Tuesday, December 6, 2011

Eksposisi Rut 4 (2009) - Rut Pasal 4

[Kotbah ini dibawakan oleh Denni Boy Saragih, M. Div pada ibadah Mimbar Bina Alumni, Jumat, 13 Maret 2009]

Pada hari ini kita akan membahas sesuatu yang unik dan kita akan memulai dengan opini-opini berikut. Ada opini yang menyatakan bahwa adat itu berasal dari setan. Bahwa adat (khususnya budaya Batak) berasal dari agama nenek moyang dan merupakan pikiran-pikiran yang berasal dari setan. Mereka yang memiliki opini seperti ini sampai mengatakan bahwa warna ulos Batak adalah warna merah darah dan darah memang merupakan sebagai pewarna pada zaman dulu. Opini yang lain adalah opini yang mengatakan adat itu adalah suatu peninggalan kuno yang sudah tidak relevan lagi. Acara-acara adat merupakan acara zaman dahulu yang tidak relevan dengan masa sekarang ini. Pandangan lain yang lebih rohani adalah pandangan yang menyatakan bahwa kita mengikuti adat supaya menyenangkan orang tua dan tidak menyandung orang lain? Tetapi jika bisa memilih, kita sebenarnya memilih untuk tidak menggunakan adat. Opini lain adalah opini yang berkaitan dengan relasi antar keluarga yang menyatakan bahwa mertua memang biasa itu insecure sama menantunya! Mungkin karena menantunya lebih pintar masak, menata rumah lebih rapi, atau mengelola uang lebih hemat. Hal-hal seperti ini akan menjadi pertanyaan dan refleksi bagi kita dalam mempelajari Rut pasal 4.

Rut pasal 4 ini akan kita bagi dalam dua bagian. Pertama, melalui ayat 1-12 kita akan merenungkan mengenai satu aspek pernikahan di mana pernikahan yang di dalam Tuhan harus menghormati adat. Poin ke dua dapat kita lihat dari ayat 13-21 di mana kita merefleksikan bahwa pernikahan dalam Tuhan adalah pernikahan yang penuh berkat. Mari merenungkan bagian demi bagian dari masing-masing poin ini.

Pernikahan yang Menghormati Adat (ayat 1-12)

Jika kita membaca dan memperhatikan Boas (ayat 1-8) pada saat dia melamar Rut, dia dengan setia dan sungguh-sungguh melakukan adat istiadat yang ada di Israel. Pertama, ada namanya adat penebusan untuk tanah dan janda. Jadi, ada penebusan oleh keluarga terdekat terhadap tanah dari keluarga yang jatuh miskin dan terhadap ipar janda terutama yang tidak memiliki keturunan. Adat lain yang muncul adalah ketika Boas akan melakukan transaksi ada saksi yang dihadirkan, dan saksi yang dihadirkan adalah sepuluh orang tua-tua kota (ayat 2, ”Kemudian dipilihnyalah sepuluh orang dari para tua-tua kota itu, dan berkata: "Duduklah kamu di sini." Maka duduklah mereka”). Ada juga adat mengenai masalah ’menanggalkan kasut’ yang ketika sepatu ini diberikan kepada yang berkaitan maka transaksi sudah dianggap resmi (ayat 7, ”Beginilah kebiasaan dahulu di Israel dalam hal menebus dan menukar: setiap kali orang hendak menguatkan sesuatu perkara, maka yang seorang menanggalkan kasutnya sebelah dan memberikannya kepada yang lain. Demikianlah caranya orang mensahkan perkara di Israel). Dalam menjalankan adat ini kita melihat Boas dengan cerdas dan bijaksana memulai dengan keluarga yang terdekat yang ternyata tidak dapat menebus Rut. Tidak ada penjelasan kenapa keluarga terdekat ini tidak dapat menebus Rut. Tetapi dalam ayat 6 dikatakan, ”Lalu berkatalah penebus itu: "Jika demikian, aku ini tidak dapat menebusnya, sebab aku akan merusakkan milik pusakaku sendiri. Aku mengharap engkau menebus apa yang seharusnya aku tebus, sebab aku tidak dapat menebusnya.” Dari ayat ini kemungkinan besar kenapa keluarga terdekat itu tidak menebus dan menikah dengan Rut adalah karena dia telah memiliki isteri dan anak. Hal ini disebabkan oleh karena jika si penebus ingin menebus tanah, maka Rut juga harus ditebus. Artinya jika Rut memiliki anak, maka tanah itu harus kembali kepada Naomi dan tanah itu harus menjadi milik Elimelekh dan Mahlon.
Mari melihat beberapa ayat PL yang menjadi latar belakang adat ini. Ulangan 25:5-6 mengatakan, "5 Apabila orang-orang yang bersaudara tinggal bersama-sama dan seorang dari pada mereka mati dengan tidak meninggalkan anak laki-laki, maka janganlah isteri orang yang mati itu kawin dengan orang di luar lingkungan keluarganya; saudara suaminya haruslah menghampiri dia dan mengambil dia menjadi isterinya dan dengan demikian melakukan kewajiban perkawinan ipar. 6 Maka anak sulung yang nanti dilahirkan perempuan itu haruslah dianggap sebagai anak saudara yang sudah mati itu, supaya nama itu jangan terhapus dari antara orang Israel. Jadi, menjaga nama orang yang meninggal agar tetap ada merupakan satu bentuk kesalehan. Kesalehan ini jarang sebenarnya diikuti, bahkan oleh orang Israel pada zaman itu tetapi Boas melakukannya dan hal ini juga menjadi bukti bagaimana Boas adalah seorang yang taat kepada Taurat. Kemudian Imamat 25:25 mengatakan, ”Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga harus menjual sebagian dari miliknya, maka seorang kaumnya yang berhak menebus, yakni kaumnya yang terdekat harus datang dan menebus yang telah dijual saudaranya itu.”

Mari melihat ayat 9-10 dalam Rut pasal 4 ini, ”9 Kemudian berkatalah Boas kepada para tua-tua dan kepada semua orang di situ: "Kamulah pada hari ini menjadi saksi, bahwa segala milik Elimelekh dan segala milik Kilyon dan Mahlon, aku beli dari tangan Naomi; 10 juga Rut, perempuan Moab itu, isteri Mahlon, aku peroleh menjadi isteriku untuk menegakkan nama orang yang telah mati itu di atas milik pusakanya. Demikianlah nama orang itu tidak akan lenyap dari antara saudara-saudaranya dan dari antara warga kota. Kamulah pada hari ini menjadi saksi.” Dari ayat ini kita melihat gambaran yang sangat indah di mana adat dan cinta bersatu. Jangan pernah beranggapan bahwa adat bertentangan dengan cinta dan cinta juga bertentangan dengan adat. Jadi, atas nama cinta, adat harus dirangkul dengan mesra bukan dilanggar. Ingat, cinta tidak harus emosional.

Tujuan dari si Boas sebenarnya bukan tanah melainkan Rut. Tetapi ada adat yang harus diikuti. Jika si Boas begitu saja menikah dengan Rut, maka akan ada buntut-buntut yang tidak baik yang akan menjadi masalah. Boas bersedia membeli tanah dan menikahi Rut. Dari hal ini kita belajar bahwa menikah dengan seseorang bukan menikah dengan dia saja, tetapi dengan seluruh persoalan, pergumulan, dan seluruh hal-hal yang melekat pada dirinya. Sering sekali hal ini menjadi masalah terutama bagi orang Batak. Misalnya seseorang tidak mau atau berpikir dua kali untuk menikah dengan seorang wanita hanya karena dia anak paling besar, bapaknya sudah meninggal, dan adiknya ada tujuh orang. Dia takut menikahinya karena takut membebani dirinya dan membebani keluarganya. Jika cinta sudah melekat maka semua hal yang melekat pada dirinya akan kita terima, termasuk keluarganya. Boas bersedia mengembalikan tanah atas nama keluarga Elimelekh seandainya Rut melahirkan anak sehingga tanah tersebut akan menjadi milik keluarga Elimelekh turun-temurun. Inilah pengorbanan dan kesiapan Boas untuk menikahi seorang wanita dan semua hal yang melekat pada dirinya. Cinta itu berarti cukup perkasa untuk merangkul kesakitan dan kesusahan yang melekat dalam diri seseorang.

Dari ayat 11 dan 12 kita melihat bahwa dalam adat ada juga satu pengalaman di mana tua-tua Israel adalah tua-tua yang rohani dan bisa mengkombinasikan adat dengan kebenaran Firman Tuhan. Mari melihat pujian dan apresiasi mereka dalam ayat 11 dan 12, ”11 Dan seluruh orang banyak yang hadir di pintu gerbang, dan para tua-tua berkata: "Kamilah menjadi saksi. TUHAN kiranya membuat perempuan yang akan masuk ke rumahmu itu sama seperti Rahel dan Lea, yang keduanya telah membangunkan umat Israel. Biarlah engkau menjadi makmur di Efrata dan biarlah namamu termasyhur di Betlehem, 12 keturunanmu kiranya menjadi seperti keturunan Peres yang dilahirkan Tamar bagi Yehuda oleh karena anak-anak yang akan diberikan TUHAN kepadamu dari perempuan muda ini!” Apa yang tua-tua ucapkan dalam ayat 11 dan 12 ini ibarat umpasa (pantun) dalam adat Batak. Jadi sebenarnya dalam bagian ini, tua-tua menjalankan adat dengan memberikan apresiasi dan pujian yang diibaratkan dengan umpasa Batak. Hal ini juga bisa terjadi dalam konteks yang rohani dengan memberikan pujian dan apresiasi yang didasarkan pada kebenaran rohani dan sejarah suci. Oleh sebab itu, mari berdoa agar ada di antara kita yang adalah anak Tuhan memiliki karunia sedemikian dan menjadi raja adat.

Karena itu kita perlu melihat dalam refleksi kita sikap-sikap terhadap adat. Ada lima pilihan kita terhadap adat. Sikap pertama adalah sikap di mana orang yang sikapnya antara Injil dan adat di mana adat lebih utama dari kebenaran/Injil. Hal ini sering terjadi di mana acara adat begabung dengan sincritisme, mis. kesurupan. Mereka yang seperti ini hanya menganggap kebenaran/Injil itu hanya sebagai pelengkap penderita dan dapat mengorbankan kebenaran demi kepuasannya terhadap adat. Sikap kedua adalah Kebenaran/Injil bertentangan dengan adat. Sikap ini memiliki persepsi yang salah terhadap adat sehingga mereka menolak adat misalnya dengan membakar ulos atau menolak umpasa-umpasa Batak. Ini adalah sikap yang tidak tepat. Kita bisa melihat kisah Rut di mana adat itu dirangkul. Bahkan kisah pulangnya bangsa Israel dari Mesir menuju Kanaan, ada satu adat yang menarik di mana mereka memindahkan tulang belulang Yusuf dan membawanya ke Kanaan. Dalam adat Batak, apa yang dilakukan orang Israel ini mirip dengan adat Batak ’Mangongkal Holi’. Tetapi dalam kisah Israel ini ada makna rohani yang bisa di gali. Jadi jangan pernah langsung menganggap bahwa ‘Mangongkal Holi’ adalah adat dari setan. Sikap ketiga adalah Kebenaran/Injil dalam bingkai adat. Sikap ini memandang adat sebagai bingkai tetapi isinya sudah merupakan kebenaran Injil. Hal ini banyak terdapat di dalam Gereka Katolik. Ada bagian adat yang bisa dilakukan seperti ini, Injil dipertahankan tetapi adat lebih fleksibel. Sikap keempat adalah sikap di mana Adat dalam bingkai kebenaran/Injil. Dalam memandang sikap ini, kita harus hati-hati karena di sini Injil yang disesuaikan dan Injil hanya sebagai bingkai tetapi yang merupakan intinya adalah adat. Sikap kelima adalah sikap di mana kebenaran/Injil yang mentransformasi adat. Di sini adat dihargai dan nilai-nilai yang luhur dihargai tetapi bagian-bagian yang tidak relevan dibuang. Jadi kita harus mentranformasi adat jika nilainya adalah uang. Tetapi jika nilainya adalah agar di dalam adat hula-hula (tondong, tulang) semakin dihormati, boru makin nampak dielek (dibujuk), dongan tubuh (sanina) semakin terasa saling menghargai, dan dalihan natolu (tolu sahundulan; b. Simalungun) itu semakin menonjol dan mantap maka hal ini pantas kembangkan dan dihargai.


Pernikahan yang Penuh Berkat (13-21)

Pernikahan Rut dan Boas adalah pernikahan di dalam Tuhan dan akhirnya menjadi pernikahan yang penuh berkat. Ada empat macam berkat yang mereka terima. Berkat pertama adalah berkat anak, bagi Boas dan Rut, dan cucu, bagi Naomi (ayat 13, ”Lalu Boas mengambil Rut dan perempuan itu menjadi isterinya dan dihampirinyalah dia. Maka atas karunia TUHAN perempuan itu mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki). Anak dan cucu mereka kelak akan menurunkan raja-raja Israel. Oleh sebab itu, bagi kita yang akan berkeluarga dan kelak akan memiliki anak, mari berdoa untuk anak kita agar kelak menjadi anak yang takut dan menghormati Tuhan. Keturunan yang diberkati Tuhan, takut akan Tuhan, dan dipakai Tuhan, adalah berkat yang luar biasa. Bukan berarti jika tidak memiliki anak maka tidak di berkati. Jika kita tidak memiliki anak mungkin Tuhan punya rencana khusus. Berkat kedua adalah berkat yang dialami Naomi dengan mendapat menantu seperti Rut (ayat 15, ”Dan dialah yang akan menyegarkan jiwamu dan memelihara engkau pada waktu rambutmu telah putih; sebab menantumu yang mengasihi engkau telah melahirkannya, perempuan yang lebih berharga bagimu dari tujuh anak laki-laki.") Dalam ayat 15 ini dikatakan bahwa Rut adalah menantu yang lebih berharga dari tujuh anak laki-laki. Jika kelak menjadi mertua tirulah Naomi, dan jika menjadi menantu tirulah Rut yang dianggap mertuanya lebih berharga dari tujuh orang anak laki-laki. Inilah kebahagiaan menantu yang dipandang mertuanya lebih berharga dari tujuh anak laki-laki. Berkat ketiga adalah berkat mendapat mertua yang bijaksana dan mengasihi menantunya (ayat 16-17). Hati-hati kelak jangan nanti menjadi mertua yang hypercritic yang melihat semua yang dikerjakan menantu salah. Jadilah mertua yang bijaksana dan mengasihi menantunya. Berkat keempat adalah berkat bagi dunia (ayat 17-22, ” 17 Dan tetangga-tetangga perempuan memberi nama kepada anak itu, katanya: "Pada Naomi telah lahir seorang anak laki-laki"; lalu mereka menyebutkan namanya Obed. Dialah ayah Isai, ayah Daud. 18 Inilah keturunan Peres: Peres memperanakkan Hezron, 19 Hezron memperanakkan Ram, Ram memperanakkan Aminadab, 20 Aminadab memperanakkan Nahason, Nahason memperanakkan Salmon, 21 Salmon memperanakkan Boas, Boas memperanakkan Obed, 22 Obed memperanakkan Isai dan Isai memperanakkan Daud). Ini adalah berkat yang paling indah. Dari keturunan Boas dan Rut, dua orang yang taat kepada Tuhan, lahirlah Obed (yang artinya ’Hamba Tuhan’) kemudian lahirlah Isai, lahirlah Daud, dan dari keturunan Daud lahirlah Yesus Kristus. Pernikahan Boas dan Rut adalah pernikahan yang menjadi berkat bukan hanya bagi mereka, artinya bukan sekedar menjadi keluarga yang bahagia, tetapi juga menjadi berkat bagi sekelilingnya.

Mari merefleksikan tiga pertanyaan berikut. Pertama, bagaimana anda memandang adat selama ini? Kedua, bagaimana kita bisa menghargai dan lebih kristiani dalam beradat? Ketiga, mengingat hubungan mertua-menantu yang telah rusak imagenya, bagaimana hubungan Naomi-Rut memotivasi anda untuk mengimpikan sesuatu yang indah?
Soli deo Gloria!

No comments: