By: Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div
Dalam sesion kali ini kita akan membahas bersama kitab Ruth. Kita akan melihat kitab Ruth mulai dari pasal 1 s/d pasal 4. Dalam kisah ini kita akan melihat bagaimana Tuhan mempertemukan Ruth dengan Boas. Saya sengaja membuat tema kali ini “Kisah cinta antara Ruth dengan Boas”, karena sering kita hanya mendengar cintanya ‘Boas’ kepada ‘Ruth’. Kalau biasanya lelaki harus pertamakali , kali ini kita akan melihat wanita yang pertama.
Siapakah Ruth?
Ruth adalah seorang janda yang ikut Naomi ke Betlehem setelah suaminya me ninggal (1:7) Jadi, pada waktu itu, Elimelekh pergi ke tanah Moab karena di Betlehem terjadi kelaparan. Jadi dua orang anaknya menikah dengan perempuan Moab. Kemudian meninggallah Elimelekh dan dua orang anaknya dan tinggallah tiga perempuan yang telah menjadi janda. Akhirnya Naomi meminta agar kedua menantunya ini kembali ke Moab dengan alasan Naomi tidak punya anak laki-laki lagi. Satu orang pulang, tetapi Ruth berkata :”Allahmu adalah Allahku, kemana pun engkau pergi, aku akan pergi…” (1:7-17). Ruth adalah seorang yang percaya tetapi non Yahudi/Israel karena dia adalah perempuan dari Moab (1:16) tetapi dia percaya kepada Allah. Dua juga bekerja sungguh-sungguh supaya kehidupannya dan mertuanya terpelihara dengan baik. Jadi, Ruth ini memiliki karakter beriman, rajin, baik. Setia, dan taat pada Tuhan serta tunduk pada mertua yang baik (2:2,7).
Bagaimana pertemuannya dengan Boas?
Ketika mereka sampai di Betlehem, saat itu adalah musim menuai jelai(1:22). Ketika mereka kesulitan makanan, Ruth meminta izin kepada Naomi untuk memungut jelai. Bagi orang Yahudi, orang miskin dan para janda diizinkan untuk memungut sisa-sisa panen di ladang dan sisi-sisa ini tidak boleh diambil kembali oleh pemilik ladang karena menjadi hak orang miskin dan janda. Dan inilah yang diambil oleh Ruth untuk mertuanya. Jadi, jika kita perhatikan, pertemuan Ruth dan Boas terjadi secara natural. Kalau kita ingat akan providensia Allah, tidak ada yang terjadi secara kebetulan, tetapi semua ada di dalam rencana Allah.
Allah memakai berbagai hal untuk kebaikan umatNya. Pada waktu itu, Ruth yang memungut jelai di ladang Boas, tidak direncanakan. Tetapi menjadi keyakinan bagi kita, bahwa dengan cara inilah Allah memimpin. Ketika Boas melihat Ruth, dia bertanya kepada pegawainya siapa gerangan Ruth. Pegawainya mengatakan kepadanya bahwa wanita itu adalah Ruth, menantu Naomi, yang telah meninggal suaminya, yang baru kembali dari tanah Moab, dan datang untuk tinggal di Betlehem (2:1-7). Ini adalah komunitas yang baik. Jadi Boas menolong karena tahu bahwa dia masih ada hubungan keluarga dengan Naomi, dan inilah yang membuat Boas berbelas kasihan. Jadi, belum ada cinta pada awalnya. Tetapi ada satu tindakan belas kasihan yang biasa. Orang kaya menolong orang miskin, dan ketika Boas tahu bahwa Ruth adalah menantu dari Naomi yang merupakan kerabatnya, dia memberikan kemurahan dan kebaikan kepada Ruth (2:8-12). Sesampainya di rumah, ketika Naomi bertanya kepada Ruth dimana dia memungut jelai, Ruth menceritakan tentang Boas dan kebaikannya. Kemudian Naomi mengatakan pada Ruth bahwa bahwa Boas adalah kaum kerabat mereka (2:20).
Pada pasal 3:1, dapat kita ketahui bahwa Naomi memperhatikan kehidupan Ruth. Kemudian Naomi berinisiatif dengan menyuruh Ruth pergi ke pengirikan dan tidur di sebelah kaki Boas. Ruth juga disuruh menarik selimut Boas agar Boas tahu dia ada disana (3:3-4). Ini strateginya Naomi. Dan Boas, ketika mengalami kejadian itu, melihat ketulusan Ruth. Artinya, mulai pertama kali bertemu, melihat ketulusan Ruth, sampai akhirnya bagaimana Ruth bertindak demikian, akhir nya Boas jatuh cinta (3:10-12). Tetapi Boas berkata bahwa belum haknya untuk menebus Ruth karena ada yang lebih berhak (3:12). Perlu diketahui bahwa tradisi bangsa Israel, jika masih ada anak yang pertama, yang kedua tidak boleh, dan demikian seterusnya. Dalam hal ini masih ada saudara Boas yang lebih berhak menebus Ruth dan Boas menghormati tradisi ini. Kalau kita lihat pada pasal 3 dan 4, Boas memanggil saudara-saudara dan para pemimpin-pe mimpin untuk membicarakan hal ini. Ketika saudara Boas yang berhak menebus Rurth tidak bersedia menebus Ruth dan bertanggung jawab meneruskan keturunan Elimelekh agar tidak punah, Boas menerima hak untuk menebus Ruth (4:1-12). Setelah itu barulah Boas mengambil Ruth sebagai isterinya.
Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari kisah “cinta Ruth kepada Boas”.
1. Cinta itu lahir dan tumbuh secar alamiah dengan pengenalan yang lebih dalam. Oleh karena itu, cinta tidak dibuat-buat dan tidak dikondisikan. Dalam kisah ini, kita dapat melihat Ruth memungut jelai di ladang Boas. Hal ini tidak disengaja. Tetapi Tuhan menyatakan rencanaNya melalui hal ini. Ada banyak cara Tuhan memimpin kita, baik itu di kampus, kebaktian, dan bisa dimana saja. Yang penting adalah jangan mencari ‘domba’ di kandang ‘kambing’. Oleh karena itu, kita dapat melihat satu proses alamiah terjadi, walaupun ada yang dikondisikan dengan cara tertentu untuk mengunjungi orang tertentu, ini lain ceritanya. Ini adalah ‘How to say’, bukan pertemuan pertama kali. Dalam kisah ini cintanya Boas muncul dan bertumbuh ketika melihat karakter, kesetiaan, dan cara hidup Ruth, bukan sebatas kecantikan.
2. Cinta lahir karena karakter dan cara hidup yang benar. Ketertarikan Boas dan Ruth muncul ketika melihat karakter masing-masing. Ruth tertarik melihat kemurahan Boas. Hal ini tidak gampang karena, pertama, pada waktu itu tidak gampang bagi wanita non Yahudi masuk ke kawasan Yahudi. Kedua, ketika hal ini terjadi, Ruth mendapatkan belas kasihan dari Boas bukan dalam rangka untuk dicintai. Cinta antara mereka tumbuh dari saling mengenal dari segi karakter, hidup, dan kebaikan. Hal ini penting karena jika hanya melihat sebatas kecantikan, akan sangat terbatas karena kecantikan akan luntur (Amsal 31), tetapi inner beauty dari seseorang dapat bertahan lama dan membuat cinta tidak akan pernah pudar.
3. Cinta yang tulus melahirkan keberanian untuk bertindak atau menyatakannya. Memang Naomi yang memerintahkan Ruth. Naomi memiliki strategi karena dia tahu tradisi Yahudi sedangkan Rurh tidak mengetahuinya. Maka untuk menyatakannya, Naomi lah yang mengajari Ruth (pasal 3). Kalau kita perhatikan dalam hal ini ada satu keberania untuk menyatakan. Dalam budaya kita, yang pertama harus menyatakan adalah laki-laki. Tetapi menurut Alkitab, tidak ada larangan bagi wanita untuk menyatakannya terlebih dahulu cintanya. Kalau kita yakin cinta itu berasal dari Tuhan, kita harus berani untuk bertanggungjawab dan berani untuk menyatakannya. Mungkin hanya ‘bagaimana untuk menyatakannya’ ini yang berbeda. Kalau seorang laki-laki bisa menyatakannya secara langsung. Tetapi seorang wanita melakukannya dengan berbagai cara, dan dalam kisah ini Naomi memakai memakai trik untuk hal ini. Artinya, kalau nanti Boas tahu Naomi berada di samping kaki Boas, naomi menyuruh Ruth untuk diam (perlu diketahui bahwa hal ini adalah metode pada saat itu). Ketika Ruth menjalankan perintah Naomi, Boas langsung tahu. Tidak ada satu kalimatpun yang dikatakan oleh Ruth. Tetapi Boas tahu, karena tradisi yang ada pada saat itu. Karena itu, bagi laki-laki, tolong peka terhadap ‘sinyal’ , karena wanita tidak bisa menyatakannya secara langsung. Dan bagi perempuan, jika kamu yakin seseorang itu berasal dari Tuhan, kamu bisa menyatakannya dengan cara-cara tertentu. Dalam kisah ini Ruth dibantu oleh Naomi. Bagi laki-laki, perlu untuk diingat, kalau ada perempuan yang menyatakan isi hatinya kepadamu, tolong jangan bicarakan dengan orang lain. tolong hargai dia, dan jangan berpikir bahwa dia adalah perempuan murahan karena dia melangkah dengan iman. Perlu keberanian untuk melakukan hal ini karena biasanya hal ini dianggap memalukan dan merendahkan harga diri perempuan.
Dalam hal ini jugalah apakah kita butuh “mak comblang Naomi” untuk membantu kita?
Kita juga dapat melihat beberapa hal tentang cinta melihat cinta antara Ruth dan Boas.
1. Cinta itu tidak dibatasi oleh status sosial.
Ruth adalah seorang janda. Cinta yang sejati akan menghancurkan status sosial. Makanya tidak salah bagi seorang laki-laki untuk menikah dengan seorang janda, dan sebaliknya, yang penting adalah beriman kepada Kristus.
2. Cinta itu tidak dibatasi oleh status ekonomi.
Cinta yang sejati tidak memandang status ekonomi termasuk status pekerjaan. Jadi, bukan harus pria yang jabatannya lebih tinggi, bukan harus pria yang penghasilannya lebih besar.
3. Cinta tidak dibatasi oleh budaya dan suku (cross-cultural love)
Kalau kita memiliki pasangan yang berbeda suku dimana orang tua tidak setuju, tetapi kita yakin Tuhan yang memimpin, kita harus berani melangkah. Dalam hal ini Ruth dan Boas menikah tanpa terpengaruh oleh batasan ini. cinta yang sejati tidak pernah dibatasi oleh apapun kecuali oleh iman, karakter, dan nilai hidup. Cinta tidak dibatasi oleh apapun dan dari sini juga kita melihat bahwa tidak ada larangan bagi pasangan jika yang wanita lebih tua dibandingkan dengan yang laki-lakinya.
Dalam hal ini jugalah cinta yang sejati adalah cinta ’meskipun’ bukan cinta ‘bukan karena’ atau ‘supaya’
4. Cinta tidak menghancurkan tradisi (1:1-12)
Dalak kisah ini Boas tidak serta-merta menghancurkan tradisinya, melainkan bertanya pada orang yang berhak untuk menebus Ruth. Ketika yang berhak ini tidak bersedia menebus Ruth, Boas melakukannya.
5. Cinta yang dialami Boas dalam kisah ini adalah cinta yang penuh tanggung jawab (4:9-10).
Boas menikahi Ruth bukan hanya sebatas menikah. Oleh karena itu pernikahan bukan sebatas tuntutan seksualitas, walaupu seks adalah buah dari cinta. Boas berani menikahi Ruth (seorang janda dimana pada saat itu kurang dihargai) sekaligus bertanggung jawab untuk kelangsungan keturunan Elimelekh. Per nikahan dan cinta yang tulus akan melahirkan tindakan yang bertanggung ja wab. Jika kita mencintai seseorang, kita harus mencintai dan bertanggung jawab terhadap keluarganya.
6. Cinta yang sejati menggenapi rencana Allah (4:13-22)
Setelah Ruth menikah, dia akan melahirkan seorang anak yang bernama Obed. Obed akan melahirkan Isai, ayah dari Daud. Dan Daud adalah nenek moyang dari Yesus Kristus (4:18-22). Jadi, pernikahan yang betul-betul dari Allah maka Allah akan menggenapi ren cananya melalui pernikahan dan pasangan ini akan mendapatkan kebahagiaan yang sejati.
Mari kita memiliki cinta yang tanpa syarat, yaitu cinta ‘meskipun’. Cinta yang sejati tidak akan menyebabkan perpecahan. Pernikahan yang didasari pada cinta yang sejati akan dipakai Allah untuk menggenapi rencanaNya.
Soli Deo Gloria!
Mimbar Bina Alumni (MBA) merupakan sebuah ibadah yang disediakan untuk para Alumni, khususnya yang tinggal di Medan. Ibadah ini diadakan sekali seminggu yaitu pada hari Jumat, pkl 18.00-20.00. MBA ini diadakan di GSJA Iskandar Muda. Kami senantiasa mengundang rekan-rekan sekalian untuk menghadirinya. Semoga MBA ini menjadi berkat bagi kita dan menguatkan kita di tengah-tengah pekerjaan kita. Amin.
Saturday, March 28, 2009
Seri LDS 1: God Original Plan
By: Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div
Kejadian 2: 8-25; Kejadian 1:28
Saudara-saudara, sebenarnya kalau kita perhatikan rencana Allah setelah penciptaan terencana dengan sangat baik, agung, dan mulia. Bila kita perhatikan dalam alur penciptaan, bagaimana Allah menjadikan manusia, menyatakan pemeliharaanNya, dan menyediakan apa yang diperlukan oleh manusia pertama untuk menggenapi mandat atau rencana Allah.
Kita perhatikan ayat 8-16. Dalam bagian ini Allah menciptakan segala sesuatunya, dan setelah Dia membuat Taman Eden, ditempatkanNyalah manusia di sana. Ketika Allah menempatkan manusia, Ia tidak membuat manusia hanya pasif melainkan manusia diperintahkan oleh Allah untuk bisa berkarya. Dalam perjalanan karya atau menggenapi mandat Ilahi, Allah memberi perintah sekaligus peringatan kepada manusia (Kej 2:16). Mari kita perhatikan Kejadian 1:28, ada tugas yang mulia yang diberikan Tuhan Allah pada manusia yaitu mengusahakan alam atau bumi ciptaan Allah.
Di dalam menggenapi mandat Ilahi ini, Allah memberikan satu peringatan pada manusia (ay 16 dan 17). Tetapi kalau kita perhatikan pada ayat yang 19 dan 20, setelah Allah menjadikan baik binatang maupun tumbuh-tumbuhan, baru diserahkanNya pada manusia untuk memberikan nama. Sewaktu Adam memberi nama untuk semua ciptaan itu, Adam tidak menemukan satu pribadi yang sepadan dengan dia. Dapat dikatakan bahwa Adam kecarian, dan bisa saja hal ini menjadi pergumulan manusia yang pertama ini
Saudara-saudara, pernikahan adalah satu rancangan Allah yang murni bukan rancangan manusia. Selain itu, pernikahan merupakan kebutuhan menurut pandangan Ilahi. Dalam Kejadian 1:28 dikatakan “…beranak cuculah penuhilah bumi dan taklukkanlah itu…”. Yang mau saya katakan di sini adalah ada satu mandat yang diberikan Allah kepada manusia sebagai salah satu penggenapan rencana Allah bagi dunia. Mandat Allah ini adalah sebagai satu perwujudan atau cara untuk merealisasikan rencana Allah yang agung dan di dalam hal ini salah satu adalah dengan pernikahan.
Pernikahan itu bukan dibuat oleh manusia. Pernikahan itu adalah rancangan Allah dalam menjabarkan mandat Allah. Itulah sebabnya menikah atau tidak menikah ada di dalam rangka mandat Allah, bukan sebatas kebutuhan atau keinginan walau hal itu perlu. Tetapi menikah atau tidak ada di dalam rangka menggenapi mandat Allah. Mari kita lihat beberapa hal. Pertama, pernikahan adalah rancangan Allah yang murni dari diriNya sendiri. Ketika kita melihat bahwa manusia pertama kecarian, Allah melihat bahwa manusia tidak baik untuk seorang diri. Dari ayat 18 dapat kita baca bahwa yang pertama melihat kebutuhan Adam adalah Allah, bukan dirinya sendiri. Dan kalau kita perhatikan lagi Allah tidak pernah menjawab keinginan manusia untuk memuaskan keinginan hati manusia, tetapi Allah memberikan kebutuhan manusia menurut cara pandang Allah sendiri. Allah melihat kebutuhan manusia itu adalah penolong yang sepadan dengan bagiNya.
Kalau kita bertanya pada diri kita, kenapa kita belum punya calon teman hidup sampai hari ini, itu berarti menurut Tuhan belum waktunya. Jadi, pernikahan sebagai satu rancangan Allah dimana Dia akan merencanakan yang terbaik bagi manusia. Allah tahu kebutuhan kita. Kalau kita baca Matius 6 dikatakan burung pipit yang tidak menanam dan menuai dipelihara oleh Allah. Artinya burung pipit yang “tidak ada apa-apanya” pun dipelihara oleh Allah, apalagi kita sebagai anak-anakNya, yang berharga di mata Allah.
Kalau kita perhatikan di sini, rancangan Allah dalam pernikahan adalah untuk menggenapi mandatNya dengan menyediakan yang dibutuhkan manusia. Pada ayat 20-21, Allah yang berencana itu berniat untuk menyediakan apa yang menjadi kebutuhan manusia demi menggenapi rencanaNya (Kej 1:28). Karena itu, kalau Allah merencanakan saudara menikah demi menggenapi mandatNya, Ia akan menyediakannya. Allah melihat setiap kebutuhan manusia dan Ia tidak hanya berdiam diri, tetapi bertindak. Ia menyuruh Adam tidur dan diambilNya tulang rusuk Adam dan dijadikanNyalah perempuan. Allah menyediakan yang terbaik, dan yang penting semuanya dalam menggenapi rencanyaNya. Oleh karena itu pernikahan ada di dalam rencana Allah supaya mandat itu tergenapi.
Kedua, Allah akan menyediakan orang yang tepat bagi kita dalam pernikahan, supaya rencanaNya tergenapi. Ini yang perlu kita sadari, walaupun tidak semua manusia harus menikah (Matius 19:11-12). Mari kita bertanya pada diri kita; apakah saya lebih bisa menggenapi mandat Allah dengan menikah atau tidak menikah. Itulah sebabnya kepada kita diberikan free will-kehendak bebas. Tetapi free will ini tetap dalam rencana Allah. Dalam I Korintus 7 : 32-34, ada orang yang dikatakan Paulus sebaiknya tidak perlu menikah. Artinya, kalau laki-laki tidak punya isteri, bisa lebih banyak memberikan perhatiannya untuk pekerjaan Tuhan, bagaimana ia berkenan di hadapan Tuhan. Kalau seorang laki-laki menikah, dia akan berusaha untuk memikirkan perkara-perkara duniawi. Pada ayat 32, sorang laki-laki mungkin terjebak pada kekuatiran karena dia ingin menyenangkan isterinya ataupun sebaliknya. Kalau kita yakin bahwa rencana Allah akan digenapi dengan maksimal melalui pernikahan, silahkan menikah. Tetapi kalau lebih maksimal tanpa menikah, silahkan untuk tidak menikah. Ini adalah pikiran atau panggilan demi kemaksimalan panggilan hidup.
Ketika Allah yang merancang pernikahan, maka kriteria orang yang diberikan oleh Allah adalah penolong yang sepadan (ayat 18). Penolong yang sepadan ini, kalau kita perhatikan kembali ke rencana Allah, supaya mandat Allah (Kej 1:28) digenapi. Artinya melalui manusia, yang diberikan mandat oleh Allah untuk beranak cucu dan bertambah banyak, menaklukkan dunia dan menguasainya, dipakai untuk memuliakan Allah, membuat dunia semakin baik, dan dalam rangka inilah disediakan seorang penolong. Karena itu, kalau saudara meyakini untuk menikah, maka ada standart yang ditentukan Allah terhadap calon isteri atau suami, yakni penolong yang sepadan ini untuk merealisasikan rencana Allah.
Tujuan penolong yang sepadan itu juga untuk menghadirkan Kerajaan Allah. Kalau ‘dia’ seorang penolong yang sepadan, mari kita evaluasi; apakah dengan dia kehidupan kita maksimal dipakai Allah? Kalau tidak berarti dia adalah perongrong yang sepadan. Menikah dengan orang yang tepat, berarti dia penolong dan menikah dengan orang yang tidak tepat berarti perongrong. Oleh karena itu jangan menikah hanya karena kesepian, kebutuhan akan seks, anak, dll, tetapi mari kita pikirkan kembali, ‘apakah dengan menikah mandat Allah digenapi melalui hidup kita?’. Seorang penolong berarti dengan dia kita semakin bertumbuh dan mengasihi Tuhan dan lebih maksimal dalam pelayanan.
Di dalam pernikahan, ada satu tujuan untuk menghadirkan kerajaan Allah sesuai mandat dalam Kej 1:28. Membuat dunia menjadi ‘surga’, membuat ciptaan Allah dikelola atau dieksplorasi manusia untuk kesejahteraan, dan pernikahan ada di dalam rencana itu. Apakah dengan menikah kita dapat menghadirkan Kerajaan Allah di tengah keluarga kita? Apakah dengan pernikahan damai sejahtera dan kebenaran semakin nyata di dalam hidup kita? Kalau tidak, berarti ada sesuatu yang harus segera dibenahi. Oleh sebab itu, mari kita sebagai anak-anak Tuhan jangan berpikir dari pada tidak ada calon pendamping membuat kita menurunkan standart (kompromi).
Pada ayat 23 dikatakan bahwa pernikahan dalam rancangan Allah ada dalam bentuk kesatuan yang sempurna yaitu satu daging. Saya dengan anda (kita ini) adalah satu tubuh, yaitu tubuh Kristus, tetapi seorang suami dengan isterinya adalah satu daging. Inilah yang dikatakan ‘tulang dari tulangku dan daging dari dagingku’. Oleh sebab itu antara kita dan pasangan kita harus memiliki hubungan yang harmonis, artinya tidak saling menghina, mengejek, dan menyakiti. Inilah yang dijanjikan oleh Allah, bahwa rencana Allah di dalam pernikahan merupakan perpaduan yang sempurna yang saling membangun, saling menguatkan, dan saling menolong. Hal ini bukan berarti tidak ada konflik dalam pernikahan orang Kristen. Rencana Allah sangat agung. Mari kita lihat Matius 19:5-6. perhatikan kata ‘dipersatukan’. Kata ini pasif bagi manusia dan Allah yang aktif. Jadi tidak mungkin ada pernikahan dalam rencana Allah yang bukan dirancang oleh Allah. Jangan berpikir kalau sudah lahir baru, sudah cukup. Tentu tidak. Tetapi mari kita merenungkan bahwa tidak mungkin Allah mempersatukan seseorang dengan orang yang tidak tepat. Kalau hal ini terjadi, itu pasti karena kita sendiri, bukan karena Allah.
Pada ayat 24 dikatakan bahwa manusia laki-laki itu meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya. Dengan demikian mereka menjadi satu daging. Kita lihat di sini ada satu kemandirian dan kedewasaan. Memang ada ahli biblika mengatakan bahwa ayat 24 dan 25 adalah catatan redaksi bukan bagian akhir dari satu narasi sebelumnya. Tetapi menurut saya pastilah penempatan ayat ini juga karena pimpinan Roh dan harus diakui otoritasnya dan memiliki tujuan yang jelas Kita perhatikan pada ayat ini bahwa dalam pernikahan, mereka yang dipersatukan akan semakin mandiri dan dewasa dari segi karakter, pola pikir, nilai hidup, termasuk dalam hal finansial. Mereka bisa menyelesaikan konflik mereka sendiri di dalam Tuhan (mandiri), tanpa bergantung kepada siapapun.
Mari kita baca ayat 25. Ada banyak penafsiran akan ayat ini. Misalnya ada yang mengatakan “itukan wajar, karena manusia yang ada hanya mereka berdua. Jadi tidak perlu malu”. Ada juga yang mengatakan ini adalah simbol keintiman. Mereka sangaty intim sekali, sehingga tida ada rasa malu lagi. Dan rasa tidak malu di sini bukan hanya karena simbol seks. Tetapi berkaitan dengan keterbukaan antara suami isteri. Suami tidak malu menerima apa adanya isteri atau sebaliknya.
Tetapi dilihat dari segi teksnya, lebih tepat ada dua hal yaitu intimacy dan the Exclusiveness of Love. Keintiman bisa dengan atau tanpa seks. Seks tanpa cinta sama dengan pelacur. Cinta tanpa seks adalah persahabatan dan cinta dengan seks adalah pernikahan. Cinta dengan seks menunjukkan adanya satu intimacy atau kedekatan, kemesraan, dan Allah menciptakan pernikahan yang sedemikian rupa. Seks merupakan buah dari cinta. Mari kita tunduk pada rencaana Allah di dalam diri kita dan tidak perlu kuatir dan malu kalau kita belum punya pasangan sebab segala sesuatu indah pada waktunya.
Roma 8:32 mengatakan bahwa “Ia yang tidak menyayangkan anakNya sendiri, tetapi menyerahkanNya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepadakita bersama-sama dengan Dia?” Kalau menurut Allah seseorang tepat untuk menikah, Dia pasti menyediakan seorang penolong yang sepadan baginya, walaupun usia semakin bertambah, mari tetap hidup dalam pengharapan kepada Allah bahwa segala sesuatu yang dari Dia merupakan yang terbaik bagi kita. Sebagai seorang yang percaya, selayaknya kita terus mengkaji hidup apakah akan lebih maksimal bagi Tuhan dengan menikah atau tidak. Yang pasti, semua hidup kita harus dalam rencana Allah yang mulia. Tuhan memberkati!
Soli Deo Gloria!
Kejadian 2: 8-25; Kejadian 1:28
Saudara-saudara, sebenarnya kalau kita perhatikan rencana Allah setelah penciptaan terencana dengan sangat baik, agung, dan mulia. Bila kita perhatikan dalam alur penciptaan, bagaimana Allah menjadikan manusia, menyatakan pemeliharaanNya, dan menyediakan apa yang diperlukan oleh manusia pertama untuk menggenapi mandat atau rencana Allah.
Kita perhatikan ayat 8-16. Dalam bagian ini Allah menciptakan segala sesuatunya, dan setelah Dia membuat Taman Eden, ditempatkanNyalah manusia di sana. Ketika Allah menempatkan manusia, Ia tidak membuat manusia hanya pasif melainkan manusia diperintahkan oleh Allah untuk bisa berkarya. Dalam perjalanan karya atau menggenapi mandat Ilahi, Allah memberi perintah sekaligus peringatan kepada manusia (Kej 2:16). Mari kita perhatikan Kejadian 1:28, ada tugas yang mulia yang diberikan Tuhan Allah pada manusia yaitu mengusahakan alam atau bumi ciptaan Allah.
Di dalam menggenapi mandat Ilahi ini, Allah memberikan satu peringatan pada manusia (ay 16 dan 17). Tetapi kalau kita perhatikan pada ayat yang 19 dan 20, setelah Allah menjadikan baik binatang maupun tumbuh-tumbuhan, baru diserahkanNya pada manusia untuk memberikan nama. Sewaktu Adam memberi nama untuk semua ciptaan itu, Adam tidak menemukan satu pribadi yang sepadan dengan dia. Dapat dikatakan bahwa Adam kecarian, dan bisa saja hal ini menjadi pergumulan manusia yang pertama ini
Saudara-saudara, pernikahan adalah satu rancangan Allah yang murni bukan rancangan manusia. Selain itu, pernikahan merupakan kebutuhan menurut pandangan Ilahi. Dalam Kejadian 1:28 dikatakan “…beranak cuculah penuhilah bumi dan taklukkanlah itu…”. Yang mau saya katakan di sini adalah ada satu mandat yang diberikan Allah kepada manusia sebagai salah satu penggenapan rencana Allah bagi dunia. Mandat Allah ini adalah sebagai satu perwujudan atau cara untuk merealisasikan rencana Allah yang agung dan di dalam hal ini salah satu adalah dengan pernikahan.
Pernikahan itu bukan dibuat oleh manusia. Pernikahan itu adalah rancangan Allah dalam menjabarkan mandat Allah. Itulah sebabnya menikah atau tidak menikah ada di dalam rangka mandat Allah, bukan sebatas kebutuhan atau keinginan walau hal itu perlu. Tetapi menikah atau tidak ada di dalam rangka menggenapi mandat Allah. Mari kita lihat beberapa hal. Pertama, pernikahan adalah rancangan Allah yang murni dari diriNya sendiri. Ketika kita melihat bahwa manusia pertama kecarian, Allah melihat bahwa manusia tidak baik untuk seorang diri. Dari ayat 18 dapat kita baca bahwa yang pertama melihat kebutuhan Adam adalah Allah, bukan dirinya sendiri. Dan kalau kita perhatikan lagi Allah tidak pernah menjawab keinginan manusia untuk memuaskan keinginan hati manusia, tetapi Allah memberikan kebutuhan manusia menurut cara pandang Allah sendiri. Allah melihat kebutuhan manusia itu adalah penolong yang sepadan dengan bagiNya.
Kalau kita bertanya pada diri kita, kenapa kita belum punya calon teman hidup sampai hari ini, itu berarti menurut Tuhan belum waktunya. Jadi, pernikahan sebagai satu rancangan Allah dimana Dia akan merencanakan yang terbaik bagi manusia. Allah tahu kebutuhan kita. Kalau kita baca Matius 6 dikatakan burung pipit yang tidak menanam dan menuai dipelihara oleh Allah. Artinya burung pipit yang “tidak ada apa-apanya” pun dipelihara oleh Allah, apalagi kita sebagai anak-anakNya, yang berharga di mata Allah.
Kalau kita perhatikan di sini, rancangan Allah dalam pernikahan adalah untuk menggenapi mandatNya dengan menyediakan yang dibutuhkan manusia. Pada ayat 20-21, Allah yang berencana itu berniat untuk menyediakan apa yang menjadi kebutuhan manusia demi menggenapi rencanaNya (Kej 1:28). Karena itu, kalau Allah merencanakan saudara menikah demi menggenapi mandatNya, Ia akan menyediakannya. Allah melihat setiap kebutuhan manusia dan Ia tidak hanya berdiam diri, tetapi bertindak. Ia menyuruh Adam tidur dan diambilNya tulang rusuk Adam dan dijadikanNyalah perempuan. Allah menyediakan yang terbaik, dan yang penting semuanya dalam menggenapi rencanyaNya. Oleh karena itu pernikahan ada di dalam rencana Allah supaya mandat itu tergenapi.
Kedua, Allah akan menyediakan orang yang tepat bagi kita dalam pernikahan, supaya rencanaNya tergenapi. Ini yang perlu kita sadari, walaupun tidak semua manusia harus menikah (Matius 19:11-12). Mari kita bertanya pada diri kita; apakah saya lebih bisa menggenapi mandat Allah dengan menikah atau tidak menikah. Itulah sebabnya kepada kita diberikan free will-kehendak bebas. Tetapi free will ini tetap dalam rencana Allah. Dalam I Korintus 7 : 32-34, ada orang yang dikatakan Paulus sebaiknya tidak perlu menikah. Artinya, kalau laki-laki tidak punya isteri, bisa lebih banyak memberikan perhatiannya untuk pekerjaan Tuhan, bagaimana ia berkenan di hadapan Tuhan. Kalau seorang laki-laki menikah, dia akan berusaha untuk memikirkan perkara-perkara duniawi. Pada ayat 32, sorang laki-laki mungkin terjebak pada kekuatiran karena dia ingin menyenangkan isterinya ataupun sebaliknya. Kalau kita yakin bahwa rencana Allah akan digenapi dengan maksimal melalui pernikahan, silahkan menikah. Tetapi kalau lebih maksimal tanpa menikah, silahkan untuk tidak menikah. Ini adalah pikiran atau panggilan demi kemaksimalan panggilan hidup.
Ketika Allah yang merancang pernikahan, maka kriteria orang yang diberikan oleh Allah adalah penolong yang sepadan (ayat 18). Penolong yang sepadan ini, kalau kita perhatikan kembali ke rencana Allah, supaya mandat Allah (Kej 1:28) digenapi. Artinya melalui manusia, yang diberikan mandat oleh Allah untuk beranak cucu dan bertambah banyak, menaklukkan dunia dan menguasainya, dipakai untuk memuliakan Allah, membuat dunia semakin baik, dan dalam rangka inilah disediakan seorang penolong. Karena itu, kalau saudara meyakini untuk menikah, maka ada standart yang ditentukan Allah terhadap calon isteri atau suami, yakni penolong yang sepadan ini untuk merealisasikan rencana Allah.
Tujuan penolong yang sepadan itu juga untuk menghadirkan Kerajaan Allah. Kalau ‘dia’ seorang penolong yang sepadan, mari kita evaluasi; apakah dengan dia kehidupan kita maksimal dipakai Allah? Kalau tidak berarti dia adalah perongrong yang sepadan. Menikah dengan orang yang tepat, berarti dia penolong dan menikah dengan orang yang tidak tepat berarti perongrong. Oleh karena itu jangan menikah hanya karena kesepian, kebutuhan akan seks, anak, dll, tetapi mari kita pikirkan kembali, ‘apakah dengan menikah mandat Allah digenapi melalui hidup kita?’. Seorang penolong berarti dengan dia kita semakin bertumbuh dan mengasihi Tuhan dan lebih maksimal dalam pelayanan.
Di dalam pernikahan, ada satu tujuan untuk menghadirkan kerajaan Allah sesuai mandat dalam Kej 1:28. Membuat dunia menjadi ‘surga’, membuat ciptaan Allah dikelola atau dieksplorasi manusia untuk kesejahteraan, dan pernikahan ada di dalam rencana itu. Apakah dengan menikah kita dapat menghadirkan Kerajaan Allah di tengah keluarga kita? Apakah dengan pernikahan damai sejahtera dan kebenaran semakin nyata di dalam hidup kita? Kalau tidak, berarti ada sesuatu yang harus segera dibenahi. Oleh sebab itu, mari kita sebagai anak-anak Tuhan jangan berpikir dari pada tidak ada calon pendamping membuat kita menurunkan standart (kompromi).
Pada ayat 23 dikatakan bahwa pernikahan dalam rancangan Allah ada dalam bentuk kesatuan yang sempurna yaitu satu daging. Saya dengan anda (kita ini) adalah satu tubuh, yaitu tubuh Kristus, tetapi seorang suami dengan isterinya adalah satu daging. Inilah yang dikatakan ‘tulang dari tulangku dan daging dari dagingku’. Oleh sebab itu antara kita dan pasangan kita harus memiliki hubungan yang harmonis, artinya tidak saling menghina, mengejek, dan menyakiti. Inilah yang dijanjikan oleh Allah, bahwa rencana Allah di dalam pernikahan merupakan perpaduan yang sempurna yang saling membangun, saling menguatkan, dan saling menolong. Hal ini bukan berarti tidak ada konflik dalam pernikahan orang Kristen. Rencana Allah sangat agung. Mari kita lihat Matius 19:5-6. perhatikan kata ‘dipersatukan’. Kata ini pasif bagi manusia dan Allah yang aktif. Jadi tidak mungkin ada pernikahan dalam rencana Allah yang bukan dirancang oleh Allah. Jangan berpikir kalau sudah lahir baru, sudah cukup. Tentu tidak. Tetapi mari kita merenungkan bahwa tidak mungkin Allah mempersatukan seseorang dengan orang yang tidak tepat. Kalau hal ini terjadi, itu pasti karena kita sendiri, bukan karena Allah.
Pada ayat 24 dikatakan bahwa manusia laki-laki itu meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya. Dengan demikian mereka menjadi satu daging. Kita lihat di sini ada satu kemandirian dan kedewasaan. Memang ada ahli biblika mengatakan bahwa ayat 24 dan 25 adalah catatan redaksi bukan bagian akhir dari satu narasi sebelumnya. Tetapi menurut saya pastilah penempatan ayat ini juga karena pimpinan Roh dan harus diakui otoritasnya dan memiliki tujuan yang jelas Kita perhatikan pada ayat ini bahwa dalam pernikahan, mereka yang dipersatukan akan semakin mandiri dan dewasa dari segi karakter, pola pikir, nilai hidup, termasuk dalam hal finansial. Mereka bisa menyelesaikan konflik mereka sendiri di dalam Tuhan (mandiri), tanpa bergantung kepada siapapun.
Mari kita baca ayat 25. Ada banyak penafsiran akan ayat ini. Misalnya ada yang mengatakan “itukan wajar, karena manusia yang ada hanya mereka berdua. Jadi tidak perlu malu”. Ada juga yang mengatakan ini adalah simbol keintiman. Mereka sangaty intim sekali, sehingga tida ada rasa malu lagi. Dan rasa tidak malu di sini bukan hanya karena simbol seks. Tetapi berkaitan dengan keterbukaan antara suami isteri. Suami tidak malu menerima apa adanya isteri atau sebaliknya.
Tetapi dilihat dari segi teksnya, lebih tepat ada dua hal yaitu intimacy dan the Exclusiveness of Love. Keintiman bisa dengan atau tanpa seks. Seks tanpa cinta sama dengan pelacur. Cinta tanpa seks adalah persahabatan dan cinta dengan seks adalah pernikahan. Cinta dengan seks menunjukkan adanya satu intimacy atau kedekatan, kemesraan, dan Allah menciptakan pernikahan yang sedemikian rupa. Seks merupakan buah dari cinta. Mari kita tunduk pada rencaana Allah di dalam diri kita dan tidak perlu kuatir dan malu kalau kita belum punya pasangan sebab segala sesuatu indah pada waktunya.
Roma 8:32 mengatakan bahwa “Ia yang tidak menyayangkan anakNya sendiri, tetapi menyerahkanNya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepadakita bersama-sama dengan Dia?” Kalau menurut Allah seseorang tepat untuk menikah, Dia pasti menyediakan seorang penolong yang sepadan baginya, walaupun usia semakin bertambah, mari tetap hidup dalam pengharapan kepada Allah bahwa segala sesuatu yang dari Dia merupakan yang terbaik bagi kita. Sebagai seorang yang percaya, selayaknya kita terus mengkaji hidup apakah akan lebih maksimal bagi Tuhan dengan menikah atau tidak. Yang pasti, semua hidup kita harus dalam rencana Allah yang mulia. Tuhan memberkati!
Soli Deo Gloria!
[Sei Christian Life - 04]: Dealing With Failure & Depression
By: Denni Boy Saragih, M. Div
Hari ini kita akan belajar mengenai depresi, suatu pengalaman kehidupan yang lebih dalam daripada stress. Mari kita membaca bagian dari Firman Tuhan mengenai seorang hamba Tuhan yang mengalami depresi dalam hidupnya, yaitu Elia di dalam 1 Raja 19:1-8.
Seorang ahli bernama Vance Hafner, mangatakan bahwa hidup manusia dibagi dalam tiga pembagian besar. Pertama adalah hari dimana kita mengalami apa yang disebut dengan mountaintop days, yaitu hari dimana kita mengalami puncak kehembiraan, hari yang menyenangkan, luar biasa, dan biasanya memiliki ketegangan dan gairah yang luar biasa (misalnya ketika kita dipromosikan menjadi direktur atau saat bermain game). Hal ini jugalah yang dialami Elia ketika dia berhadapan dengan nabi-nabi palsu di gunung Karmel. Pada saat itu Elia menghadapi sesuatu yang luar biasa. Dia membunuh banyak nabi-nabi palsu dengan pedangnya. Biasanya masa-masa seperti ini berlangsung dengan singkat, dikarenakan kemampuan hormon manusia untuk menghasilkan yang seperti ini sangat terbatas. Kedua adalah Ordinary days, yaitu hari-hari yang biasa dimana kita tidak terlalu tertarik ataupun susah. Kita beraktifitas biasa tanpa beban. Ketiga adalah Dark days. Menurut satu penelitian 4%-9% dari populasi di dunia mengalaminya. Menurut satu survey yang lain, ada 25 % mahasiswa mengalami hal ini di dalam hidupnya. Dan depresi termasuk dalam bagian dark days.
Sebenarnya, apakah yang dimaksud dengan depresi? Depresi itu sangat beragam, dalam hal bahayanya (ringan atau berat), dalam hal frekuensinya (sekali atau berulang-ulang), dalam hal durasinya (singkat atau panjang), dan dalam hal sumbernya (dari dalam diri sendiri atau dari luar). Tanda-tannda umum depresi dapat kita lihat pada point di bawah ini :
Bila anda mengalami gejala-gejala seperti ini, berarti kemungkinan besar anda depresi. Ini bukanlah masalah yang terlalu besar. Yang penting adalah kita menyadari bahwa diri kita sedang depresi, karena memang kita anak-anak Tuhan sering menyangkal bahwa kita sedang depresi. Kita tidak ingin dianggap lemah atau gagal karena kita adalah PKPA atau pengurus. Tidak ada salahnya jika suatu waktu kita mengalami kelelahan dan menjadi lemah. Elia dan para pemazmur pun mengalami masa dimana mereka mengalami depresi, baik yang berat maupun ringan.
Banyak faktor-faktor penyebab depresi baik faktor fisik maupun faktor kognitif psikologis yang sering dialami oleh manusia.
Faktor Fisikal
1. Orang mengalami depresi disebabkan oleh masalah biologis sederhana seperti kurang tidur dalam waktu yang lama, kurang olah raga, efek samping dari obat, sakit fisik, dan diet yang buruk. Depresi seperti ini biasanya bisa hilang bersamaan dengan waktu, jika istirahat yang cukup, berolah raga, dan hidup yang teratur. Sama halnya dengan Elia, ketika dia melarikan diri, lalu depresi, kemudian ingin mati. Tuhan tidak memberikan kepadanya kuasa rohani, tetapi Tuhan memberikan makanan dan minuman.
2. Depresi juga dapat disebabkan oleh Premenstrual Syndrome (PMS). Jadi depresi yang terjadi menjelang masa menstruasi. Kemudian ada juga yang dinamakan Postpartum Depression, dimana depresi yang dialami seorang ibu pasca melahirkan. Seorang ibu yang baru melahirkan biasanya mengalami kurang tidur karena si bayi harus makan dua atau empat jam sekali. Dengan rutinitas seperti ini seorang ibu akan mengalami kelelahan yang luar biasa dan menjadi marah ketika anaknya membandel. Ketika dia marah kepada anaknya dia merasa bahwa dirinya bukanlah ibu yang baik, tidak mengasihi bayinya dan menjadi benci pada diri sendiri. Tetapi hal ini bisa dibantu dengan dukungan dari suami atau dari konselor bahwa sang ibu mengalami depresi dan dia tidak boleh terlalu keras terhadap dirinya sendiri.
3. Depresi juga bisa disebabkan oleh faktor genetik. Hal ini belum terbukti tetapi ada beberapa kasus dimana jika ada kakeknya pernah mengalami depresi maka keturunannya pun cenderung depresi.
4. Depresi juga dapat disebabkan oleh Postadrenalic Depression. Biasanya jika ada seseorang yang menonton seharian penuh, maka malamnya dia akan mengalami depresi oleh karena adrenalinnya telah muncul terlalu banyak. Karena menonton maka otaknya bekerja terus, padahal manusia tidak mampu tegang terus menerus. Hal ini juga akan kita lakukan ketika kita menikmati ketegangan atau kenikmatan apa saja, seperti masa tenang setelah badai berlalu.
5. Penyakit seperti tumor otak, gangguan kelenjar, malfungsi neurokimia dalam tubuh juga dapat menyebabkan stress.
Faktor Kognitif Psikologis
1. Seseorang bisa mengalami depresi karena latar belakang keluarga dan masa kecil yang kurang bahagia. Orang-orang yang punya latar belakang seperti ini cenderung mengalami depresi setelah mereka dewasa tanpa sebab yang jelas. Mungkin bagi orang lain sesuatu itu masih biasa saja tetapi bagi mereka merupakan sesuatu yang menekan, membuat mereka tidak berdaya, dan depresi. Jika kita mengalami depresi karena latar belakang seperti ini, penting sekali bagi kita untuk kembali ke keluarga kita dan berbuat sesuatu bahwa kita juga berarti ditengah-tengah keluarga kita. Jika memang keluarga kita kurang harmonis, kelak ketika pulang, kita mencoba menjalin relasi yang baik. Itulah satu-satunya cara yang diperlukan agar kita bisa pulih dari depresi masa kecil kita. Kita menunjukkan teladan dalam keluarga, menun -jukkan kasih kepada mereka dan menerima mereka.
2. Orang juga depresi karena pemahaman tentang ketidakberdayaan. Ini adalah satu depresi karena dia belajar bahwa keadaan yang dia alami tidak bisa diubah. Dalam situasi seperti inilah kita perlu contenment di dalam Tuhan, bahwa kita sebagai anak-anak Tuhan menya -dari sesuatu yang buruk terjadi kepada kita. Kita harus berdamai dengan situasi yang kita hadapi. Ingat, salah satu refleksi dari keselamatan adalah ketika kita berdamai dengan Tuhan maka kita akan belajar berdamai dengan diri sendiri. Kita harus menerima keberadaan kita. Jangan mengukur kenikmatan hidup dari harta yang kita miliki, tetapi kepada kedekatan kita dengan Allah, apakah kita hidup bersama dengan Allah atau bagaimana kita bisa menerima sesuatu dengan rasa syukur yang dalam kepada Allah. Orang yang kaya dan orang yang miskin akan memiliki kebahagian yang sama jika mereka hidup bersama dengan Tuhan. Tidak ada hubungan kebahagian dengan harta yang banyak. Contenment sangat penting-rasa puas dengan apa yang Tuhan berikan pada kita. Menyadari bahwa ini adalah kondisi yang terbaik yang diberikan oleh Tuhan pada saat ini.
3. Orang juga depresi karena pikiran-pikiran negatif tentang diri sendiri. Sama seperti stress yang kita pelajari minggu lalu, jika seseorang berfokus pada hal-hal yang negatif atau kekurangan-kekurangannya maka dia juga cenderung stress. Mereka melihat bahwa orang lain memiliki lebih dari apa yang mereka memiliki. Bagaimana mengatasinya? Mari mencoba melihat sisi positif dari kehidupan. Mari merefleksikan dua atau tiga hal yang anda sangat syukuri di dalam kehidupan anda. Jika anda sampai pada kesimpulan bahwa anda ingin menjadi orang lain karena merasa kehidupan mereka lebih baik, berarti ada sesuatu yang belum beres di dalam diri anda. Tetapi jika anda memilih untuk hidup seperti kehidupan anda sekarang ini, anda berada pada jalan yang benar. Kita bisa melihat bahwa penderitaan, tantangan, cobaan yang kita alami sejak kecil sampai sekarang ini pasti membawa satu hal yang positif yang kita syukuri dalam kehidupan kita.
4. Kemarahan yang dipendam juga bisa menye- bakan depresi. Situasi inilah yang dinamakan hidden emotion dan hal ini sangat berbahaya. Ketika kita depresi, kita tidak mengetahui apa yang menyebabkan kita depresi, karena sumber- nya telah lama kita tekan. Oleh sebab itu kita perlu mengalami satu releasing seperti tertawa, rekreasi, ataupun kegiatan lain. Hal ini akan menyehatkan dan menyegarkan jiwa kita.
5. Dosa dan rasa bersalah juga bisa menyebabkan depresi. Agar bisa bertahan dan tidak jatuh, kita harus memfokuskan diri kita pada Kristus karena jika fokus kita pada pencobaan, kita tidak akan berhasil.
Depresi juga memberikan dampak yang tidak baik bagi diri kita. Ada beberapa dampak dari depresi, yaitu :
1. Unhappiness and Inefficiency
Orang yang depresi tidak akan bahagia dan tidak efisien. Tugas yang bisa dilakukan dalam satu minggu dapat mereka kerjakan dlam satu tahun.
2. Physical Illness
Ketika depresi, tubuh kita akan lemah dan mudah menjadi sakit. Bisa saja disebabkan karena kita ingin mendapat perhatian dari orang lain.
3. Low Self Esteem and Withdrawal.
Seseorang yang stress dapat menarik diri dari komunitas dimana dia berada. Sese- orang yang menarik diri dari pelayanan bisa saja disebabkan karena dia mengalami dep- resi. Jika kita mengalaminya, istirahatlah yang cukup sama seperti Elia.
4. Bunuh diri
Orang yang depresi akan merasa dirinya tidak berharga, tidak berarti, dan tidak punya tujuan. Hal ini akan menyebabkan dia memiliki pikiran untuk mengakhiri hidupnya.
5. Hypochondriasis
Ini adalah kondisi dimana kita memiliki ambang sakit yang rendah karena depresi. Kita akan merasa penyakit kita sangat parah sekali sedangkan pada orang lain penyakit tersebut biasa saja.
6. Depresi juga dapat mengakibatkan perilaku yang kompulsif seperti marah atau memukul secara tiba-tiba.
7. Depresi juga dapat mengakibatkan masalah dalam hal seksual.
Depresi perlu ditangani dengan serius. Mari kita kembali melihat bagian Firman yang telah kita lihat di awal tadi, dari 1 Raja 19:1-8. Dari ayat 5-8, kita dapat melihat ada empat hal yang penting kita ingat jika kita mengalami depresi.
1. Sewaktu kita mengalami depresi, kita perlu berbaring dan beristirahat. Terkadang kita begitu lelah karena pekerjaan kita. Mari malakukan sesuatu yang dapat membuat kita rileks. Jangan terlalu pelit dengan tabungan, sekali waktu mari kita memuaskan diri kita.
2. Jagalah kesehatan fisik. Sewaktu kita mengalami depresi, sangat penting untuk menjaga kesehatan fisik kita. Dalam 1 Raj 19 tadi, kita melihat bagaimana Allah menyediakan roti dan air bagi Elia.
3. Mari kita melihat ayat 7, ” Untuk kedua kalinya malaikat TUHAN datang menyentuh nya dan berkata, "Bangun, Elia, makanlah, supaya kau dapat tahan mengadakan perjalanan jauh." Dari bagian ini kita belajar agar tidak menuruti seluruh keinginan. Orang depresi cenderung ingin lebih. Kita perlu makan tetapi tidak makan berlebihan. Kita perlu istirahat, tetapi bukan istirahat berlebihan.
4. Datanglah menghadap Tuhan.
Dalam ayat delapan kita melihat bagaimana Elia berjalan selama 40 hari 40 malam. Bukan bermaksud untuk menafsir secara alegoris, tetapi kita bisa melihat bagaimana Elia berjalan selama itu untuk sampai dan bertemu dengan Tuhan. Tidak gampang bagi Elia untuk bertemu dengan Tuhan. Orang yang depresi pun punya pengalaman yang sama, dimana mereka susah untuk berdoa, membaca alkitab, dan untuk bernyanyi. Semua tidak ada rasanya. Orang yang depresi mungkin perlu ‘berjalan selama 40 hari 40 malam’ sama seperti Elia. Kita harus ekstra untuk bisa sungguh-sungguh untuk menghadap Tuhan. Walaupun berdoa sangat susah, tetaplah berdoa. Jika ketika kita tidak merasakan apa-apa dalam persekutuan, kita juga harus datang. Mungkin ada orang yang mengatakan, “Untuk apa saya harus datang MBA, toh saya tidak mendapat apa-apa!” Sesungguhnya mereka adalah orang yang paling perlu datang MBA, paling perlu untuk mendapat pengisian secara rohani.
Kenapa orang tidak merasakan apa-apa ketika hadir di dalam pengisian rohani adalah karena dia telah kehilangan sensifitas kerohanian, dan perlu segera dipulihkan. Sama seperti orang yang tidak selera makan, manakah yang lebih baik dia tetap makan atau dia tidak makan sama sekali? Tentu saja dia tetap makan jauh lebih baik dan lebih menolong bagi kondisinya. Demikian juga dengan kondisi rohani yang depresi, jika tidak selera berdoa, baca alkitab, atau ikut persekutuan, tetaplah berusaha melaukannya. Pada akhirnya kita akan dipulihkan oleh Tuhan. Tidak gampang memang, tetapi Firma Tuhan berkata di dalam Yes 42:3, : “Buluh yang terkulai tak akan dipatahkannya, pelita yang kelap-kelip tak akan dipadamkannya, ...”
Soli Deo Gloria!
Hari ini kita akan belajar mengenai depresi, suatu pengalaman kehidupan yang lebih dalam daripada stress. Mari kita membaca bagian dari Firman Tuhan mengenai seorang hamba Tuhan yang mengalami depresi dalam hidupnya, yaitu Elia di dalam 1 Raja 19:1-8.
Seorang ahli bernama Vance Hafner, mangatakan bahwa hidup manusia dibagi dalam tiga pembagian besar. Pertama adalah hari dimana kita mengalami apa yang disebut dengan mountaintop days, yaitu hari dimana kita mengalami puncak kehembiraan, hari yang menyenangkan, luar biasa, dan biasanya memiliki ketegangan dan gairah yang luar biasa (misalnya ketika kita dipromosikan menjadi direktur atau saat bermain game). Hal ini jugalah yang dialami Elia ketika dia berhadapan dengan nabi-nabi palsu di gunung Karmel. Pada saat itu Elia menghadapi sesuatu yang luar biasa. Dia membunuh banyak nabi-nabi palsu dengan pedangnya. Biasanya masa-masa seperti ini berlangsung dengan singkat, dikarenakan kemampuan hormon manusia untuk menghasilkan yang seperti ini sangat terbatas. Kedua adalah Ordinary days, yaitu hari-hari yang biasa dimana kita tidak terlalu tertarik ataupun susah. Kita beraktifitas biasa tanpa beban. Ketiga adalah Dark days. Menurut satu penelitian 4%-9% dari populasi di dunia mengalaminya. Menurut satu survey yang lain, ada 25 % mahasiswa mengalami hal ini di dalam hidupnya. Dan depresi termasuk dalam bagian dark days.
Sebenarnya, apakah yang dimaksud dengan depresi? Depresi itu sangat beragam, dalam hal bahayanya (ringan atau berat), dalam hal frekuensinya (sekali atau berulang-ulang), dalam hal durasinya (singkat atau panjang), dan dalam hal sumbernya (dari dalam diri sendiri atau dari luar). Tanda-tannda umum depresi dapat kita lihat pada point di bawah ini :
- Orang yang depresi biasanya mengalami kesedihan yang disertai dengan rasa pesimis dan rasa tidak berdaya. Jika kita melihat Elia, setelah mengalami ketegangan yang tinggi, dia mengalami apa yang disebut dengan Postadrenalic Depression. Setelah berhada- pan dan membunuh nabi palsu, dia masuk dalam satu depresi, lemas tidak berdaya, sedih, bahkan ingin bunuh diri.
- Biasanya orang yang depresi mengalami Apathy dan Inertia. Ini adalah situasi dimana seseorang itu malas melakukan kegiatan apapun.
- Orang depresi mengalami rasa lelah disertai hilangnya tenaga dan ketertarikan pada kerja. Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka telah mengalami depresi ringan ketika mereka mulai mengeluh ketika akan memulai kerja. Mereka juga tidak tertarik untuk memimpin kelompok atau ikut persekutuan maupun hal yang lain. Anak-anak Tuhan juga sering sekali tidak mengakui bahwa mereka depresi karena pemahaman yang mengang- gap bahwa depresi itu adalah tanda dari iman yang kurang kepada Tuhan. Bukan hanya sebatas kerja, mereka juga kehilangan ketertarikan akan hobi ataupun seks.
- Orang yang depresi juga mengalami low self esteem, yaitu rasa rendah diri dan merasa dirinya tidak berharga. Itulah sebabnya dirinya ingin bunuh diri, meski bertanya-tanya kenapa dirinya seperti ini.
- Orang yang depresi juga kehilangan spontanitas. Ketika semua orang sudah tertawa, dia baru tertawa bebrapa saat kemudian. Respon mereka terlambat diban- dingkan dengan orang yang tidak stress.
- Orang depresi juga akan mengalami insomnia (walau ada beberapa kasus mereka suka tidur) dan sulit untuk berkonsentrasi. Pikirannya mengawang dan pandangan mereka kosong.
- Mereka juga akan kehilangan selera makan.
Bila anda mengalami gejala-gejala seperti ini, berarti kemungkinan besar anda depresi. Ini bukanlah masalah yang terlalu besar. Yang penting adalah kita menyadari bahwa diri kita sedang depresi, karena memang kita anak-anak Tuhan sering menyangkal bahwa kita sedang depresi. Kita tidak ingin dianggap lemah atau gagal karena kita adalah PKPA atau pengurus. Tidak ada salahnya jika suatu waktu kita mengalami kelelahan dan menjadi lemah. Elia dan para pemazmur pun mengalami masa dimana mereka mengalami depresi, baik yang berat maupun ringan.
Banyak faktor-faktor penyebab depresi baik faktor fisik maupun faktor kognitif psikologis yang sering dialami oleh manusia.
Faktor Fisikal
1. Orang mengalami depresi disebabkan oleh masalah biologis sederhana seperti kurang tidur dalam waktu yang lama, kurang olah raga, efek samping dari obat, sakit fisik, dan diet yang buruk. Depresi seperti ini biasanya bisa hilang bersamaan dengan waktu, jika istirahat yang cukup, berolah raga, dan hidup yang teratur. Sama halnya dengan Elia, ketika dia melarikan diri, lalu depresi, kemudian ingin mati. Tuhan tidak memberikan kepadanya kuasa rohani, tetapi Tuhan memberikan makanan dan minuman.
2. Depresi juga dapat disebabkan oleh Premenstrual Syndrome (PMS). Jadi depresi yang terjadi menjelang masa menstruasi. Kemudian ada juga yang dinamakan Postpartum Depression, dimana depresi yang dialami seorang ibu pasca melahirkan. Seorang ibu yang baru melahirkan biasanya mengalami kurang tidur karena si bayi harus makan dua atau empat jam sekali. Dengan rutinitas seperti ini seorang ibu akan mengalami kelelahan yang luar biasa dan menjadi marah ketika anaknya membandel. Ketika dia marah kepada anaknya dia merasa bahwa dirinya bukanlah ibu yang baik, tidak mengasihi bayinya dan menjadi benci pada diri sendiri. Tetapi hal ini bisa dibantu dengan dukungan dari suami atau dari konselor bahwa sang ibu mengalami depresi dan dia tidak boleh terlalu keras terhadap dirinya sendiri.
3. Depresi juga bisa disebabkan oleh faktor genetik. Hal ini belum terbukti tetapi ada beberapa kasus dimana jika ada kakeknya pernah mengalami depresi maka keturunannya pun cenderung depresi.
4. Depresi juga dapat disebabkan oleh Postadrenalic Depression. Biasanya jika ada seseorang yang menonton seharian penuh, maka malamnya dia akan mengalami depresi oleh karena adrenalinnya telah muncul terlalu banyak. Karena menonton maka otaknya bekerja terus, padahal manusia tidak mampu tegang terus menerus. Hal ini juga akan kita lakukan ketika kita menikmati ketegangan atau kenikmatan apa saja, seperti masa tenang setelah badai berlalu.
5. Penyakit seperti tumor otak, gangguan kelenjar, malfungsi neurokimia dalam tubuh juga dapat menyebabkan stress.
Faktor Kognitif Psikologis
1. Seseorang bisa mengalami depresi karena latar belakang keluarga dan masa kecil yang kurang bahagia. Orang-orang yang punya latar belakang seperti ini cenderung mengalami depresi setelah mereka dewasa tanpa sebab yang jelas. Mungkin bagi orang lain sesuatu itu masih biasa saja tetapi bagi mereka merupakan sesuatu yang menekan, membuat mereka tidak berdaya, dan depresi. Jika kita mengalami depresi karena latar belakang seperti ini, penting sekali bagi kita untuk kembali ke keluarga kita dan berbuat sesuatu bahwa kita juga berarti ditengah-tengah keluarga kita. Jika memang keluarga kita kurang harmonis, kelak ketika pulang, kita mencoba menjalin relasi yang baik. Itulah satu-satunya cara yang diperlukan agar kita bisa pulih dari depresi masa kecil kita. Kita menunjukkan teladan dalam keluarga, menun -jukkan kasih kepada mereka dan menerima mereka.
2. Orang juga depresi karena pemahaman tentang ketidakberdayaan. Ini adalah satu depresi karena dia belajar bahwa keadaan yang dia alami tidak bisa diubah. Dalam situasi seperti inilah kita perlu contenment di dalam Tuhan, bahwa kita sebagai anak-anak Tuhan menya -dari sesuatu yang buruk terjadi kepada kita. Kita harus berdamai dengan situasi yang kita hadapi. Ingat, salah satu refleksi dari keselamatan adalah ketika kita berdamai dengan Tuhan maka kita akan belajar berdamai dengan diri sendiri. Kita harus menerima keberadaan kita. Jangan mengukur kenikmatan hidup dari harta yang kita miliki, tetapi kepada kedekatan kita dengan Allah, apakah kita hidup bersama dengan Allah atau bagaimana kita bisa menerima sesuatu dengan rasa syukur yang dalam kepada Allah. Orang yang kaya dan orang yang miskin akan memiliki kebahagian yang sama jika mereka hidup bersama dengan Tuhan. Tidak ada hubungan kebahagian dengan harta yang banyak. Contenment sangat penting-rasa puas dengan apa yang Tuhan berikan pada kita. Menyadari bahwa ini adalah kondisi yang terbaik yang diberikan oleh Tuhan pada saat ini.
3. Orang juga depresi karena pikiran-pikiran negatif tentang diri sendiri. Sama seperti stress yang kita pelajari minggu lalu, jika seseorang berfokus pada hal-hal yang negatif atau kekurangan-kekurangannya maka dia juga cenderung stress. Mereka melihat bahwa orang lain memiliki lebih dari apa yang mereka memiliki. Bagaimana mengatasinya? Mari mencoba melihat sisi positif dari kehidupan. Mari merefleksikan dua atau tiga hal yang anda sangat syukuri di dalam kehidupan anda. Jika anda sampai pada kesimpulan bahwa anda ingin menjadi orang lain karena merasa kehidupan mereka lebih baik, berarti ada sesuatu yang belum beres di dalam diri anda. Tetapi jika anda memilih untuk hidup seperti kehidupan anda sekarang ini, anda berada pada jalan yang benar. Kita bisa melihat bahwa penderitaan, tantangan, cobaan yang kita alami sejak kecil sampai sekarang ini pasti membawa satu hal yang positif yang kita syukuri dalam kehidupan kita.
4. Kemarahan yang dipendam juga bisa menye- bakan depresi. Situasi inilah yang dinamakan hidden emotion dan hal ini sangat berbahaya. Ketika kita depresi, kita tidak mengetahui apa yang menyebabkan kita depresi, karena sumber- nya telah lama kita tekan. Oleh sebab itu kita perlu mengalami satu releasing seperti tertawa, rekreasi, ataupun kegiatan lain. Hal ini akan menyehatkan dan menyegarkan jiwa kita.
5. Dosa dan rasa bersalah juga bisa menyebabkan depresi. Agar bisa bertahan dan tidak jatuh, kita harus memfokuskan diri kita pada Kristus karena jika fokus kita pada pencobaan, kita tidak akan berhasil.
Depresi juga memberikan dampak yang tidak baik bagi diri kita. Ada beberapa dampak dari depresi, yaitu :
1. Unhappiness and Inefficiency
Orang yang depresi tidak akan bahagia dan tidak efisien. Tugas yang bisa dilakukan dalam satu minggu dapat mereka kerjakan dlam satu tahun.
2. Physical Illness
Ketika depresi, tubuh kita akan lemah dan mudah menjadi sakit. Bisa saja disebabkan karena kita ingin mendapat perhatian dari orang lain.
3. Low Self Esteem and Withdrawal.
Seseorang yang stress dapat menarik diri dari komunitas dimana dia berada. Sese- orang yang menarik diri dari pelayanan bisa saja disebabkan karena dia mengalami dep- resi. Jika kita mengalaminya, istirahatlah yang cukup sama seperti Elia.
4. Bunuh diri
Orang yang depresi akan merasa dirinya tidak berharga, tidak berarti, dan tidak punya tujuan. Hal ini akan menyebabkan dia memiliki pikiran untuk mengakhiri hidupnya.
5. Hypochondriasis
Ini adalah kondisi dimana kita memiliki ambang sakit yang rendah karena depresi. Kita akan merasa penyakit kita sangat parah sekali sedangkan pada orang lain penyakit tersebut biasa saja.
6. Depresi juga dapat mengakibatkan perilaku yang kompulsif seperti marah atau memukul secara tiba-tiba.
7. Depresi juga dapat mengakibatkan masalah dalam hal seksual.
Depresi perlu ditangani dengan serius. Mari kita kembali melihat bagian Firman yang telah kita lihat di awal tadi, dari 1 Raja 19:1-8. Dari ayat 5-8, kita dapat melihat ada empat hal yang penting kita ingat jika kita mengalami depresi.
1. Sewaktu kita mengalami depresi, kita perlu berbaring dan beristirahat. Terkadang kita begitu lelah karena pekerjaan kita. Mari malakukan sesuatu yang dapat membuat kita rileks. Jangan terlalu pelit dengan tabungan, sekali waktu mari kita memuaskan diri kita.
2. Jagalah kesehatan fisik. Sewaktu kita mengalami depresi, sangat penting untuk menjaga kesehatan fisik kita. Dalam 1 Raj 19 tadi, kita melihat bagaimana Allah menyediakan roti dan air bagi Elia.
3. Mari kita melihat ayat 7, ” Untuk kedua kalinya malaikat TUHAN datang menyentuh nya dan berkata, "Bangun, Elia, makanlah, supaya kau dapat tahan mengadakan perjalanan jauh." Dari bagian ini kita belajar agar tidak menuruti seluruh keinginan. Orang depresi cenderung ingin lebih. Kita perlu makan tetapi tidak makan berlebihan. Kita perlu istirahat, tetapi bukan istirahat berlebihan.
4. Datanglah menghadap Tuhan.
Dalam ayat delapan kita melihat bagaimana Elia berjalan selama 40 hari 40 malam. Bukan bermaksud untuk menafsir secara alegoris, tetapi kita bisa melihat bagaimana Elia berjalan selama itu untuk sampai dan bertemu dengan Tuhan. Tidak gampang bagi Elia untuk bertemu dengan Tuhan. Orang yang depresi pun punya pengalaman yang sama, dimana mereka susah untuk berdoa, membaca alkitab, dan untuk bernyanyi. Semua tidak ada rasanya. Orang yang depresi mungkin perlu ‘berjalan selama 40 hari 40 malam’ sama seperti Elia. Kita harus ekstra untuk bisa sungguh-sungguh untuk menghadap Tuhan. Walaupun berdoa sangat susah, tetaplah berdoa. Jika ketika kita tidak merasakan apa-apa dalam persekutuan, kita juga harus datang. Mungkin ada orang yang mengatakan, “Untuk apa saya harus datang MBA, toh saya tidak mendapat apa-apa!” Sesungguhnya mereka adalah orang yang paling perlu datang MBA, paling perlu untuk mendapat pengisian secara rohani.
Kenapa orang tidak merasakan apa-apa ketika hadir di dalam pengisian rohani adalah karena dia telah kehilangan sensifitas kerohanian, dan perlu segera dipulihkan. Sama seperti orang yang tidak selera makan, manakah yang lebih baik dia tetap makan atau dia tidak makan sama sekali? Tentu saja dia tetap makan jauh lebih baik dan lebih menolong bagi kondisinya. Demikian juga dengan kondisi rohani yang depresi, jika tidak selera berdoa, baca alkitab, atau ikut persekutuan, tetaplah berusaha melaukannya. Pada akhirnya kita akan dipulihkan oleh Tuhan. Tidak gampang memang, tetapi Firma Tuhan berkata di dalam Yes 42:3, : “Buluh yang terkulai tak akan dipatahkannya, pelita yang kelap-kelip tak akan dipadamkannya, ...”
Soli Deo Gloria!
[Seri Christian Life - 03]: Dealing With Stress & Preasure
By: Denni Boy Saragih, M. Div
Hari ini kita akan membahas topik mengenai stres dan tekanan. Kita akan memulai dengan pertanyaan “apa itu stress?”
Seorang ahli yang pertama sekali memperkenalkan kata ’stress’ bernama Hans Selye menyatakan bahwa stress adalah adalah human reaction to change-reaksi manusia pada perubahan. Hans melihat bahwa setiap perubahan yang kita terima, apakah itu baik (mis. promosi pekerjaan) atau buruk (mis. kehilangan pekerjaan) respon tubuh kita sama, dimana kita mengalami stress. Hans membuat dua perbedaan akan stress yaitu dystress dan eustress. Dystress adalah stress yang mengakibatkan hal-hal yang berbahaya seperti rasa sakit dan penderitaan. Sedangkan eustress adalah stress yang baik yang biasanya menyenangkan dan berisikan tekanan-tekanan yang menantang, misalnya ketika akan kunjungan pertama untuk bertemu dengan orang tua kekasih kita.
Para psikolog membuat sesuatu yang dinamakan Life Change Units (LCU) yang mengukur stress dalam bentuk skala. Yang paling membuat stress adalah kehilangan pasangan atau anak dimana nilainya 100. Kemudian perceraian dengan nilai 73, dan liburan masuk dalam urutan 41 dengan nilai 13 (untuk lebih jelas mengenai LCU ini, dapat dilihat di tabel). Bila kita perhatikan, sebenarnya stress itu beragam dan bermacam-macam sesuai dengan situasi dan kondisi perubahan yang kita alami dalam hidup kita. Apa yang mau saya tekankan disini adalah stress merupakan bagian dari hidup kita sehari hari. Bukan hanya hal-hal yang negatif yang membuat stress, melainkan hal-hal yang positif pun membuat stress sama seperti yang dinyatakan oleh Hans di atas.
Ada empat mitos yang tidak sehat mengenai stress yang sering dimiliki oleh anak pelayanan.
1. Stress selalu disebabkan oleh dosa dan iman yang kurang kepada Tuhan.
Dosa memang sering membuat seseorang stress karena perasaan bersalah, tetapi tidak bisa kita generalisasikan bahwa semua stress adalah karena dosa.
2. Stress disebabkan oleh ambisi yang terlalu besar.
Orang yang ambisius sering mengalami stress karena ketakutan akan kegagalan dan keinginan yang sangat kuat untuk mencapai sesuatu. Tetapi bukan satu-taunya penyebab stress.
3. Stress adalah dosa
Hal ini terlalu berlebihan.
4. Stress akan hilang dengan sendirinya jika kita melakukan latihan rohani.
’Orang Kristen’ dan ’stress’ adalah dua hal yang sangat kontradiktif. Orang Kristen yang sungguh-sungguh tidak akan pernah mengalami stress. Ini adalah mitos yang salah. Kenapa saya katakan demikian? Karena di dalam Alkitab kita bisa melihat bahwa Tuhan Yesus sendiri stress dan tertekan, begitu juga dengan para nabi dan para rasul. Kita tidak dapat menghindarinya.
Karena setiap perubahan akan membuat kita stress, maka kita harus berani mengatakan ”Selamat datang stress!” Stress adalh bagian dari hidup kita dan kita tidak perlu terkejut menghadapi stress tersebut. Selama kita hidup, kita akan mengalami perubahan-perubahan yang berarti kita pasti akan mengalami stress. Jangan pernah pusing jika kita banyak stress. Yang perlu kita renungkan adalah bagaimana kita sebagai anak-anak Tuhan dapat memanajemennya. Stress tidak bisa dihilangkan, tetapi dapat dikelola sehingga tidak membawa dampak yang negatif dalam hidup kita.
Ada beberapa tipe manusia yang mudah mengalami stress.
1. Ambisius
Orang dengan tipe seperti ini adalah orang yang paling mudah stress karena keinginannya yang sangat kuat untuk berhasil. Keinginan ini membuat dia memaksakan keadaan agar apa yang diinginkannya tercapai. Mereka ingin mengubah keadaan bahkan terkadang ingin mengubah orang lain dan sering mengeks- ploitasi sekelilingnya untuk mencapai apa yang diinginkannya. Kita ketahui bersama bahwa keadaan sangat sulit diubah, orang lain juga sulit berubah, dan tentu saja hal ini akan membuat orang yang ambisius stress.
2. Tukang kuatir.
Orang dengan tipe seperti ini cenderung berpikir lebih banyak dari apa yang perlu dipikirkannya. Sama seperti sebuah ilustrasi jam, dimana jam tersebut menghitung-hitung berapa kali dia akan berdetik dalam satu menit, satu jam, satu hari, satu minggu atau satu tahun. Ketika jam tersebut memikir- kannya ia akan merasa stress. Seharusnya jam itu tidak perlu stress jika menyadari bahwa dia hanya perlu berdetak sekali sedetik.
3. Kompetitif
Orang dengan tipe seperti ini adalah orang yang takut jika orang lain melewati dia.
4. Ingin cepat sukses
Orang seperti ini selalu ingin berhasil dan melihat milik orang lain lebih bagus dari miliknya sendiri.
5. Sinis
Orang dengan tipe seperti ini selalu melihat kehidupannya dari sisi negatif saja.
6. Selalu ingin tepat waktu
Sesuatu yang menarik dimana orang seperti ini selalu dibawah tekanan dan akan cenderug stress (bukan berarti hal ini tidak baik).
7. Rigid (kaku) dan kurang bercanda
Ada beberapa hal yang dapat diakibatkan oleh stress.
1. Depressi
2. Stress related Disorder, dimana stress yang berkepanjangan dapat mengakibatkan tekanan darah tingi, sakit kulit, menurunnya daya tahan tubuh, dll.
3. Burn out, fatigue and frustration. Biasanya terjadi jika harapannya gagal.
4. Anxiety and restlesness (tidak bisa tenang).
Ada beberapa pandangan Alkitab mengenai stress.
1. Kita perlu mengetahui bahwa stress dan tekanan dialami oleh semua orang. Pemazmur dalam Mzm 69, 88, dan 102 menggambarkan hal ini. Dalam Mzm 43:5 Daud berseru :” Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” Pemazmur, seorang yang dekat dengan Tuhan menyatakan kepada dirinya sendiri mengapa engkau tertekan jiwaku, mengapa engkau gelisah di dalam diriku...”.jika kita perhatikan, justru di dalam stressnya dan ketertekanannya, dia makin dekat dengan Tuhan, berbicara kepada Tuhan dan memiliki pengharapan kepada Tuhan. Kita harus belajar bahwa stress adalah bagian dari hidup dan stress membuat kita semakin dekat dengan Tuhan.
2. Banyak hamba-hamba Tuhan yang terkenal saleh mengalami stress. Misalnya :
• Ayub, ketika dia melihat anaknya nakal, isterinya mengomel, dan ketika dia mengalami penderitaan meskipun sudah hidup benar dan saleh.
• Musa ketika melihat orang Israel yang keras kepala.
• Yunus yang stress karena tahu bahwa Allah akan mengampuni orang Niniwe.
• Petrus yang juga mengalainya ketika menyangkal Tuhan Yesus
• Bahkan Yesus sendiri mengalami tekanan dan stress dalam menggenapi panggilanNya. Di Getsemani Dia tertekan dan mau mati rasanya (Mat 26:37-38). Bila hamba-hamba Tuhan seperti mereka mengalami stress, kita juga akan mengalaminya. Menjadi anak Tuhan bukan berarti tidak bisa stress.
3. Alkitab memiliki pandangan yang realistis akan stress, namun menekankan pengharapan kepada tuhan dalam segala situasi kehidupan. Untuk melihat sisi baik dari segala sesuatu, tidak hanya dari sisi buruk semata. Mari kita melihat Fil 4:8, ” Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Mari meikirkan hal-hal yang positif dalam kehidupan. Jika kita memikirkan hal-hal yang negatif, kita akan menjadi stress dalam hidup ini. Ada sebuah illustrasi dimana seorang pemain biola yang sangat mahir tetapi tidak pernah ikut kontes. Suatu hari seseorang membiayainya untuk ikut kontes dan akhirnya berhasil sampai ke tingkat dunia. Pada pertandingan tingkat dunia dia akhirnya bertanding dan sampai ke final dengan tiga orang peserta. Peserta pertama bermain dengan sangat indahnya. Pemain kedia bermian dengan sangat mahir dan tanpa cela. Ketika dia bermain, dia bagaikan malaikant yang sedang bermain musik. Ketika semua terpesona ...tas...tali pertama putus dan semua orang terkejut. Tetapi dia bermain terus, kemu- dian...tas...tali kedua putus, tetapi ia tetap melanjutkan permainannya. Tas...tali ketiga juga putus. Para penonton dan dirigent sudah mulai kuatir dan stress, tetapi ia tetap tenang dan bermain sampai melodi yang terakhir. Ia memang tidak juara, tetapi sang juara pertama menyerahkan hadiah yang telah ia terima kepada pemain biola ketiga ini dan berkata :”Seharusnya kamu yang menjadi juara.” Charles Swindol mengatakan banyak orang-orang Kristen menghabiskan waktunya memikirkan ’tali yang putus’. Padahal jika kita pikirkan, bukankah tali biolanya tidak dapat tersambung lagi? Kita hanya akan mengham- burkan energi ketika bila memikirkannya. Lebih baik kekuatan yang kita miliki kita gunakan untuk memainkan melodi dengan sisa tali yang masih tersisa pada ’biola’ kita. Kita banyak seperti ’penonton’ dan ’dirigent’ yang stress. Sikap yang benar adalah tetap memainkan tali yang tersisa sampai melodi terakhir sehingga kita akan menjadi pemenang.
Ada beberapa cara yang alkitabiah untuk mengatasi dan mengelola stress., yaitu:
1. Trust in God (percaya kepada Tuhan)
Jika kita percaya kepada Tuhan, stress kita akan banyak berkurang meskipun tidak hilang. Tetapi kita bisa menghadapinya dengan optimisme dan iman. Paulus berkata dalam Fil 4:11-13, ” Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”. Inilah bukti bahwa Paulus memiliki hidup yang bergantung seluruhnya kepada Tuhan. Meskipun dalam penjara ia menulis bahwa segala sesuatu dapat ia tanggung di dalam Tuhan yang memberi kekuatan. Jika kita memiliki hal ini, kita akan hidup dengan tingkat stress yang lebih rendah. Itulah sebabnya bahwa semua yang kita pikirkan dan lakukan berhubungan. Jika kita memilikinya dengan bergantung kepada Tuhan, kita akan mengelola stress dengan lebih baik.
2. Hidupilah prinsip Sabbath
Jangan menjadi orang yang senang untuk bekerja secara berlebihan. Tuhan telah mene- tapkan adanya waktu untuk beristirahat. Kita perlu mengupayakan istirahat yang teratur setiap hari, setiap minggu, bulan, dan liburan. Nikmatilkah waktu untuk relaks dan rekreasi serta untuk melakukan hal-hal yang kita memang senang untuk melakukannya. Ambil waktu untuk breaks the rutin, apakah dengan membaca novel, menonton, bertaman, dll.
3. Harapkanlah kekecewaan dan kegagalan
Ini adalah bahagian dari hidup. Stress kita akan lebih ringan jika kita berpikir bahwa kekecewaan akan datang pada kita suatu waktu nanti. Banyak orang merasa bahwa orang Kristen tidak akan mengalami kekecewaan dan kegagalan bila telah berdoa kepada Tuhan. Yesus sendiri, ketika berada di taman Getsemani, tidak terlihat tersenyum dengan tegar. Yesus meringis dan kesakitan ketika Ia menderita. Mari menyadari bahwa bahwa kita, sebagai orang Kristen, tidak tabu untuk menangis ketika mengalami dukacita. Sama wajarnya ketika kita tertawa saat sukacita. Tetapi, ingat ketika Tuhan Yesus di Getsemani, walau Ia menderita, Ia tetap percaya kepada Tuhan dan tidak terkejut ketika stress datang.
4. Stress akan bisa dikelola jika kita bisa mengatasi kemarahan dan rasa bersalah dengan cara yang positif. Jangan sampai marah kita berlarut-larut dan rasa bersalah menekan diri kita terlalu jauh sehingga kita menjadi stress.
5. Menantang pikiran dalam ‘self-Talk’.
Ini adalah satu proses psikologis dimana ketika kita merasa gagal kita bisa memiliki dua respon dalam menyikapi kegagalan ini. Pertama, kita memang menerima bahwa kita adalah orang gagal. Kedua, ketika kita mengalami kegagalan kita akan melakukan self-talk dimana kita bertanya kepada diri kita apakah kita memang orang gagal atau hanya gagal dalam bidang A saja. Dan kita akan mampu mengisolir setiap masalah pada tempatnya.
6. Terakhir, tingkatkan vitalitas dan kesehatan.
Istirahat dan olah raga dengan teratur, dan hiduplah dengan teratur juga.
Mari kita berkata, : ”Selamat datang stress!” Selamat menghadapi dan mengelola stress dengan cara yang lebih Kristiani.
Soli Deo gloria!
Hari ini kita akan membahas topik mengenai stres dan tekanan. Kita akan memulai dengan pertanyaan “apa itu stress?”
Seorang ahli yang pertama sekali memperkenalkan kata ’stress’ bernama Hans Selye menyatakan bahwa stress adalah adalah human reaction to change-reaksi manusia pada perubahan. Hans melihat bahwa setiap perubahan yang kita terima, apakah itu baik (mis. promosi pekerjaan) atau buruk (mis. kehilangan pekerjaan) respon tubuh kita sama, dimana kita mengalami stress. Hans membuat dua perbedaan akan stress yaitu dystress dan eustress. Dystress adalah stress yang mengakibatkan hal-hal yang berbahaya seperti rasa sakit dan penderitaan. Sedangkan eustress adalah stress yang baik yang biasanya menyenangkan dan berisikan tekanan-tekanan yang menantang, misalnya ketika akan kunjungan pertama untuk bertemu dengan orang tua kekasih kita.
Para psikolog membuat sesuatu yang dinamakan Life Change Units (LCU) yang mengukur stress dalam bentuk skala. Yang paling membuat stress adalah kehilangan pasangan atau anak dimana nilainya 100. Kemudian perceraian dengan nilai 73, dan liburan masuk dalam urutan 41 dengan nilai 13 (untuk lebih jelas mengenai LCU ini, dapat dilihat di tabel). Bila kita perhatikan, sebenarnya stress itu beragam dan bermacam-macam sesuai dengan situasi dan kondisi perubahan yang kita alami dalam hidup kita. Apa yang mau saya tekankan disini adalah stress merupakan bagian dari hidup kita sehari hari. Bukan hanya hal-hal yang negatif yang membuat stress, melainkan hal-hal yang positif pun membuat stress sama seperti yang dinyatakan oleh Hans di atas.
Ada empat mitos yang tidak sehat mengenai stress yang sering dimiliki oleh anak pelayanan.
1. Stress selalu disebabkan oleh dosa dan iman yang kurang kepada Tuhan.
Dosa memang sering membuat seseorang stress karena perasaan bersalah, tetapi tidak bisa kita generalisasikan bahwa semua stress adalah karena dosa.
2. Stress disebabkan oleh ambisi yang terlalu besar.
Orang yang ambisius sering mengalami stress karena ketakutan akan kegagalan dan keinginan yang sangat kuat untuk mencapai sesuatu. Tetapi bukan satu-taunya penyebab stress.
3. Stress adalah dosa
Hal ini terlalu berlebihan.
4. Stress akan hilang dengan sendirinya jika kita melakukan latihan rohani.
’Orang Kristen’ dan ’stress’ adalah dua hal yang sangat kontradiktif. Orang Kristen yang sungguh-sungguh tidak akan pernah mengalami stress. Ini adalah mitos yang salah. Kenapa saya katakan demikian? Karena di dalam Alkitab kita bisa melihat bahwa Tuhan Yesus sendiri stress dan tertekan, begitu juga dengan para nabi dan para rasul. Kita tidak dapat menghindarinya.
Karena setiap perubahan akan membuat kita stress, maka kita harus berani mengatakan ”Selamat datang stress!” Stress adalh bagian dari hidup kita dan kita tidak perlu terkejut menghadapi stress tersebut. Selama kita hidup, kita akan mengalami perubahan-perubahan yang berarti kita pasti akan mengalami stress. Jangan pernah pusing jika kita banyak stress. Yang perlu kita renungkan adalah bagaimana kita sebagai anak-anak Tuhan dapat memanajemennya. Stress tidak bisa dihilangkan, tetapi dapat dikelola sehingga tidak membawa dampak yang negatif dalam hidup kita.
Ada beberapa tipe manusia yang mudah mengalami stress.
1. Ambisius
Orang dengan tipe seperti ini adalah orang yang paling mudah stress karena keinginannya yang sangat kuat untuk berhasil. Keinginan ini membuat dia memaksakan keadaan agar apa yang diinginkannya tercapai. Mereka ingin mengubah keadaan bahkan terkadang ingin mengubah orang lain dan sering mengeks- ploitasi sekelilingnya untuk mencapai apa yang diinginkannya. Kita ketahui bersama bahwa keadaan sangat sulit diubah, orang lain juga sulit berubah, dan tentu saja hal ini akan membuat orang yang ambisius stress.
2. Tukang kuatir.
Orang dengan tipe seperti ini cenderung berpikir lebih banyak dari apa yang perlu dipikirkannya. Sama seperti sebuah ilustrasi jam, dimana jam tersebut menghitung-hitung berapa kali dia akan berdetik dalam satu menit, satu jam, satu hari, satu minggu atau satu tahun. Ketika jam tersebut memikir- kannya ia akan merasa stress. Seharusnya jam itu tidak perlu stress jika menyadari bahwa dia hanya perlu berdetak sekali sedetik.
3. Kompetitif
Orang dengan tipe seperti ini adalah orang yang takut jika orang lain melewati dia.
4. Ingin cepat sukses
Orang seperti ini selalu ingin berhasil dan melihat milik orang lain lebih bagus dari miliknya sendiri.
5. Sinis
Orang dengan tipe seperti ini selalu melihat kehidupannya dari sisi negatif saja.
6. Selalu ingin tepat waktu
Sesuatu yang menarik dimana orang seperti ini selalu dibawah tekanan dan akan cenderug stress (bukan berarti hal ini tidak baik).
7. Rigid (kaku) dan kurang bercanda
Ada beberapa hal yang dapat diakibatkan oleh stress.
1. Depressi
2. Stress related Disorder, dimana stress yang berkepanjangan dapat mengakibatkan tekanan darah tingi, sakit kulit, menurunnya daya tahan tubuh, dll.
3. Burn out, fatigue and frustration. Biasanya terjadi jika harapannya gagal.
4. Anxiety and restlesness (tidak bisa tenang).
Ada beberapa pandangan Alkitab mengenai stress.
1. Kita perlu mengetahui bahwa stress dan tekanan dialami oleh semua orang. Pemazmur dalam Mzm 69, 88, dan 102 menggambarkan hal ini. Dalam Mzm 43:5 Daud berseru :” Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” Pemazmur, seorang yang dekat dengan Tuhan menyatakan kepada dirinya sendiri mengapa engkau tertekan jiwaku, mengapa engkau gelisah di dalam diriku...”.jika kita perhatikan, justru di dalam stressnya dan ketertekanannya, dia makin dekat dengan Tuhan, berbicara kepada Tuhan dan memiliki pengharapan kepada Tuhan. Kita harus belajar bahwa stress adalah bagian dari hidup dan stress membuat kita semakin dekat dengan Tuhan.
2. Banyak hamba-hamba Tuhan yang terkenal saleh mengalami stress. Misalnya :
• Ayub, ketika dia melihat anaknya nakal, isterinya mengomel, dan ketika dia mengalami penderitaan meskipun sudah hidup benar dan saleh.
• Musa ketika melihat orang Israel yang keras kepala.
• Yunus yang stress karena tahu bahwa Allah akan mengampuni orang Niniwe.
• Petrus yang juga mengalainya ketika menyangkal Tuhan Yesus
• Bahkan Yesus sendiri mengalami tekanan dan stress dalam menggenapi panggilanNya. Di Getsemani Dia tertekan dan mau mati rasanya (Mat 26:37-38). Bila hamba-hamba Tuhan seperti mereka mengalami stress, kita juga akan mengalaminya. Menjadi anak Tuhan bukan berarti tidak bisa stress.
3. Alkitab memiliki pandangan yang realistis akan stress, namun menekankan pengharapan kepada tuhan dalam segala situasi kehidupan. Untuk melihat sisi baik dari segala sesuatu, tidak hanya dari sisi buruk semata. Mari kita melihat Fil 4:8, ” Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Mari meikirkan hal-hal yang positif dalam kehidupan. Jika kita memikirkan hal-hal yang negatif, kita akan menjadi stress dalam hidup ini. Ada sebuah illustrasi dimana seorang pemain biola yang sangat mahir tetapi tidak pernah ikut kontes. Suatu hari seseorang membiayainya untuk ikut kontes dan akhirnya berhasil sampai ke tingkat dunia. Pada pertandingan tingkat dunia dia akhirnya bertanding dan sampai ke final dengan tiga orang peserta. Peserta pertama bermain dengan sangat indahnya. Pemain kedia bermian dengan sangat mahir dan tanpa cela. Ketika dia bermain, dia bagaikan malaikant yang sedang bermain musik. Ketika semua terpesona ...tas...tali pertama putus dan semua orang terkejut. Tetapi dia bermain terus, kemu- dian...tas...tali kedua putus, tetapi ia tetap melanjutkan permainannya. Tas...tali ketiga juga putus. Para penonton dan dirigent sudah mulai kuatir dan stress, tetapi ia tetap tenang dan bermain sampai melodi yang terakhir. Ia memang tidak juara, tetapi sang juara pertama menyerahkan hadiah yang telah ia terima kepada pemain biola ketiga ini dan berkata :”Seharusnya kamu yang menjadi juara.” Charles Swindol mengatakan banyak orang-orang Kristen menghabiskan waktunya memikirkan ’tali yang putus’. Padahal jika kita pikirkan, bukankah tali biolanya tidak dapat tersambung lagi? Kita hanya akan mengham- burkan energi ketika bila memikirkannya. Lebih baik kekuatan yang kita miliki kita gunakan untuk memainkan melodi dengan sisa tali yang masih tersisa pada ’biola’ kita. Kita banyak seperti ’penonton’ dan ’dirigent’ yang stress. Sikap yang benar adalah tetap memainkan tali yang tersisa sampai melodi terakhir sehingga kita akan menjadi pemenang.
Ada beberapa cara yang alkitabiah untuk mengatasi dan mengelola stress., yaitu:
1. Trust in God (percaya kepada Tuhan)
Jika kita percaya kepada Tuhan, stress kita akan banyak berkurang meskipun tidak hilang. Tetapi kita bisa menghadapinya dengan optimisme dan iman. Paulus berkata dalam Fil 4:11-13, ” Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”. Inilah bukti bahwa Paulus memiliki hidup yang bergantung seluruhnya kepada Tuhan. Meskipun dalam penjara ia menulis bahwa segala sesuatu dapat ia tanggung di dalam Tuhan yang memberi kekuatan. Jika kita memiliki hal ini, kita akan hidup dengan tingkat stress yang lebih rendah. Itulah sebabnya bahwa semua yang kita pikirkan dan lakukan berhubungan. Jika kita memilikinya dengan bergantung kepada Tuhan, kita akan mengelola stress dengan lebih baik.
2. Hidupilah prinsip Sabbath
Jangan menjadi orang yang senang untuk bekerja secara berlebihan. Tuhan telah mene- tapkan adanya waktu untuk beristirahat. Kita perlu mengupayakan istirahat yang teratur setiap hari, setiap minggu, bulan, dan liburan. Nikmatilkah waktu untuk relaks dan rekreasi serta untuk melakukan hal-hal yang kita memang senang untuk melakukannya. Ambil waktu untuk breaks the rutin, apakah dengan membaca novel, menonton, bertaman, dll.
3. Harapkanlah kekecewaan dan kegagalan
Ini adalah bahagian dari hidup. Stress kita akan lebih ringan jika kita berpikir bahwa kekecewaan akan datang pada kita suatu waktu nanti. Banyak orang merasa bahwa orang Kristen tidak akan mengalami kekecewaan dan kegagalan bila telah berdoa kepada Tuhan. Yesus sendiri, ketika berada di taman Getsemani, tidak terlihat tersenyum dengan tegar. Yesus meringis dan kesakitan ketika Ia menderita. Mari menyadari bahwa bahwa kita, sebagai orang Kristen, tidak tabu untuk menangis ketika mengalami dukacita. Sama wajarnya ketika kita tertawa saat sukacita. Tetapi, ingat ketika Tuhan Yesus di Getsemani, walau Ia menderita, Ia tetap percaya kepada Tuhan dan tidak terkejut ketika stress datang.
4. Stress akan bisa dikelola jika kita bisa mengatasi kemarahan dan rasa bersalah dengan cara yang positif. Jangan sampai marah kita berlarut-larut dan rasa bersalah menekan diri kita terlalu jauh sehingga kita menjadi stress.
5. Menantang pikiran dalam ‘self-Talk’.
Ini adalah satu proses psikologis dimana ketika kita merasa gagal kita bisa memiliki dua respon dalam menyikapi kegagalan ini. Pertama, kita memang menerima bahwa kita adalah orang gagal. Kedua, ketika kita mengalami kegagalan kita akan melakukan self-talk dimana kita bertanya kepada diri kita apakah kita memang orang gagal atau hanya gagal dalam bidang A saja. Dan kita akan mampu mengisolir setiap masalah pada tempatnya.
6. Terakhir, tingkatkan vitalitas dan kesehatan.
Istirahat dan olah raga dengan teratur, dan hiduplah dengan teratur juga.
Mari kita berkata, : ”Selamat datang stress!” Selamat menghadapi dan mengelola stress dengan cara yang lebih Kristiani.
Soli Deo gloria!
[Seri Christian Life - 02]: Family, Work, And Ministry
By: Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div
Malam hari ini kita akan belajar mengenai Christian Life dengan topik Family, Work, and Ministry.
Mari kita membaca Kej 1:28, “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." Jika kita perhatikan mandat Allah kepada manusia pertama, mandat tersebut mencakup soal keluarga (pernikahan), eksplorasi bumi, karya (bekerja), dan pastilah bagian dari sebuah pelayanan yang diamanatkan Allah dalam rangka menghadirkan Kerajaan Allah di bumi ini. Bekerja adalah untuk menggenapi mandat Allah. Keluarga sebagai lembaga pertama yang dibentuk Allah jelas memiliki tujuan seperti yang ada pada ayat 28 tadi. Keluarga bertujuan untuk mengerjakan mandat Allah, dan melalui keluarga yang bermisilah akan dapat dihadirkan apa yang Tuhan inginkan yaitu kehadiran Kerajaan Allah di bumi ini. Karena itu, pastilah keluarga, pekerjaan, dan pelayanan sesuatu yang digerakkan berdasarkan oleh visi Allah. Dalam rangka untuk mewujudkan misi Allah inilah, kita menata satu kehidupan dalam aspek keluarga, pekerjaan, dan pelayanan. Tiga aspek ini adalah kewajiban utama bagi orang Kristen, tanpa kecuali. Jika kita melihat dari skala prioritas, Allah adalah prioritas pertama. Dengan Allah sebagai prioritas utamalah kita bisa meng- gambarkan ketiga hal tadi dalam urutan prioritas, yakni : keluarga, kemudian peker- jaan, baru kemudian pelayanan. Oleh sebab itu, jangan merasa lebih rohani jika lebih mengutamakan pelayanan saja. Dalam pemahaman ini, kita bekerja bagi keluarga, bukan berkeluarga untuk bekerja. Kita perlu menyadari bahwa dalam realitanya sering sekali kita melupakan pelayanan dalam keluarga. Seharusnya pelayanan kita yang pertama adalah keluarga. Dan ingat, sebagai lembaga yang pertama kali didirikan, Allah melakukannya dalam rangka sebuah pelayanan dimana kasih dan kebenaran Allah dinyatakan. Kebenaran Firman Tuhan juga harus diwujudkan dalam keluarga. Jangan sampai hal ini bergeser. Keluarga adalah objek pelayanan yang pertama dan yang paling utama bagi orang Kristen. Keluarga sejati diukur ketika keluarga tersebut bermisi, melayani, dan menjadi berkat bagi banyak orang. Inilah keluarga bahagia dan yang diberkati oleh Allah. Bila ada keluarga yang ’timpang’ dalam melakukan hal ini, berarti keluarga tersebut hidup di bawah standart Allah.
Dengan visi Allah sebagai dasar dalam ketiga hal ini, maka keluarga, pekerjaan, dan pelayanan, sama pentingnya di hadapan Allah-walaupun ada skala prioritas. Ketiga hal ini membutuhkan perhatian, tenaga, pikiran, dan waktu yang terbaik. Tetapi ingat, waktu yang banyak belum tentu atau tidak identik dengan waktu yang terbaik walaupun sering yang terbaik itu menuntut porsi yang lebih dari yang lain. Ada satu keseimbangan dari waktu dan kualitas yang sama yang bisa kita pakai dalam hidup yang penuh dengan kebersamaan dalam keluarga. Jadi memang butuh porsi yang banyak tetapi tidak selamanya berbicara soal porsi, tetapi kualitas. Jangan juga dibalik dengan mengutamakan kulaitas. Tetapi jika hanya satu jam per minggu untuk keluarga dan anak-anak tentu saja kurang tepat. Semuanya harus dikelola dengan maksimal agar semuanya dapat memuliakan Allah. Karena itu, kita butuh hikmat yang dari Allah. Dengan menata strategic planning akan ada satu keseimbangan dan ketiga hal yang kita bicarakan diatas tidak ada yang terabaikan dan dapat dikelola dengan maksimal (band. Mzm 190:10-12).
Ada beberapa pandangan yang keliru soal bagaimana menyeimbangkan keluarga, pekerjaan, dan pelayanan.
1. Ada banyak alumni yang bekerja over time sampai workacholic. Justru hal ini menjadi kesenangan bagi mereka. Bahkan mereka mengabaikan kesehatan, keluarga, dan pelayanan mereka karena pergi pagi dan pulang malam. Ini adalah sesuatu yang salah. Sampai terkadang kita suka lembur atau membawa tugas-tugas kita ke rumah. Kita bekerja dan bekerja terus sehingga. Ketika kita sibuk bekerja, maka kita akan sibuk sendiri dan akhirnya menjadi orang yang individualistis. Bahkan banyak alumni yang hari minggu pun bekerja. Jangankan bicara soal pelayanan, untuk beribadah pun dia tidak punya waktu. Oleh karena itu jangan terjebak dengan situasi seperti ini bekerja secara over time dan menjadi workacholic.
2. Ada orang yang bekerja keras sekedar demi karir (antara prestise dan prestasi). Misalnya menjadi sangat ambisius untuk mencapai posisi yang tinggi. Sering sekali orang melakukannya bukan demi prestasi tetapi prestise. Tidak salah ketika kita ingin menaikkan posisi kita, tetapi jangan sampai menjadi ambisius untuk hal itu. Sangat baik jika kita berprestasi dan akhirnya mencapai prestise. Tetapi seringkali kita menjadi ambisius akan prestise. Misalnya dengan prestise soal income, agar dengan income yang banyak , kita bisa menaikkan harga dirinya. Untuk mencapai hal seperti ini orang bisa melakukan apa saja. Memang tidak mencuri, korupsi, atau menipu, tetapi akhirnya dia terus berkutat di dalam pekerjaan sehingga tidak ada lagi waktu untuk keluarga dan pelayanan.
3. Ada alumni yang bekerja keras demi uang untuk membahagiakan keluarga. Dia akan mengatakan : ” ini semua demi kamu, demi anak-anak, demi kita...!” Memang dari segi ekonomi sangat berkecukupan. Tetapi tidak ada waktu dan mengatakan semuanya adalah ’demi keluarga’, tetapi keluarganya akhirnya berantakan. Jika bekerja demi uang untuk ’kepentingan’ keluarga, mengapa keluarga merasa terabaikan ? Mari perhatikan Mzm 128:1-6. Dalam Mazmur tersebut kita melihat bagaimana sebuah keluarga bahagia dikarenakan kehadiran Allah. Hal inilah yang perlu kita bangun dalam keluarga. Ingat, uang bukan tujuan untuk membahagiakan keluarga karena belum tentu keluarga bisa berbahagia karena uang, walaupun keluarga bisa ditopang dengan uang. Sering sekali kita ’meracuni’ keluarga dengan uang. Jangan pernah membuat uang menjadi segala-galanya dan jangan berpikir jika memiliki banyak uang pasti keluarga anda bisa bahagia. Mereka membutuhkan anda, bukan uang anda. Memberi uang tidak sama dengan memberi kasih sayang. Makanya banyak anak-anak lari ke hal-hal yang tidak baik (seperti narkoba) karena mereka tidak mendapat perhatian, apa yang mereka dapat hanya fasilitas.
4. Ada orang yang bekerja keras tanpa melayani, seolah-olah dia berpikir jika sudah membayar persembahan maka pelayanan itu akan terbayar dan tidak perlu dilakukan. Hal ini tidak dapat dibenarkan. Waktunya banyak sekali untuk keluarga atau kerja tetapi tidak untuk pelayanan dengan alasan sudah memberi persembahan.
5. Ada orang yang bekerja dengan memberi yang terbaik di kantor dan mereka menganggap hal tersebut pelayanan. Ingat pelayanan kita adalah pelayanan holistik. Jadi tidak sebatas di kantor. Anda tidak titip absen, tidak bolos, bekerja dengan maksimal. Hal ini baik, tetapi kekristenan tidak diukur dengan batas-batas seperti ini. Misi kita holistik, bukan sebatas pekerjaan. Pekerjaan memang salah satu bidang pelayanan. Tetapi kita terlibat dengan kegerakann sosial, pelayanan gereja, misi, dan berbagai kegiatan bahkan melakukan pelayanan dalam arti yang luas.
6. Ada orang yang kurang rajin bekerja dan mengembangkan diri sehingga karirnya tidak berkembang. Orang-orang seperti ini akan sulit memenuhi kebutuhan keluar- ganya. Sehingga dia tidak terlibat lagi dalam pelayanan. Orang seperti ini biasa- nya menyalahkan Tuhan. Padahal semua terjadi karena kemalasan dirinya untuk mengembangkan diri. Malas belajar dan malas melakukan hal-hal yang berguna untuk meningkatkan dirinya.
7. Ada orang melayani dan menghadiri setiap acara persekutuan atau kamp karena menganggap hal tersebut lebih rohani daripada tugas kantor/bekerja. Mereka sering mencuri waktu dari jam kerja. Mereka pikir kotbah lebih rohani. Ini adalah pikiran yang salah. Alumni tidak bisa kotbah atau memimpin PA pada saat jam kerja. Di luar jam kerja wajib untuk melayani. Jika kita bolos dari kantor, kita menunjukkan etika hidup yang tidak benar.
8. Ada orang yang menempatkan keluarga lebih dari segalanya sehingga dia tidak melayani. Dia selalu berkata :”nanti sajalah...., nantilah setelah saya....!” Banyak alumni menggunakan berbagai dalih untuk menolak pelayanan sehingga sampai nantinya mereka tua pun mereka tidak pernah terlibat dalam pelayanan. Alumni yang berhenti melayani pasti akan berhenti bertumbuh.
9. Ada orang yang aktif dalam kegiatan rohani tetapi mengabaikan tugas dan tanggung jawab dalam keluarga. Hal ini akan menjadikan dia batu sandungan. Dia memiliki banyak waktu untuk persekutuan dan kegiatan rohani, tetapi kurang melayani orang tua atau keluarganya. Tidak memberi perhatian atau waktu kunjungaan kepada orang tuanya. Sebagai orang Kristen kita memiliki tanggung jawab yang tetap dalam keluarga. Karena itu jangan berpikir lebih rohani jika kita banyak di persekutuan dari pada memperhatikan keluarga. Ingat Eli, yang seorang nabi, tetapi anaknya mencuri di Bait Allah. Hal ini dapat terjadi karena salah didik, tidak ada waktu bersama dengan anak-anaknya. Akan menjadi pergumulan yang besar jika kita dikagumi di persekutuan tetapi di rumah kita menjadi batu sandungan. Kita juga memerlukan hikmat untuk mengaturnya. Mari menjadi berkat di rumah. Jangan karena pelayanan, kita tidak mengetahui apa yang terjadi di tengah-tengah keluarga kita. Mari melihat 1 Tim 3:4-5, ” seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah?” Dalam ayat ini dikatakan salah satu syarat pengetua adalah mampu mengurus keluarganya. Hal ini penting bagi kita.
10. Ada juga orang yang memberi banyak ke pelayanan tetapi mengabaikan keluarga/saudara. Banyak alumni yang membe- rikan waktu, uang, atau perhatian bagi pelayanan, rajin memberi persembahan, tetapi untuk membantu keluarga, dia merasakan sangat berat dan enggan untuk melakukannya. Memang, kasih ke sesama anak Tuhan khususnya dalam pelayanan sangat menyenangkan karena adanya keterikatan batin. Tetapi hal ini tidak boleh. Mari melayani keluarga kita dengan baik dan memberi yang terbaik bagi mereka.
11. Banyak juga orang yang berdalih dengan berbagai alasan sehingga orang lain ’memakluminya’, dimana sebenarnya dia tidak serius mengerjakan ketiga-tiganya (keluarga, kerja, dan pelayanan). Dia menggunakan alasan ’keluarga’ untuk menolak pelayanan, tetapi untuk keluarga pun dia tidak beres, atau sebaliknya. Ini adalah sesuatu yang menyakitkan dan tidak benar dihadapan Allah. Itulah sebabnya mari kembali memikirkan soal menata keluarga kita dan menata waktu kita.
Familiy, work, and Ministry - tiga hal yang harus mendapat perhatian sang sama, karena sama-sama penting di hadapan Tuhan. Mari kita menatanya sedemikian rupa sehingga kita bisa maksimal di hadapan Allah dan Allah dimuliakan.
Soli Deo Gloria!!
Malam hari ini kita akan belajar mengenai Christian Life dengan topik Family, Work, and Ministry.
Mari kita membaca Kej 1:28, “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." Jika kita perhatikan mandat Allah kepada manusia pertama, mandat tersebut mencakup soal keluarga (pernikahan), eksplorasi bumi, karya (bekerja), dan pastilah bagian dari sebuah pelayanan yang diamanatkan Allah dalam rangka menghadirkan Kerajaan Allah di bumi ini. Bekerja adalah untuk menggenapi mandat Allah. Keluarga sebagai lembaga pertama yang dibentuk Allah jelas memiliki tujuan seperti yang ada pada ayat 28 tadi. Keluarga bertujuan untuk mengerjakan mandat Allah, dan melalui keluarga yang bermisilah akan dapat dihadirkan apa yang Tuhan inginkan yaitu kehadiran Kerajaan Allah di bumi ini. Karena itu, pastilah keluarga, pekerjaan, dan pelayanan sesuatu yang digerakkan berdasarkan oleh visi Allah. Dalam rangka untuk mewujudkan misi Allah inilah, kita menata satu kehidupan dalam aspek keluarga, pekerjaan, dan pelayanan. Tiga aspek ini adalah kewajiban utama bagi orang Kristen, tanpa kecuali. Jika kita melihat dari skala prioritas, Allah adalah prioritas pertama. Dengan Allah sebagai prioritas utamalah kita bisa meng- gambarkan ketiga hal tadi dalam urutan prioritas, yakni : keluarga, kemudian peker- jaan, baru kemudian pelayanan. Oleh sebab itu, jangan merasa lebih rohani jika lebih mengutamakan pelayanan saja. Dalam pemahaman ini, kita bekerja bagi keluarga, bukan berkeluarga untuk bekerja. Kita perlu menyadari bahwa dalam realitanya sering sekali kita melupakan pelayanan dalam keluarga. Seharusnya pelayanan kita yang pertama adalah keluarga. Dan ingat, sebagai lembaga yang pertama kali didirikan, Allah melakukannya dalam rangka sebuah pelayanan dimana kasih dan kebenaran Allah dinyatakan. Kebenaran Firman Tuhan juga harus diwujudkan dalam keluarga. Jangan sampai hal ini bergeser. Keluarga adalah objek pelayanan yang pertama dan yang paling utama bagi orang Kristen. Keluarga sejati diukur ketika keluarga tersebut bermisi, melayani, dan menjadi berkat bagi banyak orang. Inilah keluarga bahagia dan yang diberkati oleh Allah. Bila ada keluarga yang ’timpang’ dalam melakukan hal ini, berarti keluarga tersebut hidup di bawah standart Allah.
Dengan visi Allah sebagai dasar dalam ketiga hal ini, maka keluarga, pekerjaan, dan pelayanan, sama pentingnya di hadapan Allah-walaupun ada skala prioritas. Ketiga hal ini membutuhkan perhatian, tenaga, pikiran, dan waktu yang terbaik. Tetapi ingat, waktu yang banyak belum tentu atau tidak identik dengan waktu yang terbaik walaupun sering yang terbaik itu menuntut porsi yang lebih dari yang lain. Ada satu keseimbangan dari waktu dan kualitas yang sama yang bisa kita pakai dalam hidup yang penuh dengan kebersamaan dalam keluarga. Jadi memang butuh porsi yang banyak tetapi tidak selamanya berbicara soal porsi, tetapi kualitas. Jangan juga dibalik dengan mengutamakan kulaitas. Tetapi jika hanya satu jam per minggu untuk keluarga dan anak-anak tentu saja kurang tepat. Semuanya harus dikelola dengan maksimal agar semuanya dapat memuliakan Allah. Karena itu, kita butuh hikmat yang dari Allah. Dengan menata strategic planning akan ada satu keseimbangan dan ketiga hal yang kita bicarakan diatas tidak ada yang terabaikan dan dapat dikelola dengan maksimal (band. Mzm 190:10-12).
Ada beberapa pandangan yang keliru soal bagaimana menyeimbangkan keluarga, pekerjaan, dan pelayanan.
1. Ada banyak alumni yang bekerja over time sampai workacholic. Justru hal ini menjadi kesenangan bagi mereka. Bahkan mereka mengabaikan kesehatan, keluarga, dan pelayanan mereka karena pergi pagi dan pulang malam. Ini adalah sesuatu yang salah. Sampai terkadang kita suka lembur atau membawa tugas-tugas kita ke rumah. Kita bekerja dan bekerja terus sehingga. Ketika kita sibuk bekerja, maka kita akan sibuk sendiri dan akhirnya menjadi orang yang individualistis. Bahkan banyak alumni yang hari minggu pun bekerja. Jangankan bicara soal pelayanan, untuk beribadah pun dia tidak punya waktu. Oleh karena itu jangan terjebak dengan situasi seperti ini bekerja secara over time dan menjadi workacholic.
2. Ada orang yang bekerja keras sekedar demi karir (antara prestise dan prestasi). Misalnya menjadi sangat ambisius untuk mencapai posisi yang tinggi. Sering sekali orang melakukannya bukan demi prestasi tetapi prestise. Tidak salah ketika kita ingin menaikkan posisi kita, tetapi jangan sampai menjadi ambisius untuk hal itu. Sangat baik jika kita berprestasi dan akhirnya mencapai prestise. Tetapi seringkali kita menjadi ambisius akan prestise. Misalnya dengan prestise soal income, agar dengan income yang banyak , kita bisa menaikkan harga dirinya. Untuk mencapai hal seperti ini orang bisa melakukan apa saja. Memang tidak mencuri, korupsi, atau menipu, tetapi akhirnya dia terus berkutat di dalam pekerjaan sehingga tidak ada lagi waktu untuk keluarga dan pelayanan.
3. Ada alumni yang bekerja keras demi uang untuk membahagiakan keluarga. Dia akan mengatakan : ” ini semua demi kamu, demi anak-anak, demi kita...!” Memang dari segi ekonomi sangat berkecukupan. Tetapi tidak ada waktu dan mengatakan semuanya adalah ’demi keluarga’, tetapi keluarganya akhirnya berantakan. Jika bekerja demi uang untuk ’kepentingan’ keluarga, mengapa keluarga merasa terabaikan ? Mari perhatikan Mzm 128:1-6. Dalam Mazmur tersebut kita melihat bagaimana sebuah keluarga bahagia dikarenakan kehadiran Allah. Hal inilah yang perlu kita bangun dalam keluarga. Ingat, uang bukan tujuan untuk membahagiakan keluarga karena belum tentu keluarga bisa berbahagia karena uang, walaupun keluarga bisa ditopang dengan uang. Sering sekali kita ’meracuni’ keluarga dengan uang. Jangan pernah membuat uang menjadi segala-galanya dan jangan berpikir jika memiliki banyak uang pasti keluarga anda bisa bahagia. Mereka membutuhkan anda, bukan uang anda. Memberi uang tidak sama dengan memberi kasih sayang. Makanya banyak anak-anak lari ke hal-hal yang tidak baik (seperti narkoba) karena mereka tidak mendapat perhatian, apa yang mereka dapat hanya fasilitas.
4. Ada orang yang bekerja keras tanpa melayani, seolah-olah dia berpikir jika sudah membayar persembahan maka pelayanan itu akan terbayar dan tidak perlu dilakukan. Hal ini tidak dapat dibenarkan. Waktunya banyak sekali untuk keluarga atau kerja tetapi tidak untuk pelayanan dengan alasan sudah memberi persembahan.
5. Ada orang yang bekerja dengan memberi yang terbaik di kantor dan mereka menganggap hal tersebut pelayanan. Ingat pelayanan kita adalah pelayanan holistik. Jadi tidak sebatas di kantor. Anda tidak titip absen, tidak bolos, bekerja dengan maksimal. Hal ini baik, tetapi kekristenan tidak diukur dengan batas-batas seperti ini. Misi kita holistik, bukan sebatas pekerjaan. Pekerjaan memang salah satu bidang pelayanan. Tetapi kita terlibat dengan kegerakann sosial, pelayanan gereja, misi, dan berbagai kegiatan bahkan melakukan pelayanan dalam arti yang luas.
6. Ada orang yang kurang rajin bekerja dan mengembangkan diri sehingga karirnya tidak berkembang. Orang-orang seperti ini akan sulit memenuhi kebutuhan keluar- ganya. Sehingga dia tidak terlibat lagi dalam pelayanan. Orang seperti ini biasa- nya menyalahkan Tuhan. Padahal semua terjadi karena kemalasan dirinya untuk mengembangkan diri. Malas belajar dan malas melakukan hal-hal yang berguna untuk meningkatkan dirinya.
7. Ada orang melayani dan menghadiri setiap acara persekutuan atau kamp karena menganggap hal tersebut lebih rohani daripada tugas kantor/bekerja. Mereka sering mencuri waktu dari jam kerja. Mereka pikir kotbah lebih rohani. Ini adalah pikiran yang salah. Alumni tidak bisa kotbah atau memimpin PA pada saat jam kerja. Di luar jam kerja wajib untuk melayani. Jika kita bolos dari kantor, kita menunjukkan etika hidup yang tidak benar.
8. Ada orang yang menempatkan keluarga lebih dari segalanya sehingga dia tidak melayani. Dia selalu berkata :”nanti sajalah...., nantilah setelah saya....!” Banyak alumni menggunakan berbagai dalih untuk menolak pelayanan sehingga sampai nantinya mereka tua pun mereka tidak pernah terlibat dalam pelayanan. Alumni yang berhenti melayani pasti akan berhenti bertumbuh.
9. Ada orang yang aktif dalam kegiatan rohani tetapi mengabaikan tugas dan tanggung jawab dalam keluarga. Hal ini akan menjadikan dia batu sandungan. Dia memiliki banyak waktu untuk persekutuan dan kegiatan rohani, tetapi kurang melayani orang tua atau keluarganya. Tidak memberi perhatian atau waktu kunjungaan kepada orang tuanya. Sebagai orang Kristen kita memiliki tanggung jawab yang tetap dalam keluarga. Karena itu jangan berpikir lebih rohani jika kita banyak di persekutuan dari pada memperhatikan keluarga. Ingat Eli, yang seorang nabi, tetapi anaknya mencuri di Bait Allah. Hal ini dapat terjadi karena salah didik, tidak ada waktu bersama dengan anak-anaknya. Akan menjadi pergumulan yang besar jika kita dikagumi di persekutuan tetapi di rumah kita menjadi batu sandungan. Kita juga memerlukan hikmat untuk mengaturnya. Mari menjadi berkat di rumah. Jangan karena pelayanan, kita tidak mengetahui apa yang terjadi di tengah-tengah keluarga kita. Mari melihat 1 Tim 3:4-5, ” seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah?” Dalam ayat ini dikatakan salah satu syarat pengetua adalah mampu mengurus keluarganya. Hal ini penting bagi kita.
10. Ada juga orang yang memberi banyak ke pelayanan tetapi mengabaikan keluarga/saudara. Banyak alumni yang membe- rikan waktu, uang, atau perhatian bagi pelayanan, rajin memberi persembahan, tetapi untuk membantu keluarga, dia merasakan sangat berat dan enggan untuk melakukannya. Memang, kasih ke sesama anak Tuhan khususnya dalam pelayanan sangat menyenangkan karena adanya keterikatan batin. Tetapi hal ini tidak boleh. Mari melayani keluarga kita dengan baik dan memberi yang terbaik bagi mereka.
11. Banyak juga orang yang berdalih dengan berbagai alasan sehingga orang lain ’memakluminya’, dimana sebenarnya dia tidak serius mengerjakan ketiga-tiganya (keluarga, kerja, dan pelayanan). Dia menggunakan alasan ’keluarga’ untuk menolak pelayanan, tetapi untuk keluarga pun dia tidak beres, atau sebaliknya. Ini adalah sesuatu yang menyakitkan dan tidak benar dihadapan Allah. Itulah sebabnya mari kembali memikirkan soal menata keluarga kita dan menata waktu kita.
Familiy, work, and Ministry - tiga hal yang harus mendapat perhatian sang sama, karena sama-sama penting di hadapan Tuhan. Mari kita menatanya sedemikian rupa sehingga kita bisa maksimal di hadapan Allah dan Allah dimuliakan.
Soli Deo Gloria!!
[Seri Christian Life - 01]: Ordering Your Private Life
[Drs. Tiopan Manihuruk, M.Div]
Hari ini kita akan belajar mengenai Christian Life dengan topik Ordering Your Private Life- menata kehidupan pribadi. Hal ini penting kita pelajari karena sering sekali kita terjebak dalam dua ekstrim. Ekstrim yang pertama adalah orang-orang yang terjebak dalam ’pimpinan Roh’. Jadi apa yang mereka lakukan tergantung kepada Roh, tanpa ada satu penataan dalam hidupnya. Ekstrim yang kedua adalah orang yang begitu menata hidupnya sampai-sampai Allah terlupakan atau terabaikan. Kita harus menghindari kedua ekstrim ini.
Ada beberapa dasar pemikiran yang dipakai kenapa kita perlu menata hidup kita. Pertama, karena hidup kita hanya sekali, sesudah itu akan mati. Oleh karena itu hidup kita harus berarti, bukan dari uang, harta, jabatan, ketenaran, atau gelar yang kita miliki. Arti hidup kita diukur dari dampak hidup kita bagi Allah untuk sesama, yaitu menghasilkan Kerajaan Allah di dunia ini. Dasar yang kedua adalah bahwa dalam kehidupan ini tidak ada profan/sekuler. Jadi, pendikotomian antara sekuler dan rohani harus dibuang. Semua adalah Alkitabiah dan rohani dimana ada satu totalitas hidup yang dipersembahkan bagi Tuhan. Itulah sebabnya dalam Kol 3:17, 23 dikatakan, ”Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.", ayat 23 "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia". Hal ini harus kita sadari. Semua baik itu kerja, pacaran, menonton, semua alkitabiah. Jangan ada pemikiran atau dibuat segmen dimana ketika kebaktian, baru kita menjadi rohani. Seluruh hidup kita adalah ibadah bagi Allah. Ketiga, penting sekali hidup yang terencana (teratur dan tertib) jika kita tidak tertib, akan sulit memaksimalkan hidup kita bagi Allah. Anda bisa bayangkan apa yang akan terjadi jika manusia diciptakan pada hari yang pertama. Dimana mereka tinggal? Apa yang akan mereka makan? (Kej 1) Karena hidup kita hanya sekali, maka kita harus membuatnya efisien dan efektif. Efisien berbicara tentang penghematan tenaga, waktu, dan dana, sedangkan efektif berbicara soal hasil, dampak, dan kemaksimalan di dalam hidup kita. Jika kita menginginkan hidup kita maksimal, mari hidup dengan meninggalkan karya bagi Allah, menghasilkan Kerajaan Allah di dunia ini. Mari kita refleksikan, jika kita mati, kira-kira apa yang akan diingat oleh orang lain tentang kita? Yesus menyatakan dalam Yoh 17:4, ”Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya." Inilah juga cara kita mempermuliakan Tuhan, dimana kita mau megerjakan apa yang Tuhan percayakan kepada kita. Keempat adalah pentingnya sense of direction -arah atau target yang ingin kita tuju, bukan melangkah kemana-mana dengan sembarangan. Itulah sebabnya jika kita tidak memiliki penataan hidup yang baik, maka akan muncul rasa dimana kita tidak tahu mau mengerjakan apapun. Kelima adalah demi kemaksimalan hidup kita. Dalam hal ini, Allah menentang dua hal yaitu kemalasan dan workaholic (gila kerja).
Dasar utama untuk menata hidup adalah Visi. Dalam Ef 1:18 dikatakan, ”Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus”. Visi yang dimaksudkan oleh Paulus di sini adalah ”mata hati yang terang untuk mengerti...”. Dengan visi hidup inilah kita memulai penataan hidup. Dalam hal ini penting sekali visi dan strategi hidup. Yang ingin saya katakan adala:
Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan dalam perencanaan hidup.
Untuk mengelola hidup kita, sangat penting mendisiplinkan diri. Stephen Tong mengatakan bahwa kita harus memaksa diri untuk rela dan rela untuk memaksa diri. Inilah disiplin.
Dalam visi dan aktualisasi ada beberapa hal yang dapat kita lihat.
Dalam kehidupan, kita harus mem- bangun yang pertama dan membuang yang kedua dan ketiga. Oleh karena itu perlu ada evaluasi dan revisi. Bila kita memiliki satu hari kosong, alangkah baiknya jika kita bisa menggunakan untuk evaluasi, refleksi, atau revisi hidup. Melalui evaluasi dan revisi ini kita dapat melihat hidup yang kita lewati dan kembali menata hidup yang akan kita jalani. Hidup kembali diatur apakah kita telah mencapai sasaran, atau masih on the track atau sudah lari dari jalur. Jadi ada satu evaluasi untuk perbaikan dan peningkatan, membangun, menstrukturisasi sehingga kita kembali ke dalam track Allah. Mari menata hidup kita karena fail to plan, plan to fail. Jangan sampai disorder tetapi harus ordering our private life. Hidup kita hanya sekali dan sayang jika kita tidak menggunakan dan memaksimalkan hidup kita dan hanya berlalu tanpa bekas. Mari menata hidup kita secara pribadi.
Soli Deo Gloria!
Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati, yang juga tidak melakukan kejahatan, tetapi yang hidup menurut jalan-jalan yang ditunjukkan-Nya.
(Mzm 119 : 2-3)
Hari ini kita akan belajar mengenai Christian Life dengan topik Ordering Your Private Life- menata kehidupan pribadi. Hal ini penting kita pelajari karena sering sekali kita terjebak dalam dua ekstrim. Ekstrim yang pertama adalah orang-orang yang terjebak dalam ’pimpinan Roh’. Jadi apa yang mereka lakukan tergantung kepada Roh, tanpa ada satu penataan dalam hidupnya. Ekstrim yang kedua adalah orang yang begitu menata hidupnya sampai-sampai Allah terlupakan atau terabaikan. Kita harus menghindari kedua ekstrim ini.
Ada beberapa dasar pemikiran yang dipakai kenapa kita perlu menata hidup kita. Pertama, karena hidup kita hanya sekali, sesudah itu akan mati. Oleh karena itu hidup kita harus berarti, bukan dari uang, harta, jabatan, ketenaran, atau gelar yang kita miliki. Arti hidup kita diukur dari dampak hidup kita bagi Allah untuk sesama, yaitu menghasilkan Kerajaan Allah di dunia ini. Dasar yang kedua adalah bahwa dalam kehidupan ini tidak ada profan/sekuler. Jadi, pendikotomian antara sekuler dan rohani harus dibuang. Semua adalah Alkitabiah dan rohani dimana ada satu totalitas hidup yang dipersembahkan bagi Tuhan. Itulah sebabnya dalam Kol 3:17, 23 dikatakan, ”Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.", ayat 23 "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia". Hal ini harus kita sadari. Semua baik itu kerja, pacaran, menonton, semua alkitabiah. Jangan ada pemikiran atau dibuat segmen dimana ketika kebaktian, baru kita menjadi rohani. Seluruh hidup kita adalah ibadah bagi Allah. Ketiga, penting sekali hidup yang terencana (teratur dan tertib) jika kita tidak tertib, akan sulit memaksimalkan hidup kita bagi Allah. Anda bisa bayangkan apa yang akan terjadi jika manusia diciptakan pada hari yang pertama. Dimana mereka tinggal? Apa yang akan mereka makan? (Kej 1) Karena hidup kita hanya sekali, maka kita harus membuatnya efisien dan efektif. Efisien berbicara tentang penghematan tenaga, waktu, dan dana, sedangkan efektif berbicara soal hasil, dampak, dan kemaksimalan di dalam hidup kita. Jika kita menginginkan hidup kita maksimal, mari hidup dengan meninggalkan karya bagi Allah, menghasilkan Kerajaan Allah di dunia ini. Mari kita refleksikan, jika kita mati, kira-kira apa yang akan diingat oleh orang lain tentang kita? Yesus menyatakan dalam Yoh 17:4, ”Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya." Inilah juga cara kita mempermuliakan Tuhan, dimana kita mau megerjakan apa yang Tuhan percayakan kepada kita. Keempat adalah pentingnya sense of direction -arah atau target yang ingin kita tuju, bukan melangkah kemana-mana dengan sembarangan. Itulah sebabnya jika kita tidak memiliki penataan hidup yang baik, maka akan muncul rasa dimana kita tidak tahu mau mengerjakan apapun. Kelima adalah demi kemaksimalan hidup kita. Dalam hal ini, Allah menentang dua hal yaitu kemalasan dan workaholic (gila kerja).
Dasar utama untuk menata hidup adalah Visi. Dalam Ef 1:18 dikatakan, ”Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus”. Visi yang dimaksudkan oleh Paulus di sini adalah ”mata hati yang terang untuk mengerti...”. Dengan visi hidup inilah kita memulai penataan hidup. Dalam hal ini penting sekali visi dan strategi hidup. Yang ingin saya katakan adala:
- Visi itu penting karena visi membantu kita menentukan semua pilihan-pilihan, keputusan, dan tindakan kita. Tindakan dan reaksi kita ditentukan oleh apa yang ada di dalam diri kita (nilai hidup).
- Dengan visi, kita bisa menghargai hidup dan membuat hidup menjadi benar-benar berharga. Yang dimaksudkan di sini adalah kita, sebagai manusia, katakanlah hidup hanya sampai 87 tahun. Jadi, jika kita mengisi hidup ini dengan hal-hal yang berharga, maka kita dengan sendirinya akan menghargai hidup kita dan membuatn hidup kita benar-benar berharga. Jadi hidup kita akan berdampak bagi Allah, maupun orang lain dan kita menjadi berkat. Jadi, jangan pernah berpikir bahwa kita adalah orang yang paling malang di dunia. Jika, kita sendiri tidak menghargai diri kita sendiri, siapa lagi yang akan melakukannya? Oleh sebab itu mari kita membuat hidup kita berharga di hadapan Allah. Mari mengisi dengan hal-hal yang hakiki bukan sesuatu yang tidak bermakna. Hidup yang bermakna adalah hidup yang berpusat pada Allah bukan diri kita sendiri. Pusat dari visi kita adalah Allah. Dan dengan hal ini kita akan memuliakan Allah dan kita berguna bagi orang lain, bukan untuk diri sendiri. Dalam hal inilah mengapa kita harus ordering our private life.
- Dengan visi kita akan menyadari pentingnya strategic planning dalam hidup kita yang didasarkan pada satu analisa yang tajam dan akurat. Orang yang gagal berencana adalah orang yang berencana untuk gagal-fail to plan, plan to fail.
Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan dalam perencanaan hidup.
- Mari membaca Mzm 127:1, ” Nyanyian ziarah Salomo. Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga. Dari ayat ini kita bisa melihat abhwa kita harus melibatkan Allah karena kita adalah milikNya, agar kita hidup menurut apa yang Dia mau dari kita. Dalam hal ini adalah doa dan relasi yang dekat dengan Allah.
- Pentingnya sebuah analisa yang tajam dan akurat. Dalam hal ini kita akan melihat kepada analisa S W O T (Strength, Weakness, Opportunity, Treaten). Dalam hal ini kita akan melihat beberapa hal yang penting. Strategi SO yaitu strategi dimana ’kekuatan’ kita manfaatkan untuk menggunakan ’peluang’ yang ada. Strategi ST yaitu dimana kita memanfaatkan ’kekuatan’ untuk mengatasi ’ancaman’. Strategi WO yaitu strategi dimana kita meminimalkan ’kelemahan’ untuk memanfaatkan ’peluang’. Strategi WT yaitu strategi dimana kita meminimalkan ‘kelemahan’ untuk menghindari ‘ancaman’.
- Dalam perencanaan, kita harus rasional, realis, dapat diukur, dan juga harus fleksibel dan pragmatis (sesuai dengan perkembangan zaman) dan juga menantang.
- Kita harus mengerjakan berdasarkan prioritas, sesuai dengan visi. Dalam hidup, kita akan bertemu dengan banyak pilihan, keinginan, kesempatan, dan peluang. Kita tidak bisa mengerjakan semuanya karena dibatasi waktu dan kemampuan. Oleh karena itu kita wajib memilih dan menentukan prioritas. Kita bukan hanya tidak boleh mengerjakan apa yang tidak berguna dan jahat, tetapi bukan semua yang baik harus kita kerjakan. Tidak pernah seorang pun di dunia ini yang bisa mengerjakan semua hal. Karena itu pilihan berdasarkan visi dan nilai hidup wajib dilakukan. Dalam hal ini, prioritas yang kita maksudkan adalah apakah semua yang kita tetapkan dalam jalan kehidupan kita sesuai dengan tujuan hidup Kristen menurut Allah. Dalam menentukan prioritas, kita harus melihat kepada skala prioritas. Yang sangat penting dan sangat mendesak yang pertama dikerjakan, kemudian sangat penting – tidak mendesak, dst.
- Dalam melihat prioritas, kita harus mengkorelasikannya dengan waktu. Ada dua pengertian dalam waktu ini, kronos dan khairos. Kronos adalah suatu gambaran dimana waktu adalah garis lurus yang tidak pernah kembali ke titik awal. Tidak bisa ditunda atau ditabung atau dihentikan. Khairos adalah chance-kesempatan. Ingat, kesempatan tidak pernah datang dua kali. Ada penulis yang mengatakan bahwa orang bodoh mem- buang kesempatan, orang sedang-sedang memakai kesempatan, dan orang pintar mencari kesempatan. Di dalam kronos dan kairos itu ada dua ekstrim yang terjadi. Ada orang yang merasa waktu berjalan dengan lambat, tetapi sebaliknya, ada orang yang merasa waktu berjalan dengan cepatnya. Waktu dari setiap orang adalah sama yaitu 24 jam. Dalam satu hari. Tetapi karya setiap orang berbeda. Dalam waktu 24 jam, ada orang yang bisa mengerjakan lima hal, dan dalam waktu yang sama orang lain tidak mengerjakan apa-apa. Dalam tiga tahun, kita hanya memiliki satu ketrampilan yang bertambah, sedangkan teman kita memiliki lima ketrampilan yang bertambah. Hal ini dapat terjadi karena kita tidak menata hidup sedemikian rupa sehingga kronos dan khairos kita tidak bisa menciptakan peluang. Pekerjaan, hidup, bahkan pelayanan tidak berkembang sama sekali.
- Spritual Life. Mari kembali menata kehidupan doa, saat teduh kita agar kita tidak menjadi kering dan hanya mekanik. Dalam saat teduh, misalnya, mari memulai untuk menggali sendiri, bukan hasil ’kunyahan’ orang lain. Memakai bahan tidak salah. Tetapi menggali sendiri pasti lebih baik.
- Family. Ada dua hal yang perlu diperhatikan. Bagi yang belum menikah, keluarga adalah orang tua dan saudara. Mari mengatur sedemikian rupa agar kita menjadi berkat bagi mereka. Untuk yang akan menikah, segera rencanakan dengan baik.
- Pekerjaan. Rencanakan jenis pekerjaan yang anda pilih, bukan sebatas lulus PNS atau masuk ke swasta. Kita juga harus memikirkan, khususnya bagi pegawai swasta, apakah tetap disana atau memikirkan peluang yang lebih lagi.
- Pelayanan. Kita juga harus menata pelayanan kita. Secara pribadi menata pelayan saya dengan menerima semua pelayanan mahasiswa jika ada bisa. Tetapi jika pelayanan di luar mahasiswa akan saya pilah-pilah. Hal tersebut saya lakukan karena visi.
- Social Relation. Hal ini bisa dilakukan dengan berkun- jung atau merencanakan mengirim email kepad teman-teman setiap minggunya.
- Olah Raga. Olah raga juga perlu ditata sedemikan rupa agar kita makin sehat dan bisa lebih maksimal dalam mengerjakan sesuatu.
- Leisure. Sering sekali orang menganggap bahwa leisure itu kurang rohani. Hal ini kurang benar. Mari mengatur leisure kita, misalnya bacaan (seperti : novel), tonto -nan, dll. Jangan terlalu kaku dan mari menikmati hidup. Kita bisa mengatur cuti kerja atau weekend kita.
- Waktu dan uang. Kita sangat memerlukan time manage- ment. Mengenai uang, mari atur berapa persembahan, tabungan, uang untuk leisure, keluarga atau pos-pos lain yang kita miliki. Sebagai anak Tuhan yang bertanggung jawab, walaupun orang tua kita memiliki uang, adalah sangat baik memberi kepada mereka.
Untuk mengelola hidup kita, sangat penting mendisiplinkan diri. Stephen Tong mengatakan bahwa kita harus memaksa diri untuk rela dan rela untuk memaksa diri. Inilah disiplin.
Dalam visi dan aktualisasi ada beberapa hal yang dapat kita lihat.
Visi + Energi + Kompetensi :
A Great Builder
Visi + Kompetensi – Energi :
A Great Dreamer
Kompetensi + Energi – Visi :
A Great Destroyer
Dalam kehidupan, kita harus mem- bangun yang pertama dan membuang yang kedua dan ketiga. Oleh karena itu perlu ada evaluasi dan revisi. Bila kita memiliki satu hari kosong, alangkah baiknya jika kita bisa menggunakan untuk evaluasi, refleksi, atau revisi hidup. Melalui evaluasi dan revisi ini kita dapat melihat hidup yang kita lewati dan kembali menata hidup yang akan kita jalani. Hidup kembali diatur apakah kita telah mencapai sasaran, atau masih on the track atau sudah lari dari jalur. Jadi ada satu evaluasi untuk perbaikan dan peningkatan, membangun, menstrukturisasi sehingga kita kembali ke dalam track Allah. Mari menata hidup kita karena fail to plan, plan to fail. Jangan sampai disorder tetapi harus ordering our private life. Hidup kita hanya sekali dan sayang jika kita tidak menggunakan dan memaksimalkan hidup kita dan hanya berlalu tanpa bekas. Mari menata hidup kita secara pribadi.
Soli Deo Gloria!
Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati, yang juga tidak melakukan kejahatan, tetapi yang hidup menurut jalan-jalan yang ditunjukkan-Nya.
(Mzm 119 : 2-3)
Tuesday, March 3, 2009
Christian Spirituality-2: Prayer & Word [Meditation]
By: Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div
Jika minggu yang lalu kita belajar mengenai hidup yang dipenuhi dan dipimpin oleh Roh, maka hari ini kita akan belajar tentang bagaimana Roh Kudus yang memimpin kita untuk berdoa. Dalam hal ini ada dua sisi yang bisa kita lihat, pertama adalah bagaimana kita berdoa dipimpin oleh Roh Kudus, dan kedua adalah bagaimana kita dipimpin Roh untuk berdoa. Ini adalah dua hal yang berbeda. Hari ini kita akan bicara tentang doa dan Firman, dalam konteks meditasi. Kita harus mengingat bahwa Roh Kudus memimpin kita untuk mengerti akan Firman Allah, kemudian dengan Firman kita bisa mengenal Yesus Kristus, dan melalui Yesus kita bisa mengenal Allah Bapa.
Dalam kehidupan modern, ada tiga tantangan utama yang akan dihadapi oleh alumni, yaitu : (1) noise (bising, ribut), baik pikiran atau lingkungan, (2) hurry dimana dalam tantangan ini seringkali kita dihancurkan. Kita sering bersaat teduh hanya tujuh menit karena terburu-buru, dan lain sebagainya. (3) crowd, dalam hal ini pengertian dari crowd adalah ribet bukan padat. Tiga hal ini adalah tantangan yang besar bagi orang percaya, terutama dalam masyarakat perkotaan. Kita akan belajar meditasi agar kita tidak terjebak dan terjatuh di dalam hal-hal yang demikian. Banyak orang yang terjebak dalam situasi ’too busy not to pray’. Di lain pihak, Martin Luther berkata :” justru karena aku semakin sibuk maka aku semakin banyak berdoa.” Alumni juga banyak terjebak dalam situasi ‘too busy not to pray’ ini. Terlalu sibuk sehingga tidak ada lagi waktu untuk jam doa. Dalam hal inilah orang percaya perlu recreating silences (hening). Bagaimana kita menciptakan kehe- ningan, ketenangan batin dan pikiran, serta kehidupan yang hening dalam hidup kita sampai kita mendengar Tuhan. Dan akhirnya kita masuk dalam hadirat Allah yang hidup dan menikmati persekutuan yang hidup dengan Dia. Tanpa ini, doa kita hanya seperti letupan yang kosong yang tebang di udara, yang tidak pernah punya makna apa-apa. Itulah sebabnya kita bicara mengenai meditasi Kristen.
Meditasi adalah kemampuan untuk mendengar suara Tuhan dan mentaati FirmanNya. Meditasi Kristen bukan mengosongkan pikiran, tetapi mengisi hati dan pikiran dengan Firman Allah. Ketika kita mendengar suara Allah, ada satu pengalaman yang intim bersama dengan Allah (ingat, yang nyanyi atau berdoa belum tentu memiliki satu keintiman rohani). Yang ingin kita latih dalam hal ini adalah setiap kita berdoa dan membaca Firman Tuhan, ada satu intimasi, relasi yang hangat antara kita dengan Allah. Dan hal ini akan kita dapat melalui meditasi. Itulah sebabnya dikatakan inward fellowship transform inner personality di dalam meditasi (doa dan firman). Yang ingin kita bangun bukan outward fellowship melainkan inward fellowship. Jika kita datang MBA, bernyanyi dan berdoa, bisa saja kita menikmati apa yang disebut dengan outward fellowship, persekutuan yang nampak dari permukaan saja. Hanya di dalam satu hubungan yang intim dengan Allah, kita bisa membangun inward fellowship. Ada satu hubungan batin dengan Bapa di Surga ketika kita bernyanyi ataupun berdoa. Di dalam bermeditasi - termasuk saat teduh, doa, dll - kita bisa berkomunikasi dengan mesra dengan Allah dan hal ini akan menghasilkan rasa puas dan senang setelah selesai melakukannya. Dalam kenyataannya, banyak orang yang tidak mendapat apa-apa ketika saat teduh ataupun berdoa. Belajar Firman Tuhan hanya merubah pikiran dan menambah wawasan, tetapi persekutuan yang intim dengan Allah membuat kita mengalami satu transformasi di dalam diri kita. Pertobatan dan ketaatan adalah jalan untuk meditasi. Apa yang dimaksudkan disini adalah hanya dengan sikap bertobat dan penyesalan yang dalam akan dosa, yang membuat kita bisa menikmati satu intimasi dengan Allah, dan ketika kita mengalami hal ini, akan menghasilkan semangat dan pertobatan yang baru. Mari kita evaluasi diri kita. Adakah kita menghasilkan cara hidup yang seperti ini? Jika belum, berarti ada yang tidak benar di dalam hubungan kita dengan Allah. Berarti kita hanya melakukan satu rutinitas mekanisme, tetapi dinamika rohaninya tidak ada lagi. Ini adalah sesuatu yang merugikan.
Ada beberapa jenis/cara meditasi :
Apa yang dilakukan di dalam meditasi antara doa dan firman? Dalam hal ini, yang paling penting adalah listening God, reflection on God’s word, rehearsing God’s deeds, and ruminating on God’s Law. Ijinkanlah Tuhan berbicara dengan cara ini, dengarkanlah Ia, renungkanlah karya-karyaNya, ingat Firman Tuhan dan refleksikan pada diri kita. Dengan cara seperti inilah kita dapat terkoreksi, dibangun, dan diperbaharui. Oleh sebab itulah kita harus melatih hal ini karena kita seringkali gagal untuk mendengar suara Tuhan karena terlalu banyak mendengar suara sendiri. Kita lebih banyak mendengar suara dunia daripada mendengar suara Tuhan. Kita juga harus menyadari bahwa kita lebih kagum pada gemerlap dunia ini daripada cahaya kemuliaan Tuhan. Dalam situasi inilah kita perlu satu konsentrasi dan satu keheningan. Jika kita bisa melakukan empat cara yang diatas tadi, maka kita akan bisa bertemu atau attach dengan Allah yang hidup. Di dalam meditasi timur, situasi yang sering terjadi adalah adanya satu detachment, yaitu satu keterasingan atau keterpisahan. Berbeda dengan Kristen, yang ada adalah attachment. Kita menyatu/bersentuhan dengan Allah. Seorang Pastor, Thomas A Kempis menyatakan : “Meditation is growing into a familiar friendship with Jesus.”
Dalam meditasi, kita tenggelam ke dalam terang dan kehidupan Kristus dan menjadikan kita nyaman dalam naungan atau hadiratNya. Ketika meditasi, kita bermesraan dengan Tuhan, dan kita menjadi tenang rasanya. Ketika meditasi, kita terjun ke dalam kehangatan kasih Allah. Apakah kita masih merasakan kehanga- tan kasih Allah setelah selesai melakukan sate atau doa kita? Allah yang maha hadir berubah dari pemahaman teologis menjadi satu realita yang nyata. Secara teori kita semua yakin Allah maha hadir, baik, mengasihi. Tetapi bagaimana pemahaman dogmatis berubah menjadi satu pengalaman dalam hidup kita, adalah hal yang terpenting. Karena pemahaman kognitif dogma- tif tidak ada artinya tanpa satu pengalaman realita bersama dengan dengan Allah. Inilah yang disebut dengan personal encounter (Wahyu 3:20-21).
Bagaimana kita memulai sebuah meditasi?
Mari membangun Prayer and Word dalam konteks meditasi, agar ada satu dinamika rohani yang muncul dari dalam diri kita, sehingga kita diperbaharui, semakin indah, dan semakin dewasa.
Soli Deo Gloria!
Jika minggu yang lalu kita belajar mengenai hidup yang dipenuhi dan dipimpin oleh Roh, maka hari ini kita akan belajar tentang bagaimana Roh Kudus yang memimpin kita untuk berdoa. Dalam hal ini ada dua sisi yang bisa kita lihat, pertama adalah bagaimana kita berdoa dipimpin oleh Roh Kudus, dan kedua adalah bagaimana kita dipimpin Roh untuk berdoa. Ini adalah dua hal yang berbeda. Hari ini kita akan bicara tentang doa dan Firman, dalam konteks meditasi. Kita harus mengingat bahwa Roh Kudus memimpin kita untuk mengerti akan Firman Allah, kemudian dengan Firman kita bisa mengenal Yesus Kristus, dan melalui Yesus kita bisa mengenal Allah Bapa.
Dalam kehidupan modern, ada tiga tantangan utama yang akan dihadapi oleh alumni, yaitu : (1) noise (bising, ribut), baik pikiran atau lingkungan, (2) hurry dimana dalam tantangan ini seringkali kita dihancurkan. Kita sering bersaat teduh hanya tujuh menit karena terburu-buru, dan lain sebagainya. (3) crowd, dalam hal ini pengertian dari crowd adalah ribet bukan padat. Tiga hal ini adalah tantangan yang besar bagi orang percaya, terutama dalam masyarakat perkotaan. Kita akan belajar meditasi agar kita tidak terjebak dan terjatuh di dalam hal-hal yang demikian. Banyak orang yang terjebak dalam situasi ’too busy not to pray’. Di lain pihak, Martin Luther berkata :” justru karena aku semakin sibuk maka aku semakin banyak berdoa.” Alumni juga banyak terjebak dalam situasi ‘too busy not to pray’ ini. Terlalu sibuk sehingga tidak ada lagi waktu untuk jam doa. Dalam hal inilah orang percaya perlu recreating silences (hening). Bagaimana kita menciptakan kehe- ningan, ketenangan batin dan pikiran, serta kehidupan yang hening dalam hidup kita sampai kita mendengar Tuhan. Dan akhirnya kita masuk dalam hadirat Allah yang hidup dan menikmati persekutuan yang hidup dengan Dia. Tanpa ini, doa kita hanya seperti letupan yang kosong yang tebang di udara, yang tidak pernah punya makna apa-apa. Itulah sebabnya kita bicara mengenai meditasi Kristen.
Meditasi adalah kemampuan untuk mendengar suara Tuhan dan mentaati FirmanNya. Meditasi Kristen bukan mengosongkan pikiran, tetapi mengisi hati dan pikiran dengan Firman Allah. Ketika kita mendengar suara Allah, ada satu pengalaman yang intim bersama dengan Allah (ingat, yang nyanyi atau berdoa belum tentu memiliki satu keintiman rohani). Yang ingin kita latih dalam hal ini adalah setiap kita berdoa dan membaca Firman Tuhan, ada satu intimasi, relasi yang hangat antara kita dengan Allah. Dan hal ini akan kita dapat melalui meditasi. Itulah sebabnya dikatakan inward fellowship transform inner personality di dalam meditasi (doa dan firman). Yang ingin kita bangun bukan outward fellowship melainkan inward fellowship. Jika kita datang MBA, bernyanyi dan berdoa, bisa saja kita menikmati apa yang disebut dengan outward fellowship, persekutuan yang nampak dari permukaan saja. Hanya di dalam satu hubungan yang intim dengan Allah, kita bisa membangun inward fellowship. Ada satu hubungan batin dengan Bapa di Surga ketika kita bernyanyi ataupun berdoa. Di dalam bermeditasi - termasuk saat teduh, doa, dll - kita bisa berkomunikasi dengan mesra dengan Allah dan hal ini akan menghasilkan rasa puas dan senang setelah selesai melakukannya. Dalam kenyataannya, banyak orang yang tidak mendapat apa-apa ketika saat teduh ataupun berdoa. Belajar Firman Tuhan hanya merubah pikiran dan menambah wawasan, tetapi persekutuan yang intim dengan Allah membuat kita mengalami satu transformasi di dalam diri kita. Pertobatan dan ketaatan adalah jalan untuk meditasi. Apa yang dimaksudkan disini adalah hanya dengan sikap bertobat dan penyesalan yang dalam akan dosa, yang membuat kita bisa menikmati satu intimasi dengan Allah, dan ketika kita mengalami hal ini, akan menghasilkan semangat dan pertobatan yang baru. Mari kita evaluasi diri kita. Adakah kita menghasilkan cara hidup yang seperti ini? Jika belum, berarti ada yang tidak benar di dalam hubungan kita dengan Allah. Berarti kita hanya melakukan satu rutinitas mekanisme, tetapi dinamika rohaninya tidak ada lagi. Ini adalah sesuatu yang merugikan.
Ada beberapa jenis/cara meditasi :
- Meditatio Scripturarum, yaitu meditasi dengan merenungkan Firman Allah. Ketika kita bermeditasi, kita bisa mengingat satu atau dua ayat, dan melalui ayat tersebut, ijinkan Tuhan bekerja untuk mengoreksi diri kita. Contohnya, mari membaca Yoh 14:27. Baca ayat ini dan hapal. Kemudian berdiam dan konsentrasi, dan renungkan lah Firman Tuhan. Sampai pada satu titik, tercipta damai di dalam hati kita, semua kegelisahan pudar, dan kita merasakan ada satu hubungan yang har- monis dengan Tuhan.
- Meditasi yang kedua adalah meditasi yang muncul pada abad pertengahan dan sampai sekarang masih sering dilakukan oleh Katolik, yaitu meditasi Re-Collection (centering-down).
- Dalam meditasi ini, ada satu sikap untuk meneduhkan pikiran dan emosi, waktu untuk tenang, untuk memasuki satu keheningan, dan mengijinkan fragmentasi-fragmentasi yang ada di dalam pikiran kita menjadi terpusat. Misalnya ada seseorang yang melukai hati kita dan kita sulit mengampuninya. Di dalam meditasi re-collection kita bisa menumpahkan/membe- baskan dan menyerahkan kepada Allah semua kemarahan dan emosi kita (thumb down). Kita juga bisa meminta Tuhan untuk memenuhi hati kita dengan kasihNya untuk mengampuni (thumb up). Melalui meditasi re-collection ini, kita bisa menumpahkan segala kekesalan dan kemarahan kita. Hal ini sangat baik karena jika kita memendam kemarahan kita, semakin lama akan semakin terakumulasi dan sewaktu-waktu bisa ’meledak’. Silahkan menumpahkan emosi pada Tuhan.
- Contemplative Prayer. Meditasi ini adalah meditasi yang dilakukan upon the creation (Mzm 19:1-2). Ketika kita memandang alam (mis : Danau Toba) dan merenungkan bagaimana semua bisa ada, kita akan kagum kepada penciptanya, yaitu Allah.
- Meditate upon the events of our time and to seek the perceive their significance (the inner meaning of events). Setiap peristiwa di dalam hidup kita, pastilah punya makna. Mari kita evaluasi hidup kita dalam satu hari (jika kita melakukan meditasi harian). Siapa saja yang menyakiti, memuji, menyenangkan, dan menyusahkan kita apa peristiwa yang baik atau tidak dan semua perjalanan hidup kita. Dalam semua peristiwa itu, coba ijinkan Tuhan berbicara, apa sebenarnya maksud Allah mengijinkan semua hal terjadi. Misalnya, ketika kita dipuji orang lain, apa sebenarnya maksud Tuhan dalam peristiwa ini? Hal ini berguna agar kita tidak terjebak di dalam kesombongan (bd Roma 8:28-29).
Apa yang dilakukan di dalam meditasi antara doa dan firman? Dalam hal ini, yang paling penting adalah listening God, reflection on God’s word, rehearsing God’s deeds, and ruminating on God’s Law. Ijinkanlah Tuhan berbicara dengan cara ini, dengarkanlah Ia, renungkanlah karya-karyaNya, ingat Firman Tuhan dan refleksikan pada diri kita. Dengan cara seperti inilah kita dapat terkoreksi, dibangun, dan diperbaharui. Oleh sebab itulah kita harus melatih hal ini karena kita seringkali gagal untuk mendengar suara Tuhan karena terlalu banyak mendengar suara sendiri. Kita lebih banyak mendengar suara dunia daripada mendengar suara Tuhan. Kita juga harus menyadari bahwa kita lebih kagum pada gemerlap dunia ini daripada cahaya kemuliaan Tuhan. Dalam situasi inilah kita perlu satu konsentrasi dan satu keheningan. Jika kita bisa melakukan empat cara yang diatas tadi, maka kita akan bisa bertemu atau attach dengan Allah yang hidup. Di dalam meditasi timur, situasi yang sering terjadi adalah adanya satu detachment, yaitu satu keterasingan atau keterpisahan. Berbeda dengan Kristen, yang ada adalah attachment. Kita menyatu/bersentuhan dengan Allah. Seorang Pastor, Thomas A Kempis menyatakan : “Meditation is growing into a familiar friendship with Jesus.”
Dalam meditasi, kita tenggelam ke dalam terang dan kehidupan Kristus dan menjadikan kita nyaman dalam naungan atau hadiratNya. Ketika meditasi, kita bermesraan dengan Tuhan, dan kita menjadi tenang rasanya. Ketika meditasi, kita terjun ke dalam kehangatan kasih Allah. Apakah kita masih merasakan kehanga- tan kasih Allah setelah selesai melakukan sate atau doa kita? Allah yang maha hadir berubah dari pemahaman teologis menjadi satu realita yang nyata. Secara teori kita semua yakin Allah maha hadir, baik, mengasihi. Tetapi bagaimana pemahaman dogmatis berubah menjadi satu pengalaman dalam hidup kita, adalah hal yang terpenting. Karena pemahaman kognitif dogma- tif tidak ada artinya tanpa satu pengalaman realita bersama dengan dengan Allah. Inilah yang disebut dengan personal encounter (Wahyu 3:20-21).
Bagaimana kita memulai sebuah meditasi?
- Mari cari waktu yang paling tepat dan tenang. Saya tidak mengatakan harus pagi, siang, sore, atau malam. Mana yang paling menyegarkan bagi kita, itulah yang kita pilih (tubuh segar, tenang, dan tanpa gangguan orang lain termasuk telepon).
- Mulai dengan memusatkan hati dan pikiran kepada Allah dengan doa (contemplative prayers as away of life ). Perlu ketenangan dan konsentrasi.
- Sewaktu berdoa dengan tenang dan memusatkan pikiran pada Allah, sadarilah bahwa Kristus sugguh hadir bersama dengan kita untuk mengajar, menegur, mengoreksi, menyembuhkan, dan mengoreksi kita. Maka di dalam meditasi, yakinilah Kristus sedang duduk bersama dengan kita. Tetapi ingat, kita tidak boleh membayangkan salib atau wajah karena nanti akan mengarah kepada olkutisme.
- Meditasi Firman Tuhan membawa kita masuk ke dalam inner life (akibat dari sebuah intimasi). Oleh sebab itu, dalam sebuah meditasi, tidak ada satu pun yang terselubung, bahkan bagian yang terdalam di dalam diri kita (Mzm 139).
- Doa membawa kita ke dalam deepest and higest work of the human spirit. Jadi ada satu doa yang membuat kita semakin dekat dengan Allah. Jika kita bisa mengalami doa seperti ini, kita bisa berdoa selama satu jam, tetapi seolah-olah masih 15 menit.
- Doa yang sesungguhnya adalah a life creating and life changing. Di dalam hal ini, ketika kita berdoa kepada Allah, ada hidup yang baru yang dicipta dan ada hidup yang baru yang sudah berubah dari yang lama karena kita korektif. Hal ini akan membangun spiritualitas yang sehat.
- Berdoa berarti berubah. Dalam pemahaman kebanyakan orang, berdoa adalah mendapatkan sesuatu dari Allah. Itu tidak selamanya benar. Doa adalah cara Allah untuk mentransformasi kita. Sering sekali orang berdoa dengan konsep mau memaksa Allah untuk menjawab apa yang ia mau. Tetapi doa adalah, dengan inner renewal, ada satu perubahan dengan diri kita. jika kita berdoa buat seseorang, apa yang sebenarnya kita doakan? Kebanyakan orang berdoa agar Tuhan memberikan ia kepada kita. jika Tuhan tidak memberi, kita akhirnya menjadi kecewa. Doa yang benar adalah apak dia kehendak Allah kepada kita atau tidak. Hal inilah yang terjadi di dalam satu kehidupan rohani yang benar. Bukan sebatas memaksa Allah untuk menjawab yang kita mau. Jadi ketika Tuhan tidak mengabulkan doa kita, kita tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang mengecewakan dan menyakitkan. (bd Yoh 15:7).
- Semakin dekat kita dengan denyutan hati Allah, semakin kita melihat kebutuhan kita dan semakin rindu untuk menyerupai Dia. Di sinilah kita penting melakukan ROS (Retreat of Silence), bukan hanya sewaktu kamp, tetapi dapat kita lakukan jika kita punya waktu yang tepat.
- Doa yang benar diawali dengan memikirkan pikiran Allah. Oleh sebab itu, di dalam doa dan Firman dalam konteks meditasi, pikirkanlah apa yang menjadi pikiran Allah, inginkan apa yang diinginkan Allah, cintai apa yang dicintai Allah, benci apa yang dibenciNya. Inilah yang dinamakan see things from His point of view. Jika kita mendoakan sesuatu atau seseorang, biarkanlah Allah memandang, menyinarinya, apakah benar atau tepat. Ijinkanlah Allah mengoreksi, barulah kita mendoakan. Kita memandang dengan cara Allah, dan dari situlah ada keberanian untuk melangkah karena Tuhan memimpin dan ada keberanian untuk melakukan karena Tuhan yang memerintahkan.
- Mari belajar menjadikan doa menjadi bahagian yang terpenting dalam kehidupan. Bukan sekedar jam doa, tetapi doa sebagai satu aktifitas yang penting. Walaupun jam doa penting, doa sebagai nafas hidup kitalah yang terpenting. Biarlah setiap nafas yang keluar dari dalam diri kita merupakan ungkapan syukur kepada Allah. Hal ini memberikan kita kekuatan untuk tetap berkomunikasi dengan Allah.
- Dengan doa kita mengetahui kehendak Allah, apa yang berkenan kepadaNya. Karena itu, kembangkan semua doa yang evaluatif atau korektif sehingga kita hidup menurut cara Allah. Kita tidak sedang menunggu Allah menandatangani ‘proposal’ kita, tetapi kita mau dikoreksi oleh Allah.
- Mari mengembangkan doa yang dialog dengan Allah. Dengan cara seperti ini kita bisa dipulihkan, emosi diredakan, dan semangat kita dibangkitkan.
Mari membangun Prayer and Word dalam konteks meditasi, agar ada satu dinamika rohani yang muncul dari dalam diri kita, sehingga kita diperbaharui, semakin indah, dan semakin dewasa.
Soli Deo Gloria!
Monday, March 2, 2009
Christian Spirituality-1: Holy Spirit
By: Drs. Tiopan Manihuruk, M. Div
Hari ini kita akan membahas mengenai Christian Spirituality dalam hal Roh Kudus. Mari kita melihat satu bagian dari Alkitab, yaitu dari Gal 5:16-26.
Jika kita memperhatikan Galatia pasal 1-4, kita akan menemukan bahwa bagian tersebut berbicara soal adanya pertentangan di dalam jemaat Galatia, dimana mereka mengatakan bahwa seseorang itu tidak cukup hanya menerima Kristus. Ia juga harus dilengkapi dengan sunat dan mematuhi hukum taurat. Itulah sebabnya Paulus di dalam Gal 1:8-9 menyatakan bahwa terkutuklah orang-orang yang memberitakan injil yang berbeda dari yang telah mereka terima. Yang ingin dikatakan Paulus di dalam bagian ini adalah bahwa keselamatan itu merupakan anugerah Allah, di dalam Kristus yang telah mati di kayu salib, dan telah bangkit bagi kita, sudah cukup. Tidak perlu ditambahi dengan sunat atau taurat atau yang lainnya. Oleh sebab itu terjadilah percecokan, bagaimana seharusnya hidup bagi orang Kristen. Jadi terjadi hal-hal yang kontras dimana jika orang sudah percaya kepada Kristus dan sudah menikmati anugerah keselamatan, maka harus mentaati taurat dimana salah satunya adalah sunat. Disisi yang lain muncul liberti- nisme, yaitu pemahaman dimana jika kita sudah menikmati keselamatan karena anugerah Allah, bukan karena taurat dan perbuatan baik, maka marilah kita hidup dengan bebas. Itulah sebabnya di dalam Gal 5:13, Paulus mengatakan, : ”... memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemer- dekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih”. Inilah dua situasi yang terjadi di dalam jemaat di Galatia pada saat itu.
Christian Spirituality yang berbicara tentang Holy Spirit yang kita bahas hari ini akan kita bahas di dalam empat aspek.
1. Hidup oleh Roh
Di dalam ayat 16, Paulus berkata : “Hidulah oleh Roh...”. Hidup oleh Roh berbeda dengan hidup dipimpin oleh Roh. Hidup oleh Roh artinya lahir baru (bd Yoh 3:5-9). Roh Allah melahirkan kembali orang yang percaya kepada Kristus. Roh itu menyatakan keselamatan dan di dalam hal inilah manusia menyadari kebutuhannya. Ketika Roh Kudus menyadarkan seseorang akan dosa, penghakiman, keselamatan, Roh Allah sekaligus memberikan iman (1 Kor 12:3). Artinya, tidak seorang pun bisa berkata bahwa ’Yesus adalah Tuhan’ kalau bukan karena Roh Kudus. Maka saat yang sama Roh memberikan iman dan melahirkan kembali seseorang di dalam Kristus. Jika kita menerima Roh Allah, kita akan berkata ya Abba, ya Bapa, karena kita adalah anak-anakNya. Karena kita adalah anak-anakNya Allah, maka Allah akan mengaruniakan RohNya bagi kita dan kita juga akan menjadi ahli waris ( Rom 8:14-15). Ini adalah pekerjaan Roh Allah, yang bukan hanya melahirkan kembali, tetapi sekaligus memateraikan (Ef 1:13-14) dan menyucikan. Dalam Ef 1:13-14 kita melihat bahwa Roh Allah memberikan jaminan. Itulah sebabnya kita memiliki jaminan keselamatan yang dikerjakan oleh Roh Kudus (bd Rom 8:31-39).
Dalam ayat 16 juga dikatakan : ”...tidak akan menuruti keinginan daging”. Ketika seseorang menjadi percaya dan dilahirkan kembali, hal ini bukan berarti tanpa perjuangan. Di dalam dirinya ada satu peperangan dan pergumulan yang sangat besar. Ada satu self-conflict. Hal ini dapat kita lihat pada ayat 17 : ”Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging--karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki”. Ada satu pemahaman teologia yang berkata bahwa situasi ini hanya terjadi bagi mereka yang belum lahir baru. Bila kita perhatikan surat-surat Paulus, ternyata orang yang lahir baru pun-termasuk kita- bergumul dan berjuang untuk dapat hidup dengan taat. Kita pasti pernah dalam situasi dimana kita ingin berbuat baik tetapi kita tidak mampu melakukannya. Dalam hal ini, kognitif dan afektif kita dapat tidak sejalan. Paulus sendiri mengalami hal ini (Rom 7:19-20). Tetapi peperangan rohani ini dapat kita kalahkan dengan ayat 18 ” jika kamu mau dipimpin oleh Roh,...”. Di dalam ayat 19-21, Paulus memaparkan perbuatan daging yang bertentangan dengan Roh Kudus.
• Seksualitas : Percabulan, kecemaran dan hawa nafsu.
• Olkutisme : Penyembahan berhala dan sihir
Mungkin di dalam olkutisme kita tidak telibat, tetapi dengan penyembahan berhala kita sering. Berhala modern bukan jimat atau sihir, tetapi siapa atau apa saja yang menggeser posisi Kristus dari urutan yang pertama. Misalkan jika kerja kita nomor satu, berarti penyembahan berhala.
• Relasi dengan orang lain : perseteruan, perselisihan, iri hati, dengki, percideraan dan roh pemecah.
• Emosi/karakter : amarah, egois, kemabukan, pesta pora.
Jadi ada satu kehancuran total. Itulah sebabnya Jhon Calvin berkata ”nothing is good in me”. Tetapi orang yang lahir baru memiliki inner renewal, satu pembaharuan dari dalam diri manusia sehingga dimampukan untuk menang dari dosa.
2. Hidup yang dipimpin oleh Roh
Mari kita perhatikan ayat 8, 24, dan 25.
Orang yang lahir baru dan dilahirkan oleh Roh sebaiknya hidup dipimpin oleh Roh. Belum tentu yang lahir oleh Roh dan lahir baru, hidupnya setiap saat dipimpin oleh Roh. Hidup yang dipimpin dan dikontrol oleh Roh adalah cara untuk menang dari keinginan daging. Pikiran kita akan jernih dan memikirkan hal yang baik jika kita memberikan pikiran kita dipimpin oleh Roh. Kita juga memberikan diri kita kepada Kristus memimpin mata kita sehingga tidak ada mata kebencian atau zinah dll. Tidak ada cara untuk menang dari keinginan daging kecuali membiarkan hidup kita dipimpin oleh Roh Allah. Perhatikan kata yang dipakai Paulus, ’biarkanlah’, ’izinkanlah’, artinya adalah bahwa Roh Kudus tidak bisa memaksa diri kita untuk tunduk kepadaNya. Oleh karena itu, yang diminta oleh Allah adalah sikap kerelaan atau tunduk dan sikap kemauan kita untuk memberikan diri dipimpin oleh Roh Allah. Pertanyaan bagi kita adalah berapa banyak ddari kita mau menundukkan diri kepada Allah setiap hari? Adakah ketika kita tergoda dengan pikiran yang tidak benar, hati yang tidak benar kita bisa langsung menolaknya. Ini adalah hidup yang dipimpin oleh Roh. Dalam ayat 25 kita melihat jalan untuk menang, yaitu : ” Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,
Mari kita melatih diri. Spiritualitas yang akan kita tabung hari ini adalah bagaimana melatih diri untuk tunduk, dikendalikan, oleh Roh Allah. Dari ayat 24 kita melihat bahwa barang siapa yang menjadi milik Kristus, ia telah menyalibkan kedagingannya dan hawa nafsunya. Sejauh mana di dalam pengalaman kita sendiri, kita mengembangkan spiritualitas dalam arti ketaatan dalam Roh Allah? Sejauh mana kita dipimpin Roh Allah sehingga ada satu tekad setiap hari untruk mati bagi ke-aku-an (menyalibkan kedagingan) dan hidup untuk Kristus? Hal ini tidak gampang. Jika tidak melatih diri dengan tekun, tidak akan pernah seorang pun menang, kecuali ada kuasa khusus yang diberikan oleh Tuhan. Dalam kasus tertentu kita bisa menang dengan sekali berdoa saja, tetapi dalam kasus yang lain, berkali-kali pun berdoa belum tentu menang. Mari membiarkan diri kita dikendalikan dan diatur oleh oleh Roh, bukan hati dan bukan pikiran. Kita juga harus melatih untuk menyangkal kedagingan kita, karena Roh Kudus menuntut kita untuk menjadi serupa dengan Kristus dan juga memberikan kemerdekaan bagi kita.
Roh Kudus memberikan keselamatan/kesem- buhan bagi kita. Akar kata ’keselamatan’ berasal dari kata salvare dan salus (bahasa latin) yang berarti pembebasan dari bahaya dan kesembuhan dari penyakit. Inilah sebabnya, orang yang sudah diselamatkan dan dilahirkan kembali oleh Roh, maka diapun diselamatkan dengan hidup yang dipimpin dan dikendalikan oleh Roh. dia merdeka dari perbudakan dosa, kebiasaan masa lalu. Bapak gereja, Agustinus, berkata bahwa orang yang belum percaya kepada Kristus tidak mampu untuk tidak berdosa, tetapi orang yang dipimpin oleh Roh dimampukan untuk tidak berdosa. Inilah sebabnya Roh Kudus memerdekakan kita. Adakah dosa yang masih mengikat atau menghantui hidup kita bahkan memperbudak hidup kita? Hari ini, izinkanlah Roh Kudus memimpin engkau agar bisa menang dan bebas dari dosa masa lalu. Banyak orang yang sudah lahir baru tetapi masih tetap terikat denagn kebiasaan buruknya, sehingga dari segi karakter dia tidak berubah. Kita harus mengijinkan diri kita untuk dipimpin oleh Roh Kudus agar kita kita menjadi merdeka dari dosa masa lalu, kuasa dosa, dan kebiasaan buruk. Bukan hanya ini saja, kita juga merdeka untuk menjadi diri sendiri, menyalibkan kedagingan dan mau melakukan kebenaran. Banyak orang mengenal kebenaran tetapi tidak tahu melakukan kebenaran. Hanya hidup yang mau dipimpin oleh Rohlah yang mampu melakukan kebenaran yang ia tahu dan merdeka untuk melayani. Jika iblis masih sering mendakwa kita karena dosa, ingatlah memang benar kira berdosa, tetapi semua dosa kita telah diselesaikan di kayu salib.
Hidup yang dipimpin oleh Roh akan menghasilkan buah (Gal 5:22-23) yaitu : kasih (1 Kor 13:4-8), sukacita (Fil 4:4), damai sejahtera (Mat 5:9; Fil 4:7), kesabaran (Rom 12:11; 2 Tim 4:2,5), kemurahan (Mat 5:7), kebaikan (Fil 4:5; 1 Pet 2:12), kesetiaan (Ibr 10:32-36), kelemahlembutan 1 Tes 2:7-8), dan penguasaan diri ( 1 Pet 4:7). Buah Roh ini adalah bukti seseorang telah menyerahkan hidupnya dipimpin oleh Roh dan menyalibkan kedagingan.
3. Karunia Roh
Karunia Roh atau charisma berarti a gift of God’s love (1 Kor 12:1-11). Dalam hal ini ada beberapa perintah terhadap Roh Kudus supaya kita memiliki karunia.
• Tidak menolak atau menentang Roh Kudus di dalam diri kita (Kis 7:51)
• Di dalam 1 Kor 14:1 mengatakan kita berhak untuk meminta dan berdoa.
• Untuk mendapatkan karunia Allah, jangan memadamkan Roh (1 Tes 5:19-21) dan mendukakan Roh (Ef 4:30)
Memadamkan berbeda dengan mendukakan. Kalau memadamkan berarti ketika suatu saat Roh Kudus mengingatkan kita u ntuk berdoa atau melakukan kebenaran yang lain, tetapi kita mengabaikan suara ini, kita memadamkan Roh. Mendukakan adalah ketika kita tergoda untuk melakukan hal yang jahat dan pada saat yang sama Roh bekerja untuk melarang kita, tetapi kita tetap melakukannya. Orang seperti ini tidak akan bertumbuh dan dikaruniai karunia Roh.
• Janganlah hendaknya kamu mabuk anggur karena mabuk anggur menimbulkan hawa nafsu. Tetapi hendaklah kamu dipenuhi oleh Roh Kudus (Ef 5:18-21)
Semua hal ini adalah perintah. Tensesnya dalam bahasa Yunani adalah dalam bentuk present, yang berarti berlakuku setiap saat dan perintah yang wajib bagi orang percaya. Orang yang hidupnya dipimpin oleh Roh akan memiliki hidup yang penuh pujian dan mazmur kepada Allah. Hidup dipenuhi oleh Roh tidak didapat dengan kebaktian atau metode-metode yang lain, melainkan mau dipimpin oleh Roh dan mau menyalibkan kedagingan.
4. Kuasa Roh Kudus.
Mengusir setan bukan masalah suara tetapi kuasa. Kotbah juga bukan masalah suara atau metode, tetapi soal kuasa. Begitu juga dengan memimpin kelompok, bukan masalah keahlian (walaupun hal ini perlu), melainkan kuasa ketika kita mengajar. Itulah sebabnya di dalam Christian Spirituality dalam konteks Roh Kudus, kkta berbicara soal the power of Holy Spirit yang bekerja melalui kita. Masih ingat ketika Yesus berkata kepada murid-muridNya, ketika mereka tidak mampu mengusir setan, Ia mengatakan bahwa setan tersebut tidak dapa di usir kecuali dengan doa dan puasa. Apa yang ingin dikatakan disini adalah bahwa kuasa Roh Kudus ataupun otoritas surgawi ada bagi kita. Karena itu, dalam menjalani kehidupan kekristenan, hidup untuk dipimpin dan dipenuhi oleh Roh adalah cara bagi kita untuk mendapatkan wibawa dan kuasa daripada Roh Kudus. Jika kita ingin menang dari dosa, tidak ada cara lain, kuasa Roh Kudus adalah kunci utama. Kita juga perlu menyadari bahwa kuasa Roh Kudus ini tidak akan ada jika kita tidak hidup di dalam kekudusan. (1 Pet 1:15-16; 2 Tim 2:21). Ketika Musa berdiri di hadapan bangsa Israael, mereka melihat wajah Musa bercahaya dan berwibawa karena Musa telah berdiri di hadapan tahta Allah di dalam kekudusan. Ketika kita menegur orang lain, jika hidup kita benar, maka otoritas dan kuasa akan kita alami. Tetapi jika hidup kita tidak benar, maka perkataan kita tidak akan memiliki kuasa apapun.
Spiritualitas Kristen dalam arti yang keempat adalah bagaimana kita telah mengalami kuasa Roh Allah sehingga ada satu wibawa rohani, bukan soal penampilan fisik, tetapi wibawa karena hidup dalam kesucian. Jika ingin kuasa rohani untuk memimpin kelompok, mari hidup dengan benar. Jika orang yang hidup dalam kesucian akan melihat yang abu-abu semakin gelap, dan orang yang hidupnya tidak dalam kesucian akan melihat yang abu-abu semakin putih. Inilah sebabnya jika kita hidup dalam kekudusan di hadapan Allah, wibawa sorgawi akan ada, dan kita pun akan semakin berani untuk menolak dosa. 2 Tim 2:21 di tulis : ”Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia”. Perhatikan, dalam ayat ini ada sinergisme. Jika seseorang menjauhkan dirinya dari hal-hal jahat, maka ia akan diku- duskan oleh Allah. Lahir baru itu monergis, mutlak karya Allah. Tetapi hidup baru dipimpin dan memiliki kuasa Roh adalah sinergis. Ada bagian kita dan ada bagian Allah. Jika seseorang menyucikan dirinya dai hal-hal yang jahat, ia akan dikuduskan oleh Allah dan dipakai utnuk tujuan yang mulia. Jika kita ingin dipakai oleh Tuhan di dalam hidup, mari kita hidup di dalam kekudusan. Wibawa akan muncul jika hidup kita benar.
Mari kita melihat ayat 26. Ayat ini seolah-olah tidak ada hubungannya dengan hal yang diatas. Tetapi sesungguhnya sangat berhubungan. Kembali Paulus mengingatkan ayat 14 dan 15, karena terjadi perpecahan. Pada ayat 15 dikatakan ’saling menggigit’. Paulus ingin mengatakan jangan hidup seperti yang dikatakan ayat 26 yaitu, : ”dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki. Supaya jangan terjadi hal-hal seperti ayat 15 katakan, : ”Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan”. Jika kita mematikan keinginan daging dan hidup dipimpin oleh Roh akan ada wibawa Rohani yang menghasilkan buah Roh dan pasti memiliki relasi yang baik dengan orang lain. Jadi ada panggilan untuk harmoni (sebuah tema para pengajar kuno) dan relevan dengan kehidupan orang Kristen yang didasarkan oleh kasih. Jika hidup kita dikendalikan oleh Roh Allah, pasti hubungan kita dengan siapapun akan berjalan dengan baik. Itulah sebabnya dikatakan hubungan yang dalam dengan Allah akan terpancar melalui persekutuan dengan sesama. Mari melatih diri untuk hidup dipimpin oleh Roh Allah dan hidup menyalibkan kedagingan. Inilah hidup yang di kehendaki oleh Roh Allah.
Soli Deo Gloria !!
Hari ini kita akan membahas mengenai Christian Spirituality dalam hal Roh Kudus. Mari kita melihat satu bagian dari Alkitab, yaitu dari Gal 5:16-26.
Jika kita memperhatikan Galatia pasal 1-4, kita akan menemukan bahwa bagian tersebut berbicara soal adanya pertentangan di dalam jemaat Galatia, dimana mereka mengatakan bahwa seseorang itu tidak cukup hanya menerima Kristus. Ia juga harus dilengkapi dengan sunat dan mematuhi hukum taurat. Itulah sebabnya Paulus di dalam Gal 1:8-9 menyatakan bahwa terkutuklah orang-orang yang memberitakan injil yang berbeda dari yang telah mereka terima. Yang ingin dikatakan Paulus di dalam bagian ini adalah bahwa keselamatan itu merupakan anugerah Allah, di dalam Kristus yang telah mati di kayu salib, dan telah bangkit bagi kita, sudah cukup. Tidak perlu ditambahi dengan sunat atau taurat atau yang lainnya. Oleh sebab itu terjadilah percecokan, bagaimana seharusnya hidup bagi orang Kristen. Jadi terjadi hal-hal yang kontras dimana jika orang sudah percaya kepada Kristus dan sudah menikmati anugerah keselamatan, maka harus mentaati taurat dimana salah satunya adalah sunat. Disisi yang lain muncul liberti- nisme, yaitu pemahaman dimana jika kita sudah menikmati keselamatan karena anugerah Allah, bukan karena taurat dan perbuatan baik, maka marilah kita hidup dengan bebas. Itulah sebabnya di dalam Gal 5:13, Paulus mengatakan, : ”... memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemer- dekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih”. Inilah dua situasi yang terjadi di dalam jemaat di Galatia pada saat itu.
Christian Spirituality yang berbicara tentang Holy Spirit yang kita bahas hari ini akan kita bahas di dalam empat aspek.
1. Hidup oleh Roh
Di dalam ayat 16, Paulus berkata : “Hidulah oleh Roh...”. Hidup oleh Roh berbeda dengan hidup dipimpin oleh Roh. Hidup oleh Roh artinya lahir baru (bd Yoh 3:5-9). Roh Allah melahirkan kembali orang yang percaya kepada Kristus. Roh itu menyatakan keselamatan dan di dalam hal inilah manusia menyadari kebutuhannya. Ketika Roh Kudus menyadarkan seseorang akan dosa, penghakiman, keselamatan, Roh Allah sekaligus memberikan iman (1 Kor 12:3). Artinya, tidak seorang pun bisa berkata bahwa ’Yesus adalah Tuhan’ kalau bukan karena Roh Kudus. Maka saat yang sama Roh memberikan iman dan melahirkan kembali seseorang di dalam Kristus. Jika kita menerima Roh Allah, kita akan berkata ya Abba, ya Bapa, karena kita adalah anak-anakNya. Karena kita adalah anak-anakNya Allah, maka Allah akan mengaruniakan RohNya bagi kita dan kita juga akan menjadi ahli waris ( Rom 8:14-15). Ini adalah pekerjaan Roh Allah, yang bukan hanya melahirkan kembali, tetapi sekaligus memateraikan (Ef 1:13-14) dan menyucikan. Dalam Ef 1:13-14 kita melihat bahwa Roh Allah memberikan jaminan. Itulah sebabnya kita memiliki jaminan keselamatan yang dikerjakan oleh Roh Kudus (bd Rom 8:31-39).
Dalam ayat 16 juga dikatakan : ”...tidak akan menuruti keinginan daging”. Ketika seseorang menjadi percaya dan dilahirkan kembali, hal ini bukan berarti tanpa perjuangan. Di dalam dirinya ada satu peperangan dan pergumulan yang sangat besar. Ada satu self-conflict. Hal ini dapat kita lihat pada ayat 17 : ”Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging--karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki”. Ada satu pemahaman teologia yang berkata bahwa situasi ini hanya terjadi bagi mereka yang belum lahir baru. Bila kita perhatikan surat-surat Paulus, ternyata orang yang lahir baru pun-termasuk kita- bergumul dan berjuang untuk dapat hidup dengan taat. Kita pasti pernah dalam situasi dimana kita ingin berbuat baik tetapi kita tidak mampu melakukannya. Dalam hal ini, kognitif dan afektif kita dapat tidak sejalan. Paulus sendiri mengalami hal ini (Rom 7:19-20). Tetapi peperangan rohani ini dapat kita kalahkan dengan ayat 18 ” jika kamu mau dipimpin oleh Roh,...”. Di dalam ayat 19-21, Paulus memaparkan perbuatan daging yang bertentangan dengan Roh Kudus.
• Seksualitas : Percabulan, kecemaran dan hawa nafsu.
• Olkutisme : Penyembahan berhala dan sihir
Mungkin di dalam olkutisme kita tidak telibat, tetapi dengan penyembahan berhala kita sering. Berhala modern bukan jimat atau sihir, tetapi siapa atau apa saja yang menggeser posisi Kristus dari urutan yang pertama. Misalkan jika kerja kita nomor satu, berarti penyembahan berhala.
• Relasi dengan orang lain : perseteruan, perselisihan, iri hati, dengki, percideraan dan roh pemecah.
• Emosi/karakter : amarah, egois, kemabukan, pesta pora.
Jadi ada satu kehancuran total. Itulah sebabnya Jhon Calvin berkata ”nothing is good in me”. Tetapi orang yang lahir baru memiliki inner renewal, satu pembaharuan dari dalam diri manusia sehingga dimampukan untuk menang dari dosa.
2. Hidup yang dipimpin oleh Roh
Mari kita perhatikan ayat 8, 24, dan 25.
Orang yang lahir baru dan dilahirkan oleh Roh sebaiknya hidup dipimpin oleh Roh. Belum tentu yang lahir oleh Roh dan lahir baru, hidupnya setiap saat dipimpin oleh Roh. Hidup yang dipimpin dan dikontrol oleh Roh adalah cara untuk menang dari keinginan daging. Pikiran kita akan jernih dan memikirkan hal yang baik jika kita memberikan pikiran kita dipimpin oleh Roh. Kita juga memberikan diri kita kepada Kristus memimpin mata kita sehingga tidak ada mata kebencian atau zinah dll. Tidak ada cara untuk menang dari keinginan daging kecuali membiarkan hidup kita dipimpin oleh Roh Allah. Perhatikan kata yang dipakai Paulus, ’biarkanlah’, ’izinkanlah’, artinya adalah bahwa Roh Kudus tidak bisa memaksa diri kita untuk tunduk kepadaNya. Oleh karena itu, yang diminta oleh Allah adalah sikap kerelaan atau tunduk dan sikap kemauan kita untuk memberikan diri dipimpin oleh Roh Allah. Pertanyaan bagi kita adalah berapa banyak ddari kita mau menundukkan diri kepada Allah setiap hari? Adakah ketika kita tergoda dengan pikiran yang tidak benar, hati yang tidak benar kita bisa langsung menolaknya. Ini adalah hidup yang dipimpin oleh Roh. Dalam ayat 25 kita melihat jalan untuk menang, yaitu : ” Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,
Mari kita melatih diri. Spiritualitas yang akan kita tabung hari ini adalah bagaimana melatih diri untuk tunduk, dikendalikan, oleh Roh Allah. Dari ayat 24 kita melihat bahwa barang siapa yang menjadi milik Kristus, ia telah menyalibkan kedagingannya dan hawa nafsunya. Sejauh mana di dalam pengalaman kita sendiri, kita mengembangkan spiritualitas dalam arti ketaatan dalam Roh Allah? Sejauh mana kita dipimpin Roh Allah sehingga ada satu tekad setiap hari untruk mati bagi ke-aku-an (menyalibkan kedagingan) dan hidup untuk Kristus? Hal ini tidak gampang. Jika tidak melatih diri dengan tekun, tidak akan pernah seorang pun menang, kecuali ada kuasa khusus yang diberikan oleh Tuhan. Dalam kasus tertentu kita bisa menang dengan sekali berdoa saja, tetapi dalam kasus yang lain, berkali-kali pun berdoa belum tentu menang. Mari membiarkan diri kita dikendalikan dan diatur oleh oleh Roh, bukan hati dan bukan pikiran. Kita juga harus melatih untuk menyangkal kedagingan kita, karena Roh Kudus menuntut kita untuk menjadi serupa dengan Kristus dan juga memberikan kemerdekaan bagi kita.
Roh Kudus memberikan keselamatan/kesem- buhan bagi kita. Akar kata ’keselamatan’ berasal dari kata salvare dan salus (bahasa latin) yang berarti pembebasan dari bahaya dan kesembuhan dari penyakit. Inilah sebabnya, orang yang sudah diselamatkan dan dilahirkan kembali oleh Roh, maka diapun diselamatkan dengan hidup yang dipimpin dan dikendalikan oleh Roh. dia merdeka dari perbudakan dosa, kebiasaan masa lalu. Bapak gereja, Agustinus, berkata bahwa orang yang belum percaya kepada Kristus tidak mampu untuk tidak berdosa, tetapi orang yang dipimpin oleh Roh dimampukan untuk tidak berdosa. Inilah sebabnya Roh Kudus memerdekakan kita. Adakah dosa yang masih mengikat atau menghantui hidup kita bahkan memperbudak hidup kita? Hari ini, izinkanlah Roh Kudus memimpin engkau agar bisa menang dan bebas dari dosa masa lalu. Banyak orang yang sudah lahir baru tetapi masih tetap terikat denagn kebiasaan buruknya, sehingga dari segi karakter dia tidak berubah. Kita harus mengijinkan diri kita untuk dipimpin oleh Roh Kudus agar kita kita menjadi merdeka dari dosa masa lalu, kuasa dosa, dan kebiasaan buruk. Bukan hanya ini saja, kita juga merdeka untuk menjadi diri sendiri, menyalibkan kedagingan dan mau melakukan kebenaran. Banyak orang mengenal kebenaran tetapi tidak tahu melakukan kebenaran. Hanya hidup yang mau dipimpin oleh Rohlah yang mampu melakukan kebenaran yang ia tahu dan merdeka untuk melayani. Jika iblis masih sering mendakwa kita karena dosa, ingatlah memang benar kira berdosa, tetapi semua dosa kita telah diselesaikan di kayu salib.
Hidup yang dipimpin oleh Roh akan menghasilkan buah (Gal 5:22-23) yaitu : kasih (1 Kor 13:4-8), sukacita (Fil 4:4), damai sejahtera (Mat 5:9; Fil 4:7), kesabaran (Rom 12:11; 2 Tim 4:2,5), kemurahan (Mat 5:7), kebaikan (Fil 4:5; 1 Pet 2:12), kesetiaan (Ibr 10:32-36), kelemahlembutan 1 Tes 2:7-8), dan penguasaan diri ( 1 Pet 4:7). Buah Roh ini adalah bukti seseorang telah menyerahkan hidupnya dipimpin oleh Roh dan menyalibkan kedagingan.
3. Karunia Roh
Karunia Roh atau charisma berarti a gift of God’s love (1 Kor 12:1-11). Dalam hal ini ada beberapa perintah terhadap Roh Kudus supaya kita memiliki karunia.
• Tidak menolak atau menentang Roh Kudus di dalam diri kita (Kis 7:51)
• Di dalam 1 Kor 14:1 mengatakan kita berhak untuk meminta dan berdoa.
• Untuk mendapatkan karunia Allah, jangan memadamkan Roh (1 Tes 5:19-21) dan mendukakan Roh (Ef 4:30)
Memadamkan berbeda dengan mendukakan. Kalau memadamkan berarti ketika suatu saat Roh Kudus mengingatkan kita u ntuk berdoa atau melakukan kebenaran yang lain, tetapi kita mengabaikan suara ini, kita memadamkan Roh. Mendukakan adalah ketika kita tergoda untuk melakukan hal yang jahat dan pada saat yang sama Roh bekerja untuk melarang kita, tetapi kita tetap melakukannya. Orang seperti ini tidak akan bertumbuh dan dikaruniai karunia Roh.
• Janganlah hendaknya kamu mabuk anggur karena mabuk anggur menimbulkan hawa nafsu. Tetapi hendaklah kamu dipenuhi oleh Roh Kudus (Ef 5:18-21)
Semua hal ini adalah perintah. Tensesnya dalam bahasa Yunani adalah dalam bentuk present, yang berarti berlakuku setiap saat dan perintah yang wajib bagi orang percaya. Orang yang hidupnya dipimpin oleh Roh akan memiliki hidup yang penuh pujian dan mazmur kepada Allah. Hidup dipenuhi oleh Roh tidak didapat dengan kebaktian atau metode-metode yang lain, melainkan mau dipimpin oleh Roh dan mau menyalibkan kedagingan.
4. Kuasa Roh Kudus.
Mengusir setan bukan masalah suara tetapi kuasa. Kotbah juga bukan masalah suara atau metode, tetapi soal kuasa. Begitu juga dengan memimpin kelompok, bukan masalah keahlian (walaupun hal ini perlu), melainkan kuasa ketika kita mengajar. Itulah sebabnya di dalam Christian Spirituality dalam konteks Roh Kudus, kkta berbicara soal the power of Holy Spirit yang bekerja melalui kita. Masih ingat ketika Yesus berkata kepada murid-muridNya, ketika mereka tidak mampu mengusir setan, Ia mengatakan bahwa setan tersebut tidak dapa di usir kecuali dengan doa dan puasa. Apa yang ingin dikatakan disini adalah bahwa kuasa Roh Kudus ataupun otoritas surgawi ada bagi kita. Karena itu, dalam menjalani kehidupan kekristenan, hidup untuk dipimpin dan dipenuhi oleh Roh adalah cara bagi kita untuk mendapatkan wibawa dan kuasa daripada Roh Kudus. Jika kita ingin menang dari dosa, tidak ada cara lain, kuasa Roh Kudus adalah kunci utama. Kita juga perlu menyadari bahwa kuasa Roh Kudus ini tidak akan ada jika kita tidak hidup di dalam kekudusan. (1 Pet 1:15-16; 2 Tim 2:21). Ketika Musa berdiri di hadapan bangsa Israael, mereka melihat wajah Musa bercahaya dan berwibawa karena Musa telah berdiri di hadapan tahta Allah di dalam kekudusan. Ketika kita menegur orang lain, jika hidup kita benar, maka otoritas dan kuasa akan kita alami. Tetapi jika hidup kita tidak benar, maka perkataan kita tidak akan memiliki kuasa apapun.
Spiritualitas Kristen dalam arti yang keempat adalah bagaimana kita telah mengalami kuasa Roh Allah sehingga ada satu wibawa rohani, bukan soal penampilan fisik, tetapi wibawa karena hidup dalam kesucian. Jika ingin kuasa rohani untuk memimpin kelompok, mari hidup dengan benar. Jika orang yang hidup dalam kesucian akan melihat yang abu-abu semakin gelap, dan orang yang hidupnya tidak dalam kesucian akan melihat yang abu-abu semakin putih. Inilah sebabnya jika kita hidup dalam kekudusan di hadapan Allah, wibawa sorgawi akan ada, dan kita pun akan semakin berani untuk menolak dosa. 2 Tim 2:21 di tulis : ”Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia”. Perhatikan, dalam ayat ini ada sinergisme. Jika seseorang menjauhkan dirinya dari hal-hal jahat, maka ia akan diku- duskan oleh Allah. Lahir baru itu monergis, mutlak karya Allah. Tetapi hidup baru dipimpin dan memiliki kuasa Roh adalah sinergis. Ada bagian kita dan ada bagian Allah. Jika seseorang menyucikan dirinya dai hal-hal yang jahat, ia akan dikuduskan oleh Allah dan dipakai utnuk tujuan yang mulia. Jika kita ingin dipakai oleh Tuhan di dalam hidup, mari kita hidup di dalam kekudusan. Wibawa akan muncul jika hidup kita benar.
Mari kita melihat ayat 26. Ayat ini seolah-olah tidak ada hubungannya dengan hal yang diatas. Tetapi sesungguhnya sangat berhubungan. Kembali Paulus mengingatkan ayat 14 dan 15, karena terjadi perpecahan. Pada ayat 15 dikatakan ’saling menggigit’. Paulus ingin mengatakan jangan hidup seperti yang dikatakan ayat 26 yaitu, : ”dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki. Supaya jangan terjadi hal-hal seperti ayat 15 katakan, : ”Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan”. Jika kita mematikan keinginan daging dan hidup dipimpin oleh Roh akan ada wibawa Rohani yang menghasilkan buah Roh dan pasti memiliki relasi yang baik dengan orang lain. Jadi ada panggilan untuk harmoni (sebuah tema para pengajar kuno) dan relevan dengan kehidupan orang Kristen yang didasarkan oleh kasih. Jika hidup kita dikendalikan oleh Roh Allah, pasti hubungan kita dengan siapapun akan berjalan dengan baik. Itulah sebabnya dikatakan hubungan yang dalam dengan Allah akan terpancar melalui persekutuan dengan sesama. Mari melatih diri untuk hidup dipimpin oleh Roh Allah dan hidup menyalibkan kedagingan. Inilah hidup yang di kehendaki oleh Roh Allah.
Soli Deo Gloria !!
Subscribe to:
Posts (Atom)