Monday, November 2, 2009

Seri The People of God II: The Calling (MARTURIA)

Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div

Hari ini, kita akan membahas mengenai The People of God dengan tema The Calling, dalam hal ini adalah Marturia. Mari melihat Efesus 3:1-13. Di dalam Efesus pasal 1-6, kita melihat ada rangkaian yang berurutan. Di dalam pasal dua dikatakan bahwa keselamatan adalah karena anugerah Allah di dalam diri Yesus Kristus, dan orang-orang percaya itu sudah diperdamaikan antara satu dengan yang lain. Di pasal ketiga dikatakan bahwa orang percaya disatukan Tuhan ke dalam satu tubuh, yaitu Gereja. Pasal 4:1-6 berbicara soal Gereja dan ciri khasnya, yaitu satu tubuh, satu Tuhan, dan satu baptisan, dst.

Jika kita mempelajari panggilan Gereja, yaitu Marturia, maka di dalam Efesus 3 tadi, kita melihat bahwa Paulus mengawalinya dengan siapa dirinya sebagai pemberita Injil kepada non Yahudi. Di dalam ayat 1 dikatakan: ”Itulah sebabnya aku ini, Paulus, orang yang dipenjarakan karena Kristus Yesus untuk kamu orang-orang yang tidak mengenal Allah”. Yang dimaksudkan Paulus dengan ’Itulah sebabnya...’ adalah bagaimana Kristus yang sudah menebus dan menyelamatkan orang percaya dan orang percaya tersebut dipersatukan di dalam satu tubuh yaitu tubuh Kristus sebagai Gereja Allah. Paulus rela mengalami penderitaan oleh karena Yesus Kristus, demi mereka yang belum mengenal Allah (Gentile). Hal ini disebabkan karena dia tahu betapa pentingnya orang diubah di dalam Kristus agar dapat dibawa kepada Allah.

Di dalam ayat 2 Paulus mengatakan: ” -- memang kamu telah mendengar tentang tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah, yang dipercayakan kepadaku karena kamu,...” Di dalam ayat ini kita melihat bahwa tugas yang dipercayakan kepada Paulus adalah tugas ’penyelenggaraan kasih karunia Allah’. Yang dimaksudkan disini adalah Pemberitaan Injil (PI). Paulus menyadari tugas PI atau Marturia secara pribadi. Jika kita perhatikan, ayat 1-9 dari Efesus 3 ini berbicara mengenai Marturia secara pribadi, yaitu tugas menyatakan Firman dan bersaksi secara pribadi. Baru pada ayat 10-13, tugas Marturia oleh umat Allah (Gereja Tuhan). Di dalam ayat 2 ini kita melihat Paulus menyatakan dirinya sebagai pembawa tugas ’penyelenggaraan kasih karunia Allah’.

Apa yang dimaksud dengan ’kasih karunia Allah’? Di dalam ayat 3-5 dijelaskan mengenai hal ini, yaitu mengenai sebuah misteri kebenaran yang disingkapkan kepada Paulus melalui wahyu. Misteri ini adalah bahwa orang-orang non Yahudi turut menjadi ahli waris, menjadi anggota di dalam keluarga Allah, yaitu Gereja, dan juga turut sebagai peserta di dalam janji yang diberikan Allah oleh karena Injil. Paulus ingin mengatakan bahwa sebuah misteri jika non Yahudi bisa beroleh keselamatan. Hal ini sama misterinya dengan seorang pembakar gereja menjadi pengikut Kristus yang taat. Hal ini menjadi misteri karena di luar kemampuan kita untuk memahaminya. Bahkan kita tidak pernah menduga bahwa orang-orang seperti ini bisa menyerahkan diri menjadi pengikut Kristus. Ingat Paulus? Dia adalah seorang penganiaya jemaat tetapi akhirnya menjadi teraniaya oleh karena jemaat.

Di dalam ayat 7-9 kita bisa melihat perubahan Paulus. Di dalam ayat 7 dikatakan: ”Dari Injil itu aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku sesuai dengan pengerjaan kuasa-Nya.” Yang ingin dikatakan Paulus adalah jika kepada kita dipercayakan tugas untuk Marturia secara pribadi, semuanya adalah karena kasih karunia. Hal ini dikatakan Paulus karena dia menyadari bagaimana hidupnya yang jahat, sebagai penganiaya Jemaat. Di dalam ayat 8, Paulus berkata: ” Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu,” [band 1 Kor 15:10]. Di sini kita tidak hanya melihat perubahan hidup Paulus yang sangat radikal, tetapi juga bagaimana dia memahami bahwa semuanya adalah karena kasih karunia Allah. PI adalah sebuah rahasia Allah yang tersembunyi selama berabad-abad. Bukankah Farisi dan Ahli Taurat mempelajari Kitab Suci, tetapi mereka tetap tidak bisa mengenal Allah? Ketika mereka mencari kebenaran dan ingin menemukan siapa Allah, selama berabad-abad, mereka tidak dapat menemukannya. Tetapi di dalam Kristus, mereka menemukannya. Inilah rahasia Allah yang sangat besar.
Setelah Paulus berbicara secara pribadi, barulah ia berbicara mengenai panggilan Umat Allah. Di dalam ayat 10 dikatakan: ”... supaya sekarang oleh jemaat diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga,...”. Marturia bukan hanya tugas secara individu, tetapi menjadi tugas umat Allah secara umum. Bukan tugas para rasul atau para nabi, tetapi menjadi tugas seluruh umat Allah. Marturua adalah sebuah panggilan yang ilahi bagi umat Allah. Inilah panggilan umat Allah secara kolektif, panggilan alumni sebagai umat Allah secara kolektif di seluruh dunia. Kita harus menyadari bahwa kita adalah umat Allah, bukan hanya di dalam pengertian yang ada di PAK, atau persekutuan alumni kampus, tetapi bagian dari umat Allah di seluruh dunia tanpa dibatasi denominasi, Gereja, geografis, ataupun latar belakang. Inilah yang dimaksudkan dengan Gereja yang kudus dan Am. Sebagai umat yag sudah dilayani, kita juga harus melakukan pelayanan Marturia. 1 Pet 2:9 mengatakan: ”Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:”. Kata ’imamat’ adalah umat atau jemaat Allah, yaitu Gereja Allah yang harus bermisi karena sudah diangkat dari kegelapan ke dalam terang. Dari Efesus 3:1-9 dan dari 1 Pet 2:9 kita melihat bahwa seharusnya kita harus melakukan pelayanan. Jika ada orang yang mengaku lahir baru tetapi tidak punya kerinduan untuk melayani, maka lahir barunya dipertanyakan. Tidak mungkin hal seperti ini terjadi. Oleh karena itu, umat Allah yang telah diselamatkan harus melakukan mandat Allah untuk Marturia bagi orang lain. Inilah dasar dari Marturia.
Ayat 10 mengatakan ’pelbagai ragam hikmat Allah’. Ini adalah isi dari Marturia. Isinya adalah Hikmat Allah [band ayat 3-5; Kol 2:2b-3]. Inti dari berita Marturia adalah Kristus yang membawa orang kepada Allah. Kita harus memberitakan Kristus yang disalibkan bukan lembaga, gereja, atau diri sendiri. Perhatikan ayat ini, ‘dengan pelbagai ragam hikmat Allah’. Artinya, hikmat Allah di dalam Kristus diberitakan dengan berbagai ragam atau metode atau cara. Ada pelbagai cara yang bisa dipakai, tetapi yang paling penting adalah hikmat Allah sampai dan mereka bisa bertemu dengan Tuhan. Kristus adalah hikmat Allah yang sempurna.
Di dalam ayat 12 Paulus kembali menyatakan: “Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya.” Tidak ada yang lain, inti berita Marturia adalah Kristus [band Rom 1:16-17]. Jika ada kesempatan untuk membawa renungan, tolong hati-hati. Terkadang kita terjebak dengan kesaksian pribadi, Gereja, atau lembaga tempat kita berada.

