkat.” Kata “berkat” sering dipakai dalam PL berhubung dengan masa-masa yang subur (band Ulangan 28:8; Maleakhi 3:10). Dengan kata lain, Tuhan akan memberkati panen mereka (2:19-20).

Janji kepada Zerubabel

Bagian yang keempat (2:21-24) adalah berita yang berisikan jaminan atau janji bahwa Tuhan akan menjungkirbalikkan bangsa-bangsa dan meneguhkan keturunan Daud (2:21-24). Ditengah-tengah kondisi meningkatnya kekuatan bangsa Persia pada masa itu, ada jaminan kepada Zerubabel bahwa Allah akan merobohkan tahkta kerajaan bangsa-bangsa, melemahkan kuasa mereka, melenyapkan kuasa angkatan perang dan menyebabkan mereka berperang sesama sendiri, dalam melaksanakan maksud ini (22-23, band. Yehez 38:21; Zakharia 14:13).

Kemudian dalam ay 24 ada janji yang ditujukan kepada Zerubabel secara pribadi. Dikatakan, “Pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN semesta alam, Aku akan mengambil engkau, hai Zerubabel bin Sealtiel, hamba-Ku -- demikianlah firman TUHAN -- dan akan menjadikan engkau seperti cincin meterai; sebab engkaulah yang Kupilih, demikianlah firman TUHAN semesta alam." Ini adalah janji Tuhan untuk meneguhkan keturunan Daud. Ya, Zerubabel adalah keturunan Daud dan Hagai juga menyebutnya sebagai Hamba Allah. 

Peneguhan atas Zerubabel, salah satu keturunan Daud (1Taw 3:16-19), sebagai pemimpin loka bangsa Yehuda ibarat cincin materai dari Tuhan. Allah akan menjadikan seperti cincin materai. Cincin materai adalah tanda kekuasaan. Jadi karena pemilihan Allah, Zerubabel diberikan kuasa dari Allah. Ini bukan jaminan pribadi kepada Zerubabel saja, sebab ia dan keturunannya tidak memerintah di Yerusalem ataupun kemasyuran dalam kerajaan-kerajaan di dunia ini. Tetapi dalam diri Zerubabel, telah dilambangkan keabadian keturunan Raja. Ketatan Zerubabel menjadikannya terlibat dalam misi Allah.Yah, dari keturunan Zerubabellah mesias akan lahir (band Luk1:31-33).

Penutup
Bait suci merupakan lambang kehadiran dan perkenanan Allah dan juga lambang bahwa Allah tidak melupakan janji keselamatanNya bagi bangsa Israel. Dalam konteks sekarang kita adalah bait suci Allah, dimana Allah berdiam dalam kita. keberadaan Allah dalam hidup kita membuktikan bahwa kita adalah umat pilihan Allah. Tempat kediaman Allah adalah orang percaya. Dalam I Korintus  3:16 dikatakan, “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?”

Kita sebagai orang-orang Kristen adalah “rumah” tempat dimana Allah berdiam, dan ketika Allah berbicara tentang membangun RumahNya, Dia sedang membicarakan tentang diri kita menjadi tempat kediaman yang layak dan pantas dihuni bagi RohNya. Banyak hal-hal yang akan melemahkan kita, apakah itu masalalu kita, apakah kondisi sekeliling kita.

Oleh sebab itu mari berjuang untuk menjaga dengan hidup dalam ketaatan yang kudus. Dengan demikian melalui hidup kita janji Allah atau misi Allah akan dunia ini digenapi melalui hidup kita. Persekutuan kepada Alah yang dilandasi dengan ketaatan yang kudus akan menjadikan kita menjadi alat Allah dalam mengerjakan misiNya di dunia ini.

Solideo Gloria!