Monday, November 2, 2009

Seri The People of God I: The Identity God's People

Indrawaty Sitepu, MA

Tema hari ini adalah topik pertama dari empat seri The People of God, yaitu The Identity God’ People. Mari melihat realitas Gereja pada saat ini. Jika ditanya mengenai apakah Gereja, apa yang terlintas di dalam pikiran kita? Yang dimaksudkan bukanlah defenisi ideal, tetapi apa yang saat itu terlintas di dalam pikiran kita. Ada dua pernyataan yang dapat kita lihat dan pikirkan mengenai Gereja, yaitu:

1. Mengecewakan Allah dan merusak citra jemaat yang ideal.
2. Allah menginginkan identitas kita nyata sehingga menjadi model dan saksi di tengah-tengah dunia ini.

Kita akan mengawali pemberitaan Firman Allah dengan mengingat siapakah kita sesungguhnya. Mari melihat Efesus 2:11-22. Pada bagian Firman ini kita melihat bagaimana Paulus menceritakan riwayat hidup rohani dari pembacanya yang non Yahudi di dalam tiga tahapan.

1. Mereka dahulu jauh dari Allah dan dari umatNya yaitu Israel.
2. Melalui kematianNya di kayu salib, Kristus mendamaikan keduanya dengan Allah, dan menciptakan satu manusia baru.
3. Mereka tidak lagi jauh dari Allah, melainkan telah menjadi warga, umat, dan Keluarga Allah

Ketiga tahapan ini ditandai dengan ungkapan ’dahulu’ (11), ’tetapi sekarang’ (13), dan ’demikianlah’ (19). Mari melihat ke dalam tiga tahapan tersebut. Pertama, ayat 11-12 adalah gambaran tentang manusia yang teralienasi dan jauh dari Tuhan. Kita harus mengingat hal ini agar kita melihat betapa tragis dan mengerikannya keadaan kita dahulu. Dengan demikian, kita bisa melihat betapa besarnya karya Tuhan di dalam hidup kita. Kedua, ayat 13-18 adalah gambaran tentang Kristus yang membawa damai. Ketiga, ayat 19-22 adalah gambaran tentang masyarakat baru Allah. Ini adalah gambaran kita sekarang.
Mari melihat ketiga tahapan ini.

1. Keadaan Kita Dahulu (Ay 11-12)

Dalam ayat 11 dikatakan demikian: ”Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu -- sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya "sunat", yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, --”. Ayat ini mengingatkan Jemaat di Efesus bahwa mereka adalah non Yahudi, yaitu orang tidak bersunat secara lahiriah. Sunat lahiriah merupakan sunat yang dikerjakan oleh tangan manusia. Sunat inilah yang merupakan perbedaan antara orang Yahudi dan non Yahudi. Padahal, justru ada hal yang lebih penting daripada sunat lahiriah, yaitu sunat hati. Hal yang ingin ditekankan Paulus adalah bahwa dahulu mereka (jemaat di Efesus) bukan hanya tidak bersunat secara laharian, tetapi juga belum di sunat secara batin atau hati. Hati mereka penuh dengan pemberontakan terhadap Allah. Hati mereka penuh dengan kebencian, dendam, iri hati, dosa dan kegelapan (Rom 2:28-29; Fil 3:3; Kol 2:11-13). Sunat adalah tanda sebagai umat Allah, dan dahulu jemaat di Efesus, termasuk kita sekarang ini, tidak memiliki tanda itu.
Ayat 12 mengatakan: ”...bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia.” Ayat ini merupakan daftar keberadaan yang tidak berkemampuan tanpa Kristus yang ada bagi setiap kita pada masa lalu. Mungkin kita tahu tentang Tuhan, tetapi kita tidak hidup di dalam pengenalan itu (band Kis 14:15-28; Rom 1:18-32).

2. Karya Kristus (13-18).

Ayat 13 mengatakan: ”Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus.” Ada dua kata yang penting, yaitu ’di dalam Kristus’ dan ’oleh darah Kristus’.

Ayat 14 mengatakan: ”Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan,...”. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Yesus adalah pembawa damai.

Ayat 15 dan 16 mengatakan: ”...sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.”

Di dalam kedua ayat ini ada tiga kata yang penting, yaitu: membatalkan... menciptakan...mengadakan. Ketika ayat ini berbicara mengenai ’membatalkan Hukum Taurat’, tentu saja hal ini tidak bertentangan dan sama sekali berbeda dengan apa yang Yesus katakan ketika ia berkata bahwa kedatanganNya bukan meniadakan hukum Taurat, tetapi menggenapinya. ’Membatalkan Hukum Taurat’ dalam kedua ayat ini adalah berbicara mengenai hukumnya, ketentuannya, seremonialnya, seperti sunat, dan lainnya. Inilah yang dimaksud dengan membatalkan Hukum Taurat itu. Ketika Yesus berbicara mengenai bahwa kedatangannya bukan meniadakan Hukum Taurat tetapi menggenapinya, Ia berbicara soal hukum moral, bagaimana Hukum Taurat bukan hanya sekedar hukum atau ketentuan-ketentuan, tetapi harus dinafasi dengan moral dan batin yang benar. Jadi Hukum Taurat dibatalkan lalu tercipta manusia baru sehingga menimbulkan damai sejahtera.

Ayat 17 mengatakan: ”Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang "jauh" dan damai sejahtera kepada mereka yang "dekat",...” Ayat ini ingin mengatakan bahwa damai sejahtera itu bukan hanya milik sekelompok aorang saja, tetapi merupakan milik semua orang baik Yahudi maupun non Yahudi.

Ayat 18 mengatakan: ”... karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. Ayat ini menjelaskan bahwa oleh karena Dialah kita bisa beroleh damai sejahtera dan dapat bersama dengan Bapa kita.

3. Kita Sekarang Sebagai UmatNya (19-22)

Ayat 19-22 mengatakan: ”Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.”

Di sinilah kita berada seharusnya, identitas kita sebagai umat Allah. Kedua tahapan di sebelumnya diberitahukan agar kita melihat betapa mengerikannya kita dahulu. Sekarang, apakah kita masih sama dengan kita yang dahulu? Kata ’demikianlah’ merupakan sebuah kesimpulan yang diberikan Paulus kepada jemaat di Efesus. Ada tiga keberadaan atau gambaran diri kita yang memiliki identitas sebagai Umat Allah.

Pertama adalah kita sebagai warga dan komunitas baru Kerajaan Allah (19a). Kerajaan Allah di sini bukan berbicara mengenai soal Kerajaan seperti di dunia ini, tetapi berbicara mengenai satu organisme di mana Allah sendiri yang memerintah umatNya. Warganya mencakup semua bangsa dan diperintah oleh Allah sendiri, menggantikan teokrasi bangsa Israel pada zaman Perjanian Lama. Tidak ada lagi perbedaan antara orang Yahudi dan non Yahudi. Di dalam Kerajaan itu, kita tidak lagi perantau asing di negeri orang, melainkan warga kandung di negeri sendiri dengan hak kewargaan yang terjamin dan pasti yang tidak ada seorangpun yang dapat mengganggunya. Kedua adalah kita merupakan kawan sewarga dari Keluarga Allah (19b). Kita lebih dari sekedar warga Kerajaan. Kita adalah anak dalam sebuah keluarga yang dikasihi oleh Allah dimana Allah adalah Bapa kita (4:6). Dia akan menjadi Bapa kita dan selama-lamanya akan bersama-sama dengan kita. Sebagai bagian dari keluarga Allah, kita juga harus mengingat bahwa bukan hanya Allah sebagai Bapa kita saja, tetapi, ingat, kita semua adalah saudara. Kita adalah sama-sama anak dari Bapa yang kekal itu. Jika kita adalah saudara, yang merupakan Anak Allah, tentu saja Allah menginginkan kita saling mengasihi dan memiliki cinta kasih yang dalam dan perhatian yang tulus, dst. Bukan berarti tidak ada konflik. Konflik mungkin ada, tetapi tidak akan menimbulkan sakit yang berakar sangat dalam di dalam hati saudara kita. Apakah hal ini ada di sekitar kita? Atau, jangan-jangan orang lebih mendapatkan perhatian yang tulus dan cinta kasih yang dalam dari luar sesama? Ketiga adalah kita merupakan Bait Allah (20-22). Dari ayat 20-22 kita dapat melihat beberapa hal, yaitu:

a. Dasar. Ini adalah bagian yang sangat penting dari sebuah bangunan. Jadi yang menajdi dasar sebuah jemaat bukanlah orang atau jabatan, tetapi ajaran yang diilhamkan oleh Roh Kudus melalui para nabi dan rasul. Dasar ini tidak boleh diubah atau dimodifikasi.

b. Batu Penjuru. Batu Penjuru adalah bagian bangunan yang mutlak harus ada. Bagian ini sangat penting karena merupakan bagian dari fondasi yang menjamin stabilitas seluruh bangunan dan kerapian susunannya. Jika ada dasar tetapi tidak ada batu penjurunya, amka bangunan itu akan tidak stabil dan menjadi kacau. Hal inilah yang digambarkan Paulus dengan indah dimana ajaran itu adalah dasar dan Kristus adalah Batu Penjuru. Kesatuan dan pertumbuhan jemaat terkait satu sama lain dan perekat dari keduanya adalah Yesus Kristus. Jemaat dapat berkembang dan tersusun rapi selama jemaat itu terekat kepada Yesus Kristus. Jika tidak, maka kesatuan jemaat akan hilang dan pertumbuhannya terhenti dan tidak terkuasai.

Tujuan Bait Allah tidak berubah, yaitu menjadi tempat kediaman Allah. Dia mendiami mereka secara masing-masing dan sebagai komunitas di dalam roh. Orang-orang yang telah ditebus dan tersebar keseluruh dunia adalah bangunan yang menjadi tempat kediaman Allah di bumi.
Mari kita melihat diri kita. Diri kita adalah Bait Allah. Kita adalah tempat Allah berdiam. Pantas dan layakkah diri kita, dengan cara hidup kita, menjadi tempat bagi Allah untuk berdiam? Berbicara soal Kerajaan, maka Allah adalah penguasa. Berbicara soal keluarga, Dialah Bapa kita. Dan berbicara soal diri kita sendiri yang adalah Bait Allah, adalah tempat Allah berdiam. Tentu saja hal ini berhubungan dengan seluruh aspek hidup kita.

Mari mengingat kembali tiga bagian tadi. Kita dahulu terkucil, asing, terancam, dan tragis dari Allah dan dari umatNya. Tetapi, karya Kristus mengubahkannya. Kita tidak lagi orang asing, melainkan warga Kerajaan di mana Allah adalah penguasa yang berdaulat. Kita adalah anggota dari keluarga yang dikasihiNya dan kita adalah bait yang didiamiNya. Mari kembali melihat kondidi gereja, baik secara personal ataupun komunitas, apakah menyenangkan hati Tuhan atau sebaliknya, kita mengecewakan Allah dan merusak citra jemaat yang ideal? Jika kita melihat pesekutuan dan komunitas kita, apakah orang melihat Tuhan yang memimpin komunitas itu? Apakah Allah menjadi seorang Bapa di sana dan apakah Allah menjadikan masing-masing orang di dalak komunitas itu menjadi tempat kediamanNya? Allah menginginkan identitas kita, sebagai umat Allah, nyata sehingga menjadi model dan saksi di tengah-tengah dunia ini. Ingatlah, siapa anda.
Solideo Gloria!

No comments: