Friday, October 2, 2009

Famliy bgn I- Rancangan Allah Bagi Keluarga

Pada zaman ini ketakutan-ketakutan terbesar dunia ada pada Global Warming yang mengakibatkan es meleleh, bom atom, perang dingin antara Negara Barat dan Timur, kelaparan atau penyakit seperti AIDS ataupun Flu Burung. Tetapi yang menjadi bahaya sebenarnya yang terbesar yang harus ditakuti dunia ini adalah kehancuran keluarga. Hal ini dapat menjadi demikian karena kehancuran keluarga dapat bermuara kepada kehancuran dunia. Sadar atau tidak, cepat atau lambat, semuanya itu akan terjadi. Oleh sebab itu ada beberapa ancaman dalam keluarga yang dapat menimbulkan kehancuran. Misalnya seperti pernikahan tanpa dasar yang jelas. Pernikahan yang terjadi hanya karena ketepatan bertemu, saling suka, lalu menikah. Selesai! Kemudian jika tidak suka lagi lalu diceraikan. Pernikahan tanpa arah dan tujuan juga dapat menimbulkan kehancuran, karena sebenarnya, dalam pernikahan ada visi. Pernikahan tanpa visi akan bermuara pada kehancuran dan tidak akan pernah masuk dalam rencana Allah untuk satu keluarga yang benar. Tanpa visi, maka pernikahan hanya untuk kesenangan semata. Hal ini menyebabkan kriteria kita dalam mencari pasangan menjadi dangkal. Kriteria hanya sebatas senang, cantik atau ganteng dan gampang cerai dan kemudian menikah lagi. Ini semua karena pernikahan hanya sekedar pleasure. Ada satu kelompok di negara-negara maju (termasuk Jakarta) di mana mereka terdiri dari 20 pasang suami isteri dan sekali seminggu mereka tukar pasangan. Sungguh aneh bukan?
Keadaan ini semakin diperparah dengan hilangnya cinta sejati. Pasangan suami isteri tidak cerai hanya karena diikat oleh adat atau kondisi masyarakat ataupun karena Firman Tuhan. Jika bukan karena Firman Tuhan, sudah lama pasangannya diceraikan. Ada penyesalan karena telah menikah dengan si “dia”. Jangan pernah berpikir bahwa keadaan ini hanya bagi mereka yang belum mengenal Tuhan, banyak anak Tuhan mengalami kejadian ini. Kehilangan cinta sejati memunculkan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Banyak KDRT terjadi pada zaman sekarang ini. KDRT bukan sekedar tindakan fisik yang menyakiti, tetapi ketika isteri tidak lagi menikmati kasih sayang suami pun sudah termasuk KDRT. Bahkan ketika suami diabaikan oleh isteri pun termasuk KDRT. Banyak anak yang tersiksa sekarang, selain fisik, anak pun kehilangan kasih sayang. Hal yang sama banyak terjadi pada suami atau isteri. Ini adalah rancangan iblis untuk mengancurkan keluarga.

Di dalam keluarga pada masa kini juga terjadi desakralisasi pernikahan. Bagi orang Batak, pada beberapa tahun lalu, menganggap perceraian adalah hal yang tabu. Tetapi sekarang, perceraian bukan sesuatu yang tabu. Desakralisasi pernikahan terjadi karena banyak para suami yang punya perempuan simpanan atau sebaliknya. Dalam keluarga juga terjadi demoralisasi. Pernikahan mengalami penurunan secara moral. Keluarga tidak lagi mempertimbangkan hal-hal moral. Yang ada adalah penindasan dan penganiayaan. Inilah ancaman bagi keluarga masa kini.

Mari kita melihat apa sebenarnya rancangan Allah bagi keluarga. Mari kita melihat Kej 1:27-28. Setelah Allah menciptakan langit dan bumi, maka Allah menciptakan manusia. Allah menciptakan laki-laki dan perempuan. Ini adalalah rancangan Allah bagi pernikahan. Oleh sebab itu, pernikahan adalah pernikahan yang lain jenis. Homo dan lesbi, jelas, bukan rancangan Allah. Ranca- ngan Allah bagi pernikahan adalah untuk prokreasi. Perhatikan ayat 28, ”Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka, ”Beranakcuculah dan bertambah banyak...”. Walaupun orang menikah tidak selamanya harus punya anak. Ketika Abraham menikah dengan Sarah, Allah memiliki rancangan melalui prokreasi mereka, yaitu anak perjanjian, Ishak. Walaupun hal ini ternoda oleh karena tindakan Sarah dan Abraham, ketika Sarah mengusulkan kepada Abraham untuk menikah dengan Hagar. Allah merencanakan satu pernika han yang agung dengan janji ke depan yang luar biasa, supaya melalui keturunan Abraham, lahir keturunan Ilahi, yang akan menjadi berkat bagi banyak orang. Dalam ketidaktaatan, rancangan Allah bisa terkontaminasi. Oleh sebab itu, mari kita pikirkan bagaimana kita berpacaran, ”Apakah ketika aku menikah dengan dirinya, rancangan Allah terjadi melalui pernikahan kami?” Jika tidak, hubungan harus direvisi kembali. Jangan merasa rugi untuk berpisah walaupun dia cantik atau ganteng.

Mari melihat rancangan Allah bagi pernikahan dalam kisah Boas dan Rut. Dari pernikahan mereka turun sampai ke Daud dan sampai kepada Kristus. Inilah rancangan Allah bagi pernikahan. Bukan sebatas menikah atau punya anak. Tetapi Allah memiliki maksud yang jauh ke depan dalam menjalankan rencananya melalui pernikahan. Adakah anda dan saya masuk dalam rencana Allah dalam pernikahan atau kita jauh dari rancangan Allah. Perhatikan Yusuf dan Maria. Ada satu noda dan malu yang besar di mana seorang pemuda menikah dengan wanita yang hamil di luar nikah. Secara logika Yusuf sulit menerima Maria (yang sudah mengandung oleh Roh Kudus). Tetapi pernikahan Yusuf dan Maria di dalam rencana Allah, yang secara sosial terhina dan disingkirkan, tetapi dibalik semuanya ini ada satu rancangan Allah yang kekal. Oleh karena itu Yusuf berani mengambil Maria menjadi isterinya. Apakah kita (para Alumni) berani mengambil langkah seperti ini? Misalnya kita diperintahkan Tuhan untuk mengambil wanita yang lebih tua menjadi isteri kita, tetapi rencana Allah nyata di dalam hal ini, beranikah kita melangkah untuk menikah dengan dia? Atau wanita/pria tersebut jauh dari kriteria kita, tetapi Tuhan menanamkan hati ke dalam diri kita bahwa Ia memiliki rencana di dalam pernikahan kita dengan pasangan kita, apakah kita akan tetap menikahinya? Jadi, ketika berencana dan berpikir untuk menikah, kita harus melihat apakah kita masuk di dalam lingkaran atau bingkai rencana Allah, maka melangkahlah dengan iman. Ingat, kehancuran yang paling banyak saat ini terjadi melalui keluarga.

Dari ayat 28 kita dapat melihat bahwa, pernikahan masuk dalam culural mandate, agar melalui keluarga yang dibentuk Allah ini dapat berkarya. Keluarga ini tidak mengeksploitasi dunia, tetapi mengeksplorasi dunia demi kesejahteraan manusia di bumi. Karena itu, tidak akan pernah keluarga yang merupakan rancangan Allah mengalami dehumanisasi, tetapi yang terbaik adalah harkat pasangannya semakin ditinggikan. Banyak kasus di mana terjadi dehumanisasi terhadap isteri, suami, ataupun anak. Banyak kasus dimana seorang ibu membunuh anaknya sendiri, dan banyak kasus lainnya. Keluarga yang merupakan rancangan Allah akan terhindar dari hal-hal seperti ini, dan justru keluarga ini akan menikmati kasih dan kebaikan Allah melalui pernikahan yang terjadi. Melalui keluarga yang merupakan rancangan Allah, maka suami atau isteri berkarya/masuk ke dalam mandat Ilahi, yaitu penuhi-taklukkan-kuasai. Keluarga sebagai lembaga pertama yang dibentuk oleh Allah berkarya membuat bumi terpelihara dan dikelola sedemikian rupa agar bumi tidak semakin hancur. Tetapi, dalam kenyataannya, banyak keluarga yang tidak hanya hancur tetapi ikut menghancurkan dunia ini. Keluarga sebagai rancangan Allah juga menjadi sarana untuk menghadirkan salom di dunia ini. Keluarga harus menjadi miniatur surga di bumi. Dalam kenyatannya banyak keluarga menjadi penjara, di mana antara suami dan isteri sering terjadi pertengkaran yang hebat, sehingga anak-anak yang tidak menikmati kasih sayang orang tuanya lari kepada kehidupan malam ataupun obat-obatan terlarang. Menurut penelitian, hampir 70% anak-anak dan pemuda di Amerika terlibat dalam kriminalitas dan narkoba adalah karena mereka kehilangan kasih sayang di rumahnya. Keluarga yang menghadirkan salom dan damai sejahtera tidak akan pernah muncul kecuali melalui anak-anak Allah. Jadi, dalam menuju pernikahan, kita harus bertanya apakah pasangan kita akan menikmati kebaikan dan kasih Allah melalui diri kita. Orang akan mengetahui bahwa Allah itu baik dan sayang adalah dari kebaikan dan rasa sayang yang kita tunjukkan. Pasangan kita mengetahui bahwa Allah itu baik melalui kebaikan kita. Jika kita tidak baik, bagaimana mungkin dia melihat Allah itu baik? Pernyataan kasih, sifat dan karakter Allah, terpancar dari anak-anak Allah.

Bagaimana bentuk keluarga dalam rencana Allah? Mari melihat Kej 2:18-25. dari bagian ini kita akan melihat beberapa bentuk keluarga dalam rencana Allah.

1. Pernikahan/keluarga adalah inisiatif atau prakarsa sesuai dengan rancangan Allah (18) [band Mat 19:5-6]. Allah melihat kebutuhan manusia, dan Allah bertindak. Dalam Mat, kata yang pakai adalah ”dipersatukan” dimana hal ini berarti Allah yang aktif dan manusia pasif dan ini berarti pernikahan adalah inisiatif dan prakarsa Allah. Jadi, jika anda belum menikah di dalam rancangan Tuhan, berarti kita harus berkata, ”Menurut Tuhan masih aku sendiri.” jika menurut Allah tidak baik, pasti Tuhan akan memberikannya. Oleh karena itu jangan mengeluh.

2. Allah mengetahui dan melihat kebutuhan manusia (18).

3. Allah yang mengetahui, Dia juga menyediakan dan memberi (18, 21). Jika Tuhan melihat anda membutuhkan pasangan, pasti Tuhan sediakan.

4. Yang diberikan Allah (sesuai rancanganNya) adalah penolong yang sepadan. Jangan menikah agar ada yang mencuci pakaian atau menyediakan makanan bagi kita. Isteri tidak pernah jadi pembantu. Apa yang Allah berikan adalah penolong, yang maksudnya saling melengkapi. Tujuan Allah memberikan penolong dalam ranca- nganNya bagi keluarga adalah penolong yang sepadan dimana olehnya keduanya bertumbuh dan maksimal mengerjakan rancangan Allah.

5. Dalam ayat 23 dikatakan bahwa manusia itu berkata, ”Lalu berkatalah manusia itu, ”Inilah dia tulang dari tulangku dan daging dari dagingku, ...”. Keluarga dalam rancangan Allah akan melahirkan satu kesatuan yang sem- purna. Oleh sebab di dalam keluarga seperti ini tidak akan terjadi saling melukai atau menghancurkan. Oleh sebab itu, jika kita menyakiti pasangan kita, hal itu berarti kita menyakiti diri kita sendiri. Karena pasangan suami isteri tidak lagi dua tetapi menjadi satu.
Menjadi satu bukan berarti menghilang- kan/mengabaikan perbedaan antara suami dan isteri. Perbedaan kita tetap ada. Perbedaan karakter, pola pikir, latar belakang, akan tetap ada. Justru di dalam perbedaan itulah kita saling melengkapi, saling membangun dan menguatkan dan menolong. Kemudian kedekatan itu membuat keluarga saling menghargai dan tidak mau melukai pasangannya.

6. Keluarga dalam rancangan Allah adalah keluarga yang mandiri dan dewasa. Mari lihat ayat 24, ”Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” Keluarga ini mandiri dalam hal :
• Lepas dari ketergantungan pada orang lain, apakah secara finansial, semosi, karakter, dll.
• Merdeka dari intervensi pihak lain. Banyak kasus dimana keluarga hacur karena pihak mertua, adik, atau keluarga yang lain.
• Mampu menghadapi dan menyele- saikan persoalan konflik yang ada bersama-sam di dalam Tuhan (walau dalam beberapa kasus, pihak luar seperti konselor dibutuhkan sebagai alat Tuhan). Apapun kelemahan pasangan kita, jika keluarga kita adalah rancangan Allah, maka selesaikan bersama-sama di hadapan Allah. Ingat, konflik tidak mungkin tidak ada dan jangan takut dengan konflik. Kita harus menghadapi konflik dengan cara Allah, agar konflik tersebut tidak menjadi bumerang dalam pernikahan dalam satu keluarga.

7. Dalam ayat 25 dikatakan, ”5 Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.” Inilah intimacy yang baik dan openess-keterbukaan. Oleh karena itu dalam hubungan suami isteri mereka tidak malu untuk telanjang. Tetapi bukan dalam hal seks, tetapi ada keterbukaan dan tidak merasa malu mengakui kelemahan dan kekurangan. Oleh sebab itu jika kita sedih, katakan kepada pasangan kita bahwa kita sedih. Hal ini bisa mengangkat beban yang kita miliki. Oleh sebab itu penting sekali keterbukaan dan kejujuran. Jangan sampai ada rasa curiga dan ketidak percayaan antara suami dan isteri.

Soli Deo Gloria!

Saturday, May 16, 2009

Eksposisi Rut 3 (2009) - 12 Resep Meraih Cinta (Rut Pasal 3)

[Kotbah ini dibawakan oleh Denni Boy Saragih, M. Div pada ibadah Mimbar Bina Alumni, Jumat, 6 Maret 2009]


Hari ini kita akan membahas Rut pasal tiga ini di bawah judul ’12 Resep Meraih Cinta’. Mari melihatnya satupersatu.

1. Terbukalah Kepada Saran Seorang yang Rohani

Ayat 1 mengatakan, “Lalu Naomi, mertuanya itu, berkata kepadanya: "Anakku, apakah tidak ada baiknya jika aku mencari tempat perlindungan bagimu supaya engkau berbahagia?”

Dari ayat pertama ini ita melihat saran yang pertama, yaitu terbukalah kepada saran seorang yang rohani. Hal ini perlu dilakukan karena seorang yang rohani biasanya memiliki kebijaksanaan. Dalam ayat ini juga kita melihat dengan jelas bahwa saran Naomi untuk Rut ditujukan demi kebahagiaan Rut. Melalui ayat 1 ini juga kita melihat setelah terbuka kepada saran juga tidak menutup inisiatif perempuan. Memang biasanya laki-lakilah yang berinisiatif, tetapi tidak menutup kemungkinan yang pertama sekali mengambil inisiatif untuk menemukan atau mengutarakan isi hatinya. Inisiatif bukan hanya datang dari seorang yang ingin menemukan pacar tetapi bisa juga datang dari kakak PA atau orang bijaksana yang ada di sekeliling kita. Oleh sebab itu jika ada seorang yang rohani mengatakan saran kepada kita jangan langsung menolak dan menutup hati. Tuhan bisa bekerja melalui orang-orang lain di sekeliling kita dan yang mencintai Tuhan.


2. Terbuka Kepada Keadaan yang Ada

Ayat 2 mengatakan, “Maka sekarang, bukankah Boas, yang pengerja-pengerjanya perempuan telah kautemani itu, adalah sanak kita? Dia pada malam ini menampi jelai di tempat pengirikan.”
Dari ayat ini kita melihat bahwa Rut telah mengenal Boas. Boas sebenarnya sudah cukup berumur. Hal ini dapat kita lihat dengan bagaimana dia memanggil Rut dengan “Anakku!” Resep kedua adalah terbukalah pada keadaan yang ada. Rut telah mengenal Boas dan Boas sepertinya memiliki rasa cinta kepada Rut ini. Buktinya disengaja menjatuhkan bulir gandum agar Rut mendapat banyak hasil. Mari terbuka dalam keadaan yang ada. Jika umurnya jauh di atas kita, jangan langsung menolak. Ada juga orang tidak terbuka karena suku yang berbeda. Tidak mau kepada seseorang karena dia suku tertentu yang berbeda dengan sukunya. Kita juga tidak terbuka karena jenis pekerjaan yang berbeda. Mungkin kita sudah mapan yang dijodohkan dengan seorang guru SD. Kita harus terbuka dengan keadaan yang ada. Mungkin seseorang inilah calon terbaik yang Tuhan persiapkan. Jangan karena ada yang kurang kita menjadi tertutup.

3. Berdandanlah yang Terbaik, Sebab Keindahan Adalah Anugerah Tuhan.

Ayat 3 mengatakan, ”maka mandilah dan beruraplah, pakailah pakaian bagusmu dan pergilah ke tempat pengirikan itu. Tetapi janganlah engkau ketahuan kepada orang itu, sebelum ia selesai makan dan minum.”

Sewaktu kita berbicara masalah cinta, kita tidak bisa menyangkal bahwa kita sebagai anak Tuhan perlu berdandan yang terbaik sebab keindahan adalah anugerah Tuhan. Perhatikan apa yang Naomi katakan kepada Rut dalam ayat 3 ini. Seperti Rut yang bertemu dengan Boas, kita juga jika ingin bertemu dengan seseorang itu sebaiknya berdandan.

Kita perlu menebus keindahan karena beberapa anak Tuhan mengatakan being beauty or handsome adalah dosa. Tidak! Kecantikan dan keindahan adalah anugerah Tuhan. Oleh sebab itu sangat wajar kita menghargai keindahan sebagai anugerah Tuhan. Mungkin yang menjadi konsep kita adalah adanya prioritas inner beauty. Hal ini memang perlu. Sebenarnya keindahan itu pada prinsipnya adalah satu keindahan dari dalam yang terpancar keluar. Itulah yang disebut dengan inner beauty. Di sini kadang-kadang perlu waktu untuk menghayati kecantikan. Ada kasus-kasus yang unik dan sering terjadi dimana semakin dikenal semakin cantik. Hal ini terjadi karena orangnya lemah lembut, perhatian, humoris, kreatif, pembersih, pintar masak, dll. Sama juga halnya dengan seseorang yang semakin lama dikenal semakin jelek. Memang pertama kali melihat wajahnya seperti artis, tetapi semakin lama menjadi tidak cantik. Hal ini karena dia orangnya keras kepala, suka omong besar, mau menang sendiri, pembohong, penjorok, dll.

Inner beauty menjadi outer expression. Inner beauty harus dipancarkan melalui outer expression. Sebenarnya seseorang ini cantik, tetapi karena dia tidak pintar mempercantik diri, segan pakai bedak atau lipstick atau minyak wangi, dia menjadi kelihatan tidak cantik (good looking)


4. Beranilah Mengambil Resiko Menyatakan Cinta

Dalam ay 4-5 dikatakan, "Jika ia membaringkan diri tidur, haruslah engkau perhatikan baik-baik tempat ia berbaring; kemudian datanglah dekat, singkapkanlah selimut dari kakinya dan berbaringlah di sana. Maka ia akan memberitahukan kepadamu apa yang harus kaulakukan." Lalu kata Rut kepadanya: "Segala yang engkau katakan itu akan kulakukan."

Ketika Rut meresponinya dalam ayat 5, dia sedang mengambil resiko. Tidak ada jaminan jika Rut melakukan hal ini maka Boas membalas cintanya. Bisa terjadi skenario di mana Boas menganggap Rut pengganggu atau terjadi penolakan. Cinta itu harus perkasa. Artinya cinta harus berani walaupun ada kemungkinan ditolak. Kenapa cowok terkadang takut menyatakan adalah karena takut ditolak. Jangan takut ditolak. Kita harus belajar menjadi Kristen yang gentlement. Jangan hanya berani kirim-kirim sinyal tetapi tidak berani mengakui cintanya. Mari berani mengambil resiko untuk menyatakan cinta. Tetapi hati-hati dan jangan sembrono menyatakan cinta. Maksudnya adalah setiap minggu menyatakan cinta kepada orang yang berbeda. Jika telah kita doakan dan gumulkan segere nyatakan dan jangan menyatakan cinta hanya jika karena sudah pasti diterima. Mari berani mengambil resiko untuk menyatakan cinta.


5. Temukanlah Waktu yang Tepat

Ayat 7a mengatakan, “Setelah Boas habis makan dan minum dan hatinya gembira, datanglah ia untuk membaringkan diri tidur pada ujung timbunan jelai itu."

Resep kelima adalah temukan waktu yang tepat untuk menyatakannya. Dengan kata lain tempat, waktu, dan situasi yang tepat. Waktu kita menyatakan cinta penting untuk mencari tempat dan situasi yang tepat. Hal ini membutuhkan hikmat.

6. Kirimkanlah Pesan Cinta

Ayat 7b mengatakan, ”... Kemudian datanglah perempuan itu dekat dengan diam-diam, disingkapkannyalah selimut dari kaki Boas dan berbaringlah ia di situ.”

Pesan dalam kisah ini, ‘disingkapkannyalah selimut dari kaki Boas’, sangat kultural sekali.
Ada banyak beberapa penafsiran akan peristiwa ini akan apa sebenarnya yang terjadi. Ada orang menafsirkan bahwa Rut dan Boas melakukan hubungan suami isteri (tafsiran orang liberal). Tetapi jika kita membaca cerita yang terjadi kemudian dan kata-kata yang digunakan bagaimana Boas menyebut Rut sebagai perempuan baik-baik, konotasi ke arah sana bisa kita hapuskan. Tidak ada alasan yang kuat bahwa Rut melakukan hubungan suami isteri dengan Boas.

Yang terjadi adalah, secara budaya, Rut mengirimkan pesan kepada Boas bahwa dia ingin Boas menjadi suaminya. Rut sungguh-sungguh memberikan pesan yang jelas kepada Boas. Ini adalah mengenai bagaimana kita menakar sebuah pesan. Apakah tidak salah jika seorang perempuan memberikan pesan kepada pria bahwa dia ingin menjadi pasangan pria tersebut atau bagaimana seorang pria menyatakan cintanya kepada wanita langsung bicara bahwa dia bukan hanya sekedar cari pacar tetapi langsung menikah. Untuk hal-hal seperti inipun kita harus terbuka. Kita perlu menakar dengan baik dan terbuka dengan takaran yang diberikan pasangan kita.

7. Responilah Ungkapan Cinta dengan Kasih yang Lemah Lembut

Dalam ayat 8-10 dikatakan, “Pada waktu tengah malam dengan terkejut terjagalah orang itu, lalu meraba-raba ke sekelilingnya, dan ternyata ada seorang perempuan berbaring di sebelah kakinya. Bertanyalah ia: "Siapakah engkau ini?" Jawabnya: "Aku Rut, hambamu: kembangkanlah kiranya sayapmu melindungi hambamu ini, sebab engkaulah seorang kaum yang wajib menebus kami." Lalu katanya: "Diberkatilah kiranya engkau oleh TUHAN, ya anakku! Sekarang engkau menunjukkan kasihmu lebih nyata lagi dari pada yang pertama kali itu, karena engkau tidak mengejar-ngejar orang-orang muda, baik yang miskin maupun yang kaya.”

Kita bersyukur mendapatkan bahwa Boas menerima cinta Rut. Tetapi kita tahu bahwa tidak semua orang diterima cintanya. Pelajaran penting yang bisa kita lihat dalam ayat ini adalah sewaktu Rut menyatakan cintanya, Boas tidak menanggapinya dengan tergopoh-gopoh. Dia bertanya dengan baik-baik. Di sini ada ungkapan yang lemah lembut dalam meresponi pernyataan Rut, yang sebenarnya mengejutkan Boas.

Oleh sebab itu sering dianjurkan, jika ada orang yang menyatakan cinta jangan langsung ditolak. Mungkin kita sudah memiliki tambatan hati yang lain. Tetapi bukan merupakan tindakan yang bijaksana untuk langsung mengatakan ’Tidak!’ kepada orang yang menyatakan cintanya kepada kita. Walaupun kita harus menolak seseorang, kita harus melakukannya dengan kasih yang lembut. Apapun yang kita rasakan dengan seseorang kita harus belajar menghargai bahwa dia adalah seorang anak Tuhan. Cinta harus dipegang dengan hati-hati dan diresponi dengan lemah lembut.

8. Mengungkapkan Hati dengan Sopan

Mari sekali lagi melihat ayat 9. Apa yang kita bisa lihat dari ayat 9? Dari pasal sebelumnya kita mengetahui bahwa sebenarnya Boas punya kewajiban untuk menikahi Rut dan menebus dia. Sebenarnya ada unsur kewajiban. Tetapi ketika Rut berbicara kepada Boas, dia tidak sedang berbicara soal kewajiban tetapi juga permohonan dan kerinduannya. Dalam konteks sekarang, di sinilah kita perlu menerapkan penting keseimbangan antara keyakinan dan kebebasan. Sering sekali mereka yang ’yakin’ akan pimpinan Tuhan memaksakan kehendak mereka kepada orang yang didoakan. Kalaupun kita yakin, biarlah dia yakin bukan karena manipulasi psikologis yang akhirnya membuat dia terpaksa yakin. Ungkapkan hati dengan sopan dan terbuka bahwa keyakinan kita bisa saja tidak benar. Dalam mencari teman hidup ada empat situasi yang terjadi. Pertama, kita yakin dia pimpinan Tuhan, tetapi dia tidak yakin kita pimpinan Tuhan. Dalam hal ini kita harus menghargai kebebasan dan menghargai keyakinannya. Kedua, kita yakin dan dia juga yakin. Ini adalah keadaan yang ideal seperti Rut dan Boas. Ketiga, awalnya kita yakin tetapi pada akhirnya kita tidak yakin padahal dia sudah yakin. Ini adalah situasi yang sangat menjebak. Keempat, kita tidak yakin dan dia pun tidak yakin.


9. Ketika Cinta Berbalas Cinta

Ayat 10-11 mengatakan, ”Lalu katanya: "Diberkatilah kiranya engkau oleh TUHAN, ya anakku! Sekarang engkau menunjukkan kasihmu lebih nyata lagi dari pada yang pertama kali itu, karena engkau tidak mengejar-ngejar orang-orang muda, baik yang miskin maupun yang kaya. Oleh sebab itu, anakku, janganlah takut; segala yang kaukatakan itu akan kulakukan kepadamu; sebab setiap orang dalam kota kami tahu, bahwa engkau seorang perempuan baik-baik.”

Ketika cinta berbalas dengan cinta maka tetaplah pada prinsip-prinsip yang utama. Seringsekali ketika kita telah jatuh cinta kita merasa tidak perlu membahas hal-hal lain. Hal yang salah jika kita berpikir bahwa bicara cinta saja sudah cukup di dalam berpacaran. Meskipun sama-sama suka perlu dipertegas. Inilah yang terjadi dalam ayat 10 dan 11. Di sini Boas membuat tiga hal yang dia nilai positif dari karakter Rut. Pertama, kasih Rut yang nyata kepada Naomi. Ketika Rut memilih menikah dengan Boas itu adalah kelanjutan dari Rut yang mau memelihara kehidupan Naomi. Boas melihat bagaimana Rut dalam mendekatinya sedang berjuang agar Naomi dipulihkan. Ini adalah poin penting karena Boas menyadari pasti Naomilah yang menyuruh sehingga Rut datang menjumpai Boas. Rut sebenarnya pasti tidak mengerti mengenai ’membuka selimut’ atau ’pergi ketempat pengirikan’ dan oleh sebab itulah Boas langsung mengetahui bahwa pasti ada yang mengajari Rut dan orang tersebut pasti Naomi. Oleh sebab itulah, Boas langsung menyimpulkan bahwa kasihnya Rut itu nyata.
Kedua, Boas juga menekankan bahwa Rut tidak mengejar yang muda. Kelihatannya Boas sadar bahwa Rut cukup cantik dan mampu mendapatkan yang lebih muda dan kaya. Tetapi Rut tahu, walaupun dia orang asing, dia menunjukkan ketaatannya, dia datang kepada boas, dia mengikuti perintah Naomi. Ketiga, Boas juga melihat bahwa Rut adalah perempuan yang baik-baik sebab di ayat 11 Boas berkata kepada Rut, ” sebab setiap orang dalam kota kami tahu, bahwa engkau seorang perempuan baik-baik.”

Ketika cinta berbalas dengan cinta, maka hal-hal prinsip makin penting untuk dieksplisitkan. Ada memang tempat untuk DDH (Debar-Debar Halus). Tetapi hal-hal prinsip harus dibahas secara mendalam. Pacaran orang Kristen itu jangan activity centre, tetapi harus dialog centre. Dalam pernikahan yang banyak adalah dialog oleh sebab itu dalam berpacaran mari membiasakan berdialog, membicarakan hal-hal penting dan prinsip, pelayanan, gereja, dll.

10. Mengikuti Adat Sebagai Sebuah Kerohanian

Ayat 12-13 mengatakan, ”Maka sekarang, memang aku seorang kaum yang wajib menebus, tetapi walaupun demikian masih ada lagi seorang penebus, yang lebih dekat dari padaku. Tinggallah di sini malam ini; dan besok pagi, jika ia mau menebus engkau, baik, biarlah ia menebus; tetapi jika ia tidak suka menebus engkau, maka akulah yang akan menebus engkau, demi TUHAN yang hidup. Berbaring sajalah tidur sampai pagi."

Dari ayat ini kita melihat prinsip yang kesepuluh, yaitu ikutilah adat istiadat sebagai sebuah kerohanian. Dalam adat Israel memang ada menebus kaum kerabat. Kaum kerabat ini juga ada level-levelnya. Ada yang dekat dan ada yang jauh. Kelihatannya Boas bukan dari yang terdekat karena ada kerabat lain yang lebih berhak. Hal ini mungkin terjadi karena Naomi melihat Boas cocok dengan Rut. Naomi tahu yang lain tidak akan mau menebus Rut karena itu Naomi tidak menyuruh Rut kepada yang lain tetapi kepada Boas. Meskipun demikian Boas tidak langsung melakukannya, tetapi bertanya kepada kerabat lain yang lebih berhak menebus. Boas adalah orang yang taat kepada adat istiadat di mana dia tinggal supaya mereka menjadi kesaksian bagi sekeliling mereka.

Sebagai anak-anak Tuhan kita harus menyadari menghargai hal ini. Sering kali ada anak Tuhan yang modern sampai mengatakan tidak perlu adat. Jika kita juga mengatakan tidak perlu adat berarti kita tidak menghayati adat. Sebenarnya jika kita menghayati adat maka kita menemukan bahwa adat istiadat adalah sesuatu yang indah. Jadi sebagai orang Batak, kita perlu belajar dan menghayati adat istiadat yang kita miliki sebagai bentuk kerohanian bahwa di situ juga kita bisa memuliakan Tuhan. Tuhan menempatkan kita dalam budaya yang khusus oleh sebab itu mari menghormati dan perkaya sesuai dengan karunia yang Tuhan berikan.

11. Berikan Tempat yang Bijak Bagi Rahasia, Etika, dan Kesaksian

Mari kita lihat ayat 13-15, ”Tinggallah di sini malam ini; dan besok pagi, jika ia mau menebus engkau, baik, biarlah ia menebus; tetapi jika ia tidak suka menebus engkau, maka akulah yang akan menebus engkau, demi TUHAN yang hidup. Berbaring sajalah tidur sampai pagi." Jadi berbaringlah ia tidur di sebelah kakinya sampai pagi; lalu bangunlah ia, sebelum orang dapat kenal-mengenal, sebab kata Boas: "Janganlah diketahui orang, bahwa seorang perempuan datang ke tempat pengirikan." Lagi katanya: "Berikanlah selendang yang engkau pakai itu dan tadahkanlah itu." Lalu ditadahkannya selendang itu. Kemudian ditakarnyalah enam takar jelai ke dalam selendang itu. Sesudah itu pergilah Boas ke kota.”

Di dalam ayat ini kita menemukan kalimat Boas ’Janganlah diketahui orang’. Tetapi dalam ayat ini juga kita melihat ada jaminan bahwa Boas tidak akan berpura-pura tidak kenal dengan memberikan gandum untuk dibawa pulang sebagai buktinya.

Memang dalam masalah cinta ini ada tempat untuk rahasia. Ada hal-hal yang memang tidak perlu diungkapkan kepada publik. Ada tempat untuk rahasia dan saling menjaga rahasia masing-masing. Live in private.


12. Nantikan dan Harapkan Cinta Mengambil Langkah Komitmen Menuju Rumah Tangga

Ayat 18 mengatakan, ”Lalu kata mertuanya itu: "Duduk sajalah menanti, anakku, sampai engkau mengetahui, bagaimana kesudahan perkara itu; sebab orang itu tidak akan berhenti, sebelum diselesaikannya perkara itu pada hari ini juga.”

Resep ke 12 adalah nantikan dan harapkalah cinta mengambil langkah komitmen menuji rumah tangga. Ada waktunya kita menunggu dan ada waktunya kita bertindak. Pada waktu menunggu mari kita menunggu dan pada waktu bertindak mari kita bertindak. Jangan waktu menunggu kita bertindak dan pada waktu berindak kita menunggu.

Christian Ethic 3 Situational Ethic

Christian Ethic 3

Situational Ethic
By: Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div

Hari ini kita akan membahas bagian ketiga dari seri Christian Ethic, yaitu Situational Ethic. Di dalam perkembangan postmodernisme, ada muncul fenomena yang disebut dengan Etika Situasi. Sejak abad 20 (1940-an) muncul sebuah aliran baru dalam bidang etika, yaitu Etika Situasi yang dipelopori oleh Joseph Fletcher (1905-1991), seorang Episkopal Moralis Amerika. Dia berpendapat bahwa teologia moral Kristen tradisional tidak sesuai dengan Injil karena Injil sudah ketinggalan zaman dan tidak relevan lagi untuk menjawab kebutuhan perkembangan teologia dan praktika hidup masa kini. Hal ini terjadi karena satu pemahaman bahwa apa yang dialami dan dilakukan oleh Yesus Kristus tidak relevan lagi dan Kristus sendiripun dalam menjalankan hidupnya, secara praktikal, didasarkan pada Etika Situasi. Fletcher berkata bahwa hanya satu dasar prinsip moralitas, yaitu cinta kasih (agape : self-giving love). Inilah dasar untuk melakukan segala sesuatu dan hal ini bersifat hipotetis dan relatif. Bersifat hipotetis artinya sesuatu dipahami sebagai bukan sebuah kesimpulan yang mutlak. Oleh sebab itulah dalam Etika Situasi tidak ada sesuatu yang mutlak dan yang terjadi adalah relatifisme. Menurut Fletcher yang terpenting adalah cinta kasih. Jadi Fletcher menyimpulkan bahwa perbuatan dilihat bukan sebagai perbuatan jahat atau baik, betul atau salah, melainkan apakah sesuai atau tidak dengan situasinya. Jadi sesuatu yang dilakukan akan menjadi benar jika situasi menuntut demikian dan menjadi sesuatu yang salah jika situasinya tidak menuntut demikian.

Oleh sebab itu berbohong itu tidak boleh langsung dikatakan salah atau benar. Berbohong baru bisa dikatakan benar atau salah jika kita melihat situasi dimana bohong itu dilakukan. Dalam pemahaman ini, jika seseorang berbohong dan situasi yang ada menuntut dia untuk berbohong, maka pada hekekatnya berbohong itu tidak salah. Demikian juga halnya dengan premarital-sex, dimana hal ini tidak akan menjadi sesuatu yang salah atau benar jika situasi menuntut hal tersebut. Jadi, atas nama cinta, premarital-sex dapat dilakukan. Sama juga dengan aborsi, berzinah dan pembunuhan dengan sendirinya secara moral tidak jahat bila merupakan cara yang paling tepat untuk mengungkapkan cinta kasih dalam situasi konkrit. Inilah yang disebut relativisme akibat daripada postmodernisme yang berkembang zaman sekarang ini.

Cinta kasih harus terlaksana sementara norma serta moralitas agama tidak akan mengikat bila tidak sesuai dengan tuntutan cinta kasih. Kasihlah yang mengatasi segala-galanya. Hal ini muncul karena Allah adalah Kasih, dan Kasih juga adalah dasar teologia Kristen dan harus diwujudkan, dan kasih juga melampaui segala-galanya melebihi iman dan pengharapan. Jadi atas nama kasih, semuanya bisa dilakukan. Karena itu mencintai berarti mendukung sesama dalam eksistensinya dan perkembangannya, yakni mendukung agar dia berada dalam keadaan baik maka kita bisa melakukannya. Misalnya, demi perkembangan seorang pria agar ia bisa maju di dalam karirnya, maka dia mungkin harus mencari seorang wanita muda untuk bosnya agar dia bisa dipromosikan, dan atas nama cinta terhadap perempuan ini, hal ini sah-sah saja. Etika Situasi tidak bertanya apa yang baik, melainkan bagaimana berbuat baik dan bagi siapa? Maka etika ini adalah etika keputusan. Dikatakan sebagai etika keputusan adalah karena tidak ada standart yang baik. Ketika kita memutuskan apa dan bagi siapa, itu aalah sesuatu yang baik. Etika membuat keputusan lebih dari pada mencari apa yang harus dilakukan.

Bagaimana sebenarnya kita memandang etika? Dalam perbuatan etis ada beberapa faktor yang terlibat, yaitu pelaku, perkara, situasi, prinsip dasar dan norma etis. Dan ini dilakukan oleh kaum konstektual dan konservatif. Tetapi kaum eksistensialis menekankan pada pelaku, yaitu kehendak bebas dan pilihan pribadi. Ini adalah bagian dari postmodernisme, bahwa kebenaran bukan ditentukan oleh siapa tetapi ada the free will of man dan kemampuan untuk memutuskan segala sesuatu. Oleh sebab itu yang baik bagi kita belum tentu baik bagi orang lain dan sebaliknya. Situasionisme (Etika Situasi) mengambil keputusan berdasarkan situasi di mana prinsip dan norma etis di bawah situasi. Situasilah yang menuntut demikian sehingga kita harus melakukannya. Tidak jarang kita mendengar orang bahkan orang Kristen berkata: ”Situasilah yang menuntuk demikian. Maka kami terpaksa melakukannya.” Jika situasi yang menuntut maka akan muncul pertanyaan, apakah situasi berlaku atau bersifat konstan dalam hidup ini? Tidak! Justru situasi itu berubah dan fluktuatif serta mengikuti zaman dan tantangan. Oleh sebab itu tidak ada standart bagi mereka berdasarkan Etika Situasi. Apa yang wajib dilakukan seseorang dalam situasi konkrit tidak dapat disimpulkan dari suatu hukum moral umum, melainkan harus diputuskan secara bebas oleh orang yang bersangkutan. Karena itu penentu standar moral adalah kita sendiri bukan dengan sebuah norma. Etika ini menjunjung tinggi otonomi moral individu dan menolak ketaatan begitu saja terhadap hukum moral sebagai heteronomi. Artinya adalah sesuatu peraturan yang berlaku di dalam masyarakat dengan sebuah standart moral. Tetapi bagi Etika Situasi, pribadi yang mengambil keputusan itu dengan free will adalah standar utama akan tindakan benar atau salah. Baik buruknya suatu tindakan adalah tergantung situasinya.

Ada tiga tahapan struktur tindakan Etika Situasi. Pertama, dari ‘titik tolaknya’, yaitu agape (cinta kasih) yang merupakan hukum satu-satunya yang diakui. Kedua, dengan dasar cinta agape, sebuah tindakan di‘lewat’i atau dilalui dengan sebuah kebijaksanaan (Sophia) yang termuat dalam ajaran agama dan paham moral kebudayaan yang dianggap sebagai aturan umum yang kurang atau lebih dapat diandalkan. Ketiga, ada dasarnya dan ada sesuatu yang dilewati dengan Sophia, tetapi semua akan bermuara ‘ke’ Kairos (kesempatan; waktu yang tepat) di mana individulah yang bertanggungjawab memutuskan dalam situasi konkrit apakah sophia tadi mengabdi pada cinta kasih atau tidak. Jadi berawal dari titik tolaknya yaitu cinta agape, diputuskan atau dilewati dengan Sophia dan bermuara ke pada sebuah kairos, inilah dasar tindakan Etika Situasi.
Ada empat presupposisi (anggapan dasar) dari Etika Situasi. Dasar yang pertama adalah Pragmatisme. Artinya yang baik adalah apa yang bisa dan sedang berjalan, berguna dan yang memuaskan (apakah hasilnya positif atau tidak), bukan yang ideal. Sesuatu yang ideal tetapi tidak bisa berjalan tidak ada artinya. Kedua, Relativisme. artinya, semua hukum atau aturan moral hanya berlaku sejauh mendukung cinta kasih. Cinta diatas segala-galanya oleh sebab itu cinta menutupi banyak peraturan-peraturan moral. Hukum moral hanya berlaku sejauh melayani cinta kasih, sehingga relatif untuk semua hal. Ketiga adalah Positivisme yaitu menolak keberlakukan hukum kodrat (aturan umum) yang tinggal dilaksanakan. Penilaian moral (baik atau salah) merupakan keputusan bagi yang melakukannya, bukan kesimpulan. Misalnya, mencuri, bohong, membunuh menjadi dosa adalah kesimpulan. Tetapi dalam Etika Situasi, mencuri, bohong, membunuh, menjadi dosa bukan karena kesimpulan tetapi keputusan. Ketika seseorang memutuskan mencuri demi cinta kasih, berarti hal tersebut diperbolehkan. Orang bebas memutuskan apa saja berdasarkan cinta kasih. Keempat Personalisme. Dalam Etika Situasi hal personalisme sangat diagungkan. Oleh sebab itu etika ini mengatakan bahwa sesuatu yang bernilai pada dirinya sendiri hanyalah manusia yakni eksistensi, perkembangan dan keadaan baiknya. Itulah ajaran cinta kasih.

Dasar pertimbangan lain dalam Etika Situasi adalah martabat manusia sebagai makhluk rohani dilihat dan dihargai. Dalam hidup ini tidak ada tahap dan keadaan hidup yang sama, tetapi sekedar menyerupai. Misalnya, HUT PAK tahun yang lalu tidak sama dengan HUT PAK tahun ini hanya acaranya yang menyerupai. Karena itu tidak ada peristiwa di dunia ini yang sama tetapi sesuatu yang menyerupai. Karena itu, jangan sekali-kali membuat sebuah patron yang sama karena tidak ada sesuatu yang sama di dalam dunia. Oleh sebab itulah standart yang digunakan untuk setiap peristiwa tidak bisa sama. Penganut paham ini semangat untuk mencari, menentukan dan menanggapi tuntutan situasi secara kreatif, berani dan bertanggungjawab.
Ada enam proposisi (kesimpulan akhir) dari Etika Situasi menurut Joseph Fletcher. Pertama, hanya ada satu hal yang baik pada dirinya sendiri, yaitu cinta kasih; tak ada yang lain sama sekali. Dalam Etika Situasi, sesuatu apapun tidak bernilai pada dan dalam dirinya sendiri. Ia memperoleh nilainya hanya karena ia membantu orang lain (dia jadi baik) atau menyakiti orang (dia jadi jahat). Jadi, membantu orang di dalam ujian jangan dikatakan sebagai sesuatu yang jahat. Kalau itu dilakukan atas dasar cinta kasih, agar teman kita itu bisa tamat, hal tersebut diperbolehkan. Pada dirinya sendiri semua perbuatan itu netral. Apabila dusta diceritakan tanpa cinta maka dusta itu adalah sesuatu yang jahat tetapi apabila diceritakan atas dasar cinta maka dusta itu adalah sesuatu yang baik dan benar. Jadi perbuatan baik itu adalah perbuatan yang paling mengungkapkan cinta kasih dalam situasi yang bersangkutan.

Kedua, norma tertinggi keputusan-keputusan adalah cinta kasih; tidak ada yang lain. Cinta kasih satu-satunya yang bernilai dalam dirinya, maka cinta kasih juga adalah satu-satunya norma tindakan moral. Semua tindakan akan diukur dengan hal ini bukan dengan standar hukum atau sistim norma moral yang ada. Dengan demikian hukum dan norma moral menjadi relatif.
Ketiga, cinta kasih dan keadilan adalah sama karena keadilan adalah cinta kasih yang dibagi, tak ada lainnya. Cinta kasih selalu menuntut kebijaksanaan untuk menentukan perbuatan mana yang paling efektif dalam mewujudkan apa yang baik bagi sesama. Keadilan itu adalah cinta kasih ditambah kebijaksanaan. Bijaksana dan adil adalah perbuatan yang menghasilkan ‘keuntungan terbesar dan jumlah terbesar’ atau membantu mereka yang paling membutuhkan.
Keempat, cinta berkehendak baik terhadap sesamanya entah kita menyukainya atau tidak. Cinta kasih bukanlah perasaan kasih sayang. Mencintai adalah sikap yang tercuat dalam kelakuan dan tidak ada kaitannya apakah kita suka atau tidak pada orang yang dicintai. Cinta kasih adalah suatu sikap rasional dengan perhitungan agar cocok secara optimal untuk mendukung orang yang menjadi alamat cinta kasih (agapeic calculus). Misalnya, Kamikaze (bunuh diri dalam Jepang) bisa dilakukan atas nama cinta, atas nama cinta teroris dizinkan untuk melakukan bom bunuh diri yang melukai atau membunuh orang lain. Dan tentu saja dalam teologia Kristen hal seperti ini bukanlah sesuatu yang benar.

Kelima, hanya tujuan yang membenarkan sarana, tak ada lainnya [bandingkan dengan teologia Kristen yang mengatakan bahwa tujuan harus memurnikan sarana]. Tidak ada perbuatan buruk pada dirinya sendiri. Segala sesuatu adalah benar atau salah tergantung dari situasi (relativisme radikal Etika Situasi). Tujuan tindakan menentukan nilai moralnya. Apa yang kadang baik dapat pada kesempatan lain menjadi jahat atau sebaliknya, tergantung situasi. Misalnya, atas nama cinta agar ada biaya untuk obat ibunya seorang perempuan dijinkan untuk melacurkan dirinya. Jadi segala sesuatu dapat dilakukan jika hal tersebut dilakukan demi satu tujuan yang baik.
Keenam, keputusan cinta kasih dibuat sesuai dengan situasi, bukan menurut sebuah sistem peraturan. Ciri khas keputusan moral adalah kebebasannya. Orang yang yakin melakukan sesuatu hendaklah melakukannya dengan bebas dan berani meskipun bertentangan dengan pandangan moral umum. Misalnya, Aborsi karena berdasarkan diagnosa bahwa janin dalam kandungan tidak sehat (cacat fisik atau mental) maka demi cinta kasih harus dengan bebas bahkan wajib dan berani menggugurkan tanpa terikat dengan norma yang ada. Ingat, aborsi ini tidak sama dengan aborsi dalam kasus dimana jika kehamilan mengancam salah satu nyawa, apakah ibu atau si bayi. Dalam situai seperti ini, maka dengan pertimbangan tertentu, aborsi bisa dilakukan. Ini adalah situasi yang disebut Lesser Between Two Evils.

Etika Situasi memiliki beberapa kelemahan. Pertama menghargai manusia sebagai makhluk yang mampu menentukan pilihan tetapi mengabaikan prinsip dan nilai etis yang berlaku secara umum. Kedua, keputusan etisnya bersifat subjektif karena tidak ada standar dasar untuk menilai baik buruknya sebuah tindakan selain dirinya sendiri. Ketiga, memandang situasi hidup yang dihadapi selalu unik dan menuntut sikap pribadi mendasar dari manusia. Ada banyak hal dalam hidup manusia yang tidak selalu unik dan merupakan hal-hal biasa dan tidak perlu terlalu rumit untuk diputuskan. Keempat, Etika Situasi melebih-lebihkan kapasitas manusia untuk menentukan sebuah pilihan dan tindakan moral. Ingat, dalam Kisah Kejadian, ketika Adam jatuh ke dalam dosa, maka manusia telah didistorsi oleh dosa dan semua keputusan manusia sangat rentan dengan kontaminasi dosa. Kasih agape hanya dapat diekspresikan dan digenapi dengan atau dalam sebuah peraturan moral (Mt.22:34-40; Rom.13:10, ”Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat”.). Kelima, kasih agape itu suci, maka kasih agape tidak akan mereduksi kebenaran dengan mengabaikan unsur kejahatan misalnya pembunuhan, perzinahan, terorisme dll. Inilah kelemahan Etika Situasi di mana etika ini mereduksi kebenaran. Allah adalah suci dan harus disejajarkan dengan Allah yang adalah kasih. Maka kasih agape hanya bisa dilakukan di dalam kebenaran dan kesucian yang sejati. Dan keenam Etika Situasi terpesona dengan eksistensialisme, tetapi lupa kenyataan antropologis bahwa manusia itu mahkluk sosial yang mengalami dan menghayati setiap situasi sebagai anggota sebuah komunitas yang juga mewarnai kehidupannya. Bila hanya berdasarkan situasi dengan eksistensialis, maka tidak ada lagi peran nasehat dan agama.

Kita semua akan diperhadapkan dengan Etika Situasi. Tidak ada kata demi kebaikan, demi menolong keluarga, menolong sahabat atas nama cinta. Kita harus melakukannya atas nama cinta tetapi tetap di dalam kesucian, kebenaran, dan kejujuran. Inilah etika Kristen.
Soli Deo Gloria!

Sunday, March 29, 2009

Knowing God 2009-2: God only Wise

By: Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div

Hari ini kita akan membahas mengenai topik God Only Wise---Hanya Allah satu-satunya yang bijaksana (berhikmat). Kata ‘bijaksana’ (hikmat) dipahami sebagai sebuah kualitas moral. Hal ini dikarenakan ada juga nasihat dari orang fasik dan hal ini dianggap sebuah hikmat bagi mereka. Kita harus memahami bahwa harus ada kualitas moral untuk membedakan hikmat orang fasik ini dengan hikmat yang sejati. Kualitas moral ini juga berelasi dengan kualitas intelektual, yakni kemampuan untuk melihat, memilih dan melakukan sesuatu dengan tujuan yang tertinggi dan terbaik. Inilah hikmat yang sejati. Kualitas moral dan intelektual jugalah sekaligus bagi kita yang sebagai pondasi untuk memilih atau mendapatkan sesuatu yang bernilai tinggi dan terbaik. Hikmat adalah sisi praktis dari keinginan atau kebaikan moral dalam kesucian. Artinya, hikmat adalah bagian dari praktika yang bukan sekedar konsep. Pemahaman kognitis harus diaplikasikan dengan pemahaman yang empirik dalam bentuk perilaku. Oleh sebab itu dikatakan bahwa hikmat adalah sisi praktisdari keinginan atau kebaikan moral dan kedua ini ataus semua pemahaman ini harus berada dalam kontrol kesucian. Jika dikatakan berhikmat atau bijak tetapi bukan dalam koridor kesucian, berarti itu bukan hikmat yang sejati (misalnya Bohong putih). Hikmat yang sejati atau murni tentunya hanya ada pada Allah yang terintegrasi dalam jati diri atau esensiNya. Dalam Ayub.12:13 dikatakan, ”Tetapi pada Allahlah hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian; di dalam Rom.16:27 juga dikatakan, ”bagi Dia, satu-satunya Allah yang penuh hikmat, oleh Yesus Kristus: segala kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin; dan di dalam Kol.2:2-3 dikatakan, ”supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih, sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus, sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan.” Apa yang ingin lihat dan pahami dari ketiga bagian firman ini adalah bahwa hikmat yang sejati, murni, tidak pernah salah, dan menyimpang hanya ada di dalam diri Allah. Oleh sebab itu dikatakan God the Only Wise---Allah satu-satunya yang bijaksana. Sehebat-hebatnya manusia pasti pernah berpikir salah sebelum bertindak salah. Tetapi Allah, yang adalah sumber hikmat, tidak pernah salah dan Dia tetap berada di dalam kebenaran yang sejati.

Hikmat manusia selain dapat salah tetapi juga jika seandainya benarpun bisa tidak terjadi atau gagal karena ketidakmampuan untuk merealisasikannya. Seseorang dapat tahu sesuatu yang bernilai dan benar tetapi belum tentu ia mampu mengaktualisasikan hikmat tersebut dalam sebuah tindakan. Tetapi hikmat Allah, selain benar juga tidak dapat digagalkan oleh apa dan siapapun. Dalam Ayb.9:4 dikatakan, ”Allah itu bijak dan kuat, siapakah dapat berkeras melawan Dia, dan tetap selamat; dan di dalam Dan.2:20 dikatakan, ”Berkatalah Daniel: "Terpujilah nama Allah dari selama-lamanya sampai selama-lamanya, sebab dari pada Dialah hikmat dan kekuatan.” Dalam ayat ini kita dapat melihat ada sebuah perpaduan atau kombinasi di dalam diri Allah antara hikmat dan otoritas, kuasa , atau kemampuanNya. Oleh sebab itu Allah dengan segala hikmatNya tidak bisa ragu atau digagalkan oleh apapun. Hikmat Allah selalu dikaitkan dengan kemahatahuan dan kemahakuasaanNya. Kemahatahuan dan hikmat yang tak terbatas mengendalikan kemahakuasaan ALLAH (Yes.40:28, ”Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya”). Hikmat tanpa kuasa bagaikan buluh yang terkulai (tidak mampu bertindak atau mewujudkan hikmat atau powerless) tetapi kuasa tanpa hikmat akan melahirkan kehancuran yang mengerikan dan inilah tipe kepemimpinan preman. Tetapi Allah yang berhikmat sekaligus punya power dan kemahatauan dan semua ini dikombinasikan secara bersama-sama. Dalam diri Allah kedua hal ini dipadukan sehingga layak sepenuhnya dipercaya yang kepadaNya kita menyerahkan diri secara sungguh-sungguh.

Apa yang ingin kita pamahi adalah, jika Allah yang memiliki hikmat, kuasanya, dan kemahatauanNya tidak terbatas, tentu saja dalam perjalanan hidup, sebagai anak-anak Allah yang memiliki pemahaman yang benar akan hal ini, kita tidak perlu kuatir atau takut karena Allah yang kepadanya kita percaya adalah Allah yang penuh hikmat kita adalah Allah yang mahakuasa. Semua karya penciptaan, pemeliharaan dan kasih karuniaNya dilakukan dalam hikmat, kemahatahuan dan kemahakuasaan.

Sejak penciptaan sampai kekekalan Allah selalu bijaksana (penuh hikmat) dalam segala hal yang direncanakan, dikerjakanNya dan dalam setiap peristiwa atau keadaan. Jika kita menklaim ini sebagai sebuah kebenaran, bisakah kita menikmati atau bersyukur dalam setiap ’kegagalan’ yang kita alami? Berapa kali Allah kurang bijaksana Allah bertindak dengan diri kita? Atau salahkah Tuhan telah menempatkan kita pada keadaan kita sekarang ini? Apakah kebijaksanaan Allah berkurang karena kehidupan kita seperti ini? Atau pernahkah Allah salah? Allah yang satu-satunya berhikmat dan sumber hikmat, dan semua hikmatNya dikerjakan di dalam rencana dan kehendakNya, dan semua peristiwa atau keadaan tidak pernah salah. Mengetahui hal ini, apa yang menjadi respon kita? Apakah kegagalan atau kesalahn yang kita alami merupakan kesalahan Tuhan atau kesalahan kita sendiri? Dengan apa yang kita rasakan atau alami sekarang, apakah Allah telah melupakan kita dan kurang hikmat sehingga membiarkan kita seperti sekarang ini? Apakah kita bisa menikmati hidup di dalam hikmat Allah?

Dengan hikmatNya Allah menciptakan segala sesuatu dan menatanya sedemikian rupa. Dalam hikmatNya, Allah bertindak dalam semua peristiwa dan keadaan yang diplot sesuai rencanaNya yang mulia. Semua rencana Allah ada dalam hikmatNya. Karya atau tindakanNya sesuai rencana agungNya terjadi dengan kebijaksanaan yang tak terbatas, kemahatahuan dan kemahakuasaan.Semua rencana dan hikmat Allah tidak satupun yang gagal atau dapat digagalkan. Karena itu Allah tidak pernah salah dalam setiap keputusan dan tindakanNya. Bisakah kita semua mengaminkan bahwa Allah tidak pernah salah dalam hidup kita? Jika kita bisa mengamininya, maka kita akan menjalani hidup ini dengan tenang dan tanpa kekuatiran sama sekali.

Beberapa contoh dalam Alkitab.

Abraham
Abraham yang dipilih dan dipanggil Allah untuk maksudNya tidak gagal walau dia beberapa kali jatuh ke dalam dosa. Tindakan berbohong kepada Abimelekh (Kej.20), dia berbohong dua kali, sewaktu di Mesir dan pada Abimelekh. Dan yang juga mengambil Hagar atas desakan Sarah dan kemudian mengusirnya dgn Ismael (Kej.21) tidak serta merta membuat rencanaNya melalui Abraham gagal. Abraham yang dianggap sebagai pria lemah dan kurang bertanggungjawab atas istri dan Hagar/Ismael kemudian diteguhkan Allah melalui pengujian iman (Kej.22) bahwa setelah Ishak (anak Perjanjian) besar diminta untuk di kurbankan. Iman dan kesetiaan Abraham teruji dan janji keturunan melalui dia digenapi. Abraham dan Lot. Logikanya Abraham tidak layak lagi untuk dipakai Allah, tetapi Allah tetap memakai dia. Mari melihat diri kita, salahkah Allah menempatkan kita sebagai pelayannya di kampus? Bukankah kita juga punya banyak kesalahan di hadapan Allah? Tetapi inilah pikiran Allah yang tidak terselami oleh pikiran kita manusia. Dalam kisah Abraham dan Lot, kita menemukan kisah di mana Abraham mengijinkan Lot untuk memilih tanah pertama kali dan Lot memilih bagian yang sangat subur. Tetapi bukankah tanah pilihan Abraham yang menurut Lot adalah tanah ’nomor dua’ melimpah dengan berkah dan menjadi subur dan Lot dalam tanah dengan segala kelimpahannya juga tumbuh kejahatan yang melimpah.

Yakub
Yakub adalah penipu! Karena dia penipu , maka dia lari dari rumahnya karena takut pada ayahnya. Yakub sang penipu dibentuk Allah dengan harus pergi dari Esau dan kemudian ditipu oleh Laban, mertuanya. Dengan rasa takut kembali ke kampungnya dan akan bertemu Esau sehingga mengirim pesan agar dia diterima. Yakub bergumul dengan malaikat Tuhan dan membentuk serta mengubah dia kembali (Kej.31-32). Yakub yang dirubah Allah jijik akan kelicikannya menipu.. Yakub yang bertobat kemudian diberkati Allah dan tidak perlu lagi takut menjumpai Esau karena Tuhan menyertai dia (Kej.32:26-28). Dari Yakub lahirlah 12 suku Israel yang menjadi bangsa pilihan Tuhan. Dari seorang penipu, muncul bangsa pilihan Tuhan. Apakah Allah salah dalam hal ini? Tentu saja tidak. Dari dua kasus ini, dengan semua kelemahan Abraham dan Yakub, Allah bisa berkarya.

Yusuf
Di masa muda dijual saudaranya ke saudagar Mesir. Status sebagai budak dagangan kemudian beralih menjadi narapidana akibat korban fitnahan (Kej.39). Yusuf dalam segala keadaan disertai Tuhan sehingga dia berhasil. Yusuf diuji, dibentuk dan didewasakan Allah mulai perbudakan sampai penjara. Secara psikologis, apa yang Yusuf alami adalah sesuatu yang sangat berat. Sebagai anak kesayangan di keluarganya, dia dibenci oleh saudaranya dan bahkan menjual dia dan menjadi budak di Mesir. Bukan hanya itu, dia juga di fitnah oleh isteri Potifar dan akhirnya masuk penjara dan temannya yanga da di dalam penjara lupa kepada dirinya. Tetapi Yusuf belajar berserah kepada Allah, tetap berhati riang dan murah hati dalam keadaan yang membuat frustrasi, menanti waktu Tuhan dengan sabar. Kesulitan yang panjang dipakai Tuhan untuk membentuk dia. Sang pemimpi kemudian menjadi pemimpin; dari penjara ke istana. Mari melihat Kej.45:7-8, ”Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong. Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir”; dan 50:20, ”Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.”). Dari kedua ayat ini kita menemukan ada sebuah pemahaman teologis dan praktis bahwa Yusuf mengakui bahwa hidupnya ada di dalam rencana Allah. Jika kita melihat hidup kita, dengan segala ’kegagalan’, apakah kita melihat seperti Yusuf melihat dunia?

Dari ketiga kisah di atas kita melihat bahwa Allah tidak pernah salah dalam hidup Abraham, Yakub, ataupun Yusuf. Semua rencana, peristiwa, atau kehendak Allah dilakukan di dalam kemahakuasaan, hikmat yang tidak terbatas, dan didalam kemahatahuan Allah. Dan semua hal ini dilakukan oleh Allah demi rencanaNya yang agung. Oleh sebab itu mari melihat apakah rencana Allah di dalam diri kita dan melalui diri kita sehingga kita bisa menikmati hidup kita dengan baik. Jika hikmat Allah ada bagi kita, dan kita memandang hidup kita di dalam hikmat Allah, maka kita bisa melihat hidup ini dengan benar, bahwa Allah tidak pernah salah dalam hidup kita.

Mari melihat garis keturunan Yesus dalam Matius 1:1-17. Perhatikan siapa saja dan bagaimana kehidupan mereka yang masuk dalam garis silsilah tersebut. Siapakah Abraham, Yakub, Rut, Daud, Bersyeba, Salomo dst. Dan dari keturunan ini, lahirlah Yesus sang Juruselamat dunia. Lihat bagaimana hikmat Allah dalam silsilah kelahiran Yesus Kristus.
Allah tidak pernah salah dalam hal apapun termasuk dalam segala hal yang terjadi dalam diri kita. Rancangan Allah mendatangkan damai sejahtera dan kemenangan. (Yer.29:11-12, ”Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu”. bd. Yes.55:6-9). Manusia mereka-rekakan yang jahat tetapi Allah mereka-rekakan yang baik. Dengan hikmatNya Allah bekerja dalam dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. Rom.8:28-29, ”Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara”). Dalam setiap peristiwa dan keadaan Allah sedang merajut hidup umatNya bagaikan benang kusut yang tidak menarik pada awalnya, namun kemudian menjadi kain yang indah setelah ditenun. Hidup sepertinya tidak punya makna, kusut, berantakan dan tidak menjanjikan tetapi dengan hikmatNya Allah menjadikannya berarti dan sebagai perwujudan rencanaNya di dalam diri dan melalui diri kita. Dengan pemahaman bahwa Allah adalah pemilik hikmat satu-satunya kita menjalani hidup dengan sukacita, iman, dan penyerahan kepada Allah. Orang yang gagal dan tidak taat tetapi dengan hikmat Allah (seperti Abraham dan Yakub), dididik dan dipulihkan sehingga Allah mereka menjadi saluran berkat Allah dan Allah pakai. Orang yang taat tetapi mengalami penderitaan (seperti Yusuf) juga akan dilihat oleh Allah. Allah yang sumber segala himat yang tidak pernah salah lah yang menata dan merajut hidup kita. Mari berjalan dengan iman dalam pemaham]an bahwa Allah adalah berhikmat dan bijaksana-God only Wise!
Solideo Gloria!

Knowing God 2009-1: God Unchanging

By: Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div

Hari ini kita belajar mengenai Allah yang tidak berubah. Mari melihat beberapa ayat penuntun. Dalam Mzm 93:2 kita melihat bahwa Allah ada dari kekal; Yer 10:10 menyatakan bahwa Dialah Allah yang hidup dan Raja yang kekal; Rom 1:23 manyatakan Allah itu tidak fana; 1 Tim 6:16 menyatakan bahwa Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut; Mzm 102:26 dst menyatakan bahwa Langit dan bumi akan binasa, tetapi Allah tetap ada; Yesaya 48:12 menyatakan bahwa ”Akulah yang terdahulu, Akulah juga yang terkemudian”. Demikian juga, Yesus yang adalah Tuhan juga kekal adanya. Ibrani 13:8 mengatakan ”Yesus Kristus tetap sama, baik klemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya”. Ibrani 7:25b mengatakan ”Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.” Wahyu 1:17-18 juga mengatakan, ”Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: "Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.” Dari Wahyu ini kita melihat ada tiga penekanan: Yang Awal, Yang Akhir, dan yang terakhir adalah Yang Hidup.

Eksistensi Allah Tidak Berubah
Topik kali ini berbicara soal God Unchanging-Allah yang tidak berubah. Hal ini berarti eksistensi Allah tidak berubah. Semua benda atau materi memiliki titik awal dan titik akhir. Tetapi Allah tidak demikian adanya. Benda atau materai masuk ke dalam sistem waktu dan dibatasi oleh waktu dan ruang, tetapi Allah sang pencipta tidak demikan. Jika benda dan materi ada di dalam dimensi, Allah berada di luar dimensi. Oleh sebab itu dikatakan Allah tidak bermula dan Allah tidak berakhir. Dan dari segi keberadaannya, Allah tidak pernah mengalami perubahan di dalam diriNya. Hal ini terjadi oleh karena Allah tidak dibatasi waktu dan ruang. Allah juga tidak masuk dalam sebuah proses menjadi. Allah bukan dari tidak ada menjadi ada; Dia ada sebelum yang ada itu ada dan tetap Dia ada sesudah yang pernah ada itu menjadi tidak ada. Dia bukan hanya alpha dan omega tetapi pencipta dari segala sesuatu yang pernah ada dan yang akan ada. Artinya apa yang pernah ada dan akan ada semua adalah oleh Allah.
Allah tidak masuk dalam proses perkembangan. Allah tidak pernah muda dan menjadi tua. Oleh sebab itu jangan pernah membayangkan wajah Allah setelah sekian ribu tahun. Oleh karena itu, Allah juga tidak pernah dari lemah menjadi kuat atau sebaliknya; semakin bijaksana atau ’salah’; mendapat atau kehilangan sesuatu yang baru karena Dia tetap Dia apa adanya (sempurna).

Karakter Allah yang Tidak Berubah
Ketegangan, goncangan dan lobotomi (gangguan pada syaraf otak) dapat mengubah sifat seseorang, termasuk kita semua. Dalam moment tertentu kita bisa gampang senyum, tetapi di situasi lain dia kita menjadi gampang marah. Tetapi bukan demikian halnya dengan Allah. Manusia yang baik dpt berubah menjadi jahat, mengalami kepahitan, tersinggung, sinis, tidak punya perasaan dst. Kita sering bertemu dengan orang yang mengingkari janjinya. Inilah manusia. Allah tidak pernah mengalami perobahan yang demikian. Nama Allah sekaligus menyatakan sifatNya yang kekal dan tetap Dalam Kel.3:14-15 dikatakan, ”Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu." Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun.” Segala sesuatu mengenai Allah adalah sempurna dan tidak pernah mengalami perubahan. Allah tidak pernah semakin baik atau jahat, semakin lebih peduli atau jadi cuek, semakin lebih mengasihi atau menjadi kejam dst. Keadaan, waktu, dan situasi apapun tidak akan pernah mengubah karakter Allah. Ketika Allah berkata ‘Aku adalah Aku’, itu adalah pernyataan kesempurnaan Allah yang tidak akan pernah berubah.
Jika kita memahami hal ini dengan jelas, kita bisa melihat bahwa karakter Allah yang tidak pernah berubah membuat kita percaya dan tidak berhenti berharap dan yakin akan kasih setiaNya (band. Rat 3:21-26,). Ratapan 3 ayat 21-23 mengatakan, ”21 Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: 22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, 23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”. Inilah Allah yang tidak berubah kasihn setiaNya dan karakternya. Jika manusia, yang cinta dan janjinya masih bisa berubah masih ada yang mau dekat bahkan hidup dan melangkah bersama dengan dia, bukankah kita, yang sudah mengklaim bahwa Allah tidak berubah kasih setiaNya, seharusnya lebih berharap dan lebih tenang, dan berani melangkah di tahun 2009? Atau masih adakah diantara kita yang menganggap bahwa Allah telah berubah dan mengasihi dirinya lagi?
Dalam Ratapan 3:24 Yeremia mengatakan, "TUHAN adalah bagianku," kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.” Kemudian dilanjutkan pada ayat 25, Yeremia mengatakan, ”TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.” Kebaikan Allah 5 tahun, 10 tahun, 100 tahun, 1000 tahun, atau 1000000 tahun yang lewat, tidak akan pernah berubah, hari ini atau sampai kapan pun. Kasih setia dan kebaikan Allah yang tidak pernah berubah seharusnya melahirkan ketenangan batin di dalam diri kita. Pertanyaan bagi kita, bisakah kira merasakan bahwa Allah itu baik dalam situasi sulit? Jika semua bisnis atau pekerjaan kita semua lancar pasti kita gampang mengatakan bahwa Allah baik (jangankan kita, seorang ateispun akan mengatakan hal yang sama dan jika kita hanya menganggap Allah baik, maka kita menempatkan Tuhan tidak lebih sebagai mamon dalam hidup kita). Ketika kita berkata God Unchanging, maka kita menyadari bahwa kita harus bersandar penuh kepada Allah karena kita meyakini bahwa Allah baik kapanpun dan dalam situasi apapun. Apakah ketika kita gagal PNS, diputusin pacar, di PHK, atau dalam situasi sulit lainnya, kita masih berani mengatakan bahwa Allah baik. Pemahaman akan Allah yang tidak berubah membuat kita berani menjalani hidup ini.

Pengalaman bersama Allah yang tidak pernah berubah di masa lalu memberi jaminan bahwa perjalanan hidup umatNya ada dalam tuntunan dan pemeliharaanNya. Yosua memiliki ketakutan dalam memimpin bangsa Israel untuk menuju tanah Kanaan. Pertama, Musa, sang Pemimpin Besar mati; kedua, bangsa yang dipimpin itu keras kepala; ketiga, sebelum menyeberangi sungai Yordan dan akan memasuki tanah Kanaan, banyak peperangan yang akan dihadapi untuk dikalahkan. Oleh sebab itu, sangat wajar Yosua menjadi kecut dan tawar hati. Tetapi mari kita perhatikan apa yang terjadi. Ketika Allah berkata, ”Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, Aku akan menyertai engkau.”, Yosua menjadi berani. Pengalaman dan pemahaman seperti ini, bahwa Allah yang tidak berubah kuasa dan kasih setianya, akan menolong kita untuk melalui tahun ini, walau ada ancaman PHK maupun ancaman lainnya yang akan dan sedang menanti kita.

Oleh karena Allah yang tetap dan Yang Maha Kuasa maka kita tidak perlu takut karena Dia dapat diandalkan sepanjang masa sebagai tempat kita bersandar. Jika orangtua kita seorang pejabat pasti kita akan mengandalkannya dalam menghadapi persoalan. Demikian juga dengan hubungan kitadengan Allah. Jika kita memahami bahwa Allah maha kuasa dan akan tetap maha kuasa dan Allah tetap bisa diandalkan. Oleh sebab itu jangan pernah meragukan kuasa, kesetiaan, dan kemampuan Allah. Hal inilah yang membuat kita berani karena Allah mampu melakukan segala perkara.

Allah yang tetap sabar,lembut dan penuh kasih sayang menjadikan Dia sahabat yang sejati tempat kita mencurahkan perasaan dan pergumulan. Mzm 62:9 mengatakan, ”Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita.” Ketika kita mencurahkan isi hati kita kepada orang, dia bisa saja menyalahkan kita dan memojokkan kita, tetapi Allah yang kepadanya kita mencurahkan isi hati, selalu peduli dan mengerti sampai kapanpun. Jangan pernah meragukan kesabaran dan kelembutanTuhan. Allah yang setia dan tetap peduli dan mendengar seruan, membuat kita rajin dan tidak jemu-jemu berdoa. Allah tetap penuh anugerah dan pengampunan membuat kita berani mengaku dosa dan memohon belaskasihanNya. Allah tidak berubah dalam mencintai dan memeliharakita dan hal inilah yang menghilangkan kekhawatiran atau kecemasan karena Dialah Gembala kita.

Kebenaran Allah tidak Berubah
Manusia kering seperti rumput, tetapi firman Allah tetap untuk selama-lamanya. (Yes.40:6-8, ”6Ada suara yang berkata: "Berserulah!" Jawabku: "Apakah yang harus kuserukan?" "Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya seperti bunga di padang. 7Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, apabila TUHAN menghembusnya dengan nafas-Nya. Sesungguhnyalah bangsa itu seperti rumput. 8Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya."; bd. Mzm.119:89, 151-152). FirmanNya tidak pernah usang atau out of date. Tidak ada hal yang dapat membatalkan kebenaran Allah (Yoh.10:35, ”Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah -- sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan --,). Allah dan firmanNya yang tidak berubah membuat kita tetap berpegang dan hidup sesuai firman. Firman Tuhan tetap menjadi standar kebenaran yang mutlak dan patron dalam hidup kita sehari-hari. Itulah sebabnya kita senantiasa percaya bahwa janji Allah sesuai firmanNya tidak berubah, membaut kita tegar dalam pengharapan. Karena firman Allah tidak berubah, maka janji Allah juga tidak berubah.

Jalan-Jalan Allah Tidak Berubah
Allah tetap bertindak pada semua manusia dengan cara yang Ia kerjakan dalam kisah Alkitab. Artinya orang jahat tetap dihukum dan orang yang setia dan benar dihadapanNya akan dipelihara dan diberkatinya. Jalan Allah adil dan benar baik bagi orang percaya maupun yang tidak percaya. Allah tetap membenci dosa dan mencintai kebenaran sampai kapan pun. Tujuan dan prinsip tindakanNya tetap konsisten. Allah tidak pernah bertindak di luar karakterNya.

Rencana Allah Tidak Berubah
Ia yang adalah kemuliaan Israel tidak berdusta atau mengubah pikiranNya, sebab Ia bukanlah manusia yang harus menyesal (1 Sam.15:29, “Lagi Sang Mulia dari Israel tidak berdusta dan Ia tidak tahu menyesal; sebab Ia bukan manusia yang harus menyesal." bd. Bil.23:19). Rencana Allah dibuat berdasarkan pengetahuan (foresight and foreknowledge) dan kontrol sepenuhnya terbentang dari segala hal pada masa lalu, kini dan yang akan datang (Mzm.33:11). Kisah dalam dalam Kej.6:6;1 Sam.15:11; 2 Sam.24:16; Yun.3:10 dan Yoel.2:13 dikatakan bahwa Allah menyesal dan menarik keputusanNya. Dalam kasus tersebut perubahan perlakuan Allah sebelumnya terhadap orang-orang tertentu, berkaitan dengan reaksi mereka terhadap perlakuan tersebut. Tetapi tidak ada indikasi bahwa reaksi ini tidak diketahui oleh Allah sebelumnya (foreseen), atau perubahan itu dilakukan Allah secara mendadak dan perubahan itu tidak pernah ada dalam rencana kekal-Nya sebelumnya.

Dunia dan zaman berubah, tantangan dan ancaman berubah, manusia berubah dan masih banyak perubahan lainnya. Satu hal yang perlu kita ingat adalah Allah tidak berubah. Inilah sukacita dan penghiburan serta dasar pengharapan orang percaya. Bersama Allah yang tidak pernah berubah itu kita berani menatap masa depan dan menjalani tahun 2009 dengan sukacita dalam pengharapan.
Solideo Gloria!

Seri LDS 5: The Joy of Waiting

By: Ir. Indrawaty Sitepu, MA



Kali ini kita akan membahas topik terakhir dari seri LDS, yaitu The Joy of Waiting.
Hasil survey menunjukkan bahwa ada beberapa sikap/respon orang yang masih melajang.

1. Hidup dalam ketidakbahagiaan karena tegang dan frustrasi.
Biasanya kondisi ini tidak dialami oleh mereka yang berusia di bawah 17 tahun. Mereka yang pada point pertama ini selalu berkeluh kesah dan sering sekali mereka meragukan dan melupakan bahwa Allah mengasihi mereka. Mereka selalu bertanya-tanya mengapa dalam hal yang lain Allah menjawab doa mereka tetapi ‘tidak’ dalam hal pasangan hidup. Orang-orang seperti ini tidak produktif dan tidak bahagia. Mereka sering menjengkelkan dan tidak menjadi berkat bagi orang lain.

2. Hidup menutup diri
Orang-orang dalam kondisi seperti ini selalu murung, tidak bergairah, dan penuh penyesalan. Bahkan ada beberapa orang yang benar-benar menutup diri dan tidak menerima lagi ada pria/wanita untuk menjadi pasangan hidupnya.

3. Masa bodoh, cuek, dan tidak serius.
Kondisi seperti ini biasanya terjadi pada mereka yang masih muda (di bawah 17 tahun).

4. Menerima status bujangan sebagai pembentukan Allah untuk menjadi pria/wanita sejati.

Dari empat point diatas, point keempatlah yang seharusnya menjadi pilihan kita, bukan yang lain.

Dalam hidup ini ada ‘kelas-kelas’ pembentukan sebelum pernikahan. Ada orang yang dalam ‘kelas’ itu hanya tiga tahun dan setelah itu menikah. Ada juga yang lama dalam menjalani ‘kelas’nya. Tetapi semuanya menjadi waktu atau tempat dimana Tuhan membentuk kita menjadi pria/wanita sejati.

Kita akan melihat I Korintus 7:1-15 dalam ayat per ayat.
Pada ayat yang pertama kita melihat ada jawaban Paulus atas pertanyaan orang Korintus tentang perkawinan, melajang, dan perceraian. Kita bisa menemukan pernyataan bahwa lebih baik bila tidak menikah. Bila kita melihat bagian yang lain pada I Kor 7 ini (ay 32-35), orang yang tidak menikah memiliki tiga alasan, yaitu memusatkan diri pada Tuhan, untuk fokus pada Tuhan, dan untuk melayani tanpa gangguan. Jadi berbeda dengan orang yang tidak kawin dengan alasan yang lain. Bukan berarti ada larangan kawin pada bagian ini, karena kawin bukanlah dosa da bukan pula lebih ‘rendah’ posisinya dibandingkan dengan mereka yang tidak kawin.

Pada ayat yang kedua dijelaskan tentang bahaya percabulan. Jika karena tidak kawin pria/wanita jatuh dalam percabulan, lebih baiklah mereka kawin. (bd I Kor 6, tentang nasihat akan percabulan.)

Pada ayat 3-4 kita melihat ada konsep tentang pernikahan. Pada bagian ini kita dapat melihat bahwa ada pemenuhan secara rohani dan jasmani antara suami isteri. Kata ‘memenuhi’ disini memiliki arti yang mirip dengan bayar hutang (bhs Yunani). Jadi ada konsep yang harus kita pegang sehingga keduanya bisa saling melengkapi. Ingat, hutang harus dibayar dan merupakan kewajiban.

Ayat 5-6 adalah semacam peringatan yang mengatakan agar suami isteri tidak saling menjauhi. Jangan bertarak jika sudah menikah. Jangan ada penolakan di mana yang satu tidak ingin memenuhi, tetapi yang satu lagi ingin dipenuhi. Tetapi ada satu kelonggaran untuk bertarak-walaupun tidak harus demikian-di dalam hubungan ini. Tetapi kelonggaran ini harus memenuhi tiga syarat, yaitu harus disetujui bersama, bersifat sementara, dan memiliki tujuan rohani dan benar supaya mendapat kesempatan untuk berdoa. (bd Pengkhotbah 3:5, dan Yoel 2:15-16). Ada waktu-waktu yang baik untuk berpisah dengan pasangan untuk mendekatkan diri pada Tuhan

Dalam ayat ketujuh kita melihat bagaimana pernyataan Paulus yang menga- takan alangkah baiknya bila semua orang seperti dirinya (melajang). Tapi dalam hal ini, saya mengajak kita untuk berpikir jangan melajang sekedar melajang, akan tetapi kita harus memiliki alasan yang tepat. Mari kita lihat dalam Mat 19:11-12. Pada bagian ini kita dapat melihat alasan kenapa kita melajang dan bagaimana kita mengisi masa lajang kita. Kita dapat melihat, betul, bahwa kita melihat karunia Tuhan di sana. Tetapi yang sesungguhnya adalah, pertama, ada orang yang tidak kawin karena kelainan tertentu. Kedua, karena orang lain, mis trauma, sakit hati dll. Ketiga, karena kemauannya sendiri oleh karena kerajaan Surga. Jadi, pada bagian yang ketiga ini kita melihat ada orang, yang tentu saja dalam karunia Tuhan, dia memilih untuk taat. Demi ketaatan itu, dia menyerahkan dirinya sendiri. Dengan kata lain ada ketaatan yang melahirkan penyerahan diri demi kerajaan Allah.
Bagian dari ayat 8-9 ini mirip dengan ayat 1-2. Hanya saja pada bagian ini ada dijelaskan tentang ‘kawin’ dan ‘kawin lagi’. Jadi jelaslah ada yang single karena melajang, dan ada yang single karena sudah menjadi janda/duda. Bagi Paulus, orang-orang seperti ini lebih baik tidak kawin. Tetapi diingatkan lagi agar hal ini tidak dipaksakan, karena tidak ada nilainya dan yang muncul hanya kehangusan. Bila kebutuhan seseorang tidak terpenuhi secara emosional, hidupnya akan menjadi kacau. Jika demikian halnya, lebih baiklah mereka kawin. Kenapa Paulus menganjurkan agar mereka tidak kawin? Mari kita bandingkan dengan ayat I Kor 7: 26, 32-35 di mana dalam bagian ini menjelaskan bahwa banyak tugas yang harus diselesaikan dan tugas ini mendesak, yaitu pelayanan demi Kerajaan Allah yang harus segera dituntaskan.
Ayat 10-15 berbicara tentang perceraian. Mari kita lihat dahulu Mark 12:25 “Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga” . Dari ayat ini kita dapat melihat bahwa bila orang bangkit dari kematian, lembaga kematian akan dihapus atau terhapus dengan sendirinya karena lembaga ini bersifat sementara. Walaupun demi kian, perkawinan harus dijaga dengan penuh hormat. Jangan karena per- kawinan hanya ada di dunia, kita boleh semba- rangan. Ini tidak benar dan tidak Alkitabiah. Justru Alkitab mengajarkan bah- wa pernikahan itu harus dijaga dan dihormati (Ibrani 13:4). Dalam kondisi inilah, ketika pasangan saling menghormati dan menjaga, bukan saling menjatuhkan atau menyakiti, pernikahan memiliki martabat yang tinggi.
Ada fakta berdasarkan survei pada tahun 80-an.

• Di Inggris, 1 dari 3 perkawinan cerai.
• Di AS >1 dari 2 perkawinan cerai, berarti yang satu lagi hampir cerai.

Oleh sebab inilah kita sering melihat profil single parent di dalam film-film. Hal ini merupakan tindak lanjut dari konsep pernikahan yang salah dan dangkal. Di Indonesia juga, fenomena ini sudah mulai terjadi.

Bukan seperti ini rancangan Allah di dalam pernikahan . Markus 10:1-12 adalah lara- ngan Yesus akan perceraian. Jika ada yang bercerai, itu terjadi karena pilihannya sendiri bukan sebuah pemenuhan perintah Tuhan. Dalam Mark 10:1-12 dinyatakan bahwa orang yang hidup dalam perceraian berarti hidup dalam perjinahan. Oleh karena itu hati-hatilah jika kita melangkah dalam pernikahan. Melangkah ke dalam pernikahan adalah langkah yang mulia sekaligus penuh tanggung jawab.

Mari kita lihat persoalan dan cobaan seorang lajang (dalam masa penantian)

1. Menolak diri sendiri.
Ada perasaan dimana kita ditolak karena penampilan kita yang kurang menarik dimana akhirnya kita menolak diri kita.

2. Merasa bersalah
Bisa terjadi kalau dulu kita memiliki standart yang terlalu tinggi dalam mencari pasangan hidup.

3. Hidup dalam kerapuhan

4. Mementingkan diri sendiri

Merasa begitu menderita sehingga harus diistimewakan.
5. Kesepian

6. Dorongan-dorongan seksual

7. Kekuatiran akan hari depan.

8. Gelisah bila menghadapi pria atau wanita

Bagaimana mengisi masa penantian dengan bahagia dan penuh makna?

1. Berdoa. Dalam Mat 7:7-11, …apalagi Bapamu yang di surga,…
Dalam Roma 8:32 dapat kita lihat kasih dan kuasa Tuhan. Allah mengasihi kita dan berkuasa untuk mewujudkannya.

2. Tujuan seorang Kristen adalah menjadi serupa dengan Kristus (untuk tercapainya itu, Tuhan mengijinkan seseorang untuk mengalami kesukaan dan kedukaan melajang atau menikah)

3. Matangkan pemahaman tentang pernikahan Kristen yang sesuai dengan rancangan Tuhan.

4. Menjalin friendship, mengenal keunikan, dan bergaul dengan pria/wanita secar positif. Mungkin dari hal ini kita kana melihat tipe yang cocok sebagai pasangan hidup kita. Ingat, cinta tanpa seks adalah persahabatan.

5. Terus belajar untuk peka akan kehendak Allah (FT, Doa, yakini, relasi, nyatakan:pria/wanita, doa sama, jawaban: ya/tidak)

6. Bertumbuh dan melayani ‘tanpa gangguan’.

7. Atasi dorongan-dorongan seksual dengan datang padaNya karena dorongan seksual tidak bisa diatasi dengan hanya segera menikah. Kita harus bersyukur bila kita memiliki dorongan seksual karena berarti kita normal. Mari berdoa agar kita bisa melaluinya tetap dalam kesucian.

8. Hadapi tuntutan/keberatan keluarga de- ngan menunjukkan teladan. Ajarkan dan bagikan.

9. Jadilah wanita/pria sejati, bukan patung dingin. Jadilah anugerah, bukan musibah karena
masa lajang adalah masa menjadi anugerah bagi pasangan kita. jadi, bila sampai sekarang kita belum ketemu pangeran/putri itu, berarti kita belum siap menjadi putri/pangeran. Masa sekarang adalah masa bersiap-siap dan membenahi diri. Belajarlah juga untuk mendemostrasikan keibuan/kebapaan kepada anak-anak sehingga bisa lebih siap lagi

10. Trust and obey,…percaya dan lakukan bagian kita, karena Allah sudah-sedang-dan akan terus melakukan bagianNya.

SAH : Still Alone Happy.

Soli Deo Gloria!

Seri LDS 4: Dating and Intimacy

By: Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div


Hari ini kita akan bicarakan tentang dating and intimacy, yaitu pacaran dan keintiman yang di dalam konteks berpacaran yang sesuai dengan Alkitab menuju pernikahan yang suci. Hal ini penting karena banyak orang gagal menjalani masa berpacaran dengan cara yang tidak benar, yaitu melanggar Firman Tuhan.

Ketika membahas tentang topik ini, biarlah saudara yang belum jelas statusnya (single), memiliki ajaran yang jelas sehingga ketika masa penantian usai, saudara sudah mengetahui prinsip-prinsip kebenaran di dalam menjalaninya. Minimal antisipatif. Dan untuk yang sudah berpacaran topik ini akan menjadi sebuah cara untuk korektif dan menjadi patron dalam menjalani hubungan.

Saudara-saudara, hal yang pertama kali yang harus kita sadari sebelum berbicara tentang dating and intimacy adalah bahwa Allah menciptakan dan menata seks sedemikian rupa. Karena seks merupakan ciptaan Allah, maka seks itu adalah sesuatu yag suci. Tetapi sering sekali kita merasa tabu dan salah jika harus berbicara tentang seks. Berbicara tetang seks bukanlah sesuatu yang tabu,karena seks yang diciptakan itu ada di dalam rancangan Allah. Oleh karena itu, seks akan menjadi suci kalau digunakan di dalam rencana Allah. Itulah sebabnya, seks di luar rancangan Allah adalah perjinahan.

Pada session LDS sebelumnya, kita sudah pernah membahas tentang seks dan cinta, bahwa seks tanpa cinta adalah pelacuran, cinta tanpa seks adalah persahabatan, dan cinta dengan seks adalah pernikahan. Oleh sebab itulah seks yang diciptakan Allah seturut dengan rancanganNya adalah sesuatu yang suci, yang harus dijalankan di dalam kehendak Allah.

Seks diberikan oleh Allah dengan dua tujuan, yaitu :

1. Recreation dengan reproduksi
Jadi seks di berikan untuk mewujudkan kehendak Allah yang mulia (Kej 1:28), bukan sebagai pelampiasan.

2. Seks merupalan sebuah sumber kenikmatan spiritual dan fisik antara suami dengan isteri.
Oleh sebab itu, jika seks dilakukan hanya untuk pemuasan birahi tanpa spritual, maka akan menimbulkan kekosongan batin. Dalam Kej. 2:23-24 dikatakan bahwa seks adalah perfect union/unity. Jika orang melakukan seks secara suci, pasti ada kepuasan secara rohani, mental, dan biologis. Tetapi tanpa seks yang suci, akan didapat kepuasan/kenikmatan biologis mungkin terjadi, tetapi akan ada ketimpangan dari segi kepuasan batiniah secara rohani. Makanya dalam Mat 19:5, kita melihat adanya inisiatif Allah yang mempersatukan manusia di dalam suatu seks yang suci (the holy seks). Karena itulah, Allah menghendaki seks itu tetap indah, sesuatu yang nikmat, yang menciptakan keharmonisan, bukan sesuatu yang menciptakan kepahitan.

Bagaimana tahapan menuju sebuah pernikahan.

Dating dalam berpacaran

Masa awal dalam berpacaran memiliki jenis cinta ‘agape’. Dalam tahap ini, agape love adalah sebuah spiritual love di mana kita memberi bukan menerima, atau memaksa orang lain untuk memberi bagi kita, melainkan mengkondisikan diri kita untuk memberi kepada orang lain.
Ini adalah cinta awal yang murni (mari kita bandingkan dengan kisah pertemuan Rut dengan Boas yang diawali dengan kasih agape)

Tujuan dari hubungan ini adalah, pertama, agar keduanya saling mendorong untuk lebih dekat kepada Tuhan. Jadi laki-laki mendorong perempuan untuk semakin bertumbuh dan dewasa di dalam Kristus dan sebaliknya. Keduanya harus saling melengkapi. Kedua, di sinilah laki-laki berperan sebagai pemimpin dan yang perempuan sebagai inspirator. Di dalam hal inilah, laki-laki memimpin agar cinta mereka lebih murni, hidup mereka lebih suci, dan mereka memiliki hidup yang semakin berkenan kepada Allah. Ketika laki-laki gagal memimpin dengan cara demikian, yang menjadi pertanyaan adalah apakah selama berpacaran mereka memang dipimpin oleh Tuhan atau karena didominasi oleh seks bukan cinta. Mungkin karena ia cantik atau cakap. Di sisi lain wanita sebagai inspirator mendorong laki-laki untuk bisa terus memimpin. Pemimpin perlu dimotivasi. Kalau pemimpin berjalan terlalu cepat, yang perempuan menarik dan kalau terlalu lambat, perempuan mendorong.

Harus disadarai bahwa di dalam dating and intimacy, seks itu seperti api (sex is like a fire) yang artinya, seks itu dapat digunakan dengan baik, tetapi sebaliknya bisa juga menjadi hal yang membahayakan. Jadi ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam mengantisipasi ini, yaitu waktu, tempat, dan flame (nyala). Kapan seks tidak membahayakan, dimana seks dinyatakan dan seberapa besar ‘nyala’ seks selama berpacaran

Ada lima rumus dalam dating, yaitu :

1. Hindari hubungan yang sangat nyaman (permanen) sampai tiba waktu Tuhan. Ini adalah masa kebersamaan yang ‘terlarang’ dimana jika terlalu sering ketemu dan bersama akan menimbulkan masalah. Inilah sebabnya, pacaran itu tidak terlalu baik jika selalu bersama. Kita harus mengingat bahwa tidak ada seorangpun dari kita yang kuat. Kita harus berjaga-jaga dan jangan sampai membawa diri kita sendiri ke dalam pencobaan. Karena ini jugalah, dalam etika Kristen, tidak baik berpacaran itu terlalu lama karena sebelum berpacaran kita sudah harus mengenal lebih dahulu (bukan seperti beli kucing dalam karung).

2. Usahakan untuk banyak beraktivitas.
Apakah kita masih mengingat bagaimana raja Daud jatuh ke dalam dosa.? Pada masa itu adalah masa berperang, akan tetapi raja Daud tidak pergi berperang melainkan berjalan-jalan di sotoh istananya. Daud yang tidak punya kegiatan melihat Betsyeba yang sedang mandi dan akhirnya dia berjinah dengan Betsyeba.

3. Hindari suasana atau diskusi-diskusi yang tidak membangun. Misalnya pa caran di tempat sepi yang tidak dilalui orang dan dengan penerangan yang remang-remang dapat dipakai iblis untuk menjatuhkan kita ke dalam perjinahan.

4. Mari belajar memperlengkapi diri untuk menikah secara rohani, emosi, mental, dan psikis (bukan hanya mengandalkan kedewasaan fisik saja).

5. Hindari pre-marital sex. Hal ini penting. Oleh karena itulah seks di luar pernikahan di tentang oleh firman Tuhan. Ada beberapa hal yang harus kita ingat :

• Be satisfied with spiritual communion and conversation.
• Keep yoru life holy and pure. To stay clean, stay away! Karena tubuh kita adalah bait Allah. Kor.6:19; 1 Kor.10:23. bd. Kol.3:17,23
• Lust can only wait five minutes; Love can wait for five years.

Dapatkah anda mendaftarkan lima cara untuk membawa pasangan kita untuk semakin dekat kepada Tuhan? Jika anda dapat, berari anda benar-benar mencintai pasangan anda dan jika tidak, berarti cinta anda tidak murni.

Jika ada pasangan di dalam keintiman dapat puas diluar dari Kristus, berarti mereka bukan di dalam cinta sejati. Tetapi ketika pasangan puas dan menikmati bersama-sama didalam Kristus, berarti mereka di dalam cinta yang tulus. Inilah cinta yang sejati.

Di dalam hal inilah penting adanya kesucian hidup di dalam berpacaran. Dalam berpacaran kita harus mebangun kedekatan psikis, bukan bukan fisik. Petting, necking, hugging and kissing diijinkan Allah sebagai cara untuk menuju hubungan seksual di dalam pernikahan karena laki-laki terangsang dengan penglihatan dan wanita melalui sentuhan. Itulah sebabnya di dalam berpacaran, kita harus menjaga kesucian pasangan kita. Kalau kita memiliki sesuatu yang kita sayangi, kita akan menjaganya dengan baik. Sama seperti dalam berpacaran, Jika benar kita mencintai dia, kita tidak akan menodainya.

Pacaran adalah kesempatan untuk mengenal lebih dalam, baik karakter, kekuatan, dan kelemahaannya. Kita belajar untuk mengerti dirinya karena pernikahan adalah perpaduan dua insan yang berbeda tetapi saling mengerti. Bukan menuntut pasangan untuk mengerti kita, tetapi untuk mengerti pasangan kita. Jika kita menuntut pasangan kita untuk mengerti kita, akan menjadi sumber konflik. Tetapi belajar untuk mengerti pasangan adalah sumber kebahagiaan. Jangan menikah kalau kita belum siap untuk mengerti pasangan kita. Oleh karena itu pacaran adalah masa mencari pimpinan Tuhan. Kalau pasangan kita tidak mau dimengerti dan kita sudah berusaha untuk mengerti dia, kenapa harus dilanjutkan! Jangan berpikir kalau sudah pacaran harus menikah. Mari belajar untuk menerima pasangan kita apa adanya. Hal ini penting supaya ketika menikah tidak terjadi ‘letupan-letupan’ atau keterkejutan. Kita harus membereskannya pada saat kita masih berpacaran. Di sinilah kita bisa belajar untuk memperhatikan dan membangun pasangan kita untuk bertumbuh secara rohani. Karena itu saudara, perlu dibangun proyek bersama di dalam berpacaran, misalnya proyek baca buku, KTB, jam doa, pelayanan dan kunjungan. Indikator berpacaran yang benar adalah apakah selama pacaran keduanya semakin bertumbuh dan mengasihi Tuhan?

Tunangan

Dalam pacaran yang lebih jauh lagi (biasanya dipakai istilah tunangan, walaupun tidak semua menggunakan istilah ini) jenis cinta agape ditambahi dengan jenis cinta ‘Philia’ yaitu persahabatan dan berbagi. Soulish bukan selfish.

Hubungan ini mempunyai tujuan, pertama, sharing yang lebih dalam dimana sharing ini sampai pada titik yang terlemah. Alangkah bagusnya kalau kita mengetahui kelemahan pasangan kita yang terdalam maupun potensinya karena akan membantu kalau akhirnya menikah.. Kedua, mendiskusikan rencana masa depan seperti keluarga, anak, pekerjaan pelayanan, dan lainnya. Kita harus siap menerima keluarga pasangan kita menjadi bagian hidup kita sehingga kita tidak menganggab beban kalau ada keluarga pasangan kita tinggal dengan kita. Ketiga, mencapai dengan penuh pertimbangan dengan kesiapan mental. Kalau ini cocok dapat dilanjutkan pada tingkatan selanjutnya

Pernikahan

Dalam pernikahan jenis cinta yang ada dalam dating dan tunangan ditambahkan dengan cinta ‘Eros’ yaitu physical sexual love. Sexual love adalah sebuah berkat dan anugrah bukan bermuara pada kepahitan. Dalam hal inilah hubungan ini akan menjadi satu daging dengan kenikmatan bersama dan menjadi keluarga yang memuliakan Allah.
Mari kita isi pacaran dimana keduanya bertumbuh semakin mencintai Kristus, semakin dewasa dan memuliakan Allah.
Soli Deo Gloria!

Saturday, March 28, 2009

Seri LDS 2: Cinta Sejati

By: Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div

Dalam sesion kali ini kita akan membahas bersama kitab Ruth. Kita akan melihat kitab Ruth mulai dari pasal 1 s/d pasal 4. Dalam kisah ini kita akan melihat bagaimana Tuhan mempertemukan Ruth dengan Boas. Saya sengaja membuat tema kali ini “Kisah cinta antara Ruth dengan Boas”, karena sering kita hanya mendengar cintanya ‘Boas’ kepada ‘Ruth’. Kalau biasanya lelaki harus pertamakali , kali ini kita akan melihat wanita yang pertama.

Siapakah Ruth?

Ruth adalah seorang janda yang ikut Naomi ke Betlehem setelah suaminya me ninggal (1:7) Jadi, pada waktu itu, Elimelekh pergi ke tanah Moab karena di Betlehem terjadi kelaparan. Jadi dua orang anaknya menikah dengan perempuan Moab. Kemudian meninggallah Elimelekh dan dua orang anaknya dan tinggallah tiga perempuan yang telah menjadi janda. Akhirnya Naomi meminta agar kedua menantunya ini kembali ke Moab dengan alasan Naomi tidak punya anak laki-laki lagi. Satu orang pulang, tetapi Ruth berkata :”Allahmu adalah Allahku, kemana pun engkau pergi, aku akan pergi…” (1:7-17). Ruth adalah seorang yang percaya tetapi non Yahudi/Israel karena dia adalah perempuan dari Moab (1:16) tetapi dia percaya kepada Allah. Dua juga bekerja sungguh-sungguh supaya kehidupannya dan mertuanya terpelihara dengan baik. Jadi, Ruth ini memiliki karakter beriman, rajin, baik. Setia, dan taat pada Tuhan serta tunduk pada mertua yang baik (2:2,7).

Bagaimana pertemuannya dengan Boas?

Ketika mereka sampai di Betlehem, saat itu adalah musim menuai jelai(1:22). Ketika mereka kesulitan makanan, Ruth meminta izin kepada Naomi untuk memungut jelai. Bagi orang Yahudi, orang miskin dan para janda diizinkan untuk memungut sisa-sisa panen di ladang dan sisi-sisa ini tidak boleh diambil kembali oleh pemilik ladang karena menjadi hak orang miskin dan janda. Dan inilah yang diambil oleh Ruth untuk mertuanya. Jadi, jika kita perhatikan, pertemuan Ruth dan Boas terjadi secara natural. Kalau kita ingat akan providensia Allah, tidak ada yang terjadi secara kebetulan, tetapi semua ada di dalam rencana Allah.

Allah memakai berbagai hal untuk kebaikan umatNya. Pada waktu itu, Ruth yang memungut jelai di ladang Boas, tidak direncanakan. Tetapi menjadi keyakinan bagi kita, bahwa dengan cara inilah Allah memimpin. Ketika Boas melihat Ruth, dia bertanya kepada pegawainya siapa gerangan Ruth. Pegawainya mengatakan kepadanya bahwa wanita itu adalah Ruth, menantu Naomi, yang telah meninggal suaminya, yang baru kembali dari tanah Moab, dan datang untuk tinggal di Betlehem (2:1-7). Ini adalah komunitas yang baik. Jadi Boas menolong karena tahu bahwa dia masih ada hubungan keluarga dengan Naomi, dan inilah yang membuat Boas berbelas kasihan. Jadi, belum ada cinta pada awalnya. Tetapi ada satu tindakan belas kasihan yang biasa. Orang kaya menolong orang miskin, dan ketika Boas tahu bahwa Ruth adalah menantu dari Naomi yang merupakan kerabatnya, dia memberikan kemurahan dan kebaikan kepada Ruth (2:8-12). Sesampainya di rumah, ketika Naomi bertanya kepada Ruth dimana dia memungut jelai, Ruth menceritakan tentang Boas dan kebaikannya. Kemudian Naomi mengatakan pada Ruth bahwa bahwa Boas adalah kaum kerabat mereka (2:20).

Pada pasal 3:1, dapat kita ketahui bahwa Naomi memperhatikan kehidupan Ruth. Kemudian Naomi berinisiatif dengan menyuruh Ruth pergi ke pengirikan dan tidur di sebelah kaki Boas. Ruth juga disuruh menarik selimut Boas agar Boas tahu dia ada disana (3:3-4). Ini strateginya Naomi. Dan Boas, ketika mengalami kejadian itu, melihat ketulusan Ruth. Artinya, mulai pertama kali bertemu, melihat ketulusan Ruth, sampai akhirnya bagaimana Ruth bertindak demikian, akhir nya Boas jatuh cinta (3:10-12). Tetapi Boas berkata bahwa belum haknya untuk menebus Ruth karena ada yang lebih berhak (3:12). Perlu diketahui bahwa tradisi bangsa Israel, jika masih ada anak yang pertama, yang kedua tidak boleh, dan demikian seterusnya. Dalam hal ini masih ada saudara Boas yang lebih berhak menebus Ruth dan Boas menghormati tradisi ini. Kalau kita lihat pada pasal 3 dan 4, Boas memanggil saudara-saudara dan para pemimpin-pe mimpin untuk membicarakan hal ini. Ketika saudara Boas yang berhak menebus Rurth tidak bersedia menebus Ruth dan bertanggung jawab meneruskan keturunan Elimelekh agar tidak punah, Boas menerima hak untuk menebus Ruth (4:1-12). Setelah itu barulah Boas mengambil Ruth sebagai isterinya.

Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari kisah “cinta Ruth kepada Boas”.

1. Cinta itu lahir dan tumbuh secar alamiah dengan pengenalan yang lebih dalam. Oleh karena itu, cinta tidak dibuat-buat dan tidak dikondisikan. Dalam kisah ini, kita dapat melihat Ruth memungut jelai di ladang Boas. Hal ini tidak disengaja. Tetapi Tuhan menyatakan rencanaNya melalui hal ini. Ada banyak cara Tuhan memimpin kita, baik itu di kampus, kebaktian, dan bisa dimana saja. Yang penting adalah jangan mencari ‘domba’ di kandang ‘kambing’. Oleh karena itu, kita dapat melihat satu proses alamiah terjadi, walaupun ada yang dikondisikan dengan cara tertentu untuk mengunjungi orang tertentu, ini lain ceritanya. Ini adalah ‘How to say’, bukan pertemuan pertama kali. Dalam kisah ini cintanya Boas muncul dan bertumbuh ketika melihat karakter, kesetiaan, dan cara hidup Ruth, bukan sebatas kecantikan.

2. Cinta lahir karena karakter dan cara hidup yang benar. Ketertarikan Boas dan Ruth muncul ketika melihat karakter masing-masing. Ruth tertarik melihat kemurahan Boas. Hal ini tidak gampang karena, pertama, pada waktu itu tidak gampang bagi wanita non Yahudi masuk ke kawasan Yahudi. Kedua, ketika hal ini terjadi, Ruth mendapatkan belas kasihan dari Boas bukan dalam rangka untuk dicintai. Cinta antara mereka tumbuh dari saling mengenal dari segi karakter, hidup, dan kebaikan. Hal ini penting karena jika hanya melihat sebatas kecantikan, akan sangat terbatas karena kecantikan akan luntur (Amsal 31), tetapi inner beauty dari seseorang dapat bertahan lama dan membuat cinta tidak akan pernah pudar.

3. Cinta yang tulus melahirkan keberanian untuk bertindak atau menyatakannya. Memang Naomi yang memerintahkan Ruth. Naomi memiliki strategi karena dia tahu tradisi Yahudi sedangkan Rurh tidak mengetahuinya. Maka untuk menyatakannya, Naomi lah yang mengajari Ruth (pasal 3). Kalau kita perhatikan dalam hal ini ada satu keberania untuk menyatakan. Dalam budaya kita, yang pertama harus menyatakan adalah laki-laki. Tetapi menurut Alkitab, tidak ada larangan bagi wanita untuk menyatakannya terlebih dahulu cintanya. Kalau kita yakin cinta itu berasal dari Tuhan, kita harus berani untuk bertanggungjawab dan berani untuk menyatakannya. Mungkin hanya ‘bagaimana untuk menyatakannya’ ini yang berbeda. Kalau seorang laki-laki bisa menyatakannya secara langsung. Tetapi seorang wanita melakukannya dengan berbagai cara, dan dalam kisah ini Naomi memakai memakai trik untuk hal ini. Artinya, kalau nanti Boas tahu Naomi berada di samping kaki Boas, naomi menyuruh Ruth untuk diam (perlu diketahui bahwa hal ini adalah metode pada saat itu). Ketika Ruth menjalankan perintah Naomi, Boas langsung tahu. Tidak ada satu kalimatpun yang dikatakan oleh Ruth. Tetapi Boas tahu, karena tradisi yang ada pada saat itu. Karena itu, bagi laki-laki, tolong peka terhadap ‘sinyal’ , karena wanita tidak bisa menyatakannya secara langsung. Dan bagi perempuan, jika kamu yakin seseorang itu berasal dari Tuhan, kamu bisa menyatakannya dengan cara-cara tertentu. Dalam kisah ini Ruth dibantu oleh Naomi. Bagi laki-laki, perlu untuk diingat, kalau ada perempuan yang menyatakan isi hatinya kepadamu, tolong jangan bicarakan dengan orang lain. tolong hargai dia, dan jangan berpikir bahwa dia adalah perempuan murahan karena dia melangkah dengan iman. Perlu keberanian untuk melakukan hal ini karena biasanya hal ini dianggap memalukan dan merendahkan harga diri perempuan.

Dalam hal ini jugalah apakah kita butuh “mak comblang Naomi” untuk membantu kita?
Kita juga dapat melihat beberapa hal tentang cinta melihat cinta antara Ruth dan Boas.

1. Cinta itu tidak dibatasi oleh status sosial.
Ruth adalah seorang janda. Cinta yang sejati akan menghancurkan status sosial. Makanya tidak salah bagi seorang laki-laki untuk menikah dengan seorang janda, dan sebaliknya, yang penting adalah beriman kepada Kristus.

2. Cinta itu tidak dibatasi oleh status ekonomi.
Cinta yang sejati tidak memandang status ekonomi termasuk status pekerjaan. Jadi, bukan harus pria yang jabatannya lebih tinggi, bukan harus pria yang penghasilannya lebih besar.

3. Cinta tidak dibatasi oleh budaya dan suku (cross-cultural love)
Kalau kita memiliki pasangan yang berbeda suku dimana orang tua tidak setuju, tetapi kita yakin Tuhan yang memimpin, kita harus berani melangkah. Dalam hal ini Ruth dan Boas menikah tanpa terpengaruh oleh batasan ini. cinta yang sejati tidak pernah dibatasi oleh apapun kecuali oleh iman, karakter, dan nilai hidup. Cinta tidak dibatasi oleh apapun dan dari sini juga kita melihat bahwa tidak ada larangan bagi pasangan jika yang wanita lebih tua dibandingkan dengan yang laki-lakinya.
Dalam hal ini jugalah cinta yang sejati adalah cinta ’meskipun’ bukan cinta ‘bukan karena’ atau ‘supaya’

4. Cinta tidak menghancurkan tradisi (1:1-12)
Dalak kisah ini Boas tidak serta-merta menghancurkan tradisinya, melainkan bertanya pada orang yang berhak untuk menebus Ruth. Ketika yang berhak ini tidak bersedia menebus Ruth, Boas melakukannya.

5. Cinta yang dialami Boas dalam kisah ini adalah cinta yang penuh tanggung jawab (4:9-10).
Boas menikahi Ruth bukan hanya sebatas menikah. Oleh karena itu pernikahan bukan sebatas tuntutan seksualitas, walaupu seks adalah buah dari cinta. Boas berani menikahi Ruth (seorang janda dimana pada saat itu kurang dihargai) sekaligus bertanggung jawab untuk kelangsungan keturunan Elimelekh. Per nikahan dan cinta yang tulus akan melahirkan tindakan yang bertanggung ja wab. Jika kita mencintai seseorang, kita harus mencintai dan bertanggung jawab terhadap keluarganya.

6. Cinta yang sejati menggenapi rencana Allah (4:13-22)
Setelah Ruth menikah, dia akan melahirkan seorang anak yang bernama Obed. Obed akan melahirkan Isai, ayah dari Daud. Dan Daud adalah nenek moyang dari Yesus Kristus (4:18-22). Jadi, pernikahan yang betul-betul dari Allah maka Allah akan menggenapi ren cananya melalui pernikahan dan pasangan ini akan mendapatkan kebahagiaan yang sejati.
Mari kita memiliki cinta yang tanpa syarat, yaitu cinta ‘meskipun’. Cinta yang sejati tidak akan menyebabkan perpecahan. Pernikahan yang didasari pada cinta yang sejati akan dipakai Allah untuk menggenapi rencanaNya.
Soli Deo Gloria!