Tuesday, July 1, 2008

Faith@Work - 02: The Ethos

by: Indrawaty Sitepu
 

Ada sebuah kisah yang terjadi dalam suatu negara pasca perang dunia ke dua. Dalam negara itu ada satu patung Yesus yang hancur karena perangdunia tersebut. Ada satu menarik dari patung itu, yaitu tangannya patah. Dan kerusakan tersebut tidak pernah diperbaiki, malahan mereka membuat satu tulisan di bawah patung tersebut ‘kamu adalah tangan saya’. Hal ini ditulis untuk mengingatkan orang yang lewat dari tempat itu bahwa mereka adalah tangan-tangan Yesus untuk bekerja di muka bumi ini, untuk mewujudkan kehendak Yesus. Siapapun mereka, apapun profesi mereka semua harus tahu bahwa mereka adalah tangan Kristus di muka bumi ini.


Kita harus memahami dengan benar bahwa apapun pekerjaan kita adalah cara kita untuk memenuhi panggilan Tuhan akan hidup kita. Tentu saja berbicara tentang vocation dan calling kita juga harus berbicara tentang siapa caller nya (yang memanggil). Tentu kita sudah tahu bahwa yang memanggil kita adalah Tuhan. Kepada apa kita dipanggil, sebagai apa kita dipanggil, itu adalah pergumulan kita. Tidak ada satu orang pun yang bisa berprasangka, bahwa menjadi hamba Tuhan itu lebih rohani dari pada Guru atau pekerjaan lainnya. Dalam konsep kerja, kita harus memahami bahwa semua kerja adalah cara kita untuk memenuhi panggilan Tuhan. Berbicara tentang panggilan dan kerja memang ada bedanya. Tidak bisa kita samakan antara panggilan dan kerja. Tetapi pekerjaan adalah cara kita untuk memenuhi panggilan Tuhan di dalam hidup. Itu sebabnya kita tidak boleh memandang bahwa satu pekerjaan lebih rohani dibandingkan dengan pekerjaan yang lain. Sebagai anak-anak Tuhan kita tidak pernah dipanggil untuk suatu pekerjaan yang jelek. Oleh karena itu anak Tuhan tidak pernah jadi pelacur atau pengedar narkoba. Pasti pilihan-pilihan kita adalah melalui pekerjaan itu kita dapat memuliakan Tuhan. Itu sebabnya kita harus memiliki rasa hormat yang sama terhadap pekerjaan yang berbeda. Ada tulisan yang mengatakan ‘itulah sebabnya waktu kita pergi ke gereja harusnya sama dengan bagaimana kita pergi bekerja’. Berangkat ke gereja bertujuan bagaimana kita mempermuliakan Tuhan, bagaimana kerajaan Allah hadir, dan meninggikan Tuhan. Dalam bekerja juga demikian. Memang ada perbedaannya. Dengan demikian bagaimana kita mengerjakan pekerjaan kita? Mari kita lihat Mat 25:14-30. Kita akan melihat dari tiga hamba dalam perikop ini.

Jika pekerjaan adalah calling atau panggilan Tuhan, itu bukan hanya urusan di dunia ini. Itu berbicara tentang hal yang kekal juga. Itu berbicara dalam konteks eskatologi. Berarti kita berbicara tentang kesiapan berjumpa dengan Yesus. Ini adalah masa yang kita jalani sekarang ini, dimana nanti pada waktunya kita akan mempertangjawabkan seluruh hidup kita, dan tentu saja di dalamnya adalah seluruh pekerjaan kita. Saya akan awali dengan melihat latar belakang perikop ini. Perumpamaan ketiga hamba ini adalah bagian kotbah Tuhan Yesus yang disampaikan di bukit zaitun (24:3). Kotbah ini ditujukan/didengar kepada murid-muridNya, bukan orang baru. Dengan kata lain hal ini sangat relevan dengan kita pada saat ini. Kalau kita lihat perikop ini ada tiga konteks yang akan kita lihat, meliputi talenta, hamba, dan tuan. Hamba bisa kita sebut juga dengan pekerja termasuk kita di dalamnya.

Kita masuk ke talenta.
Talenta yang dipercayakan berbeda-beda. Kriteria yang dipakai untuk membaginya adalah kemampuan hamba-hambanya (ay 15). Jadi bikan karena kedekatan dengan tuannya ataupu KKN tuannya, atau tuannya mempercayai yang satu dan tidak percaya yang lain. Pemberian yang berbeda menunjukkan pengenalan tuan yang mendalam terhadap hambanya. Ini penting untuk kita pahami agar kita tidak menjadi orang lain. Sebenarnya setiap kita diciptakan dengan unik di tengah-tengah dunia ini. Setiap kita punya kelebihan yang Tuhan taruh yang harusnya melaluinya kita mempermuliakan Tuhan dan itu dapat menjadi pujian bagi Tuhan. Kalau sekiranya belum demikian, bukan Tuhan yang salah menempatkan atau memberikan bagian kita, tetapi kita yang salah mengerti akan apa yang Tuhan percayakan dan anugerahkan pada kita.

Talenta sebenarnya adalah ukuran berat setara dengan 42.5 kg, tetapi dalam perumpamaan ini menunjuk kepada uang (ay 18, 27). Dalam ayat 18, istilah talenta diganti dengan istilah argurion yang secara harafiah diterjemahkan perak. Satu talenta ekuivalen dengan 10.000 dinar. Jadi berbicara tentang satu talenta bukanlah jumlah yang sedikit. Jika satu dinar adalah upah kerja satu hari (Matius 20:2), maka satu talenta setara dengan upah kerja selama 33 tahun. Satu jumlah yang besar!

Mari kita lihat hamba.
Fungsi hamba dalam masyarakat kuno tidak hanya terbatas pada urusan domestik rumah tangga, tetapi bisa beperan sebagai politic influence atau managerial umum, atau mengembangkan harta yang tuannya punya. Ketiga hamba itu punya persamaan yaitu dipercayakan harta oleh tuannya. Mari kita lihat perbedaannya. Perbedaannya adalah kemampuan ketiganya. Bukan hanya itu, yang mencolok yang disoroti disini adalah perbedaan etos kerja atau cara mereka mengerjakannya. Hamba pertama mengusahakan lima talenta dan mendapat laba lima talenta. Hamba yang kedua mendapat dua talenta dan mengusahakannya dan mendapat laba dua talenta. Kalau kita bisa mereka-reka, tidak mudah bagi mereka menerima tanggung jawab ini karena harus mempertanggungjawabkan satu jumlah yang besar. Tetapi mereka mengusahakannya dan mendapat laba dua kali lipat. Alkitab memang hanya mencatat ‘dia mengusahakannya’. Tapi kalimat yang sangat singkat dan sederhana ini tidak sesederhana itu. Orang yang punya duit yang besar lalu kembali ddengan laba yang besar dengan cara mengusahakannya, berarti dibalik kata ‘mengusahakan’ itu ada kerja keras. Ada usaha yang begitu maksimal dibalik kata ‘mengusahakannya’. Demikian juga dengan hamba yang kedua dengan jumlah talenta yang lebih sedikit yaitu dua talenta. Dia juga mengusahakannya sama seperti hamba yang pertama. Tetapi hamba yang ketiga tidak mengusahakannya. Pada bagian lain ‘tidak mengusahakannya’ sama dengan jahat dan malas. Meski jumlah keuntungan hamba pertama dan kedua berbeda, tetapi jumlah persentasinya sama yaitu 100%. Kalau kiita lihat pada bagian ini, tuan itu tidak melihat jumlah keuntungannya, kuantitasnya. Yang dipersoalkan adalah total pengabdiannya.

Jadi ada tiga hamba dengan dua cara :
1. Hamba yang pertama dan kedua adalah hamba yang baik dan setia
Kenapa disebut hamba baik dan setia? Karena mereka adalah adalah hamba yang mengusahakan harta tuannya,dalam jumlah relatif besar sepadan dengan kemampuan mereka dan mengembangkan secara maksimal/melipatgandakannya, berani menanggung resiko. Jumlah yang sedemikian besar tidak mudah mebngusahakannya. Mungkin dia punya banyak alasan menolaknya. Tetapi tuan tadi memberikanmenurut kemampuannya. Berari tuannya tahu dia bisa dan memang terbukti dia bisa sehinnga bekembang jadi lima dan sepuluh sehingga dia diberikan penilaian sebagai hamba yang baik dan setia. Demikian juga dengan hamba yang kedua. Dia juga menerima pujian yang sama dengan hamba yang pertama dari tuannya.

2. Hamba yang ketiga disebut dengan hamba yang jahat dan malas.
Hamba ini disebut jahat dan malas karena tidak mengusahakan,tidak mengembangkan kemampuan, takut/tidak berani mengambil resiko,takut keuntungan diambil tuannya dan tidak melakukan apa-apa saat tuannya tidak ditempat akhirnya menjadi tidak berguna. Ada satu tulisan yang mengatakan apakah dia betul-betul tidak mengusahakan dan diam? Sebenarnya tidak juga. Dia berbuat sesuatu, yaitu dia gali lubang dan menanam uangnya. Dia berbuat sesuatu tetapi perbuatannya tidak memaksimalkan kemampuannya. Dia bisa lebih dari itu, tetapi dia tidak melakukannya. Ada banyak ketakutannya. Dia takut ambil resiko, nanti keuntungannya diambil Tuhannya (nanti kita lihat bahwa tuannya tidak seperti itu). Jadi tidak memaksimalkan seluruh yang Tuhan percayakan kepada kita julukannya adalah jahat dan malas.


Hal ketiga yang akan kita lihat adalah si tuan. Ketika si tuan kembali dia tidak mengatkan waktunya. Tetapi dikatakan di alkitab bahwa waktunya agak lama. Lalu kita lihat dia melakukan penilaian terhadap hamba-hambanya. Pada hamba yang pertama dan kedua, dia memberikan pujian. Pujian yang bukan berdasarkan kuantitas keberhasilan melainkan kualitas pengabdian. Hal ini dapat kita lihat dari apa yang dia pujikan pada hamba yang pertama dan kedua. Dan tidak meminta kembali uang yang dipercayakan. Ini menunjukkna bagaimana penilaian hamba yang memiliki satu talenta tadi adalah salah. Pada hamba yang ketiga dia mencela, menghukum, dan menarik talenta dari yang tidak mengusahakan dan disuruh diserahkan kepada hamba pertama (yang telah dipercayakan 5 talenta). Jadi memang kepada orang yang setia pada apa yang Tuhan percayakan, Tuhan akan tambahkan lagi. Tetapi kepada orang yang dipercayakan tetapi tidak mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, itu akan diambil dan akan di berikan kepada orang yang bekerja banyak, bukan kepada orang yang tidak bekerja.

Kita lihat akhir dari hamba-hamba tersebut. Kedua hamba yang baik dan setia menunjukkan bahwa kerja keras, aktif, maksimal mengembangkan diri demi kerajaan surga membawa sukacita. Hamba yang jahat dan malas memperlihatkan bahwa tidak memaksimalkan diri demi kerajaan surga akan mengakibatkan ratap dan kertak gigi. Dia bukan sedang menantikan sukacita sewaktu menantikan Tuhan tetapi petaka. Saya akan mengajak kita untuk melihat apa maksudnya hal ini di tulis.
Pada masa penantian akan Tuhan Yesus, murid-murid diingatkan untuk bekerja keras, memaksimalkan pelayanan, kemampuan sehingga perjumpaan dengan Tuhan Yesus akan membawa sukacita dan menikmati perjamuan mesianis. Peringatan yang sama juga berlaku kepada kita sekarang ini. Mari memaksimalkan kemampuan kita untuk mempermuliakan Tuhan.


Tuhan Memberkati!

No comments: