Friday, December 9, 2011

Seri Problem of Pain III (2009) - Orang Kristen dan Penderitaan

[Kotbah ini dibawakan oleh Denni Boy Saragih, M. Div, pada ibadah Mimbar Bina Alumni - PAK Medan, Jumat 16 Oktober 2009]


Siapa diantara kita yang merasa dan berani mengatakan bahwa penderitaan yang kita alami adalah karena dosa? Oleh sebab itulah Tuhan menghukum karena kita berdosa sehingga kita mengalami kesusahan dan penderitaan. Teologia seperti ini banyak dimiliki oleh gereja-gereja tertentu. Ada pandangan yang mengatakan bahwa orang Kristen tidak akan menderita, sakit, kemiskinan, atau kegagalan. Hal ini perlu dibicarakan karena konsep ini berbahaya bagi iman kristiani kita. Mengapa? Pertama, orang yang memiliki konsep seperti ini sama dengan membohongi diri sendiri karena baik orang Kristen maupun yang bukan orang Kristen tidak ada yang tidak menderita. Kedua, pandangan seperti ini juga menjerumuskan orang dalam sikap menyalahkan diri sendiri karena dia akan berusaha mencari apa dosa yang ia miliki.

Hal inilah yang terjadi kepada empat sahabat Ayub yang berdialog dengan Ayub. Kitab Ayub adalah kitab yang bercerita tentang seorang Ayub yang tidak memiliki kesalahan dan Tuhan sendiripun memuji dirinya, tetapi mengalami penderitaan. Sampai akhir cerita pun tidak ada penjelasan mengapa Ayub menderita. Karena semuanya ada di dalam kedaulatan Allah. Kita juga tidak bisa memahami jalan dan maksud dari Tuhan. Karena itu, hari kita akan mencoba merenungkan konsep yang akan menolong kita menyikapi dan memahami penderitaan dengan cara yang lebih kristiani.

Ada empat hal yang akan kita renungkan, yaitu: pertama, ada penderitaan yang tidak Kristiani. Penderitaan itu tidak ada hubungannya apakah seseorang itu Kristen atau bukan. Semua orang di dunia bisa mengalami penderitaan ini. Kedua, ada penderitaan yang Kristiani. Penderitaan ini bisa disebut sebagai penderitaan yang indah dan jika kita tidak rindu untuk mengalaminya maka kita perlu bertumbuh dalam kedewasaan rohani kita. Ketiga, sebagai akibat dari penderitaan yang Kristiani itu, kita melihat penderitaaan sebagai anugerah. Keempat, bagaimana kita memaknai penderitaan yang kita alami.

Penderitaan Yang Tidak Kristiani
Ada banyak penderitaan yang tidak Kristiani. Penderitaan yang tidak ada hubungannya dengan apakah seseorang itu Kristen atau bukan. Semua orang pasti akan mengalami penderitaan seperti ini. Semua orang pasti akan mengalami yang namanya penyakit dan kematian. Penderitaan ini tidak hanya memilih orang yang agama tertentu saja.

Ketika kita mengatakan bahwa dalam satu kecelakaan kita selamat adalah karena kita dijagai oleh Allah, bagaimana dengan anak Tuhan yang lain, yang mengalami kecelakaan yang sama tetapi dia tidak selamat? Apakah Allah tidak menjaga dia? Pemahaman seperti ini akan memunculkan sebuah pertanyaan ”Apakah Allah tidak adil karena Allah menyelamatkan seseorang dan tidak menyelamatkan yang lain?” Jika kita memiliki konsep seperti ini jawaban kita akan jatuh ke dalam jawaban yang sangat sederhana dan menyederhanakan persoalan. Mengapa Allah menyelamatkan saya adalah karena saya setia padaNya dan mengapa Tuhan tidak menyelamatkan yang lain adalah kerana mungkin mereka jatuh ke dalam dosa. Kita tidak bisa menjawab pertanyaan seperti ini dengan gampang. Penderitaan itu dialami semua orang.

Kesulitan hidup dan persoalan manusiawi juga merupakan penderitaan yang dialami oleh semua orang. Betapa sulitnya menabung, membiayai pengobatan, memiliki rumah, dll. Selama hidup kita akan mengalami banyak kesulitan dan persoalan hidup lainnya.

Begitu juga dengan bencana alam dan kecelakaan. Apakah ada diantara kita yang berpikir bahwa Tuhan menjagai Medan? Aceh dan Padang kena gempa, tetapi Medan akan selamat karena banyak anak Tuhan di sini. Jika ada yang memiliki pikiran seperti ini kita tidak perlu terkejut jika suatu hari kelak kita terkejut karena rumah kita kena bencana. Tidak ada perbedaan soal hal ini. Walaupun tidak ada perbedaan soal apa yang kita alami, mungkin yang berbeda adalah bagaimana cara kita menghadapinya. Bagaimana kita beriman dan pengharapan di tengah penderitaan. Kita merasakan bahwa Allah tidak meninggalkan kita dan senantiasa memberikan pertolongan bagi kita.

Penderitaan yang tidak kristiani lainnya adalah penderitaan karena berbuat jahat (1 Pet 4:15, ”Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau.”). Kita bisa menderita dan semua orang bisa menderita karena dihukum. Baik orang Kristen maupun bukan Kristen jika berbuat jahat maka akan dihukum. Jika tidak duhukum pun seseorang yang melakukan kejahatan bisa menderita karena rasa bersalah yang melanda dan menderita karena hidup mereka tidak berbahagia.

Kita juga bisa menderita karena kejahatan orang lain. Orang-orang yang mengalaminya karena perbuatan musuhnya. Orang-orang menderita karena radiasi nuklir dalam peristiwa Nagasaki dan Hirosima atau karena korban tabrak lari. Apakah anda kristen atau bukan, kita bisa mengalami penderitaan seperti ini. Yang membedakan adalah cara kita menghadapinya, apakah kita menghadapinya dengan iman atau kita menghadapinya tanpa iman.

Penderitaan Yang Kristiani
Ini adalah jenis penderitaan yang sebenarnya – sebagai anak-anak Tuhan – harus kita rindukan. Penderitaan ini bisa ada karena kita menjadi orang Kristen. Karena kita orang Kristen maka orang lain jadi benci. Dalam 1 Pet 4:16 dikatakan, ”Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.” Jaman dahulu pun banyak orang yang hanya karena Kristen ia menderita. Ada kisah dalam Gereja mula-mula dimana ada seorang Pengacara yang membela terdakwa dan berdebat dengan Hakim. Ia berkata kepada Hakim: ”Mengapa anda menyalahkan orang ini? Ia tidak ada membunuh, mencuri, ataupun kejahatan lain. Ini bertentangan dengan hukum Roma!” Lalu Hakim bertanya: ”Apakah kamu orang Kristen?” Pengacara iin menjawab: ”Ya! Saya orang Kristen.” Lalu hakim memberi perintah kepada pengawalnya untuk menangkap pengacara ini.

Mungkin diantara kita ada juga yang mengalami hal-hal seperti ini. Mungkin tidak dibunuh atau ditangkap tetapi mengalami promosi yang terkendala hanya karena kita Kristen. Orang antipati kepada kita karena kita orang Kristen. Tetapi ingat, jangan bersikap reaktif. Sewaktu kita menderita karena kita orang Kristen, bersyukurlah karena sesungguhnya hal tersebut adalah penderitaan yang indah.

Penderitaan yang Kristiani juga bisa ada karena kita menderita karena kebenaran. 1 Pet 3:14 berkata: ”Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar.” Oleh sebab itulah Yesus mengatakan: ”Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat 5:10). Mungkin sewaktu kita menolak untuk membuat data fiktif di kantor kita mengalami penganiayaan. Sekali lagi dikatakan: ”Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran.”

Penderitaan berikutnya adalah penderitaan karena berbuat baik. 1 Pet 2:20-21 berkata: ”Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah. Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.” Jika kita berbuat baik dan kita menderita, ini adalah anugerah Allah. Jadi jika kita berbuat baik jangan selalu berharap untuk dimengerti atau meminta balas budi atau diapresiasi. Jika kita menderita karena berbuat baik, bersyukurlah. Sebagai anak-anak Tuhan jangan bertindak dari perasaan atau mood. Jika ingin menolong, menolonglah karena kebenaran. Mengapa kita menolong orang lain adalah menolong adalah sebuah keharusan bagi kita. Jangan kecil hati karena ditolak atau di cela karena hal tersebut adalah anugerah Tuhan.

Penderitaan Kristiani juga bisa ada karena penderitaan yang diakibatkan oleh pemberitaan Injil. 2 Tim 2:8-10 berkata: ”Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku. Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu. Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal.”

Penderitaan Adalah Anugerah
Jika kita bisa menghayati penderitaan kristiani tadi, maka pendereitaan itu menjadi sebuah anugerah. Melalui penderitaan itu kita menyatu dengan Kristus karena Kristus juga menderita dengan cara yang sama. Paulus juga mengatakan hal yang sama dalam suratnya di Fil 3:10: ”Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.” Paulus menggambarkan keinginannya untuk menyatu dengan Yesus dalam penderitaanNya. Saya melihat bahwa di sini ada konsep bahwa penderitaan yang disebut adalah penderitaan yang menyembuhkan. Penderitaan Kristus adalah penderitaan yang memulihkan dan memberikan pengampunan yang menjembatani antar orang berdosa dengan Allah. Paulus ingin mengambil penderitaan seperti itu. Mungkin penderitaannya sendiri tidak redemptive tetapi penderitaan itu sendiri dipakai sebagai ’balsem’ yang menyembuhkan permusuhan dosa dan kesakitan manusia. Hal ini berhubungan denagn penderitaan Yesus sebagai Allah yang menderita. Penderitaan tersebut membawa kesembuhan dan balsem penyejuk bagi penderitaan manusia.

Makna Penderitaan
Ada tiga hal bagaimana kita memaknai penderitaan. Pertama, Penderitaan membawa kedewasaan rohani (Roma 5:3-5; Yak 1:2-4). No crisis no growth. Dalam penderitaan kita semakin bertumbuh, dekat dan semakin mencintai Tuhan. Orang-orang akan semakin dewasa jika mengalami banyak penderitaan. Waktu kita mengalami penderitaan kita tidak ingin menderita, tetapi kita menyabutnya ibarat api yang menyucikan kita. Yakinlah, kalau kita menderita segala keinginan duniawi kita akan sirna.

Kedua, penderitaan adalah bagian dari proses menghayati pengharapan kristiani (IPet 4:13; 5:1, 10). Sewaktu menderita, kita semakin bertumbuh di dalam pengharapan. Pengharapan itu tidak pasif dan kita harus terus belajar mengharapkan yang terbaik dari Tuhan. Waktu kita mengalami penderitaan, kita melihat abhwa dunia ini bukanlah tempat kita, dan rumah kita ada di Sorga kelak.

Ketiga, dengan poenderitaan kita akan mengharapkan kesempurnaan dari segala sesuatu yang akan Tuhan berikan ketika IA nantinya akan menutup satu episode daripada sejarah. Wahyu 21:1-4 berkata: ”1 Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi. Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu." Betapa indahnya janji itu.

SoliDeo Gloria!

No comments: