Tuesday, October 16, 2012

Eksposisi 1 Petrus 5:1-11


Drs. Tiopan Manihuruk, M. Th

 [Dibawakan pada ibadah Mimbar Bina Alumni, Jumat 13 Juli 2012]

Hari ini kita akan belajar bersama mengenai pasal terakhir dari surat 1Petrus ini. Setelah banyak berbicara tentang panggilan sebagai umat Allah (1Pet 2:9), maka penting sekali menjaga kekudusan (1Pet 1:15-16) dan penderitaan karena ketaatan pada Tuhan(pasal 3-4), maka Petrus mengakhiri surat yang pertama dengan panggilan untuk melayani khususnya para penatua di jemaat diaspora.

Pasal 1-4 ditujukan kepada semua orang percaya (jemaat), tetapi pasal 5: 1-4 khusus bagi para pekerja Tuhan (penatua). Ada beberapa hal yang mendasari Petrus menuliskan hal ini kepada penetua. Pertama, sebagai sesama hamba Tuhan (teman penatua – ay 1). Kedua, karena Petrus adalah saksi penderitaan Kristus (sebagai Rasul) di mana dia bersama orang percaya juga sedang sama-sama menderita karena Kristus (5: 1). Hal ini penting, jika tidak dorongan atau motivasi yang kita berikan kepada orang lain akan menjadi hampa jika kita tidak pernah mengalaminya (1Yoh 1:1-4). Semua yang Petrus alami bukan teori tetapi pengalaman nyata selama hidup bersama dengan Yesus dan mengalami penderitaan oleh karena iman kepada Kristus. Dasar ketiga adalah kesadaran bahwa orang yang akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak – bukan hanya sebagai orang beriman tetapi juga sebagai hamba Tuhan yang menderita demi umat karena Kristus.

Dalam bagian ini kita melihat bagaimana Petrus memberikan nasihat kepada penatua ini. Nasihatnya adalah gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri (ay 2). Satu hal yang disadarkan Petrus adalah perintah untuk menggembalakan dalam hal ini merawat atau memelihara (bandingkan dengan pengalaman pemazmur dalam Maz 23 akan gembala yang baik dan juga dalam Yeh 34:11-16 di mana konsep inilah yang dipakai Petrus dalam hal menggembalakan). Apa yang digembalakan? Yaitu kawanan domba Allah yang ada padamu. Petrus ingin menekankan bahwa jemaat itu bukan milik mereka (manusia) tetapi milik kepunyaan Allah yang dipercayakan kepada penatua untuk digembalakan dan harus bertanggung jawab kepada Allah sebagai Pemilik. Sebagai seorang pelayan (apakah pemimpin kelompok atau pengurus ikatan alumni) kita harus mengingat bahwa yang kita layani adalah kawanan domba Allah yang dipercayakan kepada kita. Penyadaran akan hal ini membuat kita bertanggungjawab dalam mengerjakan tanggungjawab kita. Penyadaran akan hal ini juga akan membuat kita tidak dalam posisi mengeksploitasi orang yang kita layani (Yeh 34:1-6 adalah kisah eksploitasi yang dilakukan gembala jahat).

Kemudian Petrus melanjutkan bahwa dalam menggembalakan kawanan domba Allah kita tidak boleh terpaksa, tetapi sukarela sesuai dengan kehendak Allah (ay 2). Ingat, sukarela berasal dari kata ‘suka’ dan ‘rela’. Jadi bukan semau kita, jika kita sempat, atau lagi mood. Tetapi dalam menggembalakan jemaat kita harus sukarela memiliki standar sesuai dengan kehendak Allah. Sedih sekali melihat banyak sekali pelayan Tuhan yang melayani berdasarkan kehendak atau mood sendiri, sehingga dengan gampang memutuskan untuk istirahat atau cuti dalam pelayanan. Sebagai seorang yang memahami kehendak Allah, kita tidak boleh terjebak dalam situasi ini karena hal ini hanyalah standar kita.

Kita juga tidak boleh mencari keuntungan, tetapi pengabdian (ay 2). Melayani itu adalah memberi dan mengorbankan yang kita punya. Seorang pelayan tidak menghitung apa yang sudah ia serahkan (waktu, tenaga, atau uang) tetapi menghitung apa lagi yang masih bisa ia persembahkan. jika kita melakungan hitung-hitungan maka kita bisa mengharapkan balas jasa dan terjebak dalam dosa kesombongan.

Dalam melakukan tugas penggembalaan tidak boleh ngebos, melainkan menjadi teladan (ay 3, band 2Tim 3:10). Pemimpin duniawi memerintahkan seseorang melakukan sesuatu, sedangkan pemimpin rohani menunjukkan kepada orang lain bagaimana melakukan sesuatu. Yang ditekankan oleh Petrus adalah betapa besarnya pengaruh teadan kepada orang lain (khususnya yang kita layani). Apa yang kita lakukan berbicara lebih keras dari apa yang kita ucapkan. Mari kita senantiasa membenahi diri agar menjadi pemimpin yang baik bagi mereka yang kita layani. Sama seperti Paulus yang berkata kepada Timotius, “Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku” (2Tim 3:10). Inilah teladan!

Jikla semua hal ini dilakukan kepada jemaat maka akan menghasilkan dampak dimana saat Gembala Agung datang (2nd coming of Christ) kita akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu (ay 4, band 2Tim 4:7-8).
Setelah memberikan nasihat kepada penatua, pada bagian selanjutnya Petrus memberikan nasihat kepada orang muda. Pertama, tunduklah kepada orang-orang tua (dalam terjemahan lain orang yang lebih tua) (ay 5a). Ingat, soal ketundukan disini adalah dalam prinsip kebenaran. Jika yang diperintahkan senior itu sesuai dengan firman Tuhan kita harus taat. Tetapi jika yang diperintahkan senior itu bertentangan dengan firman Tuhan kita harus menolaknya. Tetapi tetap menghormati dirinya. Menghormati wajib, tetapi menaati tidak. Selama yang diperintahkan sesuai dengan firman Tuhan kita harus taat, tetapi jika tidak sesuai dengan firman Tuhan kita harus tolak.

Nasihat kedua adalah merendahkan diri seorang terhadap yang lain (5b) sebab: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati (5c). Prinsip yang perlu dibangun adalah aktif merendahkan diri di bawah tangan Tuhan yang kuat dan pasif akan ditinggikan oleh Allah (ay 6). Kristus aktif berinkarnasi tetapi Allah meninggikan Dia (Fil 2:5-11).

Ketiga, tidak perlu kuatir (NIV – cast all your anxiety) baik penatua maupun kaum muda, karena Allah memelihara (ay 7). Banyak orang Kristen sudah berdoa menyerahkan kekuatirannya kepada Allah tetapi masih tetap menanggung semua bebannya sendiri dan membuat mereka masih tetap dalam pergumulan. Mari menyerahkan semua kekuatiran kita kepada Tuhan dan hal ini butuh latihan (lih Mat 6:25-33). Dan Petrus menasehatkan hal ini dalam konteks menderita sebagai orang percaya dan dalam menggembalakan kawanan domba Allah serta kaum muda dalam menjalani kehidupannya (hari esok).

Nasihat berikutnya adalah sadar dan berjaga (be self-controlled and alert – ay 8) sebab iblis, lawan kita (bukan kawan) bagaikan singa yang siap menerkam (band Mat 26:41). Hal ini juga perlu latihan. “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (Fil 4:8). Mari kita belajar untuk melatih diri untuk waspada dan berjaga-jaga dari stimulus yang selalu datang melalui panca indera kita. Iblis itu dilawan dengan iman yang teguh dan sadarlah bahwa bukan hanya kamu yang mengalami hal yang sama, tetapi seluruh orang percaya di dunia (5: 9). Pertahanan yang terbaik adalah menyerang. Itulah sebabnya jangan ada alumni yang tidak melayani. Ketika kita melayani kita sedang berperang melawan iblis. Tidak akan ada alumni yang bisa bertumbu secara rohani tanpa melayani. Tidak ada alumni yang mampu berdiri dalam kebenaran jika tidak terlibat dalam pekerjaan Allah (apakah memimpin kelompok, pengurus di ikatan alumni atau gereja, dll).

Ingatlah bahwa Allah (sumber segala kasih karunia dan yang telah memanggil dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal) akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kita dengan doa dan firman (will restore you and make you strong, firm and steadfast -5: 10, bd. Yos. 1: 6-9). Penderitaan yang kamu alami itu tidaklah lama (5: 10b) jika dibandingkan dengan kenikmatan kemuliaan dalam kekekalan bersama dengan Allah di Sorga. Jangan ada yang mengeluh karena penderitaan yang dialaminya terasa sangat lama. Saya tidak tahu apa yang menjadi pergumulan kita tetapi dari kacamata kekekalan penderitaan yang kita alami adalah seketika lamanya.

Dasar jaminan ayat 10 adalah bahwa Allah pemilik kuasa selama-lamanya (bukan hanya maha kuasa) (5: 11). Kekuatan Iblis dan juga mereka yang dipakai Iblis sebagai alatnya untuk membuat umat Allah menderita, sangatlah terbatas. Mereka hanya dapat membunuh tubuh tetapi Allah berkuasa membunuh jiwa. Masihkan kita yakin bahwa Allah berkuasa menolong kita dalam pergumulan dan penderitaan kita? Masihkan kita yakin bahwa Allah berkuasa memberikan yang terbaik kepada kita? Masihkan kita yakin bahwa Allah berkuasa menyembuhkan kita dari pergumulan penyakit? Ingat, ada jaminan bahwa Allah yang berkuasa untuk menolong kita, memelihara dan menjaga kita karena Allah adalah pemilik kuasa selama-lamanya. Jangan seorangpun kita yang meragukan kemahakuasaan dan kebaikan Allah. Tetapi yakinilah bahwa Allah berkuasa dan sanggup untuk menolong kita.

Solideo Gloria!

No comments: