Denni B. Saragih, M. Div
Hari ini kita akan membahas mengenai karakter Allah yaitu The Silence God. Ada sebuah peristiwa dimana seseorang kena jambret ketika pulang bekerja. Pada saat peristiwa ini, ada beberapa orang yang sedang di kedai kopi dan melihat peristiwa ini berlangsung. Peristiwa penjambretan ini tidak sesaat, tetapi ada moment dimana korban dan si jambret tarik menarik yang akhirnya dimenangkan oleh jambret. Tetapi orang di kedai kopi tersebut tidak bernuat apa-apa. ini adalah sebuah peristiwa dimana diamnya orang-orang di kedai kopi adalah sesuatu yang menyakitkan dari kacamata korban dan meninggalkan pertanyaan ”Mengapa mereka tidak membantu?’.
Peristiwa lain, dimana banyak orang Indonesia berobat ke luar negeri ketika mereka sakit. Tetapi di sana mereka tidak diberi obat. Bandingkan dengan pengobatan di Indonesia, dimana seorang pasien diberi dengan berbagai macam obat. Bahkan menurut kedokteran di sana, yang paling baik dalam menangani pasien adalah diam (tidak memberi obat). Diam itu memberi efek terapi dan menyembuhkan. Walaupun tidak cepat tetapi menyembuhkan.
Dari dua peritiwa ini kita melihat dua wajah dari diam yaitu menyakitkan dan menyembuhkan. Demikian juga ketika Allah diam, ini adalah sebuah peristiwa yang menyakitkan, yang membuat kita berseru-seru kepada Tuhan. Tetapi kediaman Allah ini juga bisa menjadi sesuatu yang menyembuhkan.
Apa yang dimaksud denagn kediaman Allah? Kediaman Allah bukan berarti Allah tidak bertindak. Tetapi Allah bertindak dengan memilih untuk diam. Allah kadang kala memilih untuk bertindak dengan cara berdiam, baik untuk sementara, jangka waktu tertentu ataupun sampai dengan hari penghakiman berdasarkan kasih, hikmat dan rencanaNya yang mulia.
Mari melihat enam sisi dari kediaman Allah.
1. Kediaman Allah dan pertumbuhan kita.
Allah terkadang diam karena mempertimbangkan kebutuhan kita. Di dalam Rom 8:28-29 dikatakan: ”28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. 29 Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Allah selalu bekerja. Dikatakan bahwa Allah turut bekerja dan Allah sering berkerja dengan tidak cara tidak melakukan apa-apa. Tujuan Allah bukan untuk menyelesaikan masalah kita. Tetapi tujuan Allah adalah mengubahkan anak-anakNya menjadi serupa dengan Kristus. Karena itu dalam penderitaan, pergumulan dan masalah kadang kala Allah memilih untuk membiarkan persoalan itu membentuk kita. Seperti kata pepatah mengatakan ’No Criciss, No Growth’. Jadi, ketika kita di dalam pergumulan, jangan pernah meminta agar Allah menjauhkan cawan pergumulan tersebut dari hadapan kita. Tetapi berdoa agar cawan pergumulan tersebut membuat kita semakin meyerupai Tuhan Yesus dan bahkan kita mengijinkan penderitaan itu terjadi maksimal asal penderitaan atau pergumulan tersebut membuat kita semakin serupa dengan Yesus.
Ada sebuah ilustrasi yang menggambarkan hal ini yaitu ilustrasi mengenai burung rajawali dengan anak-anaknya. Sarang burung rajawali terletak di atas tebing yang terjal dan memiliki beberapa lapisan. Lapisan yang paling luar terdiri dari ranting-ranting kayu yang kasar. Kemudian diikuti dengan lapisan duri-duri. Lapisan ketiga adalah rerumputan dan yang terakhir adalah dedaunan. Ketika baru menetas dari telur anak rajawali berada di atas dedaunan yang lebut. Ketika semakin besar, sang induk membuang lapisan dan tinggallah lapisan rerumputan. Setelah semakin besar, lapisan rumput ini dibuang sehingga si anak tinggal dalam sarang dengan lapisan duri. Seiring dengan perkembangan si anak, sang induk membuang lapisan duri dan tinggallah ranting yang kasar. Kemudian satelah semakin besar, sang indiuk akan melemparkan anaknya ke luar sarang untuk belajar terbang. Jika si anak belum bisa terbang dan terjun bebas menuju tanah, sang induk akan terbang dan menangkap anaknya dan demikan terus sampai si anak sudah bisa terbang.
Demikian juga Tuhan dalam mendidik kita. Tahap demi tahap sampai kita bisa mengembangkan dan mengepakkan sayap dan membangun otot-otot kita dan terbang mengangkasa.
2. Kediaman Allah dan waktu Allah.
Dalam Mat 7:11 dikatakan, ”Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.". Dan Pengk 3:1 berkata, ”Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.”
Ada seorang alumni yang sangat atraktif dan mengenal banyak wanita yang cantik. Kemudian ia berkenalan dengan seorang wanita yang biasa-biasa saja yang kelak menjadi isterinya. Suatu waktu dia mengalami krisis dan dalam krisis ini dia banyak didukung wanita ini. Setelah krisis selesai, ia kemudian marah kepada Tuhan dan berkata: ”Mengapa baru aku baru Engkau pertemukan dengan pacar seperti ini?” Alumni ini akhirnya merasakan bagaimana wanita ini menjadi penolong yang sepadan dengan dirinya.
Allah sering melakukan hal yang demikian, dimana ketika waktunya tiba, kita baru merasakan setiap hal yang telah Allah lakukan dalam kehidupan kita.
Ibarat minyak goreng, ada satu masa, saat minyak tersebut betul-betul panas, baru kita memasukkan makanan yang ingin kita goreng. Jika belum panas besar, maka hasil gorengan tidak maksimal. Ibarat ketika kita membuat sebuah kue maka ada tahapan-tahapan yang berurutan dalam membuat kue. Demikian juga ada tahapan-tahapan di dalam kehidupan kita. Pertanyaannya adalah berada di tahap mana sekarang?
3. Kediaman Allah dan Kesabaran Allah.
Dalam 2 Pet 3:9 dikatakan: ”Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.”
Sering kita memiliki pemikiran agar semua orang jahat langsung dimusnahkan saja. Ketika dia melakukan kejahatan, Allah langsung mengambil nyawanya. Demikian juga bagi mereka yang membakar gereja. Mereka musnah oleh karena terbakar api mereka sendiri. Jika hal ini terjadi, maka dunia pasti aman.
Tetapi Allah tidak melakukan hal yang demikian. Ia sering menunjukkan kesabaranNya. Jika Allah tidak sabar dalam kediamanNya maka tidak ada Yusuf Roni. Ia adalah seorang yang pernah membakar gereja. Setelah gereja tersebut terbakar, ia datang untuk melihat hasil pekerjaannya. Kemudian ia melihat ada meja yang tidak terbakar dimana ada Alkitab. Dari bacaan inilah akhirnya ia bertobat. Sejak dahulu Allah selalu bersabar dalam kediamanNya. Mari melihat Paulus. Seorang penganiaya jemaat Yesus untuk menyenangkan hati Tuhan akhirnya menjadi pembela Kristus sampai akhir hidupnya.
4. Kediaman Allah dan murka Allah.
Allah juga bisa diam karena terlalu marah. Dalam Rom 1:18 dikatakan: ”Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman.” Dengan jelas dikatakan bahwa Allah marah dengan kefasikan manusia khususnya di kota Roma. Pada saat itu kebenaran ditindas, orang yang rendah hati ditertawakan dan diejek, dan orang benar dianggap salah. Intinya adalah orang Roma semakin jahat. Oleh karena inilah Allah menghukum mereka dan murka Allah itu nyata. Tetapi murka Allah ini bukan seperti ketika Allah menunjukkan murkanya atas Sodom dan Gomora. Kemurkaan Allah digambarkan dalam ayat 24, 26, dan 28. dikatakan disana: ay 24, ”Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka.; 26, ”Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar”.; 28, ”Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas:”. Dari ketiga ayat ini kita melihat ada tiga kata yang diulang yaitu ’Karena itu Allah menyerahkan mereka’. Inilah bentuk murka Allah dimana Allah membiarkan manusia semakin jahat di dalam kejahatannya.
Murka Allah ada dua, yaitu, pertama, menghukum demi kebaikan kita dan kedua, membiarkan kejahatan sampai titik moral terendah dan perilaku manusia menjadi perilaku binatang.
Orang Roma pada masa itu sangat jahat. Banyak dari mereka memelihara remaja-remaja untuk disodomi. Bahkan tidak jarang juga mereka memberi anak remaja sebagai hadiah untuk pejabat yang berulang tahun. Bahkan kehidupan seks mereka dipertontonkan untuk dilihat orang. Sungguh kehidupan yang tidak memiliki moral sama sekali. Mengapa manusia memiliki ide sebejat ini? Karena Allah membiarkan mereka dalam murkanya untuk jatuh lebih lagi ke dalam kejahatan.
Diamnya Allah oleh karena murkaNya adalah sesuatu yang bahaya. Banyak orang yang bergelimang dosa berada dalam neraka saat ini. Mereka jatuh ke dalam dosa, menderita, kemudian mencari solusi melalui narkoba maupun kejahatan lainnya. Mereka hidup penuh penderitaan. Mengapa demikian? Karena mereka sudah berada di dalam neraka.
5. Kediaman Allah dan hari Penghakiman.
Prinsipnya adalah 2 Pet 3:3-7, ”3 Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya. 4 Kata mereka: "Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan." 5 Mereka sengaja tidak mau tahu, bahwa oleh firman Allah langit telah ada sejak dahulu, dan juga bumi yang berasal dari air dan oleh air, 6 dan bahwa oleh air itu, bumi yang dahulu telah binasa, dimusnahkan oleh air bah. 7 Tetapi oleh firman itu juga langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api dan disimpan untuk hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik.”
Keadilan Allah tidaklah sepenuhnya bisa dijelaskan dengan hanya melihat dunia masa kini. Dunia sekarang ini penuh dengan ketidakadilan. Banyak orang jahat tidak dihukum dengan sepantasnya tetapi orang benar tidak dibela dan selalu tersudut. Inilah dunia sekarang ini. Oleh sebab itulah ada hari penghakiman. Hari ini ada untuk menegakkan keadilan di dunia ini dimana yang jahat akan dihukum dan yang benar akan dibela dan dideklarasikan. Akhir zaman mengantisipasi keadilan Tuhan dalam bentuknya yang paling sempurna. Dunia ini tidak sama dengan dunia dalam film India dimana yang benar selalu kalah di awal tetapi pada akhirnya selalu menang. Ada orang yang baru pertama sekali mencopet karena situasi yang memaksanya (anaknya sakit keras) dikeroyok pencopet lain karena dianggap mengambil daerah kekuasaan. Banyak ketidakadilan lagi yang muncul dan kita akhirnya bertanya ’Mengapa Allah tidak berbuat sesuatu?’. Allah bukannya tidak berbuat sesuatu. Allah lebih memilih untuk tidak melakukan apa-apa dan menyimpan semua untuk hari penghakiman.
6. Kediaman Allah dan Iman kita.
Beriman bukan berarti segala sesuatu menjadi lebih baik. Tetapi kita beriman kepada karakter-karakter Allah dimana Ia adalah baik dan penuh kasih karunia. Allah memilih diam bukan berarti karena Ia tidak peduli tetapi karena hikmat dan kebijaksanaanNya. Jangan takut jika ada banyak kejahatan tetapi tidak kena hukum. Alalh bertindak dalam keadilan dan kebenaranNya.
Allah tidak selalu impulsif dalam bertindak. Allah sering memilih diam dalam setiap pergumulan kita. Tetapi kita akan semakin dewasa dan bertumbuh dalam kediaman Allah.
Soli Deo Gloria!
Mimbar Bina Alumni (MBA) merupakan sebuah ibadah yang disediakan untuk para Alumni, khususnya yang tinggal di Medan. Ibadah ini diadakan sekali seminggu yaitu pada hari Jumat, pkl 18.00-20.00. MBA ini diadakan di GSJA Iskandar Muda. Kami senantiasa mengundang rekan-rekan sekalian untuk menghadirinya. Semoga MBA ini menjadi berkat bagi kita dan menguatkan kita di tengah-tengah pekerjaan kita. Amin.
Tuesday, February 9, 2010
Knowing God 3: The Goodness and Severity of God
Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div
Hari ini kita berbicara mengenai pribadi Allah dari segi atribut Allah, yaitu The Goodness & Severiy of God-Kebaikan/kemurahan dan Kekerasan Allah. Satu atribut dimana kebaikan atau kemurahan yang dari Allah dipasangkan dengan kekerasan Allah sendiri.
Kedua karakter ini merupakan atribut Allah yang tidak bisa dipisahkan. Dia adalah Allah yang baik dan juga Allah yang tegas. Kesalahan kita adalah sering hanya memandang dari sisi kebaikan Allah saja dan melupakan bahwa Dia juga adalah yang keras dan tegas. Karena itu, dua karakter ini harus dilihat secara bersamaan jika kita ingin memiliki pengenalan yang benar akan karakter atau atribut Allah.
Dua karakter Allah ini selalu muncul berdampingan dan simultan. Kita juga bisa melihat kedua karakter ini dalam penerapan kasih karunia Allah dimana kebaikan dan kekerasan Allah secara simultan muncul di dalam pernyataan kasih karuniaNya. Kedua karakter ini terjadi bersamaan. Rom 11:12 berkata: “Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamupun akan dipotong juga.” Paulus menuliskan hal ini kepada orang Roma yang Non-Yahudi atau Non-Israel. Artinya, Paulus ingin mengatakan bahwa oleh karena kekerasan bangsa Israaellah, maka mereka (non Yahudi) di’cangkok’kan kepadaNya oleh karena kemuraha Allah sendiri. Maka jika mereka mengeraskan hati, kekerasan Allah juga akan diterapkan di dalam mereka.
Demikian juga dalam kisah perjumpaan Musa dengan Tuhan. Dalam Kel 34:5-7 dikatakan: ”Turunlah TUHAN dalam awan, lalu berdiri di sana dekat Musa serta menyerukan nama TUHAN.Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: "TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat." Artinya, ada sebuah keseimbangan dan kemunculan yang simultan antara kemurahan dan kekerasan Allah.
Kedua karakter yang tidak dilihat dengan keseimbangan akan menimbulkan sebuah pemahaman dimana kemurahan atau kebaikan Allah itu adalah sesuatu yang gampangan, enak, dan murahan. Ingat, Allah yang murah hati bukan berarti murahan. Misalnya, Allah yang murah hati dengan segala kemurahan dan kasih karunianya mengampuni segala dosa manusia adalah sesuatu yang sangat mahal (walaupun kita menerimanya dengan murah). Oleh karena pelaksanaan kasih karunia dan kemurahanNya maka Kristus, anak satu-satuNya, dikorbankan di kayu salib.
Bagi kita peristiwa ini adalah sesuatu yang murah tetapi bagi Allah ini adalah sesuatu yang mahal. Jadi, kemurahan Allah jangan diidentikkan dengan sesuatu yang murahan. Jika kita memahami hal ini maka rasa hormat kita kepada Allah akan bertumbuh dan tidak akan bermain-main dengan keselamatan yang kita alami. Mari kita melihat kehidupan kita. Adakah kita bermain-main atau kurang menghargai kemurahan Allah? Apakah kita hidup sembarangan dan tidak menjaga kekudusan dengan hidup yang penuh dengan dosa? Dengan memahami kemurahan itu bukan sesuatu yang gampangan, maka kita bisa belajar untuk hidup di dalam kekudusan dan ketaatan kepada Allah.
Kekerasan tidak sama dengan kejam atau sadis. Kekerasan juga bukan berarti tanpa kesabaran atau kelembutan. Tetapi kekerasan Allah diterapkan dalam kasihNya. Ketika Allah mengingatkan sesuatu dengan tegas dan menghukum dosa dengan adil dan keras, Allah melakukannya di dalam kasih, kelembutan, dan kesabaran. Murah hati (kebaikan) berjalan bersama/berdampingan dengan kekerasan.
The Goodness of God
Berbicara mengenai kebaikan Allah, perlu kita ketahui bahwa kasih setia Allah berlimpah-limpah (Kel 34:6, ”Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: "TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya,”). Hal ini bukanlah sesuatu yang bersifat teoritis belaka tetapi adalah pengenalan dalam perspektif pengalaman kita secara pribadi. Jika kepada kita dikatakan ’Allah itu baik!’, apa yang ada di dalam pikiran kita? Hal ini sama dengan ketika kepada kita disebut kata ’Berastagi’, maka ada satu pengalaman yang berbeda yang muncul di masing-masing benak kita. Mungkin ada yang berpikir ’dingin’, ’tempat jadian’, ’pasar buah’, ’pemandangan’, dll. Apa ’berastagi’ belum tentu mempunya makna atau kesan yang sama bagi masing-masing kita. Jadi ketika dikatakan ”Allah itu baik!’ atau ’Allah itu murah hati!’, apa yang menjadi kesan bagi masing-masing kita bisa berbeda. Inilah yang disebut selective perception. Dan seharusnyalah kemurahan dan kebaikan Allah yang menjadi kesan dalam kehidupan kita karena Allah melimpah kasih karuniaNya.
Dalam Maz 106:1; 107:1; 118:1; 136:1 2 Taw 5:13; Yer 33:11, kita menemukan kalimat ’Allah baik, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya’ Pengakuan ini akan memunculkan dua hal. Pertama, pengalaman akan kebaikan Allah akan melahirkan syukur yang tulus kepdanya. Kedua, pengakuan ini juga sekaligus menghasilkan pengharapan. Allah yang baik di masa lalu, maka ada keyakinan dan pengharapan bahwa kebaikan Allah tidak akan berubah di masa depan. Apakah kedua hal ini, syukur atau pujian dan iman dalam pengharapan, muncul dalam diri kita? Atau kita dalam kondisi sulit bersyukur? Mari melihat Maz 103:1-5, ”1 Dari Daud. Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! 2 Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! 3 Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, 4 Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat, 5 Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali.”
Dalam ayat 1 kita melihat ada pujian yang tulus keluar dari dalam jiwa dan batin dari pemazmur. Kita bisa saja memuji Tuhan dengan mulut kita, tetapi hati kita tidak. Tetapi Daud tidak. Ia memuji Tuhan dengan tulus dengan cara tidak melupakan semua kebaikan Tuhan. Kemurahan Allah seharusnya melahirkan pujian yang tulus dari dalam hati kita. Kebaikan dan kemurahan Allah tidak diukur dari pengalaman kita atau apa yang kita nikmati. Kebaikan dan kemurahan Allah tidak pernah berkurang atau bertambah sehingga tidak ditentukan oleh sikap atau pengalaman kita. Permasalahannya adalah bagaimana kebaikan Allah yang tetap dan tidak berubah itu bisa kita nikmati secara pribadi sehingga kita bisa berkata ’Pujilah Tuhan hai segenap jiwa dan batinku’.
Jika kita tidak bisa melihat lagi kebaikan dan kemurahan Tuhan, maka akan ada ketakutan bagi kita dalam menyongsong kehidupan kita. Apakah kita bisa berkata ’Tuhan itu baik!’ walau di umur 35 kita belum punya pasangan hidup? Apakah kita bisa berkata ’Tuhan itu baik!’ walau keuangan kita sangat terbatas? Ingat, Tuhan tetap baik walau apapun yang kita alami. Sekali lagi, kebaikan Allah bukan didasarkan pengalaman kita. Pemahaman ini bukanlah teologia Kristen. Apapun pengalaman dan yang terjadi di dalam hidup kita, kebaikan dan kemurahan Allah tidak pernah berubah. Jadi, sekarang adalah bagaimana kita bisa menikmati kenyataan ini. Semakin kita menghitung kebaikan dan kemurahan Allah di dalam hidup kita, semakin kita bisa bersyukur dan memuji Dia di dalam hidiup kita. Sebaliknya, semakin kita menghitung apa yang kurang dalam hidup kita, semakin tambahlah ketakutan dan kakuatiran kita. Karena itu, jangan lebih banyak berfokus kepada apa yang belum kita peroleh, tetapi fokuslah kepada apa yang telah kita peroleh supaya kita bisa menikmati kebaikan Allah dan mengucapkan syukur padaNya.
Apa kebaikan dan kemurahan Allah? Di dalam Maz 107:4-9 dikatakan: ”4 Ada orang-orang yang mengembara di padang belantara, jalan ke kota tempat kediaman orang tidak mereka temukan; 5 mereka lapar dan haus, jiwa mereka lemah lesu di dalam diri mereka. 6 Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan dilepaskan-Nya mereka dari kecemasan mereka. 7 Dibawa-Nya mereka menempuh jalan yang lurus, sehingga sampai ke kota tempat kediaman orang. 8 Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia, 9 sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga, dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan.” Ada banyak kebaikan dalam bagian ini yaitu tuntunan, kepuasan, dan kenikmatan. Inilah kebaikan Allah (band. Maz 107:10-16, 17-22, 23-43). Rasakan dan nikmatilah kebaikan Allah.
The Severity of God
Allah yang baik dan murah hati juga adalah Allah yang tegas dan keras. Tetapi Allah bukan tidak sabar dalam kekerasanNya. Tetapi Ia lambat marah dan panjang sabar (Maz 103:8-14; 145:8-9; Kel 34:6, dll). Jika kita evaluasi, pasti kita menemukan bahwa selama tahun 2009 kita banyak melakukan dosa. Mari membayangkan jika Allah tidak panjang sabar dan tidak lambat untuk marah, bukankah kita semua tidak ada di tempat ini? Kesabaran Allah adalah demi pertobatan manusia, tetapi ketika kemarahan Allah diterapkan, kekerasan Allah juga muncul (Rom 2:1-5; 11:22; 2 Pet 3:9; Why 2:5). Orang yang mengeraskan hati akan mendapatkan keadilan dari Allah. Allah selalu memberi kesempatan untuk bertobat karena Ia lambat marah.
Allah yang penuh kasih karunia juga adalah Allah yang keras di dalam mendisiplinkan umatNya. Ibrani 12::7b dikatakan: ”Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?” (Ibrani 12:5-10). Mari menyadari hal ini dimana Allah yang penuh kemurahan juga adalah Allah yang keras dalam mendidik kita. Tuhan sering menegur orang dengan berbagai cara dari yang lembut sampai yang keras. Maz 119:71 berkata: ”Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.” Pengakuan yang sangat luar biasa. Pemazmur bisa menikmati kekerasan Allah demi pertobatannya.
Mari belajar dari hamba-hamba Tuhan dari catatan Alkitab.
Musa. Apa kesalahan Musa adalah ketika ia marah dalam peristiwa di Meriba. Akibatnya, ia tidak dapat masuk ke tanah perjanjian dan hanya bisa melihat dari kejauhan. Allah sangat keras kepada Musa karena tidak menghormatiNya. Jika kita taat kepada Allah, mungkin kita bisa dipakai untuk satu perbuatan yang lebih besar. Tetapi karena ketidaktaan Tuhan berkata ’Cukup! Sampai di sini saja.” Ini adalah peringatan bagi kita. Bari belajar dari Musa yang tidak diijinkan Tuhan masuk ke dalam tanah Kanaan karena Tuhan marah kepadanya akibat kemarahan Musa kepada umat Allah. Jangan sampai kekerasan Allah kita alami yang membuat kita tidak bisa berkarya lebih besar lagi kepada Allah.
Israel. Allah berkali-kali menunjukkan kekerasannya kepada bangsa Israel. Ketika mereka tidak taat kepada Allah dalam perjalanan Mesir ke Kanaan, Allah marah dan mengatakan bahwa tidak ada dari mereka (orang Israel) yang keluar dari Mesir yang akan sampai ke tanah Kanaan kecuali Kaleb dan Yosua.
Saul. Roh Allah meninggalkan Dia (dalam PL, Roh Kudus adalah tanda pengurapan Allah yang hanya ada pada imam dan raja). Semua disebabkan ketidaktaatan Saul kepada Allah. Allah bisa mencabut talenta, karunia dan potensi kita sehingga kita tidak berkembanag. Jangan sampai Allah menarik semua potensi kita karena ketidaktaatan kita. Allah tidak bisa dipermainkan.
Daud. Daud tidak setia sehingga anak hasil perzinahannya dengan Batsyeba harus mati. Lalu Daud dikudeta oleh anaknya, Absalom. Kemudian Absalom juga mengambil semua gundik Daud dan memperkosanya secara terbuka. Yang terakhir Daud di usir dari Istana. Sangat keras bukan?
Para Murid. Ketika Petrus oleh karena kasihnya kepada Yesus melarang Yesus ke Yerusalem, Yesus menyebutnya dengan ’Iblis’karena hanya memikirkan apa yang dipikirkan manusia bukan memikirkan apa yang dipikirkan oleh Allah.
Ananias dan Safira. Hanya karena bohong ketika ditanya oleh Petrus, mereka langsung mati. Seandainya kasus Annaias dan Safira masih berlaku, mungkin banyak manusia yang akan mati.
Ini adalah kekerasan Allah. Ada banyak kasus dalam PL dan PB. Bukankah Allah ikut mengeraskan hati Firaun? Ketika Firaun mengeraskan hatinya, Allah pun turut mengeraskan hatinya sehingga tidak bisa ditegor dan bencana menimpa. Jangan ada diantara kita yang mengalami kekerasan Allah.
Allah itu keras sekaligus murah hati di dalam hidup kita. Karena itu mari melihatnya secara objektif di dalam hidup kita. Oleh sebab itu jangan mempermainkan kemurahan Allah karena selain murah hati, Allah juga keras dan tegas. Mari seimbangkan kekerasan Allah dan kemurahanNya di dalam diri kita.
Soli Deo Gloria!
Hari ini kita berbicara mengenai pribadi Allah dari segi atribut Allah, yaitu The Goodness & Severiy of God-Kebaikan/kemurahan dan Kekerasan Allah. Satu atribut dimana kebaikan atau kemurahan yang dari Allah dipasangkan dengan kekerasan Allah sendiri.
Kedua karakter ini merupakan atribut Allah yang tidak bisa dipisahkan. Dia adalah Allah yang baik dan juga Allah yang tegas. Kesalahan kita adalah sering hanya memandang dari sisi kebaikan Allah saja dan melupakan bahwa Dia juga adalah yang keras dan tegas. Karena itu, dua karakter ini harus dilihat secara bersamaan jika kita ingin memiliki pengenalan yang benar akan karakter atau atribut Allah.
Dua karakter Allah ini selalu muncul berdampingan dan simultan. Kita juga bisa melihat kedua karakter ini dalam penerapan kasih karunia Allah dimana kebaikan dan kekerasan Allah secara simultan muncul di dalam pernyataan kasih karuniaNya. Kedua karakter ini terjadi bersamaan. Rom 11:12 berkata: “Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamupun akan dipotong juga.” Paulus menuliskan hal ini kepada orang Roma yang Non-Yahudi atau Non-Israel. Artinya, Paulus ingin mengatakan bahwa oleh karena kekerasan bangsa Israaellah, maka mereka (non Yahudi) di’cangkok’kan kepadaNya oleh karena kemuraha Allah sendiri. Maka jika mereka mengeraskan hati, kekerasan Allah juga akan diterapkan di dalam mereka.
Demikian juga dalam kisah perjumpaan Musa dengan Tuhan. Dalam Kel 34:5-7 dikatakan: ”Turunlah TUHAN dalam awan, lalu berdiri di sana dekat Musa serta menyerukan nama TUHAN.Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: "TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat." Artinya, ada sebuah keseimbangan dan kemunculan yang simultan antara kemurahan dan kekerasan Allah.
Kedua karakter yang tidak dilihat dengan keseimbangan akan menimbulkan sebuah pemahaman dimana kemurahan atau kebaikan Allah itu adalah sesuatu yang gampangan, enak, dan murahan. Ingat, Allah yang murah hati bukan berarti murahan. Misalnya, Allah yang murah hati dengan segala kemurahan dan kasih karunianya mengampuni segala dosa manusia adalah sesuatu yang sangat mahal (walaupun kita menerimanya dengan murah). Oleh karena pelaksanaan kasih karunia dan kemurahanNya maka Kristus, anak satu-satuNya, dikorbankan di kayu salib.
Bagi kita peristiwa ini adalah sesuatu yang murah tetapi bagi Allah ini adalah sesuatu yang mahal. Jadi, kemurahan Allah jangan diidentikkan dengan sesuatu yang murahan. Jika kita memahami hal ini maka rasa hormat kita kepada Allah akan bertumbuh dan tidak akan bermain-main dengan keselamatan yang kita alami. Mari kita melihat kehidupan kita. Adakah kita bermain-main atau kurang menghargai kemurahan Allah? Apakah kita hidup sembarangan dan tidak menjaga kekudusan dengan hidup yang penuh dengan dosa? Dengan memahami kemurahan itu bukan sesuatu yang gampangan, maka kita bisa belajar untuk hidup di dalam kekudusan dan ketaatan kepada Allah.
Kekerasan tidak sama dengan kejam atau sadis. Kekerasan juga bukan berarti tanpa kesabaran atau kelembutan. Tetapi kekerasan Allah diterapkan dalam kasihNya. Ketika Allah mengingatkan sesuatu dengan tegas dan menghukum dosa dengan adil dan keras, Allah melakukannya di dalam kasih, kelembutan, dan kesabaran. Murah hati (kebaikan) berjalan bersama/berdampingan dengan kekerasan.
The Goodness of God
Berbicara mengenai kebaikan Allah, perlu kita ketahui bahwa kasih setia Allah berlimpah-limpah (Kel 34:6, ”Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: "TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya,”). Hal ini bukanlah sesuatu yang bersifat teoritis belaka tetapi adalah pengenalan dalam perspektif pengalaman kita secara pribadi. Jika kepada kita dikatakan ’Allah itu baik!’, apa yang ada di dalam pikiran kita? Hal ini sama dengan ketika kepada kita disebut kata ’Berastagi’, maka ada satu pengalaman yang berbeda yang muncul di masing-masing benak kita. Mungkin ada yang berpikir ’dingin’, ’tempat jadian’, ’pasar buah’, ’pemandangan’, dll. Apa ’berastagi’ belum tentu mempunya makna atau kesan yang sama bagi masing-masing kita. Jadi ketika dikatakan ”Allah itu baik!’ atau ’Allah itu murah hati!’, apa yang menjadi kesan bagi masing-masing kita bisa berbeda. Inilah yang disebut selective perception. Dan seharusnyalah kemurahan dan kebaikan Allah yang menjadi kesan dalam kehidupan kita karena Allah melimpah kasih karuniaNya.
Dalam Maz 106:1; 107:1; 118:1; 136:1 2 Taw 5:13; Yer 33:11, kita menemukan kalimat ’Allah baik, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya’ Pengakuan ini akan memunculkan dua hal. Pertama, pengalaman akan kebaikan Allah akan melahirkan syukur yang tulus kepdanya. Kedua, pengakuan ini juga sekaligus menghasilkan pengharapan. Allah yang baik di masa lalu, maka ada keyakinan dan pengharapan bahwa kebaikan Allah tidak akan berubah di masa depan. Apakah kedua hal ini, syukur atau pujian dan iman dalam pengharapan, muncul dalam diri kita? Atau kita dalam kondisi sulit bersyukur? Mari melihat Maz 103:1-5, ”1 Dari Daud. Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! 2 Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! 3 Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, 4 Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat, 5 Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali.”
Dalam ayat 1 kita melihat ada pujian yang tulus keluar dari dalam jiwa dan batin dari pemazmur. Kita bisa saja memuji Tuhan dengan mulut kita, tetapi hati kita tidak. Tetapi Daud tidak. Ia memuji Tuhan dengan tulus dengan cara tidak melupakan semua kebaikan Tuhan. Kemurahan Allah seharusnya melahirkan pujian yang tulus dari dalam hati kita. Kebaikan dan kemurahan Allah tidak diukur dari pengalaman kita atau apa yang kita nikmati. Kebaikan dan kemurahan Allah tidak pernah berkurang atau bertambah sehingga tidak ditentukan oleh sikap atau pengalaman kita. Permasalahannya adalah bagaimana kebaikan Allah yang tetap dan tidak berubah itu bisa kita nikmati secara pribadi sehingga kita bisa berkata ’Pujilah Tuhan hai segenap jiwa dan batinku’.
Jika kita tidak bisa melihat lagi kebaikan dan kemurahan Tuhan, maka akan ada ketakutan bagi kita dalam menyongsong kehidupan kita. Apakah kita bisa berkata ’Tuhan itu baik!’ walau di umur 35 kita belum punya pasangan hidup? Apakah kita bisa berkata ’Tuhan itu baik!’ walau keuangan kita sangat terbatas? Ingat, Tuhan tetap baik walau apapun yang kita alami. Sekali lagi, kebaikan Allah bukan didasarkan pengalaman kita. Pemahaman ini bukanlah teologia Kristen. Apapun pengalaman dan yang terjadi di dalam hidup kita, kebaikan dan kemurahan Allah tidak pernah berubah. Jadi, sekarang adalah bagaimana kita bisa menikmati kenyataan ini. Semakin kita menghitung kebaikan dan kemurahan Allah di dalam hidup kita, semakin kita bisa bersyukur dan memuji Dia di dalam hidiup kita. Sebaliknya, semakin kita menghitung apa yang kurang dalam hidup kita, semakin tambahlah ketakutan dan kakuatiran kita. Karena itu, jangan lebih banyak berfokus kepada apa yang belum kita peroleh, tetapi fokuslah kepada apa yang telah kita peroleh supaya kita bisa menikmati kebaikan Allah dan mengucapkan syukur padaNya.
Apa kebaikan dan kemurahan Allah? Di dalam Maz 107:4-9 dikatakan: ”4 Ada orang-orang yang mengembara di padang belantara, jalan ke kota tempat kediaman orang tidak mereka temukan; 5 mereka lapar dan haus, jiwa mereka lemah lesu di dalam diri mereka. 6 Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan dilepaskan-Nya mereka dari kecemasan mereka. 7 Dibawa-Nya mereka menempuh jalan yang lurus, sehingga sampai ke kota tempat kediaman orang. 8 Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia, 9 sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga, dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan.” Ada banyak kebaikan dalam bagian ini yaitu tuntunan, kepuasan, dan kenikmatan. Inilah kebaikan Allah (band. Maz 107:10-16, 17-22, 23-43). Rasakan dan nikmatilah kebaikan Allah.
The Severity of God
Allah yang baik dan murah hati juga adalah Allah yang tegas dan keras. Tetapi Allah bukan tidak sabar dalam kekerasanNya. Tetapi Ia lambat marah dan panjang sabar (Maz 103:8-14; 145:8-9; Kel 34:6, dll). Jika kita evaluasi, pasti kita menemukan bahwa selama tahun 2009 kita banyak melakukan dosa. Mari membayangkan jika Allah tidak panjang sabar dan tidak lambat untuk marah, bukankah kita semua tidak ada di tempat ini? Kesabaran Allah adalah demi pertobatan manusia, tetapi ketika kemarahan Allah diterapkan, kekerasan Allah juga muncul (Rom 2:1-5; 11:22; 2 Pet 3:9; Why 2:5). Orang yang mengeraskan hati akan mendapatkan keadilan dari Allah. Allah selalu memberi kesempatan untuk bertobat karena Ia lambat marah.
Allah yang penuh kasih karunia juga adalah Allah yang keras di dalam mendisiplinkan umatNya. Ibrani 12::7b dikatakan: ”Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?” (Ibrani 12:5-10). Mari menyadari hal ini dimana Allah yang penuh kemurahan juga adalah Allah yang keras dalam mendidik kita. Tuhan sering menegur orang dengan berbagai cara dari yang lembut sampai yang keras. Maz 119:71 berkata: ”Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.” Pengakuan yang sangat luar biasa. Pemazmur bisa menikmati kekerasan Allah demi pertobatannya.
Mari belajar dari hamba-hamba Tuhan dari catatan Alkitab.
Musa. Apa kesalahan Musa adalah ketika ia marah dalam peristiwa di Meriba. Akibatnya, ia tidak dapat masuk ke tanah perjanjian dan hanya bisa melihat dari kejauhan. Allah sangat keras kepada Musa karena tidak menghormatiNya. Jika kita taat kepada Allah, mungkin kita bisa dipakai untuk satu perbuatan yang lebih besar. Tetapi karena ketidaktaan Tuhan berkata ’Cukup! Sampai di sini saja.” Ini adalah peringatan bagi kita. Bari belajar dari Musa yang tidak diijinkan Tuhan masuk ke dalam tanah Kanaan karena Tuhan marah kepadanya akibat kemarahan Musa kepada umat Allah. Jangan sampai kekerasan Allah kita alami yang membuat kita tidak bisa berkarya lebih besar lagi kepada Allah.
Israel. Allah berkali-kali menunjukkan kekerasannya kepada bangsa Israel. Ketika mereka tidak taat kepada Allah dalam perjalanan Mesir ke Kanaan, Allah marah dan mengatakan bahwa tidak ada dari mereka (orang Israel) yang keluar dari Mesir yang akan sampai ke tanah Kanaan kecuali Kaleb dan Yosua.
Saul. Roh Allah meninggalkan Dia (dalam PL, Roh Kudus adalah tanda pengurapan Allah yang hanya ada pada imam dan raja). Semua disebabkan ketidaktaatan Saul kepada Allah. Allah bisa mencabut talenta, karunia dan potensi kita sehingga kita tidak berkembanag. Jangan sampai Allah menarik semua potensi kita karena ketidaktaatan kita. Allah tidak bisa dipermainkan.
Daud. Daud tidak setia sehingga anak hasil perzinahannya dengan Batsyeba harus mati. Lalu Daud dikudeta oleh anaknya, Absalom. Kemudian Absalom juga mengambil semua gundik Daud dan memperkosanya secara terbuka. Yang terakhir Daud di usir dari Istana. Sangat keras bukan?
Para Murid. Ketika Petrus oleh karena kasihnya kepada Yesus melarang Yesus ke Yerusalem, Yesus menyebutnya dengan ’Iblis’karena hanya memikirkan apa yang dipikirkan manusia bukan memikirkan apa yang dipikirkan oleh Allah.
Ananias dan Safira. Hanya karena bohong ketika ditanya oleh Petrus, mereka langsung mati. Seandainya kasus Annaias dan Safira masih berlaku, mungkin banyak manusia yang akan mati.
Ini adalah kekerasan Allah. Ada banyak kasus dalam PL dan PB. Bukankah Allah ikut mengeraskan hati Firaun? Ketika Firaun mengeraskan hatinya, Allah pun turut mengeraskan hatinya sehingga tidak bisa ditegor dan bencana menimpa. Jangan ada diantara kita yang mengalami kekerasan Allah.
Allah itu keras sekaligus murah hati di dalam hidup kita. Karena itu mari melihatnya secara objektif di dalam hidup kita. Oleh sebab itu jangan mempermainkan kemurahan Allah karena selain murah hati, Allah juga keras dan tegas. Mari seimbangkan kekerasan Allah dan kemurahanNya di dalam diri kita.
Soli Deo Gloria!
[Knowing God 2009-02]: Kasih Karunia Allah
Prasasti Perangin-angin
Mari mebuka Alkitab dari Titus 2:11-15. Tema kita hari ini adalah Kasih Karunia Allah, dimana kia akan mengenal Allah dalam hal kasih karuniaNya. Dunia ini sedang kekosongan kasih karunia Allah. Gereja, sebuah tempat dimana seharusnya kasih karunia dapat ditemukan, tidak memiliki kasih karunia tersebut. Philip Yancey memberikan contoh di dalam bukunya dimana seseorang dokter bernama Tpurnier menceritakan tentang pasien-pasien yang datang kepadanya. Seorang pria yang memendam rasa bersalah karena dosa lama. Seorang wanita yang tidak bisa melupakan aborsi yang ia lakukan sepuluh tahun yang lalu. Dokter ini menemukan bahwa passien-pasiennya ini merindukan kasih karunia. Dan ketika mereka datang ke Gereja, mereka tidak menemukan kasih karunia, tetapi rasa malu dan sebuah penghakiman. Mereka mencari kasih karunia di gereja tetapi mereka tidak menemukanya.
Contoh lain mengisahkan seorang wanita yang sudah bercerai dengan suaminya dimana sebenarnya mereka aberdua adalah nak Tuhan. Suatu hari si perempuan pergi ke gereja bersama dengan putrinya yang berumur 15 tahun. Selesai ibadah, istri pendeta gereja menjumpai perempuan ini dan berkata: ”Saya dengar anda bercerai? Apa yang tidak saya pahami adalah kalau anda mengasihi Yesus dan ia mengasihi Yesus mengapa itu kalian lakukan?” Padahal isteri pendeta ini belum pernah berbicara dengan perempuan ini mengenai permasalahannya yang menyebabkan ia bercerai. Perempuan ini mendapatkan penghakiman dari isteri pendeta bukan sebuah pelukan hangat yang mengandung empati. Inilah yang terjadi di dalam dunia ini. Tidak ada tempat bagi orang-orang yang jatuh di dalam dunia ini.
Ada empat konsep kebenaran yang akan menghantar kita memahami kasih karunia.
1. Hilangnya nilai moral seseorang
Dunia melihat prestasi ilmiah mereka yang luarbiasa dan cenderung meninggikan diri sendiri. Kekayaan materi jauh lebih penting ketimbang karakter moral. Secara tegas bersikap terhadap diri sendiri, melakukan sedikit kebaikan sebagai pengganti kejahatan yang besar dan menolak pemikiran bahwa secara moral ada sesuatu yang salah dengan mereka. Hari nurani yang buruk mereka abaikan dan menganggap hanyalah gangguan psikologis yang tidak sehat, suatu tanda penyakit atau penyimpangan mental, bukan sebagai indeks realitas moral manusia. Mereka memandang dosa kecil tidaklah mengambarkan diri mereka sebenarnya karena mereka pada dasarnya adalah baik di dalam hati mereka. Gagasan bahwa mereka adalah ciptaan yang jatuh dari gambar Allah yang telah rusak, pemberontakan terhadap Allah, berdosa dan najis dalam pandangan Allah, dan hanya pantas mendapat murka Allah tidak pernah masuk di dalam pikiran mereka. Gagasan seperti ini tidak akan bisa membawa kita mengerti apa arti kasih karunia Allah.
2. Keadilan retributif Allah
Allah adalah hakim atas seluruh bumi dan Ia akan melakukan penghakiman-Nya dengan benar. Keadilan adalah yang bersifat penghukuman Allah terhadap dosa. PenghakimaNya benar “Ia membela orang yang tidak bersalah”. Allah akan menghukum dengan adil para pelanggar (Kej 18:25, ”Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?"). Allah tidak benar terhadap diri-Nya sendiri jika Ia tidak menghukum dosa. Tetapi jika orang yang berbuat salah tidak dapat mengharapkan apapun dari Allah kecuali hukuman yang setimpal maka kita tidak bisa mengerti apa arti kasih karunia Allah.
Keadilan mengharuskan adanya hukuman. Tetapi dalam hal ini keagungan kasih karunia Allah bekerja. Serring sekali dalam pemahaman kita konsep ’keadilan yang mengharuskan adanya penghukuman’ sangat melekat dengan baik. Dan konsep inilah yang kita pegang sehingga pelayanan kita dipenuhi dengan hukum-hukum ‘taurat’ yang baru dimana orang yang bersalah harus dihukum dan orang yang baik akan dipuji. Tidak ada tempat bagi orang ‘tidak baik’ atau memiliki aib di dalam pelayanan.
3. Ketidakberdayaan Rohani Manusia
Toplady berkata: “Bukan perbuatan tanganku yang dapat memenuhi tuntutan hukumMu, sekalipun semangatku tidak berhenti mengerti, sekalipun airmataku mengalir tanpa henti semua itu tidak dapat menebus dosa”. ita akan bisa mengerti kasih karunia Allah ketika kita menyadari bahwa tidak ada yang berdaya. Pernyataan ini menuntun pada pengakuan tentang ketidakberdayaan manusia. Untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah dan untuk mendapatkan kembali perkenaan Allah setelah kita terhilang adalah diluar kekuatan kita. Orang harus menerima kenyataan ini sebelum ia dapat mengerti apa arti kasih karunia. Mari merenungkan hidup kita, nafas yang setiap hari kita hirup bisa kah kita pahami semuanya. Dimana awal dan akhir dari hidup kita, apakah kita sanggup membawa apa yang kita miliki sampai akhir hidup ini? Bukankah semua hal ini bisa terjadi karena karya dari Allah. Kasih Karunia Allah nyata bagi kita.
4. Kasih Karunia adalah Kebebasaan Allah yang berdaulat
Agama orang kafir memandang semua ilah terikat pada para penyembahnya dengan ikatan kepentingan pribadi, sebab ia tergantung pada pelayanan dan pemberian mereka untuk kesejahteranya. Orang modern juga berpikir demikian oleh karena satu alasan tertentu Allah wajib mengasihi dan menolong kita meskipun kita tidak berhak mendapatkanya. Allah menyelamatkan manusia untuk kepentingan Allah sendiri. Allah menyelamatkan manusia karena ketergantungan Allah terhadap manusia. Allah berharap sesuatu dengan menolong kita. Seorang pemikir prancis berkata “Allah akan mengampuni karena itulah pekerjaanya” sampai meninggal dunia ia berkata berulang-ulang demikian.
Pandangan diatas tidak memiliki dasar yang kuat. Karena Allah Alkitab tidak pernah tergantung kepada ciptaaNya untuk kesejahteranNya ( Maz 50:8-13, Kis 17:25). Dan karena kita telah berdosa Ia tidak terikat untuk menujukan kemurahaNya kepada kita. Allah tidak berhutang sehingga harus menghentikan proses keadilaNya. Ia tidak wajib memberi belas kasihNya atau memberi ampun. Kalaupun semuanya itu dilakukan, semua itu sesuai dengan kehendak bebas-Nya dan tidak ada sesorang pun yang memaksa Dia untuk melakukanNya (Rom 9:16). AnugrahNya bersifat sukarela dan keputusan ini merupakan keputusan yang tidak perlu dibuat Allah dalam kasus apapun. Di sinilah sesorang bisa memulai memahami padangan Alkitab tentang kasih karunia. Dalam kebebasan dan sukarela, Allah memilih mengasihi kita dan menyelamatkan kita.
Jadi, kasih karunia Allah merupakan kasih yang secara sukarela ditunjukan kepada orang yang berdosa dan yang bersalah, sesuatu yang berlawanan dengan apa yang pantas orang berdosa terima dan sesungguhnya bertentangan dengan keburukan orang berdosa. Allahlah yang menunjukan kebaikanNya kepada orang-orang yang hanya pantas mendapatkan hukuman yang berat dan mereka tidak memiliki alasan untuk mengharapkan apa pun kecuali hukuman yang berat.
Kasih keagungan Allah dapat dilihat dari tiga hal.
1. Kasih karunia adalah sumber pengampunan dosa
Injil berpusat pada pembenaran. Penghapusan dosa dan penerimaan diri kita oleh Allah. Pembenaran dari status sebagai penjahat terkutuk yang menantikan hukuman mengerikan menjadi ahli waris yang menantikan warisan yang menakjubkan. Pembenaran terjadi karena iman. Menaruh percaya kepada Tuhan Yesus sebagai juruselamat. Pembenaran ini adalah cuma-cuma bagi kita tetapi sangat berharga bagi Allah yakni dibayar dengan kematian anak Allah sebagai penebusan dosa. (bd Roma 8:32) Mengapa Allah tidak menyayangkan anakNya itu adalah karena kasih karuniaNya yang secara sukareal menyelamatkan dan menebus manusia. Kasih karunia seperti kita menikmati danau toba, kita duduk dipinggir penginapan menikmati pegunungan, menikmati udara yang sejuk menikmati danau yang mengagungkan. Kita tidak diwajibkan untuk melakukan atau membayar apapun untuk menikmati keindahan tersebut.
2. Kasih karunia sebagai motif dari rencana keselamatan
Jadi seharusnya ada sukacita karena tahu bahwa pertobatan kita tidak terjadi secara kebetulan tetapi merupakan tindakan Allah yang telah direncananNya dari kekekalan untuk keselamatan manusia.
Bintang-bintang bisa jatuh tetapi janji Allah akan tetap teguh dan digenapi. Rencana keselamatan dituntaskan dengan penuh kemenangan. Jadi, kasih karunia akan terbukti sebagai sesuatu yang penuh kuasa. Itu sebabnya, orang akan mengalami sukacita dalam menikmati kasih karunia Allah.
Kasih karunia adalah sebab dan keselamatan adalah akibat (band. Efesus 2:8, Titus 2:11, Yoh 3:16, Roma 5;8, Zak 13:2). Jaminan keselamatn ini lah yang memberi kekuatan kepada kita untuk bisa hidup dengan jujur di temat dimana kita berada, termasuk di dalam dunia kerja kita. Apa yang kita kuatirkan ketika Allah telah menjaminkan kesematan dalam kasih karuniaNya kepada kita?
3. Kasih karunia sebagai jaminan perlindungan terhadap orang percaya.
Jika rencana keselamatan pasti digenapi, maka masa depan orang Kristen terjamin. Saya saat ini dan selamanya akan terpelihara dalam kekuatan Allah karena iman, sementara menantikan keselamatan (1 Petrus 1:5, ”Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.”).
Doddridge mengatakan ”kasih karunia pertama-tama mengoreskan namaku, dalam buku kekal Allah. Waktu itulah kasih karunia membawaku kepada Anak Domba yang mengangkat semua dukacitaku. Kasih karunia mengajar jiwaku untuk berdoa dan mengenalkan kasih yang mendatakankan pengampunan, waktu itulah kasih karunia memelihara aku sampai hari ini dan tidak akan membiarkan aku pergi”.
Apa tanggapan kita akan kasih akrunia Allah? Seharusnyalah kita tidak bisa bersikap lain selain, menyenangkan hati-Nya dengan perasaan heran dan sukacita. Sebab injil menceritakan kepada kita bagaimana Sang Hakim itu telah menjadi Juru Selamat kita. Kita yang seharusnya mendapatkan hukuman, beroleh kasih karunia di dalam Dia. Cinta Romantis adalah pengalaman yang paling mirip dengan kasih karunia murni. Seorang akhirnya merasa bahwa saya adalah makhluk yang paling dirindukan, paling menarik, paling diinginkan di seluruh planet. Seseorang tidak bisa tidak pada malam hari unutk memikirkan saya. Seseorang memaafkan saya sebelum saya mememintanya, memikirkan saya ketika ia berdandan, menyesuaikan hidupnya dengan hidup saya. Seorang yang mencintai saya apa adanya. Itulah kasih karunia. Jadi, mari hidup di dalam kasih karunia itu.
“Oh bertapa besar aku berhutang terhadap kasih karunia,
Setiap hari aku didesak untuk bersyukur,
Biarlah kasih karunia itu sekarang seperti belenggu
Mengikat hatiku yang senang mengembara kepada-MU,"
Ada orang yang berpendapat bahwa doktrin tentang kasih karunia Allah cenderung mendorong pangabaian moral (‘bagaimanapun kita akan selamat, tidak peduli apa pun yang kita lakukan karena tindakan kita tidak akan berpengaruh apa-apa’). Tetapi J.I Packer mengatakan bahwa orang yang memiliki pikiran seperti ini adalah orang yang tidak tahu apa yang sedang ia bicarakan. Karena pada giliranya kasih akan membangkitkan kasih. (Efesus 2:10, ”Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya”; Titus 2:11-12, “Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keingina duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini”). Anugrah itu berujung kepada “melakukan perbuatan baik’. Kasih karunia itu mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan, keinginan-keinginan duniawi, dan supaya kita hidup bijaksana dan adil (2 Tim 2:12). Orang yang mengalami kasih karunia akan semakin berubah menjadi lebih baik.
Sebuah kisah lain menceritakan bahwa ada seorang ayah di Spanyol memutuskan untuk berdamai dengan putranya yang melarikan diri ke Madrid. Dengan penuh rasa sesal, sang ayah memasang iklan di surat kabar El Libral yang berbunyi demikian: “Paco, temui saya di Hotel Montana hari Selasa tengah hari. Semua sudah dimaafkan. Papa.” Ternyata Paco adalah anma yang umum di Spanyol. Ketika Selasa tengah hari tiba, dan sang ayah datang ke hotel, ada sekitar 800 pemuda yang bernama Paco yang datang dan menungguh ayah mereka untuk memperoleh pengampunan. Dunia ini membutuhkan kasih karunia, Allah merindukan pelayanan kita dan setiap kita akan membagaikan kasih karunia itu kepada mereka”
Soli Deo Gloria!
[Knowing God 2009-01]: The Love of Our Father
[Kotbah yang dibawakan oleh Denni B. Saragih dan merupakan seri Knowing God dari MBA untuk 2010]
Mari membaca Mark 1:11, “Lalu terdengarlah suara dari sorga: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." Kita pasti memiliki pengalaman ditolak, apakah penolakan kecil atau penolakan besar amat dalam dan menyakitkan. Bahkan penolakan yang amat dalam ini bisa menyebabkan seorang alumni meninggalkan komunitas di mana ia berada. Penolakan adalah sesuatu yang amat menyakitkan bagi manusia di mana ada perasaan tidak dicintai dan dikasihi. Tetapi pada sore hari ini saya ingin menyampaikan satu kebenaran yang dinyatakan Alkitab bahwa Allah sangat mencintai kita. Tuhan berkata kepada Yesus: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." Kalimat ini dikatakan Bapa kepada Yesus sebelum Yesus berkorban, melayani, menang melawan pencobaan, atau sebelum Yesus setia di dalam hidupNya. Bapa mengasihi Yesus adalah karena Yesus adalah anakNya. Kita harus yakin bahwa kita memiliki Bapa di Sorga yang sangat mengasihi kita. Bapa mengasihi kita bukan karena apa yang kita lakukan, apapun yang akan kita lakukan, tetapi Bapa mengasihi kita dan berkenan kepada kita karena kita adalah anak-anakNya.
Fakta bahwa kita memiliki Bapa yang mengasihi kita mungkin hal yang biasa bagi kita. Tetapi kita perlu menyadari bahwa sebenarnya fakta ini adalah sesuatu yang luar biasa. Seorang perempuan Pakistan yang bertobat menajdi Kristen menuliskan di dalam bukunya, ”I dare to call Him, Father [Saya berani memanggiNya Bapa]. Kita sering ’take it for granted’ bahwa Tuhan itu Bapa. Kita kurang sadar betapa istimewanya menjadi anak dari Tuhan. Dalam semua agama di dunia ini (selain agama Kristen), tidak ada yang menyebut Tuhan sebagai ’Bapa’. Karena dalam banyak agama-agama (khususnya yang bersifat animisme) Tuhan dianggap sebagai bentuk manifestasi dari devine/demonic power, sehingga identik dengan kekuatan daripada kasih.
Kita harus kembali menghayati bahwa Alkitab berbeda. Dalam banyak agama hubungan manusia dengan Allah digambarkan sebagai hamba yang takut kepada Tuhan agar tidak disakiti. Jadi, kita memanipulasi reaksi Tuhan atau menggunakan Tuhan untuk kepentingan sendiri. Misalnya, memberikan persembahan, korban bakaran agar kita bisa mengambil hati Tuhan. Tidak ada hubungan yang personal apalagi hubungan Bapa-Anak. Agama Kristen adalah satu-satunya agama di mana kita memanggil Tuhan Bapa.
Bukan hanya agama-agama di dunia ini yang terkejut jika ada manusia yang memanggil Tuhan dengan Bapa, tetapi dalam Perjenjian Lama pun hal ini juga adalah sesuatu yang mnengejutkan. Dalam PL, memang ada konsep tentang Bapa, dan menyebut Tuhan dengan sebutan Bapa hanya muncul 14 kali dari 39 kitab dalam PL. Walaupun digunakan kata Bapa untuk Tuhan, tetapi penggunaan ini tidak digunakan sebagai panggilan. Tidak ada orang Israel yang berani memanggil Tuhan dengan sebutan ’Bapa’. Penggunaan kata ’Bapa’ menggambarkan hubungan yang sangat spesial antara Israel dan Tuhan, memanggil Nenek Moyang Abraham, menyelamatkan dari perbudakan Mesir. Ada privilege sebagai umat Tuhan. Bagaimana Tuhan memelihara dan melakukan hal-hal yang khusus mulai dari nenek moyang sampai keturunannya itulah yang digambarkan ’seperti Bapa yang memelihara anakNya’. Tetapi tidak pernah ada yang pernah memanggil Tuhan dengan sebutan Bapa. Yang ada hanya sebuah bentuk perumpamaan ’seperti Bapa sayang pada anak, demikianlah Tuhan sayang kepada bangsa Israel’.
Nabi-nabi mengeluhkan Israel yang tidak menghormati Allah sebagai Bapa (Mal 1:6, ”Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?"), dalam kesulitan mereka memanggil Tuhan sebagai Bapa (Yes 63:16, ”Bukankah Engkau Bapa kami? Sungguh, Abraham tidak tahu apa-apa tentang kami, dan Israel tidak mengenal kami. Ya TUHAN, Engkau sendiri Bapa kami; nama-Mu ialah "Penebus kami" sejak dahulu kala.; 64:7-8, ”Tidak ada yang memanggil nama-Mu atau yang bangkit untuk berpegang kepada-Mu; sebab Engkau menyembunyikan wajah-Mu terhadap kami, dan menyerahkan kami ke dalam kekuasaan dosa kami. Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.”) dan Tuhan sering menjawab mereka sebagai Bapa yang penuh Kasih (Jer 31:20, ”Anak kesayangankah gerangan Efraim bagi-Ku atau anak kesukaan? Sebab setiap kali Aku menghardik dia, tak putus-putusnya Aku terkenang kepadanya; sebab itu hati-Ku terharu terhadap dia; tak dapat tidak Aku akan menyayanginya, demikianlah firman TUHAN.”). Ada ilustrasi yang menggambarkan seperti hubungan Bapa dengan anak, tetapi tidak ada sebutan Bapa sama sekali. Jadi, dalam PL hanya ada gambaran-gambaran bahwa Tuhan adalah Bapa dari umatnya dan digambarkan sebagai Bapa yang penuh kasih karunia. Tetapi ini semua adalah metafora untuk kasih dan perhatian Tuhan, tidak pernah dalam PL Tuhan dipanggil sebagai Bapa.
Dalam Perjanjian Baru , Yesus memperkenalkan sesuatu yang baru, memanggil Tuhan dengan sebutan Abba, Bapa (Luk 11: 1-4; Mrk 14:36; band. Roma 8:15; Gal 4:6). Mari melihat Luk 11:2, ”Jawab Yesus kepada mereka: "Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu.” Yesus mengambil sesuatu yang sangat berani dibanding dengan zaman itu untuk mulai memanggil Tuhan dengan Bapa. Dalam bahasa Aramaik, kata ’Bapa’ disebut dengan ’Abba’. Dan menariknya dalam berbagai terjemahan, kata ’Abba’ dipertahankan (Rom 8:15, ”Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!"). Bahkan dalam bahasa Indonesia pun kata ‘Abba’ tetap dipertahankan. Paulus yang menulis suratnya dalam bahasa Yunani pun tetap mempertahankan kata ‘Abba’ ini dalam bahasa Aramaik. Jadi dengan mempertahankan kata ini, Allah di dalam Roh Kudus mendorong kita untuk memanggil Dia ‘Abba’.
Apa yang istimewa dengan ‘Abba’? ‘Abba’ adalah bahasa sehari-hari (Aramaik) yang adalah bahasa informal, bukan formal. Para rasul mempertahankan bahasa Asli ini, dan tidak ada orang Jahudi dan literature jahudi sebelum Yesus yang berani melakukan hal seperti itu. Ibaratnya dalam bahasa Indonesia kita tidak memanggil Ayah kita dengan Bapak (karena kata Bapak memiliki sifat formal), tetapi dengan Papa, Papi, atau panggilan sayang yang lain. Demikian jugalah seharusnya kita memanggil Tuhan yang adalah Bapa kita. Hal ini harus kita pahami karena ada kekuatiran kata ’Bapa’ yang kita gunakan kepada Tuhan sudah berubah menjadi satu pola dan kehilangan makna yang sebenarnya. Yesus memanggil Tuhan sebagai anak kepada Bapanya, didalam kalimat yang sederhana dan penuh rasa percaya yang mesra, yakin bahwa Dia didengar. “Abba” menggambarkan kedekatannya kepada Tuhan, keanakan dari Tuhan Yesus. Dan Yesus berkata kepada kita: "Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu.” Mungkin kita harus membiasakan untuk mulai memanggil Tuhan ’Abba’. Kita mungkin sering memanggil Tuhan dengan ’Ya Allah’, ’Tuhan Yesus’, dll, tetapi mari mulai belajar untuk memanggil Tuhan dengan mesra, bukan karena sesuatu yang sudah terpola atau mekanis.
Rom 8:14-16 berkata: ”14 Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. 15 Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!" 16 Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.” Bagian ini dikatakan bahwa Roh Kudus menciptakan dan mendorong hubungan yang intim dengan Bapa. Kedekatan dengan Bapa bukanlah sesuatu yang bisa dibuat-buat, tetapi merupakan pekerjaan Roh Kudus, karena itu kedekatan ini seperti Kedekatan Yesus (Gal 4:6, ”Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!"). Seseorang tidak bisa dipaksa bahwa dia adalah seorang Anak Tuhan, tetapi sesuatu yang menjadi respons berdasarkan pekerjaan Roh Kudus.
Roh Kudus juga membantu kita berdoa dengan cara berdoa buat kita dan mengajarkan kita tentang berdoa (Roma 8:26-27, ”26 Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. 27 Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.”). Tetapi sebagai anak Tuhan kita juga perlu mengembangkan kehidupan Doa kita sebagai orang yang dikasihi dengan Tuhan. Fil 4:6 (”Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”) mengajar agar tidak kuatir apapun juga, tetapi nyatakan segala hal didalam doa kepada Allah. Keyakinan seperti inilah yang harus dimiliki oleh orang sebagai orang yang dicintai oleh Allah.
Kita harus membalas kasih Allah dengan terus mengembangkan hubungan pribadi dan ketaatan kepada Tuhan. Dalam I Pet 2:1-5 dikatakan ada dua tugas orang yang sudah dalam Tuhan menurut Rasul Petrus. Pertama adalah penyucian hidup, dan tugas kedua adalah pertumbuhan dalam Firman Tuhan. Kedua adalah menjadi seperti Bayi Yang Rindu akan Firman, dengan menyadari bahwa manusia tidak hidup dari roti saja (Mat 4:4, band Maz 42:2-3; 62:2-5; 84:2-3).
Mari hidup dalam bayangan kasih Bapa. Bapa berkata kepada Yesus, anakNya; ”Kau adalah anakku yang kukasihi kepadamulah aku berkenan.” Sekarang, mari mengganti kata ’kau’ menjadi nama kita, dan ucapkanlah pernyataan Bapa ini, maka kita akan merasakan bagaimana Tuhan mencintai dan mengasihi kita. ”[nama kita] adalah anakku yang kukasihi, kepada [nama kita] aku berkenan.”
Soli Deo Gloria!
Monday, November 2, 2009
Seri The People of God IV: The Calling (DIAKONIA)
Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div
Hari ini kita akan membahas panggilan Gereja yang ke tiga, yaitu Diakonia. Mari membuka Kis 6:1-7. Lima pasal pertama dari kitab Kisah Para Rasul ini banyak menceritakan mengenai perkembangan jemaat Yerusalem dan permulaan munculnya oposisi sebagai reaksi dari semakin menyebarnya Injil. Kemudian, pasal berikutnya berisi mengenai pekerjaan misi, bagaimana Roh Kudus memimpin Umat Allah dan para rasul di dalam pemberitaan Injil sehingga muncul Jemaat yang sangat besar. Jika kita perhatikan bagian Kisah 6 tadi, kita melihat bahwa narasi ini di awali dengan sebuah kritik atas perhatian yang kurang bagi orang yang miskin, khususnya untuk orang kristen yang berlatar belakang non Yahudi asli.
Mari kita lihat ayat 1: ”Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari.” Jadi, ada satu sungut-sungut karena ada pihak yang terabaikan di dalam jemaat tersebut. Logikanya, jika jemaat semakin bertambah, maka yang ada adalah sukacita yang semakin besar. Tetapi di sini yang terjadi adalah ketimpangan, di mana ada kecemburuan yang menimbulkan sungut-sungut diantara mereka. Seolah-olah kelompok-kelompok tertentu di dalam jemaat itu hanya memperhatikan orang-orang yang Ibrani dan mengabaikan orang miskin yang berlatar belakang Helenis, khususnya para janda. Hal ini terjadi karena beratnya tugas dan fokus para rasul yang memberikan perhatian lebih banyak dalam pengajaran Firman Tuhan. Artinya, para rasul tidak mau ditarik dari tugas utamanya. Mereka tidak mau bergeser dari tugas utama mereka dan ingin tetap fokus dalam pengajaran Firman Allah. Bukan berarti para rasul mengabaikan pelayanan ini. Mereka tetap memperhatikan, hanya ada satu skala prioritas yang membuat mereka tidak ingin ditarik dari tugas utama mereka. Terjadilah persoalan ini.
Lukas, di ayat yang pertama, melihat bahwa salah satu permasalah dalam jemaat itu adalah karena pertambahan orang percaya. Tetapi Lukas juga melihat permasalahan yang lain, yaitu karena perbauran orang Ibrani dan Helenis. Ketika jemaat semakin bertambah, muncul juga sungut-sungut. Hal sangat bisa mungkin terjadi di dalam jemaat sekarang ini. Ketika jemaat semakin bertambah, maka akan dimungkinkan akan ada kelompok yang merasa terabaikan. Apalagi pada saat ini masih ada satu pendeta memimpin 11 jemaat.
Jika kita perhatikan bagian Kis 6 tadi, pelayanan kepada para janda dikatakan terabaikan dan ternyata janda yang terabaikan itu adalah janda Helenis. Siapakah janda yang harus diperhatikan dalam bagian ini? Mari melihatnya dalam 1 Tim 5:3-16. Di dalam ayat 3 dikatakan: ”Hormatilah janda-janda yang benar-benar janda.” Siapakah yang benar-benar janda? Dari 1 Tim 5 ini kita melihat bahwa janda yang memiliki anggota keluarga yang menanggungnya, tidak menjadi tanggungan jemaat. Dalam ayat 5 dikatakan: ”Sedangkan seorang janda yang benar-benar janda, yang ditinggalkan seorang diri, menaruh harapannya kepada Allah dan bertekun dalam permohonan dan doa siang malam.” Berarti janda tersebut adalah janda yang rohani yang tekun berdoa. Dalam ayat 6 dikatakan: ”Tetapi seorang janda yang hidup mewah dan berlebih-lebihan, ia sudah mati selagi hidup.”. Dalam ayat 8 dikatakan: ”Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.” Artinya adalah jika kita memiliki saudara janda tetapi tidak melayaninya, maka kita termasuk orang jahat. Ayat 9 dikatakan: ”Yang didaftarkan sebagai janda, hanyalah mereka yang tidak kurang dari enam puluh tahun, yang hanya satu kali bersuami.” Dan ditambahkan pada ayat 10 bahwa janda tersebut terbukti melakukan pekerjaan baik, yang menggunakan kesempatan untuk berbuat baik (ayat 10: ”...dan yang terbukti telah melakukan pekerjaan yang baik, seperti mengasuh anak, memberi tumpangan, membasuh kaki saudara-saudara seiman, menolong orang yang hidup dalam kesesakan -- pendeknya mereka yang telah menggunakan segala kesempatan untuk berbuat baik.” ) Jadi janda orang Helenis yang benar-benar janda terabaikan di jemaat mula-mula.
Di dalam kondisi seperti ini, dilihatlah betapa pentingnya sebuah pelayanan Diakonia. Dalam Kis 6:2 dikatakan: ”Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata: "Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja.” Terjadi satu kontradiksi. Di satu sisi para Rasul tidak banyak dan waktu mereka banyak untuk pelayanan Firman. Di satu sisi, terjadi pengabaian kepada janda-janda karena para rasul yang sedikit tidak mampu melakukannya. Oleh sebab itulah mereka berkata demikian dalam ayat 1 tersebut. Dalam pelayanan seharusnya harus memiliki dua hal, yaitu Proclamation (pengajaran dan pemberitaan Firman) dan sekaligus dengan the Presence of God di dalam pelayanan kasih. Inilah Diakonia. Hal ini sering sekali terabaikan. Tetapi hal ini tidak berlarut di dalam jemaat mula-mula. Muncullah satu solusi. Dalam ayat 3 dikatakan: ”Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu.” Panggilan umat Allah memang tidak sebatas vertikalistik. Inilah yang sering sekali menjadi kesalahan kita, baik Perkantas, Gereja, ataupun persekutuan-persekutuan Kristen lainnya. Sering sekali plan kita terpusat hanya pada hal-hal yang vertikal, dan mengabaikan pelayanan yang horizontal, yaitu pelayanan kasih. Salah satu kesalahan persekutuan atau Gereja adalah jika ada jemaatnya yang mengalami kemalangan, yang aktif terlibat untuk membantu adalah Serikat Tolong Menolong (STM) atau punguan Marga, bukan Gereja. Ini adalah kesalahan yang fatal dari Gereja. Gereja hanya datang sebagai ’penonton’. Gereja kehilangan esensi dan tanggung jawabnya. Ini adalah sesuatu yang sangat timpang. Kapan warga akan menikmati pelayanan Gereja dan hamba Tuhan jika Gereja masih seperti ini? Jangan ikatan marga lebih kuat daripada ikatan persekutuan. Ikatan iman harus jauh lebih mengikat dari pada ikatan suku atau marga. Oleh karena itulah, di dalam Kis 6 tadi, para rasul mengusulkan agar dipilih orang untuk memperbaiki ketimpangan yang ada di dalam jemaat mula-mula.
Belajar dari Tuhan Yesus, setelah Dia mengajar, Dia juga tidak lupa kepada mereka yang lapar. Yesus juga menyembuhkan dan menghiburkan ketika orang sedih. Ini adalah bentuk pelayanan Diakonia. Kenapa Gereja kita mengalami kegagalan adalah karena kurang memperhatikan pelayanan Diakonia [band 2 Kor 8:1-5 tentang jemaat di Makedonia ”Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus.Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.”]. Yang menarik dalam jemaat di Makedonia adalah, di dalam kekurangannya mereka masih menawarkan diri untuk ikut terlibat ambil bagian di dalam pelayanan Diakonia. Dengan prinsip pelayanan Diakonia, maka dalam Jemaat mula-mula itu dipilihlah orang yang punya kemampuan untuk hal itu. Syaratnya adalah terkenal baik (jujur), murah hati, yang penuh Roh dan hikmat. Dan ayat 5 dikatakan: ”Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia.” Kemudian dalam ayat 6 dikatakan: ”Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itu pun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka.” Pelayann Diakonia sebagai salah satu dari tiga panggilan Gereja harus dilakukan dan akan memberi dampak yang positif. Di dalam ayat 7 dikatakan: ”Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.” Mari kita perhatikan beberapa hal. Pertama, Firman Allah makin tersebar. Hal ini dikarenakan dua hal yaitu rasul fokus pada pemberitaan Firman dan karena orang menikmati perhatian kasih (Diakonia) dan mereka tertarik kepada pengajaran. Kenapa Gereja kehilangan jemaat adalah karena jemaat tidak menikmati pelayanan kasih. Kedua, jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak. Hal ini terjadi karena mereka menikmati pelayanan kasih dari jemaat. Ketiga, sejumlah besar imam menyerahkan diri untuk percaya. Hal ini tidak gampang. Apa yang ingin dikatakan adalah bahwa imam-iman yang berasal dari ahli Farisi dan hukum Taurat, yang biasa tahu kebenaran dan berkutat terus di bait Allah, yang merasa bahwa diri mereka hebat, dikalahkan oleh satu hal ketika mereka melihat kehidupan umat Allah dan menikmati pelayanan Diakonia. Akhirnya mereka bertanya-tanya, tertarik, dan menyerahkan diri untuk percaya.
Harapan kita, biarlah kitanya orang tertarik, tertantang, dan datang kepada Kristus, apakah dia tokoh agama atau apapun, karena melihat kasih Kristus yang nyata di dalam Gereja kita. Kasih Kristus di dalam pelayanan Diakonia sungguh-sungguh hidup di dalam persekutuan kita. Itulah sebabnya tritugas Gereja harus dikerjakan secara berkesinambungan dan secara simultan dengan kasih Allah.
Solideo Gloria!
Hari ini kita akan membahas panggilan Gereja yang ke tiga, yaitu Diakonia. Mari membuka Kis 6:1-7. Lima pasal pertama dari kitab Kisah Para Rasul ini banyak menceritakan mengenai perkembangan jemaat Yerusalem dan permulaan munculnya oposisi sebagai reaksi dari semakin menyebarnya Injil. Kemudian, pasal berikutnya berisi mengenai pekerjaan misi, bagaimana Roh Kudus memimpin Umat Allah dan para rasul di dalam pemberitaan Injil sehingga muncul Jemaat yang sangat besar. Jika kita perhatikan bagian Kisah 6 tadi, kita melihat bahwa narasi ini di awali dengan sebuah kritik atas perhatian yang kurang bagi orang yang miskin, khususnya untuk orang kristen yang berlatar belakang non Yahudi asli.
Mari kita lihat ayat 1: ”Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari.” Jadi, ada satu sungut-sungut karena ada pihak yang terabaikan di dalam jemaat tersebut. Logikanya, jika jemaat semakin bertambah, maka yang ada adalah sukacita yang semakin besar. Tetapi di sini yang terjadi adalah ketimpangan, di mana ada kecemburuan yang menimbulkan sungut-sungut diantara mereka. Seolah-olah kelompok-kelompok tertentu di dalam jemaat itu hanya memperhatikan orang-orang yang Ibrani dan mengabaikan orang miskin yang berlatar belakang Helenis, khususnya para janda. Hal ini terjadi karena beratnya tugas dan fokus para rasul yang memberikan perhatian lebih banyak dalam pengajaran Firman Tuhan. Artinya, para rasul tidak mau ditarik dari tugas utamanya. Mereka tidak mau bergeser dari tugas utama mereka dan ingin tetap fokus dalam pengajaran Firman Allah. Bukan berarti para rasul mengabaikan pelayanan ini. Mereka tetap memperhatikan, hanya ada satu skala prioritas yang membuat mereka tidak ingin ditarik dari tugas utama mereka. Terjadilah persoalan ini.
Lukas, di ayat yang pertama, melihat bahwa salah satu permasalah dalam jemaat itu adalah karena pertambahan orang percaya. Tetapi Lukas juga melihat permasalahan yang lain, yaitu karena perbauran orang Ibrani dan Helenis. Ketika jemaat semakin bertambah, muncul juga sungut-sungut. Hal sangat bisa mungkin terjadi di dalam jemaat sekarang ini. Ketika jemaat semakin bertambah, maka akan dimungkinkan akan ada kelompok yang merasa terabaikan. Apalagi pada saat ini masih ada satu pendeta memimpin 11 jemaat.
Jika kita perhatikan bagian Kis 6 tadi, pelayanan kepada para janda dikatakan terabaikan dan ternyata janda yang terabaikan itu adalah janda Helenis. Siapakah janda yang harus diperhatikan dalam bagian ini? Mari melihatnya dalam 1 Tim 5:3-16. Di dalam ayat 3 dikatakan: ”Hormatilah janda-janda yang benar-benar janda.” Siapakah yang benar-benar janda? Dari 1 Tim 5 ini kita melihat bahwa janda yang memiliki anggota keluarga yang menanggungnya, tidak menjadi tanggungan jemaat. Dalam ayat 5 dikatakan: ”Sedangkan seorang janda yang benar-benar janda, yang ditinggalkan seorang diri, menaruh harapannya kepada Allah dan bertekun dalam permohonan dan doa siang malam.” Berarti janda tersebut adalah janda yang rohani yang tekun berdoa. Dalam ayat 6 dikatakan: ”Tetapi seorang janda yang hidup mewah dan berlebih-lebihan, ia sudah mati selagi hidup.”. Dalam ayat 8 dikatakan: ”Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.” Artinya adalah jika kita memiliki saudara janda tetapi tidak melayaninya, maka kita termasuk orang jahat. Ayat 9 dikatakan: ”Yang didaftarkan sebagai janda, hanyalah mereka yang tidak kurang dari enam puluh tahun, yang hanya satu kali bersuami.” Dan ditambahkan pada ayat 10 bahwa janda tersebut terbukti melakukan pekerjaan baik, yang menggunakan kesempatan untuk berbuat baik (ayat 10: ”...dan yang terbukti telah melakukan pekerjaan yang baik, seperti mengasuh anak, memberi tumpangan, membasuh kaki saudara-saudara seiman, menolong orang yang hidup dalam kesesakan -- pendeknya mereka yang telah menggunakan segala kesempatan untuk berbuat baik.” ) Jadi janda orang Helenis yang benar-benar janda terabaikan di jemaat mula-mula.
Di dalam kondisi seperti ini, dilihatlah betapa pentingnya sebuah pelayanan Diakonia. Dalam Kis 6:2 dikatakan: ”Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata: "Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja.” Terjadi satu kontradiksi. Di satu sisi para Rasul tidak banyak dan waktu mereka banyak untuk pelayanan Firman. Di satu sisi, terjadi pengabaian kepada janda-janda karena para rasul yang sedikit tidak mampu melakukannya. Oleh sebab itulah mereka berkata demikian dalam ayat 1 tersebut. Dalam pelayanan seharusnya harus memiliki dua hal, yaitu Proclamation (pengajaran dan pemberitaan Firman) dan sekaligus dengan the Presence of God di dalam pelayanan kasih. Inilah Diakonia. Hal ini sering sekali terabaikan. Tetapi hal ini tidak berlarut di dalam jemaat mula-mula. Muncullah satu solusi. Dalam ayat 3 dikatakan: ”Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu.” Panggilan umat Allah memang tidak sebatas vertikalistik. Inilah yang sering sekali menjadi kesalahan kita, baik Perkantas, Gereja, ataupun persekutuan-persekutuan Kristen lainnya. Sering sekali plan kita terpusat hanya pada hal-hal yang vertikal, dan mengabaikan pelayanan yang horizontal, yaitu pelayanan kasih. Salah satu kesalahan persekutuan atau Gereja adalah jika ada jemaatnya yang mengalami kemalangan, yang aktif terlibat untuk membantu adalah Serikat Tolong Menolong (STM) atau punguan Marga, bukan Gereja. Ini adalah kesalahan yang fatal dari Gereja. Gereja hanya datang sebagai ’penonton’. Gereja kehilangan esensi dan tanggung jawabnya. Ini adalah sesuatu yang sangat timpang. Kapan warga akan menikmati pelayanan Gereja dan hamba Tuhan jika Gereja masih seperti ini? Jangan ikatan marga lebih kuat daripada ikatan persekutuan. Ikatan iman harus jauh lebih mengikat dari pada ikatan suku atau marga. Oleh karena itulah, di dalam Kis 6 tadi, para rasul mengusulkan agar dipilih orang untuk memperbaiki ketimpangan yang ada di dalam jemaat mula-mula.
Belajar dari Tuhan Yesus, setelah Dia mengajar, Dia juga tidak lupa kepada mereka yang lapar. Yesus juga menyembuhkan dan menghiburkan ketika orang sedih. Ini adalah bentuk pelayanan Diakonia. Kenapa Gereja kita mengalami kegagalan adalah karena kurang memperhatikan pelayanan Diakonia [band 2 Kor 8:1-5 tentang jemaat di Makedonia ”Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus.Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.”]. Yang menarik dalam jemaat di Makedonia adalah, di dalam kekurangannya mereka masih menawarkan diri untuk ikut terlibat ambil bagian di dalam pelayanan Diakonia. Dengan prinsip pelayanan Diakonia, maka dalam Jemaat mula-mula itu dipilihlah orang yang punya kemampuan untuk hal itu. Syaratnya adalah terkenal baik (jujur), murah hati, yang penuh Roh dan hikmat. Dan ayat 5 dikatakan: ”Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia.” Kemudian dalam ayat 6 dikatakan: ”Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itu pun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka.” Pelayann Diakonia sebagai salah satu dari tiga panggilan Gereja harus dilakukan dan akan memberi dampak yang positif. Di dalam ayat 7 dikatakan: ”Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.” Mari kita perhatikan beberapa hal. Pertama, Firman Allah makin tersebar. Hal ini dikarenakan dua hal yaitu rasul fokus pada pemberitaan Firman dan karena orang menikmati perhatian kasih (Diakonia) dan mereka tertarik kepada pengajaran. Kenapa Gereja kehilangan jemaat adalah karena jemaat tidak menikmati pelayanan kasih. Kedua, jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak. Hal ini terjadi karena mereka menikmati pelayanan kasih dari jemaat. Ketiga, sejumlah besar imam menyerahkan diri untuk percaya. Hal ini tidak gampang. Apa yang ingin dikatakan adalah bahwa imam-iman yang berasal dari ahli Farisi dan hukum Taurat, yang biasa tahu kebenaran dan berkutat terus di bait Allah, yang merasa bahwa diri mereka hebat, dikalahkan oleh satu hal ketika mereka melihat kehidupan umat Allah dan menikmati pelayanan Diakonia. Akhirnya mereka bertanya-tanya, tertarik, dan menyerahkan diri untuk percaya.
Harapan kita, biarlah kitanya orang tertarik, tertantang, dan datang kepada Kristus, apakah dia tokoh agama atau apapun, karena melihat kasih Kristus yang nyata di dalam Gereja kita. Kasih Kristus di dalam pelayanan Diakonia sungguh-sungguh hidup di dalam persekutuan kita. Itulah sebabnya tritugas Gereja harus dikerjakan secara berkesinambungan dan secara simultan dengan kasih Allah.
Solideo Gloria!
Seri The People of God III: The Calling (KOINONIA)
Denni B. Saragih, M. Div
Minggu-minggu ini kita merenungkan apakah artinya menjadi Gereja. Apa artinya menjadi umat Allah. Satu harapan kita adalah kita semakin menghargai keberadaan Gereja, dan bagaimana kita mencintai dan ambil bagian dalam pelayanan Gereja. Tentu saja kita mendekati Gereja tidak semata-mata sebagai sebuah institusi tetapi juga di dalam pengertian theologis yang dipahami di dalam Alkitab. Hari ini kita akan menyegarkan pemahaman kita tentang apa artinya Koinonia melalui Kis 2:42-47.
Dalam kehidupan sekarang ini, ada dua ekstrim yang kita temukan sewaktu kita melihat persekutuan Gereja. Satu sisi kita melihat persekutuan Gereja yang mirip-mirip dengan kelompok adat. Suasanya sangat formal, sehingga etika dan nilai-nilai yang ada di sana lebih mengarah kepada nilai-nilai budaya dari pada nilai-nilai Kristiani. Di sisi lain juga kita melihat Gereja yang terlalu causual, dimana siapa saja boleh masuk ke dalam. Orangnya mungkin berganti-ganti dan tidak saling mengenal. Gereja ini memiliki kesan seperti sebuah show, bukan ibadah.
Kita memperhatikan bahwa dalam bagian Kis 2 ini, kita diingatkan kembali apa yang menjadi mungkin bagi sebuah umat Allah. Ditengah-tengah kekecewaan kita dengan Gereja, kekeringan dunia ini akan persekutuan yang sejati, kegagalan, dan ditengah-tengah harapan yang kita miliki tentang bagaimana seharusnya sebuah Gereja, Kis 2 ini memberikan gambaran tentang apa yang mungkin terjadi dalam jemaat/Gereja. Bagian Firman ini mengajarkan kepada kita bahwa Kis 2 ini bukanlah kisah yang unik, yang hanya terjadi sekali dalam sejarah dan tidak mungkin terulang lagi. Tidak! Kekerdilan iman kita yang dibentuk situasi di sekeliling kita membuat kita dipaksa untuk percaya bahwa persekutuan yang ada di Kis 2 tidak akan mungkin terjadi. Firman Tuhan ini menantang kita, sewaktu kita melihat Gereja dan persekutuan kita kembali melihatnya dengan kacamata Kis 2. Kita ditantang untuk mengharapkan hal yang besar bagi Gereja dan persekutuan, bahwa Gereja tidak harus tinggal dalam kondisi sekarang. Gereja dan persekutuan bisa berubah seperti yang Tuhan kehendaki. Wiliam Carey berkata: ”Expect great thing from God, and attemp great thing for God- Harapkanlah hal-hal besar dari Tuhan, dan kerjakanlah pekerjaan-pekerjaan besar bagi Tuhan.”
Jika kita memperhatikan Kis 2:42-47, kita akan bertanya: ”Apakah rahasianya sehingga mereka bisa seperti ini?” Mungkin kita tergoda untuk menjawab bahwa hal itu tejadi karena penyerahan diri mereka pada saat itu lebih dalam. Banyak jawaban-jawaban yang lain yang bisa kita berikan. Tetapi jika kita memperhatikan bagaimana Firman Tuhan mempersentasekan Kis 2:42-47, yang ingin dikatakan ialah, bahwa ini bukanlah sebuah norma di mana kita harus demikian. Bukan! Ini adalah sebuah ekspresi sebagai sebuah akibat dari apa yang terjadi ketika satu umat Tuhan mengalami pencurahan dari Roh Kudus. Kis 2 ini adalah gambaran satu komunitas, ketika Roh Allah menguasai mereka. Segala kelemahan-kelemahan manusia, keegoisan, kerapuhan, individualis, segala apa yang kita miliki yang sama dengan mereka, diangkat ke level yang paling tinggi dan mengalami satu pembaharuan, kasih yang melampau segala sesuatunya.
Ketika satu kominitas penuh dengan Roh Kudus, maka ada empat ciri khas yang digambarkan, yaitu:
1. A Learning Community (42)
2. A Loving Community (42,44-46)
3. A Worshiping Community (42, 46)
4. An Evangelistic Community (47)
Komunitas yang oleh karena persekutuan yang demikian kuat, ada evek marturianya, membawa orang lain masuk ke dalamnya. Jika Marturia ibarat ‘Go and tell them!’, maka Koinonia adalah ‘Come and see!’
Mari kita melihat lebih jelas keempat ciri ini.
A Learning Community
Ayat 42 mengatakan: ”Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul ...”.
Apa artinya bertekun? Dalam NIV, kata ‘bertekun’ yang dipakai adalah ‘devoted’-they devoted themselves to the apostles’ teaching. Perhatikan bahwa mereka bertekun dalam pengajaran. Sering sekali, pada saat ini, alumni malas membaca buku rohani yang berat. Alumni hanya ingin baca yang ringan, segar, dan jika bisa sedikit lucu. Tidak seperti kontekstual modern, pengalaman spiritual yang para rasul alami melalu bahasa Roh ataupun kuasa-kuasa tidak membuat mereka mengabaikan teologia dan pikiran mereka. Justru ketika mereka dikuasai Roh Kudus, mereka devoted pada ajaran dan pikiran para rasul. Dengan kata lain, jemaat mula-mula itu lapar akan Firman Tuhan, akan pengajaran yang berbobot, dan bertekun dalam pengajaran yang berbobot itu. Pengajaran yang berbobot tidak hanya milik sekelompok orang. Semua orang harus belajar akan pemikiran-pemikiran yang dalam karena ketika kita membaca buku-buku yang berat akan mempengaruhi bagaimana kita mengambil keputusan dan bersikap, brtindak. Ibarat sebuah pohon yang akarnya dalam, ketika dihembus angin, maka pohon itu akan tetap tertancap. Ketika pohon hanya kelihatannya tinggi tetapi akarnya tidak ada. Kelihatan begitu kokoh dan perkasa, tetapi ketika angin datang maka pohon itu akan tumbang. Kita perhatikan di sini, Gereja yang penuh Roh adalah Gereja yang belajar Firman, bertekun dan tunduk pada Firman. Jika Firman dalam konteks ini adalah pengajaran para rasul, maka kita perlu terus merenungkan dan membaca kembali Perjanjian Baru. Kita tidak boleh puas berkutat hanya bertahan untuk saat teduh. Mungkin kita harus menantang diri kita untuk lebih keras lagi. Jangan merasa ketika alumni semuanya sudah siap, tidak perlu membaca buku rohani lagi.
A Loving Community
Ayat 42 mengatakan: ”Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.” [kata ‘persekutuan’ di sini adalah ‘Koinonia’]. Hal ini sangat indah. Ada semacam magnet dari hidup yang rajin belajar, lahir kerinduan untuk bersama-sama. Jhon Stott mengatakan ada dua arti dari persekutuan. Persekutuan berarti kita bersekutu karena kita mengalami hal yang sama yaitu jamahan Persekutuan Trinitarian (IYoh 1:3; 2Kor 13:13). Tetapi yang ingin kita renungkan adalah mengenai Koinonia. Koinonia artinya berbagi. Karena kita bersama-sama mmebagi hidup satu dengan yang lain. Perhatikan ayat 44-45, dikatakan di sana: “Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.” Ini adalah satu praktek yang radikal karena adanya kepemilikan bersama dalam hal harta. Seandainya syarat menjadi anggota persekutuan adalah kepunyaan milik bersama, maukah kita masuk menjadi anggota? Gereja mula-mula bukan hanya memberi uang, tetapi tanah dan rumah. Pertanyaannya adalah apakah ini hanya literal normative? Jika kita memperhatikan beberapa contoh di dalam sejarah, ternyata bukan hanya orang Kristen yang punya seperti ini. Misalnya:
1. Persamaan dengan Qumran Community, baik umum maupun biarawan. Qumran Community yang umum selalu diminta untuk membantu orang miskin dan memberi makan orang yang lapar dan memberi tumpangan kepada orang yang berkelanan. Inilah kode etik mereka. Jika tidak bersedia melakukan ketiga hal ini, tidak diperbolehkan menjadi anggota. Tetapi kalau biarawan, lebih dalam lagi, mereka harus menjual seluruh hartanya baru boleh masuk anggota.
2. Radical Reformation: fellowship and brotherly love (word and sacrament).
Mereka seperti ini seperti aliran baptis. Aliran ini mengatakan sewaktu Calvin mengatakan ciri khas Gereja adalah adanya Firman dan Sakramen, maka orang-orang radikal reformatiaon, diantaranya adalah Menosimon, mengatakan harus ditambahkan fellowship and brotherly love mark.
3. The Hutterite Brethren in Moravia
Setiap anggota yang ingin masuk ke dalam kelompok ini, harus bersedia untuk menerima bahwa segala hartanya adalah harta bersama di dalam komunitas tersebut.
Kenapa Gereja atau Perkantas tidak mempraktekkannya? Hal ini disebabkan karena sebenarnya Alkitab tidak pernah bermaksud bahwa hal ini harus menjadi satu hukum yang ke-11. Ini adalah sebuah visi. Jika kita melihat PB, dalam bagian ini sendiri ayat 46 mengatakan: “Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir…”. Apa yang ingin dikatakan adalah bahwa mereka masih memiliki rumah karena mereka memecahkan di rumah masing-masing. Kemudian ayat 45 mengatakan alasan sebenarnya. Mereka menjual harta miliknya, membagi-bagikan kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Ternyata mereka menjual rumah dan hartanya didorong oleh kebutuhan. Ketika ada kebutuhan, yang namanya anak Tuhan akan rela menjual rumah atau tanahnya untuk menjawab kebutuhan tersebut. Iniah prinsip dan kode etik dari Koinonia, bahwa jika Gereja, persekutuan, atau saudara kita membutuhkan, dan untuk itu kita harus menjual rumah dan harta, itu bukanlah sesuatu yang aneh. Hal ini sangat indah karena inilah artinya menjadi manusia. Dan inilah perjuangan kita terus menerus, dimana ada peperangan melawan kejahatan yang hidup, tumbuh,dan berkembang di dalam diri kita. Loving Community adalah tempat kita belajar memberi kepada yang lain. Godaan menjadi alumni demikian berat karena begitu banyak kebutuhan yang harus dimiliki. Biarlah Firman Tuhan ini menantang kita kembali apa sebenarnya arti menjadi bagian dari Koinonia, menjadi bagian dari umat Allah. Ingat, memberi secara Kristiani bukan memberi karena berlebihan. Ini adalah sumbangan. Dan ini bukan Christian gift. Memberi secara Kristen adalah memberi dalam kekurangan sekalipun, karena memberi adalah kasih karunia. Kita mendapatkan kasih karunia jika kita boleh berbagi dengan sesama kita.
A Worshiping Community
Menarik sekali dalam ayat 42. dalam NIV terjemahannya adalah demikian: ” They devoted themselves to the apostles' teaching and to the fellowship, to the breaking of bread and to prayer.” [dalam terjeahan Indonesia, setelah persekutuan (fellowship) di akhiri dengan titik, tetapi dalam NIV, hanya memakai tannda koma.]. Artinya, mereka juga tekun dalam komunitas mereka. Jika kita memperhatikan dalam komunitas mereka, bagaimana jemaat mula-mula beribadah, Koinonia yang mereka miliki itu adalah satu ibadah yang luar biasa karena ditandai dengamn ibadah yang formal dan sekaligus informal. Ayat 46 mengatakan: “Every day they continued to meet together in the temple courts. They broke bread in their homes.” Ini adalah sebuah kombinasi sehat dan membantu menghargai ibadah formal di institusi Gereja. Kita juga belajar menghargai bahwa liturgy Gereja itu luar biasa dalam. Jika kita bisa menghayatinya, sangat dalam, baik pengakuan dosa, doa-doanya, susunannya, semuanya luar biasa. Kita harus mengikuti dan menghargainya, sama seperti jemaat mula-mula yang tetap mengikuti ritual ibadah mereka. A worshiping community ditandai keseimbangan antara sukacita dan hikmat. Dalam ayat 46 dikatakan: “...with glad and sincere hearts...”[gembira dan tulus]. Ini adalah kombinasi yang baik. Terkadang orang gembira tetapi tidak tulus. Kita bersukacita bukan karena nyanyi, tetapi kita bersukacita dan dari sukacita tersebut lahirlah nyanyian dan puji-pujian kepada Tuhan. Banyak juga orang tulus, tetapi tidak gembira. Ibadahnya kadang begitu liturgical tetapi kehilangan kegembiraan. Seharusnya liturgy tidak mematikan hati kita. Ibadah Kristiani seharusnya dipenuhi dengan sukacita. Ibadah Kristiani seharusnya teratur dan terhormat tetapi tidak tumpul dan kering. Ibadah yang tumpul dan kering adalah dosa. Ibadah yang Kristiani harus menjadi ibadah yang hidup meski dalam sebuah liturgy yang agung dan mulia. Liturgy merupakan sebuah ekspresi dari PL ketika orang beribadah dalam zaman Musa. Tetapi ada juga seperti Daud, menari-nari untuk menunjukkan sukacitanya. A worshiping community adalah satu komunitas yang beribadah dengan hikmat.
An Evangelistic Community
Dari persekutuan yang hidup ini, lahirlah daya tarik yang mengundang orang dating tanpa mereka harus mengabarkan Injil. Pastilah mereka memberitakan Injil. Tetapi yang ditekankan dalam bagian ini adalah karena demikian hidup persekutuannya, maka orang datang. Dikatakan dalam ayat 47: “And the Lord added to their number daily those who were being saved.” Pertama-tama sekali, pertumbuhan dalam persekutuan ini adalah bukan pertumbuhan karena hebatnya melakukan promosi atau pengkotbahnya hebat. Tetapi karena Tuhan menambahkan. Koinonia itu bertumbuh bukan karena teknik-teknik manusia, tetapi karena Allah bekerja demikian rupa. Yang menarik adalah bahwa yang ditambahkan merupakan orang yang sudah percaya. Jadi Allah menambah dengan orang yang menyelamatkan tetapi juga menyelamatkan dan menambah jumlah. Pertambahan di sini bukan pertambahan perbulan, tetapi tiap-tiap hari secara kontiniu. Tidak sporadis atau bulanan, tetapi terus-menerus.
Kis 2:42-47 menjelaskan kepada kita apa artinya satu komunitas yang di penuhi dengan Roh Kudus. Persekutuan yang seperti itu adalah a learning community, dimana orang-orang mau belejar dan bertekun dalam pengajaran. Dan dari sini lahirlah community, persektuan tanpa kasih adalah persekutuan yang kaku, seperti orang yang hanya bertekun dalam pemikiran, tetapi tanpa hati. Dari learning and loving lahirlah a worshiping community. Komunitas seperti ini, mau tidak mau, dirinya menjadi evangelistic community yang mangatakan kepada orang: “Come and see, God is here!”
Solideo Gloria!
Minggu-minggu ini kita merenungkan apakah artinya menjadi Gereja. Apa artinya menjadi umat Allah. Satu harapan kita adalah kita semakin menghargai keberadaan Gereja, dan bagaimana kita mencintai dan ambil bagian dalam pelayanan Gereja. Tentu saja kita mendekati Gereja tidak semata-mata sebagai sebuah institusi tetapi juga di dalam pengertian theologis yang dipahami di dalam Alkitab. Hari ini kita akan menyegarkan pemahaman kita tentang apa artinya Koinonia melalui Kis 2:42-47.
Dalam kehidupan sekarang ini, ada dua ekstrim yang kita temukan sewaktu kita melihat persekutuan Gereja. Satu sisi kita melihat persekutuan Gereja yang mirip-mirip dengan kelompok adat. Suasanya sangat formal, sehingga etika dan nilai-nilai yang ada di sana lebih mengarah kepada nilai-nilai budaya dari pada nilai-nilai Kristiani. Di sisi lain juga kita melihat Gereja yang terlalu causual, dimana siapa saja boleh masuk ke dalam. Orangnya mungkin berganti-ganti dan tidak saling mengenal. Gereja ini memiliki kesan seperti sebuah show, bukan ibadah.
Kita memperhatikan bahwa dalam bagian Kis 2 ini, kita diingatkan kembali apa yang menjadi mungkin bagi sebuah umat Allah. Ditengah-tengah kekecewaan kita dengan Gereja, kekeringan dunia ini akan persekutuan yang sejati, kegagalan, dan ditengah-tengah harapan yang kita miliki tentang bagaimana seharusnya sebuah Gereja, Kis 2 ini memberikan gambaran tentang apa yang mungkin terjadi dalam jemaat/Gereja. Bagian Firman ini mengajarkan kepada kita bahwa Kis 2 ini bukanlah kisah yang unik, yang hanya terjadi sekali dalam sejarah dan tidak mungkin terulang lagi. Tidak! Kekerdilan iman kita yang dibentuk situasi di sekeliling kita membuat kita dipaksa untuk percaya bahwa persekutuan yang ada di Kis 2 tidak akan mungkin terjadi. Firman Tuhan ini menantang kita, sewaktu kita melihat Gereja dan persekutuan kita kembali melihatnya dengan kacamata Kis 2. Kita ditantang untuk mengharapkan hal yang besar bagi Gereja dan persekutuan, bahwa Gereja tidak harus tinggal dalam kondisi sekarang. Gereja dan persekutuan bisa berubah seperti yang Tuhan kehendaki. Wiliam Carey berkata: ”Expect great thing from God, and attemp great thing for God- Harapkanlah hal-hal besar dari Tuhan, dan kerjakanlah pekerjaan-pekerjaan besar bagi Tuhan.”
Jika kita memperhatikan Kis 2:42-47, kita akan bertanya: ”Apakah rahasianya sehingga mereka bisa seperti ini?” Mungkin kita tergoda untuk menjawab bahwa hal itu tejadi karena penyerahan diri mereka pada saat itu lebih dalam. Banyak jawaban-jawaban yang lain yang bisa kita berikan. Tetapi jika kita memperhatikan bagaimana Firman Tuhan mempersentasekan Kis 2:42-47, yang ingin dikatakan ialah, bahwa ini bukanlah sebuah norma di mana kita harus demikian. Bukan! Ini adalah sebuah ekspresi sebagai sebuah akibat dari apa yang terjadi ketika satu umat Tuhan mengalami pencurahan dari Roh Kudus. Kis 2 ini adalah gambaran satu komunitas, ketika Roh Allah menguasai mereka. Segala kelemahan-kelemahan manusia, keegoisan, kerapuhan, individualis, segala apa yang kita miliki yang sama dengan mereka, diangkat ke level yang paling tinggi dan mengalami satu pembaharuan, kasih yang melampau segala sesuatunya.
Ketika satu kominitas penuh dengan Roh Kudus, maka ada empat ciri khas yang digambarkan, yaitu:
1. A Learning Community (42)
2. A Loving Community (42,44-46)
3. A Worshiping Community (42, 46)
4. An Evangelistic Community (47)
Komunitas yang oleh karena persekutuan yang demikian kuat, ada evek marturianya, membawa orang lain masuk ke dalamnya. Jika Marturia ibarat ‘Go and tell them!’, maka Koinonia adalah ‘Come and see!’
Mari kita melihat lebih jelas keempat ciri ini.
A Learning Community
Ayat 42 mengatakan: ”Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul ...”.
Apa artinya bertekun? Dalam NIV, kata ‘bertekun’ yang dipakai adalah ‘devoted’-they devoted themselves to the apostles’ teaching. Perhatikan bahwa mereka bertekun dalam pengajaran. Sering sekali, pada saat ini, alumni malas membaca buku rohani yang berat. Alumni hanya ingin baca yang ringan, segar, dan jika bisa sedikit lucu. Tidak seperti kontekstual modern, pengalaman spiritual yang para rasul alami melalu bahasa Roh ataupun kuasa-kuasa tidak membuat mereka mengabaikan teologia dan pikiran mereka. Justru ketika mereka dikuasai Roh Kudus, mereka devoted pada ajaran dan pikiran para rasul. Dengan kata lain, jemaat mula-mula itu lapar akan Firman Tuhan, akan pengajaran yang berbobot, dan bertekun dalam pengajaran yang berbobot itu. Pengajaran yang berbobot tidak hanya milik sekelompok orang. Semua orang harus belajar akan pemikiran-pemikiran yang dalam karena ketika kita membaca buku-buku yang berat akan mempengaruhi bagaimana kita mengambil keputusan dan bersikap, brtindak. Ibarat sebuah pohon yang akarnya dalam, ketika dihembus angin, maka pohon itu akan tetap tertancap. Ketika pohon hanya kelihatannya tinggi tetapi akarnya tidak ada. Kelihatan begitu kokoh dan perkasa, tetapi ketika angin datang maka pohon itu akan tumbang. Kita perhatikan di sini, Gereja yang penuh Roh adalah Gereja yang belajar Firman, bertekun dan tunduk pada Firman. Jika Firman dalam konteks ini adalah pengajaran para rasul, maka kita perlu terus merenungkan dan membaca kembali Perjanjian Baru. Kita tidak boleh puas berkutat hanya bertahan untuk saat teduh. Mungkin kita harus menantang diri kita untuk lebih keras lagi. Jangan merasa ketika alumni semuanya sudah siap, tidak perlu membaca buku rohani lagi.
A Loving Community
Ayat 42 mengatakan: ”Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.” [kata ‘persekutuan’ di sini adalah ‘Koinonia’]. Hal ini sangat indah. Ada semacam magnet dari hidup yang rajin belajar, lahir kerinduan untuk bersama-sama. Jhon Stott mengatakan ada dua arti dari persekutuan. Persekutuan berarti kita bersekutu karena kita mengalami hal yang sama yaitu jamahan Persekutuan Trinitarian (IYoh 1:3; 2Kor 13:13). Tetapi yang ingin kita renungkan adalah mengenai Koinonia. Koinonia artinya berbagi. Karena kita bersama-sama mmebagi hidup satu dengan yang lain. Perhatikan ayat 44-45, dikatakan di sana: “Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.” Ini adalah satu praktek yang radikal karena adanya kepemilikan bersama dalam hal harta. Seandainya syarat menjadi anggota persekutuan adalah kepunyaan milik bersama, maukah kita masuk menjadi anggota? Gereja mula-mula bukan hanya memberi uang, tetapi tanah dan rumah. Pertanyaannya adalah apakah ini hanya literal normative? Jika kita memperhatikan beberapa contoh di dalam sejarah, ternyata bukan hanya orang Kristen yang punya seperti ini. Misalnya:
1. Persamaan dengan Qumran Community, baik umum maupun biarawan. Qumran Community yang umum selalu diminta untuk membantu orang miskin dan memberi makan orang yang lapar dan memberi tumpangan kepada orang yang berkelanan. Inilah kode etik mereka. Jika tidak bersedia melakukan ketiga hal ini, tidak diperbolehkan menjadi anggota. Tetapi kalau biarawan, lebih dalam lagi, mereka harus menjual seluruh hartanya baru boleh masuk anggota.
2. Radical Reformation: fellowship and brotherly love (word and sacrament).
Mereka seperti ini seperti aliran baptis. Aliran ini mengatakan sewaktu Calvin mengatakan ciri khas Gereja adalah adanya Firman dan Sakramen, maka orang-orang radikal reformatiaon, diantaranya adalah Menosimon, mengatakan harus ditambahkan fellowship and brotherly love mark.
3. The Hutterite Brethren in Moravia
Setiap anggota yang ingin masuk ke dalam kelompok ini, harus bersedia untuk menerima bahwa segala hartanya adalah harta bersama di dalam komunitas tersebut.
Kenapa Gereja atau Perkantas tidak mempraktekkannya? Hal ini disebabkan karena sebenarnya Alkitab tidak pernah bermaksud bahwa hal ini harus menjadi satu hukum yang ke-11. Ini adalah sebuah visi. Jika kita melihat PB, dalam bagian ini sendiri ayat 46 mengatakan: “Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir…”. Apa yang ingin dikatakan adalah bahwa mereka masih memiliki rumah karena mereka memecahkan di rumah masing-masing. Kemudian ayat 45 mengatakan alasan sebenarnya. Mereka menjual harta miliknya, membagi-bagikan kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Ternyata mereka menjual rumah dan hartanya didorong oleh kebutuhan. Ketika ada kebutuhan, yang namanya anak Tuhan akan rela menjual rumah atau tanahnya untuk menjawab kebutuhan tersebut. Iniah prinsip dan kode etik dari Koinonia, bahwa jika Gereja, persekutuan, atau saudara kita membutuhkan, dan untuk itu kita harus menjual rumah dan harta, itu bukanlah sesuatu yang aneh. Hal ini sangat indah karena inilah artinya menjadi manusia. Dan inilah perjuangan kita terus menerus, dimana ada peperangan melawan kejahatan yang hidup, tumbuh,dan berkembang di dalam diri kita. Loving Community adalah tempat kita belajar memberi kepada yang lain. Godaan menjadi alumni demikian berat karena begitu banyak kebutuhan yang harus dimiliki. Biarlah Firman Tuhan ini menantang kita kembali apa sebenarnya arti menjadi bagian dari Koinonia, menjadi bagian dari umat Allah. Ingat, memberi secara Kristiani bukan memberi karena berlebihan. Ini adalah sumbangan. Dan ini bukan Christian gift. Memberi secara Kristen adalah memberi dalam kekurangan sekalipun, karena memberi adalah kasih karunia. Kita mendapatkan kasih karunia jika kita boleh berbagi dengan sesama kita.
A Worshiping Community
Menarik sekali dalam ayat 42. dalam NIV terjemahannya adalah demikian: ” They devoted themselves to the apostles' teaching and to the fellowship, to the breaking of bread and to prayer.” [dalam terjeahan Indonesia, setelah persekutuan (fellowship) di akhiri dengan titik, tetapi dalam NIV, hanya memakai tannda koma.]. Artinya, mereka juga tekun dalam komunitas mereka. Jika kita memperhatikan dalam komunitas mereka, bagaimana jemaat mula-mula beribadah, Koinonia yang mereka miliki itu adalah satu ibadah yang luar biasa karena ditandai dengamn ibadah yang formal dan sekaligus informal. Ayat 46 mengatakan: “Every day they continued to meet together in the temple courts. They broke bread in their homes.” Ini adalah sebuah kombinasi sehat dan membantu menghargai ibadah formal di institusi Gereja. Kita juga belajar menghargai bahwa liturgy Gereja itu luar biasa dalam. Jika kita bisa menghayatinya, sangat dalam, baik pengakuan dosa, doa-doanya, susunannya, semuanya luar biasa. Kita harus mengikuti dan menghargainya, sama seperti jemaat mula-mula yang tetap mengikuti ritual ibadah mereka. A worshiping community ditandai keseimbangan antara sukacita dan hikmat. Dalam ayat 46 dikatakan: “...with glad and sincere hearts...”[gembira dan tulus]. Ini adalah kombinasi yang baik. Terkadang orang gembira tetapi tidak tulus. Kita bersukacita bukan karena nyanyi, tetapi kita bersukacita dan dari sukacita tersebut lahirlah nyanyian dan puji-pujian kepada Tuhan. Banyak juga orang tulus, tetapi tidak gembira. Ibadahnya kadang begitu liturgical tetapi kehilangan kegembiraan. Seharusnya liturgy tidak mematikan hati kita. Ibadah Kristiani seharusnya dipenuhi dengan sukacita. Ibadah Kristiani seharusnya teratur dan terhormat tetapi tidak tumpul dan kering. Ibadah yang tumpul dan kering adalah dosa. Ibadah yang Kristiani harus menjadi ibadah yang hidup meski dalam sebuah liturgy yang agung dan mulia. Liturgy merupakan sebuah ekspresi dari PL ketika orang beribadah dalam zaman Musa. Tetapi ada juga seperti Daud, menari-nari untuk menunjukkan sukacitanya. A worshiping community adalah satu komunitas yang beribadah dengan hikmat.
An Evangelistic Community
Dari persekutuan yang hidup ini, lahirlah daya tarik yang mengundang orang dating tanpa mereka harus mengabarkan Injil. Pastilah mereka memberitakan Injil. Tetapi yang ditekankan dalam bagian ini adalah karena demikian hidup persekutuannya, maka orang datang. Dikatakan dalam ayat 47: “And the Lord added to their number daily those who were being saved.” Pertama-tama sekali, pertumbuhan dalam persekutuan ini adalah bukan pertumbuhan karena hebatnya melakukan promosi atau pengkotbahnya hebat. Tetapi karena Tuhan menambahkan. Koinonia itu bertumbuh bukan karena teknik-teknik manusia, tetapi karena Allah bekerja demikian rupa. Yang menarik adalah bahwa yang ditambahkan merupakan orang yang sudah percaya. Jadi Allah menambah dengan orang yang menyelamatkan tetapi juga menyelamatkan dan menambah jumlah. Pertambahan di sini bukan pertambahan perbulan, tetapi tiap-tiap hari secara kontiniu. Tidak sporadis atau bulanan, tetapi terus-menerus.
Kis 2:42-47 menjelaskan kepada kita apa artinya satu komunitas yang di penuhi dengan Roh Kudus. Persekutuan yang seperti itu adalah a learning community, dimana orang-orang mau belejar dan bertekun dalam pengajaran. Dan dari sini lahirlah community, persektuan tanpa kasih adalah persekutuan yang kaku, seperti orang yang hanya bertekun dalam pemikiran, tetapi tanpa hati. Dari learning and loving lahirlah a worshiping community. Komunitas seperti ini, mau tidak mau, dirinya menjadi evangelistic community yang mangatakan kepada orang: “Come and see, God is here!”
Solideo Gloria!
Seri The People of God II: The Calling (MARTURIA)
Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div
Hari ini, kita akan membahas mengenai The People of God dengan tema The Calling, dalam hal ini adalah Marturia. Mari melihat Efesus 3:1-13. Di dalam Efesus pasal 1-6, kita melihat ada rangkaian yang berurutan. Di dalam pasal dua dikatakan bahwa keselamatan adalah karena anugerah Allah di dalam diri Yesus Kristus, dan orang-orang percaya itu sudah diperdamaikan antara satu dengan yang lain. Di pasal ketiga dikatakan bahwa orang percaya disatukan Tuhan ke dalam satu tubuh, yaitu Gereja. Pasal 4:1-6 berbicara soal Gereja dan ciri khasnya, yaitu satu tubuh, satu Tuhan, dan satu baptisan, dst.
Jika kita mempelajari panggilan Gereja, yaitu Marturia, maka di dalam Efesus 3 tadi, kita melihat bahwa Paulus mengawalinya dengan siapa dirinya sebagai pemberita Injil kepada non Yahudi. Di dalam ayat 1 dikatakan: ”Itulah sebabnya aku ini, Paulus, orang yang dipenjarakan karena Kristus Yesus untuk kamu orang-orang yang tidak mengenal Allah”. Yang dimaksudkan Paulus dengan ’Itulah sebabnya...’ adalah bagaimana Kristus yang sudah menebus dan menyelamatkan orang percaya dan orang percaya tersebut dipersatukan di dalam satu tubuh yaitu tubuh Kristus sebagai Gereja Allah. Paulus rela mengalami penderitaan oleh karena Yesus Kristus, demi mereka yang belum mengenal Allah (Gentile). Hal ini disebabkan karena dia tahu betapa pentingnya orang diubah di dalam Kristus agar dapat dibawa kepada Allah.
Di dalam ayat 2 Paulus mengatakan: ” -- memang kamu telah mendengar tentang tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah, yang dipercayakan kepadaku karena kamu,...” Di dalam ayat ini kita melihat bahwa tugas yang dipercayakan kepada Paulus adalah tugas ’penyelenggaraan kasih karunia Allah’. Yang dimaksudkan disini adalah Pemberitaan Injil (PI). Paulus menyadari tugas PI atau Marturia secara pribadi. Jika kita perhatikan, ayat 1-9 dari Efesus 3 ini berbicara mengenai Marturia secara pribadi, yaitu tugas menyatakan Firman dan bersaksi secara pribadi. Baru pada ayat 10-13, tugas Marturia oleh umat Allah (Gereja Tuhan). Di dalam ayat 2 ini kita melihat Paulus menyatakan dirinya sebagai pembawa tugas ’penyelenggaraan kasih karunia Allah’.
Apa yang dimaksud dengan ’kasih karunia Allah’? Di dalam ayat 3-5 dijelaskan mengenai hal ini, yaitu mengenai sebuah misteri kebenaran yang disingkapkan kepada Paulus melalui wahyu. Misteri ini adalah bahwa orang-orang non Yahudi turut menjadi ahli waris, menjadi anggota di dalam keluarga Allah, yaitu Gereja, dan juga turut sebagai peserta di dalam janji yang diberikan Allah oleh karena Injil. Paulus ingin mengatakan bahwa sebuah misteri jika non Yahudi bisa beroleh keselamatan. Hal ini sama misterinya dengan seorang pembakar gereja menjadi pengikut Kristus yang taat. Hal ini menjadi misteri karena di luar kemampuan kita untuk memahaminya. Bahkan kita tidak pernah menduga bahwa orang-orang seperti ini bisa menyerahkan diri menjadi pengikut Kristus. Ingat Paulus? Dia adalah seorang penganiaya jemaat tetapi akhirnya menjadi teraniaya oleh karena jemaat.
Di dalam ayat 7-9 kita bisa melihat perubahan Paulus. Di dalam ayat 7 dikatakan: ”Dari Injil itu aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku sesuai dengan pengerjaan kuasa-Nya.” Yang ingin dikatakan Paulus adalah jika kepada kita dipercayakan tugas untuk Marturia secara pribadi, semuanya adalah karena kasih karunia. Hal ini dikatakan Paulus karena dia menyadari bagaimana hidupnya yang jahat, sebagai penganiaya Jemaat. Di dalam ayat 8, Paulus berkata: ” Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu,” [band 1 Kor 15:10]. Di sini kita tidak hanya melihat perubahan hidup Paulus yang sangat radikal, tetapi juga bagaimana dia memahami bahwa semuanya adalah karena kasih karunia Allah. PI adalah sebuah rahasia Allah yang tersembunyi selama berabad-abad. Bukankah Farisi dan Ahli Taurat mempelajari Kitab Suci, tetapi mereka tetap tidak bisa mengenal Allah? Ketika mereka mencari kebenaran dan ingin menemukan siapa Allah, selama berabad-abad, mereka tidak dapat menemukannya. Tetapi di dalam Kristus, mereka menemukannya. Inilah rahasia Allah yang sangat besar.
Setelah Paulus berbicara secara pribadi, barulah ia berbicara mengenai panggilan Umat Allah. Di dalam ayat 10 dikatakan: ”... supaya sekarang oleh jemaat diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga,...”. Marturia bukan hanya tugas secara individu, tetapi menjadi tugas umat Allah secara umum. Bukan tugas para rasul atau para nabi, tetapi menjadi tugas seluruh umat Allah. Marturua adalah sebuah panggilan yang ilahi bagi umat Allah. Inilah panggilan umat Allah secara kolektif, panggilan alumni sebagai umat Allah secara kolektif di seluruh dunia. Kita harus menyadari bahwa kita adalah umat Allah, bukan hanya di dalam pengertian yang ada di PAK, atau persekutuan alumni kampus, tetapi bagian dari umat Allah di seluruh dunia tanpa dibatasi denominasi, Gereja, geografis, ataupun latar belakang. Inilah yang dimaksudkan dengan Gereja yang kudus dan Am. Sebagai umat yag sudah dilayani, kita juga harus melakukan pelayanan Marturia. 1 Pet 2:9 mengatakan: ”Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:”. Kata ’imamat’ adalah umat atau jemaat Allah, yaitu Gereja Allah yang harus bermisi karena sudah diangkat dari kegelapan ke dalam terang. Dari Efesus 3:1-9 dan dari 1 Pet 2:9 kita melihat bahwa seharusnya kita harus melakukan pelayanan. Jika ada orang yang mengaku lahir baru tetapi tidak punya kerinduan untuk melayani, maka lahir barunya dipertanyakan. Tidak mungkin hal seperti ini terjadi. Oleh karena itu, umat Allah yang telah diselamatkan harus melakukan mandat Allah untuk Marturia bagi orang lain. Inilah dasar dari Marturia.
