(Menurut Alkitab)
Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div
Berbicara mengenai keturunan merupakan pergumulan bagi banyak keluarga khususnya dalam budaya batak. Dalam kehidupan manusia sering mengalami pergumulan antara memiliki harta dan keturunan. Bagi orang batak dianggap sebagai kekurangsempurnaan jika tidak punya anak, walapun memiliki harta yang banyak. Kemudian, dalam orang batak juga diharapkan ada anak laki-laki dan perempuan.walaupun mereka memiliki empat orang anak, tetapi jika semua adalah perempuan, maka menurut mereka keluarga mereka tidak sempurna. Ada juga pergumulan akan anak kandung dan anak angkat. Dan banyhak orang memilih tidak memiliki anak daripada harus mengadopsi anak. Semua ini pergumulan ini bermuara kepada kebanggaan dan kemuliaan yang semu. Oleh karena itu mari berbicara soal hagabeon (bahasa batak: gabe = keturunan) dari segi nilai-nilai kekristenan.
Banyak anak-anak Tuhan yang sudah lama dibina, ikut pemuridan, tetapi nilai dan kebanggaan dunianya tetap tertahan. Mari belajar dari Paulus ketika ia mengalami pembaharuan yang radikal. Dalam Fil 3:4-5 dikatakan, “Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi”. Paulus memiliki kapasitas yang sangat hebat. Tetapi di dalam ayat 7-9 dia berkata, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan”. Dan akhirnya dalam ay 10 dia berkata, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya”. Apa yang hendak dikatakan di sini adalah kebanggaan-kebanngaan duniawi yang tidak alkitabiah disingkirkan Paulus ketika dia bertobat, dan digantikan dengan satu ambisi yang benar. Tanpa ambisi yang benar ini, maka konsep nilai yang ada pada kita (khisusnya dalam lingkungan suku Btak) akan sulit terkikis dari diri kita. Jadi kita terlabih dahulu mengalami pembaharuan nilai dan ambisi yang baru secara alkitabiah.
Apa yang menjadi tujuan hidup dari pernikahan? Dalam pernikahan itu ada tujuan dan buah. Anak bukan tujuan pernikahan, tetapi buah dari pernikahan. Jika tujuan menikah untuk anak, maka ketika anak tidak hadir dalam keluarga itu, sangat memungkinkan pernikahan akan bermuara kepada perceraian. Menikah bisa memiliki anak atau bisa tidak. Jika konsep ini jelas, maka keluarga tidak akan terlalu stress dan gelisah jika masih belum memiliki anak. Tujuan pernikahan adalah untuk mandat Allah. Ada dua mandat yang Tuhan berikan untuk setiap orang percaya. Dalam Kej 1:28 adalah mandat budaya yaitu untuk mengeksplorasi dunia. Perlu kita ketahui bahwa beranak-cucu yang dimaksud di sini tidak berbicara sebatas keturunan biologis, tetapi juga keturunan ilmu pengetahuan, karya, berkat bagi banyak orang. Kemudian, yang kedua adalah mandat injil (amanat agung) dalam Mat 28. Karena itu mari kita pamahi agar ketika kita memasuki pernikahan, salah satu hal yang harus disiapkan adalah untuk tidak punya anak. Ini adalah pandangan yang alkitabiah. Jika keluarga ini lama memiliki anak berarti Tuhan memberikan kesempatan yang banyak bagi mereka untuk maksimal melayani.
Tidak semua orang menikah Tuhan karuniai keturunan biologis. Bagi orang batak, tidak memiliki anak berarti bala. Dalam pernikahan, ketiadaan anak bisa membawa pernikahan dalam arah yang tidak jelas. Dalam budaya Simalungun dulu (sebelum Injil masuk) ada istilah pinjam jago. Jika si isteri tidak melahirkan dia diijinkan untuk berhubungan dengan pria lain agar punya anak dan ini adalah perjinahan. Dalam batak Toba dan Karo langsung diceraikan. Dan seharusnyalah sikap kita sebagi orang yang sudah mengenal Tuhan jika belum diijinkan untuk memiliki anak berarti Tuhan ijinkan kita melayani dengan maksimal tanpa kehadiran anak biologis. Dalam Yes 54:1, dikatakan, “Bersorak-sorailah, hai si mandul yang tidak pernah melahirkan! Bergembiralah dengan sorak-sorai dan memekiklah, hai engkau yang tidak pernah menderita sakit bersalin! Sebab yang ditinggalkan suaminya akan mempunyai lebih banyak anak dari pada yang bersuami, firman TUHAN.”
Jangan selalu berpikir bahwa kehadiran anak akan selalu membawa sukacita, sebaliknya kehadiran anak juga dapat membawa dukacita. Dalam Ams 10:1 dikatakan, “Amsal-amsal Salomo. Anak yang bijak mendatangkan sukacita kepada ayahnya, tetapi anak yang bebal adalah kedukaan bagi ibunya.” Ams 15:20, “Anak yang bijak menggembirakan ayahnya, tetapi orang yang bebal menghina ibunya”. Ams 17:25, “Anak yang bebal menyakiti hati ayahnya, dan memedihkan hati ibunya”. Tidak ada jaminan bahwa anak kita adalah orang bijak semua bukan?
Disamping dari anak biologis, ada juga anak teologis. Sesuatu yang sangat diberkati jika bisa melahirkan anak biologis juga anak teologis. Tetapi jika anak biologis tidak terbina, kita akan dimurkai Allah. Orang Kristen haruslah lebih memprioritaskan keturunan teologis daripada keturunan biologis karena keturunan biologis belum tentu menjadi keturunan kekekakalan. Lihat Eli dan dua anaknya. Dua anak nabi Eli adalah perampok dalam bait Allah. Memiliki anak itu penting, tetapi yang menjadi perhatian kita adalah apakah anak yang telah Tuhan percayakan akan bermuara kepada anak teologis. Mari lebih berfokus kepada anak teologis daripada anak biologis supaya kita bisa berkata bahwa hagabeon di dalam Tuhan adalah keturunan kekekalan bukan sebatas biologis.
Jika kita melihat anak-anak allah sebagai keturunan ilahi, maka Israel itu adalah anak-anak Allah ketika mereka taat kepada Allah. Orang-orang beriman kepada YHWH disebut sebagai anak keturunan Abraham. Di dalam Kej 15 dikatakan ada janji Allah akan keturunan kekekalan melalui Ishak seperti pasir di tepi laut dan bintang di langit, keturunan yang bukan dari segi biologis tetapi keturunan ilahi, yaitu keturunan teologis dari segi iman kepada YHWH.
Apakah hagabeon bagi orang percaya? Mari melihat Mar 3:33-35. Dikatakan di sana, “Jawab Yesus kepada mereka: "Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?" Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: "Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku." Kita memang dengan teman kelompok kita, beda kampong, dan bahkan beda ornag tua. Walaupun demikian mereka adalah saudara sejati kita. Artinya, kita adalah orang yang beriman kepada Kristus dan sama-sama manjadi ahli waris dari Allah. Jika saudara kandung kita tidak beriman kepada Allah, mereka hanya saudara semenntara di dunia dan tidak di dalam kekekalan. Tetapi mereka yang telah menerima Kristus adalah saudara kita dalam kekekalan. Mari berorientasi kepada keturunan kekekalan. Jadi mari prioritaskan kebanggan kita bukan pada anak biologis, tetapi kepada anak teologis, yaitu yang beriman kepada kristus dan dimuridkan menjadi murid kristus. Jadi jika Tuhan belum memberikan pasangan hidup atau anak, maka Tuhan memberikan kesempatan untuk melahirkan anak-anak teologis.
Dalam Mark 10:28-30 dikatakan, “Berkatalah Petrus kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!" Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.” Jangan berorientasi kepada fisik walaupun fisik penting, jangan berorientasi kepada apa yang kita punya zaman ini, tetapi berorientasi sesuatu hal yang bernilai kekal dan rohani.
Di dalam 1 Tim 1:2, Paulus memanggil Timotius dengan ‘Anakku yang sah dalam iman’, dan dalam 2 Tim 1: 2 dengan panggilan ‘anakku yang kekasih’.Inilah yang seharusnya menjadi ambisi kita, yaitu melahirkan anak yang sah dalam iman. Ini jauh lebih penting daripada anak biologis tetapi bukan anak yang sah dalam iman. Adalah sesuatu yang menyakitkan jika keturunan kita adalah anak yang bebal bahkan berpaling dari Kristus. Jangan hanya berpikir bangga punya anak, tetapi anak yang seperti apa yang dibanggakan itu? Orang yang kita banggakan adalah orang yang takut akan Tuhan.
Mari melihat dan belajar dari kisah Abraham dan Sarah. Allah telah memberikan panggilan dan janji berkat Allah kepada Abraham (Kej 12:1-3). Kemudian Allah kemudian berjanji bahwa Abraham akan memiliki keturunan seperti bintang di langit dan pasir di pantai (Kej 15:2-6). Tetapi dalam perjalannya, Abraham merasa terlalu lama. Allah tidak akan pernah ingkar janji tetapi Abraham tidak sabar. Ia mengambil jalan pintas ketika Sarah menawarkan pembantunya, Hagar, kepada Abraham agar mereka beroleh keturunan. Kemudian Abraham menghampiri hagar dan punya anak, yaitu Ismael. Dan kemudian akibat ketidak sabaran imannya, Sarah direndahkan Hagar. Kemudian Sarah marah dan meminta Abraham mengusir Hagar dan Ismael. Di sini kita belajar bagaimana Abraham meragukan janji dan kuasa Allah yang membuat dia mengambil jalan pintas. Bukankah kita sering melakukan hal yang sama? Karena sangat ingin memiliki keturunan, kita pergi ke dukun? Atau pergi ke tempat tulang untuk menerima berkat? Atau melakukan tindakan-tindakan yang merupakan jalan pintas lainnya? Kenapa kita harus memaksa Tuhan dengan berbagai cara ini? Ketika kita memaksa Tuhan dengan cara kita, maka yang terjadi adalah sebuah kesalahan. Abraham dan Sara melakukan kesalahan ketika mereka tidak sabar menunggu janji Tuhan. Mereka mengambil jalan pintas karena kekuatiran, ketidak sabaran dan kurang iman mereka.
Banyak orang yang terlalu sibuk kesana dan kemari agar memiliki anak sehingga tidak memiliki waktu untuk melayani. Jangan coba-coba untuk melakukan sesuatu yang salah hanya karena kebanggaan duniawi yang berkata punya anak adalah kebanggaan. Mari mengubah nilai hidup dan paradigma berpikir kita dengan teologia yang benar.
Mimbar Bina Alumni (MBA) merupakan sebuah ibadah yang disediakan untuk para Alumni, khususnya yang tinggal di Medan. Ibadah ini diadakan sekali seminggu yaitu pada hari Jumat, pkl 18.00-20.00. MBA ini diadakan di GSJA Iskandar Muda. Kami senantiasa mengundang rekan-rekan sekalian untuk menghadirinya. Semoga MBA ini menjadi berkat bagi kita dan menguatkan kita di tengah-tengah pekerjaan kita. Amin.
Tuesday, March 1, 2011
Hanmoraon
(Menurut Alkitab)
Mat 6:19-24
Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div
Dalam filosofi orang batak ada tiga H, yaitu Hamoraon, Hagabeon, dan Hasangapon. Dalam falsafah batak ketiga hal ini sangat susah dikikis dalam dalam orang batak (baik batyak Karo, Toba, atau Simalungun). Jadi, bagi orang suku Batak, meskipun kaya tetapi jika tidak memiliki anak kurang dihormati dan dianggap belum sesuatu yang memuaskan dirinya. Atau sebaliknya, dia memiliki banyak anak tetapi miskin, juga kurang dihargai. Di dalam orang batak itu, orang yang memiliki harta, jabatan, dan keturunan adalah orang yang dianggap sudah lengkap dan sempurna dan orang yang berbahagia.
Bagaimana Alkitab memandang ketiga falsafah batak ini? Hari ini kita akan belajar konsep yang benar dan untuk pertama kita akan melihat konsep hamoraon (kekayaan) menurut Alkitab.
Kita akan melihat konsep mengenai hamoraon berdasarkan kitab Matius 6:19-24. Dalam Matius pasal 6 in kita melihat ada kontras antara upah duniawi dengan Sorgawi dalam melakukan ibadah (ay 1-18) dan hal ini akan memimpin kepada kontras antara harta duniawi dan harta surgawi (19-24). Setelah bicara mengenai ibadah atau ritual yang palsu dan benar, antara kemunafikan dan ketulusan (memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa), maka dilanjutkan dengan cara menjalani hidup yang beriman dengan nilai yang benar sehingga tulus mengabdi kepada Tuhan dan hidup tanpa kekuatiran.
Ibadah memang penting, tetapi yang paling penting adalah esensi dari ibadah itu sendiri. Kita tidak mengharapkan sebuah upah dari ritual yanag mekanis dan palsu tetapi mendapatkan upah yang bernilai kekekalan yang kita dapat oleh karena ketulusan hati yang sungguh-sungguh mencintai Allah. Jika kita melihat kontras antara upah duniawi dengan sorgawi dalam melakukan sebuah ibadah, maka kita akan cenderung untuk mencintai harta surgawi dan bisa luput dari kecintaan dari harta duniawi dan hal inilah yang membuat kita luput dari rasa kuatir (25-33). Ada sebuah ketulusan mengabdi kepada Allah dan luput dari kekuatiran.
Ibadah dan kesalehan yang tulus harus disertai dengan nilai hidup dan iman yang sejati. Tidak akan ada ibadah menjadi benar jika tidak muncul ketulusan dan iman yang sejati,. Dalam pemahaman ini muncul kesejajaran antara dimensi ritual dengan cara hidup yang benar. Sering sekali hal ini terjadi dengan timpang. Secara ritualisme, orang sering sekali melakukan dengan benar tetapi tidak menghasilkan hidup yang benar. Harta dan kekuatiran dihubungkan sebagai sebuah pancaran daripada dimensi ritual yang benar. Artinya, jika orang memiliki dimensi ritual yang benar maka seharusnya dia beriman kepada Allah dan menghancurkan kecintaannya kepada materi dan menghancurkan kekuatiran di dalam dirinya. Dapat dikatakan jika orang tetap kuatir dan haus dan cinta akan uang, itu berarti bahwa dimenasi ritualnya tidak benar.
Yang kuatir tidak selamanya yang miskin. Orang kaya juga kuatir. Yang miskin kuatir akan apa yang akan dimakannya besok, sedangkan yang kaya kuatir akan hartanya. Cara hidup yang orientasinya uang dan kuatir adalah tanda kekafiran (ay 32) dan orang beriman justru mengambisikan kebenaran bukan kenyamanan duniawi. Jadi yang perlu kita hindari adalah bagaimana kita tidak mengambisikan sebuah kenyamanan duniawi tetapi sebuah ketenangan batin bersama dengan Allah.
Ay 19 dikatakan, “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya”. Secara sederhana, yang dimaksud dengan harta di Sorga adalah kasih kepada Allah, ketaatan dan kesetiaan untuk melayani Allah. Dimanakah tendanya Paulus? Di manakah perahu dan jalanya Petrus dan Yohanes? Dimanakah semua harta yang mereka raih selama ini? Semua sudah lenyap dan hanya tinggal kenangan. Tetapi apakah yang bisa mereka bawa ketika meninggal hanya satu yaitu jiwa dan orang yang mereka layani untuk dipersembahkan kepada Allah. Agar kita tidak terjebak dalam sesuatu yang berorientasi kepada uang, di mana dalam suku batak hal ini menjadi sesuatu yang dibanggakan, adalah mengorientasikan diri kita kepada nilai-nilai sorgawi.
Alasan menyimpan untuk tidak menympan harta di dunia ada dua, yaitu, pertama, demi alasan ekamanan, karena ngengat dan karat tidak akan memakannya. Juga aman dari pencuri. Jika kita menyelamatkan jiwa orang dan melayani dengan sungguh-sungguh, tidak aka nada suauatu yang perlu ditakutkan karean tidak aka nada yang mencurinya. Kedua, alasan keterikatan (ay 21). Jika kita perhatikan ay 22-23 kita melihat soal mata (penglihatan). Dikatakan di sana, “Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” Apa artinya adalah bahwa mata rohani sebagai penentu orientasi hidup kita. Hal ini kita lakukan dengan mengarahkan mata kita benar-benar tertuju kepada Allah. Kemudian melihat apa yang paling menarik dari mata kita. Waktu kita mahasiswa, kita tidak terlalu peduli merk kameja atau merk handphone, tetapi ketika alumni hal ini menjadi perhatian kita dan menjadi orientasi kita Kemudian, penglihatan menunjukkan kepada kita jalan yang harus kita tempuh. Oleh sebab itu penulis Matius mengatakan betapa pentingnya mata rohani untuk menentukan orientasi hidup manusia. Paulus berkata dalam Ef 1:18, “Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus.” Bagaimana kita memfokuskan kita dan mata kita bukan pada hal-hal yang bersifat glamor dan hanya melihat indahnya dunia ini tetapi kepada Allah. Hal ini tidak gampang. Mari mengorientasikan hidup kita kepada kebutuhan bukan kepentingan atau keinginan agar kita tidak tejebak dalam hamoraon yang tidak alkitabiah. Dan kita juga tidak menghargai orang karena dia kaya atau miskin tetapi karena dia adalah pribadi yang mencintai dan takut akan Tuhan.
Nilai hidup menentukan cara kita memandang kehidupan (23b). Bayangkan sedang mengendarai mobil di tengah hutan di mana bola lampunya semua putus. Kita terjebak tanpa arah dan tidak bisa bergerak. Di dalam diri kita ada terang dan jika menjadi padam maka betapa gelaplah hidup kita. Oleh sebab itu jangan sampai mata kita lebih tajam melihat glamornya dunia dari pada melihat hal-hal yang Tuhan tunjukkan kepada kita.
Dalam ay 24 dikatakan, “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Dalam ayat ini muncul sebuah pengajaran yaitu betapa pentingnya mono loyalitas. Kata hamba memiliki makna ada sebuah pengabdian yang tulus. Tidak ada seorang pun mau diduakan atau dinomor duakan. Itu sebabnya penulis Matius mengatakan tidak mungkin ada orang mengabdi dengan setia kepada dua tuan. Mengapa Matius membandingkan Allah dengan Mamon adalah karean dua-duanya punya daya tarik yang kuat. Dalam Mat 19:22 dikatakan, “Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.” Alasan orang muda itu tidak mengikut Kristus adalah karena banyak hartanya padahal dia sangat moralis dan melakukan kejahatan apapun. Ini adalah sebuah realita sampai saat ini. Sering sekali orang tidak peduli keberanan jika berhubungan dengan uang.
Jadi bagaimana seharusnya sikap kita? Menjadi kaya tidak salah (band Abraham Kej 13:2; Pkh 5:18), karena merupakan anugerah. Tetapi ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian kita. Pertama, jangan sampai melekat kepada uang (Maz 62:11b). Kedua, jangan tamak (Luk 12:15). Ketiga, jangan berambisi untuk kaya (Ams 23:4; band 1 Tim 6:7-10; 1 Yoh 2:16).
Hidup tidak tergantung kepada kekayaan tetapi kepada Tuhan (Luk 12:15b, 20). Tipu daya kekayaan itu menghimpit Firman Tuhan (Mat 12:22). Jadi mari kita kaya dihadapan Tuhan (Luk 12:21). Mari kita kaya dalam kemurahan (2 Kor 8:2-3). Jemaat Korintus tidak kaya secara materi tetapi mereka kaya dalam kemurahan. Jika Tuhan memebrikan banyak berkat agar kita bisa menyalurkan kepada orang lain. Lebih berbahagioa orang yang memebri daripada menemerima. Mari kaya dalam kemurahan dan memuliakan Tuhan dengan harta kita (Ams 3:9). Jangan berharap kepada kekayaaan (1 Tim 6:17). Jika kita diberi kekayaan jangan tinggi hati karena Allah adalah sumber harta. Dan jangan berharap kepada kekayaan. Dalam Ams 15:16 dikatakan, “Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan”. Perhatikan juga Ams 22:1 yang mengatakan bahwa nama baik lebih baik dari kekayaan. Yang kaya jangan bermegah dalam kekayaannya (Yer 9:23-24). Ams 30:7-9 dikatakan, “Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni: Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.” Ini jugalah yang seharusnya menjadi doa kita sebagai orang yang percaya. Jika Tuhan izinkan kita kaya, mari menikmati dan memakainya untuk Tuhan. Jika Tuhan tidak izinkan untuk kaya, mari bersyukur. Satu hal yang paling penting adalah kita menikmati. Orang kaya dengan uangnya bisa membeli makanan yang enak tetapi tidak bisa beli selera makan, mereka bisa membeli kasur yang mahal tetapi tidak tidur yang nyenyak, membayara artis tetapi tidak sukacita. Mari belajar untuk doa seperti Amsal tadi dan denagn demikian kita akan didorong untuk tetap beriman kepada Allah.
Mat 6:19-24
Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div
Dalam filosofi orang batak ada tiga H, yaitu Hamoraon, Hagabeon, dan Hasangapon. Dalam falsafah batak ketiga hal ini sangat susah dikikis dalam dalam orang batak (baik batyak Karo, Toba, atau Simalungun). Jadi, bagi orang suku Batak, meskipun kaya tetapi jika tidak memiliki anak kurang dihormati dan dianggap belum sesuatu yang memuaskan dirinya. Atau sebaliknya, dia memiliki banyak anak tetapi miskin, juga kurang dihargai. Di dalam orang batak itu, orang yang memiliki harta, jabatan, dan keturunan adalah orang yang dianggap sudah lengkap dan sempurna dan orang yang berbahagia.
Bagaimana Alkitab memandang ketiga falsafah batak ini? Hari ini kita akan belajar konsep yang benar dan untuk pertama kita akan melihat konsep hamoraon (kekayaan) menurut Alkitab.
Kita akan melihat konsep mengenai hamoraon berdasarkan kitab Matius 6:19-24. Dalam Matius pasal 6 in kita melihat ada kontras antara upah duniawi dengan Sorgawi dalam melakukan ibadah (ay 1-18) dan hal ini akan memimpin kepada kontras antara harta duniawi dan harta surgawi (19-24). Setelah bicara mengenai ibadah atau ritual yang palsu dan benar, antara kemunafikan dan ketulusan (memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa), maka dilanjutkan dengan cara menjalani hidup yang beriman dengan nilai yang benar sehingga tulus mengabdi kepada Tuhan dan hidup tanpa kekuatiran.
Ibadah memang penting, tetapi yang paling penting adalah esensi dari ibadah itu sendiri. Kita tidak mengharapkan sebuah upah dari ritual yanag mekanis dan palsu tetapi mendapatkan upah yang bernilai kekekalan yang kita dapat oleh karena ketulusan hati yang sungguh-sungguh mencintai Allah. Jika kita melihat kontras antara upah duniawi dengan sorgawi dalam melakukan sebuah ibadah, maka kita akan cenderung untuk mencintai harta surgawi dan bisa luput dari kecintaan dari harta duniawi dan hal inilah yang membuat kita luput dari rasa kuatir (25-33). Ada sebuah ketulusan mengabdi kepada Allah dan luput dari kekuatiran.
Ibadah dan kesalehan yang tulus harus disertai dengan nilai hidup dan iman yang sejati. Tidak akan ada ibadah menjadi benar jika tidak muncul ketulusan dan iman yang sejati,. Dalam pemahaman ini muncul kesejajaran antara dimensi ritual dengan cara hidup yang benar. Sering sekali hal ini terjadi dengan timpang. Secara ritualisme, orang sering sekali melakukan dengan benar tetapi tidak menghasilkan hidup yang benar. Harta dan kekuatiran dihubungkan sebagai sebuah pancaran daripada dimensi ritual yang benar. Artinya, jika orang memiliki dimensi ritual yang benar maka seharusnya dia beriman kepada Allah dan menghancurkan kecintaannya kepada materi dan menghancurkan kekuatiran di dalam dirinya. Dapat dikatakan jika orang tetap kuatir dan haus dan cinta akan uang, itu berarti bahwa dimenasi ritualnya tidak benar.
Yang kuatir tidak selamanya yang miskin. Orang kaya juga kuatir. Yang miskin kuatir akan apa yang akan dimakannya besok, sedangkan yang kaya kuatir akan hartanya. Cara hidup yang orientasinya uang dan kuatir adalah tanda kekafiran (ay 32) dan orang beriman justru mengambisikan kebenaran bukan kenyamanan duniawi. Jadi yang perlu kita hindari adalah bagaimana kita tidak mengambisikan sebuah kenyamanan duniawi tetapi sebuah ketenangan batin bersama dengan Allah.
Ay 19 dikatakan, “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya”. Secara sederhana, yang dimaksud dengan harta di Sorga adalah kasih kepada Allah, ketaatan dan kesetiaan untuk melayani Allah. Dimanakah tendanya Paulus? Di manakah perahu dan jalanya Petrus dan Yohanes? Dimanakah semua harta yang mereka raih selama ini? Semua sudah lenyap dan hanya tinggal kenangan. Tetapi apakah yang bisa mereka bawa ketika meninggal hanya satu yaitu jiwa dan orang yang mereka layani untuk dipersembahkan kepada Allah. Agar kita tidak terjebak dalam sesuatu yang berorientasi kepada uang, di mana dalam suku batak hal ini menjadi sesuatu yang dibanggakan, adalah mengorientasikan diri kita kepada nilai-nilai sorgawi.
Alasan menyimpan untuk tidak menympan harta di dunia ada dua, yaitu, pertama, demi alasan ekamanan, karena ngengat dan karat tidak akan memakannya. Juga aman dari pencuri. Jika kita menyelamatkan jiwa orang dan melayani dengan sungguh-sungguh, tidak aka nada suauatu yang perlu ditakutkan karean tidak aka nada yang mencurinya. Kedua, alasan keterikatan (ay 21). Jika kita perhatikan ay 22-23 kita melihat soal mata (penglihatan). Dikatakan di sana, “Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” Apa artinya adalah bahwa mata rohani sebagai penentu orientasi hidup kita. Hal ini kita lakukan dengan mengarahkan mata kita benar-benar tertuju kepada Allah. Kemudian melihat apa yang paling menarik dari mata kita. Waktu kita mahasiswa, kita tidak terlalu peduli merk kameja atau merk handphone, tetapi ketika alumni hal ini menjadi perhatian kita dan menjadi orientasi kita Kemudian, penglihatan menunjukkan kepada kita jalan yang harus kita tempuh. Oleh sebab itu penulis Matius mengatakan betapa pentingnya mata rohani untuk menentukan orientasi hidup manusia. Paulus berkata dalam Ef 1:18, “Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus.” Bagaimana kita memfokuskan kita dan mata kita bukan pada hal-hal yang bersifat glamor dan hanya melihat indahnya dunia ini tetapi kepada Allah. Hal ini tidak gampang. Mari mengorientasikan hidup kita kepada kebutuhan bukan kepentingan atau keinginan agar kita tidak tejebak dalam hamoraon yang tidak alkitabiah. Dan kita juga tidak menghargai orang karena dia kaya atau miskin tetapi karena dia adalah pribadi yang mencintai dan takut akan Tuhan.
Nilai hidup menentukan cara kita memandang kehidupan (23b). Bayangkan sedang mengendarai mobil di tengah hutan di mana bola lampunya semua putus. Kita terjebak tanpa arah dan tidak bisa bergerak. Di dalam diri kita ada terang dan jika menjadi padam maka betapa gelaplah hidup kita. Oleh sebab itu jangan sampai mata kita lebih tajam melihat glamornya dunia dari pada melihat hal-hal yang Tuhan tunjukkan kepada kita.
Dalam ay 24 dikatakan, “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Dalam ayat ini muncul sebuah pengajaran yaitu betapa pentingnya mono loyalitas. Kata hamba memiliki makna ada sebuah pengabdian yang tulus. Tidak ada seorang pun mau diduakan atau dinomor duakan. Itu sebabnya penulis Matius mengatakan tidak mungkin ada orang mengabdi dengan setia kepada dua tuan. Mengapa Matius membandingkan Allah dengan Mamon adalah karean dua-duanya punya daya tarik yang kuat. Dalam Mat 19:22 dikatakan, “Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.” Alasan orang muda itu tidak mengikut Kristus adalah karena banyak hartanya padahal dia sangat moralis dan melakukan kejahatan apapun. Ini adalah sebuah realita sampai saat ini. Sering sekali orang tidak peduli keberanan jika berhubungan dengan uang.
Jadi bagaimana seharusnya sikap kita? Menjadi kaya tidak salah (band Abraham Kej 13:2; Pkh 5:18), karena merupakan anugerah. Tetapi ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian kita. Pertama, jangan sampai melekat kepada uang (Maz 62:11b). Kedua, jangan tamak (Luk 12:15). Ketiga, jangan berambisi untuk kaya (Ams 23:4; band 1 Tim 6:7-10; 1 Yoh 2:16).
Hidup tidak tergantung kepada kekayaan tetapi kepada Tuhan (Luk 12:15b, 20). Tipu daya kekayaan itu menghimpit Firman Tuhan (Mat 12:22). Jadi mari kita kaya dihadapan Tuhan (Luk 12:21). Mari kita kaya dalam kemurahan (2 Kor 8:2-3). Jemaat Korintus tidak kaya secara materi tetapi mereka kaya dalam kemurahan. Jika Tuhan memebrikan banyak berkat agar kita bisa menyalurkan kepada orang lain. Lebih berbahagioa orang yang memebri daripada menemerima. Mari kaya dalam kemurahan dan memuliakan Tuhan dengan harta kita (Ams 3:9). Jangan berharap kepada kekayaaan (1 Tim 6:17). Jika kita diberi kekayaan jangan tinggi hati karena Allah adalah sumber harta. Dan jangan berharap kepada kekayaan. Dalam Ams 15:16 dikatakan, “Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan”. Perhatikan juga Ams 22:1 yang mengatakan bahwa nama baik lebih baik dari kekayaan. Yang kaya jangan bermegah dalam kekayaannya (Yer 9:23-24). Ams 30:7-9 dikatakan, “Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni: Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.” Ini jugalah yang seharusnya menjadi doa kita sebagai orang yang percaya. Jika Tuhan izinkan kita kaya, mari menikmati dan memakainya untuk Tuhan. Jika Tuhan tidak izinkan untuk kaya, mari bersyukur. Satu hal yang paling penting adalah kita menikmati. Orang kaya dengan uangnya bisa membeli makanan yang enak tetapi tidak bisa beli selera makan, mereka bisa membeli kasur yang mahal tetapi tidak tidur yang nyenyak, membayara artis tetapi tidak sukacita. Mari belajar untuk doa seperti Amsal tadi dan denagn demikian kita akan didorong untuk tetap beriman kepada Allah.
Eksposisi RATAPAN 3
Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div
Ratapan 3:20-26
“20 Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku. 21 Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: 22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, 23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! 24 "TUHAN adalah bagianku," kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. 25 TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. 26 Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN.”
Kitab Ratapan merupakan bagian dari ungkapan nabi Yeremia yang ditulis sekitar tahun 575 SM dalam kondisi pembuangan. Kitab ratapan memiliki lima babak yang bersifat puitis yang terdiri dari lima puisi. Penulisan kitab ini sangat teratur di mana pasal 1, 2, 4, dan 5 terdiri dari 22 ayat, sedangkan pasal 3 terdiri dari 3x 22 ayat (66 ayat). Secara keseluruhan, kitab Ratapan diawali dengan jeritan, tangisan, atau ratapan (Rat 1:1-2). Melalui pergulatan teologis, muncullah pertobatan (Rat 5:21-22). Bisa dikatakan Ratapan memulai dengan sebuah ratapan oleh karena penderitaan tetapi diakhiri dengan lahirnya sukacita oleh karena pertobatan. Hal ini sering sama dengan kehidupan kita sekarang ini ini di mana kita sering mengawali hidup (atau sesuatu) dengan sebuah ratapan dan pergumulan yang dalam oleh karena penderitaan tetapi berakhir dengan sebuah sukacita melalui pertobatan.
Konsep teologia ada di dalam Rat 3:21-26, yang merupakan bagian yang akan kita bahas. Tema kitab Ratapan adalah dengan kacamata rohani melihat kebaikan dan kesetiaan Tuhan walau dalam penderitaan dan mendorong umat (bangsa Israel) untuk bertobat. Hal ini bukanlah sesuatu yang gampang karena di dalam penderitaan orang lebih banyak mengeluh dan sulit melihat siapa Tuhan. Dan keluhan dari umat Israel bisa kita temukan di sepanjang kitab Ratapan yang dituangkan oleh Yeremia oleh karena dosa mereka. Jadi mereka menderita karena mereka melakukan dosa. Yeremia tetap teringat dan tertekan karena sengsara yang terjadi (20). Ketika dia teringat akan kondisi Israel, jiwanya tertekan dan tidak memiliki ketenangan. Dia juga teringat akan sengsara dan penderitaan yang terjadi. Dalam ay 20 ia berkata, “Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.” Ada bebarpa hal yang membuat Yeremia tertekan. Pertama, Yerusalem runtuh dan sangat sunyi sekali (pemerintahan terakhir bangsa Yehuda) (pasal 1). Kedua, Allah murka kepada Sion (pasal 2). Ketiga, bangsa tercerai-berai dan dibuang ke Babel. Keempat, rakyat menderita sengsara oleh karena diperbudak oleh bangsa lain dan juga menjadi bahan ejekan. Israel yang dahulunya memiliki kebanggaan dan mengalahkan musuh-musuh kini diperbudak bangsa lain dan menjadi bahan ejekan.
Tetapi dalam kondisi seperti ini muncul sebuah pengharapan. Dalam ay 21 dikatakan, “Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:”. Kalimat yang Yeremia untuk “ada hal yang kuperhatikan” adalah ‘I call to my mind’. Dia memunculkan kembali beberapa hal di dalam pikiran dan ingatannya. Pertama, Tak berkesudahan kasih setia TUHAN (22a). Jika di sepanjang hidup kita semuanya berjalan dengan baik tanpa halangan yang berarti, pasti akan gampang untuk berkata tidak berkesudahan kasih setia Tuhan. Tetapi mapukah kita untuk berkata ‘Tak berkesudahan kasih setia TUHAN’ jika dalam sengsara dan penderitaan? Mampu untuk tetap mengatakan bahwa kasih Tuhan tidak berkesudahan menjadi dasar untuk memunculkan pengharapan. Tidak akan ada sebuah pengharapan yang memberikan kekuatan dan penghiburan bagi kita tahun 2011 jika kita tidak bisa berkata kepada diri kita bahwa ‘Tak berkesudahan kasih setia TUHAN’. Apapun yang kita alami tahun 2010, mari mengawali tahun 2011 dengan tetap mengimani hal ini. Masih baikkah menurut kita Tuhan dalam hidup kita? Jika kita tidak bisa melihat kasih Tuhan yang tidak berkesudahaan itu, maka kita tidak bisa semangat menjalani tahun 2011 dan tidak ada keberanian untuk menghadapi tantangan dan tidak akan muncul ambisi untuk semakin mencintai Tuhan.
Hal kedua yang muncul dipikiran Yeremia adalah ‘tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi’ (22b-23a). Seperti matahari pasti terbit setiap pagi, rahmat Allah (His compassion) lebih terjamin lagi. Pemahaman yang baik akan hal ini akan memunculkan pengharapan bagi kita, sebuah pengharapan yang membuat kita semakin percaya kepada penyertaan Tuhan. Ingat, Allah tidak pernah ingkar janji, dan kita seharusnya lebih percaya dan berharap kepadanya. Hal ketiga adalah besar kesetiaan Tuhan (23b). Dengan kata lain cinta Tuhan itu besar bagi setiap kita. Jika kita mengalami ketiga hal in di dalam hidup kita maka kita akan berani untuk melangkah dalam tahun 2011 in dengan iman.
Yeremia mendoorong Israel untuk merasakan ketiga hal ini, meskipun mereka masih hidup dalam kesengsaraan. Ini adalah sesuatu yang luar biasa. Dan mari belajar untuk melihat bahwa kasih Allah tidak berkesudahan, walau apapun yang terjadi. Ini adalah sumber semangat baru dan kekuatan dari Tuhan. Meskipun penderitaan tidak akan lepas dari diri kita dan bahkan mungkin sampai mati penderitaan akan senantiasa bersama dengan kita karena penderitaan adalah bagian dari hidup. Karena itu mari mengingat karakter Allah yang penuh kasih dan kebaikan yang melahirkan iman dan percaya kepada kita yang akan melahirkan sebuah komitmen (ay 24). Dalam ay 24 dikatakan, "TUHAN adalah bagianku," kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.” Sebuah komitmen yang muncul di tengah-tengah penderitaan. Yeremia berkata ‘The Lord is my portion’. Hal ini tidak dia katakan kepada orang lain tetapi keapda dirinya. Sesuatu yang tidak gampang untuk dilakukan jika tidak emmahami dengan jelas apa yang diuangkapkan dalam ay 22-23. Jika kita berbicara kepada orang lain bahwaTuhan itu baik, mungkin sesuatu yang gampang. Tetapi akan lebih bermakna jika kita berkata kepada diri kita Tuhan itu baik dan Tuhan adalah bagianku.
Dalam Mazmur 73 kita melihat bagaimana Daud sangat bergumul karena orang fasik medapat banyak berkat sedangkan dia menderita. Hal yang sama bisa kita temukan pada saat ini di mana mereka yang tidak taat kepada Allah memiliki hidup yang jauh dari masalah. Tetapi Daud dalam semua kondisinya dan dalam pergumulannya sampai pada sebuah titik kesadaran yang memampukan ia berkata, “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya” (Maz 73:25-26). Komitmen yang melahirkan pengharapan ini juga akan menghasilkan sebuah sikap yaitu sebuah pengharapan kepada Tuhan. Itulah sebabnya kita berharap kepadanya, kita menantikan Tuhan berkarya, menantikan Tuhan menyatakan kuasa dan kehendakNya. Mari menantikan Tuhan berkarya dan berbicara pada waktuNya untuk memulihkan dan memberikan yang terbaik pada bagi kita.
Memiliki dan dimiliki Tuhan jauh melebihi apapun. Sering sekali kita lebih berfokus kepada berkat Tuhan tetapi tidak fokus kepada sumber berkat itu sendiri. Memiliki berkat Allah tidak sama dengan memiliki Allah, karena orang yang tidak beriman pun bisa diberkati Allah. Dan sering sekali orang Kristen pun lebih fokus dan mencintai berkat Allah dari pada Allah itu sendiri. Mari menyadari hal ini dan berubah. Mari memiliki ambisi untuk memiliki sumber berkat karena hal ini melebihi segala-galanya. Ketika kita memiliki Allah berkatnya pasti akan kita miliki, tetapi ketika kita memiliki berkatNya Sang Pemberi berkat belum tentu kita miliki.
Tuhan itu baik bagi setiap orang yang berharap kepadanya dan bagi semua orang yang mencari Dia (ay 25). Apakah kita masih merasakan Tuhan baik dalam hidup kita? Apakah kita hanya menganggap Tuhan baik bagi orang lain tetapi tidak baik bagi kita? Ingat, kita alami atau tidak kebaikan Tuhan dalam hidup kita, Tuhan tetap baik. Kita terima atau tidak Tuhan tetap baik. Kebaikan Tuhan tidak pernah ditentukan pengalaman atau perasaan kita. Kebaikan Tuhan tidak pernah di tentukan dari apa yang kita telah atau belum terima. Apapun itu, Tuhan tetap baik. Hari ini kita belajar dari Yeremia dan bangsa Israel bahwa Tuhan itu baik, tetapi yang menarik adalah di dalam kondisi yang penuh dengan pergumulan mereka berani berkatabahwa Tuhan itu baik. Jika kita tidak melihat Tuhan baik, bagaimana kita bisa menyerakah diri kita kepadanya tahun 2011 ini. Tetapi karena Allah yang kta puja dan sembah itu adalah Allah yang baik memapukan kita menyerahkan diri dan melangkah kepada Dia. Mari di dalal situasi apapun kita betul-betul bisa merasakan dan menikmati Tuhan itu baik (band Luk 11:11-13, “Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”).
Siapa yang diantar kita yang kuatir mengalami 2010? Tetapi kita tetapi melewati tahun 2010 bukan? Ingatlah karakter Allah (kasih, kesetiaan, kebaikanNya dst). Hal ini akan melahirkan iman percaya dan pangharapan dan membuat kita melangkah dengan tidak kuatir akan apapun (band Rom 8:32, “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia”.)
Ayat 26, “Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN.” Mari menantikan Tuhan bekerja dan berkarya dengan iman dan pengharapan. Nantikan penuh iman Tuhan berkarya memulihkan dan memberikan (band Yes 30:15b, "Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.”) Kenapa bisa tenang dan teduh dalam menghadapi tahun 2011 ini adalah karena iman. Mari mendapatkan kekuatan baru karena pengharapan, komitmen, dan mengingat karakter Allah yang baik. Hal ini akan memberikan kekuatan baru yang akhirnya membuat kita dapat menantikan Tuhan dengan tenang dan dapat membuat diri kita menjalani tahun 2011 dengan percaya kepada Tuhan yang baik dan dalam rencana dan kedaulatanNya kita melangkah bersama-sama dengan Dia.
SoliDeo Gloria!
Ratapan 3:20-26
“20 Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku. 21 Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: 22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, 23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! 24 "TUHAN adalah bagianku," kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. 25 TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. 26 Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN.”
Kitab Ratapan merupakan bagian dari ungkapan nabi Yeremia yang ditulis sekitar tahun 575 SM dalam kondisi pembuangan. Kitab ratapan memiliki lima babak yang bersifat puitis yang terdiri dari lima puisi. Penulisan kitab ini sangat teratur di mana pasal 1, 2, 4, dan 5 terdiri dari 22 ayat, sedangkan pasal 3 terdiri dari 3x 22 ayat (66 ayat). Secara keseluruhan, kitab Ratapan diawali dengan jeritan, tangisan, atau ratapan (Rat 1:1-2). Melalui pergulatan teologis, muncullah pertobatan (Rat 5:21-22). Bisa dikatakan Ratapan memulai dengan sebuah ratapan oleh karena penderitaan tetapi diakhiri dengan lahirnya sukacita oleh karena pertobatan. Hal ini sering sama dengan kehidupan kita sekarang ini ini di mana kita sering mengawali hidup (atau sesuatu) dengan sebuah ratapan dan pergumulan yang dalam oleh karena penderitaan tetapi berakhir dengan sebuah sukacita melalui pertobatan.
Konsep teologia ada di dalam Rat 3:21-26, yang merupakan bagian yang akan kita bahas. Tema kitab Ratapan adalah dengan kacamata rohani melihat kebaikan dan kesetiaan Tuhan walau dalam penderitaan dan mendorong umat (bangsa Israel) untuk bertobat. Hal ini bukanlah sesuatu yang gampang karena di dalam penderitaan orang lebih banyak mengeluh dan sulit melihat siapa Tuhan. Dan keluhan dari umat Israel bisa kita temukan di sepanjang kitab Ratapan yang dituangkan oleh Yeremia oleh karena dosa mereka. Jadi mereka menderita karena mereka melakukan dosa. Yeremia tetap teringat dan tertekan karena sengsara yang terjadi (20). Ketika dia teringat akan kondisi Israel, jiwanya tertekan dan tidak memiliki ketenangan. Dia juga teringat akan sengsara dan penderitaan yang terjadi. Dalam ay 20 ia berkata, “Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.” Ada bebarpa hal yang membuat Yeremia tertekan. Pertama, Yerusalem runtuh dan sangat sunyi sekali (pemerintahan terakhir bangsa Yehuda) (pasal 1). Kedua, Allah murka kepada Sion (pasal 2). Ketiga, bangsa tercerai-berai dan dibuang ke Babel. Keempat, rakyat menderita sengsara oleh karena diperbudak oleh bangsa lain dan juga menjadi bahan ejekan. Israel yang dahulunya memiliki kebanggaan dan mengalahkan musuh-musuh kini diperbudak bangsa lain dan menjadi bahan ejekan.
Tetapi dalam kondisi seperti ini muncul sebuah pengharapan. Dalam ay 21 dikatakan, “Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:”. Kalimat yang Yeremia untuk “ada hal yang kuperhatikan” adalah ‘I call to my mind’. Dia memunculkan kembali beberapa hal di dalam pikiran dan ingatannya. Pertama, Tak berkesudahan kasih setia TUHAN (22a). Jika di sepanjang hidup kita semuanya berjalan dengan baik tanpa halangan yang berarti, pasti akan gampang untuk berkata tidak berkesudahan kasih setia Tuhan. Tetapi mapukah kita untuk berkata ‘Tak berkesudahan kasih setia TUHAN’ jika dalam sengsara dan penderitaan? Mampu untuk tetap mengatakan bahwa kasih Tuhan tidak berkesudahan menjadi dasar untuk memunculkan pengharapan. Tidak akan ada sebuah pengharapan yang memberikan kekuatan dan penghiburan bagi kita tahun 2011 jika kita tidak bisa berkata kepada diri kita bahwa ‘Tak berkesudahan kasih setia TUHAN’. Apapun yang kita alami tahun 2010, mari mengawali tahun 2011 dengan tetap mengimani hal ini. Masih baikkah menurut kita Tuhan dalam hidup kita? Jika kita tidak bisa melihat kasih Tuhan yang tidak berkesudahaan itu, maka kita tidak bisa semangat menjalani tahun 2011 dan tidak ada keberanian untuk menghadapi tantangan dan tidak akan muncul ambisi untuk semakin mencintai Tuhan.
Hal kedua yang muncul dipikiran Yeremia adalah ‘tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi’ (22b-23a). Seperti matahari pasti terbit setiap pagi, rahmat Allah (His compassion) lebih terjamin lagi. Pemahaman yang baik akan hal ini akan memunculkan pengharapan bagi kita, sebuah pengharapan yang membuat kita semakin percaya kepada penyertaan Tuhan. Ingat, Allah tidak pernah ingkar janji, dan kita seharusnya lebih percaya dan berharap kepadanya. Hal ketiga adalah besar kesetiaan Tuhan (23b). Dengan kata lain cinta Tuhan itu besar bagi setiap kita. Jika kita mengalami ketiga hal in di dalam hidup kita maka kita akan berani untuk melangkah dalam tahun 2011 in dengan iman.
Yeremia mendoorong Israel untuk merasakan ketiga hal ini, meskipun mereka masih hidup dalam kesengsaraan. Ini adalah sesuatu yang luar biasa. Dan mari belajar untuk melihat bahwa kasih Allah tidak berkesudahan, walau apapun yang terjadi. Ini adalah sumber semangat baru dan kekuatan dari Tuhan. Meskipun penderitaan tidak akan lepas dari diri kita dan bahkan mungkin sampai mati penderitaan akan senantiasa bersama dengan kita karena penderitaan adalah bagian dari hidup. Karena itu mari mengingat karakter Allah yang penuh kasih dan kebaikan yang melahirkan iman dan percaya kepada kita yang akan melahirkan sebuah komitmen (ay 24). Dalam ay 24 dikatakan, "TUHAN adalah bagianku," kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.” Sebuah komitmen yang muncul di tengah-tengah penderitaan. Yeremia berkata ‘The Lord is my portion’. Hal ini tidak dia katakan kepada orang lain tetapi keapda dirinya. Sesuatu yang tidak gampang untuk dilakukan jika tidak emmahami dengan jelas apa yang diuangkapkan dalam ay 22-23. Jika kita berbicara kepada orang lain bahwaTuhan itu baik, mungkin sesuatu yang gampang. Tetapi akan lebih bermakna jika kita berkata kepada diri kita Tuhan itu baik dan Tuhan adalah bagianku.
Dalam Mazmur 73 kita melihat bagaimana Daud sangat bergumul karena orang fasik medapat banyak berkat sedangkan dia menderita. Hal yang sama bisa kita temukan pada saat ini di mana mereka yang tidak taat kepada Allah memiliki hidup yang jauh dari masalah. Tetapi Daud dalam semua kondisinya dan dalam pergumulannya sampai pada sebuah titik kesadaran yang memampukan ia berkata, “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya” (Maz 73:25-26). Komitmen yang melahirkan pengharapan ini juga akan menghasilkan sebuah sikap yaitu sebuah pengharapan kepada Tuhan. Itulah sebabnya kita berharap kepadanya, kita menantikan Tuhan berkarya, menantikan Tuhan menyatakan kuasa dan kehendakNya. Mari menantikan Tuhan berkarya dan berbicara pada waktuNya untuk memulihkan dan memberikan yang terbaik pada bagi kita.
Memiliki dan dimiliki Tuhan jauh melebihi apapun. Sering sekali kita lebih berfokus kepada berkat Tuhan tetapi tidak fokus kepada sumber berkat itu sendiri. Memiliki berkat Allah tidak sama dengan memiliki Allah, karena orang yang tidak beriman pun bisa diberkati Allah. Dan sering sekali orang Kristen pun lebih fokus dan mencintai berkat Allah dari pada Allah itu sendiri. Mari menyadari hal ini dan berubah. Mari memiliki ambisi untuk memiliki sumber berkat karena hal ini melebihi segala-galanya. Ketika kita memiliki Allah berkatnya pasti akan kita miliki, tetapi ketika kita memiliki berkatNya Sang Pemberi berkat belum tentu kita miliki.
Tuhan itu baik bagi setiap orang yang berharap kepadanya dan bagi semua orang yang mencari Dia (ay 25). Apakah kita masih merasakan Tuhan baik dalam hidup kita? Apakah kita hanya menganggap Tuhan baik bagi orang lain tetapi tidak baik bagi kita? Ingat, kita alami atau tidak kebaikan Tuhan dalam hidup kita, Tuhan tetap baik. Kita terima atau tidak Tuhan tetap baik. Kebaikan Tuhan tidak pernah ditentukan pengalaman atau perasaan kita. Kebaikan Tuhan tidak pernah di tentukan dari apa yang kita telah atau belum terima. Apapun itu, Tuhan tetap baik. Hari ini kita belajar dari Yeremia dan bangsa Israel bahwa Tuhan itu baik, tetapi yang menarik adalah di dalam kondisi yang penuh dengan pergumulan mereka berani berkatabahwa Tuhan itu baik. Jika kita tidak melihat Tuhan baik, bagaimana kita bisa menyerakah diri kita kepadanya tahun 2011 ini. Tetapi karena Allah yang kta puja dan sembah itu adalah Allah yang baik memapukan kita menyerahkan diri dan melangkah kepada Dia. Mari di dalal situasi apapun kita betul-betul bisa merasakan dan menikmati Tuhan itu baik (band Luk 11:11-13, “Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”).
Siapa yang diantar kita yang kuatir mengalami 2010? Tetapi kita tetapi melewati tahun 2010 bukan? Ingatlah karakter Allah (kasih, kesetiaan, kebaikanNya dst). Hal ini akan melahirkan iman percaya dan pangharapan dan membuat kita melangkah dengan tidak kuatir akan apapun (band Rom 8:32, “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia”.)
Ayat 26, “Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN.” Mari menantikan Tuhan bekerja dan berkarya dengan iman dan pengharapan. Nantikan penuh iman Tuhan berkarya memulihkan dan memberikan (band Yes 30:15b, "Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.”) Kenapa bisa tenang dan teduh dalam menghadapi tahun 2011 ini adalah karena iman. Mari mendapatkan kekuatan baru karena pengharapan, komitmen, dan mengingat karakter Allah yang baik. Hal ini akan memberikan kekuatan baru yang akhirnya membuat kita dapat menantikan Tuhan dengan tenang dan dapat membuat diri kita menjalani tahun 2011 dengan percaya kepada Tuhan yang baik dan dalam rencana dan kedaulatanNya kita melangkah bersama-sama dengan Dia.
SoliDeo Gloria!
Friday, January 14, 2011
Seri Eksposisi: Yakobus 4:1-12
Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div
Bagian awal dari Yakobus 4 ini didahului oleh sebuah catatan tentang hikmat dalam Yakobus 3:13-18. Hikmat yang dimaksudkan Yakobus ada pada ay 17-18, “Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai”. Apa yang dipaparkan dalam Yakobus 4:1-6 adalah cara hidup yang duniawi.
Dalam konteks bahasa Indonesia, kata ‘hikmat’ itu mengambang, tetapi dalam Alkitab, kata ‘hikmat’ itu memiliki makna yang jelas. Misalnya dalam Ayub 28:28 dikatakan, “,tetapi kepada manusia Ia berfirman: Sesungguhnya, takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi."; atau dalam Yak 3:17-18 tadi. Hikmat yang dituliskan Yakobus dalam pasal 3:17-18 adalah himat yang dimaksudkan Yakobus dalam pasal yang 1 ay 5, “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit ,maka hal itu akan diberikan kepadanya.” Kita melihat bagaimana Yakobus menempatkan pasal 4 ini dengan didahului oleh hikmat ilahi (Yak 3:17-18) dan kemudian hikmat duniawi (Yak 4:1-6).
Orang yang memiliki iman yang sejati (2:14-26), tidak akan digoyahkan oleh cara hidup duniawi (4:1-6). Di dalam suratnya ini kita melihat bagaimana Yakobus membuat sebuah alur pemikiran dimana iman yang dikombinasikan dengan perbuatan yang secara bersama disertai hikmat Allah adalah dasar yang membuat orang bertahan di dalam kebenaran sehingga tidak terjebak dalam keserakahan dan hawa nafsu. ‘Hawa nafsu’ adalah frase yang dapat digunakan untuk menyimpulkan apa yang ditulis dalam ay 1-6. Dalam bahasa aslinya kata yang digunakan adalah ‘hedon’. Dapat dikatakan bahwa ay 1-6 hendak mengatakan bahwa manusia hidup dikuasai oleh keinginan hawa nafsu yang selalu ingin dipuaskan.
Dalam ay 1 dikatakan, “Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?” Apa yang hendak dikatakan Yakobus adalah bahwa pertentangan dan sangketa yang ada pada kita muncul karena ada hawa nafsu yang saling berjuang di dalam tubuh kita. Yang hendak dikatakan Yakobus adalah bahwa sengketa dan pertengkaran adalah perjuangan pribadi, belum antar pribadi. Perjuangan dan pertentangan di dalam pribadi ini jugalah yang memicu pertengkaran antar pribadi. Perjuangan dan pertentangan ini muncul karena munculnya hawa nafsu yang ingin dipuaskan. Inilah yang dimaksud dengan hedon. Jadi di dalam diri kita, kita berjuang melawan hawa nafsu dan keinginan daging. Ketika kita menuruti keinginan daging dan hawa nafsu yang ada di dalam diri kita, maka kita sedang berjuang dan bersengketa di dalam diri kita, sebuah pertentangan antara ya dan tidak dalam menuruti keinginan daging tersebut.
Datangnya sangketa, baik dalam pribadi maupun antar pribadi, adalah dari dari hawa nafsu yang muncul dalam tubuh kita. Karena ituj hidup menurut hawa nafsu adalah sumber pertengkaran. Hal ini bukan hanya muncul dalam ranah rohani. Para fuilsuf dari Yunani-Romawi (termasuk Plato dan Philo) dalam tulisan mereka banyak menolak pemuasan hawa nafsu daging. Para kaum filsuf/ilmuan akan berkata , “Know yourself (gnothi seauton)!”; dan kaum Psikolog berkata: “Be yourself!”; kaum artis akan berkata: “Show yourself!”; kaum Atlet: “Prove yourself!”; kaum Hedonist berkata: “Enjoy yourself!”; kaum Agamist berkata: “Give/Sacrifice yourself!”; tetapi Yesus berkata: “Deny yourself!” (Mark 8:34). Mari melihat bagaimana kontrasnya kaum hedonis dengan “Enjoy yourself”nya dengan Yesus yang berkata: “Deny yourself!” Yakobus mengalamatkan bagian ini kepada orang-orang miskin dan tertindas yang mencoba mau berbuat jahat kepada para penindasnya dan hendak merampas harta mereka (bd. 5:1-6). Karena ini adalah sebuah bentuk pemuasan hawa nafsu.
Dalam ay 2 dikatakan, “Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.” Hedon yang tidak terpenuhi dapat membuat orang bisa membunuh dan iri hati. Ketika Yakobus menuliskan surat ini bukan berarti para penerima surat melakukan tindakan membunuh atau yang lain. Dalam kondisi nyatanya, penerima Surat Yakobus tidak sedang melakukan hal-hal ini, tetapi ini adalah cara penulisan yang hiperbola. Jadi mereka tidak membunuh, tetapi mengalami pertengkaran dan kegeraman karena mereka tidak mendapatkan apa-apa. Apa yang mau dikatakan adalah bahwa mereka memiliki hidup yang tidak benar. Secara praktis hal ini dapat terjadi bagi kita. Ketika kita tidak mendapat apa yang menjadi keinginan kita muncullah pertengkaran dan iri hati di dalam diri kita.
Hal lain yang ditekankan Yakobus adalah ketika mereka tidak mendapat apa yang mereka ingini adalah karena salah berdoa. Salah berdoa, karena untuk hedon (3, “Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu”). Doa Yahudi Kristen biasanya untuk kebutuhan yang murni sehari-hari (Mt.6:11), tetapi permohonan yang didasarkan pada kecemburuan akan kekayaan dan status orang lain berarti sebuah pemuasan hawa nafsu (4:1). Allah menjawab doa untuk kebutuhan bukan pemuasan keinginan. Semua yang bermuara kepada keinginan hawa nafsu tidak akan pernah dijawab oleh Allah.
Ay 4 dikatakan, “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.” Cara hidup duniawi yang berbeda dengan hikmat Allah adalah ketidaksetiaan, karena persahabatan dengan dunia sama dengan permusuhan dengan Allah. Di dalam Kol 3:1-4 dikatakan, “1 Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. 2 Pikirkanlah perkara yang di atas (Set your minds on things above, -terj NIV), bukan yang di bumi. 3 Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. 4 Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri elak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.” Jika pemahaman in ada, maka apa yang dikatakan Yakobus menjadi sangat relevan. Jika kita hidup dengan hawa nafsu (hedon), itu berarti persahabatan dengan dunia. Dan persahabatan dengan dunia ini berarti permusuhan dengan Allah. Ketidaksetiaan terjadi ketika manusia lebih mencintai dunia atau materi daripada Allah – ‘adulterous people’ (bd. Hos.1-3). Itu sebabnya ketika Yakobus berbicara soal iman dan perbuatan, dia berbicara soal Abraham, yang mempersembahkan Ishak buah dari iman, dan Allah langsung mengatakan bahwa Abraham adalah sahabatNya. Apakah kita sahabat Allah atau kita adalah musuhNya dikarenakan cara hidup kita yang tidak benar. Ketika kita bermain-main dengan dosa, ingatlah bahwa apa yang kita sedang lakukan merupakan perzinahan di mata Allah.
Allah itu adalah Allah yang pencemburu. Ay 5 berkata, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Kitab Suci tanpa alasan berkata: "Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu!" Allah menaruhkan RohNya ke dalam kita (band Gal 4:6), tetapi hal ini juga membuat Ia menjadi cemburu karena cintaNya kepada kita. Ay 1-4 adalah cara hidup yang menunjukkan kecongkakan di mata Allah (ay 6). Ketika bersahabat dengan dunia, itu juga kesombongan di mata Allah. Artinya adalah kita adalah orang yang ditebus, dan sebagai orang yang sudah ditebus kita tetap melakukan kejahatan dimantaNya, maka kita adalah orang yang congkak. Orang yang sudah diampuni dosanya tetapi masih hidup dengan cara dunia adalah orang yang congkak atau orang yang tidak tahu terima kasih. Oleh sebab itu ada muncul kata ‘rendah hati’ di dalam ay 6 (“Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."), yaitu sikap tunduk pada kehendak dan kedaulatan Allah (4:7, 10). Bagaimana agar kita bisa menang menghadapi hawa nafsu dalam ay 1-6 dijabarkan dalam ay 7-10.
Dalam ay 7-10 dikatakan, “7 Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu! 8 Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati! 9 Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah; hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratap dan sukacitamu dengan dukacita. 10 Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.” Dalam bagian ini kita melihat bahwa ada beberapa perintah yang ditulis dalam bahasa Yunani. Perintah-perintah tersebut diartikan sebagai sesuatu yang harus segera dilakukan untuk mencabut akar dosa keangkuhan yang telah dijabarkan dalam Yak 4:1-6 di atas.
Pertama adalah tundukkanlah (submit) kepada Allah (7). Kata tunduk yang dimaksud di sini dalam arti adore (menyembah). Jadi ada sikap kekaguman dan penyembahan serta hormat kepada Tuhan. Kedua adalah lawan iblis (7) (band Ef 6:11-18; 1 Pet 5:8-9). Ketiga adalah mendekat kepada Allah (8). Dialah sumber kekuatan kita. Prayerless will be powerless, Prayerful will be powerful. Keempat adalah tahirkan tangan (8). Para imam biasa membasuh tangan sebagai simbol penyucian rohani (Kel 30:17-21, band Maz 24:3-4). Kelima adalah sucikan hati dalam hal moralitas (8) (Yer 4:14; Mat 15:19-20) dan jangan mendua hati (8). Kita harus memilih antara Allah dan Mamon (Mat 6:24). Keenam adalah sadari kemalangan (9). Sadar merupakan titik pertobatan. Ketujuh adalah berdukacita dan meratap (9). Tanpa dukacita maka tidak ada pertobatan yang sejati (band Im 23:29). Kedelapan adalah gantikan tertawa dengan ratap dan sukacita dengan dukacita (9). Jika kita bedukacita ndan meratap karena dosa, maka kita akan merasakan nikmatnya pengampunan. Kesembilan adalah rendahkanlah dirimu di hadapan Allah (10). Allah menentang orang yang congkak.
Dalam ay 11-12 ada peringatan akan dosa menghakimi orang lain. Dikatakan di sana, “ 11 Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya; dan jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi hakimnya. 12 Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?” Yang ingin dikatakan Yakobus adalah agar mereka, walaupun miskin dan menderita, tidak memfitnah dan menghakimi (11). Meskipun miskin dan tertindas, tetapi tidak boleh memfitnah dan menghakimi orang yang kaya (5:1-6). Mereka tidak berhak menghakimi mereka karena penghakiman terhadap sesama berarti menentang hukum Taurat (11). Penghakiman adalah milik Allah (12). Meskipun kita tertindas dan miskin dan orang kaya dengan kejahatan , tidak ada hak kita untuk menghakimi. Hak kita adalah mendoakan dan mengasihi mereka. Mereka bertanggung jawab kepada Tuhan, dan biarlah Tuhan yang menghakimi mereka.
Soli Deo Gloria
Bagian awal dari Yakobus 4 ini didahului oleh sebuah catatan tentang hikmat dalam Yakobus 3:13-18. Hikmat yang dimaksudkan Yakobus ada pada ay 17-18, “Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai”. Apa yang dipaparkan dalam Yakobus 4:1-6 adalah cara hidup yang duniawi.
Dalam konteks bahasa Indonesia, kata ‘hikmat’ itu mengambang, tetapi dalam Alkitab, kata ‘hikmat’ itu memiliki makna yang jelas. Misalnya dalam Ayub 28:28 dikatakan, “,tetapi kepada manusia Ia berfirman: Sesungguhnya, takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi."; atau dalam Yak 3:17-18 tadi. Hikmat yang dituliskan Yakobus dalam pasal 3:17-18 adalah himat yang dimaksudkan Yakobus dalam pasal yang 1 ay 5, “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit ,maka hal itu akan diberikan kepadanya.” Kita melihat bagaimana Yakobus menempatkan pasal 4 ini dengan didahului oleh hikmat ilahi (Yak 3:17-18) dan kemudian hikmat duniawi (Yak 4:1-6).
Orang yang memiliki iman yang sejati (2:14-26), tidak akan digoyahkan oleh cara hidup duniawi (4:1-6). Di dalam suratnya ini kita melihat bagaimana Yakobus membuat sebuah alur pemikiran dimana iman yang dikombinasikan dengan perbuatan yang secara bersama disertai hikmat Allah adalah dasar yang membuat orang bertahan di dalam kebenaran sehingga tidak terjebak dalam keserakahan dan hawa nafsu. ‘Hawa nafsu’ adalah frase yang dapat digunakan untuk menyimpulkan apa yang ditulis dalam ay 1-6. Dalam bahasa aslinya kata yang digunakan adalah ‘hedon’. Dapat dikatakan bahwa ay 1-6 hendak mengatakan bahwa manusia hidup dikuasai oleh keinginan hawa nafsu yang selalu ingin dipuaskan.
Dalam ay 1 dikatakan, “Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?” Apa yang hendak dikatakan Yakobus adalah bahwa pertentangan dan sangketa yang ada pada kita muncul karena ada hawa nafsu yang saling berjuang di dalam tubuh kita. Yang hendak dikatakan Yakobus adalah bahwa sengketa dan pertengkaran adalah perjuangan pribadi, belum antar pribadi. Perjuangan dan pertentangan di dalam pribadi ini jugalah yang memicu pertengkaran antar pribadi. Perjuangan dan pertentangan ini muncul karena munculnya hawa nafsu yang ingin dipuaskan. Inilah yang dimaksud dengan hedon. Jadi di dalam diri kita, kita berjuang melawan hawa nafsu dan keinginan daging. Ketika kita menuruti keinginan daging dan hawa nafsu yang ada di dalam diri kita, maka kita sedang berjuang dan bersengketa di dalam diri kita, sebuah pertentangan antara ya dan tidak dalam menuruti keinginan daging tersebut.
Datangnya sangketa, baik dalam pribadi maupun antar pribadi, adalah dari dari hawa nafsu yang muncul dalam tubuh kita. Karena ituj hidup menurut hawa nafsu adalah sumber pertengkaran. Hal ini bukan hanya muncul dalam ranah rohani. Para fuilsuf dari Yunani-Romawi (termasuk Plato dan Philo) dalam tulisan mereka banyak menolak pemuasan hawa nafsu daging. Para kaum filsuf/ilmuan akan berkata , “Know yourself (gnothi seauton)!”; dan kaum Psikolog berkata: “Be yourself!”; kaum artis akan berkata: “Show yourself!”; kaum Atlet: “Prove yourself!”; kaum Hedonist berkata: “Enjoy yourself!”; kaum Agamist berkata: “Give/Sacrifice yourself!”; tetapi Yesus berkata: “Deny yourself!” (Mark 8:34). Mari melihat bagaimana kontrasnya kaum hedonis dengan “Enjoy yourself”nya dengan Yesus yang berkata: “Deny yourself!” Yakobus mengalamatkan bagian ini kepada orang-orang miskin dan tertindas yang mencoba mau berbuat jahat kepada para penindasnya dan hendak merampas harta mereka (bd. 5:1-6). Karena ini adalah sebuah bentuk pemuasan hawa nafsu.
Dalam ay 2 dikatakan, “Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.” Hedon yang tidak terpenuhi dapat membuat orang bisa membunuh dan iri hati. Ketika Yakobus menuliskan surat ini bukan berarti para penerima surat melakukan tindakan membunuh atau yang lain. Dalam kondisi nyatanya, penerima Surat Yakobus tidak sedang melakukan hal-hal ini, tetapi ini adalah cara penulisan yang hiperbola. Jadi mereka tidak membunuh, tetapi mengalami pertengkaran dan kegeraman karena mereka tidak mendapatkan apa-apa. Apa yang mau dikatakan adalah bahwa mereka memiliki hidup yang tidak benar. Secara praktis hal ini dapat terjadi bagi kita. Ketika kita tidak mendapat apa yang menjadi keinginan kita muncullah pertengkaran dan iri hati di dalam diri kita.
Hal lain yang ditekankan Yakobus adalah ketika mereka tidak mendapat apa yang mereka ingini adalah karena salah berdoa. Salah berdoa, karena untuk hedon (3, “Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu”). Doa Yahudi Kristen biasanya untuk kebutuhan yang murni sehari-hari (Mt.6:11), tetapi permohonan yang didasarkan pada kecemburuan akan kekayaan dan status orang lain berarti sebuah pemuasan hawa nafsu (4:1). Allah menjawab doa untuk kebutuhan bukan pemuasan keinginan. Semua yang bermuara kepada keinginan hawa nafsu tidak akan pernah dijawab oleh Allah.
Ay 4 dikatakan, “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.” Cara hidup duniawi yang berbeda dengan hikmat Allah adalah ketidaksetiaan, karena persahabatan dengan dunia sama dengan permusuhan dengan Allah. Di dalam Kol 3:1-4 dikatakan, “1 Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. 2 Pikirkanlah perkara yang di atas (Set your minds on things above, -terj NIV), bukan yang di bumi. 3 Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. 4 Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri elak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.” Jika pemahaman in ada, maka apa yang dikatakan Yakobus menjadi sangat relevan. Jika kita hidup dengan hawa nafsu (hedon), itu berarti persahabatan dengan dunia. Dan persahabatan dengan dunia ini berarti permusuhan dengan Allah. Ketidaksetiaan terjadi ketika manusia lebih mencintai dunia atau materi daripada Allah – ‘adulterous people’ (bd. Hos.1-3). Itu sebabnya ketika Yakobus berbicara soal iman dan perbuatan, dia berbicara soal Abraham, yang mempersembahkan Ishak buah dari iman, dan Allah langsung mengatakan bahwa Abraham adalah sahabatNya. Apakah kita sahabat Allah atau kita adalah musuhNya dikarenakan cara hidup kita yang tidak benar. Ketika kita bermain-main dengan dosa, ingatlah bahwa apa yang kita sedang lakukan merupakan perzinahan di mata Allah.
Allah itu adalah Allah yang pencemburu. Ay 5 berkata, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Kitab Suci tanpa alasan berkata: "Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu!" Allah menaruhkan RohNya ke dalam kita (band Gal 4:6), tetapi hal ini juga membuat Ia menjadi cemburu karena cintaNya kepada kita. Ay 1-4 adalah cara hidup yang menunjukkan kecongkakan di mata Allah (ay 6). Ketika bersahabat dengan dunia, itu juga kesombongan di mata Allah. Artinya adalah kita adalah orang yang ditebus, dan sebagai orang yang sudah ditebus kita tetap melakukan kejahatan dimantaNya, maka kita adalah orang yang congkak. Orang yang sudah diampuni dosanya tetapi masih hidup dengan cara dunia adalah orang yang congkak atau orang yang tidak tahu terima kasih. Oleh sebab itu ada muncul kata ‘rendah hati’ di dalam ay 6 (“Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."), yaitu sikap tunduk pada kehendak dan kedaulatan Allah (4:7, 10). Bagaimana agar kita bisa menang menghadapi hawa nafsu dalam ay 1-6 dijabarkan dalam ay 7-10.
Dalam ay 7-10 dikatakan, “7 Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu! 8 Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati! 9 Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah; hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratap dan sukacitamu dengan dukacita. 10 Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.” Dalam bagian ini kita melihat bahwa ada beberapa perintah yang ditulis dalam bahasa Yunani. Perintah-perintah tersebut diartikan sebagai sesuatu yang harus segera dilakukan untuk mencabut akar dosa keangkuhan yang telah dijabarkan dalam Yak 4:1-6 di atas.
Pertama adalah tundukkanlah (submit) kepada Allah (7). Kata tunduk yang dimaksud di sini dalam arti adore (menyembah). Jadi ada sikap kekaguman dan penyembahan serta hormat kepada Tuhan. Kedua adalah lawan iblis (7) (band Ef 6:11-18; 1 Pet 5:8-9). Ketiga adalah mendekat kepada Allah (8). Dialah sumber kekuatan kita. Prayerless will be powerless, Prayerful will be powerful. Keempat adalah tahirkan tangan (8). Para imam biasa membasuh tangan sebagai simbol penyucian rohani (Kel 30:17-21, band Maz 24:3-4). Kelima adalah sucikan hati dalam hal moralitas (8) (Yer 4:14; Mat 15:19-20) dan jangan mendua hati (8). Kita harus memilih antara Allah dan Mamon (Mat 6:24). Keenam adalah sadari kemalangan (9). Sadar merupakan titik pertobatan. Ketujuh adalah berdukacita dan meratap (9). Tanpa dukacita maka tidak ada pertobatan yang sejati (band Im 23:29). Kedelapan adalah gantikan tertawa dengan ratap dan sukacita dengan dukacita (9). Jika kita bedukacita ndan meratap karena dosa, maka kita akan merasakan nikmatnya pengampunan. Kesembilan adalah rendahkanlah dirimu di hadapan Allah (10). Allah menentang orang yang congkak.
Dalam ay 11-12 ada peringatan akan dosa menghakimi orang lain. Dikatakan di sana, “ 11 Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya; dan jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi hakimnya. 12 Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?” Yang ingin dikatakan Yakobus adalah agar mereka, walaupun miskin dan menderita, tidak memfitnah dan menghakimi (11). Meskipun miskin dan tertindas, tetapi tidak boleh memfitnah dan menghakimi orang yang kaya (5:1-6). Mereka tidak berhak menghakimi mereka karena penghakiman terhadap sesama berarti menentang hukum Taurat (11). Penghakiman adalah milik Allah (12). Meskipun kita tertindas dan miskin dan orang kaya dengan kejahatan , tidak ada hak kita untuk menghakimi. Hak kita adalah mendoakan dan mengasihi mereka. Mereka bertanggung jawab kepada Tuhan, dan biarlah Tuhan yang menghakimi mereka.
Soli Deo Gloria
Seri Eksposisi: Yakobus 2:14-26
Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div
Dalam Yakobus 2:14-16 ini kita menemukan ada satu pergumulan karena antara iman (sola fide) dengan perbuatan. Sebuah kesalahan yang terjadi akibat karena salah memahami pengajaran Paulus. Bagian kitab Yakobus ini adalah sebuah klimaks dari keberagamaan yang sejati. Artinya adalah orang yang berkata beriman atau beragama bukan hanya sekedar kata-kata tapi ada kesejajaran dengan tindakannya. Itu sebabnya dikatakan iman tidak boleh terpisah dari tindakan. Ayat 19, “Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun percaya akan hal itu dan mereka gemetar”, merupakan sebuah penekanan dari Yakobus. Jadi dapat dikatakan bahwa pengakuan verbal adalah sesuatu yang kosong jika tanpa disertai dengan sebuah tindakan yang nyata.
Dalam menuliskan surat ini, kita melihat bahwa Yakobus menggunakan bentuk argumentatif. Jadi, bukan sekedar memaparkan seperti yang biasa Paulus lakukan. Kemudian Yakobus juga menggunakan bentuk diatribe, sebuah bentuk kecaman yang sangat tegas. Sepanjang kitab Yakobus, kita akan menemukan dua bentuk ini di dalam surat Yakobus.
Ada satu hal yang ditentang Yakobus dalam suratnya ini. Dia menentang pengajar palsu yang familiar dengan konsep Paulus tentang justification by faith alone, tetapi dengan pemahaman yang salah. Kemudian, Yakobus juga memakai surat ini untuk menentang pietisme Yahudi – kaum Zelot. Mereka melakukan ibadah yang sangat baik tetapi hidup mereka sangat jauh jika dibandingkan dengan ibadah mereka. Yak 1:26-27 dikatakan, “Jikalau ada seseorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya. Ibadah yang murni dan yang tidak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.” Inilah hal yang ditentang Yakobus. Bagi Yakobus, ekspresi iman seperti tidak diskriminatif (2:8-9, “Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri", kamu berbuat baik. Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran.”) dan tanpa kekerasan (2:10-11, “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya. Sebab yang berkata, "Jangan berzinah," dialah juga yang berkata, "Jangan membunuh." Jadi, kalau kalian tidak berzinah, tetapi membunuh, maka kalian adalah pelanggar hukum juga.”) bukan hanya sekedar pemahaman atau konsep, tetapi tindakan nyata.
Dalam bagian ay 14-17, kita melihat bahwa ada sebuah pengakuan tanpa tindakan. Hal ini ditentang oleh firman Allah. Hal ini sama saja dengan kata tanpa perbuatan. Dalam bagian ini kita juga menemukan sebuah kisah mengenai seseorang yang kedinginan dan kelaparan. Tetapi orang hanya berkata, “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang.“ Tetapi tidak ada tindakan yang diberikan. Dan Yakobus menyebut hal ini tidak berguna (ay 17). Dalam Ulangan 15:7-8 kita melihat tentang tanggung jawab orang percaya kepada orang miskin. Ben Sirach juga pernah berkata, “Pemberian bagi orang Yahudi adalah cara membela diri dihadapan penghakiman Allah. Sama seperti air yang memadamkan api, demikianlah tindakan yang baik bisa memadamkan murka Allah.” Yakobus dalam bagian ini sedang mengecam orang Kristen agar tidak sekedar berkata-kata rohani tetapi tidak melakukan dengan tindakan yang nyata. Dalam ay 14 ditunjukkan sebuah kemurahan. Dikatakan di sana, “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?” Tetapi dalam hari penghakiman (ay 12-13) semuanya itu tidak ada artinya. Makanya dikatakan iman tanpa tindakan tidak dapat menyelamatkan. Meskipun keselamatan anugerah Allah (Sola Fide) tidak bisa dipungkiri, tetapi Yakobus tidak sedang berbicara mengenai keselamatan dalam arti dilahirkan kembali oleh anugerah Allah (Rom 3:24; Gal 2:16). Yakobus ingin berkata bagaimana kita sebagai orang yang telah dibenarkan dan telah menikmati anugerah keselamatan itu, memliki tanggung jawab iman kita di hadapan Allah untuk menghasilkan buah melalui tindakan.
Adalah benar jika dikatakan bahwa seseorang tidak memiliki hak untuk merasakan belas kasihan dan simpati sampai pada saat dia mencoba untuk menempatkan belas kasihan dan simpatinya dalam satu tindakan (ay 15-16). Jadi ketika kita hanya memiliki rasa belas kasihan dan simpati tanpa ada tindakan apapun, tidak ada gunanya. Kita dapat memberi tanpa mengagasihi, tetapi kita tidak dapat mengasihi tanpa memberi. Demikian juga dengan orang dapat berbuat baik tanpa iman, tetapi tidak ada seorangpun yang beriman tanpa berbuat baik (band Mat 25:31-46). Mari menunjukkan iman kita dengan perbuatan. Inilah kelemahan kebanyakan orang Kristen pada saat ini. Banyak orang Kristen mengaku sebagai orang percaya dan beriman tetapi hidupnya tidak berbuah (band Fil 4:5). Kasih bukan dalam perkataan tetapi dalam tindakan (1 Yoh 3:17-18). Kata-kata yang baik/indah, kotbah, doa, pernyataan iman, nasihat bijaksana, semuanya harus ditunjukkan dengan tindakan iman yang tidak dapat dipisahkan dari kekristenan sejati.
Mari melihat ay 17-19. Dikatakan di sana, “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. Tetapi mungkin ada orang berkata: "Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan", aku akan menjawab dia: "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku." Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.” Yang mau dikatakan di sini adalah bahwa iman dan perbuatan sama-sama sebagai hal yang baik. Bukan salah satunya, karena perbuatan baik tidak ada artinya, dan iman tanpa perbuatan juga sia-sia. Iman dan tindakan sama-sama sebagai hal yang baik, sebagai manifestasi agama. A man of though and a man of action. Ketika kita berfikir dan memikirkan tentang Allah dan beriman kepada Allah, mari membuktikannya dengan membuat pernyataan iman melalui tindakan. Doa-doa dan usaha itu sekaligus menyatu seperti dua sisi mata uang. Melalui iman, perbuatan kita dilakukan. Iman itu nyata dalam tindakan dan iman hanya dapat didemonstrasikan melalui perbuatan. Darimana orang tahu kita beriman adalah dari perbuatan-perbuatan kita.
Dalam ay 17 dikatakan bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang mati atau sia-sia. Dan hal ini ditekankan kembali dalam ay 19. Dalam bagian ini kita melihat bahwa Yakobus megatakan bahwa jika mereka mengaku bahwa mereka monotheisme, dia juga monotheisme. Dan jika mereka juga mengaku hanya ada satu Allah saja, Iblispun percaya. Bahkan mendengar nama Tuhan, setanpun gemetar tetapi iblis tidak pernah menundukkan diri kepada Tuhan. Jadi Yakobus melanjutkan dengan mengatakan jika sampai di situ saja iman kita, maka iman itu tidak berarti. Monotheisme (emunah) adalah konsep Yahudi yang diucapkan setiap hari (schema) (Ul 6:4-5). Jika hanya sebatas ini, siapa saja pun bisa melakukannya. Inilah sebabnya Yakobus menegur orang Yahudi yang menganut monoteisme tetapi tanpa perbuatan. Iman yang menyelamatkan menghasilkan perbuatan. Hidup yang benar adalah buah dari iman yang sejati. Bukan berarti mengabaikan sola fide, tetapi iman yang sejati harus nampak dalam bentuk perbuatan setiap hari. Bagaimana mungkin kita bisa mengatakan sudah lahir baru tetapi kita masih menikmati dosa lama kita? Bagaimana mungkin seorang dapat mengatakan dia sudah lahir baru tetapi masih racism?
Apa bukti iman? Hal inilah yang ditunjukkan dalam ay 20-26. Dalam ay 20-26 kita melihat iman Abraham yang dan tindakannya mengorbankan Ishak atas permintaan Tuhan. Inilah iman (Kej 22). Mengapa iman Abraham yang dikutip Yakobus? Ingat, Abraham adalah bapa orang beriman, dan orang Yahudi sangat bangga dengan Abraham dan mereka selalu mengatakan bahwa mereka adalah anak Abraham. Yakobus mengambil tokoh yang mereka kagumi dan menantang mereka untuk membuktikan iman seperti iman Abraham. Ketika Tuhan menuntut dia mengorbankan anak satu-satunya yang sudah lama dinantikan, sekarang dikorbankan. Tetapi Abraham melangkah dengan iman.
Kemudian tindakan Rahab yang menyelamatkan mata-mata Israel. Perbuatan yang dilakukannya sebagai buah dari iman. Mari melihat dua tokoh ini. Abraham adalah orang yang dianggap suci dan beriman yang merupakan bapa leluhur mereka. Sedangkan Rahab adalah orang yang paling najis karena dia adalah pelacur (satu dosa yang paling tidak disukai orang Yahudi). Dua tokoh yang bertolak belakang digabungkan Yakobus. Apa pesan yang ingin disampaikan? Dari segi orang yang dikagumi, imannya ditunjukkan dan dibuktikan dengan tindakan. Demikian juga dari orang yang paling dibenci juga, menunjukkan iman dalam bentuk dengan tindakan. Inilah iman yang sejati yaitu iman dengan perbuatan. Apa yang ingin dikatakan Yakobus adalah siapapun kita, yang mengaku beriman, mari membuktikannya dengan perbuatan kita. Iman sungguh-sungguh yang menggerakkan tindakan Abraham dan Rahab. Tidak ada seorang pun digerakkan kepada sebuah perbuatan tanpa iman, dan tidak ada iman seorangpun yang nyata tanpa perbuatan. Iman kita akan menjadi iman yang hidup jika disertai tindakan yang nyata.
Dalam ay 26 kita melihat ada sesuatu yang ditarik Yakobus. Dikatakan di sana, “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Di dalam pemahaman tradisi kuno Yahudi, mereka menerima ada sebuah kombinasi antara tubuh, roh, dan jiwa. Jika rohnya terpisah dari tubuh berarti mati, demikianlah perbuatan tidak menyertai iman juga mati. Begitu pentingnya kehadiran roh didalam tubuh, demikan juga pentingnya kehadiran tindakan di dalam iman. Ada satu hal yang menjadi refleksi bagi kita. Apa buah iman yang bisa kita pancarkan? Baik tindakan kasih atau melangkah, atau mengorbankan apapun? Mari menunjukkan iman hari ini dengan perbuatan. Iman dan doa akan menjadi kosong tanpa tindakan yang konkrit.
SoliDeo Gloria.
Dalam Yakobus 2:14-16 ini kita menemukan ada satu pergumulan karena antara iman (sola fide) dengan perbuatan. Sebuah kesalahan yang terjadi akibat karena salah memahami pengajaran Paulus. Bagian kitab Yakobus ini adalah sebuah klimaks dari keberagamaan yang sejati. Artinya adalah orang yang berkata beriman atau beragama bukan hanya sekedar kata-kata tapi ada kesejajaran dengan tindakannya. Itu sebabnya dikatakan iman tidak boleh terpisah dari tindakan. Ayat 19, “Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun percaya akan hal itu dan mereka gemetar”, merupakan sebuah penekanan dari Yakobus. Jadi dapat dikatakan bahwa pengakuan verbal adalah sesuatu yang kosong jika tanpa disertai dengan sebuah tindakan yang nyata.
Dalam menuliskan surat ini, kita melihat bahwa Yakobus menggunakan bentuk argumentatif. Jadi, bukan sekedar memaparkan seperti yang biasa Paulus lakukan. Kemudian Yakobus juga menggunakan bentuk diatribe, sebuah bentuk kecaman yang sangat tegas. Sepanjang kitab Yakobus, kita akan menemukan dua bentuk ini di dalam surat Yakobus.
Ada satu hal yang ditentang Yakobus dalam suratnya ini. Dia menentang pengajar palsu yang familiar dengan konsep Paulus tentang justification by faith alone, tetapi dengan pemahaman yang salah. Kemudian, Yakobus juga memakai surat ini untuk menentang pietisme Yahudi – kaum Zelot. Mereka melakukan ibadah yang sangat baik tetapi hidup mereka sangat jauh jika dibandingkan dengan ibadah mereka. Yak 1:26-27 dikatakan, “Jikalau ada seseorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya. Ibadah yang murni dan yang tidak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.” Inilah hal yang ditentang Yakobus. Bagi Yakobus, ekspresi iman seperti tidak diskriminatif (2:8-9, “Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri", kamu berbuat baik. Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran.”) dan tanpa kekerasan (2:10-11, “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya. Sebab yang berkata, "Jangan berzinah," dialah juga yang berkata, "Jangan membunuh." Jadi, kalau kalian tidak berzinah, tetapi membunuh, maka kalian adalah pelanggar hukum juga.”) bukan hanya sekedar pemahaman atau konsep, tetapi tindakan nyata.
Dalam bagian ay 14-17, kita melihat bahwa ada sebuah pengakuan tanpa tindakan. Hal ini ditentang oleh firman Allah. Hal ini sama saja dengan kata tanpa perbuatan. Dalam bagian ini kita juga menemukan sebuah kisah mengenai seseorang yang kedinginan dan kelaparan. Tetapi orang hanya berkata, “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang.“ Tetapi tidak ada tindakan yang diberikan. Dan Yakobus menyebut hal ini tidak berguna (ay 17). Dalam Ulangan 15:7-8 kita melihat tentang tanggung jawab orang percaya kepada orang miskin. Ben Sirach juga pernah berkata, “Pemberian bagi orang Yahudi adalah cara membela diri dihadapan penghakiman Allah. Sama seperti air yang memadamkan api, demikianlah tindakan yang baik bisa memadamkan murka Allah.” Yakobus dalam bagian ini sedang mengecam orang Kristen agar tidak sekedar berkata-kata rohani tetapi tidak melakukan dengan tindakan yang nyata. Dalam ay 14 ditunjukkan sebuah kemurahan. Dikatakan di sana, “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?” Tetapi dalam hari penghakiman (ay 12-13) semuanya itu tidak ada artinya. Makanya dikatakan iman tanpa tindakan tidak dapat menyelamatkan. Meskipun keselamatan anugerah Allah (Sola Fide) tidak bisa dipungkiri, tetapi Yakobus tidak sedang berbicara mengenai keselamatan dalam arti dilahirkan kembali oleh anugerah Allah (Rom 3:24; Gal 2:16). Yakobus ingin berkata bagaimana kita sebagai orang yang telah dibenarkan dan telah menikmati anugerah keselamatan itu, memliki tanggung jawab iman kita di hadapan Allah untuk menghasilkan buah melalui tindakan.
Adalah benar jika dikatakan bahwa seseorang tidak memiliki hak untuk merasakan belas kasihan dan simpati sampai pada saat dia mencoba untuk menempatkan belas kasihan dan simpatinya dalam satu tindakan (ay 15-16). Jadi ketika kita hanya memiliki rasa belas kasihan dan simpati tanpa ada tindakan apapun, tidak ada gunanya. Kita dapat memberi tanpa mengagasihi, tetapi kita tidak dapat mengasihi tanpa memberi. Demikian juga dengan orang dapat berbuat baik tanpa iman, tetapi tidak ada seorangpun yang beriman tanpa berbuat baik (band Mat 25:31-46). Mari menunjukkan iman kita dengan perbuatan. Inilah kelemahan kebanyakan orang Kristen pada saat ini. Banyak orang Kristen mengaku sebagai orang percaya dan beriman tetapi hidupnya tidak berbuah (band Fil 4:5). Kasih bukan dalam perkataan tetapi dalam tindakan (1 Yoh 3:17-18). Kata-kata yang baik/indah, kotbah, doa, pernyataan iman, nasihat bijaksana, semuanya harus ditunjukkan dengan tindakan iman yang tidak dapat dipisahkan dari kekristenan sejati.
Mari melihat ay 17-19. Dikatakan di sana, “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. Tetapi mungkin ada orang berkata: "Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan", aku akan menjawab dia: "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku." Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.” Yang mau dikatakan di sini adalah bahwa iman dan perbuatan sama-sama sebagai hal yang baik. Bukan salah satunya, karena perbuatan baik tidak ada artinya, dan iman tanpa perbuatan juga sia-sia. Iman dan tindakan sama-sama sebagai hal yang baik, sebagai manifestasi agama. A man of though and a man of action. Ketika kita berfikir dan memikirkan tentang Allah dan beriman kepada Allah, mari membuktikannya dengan membuat pernyataan iman melalui tindakan. Doa-doa dan usaha itu sekaligus menyatu seperti dua sisi mata uang. Melalui iman, perbuatan kita dilakukan. Iman itu nyata dalam tindakan dan iman hanya dapat didemonstrasikan melalui perbuatan. Darimana orang tahu kita beriman adalah dari perbuatan-perbuatan kita.
Dalam ay 17 dikatakan bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang mati atau sia-sia. Dan hal ini ditekankan kembali dalam ay 19. Dalam bagian ini kita melihat bahwa Yakobus megatakan bahwa jika mereka mengaku bahwa mereka monotheisme, dia juga monotheisme. Dan jika mereka juga mengaku hanya ada satu Allah saja, Iblispun percaya. Bahkan mendengar nama Tuhan, setanpun gemetar tetapi iblis tidak pernah menundukkan diri kepada Tuhan. Jadi Yakobus melanjutkan dengan mengatakan jika sampai di situ saja iman kita, maka iman itu tidak berarti. Monotheisme (emunah) adalah konsep Yahudi yang diucapkan setiap hari (schema) (Ul 6:4-5). Jika hanya sebatas ini, siapa saja pun bisa melakukannya. Inilah sebabnya Yakobus menegur orang Yahudi yang menganut monoteisme tetapi tanpa perbuatan. Iman yang menyelamatkan menghasilkan perbuatan. Hidup yang benar adalah buah dari iman yang sejati. Bukan berarti mengabaikan sola fide, tetapi iman yang sejati harus nampak dalam bentuk perbuatan setiap hari. Bagaimana mungkin kita bisa mengatakan sudah lahir baru tetapi kita masih menikmati dosa lama kita? Bagaimana mungkin seorang dapat mengatakan dia sudah lahir baru tetapi masih racism?
Apa bukti iman? Hal inilah yang ditunjukkan dalam ay 20-26. Dalam ay 20-26 kita melihat iman Abraham yang dan tindakannya mengorbankan Ishak atas permintaan Tuhan. Inilah iman (Kej 22). Mengapa iman Abraham yang dikutip Yakobus? Ingat, Abraham adalah bapa orang beriman, dan orang Yahudi sangat bangga dengan Abraham dan mereka selalu mengatakan bahwa mereka adalah anak Abraham. Yakobus mengambil tokoh yang mereka kagumi dan menantang mereka untuk membuktikan iman seperti iman Abraham. Ketika Tuhan menuntut dia mengorbankan anak satu-satunya yang sudah lama dinantikan, sekarang dikorbankan. Tetapi Abraham melangkah dengan iman.
Kemudian tindakan Rahab yang menyelamatkan mata-mata Israel. Perbuatan yang dilakukannya sebagai buah dari iman. Mari melihat dua tokoh ini. Abraham adalah orang yang dianggap suci dan beriman yang merupakan bapa leluhur mereka. Sedangkan Rahab adalah orang yang paling najis karena dia adalah pelacur (satu dosa yang paling tidak disukai orang Yahudi). Dua tokoh yang bertolak belakang digabungkan Yakobus. Apa pesan yang ingin disampaikan? Dari segi orang yang dikagumi, imannya ditunjukkan dan dibuktikan dengan tindakan. Demikian juga dari orang yang paling dibenci juga, menunjukkan iman dalam bentuk dengan tindakan. Inilah iman yang sejati yaitu iman dengan perbuatan. Apa yang ingin dikatakan Yakobus adalah siapapun kita, yang mengaku beriman, mari membuktikannya dengan perbuatan kita. Iman sungguh-sungguh yang menggerakkan tindakan Abraham dan Rahab. Tidak ada seorang pun digerakkan kepada sebuah perbuatan tanpa iman, dan tidak ada iman seorangpun yang nyata tanpa perbuatan. Iman kita akan menjadi iman yang hidup jika disertai tindakan yang nyata.
Dalam ay 26 kita melihat ada sesuatu yang ditarik Yakobus. Dikatakan di sana, “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Di dalam pemahaman tradisi kuno Yahudi, mereka menerima ada sebuah kombinasi antara tubuh, roh, dan jiwa. Jika rohnya terpisah dari tubuh berarti mati, demikianlah perbuatan tidak menyertai iman juga mati. Begitu pentingnya kehadiran roh didalam tubuh, demikan juga pentingnya kehadiran tindakan di dalam iman. Ada satu hal yang menjadi refleksi bagi kita. Apa buah iman yang bisa kita pancarkan? Baik tindakan kasih atau melangkah, atau mengorbankan apapun? Mari menunjukkan iman hari ini dengan perbuatan. Iman dan doa akan menjadi kosong tanpa tindakan yang konkrit.
SoliDeo Gloria.
Seri Eksposisi: Yakobus 1:1-8

Alex Nanlohy
Surat Yakobus merupakan surat yang personal sifatnya. Ada banyak nama Yakobus yang bisa kita temukan dalam Alkitab, mis, Yakobus anak Zebedeus, Yakobus saudara Yesus, dll. Hal ini menimbulkan pertanyaan, siapakah penulis kitab Yakobus ini sebenarnya. Banyak ahli dan tafsiran yang tidak setuju pendapat yang mengatakan bahwa penulis kitab ini adalah Yakobus, sang rasul. Dilihat melalui konteks Kis 15, disimpulkan bahwa penulis kitab ini adalah Yakobus, saudara Yesus.
Dalam ayat 1 dikatakan, “Salam dari Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus, kepada kedua belas suku di perantauan.” ‘Kedua belas suku di perantauan’ berkaitan dengan orang-orang Yahudi yang telah menjadi Kristen. Hal in tidak berarti persis 12 suku, tetapi mengarah kepada jemaat-jemaat orang Yahudi yang telah menjadi Kristen. Dapat dikatakan juga bahwa surat ini juga ditujukan bagi semua orang Kristen.
Dalam suratnya ini, kita melihat bahwa Yakobus menuliskan hal-hal yang bersifat sederhana atau praktis (bandingkan dengan surat-surat Paulus yang bersifat doktrinal). Yakobus banyak menuliskan hal-hal yang tidak asing dalam kehidupan sehari-hari. Dan hal inilah yang membuat Marthin Luther meragukan kitab ini untuk dimasukkan ke dalam kanon Alkitab. Apalagi ada pengajaran yang kuat yang diangkat adalah pengajaran yang mengatakan ‘iman tanpa perbuatan adalah mati’. Hal ini disebabkan Martin Luther menganut Sola Fide (hanya karena iman). Yakobus menekankan bahwa iman kepada Yesus tidak berhenti pada saat kita berkata bahwa kita selamat, tetapi ada sebuah bukti nyata yang tampak dalam kehidupan sehari-hari. Selain hal mengenai iman tanpa perbuatan ini, hal-hal praktis yang dapat kita temukan adalah pergumulan, waktu, uang, dll.
Dalam pasal yang pertama ini kita menemukan bahwa hal praktis yang dibahas adalah mengenai pergumulan. Mengapa Yakobus langsung fokus pada masalah pergumulan? Hal ini mungkin sekali karena orang-orang Yahudi yang telah menjadi Kristen, yang tersebar ke berbagai tempat pada masa itu mengalami penganiayaan. Oleh sebab itu tidak heran jika masalah pergumulan diangkat di bagian awal.
Dalam ay 2 dikatakan, “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,”. Jika kita membaca ayat ini rasanya tidak adil. Mengapa dikatakan bahwa jatuh ke dalam pencobaan dianggap kebahagiaan? Adakah di antara kita yang mengadakan pesta ketika memiliki pergumulan? Jadi, apa yang dikatakan dalam ay 2 ini merupakan sikap yang menarik untuk diperhatikan. Apa yang ingin disampaikan Yakobus dituliskannya di dalam ayat 3, dikatakan di sana, “sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” Dalam terjemahan Indonesia, istilah yang dipakai untuk ujian kita lihat sama. Tetapi dalam terjemahan Inggris kata ujian yang ada pada ay 2-3 berbeda dengan yang ada pada ay 12. Istilah yang muncul dalam ayat 2-3 adalah trial , sedangkan istilah yang dipakai dalam ay 12 adalah temptation. Trial adalah sesuatu yang Tuhan izinkan terjadi agar kita ‘naik kelas’, sedangkan temptation adalah sesuatu yang Tuhan izinkan terjadi dan kita menyerah dalam menghadapinya. Pergumulan dapat membuat kita naik kelas dan menjadi trial bagi kita, tetapi ketika kita menyerah maka pergumulan itu menjadi temptation. Jadi apa yang mau dilihat adalah sikap orang-orang dalam menghadapi pergumulan sebagai trial dalam hidup mereka.
Dalam ay 4 dikatakan, “Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” Bagaimana sikap kita dalam menghadapi berbagai pergumulan di dalam hidup ini? Satu hal yang harus kita sadari adalah bahwa di dalam hidup ini ada banyak pergumulan. Dan ada pergumulan yang terjadi karena salah, kebodohan atau dosa kita. Tetapi yang dibicarakan di sini bukanlah pergumulan seperti ini, tetapi pergumulan di mana kita mau taat kepada Tuhan tetapi ada kesempatan yang bisa membuat kita menjadi tidak taat. Inilah pergumulan dan sikap kita akan menentukan apakah pergumulan ini menjadi trial atau temptation bagi kita. Jika kita mau taat kepada Tuhan, maka pergumulan ini menjadi trial, tetapi jika kita menyerah maka pergumulan ini menjadi temptation. Pergumulan demi pergumulan hidup akan memperkuat otot-otot rohani kita. Tidak ada hidup tanpa pergumulan. Oleh sebab itu sikap kita adalah menghadapinya. Hal ini memang sulit, tetapi di dalam hidup yang sulit ini, ada hidup di mana di dalamnya ada Tuhan yang mau membawa kita di dalm kekuatan rohani yang semakin lama akan semakin kokoh. Prosesnya ada di dalam ay 3-4 yaitu iman kita diuji dan akan menghasilkan ketekunan, kemudian ketekunan ini menghasilkan buah yang matang di mana akhirnya kita menjadi sempurna dan utuh dan tidak kekurangan apapun.
Seorang Jemaat datang kepada pendeta dan minta didoakan agar dia diberi kesabaran. Menarik sekali, dalam doanya pendeta tersebut berkata demikian: ”Tuhan berikanlah kesengsaraan untuk dia agar dia belajar sabar!” Sering sekali kita meminta sesuatu kepada Tuhan tetapi tidak menyadari bagaimana Tuhan mengabulkan doa kita. Ketika kita berdoa untuk semakin taat, Tuhan memberikaan kesempatan-kesempatan diman kita dimungkinkan untuk tidak taat. Ketika kita meminta agar dapat lebih mengasihi, Tuhan memberikan orang-orang yang kurang cocok dengan kita. Ketika kita meminta agar lebih mengampuni, Tuhan mengirimkan orang yang sulit kita ampuni. Kita sering meminta kepada Tuhan, tetapi kita tidak suka pada proses bagaimana Tuhan menjawab doa kita. Jadi, jika kita ingin kerohanian kita utuh, jangan takut terhadap pergumulan dan hadapi bersama dengan Tuhan. Sering sekali kita memiliki sikap yang salah dalam menghadapi pergumulan dengan menganggap pergumulan itu besar. Melihat pergumulan itu lebih besar dari Tuhan akan membuat kita sulit untuk melihat kekuasaan Tuhan. Ketika kita melihat masalah, maka kita akan berftanya ‘Dimanakah Tuhan?’. Tetapi, hidup yang melihat bahwa Tuhan itu besar tidak berarti bahwa tidak ada masalah, tetapi masalah itu kecil. Saya tidak sedang mengecilkan atau meringankan masalah yang kita hadapi. Tetapi, ingatlah bahwa Allah kita lebih besar daripada pergumulan kita.
Salah satu kekuatiran kita adalah bahwa penghayatan/ kosep kita akan Tuhan sudah bergesar dari seharusnya. Mari melihat contohnya. Jika ditanya kepada kita ‘Apakah Tuhan maha kuasa?’, kita pasti menjawab ‘ya’. Demikian juga dengan pertanyaan ‘Apakah Iblis maha kuasa?’, maka kita sepakat menjawab ‘Tidak’. Apakah Tuhan maha hadir? Ya! Apakah Iblis maha hadir? Jawabannya pasti tidak. Kenyataan menunjukkan bahwa kita sering sekali kita takut kepada hantu di tempat gelap dan sepi, sesuatu yang mungkin ada (karena Iblis tidak maha hadir) dan tidak memegang sesuatu yang pasti ada (Allah maha hadir). Banyak orang Kristen tidak tahu siapa Allahnya. Kita dididik begitu rupa dengan tayangan yang ada di televisi yang membuat banyak orang Kristen tidak memiliki iman yang benar kepada Allah yang besar sehingga dalam menghadapi pergumulan hidup kita menjadi takut.
Yakobus mengingatkan bahwa apapun pergumulan yang kita hadapi, kita memiliki Tuhan. Tuhan memiliki rencana di mana kita tidak akan terpuruk di dalam pergumulan. Ketika kita melewati pergumulan itu bersama dengan Tuhan, maka kita akan dikuatkan. Apa yang menjadi pergumulan kita saat ini? Apakah pekerjaan, keluarga, kesehatan, atau yang lain? Mungkin kita memiliki banyak pergumulan. Ingatlah bahwa kita sedang Tuhan latih di dalam pergumulan tersebut.
Ayat 5 berkata, “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya.” Apa itu ‘hikmat’ ? hikmat dalam konsep kita bahasa Indonesia adalah sesuatu yang abstrak. Tetapi bagi orang Israel, hikmat itu adalah pimpinan Tuhan untuk memutuskan hal apa dalam keputusan praktis dalam kehidupan. Jadi Yakobus menekankan bahwa jika ada orang yang kekurangan hikmat (memilih antara yang baik dan jahat) dapat memintanya kepada Tuhan. Sewaktu di dalam pergumulan berarti kita sedang belajar sesuatu dari Tuhan, yaitu kehendak dan rencanaNya. Hal ini bukan sesuatu yang gampang. Bahkan mungkin sampai kita melewati pergumulan itu, kita tidak melihat apa rencana Tuhan. Tetapi apa yang Tuhan inginkan adalah ketika kita mengalami pergumulan maka kita sedang belajar untuk taat.
Dalam ay 5-6 dikatakan, “Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.” Seorang ibu yang sudah lama sakit-sakitan sering mengunjungi kebaktian-kebaktian penyembuhan. Pada satu waktu, dia mendengar bahwa ada ibadah penyembuhan di sebuah kota. Dia datang kesana. Ketika menerima pengobatan, dia mulai ragu akan dengan cara pengobatan yang ia terima karena mengarah kepada hal yang tidak benar. Dia bergumul antara keinginan untuk sembuh tetapi menyangkal imannya atau tetap sakit tanpa menyangkal imannya. Ini adalah satu pergumulan yang berat. Dalam pergumulan penting sekali untuk tidak bimbang. Dalam pergumulan kepada siapakah kita percaya? Tuhan atau berhala-berhala? Lebih baik berjalan bersama Tuhan di tempat gelap daripada berjalan sendiri di tempat terang. Ayat 7-8 berkata, “Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.”
Percaya kepada Tuhan adalah sesuatu yang kita butuhkan di dalam pergumulan. Percaya artinya percaya. Kita sering menganggap bahwa kita lebih tahu apa yang perlu bagi kita sendiri. Ini bukan percaya. Percaya adalah berserah. Bukan kekuatan kita tetapi rencana Tuhan. Bagaimana mengetahuinya? Tentu saja dengan menjaga persekutuan dengan Tuhan. Kita membutuhkan Firman Tuhan dan doa dalam menghadapi pergumulan untuk memilih yang mana, trial atau temptation.
Meskipun pergumulan kita kelihatannya tidak memiliki jalan keluar dan suram, ingatlah bahwa ada satu hal yang pasti, yaitu Allah baik. Allah baik bukan tidak tergantung kepada kita baik atau tidak. Allah baik juga bukan karena Allah memeberikan hal-hal yang baik kepada kita. Jadi, kita harus belajar untuk percaya bahwa Allah baik dalam setiap pergumulan hidup yang kita alami. Kita tidak serta merta menyalahkan Tuhan ketika kita mengalami pengalaman pahit di dalam hidup kita. Ingat, Allah adalah baik.
Dalam ay 16-18 Yakobus mengingatkan, “Saudara-saudara yang kukasihi, janganlah sesat! Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran. Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya.” Allah mengasihi kita dan itu adalah jaminan bahwa Allah tidak tidak akan membiarkan kita jatuh diluar dari kontrolNya. Tuhan memperhatikan hidup kita dan Ia tahu pergumulan kita. Jangan menyerah dalam menghadapi pergumulan tetapi hadapi bersama dengan Tuhan.
Saat ini mungkin kita di dalam pergumulan, tetapi Tuhan yang ingin kita kuat di dalam iman, sedang memakai semua pergumulan untuk memperkokoh kita.
Solideo Gloria!
Friday, December 3, 2010
Christology of Mission 3: THE SPIRIT OF MISSION
(The Power of Mission)
Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div
Mari melihat 1 Kor 2:1-5. Dikatakan di sana, “1 Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudaraku, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu. 2 Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. 3 Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar. 4 Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, 5 supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah”. Dalam 1 Korintus 1:18-21 banyak bicara mengnai apakah Yesus adalah Mesias. Oleh sebab itulah Paulus berkata bahwa kami tidak mencari hikmat dan tidak menuntut tanda, tetapi kami hanya memberitakan Kristus yang tersalib sebab Kristus itu adalah hikmat Allah dan Kristus itu adalah pernyataan rencana Allah’. setelah ini, Paulus kemudian berbicara dalam 1 Kor 2 tadi.
Dalam ayat 1 dikatakan, “Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudaraku, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu”. Berbicara mengenai tema kita, Spirit gift of Christ, ada pertanyaan yang timbul. Dengan kuasa apa kita melakukan pelayanan sehingga pelayanan kita berkenan kepada Allah? Jika orang Yahudi meminta ‘tanda’ untuk membuktikan apakah Yesus itu betul-betul mesias, dan orang Yahudi meminta dengan hikmat yaitu filsafat-filsafat manusia, maka Paulus mengatakan bahwa fokusnya adalah injil salib Kristus. Paulus datang bukan dengan kata-kata manusia. Artinya adalah bahwa pelayanan pemberitaan Injil bukan soal indahnya kata-kata, permainan kalimat, ataupun filosofi, melainkan soal kuasa Roh Kudus. Oleh sebab itu, jangan pernah berpikir ketika kita melakukan pelayanan - apakah di tempat kerja, gereja, atau di mana saja - jangan pernah berpikir bahwa orang akan berespon dan tertarik kepada Injil jika kita menyampaikan dengan kata-kata yang indah. Ingat, pemberitaan Injil tidak sama dengan membaca puisi atau karya sastra lain. Pemberitaan salib Kristus bukan di dasarkan pada kata-kata yang indah, walaupun dalam menyampaikannya kita perlu sistematis dan terarah, tetapi ingat bahwa kuasanya bukan di dasarkan pada kalimat tetapi Roh Kudus. Jika ada kesemp[atan membawa firman di mana saja, jangan berpikir dengan membuat kata-kata yang indah agar orang tertarik. Ingat kata-kata yang indah tidak akan pernah membawa orang datang kepada Allah. Jadi, kuasa dari misi Allah bukan dari kata-kata yang indah meskipun kalimat yang indah itu baik. Ingat, pemberitaan salib kristus bukanlah entertainment.
Dalam ayat 1 juga kita melihat bahwa pemberitaan Injil salib Kristus bukanlah dengan hikmat manusia (superior wisdom). Artinya, kita tidak lebih berkuasa dalam pelayanan jika menggunakan kalimat-kalimat yang hebat, hikmat duniawi, atau pernyataan-pernyataan yang luar biasa. Kuasa dalam kotbah atau misi bukan dengan hal ini. Mungkin kita akan dikagumi pendengar kita, tetapi mereka tidak mengagumi Kristus yang kita beritakan. Jangan pernah mencoba melayani dengan hikmat manusia yang seakan-akan membuat orang tertarik kepada Tuhan, tetapi justru orang kagum dan tertarik kepada si pemberita, bukan kepada Allah.
Di dalam ayat 2, dikatakan, “Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.” Kita melihat bahwa isi pemberitaan dalam misi Allah adalah mengenai Yesus yang disalibkan, bukan pengalaman atau lembaga di mana kita berada (band 1 Kor 15:3-4). Hati-hati jika dalam melakukan sebuah pelayanan atau misi kita tidak membawa inti berita yang benar. Misi pemberitaan salib Kristus tidak boleh bergeser dari esensinya dan inilah yang menjadi fokus dalam pelayanan misi kita. Bedakan kotbah dengan menasihati. Banyak orang ketika melakukan pelayanan mkimbar mereka tidak kotbah, tetapi menasihati. Kotbah harus menyatakan kebenaran firman dengan pemberitaan injil salib Kristus sebagai intinya.
Dalam ayat 3 dikatakan, “Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.” Paulus mengatakan bahwa kedatangannya bukan di dalam kekuatan dan keberanian tetapi di dalam kelemahan, takut dan gentar. Hal inilah yang membuat Paulus senantiasa bergantung kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh. Justru akan menjadi sesuatu yang aneh jika kita merasa cukup berani. Jika kita tidak merasa takut dalam melakukan pelayanan atau bermisi, justru berbahaya. Sering sekali dalam melakukan pelayanan pertama kali, apakah sebagai petugas acara, koita banyak berdoa dan bergantung kepada Tuhan. Tetapi ketika kita sudah sering melakukan pelanan ini dan kita diminta untuk melayani, kita bisa merasa percaya diri dan tidak taku, sehingga hal ini akan membuat kebergantungan kita kepada Tuhan semakin berkurang. Jika kita dalam kondisi seperti ini, maka pelayanan kita akan kehilangan kuasanya. Kuasa Tuhan akan bekerja bagi kita di dalam pelayanan kita jika kita bbergantung penuh kepada Allah karena kita datang dalam kelemahan, takut dan gentar.
Dalam ayat 4 Paulus berkata, “Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh,”. Dalam NIV ‘kata-kata hikmat yang meyakinkan’ diterjemahkan dengan ‘Not with wise and persuasive words’. Artinya, kuasa Roh Kudus sangat penting untuk membawa orang kepada Allah bukan dengan kata-kata rayuan atau menakut-nakuti orang agar mereka datang kepada Kristus. Persuasive memiliki makna bahwa kita membujuk orang datang kepada Tuhan. Dia mungkin datang tetapi bukan karena iman. Kuasa Roh Kuduslah yang membuat orang datang kepada Kristus. Orang datang justru dengan keyakinan akan kekuatan Roh (with a demonstration of the Spirit’s Power, band 1 Tes 1:5). Dalam Rom 1:14-15 kita melihat ada perpaduan yang kokoh antara Roh Kudus dengan keyakinan yang kokoh akan Injil. Perpaduan ini membuat kita diberi kuasa dalam pelayanan dan hal ini akan membuat iman pendengar tidak bergantung pada hikmat manusia, tetapi kepada Allah (ay 5).
Dalam pelayanan (dalam hal ini misi) kita melihat ada pertentangan antara teknik retorika yang tinggi dengan kuasa daripada Roh Kudus. Teknik retorika yang hebat bisa membuat kita melepaskan kebergantungan kepada Tuhan dan kita merasa bahwa kita dipakai dengan hebat oleh Tuhan. Perpaduan kedua hal ini bisa benar tetapi ingat akan menjadi salah jika kebergantungan kepada Allah menjadi hilang. Sangat baik jika kita memiliki wibawa dari kuasa Roh Kudus. Bandingkan dengan kebanyakan murid (yang banyak kelas bawah, kecuali Lukas) dimana ketika mereka menerima Roh Kudus mereka memiliki kuasa dan wibawa Roh Kudus yang luar biasa.
Dalam melihat The Power of Mission, kita harus menyadari beberapa hal, yaitu:
1. Allah sendiri adalah penginjil yang sejati dan utama. Oleh sebab itulah kita yang melayaniNya haruslah dengan kuasa sang penginjil sejati itu sendiri.
2. Roh Kudus adalah Roh Kebenaran, Kasih, Kesucian, dan Kuasa. Karena itu PI/misi tidak akan mungkin tanpa Roh Kudus. Berbicara mengenai Kisah Para Rasul, orang bisa mengatakan bahwa kitab itu adalah sejarah gereja mula-mula, tetapi kitab ini juga merupakan kisah bagaimana Roh Kudus bekerja di dalam misi (band Yoh 16:8-11). Dalam Yoh 16:8-11 ada tiga pekerjaan Roh Kudus, yaitu akan dosa, kebenaran, dan penghakiman. Artinya adalah tidak akan ada seorang manusia yang menyadari dan menyesali dosanya kalau bukan pekerjaan Roh Kudus. Tidak aka nada seorangpun yang mengerti, menginsafi, dan memahami kebenaran tanpa pekerjaan Roh Kudus. Tidak aka nada seorangpun yang akan mempertimbangankan penghakiman tanpa pekerjaan Roh Kudus. Itu sebabnya betapa penting kuasa Roh Kudus dalam pelayanan. Tanpa Roh Kudus kita tidak memiliki kuasa, tetapi dengan Roh Kudus kita memiliki kuasa di dalam pelayanan (band 1 Kor 12:3). Roh Kudus mengurapi si pembawa berita, mempersiapkan pendengar, menyadarkan pendosa, menerangi orang buta, memberi hidup kepada orang mati (Yoh 6:63), memampukan orang untuk bertobat dan percaya, meyakinkan kita sebagai anak-anak Allah (Rom 8:15-16), memimpin pada keserupaan dengan karakter Kristus (1 Pet 4:6), dst (band Yoh 16:8-11).
Bagaimana agar kuasa Roh Kudus itu bekerja dalam misi yang sedang kita kerjakan?
1. Dalam Ef 6:17 dikatakan bahwa senjata kita dalam peperangan rohani adalah Firman dan Roh Kudus dengan doa. Perjuangan kita bukan melawan darah dan daging tetapi penguasa-penguasa angkasa dan roh-roh jahat (Ef 6:12). Jadi,kalau berperang secara rohani kita harus melaean dengan rohani, dan Firman dan Rohlah senjata kita. Prayerless will be powerless, but prayerful will be powerful. Doa dalam pelayanan bukan formalitas atau mekanis. Semakin kita bergantung kepada Allah di dalam doa, maka kuasa Roh Kudus akan semakin nyata dalam hidup kita.
2. Hidup suci dengan ketaatan adalah dasar untuk kuasa Roh Kudus. Penghalang doa adalah dosa dan penghalang dosa adalah doa. Bukan soal kepintaran kita atau gelar teologia kita, tetapi kuasa hanya ddapat dengan hidup yang suci. Kita pasti akan merasa terdakwa jika kita jatuh ke dalam dosa. Mari belajar untuk hidup suci dalam semua aspek hidup kita.
3. Lepaskan sel - confidence. Semua keyakinan pribadi kita yang bersumber dari pengalaman dan pengetahuan kita harus di hancurkan dan kita harus bergantung penuh kepada kuasa Allah.
4. Dalam Efesus 5:18 dikatakan, ”Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh”. Jadi kita harus penuh Roh dan memaksimalkan karunia Roh kita (1 Kor 12). Penuh Roh artinya seluruh aspek dari hidup kita (pikiran, perasaan, ucapan, tingkah laku) tunduk kepada Roh. Oleh sebab itu jangan biarkan diri kita berdosa, karena tidak mungkin orang berdosa penuh Roh.
5. Taat dan tunduk kepada pimpinan Roh Kudus (Kis 20:22-23). Paulus memperlihatkan bagaimana dia tunduk kepada Roh walaupun ada ancaman atau bahaya yang akan menimpanya. Kuasa di dalam misi adalah kemutlakan untuk tunduk kepada Roh bukan kenyamanan kita.
Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div
Mari melihat 1 Kor 2:1-5. Dikatakan di sana, “1 Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudaraku, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu. 2 Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. 3 Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar. 4 Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, 5 supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah”. Dalam 1 Korintus 1:18-21 banyak bicara mengnai apakah Yesus adalah Mesias. Oleh sebab itulah Paulus berkata bahwa kami tidak mencari hikmat dan tidak menuntut tanda, tetapi kami hanya memberitakan Kristus yang tersalib sebab Kristus itu adalah hikmat Allah dan Kristus itu adalah pernyataan rencana Allah’. setelah ini, Paulus kemudian berbicara dalam 1 Kor 2 tadi.
Dalam ayat 1 dikatakan, “Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudaraku, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu”. Berbicara mengenai tema kita, Spirit gift of Christ, ada pertanyaan yang timbul. Dengan kuasa apa kita melakukan pelayanan sehingga pelayanan kita berkenan kepada Allah? Jika orang Yahudi meminta ‘tanda’ untuk membuktikan apakah Yesus itu betul-betul mesias, dan orang Yahudi meminta dengan hikmat yaitu filsafat-filsafat manusia, maka Paulus mengatakan bahwa fokusnya adalah injil salib Kristus. Paulus datang bukan dengan kata-kata manusia. Artinya adalah bahwa pelayanan pemberitaan Injil bukan soal indahnya kata-kata, permainan kalimat, ataupun filosofi, melainkan soal kuasa Roh Kudus. Oleh sebab itu, jangan pernah berpikir ketika kita melakukan pelayanan - apakah di tempat kerja, gereja, atau di mana saja - jangan pernah berpikir bahwa orang akan berespon dan tertarik kepada Injil jika kita menyampaikan dengan kata-kata yang indah. Ingat, pemberitaan Injil tidak sama dengan membaca puisi atau karya sastra lain. Pemberitaan salib Kristus bukan di dasarkan pada kata-kata yang indah, walaupun dalam menyampaikannya kita perlu sistematis dan terarah, tetapi ingat bahwa kuasanya bukan di dasarkan pada kalimat tetapi Roh Kudus. Jika ada kesemp[atan membawa firman di mana saja, jangan berpikir dengan membuat kata-kata yang indah agar orang tertarik. Ingat kata-kata yang indah tidak akan pernah membawa orang datang kepada Allah. Jadi, kuasa dari misi Allah bukan dari kata-kata yang indah meskipun kalimat yang indah itu baik. Ingat, pemberitaan salib kristus bukanlah entertainment.
Dalam ayat 1 juga kita melihat bahwa pemberitaan Injil salib Kristus bukanlah dengan hikmat manusia (superior wisdom). Artinya, kita tidak lebih berkuasa dalam pelayanan jika menggunakan kalimat-kalimat yang hebat, hikmat duniawi, atau pernyataan-pernyataan yang luar biasa. Kuasa dalam kotbah atau misi bukan dengan hal ini. Mungkin kita akan dikagumi pendengar kita, tetapi mereka tidak mengagumi Kristus yang kita beritakan. Jangan pernah mencoba melayani dengan hikmat manusia yang seakan-akan membuat orang tertarik kepada Tuhan, tetapi justru orang kagum dan tertarik kepada si pemberita, bukan kepada Allah.
Di dalam ayat 2, dikatakan, “Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.” Kita melihat bahwa isi pemberitaan dalam misi Allah adalah mengenai Yesus yang disalibkan, bukan pengalaman atau lembaga di mana kita berada (band 1 Kor 15:3-4). Hati-hati jika dalam melakukan sebuah pelayanan atau misi kita tidak membawa inti berita yang benar. Misi pemberitaan salib Kristus tidak boleh bergeser dari esensinya dan inilah yang menjadi fokus dalam pelayanan misi kita. Bedakan kotbah dengan menasihati. Banyak orang ketika melakukan pelayanan mkimbar mereka tidak kotbah, tetapi menasihati. Kotbah harus menyatakan kebenaran firman dengan pemberitaan injil salib Kristus sebagai intinya.
Dalam ayat 3 dikatakan, “Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.” Paulus mengatakan bahwa kedatangannya bukan di dalam kekuatan dan keberanian tetapi di dalam kelemahan, takut dan gentar. Hal inilah yang membuat Paulus senantiasa bergantung kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh. Justru akan menjadi sesuatu yang aneh jika kita merasa cukup berani. Jika kita tidak merasa takut dalam melakukan pelayanan atau bermisi, justru berbahaya. Sering sekali dalam melakukan pelayanan pertama kali, apakah sebagai petugas acara, koita banyak berdoa dan bergantung kepada Tuhan. Tetapi ketika kita sudah sering melakukan pelanan ini dan kita diminta untuk melayani, kita bisa merasa percaya diri dan tidak taku, sehingga hal ini akan membuat kebergantungan kita kepada Tuhan semakin berkurang. Jika kita dalam kondisi seperti ini, maka pelayanan kita akan kehilangan kuasanya. Kuasa Tuhan akan bekerja bagi kita di dalam pelayanan kita jika kita bbergantung penuh kepada Allah karena kita datang dalam kelemahan, takut dan gentar.
Dalam ayat 4 Paulus berkata, “Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh,”. Dalam NIV ‘kata-kata hikmat yang meyakinkan’ diterjemahkan dengan ‘Not with wise and persuasive words’. Artinya, kuasa Roh Kudus sangat penting untuk membawa orang kepada Allah bukan dengan kata-kata rayuan atau menakut-nakuti orang agar mereka datang kepada Kristus. Persuasive memiliki makna bahwa kita membujuk orang datang kepada Tuhan. Dia mungkin datang tetapi bukan karena iman. Kuasa Roh Kuduslah yang membuat orang datang kepada Kristus. Orang datang justru dengan keyakinan akan kekuatan Roh (with a demonstration of the Spirit’s Power, band 1 Tes 1:5). Dalam Rom 1:14-15 kita melihat ada perpaduan yang kokoh antara Roh Kudus dengan keyakinan yang kokoh akan Injil. Perpaduan ini membuat kita diberi kuasa dalam pelayanan dan hal ini akan membuat iman pendengar tidak bergantung pada hikmat manusia, tetapi kepada Allah (ay 5).
Dalam pelayanan (dalam hal ini misi) kita melihat ada pertentangan antara teknik retorika yang tinggi dengan kuasa daripada Roh Kudus. Teknik retorika yang hebat bisa membuat kita melepaskan kebergantungan kepada Tuhan dan kita merasa bahwa kita dipakai dengan hebat oleh Tuhan. Perpaduan kedua hal ini bisa benar tetapi ingat akan menjadi salah jika kebergantungan kepada Allah menjadi hilang. Sangat baik jika kita memiliki wibawa dari kuasa Roh Kudus. Bandingkan dengan kebanyakan murid (yang banyak kelas bawah, kecuali Lukas) dimana ketika mereka menerima Roh Kudus mereka memiliki kuasa dan wibawa Roh Kudus yang luar biasa.
Dalam melihat The Power of Mission, kita harus menyadari beberapa hal, yaitu:
1. Allah sendiri adalah penginjil yang sejati dan utama. Oleh sebab itulah kita yang melayaniNya haruslah dengan kuasa sang penginjil sejati itu sendiri.
2. Roh Kudus adalah Roh Kebenaran, Kasih, Kesucian, dan Kuasa. Karena itu PI/misi tidak akan mungkin tanpa Roh Kudus. Berbicara mengenai Kisah Para Rasul, orang bisa mengatakan bahwa kitab itu adalah sejarah gereja mula-mula, tetapi kitab ini juga merupakan kisah bagaimana Roh Kudus bekerja di dalam misi (band Yoh 16:8-11). Dalam Yoh 16:8-11 ada tiga pekerjaan Roh Kudus, yaitu akan dosa, kebenaran, dan penghakiman. Artinya adalah tidak akan ada seorang manusia yang menyadari dan menyesali dosanya kalau bukan pekerjaan Roh Kudus. Tidak aka nada seorangpun yang mengerti, menginsafi, dan memahami kebenaran tanpa pekerjaan Roh Kudus. Tidak aka nada seorangpun yang akan mempertimbangankan penghakiman tanpa pekerjaan Roh Kudus. Itu sebabnya betapa penting kuasa Roh Kudus dalam pelayanan. Tanpa Roh Kudus kita tidak memiliki kuasa, tetapi dengan Roh Kudus kita memiliki kuasa di dalam pelayanan (band 1 Kor 12:3). Roh Kudus mengurapi si pembawa berita, mempersiapkan pendengar, menyadarkan pendosa, menerangi orang buta, memberi hidup kepada orang mati (Yoh 6:63), memampukan orang untuk bertobat dan percaya, meyakinkan kita sebagai anak-anak Allah (Rom 8:15-16), memimpin pada keserupaan dengan karakter Kristus (1 Pet 4:6), dst (band Yoh 16:8-11).
Bagaimana agar kuasa Roh Kudus itu bekerja dalam misi yang sedang kita kerjakan?
1. Dalam Ef 6:17 dikatakan bahwa senjata kita dalam peperangan rohani adalah Firman dan Roh Kudus dengan doa. Perjuangan kita bukan melawan darah dan daging tetapi penguasa-penguasa angkasa dan roh-roh jahat (Ef 6:12). Jadi,kalau berperang secara rohani kita harus melaean dengan rohani, dan Firman dan Rohlah senjata kita. Prayerless will be powerless, but prayerful will be powerful. Doa dalam pelayanan bukan formalitas atau mekanis. Semakin kita bergantung kepada Allah di dalam doa, maka kuasa Roh Kudus akan semakin nyata dalam hidup kita.
2. Hidup suci dengan ketaatan adalah dasar untuk kuasa Roh Kudus. Penghalang doa adalah dosa dan penghalang dosa adalah doa. Bukan soal kepintaran kita atau gelar teologia kita, tetapi kuasa hanya ddapat dengan hidup yang suci. Kita pasti akan merasa terdakwa jika kita jatuh ke dalam dosa. Mari belajar untuk hidup suci dalam semua aspek hidup kita.
3. Lepaskan sel - confidence. Semua keyakinan pribadi kita yang bersumber dari pengalaman dan pengetahuan kita harus di hancurkan dan kita harus bergantung penuh kepada kuasa Allah.
4. Dalam Efesus 5:18 dikatakan, ”Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh”. Jadi kita harus penuh Roh dan memaksimalkan karunia Roh kita (1 Kor 12). Penuh Roh artinya seluruh aspek dari hidup kita (pikiran, perasaan, ucapan, tingkah laku) tunduk kepada Roh. Oleh sebab itu jangan biarkan diri kita berdosa, karena tidak mungkin orang berdosa penuh Roh.
5. Taat dan tunduk kepada pimpinan Roh Kudus (Kis 20:22-23). Paulus memperlihatkan bagaimana dia tunduk kepada Roh walaupun ada ancaman atau bahaya yang akan menimpanya. Kuasa di dalam misi adalah kemutlakan untuk tunduk kepada Roh bukan kenyamanan kita.
Thursday, December 2, 2010
Christology of Mission 1: THE CROSS OF CHRIST
Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div
Berbicara mengenai the cross of Christ berarti kita berbicara mengenai harga dari sebuah misi dan dalam hal ini adalah Salib Kristus.
Mari membuka Yoh 12:20-26. Dalam bagian ini kita melihat bahwa Yerusalem didatangi banyak orang dan beberapa diantara mereka adalah Yunani. Tujuan mereka adalah untuk beribadah pada hari raya (20). Pada saat mereka datang, mereka mengatakan kepada Filipus bahwa mereka ingin bertemu dengan Tuhan Yesus. Jadi Filipus besama dengan Andreas datang menemui Tuhan Yesus untuk menyampaikan hal ini kepada Tuhan Yesus. Sedikit menarik karena Yesus meresponinya dengan berkata, “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan”. Jika kita melihat peristiwa dalam Yoh 2:4 saat dimana Maria meminta agar Yesus memperhatikan kekurangan anggur disebuah pesta pernikahan di Kana, Yesus berkata bahwa ‘belum tiba waktuku’ (band Yoh 7:30). Berkali-kali Yesus mengajar para murid dan kemudian mengakhirinya dengan pesan agar para pendengarNya tidak mengatakan kepada siapapun tentang diriNya karena waktuNya belum tiba. Tetapi dalam bagian ini Yesus langsung berkata “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan”. Artinya, ini adalah masa bagi Kristus untuk dimuliakan. Melalui apa Kristus dimuliakan. Di dalam perjalannya kita akan menemukan bahwa Yesus dimuliakan melalui penangkapan, penyesahan, penyaliban bahkan kematiannya di kayu salib. Tetapi Ia kemudian bangkit dari kematian pada hari yang ketiga.
Mungkin kita bisa berpikir ketika mendengar respon Yesus bagi mereka yang ingin bertemu dengan Dia bahwa Yesus adalah seorang yang egois. Ketika ada tamu dan orang banyak ingin bertemu dengan Dia sepertinya tidak diladeni. Sangat wajarlah seharusnya bagi Yesus untuk terlebih dahulu melayani orang yang datang kepada diriNya baru melakukan hal yang lain. Tetapi Yesus melakukan dengan cara yang lain. Ia pergi dan tidak memberi jawaban dan langsung memberikan pernyataan tentang benih dan tanaman, hidup dan kematian, dan tentang hamba dan tuan (24-26).
Jika kita perhatikan ayat 23, Yesus berkata demikian, “Tetapi Yesus menjawab mereka, katanya: “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan”. Teologia Yohanes mengatakan bahwa penyaliban bukanlah tanda kemalangan, kegagalan, kelemahan, atau kehancuran. Tetapi salib adalah tanda atau simbol dari kemuliaan, kemenangan dan kebanggaan. Tetapi tidak berhenti di salib, tetapi harus ada kebangkitan Yesus dari kematian. Jadi dalam teologia Yohanes, sentralitas salib itu sangat menonjol sebagai sebuah simbol kemuliaan, kemenangan, dan kesuksesan Kristus di dalam menapaki jalan yang ditetapkan Bapa kepadaNya untuk misi Allah bagi dunia ini.
Sering kali orang berkata bahwa salib itu adalah sebuah tanda malapetaka atau kemalangan dan memiliki konotasi negatif. Tetapi di dalam minggu-minggu passion ini, mari kita berpikir, menghayati dan mengarah kepada kebenaran bahwa salib adalah tanda kemenangan dan kemuliaan. Ini menjadi sebuah refleksi bagi kita bahwa alumni yang menderita karena kebenaran bukanlah sebuah kegagalan. Alumni yang harus mungkin miskin atau dipecat karena ingin setia kepada Kristus bukalah kegagalan. Penderitaan karena kesetiaan kita kepada Yesus bukanlah kegagalan melainkan sebuah kemuliaan, kebanggaan, dan kemenangan. Ketika kita ditolak dan dihina orangpun karena misi dari Allah, mari berbangga diri. Adalah sebuah kehormatan bagi kita karena demi Kristus kita menderita dan aniaya. Mari mengubah paradigma berpikir kita agar kita tidak pernah berpikir dan merasa gagal karena mengalami berbagai hal di hidup kita oleh karena cinta kita kepada Allah.
Mengapa respon Kristus demikian? Bukankah sebaiknya Yesus menyambut orang yang ingin datang kepadaNya? Apakah Yesus egois? Jawabannya adalah TIDAK! Di dalam ayat 32 ada respon Yesus. Dikatakan di sana, “dan Aku, apabila aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku”. Yesus mengambil sebuah kesimpulan di mana ketika waktunya tiba, orang akan ditarik untuk datang kepada Dia. Tetapi hal ini tidak dinyatakan secara eksplisit di dalam ayat 23-24. Tetapi waktunya akan datang dimana Yesus disalibkan dan ketika Yesus mati dan dimuliakan dan dibangkitkan dari kematian, maka ia akan menarik semua orang untuk datang kepadanya. Jadi, Yesus bukannya menolak atau tidak peduli kepada orang banyak. Melainkan Yesus sangat peduli dan dalam rangka menarik orang kepadaNyalah maka Yesus harus menapaki jalan salib.
Dalam ayat 24 Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jtuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah”. Ketika Yesus berbicara mengenai hal ini Ia sedang berbicara tentang diriNya. Apa yang ingin dikatakan Yesus adalah tentang penderitaan dan kematian diriNya yang akan memberikan dampak yang besar. Yesus harus mati di salib, tetapi apa yang dilakukan Yesus ini dalam rangka membawa orang kepada Allah agar mereka diselamatkan. The cost of mission berbicara mengenai harga dengan penyerahan nyawa. Jika Kristus tidak mati di kayu salib maka keselamatan tidak akan pernah tercipta dan tidak akan tergenapi misi Allah untuk menyelamatkan kita yang percaya kepadaNya. ‘Benih yang jatuh ke tanah dan mati’ merupakan permulaan jawabannya bagaimana Allah menyelamatkan dunia melalui kematian Yesus.
Dalam bagian ini kita melihat bahwa prinsip kehidupan melalui kematian tergambar di dalam dunia tumbuhan yang dijadikan Yesus sebagai ilustrasi. Biji harus mati jika mau menjadi tumbuhan yang menghasilkan biji yang lebih banyak lagi. Inilah harga dalam sebuah pelayanan. Artinya, jika tidak ada kerelaan untuk berkorban maka tidak ada perjuangan atau pelayanan yang bisa dikerjakan dengan baik. Misi Allah harus mengorbankan anak satu-satunya. Dan inilah benih di dalam metafora tersebut. Kristus harus mati dan kematiannya menarik orang yang percaya datang kepada Bapa. Bukankah seharusnya kita anak-anak Tuhan adalah orang yang menikmati anugerah melalui karya Kristus yang telah berinkarnasi seharusnya menjadi orang yang rela berkorban demi orang lain? Melayani artinya belajar mengabaikan diri sendiri demi orang lain. Oleh sebab itu, dalam melayani, kita harus dicabut dari zona nyaman, ikatan keluarga, kenikmatan hidup, dan dari semua hal yang menghambat diri kita berkarya bagi Allah (band Luk 14:25-27). Ini jugalah yang dilakukan para murid Tuhan Yesus, di mana mereka mau jadi martir demi pelayanan mereka kepada Yesus.
Dalam perjalanan Yesus akan disalibkan, Ia mengalami penghinaan. Ia diejek sedemikian rupa, diludahi bahkan mengalami pukulan. Tetapi penderitaan yang Ia alami dalam perjalan menuju salib hanyalah ‘sekedar’ pengantar. Yang menjadi puncak dan klimaks dari penderitaannya adalah ketika Yesus. Jadi, ketika kita dihina atau mengalami penderitaan saat ini oleh karena iman kita, kepada Kristus, ingatlah hinaan ini masih pengantar. Puncaknya adalah salib. Inilah misi yang kita pelajari hari ini. Jadi, jika hanya mengalami penderitaan ini jangan pernah mundur dari pelayanan. Jika kita jatuh cinta kepada Tuhan, tidak ada pengorbanan yang terlalu berat. Inilah self giving love. Ketika kita memiliki cinta seperti ini, maka kita tidak pernah menghitung apa yang telah kita berikan, tetapi mencari peluang apa lagi yang bisa kita persembahkan jika kita jatuh cinta. Inilah cinta seperti yang Allah miliki dan lakukan. Denagn cinta seperti ini, Ia tidak menyayangkan anakNya demi cintanya kepada kita supaya kita tidak binasa,. Oleh sebab itulah kita, sebagai ornag yang percaya, harus memiliki cinta yang sama, yaitu self giving love. Jika kita memiliki cinta seperti ini maka kita tidak akan pernah bersungut-sungut. Misi tidak akan pernah tercipta tanpa ada orang yang mau mati seperti benih tadi atau mau membayar harga demi cinta. Bukankah Newman harus meninggalkan Belanda untuk datang ke tanah Karo? Bukankan Nomensen harus tingalkan Jerman untuk datang ke tanah Batak? Bukankah Agustheis meninggalkan Jerman untuk datang ke tanah Simalungun? Mereka putuskan akar keluarga, memutuskan kesenangan dan meninggalkan semuanya demi self giving love. Mari merenungkan apa harga yang pantas kita bayar demi bermisi.
Mari melihat bayat 25, “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal”. Dalam ayat ini Yesus secara langsung mengatakan kepada muridnya bagaimana harusnya murid – termasuk kita - miliki di dalam pelayanan. Jika ada orang yang mencintai hidupnya sekarang dan di sini (maksudnya di dunia ini) maka dia kehilangan investasi di dalam kekekalan. Tetapi bagi mereka yang kehilangan sesuatu karena pelayanan mereka kepada orang lain, maka mereka berinvistasi di dalam kekekalan. Silahkan mencari uang banyak dan meraih jabatan yang tinggi, tetapi ingat semua demi misi kepada Allah. Jangan hanya fokus kepada kesuksesan dan kebanggaan kita sendiri dan mengabaikan misi Allah. Sesuatu yang disayangkan jika ada alumni yang tidak terlibat di dalam pelayanan atau misi Allah dimanapun profesi kita. Mari bertanya kepada diri kita, apakah kita sekedar menyalahkan pemerintah dengan segaala kebobrokannya? Apakah kita sekedar menyalahkan gereja dengan segala kegagalannya? Apakah kita diam melihat segala ketidakadilan yang terjadi? Mari bermisi untuk hal ini. Misi kita adalah misi yang integral yang mencakup seluruhnya. Kristus tidak hanya datang untuk menyelamatkan jiwa manusia secara vertikalistik, tetapi juga soal misi agung dalam arti holistik.
Dalam ayat 26 Yesus mengatakan bahwa salib bukan saja lambang kesetiaan dan pengorbanan, tetapi juga lambang kasih. Oleh sebab itu Yesus, “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayanKu akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.”. Hal ini bukan berbicara soal Sorga. Tetapi jika anak manusia yang kita ikuti mengalami penderitaan dan mengalami kematian yang menghinakan maka kita juga akan dan harus menjalani cara yang sama. Harga sebuah misi adalah jalan Salib. Memang sangat sulit untuk percaya karena sangat sulit untuk melayani dia. Tetapi sebagai pengikut, kita harus taat dan menapaki jalan yang seperti Kristus tapaki. Tempat Yesus akan menjadi tempat orang yang melayani Dia. Masihkah kita masih berada di jalan salib atau orang yang lari dalam jalan salib.? Ingat, Bapa menghormati orang yang berjalan sama seperti Kristus berjalan.
Mari belajar beberapa hal dari Paulus. Apa yang diambisikan Paulus? Dalam Rom 6:4-6 Paulus mengatakan agar kita menjadi satu di dalam Kristus dalam kematian atau kebangkitanNya. Apa yang menjadi ambisi kita sekarang? Apakah hidup tanpa penderitaan? Ingat Paulus menghadapi setiap konsekuensi untuk menjadi sama dengan Kristus. Demikian juga kita. Kita harus siap menghadapi setiap konsekuensi jika kita ingin menjadi seperti Kristus. Kemudian apa yang kita pelajari dari Paulus adalah kerelaan (2 Kor 4:7-12). Dalam bagian ini Paulus mengatakan bahka dari diri kita tidak ada kekuatan dari diri kita dalam pemberitaan injil tetapi kekuatan yang berasal dari Allah. Paulus dan kawan-kawan siap menderita dan mati demi mengabarkan Injil Kristus (band 2 Kor 11).
Penderitaan dalam misi adalah sebuah sukacita. Kol 1:24 dikatakan, “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang dalam pada penderitaan Kristus, untuk tubuhNya, yaitu jemaat.” Apa yang dimaksudkan Paulus di sini adalah jika Kristus sudah menggenapi segala sesuatunya di Salib, maka sekarang penggenapan itu sampai melalui diri Paulus. Ingat, penderitaan yang kita alami sekarang adalah pengantar. Kristus sudah memberikan contoh bagaimana ia memebrikan harga untuk sebuah misi yang berasal dari Allah dan melalui Paulus kita juga melihat bagaimana cinta yang sama juga melingkupi hidupnya sehingga apa yang enurutnya dahulu berharga sekarang tidak lebih dari sampah demi cintanya kepada Kristus.
Mari hidup belajar untuk bermisi dan mari bersukacita jika kita bisa berkorban atau membayar harga demi sebuah pelayanan. Oleh sebab itu, jikalau ada yang hari ini belum terlibat dalam pelayanan, marilah segera terlibat di dalam pelayanan. Mari bersyukur jika kita bisa menderita demi orang lain, kebenaran, atau misi amanat agung, itu adalah simbol kemuliaan.
SoliDeo Gloria!
Berbicara mengenai the cross of Christ berarti kita berbicara mengenai harga dari sebuah misi dan dalam hal ini adalah Salib Kristus.
Mari membuka Yoh 12:20-26. Dalam bagian ini kita melihat bahwa Yerusalem didatangi banyak orang dan beberapa diantara mereka adalah Yunani. Tujuan mereka adalah untuk beribadah pada hari raya (20). Pada saat mereka datang, mereka mengatakan kepada Filipus bahwa mereka ingin bertemu dengan Tuhan Yesus. Jadi Filipus besama dengan Andreas datang menemui Tuhan Yesus untuk menyampaikan hal ini kepada Tuhan Yesus. Sedikit menarik karena Yesus meresponinya dengan berkata, “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan”. Jika kita melihat peristiwa dalam Yoh 2:4 saat dimana Maria meminta agar Yesus memperhatikan kekurangan anggur disebuah pesta pernikahan di Kana, Yesus berkata bahwa ‘belum tiba waktuku’ (band Yoh 7:30). Berkali-kali Yesus mengajar para murid dan kemudian mengakhirinya dengan pesan agar para pendengarNya tidak mengatakan kepada siapapun tentang diriNya karena waktuNya belum tiba. Tetapi dalam bagian ini Yesus langsung berkata “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan”. Artinya, ini adalah masa bagi Kristus untuk dimuliakan. Melalui apa Kristus dimuliakan. Di dalam perjalannya kita akan menemukan bahwa Yesus dimuliakan melalui penangkapan, penyesahan, penyaliban bahkan kematiannya di kayu salib. Tetapi Ia kemudian bangkit dari kematian pada hari yang ketiga.
Mungkin kita bisa berpikir ketika mendengar respon Yesus bagi mereka yang ingin bertemu dengan Dia bahwa Yesus adalah seorang yang egois. Ketika ada tamu dan orang banyak ingin bertemu dengan Dia sepertinya tidak diladeni. Sangat wajarlah seharusnya bagi Yesus untuk terlebih dahulu melayani orang yang datang kepada diriNya baru melakukan hal yang lain. Tetapi Yesus melakukan dengan cara yang lain. Ia pergi dan tidak memberi jawaban dan langsung memberikan pernyataan tentang benih dan tanaman, hidup dan kematian, dan tentang hamba dan tuan (24-26).
Jika kita perhatikan ayat 23, Yesus berkata demikian, “Tetapi Yesus menjawab mereka, katanya: “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan”. Teologia Yohanes mengatakan bahwa penyaliban bukanlah tanda kemalangan, kegagalan, kelemahan, atau kehancuran. Tetapi salib adalah tanda atau simbol dari kemuliaan, kemenangan dan kebanggaan. Tetapi tidak berhenti di salib, tetapi harus ada kebangkitan Yesus dari kematian. Jadi dalam teologia Yohanes, sentralitas salib itu sangat menonjol sebagai sebuah simbol kemuliaan, kemenangan, dan kesuksesan Kristus di dalam menapaki jalan yang ditetapkan Bapa kepadaNya untuk misi Allah bagi dunia ini.
Sering kali orang berkata bahwa salib itu adalah sebuah tanda malapetaka atau kemalangan dan memiliki konotasi negatif. Tetapi di dalam minggu-minggu passion ini, mari kita berpikir, menghayati dan mengarah kepada kebenaran bahwa salib adalah tanda kemenangan dan kemuliaan. Ini menjadi sebuah refleksi bagi kita bahwa alumni yang menderita karena kebenaran bukanlah sebuah kegagalan. Alumni yang harus mungkin miskin atau dipecat karena ingin setia kepada Kristus bukalah kegagalan. Penderitaan karena kesetiaan kita kepada Yesus bukanlah kegagalan melainkan sebuah kemuliaan, kebanggaan, dan kemenangan. Ketika kita ditolak dan dihina orangpun karena misi dari Allah, mari berbangga diri. Adalah sebuah kehormatan bagi kita karena demi Kristus kita menderita dan aniaya. Mari mengubah paradigma berpikir kita agar kita tidak pernah berpikir dan merasa gagal karena mengalami berbagai hal di hidup kita oleh karena cinta kita kepada Allah.
Mengapa respon Kristus demikian? Bukankah sebaiknya Yesus menyambut orang yang ingin datang kepadaNya? Apakah Yesus egois? Jawabannya adalah TIDAK! Di dalam ayat 32 ada respon Yesus. Dikatakan di sana, “dan Aku, apabila aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku”. Yesus mengambil sebuah kesimpulan di mana ketika waktunya tiba, orang akan ditarik untuk datang kepada Dia. Tetapi hal ini tidak dinyatakan secara eksplisit di dalam ayat 23-24. Tetapi waktunya akan datang dimana Yesus disalibkan dan ketika Yesus mati dan dimuliakan dan dibangkitkan dari kematian, maka ia akan menarik semua orang untuk datang kepadanya. Jadi, Yesus bukannya menolak atau tidak peduli kepada orang banyak. Melainkan Yesus sangat peduli dan dalam rangka menarik orang kepadaNyalah maka Yesus harus menapaki jalan salib.
Dalam ayat 24 Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jtuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah”. Ketika Yesus berbicara mengenai hal ini Ia sedang berbicara tentang diriNya. Apa yang ingin dikatakan Yesus adalah tentang penderitaan dan kematian diriNya yang akan memberikan dampak yang besar. Yesus harus mati di salib, tetapi apa yang dilakukan Yesus ini dalam rangka membawa orang kepada Allah agar mereka diselamatkan. The cost of mission berbicara mengenai harga dengan penyerahan nyawa. Jika Kristus tidak mati di kayu salib maka keselamatan tidak akan pernah tercipta dan tidak akan tergenapi misi Allah untuk menyelamatkan kita yang percaya kepadaNya. ‘Benih yang jatuh ke tanah dan mati’ merupakan permulaan jawabannya bagaimana Allah menyelamatkan dunia melalui kematian Yesus.
Dalam bagian ini kita melihat bahwa prinsip kehidupan melalui kematian tergambar di dalam dunia tumbuhan yang dijadikan Yesus sebagai ilustrasi. Biji harus mati jika mau menjadi tumbuhan yang menghasilkan biji yang lebih banyak lagi. Inilah harga dalam sebuah pelayanan. Artinya, jika tidak ada kerelaan untuk berkorban maka tidak ada perjuangan atau pelayanan yang bisa dikerjakan dengan baik. Misi Allah harus mengorbankan anak satu-satunya. Dan inilah benih di dalam metafora tersebut. Kristus harus mati dan kematiannya menarik orang yang percaya datang kepada Bapa. Bukankah seharusnya kita anak-anak Tuhan adalah orang yang menikmati anugerah melalui karya Kristus yang telah berinkarnasi seharusnya menjadi orang yang rela berkorban demi orang lain? Melayani artinya belajar mengabaikan diri sendiri demi orang lain. Oleh sebab itu, dalam melayani, kita harus dicabut dari zona nyaman, ikatan keluarga, kenikmatan hidup, dan dari semua hal yang menghambat diri kita berkarya bagi Allah (band Luk 14:25-27). Ini jugalah yang dilakukan para murid Tuhan Yesus, di mana mereka mau jadi martir demi pelayanan mereka kepada Yesus.
Dalam perjalanan Yesus akan disalibkan, Ia mengalami penghinaan. Ia diejek sedemikian rupa, diludahi bahkan mengalami pukulan. Tetapi penderitaan yang Ia alami dalam perjalan menuju salib hanyalah ‘sekedar’ pengantar. Yang menjadi puncak dan klimaks dari penderitaannya adalah ketika Yesus. Jadi, ketika kita dihina atau mengalami penderitaan saat ini oleh karena iman kita, kepada Kristus, ingatlah hinaan ini masih pengantar. Puncaknya adalah salib. Inilah misi yang kita pelajari hari ini. Jadi, jika hanya mengalami penderitaan ini jangan pernah mundur dari pelayanan. Jika kita jatuh cinta kepada Tuhan, tidak ada pengorbanan yang terlalu berat. Inilah self giving love. Ketika kita memiliki cinta seperti ini, maka kita tidak pernah menghitung apa yang telah kita berikan, tetapi mencari peluang apa lagi yang bisa kita persembahkan jika kita jatuh cinta. Inilah cinta seperti yang Allah miliki dan lakukan. Denagn cinta seperti ini, Ia tidak menyayangkan anakNya demi cintanya kepada kita supaya kita tidak binasa,. Oleh sebab itulah kita, sebagai ornag yang percaya, harus memiliki cinta yang sama, yaitu self giving love. Jika kita memiliki cinta seperti ini maka kita tidak akan pernah bersungut-sungut. Misi tidak akan pernah tercipta tanpa ada orang yang mau mati seperti benih tadi atau mau membayar harga demi cinta. Bukankah Newman harus meninggalkan Belanda untuk datang ke tanah Karo? Bukankan Nomensen harus tingalkan Jerman untuk datang ke tanah Batak? Bukankah Agustheis meninggalkan Jerman untuk datang ke tanah Simalungun? Mereka putuskan akar keluarga, memutuskan kesenangan dan meninggalkan semuanya demi self giving love. Mari merenungkan apa harga yang pantas kita bayar demi bermisi.
Mari melihat bayat 25, “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal”. Dalam ayat ini Yesus secara langsung mengatakan kepada muridnya bagaimana harusnya murid – termasuk kita - miliki di dalam pelayanan. Jika ada orang yang mencintai hidupnya sekarang dan di sini (maksudnya di dunia ini) maka dia kehilangan investasi di dalam kekekalan. Tetapi bagi mereka yang kehilangan sesuatu karena pelayanan mereka kepada orang lain, maka mereka berinvistasi di dalam kekekalan. Silahkan mencari uang banyak dan meraih jabatan yang tinggi, tetapi ingat semua demi misi kepada Allah. Jangan hanya fokus kepada kesuksesan dan kebanggaan kita sendiri dan mengabaikan misi Allah. Sesuatu yang disayangkan jika ada alumni yang tidak terlibat di dalam pelayanan atau misi Allah dimanapun profesi kita. Mari bertanya kepada diri kita, apakah kita sekedar menyalahkan pemerintah dengan segaala kebobrokannya? Apakah kita sekedar menyalahkan gereja dengan segala kegagalannya? Apakah kita diam melihat segala ketidakadilan yang terjadi? Mari bermisi untuk hal ini. Misi kita adalah misi yang integral yang mencakup seluruhnya. Kristus tidak hanya datang untuk menyelamatkan jiwa manusia secara vertikalistik, tetapi juga soal misi agung dalam arti holistik.
Dalam ayat 26 Yesus mengatakan bahwa salib bukan saja lambang kesetiaan dan pengorbanan, tetapi juga lambang kasih. Oleh sebab itu Yesus, “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayanKu akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.”. Hal ini bukan berbicara soal Sorga. Tetapi jika anak manusia yang kita ikuti mengalami penderitaan dan mengalami kematian yang menghinakan maka kita juga akan dan harus menjalani cara yang sama. Harga sebuah misi adalah jalan Salib. Memang sangat sulit untuk percaya karena sangat sulit untuk melayani dia. Tetapi sebagai pengikut, kita harus taat dan menapaki jalan yang seperti Kristus tapaki. Tempat Yesus akan menjadi tempat orang yang melayani Dia. Masihkah kita masih berada di jalan salib atau orang yang lari dalam jalan salib.? Ingat, Bapa menghormati orang yang berjalan sama seperti Kristus berjalan.
Mari belajar beberapa hal dari Paulus. Apa yang diambisikan Paulus? Dalam Rom 6:4-6 Paulus mengatakan agar kita menjadi satu di dalam Kristus dalam kematian atau kebangkitanNya. Apa yang menjadi ambisi kita sekarang? Apakah hidup tanpa penderitaan? Ingat Paulus menghadapi setiap konsekuensi untuk menjadi sama dengan Kristus. Demikian juga kita. Kita harus siap menghadapi setiap konsekuensi jika kita ingin menjadi seperti Kristus. Kemudian apa yang kita pelajari dari Paulus adalah kerelaan (2 Kor 4:7-12). Dalam bagian ini Paulus mengatakan bahka dari diri kita tidak ada kekuatan dari diri kita dalam pemberitaan injil tetapi kekuatan yang berasal dari Allah. Paulus dan kawan-kawan siap menderita dan mati demi mengabarkan Injil Kristus (band 2 Kor 11).
Penderitaan dalam misi adalah sebuah sukacita. Kol 1:24 dikatakan, “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang dalam pada penderitaan Kristus, untuk tubuhNya, yaitu jemaat.” Apa yang dimaksudkan Paulus di sini adalah jika Kristus sudah menggenapi segala sesuatunya di Salib, maka sekarang penggenapan itu sampai melalui diri Paulus. Ingat, penderitaan yang kita alami sekarang adalah pengantar. Kristus sudah memberikan contoh bagaimana ia memebrikan harga untuk sebuah misi yang berasal dari Allah dan melalui Paulus kita juga melihat bagaimana cinta yang sama juga melingkupi hidupnya sehingga apa yang enurutnya dahulu berharga sekarang tidak lebih dari sampah demi cintanya kepada Kristus.
Mari hidup belajar untuk bermisi dan mari bersukacita jika kita bisa berkorban atau membayar harga demi sebuah pelayanan. Oleh sebab itu, jikalau ada yang hari ini belum terlibat dalam pelayanan, marilah segera terlibat di dalam pelayanan. Mari bersyukur jika kita bisa menderita demi orang lain, kebenaran, atau misi amanat agung, itu adalah simbol kemuliaan.
SoliDeo Gloria!
Friday, November 19, 2010
Knowing God - The Silence of GOD
Denni B. Saragih, M. Div
Hari ini kita akan membahas mengenai karakter Allah yaitu The Silence God. Ada sebuah peristiwa dimana seseorang kena jambret ketika pulang bekerja. Pada saat peristiwa ini, ada beberapa orang yang sedang di kedai kopi dan melihat peristiwa ini berlangsung. Peristiwa penjambretan ini tidak sesaat, tetapi ada moment dimana korban dan si jambret tarik menarik yang akhirnya dimenangkan oleh jambret. Tetapi orang di kedai kopi tersebut tidak bernuat apa-apa. ini adalah sebuah peristiwa dimana diamnya orang-orang di kedai kopi adalah sesuatu yang menyakitkan dari kacamata korban dan meninggalkan pertanyaan ”Mengapa mereka tidak membantu?’.
Peristiwa lain, dimana banyak orang Indonesia berobat ke luar negeri ketika mereka sakit. Tetapi di sana mereka tidak diberi obat. Bandingkan dengan pengobatan di Indonesia, dimana seorang pasien diberi dengan berbagai macam obat. Bahkan menurut kedokteran di sana, yang paling baik dalam menangani pasien adalah diam (tidak memberi obat). Diam itu memberi efek terapi dan menyembuhkan. Walaupun tidak cepat tetapi menyembuhkan.
Dari dua peritiwa ini kita melihat dua wajah dari diam yaitu menyakitkan dan menyembuhkan. Demikian juga ketika Allah diam, ini adalah sebuah peristiwa yang menyakitkan, yang membuat kita berseru-seru kepada Tuhan. Tetapi kediaman Allah ini juga bisa menjadi sesuatu yang menyembuhkan.
Apa yang dimaksud denagn kediaman Allah? Kediaman Allah bukan berarti Allah tidak bertindak. Tetapi Allah bertindak dengan memilih untuk diam. Allah kadang kala memilih untuk bertindak dengan cara berdiam, baik untuk sementara, jangka waktu tertentu ataupun sampai dengan hari penghakiman berdasarkan kasih, hikmat dan rencanaNya yang mulia.
Mari melihat enam sisi dari kediaman Allah.
1. Kediaman Allah dan pertumbuhan kita.
Allah terkadang diam karena mempertimbangkan kebutuhan kita. Di dalam Rom 8:28-29 dikatakan: ”28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. 29 Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Allah selalu bekerja. Dikatakan bahwa Allah turut bekerja dan Allah sering berkerja dengan tidak cara tidak melakukan apa-apa. Tujuan Allah bukan untuk menyelesaikan masalah kita. Tetapi tujuan Allah adalah mengubahkan anak-anakNya menjadi serupa dengan Kristus. Karena itu dalam penderitaan, pergumulan dan masalah kadang kala Allah memilih untuk membiarkan persoalan itu membentuk kita. Seperti kata pepatah mengatakan ’No Criciss, No Growth’. Jadi, ketika kita di dalam pergumulan, jangan pernah meminta agar Allah menjauhkan cawan pergumulan tersebut dari hadapan kita. Tetapi berdoa agar cawan pergumulan tersebut membuat kita semakin meyerupai Tuhan Yesus dan bahkan kita mengijinkan penderitaan itu terjadi maksimal asal penderitaan atau pergumulan tersebut membuat kita semakin serupa dengan Yesus.
Ada sebuah ilustrasi yang menggambarkan hal ini yaitu ilustrasi mengenai burung rajawali dengan anak-anaknya. Sarang burung rajawali terletak di atas tebing yang terjal dan memiliki beberapa lapisan. Lapisan yang paling luar terdiri dari ranting-ranting kayu yang kasar. Kemudian diikuti dengan lapisan duri-duri. Lapisan ketiga adalah rerumputan dan yang terakhir adalah dedaunan. Ketika baru menetas dari telur anak rajawali berada di atas dedaunan yang lebut. Ketika semakin besar, sang induk membuang lapisan dan tinggallah lapisan rerumputan. Setelah semakin besar, lapisan rumput ini dibuang sehingga si anak tinggal dalam sarang dengan lapisan duri. Seiring dengan perkembangan si anak, sang induk membuang lapisan duri dan tinggallah ranting yang kasar. Kemudian satelah semakin besar, sang indiuk akan melemparkan anaknya ke luar sarang untuk belajar terbang. Jika si anak belum bisa terbang dan terjun bebas menuju tanah, sang induk akan terbang dan menangkap anaknya dan demikan terus sampai si anak sudah bisa terbang.
Demikian juga Tuhan dalam mendidik kita. Tahap demi tahap sampai kita bisa mengembangkan dan mengepakkan sayap dan membangun otot-otot kita dan terbang mengangkasa.
2. Kediaman Allah dan waktu Allah.
Dalam Mat 7:11 dikatakan, ”Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.". Dan Pengk 3:1 berkata, ”Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.”
Ada seorang alumni yang sangat atraktif dan mengenal banyak wanita yang cantik. Kemudian ia berkenalan dengan seorang wanita yang biasa-biasa saja yang kelak menjadi isterinya. Suatu waktu dia mengalami krisis dan dalam krisis ini dia banyak didukung wanita ini. Setelah krisis selesai, ia kemudian marah kepada Tuhan dan berkata: ”Mengapa baru aku baru Engkau pertemukan dengan pacar seperti ini?” Alumni ini akhirnya merasakan bagaimana wanita ini menjadi penolong yang sepadan dengan dirinya.
Allah sering melakukan hal yang demikian, dimana ketika waktunya tiba, kita baru merasakan setiap hal yang telah Allah lakukan dalam kehidupan kita.
Ibarat minyak goreng, ada satu masa, saat minyak tersebut betul-betul panas, baru kita memasukkan makanan yang ingin kita goreng. Jika belum panas besar, maka hasil gorengan tidak maksimal. Ibarat ketika kita membuat sebuah kue maka ada tahapan-tahapan yang berurutan dalam membuat kue. Demikian juga ada tahapan-tahapan di dalam kehidupan kita. Pertanyaannya adalah berada di tahap mana sekarang?
3. Kediaman Allah dan Kesabaran Allah.
Dalam 2 Pet 3:9 dikatakan: ”Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.”
Sering kita memiliki pemikiran agar semua orang jahat langsung dimusnahkan saja. Ketika dia melakukan kejahatan, Allah langsung mengambil nyawanya. Demikian juga bagi mereka yang membakar gereja. Mereka musnah oleh karena terbakar api mereka sendiri. Jika hal ini terjadi, maka dunia pasti aman.
Tetapi Allah tidak melakukan hal yang demikian. Ia sering menunjukkan kesabaranNya. Jika Allah tidak sabar dalam kediamanNya maka tidak ada Yusuf Roni. Ia adalah seorang yang pernah membakar gereja. Setelah gereja tersebut terbakar, ia datang untuk melihat hasil pekerjaannya. Kemudian ia melihat ada meja yang tidak terbakar dimana ada Alkitab. Dari bacaan inilah akhirnya ia bertobat. Sejak dahulu Allah selalu bersabar dalam kediamanNya. Mari melihat Paulus. Seorang penganiaya jemaat Yesus untuk menyenangkan hati Tuhan akhirnya menjadi pembela Kristus sampai akhir hidupnya.
4. Kediaman Allah dan murka Allah.
Allah juga bisa diam karena terlalu marah. Dalam Rom 1:18 dikatakan: ”Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman.” Dengan jelas dikatakan bahwa Allah marah dengan kefasikan manusia khususnya di kota Roma. Pada saat itu kebenaran ditindas, orang yang rendah hati ditertawakan dan diejek, dan orang benar dianggap salah. Intinya adalah orang Roma semakin jahat. Oleh karena inilah Allah menghukum mereka dan murka Allah itu nyata. Tetapi murka Allah ini bukan seperti ketika Allah menunjukkan murkanya atas Sodom dan Gomora. Kemurkaan Allah digambarkan dalam ayat 24, 26, dan 28. dikatakan disana: ay 24, ”Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka.; 26, ”Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar”.; 28, ”Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas:”. Dari ketiga ayat ini kita melihat ada tiga kata yang diulang yaitu ’Karena itu Allah menyerahkan mereka’. Inilah bentuk murka Allah dimana Allah membiarkan manusia semakin jahat di dalam kejahatannya.
Murka Allah ada dua, yaitu, pertama, menghukum demi kebaikan kita dan kedua, membiarkan kejahatan sampai titik moral terendah dan perilaku manusia menjadi perilaku binatang.
Orang Roma pada masa itu sangat jahat. Banyak dari mereka memelihara remaja-remaja untuk disodomi. Bahkan tidak jarang juga mereka memberi anak remaja sebagai hadiah untuk pejabat yang berulang tahun. Bahkan kehidupan seks mereka dipertontonkan untuk dilihat orang. Sungguh kehidupan yang tidak memiliki moral sama sekali. Mengapa manusia memiliki ide sebejat ini? Karena Allah membiarkan mereka dalam murkanya untuk jatuh lebih lagi ke dalam kejahatan.
Diamnya Allah oleh karena murkaNya adalah sesuatu yang bahaya. Banyak orang yang bergelimang dosa berada dalam neraka saat ini. Mereka jatuh ke dalam dosa, menderita, kemudian mencari solusi melalui narkoba maupun kejahatan lainnya. Mereka hidup penuh penderitaan. Mengapa demikian? Karena mereka sudah berada di dalam neraka.
5. Kediaman Allah dan hari Penghakiman.
Prinsipnya adalah 2 Pet 3:3-7, ”3 Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya. 4 Kata mereka: "Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan." 5 Mereka sengaja tidak mau tahu, bahwa oleh firman Allah langit telah ada sejak dahulu, dan juga bumi yang berasal dari air dan oleh air, 6 dan bahwa oleh air itu, bumi yang dahulu telah binasa, dimusnahkan oleh air bah. 7 Tetapi oleh firman itu juga langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api dan disimpan untuk hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik.”
Keadilan Allah tidaklah sepenuhnya bisa dijelaskan dengan hanya melihat dunia masa kini. Dunia sekarang ini penuh dengan ketidakadilan. Banyak orang jahat tidak dihukum dengan sepantasnya tetapi orang benar tidak dibela dan selalu tersudut. Inilah dunia sekarang ini. Oleh sebab itulah ada hari penghakiman. Hari ini ada untuk menegakkan keadilan di dunia ini dimana yang jahat akan dihukum dan yang benar akan dibela dan dideklarasikan. Akhir zaman mengantisipasi keadilan Tuhan dalam bentuknya yang paling sempurna. Dunia ini tidak sama dengan dunia dalam film India dimana yang benar selalu kalah di awal tetapi pada akhirnya selalu menang. Ada orang yang baru pertama sekali mencopet karena situasi yang memaksanya (anaknya sakit keras) dikeroyok pencopet lain karena dianggap mengambil daerah kekuasaan. Banyak ketidakadilan lagi yang muncul dan kita akhirnya bertanya ’Mengapa Allah tidak berbuat sesuatu?’. Allah bukannya tidak berbuat sesuatu. Allah lebih memilih untuk tidak melakukan apa-apa dan menyimpan semua untuk hari penghakiman.
6. Kediaman Allah dan Iman kita.
Beriman bukan berarti segala sesuatu menjadi lebih baik. Tetapi kita beriman kepada karakter-karakter Allah dimana Ia adalah baik dan penuh kasih karunia. Allah memilih diam bukan berarti karena Ia tidak peduli tetapi karena hikmat dan kebijaksanaanNya. Jangan takut jika ada banyak kejahatan tetapi tidak kena hukum. Alalh bertindak dalam keadilan dan kebenaranNya.
Allah tidak selalu impulsif dalam bertindak. Allah sering memilih diam dalam setiap pergumulan kita. Tetapi kita akan semakin dewasa dan bertumbuh dalam kediaman Allah.
Soli Deo Gloria!
Hari ini kita akan membahas mengenai karakter Allah yaitu The Silence God. Ada sebuah peristiwa dimana seseorang kena jambret ketika pulang bekerja. Pada saat peristiwa ini, ada beberapa orang yang sedang di kedai kopi dan melihat peristiwa ini berlangsung. Peristiwa penjambretan ini tidak sesaat, tetapi ada moment dimana korban dan si jambret tarik menarik yang akhirnya dimenangkan oleh jambret. Tetapi orang di kedai kopi tersebut tidak bernuat apa-apa. ini adalah sebuah peristiwa dimana diamnya orang-orang di kedai kopi adalah sesuatu yang menyakitkan dari kacamata korban dan meninggalkan pertanyaan ”Mengapa mereka tidak membantu?’.
Peristiwa lain, dimana banyak orang Indonesia berobat ke luar negeri ketika mereka sakit. Tetapi di sana mereka tidak diberi obat. Bandingkan dengan pengobatan di Indonesia, dimana seorang pasien diberi dengan berbagai macam obat. Bahkan menurut kedokteran di sana, yang paling baik dalam menangani pasien adalah diam (tidak memberi obat). Diam itu memberi efek terapi dan menyembuhkan. Walaupun tidak cepat tetapi menyembuhkan.
Dari dua peritiwa ini kita melihat dua wajah dari diam yaitu menyakitkan dan menyembuhkan. Demikian juga ketika Allah diam, ini adalah sebuah peristiwa yang menyakitkan, yang membuat kita berseru-seru kepada Tuhan. Tetapi kediaman Allah ini juga bisa menjadi sesuatu yang menyembuhkan.
Apa yang dimaksud denagn kediaman Allah? Kediaman Allah bukan berarti Allah tidak bertindak. Tetapi Allah bertindak dengan memilih untuk diam. Allah kadang kala memilih untuk bertindak dengan cara berdiam, baik untuk sementara, jangka waktu tertentu ataupun sampai dengan hari penghakiman berdasarkan kasih, hikmat dan rencanaNya yang mulia.
Mari melihat enam sisi dari kediaman Allah.
1. Kediaman Allah dan pertumbuhan kita.
Allah terkadang diam karena mempertimbangkan kebutuhan kita. Di dalam Rom 8:28-29 dikatakan: ”28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. 29 Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Allah selalu bekerja. Dikatakan bahwa Allah turut bekerja dan Allah sering berkerja dengan tidak cara tidak melakukan apa-apa. Tujuan Allah bukan untuk menyelesaikan masalah kita. Tetapi tujuan Allah adalah mengubahkan anak-anakNya menjadi serupa dengan Kristus. Karena itu dalam penderitaan, pergumulan dan masalah kadang kala Allah memilih untuk membiarkan persoalan itu membentuk kita. Seperti kata pepatah mengatakan ’No Criciss, No Growth’. Jadi, ketika kita di dalam pergumulan, jangan pernah meminta agar Allah menjauhkan cawan pergumulan tersebut dari hadapan kita. Tetapi berdoa agar cawan pergumulan tersebut membuat kita semakin meyerupai Tuhan Yesus dan bahkan kita mengijinkan penderitaan itu terjadi maksimal asal penderitaan atau pergumulan tersebut membuat kita semakin serupa dengan Yesus.
Ada sebuah ilustrasi yang menggambarkan hal ini yaitu ilustrasi mengenai burung rajawali dengan anak-anaknya. Sarang burung rajawali terletak di atas tebing yang terjal dan memiliki beberapa lapisan. Lapisan yang paling luar terdiri dari ranting-ranting kayu yang kasar. Kemudian diikuti dengan lapisan duri-duri. Lapisan ketiga adalah rerumputan dan yang terakhir adalah dedaunan. Ketika baru menetas dari telur anak rajawali berada di atas dedaunan yang lebut. Ketika semakin besar, sang induk membuang lapisan dan tinggallah lapisan rerumputan. Setelah semakin besar, lapisan rumput ini dibuang sehingga si anak tinggal dalam sarang dengan lapisan duri. Seiring dengan perkembangan si anak, sang induk membuang lapisan duri dan tinggallah ranting yang kasar. Kemudian satelah semakin besar, sang indiuk akan melemparkan anaknya ke luar sarang untuk belajar terbang. Jika si anak belum bisa terbang dan terjun bebas menuju tanah, sang induk akan terbang dan menangkap anaknya dan demikan terus sampai si anak sudah bisa terbang.
Demikian juga Tuhan dalam mendidik kita. Tahap demi tahap sampai kita bisa mengembangkan dan mengepakkan sayap dan membangun otot-otot kita dan terbang mengangkasa.
2. Kediaman Allah dan waktu Allah.
Dalam Mat 7:11 dikatakan, ”Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.". Dan Pengk 3:1 berkata, ”Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.”
Ada seorang alumni yang sangat atraktif dan mengenal banyak wanita yang cantik. Kemudian ia berkenalan dengan seorang wanita yang biasa-biasa saja yang kelak menjadi isterinya. Suatu waktu dia mengalami krisis dan dalam krisis ini dia banyak didukung wanita ini. Setelah krisis selesai, ia kemudian marah kepada Tuhan dan berkata: ”Mengapa baru aku baru Engkau pertemukan dengan pacar seperti ini?” Alumni ini akhirnya merasakan bagaimana wanita ini menjadi penolong yang sepadan dengan dirinya.
Allah sering melakukan hal yang demikian, dimana ketika waktunya tiba, kita baru merasakan setiap hal yang telah Allah lakukan dalam kehidupan kita.
Ibarat minyak goreng, ada satu masa, saat minyak tersebut betul-betul panas, baru kita memasukkan makanan yang ingin kita goreng. Jika belum panas besar, maka hasil gorengan tidak maksimal. Ibarat ketika kita membuat sebuah kue maka ada tahapan-tahapan yang berurutan dalam membuat kue. Demikian juga ada tahapan-tahapan di dalam kehidupan kita. Pertanyaannya adalah berada di tahap mana sekarang?
3. Kediaman Allah dan Kesabaran Allah.
Dalam 2 Pet 3:9 dikatakan: ”Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.”
Sering kita memiliki pemikiran agar semua orang jahat langsung dimusnahkan saja. Ketika dia melakukan kejahatan, Allah langsung mengambil nyawanya. Demikian juga bagi mereka yang membakar gereja. Mereka musnah oleh karena terbakar api mereka sendiri. Jika hal ini terjadi, maka dunia pasti aman.
Tetapi Allah tidak melakukan hal yang demikian. Ia sering menunjukkan kesabaranNya. Jika Allah tidak sabar dalam kediamanNya maka tidak ada Yusuf Roni. Ia adalah seorang yang pernah membakar gereja. Setelah gereja tersebut terbakar, ia datang untuk melihat hasil pekerjaannya. Kemudian ia melihat ada meja yang tidak terbakar dimana ada Alkitab. Dari bacaan inilah akhirnya ia bertobat. Sejak dahulu Allah selalu bersabar dalam kediamanNya. Mari melihat Paulus. Seorang penganiaya jemaat Yesus untuk menyenangkan hati Tuhan akhirnya menjadi pembela Kristus sampai akhir hidupnya.
4. Kediaman Allah dan murka Allah.
Allah juga bisa diam karena terlalu marah. Dalam Rom 1:18 dikatakan: ”Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman.” Dengan jelas dikatakan bahwa Allah marah dengan kefasikan manusia khususnya di kota Roma. Pada saat itu kebenaran ditindas, orang yang rendah hati ditertawakan dan diejek, dan orang benar dianggap salah. Intinya adalah orang Roma semakin jahat. Oleh karena inilah Allah menghukum mereka dan murka Allah itu nyata. Tetapi murka Allah ini bukan seperti ketika Allah menunjukkan murkanya atas Sodom dan Gomora. Kemurkaan Allah digambarkan dalam ayat 24, 26, dan 28. dikatakan disana: ay 24, ”Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka.; 26, ”Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar”.; 28, ”Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas:”. Dari ketiga ayat ini kita melihat ada tiga kata yang diulang yaitu ’Karena itu Allah menyerahkan mereka’. Inilah bentuk murka Allah dimana Allah membiarkan manusia semakin jahat di dalam kejahatannya.
Murka Allah ada dua, yaitu, pertama, menghukum demi kebaikan kita dan kedua, membiarkan kejahatan sampai titik moral terendah dan perilaku manusia menjadi perilaku binatang.
Orang Roma pada masa itu sangat jahat. Banyak dari mereka memelihara remaja-remaja untuk disodomi. Bahkan tidak jarang juga mereka memberi anak remaja sebagai hadiah untuk pejabat yang berulang tahun. Bahkan kehidupan seks mereka dipertontonkan untuk dilihat orang. Sungguh kehidupan yang tidak memiliki moral sama sekali. Mengapa manusia memiliki ide sebejat ini? Karena Allah membiarkan mereka dalam murkanya untuk jatuh lebih lagi ke dalam kejahatan.
Diamnya Allah oleh karena murkaNya adalah sesuatu yang bahaya. Banyak orang yang bergelimang dosa berada dalam neraka saat ini. Mereka jatuh ke dalam dosa, menderita, kemudian mencari solusi melalui narkoba maupun kejahatan lainnya. Mereka hidup penuh penderitaan. Mengapa demikian? Karena mereka sudah berada di dalam neraka.
5. Kediaman Allah dan hari Penghakiman.
Prinsipnya adalah 2 Pet 3:3-7, ”3 Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya. 4 Kata mereka: "Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan." 5 Mereka sengaja tidak mau tahu, bahwa oleh firman Allah langit telah ada sejak dahulu, dan juga bumi yang berasal dari air dan oleh air, 6 dan bahwa oleh air itu, bumi yang dahulu telah binasa, dimusnahkan oleh air bah. 7 Tetapi oleh firman itu juga langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api dan disimpan untuk hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik.”
Keadilan Allah tidaklah sepenuhnya bisa dijelaskan dengan hanya melihat dunia masa kini. Dunia sekarang ini penuh dengan ketidakadilan. Banyak orang jahat tidak dihukum dengan sepantasnya tetapi orang benar tidak dibela dan selalu tersudut. Inilah dunia sekarang ini. Oleh sebab itulah ada hari penghakiman. Hari ini ada untuk menegakkan keadilan di dunia ini dimana yang jahat akan dihukum dan yang benar akan dibela dan dideklarasikan. Akhir zaman mengantisipasi keadilan Tuhan dalam bentuknya yang paling sempurna. Dunia ini tidak sama dengan dunia dalam film India dimana yang benar selalu kalah di awal tetapi pada akhirnya selalu menang. Ada orang yang baru pertama sekali mencopet karena situasi yang memaksanya (anaknya sakit keras) dikeroyok pencopet lain karena dianggap mengambil daerah kekuasaan. Banyak ketidakadilan lagi yang muncul dan kita akhirnya bertanya ’Mengapa Allah tidak berbuat sesuatu?’. Allah bukannya tidak berbuat sesuatu. Allah lebih memilih untuk tidak melakukan apa-apa dan menyimpan semua untuk hari penghakiman.
6. Kediaman Allah dan Iman kita.
Beriman bukan berarti segala sesuatu menjadi lebih baik. Tetapi kita beriman kepada karakter-karakter Allah dimana Ia adalah baik dan penuh kasih karunia. Allah memilih diam bukan berarti karena Ia tidak peduli tetapi karena hikmat dan kebijaksanaanNya. Jangan takut jika ada banyak kejahatan tetapi tidak kena hukum. Alalh bertindak dalam keadilan dan kebenaranNya.
Allah tidak selalu impulsif dalam bertindak. Allah sering memilih diam dalam setiap pergumulan kita. Tetapi kita akan semakin dewasa dan bertumbuh dalam kediaman Allah.
Soli Deo Gloria!
Subscribe to:
Posts (Atom)
