Friday, November 19, 2010

Knowing God - The Goodness and Severity of God


KG III-2010
Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div

Hari ini kita berbicara mengenai pribadi Allah dari segi atribut Allah, yaitu The Goodness & Severiy of God-Kebaikan/kemurahan dan Kekerasan Allah. Satu atribut dimana kebaikan atau kemurahan yang dari Allah dipasangkan dengan kekerasan Allah sendiri.
Kedua karakter ini merupakan atribut Allah yang tidak bisa dipisahkan. Dia adalah Allah yang baik dan juga Allah yang tegas. Kesalahan kita adalah sering hanya memandang dari sisi kebaikan Allah saja dan melupakan bahwa Dia juga adalah yang keras dan tegas. Karena itu, dua karakter ini harus dilihat secara bersamaan jika kita ingin memiliki pengenalan yang benar akan karakter atau atribut Allah.

Dua karakter Allah ini selalu muncul berdampingan dan simultan. Kita juga bisa melihat kedua karakter ini dalam penerapan kasih karunia Allah dimana kebaikan dan kekerasan Allah secara simultan muncul di dalam pernyataan kasih karuniaNya. Kedua karakter ini terjadi bersamaan. Rom 11:12 berkata: “Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamupun akan dipotong juga.” Paulus menuliskan hal ini kepada orang Roma yang Non-Yahudi atau Non-Israel. Artinya, Paulus ingin mengatakan bahwa oleh karena kekerasan bangsa Israaellah, maka mereka (non Yahudi) di’cangkok’kan kepadaNya oleh karena kemuraha Allah sendiri. Maka jika mereka mengeraskan hati, kekerasan Allah juga akan diterapkan di dalam mereka.

Demikian juga dalam kisah perjumpaan Musa dengan Tuhan. Dalam Kel 34:5-7 dikatakan: ”Turunlah TUHAN dalam awan, lalu berdiri di sana dekat Musa serta menyerukan nama TUHAN.Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: "TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat." Artinya, ada sebuah keseimbangan dan kemunculan yang simultan antara kemurahan dan kekerasan Allah.

Kedua karakter yang tidak dilihat dengan keseimbangan akan menimbulkan sebuah pemahaman dimana kemurahan atau kebaikan Allah itu adalah sesuatu yang gampangan, enak, dan murahan. Ingat, Allah yang murah hati bukan berarti murahan. Misalnya, Allah yang murah hati dengan segala kemurahan dan kasih karunianya mengampuni segala dosa manusia adalah sesuatu yang sangat mahal (walaupun kita menerimanya dengan murah). Oleh karena pelaksanaan kasih karunia dan kemurahanNya maka Kristus, anak satu-satuNya, dikorbankan di kayu salib.

Bagi kita peristiwa ini adalah sesuatu yang murah tetapi bagi Allah ini adalah sesuatu yang mahal. Jadi, kemurahan Allah jangan diidentikkan dengan sesuatu yang murahan. Jika kita memahami hal ini maka rasa hormat kita kepada Allah akan bertumbuh dan tidak akan bermain-main dengan keselamatan yang kita alami. Mari kita melihat kehidupan kita. Adakah kita bermain-main atau kurang menghargai kemurahan Allah? Apakah kita hidup sembarangan dan tidak menjaga kekudusan dengan hidup yang penuh dengan dosa? Dengan memahami kemurahan itu bukan sesuatu yang gampangan, maka kita bisa belajar untuk hidup di dalam kekudusan dan ketaatan kepada Allah.

Kekerasan tidak sama dengan kejam atau sadis. Kekerasan juga bukan berarti tanpa kesabaran atau kelembutan. Tetapi kekerasan Allah diterapkan dalam kasihNya. Ketika Allah mengingatkan sesuatu dengan tegas dan menghukum dosa dengan adil dan keras, Allah melakukannya di dalam kasih, kelembutan, dan kesabaran. Murah hati (kebaikan) berjalan bersama/berdampingan dengan kekerasan.

The Goodness of God
Berbicara mengenai kebaikan Allah, perlu kita ketahui bahwa kasih setia Allah berlimpah-limpah (Kel 34:6, ”Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: "TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya,”). Hal ini bukanlah sesuatu yang bersifat teoritis belaka tetapi adalah pengenalan dalam perspektif pengalaman kita secara pribadi. Jika kepada kita dikatakan ’Allah itu baik!’, apa yang ada di dalam pikiran kita? Hal ini sama dengan ketika kepada kita disebut kata ’Berastagi’, maka ada satu pengalaman yang berbeda yang muncul di masing-masing benak kita. Mungkin ada yang berpikir ’dingin’, ’tempat jadian’, ’pasar buah’, ’pemandangan’, dll. Apa ’berastagi’ belum tentu mempunya makna atau kesan yang sama bagi masing-masing kita. Jadi ketika dikatakan ”Allah itu baik!’ atau ’Allah itu murah hati!’, apa yang menjadi kesan bagi masing-masing kita bisa berbeda. Inilah yang disebut selective perception. Dan seharusnyalah kemurahan dan kebaikan Allah yang menjadi kesan dalam kehidupan kita karena Allah melimpah kasih karuniaNya.
Dalam Maz 106:1; 107:1; 118:1; 136:1 2 Taw 5:13; Yer 33:11, kita menemukan kalimat ’Allah baik, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya’ Pengakuan ini akan memunculkan dua hal. Pertama, pengalaman akan kebaikan Allah akan melahirkan syukur yang tulus kepdanya. Kedua, pengakuan ini juga sekaligus menghasilkan pengharapan. Allah yang baik di masa lalu, maka ada keyakinan dan pengharapan bahwa kebaikan Allah tidak akan berubah di masa depan. Apakah kedua hal ini, syukur atau pujian dan iman dalam pengharapan, muncul dalam diri kita? Atau kita dalam kondisi sulit bersyukur? Mari melihat Maz 103:1-5, ”1 Dari Daud. Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! 2 Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! 3 Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, 4 Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat, 5 Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali.”

Dalam ayat 1 kita melihat ada pujian yang tulus keluar dari dalam jiwa dan batin dari pemazmur. Kita bisa saja memuji Tuhan dengan mulut kita, tetapi hati kita tidak. Tetapi Daud tidak. Ia memuji Tuhan dengan tulus dengan cara tidak melupakan semua kebaikan Tuhan. Kemurahan Allah seharusnya melahirkan pujian yang tulus dari dalam hati kita. Kebaikan dan kemurahan Allah tidak diukur dari pengalaman kita atau apa yang kita nikmati. Kebaikan dan kemurahan Allah tidak pernah berkurang atau bertambah sehingga tidak ditentukan oleh sikap atau pengalaman kita. Permasalahannya adalah bagaimana kebaikan Allah yang tetap dan tidak berubah itu bisa kita nikmati secara pribadi sehingga kita bisa berkata ’Pujilah Tuhan hai segenap jiwa dan batinku’.

Jika kita tidak bisa melihat lagi kebaikan dan kemurahan Tuhan, maka akan ada ketakutan bagi kita dalam menyongsong kehidupan kita. Apakah kita bisa berkata ’Tuhan itu baik!’ walau di umur 35 kita belum punya pasangan hidup? Apakah kita bisa berkata ’Tuhan itu baik!’ walau keuangan kita sangat terbatas? Ingat, Tuhan tetap baik walau apapun yang kita alami. Sekali lagi, kebaikan Allah bukan didasarkan pengalaman kita. Pemahaman ini bukanlah teologia Kristen. Apapun pengalaman dan yang terjadi di dalam hidup kita, kebaikan dan kemurahan Allah tidak pernah berubah. Jadi, sekarang adalah bagaimana kita bisa menikmati kenyataan ini. Semakin kita menghitung kebaikan dan kemurahan Allah di dalam hidup kita, semakin kita bisa bersyukur dan memuji Dia di dalam hidiup kita. Sebaliknya, semakin kita menghitung apa yang kurang dalam hidup kita, semakin tambahlah ketakutan dan kakuatiran kita. Karena itu, jangan lebih banyak berfokus kepada apa yang belum kita peroleh, tetapi fokuslah kepada apa yang telah kita peroleh supaya kita bisa menikmati kebaikan Allah dan mengucapkan syukur padaNya.

Apa kebaikan dan kemurahan Allah? Di dalam Maz 107:4-9 dikatakan: ”4 Ada orang-orang yang mengembara di padang belantara, jalan ke kota tempat kediaman orang tidak mereka temukan; 5 mereka lapar dan haus, jiwa mereka lemah lesu di dalam diri mereka. 6 Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan dilepaskan-Nya mereka dari kecemasan mereka. 7 Dibawa-Nya mereka menempuh jalan yang lurus, sehingga sampai ke kota tempat kediaman orang. 8 Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia, 9 sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga, dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan.” Ada banyak kebaikan dalam bagian ini yaitu tuntunan, kepuasan, dan kenikmatan. Inilah kebaikan Allah (band. Maz 107:10-16, 17-22, 23-43). Rasakan dan nikmatilah kebaikan Allah.

The Severity of God
Allah yang baik dan murah hati juga adalah Allah yang tegas dan keras. Tetapi Allah bukan tidak sabar dalam kekerasanNya. Tetapi Ia lambat marah dan panjang sabar (Maz 103:8-14; 145:8-9; Kel 34:6, dll). Jika kita evaluasi, pasti kita menemukan bahwa selama tahun 2009 kita banyak melakukan dosa. Mari membayangkan jika Allah tidak panjang sabar dan tidak lambat untuk marah, bukankah kita semua tidak ada di tempat ini? Kesabaran Allah adalah demi pertobatan manusia, tetapi ketika kemarahan Allah diterapkan, kekerasan Allah juga muncul (Rom 2:1-5; 11:22; 2 Pet 3:9; Why 2:5). Orang yang mengeraskan hati akan mendapatkan keadilan dari Allah. Allah selalu memberi kesempatan untuk bertobat karena Ia lambat marah.

Allah yang penuh kasih karunia juga adalah Allah yang keras di dalam mendisiplinkan umatNya. Ibrani 12::7b dikatakan: ”Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?” (Ibrani 12:5-10). Mari menyadari hal ini dimana Allah yang penuh kemurahan juga adalah Allah yang keras dalam mendidik kita. Tuhan sering menegur orang dengan berbagai cara dari yang lembut sampai yang keras. Maz 119:71 berkata: ”Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.” Pengakuan yang sangat luar biasa. Pemazmur bisa menikmati kekerasan Allah demi pertobatannya.
Mari belajar dari hamba-hamba Tuhan dari catatan Alkitab.
Musa. Apa kesalahan Musa adalah ketika ia marah dalam peristiwa di Meriba. Akibatnya, ia tidak dapat masuk ke tanah perjanjian dan hanya bisa melihat dari kejauhan. Allah sangat keras kepada Musa karena tidak menghormatiNya. Jika kita taat kepada Allah, mungkin kita bisa dipakai untuk satu perbuatan yang lebih besar. Tetapi karena ketidaktaan Tuhan berkata ’Cukup! Sampai di sini saja.” Ini adalah peringatan bagi kita. Bari belajar dari Musa yang tidak diijinkan Tuhan masuk ke dalam tanah Kanaan karena Tuhan marah kepadanya akibat kemarahan Musa kepada umat Allah. Jangan sampai kekerasan Allah kita alami yang membuat kita tidak bisa berkarya lebih besar lagi kepada Allah.

Israel. Allah berkali-kali menunjukkan kekerasannya kepada bangsa Israel. Ketika mereka tidak taat kepada Allah dalam perjalanan Mesir ke Kanaan, Allah marah dan mengatakan bahwa tidak ada dari mereka (orang Israel) yang keluar dari Mesir yang akan sampai ke tanah Kanaan kecuali Kaleb dan Yosua.

Saul. Roh Allah meninggalkan Dia (dalam PL, Roh Kudus adalah tanda pengurapan Allah yang hanya ada pada imam dan raja). Semua disebabkan ketidaktaatan Saul kepada Allah. Allah bisa mencabut talenta, karunia dan potensi kita sehingga kita tidak berkembanag. Jangan sampai Allah menarik semua potensi kita karena ketidaktaatan kita. Allah tidak bisa dipermainkan.
Daud. Daud tidak setia sehingga anak hasil perzinahannya dengan Batsyeba harus mati. Lalu Daud dikudeta oleh anaknya, Absalom. Kemudian Absalom juga mengambil semua gundik Daud dan memperkosanya secara terbuka. Yang terakhir Daud di usir dari Istana. Sangat keras bukan?

Para Murid. Ketika Petrus oleh karena kasihnya kepada Yesus melarang Yesus ke Yerusalem, Yesus menyebutnya dengan ’Iblis’karena hanya memikirkan apa yang dipikirkan manusia bukan memikirkan apa yang dipikirkan oleh Allah.

Ananias dan Safira. Hanya karena bohong ketika ditanya oleh Petrus, mereka langsung mati. Seandainya kasus Annaias dan Safira masih berlaku, mungkin banyak manusia yang akan mati.
Ini adalah kekerasan Allah. Ada banyak kasus dalam PL dan PB. Bukankah Allah ikut mengeraskan hati Firaun? Ketika Firaun mengeraskan hatinya, Allah pun turut mengeraskan hatinya sehingga tidak bisa ditegor dan bencana menimpa. Jangan ada diantara kita yang mengalami kekerasan Allah.

Allah itu keras sekaligus murah hati di dalam hidup kita. Karena itu mari melihatnya secara objektif di dalam hidup kita. Oleh sebab itu jangan mempermainkan kemurahan Allah karena selain murah hati, Allah juga keras dan tegas. Mari seimbangkan kekerasan Allah dan kemurahanNya di dalam diri kita.
Soli Deo Gloria!

Knowing God - Kasih Karunia Allah

Prasasti Perangin-angin

Tema kita hari ini adalah Kasih Karunia Allah, dimana kia akan mengenal Allah dalam hal kasih karuniaNya. Dunia ini sedang kekosongan kasih karunia Allah. Gereja, sebuah tempat dimana seharusnya kasih karunia dapat ditemukan, tidak memiliki kasih karunia tersebut. Philip Yancey memberikan contoh di dalam bukunya dimana seseorang dokter bernama Tpurnier menceritakan tentang pasien-pasien yang datang kepadanya. Seorang pria yang memendam rasa bersalah karena dosa lama. Seorang wanita yang tidak bisa melupakan aborsi yang ia lakukan sepuluh tahun yang lalu. Dokter ini menemukan bahwa passien-pasiennya ini merindukan kasih karunia. Dan ketika mereka datang ke Gereja, mereka tidak menemukan kasih karunia, tetapi rasa malu dan sebuah penghakiman. Mereka mencari kasih karunia di gereja tetapi mereka tidak menemukanya.

Contoh lain mengisahkan seorang wanita yang sudah bercerai dengan suaminya dimana sebenarnya mereka aberdua adalah nak Tuhan. Suatu hari si perempuan pergi ke gereja bersama dengan putrinya yang berumur 15 tahun. Selesai ibadah, istri pendeta gereja menjumpai perempuan ini dan berkata: ”Saya dengar anda bercerai? Apa yang tidak saya pahami adalah kalau anda mengasihi Yesus dan ia mengasihi Yesus mengapa itu kalian lakukan?” Padahal isteri pendeta ini belum pernah berbicara dengan perempuan ini mengenai permasalahannya yang menyebabkan ia bercerai. Perempuan ini mendapatkan penghakiman dari isteri pendeta bukan sebuah pelukan hangat yang mengandung empati. Inilah yang terjadi di dalam dunia ini. Tidak ada tempat bagi orang-orang yang jatuh di dalam dunia ini.
Ada empat konsep kebenaran yang akan menghantar kita memahami kasih karunia.

1. Hilangnya nilai moral seseorang
Dunia melihat prestasi ilmiah mereka yang luarbiasa dan cenderung meninggikan diri sendiri. Kekayaan materi jauh lebih penting ketimbang karakter moral. Secara tegas bersikap terhadap diri sendiri, melakukan sedikit kebaikan sebagai pengganti kejahatan yang besar dan menolak pemikiran bahwa secara moral ada sesuatu yang salah dengan mereka. Hari nurani yang buruk mereka abaikan dan menganggap hanyalah gangguan psikologis yang tidak sehat, suatu tanda penyakit atau penyimpangan mental, bukan sebagai indeks realitas moral manusia. Mereka memandang dosa kecil tidaklah mengambarkan diri mereka sebenarnya karena mereka pada dasarnya adalah baik di dalam hati mereka. Gagasan bahwa mereka adalah ciptaan yang jatuh dari gambar Allah yang telah rusak, pemberontakan terhadap Allah, berdosa dan najis dalam pandangan Allah, dan hanya pantas mendapat murka Allah tidak pernah masuk di dalam pikiran mereka. Gagasan seperti ini tidak akan bisa membawa kita mengerti apa arti kasih karunia Allah.

2. Keadilan retributif Allah
Allah adalah hakim atas seluruh bumi dan Ia akan melakukan penghakiman-Nya dengan benar. Keadilan adalah yang bersifat penghukuman Allah terhadap dosa. PenghakimaNya benar “Ia membela orang yang tidak bersalah”. Allah akan menghukum dengan adil para pelanggar (Kej 18:25, ”Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?"). Allah tidak benar terhadap diri-Nya sendiri jika Ia tidak menghukum dosa. Tetapi jika orang yang berbuat salah tidak dapat mengharapkan apapun dari Allah kecuali hukuman yang setimpal maka kita tidak bisa mengerti apa arti kasih karunia Allah.
Keadilan mengharuskan adanya hukuman. Tetapi dalam hal ini keagungan kasih karunia Allah bekerja. Serring sekali dalam pemahaman kita konsep ’keadilan yang mengharuskan adanya penghukuman’ sangat melekat dengan baik. Dan konsep inilah yang kita pegang sehingga pelayanan kita dipenuhi dengan hukum-hukum ‘taurat’ yang baru dimana orang yang bersalah harus dihukum dan orang yang baik akan dipuji. Tidak ada tempat bagi orang ‘tidak baik’ atau memiliki aib di dalam pelayanan.

3. Ketidakberdayaan Rohani Manusia
Toplady berkata: “Bukan perbuatan tanganku yang dapat memenuhi tuntutan hukumMu, sekalipun semangatku tidak berhenti mengerti, sekalipun airmataku mengalir tanpa henti semua itu tidak dapat menebus dosa”. ita akan bisa mengerti kasih karunia Allah ketika kita menyadari bahwa tidak ada yang berdaya. Pernyataan ini menuntun pada pengakuan tentang ketidakberdayaan manusia. Untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah dan untuk mendapatkan kembali perkenaan Allah setelah kita terhilang adalah diluar kekuatan kita. Orang harus menerima kenyataan ini sebelum ia dapat mengerti apa arti kasih karunia. Mari merenungkan hidup kita, nafas yang setiap hari kita hirup bisa kah kita pahami semuanya. Dimana awal dan akhir dari hidup kita, apakah kita sanggup membawa apa yang kita miliki sampai akhir hidup ini? Bukankah semua hal ini bisa terjadi karena karya dari Allah. Kasih Karunia Allah nyata bagi kita.

4. Kasih Karunia adalah Kebebasaan Allah yang berdaulat
Agama orang kafir memandang semua ilah terikat pada para penyembahnya dengan ikatan kepentingan pribadi, sebab ia tergantung pada pelayanan dan pemberian mereka untuk kesejahteranya. Orang modern juga berpikir demikian oleh karena satu alasan tertentu Allah wajib mengasihi dan menolong kita meskipun kita tidak berhak mendapatkanya. Allah menyelamatkan manusia untuk kepentingan Allah sendiri. Allah menyelamatkan manusia karena ketergantungan Allah terhadap manusia. Allah berharap sesuatu dengan menolong kita. Seorang pemikir prancis berkata “Allah akan mengampuni karena itulah pekerjaanya” sampai meninggal dunia ia berkata berulang-ulang demikian.

Pandangan diatas tidak memiliki dasar yang kuat. Karena Allah Alkitab tidak pernah tergantung kepada ciptaaNya untuk kesejahteranNya ( Maz 50:8-13, Kis 17:25). Dan karena kita telah berdosa Ia tidak terikat untuk menujukan kemurahaNya kepada kita. Allah tidak berhutang sehingga harus menghentikan proses keadilaNya. Ia tidak wajib memberi belas kasihNya atau memberi ampun. Kalaupun semuanya itu dilakukan, semua itu sesuai dengan kehendak bebas-Nya dan tidak ada sesorang pun yang memaksa Dia untuk melakukanNya (Rom 9:16). AnugrahNya bersifat sukarela dan keputusan ini merupakan keputusan yang tidak perlu dibuat Allah dalam kasus apapun. Di sinilah sesorang bisa memulai memahami padangan Alkitab tentang kasih karunia. Dalam kebebasan dan sukarela, Allah memilih mengasihi kita dan menyelamatkan kita.

Jadi, kasih karunia Allah merupakan kasih yang secara sukarela ditunjukan kepada orang yang berdosa dan yang bersalah, sesuatu yang berlawanan dengan apa yang pantas orang berdosa terima dan sesungguhnya bertentangan dengan keburukan orang berdosa. Allahlah yang menunjukan kebaikanNya kepada orang-orang yang hanya pantas mendapatkan hukuman yang berat dan mereka tidak memiliki alasan untuk mengharapkan apa pun kecuali hukuman yang berat.

Kasih keagungan Allah dapat dilihat dari tiga hal.

1. Kasih karunia adalah sumber pengampunan dosa
Injil berpusat pada pembenaran. Penghapusan dosa dan penerimaan diri kita oleh Allah. Pembenaran dari status sebagai penjahat terkutuk yang menantikan hukuman mengerikan menjadi ahli waris yang menantikan warisan yang menakjubkan. Pembenaran terjadi karena iman. Menaruh percaya kepada Tuhan Yesus sebagai juruselamat. Pembenaran ini adalah cuma-cuma bagi kita tetapi sangat berharga bagi Allah yakni dibayar dengan kematian anak Allah sebagai penebusan dosa. (bd Roma 8:32) Mengapa Allah tidak menyayangkan anakNya itu adalah karena kasih karuniaNya yang secara sukareal menyelamatkan dan menebus manusia. Kasih karunia seperti kita menikmati danau toba, kita duduk dipinggir penginapan menikmati pegunungan, menikmati udara yang sejuk menikmati danau yang mengagungkan. Kita tidak diwajibkan untuk melakukan atau membayar apapun untuk menikmati keindahan tersebut.

2. Kasih karunia sebagai motif dari rencana keselamatan
Jadi seharusnya ada sukacita karena tahu bahwa pertobatan kita tidak terjadi secara kebetulan tetapi merupakan tindakan Allah yang telah direncananNya dari kekekalan untuk keselamatan manusia.

Bintang-bintang bisa jatuh tetapi janji Allah akan tetap teguh dan digenapi. Rencana keselamatan dituntaskan dengan penuh kemenangan. Jadi, kasih karunia akan terbukti sebagai sesuatu yang penuh kuasa. Itu sebabnya, orang akan mengalami sukacita dalam menikmati kasih karunia Allah.

Kasih karunia adalah sebab dan keselamatan adalah akibat (band. Efesus 2:8, Titus 2:11, Yoh 3:16, Roma 5;8, Zak 13:2). Jaminan keselamatn ini lah yang memberi kekuatan kepada kita untuk bisa hidup dengan jujur di temat dimana kita berada, termasuk di dalam dunia kerja kita. Apa yang kita kuatirkan ketika Allah telah menjaminkan kesematan dalam kasih karuniaNya kepada kita?

3. Kasih karunia sebagai jaminan perlindungan terhadap orang percaya.
Jika rencana keselamatan pasti digenapi, maka masa depan orang Kristen terjamin. Saya saat ini dan selamanya akan terpelihara dalam kekuatan Allah karena iman, sementara menantikan keselamatan (1 Petrus 1:5, ”Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.”).

Doddridge mengatakan ”kasih karunia pertama-tama mengoreskan namaku, dalam buku kekal Allah. Waktu itulah kasih karunia membawaku kepada Anak Domba yang mengangkat semua dukacitaku. Kasih karunia mengajar jiwaku untuk berdoa dan mengenalkan kasih yang mendatakankan pengampunan, waktu itulah kasih karunia memelihara aku sampai hari ini dan tidak akan membiarkan aku pergi”.

Apa tanggapan kita akan kasih akrunia Allah? Seharusnyalah kita tidak bisa bersikap lain selain, menyenangkan hati-Nya dengan perasaan heran dan sukacita. Sebab injil menceritakan kepada kita bagaimana Sang Hakim itu telah menjadi Juru Selamat kita. Kita yang seharusnya mendapatkan hukuman, beroleh kasih karunia di dalam Dia. Cinta Romantis adalah pengalaman yang paling mirip dengan kasih karunia murni. Seorang akhirnya merasa bahwa saya adalah makhluk yang paling dirindukan, paling menarik, paling diinginkan di seluruh planet. Seseorang tidak bisa tidak pada malam hari unutk memikirkan saya. Seseorang memaafkan saya sebelum saya mememintanya, memikirkan saya ketika ia berdandan, menyesuaikan hidupnya dengan hidup saya. Seorang yang mencintai saya apa adanya. Itulah kasih karunia. Jadi, mari hidup di dalam kasih karunia itu.

“Oh bertapa besar aku berhutang terhadap kasih karunia,
Setiap hari aku didesak untuk bersyukur,
Biarlah kasih karunia itu sekarang seperti belenggu
Mengikat hatiku yang senang mengembara kepada-MU,

Ada orang yang berpendapat bahwa doktrin tentang kasih karunia Allah cenderung mendorong pangabaian moral (‘bagaimanapun kita akan selamat, tidak peduli apa pun yang kita lakukan karena tindakan kita tidak akan berpengaruh apa-apa’). Tetapi J.I Packer mengatakan bahwa orang yang memiliki pikiran seperti ini adalah orang yang tidak tahu apa yang sedang ia bicarakan. Karena pada giliranya kasih akan membangkitkan kasih. (Efesus 2:10, ”Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya”; Titus 2:11-12, “Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keingina duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini”). Anugrah itu berujung kepada “melakukan perbuatan baik’. Kasih karunia itu mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan, keinginan-keinginan duniawi, dan supaya kita hidup bijaksana dan adil (2 Tim 2:12). Orang yang mengalami kasih karunia akan semakin berubah menjadi lebih baik.

Sebuah kisah lain menceritakan bahwa ada seorang ayah di Spanyol memutuskan untuk berdamai dengan putranya yang melarikan diri ke Madrid. Dengan penuh rasa sesal, sang ayah memasang iklan di surat kabar El Libral yang berbunyi demikian: “Paco, temui saya di Hotel Montana hari Selasa tengah hari. Semua sudah dimaafkan. Papa.” Ternyata Paco adalah anma yang umum di Spanyol. Ketika Selasa tengah hari tiba, dan sang ayah datang ke hotel, ada sekitar 800 pemuda yang bernama Paco yang datang dan menungguh ayah mereka untuk memperoleh pengampunan. Dunia ini membutuhkan kasih karunia, Allah merindukan pelayanan kita dan setiap kita akan membagaikan kasih karunia itu kepada mereka”
Soli Deo Gloria!

[Knowing God 1 - 2010] - The Love of Our Father

(KG I- 2010)
Denni B. Saragih, M. Div


Jika kita melihat kitab Markus dan membaca Mark 1:11, kita akan menemukan sebuah pernyataan Allah kepada Yesus yang berbunyi, “Lalu terdengarlah suara dari sorga: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan."

Kita pasti memiliki pengalaman ditolak, apakah penolakan kecil atau penolakan besar amat dalam dan menyakitkan. Bahkan penolakan yang amat dalam ini bisa menyebabkan seorang alumni meninggalkan komunitas di mana ia berada. Penolakan adalah sesuatu yang amat menyakitkan bagi manusia di mana ada perasaan tidak dicintai dan dikasihi. Tetapi ada satu kebenaran yang dinyatakan Alkitab bahwa Allah sangat mencintai kita. Tuhan berkata kepada Yesus: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." Kalimat ini dikatakan Bapa kepada Yesus sebelum Yesus berkorban, melayani, menang melawan pencobaan, atau sebelum Yesus setia di dalam hidupNya. Bapa mengasihi Yesus adalah karena Yesus adalah anakNya. Kita harus yakin bahwa kita memiliki Bapa di Sorga yang sangat mengasihi kita. Bapa mengasihi kita bukan karena apa yang kita lakukan, apapun yang akan kita lakukan, tetapi Bapa mengasihi kita dan berkenan kepada kita karena kita adalah anak-anakNya.

Fakta bahwa kita memiliki Bapa yang mengasihi kita mungkin hal yang biasa bagi kita. Tetapi kita perlu menyadari bahwa sebenarnya fakta ini adalah sesuatu yang luar biasa. Kita sering ’take it fot granted’ bahwa Tuhan itu Bapa. Kita kurang sadar betapa istimewanya menjadi anak dari Tuhan. kebanyakan agama di dunia ini, tidak ada yang menyebut Tuhan sebagai ’Bapa’. Karena dalam banyak agama-agama (khususnya yang bersifat animisme) Tuhan dianggap sebagai bentuk manifestasi dari devine/demonic power, sehingga identik dengan kekuatan daripada kasih.

Kita harus kembali menghayati bahwa Alkitab berbeda. Dalam banyak agama hubungan manusia dengan Allah digambarkan sebagai hamba yang takut kepada Tuhan agar tidak disakiti. Jadi, kita memanipulasi reaksi Tuhan atau menggunakan Tuhan untuk kepentingan sendiri. Misalnya, memberikan persembahan, korban bakaran agar kita bisa mengambil hati Tuhan. Tidak ada hubungan yang personal apalagi hubungan Bapa-Anak. Agama Kristen adalah satu-satunya agama di mana kita memanggil Tuhan Bapa.

Bukan hanya agama-agama di dunia ini yang terkejut jika ada manusia yang memanggil Tuhan dengan Bapa, tetapi dalam Perjenjian Lama pun hal ini juga adalah sesuatu yang mnengejutkan. Dalam PL, memang ada konsep tentang Bapa, dan menyebut Tuhan dengan sebutan Bapa hanya muncul 14 kali dari 39 kitab dalam PL. Walaupun digunakan kata Bapa untuk Tuhan, tetapi penggunaan ini tidak digunakan sebagai panggilan. Tidak ada orang Israel yang berani memanggil Tuhan dengan sebutan ’Bapa’. Penggunaan kata ’Bapa’ menggambarkan hubungan yang sangat spesial antara Israel dan Tuhan, memanggil Nenek Moyang Abraham, menyelamatkan dari perbudakan Mesir. Ada hak istimewa sebagai umat Tuhan. Bagaimana Tuhan memelihara dan melakukan hal-hal yang khusus mulai dari nenek moyang sampai keturunannya itulah yang digambarkan ’seperti Bapa yang memelihara anakNya’. Tetapi tidak pernah ada yang pernah memanggil Tuhan dengan sebutan Bapa. Yang ada hanya sebuah bentuk perumpamaan ’seperti Bapa sayang pada anak, demikianlah Tuhan sayang kepada bangsa Israel’.

Nabi-nabi mengeluhkan Israel yang tidak menghormati Allah sebagai Bapa (Mal 1:6, ”Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?"), dalam kesulitan mereka memanggil Tuhan sebagai Bapa (Yes 63:16, ”Bukankah Engkau Bapa kami? Sungguh, Abraham tidak tahu apa-apa tentang kami, dan Israel tidak mengenal kami. Ya TUHAN, Engkau sendiri Bapa kami; nama-Mu ialah "Penebus kami" sejak dahulu kala.; 64:7-8, ”Tidak ada yang memanggil nama-Mu atau yang bangkit untuk berpegang kepada-Mu; sebab Engkau menyembunyikan wajah-Mu terhadap kami, dan menyerahkan kami ke dalam kekuasaan dosa kami. Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.”) dan Tuhan sering menjawab mereka sebagai Bapa yang penuh Kasih (Jer 31:20, ”Anak kesayangankah gerangan Efraim bagi-Ku atau anak kesukaan? Sebab setiap kali Aku menghardik dia, tak putus-putusnya Aku terkenang kepadanya; sebab itu hati-Ku terharu terhadap dia; tak dapat tidak Aku akan menyayanginya, demikianlah firman TUHAN.”). Ada ilustrasi yang menggambarkan seperti hubungan Bapa dengan anak, tetapi tidak ada sebutan Bapa sama sekali. Jadi, dalam PL hanya ada gambaran-gambaran bahwa Tuhan adalah Bapa dari umatnya dan digambarkan sebagai Bapa yang penuh kasih karunia. Tetapi ini semua adalah metafora untuk kasih dan perhatian Tuhan, tidak pernah dalam PL Tuhan dipanggil sebagai Bapa.

Dalam Perjanjian Baru , Yesus memperkenalkan sesuatu yang baru, memanggil Tuhan dengan sebutan Abba, Bapa (Luk 11: 1-4; Mrk 14:36; band. Roma 8:15; Gal 4:6). Mari melihat Luk 11:2, ”Jawab Yesus kepada mereka: "Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu.” Yesus mengambil sesuatu yang sangat berani dibanding dengan zaman itu untuk mulai memanggil Tuhan dengan Bapa. Dalam bahasa Aramaik, kata ’Bapa’ disebut dengan ’Abba’. Dan menariknya dalam berbagai terjemahan, kata ’Abba’ dipertahankan (Rom 8:15, ”Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!"). Bahkan dalam bahasa Indonesia pun kata ‘Abba’ tetap dipertahankan. Paulus yang menulis suratnya dalam bahasa Yunani pun tetap mempertahankan kata ‘Abba’ ini dalam bahasa Aramaik. Jadi dengan mempertahankan kata ini, Allah di dalam Roh Kudus mendorong kita untuk memanggil Dia ‘Abba’.

Apa yang istimewa dengan ‘Abba’? ‘Abba’ adalah bahasa sehari-hari (Aramaik) yang adalah bahasa informal, bukan formal. Para rasul mempertahankan bahasa Asli ini, dan tidak ada orang Jahudi dan literature jahudi sebelum Yesus yang berani melakukan hal seperti itu. Ibaratnya dalam bahasa Indonesia kita tidak memanggil Ayah kita dengan Bapak (karena kata Bapak memiliki sifat formal), tetapi dengan Papa, Papi, atau panggilan sayang yang lain. Demikian jugalah seharusnya kita memanggil Tuhan yang adalah Bapa kita. Hal ini harus kita pahami karena ada kekuatiran kata ’Bapa’ yang kita gunakan kepada Tuhan sudah berubah menjadi satu pola dan kehilangan makna yang sebenarnya. Yesus memanggil Tuhan sebagai anak kepada Bapanya, didalam kalimat yang sederhana dan penuh rasa percaya yang mesra, yakin bahwa Dia didengar. “Abba” menggambarkan kedekatannya kepada Tuhan, keanakan dari Tuhan Yesus. Dan Yesus berkata kepada kita: "Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu.” Mungkin kita harus membiasakan untuk mulai memanggil Tuhan ’Abba’. Kita mungkin sering memanggil Tuhan dengan ’Ya Allah’, ’Tuhan Yesus’, dll, tetapi mari mulai belajar untuk memanggil Tuhan dengan mesra, bukan karena sesuatu yang sudah terpola atau mekanis.

Rom 8:14-16 berkata: ”14 Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. 15 Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!" 16 Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.” Bagian ini dikatakan bahwa Roh Kudus menciptakan dan mendorong hubungan yang intim dengan Bapa. Kedekatan dengan Bapa bukanlah sesuatu yang bisa dibuat-buat, tetapi merupakan pekerjaan Roh Kudus, karena itu kedekatan ini seperti Kedekatan Yesus (Gal 4:6, ”Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!"). Seseorang tidak bisa dipaksa bahwa dia adalah seorang Anak Tuhan, tetapi sesuatu yang menjadi respons berdasarkan pekerjaan Roh Kudus.
Roh Kudus juga membantu kita berdoa dengan cara berdoa buat kita dan mengajarkan kita tentang berdoa (Roma 8:26-27, ”26 Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. 27 Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.”). Tetapi sebagai anak Tuhan kita juga perlu mengembangkan kehidupan Doa kita sebagai orang yang dikasihi dengan Tuhan. Fil 4:6 (”Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”) mengajar agar tidak kuatir apapun juga, tetapi nyatakan segala hal didalam doa kepada Allah. Keyakinan seperti inilah yang harus dimiliki oleh orang sebagai orang yang dicintai oleh Allah.
Kita harus membalas kasih Allah dengan terus mengembangkan hubungan pribadi dan ketaatan kepada Tuhan. Dalam I Pet 2:1-5 dikatakan ada dua tugas orang yang sudah dalam Tuhan menurut Rasul Petrus. Pertama adalah penyucian hidup, dan tugas kedua adalah pertumbuhan dalam Firman Tuhan. Kedua adalah menjadi seperti Bayi Yang Rindu akan Firman, dengan menyadari bahwa manusia tidak hidup dari roti saja (Mat 4:4, band Maz 42:2-3; 62:2-5; 84:2-3).

Mari hidup dalam bayangan kasih Bapa. Bapa berkata kepada Yesus, anakNya; ”Kau adalah anakku yang kukasihi kepadamulah aku berkenan.” Sekarang, mari mengganti kata ’kau’ menjadi nama kita, dan ucapkanlah pernyataan Bapa ini, maka kita akan merasakan bagaimana Tuhan mencintai dan mengasihi kita. ”[nama kita] adalah anakku yang kukasihi, kepada [nama kita] aku berkenan.”
Soli Deo Gloria!

Saturday, June 12, 2010

Seri Problem of Pain II (2009)

[Kotbah ini dibawakan oleh Esni Naibaho, M. Div pada ibadah Mimbar Bina Alumni, Jumat 9 Oktober 2009]


Ada banyak orang yang tidak suka berbicara mengenai maslah penderitaan bahkan ada Gereja tertentu yang menolak penderitaan dan menganggap orang yang menderita adalah orang-orang yang dikutuk dan tidak diberkati oleh Tuhan. Saat ini, kita akan melihat Problem of Pain dengan membahas pertanyaan mengapa ada penderitaan, bagaimana kita memahami penderitaan berdasarkan Alkitab dan melihat beberapa contoh dan teladan orang yang mengalami penderitaan.

Mari mengingat respon kita atau respon kebanyakan orang akan tragedi yang terjadi. Misalnya tragedi ‘September 11’ di Amerika, Tsunami di Aceh, badai Katrina di Amerika, gempa bumi di Padang dan Tasikmalaya, dan Banjir bandang di Madina dan peristiwa-peristiwa lainnya.. Apa yang menjadi respon kita ketika mendengan tragedi ini? Apa yang menjadi respon kita terhadap Tsunami di Aceh atau Gempa di Tasikmalaya? Ada banyak orang yang mengatakan bahwa bencana tersebut terjadi karena Tuhan sedang menghukum daerah-daerah yang menolak hamba-hambaNya. Benarkah demikian? Ada yang mengatakan bahwa peristiwa ‘September 11’ terjadi karena Tuhan sedang menghukum kaaroganan negara Amerika. Bencana alam seperti longsor dan banjir juga terjadi karena sang pemimpin tidak takut akan Tuhan dan membiarkan banyak kejahatan terjadi (misalnya Ilegal Logging). Ada banyak respon yang muncul dari manusia dan akhirnya menyimpulkannya dengan mengatakan bahwa penderitaan atau bencana terjadi sebagai konsekuensi dari dosa dan kesalahan (ketidaktaatan, arogansi, dll). Ada juga yang mengatakan bahwa penderitaan merupakan akibat dari murka dan kemarahan baik dari Tuhan, alam, orang lain, dll. Penderitaan juga merupakan satu enigma atau misteri. Tidak ada satu kalimat yang bisa mendefinisikan dengan jelas dan tepat mengapa penderitaan itu ada. Memang, dalam beberapa kasus kita bisa mengerti dan memahami mengapa penderitaan itu terjadi, tetapi biasanya setelah penderitaan itu berlalu. Tetapi banyak juga orang yang sampai bertahun-tahun bahkan sampai ia mati tidak mengerti mengapa penderitaan itu terjadi. Penderitaan tetap menjadi sebuah misteri.

Dalam Kejadian 1 dan 2 kita menemukan bagaimana gambaran dunia dan manusia yang diciptakan. Setiap kali hari diciptakan selalu dalam kategori baik (Kej 1:10, 11, 12: ”...Allah melihat bahwa semuanya itu baik”) dan Allah kemudian menyimpulkan seluruh ciptaanNya itu dalam kategori baik dan sungguh amat baik (Kej 1:31, ”Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik”. ). Kondisi ’sungguh amat baik’ ini adalah gambaran kondisi yang menggambarkan suasana damai, dimana semua berjalan dengan harmonis dan ada hubungan yang akrab antara manusia dengan Allah. Bisa dikatakan zaman ini adalah zaman dimana tidak ada penderitaan. Tetapi mengapa manusia mengalami penderitaan? Siapa yang mendatangkan penderitaan? Siapa yang seharusnya dituntut dengan hadirnya penderitaan itu?

Dalam Kejadian 3 kita melihat bahwa dosalah yang membuat manusia mengalami penderitaaan. Pada saat manusia melanggar perintah Allah, hubungan manusia dengan Tuhan menjadi rusak. Dosa juga menimbulkan perselisihan antara manusia dengan sesamanya dan alam pun tidak lepas dari kutuk Allah akibat dosa manusia. Hal ini mengakibatkan munculnya disharmoni diantara semua ciptaan. Kematian fisik terjadi dan dosa menjalar diantar umat manusia yang membuat manusia akhirnya semakin jauh meninggalkan Allah (band Rom 1:18-32). Akibat dosa, manusia mengalami penderitaan dan kehilangan damai. Allah tidak pernah besalah dengan malapetaka dan bencana yang terjadi di dunia ini. Penderitaan itu merupakan akibat pemberontakan manusia dan merupakan pekerjaan iblis. Namun harus disadari bahwa ada penderitaan yang tidak diakibatkan dosa.

Jadi mengapa ada penderitaan? Kata tanya ’why’ – mengapa?- merupakan pertanyaan yang biasanya dilontarkan oleh orang yang mengalami, mengetahui, dan melihat penderitaan. Ketika pertanyaan ini ditanya, kita ingin pertanyaan ini dijawab. Mari melihat kepada kisah Ayub.

Ayub, dalam semua penderitaannya, juga melontarkan kata ’why’. Ayub kehilangan harta, ternak, anak-anaknya. Bukan hanya itu, dia juga mengalami sakit kulit dan isterinya meninggalkan dia (Ayub 1:13-20; 2:7-9). Dalam kondisi seperti ini, tiga orang sahabatnya ingin menghibur dia. Ketika menemukan Ayub, mereka sampai tidak mengenalinya lagi. Ketiga temanya ini menangis dan mengoyak jubah mereka dan menaburkan debu dikepala mereka dan duduk tanpa bicara dekat Ayub selama tujuh hari lamanya untuk menunjukkan empati mereka (Ayub 2:11-13). Ini menunjukkan betapa mengerikan dan beratnya penderitaan Ayub. Setelah Ayub berkeluh kesah, teman-temannya mencoba membantu Ayub mencari penjelasan mengapa ia menderita dan jawabn teman-temannya semakin menambah penderitaan Ayub karena menjawab dari perspektif mereka dan mangatakan semua adalah kesalahan Ayub.

Sering sekali kita mempertanyakan ’why?’ dan tidak menemukan jawabannya. Jika penderitaan muncul karena dosa, kita mungkin dengan mudah bisa mengatakan bahwa penderitaan muncul karena kesalahan kita sendiri. Tetapi dalam kasus Ayub, kita melihat bahwa penderitaannya bukan karena dosa. Diakhir dari pertanyaannnya setelah berkali-kali bertanya, pertanyaan Yaub tidak pernah terjawab sampai di akhir kitab karena Allah tidak menjawabnya tetapi menunjukkan kebesaranNya. Ketika Ayub melihat kebesaran Allah ini melalui ciptaan yang ada di depannya, maka Ayub tersunggkur dan berkata: "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal. Firman-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui. Firman-Mu: Dengarlah, maka Akulah yang akan berfirman; Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku. Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.” (Ayub 42:2-6).

Mari melihat contoh lain di dalam kehidupan Yesus. Yesus mengalami penderitaan di salib dan akhirnya mengeluarkan pertanyaan ’Why did You forsake me?’ kepada Bapa. Ketika Yesus mempertanyakan hal ini bukan berarti Dia tidak menerima penderitaan. Karena sebelum Dia disalibkan, sudah tiga kali Ia menubuatkan kepada murid-muridnya mengenai penderitaanNya. Hal ini ingin menunjukkan bahwa Yesus mengalami tekanan yang luar biasa. Oleh karena tekanan ini lah Yesus sampai mengeluarkan keringat bercampur darah di Getsemane yang diakibatkan pembuluh darah yang pecah. Satu kondisi yang sangat berat yang bisa dipahami Yesus sendiri. Pada saat Yesus ingin berbagi kepada murid-muridNya dan meminta agar mereka berjaga selama Ia berdoa, mereka pun tidak sanggup. Dengan kata lain Ia sendiri bergumul dengan penderitaan yang Ia alami dan di Salib akhirnya Yesus berkata: ”Why did You forsake me?” Bukan pertanyaan yang menunjukkan ketidaktaatan, tetapi sebuah kalimat yang menunjukkan penderitaan yang berat yang dialami oleh Tuhan Yesus. Kalimat tersebut bukan kalimat yang meminta penjelasan kepada Bapa untuk penderitaanNya, tetapi karena penderitaan yang sedemikian dalam dan hebat yang dialami oleh Yesus. Kalimat yang menggambarkan bahwa dosa manusia ditimpakan kepada Yesus dan Allah, yang Maha Kudus, memandang manusia diwakili oleh Yesus dan Yesus menjadi korban penghapus dosa.

Ada beberapa jenis penderitaan yang mungkin akrab dengan kita.

  • Menderita karena pemberitaan injil (Paulus menderita karena mengabarkan Injil)

  • Menderita karena melihat kejahatan dan menyaksikan orang yang dikendalikan oleh dosa (Contoh: Yesus menangis ketika memasuki kota Yerusalem).

  • Menderita karena anggota tubuh Kristus mengalami penderitaan (penganiayaan, perlakukan tidak adil, fitnah dll). Misalnya penganiayaan di gereja lain membuat kita juga merasa ikut menderita.

  • Menderita secara pribadi: penderitaan karena kepengikutannya kepada Kristus. Ini merupakan penderitaan yang membuat orang yang mengalaminya menjadi makin dewasa dan bertumbuh dalam iman. Ini adalah mpenderitaan yang membuat orang semakin bertumbuh di dalam iman.

  • Menderita penderitaan yang dialami oleh semua ciptaan (Rom 8:18-25) karena menantikan untuk menjadi ’new creation’.

  • Menderita akibat ketidaktaatan.

  • Dalam PL kita menemukan Allah menghukum bangsa Israel karena kejahatan dan ketidaksetiaan mereka dengan mengirimkan penyakit, malapetaka, kelaparan, binatang buas, dll.

Apa sebenarnya sikap Allah di dalam penderitaa. Dalam kitab Kejadian kita menemukan bahwa Allah tidak tinggal diam dalam penderitaan manusia. Sebelum manusia jatuh kedalam dosa, Ia telah memberi peringatan kepada manusia sebelumnya untuk tidak memakan buah yang baik dan jahat. Namun manusia itu tidak taat akibatnya kematian dan dosa menjadi bagian nasib dirinya. Ada banyak penderitaan yang kita alami karena kesalahan kita sendiri. Kita mungkin sudah diperingatkan oleh Tuhan, tetapi tetap melakukan pilihan kita sehingga kita menjadi menderita. Sering sekali kita melihat bagaimana manusia kembali ingat keapda Tuhan ketika mengalami penderitaan.

Mari melihat juga mengenai Allah dan atributNya yaitu Allah yang Pemurah, penyabar, adil, dan pengampun, kasih, kudus, adil dsb. Sering sekali kita membenturkan atribut Allah ini padahal sebenarnya tidak ada sifat Allah yang bertentangan.sering sekali kita tidak menerima bahwa Allah itu kasih sekaligus adil. KeadilanNya tidak menghilangkan kasihNya dan sebaliknya. Ketika semuanya berjalan baik kita tanpa ragu mengatakan bahwa Allah sungguh baik, tetapi ketika ada persoalan kita mengatakan bahwa Allah tidak baik. Kesalahan kita dalam memahami atribut dan sifat Allah dapat membuat kita tidak dapat memahami dan menilai arti penderitaan dengan benar.

Jhon Piper menjelaskan tentang Allah yang berdaulat. Ia mengatakan bahwa Allah:

  • Dia berdaulat atas setan (dalam mengambil nyawa, menganiaya, dll). Hal ini kita lihat kisah Ayub dimana Allah menijinkan iblis untuk membuat Ayub menderita, tetapi tidak dapat mengambil nyawanya. Allah memang berdaulat, tetapi bukan berarti Allah selalu mengkontrol kita dan kebal terhadapt penderitaan. Allah mengkontrok dunia ii bukan berarti Allah tidak akan membiarkan kita jatuh dalam penderitaan. Ayub seorang yang setia dan dipuji- oleh Allah diijinkan untuk mengalami penderitaan.

  • Dia berdaulat atas alam semesta. Allah dengan hikmatNya menciptakan dan menempatkan alam semesta dalam tempatnya. Segala sesuatu tidak akan berpindah tanpa sepengetahuanNya.Ketika Allah mengijinkan setan mencobai Ayub, yang pertama dilakukannya adalah mendatangkan bencana alam dan kemudian menjamah kulitnya (Ayub 1:16-19). Di tengah kondisi yang sangat mengerikan sekalipun, mata Tuhan masih tetap meilhat kita. Jika kita juga akhirnya mati, bukan berarti Tuhan tidak mengasihi kita (band Fil 1:21).

  • Dia berdaulat dan berkuasa menyembuhkan penyakit

  • Dia berdaulat atas binatang dan tumbuhan. Dia menyuruh ikan memakan Yunus dan memuntahkannya kembali.
Tetapi pemahaman yang salah akan Allah yang berdaulat ini akan memunculkan pertanyaan ‘Kalau memang sedemikian Allah berdaulat, mengapa Allah tidak bisa menjaga dunia ini?’ Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang kita lontarkan dan merupakan sumber kutukan kita kepada Tuhan atas penderitaan yang kita alami dalam ketidak mengertian kita. Tuhan selalu kita salahkan. Sebenarnya bukan pertanyaan mengapa Tuhan, tetapi apa sebenarnya yang ingin Tuan katakan melalui peristiwa ini kepada kita semua baik kepada yang mengalami penderitaan ataupun tidak.

Ada lima sikap kita terhadap penderitaan, yaitu:
  1. Kecenderungan manusia mencari kenyamanan, ketenangan, dan suasana nyaman dan damai. Akibatnya ketika seseorang mengalami penderitaan mereka mengira bahwa Allah telah menghianati dan meninggalkan dia. Hal ini mengakibatkan kepahitan, kekecewaan, kemarahan, sakit hati, dan keinginan meninggalkan Tuhan.
  2. Kita harus menyadari bahwa penderitaan mengerjakan kesabaran, ketabahan, kedewasaan (Rm 5:3-5; Jak 1:2-4; I Pet 4:12-19; Wahyu 7:14).
  3. Orang percaya harus melihat bahwa penderitaannya mendatangkan keselamatan orang lain; dan memberi dampak bagi orang lain dan dirinya sendiri (Yes 53:11; Joh 12:24-25; Wahyu 14:13; Ibr 11:8-10; 29-40).
  4. Berjaga-jaga dengan pengaruh New Age Movement.Gerakan ini menawarkan untuk membebaskan manusia dari penderitaan, penyakit, rasa sakit, dan kematian. Kekristenan mengakui adanya zaman yang baru tetapi zaman yang baru itu belum datang dan akan datang dimana dizaman yang baru itu tidak ada lagi penderitaan dan tangisan. Kekristenan mengakui adanya zaman baru tetapi belum datang. Zaman itu akan datang ketika Yesus datang untuk kedua kali dimana tidak ada lagi tangis dan penderitaan. Jadi kita masih hidup di tengah-tengah dunia yang akan menghadapi banyak penderitaan. Di tengah-tengah dunia seperti ini kita tidak bisa serta merta ingin meninggalkan dunia ini sedemikian rupa tetapi kita memiliki keyakinan dan mebangun iman kita kepada Tuhan sehingga kita mengetahui bahwa zaman yang baru akan datang dengan kedatangan Yesus, dan sembari menantikan zaman yang akan datang itu kita harus bertekun di dalam iman kita kepada Tuhan.
  5. Panggilan bagi kita adalah untuk bertahan dalam penderitaan (I Pet 4:12-19; I Kor 10:13). Ayub, Jeremiah, dan Habakuk telah sampai kepada pengertian mengapa mereka menderita bukan karena alasan terhadap ’why’ mereka terjawab secara memuaskan melainkan penderitaan mereka telah membawa mereka semakin mengenal kebesaran Allah. Biarlah penderitaan yang kita alami menjadi bagian yang penting dalam hidup kita dengan membawa kita semakin mengenal kebesaran Allah. Hal ini akan menghasilkan buah dan karakter yang baik. Bingham mengatakan bahwa orang berdosa tidak dapat mengetahui kebenaran dari penderitaan itu sendiri sampai ia datang kepda pertobatan dan mengakui bahwa ia adalah seorang pemberontak.

Meneladani Yesus. Yesus telah mengatasi penderitaan kita melalui kerelaannya menderita bagi umat manusia. G.C Bingham menyatakan: “The suffering of Christ is a suffering servant.” Dia menjelaskan Yesus menderita dalam hal: Dia datang kepada ciptaanNya tapi ciptaanNya menolak Dia; Dia memperkenalkan dirinya sebagai Anak Allah tapi manusia justru membunuhNya. Dia memberikan kasih tapi malah menuai kebencian dari banyak orang. Yesus menderita bukan hanya karena Ia telah dipermalukan, dipaku, dan disiksa di kayu salib melainkan karena kesalahan manusia ditimpakan kepada Dia yang adalah tidak berdosa. Seluruh penderitaan manusia ditimpakan kepadaNya.

Mari belajar untuk menyadari kecenderungan kita untuk merasa tetap nyaman, tidak memiliki masalah, ingin mencari sesuatu yang menyenangkan kita. Jika kita mengejar hal-hal ini, dan ketika masalah menerpa kita, maka kita akan menyalahkan Tuhan. Sudah saatnya kita membuang ini. Kita harus bangkit dan menyadari bahwa semua yang terjadi di dalam kehidupan kita ada di dalam pengetahuan Allah. Sikap yang benar terhadap penderitaan akan menghasilkan buah berupa kedewasaan. Penderitaan pasti akan berakhir dan biarkanlah itu berakhir dengan menghasilkan karakter kita yang semakin diperbaiki. Sebagai orang yang percaya, mari melihat penderitaan itu sebagai penderitaan yang bisa dipakai oleh Allah sebagai alat keselamatan kepada orang lain. Kita harus menghadapi penderitaan dalam bentuk apapun selama kita ada di dalam dunia ini. Mari menyadari zaman baru akan datang dengan tetap ada di dalam dunia ini dengan membangun iman kita. Mari megikuti jejak orang-orang yang mendahului kita seperti Ayub, Jeremia, dan Habakuk, yang justru ditengah-tengah penderitaan mereka semakin mengenal kebesaran Allah dalam hidup mereka.
Allah mengasihi manusia, Ia peduli kapada kita bahkan ditengah-tengah keadaan penderitaan yang mengerikan dan mengejutkan, kita adalah objek dari kasihNya (C.S. Lewis).

SoliDeo Gloria!

Seri Problem of Pain I (2009)

[Kotbah ini dibawakan oleh Denni Boy Saragih, M. Div pada ibadah Mimbar Bina Alumni, Jumat, 2 Oktober 2009)

[Kej 3:14-19]

MBA kali akan membahas mengenai satu tema yaitu 'The Problem of Pain'. Jika kita menyusun semua penderitaan, maka penderitaan bisa ada karena beberapa penyebab. Ada penderitaan bisa timbul karena ada physical pain, rasa sakit karena luka fisik. Ada juga penderitaan yang disebabkan oleh mental suffering, misalnya karena patah hati atau dipermalukan. Ada juga the suffering of innocents, penderitaan oleh orang-orang yang tidak bersalah dimana tanahnya diambil orang lain atau orang yang tidak bersalah tapi dihukum. Ada juga physical deformities, di mana penderitaan yang dialami mereka yang tidak memiliki anggota tubuh yang lengkap atau mengalami cacat fisik. Ada juga penderitaan karena psychological abnormalities, di mana ia mengalami gangguan psikologis seperti berkepribadian ganda atau memiliki kecenderungan-kecenderungan yang aneh seperti paranoia, dll. Ada juga penderitaan karena disease (penyakit). Ada juga penderitaan karena character defects, di mana seseorang suka mencuri padahal ia kaya. Ada juga ketidakadilan karena injustice (ketidakadilan), penderitaan karena oppression and persecution (penindasan dan penyiksaan), dan penderitaan karena natural catastrophes (bencana alam) seperti gempa bumi, tsunami. Pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa manusia harus mengalami penderitaan dan rasa sakit?

Penderitaan adalah sebuah fakta. Jika kita mengamati sekeliling, maka di mana dan kapan saja penderitaan selalu ada di dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, Selama manusia ada di dalam dunia ini maka ia tidak pernah tidak menderita – apapun bentuknya. Bahkan Sidarta Gautama berkata bahwa ketika lahir kita menangis dan ketika matipun kita dihantar oleh tangisan. Penderitaan itu pada dasarnya adalah sesuatu yang bersifat existensial personal. Misalnya kita mengatakan orang Padang sedang menderita karena gempa. Memang di Padang terjadi gempa, tetapi tidak semua orang Padang menderita. Di Padang sendiri ada yang tidak mengalami kerusakan apa-apa dan tidak kehilangan siapapun. Tetapi ada juga orang yang menderita. Penderitaan hanya kita alami secara pribadi. Kita memang bisa berempati, tetapi kita tidak bisa mentransfer apa yang kita alami kepada orang lain dan menyerap apa yang dirasakan oleh orang lain. Ini adalah fakta. Penderitaan itu terdistribusi secara merata bagi orang miskin-kaya, tua-muda, asia-eropah, dll.

Semua orang menderita dalam kacamata yang berbeda-beda. Jadi pertanyaannya adalah apa sebenarnya masalahnya? Apa itu Problem of Pain? The Problem of Pain adalah sesuatu yang terjadi bukan karena kita menderita tetapi karena di tengah –tengah penderitaan yang kita alami kita percaya bahwa ada eksistensi Allah. Jadi jika Allah ada dan penderitaan juga ada maka muncul masalah teologis. Maksudnya, bila tidak ada Tuhan maka masalah penderitaan tidak ada. Penderitaan hanya sebuah sensasi psikologis yang tidak menyenangkan atau rasa yang tidak enak. Tetapi bila Tuhan memang ada, kenapa Tuhan membiarkan penderitaan? Kenapa Ia tidak berbuat apa-apa di tengah penderitaan? Dimana Allah ketika Nazi memusnahkan ratusan ribu orang Yahudi di dalam ruangan dengan gas beracun? Kenapa Tuhan membiarkan semua kejahatan terjadi? Apakah Allah memang ada? Sekali lagi jika Allah tidak ada, maka penderitaan bukanlah masalah. Tetapi akan muncul masalah teologis dalam memandang penderitaan jika kita percaya kepada Allah.

Hal ini menjadi masalah psikologis karena kita percaya bahwa Allah adalah Allah yang baik dan Maha Kuasa. Problem of Pain tidak akan muncul jika Allah itu baik tetapi tidak maha kuasa. Karena Allah tidak berkuasa mencegah semua penderitaan yang ada. Jadi tidak ada masalah dengan penderitaan. Penderitaan juga tidak akan menjadi masalah jika kita melihat Allah itu Maha Kuasa tetapi tidak Allah yang baik. Allah berkuasa mencegah semua penderitaan tetapi Ia tidak baik. Wajar jika ia membiarkan penderitaan dan Ia ’tidak peduli’ dengan penderitaan manusia. Tetapi muncul Problem of Pain yang telah dirumuskan oleh Epicuros (341-270 BC) dengan mengatakan ”Apakah Ia ingin mencegah penderitaan tetapi tidak mampu? Berarti Ia tidak maha kuasa. Apakah Ia mampu, tetapi tidak ingin? Berarti Ia jahat. Apakah Ia mampu dan ingin? Bearti IA Maha Kuasa dan Maha Baik. Jadi darimana datangnya penderitaan dan kejahatan?” Perlu kita ketahui bahwa fakta penderitaan adalah salah satu argumentasi yang paling kuat supaya orang bisa menjadi Atheis.

Jadi, bagaimana kita seharusnya bersikap dalam merenungkan The Problem of Pain? Pertama, kita harus memahami makna ’kemahakuasaan Tuhan’. ’Maha Kuasa’ – dalam konteks Alkitab – sering diartikan sebagai apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah. Artinya Allah berkuasa melakukan hal-hal yang luar biasa. Tetapi kita harus bedakan antara tiga hal, yaitu: 1) Hal-hal yang masuk akal, kita bisa melakukannya dan Tuhan juga bisa melakukannya. Contohnya adalah membuat mobil berjalan, membuat orang jatuh cinta, dll. 2) Hal-hal yang melampau akal, dimana manusia juga bisa melakukan hal-hal yang seolah-olah melampaui akal, misalnya sulap. Tuhan juga mampu melakukan hal-hal yang melampaui akal melalui mujizat. 3) Hal-hal yang tidak masuk akal, artinya Tuhan tidak menjadi berhenti kemahakuasaanNya jika Ia tidak mampu melakukannya. Misalnya, tidak masuk akal membuat sebuah lingkaran yang berbentuk segitiga. Sangat tidak masuk akal! Tidak ada yang bisa melakukannya bahkan Tuhan pun tidak bisa melakukannya karena segitiga bukan lingkaran dan lingkaran bukan segitiga. Sewaktu Tuhan tidak bisa melakukan hal ini bukan berarti Ia tidak Maha Kuasa, tetapi permintaannya yang tidak masuk akal, permintaan yang tidak mungkin terjadi.

Karena itu, jika kita ingin membandingkan dengan konsep penderitaan dalam dunia ini, Tuhan itu Maha Kuasa dan di dalam kemahakuasaanNya, Dia memberikan kebebasan kehendak kepada manusia, sehingga sewaktu Ia memberikan kebebasan kehendak bagi manusia untuk memilih, Ia tidak bisa pada saat yang sama membatasi kebebasan kehendak itu supaya manusia hanya memilih yang baik saja. Di sinilah akar dari penderitaan yang dialami manusia. Manusia memilih dan pemilihan itu terkadang membuat manusia memilih yang jahat. Jika kita melihat Kejadian 3 tadi muncul pertanyaan kenapa Adam dan Hawa memilih untuk memakan buah itu dan melanggar perintah Allah dimana hal itu beakibat kepada munculnya banyak kutukan Tuhan. Bukankah sebenarnya Tuhan bisa muncul dan melarang Hawa pada saat ia akan mengambil buah yang dilarang Tuhan untuk dimakan? Jawabannya adalah bisa! Tetapi apa gunanya Ia memberikan kebebasan? Apa gunanya Ia memberikan perintah? Apa gunanya Ia memberikan larangan jika larangan itu tidak boleh dilanggar? Bukan berarti larangan atau hukuman dibuat untuk dilanggar. Tidak! Ketika Allah memberikan larangan, berarti ada kemungkinan larangan itu dilanggar. Jika tidak ada kemungkinan larangan tersebut dilanggar maka tidak perlu ada larangan. Misalnya, tidak perlu ada larangan “Dilarang Terbang di udara!”, karena tidak ada manusia yang mampu terbang di udara. Tetapi larangan seperti “Dilarang buang sampah sembarangan!” atau “Dilarang menginjak rumput!” pasti ada kemungkinan dilanggar. Justru karena ada kemungkinan yang melanggar maka dibuat larangan. Jadi bukan ‘hukum dibuat untuk dilanggar’ tetapi ‘hukum dibuat karena ada kemungkinan orang melanggar hukum itu’.

Jadi, Allah tidak bisa memberikan manusia kehendak bebas sekaligus selalu mencegah manusia berbuat jahat jika manusia ingin melakukannya. Hal ini akan menimbulkan pertanyataan, “Kalau begitu sebaiknya jangan ada kehendak bebas!” Tetapi, apakah kita lebih suka keadaan dimana manusia tidak diberikan kehendak bebas? Jawabannya sangat sederhana. Jika kita ingin pacaran dengan seseorang, maka yang mana lebih kita sukai, ia pasti dan tidak bisa tidak harus mencintai kita atau ia memilih dengan sukarela mencintai kita? Kita pasti memilih yang kedua. Dan jangan salah, pilihan yang kedua ini memiliki resiko. Kalau memang yang kita inginkan ia memilih dengan sukarela mencintai kita maka ada kemungkinan ia tidak memilih untuk mencintai kita. Inilah yang Tuhan lakukan. Ia ingin Adam dan Hawa mencintai Dia dengan segenap hati dan jiwa mereka sebagai manusia dan hal itu berarti bahwa Allah tidak berhak melarang jika manusia memilih untuk memberontak kepada Dia. Disinilah akar daripada penderitaan muncul. Jadi, kita tidak bisa sertamerta menyalahkan Allah ketika mengalami penderitaan karena dalam pilihan nenek moyang kita ada akar dari penderitaan. Manusia tidak hanya bebas memilih yang baik, tetapi manusia juga bebas memilih yang buruk atau jahat. Jadi, Allah tidak berhenti menjadi Maha Kuasa ketika manusia tidak dicegahNya melakukan yang jahat kepada orang lain.

Setelah memahami kemahakuasaan Tuhan, kita juga harus memahami hal yang kedua, yaitu memahami ’Kebaikan Tuhan’. Kebaikan dalam Alkitab bukanlah berarti sesuatu yang manis dan menyenangkan. Dalam Alkitab juga kadang-kadang dibedakan antara yang baik sekarang dan baik yang akan datang. Ada sesuatu yag memang tidak baik tetapi kelak dia menjadi sesuatu yang baik. Misalnya, orang yang senantiasa membanting tulang dan selalu ke ladang mencangkul dan malam baru bisa belajar. Ia memang menderita, tetapi dalam jangka panjang ia adalah seorang yang sehat dan bebas dari penyakit dan menjadi pribadi yang tangguh. Dalam Alkitab juga harus dibedakan antara baik bagi saya, baik bagi orang lain, atau baik bagi semua manusia. Misalnya, kematian seorang ayah yang akhirnya merukunkan semua anak-anaknya yang bertengkar. Jadi, kebaikan harus dipahami dalam konteks dunia yang berdosa.

Sewaktu kita bicara tentang Tuhan yang baik dan memberikan kebaikan kepada kita di tengah-tengah dunia yang penuh dosa, akan memunculkan dua jenis kebaikan. Pertama ada yang disebut Simple Good, yaitu hal-hal yang baik di dalam dirinya sendiri. Misalnya, cinta, sukacita, kebahagiaan, persahabatan dan hal-hal lain yang pada dasarnya adalah baik. Tetapi ada hal-hal yang menghasilkan sesuatu yang baik bagi manusia meskipun menghasilkan penderitaan. Dan hal inilah yang disebut Complex Good. Kita bisa melihat bahwa Allah itu tetap Maha Kuasa dan Maha Baik di tengah-tengah penderitaan yang ada dengan memahami apa sebenarnya kemahakuasaan Allah di tengah-tengah dunia yang memberontak kepada Tuhan dan dunia yang Allah berikan kebebasan untuk mencintai Dia atau untuk memberontak kepadaNya. Sebuah dunia yag dengan kompleksitasnya penuh dengan kebaikan Allah dimana, mungkin, ada kebaikan yang sederhana dan kebaikan yang kompleks.

Jadi, bagaimana kita memahami peran penderitaan bagi manusia? Kita harus belajar bahwa kita tidak bisa memberikan jawaban yang tuntas dalam menjawab penderitaan. Jangan memberikan jawaban yang menyederhanakan masalah seperti ”O, ini ada hikmatnya.” Tetapi kita juga tidak akan bisa menjelaskan semua peristiwa penderitaan itu. Kita harus merenungkan dan memahami apa kira-kira yang berguna dari penderitaan itu kepada manusia. Kita harus mengakui ada titik-titik di mana bahasa dan pengertian manusia harus berdiam dan mengheningkan diri tak berdaya terhadap bencana Alam Yang Tidak Pandang Bulu, Kekejaman Perang dan Terorisme, dan Kebiadaban Para Tiran dan Penindas. Tidak ada jawaban yang tuntas. Tetapi ada tiga hal yang menjadi pegangan kita ketika melihat penderitaan terjadi di dalam manusia. Pertama, penderitaan mengguncang ilusi manusia yang melihat semuanya baik dan tidak ada masalah. Hidup ini tidak baik dan penuh dengan masalah. Kedua, penderitaan menggoyahkan kesombongan manusia yang percaya pada kecukupan diri sendiri. Penderitaan mampu menggoncangkan orang kaya. Ia tidak pernah berpikir akan kekurangan, tidak pernah berpikir akan orang miskin, tetapi dia akan mulai memikirkannya ketika kanker masuk ke dalam tubuhnya. Penderitaan juga menggoncangkan kita bahwa kita tidak ada apa-apanya. Kita membutuhkan Tuhan dan orang lain. Jika kita tahu minggu depan kita akan meninggal dunia, maka satu minggu ini akan menjadi minggu yang luar biasa karena minggu ini akan penuh dengan kebaikan dan sempat meminta maaf kepada orang-orang yang kita sakiti. Dan Ketiga, penderitaan membuat jiwa pemberontak manusia menundukkan diri kepada kekuasaan Tuhan.

Kalau memang itulah inti kebaikan dari penderitaan, bukan berarti ini adalah jawaban dari semua penderitaaan. Kenyataan bahwa penderitaan di tengah-tengah dunia ini adalah sesuatu yang bisa membawa hal yang baik di tengah hal yang buruk dimana orang akhirnya menyerahkan diri kepada Allah. Manusia akhirnya menyerahkan diri karena tenderita, bukan karena kerelaan. Tetapi pertanyaannya adalah ‘Apakah sebuah penyerahan diri yang ‘dikondisikan’ oleh penderitaan adalah sebuah penyerahan diri yang sejati?’ CS Lewis mengatakan inlah yang disebut dengan Divine Humility, kerendah-hatian Tuhan. Tuhan rela menerima penyerahan diri manusia meskipun penyerahan diri itu bukan karena manusia betul ingin takluk kepada Tuhan tetapi karena dikondisikan oleh penderitaan. Hal ini terjadi karena Allah melihat manusia seperti seorang anak yang dalam proses belajar untuk berserah lepada Allahnya secara total di tengah-tengah dunia yang telah jatuh kepada dosa. The Problem of Pain pada akhirnya adalah pertanyaan mengenai penyerahan total kita, apakah dengan melihat segala penderitaan ini bisa dibawa kita kepada penyerahan diri kepada Allah dan menyadari bahwa kita tidak ada apa-apanya dan kita harus belajar takluk kepada Allah, pemilik dan yang empunya segalanya, yang menjaga diri kita dan segala yang kita miliki.
SoliDeo Gloria!

Tuesday, May 25, 2010

[Christian Ethic 02 - 2009]: Lesser Beetwen Two Evils

Denni B. Saragih


Saat ini kita akan membahas mengenai seri Christian Ethic yang kedua yaitu Lesser Between Two Evils atau The Dilemma of Two Evils. Artinya adalah sebuah keadaan di mana kita berada di dalam situasi etis yang pilihannya serba sulit dan dalam situasi seperti ini kita harus mengambil keputusan dan mempertimbangkan keputusan yang kita ambil. Hal ini sangat penting karena kita hidup dalam zaman di mana apa yang benar dan apa yang salah itu menjadi kabur, sebuah zaman di mana yang salah mungkin semakin banyak dianggap benar. Dan kadang-kadang sebagai reaksi untuk perkembangan seperti itu banyak anak-anak Tuhan menganggap apa yang benar dan apa yang sebenarnya benar di curigai sebagai sesuatu yang salah. Orang-orang dalam zaman ini semakin pragmatis dalam memandang keputusan sehingga benar dan salah itu menjadi sesuatu yang tidak penting, dan yang penting adalah apakah hal tersebut menguntungkan atau tidak.

Ada sebuah film berjudul Les Miserable. Dalam film ini digambarkan bagaimana seorang Jean Val Jean yang divonis mencuri tetapi hukuman yang diberikan lepada dirinya adalah hukuman untuk perampok. Dia yang seorang maling kecil berkembang menjadi penjahat besar dalam penjara. Kemudian oleh sebuah peristiwa besar, dia berubah. Singkat cerita; dalam bagian akhir, setelah hidupnya tidak lagi menghakimi tetapi penuh dengan kasih, dia berhadapan situasi konflik dalam refolusi Prancis. Seorang polisi mengejar-ngejar dia, karena dia adalah bekas pencuri yang tidak melapor bahwa dia dulunya adalah pernah mencuri sebelum menjadi walikota. Polisi ini terus menerus mengejar dia. Karena terus di kejar Jean Val Jean bersembunyi di balik para pembrontak — orang-orang yang memprakarsai revolusi Perancis. Karena terus mengejar, polisi ini akhirnta ditangkap oleh kaum revolisioner. Setelah dia ditangkap lalu dia dijatuhi dihukum mati. Tentu saja Jean Val Jean seharusnya senang. Tetapi sewaktu polisi ini akan dibunuh, Jean Val Jean mengatakan, “Biar saya yang mengekskusi dia, karena saya punya dendam pribadi dengan dia.” Lalu dia membawa polisi ini ke dalam sebuah gang dan di dalam gang ini dia menembakkan senjatanya ke udara bukan polisi itu. Polisi itu menatap dia dengan mata yang berkaca-kaca dan berkata,”Mengapa kamu menyelamatkan saya.” Lalu Jean Val Jean berkata, “Karena aku juga dulu di selamatkan. Sekarang pergilah! Aku akan mengatakan kepada mereka bahwa kamu sudah mati dan mayatmu sudah kubuang ke dalam sungai.” Lalu polisi ini pergi dan lari. Jean Val Jean kembali ke pada para kaum revolusioner dan mengatakan bahwa dia telah membunuh si polisi tadi. Menurut kita, benarkah tindakan Jean Val Jean? Dia menyelamatkan nyawa tetapi dia berbohong. Apakah kita pernah mempertimbangkan situasi etis seperti ini? Banyak situasi-situasi dimana kita mengalami dilema, dalam pengertian bak makan buah simalakama. Apa yang kita lakukan ketika berada di dalamnya? Ini adalah pertanyaan yang sulit.

Dilema dapat mengambil dua bentuk. Pertama, dua pilihan yang sama-sama memiliki elemen jahat dalam moral non kontekstual. Artinya, terlepas dari konteksnya, dua-duanya tidak bagus. Dalam kisah Jean Val Jean, berbohong adalah tindakan yang salah. Tetapi membunuh atau membiarkan orang lain terbunuh padahal dia berbuat sesuatu juga merupakan sesuatu yang jahat. Di sini kita berhadapan dengan dua pilihan berbohong atau membunuh. Dalam konteks seperti ini, kita tidak bisa memilih untuk tidak berbuat apa-apa. Hal ini juga sama seperti seorang konglomerat pemilik pabrik rokok yang bertobat. Dia memiliki dua pilihan. Dia meneruskan pabrik rokoknya dan dengan demikian pabriknya akan menghasilkan rokok terus menerus dan akan semakin banyak orang merokok dan kena kanker paru-paru. Atau pilihan kedua dia bisa menutup pabrik rokonya dan dengan demikian akan memPHKkan ribuan karyawan dan akan semakin banyak keluarga yang kehilangan mata pencahariannya. Apa yang harus dia lakukan. Jika kita di dalam posisinya apa yang kita lakukan? Meneruskan pabrik rokok adalah sesuatu yang tidak baik dan membuat orang kehilangan mata pencahariannya juga tidak baik.

Bentuk kedua dari dilema adalah pilihan yang ada memiliki efek ganda yang dimana maksud dan akibatnya bertolak belakang. Misalnya seorang ibu yang mengandung bayi dan keberadaan bayi tersebut mengancam nyawanya. Kita bermaksud menyelamatkan nyawa si Ibu tetapi untuk melakukannya kita harus mengorbankan nyawa si bayi. Demikian juga halnya jika ingin menyelamatkan si bayi, maka kita juga harus mengorbankan nyawa si ibu. Ini juga situasi dilematis yang lain. Mana yang lebih diutamakan, nyawa si ibu atau nyawa si bayi?

Contoh lain adalah misalnya kita menjadi seorang pilot pesawat tempur. Kemudian kita diminta untuk menghancurkan pabrik senjata dengan serangan bom. Menghancurkan pabrik senjata tersebut juga berarti bahwa masyarakat di sekitar pabrik akan menjadi korban. Bagaimana kita berhadapan dengan situasi seperti ini? Inilah situasi yang disebut dengan two evils. Dua pilihan yang dilematis dimana yang satu jahat dan yang lain juga jahat. Kalau menghancurkan pabrik senjata yang berakibat kematian warga tidak berdosa adalah jahat, tidak menghancurkannya juga jahat karena pabrik senjata ini mengeluarkan senjata yang telah membunuh banyak orang. Membiarkan si bayi meninggal jahat, membiarkan si ibu meninggal juga jahat. Inilah yang disebut dengan situasi dilematis.

Sewaktu kita berhadapan dengan hal ini, kita juga harus membedakannya dengan yang lain. Yang dimaksud dengan Lesser than Two Evils bukanlah White Lie—bohong demi kebenaran. Berbohong demi kebaikan adalah satu cara etika yang biasanya orang dunia pakai untuk menyatakan bahwa untuk mencapai tujuan yang baik di mana kita kadang-kadang harus melakukan kejahatan. Hal ini mirip dengan metode Zorro. Zorro melakukan kejahatan untuk melakukan kebaikan. Dia merampok orang kaya dan membagi-bagikannya kepada orang miskin. Artinya, masalah dilematis adalah masalah yang berbeda dengan setiap masalah lain yang memiliki pilhan ketiga yang secara moral dan efek bisa dilakukan. Artinya pilihannya bukan hanya dua. Ada pilihan ketiga atau cara-cara lain yang bisa dilakukan dan dia bisa lepas dari dilema tersebut.

Pilihan ini tidak berlaku untuk sesuatu yang memang sebenarnya bukan karena kita mengantisipasi masa depan yang kita rasa bergantung sepenuhnya kepada kita. Contohnya, dalam kasus perang di Eropa Timur dan beberapa gereja berhadapan dengan komunis, ada sepuluh anak Tuhan yang diancam hukuman mati. Lalu seorang komunis berkata kepada salah seorang dari sepuluh ini, ”Jika kamu mau mengeksekusi sembilan orang ini, maka kamu akan dilepaskan.” Dia mengingat mamanya yang seorang diri dan tidak ada yang merawat. Mempertimbangkan hal tersebut akhirnya dia berlogika, ”Toh yang sembilan orang ini akan mati. Jika aku ikut mati maka akan ada 10 ibu yang mungkin tidak bisa punya anak lagi. Tetapi jika aku membunuh yang sembilan ini maka akan ada satu ibu yang diselamatkan, yaitu ibuku.” Lalu dia setuju dan membunuh sembilan orang temannya. Apakah kita setuju dengan tindakannya? Perlu kita ketahui bahwa kasus dalam hal ini berbeda karena dalam konteks ini ada pilihan ketiga dan dalam konteks ini tidak ada dilema. Sebenarnya yang ada adalah ketidak yakinan bagaimana ibunya kalau akhirnya dia mati.

Situasi yang ingin dipaparkan pada saat ini adalah situasi dimana tidak ada pilihan ketiga. Mari kita meliohat contoh dari Alkitab dan melihat bagaimana Alkitab menangani masalah seperti ini dan kita kana sama-sama belajar dari Firman Tuhan. Mari melihat Yosua 2:1-7. Dalam Yosua ini kita melihat situasi yang sama. Mari kita analitis dan melihat bagaimana kita menilainya dari segi etis. Rahab hanya memiliki dua pilihan. Pilihan Rahab adalah memberitahukan di mana para pengintai. Pilihan memberitahukan dimana para pengintai itu sembunyi bisa terjadi dengan skenario berikut. Pertama, Rahab dengan terus terang memberitahukan dimana para pengintai sembunyi. Pilihan ini akan menyebabkan kematian daripada pengintai dan Rahab ikut membunuh pengintai itu. Kedua, Rahab tidak mau berbohong dan hanya berdiam diri saja. Tetapi berdiam diri membuat orang yang mencari langsung tahu bahwa ada pengintai sembunyi di rumah tersebut. Berdiam diri juga menyebabkan kematian secara tidak langung. Rahab mungkin mengatakan bahwa dia tidak bohong atau dia tidak membunuh tetapi dia tidak bisa lepas dari tanggung jawab secara moral bahwa dengan berdiam diri dia secara tidak langsung sudah ikut memberitahukan bahwa ada pengintai di rumah tersebut. Ketiga, Rahab menjadi gugup dan akhirnya ketahuan dimana para pengintai. Dengan kata lain, Rahab tidak melakukan usaha terbaik untuk melindungi nyawa orang yang sembunyi itu dan dia pun terlibat dalam kematian orang yang sembunyi itu. Pilihan pertama Rahab adalah pilihan yang langsung maupun tidak langsung memberitahukan dimana para pengintai dan dengan demikian dia terlibat dalam kematian para pengintai.

Pilihan Rahab kedua adalah dia bisa menyembunyikan fakta lokasi pengintai. Dia bisa berbohong dengan mengatakan bahwa pengintai tidak datang. Jika dia berbohong para pengintai tidak datang, maka bisa saja para pengawal itu pasti tidak percaya kepada dia dan akan menggeledah rumah Rahab tersebut. Satu-satunya pilihan yang bisa menyelamatkan adalah pilihan yang diambil Rahab. Dia berbohong dengan mengatakan bahwa pengintai sudah datang dan dia tidak tahu mereka orang Israel dan mereka sudah pergi sebelum mereka datang ketempat itu. Dengan demikian dia bisa menyelamatkan para pengintai itu.

Apa yang dilakukan Rahab itu tidak disalahkan oleh Alkitab. Kita tahu bahwa apa yang Rahab lakukan adalah bohong tetapi Alkitab memuji tindakan Rahab yang menyembunyikan para pengintai itu dan mengatakan bahwa tindakan itu berasal dari imannya. Ibrani 11:31 mengatakan, ”Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik.” Rahab menyambut para pengintai dan tahu bahwa mereka adalah panglima-panglima Kerajaan Allah dan dia tahu bahwa mereka dilindungi oleh YAHWE, Allahnya Israel. Dia menyembunyikan mereka dan berbohong demi mereka agar mereka tidak dibunuh oleh para pengawal Yerikho. Terjemahan yang lain juga menyakan hal yang sama. RSV mengatakan, ”By faith Rahab the harlot did not perish with those who were disobedient, because she had given friendly welcome to the spies.”. Dan NIV mengatakan, "By faith the prostitute Rahab, because she welcomed the spies, was not killed with those who were disobedient.” Tindakan Rahab diapresiasi sebagai tindakan yang lahir dari iman. Bagaimana kita memahami hal ini? Bagaimana kita menilai Lesser Between Two Evils? Kita mengetahui ada dua hal yang jahat di sini dan bagaimana kita bisa memilih yang kurang jahat dari kedua jahat tersebut. Kriteria apa yang akan kita pakai untuk mengatakan lesser evil—dosa yang lebih kurang dari dosa yang lain.

Mari melihat empat pilihan etika yang mungkin dilakukan dalam konteks yang dialami Rahab, yaitu: Pendekatan Etika Situasi, Pendekatan Etika Pasif, Pendekatan Lesser Evil, dan Pendekatan Higher Duty.

Pendekatan Etika Situasi
Pendekatan ini berkata, ”Love and do anything you want!” Cinta adalah satu-satunya hokum yang penting di Alkitab dan perintah yang lain dapat diabaikan. Jadi perintah ‘jangan engkau bersaksi dusta’ dapat diabaikan demi cinta. Jadi Rahab tidak berdosa karena dia melakukan kebohongan karena kasih kepada Allah dan kasih kepada dua orang pengintai yang terancam nyawanya. Dengan kata lain situasi memaksa dan menyebabkan dia harus melakukan hal tersebut. Situasi mendikte bahwa ungkapan kasih terbaik dalam situasi tersebut adalah berbohong dan melindungi orang yang sedang melarikan diri tersebut. Dalam pengertian lain berbohong diperbolehkan dalam situasi tertentu di mana situasi yang ada memaksa bahwa yang namanya cinta berarti berbohong. Ada beberapa kritik terhadap etika situasi ini. Pertama adalah prinsip ini sangat tergantung kepada keadaan sehingga tidak memiliki prinsip. Semua bisa dibenarkan atas nama kasih. Kedua adalah situasi berdasarkan apa dan oleh siapa? Siapa yang bisa menentukan bahwa demi kasih bisa berbohong? Apa pertimbangannya demi kasih kita bisa berbohong dalam konteks seperti ini. Tidak heran dalam etika situasi seks pra nikah diijinkan karena landasan suka saling suka.

Etika ini juga memiliki poin positif, yaitu menekankan pentingnya kasih dalam bertindak yang benar antara yang salah. Kasih adalah motivasi yang luhur dan menjadi dasar bagi kita untuk bertindak. Tetapi motivasi saja tidak cukup. Ada refleksi-refleksi moral di balik apa yang menjadi pilihan-pilihan yang harus kita pilih.

Pendekatan Etika Pasif
Etika ini mengatakan bahwa berbohong itu salah, membunuh juga salah. Jadi lebih baik tidak berbuat apa-apa karena kita memang tidak mampu. Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali berdoa dan berharap kiranya kita tidak mengalaminya. Tuhan tidak memaksa kita melakukan sesuatu yang kita tidak mampu lakukan. Berbohong tidak boleh, membunuh tidak boleh, lebih baik memegang prinsip ’diam itu Emas’.

Terhadap pendekatan ini juga ada kritik. Pertama, pendekatan ini mengabaikan situasi dan konteks dari dosa. Rahab bukan sekedar berbohong, tetapi berbohong kepada orang jahat. Juga bukan sekedar melindungi, tetapi melindungi orang baik. Dalam Etika Pasif konteks ini dibuang --- bahwa ada orang jahat dan ada orang baik. Kepada siapa kita berbohong? Apa kita memang harus berkata jujur kepada orang yang jahat? Ini adalah pertanyaan yang tidak gampang. Jika tidak ada konteks seperti yang dialami Rahab, kita memang harus jujur kepada siapapun. Bukan karena seseorang pencopet, maka kita bisa berbohong kepadanya. Tetapi dalam konteks seperti ini, di mana kita berkata jujur kepada orang yang ingin membunuh orang lain dan informasi yang dia terima oleh karena kejujuran kita dan bisa berfungsi untuk membunuh orang, maka etika pasif ini menjadi gugur. Kritik kedua adalah etika ini mengabaikan tanggung jawab melindungi. Yang penting dalam etika ini adalah tidak berbuat jahat. Etika ini mengabaikan bahwa hidup kita bukan hanya sekedar tidak berbuat jahat tetapi kita harus melakukan yang baik.

Etika ini juga memiliki poin positif yaitu menekankan kebenaran dalam hidup. Kita diajak untuk tidak mengotori tangan kita dengan dosa.

Etika Lesser Evil
Ini adalah etika Matin Luther. Dalam etika ini menyatakan bahwa meski esensi dosa sama, tetapi derajat jahat dan efek dari dosa berbeda. Misalnya mana lebih jahat antara membentak dengan menganiaya/membunuh ibu? Atau mana lebih jahat berbohong dengan memperkosa? Sehingga dengan demikian etika ini mengatakan berbohong pada orang jahat berdosa tetapi menyerahkan orang baik kepada orang jahat lebih berdosa. Setelah berbuat dosa yang kurang jahat, kita segera minta ampun pada Tuhan. Ada kritik untuk pendekatan ini yaitu mengabaikan ketidakmampuan melakukan keduanya. Kita tidak mampu sekaligus berkata benar dan sekaligus melindungi orang yang tidak bersalah. Apakah Tuhan menuntut sesuatu yang tidak bisa kita lakukan? Bukankah jika kita tidak mampu melakukannya seharusnya ada konsekuaensi etis secara teologis dimana Tuhan tidak membebani anak-anakNya dengan hal yang dia memang tidak mampu lakukan.

Etika ini memiliki dua poin penting. Pertama, Etika ini menekankan pentingnya kerendahan hati bahwa kita mungkin salah. Kita memang bermaksud melindungi orang yang tidak bersalah dan dalam melakukannya kita berbohong. Kita dengan rendah hati mengakui kita berdosa dan kita mohon ampun kepada Tuhan. Kedua, etika ini menekankan bahwa kita harus waspada terhadap dosa, sekecil apapun dosa itu.

Etika Higher or Highest Duty.
Ini adalah pilihan etika yang terbaik. Dalam konteks ini Rahab tidak melihat dalam konteks benar atau salah, jahat atau tidak jahat, tetapi dia melihat dari segi bahwa Rahab memiliki dua tanggung jawab. Pertama adalah mengatakan kejujuran. Ini adalah tugas orang Kristen untuk menyatakan kejujuran kepada siapa saja. Jadi Rahab mendekatinya bukan dari dosanya, tetapi mendekatinya berdasarkan tugasnya. Di sisi lain Rahab juga memiliki tugas yang lain yaitu melindungi nyawa orang yang mau dibunuh. Konteks dalam kisah Rahab ini jelas bahwa kejujuran bagi orang jahat/fasik, dan melindungi nyawa orang benar/hamba Tuhan/utusan Yosua. Kita melihat dalam kisah Rahab dan dalam konteks yang ada kejujuran menjadi tugas yang dikurangi besar tanggung jawabnya dan melindungi nyawa orang benar bertambah bebannya dan tanggungjawabnya.

Rahab tidak bisa melakukan kedua tugasnya dan dia hanya bisa melakukan satu tugas. Dengan kata lain Tuhan tidak menuntut Rahab melakukan sesuatu yang tidak mampu Rahab lakukan. Dia tidak sekaligus melakukan berkata jujur dan melindungi nyawa orang benar.

Etika lesser than two evils mengatakan dari pilihan yang dilematis dimana keduanya adalah pilihan yang jahat maka kita harus memilih pilihlah yang kurang jahat. Jikapun tidak esensinya setidaknya derajat dan efeknya. Tetapi etika Higher or Highest duty ini mengatakan untuk melakukan suatu tugas yang lebih mulia/penting/tinggi kita diberikan dispensasi untuk tidak melakukan tugas yang lebih rendah. Untuk melakukan tugas melindungi nyawa pengintai Rahab dibebaskan dari tanggung jawab untuk mengatakan kebenaran kepada orang Jeriko.

Apa yang bisa kita simpulkan sebagai refleksi? Keempat pendekatan etika ini memiliki kekurangan dan yang satu lebih baik dari yang lain, tetapi setidaknya kita bisa mengambil empat hal penting dalam etika yang bisa kita pelajari. Pertama, dalam melakukan tindakan yang benar kita menyadari bahwa kasih itu penting. Kita melakukan bukan karena hal tersebut benar dan yang lain salah, tetapi ada motivasi yang didasari oleh kasih. Kasih dapat merubah lebih banyak pilihan dan memberikan pandangan yang lebih benar. Kedua, tindakan kita harus didasari pada pentingnya hidup benar. Untuk hidup benar kita harus memilih bersikap pasif walau ada konteks-konteks di mana kita tidak bisa memilih untuk pasif. Ketiga, kita harus sensitif terhadap kejahatan. Meskipun kita menyadari ada konteks yang mungkin kita pertimbangkan tidak harus kejahatan. Tetapi, etika lesser between two evils menekankan bahwa kejahatan itu nyata dan kita harus membuka pintu hati kita agar kita tidak tergosok pada kejahatan. Keempat, berbicara soal etika kita tidak cukup berbicara soal benar atau salah tetapi bagaimana kita hidup secara lebih benar, bertanggung jawab, dan berperan untuk mengatasi kejahatan ditengah-tengah dunia ini. Kita dipanggil bukan saja untu tidak berbuat dosa tetapi kita dipanggil untuk berperan aktif untuk mengalahkan kejahatan dengan kebenaran. Seorang tokoh etika Jerman mengatakan, ”Kejahatan merajalela bukan karena orang jahat bertambah banyak, tetapi ketika orang benar memilih untuk tidak berbuat apa-apa.”

Soli Deo Gloria!

[Christian Ethic 01-2009]: Foundation of Christian Ethic

Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div

Hari ini kita akan berbicara mengenai etika kristen dari sudut pandang teologis dan tiga pertemuan ke depan kita akan membahasnya dalam sudut pandang praktika. Etika kristen yang kita bahas pada hari ini adalah Foundation of Christian Ethic. Ada beberapa pertanyaan dalam hal etika. What is the basis of the action? [Apa yang menjadi dasar dari sebuah tindakan?] On what ground ought one to do this action and not do others? [Apa dasar kita melakukan atau tidak melakukan sesuatu?]. Kita tidak melakukan sesuatu tanpa peraturan. Kebebasan itu ada di dalam peraturan dan kebebasan tanpa peraturan bukanlah kebebasan. Pertanyaan berikutnya adalah What is the criterion of evaluation? [Apa yang menjadi kriteria dari evaluasi?] Kemudian, Is there some absolute or only a relative rule or principle by which to judge? [Apakah ada sesuatu yang absolute atau hanya aturan atau prinsip yang relative dalam penilaian?] Di dalam perkembangan zaman, khususnya post-moderism, salah satu cirinya adalah tidak ada sesuatu yang absolute. Semuanya adalah kebenaran dan semuanya adalah salah. Maksudnya, jika sesuatu dikatakan benar dan bisa dibuktikan benar, dan kalaupun tidak bisa dibuktikan benar, itu adalah kebenaran. Bukan pula ketika kita menyatakan sesuatu itu benar maka yang lain salah. Ini adalah konsep dalam dunia postmoderism dan inilah relativisme. Tetapi di dalam etika kristen hal ini tidak berlaku. Pertanyaan berikutnya adalah What is the goal of human conduct? What end or ends should action serve.

Kata ‘etika’ berasal dari kata ‘ethos’ (Yunani) yang berarti ‘habit or custom, and cultic ordinance or law’ yang mencakup seluruh tingkah laku manusia. Tetapi habit or custom di sini harus dipandang melalui pandangan biblikal (PL dan PB). Dengan demikian kita melihat bahwa semua hal yang dikerjakan orang percaya harus dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah dan di mana semua tindakan itu harus ada dalam terang Firman. Mari melihat 2 Tim 3:16-17 [band Maz 119:105], dikatakan di sana, “16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. 17 Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” Ketika Alkitab mengatakan benar maka sesuatu itu benar dan jika Alkitab mengatakan salah, maka sesuatu itu menjadi salah. Ada satu pemahaman bahwa Alkitab adalah firman Allah yang merupakan satu-satunya standart kebenaran. Oleh sebab itulah ketika berbicara soal pondasi etika kekristenan kita tidak bisa lepas dari pandangan Alkitab, bukan pandangan teolog atau budaya.

Budaya dan tatakrama itu bersifat lokal, geografikal, temporal dan kultural. Tetapi etika biblika bersifat universal. Misalnya, sesuatu yang baik menurut suku Toba belum tentu baik bagi suku Karo. Apalagi dibandingkan dengan kehidupan di Eropa. Tetapi etika kristen tidak berubah dan tetap bersifat universal. Yang salah menurut Alkitab di tanah Batak, tetap salah menurut Alkitab di Eropa. Kebiasaan dan tingkah laku merupakan sebuah refleksi teologis yang dalam hal ini disebut etika biblika. Kita memahami bahwa teologia seseorang menentukan cara pandang dan cara hidup seseorang. Kalau teologia kita salah maka cara hidup dan pandang kita juga salah [band. dengan pemahaman seseorang akan agama tertentu sehingga ia mampu membakar rumah ibadah agama lain karena menurut dia hal tersebut adalah benar menurut ajaran agamanya].

Setelah Allah menciptakan segala sesuatu dan memberi mandat kepada manusia, maka Dia juga membuat peraturan dalam kehidupan manusia dan inilah peraturan yang pertama. Dalam Kej.2:15-17 dikatakan, “ 15 TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. 16 Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas.” Ini adalah etika yang Allah berikan pada manusia. Allah, yang menciptakan manusia itu, tidak membiarkan manusia hidup tanpa sebuah stándar/etika. Allah bertujuan agar ada harmoni antara Allah dan ciptaanNya dan tatanan inilah yang menjadi pondasi atau dasar tindakan etis manusia. Ketika Adam jatuh ke dalam dosa, terciptalah disharmoni karena tatanan etis dilanggarnya. Allah menentukan apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan oleh manusia agar manusia itu hidup sepadan dengan Dia. Sebagai ciptaan, maka semua tindakan manusia harus berpusatkan kepada Allah.

Setelah keluar dari Mesir, Allah memberikan tatanan atau peratutan sebagai pondasi bagi umat tebusannya untuk menuntun tatanan hidup umatnya yaitu Hukum Taurat kepada Musa sebagai penuntun dan standart hidup umatNya (Kel.20). Kemudian Allah memberikan perjanjian (covenant; perjanjian yang bersifat suci dan tidak bisa dibatalkan oleh siapapun karena ditetapkan oleh Allah) untuk menyatukan inisiatif Ilahi dengan tindakan manusia sebagai respon. Di dalam Yeh 34:30 dikatakan, ”Dan mereka akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, Allah mereka, menyertai mereka dan mereka, kaum Israel, adalah umat-Ku, demikianlah firman Tuhan ALLAH.” Melalui ayat ini dipahami bahwa selain sebuah relasi yang erat dan tidak bisa dibatalkan, juga ada sebuah tanggung jawab (band. Yeh 36:28-29). Oleh sebab itu kesalahan (misconduct) bukan hanya dianggap sebagai pelanggaran etika atau kelemahan, melainkan sebuah tanda ketidaksetiaan kepada Allah.

Alkitab dipercaya sebagai satu-satunya sumber pengajaran etis dan merupakan kehendak Yahweh untuk umat yang diciptakanNya dan yang dengannya Dia mengadakan perjanjian (covenant). Kehendak ilahi ini dinyatakan paling tidak dalam peribadahan, hukum dan hikmat (worship, law and wisdom). Peribadahan kepada Allah merupakan etika di mana kita memberi respon akan karya penciptaan dan penebusan Allah. Artinya, kita tidak melakukan dosa bukan karena takut hukuman atau yang lain, tetapi sebuah respon karena kita kagum dan hormat kepada Allah sehingga kita tidak ingin menyakiti hatiNya. Ini adalah pondasi etis bagi kita semua. Jadi prinsipnya adalah senang untuk tidak berdosa. Jadi tidak ada perasaan tertekan untuk tidak berbuat dosa. Ada satu inner drive untuk memilih dan senang untuk tidak berbuat dosa dan hal ini jauh lebih menyenangkan dari pada terpaksa untuk tidak berbuat dosa. Ketaatan kepada Yahweh adalah sebuah ucapan syukur dan kewajiban atas anugerah dan pemeliharaanNya dalam diri kita. Inilah yang dinamakan internal obedience/motive. Ada sebuah hati yang bersyukur kepada Allah dan atas dasar inilah muncul ketaatan yang suci dan tulus tanpa pengaruh apapun. Dalam Ul 6:5 [band Mat 22:37] dikatakan, ”Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Jadi, kasih adalah dasar dari semua perbuatan; love leads to fellowship and fellowship to service (fruit of obedience). Kalau mencintai artinya mentaati Allah, maka cinta yang demikian akan memimpin kita pada sebuah persekutuan yang erat dengan Allah. Dalam persekutuan ini, kita juga akan melayani Allah dan pelayanan yang kita lakukan adalah buah dari ketaatan kepada Allah dan sebagai ucapan syukur serta kasih kepada Allah. Oleh sebab itulah di dalam dunia profesi, kita tidak mau korupsi, memanipulasi data, dll, bukan karena kita takut berdosa tetapi karena kita mencintai Allah. Hukum Turat juga merupakan dasar etika. Hal ini dapat kita lihat dalam Dekalog di Kel 20:1-17 atau Ul 5:6-21. Covenant code juga merupakan dasar dari etika. Covenant Code di sini bersifat kasuistik bukan apodiktik yang bersifat ‘jika’ atau ‘apa bila’.

Holiness code (prinsip kesucian) juga merupakan sumber dari etika (Imamat pasal 17-26). Kesucian ritual ditentukan oleh kehidupan umatNya. (lih.Im.19:1-37). Tidak mungkin Allah berkenan kepada sebuah ibadah jika yang beribadah adalah orang Farisi yang belum bertobat. Apakah ibadah kita berkenan kepada Allah sangat ditentukan oleh siapa yang bekerja dan umat yang datang dalam pelayanan itu. Penyucian hanya bisa terjadi jika umat Allah berkabung akan dosanya dan ada pertobatan yang sejati (band. Yes 58). Jika umat yang datang beribadah itu tetap di dalam dosanya, maka jelaslah ibadah itu menjadi tercemar. Umat Allah dituntut untuk hidup suci dan inilah dasar dari sebuah etika.

Etika juga menjadi dasar untuk menjadi serupa dengan Dia. Manusia yang dicipta Allah adalah serupa dengan Dia (imago deo). Oleh karena itu hukum yang esensi bagi manusia adalah bahwa dia harus memancarkan imago deo dan menjadi serupa dengan Allah dalam karakternya. Jadi karena kita diciptakan segambar dan serupa dengan Allah maka kita harus hidup seperti dan menyerupai Allah. Dalam hal inlah tindakan etis membuat kita tidak ingin melakukan yang salah. Kesucian Yahweh memanggil manusia kepada kesucian hidup (Im.20:26. band. 1 Ptr.1:15-16).

Hikmat atau berhikmat berdasarkan Firman Tuhan adalah sebuah dasar bagi kita dalam memutuskan atau melakukan segala sesuatu. Hikmat ini bersifat dependent untuk mengamati apa yang terjadi dalam kehidupan (sejarah menjadi pelajaran). Dengan hikmat Allah kita melihat ke belakang dan hal ini menjadi sejarah. Fokus dari hikmat bijaksana dan bodoh; berkat atau kutuk/hukuman. Artinya, jika kita melakukan yang baik menurut Allah dan hikmat Allah berarti kita orang pintar/bijak. Tetapi jika kita melanggarnya berarti kita adalah orang yang bodoh.

Tindakan etis adalah konsekuensi hubungan manusia secara personal dengan Allah di mana dia hidup dalam rencana dan kehendak-Nya (Kej.1:26-28). Jika kita bersahabat dengan seseorang dan dekat dengan dia, maka kita tidak akan mau melukai hatinya. Dalam hal inipun, salah satu tindakan etisnya adalah relasi kita dengan Allah yang bersifat personal bukan kolektif. Kesucian personal akan melahirkan kesucian kolektif. Tindakan etis merupakan respon atas otoritas Allah sebagi pencipta yang ditentukan oleh intimacy (keintiman) dengan Dia.

Ada motivasi dalam tindakan etis. Pertama adalah rewards yang dipandang sebagai eudaemonistic, yaitu good deeds are done for the gain involved, not simply because they are right. Ada sebuah motif yang mendorong orang melakukan sebuah hal yang/tindakan etis yang benar di mana perbuatan ini dilakukan karena mengharapkan sesuatu di dalamnya atau sebuah keuntungan bukan sebatas karena hal itu benar. Misalnya, datang ke kantor on time itu benar. Tetapi seseorang datang on time ke kantor bukan hanya karena itu benar tetapi karena akan mendapat reward yaitu uang kerajinan dan jika terlambat akan dipotong. Kedua adalah Heteronomous di mana their authority lies outside the person, who may be forced to behave in ways with which he does not inwardly concur. Jadi, dalam motivasi kedua ini seseorang melakukan perbuatan baik karena terpaksa melakukannya.

Jika pembahasan di atas banyak melihat etika dalam PL, sekarang mari melihat etika dalam PB. Ada beberapa etika yang berbeda antara PL dan PB. Misalnya, PL memungkinkan untuk poligami, tetapi dalam PB tidak. Sebelum PB dituliskan ucapan dan ajaran Yesus beredar (lisan) di jemaat dan membentuk moralitas dan pemikiran mereka (inilah yang disebut oral tradition). Para penulis PB juga dibentuk oleh pengajaran Yesus yang kemudian meneruskannya sebagai ajaran etis umat Allah. Tindakan etis (menurut Yesus) secara fundamental merupakan respon akan kasih dan karya Allah lebih dari sekedar ketaatan pada Taurat (bd. Mt.6:17-20). Jika hanya karena tuntutan taurat kita melakukan sesuatu yang benar, maka ada sebuah tekanan dan kita dikungkung oleh peraturan (taurat). Tetapi prinsip atau dasar tindakan etis dari orang percaya didasarkan kepada kasih dan merupakan respon atas karya Allah yang membuat kita mencintai Allah dan senang untuk taat kepada Allah.

Apa yang menjadi dasar tindakan etis kita berikutnya? Dikatakan adalah sebuah panggilan pertobatan dan percaya kepada Injil yang di dasarkan pada datangnya Kerajaan Allah. Maka ketika Kerajaan Allah datang itulah sekaligus menuntut kita untuk bertobat dari dosa dan berhenti dari perbuatan jahat dan sekaligus juga melahirkan iman untuk injil Kerajaan Allah (Mrk.1:15; Mt.4:17). Datangnya Kerajaan Allah yang memanggil orang untuk bertobat dan percaya kepada Injil merupakan dasar dari tindakan etis. Pertobatan berarti menyambut datangnya Kerajaan Allah dengan ketaatan pada perintah Yesus. Begitu kita lahir baru maka Kerajaan Allah ada bagi kita. Ketika Kerajaan Allah ada bagi kita maka akan muncul ketaatan. Kerajaan Allah membentuk dan mewarnai semua cara hidup seseorang. Etika biblika merupakan respon akan datangnya Kerajaan Allah dan dampaknya bagi manusia. Dasar sebuah etika biblika adalah kasih akan Allah (Yoh.14:21), sesama (Lk.10:25-37) dan musuh (Mt.6:43-48) (Band Mt.22:37-40). Kasih yang demikian membuat kita tidak ingin melakukan yang jahat. Etika Kristen juga didasarkan pada adanya kebangkitan orang percaya yaitu hidup yang berpadanan dengan Injil Kristus (Flp.1:27). Kebangkitan dan zaman baru menandai kehidupan komunitas orang yang dipanggilNya. Karena kita yakin bahwa kita pasti akan dibangkitkan bersama Kristus, maka hal ini mendorong kita untuk tidak melakukan kejahatan. Jika kita adalah umat Kerajaan Allah dan akan dibangkitkan maka kita tidak akan pernah menodai diri kita dengan dosa.

Tindakan etis merupakan bagian dari panggilan seorang murid (Mrk.8:34). Pertobatan adalah anugerah, oleh sebab itu kita tidak bayar apa-apa (nothing). Tetapi untuk bertumbuh kita membayar something dan dalam pelayanan kita membayar everything. Jadi, agar kita menjadi murid Kristus yang berkenan terhadap sang Guru, maka kita bertumbuh di dalam pemuridan dan tidak akan melukai hati sang Guru. Kemerdekaan dalam Kristus bukan berarti hidup sembarangan, melainkan berbuat segala sesuatu dengan dasar kasih. Gal.5:13 mengatakan, “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih” (band. 1 Kor.6:12). Nilai atau target tindakan etis orang percaya bahkan harus lebih dari pada Farisi dan ahli Taurat. Mari melihat Mt.5:20, “Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” (band Luk 18:20-21).

Perbuatan etis merupakan sebuah panggilan dedikasi kepada Allah dan tuntutan transformasi karena telah mengalami pembaharuan. Rom.12:1-2 mengatakan, “1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. 2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Hal ini akan mendorong kita untuk berkenan kepada Allah. Tindakan etis bukan sebagai perbuatan moralitas asketik. Dalam 1 Tim.4:3-5 dikatakan, “3 Mereka itu melarang orang kawin, melarang orang makan makanan yang diciptakan Allah supaya dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran. 4 Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatu pun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur, 5 sebab semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa.” Kita tidak kurang larangan tetapi kurang cinta kepada Allah. Jadi kita tidak melakukan tindakan etis dalam bentuk yang dikondisikan. Kita harus suci di tengah kenajisan, seperti ikan yang berenang dilautan yang asing tetapi tetap tawar. Dunia ini gelap dan najis, dan di sinilah orang kristen tetap hidup dan tetap menjadi ’tawar’. Tindakan etis juga adalah sebagai implementasi atau perwujudan iman. Yak.2:17 mengatakan, ”Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Tindakan etis juga didasari oleh sebuah panggilan dan ambisi untuk menjadi serupa dengan Kristus (Flp.3:10-11).

Menempatkan Yesus sebagai Tuhan dari seluruh aspek hidup juga menjadi sebuah dasar tindakan etis. Sudahkah Yesus menjadi Tuhan dari mulut kita sehingga tidak ada lagi kalimat bohong yang keluar dari mulut kita? Sudahkah Yesus menjadi Tuhan dari mata sehingga tidak ada mata zinah? Sudahkan Yesus menjadi Tuhan dari pikiran kita sehingga tidak ada pikiran yang macam-macam? Ini adalah cara membuat Tuhan menjadi segala-galanya. Kalimat dari Bethoven, yang dikutip oleh John Stott, mengatakan, ”If Jesus not Lord of all, He is not Lord at all!”

Pengharapan eskatologis sebagai dasar tindakan etis membuat kita berbuat baik dan hidup suci (Mt.25:31-46). Apakah pondasi etika Kristen? Hanya satu yaitu: “ALKITAB”.
Soli Deo Gloria!