Tuesday, October 16, 2012

Eksposisi 1Petrus 4


Drs. Tiopan Manihuruk, M. Th

[Dibawakan di ibadah Mimbar Bina Alumni pada hari Jumat, 6 Juli 2012]

1Pet 4:1 “Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamu pun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, -- karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa --,”

Hari ini kita akan masuk pada 1Petrus 4. Dalam terjemahan NIV kata yang dipakai untuk mengawali ay 1 adalah therefore (karena itu). Kata ini mengacu pada 1Petrus 3:19-22 yang merupakan sisipan yang dibuat Petrus sebagai interval dari pasal 3 ke pasal 4. Hal ini terkait dengan pasal 3:17-18 mengenai penderitaan karena melakukan perbuatan yang baik atau benar atau karena ketaatan kepada Allah, bukan karena dosa.
Yang menjadi dasar kita sehingga bisa memiliki hidup demikian adalah:
  1. Kristus yang dengan rela (willingness) menderita badani karena ketidakadilan, maka orang percaya harus mempersenjatai diri dengan pemikiran yang sama. Jadi murid yang mengikuti teladan dan pengalaman sang guru. Sang Guru dan Tuhan saja mengalami hal yang sedemikian, apalagi kita. Hal ini penting untuk kita pamahi. Jika kita menghadapi tantangan karena Kristus, ingatlah bahwa Yesus sendiri, Sang Tuhan, telah mengalaminya lebih dahulu.
  2. Sikap dan pengalaman seperti di atas (menderita badani karena ketidakadilan) memampukan seseorang untuk mengarahkan prioritas hidupnya (4: 1b). Justru ketika kita menghadapi kesulitan dalam hidup karena ketaatan kepada Allah akan membuat kita memilah apa sebenarnya prioritas dalam hidup kita. Jika kita ingin mencemplungkan diri dalam dunia yang jahat maka kita tidak akan perlu mengalami berbagai penderitaan. Satu hal yang membuat kita mampu bertahan dalam kebenaran ketika mendapat tekanan atau penderitaan adalah jika kita memiliki nilai hidup dan prioritas yang jelas. Ketika menghadapinya kita tidak pernah menyesal atau menggerutu bahkan menyesal telah menjadi orang Kristen. Keinginan dan tindakan dosa yang sebelumnya kelihatan penting, sekarang tidak signifikan lagi ketika kehidupan seseorang dalam keadaan bahaya (jeopardy). 
  3. Menderita karena ketaatan kepada Kristus bermuara pada penyucian. Penyucian dalam kekristenan itu ada dua. Pertama adalah justification atau pembenaran. Orang yang beriman kepada Kristus adalah orang-orang yang dibenarkan dan benar di hadapan Allah. Ada relasi antara hidup benar dengan kekudusan. Kedua, sanctification atau proses penyucian yang terus berkembang (progresif). Jika pembenaran adalah sekali untuk selamanya maka penyucian terjadi setiap hari ketika kita jatuh ke dalam dosa (band 1Petr 1:15-16). Dalam kerangka inilah orang-orang yang percaya, meski mengalami penderitaan, dipanggil oleh Allah untuk masuk dalam kehidupan yang suci. 
  4. Dalam ay 2 dikatakan, “supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.” Yang dikatakan Petrus adalah apapun yang terjadi di dalam hidup kita, termasuk mengalami ketidakadilan karena ketaatan kepada Allah, ingatlah bahwa hal yang paling penting di dalam menentukan hidupmu adalah kehendak Allah di dalam hidupmu. Jadi bukan kenyamanan (comfort zone), bukan materi, bukan promosi, tetapi kehendak Allahlah yang menjadi dasar utaman dalam hidup kita. Apapun yang kita pilih dan lakukan dasar utama adalah kehendak Allah. Dengan kata lain kehendak Allah faktor penentu dalam kehidupan.

Mengapa kita harus memiliki sikap seperti ini adalah sebab telah cukup banyak waktu kamu pergunakan untuk melakukan kehendak orang-orang yang tidak mengenal Allah. Kamu telah hidup dalam rupa-rupa hawa nafsu, keinginan, kemabukan, pesta pora, perjamuan minum dan penyembahan berhala yang terlarang (ay 3). Inilah juga yang menjadi sebab mengapa jemaat difitnah. Dalam ay 4 dikatakan, “Sebab itu mereka heran, bahwa kamu tidak turut mencemplungkan diri bersama-sama mereka di dalam kubangan ketidaksenonohan yang sama, dan mereka memfitnah kamu. Ada perubahan yang radikal dalam diri mereka yang membuat orang-orang di sekitar mereka menfitnah bahwa mereka tetap melakukan yang jahat. Hal inilah yang membuat mereka menderita dalam ketidakadilan. Itulah sebabnya dalam 1Pet 2:12 Petrus berkata, “Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.” (band 3:15-17).

Dalam ay 5 dikatakan, “Tetapi mereka harus memberii pertanggungan jawab kepada Dia, yang telah siap sedia menghakimi orang yang hidup dan yang mati.” Apa yang hendak dikatakan Petrus adalah agar jemaat bertahan meski dalam ketidakadilan dengan sebuah kesadaran bahwa penghakiman menantikan mereka yang jahat (5). Pembalasan bukan hak kita tetapi milik Allah. Mari bediri teguh di dalam kebenaran (lihat Rom 12:19). Ada Allah yang akan menjadi Hakim yang adil. Jangan benci mereka yang melakukan ketidakadilan terhadap diri kita sebab mereka harus memberi pertanggungan jawab kepada Dia, yang telah siap sedia menghakimi orang yang hidup dan yang mati.

Mengapa demikian? Dalam ay 6 dikatakan, “Itulah sebabnya maka Injil telah diberitakan juga kepada orang-orang mati, supaya mereka, sama seperti semua manusia, dihakimi secara badani; tetapi oleh roh dapat hidup menurut kehendak Allah.” Injil telah diberitakan pada orang-orang mati (dulu ketika mereka masih hidup Injil diberitakan kepada merekal, dan sekarang mereka telah mati - 4: 6). Bagian ini berbeda dengan 1Petrus 3: 19-20 di mana Yesus memang pergi ke dunia maut (band. pengakuan iman rasuli kita “yang turun dalam kerajaan maut”) dan Ia pergi ke sana dalam Roh dengan alasan bukan untuk sebuah pertobatan tetapi memberitakan sebuah deklarasi bahwa Ia adalah Tuhan yang mengalahkan dosa dan maut. Tidak ada kesempatan bagi orang mati (mati dalam keberdosaan) untuk diselamatkan (lihat Ibr. 9: 27).

Dalam ay 6b dikatakan ada dua frasa yang menarik yaitu ‘dihakimi secara badani’ dan ‘tetapi oleh roh dapat hidup menurut kehendak Allah’. Dihakimi secara badani’ maksudnya adalah bahwa semua manusia tunduk kepada penghakiman baik dalam kekinian (Yoh 5:24) dan kehidupan kelak (4:5). Sedangkan ‘oleh roh dapat hidup menurut kehendak Allah’ (4: 6c) adalah alasan kedua kenapa Injil telah diberitakan dahulu (sebelumnya) kepada mereka yang telah mati di mana orang yang mendengar dan percaya kepada Injil akan hidup sebagaimana Allah hidup, yaitu hidup yang diberikan oleh Roh. Arti yang lain adalah bahwa alasan pemberitaan Injil supaya umat Allah meskipun mereka diperlakukan jahat dan dibunuh oleh karena hidup benar, akan memiliki hidup kekal yang diberikan oleh Roh.

Mari melihat bagian berikutnya (ay 7-11). Setelah memaparkan sikap terhadap orang yang berbuat jahat, Petrus masuk pada sikap positif lainnya yang perlu dibangun di dalam diri orang percaya. Hal ini diawali dengan keyakinan akan kedatangan Kristus yang kedua. Ay 7 dikatakan, “Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.” Petrus berkata ‘kesudahan segala sesuatu sudah dekat’ itu ada masa eskatologis, yaitu kedatangan Kristus kedua kali (mengacu pada ay 5 dan 6, band Yak 5:9; 2Pet 3:3-10). Di dalam ini ada dua hal, di mana dalam konteksnya Petrus berkata dalam general eschatology, tetapi hal ini juga tidak luput dari personal eschatology.

Kesadaran eskatologi mendasari Petrus menasehatkan Jemaat akan beberapa hal, yaitu: 
  1. ‘Kuasai diri’ (be clear minded), jadilah tenang (self-controlled) supaya dapat berdoa (4:7a). Mengapa? Ada ketakutan, kegelisahan dan kebisingan dapat membuat orang sulit berdoa (Lih. 3: 13-17; 4: 1-6). Pasti kita pernah mengalami situasi dimana kita sulit untuk berdoa. Hal ini bisa terjadi karena stress dan kebisingan hati. Itulah sebabnya Petrus berkata “kuasailah dirimu”. Hal ini bisa membuat kita berdoa. 
  2. Mengasihi dengan sungguh (deeply) karena kasih menutupi banyak dosa (4: 8). Ini bukanlah  ‘kasih yang karena dan supaya’ tetapi ‘kasih meskipun’ ( bd. Mt. 18: 21-22). Bagaimana bisa memaafkan dan memberi kasih kepada seseorang adalah dengan menghitung kebaikan yang pernah kita terima dari dirinya. Jangan hanya mengingat kejahatan yang pernah dilakukannya. 
  3. Murah hati (offer hospitality - 4:9, bd. Rom. 12: 13). Kita dapat memberi tanpa kasih, tetapi kita tidak dapat mengasihi tanpa memberi. 
  4. Melayani sesuai karunia/talenta (4: 10, lih. Rom. 12: 4-8).

Nasihat dalam Ay 8-10 ini berlaku untuk internal (sesama orang beriman) dan juga eksternal (orang yang berbuat jahat bagi mereka). Jadi ada pelayanan sesuai dengan karunia yang akan memberi dampak seperti pada ay 11, dikatakan disana, “Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin.”

Dalam bagian selanjutnya (12-19) kita menemukan beberapa nasihat (ulangan) dan dorongan. 
  1. Tidak perlu heran jika harus mengalami penderitaan (4: 12) [terj NIV ‘do not surprised at the painful trials you are suffering’]. Mengapa tidak perlu heran adalalah karena penderitaan yang kita alami adalah hal yang biasa (1Ptr. 3: 13-4:6). Pertanyaan refleksi bagi kita adalah apakah penderitaan yang kita alami oleh karena ketaatan kita pada Kristus kita rasa terlalu berat atau sesuatu yang biasa? Mengapa Petrus berani berkata bahwa penderitaan karena ketaatan kepada Kristus merupakan sesuatu yang biasa adalah karena kehendak Allah yang menjadi faktor penentu dalam hidup. Apapun yang terjadi dalam hidup, jika kita pandang dengan kacamata kehendak Allah, dengan sebuah target kesucian hidup membuat kita melihat apapun yang terjadi dalam hidup ini adalah hal yang biasa. Jadi dasarnya kehendak Allah dan targetnya penyucian. 
  2. Selain tidak perlu heran, malah harus bersukacita karena mengambil bagian dalam penderitaan dan sukacita dalam Kristus (4: 13-14, bd. Kol. 1: 24). Jemaat diaspora itu pada awalnya mengeluh. Dan Petrus mengatakan agar mereka jangan mengeluh dan melihatnya sebagai kehendak Allah untuk penyucian mereka. Kemudian Petrus mengatakan agar mereka jangan heran, kemudian naik lagi menjadi melihatnya sebagai sesuatu yang biasa, dan kemudian naik lagi menjadi bersukacita. 
  3. Jangan ada yang menderita karena berbuat jahat (4: 15) dan jangan malu kalau menderita sebagai orang Kristen (karena iman dan ketaatan) bahkan harus memuliakan Allah di dalam hal tersebut (4: 16).

Apa alasannya? Dalam ay 17-18 dikatakan, “Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah? Dan jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan, apakah yang akan terjadi dengan orang fasik dan orang berdosa?”
Petrus mengatakan bahwa ‘For it is time for judgement to begin with the family of God’ (4: 17). Jangan pernah menganggap penghakiman hanya pada masa kekekalan ketika Yesus datang kedua kalinya Pada saat ini juga ada walau belum bermuara kepada kematian kekal. Petrus melihat bahwa penderitaan dan penganiayaan yang dialami umat Allah merupakan penghakiman yang bertujuan untuk menyucikan orang beriman (3:15a).

Arti lain dari ayat ini bisa dilihat dengan mengacu pada 4:7a. Penghakiman sebagai bentuk pertanggungjawaban hidup bagi orang percaya (bukan soal keselamatan, tetapi tentang mahkota atau upah). Itulah sebabnya maka betapa mengerikan penghakiman bagi mereka yang tidak beriman (4:17b-18). Karena penghakiman bagi mereka berarti kematian yang kekal. Bagi kita pun yang sudah pasti selamat penghakiman itu mengerikan walaupun tidak berbicara soal keselamatan tetapi soal mahkota (2Tim 4:7) apalagi bagi mereka yang tanpa Kristus karena berarti kematian yang kekal. Mari perhatikan ay 18 ‘jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan’ artinya adalah bahwa orang yang lahir baru tidak bisa tidak pasti akan diselamatkan. Mengacu kepada 1Kor 3:10-15 kita melihat bahwa dasar adalah Kristus dimana ada orang membangun dengan emas, perak, kayu, jerami, atau rumput kering. Pada suatu saat akan ada penghakiman. Dalam 1Kor 3:15 dikatakan, “Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.” Setiap orang akan memberikan pertanggungkawaban kepada Allah pada hari penghakiman dan orang yang kahir baru akan selamat tetapi lebih baik jika selamat seperti contoh metafora emas, perak atau batu permata dibandingkan dengan kayu, rumput kering atau jerami yang juga selamat tetapi seperti diambil dari dalam api.

Karena itu dalam ay 19 dikatakan, “Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia.” Petrus menasihatkan agar mereka (dan juga kita) yang harus menderita karena kehendak Allah menyerahkan jiwanya kepada Pencipta yang setia dan selalu berbuat baik (continue to do good). Ada sikap yang meningkat lagi. Sikap awal jemaat diaspora adalah mengeluh. Tetapi Petrus menyatakan jangan mengeluh karena penderitaan itu biasa, oleh sebab itu jangan heran dan bersukacitalah bahkan menebarkan kasih dan menyerahkan jiwa kepada pencipta dan selalu berbuat baik.

Mulai hari ini apapun yang terjadi kepada kita karena ketaatan kepada Kristus, mari menikmati hidup sebagai orang Kristen.

Solideo Gloria!

No comments: