Tuesday, October 16, 2012

Eksposisi 1Petrus 2:1-7



Untung Suseno, M. Th


Seperti yang telah kita ketahui bahwa surat Petrus ini diberikan kepada orang-orang Kristen yang tersebar di Asia Kecil. Pada waktu surat ini ditulis, orang-orang Kristen masih dalam aniaya besar dan Roma belum menjadi negara Kristen. Pada pasal satu Petrus menekankan bahwa orang-orang percaya dimana surat ini ditujukan adalah orang-orang yang sudah ditebus (1:17) dan semuanya sudah menyucikan diri (1:22), semua sudah dibayar dan harganya amat mahal, bukan dengan emas dan perak, tetapi dengan darah domba Allah, dan sudah lahir kembali (1:23). Jelaslah surat ini ditujukan kepada mereka yang sudah lahir kembali dan sudah mengecap kasih karunia Allah yang sekarang hidup dalam pergumulan karena penganiayaan. Surat ini tepatnya seperti untuk kita semua, yang sudah menikmati kasih karunia Allah itu.

Sebagai kesimpulan pada pasal 1  Petrus menyimpulkan bahwa sebagai orang yang sudah ditebus dan sudah menyucikan diri, sudah dibayar dengan darah Yesus, dan sudah dilahirkan kembali, maka ada nasihat agar pembacanya melanjutkan hidup dalam kekudusan agar bertumbuh di dalam Kristus sekalipun dalam kesukaran yang besar. Pasal 2 melanjutkan apa yang ada di pasal 1. Dalam ay 1 dikatakan, “Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah.” (2:1). Ayat ini diawali dengan kata ‘karena itu’. Apa yang dimaksudkan dengan kata ‘karena itu’  adalah apa yang dipaparkan dalam pasal 1 yaitu status  sebagai umat yang sudah ditebus. Itulah sebabnya Petrus berkata sebagai umat tebusan pembaca (termasuk kita) harus membuang segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah. Dalam terjemahan lain kata yang dipakai untuk ‘buanglah’adalah ‘put off’. Istilah ini sering kita temukan dalam surat-surat Paulus dimana ia sering memakai istilah ‘put off’ (tanggalkan) dan ‘put on’ (kenakan). Jadi, ketika Petrus menulis ‘buanglah’, yang dimaksud disini adalah ‘tanggalkanlah’.

Jika kita sudah ditebus dan lahir baru dan dibayar mahal, maka kita harus melanjutkan hidup yang kudus dimanapun berada saat ini. Bagaimana caranya? Tanggalkanlah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah. Sederhananya bisa dikatakan bawa kita harus meninggalkan kehidupan kita yang lama. Cara pertama untuk melanjutkan hidup dengan kekudusan adalah tanggalkan hidup kita yang lama.

Perhatikan apa yang diajarkan oleh Petrus. Tidak secara otomatis kehidupan orang yang lahir baru itu menjadi baik. Ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, maka tidak otomatis kehidupan lama kita rontok, apalagi kita sudah keluar dari komunitas kampus atau pembinaan dan masuk ke dalam dunia kerja. Kita akan mudah kembali ke kehidupan yang lama. Sebab seperti yang sudah kita ketahui bahwa kelahiran baru itu adalah momentum, tetapi berjalan dalam pimpinan Roh Kudus itu adalah keseharian dan keseharian itu yang membuat kita dimerdekakan. Kelahiran baru hanya menjadi titik permulaan atau awal dan langkah pertama. Tapi langkah demi langkah selanjutnya kehidupan kita haruslah dituntun dan dipimpin dan dipenuhi Roh Kudus Tuhan agar memiliki kahidupan yang kudus dan benar. tanpa pimpinan Roh Kudus, kita tidak akan sanggup. Caranya bagaimana, lepaskan kehidupan kita yang lama (jika kita bandingkan dengan surat Paulus, dia menyatakan yang mencuri jangan mencuri lagi, yang berzinah jangan berzinah lagi, yang berdusta jangan berdusta, dll). Segala sesuatu yang lama harus ditanggalkan. Berbeda dengan Paulus, konteks dari penulisan surat Petrus ini lebih ke arah kehidupan Kristen yang dalam penganiayaan. Jadi lebih kepada nasihat untuk membuang segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah. Ingat, pada masa sengsara, orang mudah sekali beralih dari kesetiaannya. Maka diantara beberapa orang Yahudi ada yang menjadi antek-anteknya Roma, melaporkan kelompok Yahudi yang sudah bertobat dan kemudian ditangkap. Dalam dalam konteks inilah Petrus menasehatkan agar jangan ada lagi segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah.

Kata kemunafikan dalam KJV memakai istilah hypocrisie, yang artinya bertopeng, sebuah istilah yang diambil dari teater-teater kuno Romawi, dimana para pemain dalam teater tersebut mengenakan topeng, tidak kelihatan aslinya tetapi memerankan sebuah peran. Orang Kristen tidak boleh seperti ini, tidak boleh bertopeng. Tidak boleh ada yang bertopeng dengan sesamanya apalagi dengan Tuhan. Jangan memakai topeng dimana kita rajin mengikuti pertemuan-pertemuan ibadah atau rajin ke persekutuan tetapi dalam dunia kerja kita menjadi seseorang yang jauh dari Tuhan. Yang menipu menipu terus, dan senantiasa kompromi dengan dosa. Ini harus ditanggalkan! Ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Tetapi dalam hal inilah Tuhan memerintahkan kita untuk hidup dalam kebenaran dan kekudusan dimanapun kita berada. Kita harus memunculkan siapa Kristus dalam hidup kita dimanapun kita bekerja.

Ada satu penyakit yang berbahaya dalam kekristenan, namanya humanism religious. Humanism religious itu memiliki arti dimana seseorang itu kelihatan rohani. Seseorang aktif dalam kelopok kecil maupun persekutuan bahkan dalam kepengurusan, tetapi melakukannya tanpa pengenalan pribadi dengan Tuhan.
Setelah menanggalkan kehidupan yang lama, kemudian Petrus melanjutkan pada ayat 2, “Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan.“ Jika kita mengamat-amati bayi, kita akan menemukan bahwa jika seorang bayi minta ASI, maka ASI harus segera diberikan, tidak peduli dimana tempatnya atau kapan, karena jika tidak deberikan ASI maka bayi itu akan menangis. Artinya, tanda dari seseorang yang sudah menanggalkan kehidupannya yang lama adalah haus terus akan Tuhan. Dia akan mencari terus tidak peduli sang atau malam. Kapanpun dan dimanapun dia akan senantiasa merindukan firman Tuhan. Apakah kita senantiasa rindu dan haus terus-menerus akan firman Tuhan? Jika ya lanjutkan,  Roh Kudus ada di dalam diri kita.

Mari kita perhatikan ay 4. Dikatakan disana, “Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah.” Kita akan melihat arti dari batu hidup dalam pengertian historis sebagai sebuah pengharapan mesianis dalam dunia orang Yahudi. Jika kita membaca Yes 8:14 (“Ia akan menjadi tempat kudus, tetapi juga menjadi batu sentuhan dan batu sandungan bagi kedua kaum Israel itu, serta menjadi jerat dan perangkap bagi penduduk Yerusalem”) atau Yes 28:16 (“sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: "Sesungguhnya, Aku meletakkan sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan gelisah!”), kita akan menemukan nubuatan Allah mengenai batu penjuru. Batu itu adalah simbol atau gambaran mesianis. Bahwa kelak di Sion, Tuhan akan meletakkan batu milikNya dan batu itu akan menjadi batu penjuru. Batu itu adalah sang Mesias. Dengan kata lain batu penjuru itu adalah Mesias sendiri. Hal inilah yang dijelaskan Petrus kepada pendengarnya yang adalah orang Yahudi bahwa Batu itu sekarang disebut sebagai Batu yang hidup. Batu itu oleh manusia tidak dianggap, dan dibuang , disepelekan dan tidak memiliki arti. Tetapi dihadapan Allah, Batu itu mendapat penghormatan. Batu itu bicara tentang Mesias sebagai sebuah simbol.
Dan kemudian dalam ay 5 dikatakan, “Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.” Jika kita sudah mengenal dan hidup di dalam Batu itu, maka kita akan dipergunakan untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.

Petrus sudah menjelaskan cara untuk melanjutkan kehidupan yang kudus setelah kelahiran baru adalah dengan menanggalkan kehidupannya yang lama. Itu adalah langkah yang pertama. Langkah berikutnya adalah dengan mendekatkan diri dengan batu yang hidup itu karena batu itu adalah simbol dari Mesias. Hal ini membuat batu itu juga disebut sebagai invisible strength. Batu itu juga adalah tempat berlindung yang kekal dan abadi. Batu itu juga bisa disebutkan sebagai sumber dari perlindungan dan keamanan. Petrus menuliskan kepada orang Yahudi ketika mereka dalam aniaya dan terpisah dalam 12 tempat, tetapi sekalipun terpecah maupun aniaya dan permasalahan yang besar. Apapun pergumulan hidup, mereka bisa mempertahankan hidup yang benar jika mereka terus dekat dengan batu yang hidup dan hidup di dalam batu yang hidup. Mengapa demikian? Karena Mesias adalah sumber. Dari Dialah berasal perlindungan dan keamananan. Dialah sumber kekuatan yang baru. Dia adalah batu dimana Dia menjadi perlindungan abadi dari tiap-tiap orang yang mencari-cari kenyamanan dan ketenangan, dan satu-satunya adalah Yesus yang adalah sumber dalam hidup saudara.

Simbol batu ini menjelaskan Yesus sebagai batu karang yang teguh. Symbol kekokohan yang tidak pernah berubah, simbol kesetiaan yang tidak pernah berakhir. Petrus berkata, hiduplah di dalam Yesus batu yang hidup itu dari hari ke hari agar engkau beroleh kekuatan terhadap segala macam pergumulan hidupmu, di tempat kerja, rumah atau pergumulan pribadi kita.

Kita mungkin sering terjebak dalam situasi dimana sepertinya tidak ada harapan. Ada kalanya kita dibawa masuk dimana tidak apa-apanya lagi dan kita harus menyerah dan berkorban. Dalam situasi seperti ini kita harus mengingat bahwa Yesus adalah batu penjuru dalam hidup kita. Apapun situasi hidup yang kita hadapi, segala macam pergumulan ada di depan kita mari emmandang kepada Yesus dan mengingat bahwa Ia adalah batu karang tempat perlindungan dan disana kita akan menemukan rasa nyaman dan aman yang sejati. Bahkan kita akan dimampukan berdoa, melepaskan berkat kepada orang yang menyakiti kita. Hidup kudus kita akan terpelihara. Sekalipun kehidupan kita dibawa oleh Tuhan ketempat-tempat yang sulit, Yesus adalah batu karang kita yang memampukan kita hidup dalam kekudusan.
Solideo Gloria!

No comments: