Saturday, July 20, 2013

Efesus Pasal 6

Drs. Tiopan Manihuruk, M. Th


Minggu yang lalu kita telah membahas mengenai alasan mengapa Paulus menempatkan relasi suami isteri yang pertama setelah praktika-praktika etis. Pertama, karena keluarga lembaga pertama yang Allah bentuk (Kej 1:38; 2:8-25). Kedua, latar belakang jemaat Efesus yang biasa dengan poligami. Ketiga adalah karena keluargalah yang merupakan pusat pembentukan sebuah cara hidup dan relasi dalam pertumbuhan individu. Jika relasi antara suami isteri adalah relasi yang sehat dan relasi yang dibangun dalam takut akan Tuhan biasanya anak-anak mereka akan bertumbuh dengan lebih baik.

Kemudian pada pasal 6 ini Paulus memulai dengan relasi anak dengan orangtuanya. “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu -- ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi” (1-3). Dalam bagian ini kita melihat ada satu perintah yang dikondisikan, ‘taatilah orangtuamu di dalam Tuhan. Artinya adalah selama apa yang diperintahkan orangtua kepada anak-anaknya adalah sesuatu yang sesuai dengan kehendak Tuhan, maka sang anak wajib menaatinya. Sebaliknya jika tidak sesuai dengan kehendak Allah, si anak tidak wajib untuk menaatinya. Ketaatan itu hanya dilakukan di dalam Tuhan.

Kemudian ada perintah selanjutnya untuk menghormati orangtua. Perintah menghormati orangtua tanpa ada syarat-syarat tertentu. Artinya adalah kita wajib menghormati orangtua tanpa syarat. Menghormati adalah sesuatu yang harus kita lakukan apakah di dalam atau di luar Tuhan. Ketikapun orangtua kita tidak seperti yang kita harapkan (dimana orangtua kita pemabuk, pejudi, dll) kita wajib menghormati mereka. Tetapi untuk menaati mereka kita tidak wajib selama apa yang mereka perintahkan bukan di dalam Tuhan. Bisa dikatakan menaati itu adalah sesuatu yang wajib jika perintah yang diberikan sesuai dengan kehendak Tuhan, tetapi tidak wajib untuk dipatuhi jika perintah itu di luar Tuhan. Dan kita harus dan wajib menghormati orang tua baik mereka  di dalam atau di luar Tuhan. Oleh sebab itu jangan pernah merendahkan, menghina, atau berbicara kasar kepada orang tua kita. Taat dan hormat kepada orangtua adalah rahasia kebahagiaan seorang anak dan disertai janji akan umur yang panjang (3 – band. Ul 5:16).

Tidak hanya perintah kepada anak, ada juga perintah kepada kaum bapak. Dalam ay 4 dikatakan, “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Menarik sekali melihat bahwa perintah hanya diberikan kepada kaum bapak, bukan kepada kaum ibu. Mengapa demikian? Dalam kehidupan kita melihat bahwa kaum bapaklah, bukan ibu, yang lebih sering melakukan kekerasan atau memukul anak. Jadi sebenarnya, tanggung jawab mendidik anak itu harus diberikan kepada kaum bapak, bukan ibu. Berbeda dengan kenyataan yang kita temukan dalam keseharian (khususnya dalam konteks budaya timur)  dimana tugas mendidik anak banyak dibebankan kepada kaum ibu. Seharusnya tidak demikian. Seharusnya peran ini diberikan kepada kaum bapak karena merekalah figure imam dan pemimpin dalam keluarga. Kepala sang isteri adalah suami dan kepala suami adalah Kristus (Ef 5:23). Jadi sangat masuk akal jika peran untuk mendidik anak itu diberikan kepada kaum bapak. 

Apa perintah kepada kaum bapak? Yang pertama adalah “janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu’. Seorang ibu hampir tidak ada yang membangkitkan amarah anak-anaknya dan bagian ini sering dilakukan serang bapak. Membangkitkan amarah disini maksudnya adalah sikap si bapak yang (mungkin) terlalu kasar dan diktator sehingga si anak menjadi resiten terhadap bapaknya dan juga menimbulkan kebencian kepada orangtuanya. Bagaimana caranya agar hal ini bisa diminimalisasi? Adakalanya bapa-bapa menundukkan/mengabaikan sebagian otoritas demi menahan kemarahan anak.

Perintah kedua adalah “mendidik anak di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.“ Ini adalah sebuah perintah yang sering ditanyakan pendeta ketika ada orang tua yang membaptis anaknya. Mereka berjanji akan membesarkan si anak dalam takut akan Tuhan. Tetapi sangat menyedihkan melihat kondisi gereja sekarang ini. Bagaimana mungkin seorang bapak bisa melakukan perintah ini jika mereka sendiri jarang ke gereja? Jika kita perhatikan siapa-siapa saja yang sering menghadiri ibadah minggu, maka kita akan menemukan bahwa jawabannya adalah kaum ibu. Kaum bapak itu sangat sedikit datang ke gereja padahal mereka adalah imam dalam keluarga. Sebagai seorang imam dalam keluarga justru kondisi rohani merekalah yang tidak terlalu baik jika dibandingkan dengan kaum ibu. Seharusnya seorang lelaki (kaum bapak) lebih dewasa secara rohani.

Setelah relasi antara ayah dan orangtua, maka Paulus melanjutkan dengan relasi antar tuan dan hambanya (5-8). Apa perintah kepada hamba? Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus (5). Dalam terjemahan lain kata yang dipakai untuk ‘takut’ adalah ‘respect – hormat’.  Jadi kita harus tatat dan menghormati tuan kita sama seperti kita taat kepada Kristus.

Bagaimana jika pimpinan kita bukanlah seorang yang takut akan Tuhan, seorang yang jahat dan tidak berlaku jujur? Prinsipnya sama dengan relasi antar orangtua dan anak (1-3). Kita menaati pimpinan kita selama di dalam Tuhan. Di luar Tuhan kita tidak wajib menaatinya tetapi wajib menghormatinya. Bagaimana kita tulus hati kepada orang yang tidak benar? Dalam 1 Tim 6:1-2a dikatakan, “Semua orang yang menanggung beban perbudakan hendaknya menganggap tuan mereka layak mendapat segala penghormatan, agar nama Allah dan ajaran kita jangan dihujat orang. Jika tuan mereka seorang percaya, janganlah ia kurang disegani karena bersaudara dalam Kristus, melainkan hendaklah ia dilayani mereka dengan lebih baik lagi, karena tuan yang menerima berkat pelayanan mereka ialah saudara yang percaya dan yang kekasih.” Sikap kepada tuan atau pimpinan kita adalah gambaran sikap hati kita kepada Kristus. Itulah sebabnya ketika bekerjapun kita tetap taat tanpa pengawasan dan tidak memakai prinsip ABS (Asal Bapak Senang) tetapi karena kita menyadari bahwa kita adalah hamba Kristus untuk melakukan kehendak Allah dengan segenap hati (6). Apapun pekerjaan kita, ingat bahwa kita adalah hamba Kristus yang bekerja di tempat kita sekarang. dalam Kol 3:23 dikatakan, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Perlu kita ketahui bahwa bagian ini dituliskan dalam konteks perhambaan (perhatikan mulai Kol3:20).

Seorang hamba haruslah rela menjalankan pelayanannya seperti kepada Tuhan bukan kepada manusia (ay 7). Makanya orientasi kita bekerja bukan kepada income atau produksi tetapi bagaimana memberikan yang terbaik kepada Allah. alasannya sangat jelas bahwa setiap orang (apap dan siapapun, budak atau merdeka) yang telah berbuat sesuatu yang baik akan menerima balasannya dari Tuhan (8). Mungkin boss kita adalah seorang yang kejam, kasar, atau tidak disiplin, tetapi mari belajar untuk hormat dan menaati apa yang diperintahkan sesuai dengan firman Tuhan.

Kemudian perintah kepada tuan juga ada di dalam ay 9 dikatakan, “Dan kamu tuan-tuan, perbuatlah demikian juga terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka”. Jadi, perintah tuaan sama dengan perintah kepada hamba (6b-8) itu.  Jadi jangan mentang-mentang bos atau majikan menjadi seorang yang kasar dan main ancaman kepada bawahan. Tuan dan hamba punya Tuhan yang sama dan Dia adalah Tuhan yang adil (no favoritism with HIM).

Setelah dihidupkan kembali secara rohani (2: 1-10) dengan tujuan untuk hidup suci (1: 4, 11) dan telah menjadi manusia baru (4: 17-32) serta perubahan status dan hidup (5: 1-21) yang disertai dengan relasi yang Alkitabiah (5: 22-6:9), menurut Paulus semua perintah praksis etis ini hanya bisa diterapkan dan kita akan menang dari serangan kedagingan dan iblis, apabila setiap orang mengenakan perlengkapan rohani (6: 10-20).

Dalam ay 10 Paulus mengatakan, “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.” Paulus mau menekankan bahwa kekuatan kita untuk berdiri teguh dan mengerjakan perintah Allah sepenuhnya hanya di dalam kekuatan Tuhan dan kuasa Allah yang bekerja dalam diri kita. Apapun cara, hikmat, dan kekuatan kita tidak akan memungkinkan kita mengerjakan hal itu dengan baik. Tidak seorangpun mampu bertahan hidup benar dengan tindakan etis jika mengandalkan kekuatannya sendiri (band Am 3, Yer 17:5, 7, 8). Bagaimana caranya kita mengandalkan kuasa Allah?

Pertama, ay 11, “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;”. Mengenakan seluruh senjata Allah akan memampukan kita untuk bertahan melawan tipu muslihat iblis (11) dan dapat mengadakan perlawanan dan tetap berdiri sesudah menyelesaikan peperangan (13). Mengenakan seluruh senjata Allah adalah sesuatu yang penting (kemungkinan besar metafora ini Paulus pakai ketika menulis surat ini dia mengamati pasa pengawal pasukan Romawi dengan seragam yang lengkap [3:1; 4:1; 6:20]) karena perjuangan kita bukan melawan darah dan daging tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara (12). Hal inilah yang sering kita tidak sadari. Misalnya jika si A membenci kita sering sekali kita melihat bahwa yang membenci kita hanya si A seorang. Tetapi mari menyadari bahwa yang bekerja dalam diri si A b ukan dia sendiri tetapi iblis memperalat si A untuk membenci kita. hal inilah harus kita pamahi dan ketika kita memahaminya dnegan baik maka akan lebih mudah bagi kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita karean kita menyadari bahwa apa yang membuatnya seperti itu adalah pekerjaan si Iblis. Si iblis inilah lawan kita yang sebenarnya.

Kedua, ay 14-15, “Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilankakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera.” Bagaimana secara rohani kita bisa berdiri tegak adalah dengan hidup dalam keujuran dan kebenaran. Jika kita hidup benar pasti kita bisa berdiri dengan tegap. Jika ada pemeriksaan keuangan kita tidak takut karena kita tidak melakukan kecurangan apapun. Kita akan menjadi orang yang berani dan mampu berdiri tegap jika kita hidup dalam kebenaran dan integritas.

Kemudian berbaju zirahkan kebenaran. Bagi pasukan baju zirah itu bisa tahan terhadap serangan panah. Hal ini menggambarkan adanya keadilan. Jika kita hidup benar dalam keadilan pasti bisa berdiri tegap. Ada lagi kasut kerelaan untuk memberitakan injil (15). Ada sebuah cara hidup yang membuat tegap dengan bersumber dari Injil. Pemahaman di sini adalah kaki itu adalah sikap untuk melangkah menyerang juga untuk melangkah berkarya. Jadi jangan pasif.

Ketiga, ay 16, “dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat.” Perlengkapan berikutnya adalah perisai iman (16). Orang romawi perisainya dilapisi dengan kulit sehingga jika dibasahi bisa dipakai untuk emmadamkan api. Dengan imanlah kita bisa melawan serangan si iblis. Seringkali kita lemah adalah karena tidak ada lagi iman.

Keempat, ay 17, “dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah,.” Perlengkapan berikutnya adalah ketopong keselamatan dan pedang Roh. Pada masa itu ketika sebuah negara ditaklukkan maka pihak pemenang akan memenggal kepala raja yang kalah lengkap dengan ketopongnya dan membawanya sebagai bukti dan simbol kemenangan. Jadi ada dua makna dari ketopong, pertahanan untuk keselamatan dan bukti kemenangan. Orang yang beriman dan mampu berdiri teguh harus memliki ketopong dan pedang Roh yaitu Firman Allah. Jadi sesibuk apapun kita, mari tetap ambil waktu untuk saat teduh. Inilah semua senjata kita untuk mampu bertahan.

Kelima, dalam ay 18 dikatakan, “dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,” Bedoa dalam Roh pada setiap kesempatan dengan segala jenis doa. Hal ini berbeda dengan jam doa. Berdoa dalam Roh tidak harus tutup mata tetapi ada hati yang tetap bergantung kepada Allah dimana kita selalu berseru dan memohon kepada Allah. Berdoa dalam Roh. Roh yang memimpin dan mengajari dan setiap kesempatan dalam semua jenis doa kita sampaikan  baik permohonan maupun ucapan syukur bahkan berdoa untuk orang-orang kudus (dalam moment-moment tertentu). Orang-orang kududs maksudnya adalah orang yang telah mengenal Kristus bukan santo dan santa. Dalam peperangan rohani harus berperang dengan kekuatan Allah yaitu dengan bersandar dalam doa dan Firman Allah (band. Mat 26:41).

Kemudian ada juga permohonan Paulus agar jemaat mendoakannya (19-20). Doa Paulus bukan agar dia keluar dari penjara tetap berani membuka mulut untuk memberitakan Injil. Sering sekali doa kita berpusat kepada diri kita. Mari belajar berdoa dengan berpusat kepada Tuhan. Selama doa kita berpusat kepada diri sendiri dan kepuasan kita maka kita tidak akan menikmati sebuah dimensi hidup yang indah bersama Allah. Tetapi ketika doa kita berpusat kepada Allah dan pelayananNya disana ada kenikmatan dan kepuasan hidup bersama dengan Allah akan kita rasakan. Paulus tidak meminta agar keluar dari penjara atau tidak menderita tetapi yang ia minta agar ia bisa membuka mulut dan memberitakan Injil dengan berani. Jika kita berdoa dalam perjalanan rohani kita dimanapun mari mulai berdoa dengan berpusat kepada Kristus, jangan untuk diri sendiri.


Solideo Gloria!

Efesus pasal 5


Drs. Tiopan Manihuruk, M. Th


Efesus 5:1-12 merupakan lanjutan dari cara hidup yang baru sebagai orang yang beriman kepada Kristus (lanjutan dari Ef 4:17-32). Bagian ini juga merupakan pendahuluan dari prinsip relasi suami-isteri, orangtua-anak, dan majikan-hamba (5:22-6:9). Tanpa sebuah pembaharuan hidup (inner renewal [21-23] and outer renewal [25-32]) secara personal maka tidak mungkin seseorang bisa membangun relasi yang baik dengan siapapun. Dengan kata lain jika relasi seseorang dengan orang lain selalu penuh dengan masalah, bisa dikatakan bahwa belum ada pembaharuan personal dalam diri orang itu. Jika kita memiliki rohani yang bagus maka perbuatan orang yang membuat kita jengkel pun tidak akan menjadi masalah bagi kita. Itulah sebabnya mengapa Paulus menempatkan bagian ini (Ef 5:1-21) sebagai dasar perintah relasi suami-isteri, tuan-buruh, atau anak-orang tua. Tidak akan mungkin semua relasi ini berjalan dengan baik tanpa sebuah pembaharuan yang personal.

Pada bagian selanjutnya kita melihat bagaimana Paulus memberikan perintah kepada jemaat di Efesus. Sebagai kelanjutan dari kehidupan rohani yang baru (4:25-32) Paulus memerintahkan mereka agar mereka menjadi peniru Kristus (be imitator of Christ) (ay 1). Peniru Kristus maksudnya adalah bagaimana mereka menyerupai Kristus dalam semua aspek kehidupan mereka dan hal ini dimungkinkan jika ada pembaharuan total dalam hidup mereka. Ada beberapa cara agar hal ini bisa dilakukan. Pertama, dengan memiliki hidup dalam kasih dengan standar kasih Kristus (2 - band. 1 Yoh 4:8, 16). Jadi, sebagai peniru Kristus mereka harus hidup dalam kasih dan kasih itu harus sama kualitasnya dengan kasih Allah.

Kedua adalah hidup suci dengan menghindari tindakan amoral (3-5). Jadi, selain sisi negatif yang harus ditanggalkan (3-5) harus ditambahkan dengan sisi positif. Mari menghindari semua ucapan-ucapan yang tidak baik (khususnya dalam hal pornografi) dimana, jangankan untuk melakukan, untuk mengucapkan saja kita tidak pantas. Hal ini tentu saja berbeda dengan pendidikan seks karena yang dimaksud disini adalah ucapan-ucapan yang berbau pornografi yang merangsang birahi yang bisa membuat kita jatuh dalam perbuatan percabulan (sexual immorality). Jadi, ada baiknya kita harus hati-hati dengan setiap perkataan kita khususnya dalam bercanda kita. Jangan bercanda dengan kata-kata kotor dan mengandung pornografi karena hal ini tidak pantas tetapi mari mengeluarkan kata-kata yang positif yang membangun dan penuh dengan ucapan syukur (ay 4, band. Ef 4:29). Dalam ay 5 dikatakan, “Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.”  Paulus menyamakan yang sundal dan perzinahan, yang cemar dalam perzinahan dan serakah dalam materi dan seksual sama dengan penyembahan berhala (Kol 3:6). Jika orang dulu meyembah berhala dengan menyembah patung dan batu, maka salah satu penyembahan berhala dalam konteks jemaat di Efesus (termasuk juga dalam dunia modern) adalah penyembahan berhala dengan percabulan. Dan mereka tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

Ketiga adalah memiliki komunitas yang membangun. Dalam ay 6-7 dikatakan, “Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka. Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka.”  (band. Kol 2:8). Orang-orang yang memiliki filsafat kosong dan menyesatkan harus dijauhi dan dihindari. Perlu diingat, hal ini tentu saja berbeda dnegan konteks penginjilan. Kalau dalam konteks penginjilan hal yang berlalu adalah apa yang Paulus paparkan dalam 1 Kor 9:19-23 (“19 Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. 20 Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. 21 Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. 22 Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. 23 Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.”)

Perintah yang Paulus berikan dagar mereka menjadi peniru Kristus (ay 1) adalah karena perubahan status dimana dahulu mereka adalah kegelapan tetapi sekarang adalah terang (ay 8). Jadi bukan sekedar pindah kedalam terang, tetapi mereka sendirilah terang itu (band Mat 5:15). Perubahan status ini melahirkan perintah kedua yaitu hidup sebagai terang (8b) yang berbuahkan kebaikan, kebenaran, dan keadilan (9, band. Mat 5:16).

Kemudian baru muncul perintah agar kita mencari dan mengusahakan serta menemukan apa yang berkenan kepada Allah (10, band. Rom 12:2). Apa maksudnya? Hal ini berarti abhwa kita bukan sekedar tidak melakukan yang jahat, tetapi lebih dari itu kita harus mencari apa yang berkenan kepada Allah. Tidak berbuat dosa bukanlah titik dimana kita berhenti dan berpuas diri. Adalah baik jika kita secara pasif tidak melakukan dosa apapun. Tetapi keinginan Allah bagi hidup kita bukan sampai disini. Yang Allah harapkan dari kita bukanlah sekedar pasif tidak berbuat dosa tetapi Allah menginginkan kita secara aktif mengusir dosa, bukan hanya sekedar mengusir tetapi menelanjangi dosa itu sampai orang melihat bahwa itu adalah dosa. Dalam ay 11 dikatakan, “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.” Ingat, alumni adalah agent of change. Ketika kita menjadi agent of change maka dimana kita hadir orang tidak berani melakukan korupsi atau cakap kotor dan tidak berani berbuat yang macam-macam lagi. Disinilah level kita, bukan pasif tetapi aktif. Alasannya adalah “Sebab menyebutkan saja pun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan. Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang. Itulah sebabnya dikatakan: "Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu." (12-14).

Perintah berikutnya adalah agar menjadi bijaksana (be wise) (15). Bagaimana caranya? Pertama dalam mempergunakan waktu (kronos dan kairos) yang ada, karena waktu-waktu ini adalah jahat (16). Paulus hendak mengatakan karena hidup kita hanya sekali maka seharusnyalah hidup kita menjadi berarti.  Kedua adalah dengan mengetahui kehendak Allah (17). Ketiga adalah hidup penuh dnegan Roh, bukan anggur (18). Ingat, anggur merangsang hawa nafsu. Mengapa Paulus menekankan hal ini adalah karena orang di Efesus yang kebanyakan Yunani adalah orang yang memiliki pergaulan bebas. Itulah sebabnya tidak heran jika dalam gaya hidup mereka seks bebas adalah sesuatu yang lumrah bahkan mereka terbiasa dengan pelacur bakti, yaitu melakukan hubungan seks di dalam kuil sebagai bukti peribadatan kepada dewi Artemis. Keempat adalah selalu mengucap syukur dalam segala hal (20, band. Kis 16:25-26). Setelah semua itu, muncullah relasi suami dan isteri (22-33 dimana ay 21-24 difokuskan kepada para isteri dan 25-33 difokuskan kepada suami).

Jadi relasi suami isteri - selain didasari hidup yang baru (4:17-32-5:1-21) – tetapi juga diperintahkan dalam ay 21, “rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.” (band. Penurut Kristus dn hidup dalam kasih – 5:1-2, dan hidup penuh Roh – 5:18). Jika tidak memiliki kualitas rohani seperti yang sudah dipaparkan diatas (4:17-5:20) dan ditambah dnegan perintah dalm ay 21, maka tidak mungkin ada isteri yang tunduk benar kepada suaminya. Ketundukan didasarkan kepada sebuah kondisi rohani yang sehat. Perintah kepada isteri adalah tunduk kepada suami seperti kepada Kristus (ay 22). Ada dua pemahaman teologia mengapa Paulus focus pada keluarga untuk pertama kali. Pertama karena lembaga pertama yang dibangun oleh Allah di dunia adalah keluarga. Keluarga adalah sesuatu yang sangat penting dan strategis dalam hidup manusia sekaligus suatu perwujudan mandat Allah (Kej 2:18-25). Dalam PL ikatakan pernikahan disebut juga dengan covenant. Itulah sebabnya pernikahan itu adalah sesuatu yang sakral yang tidak bisa dipisahkan oleh apapun kecuali oleh kematian. Covenant berbeda dengan agreement. Agreement bisa batal jika ada satu pihak yang tidak setuju. Tetapi tidak demikian dengan covenant, suatu perjanjian yang tidak bisa dibatalkan. Alasan kedua adalah karena pada masa itu kehidupan pernikahan dalam jemaat Efesus sangat berantakan karena poligami yang luat biasa.  

Ketundukan isteri kepada suami sama seperti ketundukannya kepada Kristus. Sebuah ketundukan yang muncul karena penghormatan. Gambaran ketidaktundukan isteri kepada suami merupakan bukti ketidaktundukannya kepada Kristus. Kalau ada isteri yang tunduk kepada Kristus pasti ia akan tunduk dan hormat kepada suaminya. Sikap tunduk dan hormat kepada suami karena menyadari bahwa suami adalah kepala dalam rumah tangga (1 Kor 11:3 – kepala isteri adalah suami, kepala suami adalah Kristus dan kepala Kristus adalah Bapa). Ketundukan isteri kepada suami (24) sama seperti ketundukan jemaat kepada Kristus dalam segala sesuatu. Selama yang diperintahkan suami kepada isteri sesuai dengan firman Tuhan, tidak ada cara lain, sang isteri harus tunduk dan taat. Ketika suami memerintahkan yang salah tidak wajib untuk tunduk. Kristus tidak pernah memerintahkan dan berbuat yang salah itulah sebabnya mutlak jemaat taat karena mengetahui Kristus sang kepala jemaat itu melakukan yang baik, benar, dan suci.

Perlu kita ketahui bahwa pengorbanan total dari seorang suami akan melahirkan ketundukan total dari isteri. Jadi ketundukan ini muncul karena isteri telah menikmati kasih dan pengorbanan total dari suami. Kasih suami membuat isteri menjadi tunduk, dan ketundukan isteri bisa melahirkan kasih suami.
Bagaimana perintah kepada suami? Mari melihat ay 25-33.

Pertama, suami harus mengasihi isteri dengan standar sama dengan Kristus yang menyerahkan nyawanya bagi jemaat. Kristus mau berkorban kepada jemaat adalah karena kasih. Demi kebaikan dan kesejahteraan isteri suami harus rela berkorban. Kristus mengorbankan diriNya bukan hanya membawa pengampunan bagi jemaat tetapi membawa pembaharuan hidup yang suci bagi pengantinNya yaitu jemaat Kristus. Itulah pengorbanan seorang suami. Yesus menyerahkan nyawa, suami juga harus menyerahkan nyawa. Artinya suami yang berkorban dan mengasihi dengan tulus akan melahirkan ketundukan dari isteri. Mengasihi isteri sama dengan mengasihi diri sendiri (28-30) karena perkawinan telah membuat mereka menjadi satu daging (ay 31). Sebagai orang beriman kita satu tubuh dalam Kristus, tetapi  orang yang menikah adalah satu daging (Kej 2:24), artinya tidak bisa dipisahkan. Tidak ada manusia normal yang melukai dirinya sendiri bukan? Demikian juga dengan pernikahan. Tidak ada suami yang normal yang menyakiti atau menghina isterinya, tetapi akan menjaga isterinya dengan baik. Melukai isterinya berarti melukai dirinya sendiri karena mereka telah menjadi satu daging.


Misteri hubungan suami isteri sama dengan misteri hubungan Kristus dengan jemaat (32). Karena itu suami  harus mengasihi isteri dan isteri harus tunduk kepada suami. Kasih melahirkan sikap tunduk dan hormat. Ketundukan dan sikap hormat melahirkan kasih suami. Kalau suami kurang mengasihi isteri ada baiknya isteri menambahkan ketundukan dan hormatnya kepada suami dengan demikian kasih suaminya akan semakin bertambah. Demikian juga dengan suami, jika isteri kurang tunduk, mari menambahkan kasih kita dengan demikian ketundukan dan hormat isteri akan semakin bertambah kepada suami. Kalau ditanya siapakah seharusnya yang pertama berinisiatif untuk melakukan? Berkaca kepada apa yang Kristus lakukan kepada jemaat, maka seharusnyalah suami yang pertama bertindak dengan menunjukkan kasih yang melimpah kepada isterinya. Artinya suamilah yang harus terlebih dahulu menambahkan kasihnya kepada isteri. Ketika isteri menikmati kasih suami yang bertambah rasa hormat dan ketundukan isteri kepada suami juga akan semakin bertambah. Kristus yang duluan berkorban dan mengasihi jemaat, barulah jemaat itu bisa meresponi dengan hormat dan tunduk kepada Kristus. Dalam keluarga, yang pertama itu tetap pria duluan mengasihi.  Jadi, hai suami, tambahkanlah kasih dan pengorbanan serta pengertian kepada isteri maka dari isteri akan muncul ketundukan. Kasih melahirkan sikap tunduk dan hormat, ketundukan dan sikap hormat memunculkan kasih suami. 

Solideo Gloria!

Efesus pasal 4

Drs. Tiopan Manihuruk, M. Th

[Kotbah ini dibawakan pada ibadah Mimbar Bina Alumni, Jumat 18 Januari 2013]



Secara umum Efesus pasal 4 berbicara mengenai pentingnya kesejajaran antara status (being) dengan cara hidup (doing) (ay 1-2). Bagian ini merupakan lanjutan dari apa yang Paulus telah paparkan mulai dari pasal 1. Efesus pasal 1 berbicara soal tujuan pemilihan dan pemanggilan umat Allah untuk hidup kudus (Ef 1:4, 11). Pada pasal 2 kita melihat bagaimana pemanggilan ini digenapi dengan anugerah. Dan anugerah ini, pada pasal 3, bukan hanya untuk bangsa Israel tetapi juga untuk orang diluar bangsa Israel. Karena itu Paulus menganjurkan agar orang yang beriman kepada Kristus harus bersatu (pasal 3). Dan kemudian hal ini dilajutkan adanya kesejajaran antara status dan tindakan (pada pasal 4). Dengan kata lain bagaimana setiap orang percaya harus hidup berpadanan dengan panggilan itu sendiri.

Dalam Ef 4:1 dikatakan, “Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil (untuk hidup suci) berpadanan dengan panggilan itu.”  Ada sebuah penekanan akan kesejajaran antara status sebagai orang yang percaya dengan cara bagaimana hidup dengan benar sesuai dengan etika Kristen. Dalam hal ini ada sebuah karakter yang dibangun untuk sebuah kesatuan. Dalam ay 2 dikatakan, “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.” Kesatuan itu tidak pernah muncul jika tuntutan itu dialamatkan kepada orang lain melainkan harus kepada diri sendiri secara personal. Sering sekali kita menuntut orang lain berubah bukan diri kita sendiri. Tetapi ketika kita menuntut diri kita untuk berubah maka akan terjadi pembaharuan. Kemudian kesatuan itu akan terpelihara, selain oleh lahir baru, adalah masalah karakter. Masalah karakter yang paling banyak membuat perpecahan apakah egoisme atau kesombongan, atau yang lain. Bahkan dalam kepanitian atau kepengurusan yang sering sekali membuat perselisihan adalah karakter. Maka kesatuan orang percaya yang memiliki kesejajaran antara tindakan dan status dapat dibangun dengan sebuah karakter yang benar yaitu rendah hati, lemah lembut dan sabar (2).

Rendah hati adalah bisa mensyukuri apa adanya diri kita dan bisa menerima dan mensyukuri apa adanya orang lain dan tidak pernah ingin menjadi orang lain. Lemah lembut berbicara soal pengampunan. Artinya tidak akan ada kesatuan jika tidak ada kelemah lembutan. Kelemah lembutan bukan soal nada bahasa (walaupun nada bahasa penting). Sedangkan kesabaran bisa dikatakan sabar menerima orang lain apa adanya. Sering sekali kita menerima orang lain apa maunya kita dan itu bukanlah kesabaran. Kesabaran itu kira-kira ketika kita cepat dan orang lain lambat dan kita bisa menerima mereka maka kita bisa disebut sabar. Tetapi ketika kita lambat dan orang lain juga lambat, dan kita sama-sama menerima, itu bukanlah kesabaran. Jadi sabar menerima orang lain apa adanya dan dan terus berusaha menolong dia untuk bangkit dan lebih baik.

Karakter yang membangun untuk kesatuan dapat juga ditunjukkan melalui kasih saling membantu (band 1 Yoh 3:16). Ingatlah bahwa kita bisa memberikan sesuatu tanpa kasih, tetapi kita tidak mungkin mengasihi tanpa memberi. Jadi mari menunjukkan kasih dengan saling membantu. Inilah kesatuan yang diminta Paulus pada jemaat di Efesus.

Selain karakter yang Paulus sebutkan tadi, ada hal lain yang penting untuk menjaga kesatuan yaitu dengan mengingat bahwa kita adalah satu tubuh (ay 4). Kesatuan yang dibangun bedasarkan karakter bukanlah kesatuan yang hakiki, tetapi kesatuan yang sejati dasarnya adalah menyadari bahwa kita adalah satu tubuh di dalam Kristus yang tidak bisa dipisahkan. Karakter yang dipakai untuk membangun kesatuan (ay 2-3) dasarnya adalah menyadari bahwa kita satu tubuh dan satu roh (4).

Dala ay 7-11 kita bisa melihat bentuk kesatuan yaitu kesatuan di dalam kepelbagaian bukan dalam keseragaman (ay 7). Seragam pakaian belum tentu bersatu. Itu sebabnya jika dasarnya ay 4 dan 6 kita tidak terlalu pusing apakah kita harus seragam atau tidak dalam konteks kepelbagaian. Bagi kita bukan metode tetapi esensi. Itulah sebabnya tidak masalah jika metode ibadah tiap gereja berbeda-beda. Yang penting dasarnya adalah satu.

Dalam kesatuan jemaat juga Allah memberikan karunia yang berbeda kepada umatNya agar umat Allah bukan dependent atau independent, tetapi inter-dependent (16). Dalam hal ini mengapa demikian agar interdependent (saling kebergantungan). Oleh sebab itu mari melihat perbedaan sebagai potensi atau kekuatan, bukan ancaman. Jika tidak ada perbedaan, maka yang ada adalah kekacauan (band Kol. 3:10-11).
Ada beberapa tujuan yang bisa kita lihat (dalam ay 12-16) mengapa Allah memberikan karunia. Pertama adalah memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan. Kedua adalah untuk pembangunan tubuh Kristus (12). Dengan target jemaat bisa mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah (ay. 13). Karunia diberikan agar kita tidak berfokus kepada diri sendiri melainkan agar orang yang kita layani mencapai pengenalan yang sempurna akan Kristus. Jangan sampai orang lebih kegum kepada kita daripada kepada Kristus. Target berikutnya adalah jemaat memiliki kedewasaan penuh, yaitu tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (ay. 13). Artinya adalah bahwa pola piker, karakter, dan cara hidup kita dipenuhi oleh Kristus, sesuatu yang akan kita peroleh seutuhnya ketika Allah menyempurnakan kita. Target berikutnya adalah agar jemaat  tidak diombang-ambingkan oleh angin rupa pengajaran (bidat) (ay. 14). Dan  target kemudian adalah agar jemaat bertumbuh dengan kokoh dalam ajaran dan bertumbuh dalam segala hal ke arah Kristus sang Kepala (ay.15). Pertumbuhan anggota tubuh Kristus berada dibawah kendali Sang Kepala rapi tersusun dan terikat jadi satu. Kesatuan juga tercipta dengan mutualisme pelayanan umat sesuai dengan karunia (11-13) dan pertumbuhan kedewasaan dan kesatuan tidak mungkin terjadi tanpa kasih (2, 15).

Setelah memaparkan smeuanya itu Paulus melanjutkan pada ay 17 dengan berkata,  Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia”. Paulus telah mengatakan pentingnya dibangun kesatuan dengan karakter yang benar (2-3) dan dengan dasar kesatuan yang sejati (4-6) serta pentingnya bagi jemaat diberi karunia yang berbeda untuk interdependent dan pertumbuhan rohani dan dengan karunia yang diberikan jemaat bertumbuh dan kokoh dalam Kristus. Setelah mengatakan hal demikian Paulus kemudian berkata “sebab itu”. Paulus mengatakan bahwa manusia barulah yang menjadi dasar untuk membangun sebuah kesatuan. Paulus kembali mengingatkan umat agar mereka  memiliki hidup yang berbeda dengan mereka yang belum mengenal Allah. Paulus membangun sebuah kontradiksi. Diawal Paulus menunjukkan bagaimana cara hidup beriman (1-16). Orang yang memiliki cara hidup demikian janganlah hidup seperti orang yang tidak mengenakl Allah. Orang yang tidak menghidupi apa yang Paulus paparkan dalam ay 1-6 adalah orang yang identik dengan orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran” (17-19). Jadi, agar kita hidup seperti yang dipaparkan dalam ay 1-16 maka Paulus berkata, “Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia”. Paulus ingin mengatakan bahwa orang yang hidup dalam ay 1-16 inilah hidup yang menunjukkan sebuah pembaharuan yang radikal dalam dirinya, jika tidak berarti masih manusia lama.

Dalam ay 17-19 Paulus memaparkan  ciri-ciri orang yang tidak mengenal Allah. Pertama pikiran yang sia-sia (17). Ini artinya memikirkan yang tidak bermanfaat (band Fil 4:8-9). Kedua, pengertiannya gelap, yaitu diajari pun tidak bisa mengerti. Ketiga jauh dari hidup persekutuan dengan Allah (doa dan firman), karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. Keempat, Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran. Orang seperti ini adalah orang yang berdosa tetapi tetap sejahtera. Semua ini karena kebodohan mereka dan kedegilan mereka dan akibatnya mereka menyerahkan diri pada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran. Berbuat jahat saja sudah dosa apalagi serakah untuk melakukan kejahatan.

Dalam ay 20-24 muncul kalimat pembaharuan. Paulus mengatakan, bahwa sebagai orang percaya, kita tidak demikian karena kita telah belajar mengenal Kristus sebagai orang yang lahir baru (20) (band. Ef 2:1). Jemaat yang menerima surat Efesus adalah orang yang beriman. Kedua, mereka juga  telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus (21). Karena itu tanggalkan manusia lama (22), dibaharui dalam roh dan pikiran kemudian mengenakan manusia baru ( band 2 Kor 5:17). Bayangkan jika satu minggu pakaian kita tidak berganti? Bukan sesuatu yang menyehatkan bukan? Inilah yang ingin Paulus ungkapkan, agar kita menanggalkan manusia lama kita dan mengenakan manusia yang baru kita dalam roh dan pikiran kita. Jika pikiran kita memikirkan hal-hal yang benar (band. Fil 4:8) maka akan melahirkan cara hidup yang benar. Ketika menaggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru ada dua hal yang diselipkan Paulus yaitu pembaharuan semangat yang baru untuk melakukan yang benar dan yang kedua adalah cara berpikir yang baru yaitu memikirkan yang mulia yang benar dan suci. Jadi manusia baru adalah diciptakan oleh Allah dnegan iman di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya, bukan usaha manusia.

Kita diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.  Ini adalah tindakan yang monergis atau mutlak karya Allah. Lahir baru dan keselamatan adalah monergis sifatnya. Sedangkan pertumbuhan rohani sinergisme. Inilah yang disebut dengan new being (manusia baru). Setelah manusia baru muncul, kemudian ada nasihat mengenai kesejajaran antara status dan perilaku. Yang bicara rohani atau jabatan rohani belum tentu rohani hidupnya. Tetapi yang rohani hidupnya seharunya melahirkan tindakan yang rohani. Itulah sebabnya dalam ay 25-32 yang ditekankan adalah persamaan status dengan tindakan orang beriman. Kalau kita anak raja , mari berperilaku seperti anak raja. Kalau kita anak Tuhan mari berperilaku seperti anak Tuhan. Betapa pentingnya kesejajaran dalam membangun kesatuan dalam tubuh Kristus.

Sebagai orang yang dilahirkan baru tentu saja ada sisi negative yang harus kita buang. Pertama, dosa soal perkataan (25). Ada dua dosa soal perkataan yang harus berubah yaitu antara berkata bohong dan berkata-kata sesuatu yang tidak pantas. Paulus menkankan hal ini menjadi yang pertama dalam konteks ini adalah karena di Efesus banyak orang kafir dan mereka biasa berbohong dan mberbicara sesuatu yang tidak pantas (ay 29). Inilah kesejajaran yang pertama, yaitu kesejajaran dalam perkataan. Mari menjadikan hal ini sesuatu yang penting. Apapun alasannya jangan pernah berbohong.

Kemudian dalam ay 26-27 kita melihat kesejajaran antara status dan tindakan dalam hal emosi yaitu soal amarah. Kalau marah jangan bebuat dosa artinya marah suci. Marah suci itu bisa dikatakan seperti marah antara orangtua kepada anaknya. Tidak ada orang tua marah karena benci tetapi karena sayang. Inilah marah suci seperti yang ditunjukkan Yesus ketika menjungkirbalikkan meja dagangan di bait Allah karena Allah tidak ingin rumahNya dinodai dan dicemari. Kalau marah karena kasih atau cinta, silahkan marah. Kemudian, kalaupun marah, jangan tahan dan cepat selesaikan atau jangan sampai mata hari terbenam. Mengapa demikian adalah karena agar jangan diberi kesempatan kepada Iblis. Jika terlalu lama didiamkan, kesalahan orang lain yang lama-lama pun akan muncul.

Dalam ay 30 kita melihat soal mendukakan Roh. Perbuatan dalam ay 25-31 merupakan sebuah contoh pernuatan yang mendukakan Roh. Roh Kudus yang sudah dimateraikan (Ef 1:4) mengingatkan dan menyadarkan akan dosa tetapi orang tersebut tetap melakukan dosa. Inilah yang namanya mendukakan Roh. Jadi ketika kita tergoda untuk melakukan dosa apapun ingatlah Roh Kudus senantiasa mengingatkan kita dengan berkata  jangan jangan, tetapi tetap melakukan itu mendukakan Roh.

Kemudian dalam ay 31 dikatakan, “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” Kadang ada orang memiliki akar pahit yang tidak bisa diselesaikan. Meskipun ada kekecewaan yang besar mari mencurahkannya kepada Tuhan dan membuang semia akar pahit dalam hidup kita. kemudian kegeraman. Ketika ada orang memiliki akar pahit dan ketika mengingat seseorang itu kegeraman muncul dari dalam dirinya. Ingat Mat 5:9, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” 
Kemudian dalam ay 32 dikatakan, “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Ingat jika orang lain bersalah kepada kita, ingatlag betapa banyaknya dosa kita yang sudah diampuni oleh Allah agar kita lebih mudah mengampuni orang lain. Dalam Mat 18:21 dikatakan, “Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Jadi pengampunan itu tidak terbatas. Orang yang sulit mengampuni orang lain adalah orang yang kurang menikmati pengampunan Allah. Pengampunan yang diterima dari Allah mendorong seseorang lebih mudah mengampuni dalam kasih karena itu inilah karakter yang harus kita bangun bersama sebagai orang yang beriman kepada Kristus. Kasih mendasari kesatuan, membangun sebuah karakter yang benar, membangun sebuah persekutuan, dan membangun sebuah komunitas yang hidup di dalam Kristus sebagai orang yang beriman.

Solideo Gloria!


Friday, July 19, 2013

Mazmur 62:1-13

Drs. Tiopan Manihuruk, M. Th
[Kotbah MBA di awal tahun 2013, Jumat 11 Januari 2013]

Selamat Tahun Baru bagi kita semua…..!

Banyak tanggapan dan ramalan orang-orang yang mengatakan bahwa tahun 2013 adalah tahun yang akan penuh dengan persoalan-persoalan dan merupakan tahun yang mengerikan. Banyak orang yang juga menghadapai tahun 2013 ini dengan kegundahan. Ini adalah pandangan sebagian besar orang yang tidak beriman. Bagaimana dengan kita, sebagai orang yang beriman? Mari memiliki sikap bahwa apapun yang terjadi, kita tetap menghadapi tahun 2013 ini dengan sukacita dan dengan hati yang beriman dan tenang bersama dengan Allah. Mari mengawali tahun ini dengan belajar dari pengalaman Daud dari Maz 62:1-13.

Mazmur ini adalah sebuah mazmur yang berisikan sebuah pengakuan bahwa ketenangan itu diperoleh bersama dengan Allah. Mazmur ini dilatarbelakangi situasi dimana pengikut Saul ingin menggulingkan Daud yang pada saat itu adalah seorang Raja. Ada ancaman dalam kehidupan Daud. Daud bukanlah seorang penakut. Ia adalah seorang yang gagah perkasa, tetapi Ia tetap menyadari bahwa kedekatan dengan Tuhanlah yang memberikan kepadanya ketenangan. Dalam Mzmur 62 ini kita melihat ada pernyataan iman yang sejati walaupun dia sedang dalam kondisi dimana jabatannya ingin digulingkan pengikut Saul. Dalam ay 4-5 Daud berkata, “Berapa lamakah kamu hendak menyerbu seseorang, hendak meremukkan dia, hai kamu sekalian, seperti terhadap dinding yang miring, terhadap tembok yang hendak roboh? Mereka hanya bermaksud menghempaskan dia dari kedudukannya yang tinggi; mereka suka kepada dusta; dengan mulutnya mereka memberkati, tetapi dalam hatinya mereka mengutuki.” Orang-orang yang ingin menggulingkan Daud tidak melakukan secara terang-terangan. Dari mulut mereka memberkati Daud, tetapi dalam hati mereka mengutuki (baca 2 Samuel).

Mazmur 62 terdiri dari tiga stanza (bagian) yaitu: ay 1-5, ay ay 6-9, dan 10-13. Dan dalam bagian yang kedua (ay 6-9) kita akan menemukan pusat dari pengakuan dan percaya dari Daud. Ketiga bagian ini seperti segitiga dimana ay 1-5 merupakan pondasi sebelah kanan, dan puncaknya adalah ay 6-9, dan pondasi bagian kiri adalah ay 10-13. Dalam Mazmur ini kita melihat bahwa Daud memiliki pengharapan dan ketenangan karena dia mengetahui siapa Allah dan betapa besar kuasaNya (ay 12-13) dalam menghadapi musuh-musuhnya (10-11). Orang yang ingin menggulingkan Daud itu seperti angin yang berlalu. Kita melihat bahwa lahirnya rasa tenang Daud adalah karena kedekatannya kepada Allah yang memberikannya keyakinan akan kuasa Allah. Daud mengklaim bahwa kuasa yang dimiliki adalah berasal dari Allah. Artinya, Jika Allah berkenan ia digulingkan maka hal itu akan terjadi, tetapi jika Allah tidak berkenan maka usaha para musuhnya merupakan sesuatu yang sia-sia.

Mari memperhatikan bagian kedua (ay 6-9) yang merupakan pusat pengharapan dan percaya dari Daud. Dikatakan di sana, “6 Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku. 7 Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah. 8 Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah. 9 Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita.” 

Bagian ini diawali dengan frase ‘Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang’. Hal ini berarti bahwa ketenagan itu tidak dapat kita peroleh secara bebas kecuali hanya kepada Allah. Tidak ada alternatif atau pilihan atau kemungkinan yang lain. Bagian ini merupakan sebuah pernyataan yang luhur dan sebuah komitmen iman yang didasarkan pada kriteria Allah (ay 12-13). Ada sebuah pengakuan Daud bahwa hanya dekat Allah saja – tidak ada pilihan lain – yang membuat hatinya tenang. Ingat, bahwa kondisi pada saat itu Daud berada dalam ancaman penggulingan kekuasaan. Sebagai seorang raja yang berkuasa ia tetapi memercayai dan dengan penuh keyakinan menyatakan hanya kepada Allah saja hatinya tenang. Ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk dikerjakan. Hal ini membutuhkan perjuangan. Kita membutuhkan usaha dan perjuangan untuk bisa sampai kepada pengakuan seperti yang Daud lakukan. Dalam setiap kondisi yang kita alami sekarang ini, dalam mengawali tahun 2013 ini, beranikah kita berkata dengan iman, bukan hanya sekedar ucapan mulut belaka, bahwa hanya dekat Allah saja hati kita tenang? Bukan sebuah pernyataan yang emosional tetapi berasal dari sebuah pergumulan.

Apa harapan kita yang belum tercapai atau belum kita raih sampai saat ini? Apapun itu mari belajar mengawali tahun 2013 dengan sebuah komitmen bahwa hanya dekat Allah saja kiranya hati kita tenang. Jangan sampai kita tenggelam dalam kekuatiran dan akhirnya menggeser bahkan merebut ketenangan kita dari Allah. Kuasa dan jabatan tidak memberi ketenangan kepada Daud dan juga tidak menggeser posisi Allah dalam dirinya. Jangan pernah berpikir bahwa memiliki harta yang banyak dan posisi yang bagus dalam pekerjaan akan memberikan ketenangan kepada kita. Ketenangan hanya akan kita peroleh bersama dengan Allah, tidak ada pilihan yang lain.

Dalam bagian ini juga kita menemukan alasan Daud mengapa ia memiliki pernyataan iman yang menyatakan bahwa ketenangan itu hanya ada di dalam Allah. Alasan yang pertama adalah karena Allah adalah pengharapannya (ay 6). Ketika kita menggantungkan harapan kita pada orang atau sesuatu, maka harapan itu bisa mengecewakan. Jika Daud menggantungkan harapannya kepada jabatan atau kuasanya ia juga bisa kecewa karena semuanya bisa lenyap. Tetapi Daud menetapkan Allah sebagai tempatnya untuk berharap. Inilah yang harus kita lakukan dimana kita menggantungkan harapan kita kepada Allah. Jangan pernah menggantungkan dan menaruh harapan pada apapun dan siapapun. Dalam Yer 17:5 dikatakan, “Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN.”, dan dilanjut dengan ay 7-8, “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” Mari mengawali dan menjalani tahun 2013 dengan menaruh harapan kepada Allah agar kita memiliki ketenangan dan tidak terlalu gundah dalam menjalani tahun ini.

Alasan yang kedua adalah karena Daud melihat Allah sebagai gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah (ay 7). Ketika kita kuatir bahwa malam ini rumah kita akan kemasukan maling, maka kita tidak akan pernah merasa tenang. Bahkan jika kita menggunakan kunci ganda bahkan memakai tenaga satpam, kekuatiran kita akan tetap ada. Kita tidak akan pernah tertidur dengan lelap dengan penjagaan manusia. Inilah yang ingin di ungkapkan oleh Daud bahwa kita tidak akan pernah merasa tenang jika kita tidak memercayai bahwa Allahlah satu-satunya penjaga kita. Kita tidak akan pernah tertidur dengan tenang dengan semua penjagaan manusia kecuali yang menjaga kita adalah Allah itu sendiri (band Maz 121). Bagi kita yang memiliki jabatan di kantor jangan pernah takut dan milikilah ketenangan yang dari Allah. Yakinilah bahwa jika Tuhan berkenan dengan jabatan kita, maka tidak ada seorangpun yang akan sanggup menggesernya, tetapi jika Tuhan tidak berkenan, sekuat apapun usaha kita untuk mempertahankannya, kita pasti akan tergeser. Jangan pernah menjadikan uang, jabatan, atau kekuasaan menjadi penjaga kita, karena semuanya bisa lenyap. Seperti Daud, mari memiliki pengakuan, “Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.” (ay 7).

Alasan Daud yang ketiga adalah karena ia percaya bahwa pada Allah ada keselamatan dan kemuliaan, gunung batu dan perlindungan (ay 8). Keselamatan yang ada dalam ayat ini tidak berbicara soal keselamatan jiwa, tetapi keselamatan dalam kehidupan sehari-hari. Terus terang kita pasti pernah mengalami kekuatiran atau ketakutan dengan setiap kekerasan yang terjadi zaman sekarang ini, seperti penculikan, gang motor dll. Tetapi apa yang bisa kita buat karena kita terbatas tenaga waktu dan tenaga. Oleh sebab itu mari menyerahkannya kepada Allah. Allah adalah kemuliaan dan kehormatan bagi Daud. Jika kita menjadikan hal lain diluar Allah yang menjadi kehormatan kita, maka wajar sekali jika kita kecewa. Jika kebanggaan kita adalah HP kita, maka kita akan senantiasa merasa kekurangan dan kecewa karena setiap minggu HP keluaran terbaru dan lebih canggih akan muncul. Jika buat kebanggaan dan kehormatan kita bukan pada Allah, maka bisa dipastikan tidak ada ketenangan dalam hidup kita. Apa yang menjadi kebanggaan dan harapan kita yang membuat kita tenang? Daud berkata bahwa kehormatannya buka jabatan atau harta. Kemuliannnya bukan kekuasaan atau keluarga. Tetapi kemuliaan dan kehormatan dari Daud adalah Allah. Pengakuan inilah yang membuat ia tenang walau dalam kondisi terancam sekalipun. Mari belajar dari Daud sehingga kita bisa melewati tahun 2013 ini dengan tenang. Mari membangun kehormatan dan kebanggaan di dalam Allah (band. Maz 73:25-26). Mari memiliki hidup yang berpusat kepada Allah yang akan menghasilkan damai dan ketenangan bagi kita.

Ay 9 berkata, “Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita”. Ini adalah cara untuk memperolah ketenangan, yaitu percaya kepada Allah setiap waktu. Percaya kepada Allah bukanlah sesuatu yang kondisional dimana pada saat ibadah atau KTB kita percaya tetapi setelah itu kita kembali lemah, bukan juga sesuatu yang situasional dimana kita percaya ketika situasi nyaman kita percaya tetapi ketika dalam tekanan kita menjadi lemah, bukan juga sesuatu yang temporer dimana dalam satu waktu kita percaya dan diwaktu lain kita lemah. Jika kita percaya kepada Allah setiap waktu, maka jiwa kita akan mengalami ketenangan. Oleh sebab itu mari percaya kepada Allah setiap waktu.

Selain percaya kepada Allah setiap waktu, tetapi mari juga mencurahkan isi hati kita kepadaNya karena Dialah tempat perlindungan. Kita saja kecewa ketika kita sharing kepada orang lain atau ketika sharing di media social karena respon mereka tidak seperti yang kita harapkan bahwa mereka mungkin menyalahkan kita dan menganggap kita sebagai pribadi yang lemah. Mari mencurahkan isi hati dan pergumulan serta masalah kepada Allah karena Dialah tempat perlindungan agar kita memperoleh ketenangan. Apapun kekuatiran kita dalam hidup ini mari mencurahkannya kepada Allah. Dalam 1 Pet 5:7 dikatakan, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” Kita sering sekali menanggung beban pergumulan kita seorang diri, padahal Yesus berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Mat 11:28). Mari mencurahkan isi hati kita kepadaNya karena Allah peduli dan Allah mengerti.

Dalam Fil 4:4 dikatakan, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Bersukacita disini didasarkan kepada pengakuan Paulus dalam ay 6 , “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Jadi, agar kita bisa bersukacita dalam Tuhan maka apa yang disebut kekuatiran harus disingkirkan. Sukacita juga berarti jangan kuatir. Sukacita adalah lawan dari kuatir. Dan agar sukacita itu bisa lahir maka kita harus tekun dalam mengucap syukur dan dosa. Artinya orang yang kurang berdoa pasti kuatir, dan orang yang kuatir pasti kurang berdoa. Itulah sebabnya apa yang dikatakan dalam ay 9 – ‘Percayalah kepada-Nya setiap waktu’ - terpancar dari doa yang benar kepada Allah. Doa menghilangkan kekuatiran dan ketika kekuatiran itu hilang maka sukacita akan muncul. Bersyukur dalam segala hal kepada Allah adalah rahasia untuk menghancurkan segala ketakutan dan kekuatiran sehingga lahirlah sukacita di dalam Tuhan. Itulah sebabnya kita mencurahkan isi hati kita kepada Allah dengan doa dan ucapan syukur agar ketakutan, kekuatiran, dan kecemasan hilang. Kemampuan untuk bersukur dalam segala hal membuat orang bisa tenang.

Mari beryukur untuk setiap hal apapun pergumulan dan persoalan kita yang belum di jawab Tuhan. Jangan sampai kita tidak pernah mensyukuri hidup ini. Membuat orang tenang adalah doa dan rasa bersyukur. Itulah sebabnya Daud menyatakan curahkanlah isi hatimu kepada Allah, Allah tempat perlindungan kita. Mari mengawali dan menjalani tahun ini dengan tenang dan dengan iman. Mari berserah kepada Allah. Mari melangkah bersama dengan Allah dalam iman sehingga tidak ada ketakutan, kecemasan, dan kekuatiran menguasai hidup kita, tetapi hanya ketenangan. Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang.

Solideo Gloria!

Thursday, June 13, 2013

Family 2: Keluarga Yang Bermisi



Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div
[Kotbah ini adalah rangkaian dari kotbah mengenai seri keluarga di MBA tahun 2008. Ktbah ini merupakan bagian kedua dari seri keluarga ini. Bagian 1: Rancangan Allah Bagi Keluarga, dan Bagian 3: Preparing For Godly Family]

Hari ini kita akan berbicara tentang misi dalam keluarga. Dalam Kej 1:27-28 dikatakan, “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." Allah memberi mandat kepada manusia. Mandat umum ini sekaligus mandat dalam pernikahan bahwa Tuhan menghendaki kita berketurunan memenuhi bumi dan Tuhan juga mau kita melakukan mandat budaya yaitu menaklukkan dan menguasai bumi, bukan eksploitasi, tetapi eksplorasi, dan Tuhan juga ingin agar kita menghadirkan Kerajaan Allah. Inilah mandat Allah bagi keluarga.
Ketika kita berpikir untuk menikah, maka misi kita dalam keluarga harus dilihat dalam bingkai mandat ini, walaupun ada mandat khusus dimana tidak setiap keluarga yang menikah harus memiliki keturunan. Mandat umum harus digenapi, tetapi mandat khusus dapat terjadi di dalam rangka kemuliaan Allah. Tujuan pernikahan bukan hanya sekedar memiliki anak. Kalau tujuan pernikahan hanya anak, maka jika tidak punya anak akan ada kehancuran. Kita tidak tahu apa rencana Tuhan belum memberikan anak dalam satu keluarga. Tetapi satu hal yang saya pahami, menikah bukanlah untuk anak, tetapi anak adalah buah pernikahan.
Mandat berikutnya adalah mandat budaya, supaya manusia menaklukkan dan menguasai bumi agar bumi semakin sejahtera dan menghadirkan shalom Allah di tengah-tengah keluarga. Karena itu ada beberapa misi dalam keluarga.
Misi Internal
Objek misi kita yang pertama dalam keluarga adalah pasangan kita. Makanya tidak benar jika seseorang aktif dalam pelayanan tetapi pasangannya diabaikan. Kita harus melakukan yang terbaik. Melayani pasangan kita dengan sungguh-sungguh. Bagaimana kita mau jadi berkat ke luar jika pasangan kita tidak terlayani dengan baik. Oleh karena itu menolong pasangan untuk bertumbuh secara rohani agar pasangan kita semakin hari semakin menyerupai Kristus (Kol 1:28-29; 1 Kor 7:33-34). Ini adalah pergumulan bagi kita seluruhnya yang (akan) menikah. Ingat Kej 2:18, “TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." Kita harus menjadi penolong yang sepadan bagi pasangan kita untuk semakin bertumbuh baik secara rohani dan karakter. Oleh sebab itu pernikahan yang tidak memiliki misi yang tidak bagus maka semangat pelayanan mereka bisa hilang dan melupakan tanggung jawab dalam melakukan misi. Jadi kita harus membahagiakan dan menyenangkan pasangan kita secara benar. Bukan berarti demi menyenangkan pasangan, kita jadi tidak melayani. Ini juga adalah hal yang salah.
Kedua, misi kita adalah menolong pasangan agar maksimal berkarya dan bemisi bagi Allah. Misalnya pasangan kita adalah seorang guru. Oleh karena itu sebagai pasangan yang bermisi kita harus mendorong dan memperlengkapinya agar betul-betul bermisi melalui profesinya sebagai guru. Jika pasangan kita pegawai negeri, maka dengan hidup dan pelayanan, kita mendorong dirinya untuk hadir dan menghadirkan Kerajaan Allah di tempat dia bekerja. Jangan karena kita, pasangan kita tidak bisa berkarya bagi Allah. Ingat, pasangan itu bisa jadi hambatan untuk bertumbuh, melayani, atau bergerak untuk pelayanan Tuhan. Pasangan tidak menjadi penolong, tetapi perongrong.
Misi di dalam keluarga adalah mendidik dan mempersiapkan anak-anak agar menjadi keturunan kekekalan- anak-anak yang takut pada Tuhan. Efesus 6:1-4 mengatakan, ”Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu -- ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Masih ingat kasus Eli? Eli adalah seorang imam tetapi memiliki anak yang badung yang menjarah, mencuri dan memperkosa di bait Allah. Ini adalah kegagalan Eli dalam mendidik anak. Ini adalah katakutan banyak pengkhotbah jika memiliki anak yang badung. Oleh karena itu kita harus mendidik anak sesuai dengan ajaran Tuhan. Dalam Amsal dikatakan, ”Rotanlah anak jika masih bisa dirotan!” Ini adalah objek misi kita, dimana kita mempersiapkan anak kita menjadi anak-anak yang takut pada Tuhan.  Dalam 1 Tim 3:4-5 di katakan bahwa salah satu syarat Diaken adalah bisa mengepalai keluarganya dan dihormati oleh anak-anaknya. Seorang penilik jemaat haruslah ” seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya.Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah””? Oleh sebab itu akan menjadi sesuatu yang berat untuk melayani ke luar jika anak-anak kita bukanlah anak-anak yang terdidik dan tidak takut pada Tuhan.
Misi berikutnya adalah membuat keluarga menjadi surga bagi setiap anggota keluarga. Dalam kenyataan sekarang ini, banyak rumah menjadi neraka bagi anak-anak karena orangtuanya selalu bertengkar. Tidak ada damai dan shalom dalam keluarga dan misi kita adalah menghadirkan shalom Allah dan menjadikan rumah tangga menjadi satu miniatur Surga di bumi. Itulah sebabnya dalam Maz 128:1-6 dikatakan, ”Nyanyian ziarah. Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu! Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN. Kiranya TUHAN memberkati engkau dari Sion, supaya engkau melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu, dan melihat anak-anak dari anak-anakmu! Damai sejahtera atas Israel!” Inilah metafora yang dipakai oleh pemazmur.  Rencanakanlah keluarga yang menjadi miniatur Surga di bumi ini. Hal ini dapat dilakukan dengan mempersiapkan pernikahan dengan baik. Bertbahagia dan diberkatilah laki-laki yang takut akan Tuhan. Salah satu kunci utama membuat keluarga bahagia adalah suami yang takut akan Tuhan, karena suami adalah imam dalam keluarga.
Misi Eksternal.
Pertama, menjadi saluran berkat (misi) bagi kedua belah pihak keluarga [band Gal 6:9-19, ” Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman]. Objek misi kita adalah mertua dan saudara dua belah pihak. Itu sebabnya kita harus menciptakan peluang untuk membina mereka. Kita dapat melakukan sesuatu melalui kebaikan yang kita buat sebelum menyampaikan injil. Mari menolong mereka melalui perhatian kita. Menangkan keduabelah pihak keluarga melalaui pernikahan kita bagi Kristus. Cara yang terbaik adalah mari menjadikan kelraga kita menjadi teladan diantara keluarga lain [band 1 Pet 2:12, “Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka]. Mari menjadi menantu yang terbaik dari sekian menantu dari mertua kita. 
Kedua, mari kita terlibat dalam pelayanan gereja, menjadi anggota dalam satu gereja agar kita bisa terlibat dalam pelayanan. Kemudian membangun relasi yang baik bagi tetangga dan bersosialisasi dengan mereka. Mari memiliki cara hidup yang baik di tengah-tengah mereka. Mari juga mengambil peran dalam kumpulan atau gerakan sosial seperti Serikat Tolong Menolong (STM). Kita juga dapat Mendukung gerakan misi holistik (doa, dana dan tenaga); study dan kehidupan hamba Tuhan.

Mari melihat satu teladan sebuah keluarga yang melayani. Mari melihat Kis 18:1-28, kisah mengenai Akwila dan Priskila. Mari kita perhatikan beberapa hal.
  1. Priskila dan Akwila adalah orang Yahudi yang percaya yang di usir. Mereka adalah keluarga yang memberi tumpangan pada pekerja Kristus. Apakah kita pernah berpikir bahwa rumah kita adalah rumah yang bisa dipakai untuk pelayanan? Akwila dan priskila melayani dengan harta mereka melalui rumah mereka untuk menampung Paulus. Dalam ay 24-26, mereka juga menjamu Appolos, seorang hamba Tuhan, ke rumah mereka. Oleh karena itu mari menjadi keluarga yang bermisi melalui apa yang Tuhan berikan, dalam hal ini adalah rumah kita.
  2. Ayat 3-4, dikatakan bahwa Akwila, Priskila dan Paulus memiliki profesi yang sama dan melalui profesi, mereka melayani Tuhan, yaitu tent-making ministry. Keluarga ini melayani melalui profesinya. Oleh karena itu jangan berpikir bahwa melayani itu harus fulltime. Mari melayani Tuhan melalui pekerjaan kita apakah guru, pegawai negeri, dll. Jadi, jangan pernah berpikir bahwa pengkhotbah lebih rohani daripada guru atau pekerjaan lainnya. Kita akan lebih rohani jika kita melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh untuk kemuliaan Tuhan daripada seorang pengkhotbah yang berkhotbah hanya untuk mencari nama bagi dirinya sendiri. Oleh karena itu, mari lakukan dengan tulus apapun pekerjaan kita.
  3. Ayat 18-19 mengatakan bahwa Akwila dan Priskila menyertai Paulus pergi bermisi. Pernah ada pelayanan Tanah Karo Simalem. Pelayanan ini dilakukan oleh keluarga-keluarga yang bekerja dalam dunia Profesi. Setiab Sabtu Minggu mereka mengkhususkan waktu untuk pergi ke daerah Karo untuk melayani dan Minggu sore kembali ke Medan. Mari kita bermisi karena jika kita tidak bermisi, keluarga kita bukanlah keluarga yang lengkap.
  4. Di dalam ayat 26 dikatakan Akwila dan Priskila membawa Apolos, seorang pengajar yang rajin tetapi belum begitu paham kebenaran. Jadi Akwila dan Priskila membawa Apolos ke rumah mereka dan mengajarinya adalah Firman Tuhan. Ini adalah hospitality. Sangat baik jika keluarga kita menjadi tempat PA, dimana setiap orang yang datang kita layani termasuk melayani mereka dalam kehidupan rohani mereka. Anak-anak Tuhan seharusnya tidak menjadi seorang yang pelit. Oleh karena itu jangan menggerutu jika banyak keluarga datang ke rumah kita. Bermisi juga dapat dilakukan melalui pemberian atau hospitality. Inilah yang dilakukan oleh Akwila dan Priskila. Mereka menjamu Paulus dan Apolos dan mereka juga mengajarkan kebenaran kepada Apolos, pengajar yang rajin ini. Mari buat rumah kita bukan sekedar rumah doa atau persekutuan, tetapi mari jadikan rumah kita menjadi rumah berkat dimana setiap orang menikmati kasih, kemurahan, dan kebaikan Allah melalui pasangan suami-isteri.

Tuesday, October 16, 2012

Occultism: Principalities & Power


Aswindo Sitio

[Disampaikan pada Ibadah Mimbar Bina Alumni, Jumat,  27 Juli 2012)


Tidak diragukan lagi bahwa salah satu salah satu sisi kehidupan Kristen yang tidak gampang adalah apa yang kita sebut dengan peperangan rohani. Tentu saja hal ini berhubungan dengan si jahat, yaitu iblis itu sendiri. Konflik antara baik dan jahat (good vs evil) sudah berdiri dalam di tengah-tengah kekristenan masa Perjanjian Baru itu sendiri, bahkan jauh sebelum itu, konflik ini sudah dimulai pada masa pemberontakan malaikat kepada Allah (lih Yeh 28:13-19)

Principalities and Powers
Dalam Perjanjian Lama, setan merupakan figure yang tidak menonjol, yang muncul dalam tiga bagian sebagai malaikat yang sedang beroperasi sebagai musuh yang melawan umat Allah (Ayub 1-2, Zakharia 3:1, 1Tawarikh 21:1). Dan figure inilah yang Paulus sebutkan dalam setiap suratnya sebagai principalities and powers.

Apa sebenarnya principalities and powers ini? Frasa ini muncul sebanyak enam kali di dalam alkitab, khususnya dalam terjemahan King James Version (KJV) dan turunannya (NKJV, MKJV). Dalam Rom 8:37-39; Kolose 1:16; Kol 2:15; Efesus 3:10-11; Efesus 6:12; Titus 3:1.

Dalam beberapa terjemahan lain, frase ini diterjemahkan dengan berbagai variasi, misal: “rules and authorities”, “forces and authorities”, “rules and powers”. Walaupun demikian, di setiap bagian frase ini muncul, konteksnya sangat jelas mengarah kepada satu kuasa jahat atau si iblis yang luas dan berbahaya yang sedang bekerja melawan umat Allah atau dengan kata lain menentang sesuatu yang berasal dari Allah. Inilah yang disebut dengan kuasa jahat atau sering menarik umat Tuhan untuk beralih kepadanya dengan menawarkan beragam hal agar kita bisa bergantung kepada iblis ini khususnya sering terjadi dalam praktek okultisme.

Setan tidak dapat menaklukkan Allah, tetapi dia, sebagai malaikat yang jatuh, memiliki pengetahuan akan Allah. Setan memiliki pikiran, emosi, dan keinginan, dan memahami bagaimana Allah Tritunggal mengubah pikiran, emosi dan keinginan manusia. Kalah dari Allah membuat setan berusaha dengan berbagai cara untuk menaklukkan dunia, khususnya melakukan segala cara untuk menaklukkan umat Allah dalam hal panggilan, sebagai manifestasi dari pribadi Allah dalam menunjukkan hidup, kasih, dan kesatuan Allah Tritunggal di tengah dunia ini.

Strategi Iblis

Iblis menyerang manusia dengan berbagai cara karena dia adalah sang penipu, sang perusak, sang penguasa, dan sang pendakwa.
Sang Penipu (Yoh 8:44; Why 12:9)
Sebagai penipu Setan bisa:
  1. Memanipulasi pikiran kita. Jika kita bepikir bahwa iblis bisa kita permainkan, maka kita salah besar. Iblis adalah biang dari segala penipu, dan dia sudah sangat berpengalaman mulai dari masa kejatuhan para malaikat dimana mereka berusaha untuk menipu para anak-anak Allah. Setan menyerang manusia dalam pikirannya. Salah satu fungsi tertinggi dan termulia dari pikiran manusia adalah mendengarkan firman Tuhan, sehingga mampu membaca pikiran Allah dan memikirkan pikiran-pikiran Allah sesuai kehendakNya. Bayangkanlah jika Iblis berhasil menyerang kita dalam hal ini? Hal ini bisa membuat kita semakin buta akan kehendak Allah dalam hidup kita. Salah satu taktik dasar dari setan untuk menggoda manusia adalah tipu muslihat, yang berarti “to give false impression” atau dengan kata lain membuat distorsi dalam hal bagaimana kita memandang realita. Bahkan kita bisa mulai meragukan system nilai yang sudah kita bangun di dalam Kristus. Setan akan memulai membuat kita mulai meragukan kebaikan Tuhan dengan menekankan bagaimana Allah membatasi kebebasan manusia. Salah satu kisah yang sering kita baca mengenai penipuan si iblis ini adalah kisah kejatuhan dalam Kej 3. Pikiran-pikiran yang diserang seperti ini bisa membuat sense kita akan dunia supranatural menjadi tumpul kita bisa menjadi tidak percaya akan ‘dunia lain’ tersebut. Bahkan bermain-main dengan hal-hal yang bersifat kuasa gelap tanpa menyadari ketika kita mencoba menjulurkan tangan dalam territorial ini, maka kita akan terperangkap tanpa pernah tahu mana jalan keluarnya. Ingat, kita mungkin hanya berniat untuk bermain-main, tetapi tidak demikian dengan Iblis. Ia tidak pernah bermain-main untuk menyesatkan umat Allah. Seangan-serangan yang dilakukan ibliis tehadap pikiran kita akan membuat kita merasa ragu dan merasa benar akan kuasa penyembuhan yang dilakukan oleh dukun (baca: Iblis). Bahkan dalam pesta adat sering kita akhirnya kompromi dengan alasan-alasan yang kiat buat sendiri menjadi masuk akal bagi kita. Ini adalah trik Iblis! Kelicikan Iblis yang lain adalah bahwa Iblis mempengaruhi pikiran agar focus kepada Allah tetapi tidak secara utuh. Iblis mempengaruhi kita untuk mengerjakan kebenaran dan transformasi, tetapi tidak secara utuh. Sebagai penipu, tujuan terakhir iblis bukanlah ketika kita akhirnya berdosa, tetapi menipu manusia agar iblis dapat membuat semacam ikatan dalam hidup kita, sehingga ia dapat mempengaruhi dan menghancurkan kita. Kita bisa diikat jika membuka diri pada kuasa kegelapan dan praktek okultisme. Tulah sebabnya kita harus menawankan pikiran kita pada Kristus (2Kor 10:5) 
  2. Pemahaman kita akan dosa. Dr. Ed. Murphy berkata, “Setan selalu terlibat dalam dosa.” Di mana ada dosa, maka setan ada di sana. (band. Efesus 4:27 dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis). Mereka menyenangi lingkungan seperti itu karena memang habitat mereka. Perbudakan kepada dosa merupakan prioritas utama iblis yang sedang dikerjakan dalam dunia ini. [contoh: Jemaat Kolose yang merasakan bahwa selain dari anugerah, masih diperlukan ritual-ritual rohani agar bisa selamat, bahkan di Indonesia ada kasus dimana anggur dan roti disimpan untuk keperluan darurat). Setan secara aktif mempromosikan dosa dan pada saat yang sama berusaha untuk menyembunyikan semua dampaknya. Sehingga secara luas dosa dipahami dengan versi masing-masing; yang keinginan daginglah, masih hidup di dunialah, tuntutan budayalah, dll. 
  3. Pemahaman akan Kristus dan Roh. Iblis memang tidak bisa meniadakan dampak akan kemenangan Kristus di Kalvari, tetapi dia dapat dan akan terus berusaha merusak atau meminimalkan dampak kematian Kristus itu dalam mentransformasi hidup kita. 
Sang Perusak 
Apakah iblis bisa memberi penderitaan badani kepada kita? Saya kira kisah Ayub (khususnya pasal 1 dan 2) menjelaskan hal ini. Jika Iblis tidak bisa menyerang kita dengan pikiran kita, maka ia akan melakukannya melalui tubuh kita. Ada banyak kasus di dalam alkitab yang menunjukkan bagaimana sifat setan si perusak ini menyerang tubuh manusia. Ia menyebabkan seorang laki-laki menjadi bisu (Mat 9:32, 33), seorang perempuan menjadi bungkuk (Luk 13:11-17). Bahkan ia menyerang seorang anak hingga anak tersebut jatuh ke air dan api (Mat 17:14-18). Tidak ada pengecualian di sini, setan ingin menyerang dan merusak tubuh kita. Setan akan senantiasa menyerang tubuh kita dengan penderitaan-penderitaan yang ada yang bisa membuat ketekunan kita untuk melakukan kehendak Allah akan semakin terkikis.

Bahkan dalam berbagai kasus yang ada, kuasa jahat bisa dipakai untuk menyerang orang lain (santet, guna-guna, begu ganjang, dll). Untuk hal ini, kita harus mengingat apa yang Tuhan katakan dalam Ulangan 18:10-11, “Di antaramu janganlah didapati seorang pun yang mempersembahkan anaknya laki-laki atau anaknya perempuan sebagai korban dalam api, ataupun seorang yang menjadi petenung, seorang peramal, seorang penelaah, seorang penyihir, seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati.”
Sang Penguasa 
Iblis bisa melakukan hal yang supranatural? Ya, sangat bisa. Iblis tidak maha kuasa, tetapi bukan berarti iblis tidak memiliki kuasa. Dalam tatanan ciptaan, posisi malaikat (termasuk iblis) lebih tinggi dari manusia (tetapi kelak manusia akan lebih dari malaikat). Ia memilikinya dan sering melakukan tanda-tanda yang supranatural. Ia bisa menyembuhkan. Ia bisa membuat fenomena-fenomena gaib. Ia adalah penguasa kerajaan angkasa bahkan penguasa dunia ini.

1Yoh 5:19 berkata, “5:19 Kita tahu, bahwa kita berasal dari Allah dan seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat.” Itulah sebabnya ia juga memberikan kekuasaan-kekuasaan palsu bagi mereka yang menginginkannya. Ia menggunakan kesombongan manusia sebagai senjatanya agar manusia tidak selalu bergantung kepada kehendak Allah. Begitu banyak orang yang merindukan kekuasaan sampai-sampai menggunakan cara yang Tuhan benci. Mereka pergi kepada orang pintar. Menggunakan jimat-jimat, pengasih, dll.
Sang Pendakwa
Mungkin kita berpikir bahwa setelah membawa orang melakukan dosa maka setan akan membiarkan orang itu mengalami penderitaan sebagai akibat dosanya. Namun, kenyataannya tidak begitu. Setan mempunyai satu tipu daya lainnya yang akan membuat orang Kristen yang tidak taat mengalami kekalahan ganda. Ia senantiasa mendakwa kita dengan dosa yang kita lakukan sehingga kita merasa bahwa kasih karunia Tuhan tidak akan bisa menyelamatkan kita. Jika kita terus menerus mendengarkan dakwaan iblis, kita sedang membuka diri kepada keputusasaan dan kelumpuhan rohani. Ini adalah sebuah tanda di mana jika kita merasa tidak tertolong lagi dan tidak ada harapan, kita dapat memastikan bahwa setan sedang mendakwa kita. Setan ingin kita merasa bersalah, dan selain terus menerus merasa bersalah maka kita akan semakin lama semakin jauh dari Tuhan dan tidak maksimal lagi sebagai alat Tuhan dalam mengerjakan misiNya.

Senjata Rohani
Ini adalah bagian yang harus kita waspadai. Bagaimana caranya agar kita bisa melawannya? Paulus dengan jelas menuliskannya dalam Efesus 6:10-20.

Berdirilah teguh! Hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan dan kenakanlah perlengkapan senjata Allah. Apa saja yang menjadi senjata bagi kita?
  1. Ikat pinggang kebenaran. Karena setan adalah pendusta, maka kita harus melawannya dengan kebenaran Allah. Pinggang adalah pusat tindakan, gerakan dan arah. Jika kita tidak diarahkan dan digerakkan oleh kebenaran, maka kita akan dikalahkan musuh. Ikat pinggang bukanlah senjata untuk menyerang, tetapi untuk perlindungan. 
  2. Bazu zirah keadilan. Perlengkapan senjata ini menutupi tubuh prajurit bagian depan, mulai dari leher sampai pinggang. Bazu zirah ini melindungi organ tubuh yang paling penting. Yang dimaksudkan Paulus di sini adalah keadilan di dalam Kristus yang kita terima saat kita percaya kepadanya. Keadilan sering diterjemahkan dengan pembenaran, yaitu satu prakarsa Allah yang penuh rahmat membenarkan manusia yang berdosa melalui Kristus. Setan adalah penuduh, dan ia akan menyerang kita dengan cara mengingatkan kita akan dosa-dosa kita. Melalui iman di dalam Kristuslah, maka kita akan memiliki keadilan yang diikatkan kepada kita. 
  3. Sepatu (kasut) damai sejahtera. Tentara Romawi mamakai sepatu berpaku agar stabil dan lincah. Seberapa teguh anda berdiri menentukan kemenangan anda. Jika seorang pejuang kehilangan tempat berpijak, dia bisa kalah dalam perang. Orang Kristen yang memiliki tempat berpijak yang kokoh akan memiliki keyakinan saat dia menghadapi musuh. Kita berdiri teguh oleh karena Injil. 1Kor 15:3-5 berkata, “3 Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, 4 bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; 5 bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya.” Kemenangan Kristus inilah yang memberi tempat berpijak yang aman dan kokoh pada saat kita berperang melawan Iblis. 
  4. Perisai Iman. Perisai romawi berukuran sekitar 60 x 120 cm, terbuat dari kayu dan dilapisi kulit dan logam. Perisai ini berguna sebagai dinding yang bisa digerakkan di mana para prajurit bisa bersembunyi dan melindungi diri mereka sendiri dari panah-panah api yang ditembakkan oleh musuh. Iman kita kepada Kristuslah yang memadamkan panah-panah api ini. Panah-panah api seperti apa yang ditembakkan kepada kita? Warren W. Wiersbe mengatakan bahwa panah-panah api ini berupa pikiran-pikiran yang datang satu persatu – keragu-raguan, ketakutan, kekuatiran, dst. Memercayai janji-janji Allah dan memegang FirmanNya akan memadamkan panah-panah api ini. Alangkah pentingnya bagi prajurit Kristen unuk belajar Firman. 
  5. Ketopong Keselamatan. Dalam 1Tes 5:8 dikatakan, “8 Tetapi kita, yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan.” Paulus disini merujuk kepada pengharapan yang dimiliki oleh orang percaya, yaitu apabila Yesus datang kembali. Setan seringkali menggunakan keputusasaan dan ketidakberdayaan sebagai senjata untuk melawan kita. Pada saat kita sedang kecewalah, kita paling mudah diserang. Kita akan membuat keputusan-keputusan bodoh dan mudah sekali terkena pencobaan. Apabila pikiran kita dilindungi oleh “pengharapan yang mulia” bahwa Tuhan akan datang kembali, maka setan tidak akan menggunakan kekecewaan kita untuk menyerang dan mengalahkan kita. 
  6. Pedang Roh. Inilah senjata penyerang – perlengkapan senjata rohani yang lain untuk bertahan. Pedang rohani, yaitu firman Allah, berbeda dari pedang biasa yang digunakan oleh orang. Pedang materi dapat tumpul jika digunakan, namun firman Tuhan tetap tajam. Yesus sendiri menggunakan pedang Roh ketika Ia bertemu dan mengalahkan setan di padang gurun. 
Inilah semua senjata rohani yang harus kita kenakan yang akan memampukan kita berdiri teguh. Semua ini hanya menjadi lambang saja bagi orang-orang Kristen kecuali jika kita mengetahui cara menggunakannya. Dan jawabannya adalah, “dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,” (ay 18).

Mari mengenakan semua persenjataan rohani kita disertai dengan doa, agar kita siap melalui peperangan rohani kita dan senantiasa berdiri teguh dan berkemenangan setiap harinya.