Saturday, April 24, 2010

Seri Musa 3: The Man and His God

Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div

Hari ini kita akan membahas mengenai Musa dalam topik The Man and His God. Dalam bagian ini kita akan belajar tentang relasi antara Musa dengan Allah. Bagaimana Musa membangun hubungannya dengan Tuhan, bagaimana Musa meresponi panggilan Tuhan dan bagaimana Allah berbicara dan bersikap terhadap Musa di dalam kehidupannya dan kepemimpinannya di dalam pelayanannya.

Kita akan melihat hal ini di dalam kitab Keluaran dan kita hanya akan mengambil kutipan-kutipannya saja. Di dalam Keluaran 2:1-10 kita melihat bagaimana Musa dilahirkan dan dibesarkan di dalam lingkungan Istana Firaun tetapi tetap disusui oleh ibunya sendiri. Dibalik peristiwa kelahiran Musa, ada satu aturan dimana semua anak laki-laki dari bangsa Israel harus dikubur karena semakin berkembangnya populasi bangsa Israel ditanah Mesir [ Kel 1:22 "Lalu Firaun memberi perintah kepada seluruh rakyatnya: "Lemparkanlah segala anak laki-laki yang lahir bagi orang Ibrani ke dalam sungai Nil; tetapi segala anak perempuan biarkanlah hidup"]. Di dalam kondisi seperti itu, ada satu cara Allah yang diberikan kepada Musa untuk menyelamatkan anaknya tersebut. Apa yang kita lihat adalah bagaimana providensia Allah yang terjadi di dalam diri Musa. Providensia Allah yang pertama adalah sejak dia lahir, bagaimana dia di asuh dan diselamatkan serta dididik di Mesir sekitar 40 tahun.

Hidup Musa sebenarnya dibagi kedalam 3x 40 tahun. 40 tahun pertama adalah di Mesir, 40 tahun kedua adalah di Midian, dan 40 tahun ketiga adalah memimpin umat Allah – Israel. Jadi masa 40 tahun yang pertama itu, providensia Allah terus dinyatakan. Jadi kita melihat di dalam hal ini bagaimana Tuhan bekerja di dalam segala sesuatu yang dialami oleh Musa dan bagaimana providensia Allah nyata di dalam hidupnya. Jika kita merefleksikan di dalam hidup kita, apakah dalam satu situasi di dalam hidup kita, kita melihat Allah bekerja di dalamnya? Apakah itu di dalam kondisi yang sulit. Musa mengalami hal yang sulit di dalam hidupnya, dimana sebagai anak orang Ibrani, dia harus dibunuh. Apakah di dalam hidup yang sulit atau tantangan, kita masih melihat tangan Tuhan ada dan menyertai kita, bahwa Tuhan menyatakan pemeliharaanNya dan tuntunannya?

Setelah Musa diberikan kepada putri Firaun dan diangkat menjadi anaknya, maka Musa dididik di dalam ilmu pengetahuan dan budaya Mesir. Pada zaman itu, salah satu budaya/peradaban dan pendidikan yang besar adalah Mesir. Dan di dalam pendidikan ini, Musa diperlengkapi untuk satu panggilan Allah ke depan. Tentu saja masa ini adalah masa yang sulit bagi Musa karena dia adalah seorang Ibrani. Jika kita melihat hidup kita, apakah kita juga melihat dan menyadari bahwa apapun yang terjadi di dalam hidup kita, termasuk masa-masa yang sulit, Allah bekerja di dalamnya?

Kemudian, ketika Musa punya beban dan berbelas kasihan kepada orang Israel, dan ketika Musa melihat orang Mesir menindas orang Israel--tanpa membenarkan tindakan Musa--Musa sampai membunuh orang Mesir itu. Akhirnya Musa menjadi buronan dan melarikan diri di Midian. Di Midian Musa bertemu dengan Mertuanya dan dia menikah di sana dan akhirnya menjadi seorang gembala selama 40 tahun. Allah membentuk dia dengan caraNya sendiri sampai Musa menjadi siap mengembalakan umat Allah. Seringkali di Alkitab seorang gembala dipanggil Allah menjadi penggembala manusia. Misalnya Daud, Gideon, dll. Masa pembentukan bagi Musa selama 40 tahun kedua juga merupakan cara bagi Allah untuk memperlengkapi Musa untuk masuk di dalam mandat Allah dalam pelayanan ke depan. Di dalam satu kondisi seperti ini kita melihat bahwa Allah terlibat dan senantiasa menyertai Musa dan membentuk Musa. Ketika melihat bagaimana Tuhan membentuk Musa, kita juga bisa merefleksikan hal tersebut di dalam hidup kita, bagaimana Allah membentuk hidup kita melalui semua peristiwa dan melalui semua keadaan di dalam diri kita. Oleh sebab itu jangan terlalu cepat kecewa atau putus asa dan mengatakan menyerah. Tetapi mari kita melihat segala sesuatu dari kacamata rohani atau perspektif ilahi setiap hal yang terjadi di dalam hidup kita agar kita tetap bersyukur dan menatap penuh iman dan pengharapan kepada Allah [Rom 8:28-29, ”Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara].

Ketika sedang menggembalakan domba, Musa bertemu dengan Allah [Kel 3:2-6]. Lawatan Tuhan kepada Musa adalah sebuah titik balik akan panggilan Musa untuk kembali mencintai umat Tuhan – Israel. Tuhan membukakan bahwa erangan bangsa Israel sampai kepada Allah dan hal inilah dasar bagi Tuhan untuk memanggil Musa. Tuhan kembali membukakan beban yang pernah dimiliki Musa. Di pasal sebelumnya kita melihat Musa pernah menjadi buronan karena cintanya kepada orang Israel. Tuhan mengingatkan kembali pada Musa beban, misi, atau kasih yang pernah dia miliki untuk umat Tuhan. Apa yang dialami Musa memiliki durasi waktu yang sangat panjang. Setelah 40 tahun sangat mungkin Musa melupakan bebannya terhadap bangsa Israel. Mungkin dia akan merasakan nyaman dengan ternak yang dia miliki. Barangkali Musa juga lupa karena isteri dan anak-anaknya. Akhirnya Allah mengingatkan Musa kembali ketika Allah melawat Musa ketika menggembalakan domba. Memori-memori mengenai beban Musa terhadap bangsa Israel kembali diingatkan Tuhan kepada Musa dengan menyatakan bagaimana erangan dan teriakan bangsa Israel sampai kepada Allah dan bagaimana Musa dipanggil kembali untuk hal itu. Mari mereview hidup kita kembali. Sangat memungkinkan bahwa ada sekian tahun yang lewat dimana ada beban yang telah kita lupakan. Beban/hati/belas kasihan yang pernah kita miliki tetapi sekarang sudah pudar bahkan lupa oleh karena kita terlena dengan kenyamanan atau pergumulan hidup kita. Apakah kita pernah punya beban untuk pelayanan tertentu apakah sosial, pendidikan, atau apapun? Apakah kita telah lupa akan beban kita itu? Dalam kisah Musa, Allah kembali mengingatkan Musa akan bebannya melalui lawatannya bagi diri Musa. Dan setelah Allah membukakan beban itu kepada Musa, Tuhan memanggil dan mengutusnya untuk membebaskan umatNya. Tapi ada suatu konflik dalam pribadi Musa antara beban membebaskan umat Allah. Musa banyak membuat alasan atau dalih yang dibuat-buat karena mungkin dia tidak ingin meninggalkan comfort zone-nya. Di sini kita melihat bagaimana Musa berargumentasi dan berdialog dengan Allah melalui pergumulannya yang sebenarnya tidak masuk akal di hadapan Allah. Kita bisa melihat pada diri kita, apa kendala atau dalih kita sehingga kita tidak mau terlibat dalam misi yang Allah panggil bagi kita sehingga beban itu mulai pudar atau tidak tajam, apakah terlalu nyaman dengan diri kita, perkerjaan kita, atau panggilan itu terlalu berat? Atau mungkin beban itu tajam tapi kita berdalih dengan cara lain. Kita sudah melihat bagaimana argumentasi-argumentasi Musa dipatahkan oleh Allah. Sejak awal Musa disucikan Allah untuk mengerjakan sebuah mandat yang besar.

Ada masanya Musa mempertanyakan keabsahan panggilannya [Kel 5:22-23, ”Lalu Musa kembali menghadap TUHAN, katanya: "Tuhan, mengapakah Kauperlakukan umat ini begitu bengis? Mengapa pula aku yang Kauutus? Sebab sejak aku pergi menghadap Firaun untuk berbicara atas nama-Mu, dengan jahat diperlakukannya umat ini, dan Engkau tidak melepaskan umat-Mu sama sekali."]. Ini adalah fluktuasi kehidupan Musa dimana dia melihat umat itu malah semakin menderita ketika Musa meminta izin agar bangsa itu dibawa keluar dari Mesir dan ia sendiri ditolak. Hal ini pun mungkin sering kita tanyakan pada diri sendiri ketika melayani Tuhan. Kita melayani tapi kondisi semakin tidak baik atau malah tambah hancur, jalan untuk sebuah pelayanan misi sepertinya makin tertutup dll. Kita bergulat dengan panggilan ini juga sebagaimana dialami Musa. Kita seakan-akan ”menyalahkan” Tuhan atas pengutusanNya, seakan-akan Dia salah mengutus orang! Namun Dia tidak pernah salah, malah Tuhan kembali meneguhkan orang yang mau terus bertanya/bergumul. Setelah Musa melewati fase itu, Tuhan memberikan ”posisi yang tinggi” atau ”baik” kepada Musa [Kel 7:1-2, ”Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Lihat, Aku mengangkat engkau sebagai Allah bagi Firaun, dan Harun, abangmu, akan menjadi nabimu. Engkau harus mengatakan segala yang Kuperintahkan kepadamu, dan Harun, abangmu, harus berbicara kepada Firaun, supaya dibiarkannya orang Israel itu pergi dari negerinya".]. Dengan jelas kita melihat bahwa jika panggilan Allah jelas, IA akan menyertai, memperlengkapi, menolong dan memberikan sesuatu untuk mengerjakan mandat itu. Di sepanjang perjalanan hidup Musa, kita menyaksikan bagaimana ia mengalami sebuah fluktuasi hidup. Kadang ia menyesal, lalu Tuhan hiburkan dan berkali-kali demikian yanag terjadi. Namun kita perhatikan ada sebuah hal yang menarik bahwa Musa bergaul karib dengan Allah dalam kehidupannya. Di sisi lain, Tuhan juga memakai Musa untuk memperlengkapi umatNya dari segi kerohanian dengan memberikan Hukum Taurat kepada Musa. Dalam proses pembebasan ini, umat memberontak, bersungut-sungut, dan berkali-kali ingin kembali ke Mesir, bangsa ini marah kepada Musa sehingga Tuhan murka kepada bangsa ini karena kedegilan hatinya. Kita melihat bagaimana Musa melunakkan hati Allah, ia berdiri di antara umat dan Allah yang menunjukkan seorang pemimpin yang dekat dengan orang yang dipimpin dan dekat dengan Allah. Ia bergumul tentang umat Allah dan di sisi lain ia memohon kemurahan Allah. Musa melunakkan hati Allah dengan mengorbankan segala yang berarti dalam hidupnya. Bebannya semakin dalam, tajam sehingga ia mampu berkorban begitu besar bagi orang yang dilayaninya. Cinta Musa kepada Allah dan umat membuat Musa marah kepada Harun dan bangsa Israel karena mereka melanggar kekudusan Allah dengan menyembah berhala. Adakah cinta kita bertumbuh pada dua sisi: kepada Allah dan orang yang kita layani? Musa sangat membutuhkan pertolongan Allah sehingga Musa berkata tidak mau melangkah tanpa penyertaan Tuhan [Kel 33:15-17, ”Berkatalah Musa kepada-Nya: "Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini. Dari manakah gerangan akan diketahui, bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, yakni aku dengan umat-Mu ini? Bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami, sehingga kami, aku dengan umat-Mu ini, dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini?" Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapan-Ku dan Aku mengenal engkau."]. Musa semakin hari semakin dekat dan bergantung dengan Allah. Inilah Musa dengan Allahnya. Ia bergantung penuh dan mengandalkan Tuhan dan sampai dia berani berkata bahwa yang membedakan mereka (bangsa Israel) dengan yang lain adalah bahwa Tuhan menyertai diri mereka. Apa yang yang membedakan kita dengan orang lain? Sama-sama karyawan, guru, manager, atau pekerjaan yang lain. Kita harus berani mengatakan bahwa yang membedakan kita dengan orang lain sama dengan membedakan Musa beserta umat Allah dengan bangsa yang lain, hanya satu hal yaitu Allah menyertai kita. Apakah kita yakin bahwa Allah menyertai kita di tempat pekerjaan kita masing-masing? Dalam pasal 34:8-9 juga menyatakan bagaimana dia mengandalkan penyertaan Tuhan. Dikatakan disana, ”Segeralah Musa berlutut ke tanah, lalu sujud menyembah serta berkata: "Jika aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, ya Tuhan, berjalanlah kiranya Tuhan di tengah-tengah kami; sekalipun bangsa ini suatu bangsa yang tegar tengkuk, tetapi ampunilah kesalahan dan dosa kami; ambillah kami menjadi milik-Mu.” Mari melihat hal ini secara benar di dalam hidup kita. Apapun profesi kita, dimanapun pelayanan kita, yakini dan berani melangkah karena Tuhan yang menyertai kita. Itulah sebabnya pergumulan selalu terjadi di dalam diri kita. Apakah Tuhan menyertai pelayanan ini atau tidak.

Musa juga dekat dengan Allah. Hal ini terlihat dengan bagaimana dia ’melihat’ Allah (Kel 33:18-23). Musa sangat bergaul karib dengan Allah sampai dia bisa melihat Allah. Kembali Tuhan memberikan kesepuluh Firman Tuhan kepada Musa dan ini dipakai Allah sebagai alatnya untuk menyampaikan kebenaran-kebenarannya melalui Musa. Di dalam Bilangan 12:1-10, ketika Miryam dan Harun berencana untuk menjatuhkan dan mengata-ngatai Musa, dia dibela oleh Tuhan. Ketika itu Tuhan menampakkan dirinya dikemah pertemuan dan menyatakan pembelaannya terhadap Musa. Musa tidak meminta hal ini kepada Allah. Musa tulus kepada Allah. Tetapi Tuhanlah yang membela dia. Dan akhirnya Harun dan Miryam meminta Musa berdoa agar mereka diampuni dan mereka diampuni. Allah selalu membela hambanya. Mungkin di pekerjaan kita menjadi korban konspirasi, dan mau diintimidasi atai mau menjatuhkan kita, ingat kembali, Allah pasti membela dan berada dipihak kita, dan Allah pasti akan memberikan kemenangan bagi kita sama seperti Allah membela Musa. Mungkin di perjalanan hidup kita, Allah menjadi pembela di dalam pergumulan kita.

Dalam Ulangan 34:1-4, Musa tidak diizinkan Tuhan masuk ke tanah Kanaan. Ia dibawa Allah ke sebuah gunung dan Tuhan hanya diizinkan memandang tanah perjanjian dari puncak gunung itu. Hal ini disebabkan karena Allah murka ketika ada persoalan di Mara dan Meriba [band Bil 20:12-13, ”Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: "Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka." Itulah mata air Meriba, tempat orang Israel bertengkar dengan TUHAN dan Ia menunjukkan kekudusan-Nya di antara mereka."]. Tetapi apapun alasannya, antara Musa dengan Tuhannya, apakah Musa gagal? Tentu TIDAK. Artinya Musa memang dipanggil Allah untuk membebaskan umat Allah keluar dari tanah Mesir dan dituntaskan oleh ’anak buahnya’ yaitu Yosua. Musa berhasil memimpin umat Allah dan hanya tinggal menyebrangi sungai Yordan. Perjuangan Musa memang hanya Tuhan ijinkan sampai disitu, dan Musa adalah seorang pemimpin yang berhasil. Walaupun dia tidak sampai ketanah Kanaan, tetapi perjuangan Musa tidak sia-sia. Sama dengan perjuangan pahlawan yang tidak sampai menikmati hari kemerdekaan. Apakah perjuangan para pahlawan tersebut sia-sia? Tentu tidak. Tuhan juga memakai Musa dengan cara demikian. Pejuangan yang dilakukan oleh Musa sesuai dengan visi yang diberikan Tuhan kepada dirinya walaupun dia tidak diizinkan sampai ketanah Kanaan.

Apa yang kita perjuangkan sekarang belum tentu harus kita yang menikmati dan menyelesaikan sampai tuntas. Apa yang kita lakukan ketika memimpin kelompok merupakan secuil harapan, tetapi apakah merupakan akhir dan sia-sia? Tentu saja tidak. Karena hal ini adalah perjuangan untuk satu perubahan yang besar di depan dan Musa melakukan hal itu. Perjuangan yang tulus yang kita lakukan untuk Allah, ingat, semuanya tidak akan sia-sia dan Allah akan selalu memperghitungkannya mungkin kita tidak akan sampai akhir, tetapi benih yang kita tanam bisa dinikmati oleh banyak orang. Di sinilah Musa berada. Walau dia tidak diijinkan Allah memasuki tanah Kanaan, tetapi misi yang sesuai dengan panggilan Allah, dikerjakan Musa dengan baik. Apa yang Tuhan tanamkan atau panggil untuk kita kerjakan, mari kerjakan dengan tulus. Ada bagian kita dan ada yang menjadi bagian Allah. Do your best and God will do the rest. Tidak ada satu catatan pun di Alkitab yang mengatakan bahwa Musa mengeluh kepada Tuhan. Pergulatan musa dengan Allah mungkin juga menjadi pergulatan kita dengan Allah setiap hari soal panggilan, beban bahkan bagaiman kita berjuang semakin hari semakin dekat dengan Allah, dan bagaimana kita terus taat kepada Allah dan dipakai menjadi alatnya.

Solideo Gloria!






Seri Musa 2: The Heart Between Two Worlds

Indrawaty Sitepu, MA

Hari ini kita akan belajar mengenai Musa seri yang kedua: The Heart Between Two Worlds---bagaimana seorang Musa, sang pemimpin umat, mengabdikan hidupnya bagi Tuhan dan sesama. Ini adalah kesempatan yang berharga untuk kembali melihat tokoh ini, seorang nabi yang besar dan hebat. Kita akan melihat lebih detail secara khusus bagaimana dia menjalani pergumulan dan tantangan sebagai pemimpin umat di hadapan Tuhan dan dihadapan umat sendiri. Bagaiman dia bisa berdiri di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia.

Pada seri pertama kita melihat pemanggilan Musa. Begitu Musa bersedia memimpin bangsa Israel, kita bisa melihat apa yang terjadi kepada dirinya. Mari melihat Kel 5:1-14. Hal pertama yang dia hadapi adalah penolakan yang datang dari musuh, di mana Firaun dengan tegas mengatakan tidak mengenal Tuhan [ayat 2, ” Tetapi Firaun berkata: "Siapakah TUHAN itu yang harus kudengarkan firman-Nya untuk membiarkan orang Israel pergi? Tidak kenal aku TUHAN itu dan tidak juga aku akan membiarkan orang Israel pergi.”]. Bahkan Firaun menuduh Musa dan Harun sebagai pengacau para pekerja rodi yang malas [ayat 4, ”Tetapi raja Mesir berkata kepada mereka: "Musa dan Harun, mengapakah kamu bawa-bawa bangsa ini melalaikan pekerjaannya? Pergilah melakukan pekerjaanmu!"]. Kemudian hal ini mengakibatkan penindasan bagi bangsa Israel lebih kejam dan lebih berat lagi (7-14). Padahal Musa dipanggil ke Mesir untuk memimpin bangsa Israel keluar dari penderitaan, karena penderitaan mereka sudah dilihat Tuhan dan Tuhan akan melepaskan mereka. Tetapi kenapa justru mereka semakin menderita. Pasti menjadi sebuah pergumulan yang berat bagi Musa. Tidak hanya sampai disitu saja. Jika kita melihat ayat 15-21 kita melihat hal kedua yang terjadi pada Musa dimana ia disalahkan dan diumpat (aya 21, ”lalu mereka berkata kepada keduanya: "Kiranya TUHAN memperhatikan perbuatanmu dan menghukumkan kamu, karena kamu telah membusukkan nama kami kepada Firaun dan hamba-hambanya dan dengan demikian kamu telah memberikan pisau kepada mereka untuk membunuh kami."). Hati Musa pasti hancur mendengar semua itu. Dia ingin menyelamatkan/menolong umat itu. Tetapi yang terjadi justru umat itu semakin berat penderitaannya. Musa dipersalahkan dan dituduh oleh para mandor Israel sebagai penyebab bertambah beratnya kerja paksa mereka. Dia diumpat dan dikutuk.

Pergumulan Musa tidak hanya sampai disitu. Masih banyak rentetan-rentetan kedepan yang akan kita lihat. Di dalam Bill 11:11-15 kita melihat adanya keputusasaan dan depresi. Dalam bagian ini umat tidak memperdulikan perjuangan Musa. Mereka meminta daging kepada Musa. Hal yang sangat sepele. Mereka juga membenadingkan dengan kehidupan mereka di Mesir. Mereka juga mengomentari soal manna. Oleh sebab itu Musa menyatakan semuanya di ayat 11, ” Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: "Mengapa Kauperlakukan hamba-Mu ini dengan buruk dan mengapa aku tidak mendapat kasih karunia di mata-Mu, sehingga Engkau membebankan kepadaku tanggung jawab atas seluruh bangsa ini?” Bisa saja Musa tidak ambil pusing dengan semuanya itu. Tetapi dikarenakan karakternya, Musa tidak bisa. Ia tidak tega melihat umat itu menangis. Musa protes kepada Tuhan, dan minta lebih baik Tuhan membunuhnya. Pada bagian ini,di dalam ayat 16 dan seterusnya, kita melihat bagaimana Tuhan menyelesaikan masalah ini.

Mari kita melihat Bil 11:28-29, ” Maka menjawablah Yosua bin Nun, yang sejak mudanya menjadi abdi Musa: "Tuanku Musa, cegahlah mereka!" Tetapi Musa berkata kepadanya: "Apakah engkau begitu giat mendukung diriku? Ah, kalau seluruh umat TUHAN menjadi nabi, oleh karena TUHAN memberi Roh-Nya hinggap kepada mereka!” Bagian ini diawali dengan bagaimana Musa diperintahkan Tuhan untuk mengumpulkan 70 orang tua-tua di kemah dan Allah memberikan sebagian dari Roh yang hinggap pada mereka. Kemudian ada dua, Eldad dan Medad, orang tidak ikut kupul dikemah, tetapi Roh itu juga memenuhi mereka. Inilah yang ingin dicegah oleh Yosua. Kita melihat bagaimana Musa berhadapan dengan orang-orang yang iri hati dan merasa diri penting. Bagi seorang pemimpin ada godaan untuk iri hati dan bisa berlaku dengan memanfaatkan wewenangnya, tetapi Musa tidak melakukannya. Mari kembali melihat pergulatan hati Musa di dalam Bil 12:1-4, ” Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kush. Kata mereka: "Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?" Dan kedengaranlah hal itu kepada TUHAN. Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi. Lalu berfirmanlah TUHAN dengan tiba-tiba kepada Musa, Harun dan Miryam: "Keluarlah kamu bertiga ke Kemah Pertemuan." Maka keluarlah mereka bertiga.; 6-8, ”Lalu berfirmanlah Ia: "Dengarlah firman-Ku ini. Jika di antara kamu ada seorang nabi, maka Aku, TUHAN menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan, Aku berbicara dengan dia dalam mimpi. Bukan demikian hamba-Ku Musa, seorang yang setia dalam segenap rumah-Ku. Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan dengan teka-teki, dan ia memandang rupa TUHAN. Mengapakah kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa?"; 10-12, ”Dan ketika awan telah naik dari atas kemah, maka tampaklah Miryam kena kusta, putih seperti salju; ketika Harun berpaling kepada Miryam, maka dilihatnya, bahwa dia kena kusta! Lalu kata Harun kepada Musa: "Ah tuanku, janganlah kiranya timpakan kepada kami dosa ini, yang kami perbuat dalam kebodohan kami. Janganlah kiranya dibiarkan dia sebagai anak gugur, yang pada waktu keluar dari kandungan ibunya sudah setengah busuk dagingnya."; 13, ” Lalu berserulah Musa kepada TUHAN: "Ya Allah, sembuhkanlah kiranya dia.” Sewaktu Musa disalah mengerti, dikata-katai dan disalah pahami, apa yang dilakukannya adalah berdoa mohon ampun buat orang itu. Akhirnya Miryam dan Harun sembuh. Jika kita dikata-katai oleh orang lain, apa yang menjadi doa kita bagi orang itu? Musa adalah seorang yang lembut hatinya di atas muka bumi ini. Kelembutan hatinya tidak tergoyahkan oleh apa yang orang lakukan kepadanya. Walaupun dia disalah mengerti, dia tidak membalasnya, justru dia berdoa bagi mereka.

Dalam Bil14:4-10 kita melihat situasi ketika pengintai pulang. Dikatakan disana, ” Dan mereka berkata seorang kepada yang lain: "Baiklah kita mengangkat seorang pemimpin, lalu pulang ke Mesir." Lalu sujudlah Musa dan Harun di depan mata seluruh jemaah Israel yang berkumpul di situ. Tetapi Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune, yang termasuk orang-orang yang telah mengintai negeri itu, mengoyakkan pakaiannya, dan berkata kepada segenap umat Israel: "Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya. Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka." Lalu segenap umat itu mengancam hendak melontari kedua orang itu dengan batu. Tetapi tampaklah kemuliaan TUHAN di Kemah Pertemuan kepada semua orang Israel.. Yosua dan Kaleb menjadi penentang yang lain yang tidak yakin bisa merebut Kanaan. Lalu segenap umat berencana melempar keduanya dengan batu, lalu tampaklah kemuliaan Tuhan. Apa yang disusun oleh Musa untuk mengirim pengintai ke sana, dan untuk meudian menyusun strategi untuk merebut Kanaan, ditentang habis oleh umat, bahkan umat hendak melempari. Dengan kata lain, umat pada waktu ini bukan hanya bersungut-sungut tetapi juga menolak kepemimpinan Musa. Tidak mudah bagi seorang pemimpin yang telah mempertaruhkan hidupnya dan siap mati bagi mereka ditolak oleh umat. Untuk itu pun Musa tidak Mundur.

Mari melihat Bil 14:11-14, ” TUHAN berfirman kepada Musa: "Berapa lama lagi bangsa ini menista Aku, dan berapa lama lagi mereka tidak mau percaya kepada-Ku, sekalipun sudah ada segala tanda mujizat yang Kulakukan di tengah-tengah mereka! Aku akan memukul mereka dengan penyakit sampar dan melenyapkan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang lebih besar dan lebih kuat dari pada mereka." Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: "Jikalau hal itu kedengaran kepada orang Mesir, padahal Engkau telah menuntun bangsa ini dengan kekuatan-Mu dari tengah-tengah mereka, mereka akan berceritera kepada penduduk negeri ini, yang telah mendengar bahwa Engkau, TUHAN, ada di tengah-tengah bangsa ini, dan bahwa Engkau, TUHAN, menampakkan diri-Mu kepada mereka dengan berhadapan muka, waktu awan-Mu berdiri di atas mereka dan waktu Engkau berjalan mendahului mereka di dalam tiang awan pada waktu siang dan di dalam tiang api pada waktu malam. Seandainya kalimat ini datang kepada kita, apa respon kita. Musa berada di dalam posisi yang sulit. Umat mengabaikan dan menolak dirinya. Justru pada kondisi seperti itu Tuhan memberikan tawaran yang ’menarik’ kepada Musa. Tetapi Musa menolaknya dengan mengingatkan Tuhan akan janjinya kepada bangsa Israel. Ayat 15 dan 16 mengambarkan dengan jelas alasan Musa. Dikatakan disana, ” Jadi jikalau Engkau membunuh bangsa ini sampai habis, maka bangsa-bangsa yang mendengar kabar tentang Engkau itu nanti berkata: Oleh karena TUHAN tidak berkuasa membawa bangsa ini masuk ke negeri yang dijanjikan-Nya dengan bersumpah kepada mereka, maka Ia menyembelih mereka di padang gurun.” Ayat 19 juga dikatakan,” Ampunilah kiranya kesalahan bangsa ini sesuai dengan kebesaran kasih setia-Mu, seperti Engkau telah mengampuni bangsa ini mulai dari Mesir sampai ke mari."” Musa berdiri memohon ampun untuk ketegaran tengkuk bangsa Israel, yang menolak dirinya, agar mereka tidak dimusnahkan, bahkan ’mengingatkan’ Tuhan akan kasih karunia maupun karakter Tuhan. Heart between two worlds---hati yang sedemikian bergulat antara hati Tuhan dan permintaan umat. Akhirnya permohonan Musa didengarkan oleh Tuhan (ayat 20, ” Berfirmanlah TUHAN: "Aku mengampuninya sesuai dengan permintaanmu.) dan perjalanan pun dilanjutkan.

Perjalanan dilanjutkan bukan berarti segala sesuatunya berjalan dengan baik. Umat yang dibela mati-matian oleh Musa dihadapan Tuhan langsung berterimakasih kepada Musa. Bagian berikutnya adalah sesuatu yang menggenaskan. Mari melihat Bil 20:1-12. Peristiwa demi peristiwa, penolakan demi penolakan, sakit hati demi sakit hati, tintutan demi tuntutan, telah Musa lalui. Tetapi pada bagian ini, Musa menuai buah pahit dari kemarahannya. Ada lima tingkat kemarahan: 1) Kejengkelan yang ringan, 2) Kedongkolan, 3) Kegusaran, 4) Kegeraman, dan 5) Kemurkaan yang luar biasa. Jadi sangat mungkin, Musa berada pada tingkat kemurkaan yang luar biasa. Pada waktu ini mereka mengerumuni Musa minta air dan bertengkarlah bangsa Israel dengan Musa. Penolakan yang berulang terus pada Musa membuat ia kehilangan kesabaran dan menjadi murka bagi bangsa Israel. Dan hasilnya sangat menggenaskan. Ayat 12 mengatakan, ” Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: "Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka." Hati-hati dengan kemarahan. Musa yang adalah orang yang sangat lembut hantinya akhirnya marah dan akibatnya fatal.

Ada tiga poin yang bisa kita pelajari dari buah pahit kemarahan Musa.

1. Tindakan ketidaktaatan Musa berasal dari ketidak percayaan (12).

Tuhan tidak menyuruh Musa memarahi umat dan memukul batu, tetapi Musa marah dan memukul batu itu untuk mengeluarkan air (8, ” "Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya." ). Tetapi Musa melakukan berbeda (10-11, ” Ketika Musa dan Harun telah mengumpulkan jemaah itu di depan bukit batu itu, berkatalah ia kepada mereka: "Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?" Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum.) Sering sekali jika kita tidak melakukan apa yang Tuhan katakan karena kita kurang percaya kepadaNya. Kita melakukan apa yang kita mau dan rancang karena kita kurang percaya kepada Tuhan.

2. Musa tidak meghormati kekudusan Allah.

Dengan melanggar apa yang Alah perintahkan, Musa tidak menghormati kekudusan Tuhan.

3. Walau diampuni konsekuensinya pasti ada.

Konsekuensinya adalah dia tidak bisa masuk ke tanah Kanaan. Sangat tragis. Sebuah perjalanan panjang, perjuangan yang sedemikian berat harus diakhiri dengan konsekuensi seperti ini. Di dalam Keluaran Musa meminta untuk pengampunan ini, tetapi Tuhan tidak mengijinkannya memasuki tanah Kanaan.

Apa refleksi semua ini untuk hidup kita.

• Pergumulan dan tantangan yang mana yang saudara hadapi dalam menjalani panggilan Tuhan selama ini? Apakah pergumulan disalahmengerti, sakit hati, putus asa, tertolak, depressi,.....?

• Bagaimana selama ini saudara menghadapinya?

• Apakah ada kemarahan yang saudara simpan?

Ingat Bil 20:12, sebagai sebuah peringatan bagi kita ! Allah kita adalah Allah yang punya standart akankekudusan. Sangat mungkin dunia ini membuat kita menurunkan standar kekudusan Allah, teapi Allah tidak pernah menurunkan standatnya. Standart yang ada pada Musa, itu juga yang menjadi standart bagi kita. Mungkin kita jauh dari Musa melihat kasih kepada jemaat, tetapi dari segi kemarahan dan tidak menghormati kekudusan Allah, sangat mungkin kita sama dengan Musa.

Solideo Gloria!

Seri Musa 1: The Making of The Leader

Indrawaty Sitepu

Hari ini kita akan belajar tentang Musa. Kisah Musa dapat kita temukan dari Keluaran pasal 2-4. Tetapi kita akan membaca cuplikan-cuplikan dari ayat Alkitab yang menceritakan tentang Musa. Cuplikan ayat ini akan memungkinkan kita untuk menarik benang merah dari tokoh Musa. Sebelum kita belajar tokoh Musa, kita akan lebih dahulu melihat era sebelum pemanggilan Musa. Apa sebenarnya yang terjadi?

Mari melihat Kej 15:13-14, ”Firman TUHAN kepada Abram: "Ketahuilah dengan sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya. Tetapi bangsa yang akan memperbudak mereka, akan Kuhukum, dan sesudah itu mereka akan keluar dengan membawa harta benda yang banyak.” Bagian ini menceritakan bahwa ada nubuatan dan janji yang tetap berlaku (antara Allah dan Abraham). Perjanjian ini bukan hanya kepada Abraham, tetapi juga kepada Yakub. Mari melihat Kej 46:3-4, ”Lalu firman-Nya: "Akulah Allah, Allah ayahmu, janganlah takut pergi ke Mesir, sebab Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar di sana. Aku sendiri akan menyertai engkau pergi ke Mesir dan tentulah Aku juga akan membawa engkau kembali; dan tangan Yusuflah yang akan mengatupkan kelopak matamu nanti." Kemudian, mari melihat Kel 1:10, 15, 16, 22, ” 10Marilah kita bertindak dengan bijaksana terhadap mereka, supaya mereka jangan bertambah banyak lagi dan - jika terjadi peperangan - jangan bersekutu nanti dengan musuh kita dan memerangi kita, lalu pergi dari negeri ini." ... 15Raja Mesir juga memerintahkan kepada bidan-bidan yang menolong perempuan Ibrani, seorang bernama Sifra dan yang lain bernama Pua, katanya: ...16"Apabila kamu menolong perempuan Ibrani pada waktu bersalin, kamu harus memperhatikan waktu anak itu lahir: jika anak laki-laki, kamu harus membunuhnya, tetapi jika anak perempuan, bolehlah ia hidup."... 22Lalu Firaun memberi perintah kepada seluruh rakyatnya: "Lemparkanlah segala anak laki-laki yang lahir bagi orang Ibrani ke dalam sungai Nil; tetapi segala anak perempuan biarkanlah hidup." Bagian ini menceritakan bagaimana Firaun menjadi gelisah karena bangsa Israel sudah semakin banyak di Mesir, sampai akhirnya mereka membunuh smeua anak laki-laki. Mari juga melihat Kel 2: 1, 2, 11, 15, ” 1Seorang laki-laki dari keluarga Lewi kawin dengan seorang perempuan Lewi; 2lalu mengandunglah ia dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika dilihatnya, bahwa anak itu cantik, disembunyikannya tiga bulan lamanya…. 11Pada waktu itu, ketika Musa telah dewasa, ia keluar mendapatkan saudara-saudaranya untuk melihat kerja paksa mereka; lalu dilihatnyalah seorang Mesir memukul seorang Ibrani, seorang dari saudara-saudaranya itu….15Ketika Firaun mendengar tentang perkara itu, dicarinya ikhtiar untuk membunuh Musa. Tetapi Musa melarikan diri dari hadapan Firaun dan tiba di tanah Midian, lalu ia duduk-duduk di tepi sebuah sumur.” Kemudian Kel 2:23-25, ”Lama sesudah itu matilah raja Mesir. Tetapi orang Israel masih mengeluh karena perbudakan, dan mereka berseru-seru, sehingga teriak mereka minta tolong karena perbudakan itu sampai kepada Allah. Allah mendengar mereka mengerang, lalu Ia mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub. Maka Allah melihat orang Israel itu, dan Allah memperhatikan mereka.” Dan bagian terakhir mari melihat Kel 3:1-12. Kisah ini meceritakan bagaimana Musa yang berada dipadang gurun berjumpa dan berbicara dengan Allah melalui semak belukar yang dipenuhi api tetapi tidak terbakar [Kel 3: 1-4, ”Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb. Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api. Musa berkata: "Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?" Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: "Musa, Musa!" dan ia menjawab: "Ya, Allah."]

Dalam proses pemanggilan Musa, kita melihat bahwa Allahlah yang berinisiatif, berbelaskasihan dan bertindak. Kita akan melihat bagaimana Allah melakukan pemanggilannya ke Musa. Dalam Kel 2 dan 3, kita melihat bagaimana Allah melihat dan memperhatikan kesengsaraan umat Israel. Umat Israelpun berseru kepada Allah dan Allah mengingat perjanjiannya kepada Abraham dan kepada Yakub. Kita juga melihat keunikan sejarah hidup Musa. Hidup Musa tidak sama dengan yang lain. Keberadaan Musa di dalam kandungan bukanlah pada waktu yang tepat karena akan ada pembunuhan bagi bayi laki-laki. Tetapi keluarganya berupaya demikian rupa untuk menjaga Musa dan akhirnya dia menjadi anak angkat putri Firaun dan inang pengasuhnya adalah ibunya sendiri. Dan di dalam Kel 3, kita melihat bagaimana Allah secara pribadi menjumpai Musa. Kita melihat bagaimana Allah menyatakan otoritas, karakter dan eksistensiNya. Dari berbagai ayat yang kita baca, kita bisa menarik satu poin, bahwa Allah menyatakan beban, visi, dan kehendak, dan hatiNya bagi umatNya.

Dalam bagian Kel 3 tadi kita melihat Allah mengutus. Tentu saja ada prosesnya. Jika kita lihat kehidupan Musa, dia tidak serta merta dipanggil oleh Allah. Secara pendidikan Musa sangat hebat karena 40 tahun dididik dengan pendidikan Istana. Tetapi Allah tidak memanggil dia pada saat ini. Tetapi Allah justru melakukan proses sedemikian rupa sampai Musa membutuhkan 40 tahun yang kedua sampai dia benar-benar siap diutus oleh Allah untuk membebaskan bangsa Israel dari Mesir. Di padang gurun Allah memberi perintah kepada Musa, menyatakan pengutusanNya, memberikan tugas dengan jelas dan menyatakan penyertaanNya. DL Moody menyatakan bahwa di 40 tahun pertama Musa menganggap dirinya sangat penting (I’m Something), tetapi pada 40 tahun kedua, ketika dia berada di padang gurun dia Musa menganggap dirinya tidak ada (I’m Nothing), dan pada 40 tahun ketiga, ketika dia memimpin bangsa Israel, dia berkata Bahwa Tuhanlah segalanya (God Is Everything). Bukan hanya hal itu saja, tetapi Allah juga memperlengkapi Musa dengan kuasa dan muzijat-muzijatNya. Lalu Allah juga menyatakan cara/strategi dalam mengerjakan tugas tersebut. Allah juga menyatakan hasil akhir/goalNya lalu resiko tugas tersebut dan Allah meneguhkan Musa dengan berbagai cara.
Ada yang menarik dalam proses pemanggilan Musa. Allah berotoritas memutuskan. Jika dipikir-pikir, mengapa harus Musa - yang tidak pintar bicara - yang Allah utus bukannya Harun - yang pintar bicara? Hal ini menunjukkan bahwa Allah berotoritas dalam seluruh keberadaanNya termasuk pada saat Ia memilih Musa dan dalam seluruh keberadaan Musa, ia dipilih dan dipanggil oleh Allah. Sangat menonjol bagaimana Allah berinisiatif, berbelaskasihan, dan bertindak untuk proses pemanggilan Musa.

Mari melihat respon Musa terhadap panggilan Allah tersebut dimana hal ini juga yang menjadi gambaran kita. Mari melihat dari Kel 3:11-4:17. Pada bagian ini Musa mengajukan keberatan-keberatannya dan dalih-dalihnya. Keberatan Musa yang pertama adalah dia berdalih dengan ketidak percayaan dirinya (ay 11, ” Tetapi Musa berkata kepada Allah: "Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?"). Keberatan yang kedua, Musa berdalih dengan ketidak mampuan menjelaskan karakter dan tindakan nyata Allah dalam situasi umat Israel yang tertindas (ay 13, ” Lalu Musa berkata kepada Allah: "Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? --apakah yang harus kujawab kepada mereka?"). Keberatan yang ketiga adalah Musa berdalih dengan kemampuan respon ketidak percayaan umat Israel kepadanya [4:1, ” Lalu sahut Musa: "Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?"]. Keberatan ke empat adalah Musa berdalih dengan ketidak mampuannya berhadapan/berbicara dengan umat Israel dan Firaun [4:10, ”Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah."]. Keberatan kelima Musa berdalih agar Tuhan mengutus orang lain saja [4:13, ” Tetapi Musa berkata: "Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus."]. Musa banyak mengajukan keberatan-keberatannya untuk menolak pengutusannya. Tetapi setelah murka Allah bangkit terhadap dirinya, ia menerima tugas tersebut (4:14-31).

Apa yang dapat kita pelajari dari Musa? Di luar dari semua dalih-dalihnya, ada satu sikap yang menarik dari Musa yang terlihat sejak awal. Dalam Kel 2:11-15 ada peristiwa Musa membunuh seorang Mesir karena menganiaya orang Israel [ay 11 dan 12, ” Pada waktu itu, ketika Musa telah dewasa, ia keluar mendapatkan saudara-saudaranya untuk melihat kerja paksa mereka; lalu dilihatnyalah seorang Mesir memukul seorang Ibrani, seorang dari saudara-saudaranya itu. Ia menoleh ke sana sini dan ketika dilihatnya tidak ada orang, dibunuhnya orang Mesir itu, dan disembunyikannya mayatnya dalam pasir.] Dengan kata lain, Musa yang didik dengan pendidikan Istana, melakukan pembunuhan. Hal ini disebabkan karena ketidaktahanannya melihat penderitaan bangsanya sementara dia hidup dengan nyaman di lingkungan istana. Tentu saja yang kita teladani bukan soal membunuhnya, tetapi kepedulian (concern) pada ada yang sekelilingnya. Dia tidak puas dan tidak tahan melihat bangsanya menderita. Bill Hybes menggunakan sebuah istilah Holy Discontenment yang diterjemahkan dengan ketidakpuasan yang suci yaitu ketidak puasan Tuhan. Dan kita perlu memiliki hal ini, Holy Discontenment. Banyak sekali karya-karya besar terjadi di dunia ini lahir karena ketidakpuasan/ketidak tahanan. Hal inilah yang menyebabkan Musa membunuh dan lari ke luar dari Mesir (tentu saja pembunuhan yang dilakukan Musa tidak bisa dibenarkan). Kemudian di gurun Allah membentuk dia selama 40 tahun lagi. Demikian juga dengan DR Bob Pierce pendiri World Vision. Dia mendirikan World Vision adalah karena dia tidak tahan melihat anak-anak korban perang harus mengantri untuk mendapatkan makanan. Karena antrian tersebut sangat panjang, tidak jarang ada anak yang meninggal selama mengantri. Dia kemudian kembali ke Amerika dan mengumpulkan orang-orang kaya dan lahirlah World Vision (kurang lebih 50 tahun yang lalu). Begitu juga dengan Marthin Luther King, Jr. Selalu saja dia melihat ada tulisan white only di tempat-tempat umum termasuk pendidikan yang bagus hanya untuk white only. Dia tidak tahan dan tidak puas dengan keadaan itu. Dia memperjuangkan persamaan ras. Walaupun akhirnya dia ditembak dan mati, tetapi perjuangannya berhasil. Demikian juga dengan Mother Theresia. Di Calcuta dia selalu melihat manusia yang diperlakukan seperti tidak manusia. Dia pernah berkata: ”Kalau anda tidak menginginkan bayi itu, berikan kepada saya.” Dia juga pernah mengatakan hal yang sangat menyentuh: ”Saya akan berjuang. Saya tidak tahan dengan keadaan ini. Walaupun mereka tidak dapat untuk hidup layak sebagai manusia, paling tidak saya akan berjuang mereka bisa mati sebagai seorang manusia.” Di Calcuta, orang mati bisa saja dibiarkan di tempat sampah. Mother Theresia tidak puas dengan keadaan itu. Inilah yang disebut dengan Holy Discontenment. Mari kita memiliki Holy Discontenment. Tidak puas dengan keadaan bangsa ini. Ketidak puasan terhadap apa yang ada disekeliling kita, sehingga kita berjuang untuk memberikan karya-karya yang terbaik, tidak menyerah atau berpikir bahwa kita tidak dapat berbuat apa-apa lagi.

Akhirnya Musa bersedia diutus ke Mesir. Walaupun banyak sekali dalihnya, dia menyerah kepada kedaulatan Tuhan karena sesungguhnya dia juga punya hati yang tidak tahan dari awalnya. Dia lalu meminta ijin kepada mertuanya, Yitro [4:18, ”Lalu Musa kembali kepada mertuanya Yitro serta berkata kepadanya: "Izinkanlah kiranya aku kembali kepada saudara-saudaraku, yang ada di Mesir, untuk melihat apakah mereka masih hidup." Yitro berkata kepada Musa: "Pergilah dengan selamat.”]. Kita melihat dan belajar bagaimana Musa mempercayai Allah di tengah banyaknya tantangan dan keterbatasan dalam menunaikan tugas panggilan.

Dalam zaman ke zaman, Tuhan memakai setiap sarana dalam hidup orang pilihan-Nya sebagai benang merah dari proses persiapan tugas kepemimpinannya. Pemimpin lahir dari sarana kondisi yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, penderitaan,visi-panggilan, pendidikan dll. Dan kita sebagai alumni bertanggung jawab untuk ratusan juta penduduk Indonesia. Kita berhutang untuk bangsa ini. Kita tidak boleh hanya diam saja, tetapi kita harus memelihara ketidakpuasan yang kudus-ketidakpuasan hati Tuhan-dalam hidup kita.
Mari kita reflesikan poin-poin dibawah ini?

• Situasi apa disekitar saudara yang membuat saudara ”tidak puas/tidak tahan”– holy discontentment. Mungkin dikantor atau di tengah masyarakat.

• Apakah di lingkungan saudara membutuhkan pemimpin untuk mengubah keadaan tersebut? Mungkin Tuhan sedang menyatakan hal itu kepada kiat, dan kita seharusnya memberi diri.

• Apa respon Anda terhadap hal yang demikian? Apakah kita menganggap hal itu hanya angin lalu atau bukan merupakan tanggung jawab kita? Menyerahkan kepada orang lain atau menyadari bahwa hal itu seharusnya adalah tugas kita.

• Kapan atau dalam kondisi seperti apa saudara merasa tidak mampu (berdalih) untuk mengerjakan suatu tugas yang Allah kehendaki untuk Anda lakukan?

• Bagaimana Allah menjawab sikap saudara tersebut?

Tidak secara kebetulan kita berada ditempat kita bekerja, di keluarga kita, di masyarakat atau di pelayanan kita. Mari melihat holy discontenment di tempat dimana Allah menempatkan kita. Sama seperti Musa, Bob Pierce, Marthin Luther King, Jr, Mother Theresia, ketidakpuasan itu membuat kita melakukan sesuatu, suatu karya yang terbaik. Yang kita hadirkan ditengah-tengah dimana kita berada.
Solideo Gloria!

Tuesday, February 9, 2010

Knowing God 4: The Silence of God

Denni B. Saragih, M. Div


Hari ini kita akan membahas mengenai karakter Allah yaitu The Silence God. Ada sebuah peristiwa dimana seseorang kena jambret ketika pulang bekerja. Pada saat peristiwa ini, ada beberapa orang yang sedang di kedai kopi dan melihat peristiwa ini berlangsung. Peristiwa penjambretan ini tidak sesaat, tetapi ada moment dimana korban dan si jambret tarik menarik yang akhirnya dimenangkan oleh jambret. Tetapi orang di kedai kopi tersebut tidak bernuat apa-apa. ini adalah sebuah peristiwa dimana diamnya orang-orang di kedai kopi adalah sesuatu yang menyakitkan dari kacamata korban dan meninggalkan pertanyaan ”Mengapa mereka tidak membantu?’.

Peristiwa lain, dimana banyak orang Indonesia berobat ke luar negeri ketika mereka sakit. Tetapi di sana mereka tidak diberi obat. Bandingkan dengan pengobatan di Indonesia, dimana seorang pasien diberi dengan berbagai macam obat. Bahkan menurut kedokteran di sana, yang paling baik dalam menangani pasien adalah diam (tidak memberi obat). Diam itu memberi efek terapi dan menyembuhkan. Walaupun tidak cepat tetapi menyembuhkan.

Dari dua peritiwa ini kita melihat dua wajah dari diam yaitu menyakitkan dan menyembuhkan. Demikian juga ketika Allah diam, ini adalah sebuah peristiwa yang menyakitkan, yang membuat kita berseru-seru kepada Tuhan. Tetapi kediaman Allah ini juga bisa menjadi sesuatu yang menyembuhkan.

Apa yang dimaksud denagn kediaman Allah? Kediaman Allah bukan berarti Allah tidak bertindak. Tetapi Allah bertindak dengan memilih untuk diam. Allah kadang kala memilih untuk bertindak dengan cara berdiam, baik untuk sementara, jangka waktu tertentu ataupun sampai dengan hari penghakiman berdasarkan kasih, hikmat dan rencanaNya yang mulia.

Mari melihat enam sisi dari kediaman Allah.

1. Kediaman Allah dan pertumbuhan kita.

Allah terkadang diam karena mempertimbangkan kebutuhan kita. Di dalam Rom 8:28-29 dikatakan: ”28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. 29 Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Allah selalu bekerja. Dikatakan bahwa Allah turut bekerja dan Allah sering berkerja dengan tidak cara tidak melakukan apa-apa. Tujuan Allah bukan untuk menyelesaikan masalah kita. Tetapi tujuan Allah adalah mengubahkan anak-anakNya menjadi serupa dengan Kristus. Karena itu dalam penderitaan, pergumulan dan masalah kadang kala Allah memilih untuk membiarkan persoalan itu membentuk kita. Seperti kata pepatah mengatakan ’No Criciss, No Growth’. Jadi, ketika kita di dalam pergumulan, jangan pernah meminta agar Allah menjauhkan cawan pergumulan tersebut dari hadapan kita. Tetapi berdoa agar cawan pergumulan tersebut membuat kita semakin meyerupai Tuhan Yesus dan bahkan kita mengijinkan penderitaan itu terjadi maksimal asal penderitaan atau pergumulan tersebut membuat kita semakin serupa dengan Yesus.

Ada sebuah ilustrasi yang menggambarkan hal ini yaitu ilustrasi mengenai burung rajawali dengan anak-anaknya. Sarang burung rajawali terletak di atas tebing yang terjal dan memiliki beberapa lapisan. Lapisan yang paling luar terdiri dari ranting-ranting kayu yang kasar. Kemudian diikuti dengan lapisan duri-duri. Lapisan ketiga adalah rerumputan dan yang terakhir adalah dedaunan. Ketika baru menetas dari telur anak rajawali berada di atas dedaunan yang lebut. Ketika semakin besar, sang induk membuang lapisan dan tinggallah lapisan rerumputan. Setelah semakin besar, lapisan rumput ini dibuang sehingga si anak tinggal dalam sarang dengan lapisan duri. Seiring dengan perkembangan si anak, sang induk membuang lapisan duri dan tinggallah ranting yang kasar. Kemudian satelah semakin besar, sang indiuk akan melemparkan anaknya ke luar sarang untuk belajar terbang. Jika si anak belum bisa terbang dan terjun bebas menuju tanah, sang induk akan terbang dan menangkap anaknya dan demikan terus sampai si anak sudah bisa terbang.

Demikian juga Tuhan dalam mendidik kita. Tahap demi tahap sampai kita bisa mengembangkan dan mengepakkan sayap dan membangun otot-otot kita dan terbang mengangkasa.

2. Kediaman Allah dan waktu Allah.

Dalam Mat 7:11 dikatakan, ”Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.". Dan Pengk 3:1 berkata, ”Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.”

Ada seorang alumni yang sangat atraktif dan mengenal banyak wanita yang cantik. Kemudian ia berkenalan dengan seorang wanita yang biasa-biasa saja yang kelak menjadi isterinya. Suatu waktu dia mengalami krisis dan dalam krisis ini dia banyak didukung wanita ini. Setelah krisis selesai, ia kemudian marah kepada Tuhan dan berkata: ”Mengapa baru aku baru Engkau pertemukan dengan pacar seperti ini?” Alumni ini akhirnya merasakan bagaimana wanita ini menjadi penolong yang sepadan dengan dirinya.
Allah sering melakukan hal yang demikian, dimana ketika waktunya tiba, kita baru merasakan setiap hal yang telah Allah lakukan dalam kehidupan kita.

Ibarat minyak goreng, ada satu masa, saat minyak tersebut betul-betul panas, baru kita memasukkan makanan yang ingin kita goreng. Jika belum panas besar, maka hasil gorengan tidak maksimal. Ibarat ketika kita membuat sebuah kue maka ada tahapan-tahapan yang berurutan dalam membuat kue. Demikian juga ada tahapan-tahapan di dalam kehidupan kita. Pertanyaannya adalah berada di tahap mana sekarang?

3. Kediaman Allah dan Kesabaran Allah.

Dalam 2 Pet 3:9 dikatakan: ”Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.”

Sering kita memiliki pemikiran agar semua orang jahat langsung dimusnahkan saja. Ketika dia melakukan kejahatan, Allah langsung mengambil nyawanya. Demikian juga bagi mereka yang membakar gereja. Mereka musnah oleh karena terbakar api mereka sendiri. Jika hal ini terjadi, maka dunia pasti aman.

Tetapi Allah tidak melakukan hal yang demikian. Ia sering menunjukkan kesabaranNya. Jika Allah tidak sabar dalam kediamanNya maka tidak ada Yusuf Roni. Ia adalah seorang yang pernah membakar gereja. Setelah gereja tersebut terbakar, ia datang untuk melihat hasil pekerjaannya. Kemudian ia melihat ada meja yang tidak terbakar dimana ada Alkitab. Dari bacaan inilah akhirnya ia bertobat. Sejak dahulu Allah selalu bersabar dalam kediamanNya. Mari melihat Paulus. Seorang penganiaya jemaat Yesus untuk menyenangkan hati Tuhan akhirnya menjadi pembela Kristus sampai akhir hidupnya.

4. Kediaman Allah dan murka Allah.

Allah juga bisa diam karena terlalu marah. Dalam Rom 1:18 dikatakan: ”Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman.” Dengan jelas dikatakan bahwa Allah marah dengan kefasikan manusia khususnya di kota Roma. Pada saat itu kebenaran ditindas, orang yang rendah hati ditertawakan dan diejek, dan orang benar dianggap salah. Intinya adalah orang Roma semakin jahat. Oleh karena inilah Allah menghukum mereka dan murka Allah itu nyata. Tetapi murka Allah ini bukan seperti ketika Allah menunjukkan murkanya atas Sodom dan Gomora. Kemurkaan Allah digambarkan dalam ayat 24, 26, dan 28. dikatakan disana: ay 24, ”Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka.; 26, ”Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar”.; 28, ”Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas:”. Dari ketiga ayat ini kita melihat ada tiga kata yang diulang yaitu ’Karena itu Allah menyerahkan mereka’. Inilah bentuk murka Allah dimana Allah membiarkan manusia semakin jahat di dalam kejahatannya.

Murka Allah ada dua, yaitu, pertama, menghukum demi kebaikan kita dan kedua, membiarkan kejahatan sampai titik moral terendah dan perilaku manusia menjadi perilaku binatang.

Orang Roma pada masa itu sangat jahat. Banyak dari mereka memelihara remaja-remaja untuk disodomi. Bahkan tidak jarang juga mereka memberi anak remaja sebagai hadiah untuk pejabat yang berulang tahun. Bahkan kehidupan seks mereka dipertontonkan untuk dilihat orang. Sungguh kehidupan yang tidak memiliki moral sama sekali. Mengapa manusia memiliki ide sebejat ini? Karena Allah membiarkan mereka dalam murkanya untuk jatuh lebih lagi ke dalam kejahatan.

Diamnya Allah oleh karena murkaNya adalah sesuatu yang bahaya. Banyak orang yang bergelimang dosa berada dalam neraka saat ini. Mereka jatuh ke dalam dosa, menderita, kemudian mencari solusi melalui narkoba maupun kejahatan lainnya. Mereka hidup penuh penderitaan. Mengapa demikian? Karena mereka sudah berada di dalam neraka.

5. Kediaman Allah dan hari Penghakiman.

Prinsipnya adalah 2 Pet 3:3-7, ”3 Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya. 4 Kata mereka: "Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan." 5 Mereka sengaja tidak mau tahu, bahwa oleh firman Allah langit telah ada sejak dahulu, dan juga bumi yang berasal dari air dan oleh air, 6 dan bahwa oleh air itu, bumi yang dahulu telah binasa, dimusnahkan oleh air bah. 7 Tetapi oleh firman itu juga langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api dan disimpan untuk hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik.”

Keadilan Allah tidaklah sepenuhnya bisa dijelaskan dengan hanya melihat dunia masa kini. Dunia sekarang ini penuh dengan ketidakadilan. Banyak orang jahat tidak dihukum dengan sepantasnya tetapi orang benar tidak dibela dan selalu tersudut. Inilah dunia sekarang ini. Oleh sebab itulah ada hari penghakiman. Hari ini ada untuk menegakkan keadilan di dunia ini dimana yang jahat akan dihukum dan yang benar akan dibela dan dideklarasikan. Akhir zaman mengantisipasi keadilan Tuhan dalam bentuknya yang paling sempurna. Dunia ini tidak sama dengan dunia dalam film India dimana yang benar selalu kalah di awal tetapi pada akhirnya selalu menang. Ada orang yang baru pertama sekali mencopet karena situasi yang memaksanya (anaknya sakit keras) dikeroyok pencopet lain karena dianggap mengambil daerah kekuasaan. Banyak ketidakadilan lagi yang muncul dan kita akhirnya bertanya ’Mengapa Allah tidak berbuat sesuatu?’. Allah bukannya tidak berbuat sesuatu. Allah lebih memilih untuk tidak melakukan apa-apa dan menyimpan semua untuk hari penghakiman.

6. Kediaman Allah dan Iman kita.

Beriman bukan berarti segala sesuatu menjadi lebih baik. Tetapi kita beriman kepada karakter-karakter Allah dimana Ia adalah baik dan penuh kasih karunia. Allah memilih diam bukan berarti karena Ia tidak peduli tetapi karena hikmat dan kebijaksanaanNya. Jangan takut jika ada banyak kejahatan tetapi tidak kena hukum. Alalh bertindak dalam keadilan dan kebenaranNya.

Allah tidak selalu impulsif dalam bertindak. Allah sering memilih diam dalam setiap pergumulan kita. Tetapi kita akan semakin dewasa dan bertumbuh dalam kediaman Allah.
Soli Deo Gloria!

Knowing God 3: The Goodness and Severity of God

Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div

Hari ini kita berbicara mengenai pribadi Allah dari segi atribut Allah, yaitu The Goodness & Severiy of God-Kebaikan/kemurahan dan Kekerasan Allah. Satu atribut dimana kebaikan atau kemurahan yang dari Allah dipasangkan dengan kekerasan Allah sendiri.

Kedua karakter ini merupakan atribut Allah yang tidak bisa dipisahkan. Dia adalah Allah yang baik dan juga Allah yang tegas. Kesalahan kita adalah sering hanya memandang dari sisi kebaikan Allah saja dan melupakan bahwa Dia juga adalah yang keras dan tegas. Karena itu, dua karakter ini harus dilihat secara bersamaan jika kita ingin memiliki pengenalan yang benar akan karakter atau atribut Allah.

Dua karakter Allah ini selalu muncul berdampingan dan simultan. Kita juga bisa melihat kedua karakter ini dalam penerapan kasih karunia Allah dimana kebaikan dan kekerasan Allah secara simultan muncul di dalam pernyataan kasih karuniaNya. Kedua karakter ini terjadi bersamaan. Rom 11:12 berkata: “Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamupun akan dipotong juga.” Paulus menuliskan hal ini kepada orang Roma yang Non-Yahudi atau Non-Israel. Artinya, Paulus ingin mengatakan bahwa oleh karena kekerasan bangsa Israaellah, maka mereka (non Yahudi) di’cangkok’kan kepadaNya oleh karena kemuraha Allah sendiri. Maka jika mereka mengeraskan hati, kekerasan Allah juga akan diterapkan di dalam mereka.

Demikian juga dalam kisah perjumpaan Musa dengan Tuhan. Dalam Kel 34:5-7 dikatakan: ”Turunlah TUHAN dalam awan, lalu berdiri di sana dekat Musa serta menyerukan nama TUHAN.Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: "TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat." Artinya, ada sebuah keseimbangan dan kemunculan yang simultan antara kemurahan dan kekerasan Allah.

Kedua karakter yang tidak dilihat dengan keseimbangan akan menimbulkan sebuah pemahaman dimana kemurahan atau kebaikan Allah itu adalah sesuatu yang gampangan, enak, dan murahan. Ingat, Allah yang murah hati bukan berarti murahan. Misalnya, Allah yang murah hati dengan segala kemurahan dan kasih karunianya mengampuni segala dosa manusia adalah sesuatu yang sangat mahal (walaupun kita menerimanya dengan murah). Oleh karena pelaksanaan kasih karunia dan kemurahanNya maka Kristus, anak satu-satuNya, dikorbankan di kayu salib.

Bagi kita peristiwa ini adalah sesuatu yang murah tetapi bagi Allah ini adalah sesuatu yang mahal. Jadi, kemurahan Allah jangan diidentikkan dengan sesuatu yang murahan. Jika kita memahami hal ini maka rasa hormat kita kepada Allah akan bertumbuh dan tidak akan bermain-main dengan keselamatan yang kita alami. Mari kita melihat kehidupan kita. Adakah kita bermain-main atau kurang menghargai kemurahan Allah? Apakah kita hidup sembarangan dan tidak menjaga kekudusan dengan hidup yang penuh dengan dosa? Dengan memahami kemurahan itu bukan sesuatu yang gampangan, maka kita bisa belajar untuk hidup di dalam kekudusan dan ketaatan kepada Allah.

Kekerasan tidak sama dengan kejam atau sadis. Kekerasan juga bukan berarti tanpa kesabaran atau kelembutan. Tetapi kekerasan Allah diterapkan dalam kasihNya. Ketika Allah mengingatkan sesuatu dengan tegas dan menghukum dosa dengan adil dan keras, Allah melakukannya di dalam kasih, kelembutan, dan kesabaran. Murah hati (kebaikan) berjalan bersama/berdampingan dengan kekerasan.

The Goodness of God
Berbicara mengenai kebaikan Allah, perlu kita ketahui bahwa kasih setia Allah berlimpah-limpah (Kel 34:6, ”Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: "TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya,”). Hal ini bukanlah sesuatu yang bersifat teoritis belaka tetapi adalah pengenalan dalam perspektif pengalaman kita secara pribadi. Jika kepada kita dikatakan ’Allah itu baik!’, apa yang ada di dalam pikiran kita? Hal ini sama dengan ketika kepada kita disebut kata ’Berastagi’, maka ada satu pengalaman yang berbeda yang muncul di masing-masing benak kita. Mungkin ada yang berpikir ’dingin’, ’tempat jadian’, ’pasar buah’, ’pemandangan’, dll. Apa ’berastagi’ belum tentu mempunya makna atau kesan yang sama bagi masing-masing kita. Jadi ketika dikatakan ”Allah itu baik!’ atau ’Allah itu murah hati!’, apa yang menjadi kesan bagi masing-masing kita bisa berbeda. Inilah yang disebut selective perception. Dan seharusnyalah kemurahan dan kebaikan Allah yang menjadi kesan dalam kehidupan kita karena Allah melimpah kasih karuniaNya.

Dalam Maz 106:1; 107:1; 118:1; 136:1 2 Taw 5:13; Yer 33:11, kita menemukan kalimat ’Allah baik, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya’ Pengakuan ini akan memunculkan dua hal. Pertama, pengalaman akan kebaikan Allah akan melahirkan syukur yang tulus kepdanya. Kedua, pengakuan ini juga sekaligus menghasilkan pengharapan. Allah yang baik di masa lalu, maka ada keyakinan dan pengharapan bahwa kebaikan Allah tidak akan berubah di masa depan. Apakah kedua hal ini, syukur atau pujian dan iman dalam pengharapan, muncul dalam diri kita? Atau kita dalam kondisi sulit bersyukur? Mari melihat Maz 103:1-5, ”1 Dari Daud. Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! 2 Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! 3 Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, 4 Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat, 5 Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali.”

Dalam ayat 1 kita melihat ada pujian yang tulus keluar dari dalam jiwa dan batin dari pemazmur. Kita bisa saja memuji Tuhan dengan mulut kita, tetapi hati kita tidak. Tetapi Daud tidak. Ia memuji Tuhan dengan tulus dengan cara tidak melupakan semua kebaikan Tuhan. Kemurahan Allah seharusnya melahirkan pujian yang tulus dari dalam hati kita. Kebaikan dan kemurahan Allah tidak diukur dari pengalaman kita atau apa yang kita nikmati. Kebaikan dan kemurahan Allah tidak pernah berkurang atau bertambah sehingga tidak ditentukan oleh sikap atau pengalaman kita. Permasalahannya adalah bagaimana kebaikan Allah yang tetap dan tidak berubah itu bisa kita nikmati secara pribadi sehingga kita bisa berkata ’Pujilah Tuhan hai segenap jiwa dan batinku’.

Jika kita tidak bisa melihat lagi kebaikan dan kemurahan Tuhan, maka akan ada ketakutan bagi kita dalam menyongsong kehidupan kita. Apakah kita bisa berkata ’Tuhan itu baik!’ walau di umur 35 kita belum punya pasangan hidup? Apakah kita bisa berkata ’Tuhan itu baik!’ walau keuangan kita sangat terbatas? Ingat, Tuhan tetap baik walau apapun yang kita alami. Sekali lagi, kebaikan Allah bukan didasarkan pengalaman kita. Pemahaman ini bukanlah teologia Kristen. Apapun pengalaman dan yang terjadi di dalam hidup kita, kebaikan dan kemurahan Allah tidak pernah berubah. Jadi, sekarang adalah bagaimana kita bisa menikmati kenyataan ini. Semakin kita menghitung kebaikan dan kemurahan Allah di dalam hidup kita, semakin kita bisa bersyukur dan memuji Dia di dalam hidiup kita. Sebaliknya, semakin kita menghitung apa yang kurang dalam hidup kita, semakin tambahlah ketakutan dan kakuatiran kita. Karena itu, jangan lebih banyak berfokus kepada apa yang belum kita peroleh, tetapi fokuslah kepada apa yang telah kita peroleh supaya kita bisa menikmati kebaikan Allah dan mengucapkan syukur padaNya.

Apa kebaikan dan kemurahan Allah? Di dalam Maz 107:4-9 dikatakan: ”4 Ada orang-orang yang mengembara di padang belantara, jalan ke kota tempat kediaman orang tidak mereka temukan; 5 mereka lapar dan haus, jiwa mereka lemah lesu di dalam diri mereka. 6 Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan dilepaskan-Nya mereka dari kecemasan mereka. 7 Dibawa-Nya mereka menempuh jalan yang lurus, sehingga sampai ke kota tempat kediaman orang. 8 Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia, 9 sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga, dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan.” Ada banyak kebaikan dalam bagian ini yaitu tuntunan, kepuasan, dan kenikmatan. Inilah kebaikan Allah (band. Maz 107:10-16, 17-22, 23-43). Rasakan dan nikmatilah kebaikan Allah.

The Severity of God
Allah yang baik dan murah hati juga adalah Allah yang tegas dan keras. Tetapi Allah bukan tidak sabar dalam kekerasanNya. Tetapi Ia lambat marah dan panjang sabar (Maz 103:8-14; 145:8-9; Kel 34:6, dll). Jika kita evaluasi, pasti kita menemukan bahwa selama tahun 2009 kita banyak melakukan dosa. Mari membayangkan jika Allah tidak panjang sabar dan tidak lambat untuk marah, bukankah kita semua tidak ada di tempat ini? Kesabaran Allah adalah demi pertobatan manusia, tetapi ketika kemarahan Allah diterapkan, kekerasan Allah juga muncul (Rom 2:1-5; 11:22; 2 Pet 3:9; Why 2:5). Orang yang mengeraskan hati akan mendapatkan keadilan dari Allah. Allah selalu memberi kesempatan untuk bertobat karena Ia lambat marah.

Allah yang penuh kasih karunia juga adalah Allah yang keras di dalam mendisiplinkan umatNya. Ibrani 12::7b dikatakan: ”Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?” (Ibrani 12:5-10). Mari menyadari hal ini dimana Allah yang penuh kemurahan juga adalah Allah yang keras dalam mendidik kita. Tuhan sering menegur orang dengan berbagai cara dari yang lembut sampai yang keras. Maz 119:71 berkata: ”Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.” Pengakuan yang sangat luar biasa. Pemazmur bisa menikmati kekerasan Allah demi pertobatannya.

Mari belajar dari hamba-hamba Tuhan dari catatan Alkitab.

Musa. Apa kesalahan Musa adalah ketika ia marah dalam peristiwa di Meriba. Akibatnya, ia tidak dapat masuk ke tanah perjanjian dan hanya bisa melihat dari kejauhan. Allah sangat keras kepada Musa karena tidak menghormatiNya. Jika kita taat kepada Allah, mungkin kita bisa dipakai untuk satu perbuatan yang lebih besar. Tetapi karena ketidaktaan Tuhan berkata ’Cukup! Sampai di sini saja.” Ini adalah peringatan bagi kita. Bari belajar dari Musa yang tidak diijinkan Tuhan masuk ke dalam tanah Kanaan karena Tuhan marah kepadanya akibat kemarahan Musa kepada umat Allah. Jangan sampai kekerasan Allah kita alami yang membuat kita tidak bisa berkarya lebih besar lagi kepada Allah.

Israel. Allah berkali-kali menunjukkan kekerasannya kepada bangsa Israel. Ketika mereka tidak taat kepada Allah dalam perjalanan Mesir ke Kanaan, Allah marah dan mengatakan bahwa tidak ada dari mereka (orang Israel) yang keluar dari Mesir yang akan sampai ke tanah Kanaan kecuali Kaleb dan Yosua.
Saul. Roh Allah meninggalkan Dia (dalam PL, Roh Kudus adalah tanda pengurapan Allah yang hanya ada pada imam dan raja). Semua disebabkan ketidaktaatan Saul kepada Allah. Allah bisa mencabut talenta, karunia dan potensi kita sehingga kita tidak berkembanag. Jangan sampai Allah menarik semua potensi kita karena ketidaktaatan kita. Allah tidak bisa dipermainkan.

Daud. Daud tidak setia sehingga anak hasil perzinahannya dengan Batsyeba harus mati. Lalu Daud dikudeta oleh anaknya, Absalom. Kemudian Absalom juga mengambil semua gundik Daud dan memperkosanya secara terbuka. Yang terakhir Daud di usir dari Istana. Sangat keras bukan?

Para Murid. Ketika Petrus oleh karena kasihnya kepada Yesus melarang Yesus ke Yerusalem, Yesus menyebutnya dengan ’Iblis’karena hanya memikirkan apa yang dipikirkan manusia bukan memikirkan apa yang dipikirkan oleh Allah.
Ananias dan Safira. Hanya karena bohong ketika ditanya oleh Petrus, mereka langsung mati. Seandainya kasus Annaias dan Safira masih berlaku, mungkin banyak manusia yang akan mati.

Ini adalah kekerasan Allah. Ada banyak kasus dalam PL dan PB. Bukankah Allah ikut mengeraskan hati Firaun? Ketika Firaun mengeraskan hatinya, Allah pun turut mengeraskan hatinya sehingga tidak bisa ditegor dan bencana menimpa. Jangan ada diantara kita yang mengalami kekerasan Allah.

Allah itu keras sekaligus murah hati di dalam hidup kita. Karena itu mari melihatnya secara objektif di dalam hidup kita. Oleh sebab itu jangan mempermainkan kemurahan Allah karena selain murah hati, Allah juga keras dan tegas. Mari seimbangkan kekerasan Allah dan kemurahanNya di dalam diri kita.
Soli Deo Gloria!

[Knowing God 2009-02]: Kasih Karunia Allah

Prasasti Perangin-angin

Mari mebuka Alkitab dari Titus 2:11-15. Tema kita hari ini adalah Kasih Karunia Allah, dimana kia akan mengenal Allah dalam hal kasih karuniaNya. Dunia ini sedang kekosongan kasih karunia Allah. Gereja, sebuah tempat dimana seharusnya kasih karunia dapat ditemukan, tidak memiliki kasih karunia tersebut. Philip Yancey memberikan contoh di dalam bukunya dimana seseorang dokter bernama Tpurnier menceritakan tentang pasien-pasien yang datang kepadanya. Seorang pria yang memendam rasa bersalah karena dosa lama. Seorang wanita yang tidak bisa melupakan aborsi yang ia lakukan sepuluh tahun yang lalu. Dokter ini menemukan bahwa passien-pasiennya ini merindukan kasih karunia. Dan ketika mereka datang ke Gereja, mereka tidak menemukan kasih karunia, tetapi rasa malu dan sebuah penghakiman. Mereka mencari kasih karunia di gereja tetapi mereka tidak menemukanya.

Contoh lain mengisahkan seorang wanita yang sudah bercerai dengan suaminya dimana sebenarnya mereka aberdua adalah nak Tuhan. Suatu hari si perempuan pergi ke gereja bersama dengan putrinya yang berumur 15 tahun. Selesai ibadah, istri pendeta gereja menjumpai perempuan ini dan berkata: ”Saya dengar anda bercerai? Apa yang tidak saya pahami adalah kalau anda mengasihi Yesus dan ia mengasihi Yesus mengapa itu kalian lakukan?” Padahal isteri pendeta ini belum pernah berbicara dengan perempuan ini mengenai permasalahannya yang menyebabkan ia bercerai. Perempuan ini mendapatkan penghakiman dari isteri pendeta bukan sebuah pelukan hangat yang mengandung empati. Inilah yang terjadi di dalam dunia ini. Tidak ada tempat bagi orang-orang yang jatuh di dalam dunia ini.

Ada empat konsep kebenaran yang akan menghantar kita memahami kasih karunia.

1. Hilangnya nilai moral seseorang

Dunia melihat prestasi ilmiah mereka yang luarbiasa dan cenderung meninggikan diri sendiri. Kekayaan materi jauh lebih penting ketimbang karakter moral. Secara tegas bersikap terhadap diri sendiri, melakukan sedikit kebaikan sebagai pengganti kejahatan yang besar dan menolak pemikiran bahwa secara moral ada sesuatu yang salah dengan mereka. Hari nurani yang buruk mereka abaikan dan menganggap hanyalah gangguan psikologis yang tidak sehat, suatu tanda penyakit atau penyimpangan mental, bukan sebagai indeks realitas moral manusia. Mereka memandang dosa kecil tidaklah mengambarkan diri mereka sebenarnya karena mereka pada dasarnya adalah baik di dalam hati mereka. Gagasan bahwa mereka adalah ciptaan yang jatuh dari gambar Allah yang telah rusak, pemberontakan terhadap Allah, berdosa dan najis dalam pandangan Allah, dan hanya pantas mendapat murka Allah tidak pernah masuk di dalam pikiran mereka. Gagasan seperti ini tidak akan bisa membawa kita mengerti apa arti kasih karunia Allah.

2. Keadilan retributif Allah

Allah adalah hakim atas seluruh bumi dan Ia akan melakukan penghakiman-Nya dengan benar. Keadilan adalah yang bersifat penghukuman Allah terhadap dosa. PenghakimaNya benar “Ia membela orang yang tidak bersalah”. Allah akan menghukum dengan adil para pelanggar (Kej 18:25, ”Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?"). Allah tidak benar terhadap diri-Nya sendiri jika Ia tidak menghukum dosa. Tetapi jika orang yang berbuat salah tidak dapat mengharapkan apapun dari Allah kecuali hukuman yang setimpal maka kita tidak bisa mengerti apa arti kasih karunia Allah.

Keadilan mengharuskan adanya hukuman. Tetapi dalam hal ini keagungan kasih karunia Allah bekerja. Serring sekali dalam pemahaman kita konsep ’keadilan yang mengharuskan adanya penghukuman’ sangat melekat dengan baik. Dan konsep inilah yang kita pegang sehingga pelayanan kita dipenuhi dengan hukum-hukum ‘taurat’ yang baru dimana orang yang bersalah harus dihukum dan orang yang baik akan dipuji. Tidak ada tempat bagi orang ‘tidak baik’ atau memiliki aib di dalam pelayanan.

3. Ketidakberdayaan Rohani Manusia

Toplady berkata: “Bukan perbuatan tanganku yang dapat memenuhi tuntutan hukumMu, sekalipun semangatku tidak berhenti mengerti, sekalipun airmataku mengalir tanpa henti semua itu tidak dapat menebus dosa”. ita akan bisa mengerti kasih karunia Allah ketika kita menyadari bahwa tidak ada yang berdaya. Pernyataan ini menuntun pada pengakuan tentang ketidakberdayaan manusia. Untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah dan untuk mendapatkan kembali perkenaan Allah setelah kita terhilang adalah diluar kekuatan kita. Orang harus menerima kenyataan ini sebelum ia dapat mengerti apa arti kasih karunia. Mari merenungkan hidup kita, nafas yang setiap hari kita hirup bisa kah kita pahami semuanya. Dimana awal dan akhir dari hidup kita, apakah kita sanggup membawa apa yang kita miliki sampai akhir hidup ini? Bukankah semua hal ini bisa terjadi karena karya dari Allah. Kasih Karunia Allah nyata bagi kita.

4. Kasih Karunia adalah Kebebasaan Allah yang berdaulat

Agama orang kafir memandang semua ilah terikat pada para penyembahnya dengan ikatan kepentingan pribadi, sebab ia tergantung pada pelayanan dan pemberian mereka untuk kesejahteranya. Orang modern juga berpikir demikian oleh karena satu alasan tertentu Allah wajib mengasihi dan menolong kita meskipun kita tidak berhak mendapatkanya. Allah menyelamatkan manusia untuk kepentingan Allah sendiri. Allah menyelamatkan manusia karena ketergantungan Allah terhadap manusia. Allah berharap sesuatu dengan menolong kita. Seorang pemikir prancis berkata “Allah akan mengampuni karena itulah pekerjaanya” sampai meninggal dunia ia berkata berulang-ulang demikian.

Pandangan diatas tidak memiliki dasar yang kuat. Karena Allah Alkitab tidak pernah tergantung kepada ciptaaNya untuk kesejahteranNya ( Maz 50:8-13, Kis 17:25). Dan karena kita telah berdosa Ia tidak terikat untuk menujukan kemurahaNya kepada kita. Allah tidak berhutang sehingga harus menghentikan proses keadilaNya. Ia tidak wajib memberi belas kasihNya atau memberi ampun. Kalaupun semuanya itu dilakukan, semua itu sesuai dengan kehendak bebas-Nya dan tidak ada sesorang pun yang memaksa Dia untuk melakukanNya (Rom 9:16). AnugrahNya bersifat sukarela dan keputusan ini merupakan keputusan yang tidak perlu dibuat Allah dalam kasus apapun. Di sinilah sesorang bisa memulai memahami padangan Alkitab tentang kasih karunia. Dalam kebebasan dan sukarela, Allah memilih mengasihi kita dan menyelamatkan kita.

Jadi, kasih karunia Allah merupakan kasih yang secara sukarela ditunjukan kepada orang yang berdosa dan yang bersalah, sesuatu yang berlawanan dengan apa yang pantas orang berdosa terima dan sesungguhnya bertentangan dengan keburukan orang berdosa. Allahlah yang menunjukan kebaikanNya kepada orang-orang yang hanya pantas mendapatkan hukuman yang berat dan mereka tidak memiliki alasan untuk mengharapkan apa pun kecuali hukuman yang berat.

Kasih keagungan Allah dapat dilihat dari tiga hal.

1. Kasih karunia adalah sumber pengampunan dosa

Injil berpusat pada pembenaran. Penghapusan dosa dan penerimaan diri kita oleh Allah. Pembenaran dari status sebagai penjahat terkutuk yang menantikan hukuman mengerikan menjadi ahli waris yang menantikan warisan yang menakjubkan. Pembenaran terjadi karena iman. Menaruh percaya kepada Tuhan Yesus sebagai juruselamat. Pembenaran ini adalah cuma-cuma bagi kita tetapi sangat berharga bagi Allah yakni dibayar dengan kematian anak Allah sebagai penebusan dosa. (bd Roma 8:32) Mengapa Allah tidak menyayangkan anakNya itu adalah karena kasih karuniaNya yang secara sukareal menyelamatkan dan menebus manusia. Kasih karunia seperti kita menikmati danau toba, kita duduk dipinggir penginapan menikmati pegunungan, menikmati udara yang sejuk menikmati danau yang mengagungkan. Kita tidak diwajibkan untuk melakukan atau membayar apapun untuk menikmati keindahan tersebut.

2. Kasih karunia sebagai motif dari rencana keselamatan

Jadi seharusnya ada sukacita karena tahu bahwa pertobatan kita tidak terjadi secara kebetulan tetapi merupakan tindakan Allah yang telah direncananNya dari kekekalan untuk keselamatan manusia.

Bintang-bintang bisa jatuh tetapi janji Allah akan tetap teguh dan digenapi. Rencana keselamatan dituntaskan dengan penuh kemenangan. Jadi, kasih karunia akan terbukti sebagai sesuatu yang penuh kuasa. Itu sebabnya, orang akan mengalami sukacita dalam menikmati kasih karunia Allah.

Kasih karunia adalah sebab dan keselamatan adalah akibat (band. Efesus 2:8, Titus 2:11, Yoh 3:16, Roma 5;8, Zak 13:2). Jaminan keselamatn ini lah yang memberi kekuatan kepada kita untuk bisa hidup dengan jujur di temat dimana kita berada, termasuk di dalam dunia kerja kita. Apa yang kita kuatirkan ketika Allah telah menjaminkan kesematan dalam kasih karuniaNya kepada kita?

3. Kasih karunia sebagai jaminan perlindungan terhadap orang percaya.

Jika rencana keselamatan pasti digenapi, maka masa depan orang Kristen terjamin. Saya saat ini dan selamanya akan terpelihara dalam kekuatan Allah karena iman, sementara menantikan keselamatan (1 Petrus 1:5, ”Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.”).

Doddridge mengatakan ”kasih karunia pertama-tama mengoreskan namaku, dalam buku kekal Allah. Waktu itulah kasih karunia membawaku kepada Anak Domba yang mengangkat semua dukacitaku. Kasih karunia mengajar jiwaku untuk berdoa dan mengenalkan kasih yang mendatakankan pengampunan, waktu itulah kasih karunia memelihara aku sampai hari ini dan tidak akan membiarkan aku pergi”.

Apa tanggapan kita akan kasih akrunia Allah? Seharusnyalah kita tidak bisa bersikap lain selain, menyenangkan hati-Nya dengan perasaan heran dan sukacita. Sebab injil menceritakan kepada kita bagaimana Sang Hakim itu telah menjadi Juru Selamat kita. Kita yang seharusnya mendapatkan hukuman, beroleh kasih karunia di dalam Dia. Cinta Romantis adalah pengalaman yang paling mirip dengan kasih karunia murni. Seorang akhirnya merasa bahwa saya adalah makhluk yang paling dirindukan, paling menarik, paling diinginkan di seluruh planet. Seseorang tidak bisa tidak pada malam hari unutk memikirkan saya. Seseorang memaafkan saya sebelum saya mememintanya, memikirkan saya ketika ia berdandan, menyesuaikan hidupnya dengan hidup saya. Seorang yang mencintai saya apa adanya. Itulah kasih karunia. Jadi, mari hidup di dalam kasih karunia itu.

“Oh bertapa besar aku berhutang terhadap kasih karunia,
Setiap hari aku didesak untuk bersyukur,
Biarlah kasih karunia itu sekarang seperti belenggu
Mengikat hatiku yang senang mengembara kepada-MU,"

Ada orang yang berpendapat bahwa doktrin tentang kasih karunia Allah cenderung mendorong pangabaian moral (‘bagaimanapun kita akan selamat, tidak peduli apa pun yang kita lakukan karena tindakan kita tidak akan berpengaruh apa-apa’). Tetapi J.I Packer mengatakan bahwa orang yang memiliki pikiran seperti ini adalah orang yang tidak tahu apa yang sedang ia bicarakan. Karena pada giliranya kasih akan membangkitkan kasih. (Efesus 2:10, ”Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya”; Titus 2:11-12, “Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keingina duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini”). Anugrah itu berujung kepada “melakukan perbuatan baik’. Kasih karunia itu mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan, keinginan-keinginan duniawi, dan supaya kita hidup bijaksana dan adil (2 Tim 2:12). Orang yang mengalami kasih karunia akan semakin berubah menjadi lebih baik.

Sebuah kisah lain menceritakan bahwa ada seorang ayah di Spanyol memutuskan untuk berdamai dengan putranya yang melarikan diri ke Madrid. Dengan penuh rasa sesal, sang ayah memasang iklan di surat kabar El Libral yang berbunyi demikian: “Paco, temui saya di Hotel Montana hari Selasa tengah hari. Semua sudah dimaafkan. Papa.” Ternyata Paco adalah anma yang umum di Spanyol. Ketika Selasa tengah hari tiba, dan sang ayah datang ke hotel, ada sekitar 800 pemuda yang bernama Paco yang datang dan menungguh ayah mereka untuk memperoleh pengampunan. Dunia ini membutuhkan kasih karunia, Allah merindukan pelayanan kita dan setiap kita akan membagaikan kasih karunia itu kepada mereka”
Soli Deo Gloria!

[Knowing God 2009-01]: The Love of Our Father

[Kotbah yang dibawakan oleh Denni B. Saragih dan merupakan seri Knowing God dari MBA untuk 2010]



Mari membaca Mark 1:11, “Lalu terdengarlah suara dari sorga: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." Kita pasti memiliki pengalaman ditolak, apakah penolakan kecil atau penolakan besar amat dalam dan menyakitkan. Bahkan penolakan yang amat dalam ini bisa menyebabkan seorang alumni meninggalkan komunitas di mana ia berada. Penolakan adalah sesuatu yang amat menyakitkan bagi manusia di mana ada perasaan tidak dicintai dan dikasihi. Tetapi pada sore hari ini saya ingin menyampaikan satu kebenaran yang dinyatakan Alkitab bahwa Allah sangat mencintai kita. Tuhan berkata kepada Yesus: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." Kalimat ini dikatakan Bapa kepada Yesus sebelum Yesus berkorban, melayani, menang melawan pencobaan, atau sebelum Yesus setia di dalam hidupNya. Bapa mengasihi Yesus adalah karena Yesus adalah anakNya. Kita harus yakin bahwa kita memiliki Bapa di Sorga yang sangat mengasihi kita. Bapa mengasihi kita bukan karena apa yang kita lakukan, apapun yang akan kita lakukan, tetapi Bapa mengasihi kita dan berkenan kepada kita karena kita adalah anak-anakNya.

Fakta bahwa kita memiliki Bapa yang mengasihi kita mungkin hal yang biasa bagi kita. Tetapi kita perlu menyadari bahwa sebenarnya fakta ini adalah sesuatu yang luar biasa. Seorang perempuan Pakistan yang bertobat menajdi Kristen menuliskan di dalam bukunya, ”I dare to call Him, Father [Saya berani memanggiNya Bapa]. Kita sering ’take it for granted’ bahwa Tuhan itu Bapa. Kita kurang sadar betapa istimewanya menjadi anak dari Tuhan. Dalam semua agama di dunia ini (selain agama Kristen), tidak ada yang menyebut Tuhan sebagai ’Bapa’. Karena dalam banyak agama-agama (khususnya yang bersifat animisme) Tuhan dianggap sebagai bentuk manifestasi dari devine/demonic power, sehingga identik dengan kekuatan daripada kasih.

Kita harus kembali menghayati bahwa Alkitab berbeda. Dalam banyak agama hubungan manusia dengan Allah digambarkan sebagai hamba yang takut kepada Tuhan agar tidak disakiti. Jadi, kita memanipulasi reaksi Tuhan atau menggunakan Tuhan untuk kepentingan sendiri. Misalnya, memberikan persembahan, korban bakaran agar kita bisa mengambil hati Tuhan. Tidak ada hubungan yang personal apalagi hubungan Bapa-Anak. Agama Kristen adalah satu-satunya agama di mana kita memanggil Tuhan Bapa.

Bukan hanya agama-agama di dunia ini yang terkejut jika ada manusia yang memanggil Tuhan dengan Bapa, tetapi dalam Perjenjian Lama pun hal ini juga adalah sesuatu yang mnengejutkan. Dalam PL, memang ada konsep tentang Bapa, dan menyebut Tuhan dengan sebutan Bapa hanya muncul 14 kali dari 39 kitab dalam PL. Walaupun digunakan kata Bapa untuk Tuhan, tetapi penggunaan ini tidak digunakan sebagai panggilan. Tidak ada orang Israel yang berani memanggil Tuhan dengan sebutan ’Bapa’. Penggunaan kata ’Bapa’ menggambarkan hubungan yang sangat spesial antara Israel dan Tuhan, memanggil Nenek Moyang Abraham, menyelamatkan dari perbudakan Mesir. Ada privilege sebagai umat Tuhan. Bagaimana Tuhan memelihara dan melakukan hal-hal yang khusus mulai dari nenek moyang sampai keturunannya itulah yang digambarkan ’seperti Bapa yang memelihara anakNya’. Tetapi tidak pernah ada yang pernah memanggil Tuhan dengan sebutan Bapa. Yang ada hanya sebuah bentuk perumpamaan ’seperti Bapa sayang pada anak, demikianlah Tuhan sayang kepada bangsa Israel’.

Nabi-nabi mengeluhkan Israel yang tidak menghormati Allah sebagai Bapa (Mal 1:6, ”Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?"), dalam kesulitan mereka memanggil Tuhan sebagai Bapa (Yes 63:16, ”Bukankah Engkau Bapa kami? Sungguh, Abraham tidak tahu apa-apa tentang kami, dan Israel tidak mengenal kami. Ya TUHAN, Engkau sendiri Bapa kami; nama-Mu ialah "Penebus kami" sejak dahulu kala.; 64:7-8, ”Tidak ada yang memanggil nama-Mu atau yang bangkit untuk berpegang kepada-Mu; sebab Engkau menyembunyikan wajah-Mu terhadap kami, dan menyerahkan kami ke dalam kekuasaan dosa kami. Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.”) dan Tuhan sering menjawab mereka sebagai Bapa yang penuh Kasih (Jer 31:20, ”Anak kesayangankah gerangan Efraim bagi-Ku atau anak kesukaan? Sebab setiap kali Aku menghardik dia, tak putus-putusnya Aku terkenang kepadanya; sebab itu hati-Ku terharu terhadap dia; tak dapat tidak Aku akan menyayanginya, demikianlah firman TUHAN.”). Ada ilustrasi yang menggambarkan seperti hubungan Bapa dengan anak, tetapi tidak ada sebutan Bapa sama sekali. Jadi, dalam PL hanya ada gambaran-gambaran bahwa Tuhan adalah Bapa dari umatnya dan digambarkan sebagai Bapa yang penuh kasih karunia. Tetapi ini semua adalah metafora untuk kasih dan perhatian Tuhan, tidak pernah dalam PL Tuhan dipanggil sebagai Bapa.

Dalam Perjanjian Baru , Yesus memperkenalkan sesuatu yang baru, memanggil Tuhan dengan sebutan Abba, Bapa (Luk 11: 1-4; Mrk 14:36; band. Roma 8:15; Gal 4:6). Mari melihat Luk 11:2, ”Jawab Yesus kepada mereka: "Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu.” Yesus mengambil sesuatu yang sangat berani dibanding dengan zaman itu untuk mulai memanggil Tuhan dengan Bapa. Dalam bahasa Aramaik, kata ’Bapa’ disebut dengan ’Abba’. Dan menariknya dalam berbagai terjemahan, kata ’Abba’ dipertahankan (Rom 8:15, ”Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!"). Bahkan dalam bahasa Indonesia pun kata ‘Abba’ tetap dipertahankan. Paulus yang menulis suratnya dalam bahasa Yunani pun tetap mempertahankan kata ‘Abba’ ini dalam bahasa Aramaik. Jadi dengan mempertahankan kata ini, Allah di dalam Roh Kudus mendorong kita untuk memanggil Dia ‘Abba’.

Apa yang istimewa dengan ‘Abba’? ‘Abba’ adalah bahasa sehari-hari (Aramaik) yang adalah bahasa informal, bukan formal. Para rasul mempertahankan bahasa Asli ini, dan tidak ada orang Jahudi dan literature jahudi sebelum Yesus yang berani melakukan hal seperti itu. Ibaratnya dalam bahasa Indonesia kita tidak memanggil Ayah kita dengan Bapak (karena kata Bapak memiliki sifat formal), tetapi dengan Papa, Papi, atau panggilan sayang yang lain. Demikian jugalah seharusnya kita memanggil Tuhan yang adalah Bapa kita. Hal ini harus kita pahami karena ada kekuatiran kata ’Bapa’ yang kita gunakan kepada Tuhan sudah berubah menjadi satu pola dan kehilangan makna yang sebenarnya. Yesus memanggil Tuhan sebagai anak kepada Bapanya, didalam kalimat yang sederhana dan penuh rasa percaya yang mesra, yakin bahwa Dia didengar. “Abba” menggambarkan kedekatannya kepada Tuhan, keanakan dari Tuhan Yesus. Dan Yesus berkata kepada kita: "Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu.” Mungkin kita harus membiasakan untuk mulai memanggil Tuhan ’Abba’. Kita mungkin sering memanggil Tuhan dengan ’Ya Allah’, ’Tuhan Yesus’, dll, tetapi mari mulai belajar untuk memanggil Tuhan dengan mesra, bukan karena sesuatu yang sudah terpola atau mekanis.

Rom 8:14-16 berkata: ”14 Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. 15 Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!" 16 Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.” Bagian ini dikatakan bahwa Roh Kudus menciptakan dan mendorong hubungan yang intim dengan Bapa. Kedekatan dengan Bapa bukanlah sesuatu yang bisa dibuat-buat, tetapi merupakan pekerjaan Roh Kudus, karena itu kedekatan ini seperti Kedekatan Yesus (Gal 4:6, ”Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!"). Seseorang tidak bisa dipaksa bahwa dia adalah seorang Anak Tuhan, tetapi sesuatu yang menjadi respons berdasarkan pekerjaan Roh Kudus.

Roh Kudus juga membantu kita berdoa dengan cara berdoa buat kita dan mengajarkan kita tentang berdoa (Roma 8:26-27, ”26 Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. 27 Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.”). Tetapi sebagai anak Tuhan kita juga perlu mengembangkan kehidupan Doa kita sebagai orang yang dikasihi dengan Tuhan. Fil 4:6 (”Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”) mengajar agar tidak kuatir apapun juga, tetapi nyatakan segala hal didalam doa kepada Allah. Keyakinan seperti inilah yang harus dimiliki oleh orang sebagai orang yang dicintai oleh Allah.

Kita harus membalas kasih Allah dengan terus mengembangkan hubungan pribadi dan ketaatan kepada Tuhan. Dalam I Pet 2:1-5 dikatakan ada dua tugas orang yang sudah dalam Tuhan menurut Rasul Petrus. Pertama adalah penyucian hidup, dan tugas kedua adalah pertumbuhan dalam Firman Tuhan. Kedua adalah menjadi seperti Bayi Yang Rindu akan Firman, dengan menyadari bahwa manusia tidak hidup dari roti saja (Mat 4:4, band Maz 42:2-3; 62:2-5; 84:2-3).

Mari hidup dalam bayangan kasih Bapa. Bapa berkata kepada Yesus, anakNya; ”Kau adalah anakku yang kukasihi kepadamulah aku berkenan.” Sekarang, mari mengganti kata ’kau’ menjadi nama kita, dan ucapkanlah pernyataan Bapa ini, maka kita akan merasakan bagaimana Tuhan mencintai dan mengasihi kita. ”[nama kita] adalah anakku yang kukasihi, kepada [nama kita] aku berkenan.”
Soli Deo Gloria!