Friday, May 25, 2012

Seri PASKAH 1: INKARNASI

(Refleksi Keunikan Iman Kristen)

[Kotbah ini dibawakan oleh Effendy Aritonang, SE, M. Div pada Mimbar Bina Alumni pada hari Jumat, 27 April 2012]


Pada tanggal 16 Juli 1969, pada pukul 13.32 waktu setempat di Merrit Island, Florida, Amerika Serikat berhasil meluncurkan Apolo 11. Empat hari kemudian, yaitu pada tanggal 20 Juli, Apollo yang diawaki Neil Amstrong, Michael Collins, dan Edwin Aldrin, berhasil mendarat di permukaan bulan dan memenuhi ambisi Presiden John F. Kennedy untuk mendaratkan manusia di bulan sebelum tahun 1970. Pada waktu ketiga astronot itu mendarat di bulan, presiden Amerika pada saat itu, Presiden Nixon, menyampaikan pidato di media. Dia mengatakan bahwa keberhasilan Amerika Serikat mendaratkan manusia di bulan merupakan peristiwa paling besar dan paling bersejarah dalam sepanjang sejarah kehidupan manusia.

Hari itu, setelah menyampaikan pidato itu, presiden Nixon mendapat telepon dari Billy Graham. Billy Graham berkata pernyatan presiden Nixon yang mengatakan bahwa pendaratan manusia di bulan sebagai peristiwa paling penting dalam sejarah manusia adalah salah. Billy Graham mengingatkan presiden Nixon bahwa peristiwa paling besar, menentukan dalam sejarah manusia adalah ketika Allah datang ke dalam dunia, berinkarnasi di dalam Yesus Kristus, hidup, mati tersalib, dan bangkit kembali.
Secara etimologi, kata ‘incarnation’ berasal dari bahasa latin, yaitu ‘incarno’, yang berasal dari prefix in dan cartio (daging/tubuh). Jadi dapat didefinisikan secara etimologi bahwa inkarnasi berarti “membuat menjadi daging” atau “dibuat menjadi daging’.

Inkarnasi adalah doktrin unik yang membentuk dan merajut kekristenan. Doktrin inkarnasi membuat Yesus menjadi bukan sekedar nabi besar ataupun seorang pendiri agama saja. Jika kita menyatakan bahwa Yesus adalah nabi yang hebat, maka tidak akan ada orang yang keberatan. Tetapi ketika kita mengatakan bahwa Yesus adalah inkarnasi dari Allah yang kekal, maka akan banyak muncul ketidaksetujuan. Doktrin inkarnasi memberi implikasi bahwa Yesus telah ada sebelum eksistensiNya di dunia dan tetap senantiasa ada setelah eksistensiNya di dunia ini. Dengan kata lain inkarnasi berarti bahwa Yesus adalah Allah. Doktrin inilah yang menjadi inti dari iman Kristen. Secara tidak langsung, doktrin inkarnasi ingin menyatakan bahwa Yesus lebih dari sekedar manusia karena Dia adalah - jika kita tidak mau menyebutnya Allah - sesuatu yang lain yang bukan manusia yang sekarang menjadi manusia. Tetapi iman Kristen menyatakan bahwa ‘sesuatu yang lain’ itu adalah Allah sendiri yang menjadi manusia.

Doktrin inkarnasi ini menimbulkan banyak masalah. Jika kita lihat dari sudut pandang filsafat maka masalah yang pertama adalah bagaimana mungkin Allah yang transcendent (sesuatu yang jauh di luar sana, yang tidak tersentuh) bisa menjadi immanent (bisa dilihat dan disentuh melalui peristiwa inkarnasi)? Bagaimana mungkin Allah yang transcendent sekaligus immanent dalam waktu yang bersamaan. Kemudian bagaimana Allah yang immaterial (spiritual) sekaligus material? Banyak masalah yang muncul.Sejarah gereja mencatat berbagai pergumulan komunitas iman untuk memahami misteri inkarnasi. Ada banyak pendapat. Sebagian pendapat tersebut dicap bidat. Komunitas iman berulang-ulang mencoba mendeskripsikan keunikan Iman ini.

Definisi paling luas dan dianggap konsisten dirumuskan dalam berbagai konsili. Ada Konsili Nicea I tahun 325, Konsili Efesus tahun 431, dan Konsili Chalcedon tahun 451. Konsili-konsili ini mendeklarasikan dan menegaskan bahwa Yesus adalah sepenuhnya Allah – datang dari Bapa namun bukan diciptakan; dan bahwa Ia adalah sepenuhnya manusia – Dia mengambil rupa seorang manusia. Kedua natur ini, Ilahi dan manusia, menyatu utuh dalam satu pribadi Yesus Kristus yang oleh pengakuan Chalcedon dikatakan without confusion (tidak melebur), without change (tidak ada yang berubah dimana manusianya tetap utuh dan Allahnya tetap utuh), without division (tanpa pembagian), and without separation (tanpa pemisahan).

Kita tidak akan pernah bisa tuntas menjelaskan mengenai inkarnasi ini. Inkarnasi kelihatannya akan tetap menjadi misteri iman bagi kita. Ada satu titik di mana kita harus dengan rendah hati mengatakan bahwa kita tidak tahu dan tidak bisa menjelaskannya. Inkarnasi juga merupakan sebuah undangan bagi orang Kristen untuk datang menghampiri Allah denagn sikap rendah hati dan menyadari bahwa ada banyak hal tentang Allah yang membuat kita hanya bisa diam.

Secara biblika/teologia inkarnasi juga menimbulkan persoalan lain. Bagaimana kita melihat teologi Inkarnasi? Apakah kristologi tentang Yesus yang berinkarnasi itu merupakan teologi yang dibangun karena ada hirarki dari atas atau karena proses dari umat sendiri dari bawah yang akhirnya melihat Yesus sebagai Allah? Harus diakui bahwa seluruh tulisan dalam PB ditulis dalam perspektif kebangkitan dan hal ini tentu saja mempengaruhi cara mereka melihat Yesus. Ada orang dengan krisis bertanya seandainya Markus, Matius, Markus, dan Paulus menulis tentang Yesus sebelum Dia bangkit, apakah mereka akan menuliskan hal yang sama dengan apa yang mereka tulis ketika mereka telah melihat dan mengalami Yesus bangkit dalam hidup mereka? Ini adalah pertanyaan yang sangat tricky. Tentu saja kita harus mengakui bahwa sudut pandang semua penulis-penulis PB dipengaruhi karena mereka melihat Yesus bangkit.

Masalah juga muncul dalam melihat apakah itu sebagai proses ‘Christology from Below’ (melihat Yesus berfokus kepada hidup dan pelayananNya) atau ‘Christology from Above’ (memberikan penekanan kepada ‘karya-karya spiritual’ Yesus, seperti pembenaran, penebusan, dll). Ini adalah pesoalan-persoalan yang muncul.

Di luar pembicaraan kita tentang Yesus ada banyak sekali perdebatan-perdebatan yang sangat rumit tentang siapakah Yesus. Doktrin inkarnasi merupakan undangan bagi kita untuk bergumul dengan sekuat tenaga dalam anugerah Tuhan untuk bisa secara konsisten dan secara utuh menghadirkan Yesus sebagaimana Dia dinyatakan oleh Alkitab tanpa terperangkap oleh higher Christology atau lower Christology.

Kita akan melihat inkarnasi dari dua bagian alkitab yaitu Yoh 1:1-14 dan dan Fil 2:5-11. Mari melihat apa yang dikatakan Alkitab tentang siapakah Yesus dan bagaimanakah inkarnasi membentuk iman orang-orang percaya pada abad I.


Yoh 1:1-14.

Jika kita perhatikan penulis Injil selalu mengaitkan kedatangan Yesus kepada peristiwa historis yang terjadi pada masa sebelum Dia. Markus menghubungkan kedatangan Yesus dengan pelayanan Yohanes Pembaptis. Matius mengaitkan kedatangan Yesus dengan Abraham, dimana silsilah yang ditulis Matius berhenti di Abraham. Lukas mengaitkannya dengan Adam di mana Lukas menuliskan silisilah Yesus berhenti pada Adam. Dan injil Yohanes lebih jauh lagi dimana ia mengaitkan kedatangan Yesus dengan Allah sendiri. Yohanes mengaitkannya dengan titik yang jauh lebih kebelakang, yaitu penciptaan (pre Existence).

Yoh 1:1-14 ini bisa dikonstruksikan dalam tiga bagian dari perspektif Inkarnasi, yaitu bagaimana Yesus digambarkan sebelum inkarnasi (ay 1-5), pada waktu persiapan Inkarnasi (6-13), dan pada saat inkarnasi (14-48).

  • Saat Sebelum Inkarnasi (1-5)
Sebelum Inkarnasi kita bisa melihat siapa Yesus. Dalam ay 1 dikatakan, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Jadi Yesus adalah logos [Firman]. Kita bisa melihat bahwa ada relasi yang intim antara logos dan Allah – ‘Firman itu bersama-sama dengan Allah’. Bukan saja memiliki keintiman dengan Allah tetapi logos itu juga identik dengan Allah – ‘Firman itu adalah Allah’. Kata ‘bersama-sama’ membungkus keidentikan itu, tetapi intinya adalah Ia adalah Allah. Dia adalah Allah itu sendiri tetapi Allah itu sendiri adalah Allah yang berelasi dengan logos itu. Sekali lagi hal ini berbicara tentang sesuatu yang sangat kompleks. Bagaimana logos yang adalah Allah pada waktu yang sama digambarkan bahwa logos itu juga mempunyai keintiman. Saudara tidak bisa berhubungan dengan satu zat yang sama. Jika hanya ada satu unsur, maka unsur tersebut tidak bisa berelasi dengan unsur yang juga sama. Sebuah unsur anya bisa berelasi jika ada unsur yang lain. Ketika Yohanes mau bicara tentang relasi yang intim antara logos dan Allah, Yohanes tidak mau pembacanya berhenti pada keintiman. Dia mau mereka mengingat hal yang paling inti yaitu keidentikan. Logos adalah Allah itu sendiri. Logos adalah pencipta (3-5). Ini menjadi sebuah gaungo dari Kejadian pasal 1. Bukan saja Allah yang berfirman itu, tetapi Firman itu sendiri menjadi sebuah create power yang menciptakan semua yang kita sebut ciptaan. Sebelum berinkarnasi, Yesus digambarkan sebagai logos yang kekal yang bersama-sama dengan Allah dan firman itu adalah Allah itu sendiri. Pre-inkarnasi ini memberikan kepada kita perspektif lagi bahwa Dia adalah pencipta, hidup, dan terang. Semua atribut- atribut ini (pencipta, pemberi hidup, sumber terang) adalah sesuatu yang selalu dikaitkan dengan Yahwe dalam PL. Secara tidak langsung Yohanes ingin membawa pembacanya untuk berkesimpulan bahwa logos adalah Yahwe.

  • Persiapan Inkarnasi (6-13)
Pada masa itu setiap kali ada pembesar datang maka ia akan mengirimkan utusannya terlebih dahulu. Jika sang utusan datang maka orang bisa mengantisipasi kedatangan tamu yang sebenarnya (band. 1:22-27). Yohanes adalah seorang utusan dan hal ini menandakan bahwa akan datang lagi yang lain setelah ia yaitu pribadi yang sangat Agung dan Mulia. Pengharapan mesianik bangsa Israel akan digenapi dan Yesus sang Inkarnasi itu juga adalah Mesias yang dinanti-natikan oleh orang Israel. Pada ay 10-13 kita bisa melihat bagaimana kira-kira respon orang akan inkarnasi. Ada yang menolak (10-11) dan menerima (12-13). Penolakan digambarkan sebagai sebuah gambaran yang ironis dimana Sang Pemilik tidak diterima oleh milik kepunyaaNya. Jika kita membaca seluruh kitab Yohanes kita akan menemukan dua hal ini, ada orang yang menerima dan ada orang yang menolak.

  • Moment of Inkarnation (14-18)
Apa yang kita sebut dengan inkarnasi? Ay 14 dikatakan, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” Frase ‘Allah diam bersama kita’ mempunyai arti literal ‘memasang tenda diantara kita’. Ini adalah sebuah gambaran yang sekali lagi merupakan gaung dari apa yang digambarkan oleh PL. Hal ini merujuk kepada Tebernakel Yahweh yang diam diantara umat Israel dalam perjalanan keluar mereka dari Mesir ke Kanaan. Ini adalah sebuah gambaran yang menggambarkan akan persekutuan dan juga tentang kemuliaan. Kemuliaan Allah kembali hadir. Yesus itu ibarat tebernakel Allah yang hidup. Kemuliaan Allah ada lagi di tengah-tengah manusia. Kemuliaan yang diberikan sebelum dunia dijadikan penuh kasih karunia dan kebenaran. Moment of incarnation is moment of grace (hal ini diulang-ulang dari ay 14-17). Allah datang membawa hidup baik secara spiritual atau jasmaniah.

Pada ay 15 ada penegasan kembaliakan pre-eksistence Yesus (band 1:10). Kisah dalam Injil menunjukkan bahwa Yohanes lahir lebih dahulu dari Yesus, tetapi kemudian Yohanes berkata Dia telah ada sebelum aku ada (band. Yoh 8:58). Inkarnasi adalah puncak pewahyuan Allah akan dirinya sendiri. Anugerah membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Semua orang dalam PL jika melihat Allah akan mati. Dalam kesaksian Alkitab, hanya Musa yang pernah bertemu muka dengan muka dengan Allah dan masih hidup. Anugerah adalah hal yang memungkinkan kita bisa melihat Allah dalam wujud yang penuh dalam bentuk yang berbeda dan tidak akan mati ketika melihatNya. Inkarnasi membuat Allah bukan saja bisa dilihat, tetapi kita bisa berjalan dengan Dia.

Fil 2:5-11

Pada abad ke-18 atau 19 an ada teori lain yang berbicara soal inkarnasi. Teori ini tidak ada pada zaman sebelumnya. Ada sekelompok teolog (dari Jerman dan Inggris) yang mengembangkan teori yang disebut teori kenosis. Teori kenosis bisa didefinisikan dengan inkarnasi adalah tindakan anak Allah untuk membatasi diriNya sendiri akan keilahianNya. Sebuah kemauan untuk membatasi dirinya sendiri. Ketika Yesus berinkarnasi Dia memutuskan – dalam kerelaanNya - untuk tidak memakai sepenuhnya atribut-atrubit Alah yang ada dalam dirinya.

Teori ini memiliki banyak variasi. Teolog-teolog Jerman manyatakan bahwa Yesus benar-benar membatasi diriNya ketika Ia hidup di dunia. Tetapi teolog-teolog Inggris memberi sudut pandang lain. Mereka sebetulnya tidak mengatakan bahwa kenosis marupakan tindakan Yesus tetapi lebih kepada sebuah bentuk homevisition, yang mengatakan bahwa Kristologi yang sering di dalam alkitab adalah Kristologi yang tidak melakukan keadilan atau perlakuan yang adil terhadap kemanusian Yesus.
Pertanyaan kita bukan membahas mana yang benar dari dua pandangan di atas tetapi apakah teks ini bicara soal kenosis.

Ay 5 berkata, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,”. Dalam ayat sebelumnya kita bisa melihat bahwa ayat ini lebih kepada sebuah nasihat kepada orang-orang Filipi yang bersifat sosial. Paulus sedang menuliskan nasihat ini dan membangunnya dari sebuah refleksi teologi tentang inkarnasi Yesus. Ia ingin mengajak pembacanya untuk melihat Yesus dan meneladaniNya dan menjadi orang yang rendah hati dan mengutamakan orang lain. Dalam terjemahan aslinya ay 5 ini bisa diterjemahkan sebagai berikut ‘Lihat dan ingatlah Yesus dan cobalah untuk bisa berpikir dan bertindak seperti Dia”. Seperti apa yang dimaksud?

Dalam ay 6 dikatakan, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan”. Yesus tidak meninggalkan kualitas, tetapi yang Ia tidak pertahankan adalah kesetaran (equality not quality). Inkarnasi Yesus dimulai dari kemauan bebas Allah untuk tidak mempertahankan kesetaranNya. Status keallahan itu Ia tinggalkan dan membuat Ia bisa datang ke dalam dunia dalam wujud manusia. Ia tidak akan bisa melakukannya jika ia tidak meninggalkan kesetaraan itu. Inkarnasi hanya mungkin terjadi kalau Ia melepaskan kesetaraan itu tanpa harus meninggalkan kualitasnya. Dalam banyak hal, Yesus masih Mahatau walaupun Ia tidak selalu mendemontrasikan kemahatauanNya. Ia juga masih bisa membangkitkan orang mati. Ia tidak berdoa kepada Allah seperti para nabi yang berdoa kepada Allah untuk membangkitkan orang mati. Hal ini menunjukkan masih banyak kualitas Allah yang ada pada dirinya sewaktu Ia menjadi manusia. Ia tidak berubah, tetapi kesetaraan itu Ia tinggalkan. Apa wujud kesetaraan itu juga tidak bisa kita pahami secara penuh.

Ia juga mengosongkan diri (7). Tidak berhenti disitu namun mengambil rupa seorang hamba lalu menjadi sama dengan manusia. Bahkan lebioh lagi dimana sebagai manusia Ia merendahkan diriNya dan taat sampai mati bahkan mati di kayu salib (8). Seolah-olah Paulus ingin mangatakan kepada pembacanya bahwa Allah saja mau merendahkan diriNya sedemikan, masakan kita yang bukan Allah tidak mau melakukan hal yang sama? Bukankah Yesus adalah Allah, dan sejak Ia menjadi manusia Ia tidak menjadi manusia yang meninggikan diri tetapi merendahkan diri. Jika Ia adalah Allah yang menjadi manusia dan ketika Ia menjadi manusia Ia dengan rela merendahkan diriNya lagi, maka betapa sombongnya kita ini jika tidak bisa merendahkan diri kepada orang lain.

Ini adalah sebuah refleksi teologi yang dibuat oleh Paulus. Paulus memakai bagaian ini sebagai refleksi teologisnya dan menjadikannya sebagain dasar argumennya untuk mengatakan kepada pembaca suratnya bahwa tidak ada alasan untuk tidak merendahkan diri kepada orang lain. Mengapa? Karena Allah sudah merendahkan diri. Secara moral merendahkan diri harusnya menjadi mode atau cara hidup atau pilihan-pilihan yang dipilih oleh orang-orang percaya terhadap orang lain. Paulus sekarang mengaitkan sebuah refleksi teologis untuk membangun sebuah karakter. Ini sebagai sebuah refleksi teologis yang dilakukan Paulus yang bergerak dari teologi sebagai sebuah konstruksi konsep dan filsafat menjadi sebuah platform etika moral dan sosial.

Di sinilah interaksi perenungan-perenungan kitab suci dengan pembentukan karakter. Jadi waktu kita membaca alkitab dan merenungkan perbuatan-perbuatan Tuhan harusnya itu membawa kita kepada sebuah transformasi karakter. Jika tidak, maka dia tidak sampai kepada tujuan akhirnya. Kita boleh belajar setinggi apapun, tetapi jika pelajaran ataupun perenungan teologi kita yang sangat tinggi tetapi tidak membuat kita bisa turun dan merendahkan diri maka itu adalah sebuah tragedi. Disinilah kita melihat keterkaitan antara teologi dan etika. Berteologi seharusnya tidak berhenti pada pembangunan sebuah wacana berpikir saja namun seharusnya tiba pada formasi moral dan etika. Lewat teks ini Paulus mengajak pembacanya untuk menjadikan Inkarnasi menjadi kerangka yang membangun hubungan antar priobadi orang-orang percaya. Allah telah menjalani perjalan untuk menjadi sama dengan manusia. Sebuah perjalanan dari tempat yang paling tinggi dan turun tempat yang paling rendah. Jika Allah telah menjalani ini, seharusnya kita juga bisa melakukan perjalanan untuk turun ke bawah. Perjalanan iman itu seharusnya menjadi perjalanan yang turun ke bawah bukan naik ke atas.

Dalam ay 9-11 ada hal yang menarik. Ketika Yesus ditinggikan Ia menjadi pasif. Yesus tidak meninggikan diriNya sendiri. Yang meninggikan dirinya adalah Allah, tetapi ketika Ia turun dan merendahkan diri Ia yang aktif. Ini adalah sebuah perenungan yang menarik. Kita sering terbalik. Kita begitu aktif untuk meninggikan diri dan begitu pasif untuk merendahkan diri. Yesus memberikan sebuah model dimana kita seharusnya aktif membuat diri kita semakin lama semakin rendah untuk bisa melayani Tuhan dan sesama dan membiarkan Allah atas kemauanNya sendiri untuk membuat kita – kalau dirasa perlu-semakin tinggi. Jangan terlalu aktif untuk meninggikan diri. Jika kita ingin memakai ayat ini dengan konsisten jangan hanya terlalu tetapi tidak boleh sama sekali aktif. Tindakan meninggikan diri itu harusnya pemberian Allah jika dianggap perlu oleh Allah. Pada waktunya jika Allah ingin meninggikan Ia akan melakukannya.

Inkarnasi itu menjadi sebuah refleksi teologis yang baik bagi kita. Kita bisa menjadikan inkarnasi menjadi komoditas perdebatan teologis yang rumit. Tetapi harus tetap mengarahkan kepada penegnalan akan Kristus yang semakin dalam agar tidak kehilangan esensinya karena sesensi dari teologis adalah kita bertemu dnegan Tuhan dan semakin mengenalnya dengan baik. Atau kita juga bisa memakai inkarnasi itu menjadi refleksi-refleksi teologis yang menyuburkan iman kita.

Refleksi
Jürgen Moltman, seorang teolog Jerman, membedakan antara apa yang disebut ‘Inkarnasi kebetulan’ [fortuitous Incarnation] dan ‘Inkarnasi yang diperlukan’ [Necessary Incarnation]. Yang kedua memberikan penekanan makna sotereologis (doktrin keselamatan) kepada Inkarnasi dimana Anak Allah menjadi manusia agar Ia bisa menyelamatkan kita dari dosa. Sedangkan yang pertama, di sisi lain berbicara tentang Inkarnasi sebagai pemenuhan kasih Allah, keinginanNya untuk hadir dan hidup di tengah-tengah umat manusia, untuk “berjalan bersama kita di taman Eden”.

Inkarnasi menjadi sebuah gambaran yang paling nyata memperlihatkan keinginan Allah yang begitu besar untuk bersekutu dengan kita. Allah begitu mengasihi kita dan Ia ingin kembali bersekutu degan kita. Seluruh potret manusia dengan Allah hanya berbicara mengenai hal ini. Kitab Kejadian berbicara soal Allah yang intim dengan manusia di taman Eden. Kemudian manusia jatuh dalam dosa. Tetapi kejatuhan itu tidak membuat kerinduan Allah bersekutu dengan manusia hilang. Inkarnasi adalah wujud Allah sekali lagi datang dan berjalan dengan kita. Dan gambaran akan pesekutuan dengan Allah ini kelihatan kembali dalam kitab Wahyu dimana kita bersama-sama dengan Allah lagi untuk selama-lamanya. Darimana kita tahu bahwa Allah mengasihi kita dan ingin emyelamatkan kita, lihatlah inkarnasi. Inkarnasi adalah sebuah undangan untuk kita bisa kembali bersatu dan berjalan bersama dengan Allah.

Inkarnasi juga memberikan kepada kita nilai yang begitu tinggi terhadap kemanusiaan. Alkitab memebrikan bahwa ada dua poin penting akan kemanusiaan. Pertama kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Fakta ini sebenarnya sudah cukup membuat kita tersanjung ke awang-awang. Yang kedua, Allah berinkarnasi menjadi manusia. Allah tidak merasa enggan atau terhina ketika Ia menjadi manusia. Allah bangga menjadi manusia. Setelah bangkit Yesus tidak meninggalkan wujud manusianya. Ia masih manusia. Dan jika kita membaca Wahyu, bahkan dalam kemuliananNya ketika Ia datang kembali, kita akan menemukan Dia sebagai manusia. Bersama dengan kita dalam seluruh kekekalan, Yesus akan hadir dalam bentuk manusia. Nilai yang tinggi akan kemanusiaan.

Itulah sebabnya orang kristen haruslah menjadi orang yang pertama di garis depan untuk memperjuangkan segala pelanggaran terhadap hak-hak manusia, segala bentuk tindakan yang merendahkan martabat manusia, atau segala bentuk apapun juga yang melecehkean kemanusiaan. Karena hal itu betentangan dengan potret manusia yang diberikan oleh Alkitab. Itulah sebabnya orang Kristen harus terlibat dalam pengembangan masyarakat (community development). Siapa yang mengatakan bahwa pengembangan masyarakat tidak alkitabiah berarti dia tidak memahami apa yang alkitab katakan tentang kemanusiaan.

Inkarnasi seharusnya membuat kita menghargai manusia seutuhnya. Perjumpaan kita dengan Allah yang berinkarnasi itu adalah adalah puncak pemenuhan hidup manusia itu sendiri. Itu sebabnya kita tidak bisa memisahkan penginjilan dan pengembangan kemanusiaan. Allah telah menjadi manusia dan jangan membuat manusia menjadi seseuatu yang rendah dari apa yang dimakudkan oleh Allah. Kita harus menghargai kemanusiaan kita baik diri sendiri atau orang lain sebagaimana yang Aklitab kehendaki. Solideo Gloria!

No comments: