Tuesday, December 6, 2011

Seri Stress Fracture 3 (2008) - When Your Comfort Zone Gets the Squeeze

[Kotbah ini dibawakan oleh Denni B. Saragih, M. Div pada ibadah Mimbar Bina Alumni, Jumat, 28 Maret 2008]

Hari ini kita akan masuk dalam topic yang terakhir dari seri Stress Fracture yaitu When Your Comfort Zone Gets the Squeeze. Tahun lalu kita telah belajar bahwa kematian atau kehilangan orang yang dikasihi adalah bentuk tekanan yang memberikan stress yang paling tinggi. Bagaimana jika kita divonis mengidap penyakit kanker dan umur kita tinggal satu setengah tahun lagi? Bagaimana kita akan menghadapinya? Bagaimana jika kita berada dalam situasi dimana dalam hitungan waktu kita akan kehilangan orang tua kita atau seseorang yang sangat kita cintai? Hal-hal ini akan memberikan stress yang sangat berat dalam hidup kita dan inilah yang akan kita renungkan pada hari ini, bagaimana kita dealing with stress when our comfort zone gets the squeeze.

Ada cerita yang menarik tentang seorang bapak yang tidak mencintai isterinya dan berharap asterinya meninggal dunia. Isterinya sangat cerewet dan selalu frustrasi dibuat isterinya. Suatu hari dia pergi ke hutan mencari kayu. Ketika berada di dalam hutan dia berjumpa dengan seorang malaikat. Kemudian malaikat berkata kepada dia, “Bapak yang terkasih, saya sudah mengetahui beban bapak yang berat. Sekarang saya dating menolong bapak. Bapak bisa mengajukan tiga permohonan, apapun itu dan Tuhan akan mengabulkannya.” Bapak ini sangat senang dan mengajukan permintaan yang pertama, ”Saya ingin isteri saya yang cerewet itu mati hari ini.” Malaikat itu berkata, “Pulanglah, keinginanmu sudah dikabulkan.” Kemudian dia berlari-lari pulang dan begitu sampai di rumah dia melihat banyak orang dirumahnya. Semua keluarga datang dan semua orang dikampung itu datang. Dia melihat isterinya meninggal. Dia terkejut dan pura-pura menangis (padahal dirinya senang). Lalu setiap orang yang datang mulai menceritakan kebaikan isterinya. Ada yang mengatakan bahwa isterinya sangat rajin beradat, baik bertetangga. Perhatian pada suaminya dan anak-anaknya walau agak cerewet, dan sebagainya. Semakin orang bicara mengenai kebaikan isterinya, dan melihat begitu banyak tangisan dukacita, dia semakin stress. Akhirnya dia sampai pada titik di mana dia menyesal telah meminta isterinya meninggal dunia. Akhirnya dia kembali berlari ke hutan dan menemui malaikat itu. Dia meminta permintaan yang kedua agar isterinya dihidupkan. Malaikat itu berkata, ”Pulanglah, isterimu telah hidup kembali.” Dia pulang sambil berlari dan dia melihat isterinya hidup lagi. Kemudian dia memeluk isterinya, tetapi ketika isterinya melihat sang suami, dia merepet kembali. Dia kembali stress dan lari ke hutan dan menemui malaikat itu. Kemudian dia menyampaikan ingin permintaan yang terakhir, tetapi dia tidak tahu meminta apa. Lalu malaikat itu berkata, ”Saya tahu yang bapak butuhkan. Yang bapak butuhkan adalah damai. Meskipun isterimu cerewet bapak tetap tenang. Apapun yang bapak alami, bapak akan tetap tenang.”

Sore hari ini kita akan belajar mengenai pandangan Alkitab mengenai kematian. Jika kita memahami ajaran Alkitab, maka kita tidak akan stress berlebih-lebihan jika kita berhadapan dengan kematian. Kita akan memandang kematian dari perspektif Kristen. Jika anda akan berhadapan dengan kematian atau kehilangan orang yang anda kasihi kita harus mengingat beberapa hal.

  1. Dalam perspektif Alkitab, kematian bukanlah suatu hukuman. Romans 8:1 mengatakan, ”Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” Jika kita mengalami sakit penyakit atau ada satu ancaman bagi kesehatan kita, ingat, ada alasan lain yang harus kita cari mengapa hal ini terjadi, selain memandangnya sebagai sebuah hukuman. Kita perlu mengingat bahwa jika kita mengalami sesuatu yang buruk, mungkin yang pertama kali kita pikirkan bukanlah mencari apa dosa kita sehingga hal ini terjadi pada kita. Karena tidak ada lagi penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus. Ada alasan lain sehingga orang Kristen mengalami penderitaan, kesakitan, dan kematian.
  2. Kematian adalah sisa dari kehidupan yang belum ditebus dalam ’fallen world’. Kita hidup dalam dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, dan dunia yang telah jatuh ke dalam dosa ini telah dipulihkan oleh Kristus. Dan di dalam pemulihan ini masih ada hal-hal yang merupakan sisa dari ciptaan yang lama. Kita masih menunggu completion. Hal ini masih belaku juga untuk evil. 1 Cor 15:26 mengatakan, ”Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut”. Dan 1 Cor 15:54 mengatakan, ”Maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: "Maut telah ditelan dalam kemenangan.” Sampai tiba penggenapannya, kehadiran maut dan akibat kejatuhan (penuaan, penyakit, kesakitan, dan bencana alam) masih akan dialami oleh orang percaya.”
  3. Tuhan menggunakan pengalaman akan kematian justru untuk pengudusan orang Kristen. Tuhan tidak menghukum tetapi mendisiplin, mendidik, dan membentuk kita, dan menjadikan kita lebih layak, lebih berkenan, dan lebih menggambarkan kemuliaan Tuhan. Dalam Rom 8:28 dikatakan, ”And we know that God causes all things to work together for good to those who love God, to those who are called according to His purpose" [NAU]. Allah mengerjakan atau menyebabkan segala sesuatu bekerja utuk kebaikan dari mereka yang mengasihi Tuhan. Jika penderitaan dan segala kesakitannya membuat kita semakin serupa dengan Kristus, maka Allah Bapa mengijinkan kita mengalaminya. Ibrani 12:6 mengatakan, “karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Segala sesuatunya adalah tentang apakah semua yang terjadi menguduskan kita di mata Tuhan. Kematian bukanlah hukuman, tidak alamiah karena merupakan bagian dari fallen world, dan akan dihapus suatu hari kelak. Langit dan bumi yang baru adalah keadaan dimana kematian tidak ada lagi.
  4. Ketaatan kepada Tuhan dan memuliakanNya adalah sesuatu yang lebih penting dari pada mempertahankan hidup kita. Di mata Tuhan, survival bukanlah tujuan yang paling besar. Hidup bukan sekedar hidup, tetapi hidup harus punya tujuan mengapa kita hidup. Karena itu, dalam perspektif Kristen Paulus mengatakan, ”Sebab aku ini rela bukan saja untuk diikat, tetapi juga untuk mati di Yerusalem oleh karena nama Tuhan Yesus.“ (Kis 21:13). Filipi 1:20 mengatakan, ”Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.” Tidak selalu kematian menjadi sesuatu yang negatif. Dalam pengala- man banyak orang, sering sekali kematian dan ajal yang mendekat menjadi sesuatu yang positif. Dalam kontek kekudusan, penyakit dapat menjadi anugerah yang terselubung. Penyakit, tantangan, masalah, atau apapun yang kita alami yang membuat kita stress, coba kita lihat, mungkin ada berkat terselubung yang Allah kerjakan dalam hidup kita. Ibu Dorothy pernah mengatakan ”No crisis no growth.” 
  5. Kematian bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, justru menjadi sebuah sukacita. Paulus mengatakan dalam 2 Kor 5:8, ”Terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan.” Karena kematian adalah satu-satunya jalan supaya kita bisa bersama-sama dan bertatap muka dengan Tuhan kita. Sehingga kematian itu adalah sukacita. Bukan berarti ketika ada yang mati, kita bersukacita. Sukacita tidak berarti harus dilakukan dengan tersenyum atau tertawa. Sukacita terkadang disertai dengan air mata, kegentaran, kepiluan, dan keharuan, tetapi tetap ada sukacita. Paulus juga mengatakan dalam Fil 1:21-23, ”Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus itu memang jauh lebih baik;” Inilah yang harus kita hayati. Terkadang kita selalu berpikir bahwa kita akan hidup selamanya dan terbukti melalui tabungan kita yang banyak untuk membeli sesuatu nantinya. Seandainya kita menempatkannya pada perspektif yang benar, kita tidak akan terlalu ngotot dengan hal-hal seperti itu. Kita akan mati pada akhirnya. Seandainya elemen kematian ini kita tempatkan sebagai bagian dari perencanaan hidup kita, maka rencana hidup kita akan semakin berbeda. Semuanya menjadi sesuatu yang masih bisa ditawar, beli rumah, jalan-jalan, atau pernikahan. Semuanya bisa ditawar dan tidak harus. Jika kematian tidak kita tempatkan menjadi bagian dari perencanaan hidup kita, maka semuanya akan serba kuatir,” Kapan bisa beli mobil, kapan beli rumah, kapan...dan lainnya”.
  6. Jika kita kehilangan orang yang kita sayangi dan seorang yang percaya, maka kepiluan yang Kristiani ada dan kehilangan yang manusiawi harus ada. Kis 8:2 mengatakan bahwa orang-orang saleh menguburkan mayat Stefanus dan meratapinya dengan sangat. Dengan meratap, mereka tidak menjadi tidak saleh. Banyak orang Kristen menganggap menangis karena kehilangan menjadi sesuatu yang tidak saleh. Dalam menghadapi kematian orang percaya ada sukacita yang rohani dan ada harapan di dalam Tuhan. Satu sisi boleh ada kepiluan dan satu sisi lain ada sukacita yang rohani. Sukacita yang oleh karena pengharapan dalam Tuhan. Hal ini perlu kita lakukan supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan (1 Tes 3:14). Tetapi jangan berduka berlebihan. Dalam Wahyu 4:13 dikatakan, "Ber- bahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini." "Sungguh," kata Roh, "supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka." Inilah cara kita menyikapi kematian kita sendiri dan kematian orang-orang yang kita kasihi. Jika kita menyikapi demikian maka kita tidak akan stress (walau ada stress ringan) dan dapat menghadapinya dengan cara yang Kristiani dan dewasa dan tidak menjadi cengeng.

Bagaimana dengan kematian mereka yang belum percaya?
Jika orang yang kita kasihi yang belum percaya meninggal, maka mereka pasti akan berada di neraka.

  1. Dukacita tanpa sukacita. Ini adalah satu yang dalam dan berat untuk ditanggung. Paulus berkata dalam Roma 9:1-3 bagi orang Yahudi yang belum percaya, ”Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus, bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati. Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani." Ada satu dukacita yang dalam dan riil karena orang yang dikasihinya meninggal dalam kondisi belum percaya.
  2. Meski kadang kita tidak pasti masalah iman dan keselamatan mereka. Kadang kematian yang mendekat membuat banyak orang mencari Tuhan. Pada saat-saat terakhir, jika ada kesempatan, sampaikan Injil. Menurut beberapa ahli, orang yang sedang koma, masih dapat mendengar kita walaupun tidak dapat merespon.
  3. Kita, sebagai orang percaya, tidak boleh memberi penghiburan yang tidak benar. Jadikan kesempatan untuk memberitakan Injil

Apa yang terjadi ketika kita mati?

Roh orang percaya akan segera berangkat ke hadirat Tuhan.Dalam Lukas 23:43 Yesus berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." Kemudian Ibrani 12:23 mengatakan, ”Dan kepada Allah, yang menghakimi semua orang, dan kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna.” Begitu kita mati, roh kita akan menjadi sempurna berada dalam hadirat Tuhan.

Dalam ajaran Alkitab, semua yang telah ditebus oleh Yesus tidak akan mendapat penghukuman. Begitu kita mati, kita akan bersama dengan Tuhan. Semua dosa kita sudah ditanggung Yesus di Kalvari dan semua telah dibayar lunas. Dalam Matius 12:32 dikatakan, “Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak.” Sekali diampuni akan tetap diampuni, jika mati maka di dunia yang akan datang tidak akan ada lagi pengampunan. 1 Kor 3:13-15 dikatakan, ”Sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.”

Dua bagian Alkitab ini (Matius maupun 1 Korintus) sering dikutip untuk mengajarkan dan membenarkan pengampunan sesudah kematian, padahal konteks ayat ini tidak demikian.

Kita akan menutup topik ini dengan beberapa Pertanyaan untuk direnungkan?
  1. Bagaimana anda memandang kematian anda sendiri? Bagaimana firman Tuhan meneguhkan anda untuk menghadapi ketakutan akan kemat- ian?
  2. Apakah firman ini meneguhkan anda untuk siap menghadapi kematian dalam perjuangan melawan dosa, bahkan dengan ancaman martir sekalipun?
  3. Jika maut adalah bagian dari pengudusan, bagaimana ini menolong anda untuk bersikap positif terhadap penuaan dan proses jasmaniah menjadi lebih lemah?

Ini semua adalah pandangan Alkitab akan kematian. Jika kita dapat memahaminya dan memegangnya dengan baik, maka kita akan menghadapi segala sesuatunya, apakah kesakitan, penderitaan, bahkan kematian dengan perasaan yang tenang.

Soli deo Gloria!

No comments: