Tuesday, December 6, 2011

[Knowing God 2009-04]: The Adequacy of GOD

[Kotbah ini dibawakan oleh Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div pada ibadah Mimbar Bina Alumni, Jumat 6 Februari 2009]



Mari melihat dan membaca Roma 8:1-39! Berbicara mengenai The Adequacy of God berarti kita berbicara mengenai kecukupan Allah. Dan kita akan mempelajari hal ini dengan melihat Rom 8. Perlu kita ketahui bahwa Rom pasal 1-3 memaparkan mengenai manusia yang adalah orang berdosa yang terhilang dan tidak berdaya untuk menyelamatkan dirinya. Dalam Rom 1:18 kita melihat bagaimana Allah menyatakan dirinya tetapi manusia tidak mengenal tetapi menyembah berhala. Dan di dalam ayat 22 sampai seterusnya kita melihat bagaimana manusia diserahkan oleh Allah kepada hawa nafsunya yang jahat, maka muncullah homoseks dan dosa-dosa yang lain di sana. Dalam pasal 2 berbicara hal yang sama dan pasal 3 menyatakan bahwa manusia semua berdosa. Pasal 4-5 berbicara mengenai bagaimana manusia hanya bisa dibenarkan melalui iman atau anugerah Allah di dalam Kristus. Oleh sebab itu di dalam Rom 3:1-10 dinyatakan bahwa manusia telah berdosa secara totsl di dalam hidupnya dan dalam ayat 11-21 dinyatakan bahwa Taurat tidak bisa membenarkan. Di dalam Rom 3:20 dinyatakan, “Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa”, kemudian barulah dalam ayat 21 dinyatakan, “Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi”. Hal ini disebabkan oleh karena tidak ada perbedaan (ayat 22) yaitu semua manusia telah berdosa (23). Dan di dalam ayat 24-25 digambarkan bahwa semua manusia telah dibenarkan oleh kasih karunia secara cuma-cuma melalui penebusan di dalam Yesus Kristus karena Kristus Yesus ditetapkan Allah sebagai jalan pendamaian orang percaya yang merupakan ketetapan Ilahi yang sesungguhnya. Oleh sebab itu, jika kita perhatikan pembenaran oleh anugerah atau iman di dalam kasih karunia Allah dimunculkan lagi pada pasal 4 dengan mengambil contoh Abraham. Abraham dibenarkan oleh Allah bukan karena mengerjakan Taurat, tetapi oleh karena iman. Dalam Roma 5:1-11 dinyatakan bahwa manusia dibenarkan, ditebus, dan diperdamaikan. Di dalam Rom 5:8-10 dinyatakan, ”Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya”.

Kemudian di dalam Rom 6 dinyatakan bahwa orang yang sudah dibenarkan memiliki hidup yang secara total harus dipersembahkan kepada Allah dan hidup di dalam kekudusan. Artinya, dibenarkan atau sudah benar secara status menghasilkan pembenaran yang bertumbuh terus yang menghasilkan hidup yang semakin suci. Dalam Rom 6:12-23 dinyatakan, ”Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran”.

Di dalam pasal 7 ada kontradiksi. Daging bertentangan dengan Roh sehingga manusia hidup yang kontradiksi. Maksudnya adalah manusia tidak bisa sepenuhnya mencapai apa yang baik yang Allah kehendaki.(ayat 19-20, ”Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku”). Di dalam ayat 24 Paulus mengatakan, ”Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini” tetapi kemudian di dalam ayat 25, ia berkata, ”Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita”.

Itulah sebabnya, di dalam pasal 1-3 kita melihat ada konsep teologia dimana manusia yang berdosa not able not to sin---tidak mampu untuk tidak berdosa. Tetapi oleh karena anugerah, dari pasal 3:20 sampai pasal 7 ada pemahaman teologia dimana orang yang sudah beriman able not to sin---dimampukan untuk tidak berdosa. Barulah kita mencapai puncak, di dalam pasal 8, yang memaparkan bagaimana kekayaan Allah yang penuh yang diberikan kepada kita. Dan dalam bingkai inilah kita akan membahas the adequacy of God---kecukupan Allah bagi umatNya.

Di dalam pasal 8 Paulus seolah-olah kembali membicarakan apa yang terdapat di dalam pasal 5:1-11. Ayat 1 dari pasal 5 berbicara bahwa orang yang dibenarkan diperdamaikan, dan orang yang diperdamaikan diselamatkan. Hal inilah yang diulang Paulus kembali lalu muncullah soal keselamatan dengan pembenaran (pasal 5:8-11). Jika kita perhatikan Rom 8:1-30, kita melihat pada bagian ini Paulus membentangkan kecukupan kasih karunia Allah untuk menyelesaikan seluruh rangkaian keadaan yang sulit dalam diri manusia. Di sini dipaparkan dengan jelas oleh Paulus permasalan manusia. Pertama, oleh anugerah Allah, rasa bersalah dan kuasa dosa yang ada di dalam diri manusia diselesaikan(1-5); kedua, fakta maut (6-13); ketiga, ketakutan untuk menghadap kekudusan Allah (15-16); keempat, kelemahan dan keputusasaan saat menghadapi penderitaan (17-25); kelima, kelumpuhan dalam doa (26-27); keenam perasaan bahwa kehidupan itu tidak berarti dan tidak memiliki pengharapan (28-30). Dalam setiap permasalahan yang kita miliki, seperti yang Paulus paparkan, Allah cukup bagi kita untuk menyelesaikan semua hal tersebut.

Ada empat karunia yang diberikan oleh Allah sehingga kita berani berkata bahwa Allah cukup bagi kita. Pertama. Pembenaran. Karena pembenaran yang dilakukan oleh Allah bagi umatNya tidak ada lagi penghukuman (ayat 1). Karya Allah yang mebenarkan cukup untuk membebaskan kita dari maut. Itulah sebabnya tidak ada Injil plus. Pembenaran bukan karena Injil plus seperti bapis selam atau yang lain. Kedua, karunia Roh Kudus. Di dalam ayat 4-27 kita melihat bahwa Roh Allah diberikan bagi kita sehingga kita menjadi anak-anak Allah dan kita menjadi milik Kristus dan oleh Roh itulah kita bisa bersaksi bahwa kita adalah anak-anak Allah. Status baru sebagai anggota Kerajaan Allah merupakan karunia Allah yang ketiga. Ini adalah karunia yang luar biasa. Bagi kita Allah cukup untuk menyelamatkan dengan RohNya yang menguatkan, menyertai, memateraikan, menghiburkan, dan berdoa bagi kita ketika kita tidak mampu. Dan karunia keempat adalah adalah ada keterjaminan/keamanan kini dan selamanya (28-30).

Karena itu, status kita sebagai orang yang sudah dibenarkan dan ditambah dengan dinamika rohani oleh pekerjaan Roh bagi orang percaya ditambah dengan identitas sebagai anak-anak Allah dan ditambah dengan hidup yang terjamin bersama dengan Allah, membuat kita memahami bahwa kecukupan Allah cukup bahkan lebih dari cukup bagi kita. Hal ini juga lebih daripada cukup untuk mendukung orang kita sebagai orang Kristen apapun persoalan hidup kita. Dengan demikian ketika banyakpun persoalan atau tantangan di dalam hidup kita ingatlah status, dinamika, identitas, dan keterjaminan hari ini sampai selama-lamanya oleh karena Kristus membuat kita berkata bahwa kecukupan Allah cukup bagi kita.

Ada berbagai kemungkinan persoalan yang dihadapi orang. Apakah kehilangan pekerjaan atau sahabat demi integritas; orangtua, anak-anak atau pasangan yang mengecewakan, kesehatan dan keterbatasan jasmani yang serius, merasa orang asing di rumah atau tempat kerja karena iman, kehilangan orang yang dikasihi, merasa Allah tidak memperhatikan, kesulitan ekonomi, usaha bangkrut, PHK, dimarginalkan, difitnah, dikecewakan orang lain dll, kita berani berkata bahwa Allah cukup bagi kita---The adequacy of God is enough for us!

Dalam Rom 8:31-39, ada empat pemikiran utama. Pertama, kalau Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita (31)? Kedua, bagaimana mungkin Dia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama dengan Kristus (32)? Ketiga, siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah (33-34)? Keempat, siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus (35-36)? Dan keempat pemikiran ini akan kita lihat lebih dalam.

Allah Dipihak Kita.
“Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita.” (ay 31)

Berbicara mengenai Allah dipihak kita akan menimbulkan pemahaman mengenai Allah yang cukup untuk diandalkan, di mana tidak ada lawan yang pada akhirnya dapat menghancurkan kita (Kel.34:6; Yes.46:9-10)? Selama Allah dipihak kita, maka tidak ada satu kuasapun yang mampu menggeser kita. Hal ini harus dimiliki oleh anak-anak Tuhan. Kata ‘di pihak kita’ menyatakan komitmen dalam perjanjian (covenant) Allah yang tidak pernah dibatalkan oleh Allah (Kej.17:1,7-; Mzm.56:10. bd. Kel.3:12; Yosua.1:9 ‘Allah menyertai’). Allah cukup sebagai pembela kita. Karena itu mari lebih mengarahkan pandangan kepada Allah dari pada kekuatan para musuh dalam kehidupan. Kegagalan kita sehingga tidak bisa berkata: ”Kecukupan Allah cukup bagiku!”, adalah karena kita lebih fokus pada persoalan dan musuh yang akhirnya melemahkan dan membuat kita kecut. Allah tidak pernah menjanjikan hidup tanpa masalah atau persoalan dan tantangan, tetapi Dia menjanjikan penyertaan dan kekuatan bagi anak-anakNya dalam menghadapi masalah tersebut (1 Kor.10:13; Flp.4:13). Kecukupan Allah dalam persoalan hidup dan menghadapi musuh, - jangan pandang betapa besarnya kekuatan musuh, tetapi lihat dan andalkanlah betapa besarnya kuasa Allah yang dipihakmu. Jika berfokus kepada persoalan dan kekuatan musuh, maka hal itu akan membuat kecut dan melemahkan iman dan semangat kita.

Kebaikan Allah Tidak Ditahan
"Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia" (ay 32)

Mari kita perhatikan ayat ini. Allah tidak menahan kebaikanNya. Allah sebagai dermawan yang maha kuasa. Perhatikan, di sini tampak dua pribadi Allah mampu melakukan kedermawananNya. Dia yang sangat dermawan, sekaligus Allah yang tidak menahan kebaikan dan kepastian karya penebusanNya. Salib adalah puncak pengorbanan terbesar (AnakNya yang tunggal). Rom 5:8 berkata, ”Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa”. Tidak ada karunia kasih yang melampaui hal ini – Yesus menyerahkan nyawa untuk memberi apa yang paling kita butuhkan yang paling berharga dan penting di dalam hidup kita melalui kematian dan kebangkitanNya. Dengan pemahaman seperti ini, maka ketakutan dan kekuatiran kita bisa hilang. Allah pemilik segala sesuatu, penuh kasih yang dermawan dan mahakuasa untuk menyatakan segala kebaikanNya. Allah yang menyerahkan diriNya bagi kita, merupakan jaminan bahwa ‘segala sesuatu’ akan diberikan. Kristus dan ‘segala sesuatu’ berjalan bersama-sama seperti ramuan dalam satu karunia tunggal. Ketika Allah memberikan keselamatan itu, maka semua berkat dan semua yang Allah janjikan ada di dalam Kristus. Panggilan, pembenaran dan pemuliaan umat Allah (ay 30) mencakup segala sesuatu dari kelahiran baru sampai kebangkitan tubuh, semuanya telah disebutkan dan disediakan oleh Allah (bd. Mt.6:33; Mrk.10:29-30).

‘Segala sesuatu’ berarti segala sesuatu yang baik menurut Allah, sebab hikmat dan kuasaNya yang tak terbatas memandu kemurahan hatiNya. Hal ini harus kita sadari karena sering sekali kita menjadikan konsep kita menjadi konsep Allah. Allah lebih tahu apa yang lebih tepat dan berguna bagi diri kita. Sama seperti anak kecil yang minta silet kepada bapanya. Siapa bapa yang tega memberikannya. Oleh sebab itu, kita harus mengevaluasi jangan-jangan permintaan kita itu berbahaya bagi kita. Hal inilah yang dikatakan Yakobus, jangan-jangan apa yang kita minta itu memuaskan hati kita dan ketika itu terjadi jangan-jangan kita semakin jauh dari Tuhan. Hikmat Allah dan kemahakuasaan Allah yang tidak terbatas itu cukup untuk memandu kita. ‘Segala sesuatu’ juga dalam waktu dan caranya Allah bagaimana Dia menggenapinya dalam kehidupan kita. Inilah bukti yang menunjukkan kecukupan Allah bagi orang percaya.

Tidak Ada yang Menggugat Kita
"Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? 34Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita." (ay 33)

Tidak ada gugatan yang dapat membatalkan warisan kita sebagai Anak Allah oleh siapapun dan apapun. Kecukupan Allah sebagai Pemenang yang mahakuasa dan kepastian keputusanNya dalam membenarkan kita tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun (bd. Rom.5:1-2). Ini akan menghapus ketakutan atas penolakan Allah – Allah tidak akan menolak kita. Jika kita betul-betul lahir bari, sejauh manapun kita berdosa Allah tidak pernah menolak kita jika kita datang kepadaNya. Keselamatan kita tidak akan pernah diragukan. Tetapi ingat, Dia juga hakim yang adil. Ada 2 jenis hati nurani yang sakit dalam dosa. Pertama, dia tidak sadar bahwa dia berdosa. kedua tidak sadar bahwa dosanya sudah diampuni. Dua hal ini berbahaya.

Paulus melihat betapa mudahnya hati nurani orang dibawah tekanan dosa dan kegagalan akan meragukan pengampunan Allah (Rom.7:14-25). Orang Kristen dapat gagal dan jatuh, dan hal tersebut adalah sesuatu yang menyedihkan. Tetapi Paulus menyangkal bahwa setiap pelanggaran saat ini bisa membahayakan status kita yang sudah dibenarkan. Artinya tidak seorangpun yang sudah dibenarkan berada dalam posisi peninjauan kembali. Mengapa hal ini bisa terjadi? Alasannya adalah yang dibenarkan Allah saat ini sudah dipilih sejak kekekalan berdasarkan kasih karunia Allah untuk mendapatkan keselamatan kekal. Adanya kedaulatan Allah dalam penghakiman. Dia, Sang Hakim telah membenarkan orang percaya dan tidak seorangpun dapat mengubah keputusan tersebut. Karya penebusan dan pembenaran Kristus yang sempurna ada bagi kita sebagai orang yang percaya (34. bd. Kis.5:31).

Tidak Ada yang Sanggup Memisahkan Kita
"Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? 36Seperti ada tertulis: "Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan." (ay 35)

Kasih dalam Kristus adalah kasih yang memilih, membenarkan dan memuliakan orang percaya. Inilah kecukupan Allah dalam segala sesuatu. Artinya adalah Allah cukup sebagai Penjaga kita (1 Ptr.1:5), Allah cukup sebagai tujuan hidup kita (Flp.3:8-14), dan Allah cukup untuk menjaga atau memegang kita, sehingga tidak ada satu kuasa apapun yang dapat merebut kita dari tanganNya (Yoh.10:28-29). Sebagai orang tebusan yang sudah dibenarkan tidak ada satu hal apapun baik maut, penderitaan, kelemahan, kekurangan, kegagalan atau kesengsaraan (35-36) yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah, bahkan kita lebih dari pemenang oleh Dia yang telah mengasihi kita (37). Tidak ada satu kuasa apapun yang cukup kuat untuk memisahkan kita dari Allah (38-39, ”38Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, 39atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”).

Jika demikian bagaimana? Pertama, memiliki Kristus tidah hanya cukup, tetapi lebih dari cukup---to have Jesus is not only enough but more than enough. Kita akan merasa puas jika memahami bahwa Allah telah memberikan yang terbaik bagi kita. Kecukupan Allah membuat kitabisa memahami hal ini dengan baik. Jadi, jika ada hal yang belum atau tidak akan pernah kita miliki tidak akan mengurangi sukacita atau ketenangan batin kita. Kecukupan Allah sempurna bagi kita semua. Having Jesus is more than everything. Maka seandainya jika masih ada hal yang belum atau tidak akan pernah kita miliki atau raih dalam hidup ini, hal itu tidak akan mengurangi sukacita, damai dan ketenangan jiwa kita. Kecukupan Allah menghiburkan, menguatkan dan memberi kedamaian sejati bagi umat-Nya. Apapun yang terjadi di dalam hidup kita, Allah cukup bagi kita.

Solideo Gloria!

[Knowing God 2009-03]: God the Judge

[Kotbah ini dibawakan oleh Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div pada ibadah Mimbar Bina Alumni, Jumat, 30 Januari 2009]


Malam ini kita akan berbicara mengenai God The Judge-Allah adalah hakim. Jika kita berbicara kepada orang lain bahwa Allah itu baik, kasih, atau murah hati pasti orang akan senang dan menerimanya dan mengatakan: ”Amin!” Tetapi ketika bicara soal Allah yang adalah hakim yang adil dan Allah akan membalaskan setiap perbuatan manusia, apa respon mereka? Jika kita ditanya mengenai konsep kita akan Allah---Allah itu baik atau Allah itu adil---yang mana menjadi pemahaman kita? Banyak dari kita akan memilih pemahaman yang pertama. Kita tidak ragu memilih yang pertama karena kotbah yang sering kita dengarkan adalah mengenai Allah yang baik dan kasih.

Allah yang adalah kasih juga adalah Allah yang adil. Dan salib adalah perpaduan antara kasih dan keadilan Allah. Yoh 3:16 berkata: ”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” dan Ulangan 32:4 berkata, ”Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia.” Kasih dan keadilan Allah berjalan bersama dan harus dipahami dengan berimbang. Jika kita tidak memaminya dengan baik, maka akan ada ketimpangan yang akan mempengaruhi bagaimana hidup kita. Teologia menentukan cara dan nilai hidup manusia dan akan mewarnai hidup. Jika kita hanya fokus kepada kasih, kebaikan, dan kemurahan Allah, maka bisa saja hidup seseorang itu menjadi tidak tertib dan suka bermain-main. Jika kita hanya fokus kepada Allah yang adil, maka kita bisa hidup di dalam ketakutan. Itulah sebabnya jika kita perhatian Fil 2:12 dikatakan, ”Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir.” Ada sikap penuh hormat dan taat kepada Allah dan penting ada kesimbangan antara Allah yang kasih dan Allah yang Adil. Di dalam kasih Allah kita tenang dan di dalam keadilan Allah kita membutuhkan disiplin dan rasa hormat dan taat kepada Allah. Allah adalah Hakim sebagai penyataan karakterNya dan penanaman pentingnya nilai moral dalam kehidupan manusia. Allah bukan hanya hakim di akhir zaman, melainkan Dia adalah juga Hakim pada setiap masa (presentis dan eskatologis).

Allah adalah hakim (Maz 75:8, ”tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain”) dan Dialah Hakim segenap bumi (Kej 18:25, ”Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?”). Yesus juga adalah agen Bapa dalam penghakiman. Maksudnya adalah untuk melaksanakan pemnghakiman, Bapa melimpahkannya kepada Yesus ( Mt.7:13-27; 10:26-33; 12:36; Lk.13:23-30; 16:19-31; Yoh.5:22-30. lih. Mt.25:31 -; Dan.7:13-14).

Sebagai Pencipta, Allah adalah pemilik; sebagai Pemilik, Dia berkuasa atas ciptaan, karena itu Dia berhak untuk membuat hukum/peraturan bagi manusia ciptaanNya. Dengan hukum, Allah memberi pahala bagi yang menaati dan hukuman bagi yang melanggar. Allah Pemberi hukum sekaligus juga hakim untuk pelaksanaan hukum. Allah adalah Hakim yang adil dan membenci hal yang serong. Allah adalah hakim yang mahatahu dan penuh hikmat penyelidiki hati manusia, sehingga tidak seorangpun dapat membohongi Allah. Jika pengadilan di dunia bisa membalikkan fakta, yang salah jadi benar atau benar jadi salah, tetapi pengadilan Allah tidak demikian. Karena kemahatauanNya tidak ada satu orangpun yang bisa membohongi Allah karena Dia dapat menyelidiki hati manusia. Sebagai hakim, Allah membuat hukum, menjatuhkan hukuman dan pelaksana hukuman itu sendiri. Allah adalah Hakim yang sempurna moral, kebenaran, keadilanNya, hikmat, kemahatahuan, dan kemahakuasaanNya sehingga keputusan yang dilakukanNya selalu benar. Sebagai Hakim yang adil maka Allah menuntut pembalasan dimana setiap orang menerima apa yang pantas mereka terima, yaitu membalas yang baik dengan yang baik dan yang jahat dengan yang jahat (Rom.2:6-11; 2 Kor.5:10-11).

Banyak pemahaman yang mengatakan jika Allah yang adil membalaskan yang adil kepada yang adil dan yang jahat kepada yang jahat, berarti Allah tidak punya kelebihan apapun dan tidak ada bedanya dengan manusia. Jika hanya demikian halnya, bukankah ada satu kontradiksi di dalam pemahaman ini? Bukankah seorang bapak yang jahatpun tahu memberi yang baik kepada anaknya apalagi Bapa yang di Surga? Bukankah ini satu kontradiksi? Jawabannya adalah bukan! Allah tetap adil dengan membalaskan yang baik kepada yang baik dan membalaskan yang jahat kepada yang jahat dan ini tidak bisa dipungkiri oleh siapapun dan pasti terjadi kepada setiap orang baik yang percaya maupun yang tidak percaya. Jika Allah menuntut pembalasan kepada setiap orang bukan berarti mengurangi standart esensi Allah yang adalah adil. Oleh sebab itulah Allah tidak pernah salah dalam memberi keputusanNya. Di dalam Roma 2:6-11 dikatakan Paulus mengatakan, ”  Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman.. Penderitaan dan kesesakan akan menimpa setiap orang yang hidup yang berbuat jahat, pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani, tetapi kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik, pertama-tama orang Yahudi, dan juga orang Yunani. Sebab Allah tidak memandang bulu.” Hal ini relevan dengan Gal 6:7-8 dimana dikatakan, ”Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” Allah adalah Hakim yang adil dan Paulus dalam 2 Kor 5:10-11, menggambarkan hal ini, ”Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat. Kami tahu apa artinya takut akan Tuhan, karena itu kami berusaha meyakinkan orang. Bagi Allah hati kami nyata dengan terang dan aku harap hati kami nyata juga demikian bagi pertimbangan kamu”.

Bagaimana dengan jeritan Asaf dalam Mzm.73:2-14. ‘Allah tidak adil’? Benarkah demikian? Jika kita membaca Mazmur ini, sering sekali dalam kehidupan kita kita berkata seperti yang tertulis di Mazmur ini. Kita berkata Allah tidak adil karena melihat hidup orang fasik lebih berbahagia dibandingkan kita dengan orang fasik sedangkan kita adalah anak Tuhan. Ini pergulatan di dalam diri kita masing-masing. Dan Mazmur ini adalah self-talk yang dilakukan oleh Asaf. Inti dari Mazmur ini 73 ini adalah ayat 1, ”Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya.” dan ayat 25 dan 26, ”Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” Sebenarnya di dalam Mazmur ini Asaf sedang berdialog dengan Tuhan. Prinsip-prinsipnya ada di dalam ayat 1 dan 15 sampai selanjutnya. Dan dalam ayat 2-14 dia menanyakan dimana keadilan Tuhan dalam self-talknya dan hal yang sama sering kita tanyakan di depan Allah. Sangat menyakitkan jika kita dipimpin oleh orang yang tidak kompeten dibandingkan dengan kita, hanya karena KKN atau karena suku maka dia menjadi bos kita. Oleh sebab itu kita mempertanyakan keadilan Allah. Tetapi ingat Allah adalah adil---God the Judge, dan Dia akan tetap membuat keputusan yang benar dan dia tidak pernah tidak adil. Dengan segala kondisi kita mari berkata, ”Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” Apapun yang terjadi, tidak akan menggeser cintaku kepada Allah. Oleh sebab itu sering-seringlah berdoa dengan self-talk kepada Allah dan izinkan Tuhan berbicara kepadamu dan terbukalah dihadapan Allah.

Di dalam PL ada beberapa penghakiman yang dilakukan oleh Allah. Di dalam peristiwa Kejatuhan. Kej.3:17-19 dan pengusiran dari taman Eden, pada masa Nuh (Kej.6-8.), peristiwa Sodom dan Gomorah. (Kej.18-19), 10 tulah bagi orang Mesir (Kel.7-12), Anak lembu emas (Kel.32:26-35) ketika Harun dipaksa bangsa Israel membuat patung lembu emas. PL penuh dengan catatan kasih dan penghakiman Allah dan akibatnya adalah maut. Dan penghakiman Allah di dalam PL juga hadir di dalam PB. Contohnya adalah Ananias dan Safira yang langsung meninggal karena membohongi Allah (Kis 5:1-11). Jika penghakiman seperti ini terjadi bagi kita sekarang ini, ada tidak yang diantara kita masih hidup? Contoh lain adalah Herodes yang sombong (Kis 12:21-23) yang menyatakan tidak ada Tuhan langsung mati. Elimas, tukang sihir yang menentang Injil (Kis 13:8-12) yang langsung dihukum Tuhan melalui Paulus. Demikian juga halnya dengan orang Korintus yang tidak menghormati Perjamuan Tuhan langsung dihukum Tuhan (1 Kor 11:27-32).

Satu pertanyaan yang menjadi evaluasi bagi anda, apakah anda menerima bahwa Allah adalah hakim bagi dirimu pada zaman ini sehingga wajar anda menerima apa yang terjadi dalam hidup anda sekarang ini? Pernahkan anda merasa dihakimi dan dihukum oleh Allah sekarang ini? Ibrani 12:5-8 mengatakan bahwa anak yang dikasihi pasti Tuhan hajar. Adakah Allah yang adil sebagai hakim sedang bekerja dalam diri kita sedang menghakimi kita? Hal ini pasti. Jangan berpikir bahwa Allah menjadi hakim hanya pada akhir zaman. Hari inipun Allah adalah hakim yang adil yang membalaskan sesuai dengan perbuatan kita.

Allah juga adalah hakim dalam penghakiman terakhir. Penghakiman terakhir dihubungkan dengan 2nd coming of Christ (Mrk.8:38; 1 Kor.4:5; bd. 2 Tes.1:5-10) dan Hakim itu adalah Allah sendiri (Kej.15:25;Yak.4:12; Why.20:11) dan hakim itu adalah Kristus sendiri sebagai perwakilan Allah (Mt.16:27; Yoh.5:22-27). Semua orang akan dihakimi (2 tim 4:1, ”Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya;), baik hidup dan yg mati (Kis.10:42, ”Dan Ia telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa dan bersaksi, bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati); percaya atau bukan (Rom.14:10-12, ”Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah. Karena ada tertulis: "Demi Aku hidup, demikianlah firman Tuhan, semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku dan semua orang akan memuliakan Allah." Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah”). Oleh sebab itu jangan bermain-main di dalam hidup kita apalagi teogia Lutheran yang memahami sola gratia, sola scriptura, dan sola fide sehingga kurang berbicara mengenai keadilan Allah dan akhirnya bermain-main di dalma hidup ini. Dengan pemahaman bahwa Allah adalah adil, maka tidak ada seorangpun yang akan bermain-main karena semuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Standar penghakiman adalah kebenaran Allah diperhadapkan kepada perbuatan manusia (Mt.16:17; 2 Tim.4:14; 1 Ptr.1:17). Jika kita diperhadapkan dengan Paulus saja, mungkin kita akan menjadi kecut. Bayangkan jika kita diperhadapkan kepada Allah yang tanpa noda, pasti kita akan melihat kenajisan diri kita sendiri. Jika kita bercermin di air kubangan maka kita tidak akan melihat kekurangan diri kita. Diperhadapkan dengan Allah itu adalah penghakiman. Allah yang suci dan benar diperhadapkan dengan segala kebenaran kita, maka pastilah tidak seorangpun kita yang mampu berdiri ditahta keadilan Allah. Tetapi ketika kita bercermin di cermin yang bersih, maka kita akan melihat segala noda di wajah kita. Standart penghakiman adalah kebenaran Allah dibandingkan dengan kebenaran kita. Itulah sebabnya tidak seorangpun berani berdiri di tahta pengadilan Allah jika bukan karena anugerah. Ini berarti hukuman atau kebinasaan bagi yang tidak percaya dan keselamatan (pahala) bagi yang ada dalam Kristus (Mt.10:32-33). Berbicara soal keselamatan, Allah adalah hakim yang adil, dan oleh karena keadilanNya dosa kita yang sudah ditmpakan kepada Yesus, itulah yang menyelamatkan kita. Tetapi bagi mereka yang tidak menerima Yesus maka pengadilan dengan penghukuman kekal. Tetapi ingat, orang yang lahir barupun dihukum oleh Tuhan, tetapi tidak berbicara soal keselamatan yang hilang. Jangan berpikir jika kita sudah lahir baru kita tidak menghadap tahta pengadilan Allah. Tetapi kita akan tetap selamat. Penghakiman disediakan juga bagi para malaikat (2 Ptr.2:4; Yudas.6). Penghakiman dilaksanakan bagi orang yang tidak pernah mendengar Injil atau tidak mengenal Allah (Kis.14:17; Rom.1:19-23; 2:14-16)

Siapakah objek penghakiman Allah? Pkh 11:9; 12:14; Rom 2:16 menyatakan bahwa kita semuanya objek dari penghakiman. Baik malaikat, lahir baru atau tidak, kenal Allah atau tidak, semua akan menjadi objek penghakiman Allah. Hakim berdiri di depan pintu (Yak.5:9) dan siap untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati (1 Ptr.4:5), orang yang percaya atau tidak. Menjadi pertanyaan, di mana letak penghakiman bagi orang percaya atau tidak? Mari melihat 1 Kor 3:10-15. Dari bagian tadi kita melihat bahwa jika memiliki dasar yang adalah Kristus, maka keselamatan mereka tidak akan hilang. Keselamatan orang lahir baru tidak pernah hilang, tetapi pertanggungan jawab akan hidup selama di dunia tetap ada. Dan hal ini berbicara soal pahala (2 Tim 4:7-8). Allah berdiri sebagai hakim yang adil (2 Kor 5:10-11; Yoh 5:24) dan bagaimana Allah membalaskan sesuatu sesuai dengan perbuatannya dan bagaimana bagaimana pengampunan secara cuma-cuma dan pembenaran oleh iman diselaraskan dengan penghakiman berdasarkan perbuatan (Wahyu.20:11-15; 1 Kor.3:10-15). Jangan sampai berpikir yang penting sudah lahir baru dan selamat. Tetapi Allah yang kita pelajari adalah Allah yang membalaskan tindakan kita dan kita harus pertanggungjawabkan. Kita akan selamat, tetapi alangkah lebih baik jika Allah berkata, ”Hai hambaku yang setia, masuklah dan duduklah makan bersama-sama dengan aku". Penghakiman itu juga dasarnya adalah pengetahuan. Pengetahuan bagi orang yang tidak tahu sama sekali dia tidak bisa menuntut Allah, tetapi yang memiliki pengetahuan akan dituntut lebih besar. Mari melihat Luk 12:47-48, dikatakan, ”Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.” Jika kita banyak tahu, banyak karunia, ilmu atau apapun, maka kepada kita banyak dituntut. Inilah pengetahuan. Tahu kebenaran tetapi tidak dilakukan tuntutannya lebih besar. Inilah penghukuman Allah bagi kita. Oleh sebab itu jangan bermain-main.

Berbicara soal penghakiman, jadikan sang Hakim tersebut menjadi Juruselamat. Yesuslah Hakim sekaligus juga Pembela bagi orang percaya. Inilah jaminan keselamatan kita. Untuk keselamatan kita tidak pelu takut, tetapi mempertanggungjawabkan hidup adalah wajib bagi kita. Tujuan pertobatan atau lahir baru bukan hanya masuk Surga. Jika hanya sekedar masuk Surga maka kita bisa bermain-main dengan hidup kita. Masuk Surga adalah buah dari lahir baru. Tujuan percaya/lahir baru adalah hidup suci (Efesus 1:4, ”Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya”; band ayat 11). Tuntutan hidup suci dan penuh kebaikan supaya tidak kedapatan bercela.” (bd. Flp.2:12-13; Ef.1:4,11). Hal ini juga penting agar kita dapat berkarya nyata bagi Dia (Mt.25:31-46). Bukan hanya hidup suci, tetapi mari berkarya bagi Allah karena Dia adalah Allah yang adil bagi hidup kita. Sebagai anak-anak Tuhan yang sudah dikuduskan, mari kita senang untuk tidak berdosa. Jika kita hanya takut untuk berdosa, seolah-olah kita hanya memandang Allah sebagai hakim yang adil. Jauh dibalik itu kita ingin menyenangkan hati Tuhan oleh sebab itu kita senang untuk tidak berdosa.

Solideo Gloria!

Eksposisi Rut 4 (2009) - Rut Pasal 4

[Kotbah ini dibawakan oleh Denni Boy Saragih, M. Div pada ibadah Mimbar Bina Alumni, Jumat, 13 Maret 2009]

Pada hari ini kita akan membahas sesuatu yang unik dan kita akan memulai dengan opini-opini berikut. Ada opini yang menyatakan bahwa adat itu berasal dari setan. Bahwa adat (khususnya budaya Batak) berasal dari agama nenek moyang dan merupakan pikiran-pikiran yang berasal dari setan. Mereka yang memiliki opini seperti ini sampai mengatakan bahwa warna ulos Batak adalah warna merah darah dan darah memang merupakan sebagai pewarna pada zaman dulu. Opini yang lain adalah opini yang mengatakan adat itu adalah suatu peninggalan kuno yang sudah tidak relevan lagi. Acara-acara adat merupakan acara zaman dahulu yang tidak relevan dengan masa sekarang ini. Pandangan lain yang lebih rohani adalah pandangan yang menyatakan bahwa kita mengikuti adat supaya menyenangkan orang tua dan tidak menyandung orang lain? Tetapi jika bisa memilih, kita sebenarnya memilih untuk tidak menggunakan adat. Opini lain adalah opini yang berkaitan dengan relasi antar keluarga yang menyatakan bahwa mertua memang biasa itu insecure sama menantunya! Mungkin karena menantunya lebih pintar masak, menata rumah lebih rapi, atau mengelola uang lebih hemat. Hal-hal seperti ini akan menjadi pertanyaan dan refleksi bagi kita dalam mempelajari Rut pasal 4.

Rut pasal 4 ini akan kita bagi dalam dua bagian. Pertama, melalui ayat 1-12 kita akan merenungkan mengenai satu aspek pernikahan di mana pernikahan yang di dalam Tuhan harus menghormati adat. Poin ke dua dapat kita lihat dari ayat 13-21 di mana kita merefleksikan bahwa pernikahan dalam Tuhan adalah pernikahan yang penuh berkat. Mari merenungkan bagian demi bagian dari masing-masing poin ini.

Pernikahan yang Menghormati Adat (ayat 1-12)

Jika kita membaca dan memperhatikan Boas (ayat 1-8) pada saat dia melamar Rut, dia dengan setia dan sungguh-sungguh melakukan adat istiadat yang ada di Israel. Pertama, ada namanya adat penebusan untuk tanah dan janda. Jadi, ada penebusan oleh keluarga terdekat terhadap tanah dari keluarga yang jatuh miskin dan terhadap ipar janda terutama yang tidak memiliki keturunan. Adat lain yang muncul adalah ketika Boas akan melakukan transaksi ada saksi yang dihadirkan, dan saksi yang dihadirkan adalah sepuluh orang tua-tua kota (ayat 2, ”Kemudian dipilihnyalah sepuluh orang dari para tua-tua kota itu, dan berkata: "Duduklah kamu di sini." Maka duduklah mereka”). Ada juga adat mengenai masalah ’menanggalkan kasut’ yang ketika sepatu ini diberikan kepada yang berkaitan maka transaksi sudah dianggap resmi (ayat 7, ”Beginilah kebiasaan dahulu di Israel dalam hal menebus dan menukar: setiap kali orang hendak menguatkan sesuatu perkara, maka yang seorang menanggalkan kasutnya sebelah dan memberikannya kepada yang lain. Demikianlah caranya orang mensahkan perkara di Israel). Dalam menjalankan adat ini kita melihat Boas dengan cerdas dan bijaksana memulai dengan keluarga yang terdekat yang ternyata tidak dapat menebus Rut. Tidak ada penjelasan kenapa keluarga terdekat ini tidak dapat menebus Rut. Tetapi dalam ayat 6 dikatakan, ”Lalu berkatalah penebus itu: "Jika demikian, aku ini tidak dapat menebusnya, sebab aku akan merusakkan milik pusakaku sendiri. Aku mengharap engkau menebus apa yang seharusnya aku tebus, sebab aku tidak dapat menebusnya.” Dari ayat ini kemungkinan besar kenapa keluarga terdekat itu tidak menebus dan menikah dengan Rut adalah karena dia telah memiliki isteri dan anak. Hal ini disebabkan oleh karena jika si penebus ingin menebus tanah, maka Rut juga harus ditebus. Artinya jika Rut memiliki anak, maka tanah itu harus kembali kepada Naomi dan tanah itu harus menjadi milik Elimelekh dan Mahlon.
Mari melihat beberapa ayat PL yang menjadi latar belakang adat ini. Ulangan 25:5-6 mengatakan, "5 Apabila orang-orang yang bersaudara tinggal bersama-sama dan seorang dari pada mereka mati dengan tidak meninggalkan anak laki-laki, maka janganlah isteri orang yang mati itu kawin dengan orang di luar lingkungan keluarganya; saudara suaminya haruslah menghampiri dia dan mengambil dia menjadi isterinya dan dengan demikian melakukan kewajiban perkawinan ipar. 6 Maka anak sulung yang nanti dilahirkan perempuan itu haruslah dianggap sebagai anak saudara yang sudah mati itu, supaya nama itu jangan terhapus dari antara orang Israel. Jadi, menjaga nama orang yang meninggal agar tetap ada merupakan satu bentuk kesalehan. Kesalehan ini jarang sebenarnya diikuti, bahkan oleh orang Israel pada zaman itu tetapi Boas melakukannya dan hal ini juga menjadi bukti bagaimana Boas adalah seorang yang taat kepada Taurat. Kemudian Imamat 25:25 mengatakan, ”Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga harus menjual sebagian dari miliknya, maka seorang kaumnya yang berhak menebus, yakni kaumnya yang terdekat harus datang dan menebus yang telah dijual saudaranya itu.”

Mari melihat ayat 9-10 dalam Rut pasal 4 ini, ”9 Kemudian berkatalah Boas kepada para tua-tua dan kepada semua orang di situ: "Kamulah pada hari ini menjadi saksi, bahwa segala milik Elimelekh dan segala milik Kilyon dan Mahlon, aku beli dari tangan Naomi; 10 juga Rut, perempuan Moab itu, isteri Mahlon, aku peroleh menjadi isteriku untuk menegakkan nama orang yang telah mati itu di atas milik pusakanya. Demikianlah nama orang itu tidak akan lenyap dari antara saudara-saudaranya dan dari antara warga kota. Kamulah pada hari ini menjadi saksi.” Dari ayat ini kita melihat gambaran yang sangat indah di mana adat dan cinta bersatu. Jangan pernah beranggapan bahwa adat bertentangan dengan cinta dan cinta juga bertentangan dengan adat. Jadi, atas nama cinta, adat harus dirangkul dengan mesra bukan dilanggar. Ingat, cinta tidak harus emosional.

Tujuan dari si Boas sebenarnya bukan tanah melainkan Rut. Tetapi ada adat yang harus diikuti. Jika si Boas begitu saja menikah dengan Rut, maka akan ada buntut-buntut yang tidak baik yang akan menjadi masalah. Boas bersedia membeli tanah dan menikahi Rut. Dari hal ini kita belajar bahwa menikah dengan seseorang bukan menikah dengan dia saja, tetapi dengan seluruh persoalan, pergumulan, dan seluruh hal-hal yang melekat pada dirinya. Sering sekali hal ini menjadi masalah terutama bagi orang Batak. Misalnya seseorang tidak mau atau berpikir dua kali untuk menikah dengan seorang wanita hanya karena dia anak paling besar, bapaknya sudah meninggal, dan adiknya ada tujuh orang. Dia takut menikahinya karena takut membebani dirinya dan membebani keluarganya. Jika cinta sudah melekat maka semua hal yang melekat pada dirinya akan kita terima, termasuk keluarganya. Boas bersedia mengembalikan tanah atas nama keluarga Elimelekh seandainya Rut melahirkan anak sehingga tanah tersebut akan menjadi milik keluarga Elimelekh turun-temurun. Inilah pengorbanan dan kesiapan Boas untuk menikahi seorang wanita dan semua hal yang melekat pada dirinya. Cinta itu berarti cukup perkasa untuk merangkul kesakitan dan kesusahan yang melekat dalam diri seseorang.

Dari ayat 11 dan 12 kita melihat bahwa dalam adat ada juga satu pengalaman di mana tua-tua Israel adalah tua-tua yang rohani dan bisa mengkombinasikan adat dengan kebenaran Firman Tuhan. Mari melihat pujian dan apresiasi mereka dalam ayat 11 dan 12, ”11 Dan seluruh orang banyak yang hadir di pintu gerbang, dan para tua-tua berkata: "Kamilah menjadi saksi. TUHAN kiranya membuat perempuan yang akan masuk ke rumahmu itu sama seperti Rahel dan Lea, yang keduanya telah membangunkan umat Israel. Biarlah engkau menjadi makmur di Efrata dan biarlah namamu termasyhur di Betlehem, 12 keturunanmu kiranya menjadi seperti keturunan Peres yang dilahirkan Tamar bagi Yehuda oleh karena anak-anak yang akan diberikan TUHAN kepadamu dari perempuan muda ini!” Apa yang tua-tua ucapkan dalam ayat 11 dan 12 ini ibarat umpasa (pantun) dalam adat Batak. Jadi sebenarnya dalam bagian ini, tua-tua menjalankan adat dengan memberikan apresiasi dan pujian yang diibaratkan dengan umpasa Batak. Hal ini juga bisa terjadi dalam konteks yang rohani dengan memberikan pujian dan apresiasi yang didasarkan pada kebenaran rohani dan sejarah suci. Oleh sebab itu, mari berdoa agar ada di antara kita yang adalah anak Tuhan memiliki karunia sedemikian dan menjadi raja adat.

Karena itu kita perlu melihat dalam refleksi kita sikap-sikap terhadap adat. Ada lima pilihan kita terhadap adat. Sikap pertama adalah sikap di mana orang yang sikapnya antara Injil dan adat di mana adat lebih utama dari kebenaran/Injil. Hal ini sering terjadi di mana acara adat begabung dengan sincritisme, mis. kesurupan. Mereka yang seperti ini hanya menganggap kebenaran/Injil itu hanya sebagai pelengkap penderita dan dapat mengorbankan kebenaran demi kepuasannya terhadap adat. Sikap kedua adalah Kebenaran/Injil bertentangan dengan adat. Sikap ini memiliki persepsi yang salah terhadap adat sehingga mereka menolak adat misalnya dengan membakar ulos atau menolak umpasa-umpasa Batak. Ini adalah sikap yang tidak tepat. Kita bisa melihat kisah Rut di mana adat itu dirangkul. Bahkan kisah pulangnya bangsa Israel dari Mesir menuju Kanaan, ada satu adat yang menarik di mana mereka memindahkan tulang belulang Yusuf dan membawanya ke Kanaan. Dalam adat Batak, apa yang dilakukan orang Israel ini mirip dengan adat Batak ’Mangongkal Holi’. Tetapi dalam kisah Israel ini ada makna rohani yang bisa di gali. Jadi jangan pernah langsung menganggap bahwa ‘Mangongkal Holi’ adalah adat dari setan. Sikap ketiga adalah Kebenaran/Injil dalam bingkai adat. Sikap ini memandang adat sebagai bingkai tetapi isinya sudah merupakan kebenaran Injil. Hal ini banyak terdapat di dalam Gereka Katolik. Ada bagian adat yang bisa dilakukan seperti ini, Injil dipertahankan tetapi adat lebih fleksibel. Sikap keempat adalah sikap di mana Adat dalam bingkai kebenaran/Injil. Dalam memandang sikap ini, kita harus hati-hati karena di sini Injil yang disesuaikan dan Injil hanya sebagai bingkai tetapi yang merupakan intinya adalah adat. Sikap kelima adalah sikap di mana kebenaran/Injil yang mentransformasi adat. Di sini adat dihargai dan nilai-nilai yang luhur dihargai tetapi bagian-bagian yang tidak relevan dibuang. Jadi kita harus mentranformasi adat jika nilainya adalah uang. Tetapi jika nilainya adalah agar di dalam adat hula-hula (tondong, tulang) semakin dihormati, boru makin nampak dielek (dibujuk), dongan tubuh (sanina) semakin terasa saling menghargai, dan dalihan natolu (tolu sahundulan; b. Simalungun) itu semakin menonjol dan mantap maka hal ini pantas kembangkan dan dihargai.


Pernikahan yang Penuh Berkat (13-21)

Pernikahan Rut dan Boas adalah pernikahan di dalam Tuhan dan akhirnya menjadi pernikahan yang penuh berkat. Ada empat macam berkat yang mereka terima. Berkat pertama adalah berkat anak, bagi Boas dan Rut, dan cucu, bagi Naomi (ayat 13, ”Lalu Boas mengambil Rut dan perempuan itu menjadi isterinya dan dihampirinyalah dia. Maka atas karunia TUHAN perempuan itu mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki). Anak dan cucu mereka kelak akan menurunkan raja-raja Israel. Oleh sebab itu, bagi kita yang akan berkeluarga dan kelak akan memiliki anak, mari berdoa untuk anak kita agar kelak menjadi anak yang takut dan menghormati Tuhan. Keturunan yang diberkati Tuhan, takut akan Tuhan, dan dipakai Tuhan, adalah berkat yang luar biasa. Bukan berarti jika tidak memiliki anak maka tidak di berkati. Jika kita tidak memiliki anak mungkin Tuhan punya rencana khusus. Berkat kedua adalah berkat yang dialami Naomi dengan mendapat menantu seperti Rut (ayat 15, ”Dan dialah yang akan menyegarkan jiwamu dan memelihara engkau pada waktu rambutmu telah putih; sebab menantumu yang mengasihi engkau telah melahirkannya, perempuan yang lebih berharga bagimu dari tujuh anak laki-laki.") Dalam ayat 15 ini dikatakan bahwa Rut adalah menantu yang lebih berharga dari tujuh anak laki-laki. Jika kelak menjadi mertua tirulah Naomi, dan jika menjadi menantu tirulah Rut yang dianggap mertuanya lebih berharga dari tujuh orang anak laki-laki. Inilah kebahagiaan menantu yang dipandang mertuanya lebih berharga dari tujuh anak laki-laki. Berkat ketiga adalah berkat mendapat mertua yang bijaksana dan mengasihi menantunya (ayat 16-17). Hati-hati kelak jangan nanti menjadi mertua yang hypercritic yang melihat semua yang dikerjakan menantu salah. Jadilah mertua yang bijaksana dan mengasihi menantunya. Berkat keempat adalah berkat bagi dunia (ayat 17-22, ” 17 Dan tetangga-tetangga perempuan memberi nama kepada anak itu, katanya: "Pada Naomi telah lahir seorang anak laki-laki"; lalu mereka menyebutkan namanya Obed. Dialah ayah Isai, ayah Daud. 18 Inilah keturunan Peres: Peres memperanakkan Hezron, 19 Hezron memperanakkan Ram, Ram memperanakkan Aminadab, 20 Aminadab memperanakkan Nahason, Nahason memperanakkan Salmon, 21 Salmon memperanakkan Boas, Boas memperanakkan Obed, 22 Obed memperanakkan Isai dan Isai memperanakkan Daud). Ini adalah berkat yang paling indah. Dari keturunan Boas dan Rut, dua orang yang taat kepada Tuhan, lahirlah Obed (yang artinya ’Hamba Tuhan’) kemudian lahirlah Isai, lahirlah Daud, dan dari keturunan Daud lahirlah Yesus Kristus. Pernikahan Boas dan Rut adalah pernikahan yang menjadi berkat bukan hanya bagi mereka, artinya bukan sekedar menjadi keluarga yang bahagia, tetapi juga menjadi berkat bagi sekelilingnya.

Mari merefleksikan tiga pertanyaan berikut. Pertama, bagaimana anda memandang adat selama ini? Kedua, bagaimana kita bisa menghargai dan lebih kristiani dalam beradat? Ketiga, mengingat hubungan mertua-menantu yang telah rusak imagenya, bagaimana hubungan Naomi-Rut memotivasi anda untuk mengimpikan sesuatu yang indah?
Soli deo Gloria!

Seri Stress Fracture 3 (2008) - When Your Comfort Zone Gets the Squeeze

[Kotbah ini dibawakan oleh Denni B. Saragih, M. Div pada ibadah Mimbar Bina Alumni, Jumat, 28 Maret 2008]

Hari ini kita akan masuk dalam topic yang terakhir dari seri Stress Fracture yaitu When Your Comfort Zone Gets the Squeeze. Tahun lalu kita telah belajar bahwa kematian atau kehilangan orang yang dikasihi adalah bentuk tekanan yang memberikan stress yang paling tinggi. Bagaimana jika kita divonis mengidap penyakit kanker dan umur kita tinggal satu setengah tahun lagi? Bagaimana kita akan menghadapinya? Bagaimana jika kita berada dalam situasi dimana dalam hitungan waktu kita akan kehilangan orang tua kita atau seseorang yang sangat kita cintai? Hal-hal ini akan memberikan stress yang sangat berat dalam hidup kita dan inilah yang akan kita renungkan pada hari ini, bagaimana kita dealing with stress when our comfort zone gets the squeeze.

Ada cerita yang menarik tentang seorang bapak yang tidak mencintai isterinya dan berharap asterinya meninggal dunia. Isterinya sangat cerewet dan selalu frustrasi dibuat isterinya. Suatu hari dia pergi ke hutan mencari kayu. Ketika berada di dalam hutan dia berjumpa dengan seorang malaikat. Kemudian malaikat berkata kepada dia, “Bapak yang terkasih, saya sudah mengetahui beban bapak yang berat. Sekarang saya dating menolong bapak. Bapak bisa mengajukan tiga permohonan, apapun itu dan Tuhan akan mengabulkannya.” Bapak ini sangat senang dan mengajukan permintaan yang pertama, ”Saya ingin isteri saya yang cerewet itu mati hari ini.” Malaikat itu berkata, “Pulanglah, keinginanmu sudah dikabulkan.” Kemudian dia berlari-lari pulang dan begitu sampai di rumah dia melihat banyak orang dirumahnya. Semua keluarga datang dan semua orang dikampung itu datang. Dia melihat isterinya meninggal. Dia terkejut dan pura-pura menangis (padahal dirinya senang). Lalu setiap orang yang datang mulai menceritakan kebaikan isterinya. Ada yang mengatakan bahwa isterinya sangat rajin beradat, baik bertetangga. Perhatian pada suaminya dan anak-anaknya walau agak cerewet, dan sebagainya. Semakin orang bicara mengenai kebaikan isterinya, dan melihat begitu banyak tangisan dukacita, dia semakin stress. Akhirnya dia sampai pada titik di mana dia menyesal telah meminta isterinya meninggal dunia. Akhirnya dia kembali berlari ke hutan dan menemui malaikat itu. Dia meminta permintaan yang kedua agar isterinya dihidupkan. Malaikat itu berkata, ”Pulanglah, isterimu telah hidup kembali.” Dia pulang sambil berlari dan dia melihat isterinya hidup lagi. Kemudian dia memeluk isterinya, tetapi ketika isterinya melihat sang suami, dia merepet kembali. Dia kembali stress dan lari ke hutan dan menemui malaikat itu. Kemudian dia menyampaikan ingin permintaan yang terakhir, tetapi dia tidak tahu meminta apa. Lalu malaikat itu berkata, ”Saya tahu yang bapak butuhkan. Yang bapak butuhkan adalah damai. Meskipun isterimu cerewet bapak tetap tenang. Apapun yang bapak alami, bapak akan tetap tenang.”

Sore hari ini kita akan belajar mengenai pandangan Alkitab mengenai kematian. Jika kita memahami ajaran Alkitab, maka kita tidak akan stress berlebih-lebihan jika kita berhadapan dengan kematian. Kita akan memandang kematian dari perspektif Kristen. Jika anda akan berhadapan dengan kematian atau kehilangan orang yang anda kasihi kita harus mengingat beberapa hal.

  1. Dalam perspektif Alkitab, kematian bukanlah suatu hukuman. Romans 8:1 mengatakan, ”Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” Jika kita mengalami sakit penyakit atau ada satu ancaman bagi kesehatan kita, ingat, ada alasan lain yang harus kita cari mengapa hal ini terjadi, selain memandangnya sebagai sebuah hukuman. Kita perlu mengingat bahwa jika kita mengalami sesuatu yang buruk, mungkin yang pertama kali kita pikirkan bukanlah mencari apa dosa kita sehingga hal ini terjadi pada kita. Karena tidak ada lagi penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus. Ada alasan lain sehingga orang Kristen mengalami penderitaan, kesakitan, dan kematian.
  2. Kematian adalah sisa dari kehidupan yang belum ditebus dalam ’fallen world’. Kita hidup dalam dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, dan dunia yang telah jatuh ke dalam dosa ini telah dipulihkan oleh Kristus. Dan di dalam pemulihan ini masih ada hal-hal yang merupakan sisa dari ciptaan yang lama. Kita masih menunggu completion. Hal ini masih belaku juga untuk evil. 1 Cor 15:26 mengatakan, ”Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut”. Dan 1 Cor 15:54 mengatakan, ”Maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: "Maut telah ditelan dalam kemenangan.” Sampai tiba penggenapannya, kehadiran maut dan akibat kejatuhan (penuaan, penyakit, kesakitan, dan bencana alam) masih akan dialami oleh orang percaya.”
  3. Tuhan menggunakan pengalaman akan kematian justru untuk pengudusan orang Kristen. Tuhan tidak menghukum tetapi mendisiplin, mendidik, dan membentuk kita, dan menjadikan kita lebih layak, lebih berkenan, dan lebih menggambarkan kemuliaan Tuhan. Dalam Rom 8:28 dikatakan, ”And we know that God causes all things to work together for good to those who love God, to those who are called according to His purpose" [NAU]. Allah mengerjakan atau menyebabkan segala sesuatu bekerja utuk kebaikan dari mereka yang mengasihi Tuhan. Jika penderitaan dan segala kesakitannya membuat kita semakin serupa dengan Kristus, maka Allah Bapa mengijinkan kita mengalaminya. Ibrani 12:6 mengatakan, “karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Segala sesuatunya adalah tentang apakah semua yang terjadi menguduskan kita di mata Tuhan. Kematian bukanlah hukuman, tidak alamiah karena merupakan bagian dari fallen world, dan akan dihapus suatu hari kelak. Langit dan bumi yang baru adalah keadaan dimana kematian tidak ada lagi.
  4. Ketaatan kepada Tuhan dan memuliakanNya adalah sesuatu yang lebih penting dari pada mempertahankan hidup kita. Di mata Tuhan, survival bukanlah tujuan yang paling besar. Hidup bukan sekedar hidup, tetapi hidup harus punya tujuan mengapa kita hidup. Karena itu, dalam perspektif Kristen Paulus mengatakan, ”Sebab aku ini rela bukan saja untuk diikat, tetapi juga untuk mati di Yerusalem oleh karena nama Tuhan Yesus.“ (Kis 21:13). Filipi 1:20 mengatakan, ”Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.” Tidak selalu kematian menjadi sesuatu yang negatif. Dalam pengala- man banyak orang, sering sekali kematian dan ajal yang mendekat menjadi sesuatu yang positif. Dalam kontek kekudusan, penyakit dapat menjadi anugerah yang terselubung. Penyakit, tantangan, masalah, atau apapun yang kita alami yang membuat kita stress, coba kita lihat, mungkin ada berkat terselubung yang Allah kerjakan dalam hidup kita. Ibu Dorothy pernah mengatakan ”No crisis no growth.” 
  5. Kematian bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, justru menjadi sebuah sukacita. Paulus mengatakan dalam 2 Kor 5:8, ”Terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan.” Karena kematian adalah satu-satunya jalan supaya kita bisa bersama-sama dan bertatap muka dengan Tuhan kita. Sehingga kematian itu adalah sukacita. Bukan berarti ketika ada yang mati, kita bersukacita. Sukacita tidak berarti harus dilakukan dengan tersenyum atau tertawa. Sukacita terkadang disertai dengan air mata, kegentaran, kepiluan, dan keharuan, tetapi tetap ada sukacita. Paulus juga mengatakan dalam Fil 1:21-23, ”Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus itu memang jauh lebih baik;” Inilah yang harus kita hayati. Terkadang kita selalu berpikir bahwa kita akan hidup selamanya dan terbukti melalui tabungan kita yang banyak untuk membeli sesuatu nantinya. Seandainya kita menempatkannya pada perspektif yang benar, kita tidak akan terlalu ngotot dengan hal-hal seperti itu. Kita akan mati pada akhirnya. Seandainya elemen kematian ini kita tempatkan sebagai bagian dari perencanaan hidup kita, maka rencana hidup kita akan semakin berbeda. Semuanya menjadi sesuatu yang masih bisa ditawar, beli rumah, jalan-jalan, atau pernikahan. Semuanya bisa ditawar dan tidak harus. Jika kematian tidak kita tempatkan menjadi bagian dari perencanaan hidup kita, maka semuanya akan serba kuatir,” Kapan bisa beli mobil, kapan beli rumah, kapan...dan lainnya”.
  6. Jika kita kehilangan orang yang kita sayangi dan seorang yang percaya, maka kepiluan yang Kristiani ada dan kehilangan yang manusiawi harus ada. Kis 8:2 mengatakan bahwa orang-orang saleh menguburkan mayat Stefanus dan meratapinya dengan sangat. Dengan meratap, mereka tidak menjadi tidak saleh. Banyak orang Kristen menganggap menangis karena kehilangan menjadi sesuatu yang tidak saleh. Dalam menghadapi kematian orang percaya ada sukacita yang rohani dan ada harapan di dalam Tuhan. Satu sisi boleh ada kepiluan dan satu sisi lain ada sukacita yang rohani. Sukacita yang oleh karena pengharapan dalam Tuhan. Hal ini perlu kita lakukan supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan (1 Tes 3:14). Tetapi jangan berduka berlebihan. Dalam Wahyu 4:13 dikatakan, "Ber- bahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini." "Sungguh," kata Roh, "supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka." Inilah cara kita menyikapi kematian kita sendiri dan kematian orang-orang yang kita kasihi. Jika kita menyikapi demikian maka kita tidak akan stress (walau ada stress ringan) dan dapat menghadapinya dengan cara yang Kristiani dan dewasa dan tidak menjadi cengeng.

Bagaimana dengan kematian mereka yang belum percaya?
Jika orang yang kita kasihi yang belum percaya meninggal, maka mereka pasti akan berada di neraka.

  1. Dukacita tanpa sukacita. Ini adalah satu yang dalam dan berat untuk ditanggung. Paulus berkata dalam Roma 9:1-3 bagi orang Yahudi yang belum percaya, ”Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus, bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati. Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani." Ada satu dukacita yang dalam dan riil karena orang yang dikasihinya meninggal dalam kondisi belum percaya.
  2. Meski kadang kita tidak pasti masalah iman dan keselamatan mereka. Kadang kematian yang mendekat membuat banyak orang mencari Tuhan. Pada saat-saat terakhir, jika ada kesempatan, sampaikan Injil. Menurut beberapa ahli, orang yang sedang koma, masih dapat mendengar kita walaupun tidak dapat merespon.
  3. Kita, sebagai orang percaya, tidak boleh memberi penghiburan yang tidak benar. Jadikan kesempatan untuk memberitakan Injil

Apa yang terjadi ketika kita mati?

Roh orang percaya akan segera berangkat ke hadirat Tuhan.Dalam Lukas 23:43 Yesus berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." Kemudian Ibrani 12:23 mengatakan, ”Dan kepada Allah, yang menghakimi semua orang, dan kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna.” Begitu kita mati, roh kita akan menjadi sempurna berada dalam hadirat Tuhan.

Dalam ajaran Alkitab, semua yang telah ditebus oleh Yesus tidak akan mendapat penghukuman. Begitu kita mati, kita akan bersama dengan Tuhan. Semua dosa kita sudah ditanggung Yesus di Kalvari dan semua telah dibayar lunas. Dalam Matius 12:32 dikatakan, “Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak.” Sekali diampuni akan tetap diampuni, jika mati maka di dunia yang akan datang tidak akan ada lagi pengampunan. 1 Kor 3:13-15 dikatakan, ”Sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.”

Dua bagian Alkitab ini (Matius maupun 1 Korintus) sering dikutip untuk mengajarkan dan membenarkan pengampunan sesudah kematian, padahal konteks ayat ini tidak demikian.

Kita akan menutup topik ini dengan beberapa Pertanyaan untuk direnungkan?
  1. Bagaimana anda memandang kematian anda sendiri? Bagaimana firman Tuhan meneguhkan anda untuk menghadapi ketakutan akan kemat- ian?
  2. Apakah firman ini meneguhkan anda untuk siap menghadapi kematian dalam perjuangan melawan dosa, bahkan dengan ancaman martir sekalipun?
  3. Jika maut adalah bagian dari pengudusan, bagaimana ini menolong anda untuk bersikap positif terhadap penuaan dan proses jasmaniah menjadi lebih lemah?

Ini semua adalah pandangan Alkitab akan kematian. Jika kita dapat memahaminya dan memegangnya dengan baik, maka kita akan menghadapi segala sesuatunya, apakah kesakitan, penderitaan, bahkan kematian dengan perasaan yang tenang.

Soli deo Gloria!

Seri Stress Fracture 2 (2008) - Living Within God's Time Schedule

[Kotbah ini dibawakan oleh Denni B. Saragih, M. Div pada ibadah Mimbar Bina Alumni, Jumat, 14 Maret 2008]

Pada saat ini kita akan membahas mengenai Dealing with the Stress, dengan judul kecil Living within God’s Time Schedule- bagaimana kita belajar hidup dengan skedul Allah. Topik ini akan dimulai dengan terlebih dahulu memperkenalkan sebuah klub. Namanya adalah Klub Penyakit Jantung. Jika anda memenuhi persyaratan yang ada di sini, saudara pasti dijamin akan kena sakit jantung setelah umur 40 tahun ke atas. Persyaratan tersebut adalah:
  1. Sebagai seorang pekerja/karyawan, utama kanlah kerja. Kebutuhan pribadi adalah nomor dua. Jika ini anda lakukan, mudah-mudahan anda akan diterima dalam klub ini.
  2. Bekerjalah malam hari, hari Sabtu, atau pada hari-hari libur.
  3. Bawa tas kerja anda pulang, dan isi dengan kerja ekstra demi karir anda. Kerja yang belum selesai di kantor, bawa pulang dan dikerjakan di rumah.
  4. Jangan katakan tidak untuk permintaan kerja. Apapun yang diminta atasan, rekan, ataupun bawahan anda berupa bantuan, jangan sekali-kali menolaknya dan berupaya untuk menerimanya.
  5. Terimalah setiap undangan pertemuan, kerja, gereja, pelayanan, dan setiap undangan lainnya, baik pesta ataupun kepanitiaan.
  6. Jangan makan dengan tenang. Sambil makan kerjakanlah sesuatu.
  7. Anggaplah liburan itu adalah pemborosan uang dan waktu.
  8. Olah raga (renang, bowling, dll) adalah kesia-siaan. Hal ini tidak perlu dikerjakan.
  9. Jangan delegasikan tugas anda dengan orang lain. Kerjakanlah semua yang menjadi tugas anda.
  10. Jika dalam perjalanan kerja (travelling), kerjakan semua yang mungkin dikerjakan.
Jika kesepuluh syarat ini anda penuhi, maka anda adalah calon tepat untuk penyakit jantung pada umur 40 tahun. Tertarik untuk bergabung dengan klub ini?

Ini adalah persoalan kita dengan kerja dan schedule. Mari kita melihat pada satu pribadi yang sibuk, punya banyak pekerjaan, tetapi Ia memiliki schedule waktu yang membuat kita terkagum-kagum, karena di tengah kesibukanNya, Ia masih memiliki waktu luang dan ’tidak ikut klub penyakit jantung’. Pribadi ini adalah Yesus Kristus.

Yesus sama seperti kita yang melihat hidup itu sebagai satu pengabdian, pengorbanan untuk mengerjakan panggilan Nya. Dalam Yoh 4:34, Yesus mengatakan, ”Makanan-Ku ialah melaku- kan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya”. ’Melakukan kehendak Allah’ adalah makanan. Ini adalah hidup yang serius. Jika kita baca Mark 1:30-38, kita melihat Yesus bertindak bagaikan seorang yang punya karya besar namun hanya memiliki waktu yang sangat sempit. Sehingga waktu orang mengatakan bahwa semua orang sedang mencariNya, Yesus mengajak mereka pergi ke kota lain untuk menyebarkan Injil. Yesus bukan seseorang yang punya banyak waktu luang. Kelihatannya cocok untuk masuk klub penyakit jantung. Namun setiap waktu bagi Yesus memiliki satu pekerjaan penting untuk waktu tersebut. Mari kita lihat Mark 4:35-36, ”Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: "Marilah kita bertolak ke seberang." Mereka mening- galkan orang banyak itu lalu bertolak dan ...” Dalam Markus ini, kita melihat bahwa ada banyak orang yang harus diajar Tuhan Yesus. Tetapi Dia tidak terikat dan meninggalkan mereka, menyeberangi danau untuk bertemu dengan satu orang, yaitu seseorang yang kerasukan roh jahat. Bagi Yesus setiap waktu ada satu pekerjaan penting yang harus dikerjakan. Ada waktu untuk mengerjakan pelayanan bes- ar-besaran, mengajar orang banyak dan ada waktu pergi meninggalkan orang banyak dan melayani satu orang saja. Ini adalah etos dari Yesus. Tetapi jika kita perhatikan, ketika Yesus—yang hidup Nya penuh pengabdian dan pengorbanan ini, yang waktunya sangat sempit, yang punya kerja penting setiap waktu dalam hidupnya—diminta melakukan sesuatu yang belum waktunya, Yesus berkata, bahkan kepada ibuNya, ”waktuKu belum tiba.” (Yoh 2:4).

Hal ini sangat menarik. Kenapa? Karena Yesus punya time schedule. Dia tidak bisa dipaksa mengerjakan sesuatu jika belum waktunya meskipun hal itu penting atau dari seseorang yang dicintaiNya. Jika kita membaca Injil dan merenungkan hidup Yesus, bagi Yesus segala sesuatunya ada waktunya. Sebelum waktunya tiba, Dia tidak kuatir untuk mengerjakan sesuatu. Dia tidak kuatir akan mati, dibunuh orang. Ada seorang teolog mengatakan, Jesus believes that He is immortal until His mission accomplished [Yesus sadar bahwa Dia tidak akan mati sampai misiNya selesai]. Inilah yang seharusnya menjadi filsafat hidup anak Tuhan. Kita punya misi di tengah-tengah dunia. Selagi misi kita belum selesai, maka kita ini immortal, tidak bisa akan mati. Jika kita membaca Injil dan merenungkan hidup Yesus, kita bisa melihat bahwa Yesus adalah pribadi yang tahu bagaimana bekerja dan tahu bagaimana beristirahat.

Yesus selalu berpacu dengan waktu, tetapi Yesus tidak pernah terburu-buru. Dalam segala keadaan, ketika Dia berdebat atau mengajar murid atau menja- wab pertanyaan orang, Yesus selalu tenang dan penuh dengan penguasaan diri. Yang paling ekstrim, Yesus tidak melakukan sesuatu secara mendadak meskipun tuntutannya adalah orang akan mati. Kita tentu ingat kisah Lazarus (Yoh 4:1-44), dimana Yesus tidak langsung menyembuhkannya sewaktu dia sakit, dan ketika mendengar kabar kematiannya pun Yesus tidak terburu-buru bahkan berkata,” Lazarus, saudara kita telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya.” Yesus hidup pada waktu dimana Allah berikan. Hal ini penting bagi kita, agar kita lepas dari stress. Banyak orang menjadi stress karena hidup mereka seperti menger- jakan pekerjaan yang kemarin yang belum selesai dan mengerjakan pekerjaan besok yang belum datang. Yesus tidak mengerjakan sesuatu sebelum waktunya ataupun sesudah waktunya. Dia diberikah waktu hari demi hari oleh Tuhan dan hari demi hari Dia menggunakan waktu yang dipercayakan Tuhan kepadaNya. Ini adalah tantangan bagi kita para alumni untuk selalu hidup dalam moment dimana kita hidup saat ini.

Sewaktu kita membaca hidup Yesus, kita juga menemukan bahwa Yesus adalah pribadi yang tidak dilelahkan pada hari ini oleh pekerjaan esok dan tidak dilelahkan hari ini oleh beban kemarin. Ada prinsip bahwa Tuhan tidak ingin kita dilelahkan oleh apa yang dapat dikerjakan dalam satu hari. Dalam perusahaan ini adalah tantangan yang berat. Masih ada hari esok untuk mengerjakan sesuatunya. Pekerjaan itu tidak akan ada habis-habisnya. Perhatikan Luk 5:15-16, ” Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.” Ini adalah bagian mengenai Yesus yang mengatur waktunya yang overloaded. Sewaktu orang banyak ingin diajar dan orang sakit minta disembukan dan tentu saja kita bisa memahami bahwa hal ini sangat urgent untuk dilakukan. Hal ini sangat penting dan Yesus seharusnya meresponi dan melayani mereka. Tetapi apa yang Yesus lakukan adalah mengundurkan diri dan beroda. Sepertinya Yesus agak egois. Tetapi apa yang kita pelajari adalah bahwa Yesus hidup dalam time schedulenya Tuhan. Ada waktu untuk melayani, ada waktu untuk istirahat, ada waktu untuk bekerja. Semuanya ada di dalam waktuNya Tuhan.

Masalahnya adalah kita seringkali kita memaksa mengerjakan sesuatu sebelum waktunya Tuhan bahkan melampaui waktuNya Tuhan. Tuhan menanggung dunia ini, memikul salib dunia ini. Tetapi kita terkadang terlalu sombong dan (maunya) ingin menanggung dunia ini, sehingga kita akhirnya stress dan bergumul dan apa yang seharusnya kita kerjakan menjadi terabaikan.

Ada seorang missionaris yang menjelang ajalnya berkata, ”Tuhan memberikan saya seekor kuda dan berita untuk disampaikan. Tetapi karena saya terlalu ngotot, saya mencambuk kuda itu sampai mati, sehingga berita itu tidak pernah tersampaikan.” Kita pasti memahami bahwa misionaris ini adalah kuda itu. Tidak ada gunanya ’mencambuki kuda yang kelelahan’. Seharusnya diberikan waktu untuk istirahat, diberi rumput yang segar dan waktu yang tenang, sehingga kuda itu akan kuat kembali untuk berlari-lari sehingga akan kuat kembali untuk meyampaikan berita itu. Harus ada pertobatan teologis yang menganggap bahwa leisure adalah sebuah kedagingan atau dosa. Ketika semakin banyak orang menekan dan semakin lama tekanan itu, Yesus mengambil waktu untuk undur dari tengah-tengah orang banyak dan kesibukan-Nya. Kapan kita terakhir sekali undur dari kesibukan dan beristirahat, melakukan apa yang ingin kita lakukan tanpa harus berdosa melakukan hal tersebut? Yesus tidak didorong keinginan untuk terus berkhotbah atau kebutuhan orang sakit yang banyak tidak menunda waktu Yesus untuk beristirahat. Yesus makan, beristirahat, makan, berdoa, dan mencari kesenangan di tengah-tengah kesibu- kan yang Ia miliki. Hal ini sangat penting juga bagi kita untuk hidup di tengah-tengah dunia yang stress ini. Tuhan tidak memanggil kita untuk hidup di tengah-tengah dunia tanpa stress. Ambil waktu untuk memanajemen stress anda, waktu untuk bercanda atau tertawa.
Ada beberapa tanda-tanda kesibukan yang berlebihan.
  1. Tidak memiliki waktu untuk membaca bacaan yang bermutu. Ada perut yang lapar dan ada otak yang lapar.
  2. Kehilangan ketajaman dan semakin tumpul untuk berpikir dan menjadi tidak efektif.
  3. Kehilangan rasa humor.
  4. Fokus pada apa yang tidak ada. Apa yang bukan menjadi persoalanlah yang selalu kita pikirkan.
  5. Dorongan yang sangat kuat untuk bersaing dan membanding-bandingkan.
  6. Dihinggapi perasaan ingin dan ingin lagi.
  7. Ada harapan-harapan yang tidak realistik akan kehidupan.
  8. Gagal memberi tempat untuk bermain, kesenangan, istirahat dan hobi.

Saran-saran positif.
  1. Memiliki istirahat malam yang baik secara teratur. Kita tiap malam pasti tidur, tetapi apakah kita memiliki tidur malam yang berkualitas. Tidur malam bisa tidak berkualitas karena beberapa faktor. Misalnya kurang berolahraga.
  2. Milikilah satu hari penuh istirahat setidaknya satu kali dalam satu minggu. Jika tidak bisa satu hari setengah hari juga sudah cukup bagus.
  3. Milikilah waktu beristirahat di tengah-tengah kesibukan sepanjang hari setiap minggunya. Maksudnya ketika anda kerja dari pukul 8 sampai pukul 12 ambil istirahat selama lima menit saja.
  4. Milikilah waktu untuk berlibur.
  5. Jika melewati minggu yang sangat padat, hati-hati. Jangan terbawa dan lepaskan diri dari semuanya itu.

Ada dua hal yang perlu kita ketahui yaitu prinsip sabat dan pengem- bangan kebiasaan membaca. Saya ingin mengajak alumni untuk memiliki kebiasaan membaca yang simpel aja.
  • Jika anda ingin membaca, sediakan waktu empat sampai enam jam perminggu. Apakah pagi, sore atau hari Sabtu.
  • Milikilah satu kali sebulan satu hari penuh untuk membaca. Jika hal ini terlalu sulit anda lakukan berarti anda terlalu sibuk.
  • Sekali setahun milikilah satu minggu untuk membaca.

Jhon Stott menganjurkan agar kita mengambil waktu retreat pribadi selama setengah hari. Kita bisa melakukan personal review mengenai hubungan dengan Tuhan, keluarga, pekerjaan ataupun pelayanan. Kemudian kita juga dapat membaca Mazmur dan memiliki waktu tenang yang panjang dan tidak terpotong dengan Tuhan. Kita juga bisa menaikkan doa-doa permohonan buat rekan-rekan kita non Kristen, sahabat, keluarga, pelayanan, mahasiswa/i, staf, dan pendeta gereja. Melakukan hal ini dalam retreat setengah hari menolong kita untuk melepaskan diri dari tirani urgensi dan hal-hal yang mendesak tetapi tidak penting.

Soli Deo Gloria!

Seri Stress Fracture 1 (2008) - STRESS

[Kotbah ini dibawakan oleh Denni B. Saragih, M. Div pada ibadah Mimbar Bina Alumni, Jumat, 29 Februari 2008]

Hari ini kita akan membahas topik pertama dari seri Stress Fracture, yaitu Stress. Kita akan membaca bagian dari Firman Tuhan dari Luk 10:38-42. Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan stress. Bahkan stress adalah bagian dari hidup manusia. Tentu saja ada stress yang baik atau positif dan ada stress yang tidak baik atau negative. Salah satu contoh dari stress yang positif adalah stress yang dialami seorang suami ketika isterinya akan melahirkan. Jika dia tidak stress, maka ada yang salah dengan suami tersebut.

Ada motto dari Yunani yang mengatakan : "You will break the bow if you keep it always bent!" [Kamu akan mematahkan busurnya jika kamu terlalu membengkokkannya]. Ini adalah satu kalimat yang ditujukan pada dunia yang penuh dengan stress. Sama seperti senar gitar yang akan putus bila terus kita terus memutar untuk mengencangkan senar tersebut. Demikian juga dengan masalah manusia dimana banyak yang ‘harus’. “Harus beginilah…, harus begitulah…, harus tanggal sekian selesainya…”, dll. Misalnya pengangguran yang harus kerja dalam tempo satu bulan. Jika tidak bekerja, menjadi stress. Semua yang ‘harus’ ini membuat stress. Bayangkan sebuah keluarga yang telah menikah selama lima tahun, belum mendapat anak? Dan satu tahun ke depan mereka belum mendapatkannya, jadi stress. Segala sesuatu yang namanya ‘harus’, menciptakan stress dan seringkali ‘harus’ ini dibuat oleh diri kita sendiri. Kita punya target dan keinginan pribadi. Seringkali antara target dan keinginan susah dibedakan. Kadang-kadang waktu yang sempit membuat kita stress. Waktu pada zaman sekarang memainkan peranan yang sangat penting. Kadang-kadang dateline menjadi deadline. Hal ini menjadi sebuah tekanan untuk bisa segera menyelesaikan apa yang dituntut. Tekanan dan tuntutan membuat kita menjadi stress di tengah-tengah dunia ini. Dalam Luk 10:38-42, kita juga melihat ada tekanan dan tuntutan disitu. Baik dari sekeliling dan (seringkali) juga dari dalam diri sendiri. Hal ini menjadikan kita menjadi orang yang terburu-buru. Biasanya jika terburu-buru cenderung melakukan kesalahan, cenderung menjadi dangkal. Seorang psikolog, Carl Jung, mengatakan bahwa keterburu-buruan bukanlah dari si iblis, tetapi si iblis itu sendiri. Kita bisa melihat dalam dunia yang stress yang ditandai dengan kedangkalan. Kedangkalan adalah kutukan dari manusia modern. Misalnya, pacaran menjadi dangkal dan buru-buru. Baru kenalan seminggu sudah pacaran bahkan ingin menikah.

Jika kita melihat kisah dalam Lukas tadi, maka kita menemukan/melihat dalam cerita itu ada satu konsep. Kita melihat Yesus memuji Maria yang duduk diam mendengarkan Firman Tuhan, dan menegur Marta yang sangat stress dan terganggu dengan berbagai macam urusan-urusan. Cerita ini akan pahami dalam konteksnya.

Pertama, cerita ini terjadi ketika Yesus dalam perjalanan ke Yerusalem. Kita tahu di Yerusalem, Yesus akan disalibkan. Dalam perjalanan ke Yerusalem, Yesus singgah di Betania. Betania adalah kampung Maria dan Marta serta saudara mereka Lazarus yang sangat dekat dengan Yerusalem. Mungkin Yesus pergi ke Betania karena Ia ingin beristirahat sejenak. Ia ingin menenangkan diri setelah pelayanan yang sedemikian sibuk dan Dia akan berhadapan dengan salib di Yerusalem. Oleh sebab itu Yesus singgah ke Betania. Ini adalah konteksnya. Jadi kita bisa memahami bahwa ada salib di balik cerita ini dimana Yesus akan sampai pada puncak pelayanannya. Ia akan disalibkan. Dengan kata lain, Yesus pun sedang stress. Ingat, jangan pernah mengira bahwa stress itu tidak rohani (sudah dibahas dalam MBA tahun 2007 yang lalu). Di taman Getsemani, karena stress Yesus begitu hebat, keringatNya bercampur dengan darah. Ini bisa terjadi. Salah seorang ahli bernama Alexander Metherell, M.D., PH.D membuktikan bahwa stress yang tinggi akan menyebabkan kapiler darah dalam kelenjar keringat pecah dan akan keluar bersama dengan keringat. Metherell mengatakan bahwa apa yang dialami oleh Yesus disebut dengan Hematidrosis. Jadi Yesus dalam perjalanan. Ia bergumul dan ingin beristirahat dan menenangkan diri.

Kedua, dalam konteks budaya, keramah tamahan adalah sesuatu yang penting bagi orang Yahudi. Jadi, jika ada tamu, mereka akan layani [mirip dengan budaya Batak]. Marta pada waktu itu, dalam konteks sosial budaya, memang harus melayani tamunya sebagaimana norma pada waktu itu. Jika kita perhatikan, ada dua orang stress dengan tuntutan yang berbeda. Yesus stress karena akan menghadapi masa-masa puncak dari misiNya, dan Marta stress karena dituntut untuk melayani tamu. Apalagi tamunya tamu penting, rabbi yang terkenal.

Ketiga, konteks yang harus kita pahami adalah Yesus beberapa kali ikut makan dalam jamuan yang besar (dengan Zakkeus, Simon). Jamuannya spesial bahkan dengan arak dan mereka mungkin bersenang-senang dengan muridNya dan Yesus tidak pernah menolak hal itu.

Keempat, perlu kita perhatikan juga bahwa Yesus datang bersama dengan murid-muridNya. Setidaknya jumlah mereka sebanyak 13 orang. Ini adalah jumlah yang banyak dan sangat repot untuk mempersiapkan makanannya.

Jika kita baca pada ayat 40, ”...Marta sibuk sekali melayani”. Dalam terjemahan lain, menarik sekali NIV menangkap kata yang digunakan oleh Lukas. NIV menerjemahkan, ”Marta distracted by all the preparation [Marta terganggu dengan segala persiapan-persiapan]. RSV menerjemahkannya dengan “Marta distracted with much service” [Marta terganggu dengan banyak pelayanan]. Bayangkan, dalam kondisi seperti ini Maria duduk tenang di kaki Yesus dan menikmati ajaran-ajaran Yesus. Sekarang kita mengerti situasi Marta. Wajar dia stress dan bergumul dengan keadaan itu. Bahkan dalam terjemahan NRSV, hal ini lebih dijelaskan lagi. NRSV menerjemahkan, “Marta distracted by her many task” [Dia terganggu dengan tugasnya yang banyak]. Berarti dia memiliki banyak tugas.

Keadaan Marta ini hampir sama dengan kisah Musa dalam Kel 18:13-18, dimana Musa juga pusing dengan tugas yang terlalu banyak (overloaded). Dalam kisah ini kita melihat bagaimana mertua Musa mengatakan kepada Musa bahwa pekerjaan tersebut sangat berat bagi Musa dan kita perhatikan Musa mengalami semua itu karena dia ingin menanggung semua persoalan yang ada di tengah-tengah bangsa Israel. Bandingkan dengan Marta pada sisi yang lain. Dia melayani (sedikitnya) 13 orang tamu dan tamu tersebut istimewa. Kemudian dia berpikir untuk menyiapkan makan besar dan mungkin juga mengundang rekan sekampungnya. Tetapi Yesus mengatakan ini semua tidak penting. Pada konteks dan situasinya, Marta melakukan hal yang tidak tepat. Tentu saja ada waktu-waktu dimana apa yang Marta lakukan tepat. Tetapi apa yang Marta lakukan tidak tepat pada waktu itu, karena Yesus tidak membutuhkan itu. Yang Yesus butuhkan adalah suasana yang tenang dan sederhana dimana orang-orang bisa mendengarkan ajaran-ajaran Nya menjelang puncak dari pelayananNya.

Kita bisa melihat ada tiga ciri khas Marta yang stress (mungkin menjadi ciri khas jika kita stress).

  1. Marta (atau kita) yang stress seringkali berasumsi bahwa orang lain tidak peduli dengan apa yang kita lakukan. Marta berasumsi bahwa Yesus tidak peduli. Mereka tidak bisa berpikir secara normal. Merasa menjadi korban di tengah-tengah kesibukan yang ada. Masalahnya ada di dalam diri kita, tetapi kita menyalahkan masalah yang ada di luar kita. Ini adalah tanda stress.
  2. Marta, waktu dia sedang stress, dia menyalahkan orang lain yang dianggap tidak bertanggungjawab atau tidak melaku- kan bagian yang harusnya dilakukan. Marta menganggap Maria tidak mengerjakan tanggungjawabnya sehingga dia menjadi sibuk seorang diri.
  3. Waktu Marta stress, dia mencoba untuk mencari jalan keluar yang justru menggam- barkan tekanan yang dialami. Dan dia mengajari Yesus. Dia mengatakan, ”Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri?” Kenapa Marta tidak bicara langsung kepada Maria, melainkan kepada Yesus? Jika dia bicara langsung kepada Maria, mungkin masalahnya akan selesai. Tetapi, justru dia mengatakannnya kepada Yesus. Hal ini mungkin terjadi bahwa dia bukan hanya melihat Maria yang bermasalah, tetapi Yesus pun bermasalah.

Inilah masalah-masalah bagi orang yang lagi stress. Oleh sebab itu dianjurkan bagi orang yang lagi stress untuk tidak mengambil sebuah keputusan. Karena keputusannya akan menggambarkan stress tersebut dan keputusannya akan menghasilkan keputusan yang salah.

Beberapa nasihat Yesus bagi Marta (atau kita) yang sedang stress.

  • Yesus mengatakan, ” Marta....Marta.....” Dengan kata lain, Yesus prihatin karena Marta terkurung dalam lingkaran stress. Sewaktu Yesus memberikan nasihat bagi Marta yang sedang stress, Yesus ingin Marta sadar akan kondisinya. Jika kita stress, kita perlu menyadari bahwa kadang-kadang kita mungkin terlalu bodoh dan mengambil tindakan-tindakan yang membuat kita menjadi stress. Jangan terlalu keras dengan diri kita ketika sendiri. Tetapi ingat, jangan melakukan hal-hal yang tidak perlu.

  • Yesus menunjukkan bahwa masalahnya ada di dalam diri Marta, bukan dari luar diri Marta. Yesus mengatakan, ”Marta, engkau kuatir...”. Ini adalah masalahnya. Masalahnya bukan ’Aku’ (Yesus) tidak peduli tetapi engkau’ (Marta) mengkuatirkan diri dengan banyak hal. Masalahnya ada di dalam diri Marta.

Ada sebuah kisah yang menarik:

Ada seorang bangsawan yang ingin memesan lukisan. Dia bertanya pada penduduk di kota mengenai pelukis yang terhebat di kota tersebut. Penduduk menyebutkan ada dua orang pelukis. Bangsawan ini pergi pada pelukis yang pertama dan memesan lukisan yang menggambarkan ’peace’[damai sejahtera]. Pelukis pertama ini menjanjikan bahwa lukisannya akan selesai dalam satu minggu. Kemudian bangsawan ini pergi ke pelukis kedua dan memesan lukisan dengan tema yang sama. Pelukis kedua ini pun menjanjikan waktu satu minggu. Setelah satu minggu, bangsawan ini pergi mengambil pesanannya kepada pelukis pertama. Ketika dia melihat gam- barnya, dia melihat gambar sebuat telaga yang sangat tenang. Ada gambaran angin sepoi-sepoi berhembus dan ada rumah kecil dan ada setitik air jatuh dengan riak kecil. Sangat tenang dan damai. Bangsawan itu berkata, ”Ini adalah lukisan damai yang sangat indah.” Dia senang sekali. Dia hampir tidak jadi pergi ke pelukis kedua. Tetapi akhirnya dia pergi dan mengambil pesanannya kepada pelukis yang kedua. Ketika dia melihat gambarnya, dia melihat gambaran badai yang sangat dasyat. Gambarnya adalah gambar pantai dengan ombak yang keras sedang menghantam batu karang. Angin pun berhembus sangat kencang sampai semua pohon hampir patah dibuatnya. Bangsawan ini berkata kepada pelukis kedua, ”Mana damai sejahtera? Ini bukan damai.” Pelukis tersebut menjawab,” Ini damai pak.” Mana, saya tidak melihat damai, tetapi melihat kekacauan! ” kata bangsawan tersebut. Pelukis tersebut berkata, ”Coba bapak lihat di tengah batu karang itu.” Bangsawan ini kemudian melihat di tengah batu karang itu, ada satu lubang kecil, dan di dalam lubang ini ada sarang burung dengan induk burung dan anak-anaknya yang terlindungi. Pelukis itu berkata, ”Bapak melihat, badai bertiup dengan keras, tetapi dalam batu karang itu ada sarang burung dengan induk burung dan anaknya yang dengan tenang merasakan damai sejahtera karena terlindung oleh batu karang yang sangat teguh.” Bangsawan ini mengangguk mengerti dan pulang dengan senang.


Yang mana damai sejahtera? Apakah kita suka pada damai sejahtera yang pertama atau kedua? Tentu damai sejahtera yang kedua. Damai sejahtera yang pertama adalah damai sejahtera yang diimpikan oleh Marta. Tetapi damai sejahtera yang kedua adalah damai sejahtera yang dialami oleh Yesus dan Maria. Ketika salib datang membayang-bayangi Yesus dan kesibukan dan tuntutan budaya ada di sekeliling Maria, tetapi Maria dan Yesus dengan tenang diajar dan mengajar. Inilah damai sejahtera di tengah-tengah stress yang ada yang dialami oleh Maria.

  • Yesus mengatakan kepada Marta bahwa dia menyusahkan dirinya dalam banyak perka- ra. Itu menjadi sumber stress dalam diri Marta Oleh sebab itu dalam stress, mungkin yang perlu kita lakukan adalah melepaskan perkara-perkara itu sebagai beban dalam hidup kita. Mungkin juga masalah-masalah itu tidak sebesar yang kita duga. Just do your best, God will do the rest.

  • Kemudian Yesus mengatakan agar Marta memperhatikan apa yang perlu. Marta dalam hal ini mungkin memerlukan banyak hal yang akan dilakukannya untuk melayani Yesus. Tetapi Yesus hanya memerlukan hal-hal yang sederhana, tempat beristirahat yang tenang, makanan yang sederhana, dan suasana yang tenang. Dalam zaman modern ini kita didorong bukan melakukan apa yang penting, tetapi apa yang mendesak untuk dikerjakan. Dalam bukunya Seven Habits of High Efectly People, Steven Covey berbicara mengenai empat kuadran. (1) Penting dan mendesak, (2) tidak penting tetapi mendesak, (3) tidak mendesak tetapi penting, dan (4) tidak penting dan tidak mendesak. Dia mengatakan bahwa jika orang orang banyak sekali mengerjakan hal-hal yang mendesak, termasuk penting dan mendesak, maka orang tersebut akan mengalami stress yang sangat besar. Yang menarik adalah hal-hal penting dan mendesak terjadi karena hal-hal penting yang tidak mendesak kita tunda pengerjaannya. Agar hidup kita tidak stress, Steven Covey mengatakan agar kita melakukan hal-hal penting sewaktu hal tersebut belum mendesak.

  • Yesus mengatakan bahwa Maria telah mengambil pilihan yang terbaik yang bernilai kekal yang tidak akan diambil dari pada kita. Ada banyak hal yang menuntut kita harus dan harus dan harus. Tetapi kita tidak harus mendengarkan teriakan minta tolong dari sekeliling kita. Dalam bukunya Spritual Leadership, Sanders mengatakan, ”Tidak semua teriakan minta tolong berasal dari Tuhan.” Artinya tidak semua teriakan minta tolong di tengah-tengah dunia ini harus kita kerjakan. Dalam bagian Luk 10 tadi, Yesus memuji Maria yang tenang duduk diam mendengarkan Yesus di tengah-tengah segala kebisingan dan tuntutan budaya.

Soli Deo Gloria!

Kebaktian Penyegaran Iman 2 (2008): Yohanes 21:15-19

"True Love"

[Kotbah ini dibawakan oleh Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div pada Mimbar Bina Alumni, Jumat, 21 November 2008]


Topik ini merupakan bagian terakhir dari Mimbar Bina Alumni untuk tahun 2008 dan kita akan berbicara mengenai True Love atau Cinta Yang Sejati. Kita akan membahas tema ini dengan membaca Yoh 21:15-19 dan belajar dari Petrus yang mencintai Kristus sebagai satu respon dari panggilan Kristus setelah bangkit dari kematian.

Kisah ini diawali dengan Yesus yang menampakkan diri kepada para murid di pantai danau Tiberias (21:1). Tetapi para murid tidak mengenal Yesus yang sedang berdiri di pantai (4). Ketika mereka sampai di pantai dan Yesus menyuruh mereka menebar jala dan menangkap banyak ikan, barulah mata mereka terbuka dan mengenal bahwa Yesuslah yang memerintah mereka. Selanjutnya Yesus menyediakan makanan dan mengajak mereka untuk serapan pagi (12). Ini adalah momen ke tiga kalinya dimana Yesus menampakkan diri kepada mereka sebelum Dia naik ke Surga (14).

Jika kita perhatikan, peristiwa percakapan Yesus dengan Petrus terjadi setelah mereka serapan (15) dan disinilah terjadi dialog dan panggilan Yesus kepada Petrus apakah dia sungguh-sungguh mencintai Yesus. Dalam ayat 20 kita melihat bahwa kalimat ini hanya ditujukan kepada Petrus, atau peristiwa khusus ini hanya diberikan kepada Petrus dimana murid-murid yang lain tidak terlibat. Barangkali Yesus dan Petrus berjalan berduaan (dengan lambat) di sepanjang pantai dan bertanya secara pribadi. Melalui peristiwa ini muncul pertanyaan ‘Kenapa hanya Petrus yang dikhususkan?’ Ada pandangan yang menyatakan bahwa hal ini terjadi dapat dilihat melalui latar belakang Petrus yang beberapa kali gagal (mis. Penyangkalan Petrus akan Tuhan Yesus). Ada juga pandangan lain yang menyatakan bahwa Petrus sedang dipersiapkan oleh Yesus sebagai pemimpin besar setelah dia (dan dari Kisah Para Rasul kita melihat bagaimana Petrus menjadi kepala para Rasul, band Kis 15). Kedua pandangan ini dapat diterima dan dimengerti.

Dalam ayat 15, 16, da 17 kita melihat pertanyaan Yesus yang diulang kepada Petrus, ”Apakah engkau sungguh-sungguh mengasihi Aku?” Frase ‘sungguh-sungguh mengasihi Aku’ dalam teks ini berbicara mengenai keterlibatan emosi, hati dan pikiran yang melahirkan sebuah komitmen. Jadi bukan hanya sekedar dipengaruhi oleh perasaan. Kemudian Yesus melanjutkan dengan ‘..lebih dari mereka ini..’. Ada dua pemahaman dari frase ini. Pertama dapat berarti mengasihi Yesus lebih dari pada murid yang lain, dan kedua mengasihi Yesus lebih daripada dia mengasihi yang lain. (Catt. Kedua pemahaman ini benar. Tetapi jika digali lebih jauh lagi. Pemahaman pertamalah yang lebih tepat untuk menggambarkan hal tersebut.)

Jika kita melihat beberapa waktu ke belakang, kita melihat peristiwa penyangkalan Petrus (sebanyak tiga kali) terhadap Yesus. Tetapi dalam peristiwa ini kita bisa melihat Yesus mengampuni Petrus. Petrus yang belum lama pernah menyangkali Yesus dan meninggalkan Dia, sekarang setelah kebangkitan, pengampunan diberikan Yesus kepadanya. Kegagalan masa lalu diperbaharui dengan pengampunan dan didorong untuk lebih setia. Inilah kuasa pengampunan yang diberikan Kristus kepada Petrus. Mari melihat perjalanan hidup kita selama tahun 2008 . Betapa banyaknya dosa kita yang telah kita perbuat yang sudah diampuni oleh Kristus yang bisa melahirkan semangat yang baru di dalam diri kita yang mendorong kita lebih setia dalam tahun 2009. Dalam pemulihan setelah pengampunan ada persekutuan. Setelah persekutuan bersama barulah moment itu dipakai oleh Kristus untuk kembali meneguhkan komitmen apakah Petrus sungguh-sungguh mengasihi Yesus. Murka tidak selalu dipakai Allah untuk menegur dan dalam bagian ini kita melihat bahwa berkat juga bisa dipakai Kristus sebagai sarana untuk menegur.

Kenapa pertanyaannya tiga kali? Hal ini lebih kepada pengalaman masa lalu. Melihat latar belakang karakter Petrus yang gampang berjanji dan meningkari. Mari melihat perjalanan hidup kita di tahun 2008. Banyak dari kita yang memberikan janji kepada Allah tetapi mengingkarinya. Kita berkomitmen kepada Allah tetapi tidak menepatinya. Oleh sebab itu kita membutuhkan pengampunan dari pada Allah untuk semua kegagalan dan ketidak setiaan kita. Pertanyaan yang sama seperti yang dialamatkan kepada Petrus sekarang dialamatkan kepada kita ”Apakah engkau sungguh-sungguh mengasihi Aku?” Mari melihat hidup kita, mari mereview perjalanan selama 2008, beranikah kita berkata ”Tuhan, aku sungguh-sungguh mengasihi Engkau tahun 2008 ini!” atau kita sama sekali tidak berani mengucapkannya. Petrus yang pernah menyangkal Yesus sebanyak tiga kali perlu diteguhkan kembali panggilannya. Peneguhan Petrus berelasi dengan misi setelah kenaikan Yesus dikemudian hari. Dua kali Petrus menjawab dengan jawaban yang sama bahwa dia sungguh-sungguh mengasihi Yesus (15-16). Setelah pertanyaan yang ketiga Petrus menjadi sedih (17). Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” ’Memang dulu aku sering berjanji dan aku gagal dan bahkan menyangkali Engkau. Engkau tahu itu masa laluku yang hancur dan ketidak taatanku. Tetapi Engkau tahu sekarang aku sungguh-sungguh mengasihi Engkau’, inilah maksud dari Petrus. Kalimat Petrus inilah juga yang ucapkan ketika Yesus bertanya apakah kita mengasihi Dia.

Tensi atau suasana ini bagaikan saat penyiksaan Yesus dihadapan para mahkamah agama dimana Petrus menyaksikannya bahkan menyangkaliNya. Ketika Yesus bertanya, kemungkinan besar Petrus mengingat bagaimana dia menyangkal Tuhan Yesus sebanyak tiga kali dan juga berbagai kegagalannya di masa lampau. Bayangkan betapa hancurnya hati Petrus. Hati seperti Petrus sangat dibutuhkan oleh alumni sekarang ini. Hati yang berkabung oleh karena dosa. Tetapi pengampunan Allah memulihkan engkau dan saya. Ketika pengampunan itu ada pada kita, mari bersama-sama memunculkan komitmen yang baru bahwa kita bena-benar mengasihi Tuhan. Apakah kita terbukti mengasihi Tuhan melalui cara kerja kita, cara hidup, dan pelayanan kita. Harapan kita bersama tidak ada alumni yang tidak melayani di tahun 2009. Pengampunan Allah melahirkan semangat yang baru utuk melayani Kristus agar hidup kita tidak lebih buruk tetapi menjadi hidup yang lebih taat.

Bukan hanya pengampunan, Yesus juga memberikan mandat kepada Petrus, yaitu feed my lambs (15), take care of my sheep (16), dan feed my sheep (17). Ketiga kalimat ini diartikan satu hal yaitu ‘gembalakanlah kawanan dombaku’. Kristus memerintahkan hal ini kepada Petrus, pertama, Yesus akan naik ke Surga, maka Petrus dan murid-murid yang lainlah melanjutkan tugas penggembalaan memimpin umat Allah yang ada dibumi sebagai agennya Allah. Kedua, Yesus memberikan teladan bagaimana gembala yang baik (Yoh 10:11-14). Kemudian Yesus berkata kepada Petrus, ”Gembalakanlah domba-dombaku.” Pengampunan dan rekonsiliasi yang dari pada Allah melahirkan cinta sejati yang tulus kepada Dia. Cinta sejati ini dibuktikan dengan berkarya bagi Allah. Inilah yang harus kita miliki. Darimana kita tahu orang mencintai kita, bukan dari kalimat tetapi dari apa yang dilakukannya bagi kita. Kata ’kasih’ dalam bagian ini diartikan sebagai kasih yang didemonstrasikan melalui ketaatan pada panggilanNya dan pelayanan kepada umatNya (band. Yeh 34:11-16). Dari manakah kita tahu bahwa kita mencintai Tuhan adalah melalui ketaatan pada FirmanNya (Yoh 14:21, ”Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya."). Mari di tahun 2009 ini kita tidak gagal lagi, tetapi belajar mencintai Kristus dan kita semakin setia mentaati Firman Allah. Bagaimana kita menyatakan cinta kepada Allah itu adalah dengan mendemonstrasikan dengan ketaatan kepada panggilan Allah untuk bermisi, yaitu merawat dan memelihara domba-domba Allah.

Di dalam ayat 18 dan 19 dikatakan demikian, ”Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki." Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku.". Gereja mula-mula memahami ayat 18 ini sebagai sebuah nubuatan penyaliban. Inilah prediksi bagaimana kematian Petrus nantinya. Tradisi sejarah mengatakan bahwa Petrus mati martir (disalibkan terbalik) di Roma dibawah pemerintahan Kaisar Nero pada tahun 64 AD. Setelah meminta keseriusan Petrus untuk mengasihi Yesus dan dengan lahirnya komitmen, maka Yesus memerintahkan Petrus untuk mengikuti Dia. Dalam peristiwa ini yang terjadi adalah lahirnya komitmen yang diikuti oleh panggailan (berbeda dengan Musa dimana panggilan Allah terhadap dirinyalah yang melahirkan komitmen). Kita tidak tahu yang mana dipakai Tuhan dalam kehidupan kita. Apakah ketika kita komitmen sungguh-sungguh mencintai Allah maka ada panggilan atau sebaliknya.

Sangat dibutuhkan sebuah komitmen dan jangan ada seorangpun kita tanpa komitmen. Komitmen melahirkan semangat, mendorong kita untuk setia, dan membuat kita rela membayar harga di dalam pelayanan. Mengikut Yesus berarti meneladani cara hidupnya dan menapaki jalan yang dilaluiNya, yaitu Jalan Salib. Jangan pernah berpikir bahwa kita bisa memuaskan hati Allah tanpa Jalan Salib. Jalan Salib adalah jalan yang harus ditapaki dan dilalui oleh setiap anak Tuhan jika ingin setia. Tidak ada jalan yang mulus untuk tetap setia dan taat dan bermisi bagi Allah. Bukankah Tuhan yang kita sembah memapaki Via De Lorosa sampai Dia dimuliakan melalui salib. Kita sedang berjalan bersama dengan Dia. Memandang kepada salib Kristus. Kita akan tertaih-taih, tetapi maju terus dan biarlah kita dimuliakan sama seperti Kristus dimuliakan ketika kita setia menapaki Jalan Salib. Saya tidak tahu Jalan Salib yang kita tempuh selama tahun 2008 dan Jalan Salib yang akan kita tempuh untuk tahun 2009, tetapi mari kita berkata, ”Tuhan, aku sungguh mencintai Engkau!” Jalan Salib yang sulit bisa menjadi ringan karena ada cinta yang memberi semangat dan berambisi memuaskan hati Allah. Walaupun jalan itu penuh dengan onak duri dan membuat sakit, tetapi cinta kepada Allah memapukan kita untuk tetap melangkah dengan baik. Ketika Yesus berkata, ”Ikut Aku!”, jalan itu berarti Jalan Salib. Tahun 2009 belum tentu mulus, tetapi jangan skeptis dan apatis, tetapi melangkah dengan iman. Apapun kondisi tahun 2009, baik keluarga, gereja, ataupun di kantor, Jalan Salib yang kita lalui bersama Kristus, yang walau penuh dengan onak duri, akan menjadi enak dan ringan oleh karena kita mencintai dia.

Mari kita merefleksikan beberapa hal. Pertama, pengampunan memperbaharui semangat dan sukacita. Kedua, pengampunan melahirkan komitment yang baru untuk mengikut Tuhan (ketaatan). Ketiga, pengampunan dan pertemuan dengan Yesus mendorong untuk setia melayani Dia meski menderita. Semuanya akan terasa ringan jika kita berjalan bersama-sama dengan dia dan mencintai Kristus dengan sungguh-sungguh.

Soli Deo Gloria!

Kebaktian Penyegaran Iman I (2008): Mat 4:1-11

[Kotbah ini dibawakan oleh Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div dalam Mimbar Bina Alumni Jumat, 14 November 2008]


Injil Matius ditulis bagi orang Yahudi dengan tujuan untuk meyakinkan mereka dan mendemonstrasikan bahwa semua nubuatan di dalam PL telah digenapi di dalam diri Kristus yang adalah Mesias. Dari empat Injil dalam PB, kita menemukan Injil penuh dengan hukum Kasih sebagai pengganti Taurat. Karena Injil Matius adalah untuk orang Yahudi, maka di dalam Injil ini tidak digunakan istilah Kerajaan Allah dan yang ada adalah Kerajaan Surga. Hal ini disebabkan oleh karena orang Yahudi sangat tabu menyebut nama Allah. Narasi tentang pencobaan dihubungkan dengan pembaptisan Yesus yang dilanjutkan dengan proklamasi ‘Yesus sebagai Anak Allah’, sesuatu yang sangat penting bagi misiNya sebagai Mesias yang datang ke dunia. Pada bagian narasi ini kita menemukan pengalaman yang pararel bagi perjalanan bangsa Israel yang keluar dari Mesir dengan kehidupan Yesus. Narasi ini (tentang Yesus yang dicobai) merupakan tipologi dalam perjalanan pembebasan umat Allah dari Mesir.

Tetapi ada yang berbeda. Jika Israel, dalam perjalanannya keluar dari Mesir, mengalami kegagalan dan ketidaksetiaan, tetapi Yesus sebagai pribadi berhasil dalam menyatakan jati diri sebagai hamba dan Anak Allah yang taat dan setia. Dan deklarasi ketika Yesus dibaptis, yaitu deklarasi yang menunjukkan bahwa Dia berkenan kepada Bapa, muncul juga dalam deklarasi akhir hidup Kristus. Di salib Yesus berkata: ”Sudah Selesai.” Banyak Teolog yang menyatakan ketika Yesus mengucapkan kalimat ini, ada juga ucapan dari Surga yang mengatakan: ”Ya.., Engkau telah melaksanakan tugas dan Engkaulah AnakKu yang Kukasihi dan kepadaMulah Aku berkenan.” Artinya adalah, hidup Yesus dimulai dengan deklarasi perkenanan Bapa kepadaNya, dan diakhir hidupnya, Kristus juga mendapat pengakuan dari Bapa karena ketaatan dan kesetiaanNya.

Mari melihat ayat 1, ”Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis.” Ayat ini menimbulkan perdebatan teologis. Artinya, jika kita melihat Yak 1:13 (Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: "Pencobaan ini datang dari Allah!" Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun”), dikatakan bahwa Allah tidak pernah mencobai. Tetapi kenapa di dalam Mat 4:1 dikatakan bahwa Roh Kudus yang menuntun Yesus untuk dicobai oleh Iblis? Bagian ini adalah narasi dari Matius yang menunjukkan tipologi perjalanan Israel selama 40 tahun Israel dalam diri Kristus yang melakukan puasa selama 40 hari dan tibalah sekarang Yesus mengalami berbagi pencobaan yang merupakan gambaran pencobaan yang dialami orang-orang Israel di dalam perjalanan mereka menuju tanah Kanaan. Roh Allah memimpin Yesus pada masa pencobaan (testing) memiliki pemahaman seperti ini. Allah pasti tidak mencobai. Tetapi hal ini diizinkan oleh Allah terjadi kepada Yesus. Gerhardson mengatakan bahwa ada satu pemahaman bagi orang Yahudi bahwa semua hal yang terjadi Allah tidak pernah tidak tahu, minimal Allah tahu hal itu, dan semua ada di dalam rencana Allah. Artinya, Allah berada di belakang dari semua hal yang terjadi di dalam hidup manusia. Hal ini pararel dengan Ulangan 8: 2, ”Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak.” Ayat ini menggambarkan bagaimana Israel yang keluar dari Mesir itu diijinkan Allah untuk dicobai.

Dalam ayat kedua dikatakan setelah berpuasa selama 40 hari maka Yesus dalam keadaan lapar. Puasa 40 hari yang dilakukan Yesus sama seperti puasa yang dilakukan Musa (Kel 34:28) dan Elia (1 Raj 19:8) dan Puasa ini penuh dengan penuh penderitaan. Dan dalam kondisi yang lemah karena lapar, si pencoba datang kepada Yesus dan mencobai dia. Pencobaan yang datang dari Iblis ini bertujuan untuk menghancurkan. Penting bagi kita untuk membedakan ujian dan pencobaan. Dalam Kej 22 yang dipakai adalah test dan di dalam Mazmur yang dipakai juga kata try. Test dan try berasal dari Allah dan tujuannya adalah pertama, bukan dimaksudkan untuk berbuat dosa tetapi memampukan kita mengalahkan dosa. Kedua tidak dimaksudkan membuat kita menjadi jahat tetapi membuat kita lebih baik. Artinya, jika kita mendapatkan sesuatu ujian pasti tidak akan mendatangkan keburukan tetapi kebaikan. Ketiga, tidak dimaksudkan untuk memperlemah kita, tetapi membuat kia lebih kuat, murni atau suci. Keempat, bukan sebuah hukuman dari esensi manusia tetapi sebuah kehormatan bagi seorang manusia. Dalam Narasi Matius 4 ini, Iblis memang ingin menghancurkan Kristus dengan urusan-urusan di dalam dunia ini.

Dalam ayat 3 dikatakan, ”Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti." Dalam ayat 3 ini kita melihat ada double temptation yang dialamatkan oleh Iblis kepada Yesus. Kita melihat bagaimana Iblis menawarkan sesuatu untuk membuat Yesus tergoda untuk menggunakan kuasaNya secara egois. Inilah temptation yang pertama. Kedua adalah soal kebutuhan jasmani. Ketika Yesus dalam keadaan lapar, Iblis menyuruh Yesus mengubah batu menjadi roti untuk membuktikan bahwa Dia adalah anak Allah. Jika dalam kondisi yang kenyang, pasti pencobaan itu tidak berat. Berbeda dengan kondisi Yesus yang baru saja puasa selama 40 hari 40 malam. Kondisi Yesus pasti dalam keadaan lemah dan sangat lapar. Tetapi Yesus menang dengan prinsip yang Ia pegang teguh. Dalam ayat 4 dikatakan, ”Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. (Hal ini pararel dengan Ul 8:3, ”Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN). Dalam ayat 4 kita melihat bagaimana pentingnya sebagai pengikut Kristus, kita belajar untuk mengingat Firman Allah yang menjadi kekuatan atau senjata bagi kita untuk melawan Iblis. Itu sebabnya di dalam Efesus 6:17, Paulus mengatakan: ”...dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah,”. Pedang Roh adalah Firman yang digunakan sebagai senjata untuk melawan Iblis. Sebagai alumni yang bekerja dalam profesi, kita harus mengingat betapa pentingnya Firman Tuhan karena hanya Firman yang akan dibisikkan Roh kepada kita dan memampukan kita untuk tetap bertahan di dalam benteng kebenaran.

Kita melihat juga bahwa Yesus---yang punya kuasa dan kemampuan---tidak menggunakan kuasa dan kemampuan untuk kepuasanNya sendiri. Hal ini menjadi sebuah refleksi bagi kita. Bagaimana dan situasi apa yang membuat kita tergoda akhirnya dengan salah menggunakan kekuasaan (power, jabatan) dan kemampuan yang kita miliki untuk memuaskan keinginan kita? Yesus bisa mengubah batu menjadi roti, tetapi Ia tidak mau memakai kuasa itu secara sembarangan. Jika kita punya otoritas, jabatan atau power untuk melakukan apapun, mari kita belajar untuk menundukkan hal itu kepada Allah sehingga kita tidak menggunakannya dengan sembarangan. Sering sekali kita tidak membalaskan perlakuan jahat orang kepada kita bukan karena kita tidak ingin melakukannya tetapi karena kita tidak mampu melakukannya. Ingat, Yesus mampu dan mau melakukanya. Oleh sebab itu mari belajar untuk menundukkan semuanya kepada Allah.

Setelah puasa Yesus pasti sangat lapar. Tetapi dalam kondisi seperti itu Yesus mau menundukkan semua kondisi yang sangat terjepi, tertekan dan sangat lapar kepada Allah. Hal ini menjadi pembelajaran bagi kita. Kapan kita bisa tergoda? Apakah sewaktu kita terjepit, tertekan, kebelet atau dalam keadaan sulit sekali, apakah kita tergoda untuk tidak taat kepada Allah sehingga kita melakukan hal yang salah apakah dosa maupun mereduksi kebenaran? Yesus menang di dalam hal ini. Ingat, Iblis selalu mencobai kita dari sisi lemah kita. Jika kita lemah dalam hal seks, Iblis pasti akan menyerang dari arah sini. Dalam hal apapun kita lemah, semua dipakai Iblis untuk menyerang kita. Iblis tahu ketika Yesus lapar. Oleh sebab itu Iblis menawarkan makanan. Dan hal ini sering dilakukan Iblis kepada kita, para alumni, sehingga kita sering jatuh ke dalam dosa. Tetapi ingat apa yang dilakukan Yesus. Kekuatan kita bukan dari diri kita. Jika menghadapi pencobaan seperti ini mari menggunakan Firman Allah menjadi kekuatan kita untuk mengalahkan tipu daya si Iblis. Yesus menjawab godaan Iblis dengan jelas di dalam ayat 4, "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." Relasi Yesus dengan Bapa mengalahkan segala sesuatu di dalam kehidupanNya secara pribadi. Hal inilah yang penting kita miliki agar kita tidak digilas oleh zaman maupun ambisi kita. Yesus punya kuasa, kemampuan dan Dia sangat lapar, tetapi Dia tidak mau dipuaskan dengan cara menuruti godaan dari Iblis. Yesus ingin mentaati BapaNya di Surga.

Dalam ayat 5-6 kita melihat Iblis tidak langsung berhenti. Dikatakan di sana, ”Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu." Setelah Iblis gagal dari datu sisi, ia menyerang dari sisi yang lain. Pada bagian ini Iblis menyerang dengan tujuan agar Yesus meragukan kuasa Allah Bapa. Iblis membawa Yesus ke bubungan Bait Allah. Bubungan Bait Allah adalah sebuah tempat di mana imam berdiri untuk meniup terompet yang mengarah ke Hebron. Pada waktu pagi hari pertama (Minggu) dia meniup terompet sebagai tanda bahwa waktu untuk memberikan korban pagi telah tiba. Dari tempat inilah Iblis menyuruh Yesus melompat dan mengatakan bahwa malaikat akan menangkap Dia. Yesus pasti bisa melompat dan tidak terluka sama sekali. Tetapi bila hal ini diikuti Yesus, ini adalah sebuah tindakan yang sensasional. Tentunya tindakan ini tidak akan pernah menarik manusia datang kepadaNya. Tuhan pasti mampu melepaskan kita untuk tidak jatuh ketika melompat dari atap gedung berlantai 30 sekalipun. Dan Tuhan juga pasti mau. Allah mampu dan Allah mau. Tetapi ini adalah tindakan yang konyol dan bodoh. Artinya kita menempatkan diri kita dalam kondisi yang sulit yang seharusnya tidak perlu kita alami. Dan ketika kita masuk ke dalamnya, kita mengharapkan Allah menolong kita. Ini adalah tindakan konyol dan tidak Alkitabiah. Oleh sebab itu Yesus berkata kepada Iblis dalam ayat 7: ”Yesus berkata kepadanya: "Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”

Hal yang sama bisa terjadi di dalam perjalanan hidup kita. Iblis mencobai kita dan kita sendiri pun bisa melakukan hal yang salah dengan menempatkan diri kita dalam kondisi yang sulit karena egoisme dan kedagingan kita. Setelah ‘terantuk kaki’ baru kita minta tolong pada Tuhan. Ini adalah sebuah kebodohan. Jika kita melakukan tindakan seperti ini, Allah pasti mampu menolong. Tetapi persoalanya adalah, apakah tepat jika Allah melakukannya dengan cara seperti itu? Allah tidak bisa dicobai dan jangan bermain-main dalam hal ini. Yesus bisa melompat dan menyelamatkan diri dari bubungan. Tetapi Yesus tidak mau menggunakan hal itu dengan cara konyol. Dia tidak mau melakukan hal-hal yang sensasional, karena Dia tahu bahwa hal itu tidak akan membawa orang kepadaNya. Oleh sebab itu, jangan pernah berpikir untuk bermain-main dengan Allah dengan mencobai Dia. Hal seperti ini juga bukanlah cara untuk menggunakan kuasa Allah (ayat 7, band Ul 6:16, “Janganlah kamu mencobai TUHAN, Allahmu, seperti kamu mencobai Dia di Masa”; Kel 17:1-7). Tidaklah tepat membuat diri masuk dalam situasi bahaya atau terancam dan bertindak ceroboh dan tak perlu, lalu mengharap pertolongan Allah dalam situasi tersebut. Kapan kita tergoda untuk mau mencobai atau membuktikan kuasa dan kesetiaan Allah? Atau, kapan dan dalam situasi bagaimana kita tergoda untuk meragukan kuasa, kesetiaan, dan kebaikan Allah dalam hidup kita? Yesus dalam hal ini tidak pernah meargukan kuasa dan kesetiaan Allah, tetapi Yesus tetap tidak mau mencobai kuasa Allah.

Dalam ayat 8 dan 9 kita melihat Iblis tidak tinggal dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya,dan berkata kepada-Nya: "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku." Hal ketiga yang ditawarkan oleh Iblis adalah pencobaan dengan tawaran tahta dan harta. Kerajaan dunia dan segala kemegahan merupakan tawaran akan materialisme. Iblis juga menawarkan kekuasaan dunia tetapi dengan syarat Yesus menyembah Iblis. Tetapi tawaran Iblis ini tidak menggoyahkan Yesus karena dalam ayat 10 dikatakan: ”Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" Kekuasaan dan materialisme sering berjalan bersama. Dan inilah dua hal yang sering diambisikan manusia karena dianggap merukan kunci keberhasilan dan kebanggaan manusia. Ingat Mat 6:24, ”Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." Inilah pertentangan antara Allah dan mamon dan inilah kekuatan besar yang berjuang di dalam diri manusia. Oleh karena itu, sebagai pengikut Kristus, jangan pernah bergeser dari nilai hidup kita. Ketika kita ingin mendapatkan sesuatu, apakah hal tersebut hanya sekedar pemuasan untuk meraih sesuatu dan meyembah Iblis dan jauh dari Allah dan persekutuan. Jika hal ini yang terjadi, maka hal ini tidak benar dan tidak berkenan di hadapan Allah. Penyembahan berhala bukan hanya sekedar menyembah batu atau kayu, tetapi penyembahan berhala adalah ketika ada yang menggeser posisi Allah dalam hidup kita termasuk materialisme, teman hidup, kerja atau yang lain.

Kita sering berjuang antara memiliki dan menikmati. Dan dalam kenyataanya sering sekali kita hanya memiliki tanpa menikmati. Oleh sebab itu sangat penting contentment in Jesus --- having Jesus is more than enough. Hal inilah yang perlu kita latih. Mari belajar untuk memiliki kepuasan di dalam Kristus. Ketiga hal ini yang sering menjadi godaan bagi alumni. Mari melihat dan mengevaluasi hidup kita. Adakah kita secara egois menggunakan kuasa kita atau apakah kita karena kebutuhan yang sangat mendesak dan terjepit akhirnya melakukan dosa dan menggeser Allah dari kehidupan kita? Ingat, jangan pernah meragukan kuasa dan kesetiaan Tuhan. Dan jangan pernah menggeser nilai dan ambisi hidup kita sebagai pengikut Kristus oleh karena kuasa dan harta. Yesus dalam kondisi yang lemah dan lapar berhasil melawan semua godaan ini. Dan iniliah titik awal yesus masuk ke dalam pelayanan. Setelah Ia dibaptis, masuk dalam pencobaan dan setelah menang dari pencobaan Ia masuk ke dalam sebuah pelayanan. Hanya ketika kita bisa menang dalam kedagingan dan kuasa si jahat, di sinilah kita bisa dipakai oleh Allah untuk masuk dan bekarya untuk memuaskan hati Allah. Mai berjuang dalam hal ini dan mari belajar dari Kristus.

Ketika Yesus mengusir Iblis, Iblis meninggalkan Dia dan malaikat-malaikat datang melayani Yesus (ayat 11). Inilah adalah simbol kesenangan dari Allah. Allah senang melihat Kristus. Hal ini juga sekaligus lambang dari kemuliaan setelah menang melawan si jahat. Jangan pernah menyembah hal apapun dalam dunia kecuali menyembah Allah dengan kesetiaan kepadaNya.

Solideo Gloria!