Showing posts with label Seri Gereja. Show all posts
Showing posts with label Seri Gereja. Show all posts

Tuesday, November 8, 2011

[Seri Gereja 05-2009) Holy Communion

[Kotbah ini dibawakan oleh Esni Naibaho, M. Div (CE), pada ibadah Mimbar Bina Alumni, Jumat 29 Mei 2011]

Pengertian dan alasan tiap orang mengapa harus melakukan Perjamuan Kudus dapat berbeda-beda karena perbedaan pemahaman dimiliki. Pre assumption mengenai perjamuan kudus, perjamuan kudus ialah makan dan minum yang sisimbolkan dalam rangka mengingat ulang pengorbanan Kristus demi untuk dosa manusia dimana Dia mati bagi manusia. (pernyataan 2 orang Jemaat).


Perjamuan kudus disebut juga dengan Eucharist, Holy Communion, The Lord’s Supper, Divine Liturgy (orang ortodoks), The Mass (Catholic). Perjanjian Baru ditemukan nama lain Perjamuan Kudus yaitu Pemecahan Roti/ breaking of The Bread (Kis 2:42,46), Perjamuan Tuhan/ The Table of The Lord (I Kor 10:21).

Perjamuan berarti makan dan minum dihadirat Tuhan. Hal ini bukan berarti makan dan minum seperti yang biasa dilakukan (3xsehari). Ul. 14:23,26 mencatat “Di hadapan TUHAN, Allahmu, di tempat yang akan dipilih-Nya untuk membuat nama-Nya diam di sana, haruslah engkau memakan persembahan persepuluhan dari gandummu, dari anggurmu dan minyakmu, ataupun dari anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu, supaya engkau belajar untuk selalu takut akan TUHAN, Allahmu…., dan haruslah engkau makan di sana di hadapan TUHAN, Allahmu dan bersukaria, engkau dan seisi rumahmu”.  Ini adalah perintah kepada bangsa Israel melalui Musa, ketika bangsa itu mempersembahkan persepuluhan di Bait Suci, setelah dipersembahkan, mereka makan dan minum (menikmati hasil pekerjaan) bersama. Hal ini berarti Tuhan mengundang manusia untuk menikmati perjamuan dihadiratNya. Ini merupakan suatu upacara ucapan syukur dan makan bersama oleh bangsa Israel.

Ibrani 10:1-4 menggambarkan bahwa makanan persembahan (sacrifical meal) yang dipersembahkan tiap tahun oleh bangsa Israel menggambarkan bahwa dosa belum diselesaikan dan masih mengharapkan kedatangan Mesias untuk menyelesaikannya. Karena tiap tahun mereka datang mempersembahkan korban kepada Tuhan melalui imam sebagai korban ucapan syukur dan pengampunan dosa. Perjanjian Lama belum memiliki gambaran akan suatu perjamuan kudus kelak.
Dalam Perjanjian Baru, Yesus juga pernah mengadakan perjamuan misalnya sewaktu memberi makan 5000 orang, makan dengan Zakeus, makan dengan para murid, dll. Perjamuan makan dilakukan Yesus berbeda dengan orang Yahudi karena Yesus makan dan minum bersama dengan orang-orang yang dikucilkan oleh Yahudi (pelacur, pemungut cukai, dll). Matius 26:23-29; Yesus menetapkan Perjamuan Kudus, makan dan minum dengan murid-muridNya diakhir pelayananNya.

Dapat disimpulkan bahwa dalam Perjanjian Lama, Allah menjamu/ mengundang umat Tuhan untuk makan dam minum dihadapan Allah, menikmati dan mengalami Tuhan. Dalam Perjanjian Baru, Yesus juga makan dan minum dengan orang banyak bahkan dengan orang-orang yang dikucilkan oleh Yahudi serta makan dengan para murid diakhir pelayananNya. The Lord’s Supper menjadi pengingat bahwa Yesus membayar lunas hutang dosa kita sehingga kita dapat menikmati makan dan minum dihadapanNya dengan sukacita. Tujuan utama perjamuan kudus ialah membawa umat Tuhan menikmati persekutuan bersama dengan Allah.

Ada empat pandangan mengenai Perjanjian Kudus, yaitu:

  1. “Transubstantiation” ----pandangan ini dianut oleh Roma Katolik. Roti berubah menjadi tubuh Kristus dan anggur menjadi darah Kristus. Melalui perjamuan seseorang akan dikuatkan dan dibebaskan dari dosa yang dilakukannya. Yesus mengorbankan hidupnya setiap kali mereka melakukan perjamuan kudus.
  2. Consubstantiation (“In, with, and under”) ---pandangan ini diterima oleh Lutheran. Roti itu bukan penjelmaan tubuh Kristus tapi Yesus hadir “in”, “with”, and “under” roti tersebut. Artinya roti berisi tubuh Kristus.
  3. Reformed (“A simbolic and spiritual presence of Christ”)---pandangan presbiterian, dan gereja reform lainnya. Melalui perjamuan tersebut seseorang akan menerima pengampunan atas dosanya dan konfirmasi akan imannya. Juga melalui perjamuan itu mereka akan dianugrahkan karunia dan pertumbuhan rohani. Pandangan ini mengartikan bahwa roti dan anggur sebagai simbol, dimana ketika mereka melakukan perjamuan, mereka mengalami perekutuan dengan Kristus.
  4. Memorial---pandangan gereja Baptis, dan Mennonite. Mereka meyakini bahwa Kristus tidak hadir dalam roti dan anggur baik secara literal maupun simbol. Melalui perjamuan tersebut orang diingatkan akan benefit dari penebusan yang dibawa melalui kematian Kristus.
Dari empat pandangan tersebut, dapat kita ambil beberapa kesimpulan yaitu The Lord’s supper dimulai oleh Tuhan Yesus (Mat 26:26-28; Mk 14:22-24; Luk 22:19-20); Yesus memerintahkan untuk melakukan terus the Lord Supper (Mat 26:29); Perjamuan kudus mendeklarasikan kematian Kristus (I Kor 11:26); Melalui perjamuan kudus, Allah memberikan berkat rohani kepada yang menikmatinya.

Wayne Grudem memberikan tujuh pengertian perjamuan kudus:

1. “Kematian Kristus”
Ketika kita menerima roti yang dipecah, kita mengingat tubuh Kristus yang terpecah bagi kita dan ketika kita meminum anggur kita mengingat darah Kristus yang tertumpah demi kita. Dengan kata lain perjamuan kudus adalah proklamasi akan kematian Kristus (I Kor 11:26). Hal ini juga menggambarkan kasih Tuhan kepada kita. Hal yang penting ialah kita harus membayangkan Kristus yang mati dan tersiksa demi kita.

2. Menikmati benefit dari kematian Kristus
Ketika kita menikmati perjamuan kudus, kita mendeklarasikan bahwa makna kematian Kristus secara pribadi bagi kita. Kita harus mengakui dan menghayati secara pribadi dengan penuh arti kematian Yesus bagi kita sehingga aku dibenarkan dalam Kristus.

3. Menumbuhkan kerohanian
Perjamuan tersebut merupakan gambaran bahwa Allah memberikan makanan kepada jiwa kita (Joh 6:53-57). Hal ini seharusnya menumbuhkan kerohanian kita karena Alah telah memberikan makan dan minum.

4. Kesatuan orang percaya
Ketika orang percaya datang menikmati perjamuan kudus, hal ini menggambarkan kesatuan umat Tuhan ( I Kor 10:17). Dalam Perjamuan Kudus, orang-orang mengakui “aku telah diselamatkan oleh Kristus” yang berarti Yesus menjadi focus ibadah karena semua orang dalam perjamuan tersebut mengakui Yesus yang sama.

Jemaat korintus menyalahgunakan perjamuan kudus ini sehingga Paulus harus mengingatkan ulang arti perjamuan kudus kepada mereka (1 Kor 11:23-25). Kesalahan mereka ialah dalam perjamuan kudus terdapat perbedaan orang kaya dan miskin. Padahal sama-sama sudah beriman kepada Yesus, tetapi karena perbedaan status sosial, mereka menghancurkan kesatuan orang percaya. Siapa dan bagaimanapun kita, oleh pendamaian yang dilakukan Kristus, kita sama dihadapan Allah.

5. Pernyataan iman pribadi kita
Pengakuan pribadi bahwa Kristus telah mati demi dosa kita dan memberi hidup dan kesehatan bagi jiwa kita. DKL, ketika perjamuan kudus berarti secara pribadi aku mengakukan imanku “aku percaya kepada kematian Kristus yang olehnya aku diperdamaikan dengan Allah”. Perjamuan kudus seharusnya meneguhkan, menguatkan, mengingatkan kita bahwa Yesus sudah berkorban bagi kita. Perjamuan Kudus merupakan klaim secara pribadi kita mengakui “Yesusku mati bagiku dan aku mengakui kematiannya yang berkuasa itu membebaskan aku dari dosa”. Pengakuan ini yang seharusnya bersuara kepada kita ketika menghadapi pergumulan hidup.

Mengenai peserta perjamuan kudus. bagi kebanyakan gereja tradisional, yang mengikuti perjamuan kudus ialah orang yang sudah naik sidi. Naik sidi maksudnya katekhisasi yang menuntun mereka sampai akhirnya mereka menerima Yesus secara pribadi mengakukan bahwa Yesuslah Tuhan dan Juruslamatnya. Sehingga orang-orang yang sudah menerima dan mengakui kematian Yesus inilah yang diperkenankan mengikuti perjamuan kudus.

Oleh karena itu, yang turut melakukan perjamuan kudus ialah:

1. Orang yang percaya kepada Yesus Kristus
Mengikuti perjamuan kudus menjadi tanda bagi seseorang untuk menyatakan keberadaannya sebagai Kristen yang terus menjalani hidup kekristenannya

2. Orang yang melakukan self examination (I Kor 11:27-29). Meliputi kesadaran dan pengakuan akan kesatuan orang percaya didalam tubuh Kristus. Kita menguji diri kita apakah persekutuan kita dengan orang percaya lainnya mencerminkan karakter Allah. Dengan kata lain kalau hubungan kita dengan mereka tidak baik kita seharusnya menyelesaikannya sebelum datang ke meja perjamuan. Semua kita menerima darah dan tubuh yang sama yaitu Yesus junjungan dan Tuhan kita. Yesus saja mati bagi semua orang lain, masakan kita tidak mau menyatakan kasih kita kepada sesama kita.

Mengenai penyelenggara perjamuan kudus. secara eksplisit, Alkitab tidak ada menjelaskannya. Secara gereja, biasa yang menyelenggarakan ialah pendeta/ pemimpin gereja/ orang yang sudah dibaptiskan. Pendeta, pemimpin gereja diberikan wewenang untuk melakukan perjamuan kudus untuk menghindari penyalahgunaan sakramen. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana jika tidak ada orang-orang tersebut yang dapat melakukan perjamuan kudus, mungkin dan bolehkan perjamuan kudus dilangsungkan? Kalau ada hal demikian, maka orang percaya yang ada disitu dapat melakukan perjamuan kudus untuk membimbing orang tersebut masuk kedalam 5 (lima) makna perjamuan kudus tersebut.

Mengenai berapa kali mengadakan perjamuan. Tidak ada ketetapan dalam Alkitab. Hanya, Yesus menyampaikan agar Perjamuan Kudus dilakukan untuk mengingat akan Dia yang berarti berkali-kali. Bahkan Kisah Para Rasul menceritakan bahwa jemaat mula-mula melakukan pemecahan roti setiap kali mereka berkumpul. Hal yang perlu diingat ialah apabila hal itu dilakukan dalam rangka membawa jemaat untuk mengenang kematian Kristus dan menumbuhkan kepercayaan kepada kematian Kristus dan makin merefleksikan kasih Kristus, Perjamuan kudus dapat dilakukan kapan saja. Bukan masalah kuantitas perjamuan kudus melainkan kualitas yaitu waktu melakukan perjamuan kudus mari masuk kepada satu pemahaman yang baik dan benar, bahwa sewaktu saya hadir menerima perjamuan itu saya sedang mengakukan, merefleksikan dan mensyukuri bagi hidup saya yang ditebus ini. Dengan ini, maka kita dapat melakukan self evaluation terhadap apa yang kita lakukan terhadap sesama kita. Merefleksikan Kristus yang mau mati bagi manusia memberikan komitmen baru untuk mengakukan kematian Kristus melalui hidup di kantor, lingkungan, dan dimanapun.
Solideo Gloria!

[Seri Gereja 04-2009) Christian Creed

[Kotbah ini dibawakan oleh Esni Naibaho, M. Div pada ibadah MBA, Jumat 22 Mei 2009]

Berbicara mengenai Christian Creed berarti kita berbicara mengenai pengakuan orang Kristen. Kita yang berlatar belakangkan gereja tradisional pasti sangat familiar dengan yang namanya creed ini karena kita akan mengucapkan pengakuan ini setiap minggunya. Dan hari ini kita akan melihat kembali pengakuan ini dengan lebih dalam.

Keagamaan biasanya diekspresikan melalui tiga cara, yaitu: ritual, creed, dan life. Keagamaan apapun akan diekspresikan melalui ketiga cara ini. Dalam agama Kristen ritual ditunjukkan melalui ibadah atau kegiatan rohani. Agama Kristen juga memiliki pengakuan (creed) yang dikalimatkan dan merupakan gambaran dari kepercayaan orang Kristen. Agama juga harus diekspresikan dan dibuktikan melalui hidup. Tiga bentuk ekspresi inilah yang membedakan agama langit (reveald religion) dengan pagan religion atau agama kuno yang tidak menyembah Allah. Bagi penganut pagan religion, ritual adalah hal yang paling diutamakan. Penganut agama ini tidak memiliki creed mengenai apa yang mereka percayai karena mereka tidak memiliki teologi apapun. Berbeda dengan revealed religion, misalnya agama Kristen, yang memiliki teologi sehingga memampukan kita percaya kepada Yesus, Roh Kudus atau Allah Bapa.

Creed mengandung pernyataan atas fakta, pengertian, dan nilai dari otoritas yang dimiliki. Pengakuan yang kita miliki mangandung fakta sehingga kita mempercayai dan mengakui otoritas dari apa yang kita akui tersebut. ’Creed’ berasal dari bahasa Latin ’credo’ yang artinya ’I believe’. Dalam kekristenan istilah ini disebut Pengakuan Iman atau ’confession of faith’. Creed pada dasarnya lebih dari sekedar ‘statement of belief’ atau ‘acceptance of divine revelation’. Creed bukan sekedar kalimat yang dikalimatkan atau sekedar pernerimaan akan ketuhanan. Creed adalah ‘an acknowledgement of personal trust in God’.

Mari memperhatikan tiga pernyataan berikut. Pertama, ”Credo Deum: I believe that God exist”, kedua, “Credo Deo: I believe what God says”, dan ketiga, “Credo in Deum: I believe or trust or have faith in God”. Pertanyaannya adalah pernyataan mana yang benar dari ketiga pernyataan tersebut? Jawabannya adalah yang ketiga, ”Credo in Deum”. Credo adalah pengakuan kepercayaan kita secara personal dengan pemahaman dan kesadaran bahwa kepercayaan kita bukan berdasarkan apa yang dikatakan orang, apa yang terjadi, atau apa yang Tuhan katakan atau karena Tuhan ada. Tetapi kepercayaan kita ada karena kita percaya kepada Allah di dalam diri Allah sendiri. Jadi penekanannya bukan kepada kata-kata mengenai Allah tetapi lebih kepada pribadi Allah sendiri.

Mari melihat dasar Alkitab dari creedo ini. Dalam PL kita melihatnya dalam Ulangan 6:4-9, “4 Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! 5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. 6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, 7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. 8 Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, 9 dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu”. Ulangan 6:4-9 ini adalah pernyataan Allah yang disampaikan melalui Musa untuk orang Israel sebelum mereka memasuki tanah perjanjian. Bangsa Israel diingatkan agar mereka menurunkan kepada keturunan mereka apa yang Musa ajarkan dalam berbagai kesempatan. Musa mengingatkan bahwa Allah yang mereka percayai adalah Allah yang membawa mereka keluar dari Mesir dan memimpin mereka ke tanah perjanjian dan mereka harus terus menyampaikan dan mengkumandangkan karya penyelamatan Allah ini dari dari hari kehari baik siang atau malam kepada keturunan mereka. Jadi, secara tersirat PL menggambarkan bahwa bangsa Israel diarahkan kepada satu pedoman penting dalam kehidupan iman mereka dimana mereka meletakkan kepercayaan mereka kepada Tuhan Allah dengan segenap hatinya. Formulasi kalimat dalam ayat 4 ’Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!’ berkali-kali diulang di dalam PL. Dan kelihatannya ini menjadi satu kalimat yang dipahami dengan baik dan Musa mengingatkan mereka bahwa ini adalah pengakuan mereka terhadap Tuhan.

Jika dalam PL kita cenderung menemukan pengakuan ini dalam komunal, tetapi di PB kita menemukan pengakuan ini secara pribadi. Dalam Yoh 1:49 kita melihat pengakuan yang diakukan secara pribadi oleh Natanael. Dia berkata : "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!" Kemudian kita menemukan pengakuan Petrus dalam Mat 16:16. dalam pengakuannya Petrus berkata: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Dalam Yoh 20:28 kita juga menemukan adanya pengakuan Tomas akan Yesus. Dia berkata: "Ya Tuhanku dan Allahku!" Tiga pengakuan ini dianggap permulaan atau cikal bakal dari creed dan pusat dari pengakuan adalah Kristus. Dalam surat-surat Epistel, kita juga menemukan adanya pengakuan Paulus. Dalam kotbah maupun suratnya Paulus biasanya menekankan akan the meaning of Christ dan memusatkan kepada pribadi Kristus: inkarnasi, kematian, dan kebangkitan Kristus yang familiar bagi pendengarnya (misalnya dalam I Kor 15:3-5). Surat-surat Paulus adalah merupakan pengakuan alamiah yang nyata dan merupakan manifestasi dari kepercayaan orang Kristen [“Paul’s Epistles are really of the nature of a confession and manifesto of Christian belief”]. Tanpa kita sadari kalimat-kalimat Paulus sebenarnya telah menjadi kalimat yang masuk dalam pengakuan iman rasuli.

Ada tiga jenis pengakuan, yaitu Apostles Creed (Pengakuan Iman Rasuli), Nicene Creed, dan Athanasian Creed.

Apostles Creed muncul pada masa sekitar 700 AD. Rasul-rasul dipandang sebagai yang menciptakan creed. Di zaman para rasul, fondasi pengajaran yang tertuang di dalam creed merupakan persetujuan bersama akan teologi yang dianut oleh para rasul. Di dalam Apostles’ Creed, ke-Tritunggalan Allah di nyatakan dengan jelas yakni percaya dalam Allah yang Maha Kuasa, pencipta langit dan bumi; dilanjutkan dengan penyataan tentang Yesus Kristus Anak Allah yang tunggal dengan menekankan pada kelahiran, penderitaan, penyaliban, kebangkitan, kenaikkan, penghakiman yang akan datang. Pada bagian yang ketiga dideklarasikan kepercayaan kepada Roh Kudus. Sementara Nicene Creed mengandung pengajaran kristologi yang diperuntukkan untuk menghadapi pengajaran Arianism (paham yang mengakui bahwa Yesus adalah ciptaan yang tertinggi tapi bukan Allah). Nicene Creed bukanlah The Creed of Nicea tetapi formula atau dasar dari The Creed of Nicea adalah Nicene Creed. Sedangkan Athanasian Creed memiliki pernyataan yang lebih kompleks dari kedua Creed sebelumnya yang lebih menekankan kepada ketritunggalan Allah. Dan gereja yang ada di dunia cenderung menggunakan Apostles’ Creed dibandingkan dengan dua creed yang lain. Alasan mengapa Gereja akhirnya cenderung memilih Apostles’ Creed adalah karena bapa-bapa Gereja telah menganggap bahwa creed ini telah mewakili keseluruhan dari kepercayaan kita kepada Allah.

Perlu kita ketahui bahwa Apostles’ Creed adalah pengakuan yang diadopsi dari pengakuan iman berdasarkan The Old Roman Creed. The Old Roman Creed berbunyi demikian:

Aku percaya kepada Allah Bapa yang maha kuasa. Dan kepada Yesus Kristus anakNya yang tunggal Tuhan kita, yang dilahirkan dari Roh Kudus dan dara Maria; disalibkan dibawah pemerintahan Pontius Pilatus dan dikuburkan; di hari ketiga Dia bangkit dari kematian, naik kesurga dan duduk di sebelah kanan Bapak. Dari sana Dia akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan mati. Dan kepada Roh Kudus , gereja yang kudus; pengampunan dosa, kebangkitan daging.

Sedangkan The Apostles’ Creed yang telah diadopsi dan dimodifikasi dari The Old Roman Creed berbunyi demikian:

Aku percaya kepada Allah Bapak yang Maha kuasa; pencipta langit dan bumi. Dan kepada Yesus Kristus, anakNya yang tunggal, Tuhan kita; yang dikandung dalam Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria; yang menderita dibawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, mati, dan dikuburkan; Dia turun kedalam neraka; di hari ketiga Dia bangkit dari antara orang mati; naik ke sorga dan duduk disebelah kanan Allah Bapak yang Maha kuasa, dari sana Dia akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.


Aku percaya kepada Roh Kudus, gereja yang katolik dan kudus, persekutuan orang-orang kudus, pengampunan dosa, kebangkitan tubuh dan hidup yang kekal.

Setelah melihat keduanya, kita melihat ada beberapa perbedaan antara keduanya. Pertama, dalam Apostles’ Creed pengakuan akan Allah Bapa ditambahkan dengan kalimat ‘pencipta langit dan bumi’ (dalam The Old Roman Creed kalimat ini tidak ada). Kenapa kalimat ini muncul adalah karena pada masa The Old Roman Creed muncul bidat (ajaran sesat) yang menolak bahwa Allah bukan pencipta langit dan bumi tetapi Allah adalah Allah yang sedemikian jauh dari kita dan tidak mungkin bersama-sama dengan kita. Oleh sebab itulah maka kalimat ‘pencipta langit dan bumi’ perlu ditambahkan ke dalam creed orang Kristen. Jadi creed ini sebenarnya untuk menjaga orang Kristen agar mempercayai Allah yang benar.

Kedua adalah mengenai pengakuan ‘gereja yang katolik dan kudus’. Pertanyaan yang perlu kita ajukan adalah “Apa yang dimaksud dengan katolik dalam konteks creed ini?” Definisi ‘katolik’ di sini bukanlah institusi atau Gereja Katolik melainkan kepada pengertian umum, general atau AM (kesatuan tubuh di dalam Kristus). Oleh sebab itulah agar tidak terjadi kebingungan maka diganti dengan AM. Hal ini menggambarkan gereja yang satu dan kudus di dalam Kristus. Dipisahkan dan khususkan untuk Allah.

Ada beberapa fungsi creed di dalam gereja. Pertama adalah untuk pembaptisan. The confession of faith (pengakuan iman) umumnya di hubungkan dengan pelaksanaan Baptisan, karena sebelum seseorang dibaptis dia harus terlebih dahulu menyatakan atau mengakukan kepercayaannya kepada Kristus (Rom 10:9-10). Pengakuan rasuli juga dihubungkan dengan masuknya seseorang sebagai anggota dari suatu persekutuan atau gereja. Pengakuan Iman Rasuli juga bukan hanya sekedar prasyarat untuk ‘lulus’ dalam Angkat Sidi. Ini adalah kesalahan-kesalahan gereja masa kini dimana makna dari Pengakuan Iman Rasuli telah bergeser. Pengakuan ini seharusnya adalah pengakuan yang benar-benar serius dan didasarkan kepada pengertian bahwa kita benar-benar percaya kepada Allah yang dideskripsikan dalam bentuk pengakuan kita bukan sebagai prasyarat agar dapat Angkat Sidi atau menikah.

Kedua, untuk katehisasi (catechetical instruction) sebagai outline dalam pengajaran. Hal ini berguna untuk mengajar orang agar semakin mengerti siapa Allah, Yesus dan Roh Kudus. Sayangnya, masih banyak gereja-gereja yang tidak serius dalam katehisasi. Banyak orang juga menganggap bahwa ikut katehisasi hanya sebagai sebuah prasyarat untuk menikah, angkat sidi, dsb. Jika gereja betul-betul memahami hal ini, maka melalui katehisasi gereja sedang menolong orang untuk mengetahui siapa Allah dan pada saat Angkat Sidi mereka bisa berdiri dengan sikap yang benar untuk mengukapkan pengakuan iman mereka.

Ketiga, untuk doktrin. Munculnya ajaran-ajaran sesat menjadi alasan betapa pentingnya creed dibuat. Misalnya pengakuan “pencipta langit dan bumi” di buat didalam meng-encounter ajaran Gnostik (pengikut Gnostik memisahkan antara Allah yang benar dengan pencipta). Kemudian statement ‘lahir dari anak dara Maria’ (virgin birth) dan kematian Kristus adalah untuk menekankan kemanusiaan Kristus dan meng-encounter Docetism (paham yang mempercayai bahwa Yesus bukanlah manusia) dan Marcionism (yang menolak PL dan menyangkal bahwa Allah telah berinkarnasi jadi manusia). Dan keempat adalah untuk liturgi. Pengakuan iman dianggap sebagai dasar dari ibadah yang benar. Di dalam liturgi, creed dimaksudkan untuk membimbing jemaat untuk meresponi Injil dengan menyatakan pengakuan iman baik secara pribadi maupun secara jemaat.

Kita juga perlu memahami bahwa creed ini bukanlah hukum Taurat dimana ketika kita merevisinya maka kita berdosa. Tetapi mengarah kepada pernyataan atau pengakuan kita terhadap Tuhan yang terangkum dalam beberapa kalimat yang menggambarkan iman kita. Tetapi mengubah creed bukanlah sesuatu yang gampang. Sebagai contoh, pertemuan di Nicea untuk merumuskan Ncea Creed dihadiri 318 Bishop yang hadir.

Oleh sebab itu mari kita mensyukuri atas pekerjaan Tuhan dalam diri para rasul yang membuat “confession of faith” di mana mereka telah meletakkan dasar doktrin yang benar lewat creed tersebut. Mari belajar memahami akan pengakuan tersebut. Creed adalah pernyataan kepercayaan kita kepada Allah baik secara personal atau komunal dimana kita berdiri tegak dan kokoh di dalam pengakuan tersebut. Kita didorong untuk sungguh memahami makna creed yang kita nyatakan. Kita seharusnya menghidupi pengakuan iman itu di dalam kehidupan kita dan menjadikan itu sebagai kekuatan kita dalam menghadapi pengajaran palsu. Jadi pengakuan yang kita ucapkan bukan sekedar pengakuan di mulut saja tetapi nampak dari bagaimana kita menjalani hidup kita. Ketika ada pergumulan dan kesedihan datang kepada kita, penghayatan yang benar kepada pengakuan kita akan membantu kita untuk tetap percaya kepada Tuhan karena Dia adalah Tuhan pencipta langit dan bumi. Mari menyadari dan belajar bahwa pengakuan-pengakuan yang kita ucapkan akan memperkaya kehidupan kita bahwa Tuhan itu adalah Tuhan yang akan menopang dan menolong kita di dalam dunia ini.

Solideo Gloria!

[Seri Gereja 03-2009) The Place of Preaching in Christian Life

[Kotbah ini dibawakan oleh Pdt. Parlindungan Situmorang, S.Th, MA pada ibadah MBA, Jumat 15 Mei 2009]

Hari ini kita akan belajar mengenai kedudukan kotbah atau pemberitaan Firman Tuhan dalam ibadah Gereja. Mari melihat 2 Timotus 3:16-4:2, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya: Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.“

Kotbah atau pemberitaan Firman Tuhan mendapat tempat yang sentral dalam kebaktian-kebaktian orang Kristen. Oleh sebab itu akan ada sesuatau yang kurang jika dalam satu ibadah firman tidak disampaikan. Seperti yang telah kita pelajari dalam topik sebelumnya liturgi membawa umat untuk meyembah Tuhan dalam keteraturan dan salah satu poin yang dilakukan dalam liturgi yang dibangun oleh gereja ini adalah kotbah. Semua bagian yang ada di dalam satu liturgi baik di awal liturgi maupun akhir dari liturgi memiliki kedudukan yang sama. Dan hari ini kita akan fokus pada bagian pemberitaan firman atau kotbah di dalam satu ibadah.

Kotbah sangat perlu dan harus ada dalam satu ibadah. Gereja yang bersekutu pastilah merindukan firman Tuhan diberitakan di tengah-tengah mereka. Sering sekali dalam gereja yang memiliki jemaat yang sedikit (Gereja kecil) yang disampaikan bukanlah firman Tuhan tetapi moment kotbah hanya menjadi percakapan atau sharing, menceritakan/berbagi pengalaman iman dalam hidupnya. Dalam Gereja yang memiliki jemaat yang besar (Gereja besar) kita juga menemukan kecenderungan dimana kotbah menjadi tempat mempublikasikan sesuatu/seseorang secara berlebih-lebihan da tidak ubahnya seperti iklan. Kedua hal ini sama sekali salah. Baik di gereja kecil atau besar firman Tuhan harus diberitakan sesuai dengan kapasitasnya. Oleh karena itu gereja harus menempatkan kotbah sebagai sesuatu yang penting yang memberi kesempatan kepada jemaat mendengar suara Tuhan.

Dalam 2 Timotius 3:16-4:1-2 dikatakan ’beritakanlah Firman’. Ini adalah sebuah perintah . Seorang pengkotbah besar dari Amerika, Jonathan Edward, mengatakan bukan hanya karena PB memerintahkan ”beritakanlah Firman”, tetapi lebih fundamental lagi adalah karena adanya esensi ganda dari ibadah. Di dalam bukunya, ia menyatakan bahwa Allah memuliakan diriNya terhadap ciptaan (termasuk ibadah) dengan cara: pertama, Allah menampakkan diri kepada umatNya di dalam pengertian mereka. Jadi, ketika firman diberitakan, maka sesungguhnya pemberitaan Firman itu sedang membawa intelektual/pikiran jemaat untuk semakin mengenal Tuhannya. Oleh sebab itulah seharusnya setelah mendengarkan kotbah pengetahuan kita akan Tuhan seharusnya bertambah. Oleh karena itu, disisi lain, penghotbah juga harus mempersiapkan hal-hal yang diperlukan untuk menyampaikan kebenaran Firman agar jemaat semakin mengerti dan mengenal siapa Tuhannya. Kedua, dengan mengkomunikasikan diriNya kepada hati umat dan di dalam mereka bersukacita dan bergirang serta menikmati manifestasi-manifestasi yang Dia perbuat. Kedua hal ini harus berjalan secara beriringan. Kita semakin diisi oleh firman Tuhan dalam hal pengetahuan dan di sisi lain hati kita harus sungguh-sungguh mengalami kehadiran, kuasa, atau kemuliaan Tuhan.

Itulah sebabnya, kotbah haruslah menjadi waktu terindah dan yang dinantikan dan didambakan oleh jemaat dalam rangkaian ibadah. Tetapi , dalam kenyataannya, sering sekali kita menemukan bahwa banyak orang menganggap kotbah sebagai sesuatu yang membosankan dan ketika kotbah dimulai mereka juga mulai mengantuk. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang tidak mempersiapkan diri untuk datang beribadah kepada Tuhan. Jadi jika ada orang berkata ”Aku tidak dapat apa-apa dari Kotbah tadi” atau ”Aku tidak adapat apa-apa dari kebakian di Gereja itu” bisa saja terjadi bukan hanya karena pengkhotbahnya tidak mempersiapkan firman dengan baik tetapi juga karena jemaat tidak mempersiapkan diri mereka dengan baik untuk beribadah. Sesederhana apapun kotbah yang disampaikan dari mimbar dalam satu ibadah, jika kita mempersiapkan diri dengan baik, kita bisa mendapat berkat dari Tuhan. Jadi bukan hanya sekedar penyampaian yang menggunakan bahasa teologia yang tinggi, tetapi kita harus menyadari ada satu substansi yang lebih dalam dari sekedar bahasa yang tinggi-tinggi yaitu dengan menyadari bahwa penghotbah itu sedang menyampaikan firman Tuhan dan melalui dirinya Tuhan sedang berbicara kepada kita sebagai umat. Oleh karena itu kita harus membuka hati dengan sungguh-sungguh untuk mendengarkan Tuhan berbicara. Jadi antara pengertian dan hati jemaat haruslah sama-sama dibangun ketika firman disampaikan.

Seharusnya, ketika firman disampaikan, ada dua hal yang terjadi di dalam diri jemaat. Pertama, jemaat harus bisa melihat Allah dengan mata rohani sepanjang ibadah. Allah hadir dan semua jemaat harus bisa merasakan hal tersebut di dalam hatinya. Jadi bukan hanya sekedar parade pelayan-pelayan Tuhan seperti siapa liturgisnya, siapa yang membawa nyanyian atau siapa pengkotbahnya. Sering sekali kita fokus hanya pada penampilan fisik dari liturgos, yang memimpin pujian atau pengkotbah. Orasi dalam menyampaikan firman Tuhan tentu saja perlu dipersiapkan, misalnya gaya, bahasa tubuh, dll. Tetapi hal ini bukan yang terutama. Yang terutama adalah jemaat harus dibawa sungguh-sungguh untuk merasakan atau menikmati kehadiran Allah. Oleh sebab itulah kotbah menghadirkan Tuhan dalam sati ibadah dan jemaat dapat meilihat kehadiran Allah tersebut melalui mata rohaninya. Kedua, jemaat bisa menikmati kehadiran Allah, menikmati baitNya, menikmati kasihNya. Jika kita bisa melihat dan merasakan kehadiran Tuhan tetapi tidak menikmati kehadiranNya berarti kita sedang menghina Tuhan. Allah dimuliakan bukan hanya dengan kemuliaanNya yang diperlihatkan, tetapi juga dengan dinikmatinya kemuliaanNya. Mazmur 63 menggambarkan bagaimana kerinduan Daud, yang sedang dikejar-kejar pengawal Saul untuk dibunuh, kepada Allah dan kehadiranNya. Ketika kita mendengar kotbah kitranya kita memiliki kerinduan seperti Daud, melihat dan merasakan kehadiran dan menikmati kehadiran Tuhan.

Jadi dalam ibadah yang sejati ada pengertian dengan akal budi dan ada perasaan di dalam hati. Pengertian menjadi fondasi bagi perasaan, jika tidak memiliki perasaan kotbah hanyalah emosionalisme tanpa dasar. Tetapi pengertian yang tidak membangkitkan perasaan akan Allah akan menjadi intelektualisme belaka dan mati.

Kata ”beritakan” dalam perintah ”beritakanlah firman” (2 Tim 4:2) yang dituliskan Paulus memiliki pengertian yang sangat indah. Kata ’beritakan’ itu sama dengan ’memberitakan’ atau ’mengumumkan’ atau ’memproklamasikan’ (keruxon, bhs Yun). Kata ini tidak dipakai untuk kata ’mengajar’ atau ’menjelaskan’ tetapi ini adalah sebuah istilah yang sama dengan mengumumkan pengumuman resmi di tengah khalayak ramai (mis, alun-alun). Jadi, keruxon itu mengumunkan seuatu kepada jemaat. Apa pengumumannya? Pengumumannya adalah kasih karunia Tuhan dengan segmen-segmennya (sesuai dengan pembahasan saat itu), mengumumkan kemuliaan Tuhan atau berita sukacita dari Tuhan kepada seluruh jemaat agar mereka mengerti betapa ajaibnya Sang pemberi pengumuman itu, yaitu Tuhan sendiri. John Piper menyatakan bahwa kotbah selalu dalam kapasitas memberitakan berita sukacita dengan kesukaan yang melimpah. Kotbah adalah sebuah kesukaan yang melimpah dari orang banyak atas kebenaran yang disampaikan pengkhotbah. Kotbah tidak bersifat tanpa perasaan, dingin, atau netral. Kotbah bukanlah penjelasan belaka. Kotbah adalah hasrat yang begitu jelas dan menular terhadap apa yang disampaikan.

Kotbah juga memiliki pengajaran dan dalam 2 Tim 3:16 dikatakan bahwa mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, mendidik orang dalam kebenaran, memperlengkapi orang untuk perbuatan baik, menegor, dan menasihati adalah elemen-elemen yang mencakup satu kotbah. Bukan berarti kotbah bisa dipakai sebagai ajang untuk ’menembaki’ atau menghakimi orang. Menegur orang melalui kotbah boleh jika memang itu yang dikatakan nats yang akan disampaikan, tetapi bukan untuk tujuan ’menembaki’ atau menghakimi orang secara khusus.

Di dalam kotbah Allah hadir dalam kebesaran dan kemulianNya (Yes 6:1-4). Setiap jemaat (termasuk hamba Tuhan) harus menjaga kekudusan pribadinya setiap hari dihadapan Tuhan. Kekudusan manusia yang paling inti adalah kehidupan yang benar-benar jatuh cinta kepada Allah. Kotbah juga bertujuan untuk kemuliaan Tuhan. Muara dari semua pemberitaan firman bukan sekedar menyenangkan hati pendengar atau menaikkan pamor pengkotbah, tetapi memuliakan Allah yang hadir pada saat itu. Kotbah bisa mengubah hidup seseorang yang berdosa menjadi pemberita Injil yang besar yang akhirnya dipakai luar biasa untuk melayani Tuhan sehingga mendatangkan kemuliaan bagi nama Tuhan. James Steward (Skotlandia) menyatakan bahwa tujuan dari kotbah adalah menghidupkan kembali kesadaran dengan kekudusan Allah, memberi makan akal budi dengan kebenaran Allah, memurnikan imajinasi dengan keindahan Allah, membuka hati bagi kasih Allah, menyerahkan kehendak kepada tujuan Allah. Seluruh segmen dari hidup jemaat adalah target dari kotbah. Oleh sebab itu, topik apapun yang bahas baik itu krisis hidup sehari-hari, baik mengenai keluarga, depresi, kemiskinan, apapun itu haruslah dalam kapasitas untuk kemuliaan Allah.

Dasar kotbah adalah salib Kristus. Semua nats yang akan disampaikan dapat dihubungkan kepada Yesus dengan Karya kasihNya yang luar biasa. Salib adalah dasar validitas (jaminan) kotbah (Rom 3:23-26; Gal 6:14). Salah satu bagian dari liturgi adalah mempersekutukan antara jemaat yang berdosa sehingga bisa dibangun jembatan dengan Allah yang maha kudus dalam bentuk persekutuan dengan Allah. Yang menjembatani hal ini adalah salib Yesus. Hal ini juga yang selalu memotivasi pemberita firman untuk selalu rendah hati dan hal ini juga yang membuat jemaat semakin rendah hati.

Karunia untuk berkotbah datang dari Roh Kudus. Kita benar-benar bergantung kepada Roh kudus dalam pelayanan kotbah (2 Kor 1:8-9; 1 Kor 2:3-2). Rasul Paulus mengerti betul hal ini. Dalam kelemahannya dia datang kepada Tuhan. Bergantung sepenuhnya kepada Roh akan membuat kita mempersiapkan diri dengan baik dan menumbuhkan rasa takut dan gentar kepada Allah. Dengan demikian kita akan serius untuk mempersiapkan apa yang akan kita beritakan. Bukan menggunakan bahan yang ’basi’ (atau sudah pernah kita bawakan tanpa ada persiapan yang lebih dlam lagi). Jadi dalam melakukan pelayanan kotbah kita harus bergantung kepada Roh Kudus dan berani untuk menyampaikannya. Dengan pemahaman ini jugalah kita harus memulai untuk ambil bagian dalam pelayanan pemberitaan firman apakah di dalam gereja, persekutuan-persekutuan, ataupun di kantor.

Di dalam mendengar atau menyampaikan firman kita harus APTAT (Admit, Pray, Trust, Act, Thank). Pertama, “Saya mengaku (Admit) kepada Allah bahwa tanpa Dia saya tidak dapat melakukan apa-apa”. Yoh 15:5 berkata, “Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Kedua, “Oleh karena itu Bapa, saya berdoa (Pray) untuk minta pertolongan dengan kerendahan hati”. Mzm 50:15 berkata, “Berserulah kepadaKu pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku.” Ketiga, “Aku percaya (Trust), bukan hanya dalam hal umum dalam kebaikan Allah, tetapi di dalam suatu janji khusus di mana saya dapat menambatkan harapan saya untuk jam tersebut”. Mzm 40:18 berkata, “Aku ini sengsara dan miskin, tetapi Tuhan memperhatikan aku. Engkaulah yang menolong aku, ya Allahku, janganlah berlambat!” Keempat, Saya bertindak (Act) dalam keyakinan bahwa Allah akan menggenapi FirmanNya dalam ketaatan umatNya dan dalam sukacita. Kelima, Saya bersyukur (Thank) pada Allah di akhir khotbah bahwa saya telah ditopang dan bahwa kebenaran FirmanNya dan harga salibNya telah dikotbahkan sampai bagian tertentu, di dalam kuasa RohNya demi kemuliaanNya.

SoliDeo Gloria!

[Seri Gereja 02-2009) Understanding Sunday Service

[Kotbah ini dibawakan oleh Drs. Tiopan Manihuruk, M.Th pada ibadah MBA JUmat 1 Mei 2009]


Hari ini kita akan belajar seri Gereja dalam tema Understanding Sunday Service. Pernahkan kita berpikir bahwa kita tidak perlu ke Gereja dan cukup hanya dengan saat teduh setiap hari? Apakah pembinaan, seminar, atau paket pembinaan lain sudah cukup bagi kita? Pernahkah kita tidak merasakan apa-apa jika tidak ke Gereja hari Minggu atau kita merasakan seperti ada yang kurang jika kita tidak pergi ke Gereja?

Kata Gereja berasal dari bahasa Portugis, igreja, yang berasal dari kata ekklesia, (Yunani), yaitu umat yang dipanggil Tuhan untuk bersekutu, dipanggil untuk datang berkumpul di rumah Tuhan. Mezbah pertamakali didirikan oleh Abraham dan sejaak zaman Abraham muncul persekutuan kolektif dari umat yang percaya. Hal ini berkesinambungan sampai pada masa di mana Musa membawa bangsa Israel ke luar dari Mesir. Dalam perjalanan menuju ke Kanaan, ada ada panggilan Allah kepadanya agar umat Allah beribadah di padang gurun. Dalam perjalanan kita melihat adanya Tabut Perjanjian sebagai bukti dari kehadiran Allah. Baru kemudian dalam perjalanan ini didirikan kemah pertemuan untuk beribadah dan umat Israel berkumpul di kemah ini untuk beribadah dan mendengarkan sabda Tuhan melalui Musa. Disinilah dimulai pentingnya ibadah secara kolektif.

Ketika Salomo selesai mendirikan bait Allah maka umat Allah beribadah pada hari Sabat secara kolektif atau komunal di sana. Kemudian di dalam Daniel pasal 6:10-12, Daniel berdoa tiga hari sekali dengan kiblat ke arah bait suci dikarenakan sebuah pemahaman teologis bahwa Allah hadir dibaitNya yang kudus. Jadi, dimana saja orang Israel berada pada saat itu, kalau mereka tidak bisa ke Bait Allah, maka mereka berdoa atau menengadah ke arah Bait Allah. Dan oleh karena itu jugalah orang Israel yang berada di diaspora (yang menyebar dimana-mana), sekali setahun ziarah ke Yerusalem atau Bait Allah. Mereka memahami betapa pentingnya persekutuan umat Allah di dalam baitNya Allah dan hal ini mereka lakukan berkesinambungan di dalam hidup mereka. Jadi dengan melihat latar belakang tadi kita melihat betapa pentingnya kehadiran Allah di BaitNya yang kudus.

Dalam Kis.20:7, dikatakan, ”Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, ....”.Hari Pertama’ di sini adalah hari Minggu ( bd. Kis.4:31; 11:26; 14:27; Ibr.10:25). Hari Minggu adalah hari pertemuan di dalam rangka perjanjian dengan Allah [sebenarnya sini ada pergeseran dari Sabtu ke Minggu]. Pertemuan ini adalah bukti bekerjanya Allah di dalam dunia dan ibadah tersebut adalah penyataan kasihNya kepada dunia. Ini terjadi sejak kebangkitan dari Yesus Kristus.

Mari melihat soal Yesus dan hari Sabat. Yesus biasanya pada hari Sabat bersama dengan para murid pergi ke Bait Allah atau Sinagoge (Lk.4:16,31). Paulus pergi ke Bait Allah pada Sabat, baik sebelum ’ditangkap’ oleh Yesus Kristus maupun sesudahnya (Kis.13:14-44; 14:1; 17:2; 19:8). Jika kita perhatikan Wahyu 1:10 dikatakan, ”Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar dari belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala,” (band. Kis.20:7; 1 Kor.16:2).

Ada beberapa alasan kenapa hari Sabat bergeser menjadi hari Minggu. Pertama, hari Minggu adalah hari kebangkitan Kristus dari kematian dan Dia adalah Tuhan dari segala sesuatu. Yoh.20:1 mengatakan, “Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur” (band. Ef.1:20-22; 1 Ptr.3:21-22; 1 Kor.15:23-28). Jadi pergeseran terjadi sejak kebangkitan Kristus dimana hari Minggu dianggap sebagai hari kemenangan karena Jumat minggu kekelaman, Sabtu adalah minggu sunyi. Baru hari Minggu adalah hari yang baru dan hari kemenangan. Setelah kebangkitan, murid sering berkumpul pada hari Minggu. Kedua, Hari kebangkitan (Minggu) adalah inti Injil kekristenan. Di dalam 1 Kor 15:3-4 dikatakan, ”Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci” (band. Kis.2:31-32; 4:2,10,33; 10:40). Ketiga, Penulis Injil memberitakan bahwa Kristus berkali-kali menemui muridNya (pasca kebangkitan) pada hari Minggu (Mt.28:1,9; Lk.24:13-34; Yoh.20:19, 26). Keempat, datangnya Roh Kudus (pentakosta) terjadi pada hari Minggu (Kis.2). Kelima, Paulus biasanya (secara rutin) bertemu dengan orang percaya pada hari Minggu (Kis.20:7). Keenam, orang di Korintus biasa beribadah pada hari Minggu (1 Kor.11:17-34) dan pada saat itu sekaligus moment pengumpulan persembahan untuk orang miskin (1 Kor.16:2). Jadi Sabat tetap hari Sabtu, dan jika ada yang merayakan hari Sabat juga tidak apa-apa. Prinsipnya adalah Sabat untuk manusia, bukan manusia untuk hari Sabat.

Apa yang dimaksud dengan Sunday Service adalah sebagai sebuah kerinduan kepada Allah. Dalam Mazmur 42: 2-3, pemahaman ’bilakah aku datang kepada Allah’ jangan ditafsir bisa dilakukan dalam doa dan Firman. Dalam konteks pemazmur pemahaman ini memiliki pengertian bahwa kehadiran Allah identik dengan Bait Allah. Hal ini perlu kita pahami agar jangan bergeser pemahaman kita bahwa tidak ke Gereja atau beribadah pada hari Minggu tidak merasa apa-apa. Mari kembali melihat Maz 63:2-6. Mazmur ini ditulis saat Daud dikejar dan ingin dibunuh oleh Absalom (lih. 2 Samuel 15). Ketika Daud jauh dari Yerusalem, dia tidak mencari atau ingin kembali ke rumahnya atau istananya, tetapi yang dicari adalah rumah atau Baitnya Allah. Mari kembali melihat Maz 27:4, ”Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya”. Betapa pentingnya kemah pertemuan bagi kehidupan Daud. Ingat, Daud bukan ingin menikmati berkat, tetapi menikmati bait Allah. Hal ini menandakan betapa pentingnya baitNya Allah bagi orang yang beriman. Jadi jangan berpikir terlalu apatis dan skeptis soal Bait Allah karena Baitnya Allah bukan tempat sembarangan. Kerinduan Daud adalah pada Bukit Sion tempat di mana Kemah Suci berada, karena di tempat ibadah Daud melihat atau bertemu dengan Tuhan. Mari melihat Mzm.84:2-5, ” 2 Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam! 3 Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup. 4 Bahkan burung pipit telah mendapat sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu, ya TUHAN semesta alam, ya Rajaku dan Allahku! 5 Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. S e l a” (bd. Dan.6:10-12). Ibadah adalah cermin yang secara tidak sempurna memperlihatkan Injil Allah kepada jemaat dan memperlihatkan jawaban atau respon jemaat kepada Allah.

Apa yang kita pandang dalam Ibadah sehingga Ibadah Minggu penting bagi kita? Pertama, di dalam ibadah kita akan menikmati kuasa, kemuliaan, kekudusan, kasih, kebaikan, pengampunan, penghiburan, pembebasan, dan keselamatan yang dari Allah. Walaupun kita tidak merasakan atau menikamati kuasa, kasih ataupun kekudusan Allah, bukan berarti yang salah adalah BaitNya Allah. Yang salah adalah diri kita sendiri. Kedua, dengan melihat hal di atas maka saat memasuki Bait Allah kita sujud menyembah dan berdiam diri dengan penuh rasa hormat dan takut akan Tuhan yang Maha Kudus. Oleh sebab itulah sikap kita pergi ke stadiun sepak bola harus berbeda dengan masuk ke dalam baitNya Allah. Pakaian juga merupakan pancaran dari kita akan hadirat Allah. Jika menghadap prsiden kita harus berpakaian dengan sopan dan resmi, apalagi bertemu dengan Allah. Ke Bait Allah memang bukan soal pakaian melainkan hati. Tetapi, ingat, hati terpancar dari pakaian. Masuk ke dalam hadirat Allah harus kita lakukan denagn sikap takut dan hormat. Ketiga, dalam pertemuan Tuhan dengan umat dapat juga terjadi rasa takut, sedih, bersukacita, berdosa, tenang/damai dst. Adakah rasa takut kita ketika akan masuk ke dalam Bait Allah karena menyadari bahwa kita adalah orang berdosa? Adakah kita pernah sedih karena sering kali gagal dalam menjalani hidup? Atau rasa sukacita kerena memiliki kesempatan bersekutu dengan Yesus? Dalam pertemuan dengan Allah di BaitNya, jemaat akan mengalami berbagai keadaan. Pertama, orang bisa mengalami sentosa dan ketenangan dan ada (Mzm.122:6-7). Kita juga merasakan kelegaan (Mt.11:28-29), dan dengan sikap rendah hati kita menghadap Allah (Mzm.95:6-7) dan kita menyampaikan Keluh kesah kita kepada Allah (Mzm.5:2-4). Kita mengalami kesegaran (Mzm.23:2-3) dan kepuasan dan pembaharuan (Mzm.103:5). Kita juga akan berorak sorai (Mzm.100:2-5; 150) dan bernyanyi (Ef.5:19; Kol.3:16), dst.

Ibadah Minggu itu sangat penting dan ada beberapa alasan pentingnya Ibadah Minggu. Pertama, sadarilah bahwa kewajiban kita yang pertama adalah beribadah kepada Allah, bukan bermisi. Seringkali orang berpikir bahwa kewajiban yang paling utama adalah bermisi. Pemahaman ini adalah salah karena kewajiban pertama bagi orang percaya adalah beribadah dan bersekutu dengan Allah. Dengan demikian kita dapat dilayani dan memperoleh kekuatan yang baru untuk melakukan mandat Ilahi. Kedua, pentingnya persekutuan orang percaya. Orang Kristen bukanlah petualang yang terisolasi tetapi anggota dari satu tubuh yang disatukan oleh iman kepada Kristus untuk vitalitas rohani (Rom.1:11-12). Kita bukan orang yang terisolasi dan Allah bukan hanya menyelamatkan sebatas personal, tetapi keselamatan pun adalah keselamatan untuk persekutuan umat Allah. Memang baik saat teduh dirumah, tetapi ibadah secara komunal juga sangat baik dan penting dan itulah sebabnya kita penting mengikuti Ibadah Minggu. Ketiga, transformasi spiritualitas. Orang percaya diperlengkapi untuk menyerupai Kristus dalam karakter dan tingkahlaku dengan pembacaan, penjelasan dan aplikasi Firman Tuhan (Ef.4:11-16).

Persekutuan secara kolektif adalah sesuatu yang sangat dirindukan oleh Allah. Oleh sebab itu dalam Ibadah Minggu kita, pertama, datang ke Gereja bukan untuk mencari sesuatu demi kepentingan pribadi di tempat ibadah. Seringkali orang berpikir jika dia datang beribadah hanya berfokus pada dirinya. Kita datang beribadah bukan untuk diri sendiri melainkan mau beribadah menghadap, menyembah dan memuji Dia. Artinya, jika saya datang Ibadah Minggu dan hanya ingin mendapatkan yang akau inginkan akan mengubah ibadah kita menjadi egosentris, padahal ibadah yang Allah inginkan adalah harus Christocentris. Misalnya, kita menolak datang ke Gereja tertentu karena tidak merasakan mendapat apa-apa. Kedua, kita datang bukan untuk menyenangkan diri. Jemaat tidak sama dengan sebuah konser atau pertandingan sepakbola. Kita beribadah dalam Ibadah Minggu ingin menyenangkan dan menyembah Allah. Jika pemahaman ini jelas, dari kotbah yang ’kurang bagus’pun kita bisa mendapat berkat. Pulang dengan sukacita dari Ibadah Minggu sangat baik, tetapi pusatnya bukanlah hal tersebut. Ibadah bukan untuk menyenangkan tetapi menyenangkan Allah, dan ketika Allah disenangkan pastilah umat Allah dipuaskan. Ketiga, kita datang bukan karena tertarik oleh sifat-sifat luhur anggota-anggota lain yang bergaul dengan ramah karena Gereja bukanlah balai tempat bersenang-senang. Warga jemaat harus baik dan ramah tetapi kita ke Gereja bukan karena alasan warga jemaatnya baik dan ramah. Keempat, kita datang bukan karena kita mau memperalat anggota-anggota lain untuk memenuhi kewajiban agama melalui mereka, karena jemaat Kristus hidup dari belaskasihan dan dari pembenaran oleh iman. Artinya, kita ke Gereja bukan karena merasa tidak enak melihat pendeta kita atau kita tidak ke Gereja karena orang yang tidak kita suka akan berkotbah. Kita harus menyadari bahwa dia adalah orang berdosa dan kita pun orang berdosa. Belas kasihan dan pembenaran dari Allahlah yang membuat kita datang ke Gereja.

Kelima, tetapi kita berkumpul karena kehendak Bapa yang adalah Bapa kita semua dan yang senang melihat umatNya berkumpul pada waktu tertentu sehingga Ia dapat memeliharanya dan tinggal di dalamnya dengan senang hati. Allahlah yang menempatkan kita dalam jemaat untuk saling berdampingan. Oleh sebab itulah jika kita memiliki masalah dengan orang lain harus segera diselesaikan karena kita adalah saudara di dalam Kristus. Keenam, Allah mengundang dan menempatkan kita satu meja dan memberi kita makan dari satu roti, yaitu roti anugerah (Mt.11:28; Why.3:20). Dalam teologia Lutheran, biasanya hari Sabtu pkl 18.00 lonceng Gereja akan berbunyi untuk meningatkan orang-orang bahwa besok adalah hari Minggu.baru pada pkl 06.00 hari Minggu pagi, lonceng Gereja dibunyikan lagi untuk mengingatkan orang agar datang. Ini adalah seruan atau undangan Allah bagi umatNya untuk datang ke jamuanNya di dalam Ibadah Minggu. Ketujuh, oleh karena rahmat dan kebaikanNya, Bapa mendirikan keluarga umat yang dipanggil untuk bersekutu di BaitNya. Oleh kerinduan Allah, maka anggota keluarga dipanggil untuk bersekutu bersama, inilah Sunday Service dna hal ini tidak bisa disamakan dengan Mimbar Bina Alumni. Kedelapan, Bapa senang melihat umat bersatu beribadah kepadaNya. Kristus menyerahkan nyawaNya untuk menyatukan orang percaya dalam satu tubuh (Ef.4:6; Kol.3:11; Gal.3:27-28). Melalui pemahaman ini, Gereja seharusnya hanya satu dan umum dan bisa dibedakan oleh bahasa. Misalnya untuk konteks Indonesia seharusnya hanya ada Gereja Kristen Indonesia apakah nantinya di daerah berbahasa Karo, Simalungun, atau Toba.

Di dalam Ibadah Minggu umat secara komunal menghadap hadirat Allah untuk beribadah, memuji, berdoa dan mendengarkan sabdaNya. Kristus mati bukan hanya membebaskan kita secara personal dari yang jahat, melainkan juga menguduskan bagi diriNya suatu umat. Yang senang berbuat baik. Umat Allah dengan berbagai latarbelakang dan persoalan bersama-sama membutuhkan rahmat dan kekuatan ilahi dan saling menguatkan, menghiburkan dan menolong. Itulah sebabnya sangat diperlukan Sunday Service. Jika kita melihat romantisme jemaat mula-mula (Kis 2), inilah jemaat yang sesungguhnya sehingga Sunday Service dinikmati banyak orang, tekun belajar Firman Tuhan, tekun berdoa dan memuji Allah, tekun di dalam berbagi perjamuan kasih, dan tekun di dalam misi. Mungkin romatisme Gereja mula-mula itu tidak akan kita temui sekarang ini tetapi inilah tanggungjawab kita untuk membangun Gereja agar kembali ke patron yang semula.

Umat yang letih, tertatih-tatih dan sakit dipulihkan kembali sehingga dengan kekuatan yang baru mampu pergi dengan sukacita untuk berkarya di tengah dunia. Ada mungkin yang datang denagn sukacita, ada yang datang dengan tangisan, ada yang mungkin datang dengan ketakutan, lemah lunglai, tetapi semuanya dilayani Allah secara kolektif melalui Ibadah Minggu. Misalnya, melihat orang menangis di Gereja karena ditegur dosanya kita bisa merasa ditegur dan dikuatkan. Gereja memiliki standar ganda, pertama, Gereja adalah umat yang dipanggil dari dunia kepadaNya dan sekaligus Gereja adalah yang diutus Allah kembali ke dalam dunia untuk bersaksi (Yoh.20:21). Karena itu mari memahami Sunday Service agar kita tidak memliki pemahaman bahwa Sunday Service bisa diikuti jika ada waktu dan bisa tidak diikuti jika kita tidak memiliki waktu.

Saya tidak tahu pandangan kita akan hari Minggu. Ada orang yang berani dengan iman menutup dagangannya dengan berkata bahwa Allah akan mememlihara hidup mereka. Tetapi, di kota sangat sulit jika semua pedagang Kristen menutup dagangannya. Dalam konteks teologia hal ini menjadi perdebatan, tetapi dengan pndekatan kontekstual yang pastoral hal ini dimungkinkan. Tetapi sebenarnya kita harus berani melangkah dengan iman bahwa selama enam hari bekerja cukup bagi kita dalam menjalani hidup kita. Mari menciptakan hari Minggu menjadi hari yang indah dan menikmati hadirat Allah. Usahakan untuk mengerjakan urusan rumah tangga selesai pada hari Sabtu. Setiap hari memang hari milik Tuhan, tetapi kapan ada waktu bagi kita untuk berduaan dengan Tuhan. Mari gunakan waktu kita agar ketika Sunday Service, kita betul-betul bersama dengan Allah.

Jika orang Israel yang belum hidup dalam kebenaran menjalani Sabat dan ketentuan yang ada dengag setia, mengapa kita yang sudah dibenarkan, diampuni, dan diselamatkan Allah tidak memahami teologia ini dengan benar. Maka, kuduskanlah hari Sabat. Benar! Dan sekarang kuduskalah hari Minggu, satu hari untuk betul-betul bersama dengan Tuhan dan mendapatkan kekuatan yang baru.

Solideo Gloria!

[Seri Gereja 01-2009) Theology of Liturgy

[Kotbah ini dibawakan oleh Drs. Tiopan Manihuruk, M.Th pada Mimbar Bina Alumni, Jumat, 24 April 2009]

Ketika mengikuti ibadah Gereja, kita akan menemukan yang namanya Liturgi. Pertanyaaannya adalah apa itu Liturgi, mengapa liturgi itu ada dan mengapa harus dilakukan?

Kata ‘liturgi’ berasal dari bahasa Yunani ‘leiturgia’ yang memiliki akar kata ‘leitos’ (umat) dan ‘ergon’ (tugas pelayanan). Jadi liturgi itu adalah tugas pelayanan untuk umat agar umat Allah bisa beribadah dengan baik dan benar kepada Allah yang mereka sembah. Dalam Septuaginta (PL) kata ’liturgi’ berarti tugas imam untuk pelayanan mezbah atau penataan tugas iman dalam bait Allah. Dalam PB diartikan sebagai tugas imam, tugas Imam Besar Kristus, tugas beribadah dll. Kemudian, pada masa Reformasi (abad 16), dipengaruhi oleh Gereja Anglikan dan Ortodoks Yunani, kata liturgi dipakai kepada pemahaman yaitu penataan tata ibadah di dalam Gereja.

Liturgi digunakan menata dan menguraikan pertemuan Tuhan dengan umatNya, yaitu bagaimana pertemuan itu diciptakan berlandaskan pertimbangan semua faktor yang memainkan peranan dalam pemilihan (apakah pemilihan lagu, nats, petugas acara), pembentukan kebaktian, dan penyusunan semua unsurnya supaya olehnya perjanjian Allah dengan umat selalu diperbaharui. Pada poin ini kita bisa membedakan antara Gereja dengan Persekutuan. Persekutuan menggunakan metode yang agak bebas dan mengacu kepada persekutuan antara orang percaya (fellowship) sedangkan dalam Gereja ada kebaktian yang merupakan sebuah tata ibadah yang khusus dengan sebuah pemahaman teologia gerejawi dalam tata ibadah tersebut.

Ada beberapa makna teologis dari liturgi, yaitu:
Pertama, liturgi itu adalah pemberitaan Injil dimana Kristus mendamaikan Allah dengan manusia sehingga menciptakan persekutuan. Artinya, sewaktu orang percaya kepada Kristus dan berdamai dengan Allah, maka ada persekutuan antara manusia dengan Allah. Jadi liturgi membantu menata, membentuk atau mengatur bagaimana persekutuan antara Allah dengan umatNya yang sudah diperdamaikan melalui Kristus.

Kedua, persekutuan tersebut bersifat ganda, yaitu antara Allah dengan manusia (secara personal) dan antara manusia dengan sesama anak-anak Allah. Agar persekutuan ini dapat terjadi dan berjalan dengan harmonis dan menyegarkan maka secara teolis dibutuhkan sebuah liturgi yang benar.  

Ketiga, melalui liturgi jemaat bertemu dengan Allah atau yang disebut juga menghadap Tuhan (Ibr.10:19-22) di mana umat memuji Dia, berdoa dan mengakui kepercayaannya serta mendengarkan Allah berbicara. Inilah pandangan awal dari sebuah teologia liturgi dan nantinya, dalam Gereja purba dan Gereja mula-mula, liturgi ini mengalami perkembangan dan terus mengalami perkembangan sampai kepada Gereja masa kini.

Keempat, secara teologis liturgi berfungsi sebagai wajah Injil, yang memperlihatkan kasih Kristus kepada jemaat dan dunia. Jika kita membuat sebuah liturgi maka dalam liturgi ini akan dimunculkan bagaimana kasih Kristus kepada manusia dan dunia ini. Oleh sebab itu liturgi tidak memiliki kandungan ini adalah liturgi yang tidak benar dan tidak Biblis.  

Kelima, corak kepercayaan jemaat nampak atau muncul dalam liturgi. Liturgi dalam Gereja-Gereja, apakah Katolik, Karismatik, Lutheran, merupakan pancaran dari iman mereka. Misalnya, ibadah dalam Gereja Kharismatik atau Injili tidak mempersoalkan mimbar. Oleh sebab itu pengkhotbah bisa berjalan dengan bebas. Hal ini berbeda dengan Gereja Protestan yang memiliki pemahaman bahwa mimbar itu sangat penting. Pemahaman Gereja Lutheran akan Sola Scriptura, Sola Fide, menghasilkan pemahaman bahwa mimbar tidak bisa di pinggir, tetapi harus di tengah. Artinya adalah bahwa Firmanlah yang menjadi pusat dari sebuah ibadah. Dan dalam Gereja Protestan, oleh karena pemahaman tadi, kotak persembahan tidak bisa di tengah tetapi di pinggir karena kotak persembahan bukan dan tidak boleh menjadi pusat. Walaupun demikian ada juga beberapa Gereja Protestan yang meletakkan mimbar di pinggir dan meletakkan tempat persembahan.

Fokus ibadah dalam Gereja Lutheran adalah Firman Allah dan menganggap bagian Firman Allahlah yang paling penting. Tetapi hal ini tidak bisa dimutlakkan karena di dalam ibadah juga ada bagian laiinya seperti lagu atau Pengakuan Iman Rasuli. Menganggap bahwa hanya kotbah yang penting dalam ibadah, berarti kita memiliki pemahaman yang sempit akan ibadah. Dalam teologia liturgi, pemahaman yang benar adalah memahami bahwa mulai dari kita masuk sampai akhir semua adalah bagian dari ibadah yang penempatannya tidak ada yang lebih tinggi atau rendah.

Keenam, ibadah adalah intisari Gereja. Oleh karena itu dalam ibadah harus menjadi nyata bagaimana Tuhan bergaul dengan umatNya. Itulah sebabnya kita harus menegur mereka yang bermain-main dalam ibadah. Dalam Gereja katolik, ketika umat telah memasuki Gereja, tidak terdengar lagi adanya suara-suara karena pemahaman bahwa mereka berada di dalam hadirat Allah. Inilah yang sering hilang dalam kebanyakan Gereja sekarang ini kini dan hal inilah yang seharusnya kita ubah. Ketujuh, karakter Allah (kekudusan, kemuliaan, kuasa, kasih, dst) harus ditunjukkan dalam unsur-unsur kebaktian (liturgi). Kedelapan, liturgi harus mencerminkan keindahan dan keluarbiasaan pertemuan itu, yaitu sifatnya sebagai persekutuan yang kudus. Hal inilah yang kurang dipahami oleh warga Gereja. Ketika kita beribadah, dengan pemahaman teologia yang benar, kita bisa beribadah dengan kyusuk (hikmat). Kesembilan, liturgi adalah sarana penting untuk menghidupkan dan menguatkan kepercayaan jemaat dan untuk menyinarkan kasih Kristus kepada orang yang belum percaya sehingga mereka tertarik untuk datang kepada Allah. Jika ada orang lain yang melihat kita beribadah begitu kyusuk (hikmat), tenang, sukacita, dan kagum kepada Allah, maka orang lain dapat tertarik untuk datang kepada Allah. Kesepuluh, liturgi adalah cermin yang menerima sinar Injil dan memantulkannya kepada jemaat dan dunia yang terpancar dalam bentuk, rupa, suasana dan warna tata ibadah. Dalam Gereja Protestan ada warna kain penutup imbar yang disesuaikan dengan nama minggu (misalnya ketika Jumat agung, Gereja menggunakan warna hitam). Warna ini adalah gambaran tata ibadah dan merupakan teologia dari sebuah Gereja. Oleh sebab itu jugalah ada beberapa Gereja(Kharismatik, Injili) tidak menggunakan warna-warna ini.

Ada beberapa hal yang mempengaruhi pola liturgi. Faktor pertama dan paling dominan dan mutlak adalah Alkitab. Hal ini disebabkan karena Alkitab merupakan sarana menentukan ajaran, suasana, sifat dan unsur kebaktian. Kedua adalah ajaran Gereja. Hal ini bersifat mutlak karena berdasarkan Alkitab, dogmatis, pengakuan iman, dan sakramen. Ketiga adalah hukum Gereja. Hukum Gereja ini bersifat mutlak karena merupakan peraturan persekutuan dan tata Gereja dan juga adanya kesatuan dalam persekutuan Gereja-Gereja (misalnya Gereja-Gereja dibawa KWI, PGI, dll). Keempat, sejarah Gereja juga membentuk pola liturgi. Sejarah Gereja berkaitan dengan tanggungjawab historis ajaran dan keterkaitan dengan ‘nenek moyang’ Kristen (tradisi). Kelima, Liturgi juga dipengaruhi oleh panggilan misioner dimana orang senang, tertarik dan mau tinggal untuk menikmati dan mengerti ibadah yang sedang berlangsung. Keenam, liturgi juga dipengaruhi Kebudayaan. Misalnya, orang negro ketika bernyanyi selalu menggerakkan tubuh mereka. Hal ini berbeda dengan orang Belanda dan Jerman yang bernyanyi dengan sikap tenang. Pola Jerman dan Belanda inilah yang terbawa kedalam budaya Batak. Sebenarnya hal ini harus dirubah dari segi budayanya. Ketika kita menyanyikan lagu berirama Batak (khususnya bagi orang Toba), pasti tidak bisa diam dan ingin menari. Inilah Budaya. Oleh sebab itu lagu-lagu seperti Arbab (atau lagu-lagu yang berirama etnik) tidak bisa dinyanyikan dengan gaya Jerman dan Belanda, tetapi dengan irama atau dinamika etnik setempat. Kenapa kita menyanyikan lagu rohani dengan agak kaku seperti orang Barat adalah karena kebanyakan lagu rohani Gereja kita berasal dari Barat.

Ada beberapa proses yang terjadi di dalam budaya, yaitu: 1) Ilkulturasi, yaitu proses membawa sesuatu ke dalam budaya. Inkulturasi liturgi adalah sebuah proses di mana upacara keagamaan pra-Kristen diberi arti Kristen (Chupungco). Ada budaya yang pra Kristen di Batak dan tetap dipakai tetapi isinya dimasukkan Injil. Salahkah di Gereja memakai alat musik Gondang? Tentu tidak! Karena semua telah diarahkan kepada Kristus. Tetapi jika masih mengandung mistis, hal ini harus dihilangkan. 2) Akulturasi, yaitu pertemuan dua kebudayaan di mana terjadi dominasi yang satu terhadap yang lain. Hal inilah yang dibawa oleh Nomensen dan misionaris Eropa ke tanah Batak. Banyak terjadi alkulturasi dimana budaya Batak disingkirkan dari ibadah dan digantikan dengan budaya dari Eropa. Akulturasi liturgi adalah proses di mana unsur budaya yang cocok dengan liturgi Romawi dimasukkan ke dalamnya entah untuk menggantikan atau untuk menjelaskan unsur upacara dan doa ritus Romawi. 3) Akomodasi yaitu tindakan penyesuaian diri (liturgi) dengan budaya di mana ia hadir selama hal itu tidak bertentangan dengan Alkitab, yaitu dunia kekafiran. 4) Possessio yaitu mengambil sebagai milik (kontras dengan akomodasi). Tidak ada kompromi kekristenan dengan kekafiran (untuk mencegah sinkretisme). Budaya yang lama kehilangan asasinya dan nilai yang baru mewujud. Kekristenan mengambil bentuk-bentuk budaya lama dan mengisi serta mengarahkannya ke tujuan yang benar. Proses inilah yang dominan dipakai oleh Kharismatik dan Injili sedangkan Ilkulturasi sering dipakai oleh Katolik. Tetapi sebenarnya semua unsur ini bisa dipakai dengan catatan jika memakai hal yang posistif dan membuang hal yang negatif silahkan pakai inkulturasi. Tetapi jika memang ada kekafiran silahkan memakai possesio. 5) Kontekstualisasi (teologi in loco) yaitu ada penyesuaikan dengan teologi atau budaya setempat. Alkitab dilahirkan dalam konteksnya dan disampaikan atau dibawa ke dalam konteks yang lain yaitu budaya, situasi politik, zaman, sosial ekonomi, cara berfikir, dll, yang berbeda dengan konteks semula. Misalnya Gereja-Gereja Katolik di jawa memakai Blankon dan Batik dan penataan liturginya memakai budaya Jawa. Hal ini tidak salah selama tidak bertentangan dengan Firman Allah. Bentuk Gereja juga termasuk dalam hal ini. Sering kita menemukan Gereja-Gereja Protestan memakai bentuk bangunan seperti di Barat. Seharusnyalah bentuk Gereja kita sama seperti rumah adat di daerah kita. Hal inilah yang banyak dilakukan oleh Katolik dalam membangun Gereja, dimana mereka membangun Gereja sesuai dengan rumah adat dimana mereka membangun.

Hal ketujuh yang mempengaruhi liturgi adalah Etnologi dan Antropologi. Hal ini dilihat sebagai kenyataan sifat bangsa/suku yang memiliki emosi yang berbeda-beda. Kedelapan, dunia Gereja (politik, ekonomi dan sosial). Hal ini sifatnya tidak prinsipil dan menyangkut keadaan insidental, kebebasan beragama, kemiskinan/kemakmuran, mandiri atau subsidi dll. Misalnya di daerah-daerah tertentu dilarang utnuk menyanyikan lagu-lagu rohani dengan suara keras. Sehingga jika acara tidak ada nyanyian.

Mari melihat beberapa contoh liturgi secara teologis.

Liturgis Sinagoge

Liturgi Sinagoge biasanya diawali oleh doa-doa pembukaan (ada 18 doa). Pemahaman teologis bagi mereka, ketika mereka datang menghadap Allah maka harus dinaikkan doa. Kemudian pembacaan gulungan Kitab Taurat. Pembacaan ini bukan hanya satu atau dua ayat. Kemudian masuk ke dalam Nyanyian Mazmur (ini adalah nyanyian rohani pada zaman itu). Kemudia pembacaan gulungan kitab nabi-nabi. Baru masuklah kotbah (midrasy). Kemudian ada pengakuan iman (syema) (Ul 6:4). Kemudian ada Pujian (sanktus) untuk penyucian (Yes 6:3). Barulah diakhiri dengan berkat (Bil 6:24-26).

Liturgi Ibadah Gereja Purba

Ibadah dalam Gereja Purba dimulai dengan Pembacaan Injil-Injil. Setelah itu Pembacaan surat-surat rasuli dan dilanjutkan dengan Pembacaan kitab-kitab nabi. Kemudian masuk ke dalam penjelasan kitab yang dibaca (kotbah) yang dibawakan oleh uskup sambil duduk (catt. Dalam budaya Yahudi ketika kotba, maka guru atau pengkotbah yang duduk dan pendengar berdiri). Setelah kotbah ada ajakan untuk hidup sesuai dengan itu (calling). Kemudian berdoa bersama-sama sambil berdiri. Kemudian dilanjutkan dengan pembagian roti dan anggur. Ingat, dalam Gereja Purba perjamuan kudus dilakukan tiap minggu. Setelah itu ada Doa bebas. Pada saat inilah jika ada yang berdoa berbahasa Roh dipersilahkan (1 Kor 14:27, “Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya). Kemudian ada pengaminan. Lalu ada Ekaristi (sakramen). Ibadah ini diakhiri dengan Kolekte (tanpa nyanyian dan kolekte yang dikumpul bukan untuk Gereja tetapi untuk orang miskin).

Mari belajar sebuah teologia Liturgi dari tata ibadah. Liturgi yang akan dipelajari adalah liturgi yang diambil dalam tata Ibadah GKPS model A (Catt. Dalam GKPS, tata ibadah ada lima model [model A, B, C, D, dan E], berbeda dengan HKBP, GKPI, HKI, yang sampai sekarang hanya ada satu).

  1. Votum/introitus.Dalam GKPS, begitu masuk ibadah langsung masuk ke dalam Votum-Introitus sedangkan dalam HKBP dimulai dengan nyanyian. Kedua cara ini memiliki pemahaman teologia masing-masing. Jika dalam HKBP atau GKPI, secara teologis maksud dari nyanyian pertama adalah ketika umat datang kepada Allah, maka mereka bersukacita melalui nyanyian yang disampaikan kepada Allah. Lalu Allah hadir dan kemudian bersabda melalui Votum. Dalam model GKPS ada pemahaman bahwa Allah langsung bersabda melalui votum kepada umat yang datang kepadaNya.
  2. Bernyanyi. Setelah Allah bersabda, muncullah respon dengan nyanyian menandakan sukacita umat. Jadi nyanyian di sini bukan dipilih atau dinyanyikan dengan sembarangan.
  3. Hukum Tuhan. Setelah nyanyian, maka muncullah Hukum Tuhan. Makna dari hal ini adalah bahwa sebelum masuk ke dalam pengakuan dosa, umat disadarkan akan dosanya melalui pembacaan Taurat.
  4. Bernyanyi. Setelah itu diresponi dengan nyanyian dan biasanya nyanyian pengakuan dosa atau pertobatan.
  5. Pengakuan dosa dan janji keampunan. Setelah bernyanyi pengakuan dosa, muncullah pengakuan dosa dan janji keampunan. Dan jemat diundang untuk berdiri. Alasan kita berdiri adalah kita sedang menghadap Allah karena Allah bersabda dan inilah tanda penghormatan kita.
  6. Bernyanyi. Setelah pengakuan dosa muncullah nyanyian dimana nyanyian disini adalah nyanyian sukacita karena Tuhan telah mengampuni dosa.
  7. Epistel (nats pengantar kotbah). Epistel adalah pengantar kotbah dan relefan dengan kotbah.
  8. Bernyanyi. Tanda sukacita akan Firman maka umat Tuhan benyanyi.
  9. Pengakuan Iman Rasuli.Setelah bernyanyi kita kemudian mengakui iman kita. Setelah kita ditegur akan dosa, bertobat, kita bernyanyi, dan telah diberikan Firman, maka kita muncullah pengakuan iman kepada Allah yang sudah bersabda. Inilah maksudnya Pengakuan Iman Rasuli.
  10. Bernyanyi. Nyanyian di sini adalah sukacita menyambut sabda Allah.
  11. Kotbah. Penyampaian Firman Tuhan sesuai dengan teks yang telah ada.
  12. Bernyanyi. Dalam GKPS, setelah kotbah langsung masuk kedalam pemberian persembahan. Dalam HKBP atau GKPI, setelah kotbah, bernyanyi dulu baru mengumpulkan persembahan.
  13. Persembahan. Dalam HKBP, kolekte I dan II dilakukan sebelum kotbah dan kolekte III setelah kotbah. Tetapi dalam GKPS kolekte I, II, dan III dilakukan setelah kotbah. Pemahaman teologia dalam GKPS mengatakan bahwa setelah orang diberkati melalui Firman, sudah, diteguhkan, ditegur, dan dikuatkan, maka dinyatakan dengan ucapan syukur. Jadi persembahan dilakukan sebagai respon sukacita kepada Allah yang telah bersabda memberkati umatNya. Dengan pemahaman inilah maka kita tidak boleh mempersembahkan yang bekas atau sisa-sisa tetapi persembahan yang terbaik. Oleh sebab itulah kita harus mempersiapkan persembahan yang terbaik dan dipersiapkan dari rumah.
  14. Doa persembahan dan berkat. Kemudian menyerahkan persembahan, kemudian dosa persembahan, dan kemudian berkat. Sebelum berkat diberikan, jemaat bersama-sama mengucapkan Doa Bapa Kami. Artinya, seluruh peribadahan dan doa disempurnakan melalui doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Itu sebabnya doa ini ditempatkan di akhir ibadah.
  15. Seruan umatamin 3x. Menjelang akhir ibadah, mereka yang tadinya datang dengan pergumulan sekarang sudah dikuatkan, yang tadinya datang dengan stress sekarang mereka dihiburkan, yang tadinya mereka datang banyak persoalan, sekarang mereka diangkatkan, Tuhan memberkati mereka dengan berkata, “Pulanglah dalam damai. Arahkanlah hatimu kepada Allah dan terimalah berkat dari Tuhan.” Ingat, yang memberkati kita bukan pendeta/hamba Tuhan, tetapi Allah. Kuasa dari berkat adalah ungkapan Allah yang memberkati kita. Kemudian barulah muncul seruan jemaat, “Amin…Amin…Amin…!” Apa yang disabdakan Allah mulai dari votum dan Firman yang diterima, doa, pengampunan dosa diaminkan sudah selesai, berkat yang diberikan diaminkan sudah diterima.

Inilahlah liturgi dalam ibadah Gereja. Kita harus memahami hal ini agar kita tidak memandang tata acara diGereja sebagai sesuatu yang monoton dan tanpa arti. Memahami hal ini dengan benar membuat kita menikmati setiap ibadah dimana kita hadir berbakti bersama-sama dengan umat Allah. SoliDeo Gloria!

Monday, November 2, 2009

Seri The People of God IV: The Calling (DIAKONIA)

Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div

Hari ini kita akan membahas panggilan Gereja yang ke tiga, yaitu Diakonia. Mari membuka Kis 6:1-7. Lima pasal pertama dari kitab Kisah Para Rasul ini banyak menceritakan mengenai perkembangan jemaat Yerusalem dan permulaan munculnya oposisi sebagai reaksi dari semakin menyebarnya Injil. Kemudian, pasal berikutnya berisi mengenai pekerjaan misi, bagaimana Roh Kudus memimpin Umat Allah dan para rasul di dalam pemberitaan Injil sehingga muncul Jemaat yang sangat besar. Jika kita perhatikan bagian Kisah 6 tadi, kita melihat bahwa narasi ini di awali dengan sebuah kritik atas perhatian yang kurang bagi orang yang miskin, khususnya untuk orang kristen yang berlatar belakang non Yahudi asli.

Mari kita lihat ayat 1: ”Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari.” Jadi, ada satu sungut-sungut karena ada pihak yang terabaikan di dalam jemaat tersebut. Logikanya, jika jemaat semakin bertambah, maka yang ada adalah sukacita yang semakin besar. Tetapi di sini yang terjadi adalah ketimpangan, di mana ada kecemburuan yang menimbulkan sungut-sungut diantara mereka. Seolah-olah kelompok-kelompok tertentu di dalam jemaat itu hanya memperhatikan orang-orang yang Ibrani dan mengabaikan orang miskin yang berlatar belakang Helenis, khususnya para janda. Hal ini terjadi karena beratnya tugas dan fokus para rasul yang memberikan perhatian lebih banyak dalam pengajaran Firman Tuhan. Artinya, para rasul tidak mau ditarik dari tugas utamanya. Mereka tidak mau bergeser dari tugas utama mereka dan ingin tetap fokus dalam pengajaran Firman Allah. Bukan berarti para rasul mengabaikan pelayanan ini. Mereka tetap memperhatikan, hanya ada satu skala prioritas yang membuat mereka tidak ingin ditarik dari tugas utama mereka. Terjadilah persoalan ini.

Lukas, di ayat yang pertama, melihat bahwa salah satu permasalah dalam jemaat itu adalah karena pertambahan orang percaya. Tetapi Lukas juga melihat permasalahan yang lain, yaitu karena perbauran orang Ibrani dan Helenis. Ketika jemaat semakin bertambah, muncul juga sungut-sungut. Hal sangat bisa mungkin terjadi di dalam jemaat sekarang ini. Ketika jemaat semakin bertambah, maka akan dimungkinkan akan ada kelompok yang merasa terabaikan. Apalagi pada saat ini masih ada satu pendeta memimpin 11 jemaat.

Jika kita perhatikan bagian Kis 6 tadi, pelayanan kepada para janda dikatakan terabaikan dan ternyata janda yang terabaikan itu adalah janda Helenis. Siapakah janda yang harus diperhatikan dalam bagian ini? Mari melihatnya dalam 1 Tim 5:3-16. Di dalam ayat 3 dikatakan: ”Hormatilah janda-janda yang benar-benar janda.” Siapakah yang benar-benar janda? Dari 1 Tim 5 ini kita melihat bahwa janda yang memiliki anggota keluarga yang menanggungnya, tidak menjadi tanggungan jemaat. Dalam ayat 5 dikatakan: ”Sedangkan seorang janda yang benar-benar janda, yang ditinggalkan seorang diri, menaruh harapannya kepada Allah dan bertekun dalam permohonan dan doa siang malam.” Berarti janda tersebut adalah janda yang rohani yang tekun berdoa. Dalam ayat 6 dikatakan: ”Tetapi seorang janda yang hidup mewah dan berlebih-lebihan, ia sudah mati selagi hidup.”. Dalam ayat 8 dikatakan: ”Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.” Artinya adalah jika kita memiliki saudara janda tetapi tidak melayaninya, maka kita termasuk orang jahat. Ayat 9 dikatakan: ”Yang didaftarkan sebagai janda, hanyalah mereka yang tidak kurang dari enam puluh tahun, yang hanya satu kali bersuami.” Dan ditambahkan pada ayat 10 bahwa janda tersebut terbukti melakukan pekerjaan baik, yang menggunakan kesempatan untuk berbuat baik (ayat 10: ”...dan yang terbukti telah melakukan pekerjaan yang baik, seperti mengasuh anak, memberi tumpangan, membasuh kaki saudara-saudara seiman, menolong orang yang hidup dalam kesesakan -- pendeknya mereka yang telah menggunakan segala kesempatan untuk berbuat baik.” ) Jadi janda orang Helenis yang benar-benar janda terabaikan di jemaat mula-mula.

Di dalam kondisi seperti ini, dilihatlah betapa pentingnya sebuah pelayanan Diakonia. Dalam Kis 6:2 dikatakan: ”Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata: "Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja.” Terjadi satu kontradiksi. Di satu sisi para Rasul tidak banyak dan waktu mereka banyak untuk pelayanan Firman. Di satu sisi, terjadi pengabaian kepada janda-janda karena para rasul yang sedikit tidak mampu melakukannya. Oleh sebab itulah mereka berkata demikian dalam ayat 1 tersebut. Dalam pelayanan seharusnya harus memiliki dua hal, yaitu Proclamation (pengajaran dan pemberitaan Firman) dan sekaligus dengan the Presence of God di dalam pelayanan kasih. Inilah Diakonia. Hal ini sering sekali terabaikan. Tetapi hal ini tidak berlarut di dalam jemaat mula-mula. Muncullah satu solusi. Dalam ayat 3 dikatakan: ”Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu.” Panggilan umat Allah memang tidak sebatas vertikalistik. Inilah yang sering sekali menjadi kesalahan kita, baik Perkantas, Gereja, ataupun persekutuan-persekutuan Kristen lainnya. Sering sekali plan kita terpusat hanya pada hal-hal yang vertikal, dan mengabaikan pelayanan yang horizontal, yaitu pelayanan kasih. Salah satu kesalahan persekutuan atau Gereja adalah jika ada jemaatnya yang mengalami kemalangan, yang aktif terlibat untuk membantu adalah Serikat Tolong Menolong (STM) atau punguan Marga, bukan Gereja. Ini adalah kesalahan yang fatal dari Gereja. Gereja hanya datang sebagai ’penonton’. Gereja kehilangan esensi dan tanggung jawabnya. Ini adalah sesuatu yang sangat timpang. Kapan warga akan menikmati pelayanan Gereja dan hamba Tuhan jika Gereja masih seperti ini? Jangan ikatan marga lebih kuat daripada ikatan persekutuan. Ikatan iman harus jauh lebih mengikat dari pada ikatan suku atau marga. Oleh karena itulah, di dalam Kis 6 tadi, para rasul mengusulkan agar dipilih orang untuk memperbaiki ketimpangan yang ada di dalam jemaat mula-mula.

Belajar dari Tuhan Yesus, setelah Dia mengajar, Dia juga tidak lupa kepada mereka yang lapar. Yesus juga menyembuhkan dan menghiburkan ketika orang sedih. Ini adalah bentuk pelayanan Diakonia. Kenapa Gereja kita mengalami kegagalan adalah karena kurang memperhatikan pelayanan Diakonia [band 2 Kor 8:1-5 tentang jemaat di Makedonia ”Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus.Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.”]. Yang menarik dalam jemaat di Makedonia adalah, di dalam kekurangannya mereka masih menawarkan diri untuk ikut terlibat ambil bagian di dalam pelayanan Diakonia. Dengan prinsip pelayanan Diakonia, maka dalam Jemaat mula-mula itu dipilihlah orang yang punya kemampuan untuk hal itu. Syaratnya adalah terkenal baik (jujur), murah hati, yang penuh Roh dan hikmat. Dan ayat 5 dikatakan: ”Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia.” Kemudian dalam ayat 6 dikatakan: ”Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itu pun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka.” Pelayann Diakonia sebagai salah satu dari tiga panggilan Gereja harus dilakukan dan akan memberi dampak yang positif. Di dalam ayat 7 dikatakan: ”Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.” Mari kita perhatikan beberapa hal. Pertama, Firman Allah makin tersebar. Hal ini dikarenakan dua hal yaitu rasul fokus pada pemberitaan Firman dan karena orang menikmati perhatian kasih (Diakonia) dan mereka tertarik kepada pengajaran. Kenapa Gereja kehilangan jemaat adalah karena jemaat tidak menikmati pelayanan kasih. Kedua, jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak. Hal ini terjadi karena mereka menikmati pelayanan kasih dari jemaat. Ketiga, sejumlah besar imam menyerahkan diri untuk percaya. Hal ini tidak gampang. Apa yang ingin dikatakan adalah bahwa imam-iman yang berasal dari ahli Farisi dan hukum Taurat, yang biasa tahu kebenaran dan berkutat terus di bait Allah, yang merasa bahwa diri mereka hebat, dikalahkan oleh satu hal ketika mereka melihat kehidupan umat Allah dan menikmati pelayanan Diakonia. Akhirnya mereka bertanya-tanya, tertarik, dan menyerahkan diri untuk percaya.

Harapan kita, biarlah kitanya orang tertarik, tertantang, dan datang kepada Kristus, apakah dia tokoh agama atau apapun, karena melihat kasih Kristus yang nyata di dalam Gereja kita. Kasih Kristus di dalam pelayanan Diakonia sungguh-sungguh hidup di dalam persekutuan kita. Itulah sebabnya tritugas Gereja harus dikerjakan secara berkesinambungan dan secara simultan dengan kasih Allah.
Solideo Gloria!

Seri The People of God III: The Calling (KOINONIA)

Denni B. Saragih, M. Div

Minggu-minggu ini kita merenungkan apakah artinya menjadi Gereja. Apa artinya menjadi umat Allah. Satu harapan kita adalah kita semakin menghargai keberadaan Gereja, dan bagaimana kita mencintai dan ambil bagian dalam pelayanan Gereja. Tentu saja kita mendekati Gereja tidak semata-mata sebagai sebuah institusi tetapi juga di dalam pengertian theologis yang dipahami di dalam Alkitab. Hari ini kita akan menyegarkan pemahaman kita tentang apa artinya Koinonia melalui Kis 2:42-47.

Dalam kehidupan sekarang ini, ada dua ekstrim yang kita temukan sewaktu kita melihat persekutuan Gereja. Satu sisi kita melihat persekutuan Gereja yang mirip-mirip dengan kelompok adat. Suasanya sangat formal, sehingga etika dan nilai-nilai yang ada di sana lebih mengarah kepada nilai-nilai budaya dari pada nilai-nilai Kristiani. Di sisi lain juga kita melihat Gereja yang terlalu causual, dimana siapa saja boleh masuk ke dalam. Orangnya mungkin berganti-ganti dan tidak saling mengenal. Gereja ini memiliki kesan seperti sebuah show, bukan ibadah.

Kita memperhatikan bahwa dalam bagian Kis 2 ini, kita diingatkan kembali apa yang menjadi mungkin bagi sebuah umat Allah. Ditengah-tengah kekecewaan kita dengan Gereja, kekeringan dunia ini akan persekutuan yang sejati, kegagalan, dan ditengah-tengah harapan yang kita miliki tentang bagaimana seharusnya sebuah Gereja, Kis 2 ini memberikan gambaran tentang apa yang mungkin terjadi dalam jemaat/Gereja. Bagian Firman ini mengajarkan kepada kita bahwa Kis 2 ini bukanlah kisah yang unik, yang hanya terjadi sekali dalam sejarah dan tidak mungkin terulang lagi. Tidak! Kekerdilan iman kita yang dibentuk situasi di sekeliling kita membuat kita dipaksa untuk percaya bahwa persekutuan yang ada di Kis 2 tidak akan mungkin terjadi. Firman Tuhan ini menantang kita, sewaktu kita melihat Gereja dan persekutuan kita kembali melihatnya dengan kacamata Kis 2. Kita ditantang untuk mengharapkan hal yang besar bagi Gereja dan persekutuan, bahwa Gereja tidak harus tinggal dalam kondisi sekarang. Gereja dan persekutuan bisa berubah seperti yang Tuhan kehendaki. Wiliam Carey berkata: ”Expect great thing from God, and attemp great thing for God- Harapkanlah hal-hal besar dari Tuhan, dan kerjakanlah pekerjaan-pekerjaan besar bagi Tuhan.”

Jika kita memperhatikan Kis 2:42-47, kita akan bertanya: ”Apakah rahasianya sehingga mereka bisa seperti ini?” Mungkin kita tergoda untuk menjawab bahwa hal itu tejadi karena penyerahan diri mereka pada saat itu lebih dalam. Banyak jawaban-jawaban yang lain yang bisa kita berikan. Tetapi jika kita memperhatikan bagaimana Firman Tuhan mempersentasekan Kis 2:42-47, yang ingin dikatakan ialah, bahwa ini bukanlah sebuah norma di mana kita harus demikian. Bukan! Ini adalah sebuah ekspresi sebagai sebuah akibat dari apa yang terjadi ketika satu umat Tuhan mengalami pencurahan dari Roh Kudus. Kis 2 ini adalah gambaran satu komunitas, ketika Roh Allah menguasai mereka. Segala kelemahan-kelemahan manusia, keegoisan, kerapuhan, individualis, segala apa yang kita miliki yang sama dengan mereka, diangkat ke level yang paling tinggi dan mengalami satu pembaharuan, kasih yang melampau segala sesuatunya.
Ketika satu kominitas penuh dengan Roh Kudus, maka ada empat ciri khas yang digambarkan, yaitu:

1. A Learning Community (42)
2. A Loving Community (42,44-46)
3. A Worshiping Community (42, 46)
4. An Evangelistic Community (47)

Komunitas yang oleh karena persekutuan yang demikian kuat, ada evek marturianya, membawa orang lain masuk ke dalamnya. Jika Marturia ibarat ‘Go and tell them!’, maka Koinonia adalah ‘Come and see!’

Mari kita melihat lebih jelas keempat ciri ini.

A Learning Community

Ayat 42 mengatakan: ”Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul ...”.
Apa artinya bertekun? Dalam NIV, kata ‘bertekun’ yang dipakai adalah ‘devoted’-they devoted themselves to the apostles’ teaching. Perhatikan bahwa mereka bertekun dalam pengajaran. Sering sekali, pada saat ini, alumni malas membaca buku rohani yang berat. Alumni hanya ingin baca yang ringan, segar, dan jika bisa sedikit lucu. Tidak seperti kontekstual modern, pengalaman spiritual yang para rasul alami melalu bahasa Roh ataupun kuasa-kuasa tidak membuat mereka mengabaikan teologia dan pikiran mereka. Justru ketika mereka dikuasai Roh Kudus, mereka devoted pada ajaran dan pikiran para rasul. Dengan kata lain, jemaat mula-mula itu lapar akan Firman Tuhan, akan pengajaran yang berbobot, dan bertekun dalam pengajaran yang berbobot itu. Pengajaran yang berbobot tidak hanya milik sekelompok orang. Semua orang harus belajar akan pemikiran-pemikiran yang dalam karena ketika kita membaca buku-buku yang berat akan mempengaruhi bagaimana kita mengambil keputusan dan bersikap, brtindak. Ibarat sebuah pohon yang akarnya dalam, ketika dihembus angin, maka pohon itu akan tetap tertancap. Ketika pohon hanya kelihatannya tinggi tetapi akarnya tidak ada. Kelihatan begitu kokoh dan perkasa, tetapi ketika angin datang maka pohon itu akan tumbang. Kita perhatikan di sini, Gereja yang penuh Roh adalah Gereja yang belajar Firman, bertekun dan tunduk pada Firman. Jika Firman dalam konteks ini adalah pengajaran para rasul, maka kita perlu terus merenungkan dan membaca kembali Perjanjian Baru. Kita tidak boleh puas berkutat hanya bertahan untuk saat teduh. Mungkin kita harus menantang diri kita untuk lebih keras lagi. Jangan merasa ketika alumni semuanya sudah siap, tidak perlu membaca buku rohani lagi.

A Loving Community

Ayat 42 mengatakan: ”Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.” [kata ‘persekutuan’ di sini adalah ‘Koinonia’]. Hal ini sangat indah. Ada semacam magnet dari hidup yang rajin belajar, lahir kerinduan untuk bersama-sama. Jhon Stott mengatakan ada dua arti dari persekutuan. Persekutuan berarti kita bersekutu karena kita mengalami hal yang sama yaitu jamahan Persekutuan Trinitarian (IYoh 1:3; 2Kor 13:13). Tetapi yang ingin kita renungkan adalah mengenai Koinonia. Koinonia artinya berbagi. Karena kita bersama-sama mmebagi hidup satu dengan yang lain. Perhatikan ayat 44-45, dikatakan di sana: “Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.” Ini adalah satu praktek yang radikal karena adanya kepemilikan bersama dalam hal harta. Seandainya syarat menjadi anggota persekutuan adalah kepunyaan milik bersama, maukah kita masuk menjadi anggota? Gereja mula-mula bukan hanya memberi uang, tetapi tanah dan rumah. Pertanyaannya adalah apakah ini hanya literal normative? Jika kita memperhatikan beberapa contoh di dalam sejarah, ternyata bukan hanya orang Kristen yang punya seperti ini. Misalnya:

1. Persamaan dengan Qumran Community, baik umum maupun biarawan. Qumran Community yang umum selalu diminta untuk membantu orang miskin dan memberi makan orang yang lapar dan memberi tumpangan kepada orang yang berkelanan. Inilah kode etik mereka. Jika tidak bersedia melakukan ketiga hal ini, tidak diperbolehkan menjadi anggota. Tetapi kalau biarawan, lebih dalam lagi, mereka harus menjual seluruh hartanya baru boleh masuk anggota.

2. Radical Reformation: fellowship and brotherly love (word and sacrament).
Mereka seperti ini seperti aliran baptis. Aliran ini mengatakan sewaktu Calvin mengatakan ciri khas Gereja adalah adanya Firman dan Sakramen, maka orang-orang radikal reformatiaon, diantaranya adalah Menosimon, mengatakan harus ditambahkan fellowship and brotherly love mark.

3. The Hutterite Brethren in Moravia
Setiap anggota yang ingin masuk ke dalam kelompok ini, harus bersedia untuk menerima bahwa segala hartanya adalah harta bersama di dalam komunitas tersebut.

Kenapa Gereja atau Perkantas tidak mempraktekkannya? Hal ini disebabkan karena sebenarnya Alkitab tidak pernah bermaksud bahwa hal ini harus menjadi satu hukum yang ke-11. Ini adalah sebuah visi. Jika kita melihat PB, dalam bagian ini sendiri ayat 46 mengatakan: “Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir…”. Apa yang ingin dikatakan adalah bahwa mereka masih memiliki rumah karena mereka memecahkan di rumah masing-masing. Kemudian ayat 45 mengatakan alasan sebenarnya. Mereka menjual harta miliknya, membagi-bagikan kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Ternyata mereka menjual rumah dan hartanya didorong oleh kebutuhan. Ketika ada kebutuhan, yang namanya anak Tuhan akan rela menjual rumah atau tanahnya untuk menjawab kebutuhan tersebut. Iniah prinsip dan kode etik dari Koinonia, bahwa jika Gereja, persekutuan, atau saudara kita membutuhkan, dan untuk itu kita harus menjual rumah dan harta, itu bukanlah sesuatu yang aneh. Hal ini sangat indah karena inilah artinya menjadi manusia. Dan inilah perjuangan kita terus menerus, dimana ada peperangan melawan kejahatan yang hidup, tumbuh,dan berkembang di dalam diri kita. Loving Community adalah tempat kita belajar memberi kepada yang lain. Godaan menjadi alumni demikian berat karena begitu banyak kebutuhan yang harus dimiliki. Biarlah Firman Tuhan ini menantang kita kembali apa sebenarnya arti menjadi bagian dari Koinonia, menjadi bagian dari umat Allah. Ingat, memberi secara Kristiani bukan memberi karena berlebihan. Ini adalah sumbangan. Dan ini bukan Christian gift. Memberi secara Kristen adalah memberi dalam kekurangan sekalipun, karena memberi adalah kasih karunia. Kita mendapatkan kasih karunia jika kita boleh berbagi dengan sesama kita.

A Worshiping Community

Menarik sekali dalam ayat 42. dalam NIV terjemahannya adalah demikian: ” They devoted themselves to the apostles' teaching and to the fellowship, to the breaking of bread and to prayer.” [dalam terjeahan Indonesia, setelah persekutuan (fellowship) di akhiri dengan titik, tetapi dalam NIV, hanya memakai tannda koma.]. Artinya, mereka juga tekun dalam komunitas mereka. Jika kita memperhatikan dalam komunitas mereka, bagaimana jemaat mula-mula beribadah, Koinonia yang mereka miliki itu adalah satu ibadah yang luar biasa karena ditandai dengamn ibadah yang formal dan sekaligus informal. Ayat 46 mengatakan: “Every day they continued to meet together in the temple courts. They broke bread in their homes.” Ini adalah sebuah kombinasi sehat dan membantu menghargai ibadah formal di institusi Gereja. Kita juga belajar menghargai bahwa liturgy Gereja itu luar biasa dalam. Jika kita bisa menghayatinya, sangat dalam, baik pengakuan dosa, doa-doanya, susunannya, semuanya luar biasa. Kita harus mengikuti dan menghargainya, sama seperti jemaat mula-mula yang tetap mengikuti ritual ibadah mereka. A worshiping community ditandai keseimbangan antara sukacita dan hikmat. Dalam ayat 46 dikatakan: “...with glad and sincere hearts...”[gembira dan tulus]. Ini adalah kombinasi yang baik. Terkadang orang gembira tetapi tidak tulus. Kita bersukacita bukan karena nyanyi, tetapi kita bersukacita dan dari sukacita tersebut lahirlah nyanyian dan puji-pujian kepada Tuhan. Banyak juga orang tulus, tetapi tidak gembira. Ibadahnya kadang begitu liturgical tetapi kehilangan kegembiraan. Seharusnya liturgy tidak mematikan hati kita. Ibadah Kristiani seharusnya dipenuhi dengan sukacita. Ibadah Kristiani seharusnya teratur dan terhormat tetapi tidak tumpul dan kering. Ibadah yang tumpul dan kering adalah dosa. Ibadah yang Kristiani harus menjadi ibadah yang hidup meski dalam sebuah liturgy yang agung dan mulia. Liturgy merupakan sebuah ekspresi dari PL ketika orang beribadah dalam zaman Musa. Tetapi ada juga seperti Daud, menari-nari untuk menunjukkan sukacitanya. A worshiping community adalah satu komunitas yang beribadah dengan hikmat.

An Evangelistic Community

Dari persekutuan yang hidup ini, lahirlah daya tarik yang mengundang orang dating tanpa mereka harus mengabarkan Injil. Pastilah mereka memberitakan Injil. Tetapi yang ditekankan dalam bagian ini adalah karena demikian hidup persekutuannya, maka orang datang. Dikatakan dalam ayat 47: “And the Lord added to their number daily those who were being saved.” Pertama-tama sekali, pertumbuhan dalam persekutuan ini adalah bukan pertumbuhan karena hebatnya melakukan promosi atau pengkotbahnya hebat. Tetapi karena Tuhan menambahkan. Koinonia itu bertumbuh bukan karena teknik-teknik manusia, tetapi karena Allah bekerja demikian rupa. Yang menarik adalah bahwa yang ditambahkan merupakan orang yang sudah percaya. Jadi Allah menambah dengan orang yang menyelamatkan tetapi juga menyelamatkan dan menambah jumlah. Pertambahan di sini bukan pertambahan perbulan, tetapi tiap-tiap hari secara kontiniu. Tidak sporadis atau bulanan, tetapi terus-menerus.

Kis 2:42-47 menjelaskan kepada kita apa artinya satu komunitas yang di penuhi dengan Roh Kudus. Persekutuan yang seperti itu adalah a learning community, dimana orang-orang mau belejar dan bertekun dalam pengajaran. Dan dari sini lahirlah community, persektuan tanpa kasih adalah persekutuan yang kaku, seperti orang yang hanya bertekun dalam pemikiran, tetapi tanpa hati. Dari learning and loving lahirlah a worshiping community. Komunitas seperti ini, mau tidak mau, dirinya menjadi evangelistic community yang mangatakan kepada orang: “Come and see, God is here!”
Solideo Gloria!

Seri The People of God II: The Calling (MARTURIA)

Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div

Hari ini, kita akan membahas mengenai The People of God dengan tema The Calling, dalam hal ini adalah Marturia. Mari melihat Efesus 3:1-13. Di dalam Efesus pasal 1-6, kita melihat ada rangkaian yang berurutan. Di dalam pasal dua dikatakan bahwa keselamatan adalah karena anugerah Allah di dalam diri Yesus Kristus, dan orang-orang percaya itu sudah diperdamaikan antara satu dengan yang lain. Di pasal ketiga dikatakan bahwa orang percaya disatukan Tuhan ke dalam satu tubuh, yaitu Gereja. Pasal 4:1-6 berbicara soal Gereja dan ciri khasnya, yaitu satu tubuh, satu Tuhan, dan satu baptisan, dst.

Jika kita mempelajari panggilan Gereja, yaitu Marturia, maka di dalam Efesus 3 tadi, kita melihat bahwa Paulus mengawalinya dengan siapa dirinya sebagai pemberita Injil kepada non Yahudi. Di dalam ayat 1 dikatakan: ”Itulah sebabnya aku ini, Paulus, orang yang dipenjarakan karena Kristus Yesus untuk kamu orang-orang yang tidak mengenal Allah”. Yang dimaksudkan Paulus dengan ’Itulah sebabnya...’ adalah bagaimana Kristus yang sudah menebus dan menyelamatkan orang percaya dan orang percaya tersebut dipersatukan di dalam satu tubuh yaitu tubuh Kristus sebagai Gereja Allah. Paulus rela mengalami penderitaan oleh karena Yesus Kristus, demi mereka yang belum mengenal Allah (Gentile). Hal ini disebabkan karena dia tahu betapa pentingnya orang diubah di dalam Kristus agar dapat dibawa kepada Allah.

Di dalam ayat 2 Paulus mengatakan: ” -- memang kamu telah mendengar tentang tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah, yang dipercayakan kepadaku karena kamu,...” Di dalam ayat ini kita melihat bahwa tugas yang dipercayakan kepada Paulus adalah tugas ’penyelenggaraan kasih karunia Allah’. Yang dimaksudkan disini adalah Pemberitaan Injil (PI). Paulus menyadari tugas PI atau Marturia secara pribadi. Jika kita perhatikan, ayat 1-9 dari Efesus 3 ini berbicara mengenai Marturia secara pribadi, yaitu tugas menyatakan Firman dan bersaksi secara pribadi. Baru pada ayat 10-13, tugas Marturia oleh umat Allah (Gereja Tuhan). Di dalam ayat 2 ini kita melihat Paulus menyatakan dirinya sebagai pembawa tugas ’penyelenggaraan kasih karunia Allah’.

Apa yang dimaksud dengan ’kasih karunia Allah’? Di dalam ayat 3-5 dijelaskan mengenai hal ini, yaitu mengenai sebuah misteri kebenaran yang disingkapkan kepada Paulus melalui wahyu. Misteri ini adalah bahwa orang-orang non Yahudi turut menjadi ahli waris, menjadi anggota di dalam keluarga Allah, yaitu Gereja, dan juga turut sebagai peserta di dalam janji yang diberikan Allah oleh karena Injil. Paulus ingin mengatakan bahwa sebuah misteri jika non Yahudi bisa beroleh keselamatan. Hal ini sama misterinya dengan seorang pembakar gereja menjadi pengikut Kristus yang taat. Hal ini menjadi misteri karena di luar kemampuan kita untuk memahaminya. Bahkan kita tidak pernah menduga bahwa orang-orang seperti ini bisa menyerahkan diri menjadi pengikut Kristus. Ingat Paulus? Dia adalah seorang penganiaya jemaat tetapi akhirnya menjadi teraniaya oleh karena jemaat.

Di dalam ayat 7-9 kita bisa melihat perubahan Paulus. Di dalam ayat 7 dikatakan: ”Dari Injil itu aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku sesuai dengan pengerjaan kuasa-Nya.” Yang ingin dikatakan Paulus adalah jika kepada kita dipercayakan tugas untuk Marturia secara pribadi, semuanya adalah karena kasih karunia. Hal ini dikatakan Paulus karena dia menyadari bagaimana hidupnya yang jahat, sebagai penganiaya Jemaat. Di dalam ayat 8, Paulus berkata: ” Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu,” [band 1 Kor 15:10]. Di sini kita tidak hanya melihat perubahan hidup Paulus yang sangat radikal, tetapi juga bagaimana dia memahami bahwa semuanya adalah karena kasih karunia Allah. PI adalah sebuah rahasia Allah yang tersembunyi selama berabad-abad. Bukankah Farisi dan Ahli Taurat mempelajari Kitab Suci, tetapi mereka tetap tidak bisa mengenal Allah? Ketika mereka mencari kebenaran dan ingin menemukan siapa Allah, selama berabad-abad, mereka tidak dapat menemukannya. Tetapi di dalam Kristus, mereka menemukannya. Inilah rahasia Allah yang sangat besar.
Setelah Paulus berbicara secara pribadi, barulah ia berbicara mengenai panggilan Umat Allah. Di dalam ayat 10 dikatakan: ”... supaya sekarang oleh jemaat diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga,...”. Marturia bukan hanya tugas secara individu, tetapi menjadi tugas umat Allah secara umum. Bukan tugas para rasul atau para nabi, tetapi menjadi tugas seluruh umat Allah. Marturua adalah sebuah panggilan yang ilahi bagi umat Allah. Inilah panggilan umat Allah secara kolektif, panggilan alumni sebagai umat Allah secara kolektif di seluruh dunia. Kita harus menyadari bahwa kita adalah umat Allah, bukan hanya di dalam pengertian yang ada di PAK, atau persekutuan alumni kampus, tetapi bagian dari umat Allah di seluruh dunia tanpa dibatasi denominasi, Gereja, geografis, ataupun latar belakang. Inilah yang dimaksudkan dengan Gereja yang kudus dan Am. Sebagai umat yag sudah dilayani, kita juga harus melakukan pelayanan Marturia. 1 Pet 2:9 mengatakan: ”Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:”. Kata ’imamat’ adalah umat atau jemaat Allah, yaitu Gereja Allah yang harus bermisi karena sudah diangkat dari kegelapan ke dalam terang. Dari Efesus 3:1-9 dan dari 1 Pet 2:9 kita melihat bahwa seharusnya kita harus melakukan pelayanan. Jika ada orang yang mengaku lahir baru tetapi tidak punya kerinduan untuk melayani, maka lahir barunya dipertanyakan. Tidak mungkin hal seperti ini terjadi. Oleh karena itu, umat Allah yang telah diselamatkan harus melakukan mandat Allah untuk Marturia bagi orang lain. Inilah dasar dari Marturia.
Ayat 10 mengatakan ’pelbagai ragam hikmat Allah’. Ini adalah isi dari Marturia. Isinya adalah Hikmat Allah [band ayat 3-5; Kol 2:2b-3]. Inti dari berita Marturia adalah Kristus yang membawa orang kepada Allah. Kita harus memberitakan Kristus yang disalibkan bukan lembaga, gereja, atau diri sendiri. Perhatikan ayat ini, ‘dengan pelbagai ragam hikmat Allah’. Artinya, hikmat Allah di dalam Kristus diberitakan dengan berbagai ragam atau metode atau cara. Ada pelbagai cara yang bisa dipakai, tetapi yang paling penting adalah hikmat Allah sampai dan mereka bisa bertemu dengan Tuhan. Kristus adalah hikmat Allah yang sempurna.
Di dalam ayat 12 Paulus kembali menyatakan: “Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya.” Tidak ada yang lain, inti berita Marturia adalah Kristus [band Rom 1:16-17]. Jika ada kesempatan untuk membawa renungan, tolong hati-hati. Terkadang kita terjebak dengan kesaksian pribadi, Gereja, atau lembaga tempat kita berada.

Di dalam ayat 10 akhir kita melihat objek PI kita dalam panggilan Marturia, yaitu ’ kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga,’. Jika kita memakai terjemahan ini, kita bisa salah mengerti. Di dalam NIV dikatakan ‘the rulers and authorities in the heavenly realms,’- pemerintah dan penguasa angkasa. Yang dimaksudkan Paulus di sini bukanlah roh jahat yang menjadi penguasa angkasa, tetapi mereka yang masih percaya dan tunduk kepada penguasa-penguasa angkasa atau kegelapan. Kepada merekalah kita harus Marturia, orang-orang yang masih di bawah penguasa-penguasa angkasa, yang masih jauh dari kebenaran dan jauh hidupnya dari Allah [band Efesus 6:12].

Di dalam ayat 11 dikatakan: “…sesuai dengan maksud abadi, yang telah dilaksanakan-Nya dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Paulus menyatakan bahwa mandat Ilahi atau panggilan Marturia bagi umat Allah yaitu tugas pemberitaan Injil, isi berita yang diberitakan, dan objek kemana kita melakukan tugas Marturia, dikatakan oleh Paulus bahwa itulah maksud Allah yang kekal yang direalisasikan di dalam Kristus. Artinya, pertama, jemaat yang Marturia adalah salah satu bagian dari maksud Allah yang kekal. Jika ada umat Allah tidak melakukan tugas Marturia, berarti maksud Allah belum digenapi di dalam dirinya. Kedua, maksud Allah yang abadi adalah umat Allah atau The People of God melakukan Marturia. Belajar dari hal ini, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak terlibat sebagai umat Allah. Allah tidak menghendaki kebinasaan, melainkan keselamatan umat manusia. Oleh karena itu, Marturia sebagai mandat Ilahi harus dikerjakan oleh umat Allah atau Gereja. Ingat Amanat Agung? Pertanyaanya adalah sejauh mana kita melakukan amanat tersebut? Kita harus introspeksi diri. Hal inilah yang menggerakkan kita untuk pergi, berkarya dan bersaksi bagi Tuhan.

Ayat 13 mengatakan: ”Sebab itu aku minta kepadamu, supaya kamu jangan tawar hati melihat kesesakanku karena kamu, karena kesesakanku itu adalah kemuliaanmu.” Kata ’martir’ memiliki akar kata dari kata ’Marturia’. Jadi, wajar jika bersaksi, memberitakan Injil, seseorang bisa teraniaya bahkan kehilangan nyawannya. Umat Allah yang dipanggil untuk tugas Marturia harus rela menderita. Bukan hanya rela, di dalam Kol 1:24, Paulus berkata: ”Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.” Luar biasa! Yang dimaksudkan Paulus adalah bukan karya Kristus kurang sempurna, tetapi jika karena kasihNya, Dia rela menderita untuk keselamatan manusia, maka kita pun harus rela menderita agar kabar mengenai Injil sampai kepada orang lain.

Inilah satu perubahan yang radikal di dalam diri Paulus, dan hal ini menjadi bagian dari umat Allah. Kita tidak menjadi generasi yang cengeng, tetapi menjadi generasi yang rela menderita, bahkan bersukacita oleh karena penderitaan, karena tugas Marturia sebagai umat Allah. Di dalam 2 Kor 4:11-12 dikatakan: “Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu.”
Panggilan Allah untuk umatNya adalah Marturia. Dalam rangka tugas ini, kita sebagai umat Allah sering sekali diperhadapkan dengan penderitaan, bahkan maut. Maut giat di dalam diri kita. Tetapi, oleh karena hidup yang beriman kepada Yesus Kristus, maka kita semakin giat terhadapa orang lain agar mereka percaya kepada Kristus. Inilah sukacita kita sebagai umat Allah. Inilah sukacita Gereja, ketika gereja dianiaya karena melakukan tugas penggilan untuk Marturia. Dengan kesesakan melakukan Marturia, orang akan diselamatkan. Dengan demikian kemuliaan Allah akan ada bagi dirinya dan dia pun mulia di hadapan Allah.

Mari kita sebagai umat Tuhan menjadi orang yang bermisi mulai hari ini. Mari secra pribadi kembali melakukan PI pribadi. Mari menjadi umat Allah yang rela menderita walaupun sampai martir. Ingat, Paulus berkata: “Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu.” Hal ini dilakukan demi tugas panggilan Marturia agar orang-orang percaya kepada Kristus.
Solideo Gloria!