Ayat 10 mengatakan ’pelbagai ragam hikmat Allah’. Ini adalah isi dari Marturia. Isinya adalah Hikmat Allah [band ayat 3-5; Kol 2:2b-3]. Inti dari berita Marturia adalah Kristus yang membawa orang kepada Allah. Kita harus memberitakan Kristus yang disalibkan bukan lembaga, gereja, atau diri sendiri. Perhatikan ayat ini, ‘dengan pelbagai ragam hikmat Allah’. Artinya, hikmat Allah di dalam Kristus diberitakan dengan berbagai ragam atau metode atau cara. Ada pelbagai cara yang bisa dipakai, tetapi yang paling penting adalah hikmat Allah sampai dan mereka bisa bertemu dengan Tuhan. Kristus adalah hikmat Allah yang sempurna.
Di dalam ayat 12 Paulus kembali menyatakan: “Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya.” Tidak ada yang lain, inti berita Marturia adalah Kristus [band Rom 1:16-17]. Jika ada kesempatan untuk membawa renungan, tolong hati-hati. Terkadang kita terjebak dengan kesaksian pribadi, Gereja, atau lembaga tempat kita berada.
Di dalam ayat 10 akhir kita melihat objek PI kita dalam panggilan Marturia, yaitu ’ kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga,’. Jika kita memakai terjemahan ini, kita bisa salah mengerti. Di dalam NIV dikatakan ‘the rulers and authorities in the heavenly realms,’- pemerintah dan penguasa angkasa. Yang dimaksudkan Paulus di sini bukanlah roh jahat yang menjadi penguasa angkasa, tetapi mereka yang masih percaya dan tunduk kepada penguasa-penguasa angkasa atau kegelapan. Kepada merekalah kita harus Marturia, orang-orang yang masih di bawah penguasa-penguasa angkasa, yang masih jauh dari kebenaran dan jauh hidupnya dari Allah [band Efesus 6:12].
Di dalam ayat 11 dikatakan: “…sesuai dengan maksud abadi, yang telah dilaksanakan-Nya dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Paulus menyatakan bahwa mandat Ilahi atau panggilan Marturia bagi umat Allah yaitu tugas pemberitaan Injil, isi berita yang diberitakan, dan objek kemana kita melakukan tugas Marturia, dikatakan oleh Paulus bahwa itulah maksud Allah yang kekal yang direalisasikan di dalam Kristus. Artinya, pertama, jemaat yang Marturia adalah salah satu bagian dari maksud Allah yang kekal. Jika ada umat Allah tidak melakukan tugas Marturia, berarti maksud Allah belum digenapi di dalam dirinya. Kedua, maksud Allah yang abadi adalah umat Allah atau The People of God melakukan Marturia. Belajar dari hal ini, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak terlibat sebagai umat Allah. Allah tidak menghendaki kebinasaan, melainkan keselamatan umat manusia. Oleh karena itu, Marturia sebagai mandat Ilahi harus dikerjakan oleh umat Allah atau Gereja. Ingat Amanat Agung? Pertanyaanya adalah sejauh mana kita melakukan amanat tersebut? Kita harus introspeksi diri. Hal inilah yang menggerakkan kita untuk pergi, berkarya dan bersaksi bagi Tuhan.
Ayat 13 mengatakan: ”Sebab itu aku minta kepadamu, supaya kamu jangan tawar hati melihat kesesakanku karena kamu, karena kesesakanku itu adalah kemuliaanmu.” Kata ’martir’ memiliki akar kata dari kata ’Marturia’. Jadi, wajar jika bersaksi, memberitakan Injil, seseorang bisa teraniaya bahkan kehilangan nyawannya. Umat Allah yang dipanggil untuk tugas Marturia harus rela menderita. Bukan hanya rela, di dalam Kol 1:24, Paulus berkata: ”Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.” Luar biasa! Yang dimaksudkan Paulus adalah bukan karya Kristus kurang sempurna, tetapi jika karena kasihNya, Dia rela menderita untuk keselamatan manusia, maka kita pun harus rela menderita agar kabar mengenai Injil sampai kepada orang lain.
Inilah satu perubahan yang radikal di dalam diri Paulus, dan hal ini menjadi bagian dari umat Allah. Kita tidak menjadi generasi yang cengeng, tetapi menjadi generasi yang rela menderita, bahkan bersukacita oleh karena penderitaan, karena tugas Marturia sebagai umat Allah. Di dalam 2 Kor 4:11-12 dikatakan: “Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu.”
Panggilan Allah untuk umatNya adalah Marturia. Dalam rangka tugas ini, kita sebagai umat Allah sering sekali diperhadapkan dengan penderitaan, bahkan maut. Maut giat di dalam diri kita. Tetapi, oleh karena hidup yang beriman kepada Yesus Kristus, maka kita semakin giat terhadapa orang lain agar mereka percaya kepada Kristus. Inilah sukacita kita sebagai umat Allah. Inilah sukacita Gereja, ketika gereja dianiaya karena melakukan tugas penggilan untuk Marturia. Dengan kesesakan melakukan Marturia, orang akan diselamatkan. Dengan demikian kemuliaan Allah akan ada bagi dirinya dan dia pun mulia di hadapan Allah.
Mari kita sebagai umat Tuhan menjadi orang yang bermisi mulai hari ini. Mari secra pribadi kembali melakukan PI pribadi. Mari menjadi umat Allah yang rela menderita walaupun sampai martir. Ingat, Paulus berkata: “Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu.” Hal ini dilakukan demi tugas panggilan Marturia agar orang-orang percaya kepada Kristus.
Solideo Gloria!
Hari ini, kita akan membahas mengenai The People of God dengan tema The Calling, dalam hal ini adalah Marturia. Mari melihat Efesus 3:1-13. Di dalam Efesus pasal 1-6, kita melihat ada rangkaian yang berurutan. Di dalam pasal dua dikatakan bahwa keselamatan adalah karena anugerah Allah di dalam diri Yesus Kristus, dan orang-orang percaya itu sudah diperdamaikan antara satu dengan yang lain. Di pasal ketiga dikatakan bahwa orang percaya disatukan Tuhan ke dalam satu tubuh, yaitu Gereja. Pasal 4:1-6 berbicara soal Gereja dan ciri khasnya, yaitu satu tubuh, satu Tuhan, dan satu baptisan, dst.
Jika kita mempelajari panggilan Gereja, yaitu Marturia, maka di dalam Efesus 3 tadi, kita melihat bahwa Paulus mengawalinya dengan siapa dirinya sebagai pemberita Injil kepada non Yahudi. Di dalam ayat 1 dikatakan: ”Itulah sebabnya aku ini, Paulus, orang yang dipenjarakan karena Kristus Yesus untuk kamu orang-orang yang tidak mengenal Allah”. Yang dimaksudkan Paulus dengan ’Itulah sebabnya...’ adalah bagaimana Kristus yang sudah menebus dan menyelamatkan orang percaya dan orang percaya tersebut dipersatukan di dalam satu tubuh yaitu tubuh Kristus sebagai Gereja Allah. Paulus rela mengalami penderitaan oleh karena Yesus Kristus, demi mereka yang belum mengenal Allah (Gentile). Hal ini disebabkan karena dia tahu betapa pentingnya orang diubah di dalam Kristus agar dapat dibawa kepada Allah.
Di dalam ayat 2 Paulus mengatakan: ” -- memang kamu telah mendengar tentang tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah, yang dipercayakan kepadaku karena kamu,...” Di dalam ayat ini kita melihat bahwa tugas yang dipercayakan kepada Paulus adalah tugas ’penyelenggaraan kasih karunia Allah’. Yang dimaksudkan disini adalah Pemberitaan Injil (PI). Paulus menyadari tugas PI atau Marturia secara pribadi. Jika kita perhatikan, ayat 1-9 dari Efesus 3 ini berbicara mengenai Marturia secara pribadi, yaitu tugas menyatakan Firman dan bersaksi secara pribadi. Baru pada ayat 10-13, tugas Marturia oleh umat Allah (Gereja Tuhan). Di dalam ayat 2 ini kita melihat Paulus menyatakan dirinya sebagai pembawa tugas ’penyelenggaraan kasih karunia Allah’.
Apa yang dimaksud dengan ’kasih karunia Allah’? Di dalam ayat 3-5 dijelaskan mengenai hal ini, yaitu mengenai sebuah misteri kebenaran yang disingkapkan kepada Paulus melalui wahyu. Misteri ini adalah bahwa orang-orang non Yahudi turut menjadi ahli waris, menjadi anggota di dalam keluarga Allah, yaitu Gereja, dan juga turut sebagai peserta di dalam janji yang diberikan Allah oleh karena Injil. Paulus ingin mengatakan bahwa sebuah misteri jika non Yahudi bisa beroleh keselamatan. Hal ini sama misterinya dengan seorang pembakar gereja menjadi pengikut Kristus yang taat. Hal ini menjadi misteri karena di luar kemampuan kita untuk memahaminya. Bahkan kita tidak pernah menduga bahwa orang-orang seperti ini bisa menyerahkan diri menjadi pengikut Kristus. Ingat Paulus? Dia adalah seorang penganiaya jemaat tetapi akhirnya menjadi teraniaya oleh karena jemaat.
Di dalam ayat 7-9 kita bisa melihat perubahan Paulus. Di dalam ayat 7 dikatakan: ”Dari Injil itu aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku sesuai dengan pengerjaan kuasa-Nya.” Yang ingin dikatakan Paulus adalah jika kepada kita dipercayakan tugas untuk Marturia secara pribadi, semuanya adalah karena kasih karunia. Hal ini dikatakan Paulus karena dia menyadari bagaimana hidupnya yang jahat, sebagai penganiaya Jemaat. Di dalam ayat 8, Paulus berkata: ” Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu,” [band 1 Kor 15:10]. Di sini kita tidak hanya melihat perubahan hidup Paulus yang sangat radikal, tetapi juga bagaimana dia memahami bahwa semuanya adalah karena kasih karunia Allah. PI adalah sebuah rahasia Allah yang tersembunyi selama berabad-abad. Bukankah Farisi dan Ahli Taurat mempelajari Kitab Suci, tetapi mereka tetap tidak bisa mengenal Allah? Ketika mereka mencari kebenaran dan ingin menemukan siapa Allah, selama berabad-abad, mereka tidak dapat menemukannya. Tetapi di dalam Kristus, mereka menemukannya. Inilah rahasia Allah yang sangat besar.
Setelah Paulus berbicara secara pribadi, barulah ia berbicara mengenai panggilan Umat Allah. Di dalam ayat 10 dikatakan: ”... supaya sekarang oleh jemaat diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga,...”. Marturia bukan hanya tugas secara individu, tetapi menjadi tugas umat Allah secara umum. Bukan tugas para rasul atau para nabi, tetapi menjadi tugas seluruh umat Allah. Marturua adalah sebuah panggilan yang ilahi bagi umat Allah. Inilah panggilan umat Allah secara kolektif, panggilan alumni sebagai umat Allah secara kolektif di seluruh dunia. Kita harus menyadari bahwa kita adalah umat Allah, bukan hanya di dalam pengertian yang ada di PAK, atau persekutuan alumni kampus, tetapi bagian dari umat Allah di seluruh dunia tanpa dibatasi denominasi, Gereja, geografis, ataupun latar belakang. Inilah yang dimaksudkan dengan Gereja yang kudus dan Am. Sebagai umat yag sudah dilayani, kita juga harus melakukan pelayanan Marturia. 1 Pet 2:9 mengatakan: ”Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:”. Kata ’imamat’ adalah umat atau jemaat Allah, yaitu Gereja Allah yang harus bermisi karena sudah diangkat dari kegelapan ke dalam terang. Dari Efesus 3:1-9 dan dari 1 Pet 2:9 kita melihat bahwa seharusnya kita harus melakukan pelayanan. Jika ada orang yang mengaku lahir baru tetapi tidak punya kerinduan untuk melayani, maka lahir barunya dipertanyakan. Tidak mungkin hal seperti ini terjadi. Oleh karena itu, umat Allah yang telah diselamatkan harus melakukan mandat Allah untuk Marturia bagi orang lain. Inilah dasar dari Marturia.
Ayat 10 mengatakan ’pelbagai ragam hikmat Allah’. Ini adalah isi dari Marturia. Isinya adalah Hikmat Allah [band ayat 3-5; Kol 2:2b-3]. Inti dari berita Marturia adalah Kristus yang membawa orang kepada Allah. Kita harus memberitakan Kristus yang disalibkan bukan lembaga, gereja, atau diri sendiri. Perhatikan ayat ini, ‘dengan pelbagai ragam hikmat Allah’. Artinya, hikmat Allah di dalam Kristus diberitakan dengan berbagai ragam atau metode atau cara. Ada pelbagai cara yang bisa dipakai, tetapi yang paling penting adalah hikmat Allah sampai dan mereka bisa bertemu dengan Tuhan. Kristus adalah hikmat Allah yang sempurna.
Di dalam ayat 12 Paulus kembali menyatakan: “Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya.” Tidak ada yang lain, inti berita Marturia adalah Kristus [band Rom 1:16-17]. Jika ada kesempatan untuk membawa renungan, tolong hati-hati. Terkadang kita terjebak dengan kesaksian pribadi, Gereja, atau lembaga tempat kita berada.
Di dalam ayat 10 akhir kita melihat objek PI kita dalam panggilan Marturia, yaitu ’ kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga,’. Jika kita memakai terjemahan ini, kita bisa salah mengerti. Di dalam NIV dikatakan ‘the rulers and authorities in the heavenly realms,’- pemerintah dan penguasa angkasa. Yang dimaksudkan Paulus di sini bukanlah roh jahat yang menjadi penguasa angkasa, tetapi mereka yang masih percaya dan tunduk kepada penguasa-penguasa angkasa atau kegelapan. Kepada merekalah kita harus Marturia, orang-orang yang masih di bawah penguasa-penguasa angkasa, yang masih jauh dari kebenaran dan jauh hidupnya dari Allah [band Efesus 6:12].
Di dalam ayat 11 dikatakan: “…sesuai dengan maksud abadi, yang telah dilaksanakan-Nya dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Paulus menyatakan bahwa mandat Ilahi atau panggilan Marturia bagi umat Allah yaitu tugas pemberitaan Injil, isi berita yang diberitakan, dan objek kemana kita melakukan tugas Marturia, dikatakan oleh Paulus bahwa itulah maksud Allah yang kekal yang direalisasikan di dalam Kristus. Artinya, pertama, jemaat yang Marturia adalah salah satu bagian dari maksud Allah yang kekal. Jika ada umat Allah tidak melakukan tugas Marturia, berarti maksud Allah belum digenapi di dalam dirinya. Kedua, maksud Allah yang abadi adalah umat Allah atau The People of God melakukan Marturia. Belajar dari hal ini, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak terlibat sebagai umat Allah. Allah tidak menghendaki kebinasaan, melainkan keselamatan umat manusia. Oleh karena itu, Marturia sebagai mandat Ilahi harus dikerjakan oleh umat Allah atau Gereja. Ingat Amanat Agung? Pertanyaanya adalah sejauh mana kita melakukan amanat tersebut? Kita harus introspeksi diri. Hal inilah yang menggerakkan kita untuk pergi, berkarya dan bersaksi bagi Tuhan.
Ayat 13 mengatakan: ”Sebab itu aku minta kepadamu, supaya kamu jangan tawar hati melihat kesesakanku karena kamu, karena kesesakanku itu adalah kemuliaanmu.” Kata ’martir’ memiliki akar kata dari kata ’Marturia’. Jadi, wajar jika bersaksi, memberitakan Injil, seseorang bisa teraniaya bahkan kehilangan nyawannya. Umat Allah yang dipanggil untuk tugas Marturia harus rela menderita. Bukan hanya rela, di dalam Kol 1:24, Paulus berkata: ”Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.” Luar biasa! Yang dimaksudkan Paulus adalah bukan karya Kristus kurang sempurna, tetapi jika karena kasihNya, Dia rela menderita untuk keselamatan manusia, maka kita pun harus rela menderita agar kabar mengenai Injil sampai kepada orang lain.
Inilah satu perubahan yang radikal di dalam diri Paulus, dan hal ini menjadi bagian dari umat Allah. Kita tidak menjadi generasi yang cengeng, tetapi menjadi generasi yang rela menderita, bahkan bersukacita oleh karena penderitaan, karena tugas Marturia sebagai umat Allah. Di dalam 2 Kor 4:11-12 dikatakan: “Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu.”
Panggilan Allah untuk umatNya adalah Marturia. Dalam rangka tugas ini, kita sebagai umat Allah sering sekali diperhadapkan dengan penderitaan, bahkan maut. Maut giat di dalam diri kita. Tetapi, oleh karena hidup yang beriman kepada Yesus Kristus, maka kita semakin giat terhadapa orang lain agar mereka percaya kepada Kristus. Inilah sukacita kita sebagai umat Allah. Inilah sukacita Gereja, ketika gereja dianiaya karena melakukan tugas penggilan untuk Marturia. Dengan kesesakan melakukan Marturia, orang akan diselamatkan. Dengan demikian kemuliaan Allah akan ada bagi dirinya dan dia pun mulia di hadapan Allah.
Mari kita sebagai umat Tuhan menjadi orang yang bermisi mulai hari ini. Mari secra pribadi kembali melakukan PI pribadi. Mari menjadi umat Allah yang rela menderita walaupun sampai martir. Ingat, Paulus berkata: “Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu.” Hal ini dilakukan demi tugas panggilan Marturia agar orang-orang percaya kepada Kristus.
Solideo Gloria!
Seri The People of God I: The Identity God's People
Indrawaty Sitepu, MA
Tema hari ini adalah topik pertama dari empat seri The People of God, yaitu The Identity God’ People. Mari melihat realitas Gereja pada saat ini. Jika ditanya mengenai apakah Gereja, apa yang terlintas di dalam pikiran kita? Yang dimaksudkan bukanlah defenisi ideal, tetapi apa yang saat itu terlintas di dalam pikiran kita. Ada dua pernyataan yang dapat kita lihat dan pikirkan mengenai Gereja, yaitu:
1. Mengecewakan Allah dan merusak citra jemaat yang ideal.
2. Allah menginginkan identitas kita nyata sehingga menjadi model dan saksi di tengah-tengah dunia ini.
Kita akan mengawali pemberitaan Firman Allah dengan mengingat siapakah kita sesungguhnya. Mari melihat Efesus 2:11-22. Pada bagian Firman ini kita melihat bagaimana Paulus menceritakan riwayat hidup rohani dari pembacanya yang non Yahudi di dalam tiga tahapan.
1. Mereka dahulu jauh dari Allah dan dari umatNya yaitu Israel.
2. Melalui kematianNya di kayu salib, Kristus mendamaikan keduanya dengan Allah, dan menciptakan satu manusia baru.
3. Mereka tidak lagi jauh dari Allah, melainkan telah menjadi warga, umat, dan Keluarga Allah
Ketiga tahapan ini ditandai dengan ungkapan ’dahulu’ (11), ’tetapi sekarang’ (13), dan ’demikianlah’ (19). Mari melihat ke dalam tiga tahapan tersebut. Pertama, ayat 11-12 adalah gambaran tentang manusia yang teralienasi dan jauh dari Tuhan. Kita harus mengingat hal ini agar kita melihat betapa tragis dan mengerikannya keadaan kita dahulu. Dengan demikian, kita bisa melihat betapa besarnya karya Tuhan di dalam hidup kita. Kedua, ayat 13-18 adalah gambaran tentang Kristus yang membawa damai. Ketiga, ayat 19-22 adalah gambaran tentang masyarakat baru Allah. Ini adalah gambaran kita sekarang.
Mari melihat ketiga tahapan ini.
1. Keadaan Kita Dahulu (Ay 11-12)
Dalam ayat 11 dikatakan demikian: ”Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu -- sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya "sunat", yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, --”. Ayat ini mengingatkan Jemaat di Efesus bahwa mereka adalah non Yahudi, yaitu orang tidak bersunat secara lahiriah. Sunat lahiriah merupakan sunat yang dikerjakan oleh tangan manusia. Sunat inilah yang merupakan perbedaan antara orang Yahudi dan non Yahudi. Padahal, justru ada hal yang lebih penting daripada sunat lahiriah, yaitu sunat hati. Hal yang ingin ditekankan Paulus adalah bahwa dahulu mereka (jemaat di Efesus) bukan hanya tidak bersunat secara laharian, tetapi juga belum di sunat secara batin atau hati. Hati mereka penuh dengan pemberontakan terhadap Allah. Hati mereka penuh dengan kebencian, dendam, iri hati, dosa dan kegelapan (Rom 2:28-29; Fil 3:3; Kol 2:11-13). Sunat adalah tanda sebagai umat Allah, dan dahulu jemaat di Efesus, termasuk kita sekarang ini, tidak memiliki tanda itu.
Ayat 12 mengatakan: ”...bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia.” Ayat ini merupakan daftar keberadaan yang tidak berkemampuan tanpa Kristus yang ada bagi setiap kita pada masa lalu. Mungkin kita tahu tentang Tuhan, tetapi kita tidak hidup di dalam pengenalan itu (band Kis 14:15-28; Rom 1:18-32).
2. Karya Kristus (13-18).
Ayat 13 mengatakan: ”Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus.” Ada dua kata yang penting, yaitu ’di dalam Kristus’ dan ’oleh darah Kristus’.
Ayat 14 mengatakan: ”Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan,...”. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Yesus adalah pembawa damai.
Ayat 15 dan 16 mengatakan: ”...sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.”
Di dalam kedua ayat ini ada tiga kata yang penting, yaitu: membatalkan... menciptakan...mengadakan. Ketika ayat ini berbicara mengenai ’membatalkan Hukum Taurat’, tentu saja hal ini tidak bertentangan dan sama sekali berbeda dengan apa yang Yesus katakan ketika ia berkata bahwa kedatanganNya bukan meniadakan hukum Taurat, tetapi menggenapinya. ’Membatalkan Hukum Taurat’ dalam kedua ayat ini adalah berbicara mengenai hukumnya, ketentuannya, seremonialnya, seperti sunat, dan lainnya. Inilah yang dimaksud dengan membatalkan Hukum Taurat itu. Ketika Yesus berbicara mengenai bahwa kedatangannya bukan meniadakan Hukum Taurat tetapi menggenapinya, Ia berbicara soal hukum moral, bagaimana Hukum Taurat bukan hanya sekedar hukum atau ketentuan-ketentuan, tetapi harus dinafasi dengan moral dan batin yang benar. Jadi Hukum Taurat dibatalkan lalu tercipta manusia baru sehingga menimbulkan damai sejahtera.
Ayat 17 mengatakan: ”Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang "jauh" dan damai sejahtera kepada mereka yang "dekat",...” Ayat ini ingin mengatakan bahwa damai sejahtera itu bukan hanya milik sekelompok aorang saja, tetapi merupakan milik semua orang baik Yahudi maupun non Yahudi.
Ayat 18 mengatakan: ”... karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. Ayat ini menjelaskan bahwa oleh karena Dialah kita bisa beroleh damai sejahtera dan dapat bersama dengan Bapa kita.
3. Kita Sekarang Sebagai UmatNya (19-22)
Ayat 19-22 mengatakan: ”Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.”
Di sinilah kita berada seharusnya, identitas kita sebagai umat Allah. Kedua tahapan di sebelumnya diberitahukan agar kita melihat betapa mengerikannya kita dahulu. Sekarang, apakah kita masih sama dengan kita yang dahulu? Kata ’demikianlah’ merupakan sebuah kesimpulan yang diberikan Paulus kepada jemaat di Efesus. Ada tiga keberadaan atau gambaran diri kita yang memiliki identitas sebagai Umat Allah.
Pertama adalah kita sebagai warga dan komunitas baru Kerajaan Allah (19a). Kerajaan Allah di sini bukan berbicara mengenai soal Kerajaan seperti di dunia ini, tetapi berbicara mengenai satu organisme di mana Allah sendiri yang memerintah umatNya. Warganya mencakup semua bangsa dan diperintah oleh Allah sendiri, menggantikan teokrasi bangsa Israel pada zaman Perjanian Lama. Tidak ada lagi perbedaan antara orang Yahudi dan non Yahudi. Di dalam Kerajaan itu, kita tidak lagi perantau asing di negeri orang, melainkan warga kandung di negeri sendiri dengan hak kewargaan yang terjamin dan pasti yang tidak ada seorangpun yang dapat mengganggunya. Kedua adalah kita merupakan kawan sewarga dari Keluarga Allah (19b). Kita lebih dari sekedar warga Kerajaan. Kita adalah anak dalam sebuah keluarga yang dikasihi oleh Allah dimana Allah adalah Bapa kita (4:6). Dia akan menjadi Bapa kita dan selama-lamanya akan bersama-sama dengan kita. Sebagai bagian dari keluarga Allah, kita juga harus mengingat bahwa bukan hanya Allah sebagai Bapa kita saja, tetapi, ingat, kita semua adalah saudara. Kita adalah sama-sama anak dari Bapa yang kekal itu. Jika kita adalah saudara, yang merupakan Anak Allah, tentu saja Allah menginginkan kita saling mengasihi dan memiliki cinta kasih yang dalam dan perhatian yang tulus, dst. Bukan berarti tidak ada konflik. Konflik mungkin ada, tetapi tidak akan menimbulkan sakit yang berakar sangat dalam di dalam hati saudara kita. Apakah hal ini ada di sekitar kita? Atau, jangan-jangan orang lebih mendapatkan perhatian yang tulus dan cinta kasih yang dalam dari luar sesama? Ketiga adalah kita merupakan Bait Allah (20-22). Dari ayat 20-22 kita dapat melihat beberapa hal, yaitu:
a. Dasar. Ini adalah bagian yang sangat penting dari sebuah bangunan. Jadi yang menajdi dasar sebuah jemaat bukanlah orang atau jabatan, tetapi ajaran yang diilhamkan oleh Roh Kudus melalui para nabi dan rasul. Dasar ini tidak boleh diubah atau dimodifikasi.
b. Batu Penjuru. Batu Penjuru adalah bagian bangunan yang mutlak harus ada. Bagian ini sangat penting karena merupakan bagian dari fondasi yang menjamin stabilitas seluruh bangunan dan kerapian susunannya. Jika ada dasar tetapi tidak ada batu penjurunya, amka bangunan itu akan tidak stabil dan menjadi kacau. Hal inilah yang digambarkan Paulus dengan indah dimana ajaran itu adalah dasar dan Kristus adalah Batu Penjuru. Kesatuan dan pertumbuhan jemaat terkait satu sama lain dan perekat dari keduanya adalah Yesus Kristus. Jemaat dapat berkembang dan tersusun rapi selama jemaat itu terekat kepada Yesus Kristus. Jika tidak, maka kesatuan jemaat akan hilang dan pertumbuhannya terhenti dan tidak terkuasai.
Tujuan Bait Allah tidak berubah, yaitu menjadi tempat kediaman Allah. Dia mendiami mereka secara masing-masing dan sebagai komunitas di dalam roh. Orang-orang yang telah ditebus dan tersebar keseluruh dunia adalah bangunan yang menjadi tempat kediaman Allah di bumi.
Mari kita melihat diri kita. Diri kita adalah Bait Allah. Kita adalah tempat Allah berdiam. Pantas dan layakkah diri kita, dengan cara hidup kita, menjadi tempat bagi Allah untuk berdiam? Berbicara soal Kerajaan, maka Allah adalah penguasa. Berbicara soal keluarga, Dialah Bapa kita. Dan berbicara soal diri kita sendiri yang adalah Bait Allah, adalah tempat Allah berdiam. Tentu saja hal ini berhubungan dengan seluruh aspek hidup kita.
Mari mengingat kembali tiga bagian tadi. Kita dahulu terkucil, asing, terancam, dan tragis dari Allah dan dari umatNya. Tetapi, karya Kristus mengubahkannya. Kita tidak lagi orang asing, melainkan warga Kerajaan di mana Allah adalah penguasa yang berdaulat. Kita adalah anggota dari keluarga yang dikasihiNya dan kita adalah bait yang didiamiNya. Mari kembali melihat kondidi gereja, baik secara personal ataupun komunitas, apakah menyenangkan hati Tuhan atau sebaliknya, kita mengecewakan Allah dan merusak citra jemaat yang ideal? Jika kita melihat pesekutuan dan komunitas kita, apakah orang melihat Tuhan yang memimpin komunitas itu? Apakah Allah menjadi seorang Bapa di sana dan apakah Allah menjadikan masing-masing orang di dalak komunitas itu menjadi tempat kediamanNya? Allah menginginkan identitas kita, sebagai umat Allah, nyata sehingga menjadi model dan saksi di tengah-tengah dunia ini. Ingatlah, siapa anda.
Solideo Gloria!
Tema hari ini adalah topik pertama dari empat seri The People of God, yaitu The Identity God’ People. Mari melihat realitas Gereja pada saat ini. Jika ditanya mengenai apakah Gereja, apa yang terlintas di dalam pikiran kita? Yang dimaksudkan bukanlah defenisi ideal, tetapi apa yang saat itu terlintas di dalam pikiran kita. Ada dua pernyataan yang dapat kita lihat dan pikirkan mengenai Gereja, yaitu:
1. Mengecewakan Allah dan merusak citra jemaat yang ideal.
2. Allah menginginkan identitas kita nyata sehingga menjadi model dan saksi di tengah-tengah dunia ini.
Kita akan mengawali pemberitaan Firman Allah dengan mengingat siapakah kita sesungguhnya. Mari melihat Efesus 2:11-22. Pada bagian Firman ini kita melihat bagaimana Paulus menceritakan riwayat hidup rohani dari pembacanya yang non Yahudi di dalam tiga tahapan.
1. Mereka dahulu jauh dari Allah dan dari umatNya yaitu Israel.
2. Melalui kematianNya di kayu salib, Kristus mendamaikan keduanya dengan Allah, dan menciptakan satu manusia baru.
3. Mereka tidak lagi jauh dari Allah, melainkan telah menjadi warga, umat, dan Keluarga Allah
Ketiga tahapan ini ditandai dengan ungkapan ’dahulu’ (11), ’tetapi sekarang’ (13), dan ’demikianlah’ (19). Mari melihat ke dalam tiga tahapan tersebut. Pertama, ayat 11-12 adalah gambaran tentang manusia yang teralienasi dan jauh dari Tuhan. Kita harus mengingat hal ini agar kita melihat betapa tragis dan mengerikannya keadaan kita dahulu. Dengan demikian, kita bisa melihat betapa besarnya karya Tuhan di dalam hidup kita. Kedua, ayat 13-18 adalah gambaran tentang Kristus yang membawa damai. Ketiga, ayat 19-22 adalah gambaran tentang masyarakat baru Allah. Ini adalah gambaran kita sekarang.
Mari melihat ketiga tahapan ini.
1. Keadaan Kita Dahulu (Ay 11-12)
Dalam ayat 11 dikatakan demikian: ”Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu -- sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya "sunat", yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, --”. Ayat ini mengingatkan Jemaat di Efesus bahwa mereka adalah non Yahudi, yaitu orang tidak bersunat secara lahiriah. Sunat lahiriah merupakan sunat yang dikerjakan oleh tangan manusia. Sunat inilah yang merupakan perbedaan antara orang Yahudi dan non Yahudi. Padahal, justru ada hal yang lebih penting daripada sunat lahiriah, yaitu sunat hati. Hal yang ingin ditekankan Paulus adalah bahwa dahulu mereka (jemaat di Efesus) bukan hanya tidak bersunat secara laharian, tetapi juga belum di sunat secara batin atau hati. Hati mereka penuh dengan pemberontakan terhadap Allah. Hati mereka penuh dengan kebencian, dendam, iri hati, dosa dan kegelapan (Rom 2:28-29; Fil 3:3; Kol 2:11-13). Sunat adalah tanda sebagai umat Allah, dan dahulu jemaat di Efesus, termasuk kita sekarang ini, tidak memiliki tanda itu.
Ayat 12 mengatakan: ”...bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia.” Ayat ini merupakan daftar keberadaan yang tidak berkemampuan tanpa Kristus yang ada bagi setiap kita pada masa lalu. Mungkin kita tahu tentang Tuhan, tetapi kita tidak hidup di dalam pengenalan itu (band Kis 14:15-28; Rom 1:18-32).
2. Karya Kristus (13-18).
Ayat 13 mengatakan: ”Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus.” Ada dua kata yang penting, yaitu ’di dalam Kristus’ dan ’oleh darah Kristus’.
Ayat 14 mengatakan: ”Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan,...”. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Yesus adalah pembawa damai.
Ayat 15 dan 16 mengatakan: ”...sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.”
Di dalam kedua ayat ini ada tiga kata yang penting, yaitu: membatalkan... menciptakan...mengadakan. Ketika ayat ini berbicara mengenai ’membatalkan Hukum Taurat’, tentu saja hal ini tidak bertentangan dan sama sekali berbeda dengan apa yang Yesus katakan ketika ia berkata bahwa kedatanganNya bukan meniadakan hukum Taurat, tetapi menggenapinya. ’Membatalkan Hukum Taurat’ dalam kedua ayat ini adalah berbicara mengenai hukumnya, ketentuannya, seremonialnya, seperti sunat, dan lainnya. Inilah yang dimaksud dengan membatalkan Hukum Taurat itu. Ketika Yesus berbicara mengenai bahwa kedatangannya bukan meniadakan Hukum Taurat tetapi menggenapinya, Ia berbicara soal hukum moral, bagaimana Hukum Taurat bukan hanya sekedar hukum atau ketentuan-ketentuan, tetapi harus dinafasi dengan moral dan batin yang benar. Jadi Hukum Taurat dibatalkan lalu tercipta manusia baru sehingga menimbulkan damai sejahtera.
Ayat 17 mengatakan: ”Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang "jauh" dan damai sejahtera kepada mereka yang "dekat",...” Ayat ini ingin mengatakan bahwa damai sejahtera itu bukan hanya milik sekelompok aorang saja, tetapi merupakan milik semua orang baik Yahudi maupun non Yahudi.
Ayat 18 mengatakan: ”... karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. Ayat ini menjelaskan bahwa oleh karena Dialah kita bisa beroleh damai sejahtera dan dapat bersama dengan Bapa kita.
3. Kita Sekarang Sebagai UmatNya (19-22)
Ayat 19-22 mengatakan: ”Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.”
Di sinilah kita berada seharusnya, identitas kita sebagai umat Allah. Kedua tahapan di sebelumnya diberitahukan agar kita melihat betapa mengerikannya kita dahulu. Sekarang, apakah kita masih sama dengan kita yang dahulu? Kata ’demikianlah’ merupakan sebuah kesimpulan yang diberikan Paulus kepada jemaat di Efesus. Ada tiga keberadaan atau gambaran diri kita yang memiliki identitas sebagai Umat Allah.
Pertama adalah kita sebagai warga dan komunitas baru Kerajaan Allah (19a). Kerajaan Allah di sini bukan berbicara mengenai soal Kerajaan seperti di dunia ini, tetapi berbicara mengenai satu organisme di mana Allah sendiri yang memerintah umatNya. Warganya mencakup semua bangsa dan diperintah oleh Allah sendiri, menggantikan teokrasi bangsa Israel pada zaman Perjanian Lama. Tidak ada lagi perbedaan antara orang Yahudi dan non Yahudi. Di dalam Kerajaan itu, kita tidak lagi perantau asing di negeri orang, melainkan warga kandung di negeri sendiri dengan hak kewargaan yang terjamin dan pasti yang tidak ada seorangpun yang dapat mengganggunya. Kedua adalah kita merupakan kawan sewarga dari Keluarga Allah (19b). Kita lebih dari sekedar warga Kerajaan. Kita adalah anak dalam sebuah keluarga yang dikasihi oleh Allah dimana Allah adalah Bapa kita (4:6). Dia akan menjadi Bapa kita dan selama-lamanya akan bersama-sama dengan kita. Sebagai bagian dari keluarga Allah, kita juga harus mengingat bahwa bukan hanya Allah sebagai Bapa kita saja, tetapi, ingat, kita semua adalah saudara. Kita adalah sama-sama anak dari Bapa yang kekal itu. Jika kita adalah saudara, yang merupakan Anak Allah, tentu saja Allah menginginkan kita saling mengasihi dan memiliki cinta kasih yang dalam dan perhatian yang tulus, dst. Bukan berarti tidak ada konflik. Konflik mungkin ada, tetapi tidak akan menimbulkan sakit yang berakar sangat dalam di dalam hati saudara kita. Apakah hal ini ada di sekitar kita? Atau, jangan-jangan orang lebih mendapatkan perhatian yang tulus dan cinta kasih yang dalam dari luar sesama? Ketiga adalah kita merupakan Bait Allah (20-22). Dari ayat 20-22 kita dapat melihat beberapa hal, yaitu:
a. Dasar. Ini adalah bagian yang sangat penting dari sebuah bangunan. Jadi yang menajdi dasar sebuah jemaat bukanlah orang atau jabatan, tetapi ajaran yang diilhamkan oleh Roh Kudus melalui para nabi dan rasul. Dasar ini tidak boleh diubah atau dimodifikasi.
b. Batu Penjuru. Batu Penjuru adalah bagian bangunan yang mutlak harus ada. Bagian ini sangat penting karena merupakan bagian dari fondasi yang menjamin stabilitas seluruh bangunan dan kerapian susunannya. Jika ada dasar tetapi tidak ada batu penjurunya, amka bangunan itu akan tidak stabil dan menjadi kacau. Hal inilah yang digambarkan Paulus dengan indah dimana ajaran itu adalah dasar dan Kristus adalah Batu Penjuru. Kesatuan dan pertumbuhan jemaat terkait satu sama lain dan perekat dari keduanya adalah Yesus Kristus. Jemaat dapat berkembang dan tersusun rapi selama jemaat itu terekat kepada Yesus Kristus. Jika tidak, maka kesatuan jemaat akan hilang dan pertumbuhannya terhenti dan tidak terkuasai.
Tujuan Bait Allah tidak berubah, yaitu menjadi tempat kediaman Allah. Dia mendiami mereka secara masing-masing dan sebagai komunitas di dalam roh. Orang-orang yang telah ditebus dan tersebar keseluruh dunia adalah bangunan yang menjadi tempat kediaman Allah di bumi.
Mari kita melihat diri kita. Diri kita adalah Bait Allah. Kita adalah tempat Allah berdiam. Pantas dan layakkah diri kita, dengan cara hidup kita, menjadi tempat bagi Allah untuk berdiam? Berbicara soal Kerajaan, maka Allah adalah penguasa. Berbicara soal keluarga, Dialah Bapa kita. Dan berbicara soal diri kita sendiri yang adalah Bait Allah, adalah tempat Allah berdiam. Tentu saja hal ini berhubungan dengan seluruh aspek hidup kita.
Mari mengingat kembali tiga bagian tadi. Kita dahulu terkucil, asing, terancam, dan tragis dari Allah dan dari umatNya. Tetapi, karya Kristus mengubahkannya. Kita tidak lagi orang asing, melainkan warga Kerajaan di mana Allah adalah penguasa yang berdaulat. Kita adalah anggota dari keluarga yang dikasihiNya dan kita adalah bait yang didiamiNya. Mari kembali melihat kondidi gereja, baik secara personal ataupun komunitas, apakah menyenangkan hati Tuhan atau sebaliknya, kita mengecewakan Allah dan merusak citra jemaat yang ideal? Jika kita melihat pesekutuan dan komunitas kita, apakah orang melihat Tuhan yang memimpin komunitas itu? Apakah Allah menjadi seorang Bapa di sana dan apakah Allah menjadikan masing-masing orang di dalak komunitas itu menjadi tempat kediamanNya? Allah menginginkan identitas kita, sebagai umat Allah, nyata sehingga menjadi model dan saksi di tengah-tengah dunia ini. Ingatlah, siapa anda.
Solideo Gloria!
Subscribe to:
Posts (Atom)