Showing posts with label Seri Perumpamaan Tuhan Yesus. Show all posts
Showing posts with label Seri Perumpamaan Tuhan Yesus. Show all posts

Tuesday, July 22, 2014

Seri Perumpamaan 2014: Perumpamaan Tentang Penghakiman



[Tindakan Kasih Umat Kerajaan Allah]

(Matius 25:31-46)

Drs. Tiopan Manihuruk, M. Th


Perumpamaan dalam Mat 25:31-46 adalah perumpamaan yang mengisahkan mengenai penghakiman. Bicara soal penghakiman, kita pasti mengetahui bahwa hal ini tidak terlepas dari peristiwa kedatangan Tuhan Yesus keduakalinya (31). Jika saat itu tiba, maka setiap orang dari segala bangsa (Yahudi dan Yunani) akan menghadap takhta penghakiman yang diumpakan seperti seorang gembala yang memisahkan kambing dengan domba (32-33). Domba di sebelah kanan dan kambing di sebelah kiri. Perlu kita ketahui bahwa ini adalah perumpamaan atau gambaran. Bukan hariafiah kanan dan kiri Allah. Yang pasti, Allah tidak punya kanan dan kiri seperti kita. Dan juga jangan diasosiasikan bahwa yang di kanan itu adalah yang baik. Sekali lagi, ini adalah gambaran atau perumpamaan.

Jadi, pada masa penghakiman, ketika Yesus datang kedua kali, setiap orang dari segala bangsa akan menghadap Dia. Dalam 1Tes 4:16-18 dikatakan bahwa ketika penghakiman itu tiba yang pertama kali dibangkitkan adalah orang mati yang beriman, kemudian orang yang masih hidup dan beriman, dan ketiga adalah orang yang tidak beriman, baik masih hidup atau yang sudah mati. Jadi akan ada penghakiman setelah kebangkitan. Dalam Mat 5:31-32 dikatakan, “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing.” Pemisahan yang dilakukan dalam penghakiman itu digambarkan dengan seperti gembala memisahkan domba dari kambing. Domba dan kambing itu adalah hewan yang mirip tetapi tidak sama. Setelah dipisahkan maka baru mulailah penghakiman.

Ada pernyataan sang Raja kepada mereka yang disebelah kananNya. Dalam ay 33-34 dikatakan bahwa orang-orang yang disebelah kanan adalah orang-orang yang diberkati oleh Allah dan akan masuk ke dalam Kerajaan Kekal. Ada tahta pengadilan dan orang-orang benar di mata Tuhan akan diundang masuk ke dalam kerajaan Allah, tempat yang ditentukan oleh Allah sebelum dunia dijadikan. Inilah gambaran penghakiman. Bagaimana pastinya nanti, tidak ada orang yang tahu. Yang pasti Yesus adalah Hakim dan menghakimi dengan adil. Tetapi masalah bagaimana caranya tidak ada seorang pun yang tahu. 

Tujuan pemisahan adalah untuk menentukan siapa yang masuk ke dalam Kerajaan kekal dan siapa yang akan dihukum kekal di neraka (ay. 34, 46). Dasar untuk penghakiman adalah apakah kasih dinyatakan oleh seseorang bagi umat Allah. Dalam 1Yoh. 3: 14-18 dikatakan, 14 Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut. 15 Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya. 16 Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. 17 Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? 18 Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran”.
 
Hal ini bukan sedang bicara mengenai social gospel, tetapi kasih sebagai ungkapan iman yang terpancar dari sebuah tindakan sehari-hari. Inilah yang menjadi salah satu indikator atau syarat dalam penghakiman. Karena itu mari kita perhatikan betapa pentingnya kepedulian dan tindakan kasih sebagai bagaian atau pernyataan dari iman bahwa orang sungguh-sungguh beriman kepada Kristus dan dasar penghakiman itu adalah apakah umat Allah menyatakan kasih kepada sesamanya. Dalam 1Yoh 3:14-18 tadi kita melihat bahwa tanda orang sudah mengenal Tuhan salah satu diindakasikan dengan tindakan kasih menolong sesama. Barang siapa tidak mengasihi dia tetap di dalam maut. Bukan berarti karena perbuatan baik maka diselamatkan. Tetapi salah satu indikator utama bahwa orang sudah berpindah dari maut tidak bisa tidak harus terpancar dari tindakan nyata kepada sesama. Itu sebabnya ketika pada penghakiman, salah satu dasar penghakiman adalah tindakan kasih terhadap sesama. Itulah sebabnya Yakobus mengatakan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati (Yak 2:16-17). Hal ini dengan pemahaman bahwa ketika ada seseorang berkata bahwa dia sudah beriman, maka iman itu akan terpancar dari cara hidup yang benar dan cara hidup yang benar itu terpancar melalui kasih kepada saudara dan sesama. Kalau tidak mengasihi saudara, kita sedang menunjukkan bahwa kita sebenarnya masih di dalam maut. Yohanes ingin mengatakan ketika kita mengaku bahwa kita sudah beriman maka salah satu bukti iman kita adalah kasih kepada saudara. Ketika hal ini tidak kita tunjukkan dalam hidup sehari-hari berarti kita masih ada di dalam maut. Maka perintah dalam ay 18 - marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran – adalah salah satu dasar dalam sebuah penghakiman ketika kita menghadapi tahta penghakiman Kristus.

Dalam ayat 35-40 sang Hakim berkata, 35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; 36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. 37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? 38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? 39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? 40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”

Menarik sekali melihat respon orang-orang benar itu. Respon mereka adalah satu hal hal yang ingin ditekankan. Iman dan perbuatan kasih umat kerajaan Allah sangat bertautan satu dengan yang lain. Apa yang menjadi bukti bahwa kita beriman kepada Kristus adalah tindakan. Bukankah pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik? (band. Mat 7:15-20). Apa yang mau dikatakan adalah ketika kita sudah diselamatkan oleh kasih karunia Allah, maka seharusnyalah hidup kita menunjukkan buah-buah pertobatan sebagai umat tebusan Allah.

Banyak orang berprinsip bahwa keselamatan adalah anugerah. Walaupun anugerah, bukan berarti keselamatn itu adalah sesuatu yang murahan, tetapi sesuatu yang memiliki dampak yang besar dalam hidup orang percaya. Terkadang ada orang berkata bahwa keberadaan keselamatan yang adalah anugerah membuat seakan-akan taurat dibatalkan. Jika kita perhatikan ada banyak orang berkata – tentu saja dengan pemahaman yang tidak seimbang – bahwa keselamatan yang diterimanya membuat seakan-akan dirinya lepas dari tanggung jawab dalam emnjalankan hukum taurat.  Hal ini tidak benar. Di dalam Mat 5:17 Yesus berkata, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” Dan dalam ay 20 Yesus melanjutkan, “Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”

Jadi, jika orang Farisi dan ahli Taurat sangat berjuang agar mereka diselamatkan di mana mereka berjuang untuk taat kepada tuntutan hukum Taurat tetapi tidak akan pernah mendapatkan keselamatan itu sendiri. Bukankah seharusnya kita sebagai orang yang sudah diselamatkan dengan anugerah harus memberikan tuntukan kasih di dalam diri kita yang memproduksi cara hidup yang jauh lebih baik dari orang Farisi dan ahli Taurat? Perumpamaan ini ingin menekankan bahwa anugerah yang telah kita nikmati seharusnya memproduksi hidup yang jauh lebih baik dari orang Farisi dan ahli Taurat yang mengetahu hukum Taurat itu sendiri. Yesus menekankan sekali betapa pentingnya tindakan kasih dalam perbuatan. Itulah sebabnya dalam penghakiman tindakan kasih atau perbuatan iman tidak bisa tidak menjadi sebuah indikator akan penghakiman.

Memang, hal ini juga berbicara soal mahkota yang tidak dapat layu (1Pet 1:4-5; 1Pet 5). Tetapi yang ditekankan bukan sebatas mahkota, tetapi pada penghakiman kelak, Tuhan meminta pertangungjawaban dari apa yang kita lakukan selama kita hidup di dunia ini. Karena itu coba perhatikan Efesus 2:8-9, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.“ Bagian ini berbicara mengenai keselamatan karena kasih karunia. Tetapi hal ini tidak berhenti pada titik ini. Dilanjutkan pada ay 10, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Inilah tujuan mengapa kita diselamatkan. Penghakiman Allah bukan hanya menuntut hanya soal anugerah yang kita nikmati tetapi pertanggungjawaban dari buah iman yang menyelamatkan kita karena kasih karunia harus terpancar dan dipertanggungjawabkan. Itulah sebabnya pertanggungjawaban itu diminta Tuhan Yesus pada hari penghakiman. Tindakan kasih adalah sebagai bukti dan buah dari iman kepada Kristus yang sudah menyelamatkan kita karena itu kepedulian dan tindakan sosial merupakan pancaran iman.

Oleh sebab itu apapun yang kita lakukan dalam hidup kita sebagai orang beriman senantiasa terintegrasi kepada misi Allah untuk dunia (lih. Luk 4:18-19). Makanya bekerja adalah bagian dari misi. Profesi yang kita geluti juga adalah bagian dari misi. Menikahpun dilakukan dalam rangka misi. Hal inilah yang seharusnya kita pahami dengan baik. Misi itu seperti dua sisi dari mata uang, yang tidak bisa dipisahkan, yaitu deklarasi (pemberitaan Injil yang verbal) dan demonstrasi (tindakan kasih kepada sesama manusia). Jangan pernah berpikir bahwa Yesus hanya melakukan deklarasi tanpa demonstrasi. Ia memberitakan pengampunan dan Kerajaan Allah, tetapi Ia juga menyembuhkan orang sakit, memberi makan, dan juga menghiburkan orang lain. Demikianlah juga dnegan kita, dimana tanggung jawab kita deklarasi dan demonstrasi.

Kristus mengatakan dalam perumpamaan ini bahwa standart penghakiman itu dalam adalah sikap dan tindakan kita kepada orang yang paling hina yang saya bagi ke dalam tiga kelompok, yaitu: the last (yang paling akhir), the list (paling sedikit, rendah, atau hina), dan the lost (yang terhilang). Tindakan anak-anak Tuhan kepada tiga kelompok (ay 40) inilah salah satu syarat atau dasar penghakiman kita nanti. Karena perlakukan terhadap saudara yang paling hina ini berarti telah dilakukan juga kepada Yesus. Sikap dan perlakuan seseorang menunjukkan apakah seseorang sudah diselamatkan atau belum. Dalam ay 41 dikatakan, “Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.” Dan dalam ay 46 dikatakan, “Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.”

Hadiah (reward) dalam Kerajaan Surga diberikan kepada mereka yang melayani tanpa memikirkan imbalan (ay. 34-40) - ‘bilamanakah’ (ay. 37-39).  Menarik sekali mendengar jawaban orang benar itu di mana mereka bertanya bilamanakah mereka mengerjakannya. Artinya adalah mereka melakukan sesuatu tidak pernah mengharapkan hadiah atau imbalan dan mereka melakukannya dengan tulus. Inilah buah iman dan kasih. Ketika kita melakukan sesuatu, jangan pernah mengingatnya. Sebagai anak-anak Tuhan jangan mengharapkan imbalan apapun ketika melakukan tindakan kasih tetapi mari senantiasa memberi, memberi dan memberi. Inilah yang dilakukan oleh orang yang benar. Tidak ada syarat jasa dalam hal ini, Allah memberikan anugerah-Nya bukan hutang.

Apakah pernyataan sang raja kepada orang sebelah kirinya (digambarkan sebagai kambing)?. Dienyahkan ke dalam api yang kekal, yaitu tempat yang sudah disediakan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya; kelompok terkutuk (ay. 41). Alasannya adalah ketidak pedulian sosial mereka karena tidak beriman (ay. 42-45) – ‘segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku’ (ay. 45). Mereka yang tidak melakukan perbuatan baik (sebagai buah iman, sebab perbuatan baik tanpa iman tidak ada artinya) akan masuk ke tempat siksaan kekal. Penekanannya orang benar (perpaduan iman dan perbuatan kasih) akan masuk ke dalam hidup yang kekal (ay. 46). Karena itu di dalam menyongsong penghakiman (sebelum kita meninggal atau Tuhan Yesus datang kedua kali) bagaimana kita memancarkan iman kita dan membuktikan iman kita. Mari memahami hal ini dengan baik. Seringkali orang sudah menerima anugerah keselamatan tetapi menganggap anugerah itu murahan. Seringkali orang yang menikmati anugerah Allah yang gratis itu tidak diresponi dengan cara hidup yang benar.  Bagi orang-orang seperti ini anugerah itu murahan. Tetapi yang benar, walaupun anugerah itu diberikan cuma-cuma, tetapi harus disertai dengan sebuah pemahaman bahwa anugerah itu adalah sesuatu yang mahal. Anugerah itu murah bagi kita tetapi mahal harganya bagi Allah. Anugerah itu murah tetapi tidak murahan. 

Sebagai anak-anak kerajaan Allah seharusnyalah status kita berpadanan dengan tindakan kita. Iman kita itu harus terpancar dari tindakan kasih kita. Jangan pernah berpikir yang penting selamat dan masuk Surga. Sangat rendahlah standar iman kita jika bersikap seperti ini. Mari belajar dari penghakiman ini bahwa akan ada pertanggjungjawabn dari kita semua perihal apa yang kita kerjakan sebagai bukti buah dari iman. Perumpamaan ini hendak mengatakan jika kita betul-betul beriman, tidak bisa tidak, iman itu akan terpancar dari tindakan kita kepada orang yang paling hina (the last, the list, and the lost). Pertanyaan dari minggu yang lewat siapakah aku bagi orang yang paling hina? Hal ini menentukan standar penghakiman yang akan kita alami. Bukankah Yesus melakukan hal ini? Dalam Luk 4:18-19 dikatakan, “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” Kalau Yesus, Sang Guru dan Hakim, melakukan hal itu, bukankah standart itu pun adalah hal yang diminta untuk kita pertanggungjawabkan pada hari penghakiman sebagai umat Kerajaan Allah? Apa yang kita lakukan bagi the last the list and the lost itu perlu dipertanggungjawabbkan pada hari penghakiman.

Solideo Gloria!

Saturday, July 19, 2014

Seri Perumpamaan 2014: Orang Samaria Yang Baik Hati




[Siapakah Aku Bagi Sesama]

Lukas 10:25-27

Drs. Tiopan Manihuruk, M. Th



Dalam terjemahan LAI judul perumpamaan dalam Luk 10:25-37 ini adalah ‘Orang Samaria yang Baik Hati’. Tetapi hari ini saya memberi judul ‘Siapakah Aku Bagi Sesama’. Kisah ini diawali ketika seorang ahli Taurat mencobai Yesus dengan bertanya “Apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup kekal” (ay. 25). Ada pemahaman yang salah dalam dirinya di mana dia berpikir bahwa keselamatan adalah mengenai apa yang dia perbuat bagi Allah, padahal yang sebenarnya keselamatan adalah apa yang Allah perbuat bagi kita. Pertanyaan ini seakan menyiratkan bahwa untuk memperoleh hidup kekal adalah berdasarkan perbuatan (ay. 25). Tetapi Yesus meresponinya dengan menyuruh dia mengingat apa yang tertulis dalam hukum Taurat (ay. 26). Dengan pintarnya ahli Taurat itu menjawab, “mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budi serta kasih akan sesama seperti diri sendiri” (ay. 27).

Tuhan Yesus membenarkan jawaban tersebut dan memerintahkan agar hal itu dikerjakan (ay. 28). Dia memberikan perintah untuk mengerjakan apa yang telah ahli Taurat katakan itu dengan pemahaman jika orang mengasihi Allah dengan segenap hati muncul karena ia beriman dan ketika ia mengasihi Alah dengan segenap hati maka ia juga akan mengasihi sesama seperti dirinya sendiri. Kasih kepada Allah adalah buah iman dan ketaatan (Yoh. 14: 21) dan kasih akan sesama sebagai bukti kasih kepada Allah (1 Yoh. 4: 20-21).

Kemudian untuk membenarkan diri ahli Taurat itu bertanya “Siapakah sesamaku manusia?” (ay. 29). Sebenarnya pertanyaan ini tidak usah dikeluarkan oleh seorang ahli taurat. Sebagai seorang Yahudi (apalagi ahli hukum-hukum Yahudi) dia sudah tahu bahwa sesamanya adalah orang Yahudi, bukan orang dari kelompok etnis atau agama lain. 

Terhadap pertanyaan itu, Yesus meresponinya dengan menuturkan sebuah kisah tentang seorang Yahudi yang sedang dalam perjalanan dari Yerusalem ke Yerikho. Dalam perjalanan ia tertimpa musibah dimana ia diserang penyamun. Hartanya dirampok dan ia dipukul sampai terluka. Dalam keadaan sekarat ia dibiarkan tergeletak di tepi jalan (ay. 30).

Sewaktu orang itu terkapar setengah mati lewatlah berturut-turut  seorang imam dan seorang Lewi. Keduanya orang Yahudi, tergolong rohaniwan dan pemimpin agama  pada zaman itu (ay. 31-32). Imam maupun Lewi yang melihat dari jauh, bukannya berhenti sebentar atau memberikan pertolongan sebisanya, mereka malah menghindar dengan menempuh jalan lain. Mereka menghindar dari tanggungjawab tindakan kasih. Mereka tidak mau direpotkan sehingga mereka menghindar.

Mungkin masing-masing dari mereka memiliki simpati pada korban, namun mereka punya alasan untuk tidak menolongnya. Ketika mereka melihat musibah menimpa sesamanya, sebangsa dan seagama, mereka tidak melakukan apa-apa. Mereka tidak mau repot dan ingin menghindari persoalan. Mereka tidak mau terusik dari zona aman sehingga mengabaikan kebaikan orang lain yang sedanag tertimpa musibah.

Kemudian lewatlah seorang Samaria (ay. 33). Secara keturunan orang Samaria adalah Yahudi campuran, bukan murni Yahudi. Bila dirunut ke belakang kedua kelompok etnis itu mempunyai sejarah permusuhan yang panjang. Orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria (Yoh.4:9). Maka, sewajarnya orang Samaria itu membiarkan saja orang Yahudi. Namun, ia berhenti dan menolong korban yang terkapar itu karena hatinya tergerak oleh belas kasihan (ay. 33b).

Mungkin imam dan orang Lewi memiliki simpati pada korban namun tanpa sebuah tindakan. Mereka mungki hanya berkata; ‘ngeri kali bah’ atau ‘kasihan ya” lalu melewatkannya. Situasi yang sama mungkin pernah kita alami ketika melihat ada kecelakaan di jalan raya. Kita hanya simpati dan kasihan tanpa ada niat untuk menolong karena takut atau direpotkan jika kita dipanggil polisi menjadi saksi atau takut terlambat ke urusan kita. Itulah yang dilakukan iman dan orang Lewi itu.

Berbeda dengan orang Samaria itu, rasa simpati dan empati diaktualisasikan dengan menolong secara utuh. Simpati memang baik, nasihat juga baik, namun yang terbaik adalah pertolongan konkret (band Yak 2). Digerakkan oleh hati yang penuh belaskasihan, orang Samaria tersebut mulai membalut luka-luka, mencuci lukanya dengan minyak dan anggur kemudian dia membawa korban ke tempat yang layak (penginapan) dan merawatnya (ay. 34). Setibanya di penginapan, orang Samaria itu masih merawat korban dan menginap semalam. Karena ada urusan yang harus diselesaikannya, ia menitipkan uang secukupnya kepada pemilik penginapan sebagai biaya untuk merawat korban. Ia berjanji bahwa setelah urusannya selesai, ia akan kembali untuk membayar segala kekurangan yang ada (ay. 35).

Apa yang paling mendorong orang Samaria itu untuk repot-repot sedemikian rupa sehingga batas-batas penghalang secara etnis dan permusuhan menjadi begitu tipis? Jawabannya adalah belas kasihan (ay. 33).

Sampai di situ, Yesus tidak meneruskan ceritanya. Tetapi Yesus juga tidak menjawab pertanyaan ahli Taurat “Siapakah sesamaku manusia?” Yesus balik bertanya kepadanya, menurutmu “Siapakah di antara ketiga orang ini (imam, Lewi, orang Samaria) adalah sesama manusia bagi orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” (ay. 36). Masih terkesima dengan cerita Yesus tentang orang Samaria, ahli Taurat menjawab, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” (ay. 37). Yesus menutup dialognya sambil berkata, “Pergilah dan perbuatlah demikian!” (ay. 37b).

Mengapa sampai akhir dialog Yesus tidak menjawab pertanyaan ahli Taurat “Siapakah sesamaku?” adalah karena pertanyaan itu keliru. Pertanyaan itu mengandung asumsi ada orang termasuk kelompokku dan ada yang tidak; ada yang sederajat denganku sebagai sesama dan ada yang tidak; ada yang layak masuk kelompokku dan ada yang tidak; ada yang layak ditolong ada yang tidak. Cara bertanya “Siapakah sesamaku?” menempatkan diri kita – sebagai orang yang bertanya – sebagai pemberi kriteria siapakah yang layak menjadi sesama kita karena ukuran dan kriterianya adalah kita. Hal ini akan membuat sekat-sekat yang baru dalam hidup kita. Pertanyaan ini membuat si penanya merasa layak menentukan siapa sesamanya dan siapa bukan karena di matanya tidak semua orang adalah sesamanya. Itulah implikasi sosial di balik pertanyaan “Siapakah sesamaku?” Namun di mata Yesus cara pandang demikian keliru. Seharusnya setiap orang, siapa saja adalah sama-sama makhluk ciptaan Allah berasal dari Sumber yang sama. Sikap yang benar adalah bahwa kita menjadi sesama bagi siapa saja. Jadi bukan “Siapakah sesamaku?” tetapi “Siapakah aku bagi sesama?”. Pertanyaan  “Siapakah sesamaku?” membuat kita membangun tembok, tetapi dengan pertanyaan “Siapakah aku bagi sesama?” kita sedang menghancurkan tembok. Karena itu, mari belajar agar pertanyaan kita juga adalah “Siapakah aku bagi sesama?” agar tidak ada gap atau tembok yang menghalangi kita dengan orang lain.

Yesus mengoreksi pertanyaan yang keliru dengan sebuah pertanyaan yang tepat. “Siapakah yang menjadi sesama bagi orang yang malang itu?” (ay. 36).  Yesus mengoreksi pertanyaan keliru itu sebab pertanyaan itu mengasumsikan pengelompokan-pengelompokan primordial di antara manusia berdasarkan etnis atau agama atau status social dan perbedaan-perbedaan lainnya. Kita harus mengkikis semua tembok yang mengelilingi kita, apakah tembok fakultas atau tembok-tembok lainnya dengan pertanyaan “Siapakah aku bagi sesama?“ 

Dan sedikit banyak pengelompokan itu akan memengaruhi sikap kita terhadap mereka yang dianggap di luar kelompok. Yang termasuk kelompok ditolong dan di luar itu dibiarkan atau malah dizolimi. Inilah kecenderungan manusia. Dalam pertanyaan yang diajukan Yesus, kriteria sesama tidak lagi ditentukan dari sudut penanya, melainkan dari sudut orang lain, tepatnya orang yang sedang membutuhkan pertolongan. Untuk orang yang dirampok dan dianiaya, satu-satunya yang diharapkan adalah pertolongan konkret dari siapa saja. 

Orang Samaria dalam kisah ini telah menjadi sesama bagi korban penyamun itu. Imam dan orang Lewi belum menjadi sesama bagi orang yang malang itu kendati etnis dan agamanya sama. Secara tidak langsung Yesus mengatakan, “Perluaslah lingkaran sesamamu menjadi siapa saja, sama halnya seperti seorang yang dalam kesusahan akan mengharapkan pertolongan dari siapa saja yang dapat menolongnya!”  (bd. Gal 6: 10). Dalam menolong sesama itu mari merobohkan setiap tembok yang menghalangi.

Pertanyaan yang tepat bukan “Siapakah sesamaku?” melainkan “Apakah aku menjadi sesama bagi orang lain?”. Apakah aku menjadi sesama bagi yang terdiskriminasi, korban ketidakadilan, mereka yang termarginalkan, tertindas, kaum miskin dst? Apakah aku menjadi sesama bagi yang sedang ketakutan? Apakah aku menjadi sesama bagi yang dilecehkan martabatnya? Apakah aku menjadi sesama bagi yang menderita, korban bencana alam, korban penipuan, bagi warga yang dilarang beribadah dll? Pertanyaan “Siapkah aku bagi mereka” membuat kita tidak bisa diam, dan harus bertindak. Sering kita hanya sebatas berkata “kasihan… kasihan.. dan kasihan..”, tetapi tanpa tindakan nyata. Di negara ini kita berhadapan dengan penyakit 3K (Korupsi, Kemiskinan, dan Ketidakadilan) di negara ini. Jadi pertanyaannya adalah “Siapakah aku bagi mereka?” yang terkena dampak korupsi, atau bagi mereka yang sangat miskin, atau bagi mereka yang mengalami ketidakadilan. Siapakah kita bagi orang yang termarginalkan dan bagi mereka yang tidak mendapat akses pendidikan yang lebih baik? Siapakah kita bagi mereka?

Krisis hubungan interpersonal di sekitar kita adalah krisis menjadi sesama. Inilah yang ditegor ioleh Tuhan Yesus kepada ahli Taurat melalui gambaran iman dan orang Lewi. Berbagai konflik sosial, entah apa pemicunya atau siapa provokatornya, memperlihatkan bahwa kekerasan telah menjadi model karena kita bukan lagi menjadi sesama. Ada demonstrasi dan kerusuhan dimana-mana dengan anarkisme. Hukum rimba berlaku dimana-mana. Sentimen antargolongan dan antarkelompok, sikap curiga, sikap agresif, semua itu dimungkinkan karena orang lain tidak termasuk kelompokku. Jurang yang ada semakin dalam dan antipasti semakin mengkristal dalam kehidupan kita. Karena orang lain bukan sesamaku maka ia boleh dikejar-kejar, dikasari, dilukai, bahkan dibunuh. Inilah membuat anak bangsa tidak baradab tapi biadab. Sejarah bangsa kita sarat dengan konflik sosial bahkan horizontal yang berakhir dengan pembakaran, perusakan, dan pembunuhan.  Kita harus mengubah dan meninggalkan paradigma berfikir dengan kebiasaan mengajukan pertanyaan keliru “Siapakah sesamaku?” pertanyaan yang benar adalah “Siapakah aku bagi sesama?”. 

Kita harus berani keluar dari ketertutupan kelompok (exclusivism) untuk kemudian menjadi sesama bagi orang lain (inclusive). Semua manusia tanpa pandang agama suku dan apapaun masuk dalam bagian hidupku yang harus aku tolong dan layani. Kita harus berpikir bagaimana cara menjadi sesama bagi orang lain dan membiasakan diri  berfikir dengan cara demikian. Maka kita akan menemui orang lain sebagai sesama dalam perjumpaan yang konkret karena kita mampu menempatkan diri pada posisi mereka itulah dengan simpati dan empati yang dalam.

Dengan simpati dan empati kecurigaan dan jurang pemisah berdasarkan  etnis, suku dan agama, status sosial tidak akan tumbuh denagn subur tetapi akan terkikis habis. Ketika kita berjalan dengan siapapun tidak ada lagi kecurigaan dan tembok yang memisahkan karena aku menjadi sesama bagi mereka. Mari belajar dari ketaatan orang Samaria, yang bukan suku Yahudi tetapi menolong orang Yahudi. Membangun sikap menjadi sesama akan menghilangkan kecurigaan, sekat-sekat dalam masyarakat dan konflik horizontal karena kita telah menjadi sesama bagi semua orang tanpa batas apapun. Tidak ada batas agama, suku, dan status sosial. Kita adalah sesama. Itulah yang diajarkan Kristus dengan perumpamaan orang Samaria yang baik hati. Mari mulai hari ini berkata “Siapakah aku bagi sesama?”. Ketika kita melihat orang di sekitar kita, mari tetap bertanya “Siapakah aku bagi dia?”

Solideo Gloria!

Seri Perumpamaan 2014: Orang Kaya Yang Bodoh


Lukas 12:13-21

Danny Bukidz


Hari ini kita akan melanjutkan pembahasan tentang Perumpamaan Yesus. Saat ini kita membahas perumpamaan orang kaya yang bodoh. Melihat perumpamaan kita mungkin sering mendengarnya dan banyak yang dengan mudah melihat bahwa perumpamaan ini tentang kebodohan orang kaya yang menimbun hartanya. Tetapi sebelum menarik pesan aplikasi dari perumpamaan ini, saya mengulangi pembahasan MBA pertama tentang pentingnya kita melihat apa yang menjadi latar belakang dari perumpamaan ini.

Perumpamaan ini diawali ketika Yesus mengajar Orang banyak tentang hidup sebagai Murid. Ditengah Ia mengajar ada seseorang yang berkata tentang masalah warisan. Ia berkata agar saudaranya berbagi warisan dari orang tuanya. Ketika melihat ini kita harus melihat konteks dari orang Yahudi. Dalam Ulangan 21:17-18 dinyatakan masalah warisan diberikan kepada anak yang sulung dari Istri pertamanya. Ada kemungkinan bahwa orang muda ini bukanlah anak sulung, dan beberapa penafsir menyatakan bahwa Kemungkinan Ia mendapatkan warisan tetapi orang muda ini merasa kurang dibandingkan dengan abang sulungnya.

Ketika melihat yang menjadi responnya Yesus dalam hal ini pasti Yesus melihat suatu motif dari Orang muda ini. Ia melihat bahwa orang ini berada dalam suatu bahay ketamakan. Suatu gairah ingin mendapat lebih banyak dari Ia miliki dengan cara meminta Yesus bicara kepada saudaranya agar berbagi warisan kepada dia. Ia menginginkan lagi uang warisan dari orang tuanya. Motif anak muda bukan bicara tentang keadilan atau tentang mendengar pengajaran tentang kebenaran Firman Tuhan tentang warisan tetapi tujuan untuk memiliki harta lebih banyak dari warisan orang tuanya.

Watch Out

 Melalui percakapan di mana Yesus bisa membaca motivasi orang ini, Ia menegur orang muda ini dan juga mengingatkan kepada para murid-murid betapa bahayanya ketamakan. Ia menggunakan perintah postitif yaitu berjaga-jagalah dan waspada. Sebuah pernyataan suatu bahaya ketamakan bukan karena orang muda itu yang membutuhkan warisan tetapi setiap kita punya kerentanan untuk menjadi tamak. Perintah ini diberikan juga kepada para murid-murid yang merupakan kerentanan dari bahaya ketamakan. Sebuah perintah bukan cuma larangan tetapi suatu perintah untuk aktif melawannya.

Ketamakan 

Buku “Taking your Soul to Work”  bercerita tentang sembilan dosa maut di tempat kerja yang kita perlu waspada. Salah satunya dibahas tentang sikap Keserakahan atau ketamakan. Penulis buku ini mendefinisikan tentang arti ketamakan adalah sikap atau sifat yang mengobarkan gairah untuk memiliki lebih banyak dari yg anda miliki. Melihat definisi yang disampaikan bahwa ketamakan adalah sikap dan sifat yang mengobarkan gairah untuk memiliki. Keinginan yang berasal dari merasa kurang dan ingin lebih dari yang kita miliki merupakan suatu ketamakan. Pada bagian ini cukup menegur saya tentang bahaya ketamakan yang secara tidak langsung saya pun bisa terjebak dalamnya. Memang saya tidak memiliki uang, harta kekayaan tetapi kepemilikan akan sesuatu misalnya saya memiliki jumlah E-Book hampir sekitar 10.000 buku elektronik dan rekaman khotbah dan lecturer. Ketika memiliki hal itu masih merasa kurang dan ingin terus menambah kembali. Sewaktu persiapan bahan ini cukup menegur dengan keras bahwa hati-hati dan waspada akan bahaya ketamakan. Kita pun tidak imun dari situasi dan kondisi ini. Apalagi sebagai seorang alumni yang bekerja di dunia sekuler pasti banyak yang menggoda kita untuk memiliki lebih.

Zaman Kemakmuran 

Mungkin di zaman Yesus banyak hal yang belum ada tetapi peringatan ini menjadi penting. Apalagi kita yang hidup di zaman yang semua serba ada dan perlu. Contoh sederhana mungkin dahulu kebutuhan manusia hanya sandang, pangan dan papan, namun sekarang kita butuh lagi yaitu namanya pulsa. Penambahan kebutuhan hidup semakin tinggi dan kita memerlukan kemakmuran. Rasa kurang menjadi hal dibutuhkan, sehingga kita perlu lebih waspada dari bahaya ketamakan. Kita perlu solusi untuk mencegah sikap dan sifat ini.

Ilustrasi Tentang Ketamakan / Keserakahan 

Yesus memberikan suatu perumpamaan tentang ketamakan kepada para murid, orang muda dan banyak orang lain disana tentang seorang kaya yang memiliki lahan dan banyak hal. Ia punya hasil pertanian yang berlimpah-limpah. Ada yang menjadi masalah yaitu Ia hanya memikirkan tentang dirinya dan egois. Harapan yang digantung pada hasil pertaniaannya dan harta yang dimilikinya merupakan kebodohan yang luar biasa. Pada bagian ini saya mengambil makna ketamakan lebih dalam yaitu:

  1. Ke-akuan atau keegoisan si orang kaya di tekankan dalam 8x kata aku. Merupakan gambaran keakuan yang akan menonjol dalam sikap ketamakan. Kita menjadikan pusat dari segala sesuatu adalah aku bukan lagi Tuhan dan sesama. Ini menjadi refleksi bagi kita semua. Saya sering membicarakan kepada para mahasiswa masa sekarang ada suatu penyakit yang disebut “aku-isme” semua tentang aku. Punyaku, keluargaku, hobiku, hpku, studiku, dan semua diakhiri tentang aku. Bahaya keakuan bisa mempengaruhi kita. Suatu budaya yang saya banyak belajar yaitu pentingnya keluarga menjadi hal yang penting, tetapi ada masalah ketika itu hanya berbicara tentang keluargaku maka kita lupa bahwa mungkin ada keluarga-keluarga lain yang membutuhkan kasih dan pertolongan dari kita. Bukan saya bicara tidak penting melayani keluarga tetapi jangan berhenti sebatas keluargaku tetapi pikirkan keluarga-keluarga yang membutuhkan kasih kita. 
  2. Kerinduan akan Allah disalurkan ke arah benda-benda yang Allah ciptakan. Bagian ini meyatakan bahwa orang kaya ini lebih menyembah harta daripada Allah. Setiap manusia memiliki kerinduan akan Allah tetapi karena keberdosaan dan kejatuhan manusia mereka mencari Allah kepada benda-benda. Manusia dibutakan sehingga tidak menemukan Allah sesungguhnya. Kerinduaanya bukanlah Allah tetapi berkat-berkat Allah. 
  3. Tindakan pikiran dan cara hidup orang kaya ini dinilai sebagai kebodohan. Jika kita melihat pada Perjanjian lama bahwa kebodohan orang kaya ini bukan masalah IQ yang rendah, Lemot (Lemah otak), Lanang celup (Lambat nangkap, cepat lupa) atau idiot. Dalam Alkitab dinyatakan bahwa kebodohan orang kaya ini mengacu kepada pemberontakan kepada Allah. Mereka bodoh karena tidak mengenal Tuhan dan melawan Allah dengan cara menyembah berkat-berkat Allah. Ini merupakan kekejian bagi Allah. Ketamakan bukan hanya berbicara tentang sikap atau gairah ingin memiliki lebih tetapi ini menjadi suatu symbol atau penyataan bahwa kita melawan Allah. Kita tidak mempercayai Allah dan mengandalkan Allah dalam hidup kita. Sebuah pemberontakan akan pribadi yang berkuasa atas hidup kita. 

Tiga hal ini yang menjadi ilustrasi yang Yesus paparkan kepada para murid dan orang muda yang menginginkan warisan. Yesus melihat bahaya ketamakan membuat kita menjadi seseorang yang melawan Tuhan dan tidak mengandalkan Tuhan. Hal yang ingin dipuaskan adalah “aku” dan kepuasan itu di cari melalui harta, benda dan berkat-berkat Allah. Sikap ini bukan merupakan sikap seorang yang hidup dalam kerajaan Allah. Ia tidak merajakan Yesus sebagai Tuhan dalam hidupnya.

Hal yang bisa kita pelajari dan menjadi inti dari perumpamaan ini adalah bahwa setiap murid Kristus dipanggil untuk menghindari sikap mengumpulkan materi secara egois dan sikap menggunakannya secara tidak bertanggung jawab. Karena Allah akan menuntut pertanggungjawaban penggunaan materi setiap muridnya.

Penampakan keserakahan jangan kita pikir hanya belanja dan budaya konsumtif tetapi dalam bagian ini bisa jadi ketika menjadi hemat dan sangat pelit merupakan penampakan lain dari ketamakan dan keserakahan. Jadi hal yang kita lakukan untuk mencegah atau aktif melawan sifat / sikap ketamakan adalah dengan cara:

  1. Menganggap Belanja sebagai Disiplin Rohani
  2. Lawan panggilan si penggoda dlm iklan yang mudah mempengaruhi 
  3. Patahkan kuasa keserakahan dengan memberi 
  4. Mengembangkan suatu karakter yg lebih banyak memberi ketimbang mengambil (Kemurahan)

Dalam hal kemurahan kita mungkin akan berpikir masalah uang. Kita memberikan kepada orang yang kekurangan, mungkin hal ini tepat tetapi ketika melihat apa yang dipaparkan oleh Thomas Aquinas bahwa dimensi kemurahan atau bersedekah kita bisa lakukan ketika ada yang haus kita beri minum, orang lapar kita beri makanan, dan lain sebagainya.

Melalui interpretasi dari Paul Stevens ada dimensi memberi sedekah yang bisa kita renungkan dan pikirkan dalam dunia kerja kita gumulkan adalah bertujuan untuk melakukan kemurahan dan menangkal bahaya sikap ketamakan (lihat Tabel) Memang ada suatu sisi kelam dan eksploitatif pada semua bisnis modern yang dimuat dalam daftar diatas. Namun demikian, banyak kemurahan telah dikerjakan – dan dijalankan- melalui bisnis dan perusahaan-perusahaan manusia dalam abad kedua puluh satu.

Aquinas juga membahas tujuh perbuatan spiritual untuk memberi sedekah: mengajar yang bodoh, menasehati yang peragu, menghibur yang berduka, menegur yang berdosa, mengampuni cedera-cedera, sabar terhadap mereka yang menyusahkan dan menggangu kita dan berdoa bagi semuanya. Semua ini pembawaan batiniah yang bisa kita adopsi saat kita bekerja dan berelasi dengan kolega-kolega kita setiap hari.

Kita bukan hanya terhindar dari ketamakan tetapi punya kewajiban memerangi ketamakan melalui bekerja dengan visi kemurahan hati. Kita tidak menjadi alumni yang hanya bekerja tetapi alumni yang berbuat sesuatu bagi dunia melalui pekerjaan yang kita geluti.

Penutup 

Mengutip pernyataan Alexander Schmemann: Dosa utama Adam lebih dari sekedar mengunyah buah terlarang: “Dosanya adalah bahwa ia berhenti lapar akan Dia dan Dia saja, berhenti melihat seluruh hidupnya bergantung pada seluruh dunia sebagai suatu sakramen persekutuan dengan Allah. Hati-hati dengan ketamakan akan membuat kita tidak bergantung lagi kepada Allah tetapi membuat kita semakin bergantung pada harta dan benda.

Hal ini bukan berarti kita tidak boleh kaya, tetapi mengutip Tiga Dorongan dalam nasehat Wesley yaitu :
  1. Peroleh sebanyak mungkin 
  2. Tabung sebanyak mungkin 
  3. Beri sebanyak mungkin 
Di mana kita bisa melakukan sesuatu ingat kita tidak boleh melupakan untuk memberi sebanyak mungkin jangan pikir kuantitas tetapi kualitas dalam memberi merupakan sesuatu yang jauh lebih penting. Hiduplah dalam kemurahan hati sehingga kita akan melawan ketamakan.

TYM