Di dalam ayat 10 akhir kita melihat objek PI kita dalam panggilan Marturia, yaitu ’ kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga,’. Jika kita memakai terjemahan ini, kita bisa salah mengerti. Di dalam NIV dikatakan ‘the rulers and authorities in the heavenly realms,’- pemerintah dan penguasa angkasa. Yang dimaksudkan Paulus di sini bukanlah roh jahat yang menjadi penguasa angkasa, tetapi mereka yang masih percaya dan tunduk kepada penguasa-penguasa angkasa atau kegelapan. Kepada merekalah kita harus Marturia, orang-orang yang masih di bawah penguasa-penguasa angkasa, yang masih jauh dari kebenaran dan jauh hidupnya dari Allah [band Efesus 6:12].

Di dalam ayat 11 dikatakan: “…sesuai dengan maksud abadi, yang telah dilaksanakan-Nya dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Paulus menyatakan bahwa mandat Ilahi atau panggilan Marturia bagi umat Allah yaitu tugas pemberitaan Injil, isi berita yang diberitakan, dan objek kemana kita melakukan tugas Marturia, dikatakan oleh Paulus bahwa itulah maksud Allah yang kekal yang direalisasikan di dalam Kristus. Artinya, pertama, jemaat yang Marturia adalah salah satu bagian dari maksud Allah yang kekal. Jika ada umat Allah tidak melakukan tugas Marturia, berarti maksud Allah belum digenapi di dalam dirinya. Kedua, maksud Allah yang abadi adalah umat Allah atau The People of God melakukan Marturia. Belajar dari hal ini, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak terlibat sebagai umat Allah. Allah tidak menghendaki kebinasaan, melainkan keselamatan umat manusia. Oleh karena itu, Marturia sebagai mandat Ilahi harus dikerjakan oleh umat Allah atau Gereja. Ingat Amanat Agung? Pertanyaanya adalah sejauh mana kita melakukan amanat tersebut? Kita harus introspeksi diri. Hal inilah yang menggerakkan kita untuk pergi, berkarya dan bersaksi bagi Tuhan.

Ayat 13 mengatakan: ”Sebab itu aku minta kepadamu, supaya kamu jangan tawar hati melihat kesesakanku karena kamu, karena kesesakanku itu adalah kemuliaanmu.” Kata ’martir’ memiliki akar kata dari kata ’Marturia’. Jadi, wajar jika bersaksi, memberitakan Injil, seseorang bisa teraniaya bahkan kehilangan nyawannya. Umat Allah yang dipanggil untuk tugas Marturia harus rela menderita. Bukan hanya rela, di dalam Kol 1:24, Paulus berkata: ”Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.” Luar biasa! Yang dimaksudkan Paulus adalah bukan karya Kristus kurang sempurna, tetapi jika karena kasihNya, Dia rela menderita untuk keselamatan manusia, maka kita pun harus rela menderita agar kabar mengenai Injil sampai kepada orang lain.

Inilah satu perubahan yang radikal di dalam diri Paulus, dan hal ini menjadi bagian dari umat Allah. Kita tidak menjadi generasi yang cengeng, tetapi menjadi generasi yang rela menderita, bahkan bersukacita oleh karena penderitaan, karena tugas Marturia sebagai umat Allah. Di dalam 2 Kor 4:11-12 dikatakan: “Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu.”
Panggilan Allah untuk umatNya adalah Marturia. Dalam rangka tugas ini, kita sebagai umat Allah sering sekali diperhadapkan dengan penderitaan, bahkan maut. Maut giat di dalam diri kita. Tetapi, oleh karena hidup yang beriman kepada Yesus Kristus, maka kita semakin giat terhadapa orang lain agar mereka percaya kepada Kristus. Inilah sukacita kita sebagai umat Allah. Inilah sukacita Gereja, ketika gereja dianiaya karena melakukan tugas penggilan untuk Marturia. Dengan kesesakan melakukan Marturia, orang akan diselamatkan. Dengan demikian kemuliaan Allah akan ada bagi dirinya dan dia pun mulia di hadapan Allah.

Mari kita sebagai umat Tuhan menjadi orang yang bermisi mulai hari ini. Mari secra pribadi kembali melakukan PI pribadi. Mari menjadi umat Allah yang rela menderita walaupun sampai martir. Ingat, Paulus berkata: “Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu.” Hal ini dilakukan demi tugas panggilan Marturia agar orang-orang percaya kepada Kristus.
Solideo Gloria!

No comments: